Kiat Sukses Memahami Ilmu Islam
Kiat Sukses Memahami Ilmu Islam
Kita pun melihat akhir-akhir ini banyak sekali orang yang semangat hadir
dikajian ilmu. Tentu hal ini merupakan hal yang sangat menggembirakan
hati, karena pertanda kaum muslimin ingin lebih mengenal agama mereka
yang akan menjadi sebab tercapainya kebaikan hidup dunia dan akhirat.
Oleh karenanya, pada artikel kali ini kita akan membahas tentang kiat-kiat
memahami ilmu yang diambil dari kitab Khulashah Ta’zhimil ‘Ilmi karya
Syaikh Sholih al-‘Ushoimy.
Wadah ilmu adalah hati. Ilmu akan masuk ke dalam hati sesuai dengan
kadar kesuciannya, semakin hati itu suci, semakin mudah ia menyerap ilmu.
Oleh karenanya, siapa yang ingin menguasai ilmu, hendaklah dia menghias
jiwanya dan menyucikan hatinya dari segala kotoran, karena ilmu adalah
sebuah permata yang hanya pantas disimpan di hati yang bersih.
1
Kesucian hati kembali kepada dua perkara pokok:
Apabila dirimu malu ketika makhluk semisalmu melihat bajumu yang kotor,
maka malulah kepada Allah saat melihat hatimu, sedangkan di dalamnya
ada kedengkian, keburukan, dan dosa-dosa.
Di dalam shahih Muslim terdapat sebuah hadits dari Abu Hurairah bahwa
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَلِكْن َيْنُظ ُر إلى ُقُل وِبُكْم، إَّن اللَه ال َيْنُظُر إلى ُص َوِرُكْم وأْم واِلُكْم
وأْعماِلُكْم
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan hartamu, walakin
Dia melihat kepada hati dan amalmu”
Siapa yang menyucikan hatinya, maka ilmu akan menetap di sana, dan siapa
yang tidak mau membersihkan kotoran hati, ilmu akan pergi
meninggalkannya.
Sahl bin Abdillah berkata: “Cahaya Ilmu akan terhalang dari hati yang di
dalamnya ada sesuatu yang Allah benci.”
َوَما ُأِمُر وا ِإاَّل ِلَيْعُبُدوا الَّلَه ُمْخ ِلِصيَن َلُه الِّديَن ُحَنَفاَء
“Dan mereka tidaklah diperintahkan kecuali hanya untuk menyembah
Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam keadaan hanif.”
(QS. AlBayyinah: 5)
Di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim terdapat sebuah hadits
dari sahabat Umar bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalaam
bersabda:
2
“Semua perbuatan dinilai dari niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang
(tergantung) apa yang diniatkan”.
Siapa yang meremehkan perkara ikhlas, akan luput dari dirinya ilmu dan
kebaikan yang begitu banyak. Sudah sepantasnya bagi orang yang
menginginkan keselamatan, agar selalu memeriksa keikhlasan dalam setiap
urusannya, baik urusan kecil maupun besar, ketika sendirian maupun di
khalayak ramai. Hal tersebut disebabkan sulitnya memperbaiki niat.
Sufyan Ats-Sauri berkata, “Tidak ada yang lebih sulit aku obati melebihi niat,
karena niat tersebut suka berubah-ubah.”
3
Kiat Ketiga: Menguatkan Tekad untuk Mencari Ilmu
Sebuah tekad untuk mencari sesuatu akan timbul ketika kita memperhatikan
tiga hal:
Tiga hal ini telah dikumpulkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam
sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah,
اْح ِرْص َعَلى َما َيْنَفُعَك َواْس َتِعْن ِبالَّلِه َواَل َتْعَجْز
“Bersemangatlah meraih hal yang bermanfaat bagimu, mohonlah
pertolongan kepada Allah dan jangan mudah menyerah.”
Ibnul Qayyim berkata dalam kitabnya Al-Fawaid, “Jika tekad sudah muncul
pada diri yang malas seperti bintang yang muncul di malam hari, dibarengi
oleh semangat yang kuat ibarat bulan yang berdampingan dengan bintang,
maka hati akan disinari oleh cahaya Rabbnya, ibarat cahaya bulan dan
bintang yang menerangi gelapnya bumi.”
Dahulu Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal saat beliau masih kecil, pernah ingin
berangkat menuju majelis ilmu sebelum masuk waktu subuh, sang ibu pun
langsung memegangi baju anaknya karena rasa sayang kepada anaknya,
sembari berkata: tunggulah sampai adzan dikumandangkan atau waktu
shubuh telah masuk.
4
Dan juga kisah Abu Muhammad ibnu Tayyan, di awal – awal masa menuntut
ilmu beliau belajar semalam suntuk, sehingga ibunya pun melarang beliau
belajar di malam hari, karena rasa sayang kepada anaknya. Keesokan
malamnya ibnu Tayyan mengambil sebuah lampu dan beliau sembunyikan di
dalam sebuah bejana, kemudian beliau pun berpura – pura tidur, ketika
ibunya sudah terlelap, beliau pun mengeluarkan lampu yang beliau
sembunyikan tadi, dan mulai belajar.
Jadilah orang yang kakinya berpijak kuat di muka bumi akan tetapi
semangatnya menggantung tinggi di atas bintang. Jangan sampai menjadi
orang yang muda badannya, namun tua semangatnya. Sejatinya semangat
orang yang bersungguh – sungguh tidak akan pernah menua.
Abul Wafa’ ibnu ‘Aqil – salah satu ahli fiqh hanbali yang paling cerdas di
zamannya – pernah bersyair di saat beliau berumur 80 tahun:
Sejatinya semua ilmu yang bermanfaat pasti kembali kepada Al-Quran dan
As-Sunnah. Adapun ilmu lainnya bisa berupa ilmu yang membantu
memahami keduanya, maka cukup dipelajari sesuai dengan kadar yang
dibutuhkan, dan bisa pula berupa ilmu yang tidak berhubungan dengan
keduanya, maka tidak ada mudharat untuk tidak mengetahuinya.
Hammad bin Zaid berkata: Aku bertanya kepada Ayyub Sikhtiyani: Mana
yang lebih banyak ilmunya, masa sekarang atau masa sebelumnya? Maka
beliau pun menjawab: masa sekarang lebih banyak bicaranya, sedangkan
ilmu lebih banyak pada masa sebelumnya.
5
Kiat Kelima : Menempuh Jalan Yang Mengantarkan Kepada Ilmu
Segala tujuan itu pasti ada jalannya sendiri. Siapa yang menempuh jalan
tersebut maka dia akan mendapatkan apa yang dia cari, dan siapa yang
berpaling dari jalannya dia tidak akan menemukan apa yang dia cari. Begitu
pula dengan ilmu, siapa yang salah memilih jalan dalam menunut ilmu maka
dia akan tersesat dan tidak akan meraih apa yang ia cari, bisa jadi dia
mendapatkan sedikit faedah setelah dia berlelah ria.
Seribu tahun pun seseorang tidak akan bisa mendapatkan semua ilmu
Maka ambillah yang paling penting dari setiap cabang ilmu
Dengan menghafal matan jami’ yang diakui
Dibawah bimbingan seorang guru yang ahli dan patut diteladani
Jalan ilmu dibangun diatas dua pondasi, siapa yang mengamalkan keduanya
maka dia adalah orang yang mengagungkan ilmu, sebab dia menempuh
jalan yang akan mengantarkannya kepada ilmu tersebut:
Sifat pertama: Orang yang ahli dan menguasai ilmu, yaitu seorang
yang dikenal dengan ketekunannya menuntut ilmu sampai pada
tingkatan penguasaan ilmu, sehingga dia memiliki keahlian pada
bidangnya. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan
oleh Abu Dawud dari sahabat Ibnu Abbas:
6
Makna hadits ini dilihat dari keumuman lafazhnya bukan dari orang yang
diajak bicara. Dan telah menjadi aturan baku menuntut ilmu pada umat
ini yaitu, sebuah generasi mengambil ilmu dari generasi sebelumnya.
Syaikh dari guru-guru kami, yaitu Syaikh Muhammad bin Mani’ berkata
dalam kitab (Irsyadut Thullab):
7
2. Menargetkan pada masa awal belajar untuk menguasai kitab-kitab
ringkas disetiap cabang ilmu. Jika seorang penuntut ilmu selesai dari
tahap tersebut, barulah dia mendalami ilmu yang dia pandang cocok
dengan dirinya dan paling sanggup untuk dipelajari, baik satu cabang
ilmu atau lebih.
Kuatnya ilmu yang melekat ketika masih kecil, seperti kuatnya bekas ukiran
pada batu. Siapa yang mengoptimalkan masa mudanya, dia akan mencapai
tujuannya, dan ketika telah tua dia akan merasa puas dengan usahanya.
Namun, jangan sampai ada yang berprasangka bahwa orang tua tidak bisa
lagi belajar, bahkan para sahabat Rasulullah ﷺbanyak yang belajar di masa
tua. Hal ini disebutkan Imam Bukhari dalam pembahasan “Kitab Ilmu” dari
kitab shohihnya.
Ilmu tidak bisa dikuasai sekaligus, sebab hati tidak akan sanggup. Ilmu itu
berat bagaikan beratnya batu saat dibawa. Allah berfirman:
8
ِإَّنا َس ُنْلِقي َعَلْيَك َقْواًل َثِقياًل
“Kami akan mewahyukan kepadamu perkataan yang berat.” (QS Al-
Muzammil : 5)
وقاَل اَّلِذيَن َكَفُر وا َلْوال ُنِّز َل َعَلْيِه الُقْر آُن ُج ْمَلًة واِح َدًة َكَذِلَك ِلُنَثِّبَت
ِبِه ُفؤاَدَك وَر َّتْلناُه َتْر ِتياًل
“Orang – orang kafir berkata mengapa Alquran itu tidak diturunkan
sekaligus, begitulah, karena Allah ingin meneguhkan hatimu, dan Kami
membacakannya secara tartil (teratur dan benar).” (QS Al-Furqan : 32)
Ayat ini adalah dalil untuk tidak tidak tergesa-gesa ketika menuntut ilmu dan
mempelajarinya secara bertahap, sebagaimana diungkapkan oleh Al-Khotib
Al-Baghdady dalam kitabnya (Al-Faqih wal Mutafaqqih), begitu pula dengan
Ar-Raghib Al-Ashfahany dalam kitabnya (Muqaddimah Jami’ Tafsir).
9
Diantara perkataan penuh hikmah yang pernah dituturkan oleh Abdul Karim
Ar-Rifa’iy – salah seorang ulama damaskus pada abad sebelumnya – adalah:
Makanan orang dewasa adalah racun bagi anak bayi.
Segala sesuatu yang berharga tidak akan bisa diperoleh kecuali dengan
kesabaran. Dan hal yang paling berat dirasakan saat mencari sesuatu yang
berharga tersebut adalah memaksa jiwa untuk bersabar. Karena itu kita
diperintahkan bersabar dan menguatkan kesabaran dalam mengokohkan
dasar keimanan begitupula dalam meraih kesempurnaan iman. Allah ta’ala
berfirman:
ُدوَنaَواْصِبْر َنْفَس َك َم َع اَّل ِذيَن َي ْدُعوَن َر َّبُهْم ِباْلَغ َداِة َواْلَعِش ِّي ُيِري
َوْج َهُه
“Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru
Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya…”
(QS Al-Kahf : 28)
Yahya bin Abi Katsir menafsirkan ayat ini, beliau berkata: Maksudnya adalah
majelis ilmu. Seseorang tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan
kesabaran. Yahya bin Abi Katsir juga pernah berkata: Ilmu tidak akan
didapatkan dengan bersantai. Hanya dengan bersabar seseorang bisa keluar
dari kubang kejahilan dan dengan bersabar pulalah kelezatan ilmu bisa
dirasakan. Sabar dalam ilmu ada dua tahapan:
1. Sabar saat mencari ilmu. Sebab menghafal, memahami ilmu dan hadir
di majelis ilmu butuh kesabaran begitupula dalam menunaikan hak sang
guru.
Dan hal yang lebih sulit dari dua kesabaran diatas adalah sabar untuk
selalu bersabar pada dua tahapan tersebut dan istiqamah
10
menjalaninya. Setiap orang mencoba untuk meraih cita-cita, namun
sedikit yang bisa istiqamah dalam menggapainya.
Seseorang tidak akan mendapatkan derajat tinggi tanpa adab. Walaupun dia
memiliki kedudukan dan kemuliaan nasab. Ilmu hanya pantas diperoleh oleh
orang yang menerapkan adab, baik saat sendirian, saat belajar, bersama
teman, maupun ketika bersama gurunya.
Yusuf bin Husein berkata: “Dengan beradab engkau akan memahami ilmu.”
Karena ketika seseorang beradab, dia akan dipandang sebagai orang yang
pantas menerima ilmu, maka seorang guru pun akan bersemangat
mengajarinya. Sedangkan orang yang tidak beradab, sungguh ilmu terlalu
berharga daripada disia-siakan olehnya.
“Apa ini? Kalian lebih membutuhkan sedikit adab daripada ilmu yang
banyak.”
Lalu, apa yang akan dikatakan oleh Laits apabila melihat keadaan para
penuntut ilmu di zaman sekarang?!.
Wahb bin Munabbih pernah berkata: “Orang yang menghinakan dirinya tidak
akan menjadi ahlul hikmah.”
Seorang berkata kepada Abu Muhammad Sufyan bin ‘Uyainah: Engkau telah
memahami semua hukum di dalam Al-Quran, lalu mana dalil menjaga
marwah? Beliaupun menjawab dalilnya pada firman Allah ta’la:
َأ ْأ
ُخ ِذ اْلَعْفَو َو ُمْر ِباْلُعْر ِف َو ْعِرْض َعِن اْلَج اِهِليَن
“Jadilah pemaaf, perintahkanlah orang mengerjakan yang ma’ruf, dan
berpalinglah dari orang-orang bodoh.” (Al-A’raf 199)
Di dalam ayat ini terdapat marwah, adab dan akhlaq yang mulia. Diantara
adab yang senantiasa harus dimiliki seorang penuntut ilmu adalah menghias
dirinya dengan sikap marwah dan menjauhi segala sesuatu yang dapat
meruntuhkannya, seperti; mencukur habis jenggot, sering menoleh ketika
berjalan, menjulurkan kaki tanpa ada kebutuhan di keramaian, berteman
dengan orang yang buruk perangainya, orang fasik dan orang yang tidak
tahu malu, atau bergulat dengan anak-anak.
12
Kiat Ketigabelas: Memilih Sahabat yang Sholih dalam Menuntut Ilmu
Seorang yang ingin mencapai puncak ilmu haruslah mencari sahabat yang
shalih guna membantunya. Karena sahabat memilki pengaruh yang kuat
dalam diri seseorang. Abu Dawud dan Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits
dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi bersabda:
Hendaknya yang dijadikan teman adalah orang yang bergaul demi mencari
keutamaan bukan sekedar manfaat duniawi ataupun kepuasaan. Karena
pergaulan manusia biasanya didasari tiga hal : keutamaan, manfaat duniawi
dan kepuasan, sebagaimana yang disebutkan oleh guru dari guru kami, yaitu
Muhammad al-Khadir bin Husein di dalam kitabnya (Rasailul Ishlah).
Mempelajari ilmu dari seorang guru tidak akan terasa manfaatnya, kecuali
dengan hafalan, mudzakarah dan rajin bertanya. Hal tersebut akan
menghadirkan pengagungan ilmu di dalam hati seorang pembelajar, dengan
selalu menyibukkan diri dengan ilmu. Menghafal adalah kesibukannya saat
13
sendirian, waktu bersama teman dia habiskan untuk mudzakarah, dan waktu
bersama guru dia manfaatkan untuk bertanya.
Para ulama dari dahulu senantiasa memotivasi dan menyuruh para penuntut
ilmu untuk menghafal. Kami pernah mendengar guru kami, syaikh Ibnu
Utsaimin berkata: Kami lebih sering membaca daripada menghafal, akan
tetapi manfaat yang kami rasakan dari hafalan jauh lebih banyak. Lalu
dengan bermudzakarah, ilmu akan selalu hidup dan melekat di dalam jiwa
seseorang. Makna mudzakarah adalah mengulang pelajaran bersama teman.
ِإَّنَما َمَثُل َصاِح ِب اْلُق ْر آِن َكَمَث ِل َص اِح ِب اِإْلِب ِل اْلُمَعَّقَل ِة ِإْن َعاَه َد
َأ َأ
َعَلْيَها ْمَس َكَها َوِإْن ْطَلَقَها َذَهَبْت
“Perumpaan penghafal alquran, seperti orang yang memilki seekor unta
yang terikat, jika selalu diawasi, unta tersebut tidak akan kabur, dan jika
dia lepaskan ikatannya unta tersebut akan kabur.”
Ibnu Abdil Barr ketika mengomentari hadits ini dalam kitabnya (At-Tamhid),
beliau berkata:
Tiga sarana dalam menuntut ilmu ini diibaratkan seperti menanam sebuah
pohon yang disirami dan diberi pupuk yang akan mengokohkan pohon
tersebut dan menghilangkan hama-hama yang akan merusaknya. Menghafal
ibarat menanam, mudzakarah ibarat menyirami pohon dan bertanya adalah
pupuknya.
14
adalah ayah bagi jasad, oleh karenanya mengetahui keutamaan guru
merupakan hak yang wajib ditunaikan.
Muhammad bin Aly al-Udfuwy juga menarik kesimpulan yang serupa dari
ayat alquran, beliau berkata: “Apabila sesorang belajar kepada seorang
‘alim dan mengambil faedah darinya maka dia menjadi budak ‘alim
tersebut.”
Budak yang dimaksud adalah Yusya’ bin Nun. Pada hakikatnya Yusya’
bukanlah budak Musa, melainkan murid sekaligus pengikut beliau, dan Allah
pun menyebut Yusya’ sebagai budak disebabkan hal tersebut.
َلْيَس ِمْن ُأَّمِتي َمْن َلْم ُيِج َّل َكِبيَر َنا َوَيْر َح ْم َصِغيَر َنا َوَيْع ِرْف ِلَعاِلِمَن ا
َح َّقُه
“Bukan termasuk umatku: orang yang tidak memuliakan orang yang
lebih tua, tidak menyayangi yang lebih kecil, dan orang yang tidak
mengetahui hak ulama.”
Diantara adab kepada seorang guru yang harus ditunaikan oleh seorang
penuntut ilmu – yang masuk ke dalam pembahasan ini – adalah bersikap
tawadhu’ dihadapan guru, memperhatikan dan tidak menoleh kiri kanan
serta menjaga adab ketika berbicara dengannya.
Jika sedang bercerita tentang gurunya, dia pun mengagungkan sang guru
tanpa berlebihan tapi sesuai dengan kadarnya, agar jangan sampai nama
gurunya rusak di saat dia berniat memujinya.
15
Begitupula hendaklah dia beterima kasih mendoakan gurunya atas
pengajaran yang diberikan, tidak menampakkan bahwa dirinya tidak lagi
membutuhkan gurunya tersebut, tidak menyakiti guru baik berupa
perkataan maupun perbuatan, dan hendaklah bersikap sopan ketika
mengingatkan guru apabila terdapat kesalahan dari dirinya.
Pada pembahasan ini sangat pas apabila kita menyebutkan secara ringkas
kewajiban seorang murid dalam menyikapi kesalahan guru. Ada 6 hal yang
harus diperhatikan:
Hal yang harus dihindari juga dan masih berhubungan dengan pembahasan
memuliakan ulama adalah perbuatan yang secara lahirnya memuliakan
padahal hakikatnya adalah penghinaan, seperti berkerumun di dekat
seorang ‘alim, menyempitkan jalannya dan membuat beliau susah untuk
berjalan.
Sungguh para ulama akan berbicara dengan ilmu dan diam berdasarkan
pemikiran yang matang. Oleh karenanya berbicaralah sesuai dengan apa
yang mereka ucapkan dan jika seandainya mereka memilih untuk diam,
maka diamlah sebagaimana mereka diam.
16
Orang yang selamat dari panasnya api fitnah adalah orang yang selalu
merujuk kepada para ulama dan berpegang dengan perkataan mereka. Dia
akan berprasangka baik kepada para ulama saat mendapati pandangannya
berbeda dengan perkataan mereka, sehingga dia pun mengambil pendapat
ulama dan membuang pendapatnya sendiri, karena para ulama tersebut
lebih ahli dan lebih berpengalaman.
Sahl bin Abdillah berkata: Siapa yang ingin melihat majelis para nabi,
hendaklah dia melihat majelis para ulama. Dalam majelis tersebut ada yang
bertanya:
17
Seorang penuntut ilmu harus mengetahui hak-hak majelis ilmu. Hendaklah
dia beradab ketika duduk, memperhatikan gurunya tatkala belajar, tidak
menoleh kecuali ada kebutuhan, tidak berpaling ketika mendengar suara di
luar mejelis, tidak bermain-main dengan tangan atau kakinya, tidak
bersandar ketika ada gurunya, tidak bertumpu dengan tangannya, tidak
sering berdeham dan bergerak, tidak mengobrol dengan orang
disebelahnya, memelankan suara ketika bersin dan menutup mulut ketika
menguap jika tidak dapat menahannya.
Suatu ketika Ishaq bin Rahawaih pernah melempar sebuah kitab yang ada
ditangannya, Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal pun melihat kejadian tersebut,
lantas beliau berkata: Begitukah perkataan orang-orang terbaik
diperlakukan?
Sejatinya ilmu memiliki kehormatan yang wajib dibela ketika ada yang
merusaknya. Pembelaan ini sungguh terlihat pada apa yang telah dilakukan
oleh para ulama, seperti: membantah orang yang menyimpang. Siapa saja
yang terbukti menyelisihi syariat maka harus dibantah demi menjaga agama
dan sebagai bentuk nasihat untuk kaum muslimin.
Diantara bentuk pembelaan ilmu yang lainnya adalah memboikot para ahlul
bid’ah, dan ini sudah menjadi konsensus para ulama sebagaimana yang
disebutkan Abu Ya’la Al-Farra’. Sehingga tidak diperkenankan untuk
mengambil ilmu dari para ahlul bid’ah, kecuali dalam kondisi darurat,
sebagaimana para ahli hadits dahulu meriwayatkan hadits dari ahlul bid’ah.
18
bentuk peringatan untuknya, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh
Syu’bah –rahimahullah– kepada ‘Affan bin Muslim pada saat pelajarannya.
Bisa juga memberi peringatan kepada seorang murid dengan cara tidak
memperhatikannya dan tidak menjawab pertanyaannya, karena diam juga
merupakan jawaban, sebagaimana yang dikatakan A’masy.
Hal ini harus diperhatikan agar bisa terhindar dari permasalahan yang bisa
menimbulkan fitnah dan juga demi menjaga kewibawaan seorang ‘alim.
Karena sebagian pertanyaan dimaksudkan untuk memancing keributan,
menyulut api fitnah dan keburukan.
19
4. Memperhatikan metode bertanya kepada seorang guru, dengan
menunjukkan sikap bertanya yang penuh adab: mendoakan guru
sebelum bertanya dan memuliakannya ketika berbicara, jangan sampai
dia berbicara dengan seorang guru seperti dia bicara dengan orang-
orang di pasar maupun orang awam.
Dan ketiga hal ini tidak akan sempurna kecuali dengan menghalau segala
yang dapat menyibukkan hati.
Oleh sebab itu, para raja dahulu merindukan kelezatan ilmu, mereka
merasakan ada sesuatu yang hilang sehingga mereka pun ingin
mendapatkannya.
Abu Ja’far Al-Manshur, – seorang khalifah bani Abbasiyah yang terkenal, yang
mana kerajaaanya meliputi timur dan barat – pernah ditanya: “Masih
adakah kelezatan dunia yang belum engkau dapatkan?” Beliau pun
menjawab – sambil duduk diatas singgasananya – : “Ada satu hal, yaitu bisa
duduk di atas sebuah kursi dan di sekelilingku ada para pencari hadits.”
Kemudian berkatalah seorang mustamli’: “Tolong sebutkan sanad hadits
Anda – semoga Allah merahmatimu–.”
20
Ketika hati seseorang sudah dipenuhi dengan kelezatan ilmu, gugurlah
kelezatan lainnya dan jiwa pun melupakannya, bahkan rasa sakitpun bisa
berubah menjadi kenikmatan dikarenakan lezatnya ilmu.
Ibnul Jauzi berkata di dalam kitab (Shoidul Khotir): Seorang itu haruslah
mengetahui betapa mulia dan berharganya waktu yang dia miliki, jangan
sampai dia biarkan waktunya berlalu tanpa sebuah ketaatan dan hendaklah
dia mendahulukan amalan yang paling afdhol, baik berupa perkataan
maupun perbuatan.
Abul Wafa bin ‘Uqail – penulis kitab (Al-Funun) sebanyak 800 jilid – pernah
berkata:
21