0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
19 tayangan21 halaman

Kiat Sukses Memahami Ilmu Islam

Dokumen ini membahas kiat-kiat sukses dalam memahami ilmu, menekankan pentingnya kesucian hati, keikhlasan niat, dan tekad yang kuat dalam menuntut ilmu. Penulis mengutip berbagai sumber dan tokoh untuk mendukung argumen bahwa ilmu yang bermanfaat berasal dari Al-Quran dan As-Sunnah, serta pentingnya belajar di bawah bimbingan guru yang ahli. Selain itu, penekanan juga diberikan pada perlunya memprioritaskan cabang ilmu yang paling penting.

Diunggah oleh

semangat110579
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
19 tayangan21 halaman

Kiat Sukses Memahami Ilmu Islam

Dokumen ini membahas kiat-kiat sukses dalam memahami ilmu, menekankan pentingnya kesucian hati, keikhlasan niat, dan tekad yang kuat dalam menuntut ilmu. Penulis mengutip berbagai sumber dan tokoh untuk mendukung argumen bahwa ilmu yang bermanfaat berasal dari Al-Quran dan As-Sunnah, serta pentingnya belajar di bawah bimbingan guru yang ahli. Selain itu, penekanan juga diberikan pada perlunya memprioritaskan cabang ilmu yang paling penting.

Diunggah oleh

semangat110579
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

KIAT SUKSES MEMAHAMI ILMU

Tidak ada yang meragukan kemuliaan dan keutamaan ilmu dalam


kehidupan, sebagaimana yang dikatakan oleh sahabat Ali radhiyallahu
‘anhu:

‫ ويفرح إذا نسب إليه‬،‫كفى بالعلم شرفا أن يدعيه من ال يحسنه‬


“Cukuplah yang menjadi dalil keutamaan ilmu, ketika seorang jahil mengaku
dia berilmu dan bangga ketika nama ilmu dilekatkan dengan dirinya.”

Begitu pula Allah Ta’ala tidak pernah memerintahkan rasulNya untuk


meminta tambahan harta, yang Allah Ta’ala perintahkan adalah meminta
tambahan ilmu. Allah Ta’ala berfirman:

‫َوُقل َّر ِّب ِز ۡدِني ِع ۡلما‬


Katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku”. [QS. Taha: 114]

Kita pun melihat akhir-akhir ini banyak sekali orang yang semangat hadir
dikajian ilmu. Tentu hal ini merupakan hal yang sangat menggembirakan
hati, karena pertanda kaum muslimin ingin lebih mengenal agama mereka
yang akan menjadi sebab tercapainya kebaikan hidup dunia dan akhirat.

Namun, semangat awal kajian seringnya tidak diiringi dengan


keistiqamahan. Sebulan semangat hadir kajian, besoknya sudah tidak
pernah lagi kelihatan. Hal tersebut biasanya terjadi karena hati tidak kuat
menanggung beratnya ilmu, dan ini biasanya disebabkan hati tersebut
belum memahami ilmu. Karena jika seseorang memahami ilmu, biasanya
akan tumbuh cinta dalam hatinya.

Oleh karenanya, pada artikel kali ini kita akan membahas tentang kiat-kiat
memahami ilmu yang diambil dari kitab Khulashah Ta’zhimil ‘Ilmi karya
Syaikh Sholih al-‘Ushoimy.

Kiat Pertama: Menyucikan Wadah Ilmu

Wadah ilmu adalah hati. Ilmu akan masuk ke dalam hati sesuai dengan
kadar kesuciannya, semakin hati itu suci, semakin mudah ia menyerap ilmu.

Oleh karenanya, siapa yang ingin menguasai ilmu, hendaklah dia menghias
jiwanya dan menyucikan hatinya dari segala kotoran, karena ilmu adalah
sebuah permata yang hanya pantas disimpan di hati yang bersih.

1
Kesucian hati kembali kepada dua perkara pokok:

1) Menyucikan hati dari kotornya syubhat.


2) Menyucikan hati dari kotornya syahwat.

Apabila dirimu malu ketika makhluk semisalmu melihat bajumu yang kotor,
maka malulah kepada Allah saat melihat hatimu, sedangkan di dalamnya
ada kedengkian, keburukan, dan dosa-dosa.

Di dalam shahih Muslim terdapat sebuah hadits dari Abu Hurairah bahwa
Rasulullah ‫ﷺ‬ bersabda:

‫ وَلِكْن َيْنُظ ُر إلى ُقُل وِبُكْم‬، ‫إَّن اللَه ال َيْنُظُر إلى ُص َوِرُكْم وأْم واِلُكْم‬
‫وأْعماِلُكْم‬
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan hartamu, walakin
Dia melihat kepada hati dan amalmu”

Siapa yang menyucikan hatinya, maka ilmu akan menetap di sana, dan siapa
yang tidak mau membersihkan kotoran hati, ilmu akan pergi
meninggalkannya.

Sahl bin Abdillah berkata: “Cahaya Ilmu akan terhalang dari hati yang di
dalamnya ada sesuatu yang Allah benci.”

Kiat Kedua: Mengikhlaskan Niat

Sungguh ikhlas merupakan pondasi diterimanya sebuah amalan dan tangga


untuk menyampaikan amalan tersebut.

Allah Ta’ala berfirman:

‫َوَما ُأِمُر وا ِإاَّل ِلَيْعُبُدوا الَّلَه ُمْخ ِلِصيَن َلُه الِّديَن ُحَنَفاَء‬
“Dan mereka tidaklah diperintahkan kecuali hanya untuk menyembah
Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam keadaan hanif.”
(QS. AlBayyinah: 5)

Di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim terdapat sebuah hadits
dari sahabat Umar bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalaam
bersabda:

‫اَأْلْعَماُل ِبالِّنَّيِة َوِلُكِّل اْمِرٍئ َما َنَوى‬

2
“Semua perbuatan dinilai dari niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang
(tergantung) apa yang diniatkan”.

Tidaklah orang-orang shalih dahulu melampaui kita dan mencapai


kemuliaan, kecuali disebabkan oleh keikhlasannya kepada Allah.

Abu Bakr Al-Marrudzy berkata, Aku mendengar seseorang berkata kepada


Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal tentang kejujuran dan keikhlasan, lalu imam
Ahmad pun berkata: “Inilah sebab tingginya derajat sebuah kaum.”

Seseorang hanya mendapatkan ilmu sesuai dengan kadar keikhlasannya.

Ikhlas dalam menuntut ilmu dibangun di atas 4 perkara pokok yang


dengannya terciptalah niat ilmu yang benar dalam diri penuntut ilmu:

1. Untuk mengangkat kebodohan dari diri sendiri, dengan cara mengetahui


ibadah yang diwajibkan atas dirinya dan memahami maksud dari setiap
perintah dan larangan Allah.
2. Untuk mengangkat kebodohan dari diri orang lain, dengan cara
mengajarkan dan menuntun orang tersebut kepada hal-hal yang memuat
kebaikan dunia & akhirat.
3. Untuk menghidupkan ilmu dan menjaganya agar tidak disia-siakan.
4. Untuk mengamalkan ilmu tersebut.

Para salaf dahulu rahimahumullah sangat khawatir akan luputnya keikhlasan


saat menuntut ilmu, sehingga mereka tidak mau merasa diri mereka telah
ikhlas, bukan karena tidak adanya keikhlasan dalam hati mereka.

Imam Ahmad pernah ditanya,

“Apakah anda menuntut ilmu ini karena Allah?” Lalu beliau


menjawab, “Karena Allah? itu adalah perkara yang berat, hanya saja
Allah membuat diriku mencintai ilmu, sehingga aku pun mencarinya.”

Siapa yang meremehkan perkara ikhlas, akan luput dari dirinya ilmu dan
kebaikan yang begitu banyak. Sudah sepantasnya bagi orang yang
menginginkan keselamatan, agar selalu memeriksa keikhlasan dalam setiap
urusannya, baik urusan kecil maupun besar, ketika sendirian maupun di
khalayak ramai. Hal tersebut disebabkan sulitnya memperbaiki niat.

Sufyan Ats-Sauri berkata, “Tidak ada yang lebih sulit aku obati melebihi niat,
karena niat tersebut suka berubah-ubah.”

Bahkan Sulaiman Al-Hasyimi berkata, “Terkadang saat aku menyampaikan


sebuah hadits, aku telah memiliki niat yang lurus, namun tatkala aku sampai
pada sebagian hadits tersebut, niatku berubah. Ternyata satu hadits saja
butuh untuk selalu memperbaiki niat.”

3
Kiat Ketiga: Menguatkan Tekad untuk Mencari Ilmu

Sebuah tekad untuk mencari sesuatu akan timbul ketika kita memperhatikan
tiga hal:

1. Bersemangat untuk memperoleh hal yang bermanfaat. Kapan saja


seorang hamba diberikan taufik untuk mengetahui hal yang bermanfaat,
dia pasti akan bersemangat menggapainya.
2. Meminta pertolongan kepada Allah saat mencarinya.
3. Tidak mudah menyerah dalam menggapai tujuan tersebut.

Tiga hal ini telah dikumpulkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam
sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah,

‫اْح ِرْص َعَلى َما َيْنَفُعَك َواْس َتِعْن ِبالَّلِه َواَل َتْعَجْز‬
“Bersemangatlah meraih hal yang bermanfaat bagimu, mohonlah
pertolongan kepada Allah dan jangan mudah menyerah.”

Junaid berkata, “Tidak ada seorangpun yang mencari sesuatu dengan


kesungguhan dan penuh keseriusan kecuali dia akan mendapatkannya.
Jikalau tidak semuanya, minimal dia akan mendapatkan sebagiannya.”

Ibnul Qayyim berkata dalam kitabnya Al-Fawaid, “Jika tekad sudah muncul
pada diri yang malas seperti bintang yang muncul di malam hari, dibarengi
oleh semangat yang kuat ibarat bulan yang berdampingan dengan bintang,
maka hati akan disinari oleh cahaya Rabbnya, ibarat cahaya bulan dan
bintang yang menerangi gelapnya bumi.”

Di antara faktor-faktor yang akan menguatkan tekad seseorang adalah


mempelajari kisah para ulama terdahulu dan melihat bagaimana kuatnya
tekad mereka.

Dahulu Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal saat beliau masih kecil, pernah ingin
berangkat menuju majelis ilmu sebelum masuk waktu subuh, sang ibu pun
langsung memegangi baju anaknya karena rasa sayang kepada anaknya,
sembari berkata: tunggulah sampai adzan dikumandangkan atau waktu
shubuh telah masuk.

Begitu pula dengan kisah Al-Khatib Al-Baghdady, beliau pernah membacakan


seluruh hadits Shahih Bukhari kepada guru beliau, Isma’il Al-Hiry, dalam tiga
majelis. Dua majelis pertama selama dua malam, dimulai dari selesai shalat
maghrib sampai masuk waktu shubuh, dan pada hari ke tiga mulai dari
waktu dhuha sampai waktu maghrib kemudian dilanjutkan dari maghrib
sampai masuk waktu shubuh.

4
Dan juga kisah Abu Muhammad ibnu Tayyan, di awal – awal masa menuntut
ilmu beliau belajar semalam suntuk, sehingga ibunya pun melarang beliau
belajar di malam hari, karena rasa sayang kepada anaknya. Keesokan
malamnya ibnu Tayyan mengambil sebuah lampu dan beliau sembunyikan di
dalam sebuah bejana, kemudian beliau pun berpura – pura tidur, ketika
ibunya sudah terlelap, beliau pun mengeluarkan lampu yang beliau
sembunyikan tadi, dan mulai belajar.

Jadilah orang yang kakinya berpijak kuat di muka bumi akan tetapi
semangatnya menggantung tinggi di atas bintang. Jangan sampai menjadi
orang yang muda badannya, namun tua semangatnya. Sejatinya semangat
orang yang bersungguh – sungguh tidak akan pernah menua.

Abul Wafa’ ibnu ‘Aqil – salah satu ahli fiqh hanbali yang paling cerdas di
zamannya – pernah bersyair di saat beliau berumur 80 tahun:

Tidak akan menua tekad, ketekunan dan akhlaqku


Begitu pula kesetiaan, agama, dan kemuliaan ku
Yang berubah hanyalah rambutku tak sama lagi warnanya
Uban dikepala bukan berarti tekadpun menua

Kiat Keempat : Mengarahkan Tekad kepada ilmu Al-Quran dan As-


Sunnah

Sejatinya semua ilmu yang bermanfaat pasti kembali kepada Al-Quran dan
As-Sunnah. Adapun ilmu lainnya bisa berupa ilmu yang membantu
memahami keduanya, maka cukup dipelajari sesuai dengan kadar yang
dibutuhkan, dan bisa pula berupa ilmu yang tidak berhubungan dengan
keduanya, maka tidak ada mudharat untuk tidak mengetahuinya.

Betapa indahnya perkataan ‘Iyadh Al-yahsubi dalam kitabnya (Al-Ilma’):

Ilmu hanya ada ada pada Al-Quran dan As-Sunnah.


Selain keduanya hanya akan menyesatkan dari jalan yang ditempuh
Ilmu Al-Quran dan Ilmu Sunnah
Yang disandarkan dari tabi’in dari sahabat Rasulullah.

Inilah ilmu para salaf dahulu rahimahumullah, kemudian pada zaman


setelahnya mulai banyak pembahasan-pembahasan yang tidak bermanfaat.
Karena itu para salaf lebih banyak ilmunya, sedangkan orang-orang
setelahnya lebih banyak bicaranya.

Hammad bin Zaid berkata: Aku bertanya kepada Ayyub Sikhtiyani: Mana
yang lebih banyak ilmunya, masa sekarang atau masa sebelumnya? Maka
beliau pun menjawab: masa sekarang lebih banyak bicaranya, sedangkan
ilmu lebih banyak pada masa sebelumnya.

5
Kiat Kelima : Menempuh Jalan Yang Mengantarkan Kepada Ilmu

Segala tujuan itu pasti ada jalannya sendiri. Siapa yang menempuh jalan
tersebut maka dia akan mendapatkan apa yang dia cari, dan siapa yang
berpaling dari jalannya dia tidak akan menemukan apa yang dia cari. Begitu
pula dengan ilmu, siapa yang salah memilih jalan dalam menunut ilmu maka
dia akan tersesat dan tidak akan meraih apa yang ia cari, bisa jadi dia
mendapatkan sedikit faedah setelah dia berlelah ria.

Muhammad Murtadha bin Muhammad Azzubaidi – penulis kitab Taajul ‘Arus-


telah menyebutkan jalan untuk mencari ilmu di dalam syair beliau yang
beliau namakan – Alfiyyatussanad-, beliau berkata:

Seribu tahun pun seseorang tidak akan bisa mendapatkan semua ilmu
Maka ambillah yang paling penting dari setiap cabang ilmu
Dengan menghafal matan jami’ yang diakui
Dibawah bimbingan seorang guru yang ahli dan patut diteladani

Jalan ilmu dibangun diatas dua pondasi, siapa yang mengamalkan keduanya
maka dia adalah orang yang mengagungkan ilmu, sebab dia menempuh
jalan yang akan mengantarkannya kepada ilmu tersebut:

1. Menghafal matan yang menjadi sandaran dan mencakup banyak


permasalahan. Hafalan merupakan keharusan bagi seorang penuntut
ilmu, jika ada yang mengira dirinya bisa meraih ilmu tanpa menghafal
maka sejatinya dia sedang mencari sebuah kemustahilan. Dan matan
yang dihafal adalah matan yang mencakup banyak masalah dan diakui
oleh para ulama.
2. Dibawah bimbingan guru yang ahli. Ambillah pemahaman ilmu kepada
seorang guru yang memiliki dua sifat berikut:

Sifat pertama: Orang yang ahli dan menguasai ilmu, yaitu seorang
yang dikenal dengan ketekunannya menuntut ilmu sampai pada
tingkatan penguasaan ilmu, sehingga dia memiliki keahlian pada
bidangnya. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah ‫ﷺ‬ yang diriwayatkan
oleh Abu Dawud dari sahabat Ibnu Abbas:

‫َتْسَمُعوَن وُيْسَمُع ِمنُكْم وُيْسَمُع ِمَّمْن َس ِمَع ِمنُكْم‬


“Kalian (sahabat) mengambil ilmu dariku, kemudian orang setelahnya
mengambil ilmu dari kalian dan orang setelahnya mengambil ilmu dari
murid kalian”.

6
Makna hadits ini dilihat dari keumuman lafazhnya bukan dari orang yang
diajak bicara. Dan telah menjadi aturan baku menuntut ilmu pada umat
ini yaitu, sebuah generasi mengambil ilmu dari generasi sebelumnya.

Adapun sifat kedua yaitu guru tersebut bisa membimbing murid-


muridnya, dan sifat ini terpenuhi ketika seorang guru memiliki dua sifat:

1. Pantas dijadikan sebagai tauladan dan panutan dalam tingkah


lakunya.
2. Menguasai metode – metode pengajaran; pandai dalam mengajar,
mengetahui apa yang cocok untuk diajarkan kepada muridnya dan
apa yang tidak, sesuai dengan metode pengajaran yang telah
dijelaskan oleh assyathibi dalam kitabnya (al-Muwafaqaat).

Kiat Keenam: Mempelajari Cabang-Cabang ilmu dengan


Mendahulukan yang Terpenting

Ibnul Jauzi berkata didalam kitabnya (Shoidul Khotir): Mengumpulkan semua


cabang ilmu adalah hal yang terpuji.

Pelajarilah ilmu di setiap cabangnya, jangan sampai tidak tahu


Orang mulia adalah orang yang memahami banyak hal.

Syaikh dari guru-guru kami, yaitu Syaikh Muhammad bin Mani’ berkata
dalam kitab (Irsyadut Thullab):

“Seseorang yang tahu bahwa dirinya memiliki kompetensi untuk


mempelajari berbagai cabang ilmu, tidak pantas meninggalkan salah
satu cabang ilmu yang bermanfaat baginya dalam memahami alquran
dan sunnah. Begitu pula seorang penuntut ilmu tidak boleh mencela ilmu
yang tidak dia pahami lalu merendahkan ahlinya, karena ini adalah
bentuk kekurangan dan sifat yang hina. Orang yang berakal akan
berbicara dengan ilmu dan diam dengan penuh ketenangan, jika tidak
demikian dia akan menjadi seperti yang dikatakan penyair:

Ada kabar bahwa sahl mencela karena kebodohannya


Ilmu-ilmu yang tidak dipahami oleh dirinya
Ilmu-ilmu yang jika dipelajari, maka dia tidak akan mencelanya
Tapi begitulah, lebih mudah untuk puas dengan kebodohan dirinya

Mempelajari banyak cabang ilmu akan bermanfaat jika berpegang kepada


dua pokok:

1. Mendahulukan cabang ilmu yang paling penting, yaitu ilmu yang


dibutuhkan untuk memenuhi kewajiban beribadah kepada Allah.

7
2. Menargetkan pada masa awal belajar untuk menguasai kitab-kitab
ringkas disetiap cabang ilmu. Jika seorang penuntut ilmu selesai dari
tahap tersebut, barulah dia mendalami ilmu yang dia pandang cocok
dengan dirinya dan paling sanggup untuk dipelajari, baik satu cabang
ilmu atau lebih.

Dalam sebuah syair masyarakat syinqith disebutkan:

Jika dirimu ingin mengusai satu cabang ilmu, maka selesaikanlah


Sebelum selesai, maka ilmu selainnya tinggalkanlah
Janganlah mempelajari ilmu secara bersamaan
Ibarat dua anak kembar tidak akan keluar secara bersamaan

Namun, siapa yang mengetahui bahwa dirinya mampu mempelajari banyak


disiplin ilmu dalam satu waktu, silakan dia lakukan. Ini merupakan
pengecualian dari keadaan manusia pada umumnya.

Kiat Ketujuh : Belajar Sejak Dini serta Mengoptimalkan Masa Muda

Imam Ahmad berkata: Aku tidaklah mempermisalkan masa muda kecuali


seperti sesuatu yang ada di lengan bajuku lalu dia jatuh. Ilmu lebih mudah
diserap dan melekat kuat pada usia muda. Hasan Al-Bashri berkata:
Menuntut Ilmu ketika kecil seperti mengukir di atas batu.

Kuatnya ilmu yang melekat ketika masih kecil, seperti kuatnya bekas ukiran
pada batu. Siapa yang mengoptimalkan masa mudanya, dia akan mencapai
tujuannya, dan ketika telah tua dia akan merasa puas dengan usahanya.

Optimalkanlah masa mudamu, duhai pemuda.


Karena manusia akan menikmati jerih payahnya di masa tua.

Namun, jangan sampai ada yang berprasangka bahwa orang tua tidak bisa
lagi belajar, bahkan para sahabat Rasulullah ‫ ﷺ‬banyak yang belajar di masa
tua. Hal ini disebutkan Imam Bukhari dalam pembahasan “Kitab Ilmu” dari
kitab shohihnya.

Adapun sebab susahnya belajar di masa tua adalah sebagaimana dijelaskan


oleh Al-Mawardy dalam kitabnya [1] adalah karena masa tua adalah masa
banyaknya kesibukan, problematika, dan pikiran. Siapa yang bisa mengatasi
hal tersebut, dia akan mendapatkan ilmu.

Kiat Kedelapan: Meninggalkan Sikap Buru-buru dalam Meraih Ilmu

Ilmu tidak bisa dikuasai sekaligus, sebab hati tidak akan sanggup. Ilmu itu
berat bagaikan beratnya batu saat dibawa. Allah berfirman:

8
‫ِإَّنا َس ُنْلِقي َعَلْيَك َقْواًل َثِقياًل‬
“Kami akan mewahyukan kepadamu perkataan yang berat.” (QS Al-
Muzammil : 5)

Maksudnya adalah Alquran. Jika Allah menyifati Alquran dengan perkataan


yang berat padahal telah dimudahkan, sebagaimana firman Allah ta’ala:

‫َوَلَقْد َيَّس ْر َنا اْلُقْر آَن ِللِّذْكِر‬


“Dan sesungguhnya kami telah memudahkan al- quran untuk dihafal”.
(QS Al-Qamar : 17)

Lalu bagaimanakah dengan ilmu lainnya?!

Inilah hikmah diturunkannya Alquran berangsur-angsur, berdasarkan


keadaan dan kejadian yang dialami oleh Rasulullah ‫ﷺ‬. Allah berfirman:

‫وقاَل اَّلِذيَن َكَفُر وا َلْوال ُنِّز َل َعَلْيِه الُقْر آُن ُج ْمَلًة واِح َدًة َكَذِلَك ِلُنَثِّبَت‬
‫ِبِه ُفؤاَدَك وَر َّتْلناُه َتْر ِتياًل‬
“Orang – orang kafir berkata mengapa Alquran itu tidak diturunkan
sekaligus, begitulah, karena Allah ingin meneguhkan hatimu, dan Kami
membacakannya secara tartil (teratur dan benar).” (QS Al-Furqan : 32)

Ayat ini adalah dalil untuk tidak tidak tergesa-gesa ketika menuntut ilmu dan
mempelajarinya secara bertahap, sebagaimana diungkapkan oleh Al-Khotib
Al-Baghdady dalam kitabnya (Al-Faqih wal Mutafaqqih), begitu pula dengan
Ar-Raghib Al-Ashfahany dalam kitabnya (Muqaddimah Jami’ Tafsir).

Diantara syair Ibnu Nahhas al-Halaby adalah:

Hari ini sedikit besokpun demikian


Dari intisari ilmu yang didapatkan
Dengan begitulah seseorang bisa meraih hikmah
Sejatinya kumpulan tetasan air adalah asal mula air bah

Tidak tergesa-gesa dan bertahap dalam mempelajari ilmu inilah yang


mengharuskan seseorang memulai perjalanan ilmiyyahnya dengan matan-
matan ringkas disetiap cabang ilmu, dalam bentuk hafalan dan
mendengarkan penjelasan guru, dan tidak menyibukkan diri untuk
menela’ah kitab-kitab tebal yang belum bisa dia pahami. Siapa yang
membaca buku-buku tebal tersebut, maka dia telah mencelakai agamanya
dan melanggar aturan ilmu itu sendiri, bahkan bisa jadi dia akan kehilangan
ilmu tersebut.

9
Diantara perkataan penuh hikmah yang pernah dituturkan oleh Abdul Karim
Ar-Rifa’iy – salah seorang ulama damaskus pada abad sebelumnya – adalah:
Makanan orang dewasa adalah racun bagi anak bayi.

Kiat Kesembilan: Sabar dalam Belajar dan Mengajar

Segala sesuatu yang berharga tidak akan bisa diperoleh kecuali dengan
kesabaran. Dan hal yang paling berat dirasakan saat mencari sesuatu yang
berharga tersebut adalah memaksa jiwa untuk bersabar. Karena itu kita
diperintahkan bersabar dan menguatkan kesabaran dalam mengokohkan
dasar keimanan begitupula dalam meraih kesempurnaan iman. Allah ta’ala
berfirman:

‫َيا َأُّيَها اَّلِذيَن آَمُنوا اْصِبُر وا َوَصاِبُر وا‬


“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah
kesabaranmu ……” [QS Ali ‘Imran:200]

Allah ta’ala juga berfirman:

‫ُدوَن‬a‫َواْصِبْر َنْفَس َك َم َع اَّل ِذيَن َي ْدُعوَن َر َّبُهْم ِباْلَغ َداِة َواْلَعِش ِّي ُيِري‬
‫َوْج َهُه‬
“Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru
Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya…”
(QS Al-Kahf : 28)

Yahya bin Abi Katsir menafsirkan ayat ini, beliau berkata: Maksudnya adalah
majelis ilmu. Seseorang tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan
kesabaran. Yahya bin Abi Katsir juga pernah berkata: Ilmu tidak akan
didapatkan dengan bersantai. Hanya dengan bersabar seseorang bisa keluar
dari kubang kejahilan dan dengan bersabar pulalah kelezatan ilmu bisa
dirasakan. Sabar dalam ilmu ada dua tahapan:

1. Sabar saat mencari ilmu. Sebab menghafal, memahami ilmu dan hadir
di majelis ilmu butuh kesabaran begitupula dalam menunaikan hak sang
guru.

2. Sabar saat menyampaikan dan menyebarkan ilmu. Dibutuhkan


kesabaran saat duduk mengajar, begitu pula saat berusaha
memahamkan para murid dan menyikapi ketergelinciran mereka.

Dan hal yang lebih sulit dari dua kesabaran diatas adalah sabar untuk
selalu bersabar pada dua tahapan tersebut dan istiqamah

10
menjalaninya. Setiap orang mencoba untuk meraih cita-cita, namun
sedikit yang bisa istiqamah dalam menggapainya.

Kiat Kesepuluh: Senantiasa Menjaga Adab Ilmu

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam kitabnya (Madarijus Salikin): Adab


merupakan kunci kebahagiaan dan kesuksesan seseorang, begitupula
kurangnya adab merupakan sebab celaka dan kesengsaraannya, kebaikan
dunia dan akhirat hanya bisa diraih dengan adab, dan tidaklah seseorang
terhalang dari kebaikan tersebut kecuali karena kurangnya adab.

Seseorang tidak akan mendapatkan derajat tinggi tanpa adab. Walaupun dia
memiliki kedudukan dan kemuliaan nasab. Ilmu hanya pantas diperoleh oleh
orang yang menerapkan adab, baik saat sendirian, saat belajar, bersama
teman, maupun ketika bersama gurunya.

Yusuf bin Husein berkata: “Dengan beradab engkau akan memahami ilmu.”

Karena ketika seseorang beradab, dia akan dipandang sebagai orang yang
pantas menerima ilmu, maka seorang guru pun akan bersemangat
mengajarinya. Sedangkan orang yang tidak beradab, sungguh ilmu terlalu
berharga daripada disia-siakan olehnya.

Berawal dari inilah, dahulu memberikan perhatian besar kepada adab


sebesar perhatian mereka terhadap ilmu.

Ibnu Sirin berkata: “Dahulu mereka mempelajari adab sebagaimana mereka


mempelajari ilmu.”

Bahkan sebagian mereka lebih mendahulukan belajar adab sebelum mereka


menimba ilmu. Malik bin Anas pernah bertutur kepada seorang pemuda
quraisy: Duhai anak saudaraku, pelajarilah adab sebelum engkau menunut
ilmu.

Dan dahulu mereka menampakkan kebutuhan mereka terhadap adab. Suatu


hari Makhlad bin Husein berkata kepada Abdullah bin Mubarak: Kita lebih
membutuhkan adab daripada ilmu yang banyak.

Begitu pula, dahulu mereka mewasiatkan dan mengarahkan penuntut ilmu


untuk mempelajari adab. Malik berkata: Dahulu ibundaku sambil
memasangkan imamah dikepalaku berpesan: Pergilah ke majelis Rabi’ah –
yakni Ibnu Abi Abdirrahman, ahli fikih penduduk Madinah pada
zamannya – pelajarilah adabnya sebelum mengambil ilmunya.

Sungguh penyebab banyaknya penuntut ilmu zaman sekarang terhalang dari


ilmu dikarenakan mereka meremehkan masalah adab. Suatu hari Laits bin
11
Sa’ad sedang memperhatikan para penuntut ilmu, lalu beliau melihat
sesuatu yang sepertinya tidak beliau sukai, maka beliaupun berkata:

“Apa ini? Kalian lebih membutuhkan sedikit adab daripada ilmu yang
banyak.”

Lalu, apa yang akan dikatakan oleh Laits apabila melihat keadaan para
penuntut ilmu di zaman sekarang?!.

Kiat Kesebelas: Menjaga Ilmu dari Hal yang Menyelisihi dan


Meruntuhkan Maruah

Siapa yang tidak menjaga ilmu maka ilmupun enggan menjaganya,


sebagaimana yang diungkapkan oleh Imam Asy-Syafi’i. Siapa yang
meninggalkan marwah dengan menjerumuskan dirinya dalam kejelekan,
maka sejatinya dia telah meremehkan dan tidak mengagungkan ilmu. Dia
telah menjerumuskan dirinya dalam kehinaan sehingga tidak pantas lagi
disematkan nama ilmu pada dirinya.

Wahb bin Munabbih pernah berkata: “Orang yang menghinakan dirinya tidak
akan menjadi ahlul hikmah.”

Marwah sebagaimana yang dijelaskan oleh Majduddin Ibnu Taimiyyah dalam


kitab Muaharrar dan diikuti oleh cucu beliau pada sebagian fatwanya,
bermakna: Menggunakan segala sesuatu yang bisa menghiasi dan
memperindah dirinya dan menjauhi segala sesuatu yang membuat dirinya
hina.

Seorang berkata kepada Abu Muhammad Sufyan bin ‘Uyainah: Engkau telah
memahami semua hukum di dalam Al-Quran, lalu mana dalil menjaga
marwah? Beliaupun menjawab dalilnya pada firman Allah ta’la:
‫َأ‬ ‫ْأ‬
‫ُخ ِذ اْلَعْفَو َو ُمْر ِباْلُعْر ِف َو ْعِرْض َعِن اْلَج اِهِليَن‬
“Jadilah pemaaf, perintahkanlah orang mengerjakan yang ma’ruf, dan
berpalinglah dari orang-orang bodoh.” (Al-A’raf 199)

Di dalam ayat ini terdapat marwah, adab dan akhlaq yang mulia. Diantara
adab yang senantiasa harus dimiliki seorang penuntut ilmu adalah menghias
dirinya dengan sikap marwah dan menjauhi segala sesuatu yang dapat
meruntuhkannya, seperti; mencukur habis jenggot, sering menoleh ketika
berjalan, menjulurkan kaki tanpa ada kebutuhan di keramaian, berteman
dengan orang yang buruk perangainya, orang fasik dan orang yang tidak
tahu malu, atau bergulat dengan anak-anak.

12
Kiat Ketigabelas: Memilih Sahabat yang Sholih dalam Menuntut Ilmu

Memilih teman merupakan sebuah keharusan bagi kehidupan manusia. Oleh


karenanya, penuntut ilmu memerlukan seorang teman untuk membantu dan
menyemangatinya saat menuntut ilmu. Persahabatan dalam ilmu akan
sangat membantu seseorang dalam mencapai tujuannya asalkan tidak ada
mafsadah di dalamnya.

Seorang yang ingin mencapai puncak ilmu haruslah mencari sahabat yang
shalih guna membantunya. Karena sahabat memilki pengaruh yang kuat
dalam diri seseorang. Abu Dawud dan Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits
dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi bersabda:

‫الَّر ُج ُل َعَلى ِديِن َخِليِلِه َفْلَيْنُظْر َأَحُدُكْم َمْن ُيَخاِلُل‬


“Agama seseorang seperti agama sahabatnya, maka kalian harus
memperhatikan dengan siapa kalian berteman.”

Ar-Raghib Al-Ashfahany berkata: Pengaruh seorang teman bukan hanya


lewat obrolan dan saat bergaul dengannya saja, bahkan hanya dengan
melihatnya, bisa memberikan pengaruh.

Hendaknya yang dijadikan teman adalah orang yang bergaul demi mencari
keutamaan bukan sekedar manfaat duniawi ataupun kepuasaan. Karena
pergaulan manusia biasanya didasari tiga hal : keutamaan, manfaat duniawi
dan kepuasan, sebagaimana yang disebutkan oleh guru dari guru kami, yaitu
Muhammad al-Khadir bin Husein di dalam kitabnya (Rasailul Ishlah).

Maka jadikanlah teman yang memilki keutamaan sebagai sahabat, karena


engkau akan dikenal dari tingkah laku sahabatmu. Ibnu Mani’ mewasiatkan
para penuntut ilmu di dalam kitabnya (Irsyadut Thullab) : Jauhilah bergaul
dengan orang bodoh, orang yang tidak tahu malu, terkenal buruk akhlaqnya
dan orang pandir; karena bergaul dengan orang – orang semacam itu hanya
akan menyebabkan kesengsaraan bagi seseorang.

Kiat Ketigabelas: Bersemangat untuk Menghafal dan Mudzakarah


serta Rajin Bertanya

Mempelajari ilmu dari seorang guru tidak akan terasa manfaatnya, kecuali
dengan hafalan, mudzakarah dan rajin bertanya. Hal tersebut akan
menghadirkan pengagungan ilmu di dalam hati seorang pembelajar, dengan
selalu menyibukkan diri dengan ilmu. Menghafal adalah kesibukannya saat

13
sendirian, waktu bersama teman dia habiskan untuk mudzakarah, dan waktu
bersama guru dia manfaatkan untuk bertanya.

Para ulama dari dahulu senantiasa memotivasi dan menyuruh para penuntut
ilmu untuk menghafal. Kami pernah mendengar guru kami, syaikh Ibnu
Utsaimin berkata: Kami lebih sering membaca daripada menghafal, akan
tetapi manfaat yang kami rasakan dari hafalan jauh lebih banyak. Lalu
dengan bermudzakarah, ilmu akan selalu hidup dan melekat di dalam jiwa
seseorang. Makna mudzakarah adalah mengulang pelajaran bersama teman.

Kita diperintahkan untuk selalu mengulang hafalan al-Quran, padahal al-


Quran adalah ilmu yang paling mudah untuk dihafal. Bukhari dan Muslim
meriwayatkan dari ibnu Umar bahwasanya Rasulullah ‫ ﷺ‬bersabda:

‫ِإَّنَما َمَثُل َصاِح ِب اْلُق ْر آِن َكَمَث ِل َص اِح ِب اِإْلِب ِل اْلُمَعَّقَل ِة ِإْن َعاَه َد‬
‫َأ‬ ‫َأ‬
‫َعَلْيَها ْمَس َكَها َوِإْن ْطَلَقَها َذَهَبْت‬
“Perumpaan penghafal alquran, seperti orang yang memilki seekor unta
yang terikat, jika selalu diawasi, unta tersebut tidak akan kabur, dan jika
dia lepaskan ikatannya unta tersebut akan kabur.”

Ibnu Abdil Barr ketika mengomentari hadits ini dalam kitabnya (At-Tamhid),
beliau berkata:

“Kalau seandainya alquran yang sudah Allah mudahkan diumpamakan


seperti unta yang terikat, jika selalu diawasi unta tersebut tidak akan
kabur, lalu bagaimana halnya dengan ilmu-ilmu lainnya??!.”

Lalu dengan bertanya, terbukalah pembendaharaan ilmu, sebab pertanyaan


yang bagus merupakan sebagian ilmu. Dan pertanyaan-pertanyaan yang
dibukukan seperti Masa’il yang diriwayatkan dari Imam Ahmad, merupakan
bukti nyata besarnya manfaat bertanya.

Tiga sarana dalam menuntut ilmu ini diibaratkan seperti menanam sebuah
pohon yang disirami dan diberi pupuk yang akan mengokohkan pohon
tersebut dan menghilangkan hama-hama yang akan merusaknya. Menghafal
ibarat menanam, mudzakarah ibarat menyirami pohon dan bertanya adalah
pupuknya.

Kiat Keempatbelas: Memuliakan serta Menghormati Para Ulama

Sungguh keutamaan para ulama sangatlah besar dan mereka memilki


kedudukan yang mulia, dikarenakan mereka adalah orang tua para ruh.
Seorang guru sejatinya adalah ayah bagi ruh sebagaimana ayah biologis

14
adalah ayah bagi jasad, oleh karenanya mengetahui keutamaan guru
merupakan hak yang wajib ditunaikan.

Syu’bah bin Hajjaj berkata:

“Setiap orang yang mengajariku satu hadits maka aku adalah


budaknya.”

Muhammad bin Aly al-Udfuwy juga menarik kesimpulan yang serupa dari
ayat alquran, beliau berkata: “Apabila sesorang belajar kepada seorang
‘alim dan mengambil faedah darinya maka dia menjadi budak ‘alim
tersebut.”

Allah ta’ala berfirman:

‫َوِإ ۡذ َقاَل ُموَس ٰى ِلَفَتٰىُه‬


“Dan ingatlah tatkala musa berkata kepada budaknya.” (Al-Kahfi 60)

Budak yang dimaksud adalah Yusya’ bin Nun. Pada hakikatnya Yusya’
bukanlah budak Musa, melainkan murid sekaligus pengikut beliau, dan Allah
pun menyebut Yusya’ sebagai budak disebabkan hal tersebut.

Syari’at telah memerintahkan untuk memperhatikan hak para ulama dengan


menghormati, memuliakan dan meninggikan mereka. Imam Ahmad
meriwayatkan dalam musnadnya dari ‘Ubadah bin Shamit, bahwasanya
Rasulullah ‫ ﷺ‬bersabda:

‫َلْيَس ِمْن ُأَّمِتي َمْن َلْم ُيِج َّل َكِبيَر َنا َوَيْر َح ْم َصِغيَر َنا َوَيْع ِرْف ِلَعاِلِمَن ا‬
‫َح َّقُه‬
“Bukan termasuk umatku: orang yang tidak memuliakan orang yang
lebih tua, tidak menyayangi yang lebih kecil, dan orang yang tidak
mengetahui hak ulama.”

Ibnu Hazm juga menukilkan konsensus akan wajibnya menghormati dan


memuliakan para ahli ilmu.

Diantara adab kepada seorang guru yang harus ditunaikan oleh seorang
penuntut ilmu – yang masuk ke dalam pembahasan ini – adalah bersikap
tawadhu’ dihadapan guru, memperhatikan dan tidak menoleh kiri kanan
serta menjaga adab ketika berbicara dengannya.

Jika sedang bercerita tentang gurunya, dia pun mengagungkan sang guru
tanpa berlebihan tapi sesuai dengan kadarnya, agar jangan sampai nama
gurunya rusak di saat dia berniat memujinya.

15
Begitupula hendaklah dia beterima kasih mendoakan gurunya atas
pengajaran yang diberikan, tidak menampakkan bahwa dirinya tidak lagi
membutuhkan gurunya tersebut, tidak menyakiti guru baik berupa
perkataan maupun perbuatan, dan hendaklah bersikap sopan ketika
mengingatkan guru apabila terdapat kesalahan dari dirinya.

Pada pembahasan ini sangat pas apabila kita menyebutkan secara ringkas
kewajiban seorang murid dalam menyikapi kesalahan guru. Ada 6 hal yang
harus diperhatikan:

1. Memastikan bahwa kesalahan tersebut berasal dari sang guru.


2. Memastikan bahwa hal tersebut memang sebuah kesalahan. Dan ini
adalah urusan para ulama yang ahli, sehingga murid harus bertanya
terlebih dahulu.
3. Tidak mengikuti kesalahan tersebut.
4. Mencarikan alasan yang bisa diterima.
5. Menasihati guru dengan sopan dan secara rahasia.
6. Menjaga kehormatannya, jangan sampai kemuliaannya jatuh dari hati
kaum muslimin.

Hal yang harus dihindari juga dan masih berhubungan dengan pembahasan
memuliakan ulama adalah perbuatan yang secara lahirnya memuliakan
padahal hakikatnya adalah penghinaan, seperti berkerumun di dekat
seorang ‘alim, menyempitkan jalannya dan membuat beliau susah untuk
berjalan.

Kiat Kelimabelas: Menyerahkan Permasalahan Pelik kepada Ahlinya

Para pengagung ilmu akan menyerahkan permasalahan yang pelik kepada


para pakar dan pembesar ilmu untuk dicarikan penyelesaiannya dan tidak
membebankan sesuatu yang tidak dia sanggupi kepada dirinya sendiri,
disebabkan ketakutannya untuk berbicara tentang Allah tanpa ilmu serta
membuat sebuah kebohongan atas nama agama, dia lebih takut kepada
kemurkaan Allah daripada hukuman penguasa.

Sungguh para ulama akan berbicara dengan ilmu dan diam berdasarkan
pemikiran yang matang. Oleh karenanya berbicaralah sesuai dengan apa
yang mereka ucapkan dan jika seandainya mereka memilih untuk diam,
maka diamlah sebagaimana mereka diam.

Diantara perkara yang pelik tersebut adalah permasalahan fitnah yang


sedang menimpa dan permasalahan kontemporer yang banyak bermunculan
sesuai dengan perkembangan zaman.

16
Orang yang selamat dari panasnya api fitnah adalah orang yang selalu
merujuk kepada para ulama dan berpegang dengan perkataan mereka. Dia
akan berprasangka baik kepada para ulama saat mendapati pandangannya
berbeda dengan perkataan mereka, sehingga dia pun mengambil pendapat
ulama dan membuang pendapatnya sendiri, karena para ulama tersebut
lebih ahli dan lebih berpengalaman.

Apabila terjadi perselisihan di antara mereka, ikutilah pendapat mayoritas


demi memperoleh keselamatan di sisi Allah, sebab tidak ada yang lebih
berharga daripada keselamatan agama.

Betapa indahnya ucapan ibnu ‘Ashim dalam kitabnya (Murtaqal Wushul):

Ketika mendapati persoalan pelik seharusnya


Memperbaiki prasangka kepada para ulama

Dan di antara permasalahan yang pelik lainnya adalah meluruskan


ketergelinciran seorang ‘alim dan membantah perkataan bathil yang berasal
dari ahlul bid’ah, maka yang berbicara dalam permasalahan ini hanyalah
para ulama yang kuat keilmuannya, sebagaimana yang dijelaskan oleh Asy-
Syathibi di dalam kitab (al-Muwafaqat) dan ibnu rajab di dalam kitab (Jamiul
‘Ulum wal Hikam).

Oleh karenanya, jalan keselamatan yang harus ditempuh adalah


menanyakan permasalahan tersebut kepada para ulama yang telah teruji
keilmuannya, dan berpegang kepada perkataaan mereka.

Kiat Keenambelas: Menghormati Majelis Ilmu dan Memuliakan


Tempat/Majelis para Ulama seperti Majelis Para Nabi

Sahl bin Abdillah berkata: Siapa yang ingin melihat majelis para nabi,
hendaklah dia melihat majelis para ulama. Dalam majelis tersebut ada yang
bertanya:

“Ya Fulan, bagaimana hukum seseorang yang bersumpah menceraikan


istrinya apabila seperti ini dan seperti ini?”

Lalu dia menjawab: “Engkau telah menceraikan istrimu.”

Lalu ada lagi yang bertanya: “Bagaimana hukum seseorang yang


bersumpah menceraikan istrinya apabila seperti ini dan seperti ini?”

Dia menjawab: “Talaknya tidak jatuh dengan sumpah tersebut. Orang


yang berhak menjawab masalah ini hanyalah seorang nabi atau seorang
‘alim, maka ketahuilah keutamaan mereka.”

17
Seorang penuntut ilmu harus mengetahui hak-hak majelis ilmu. Hendaklah
dia beradab ketika duduk, memperhatikan gurunya tatkala belajar, tidak
menoleh kecuali ada kebutuhan, tidak berpaling ketika mendengar suara di
luar mejelis, tidak bermain-main dengan tangan atau kakinya, tidak
bersandar ketika ada gurunya, tidak bertumpu dengan tangannya, tidak
sering berdeham dan bergerak, tidak mengobrol dengan orang
disebelahnya, memelankan suara ketika bersin dan menutup mulut ketika
menguap jika tidak dapat menahannya.

Begitupula termasuk menghormati majelis ilmu adalah dengan memuliakan


tempat disimpannya ilmu tersebut, terutama kitab. Sudah sepantasnya bagi
seorang penuntut ilmu menjaga, memuliakan dan merawat kitabnya, jangan
sampai dia menjadikan sebuah kitab seperti kotak penyimpanan barang,
jangan sampai pula dia menjadikan kitabnya seperti terompet dan
hendaknya dia meletakkan kitab tersebut dengan sopan dan penuh
perhatian.

Suatu ketika Ishaq bin Rahawaih pernah melempar sebuah kitab yang ada
ditangannya, Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal pun melihat kejadian tersebut,
lantas beliau berkata: Begitukah perkataan orang-orang terbaik
diperlakukan?

Janganlah seorang penuntut ilmu menjadikan kitab sebagai tumpuan tangan


dan jangan sampai dia meletakkan sebuah kitab sejajar dengan kakinya,
apabila sedang belajar bersama seorang guru, hendaklah dia meninggikan
buku tersebut dari lantai dan meletakkannya di kedua tangan.

Kiat Ketujuhbelas: Menjaga Serta Membela Kehormatan Ilmu

Sejatinya ilmu memiliki kehormatan yang wajib dibela ketika ada yang
merusaknya. Pembelaan ini sungguh terlihat pada apa yang telah dilakukan
oleh para ulama, seperti: membantah orang yang menyimpang. Siapa saja
yang terbukti menyelisihi syariat maka harus dibantah demi menjaga agama
dan sebagai bentuk nasihat untuk kaum muslimin.

Diantara bentuk pembelaan ilmu yang lainnya adalah memboikot para ahlul
bid’ah, dan ini sudah menjadi konsensus para ulama sebagaimana yang
disebutkan Abu Ya’la Al-Farra’. Sehingga tidak diperkenankan untuk
mengambil ilmu dari para ahlul bid’ah, kecuali dalam kondisi darurat,
sebagaimana para ahli hadits dahulu meriwayatkan hadits dari ahlul bid’ah.

Begitu pula, termasuk pembelaan terhadap ilmu: memberi peringatan


kepada seorang murid jika ia melampaui batas saat berdiskusi dengan
gurunya atau bersikap kurang ajar. Bahkan jika memang diperlukan,
hendaklah seorang guru mengusir murid tersebut dari majelis sebagai

18
bentuk peringatan untuknya, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh
Syu’bah –rahimahullah– kepada ‘Affan bin Muslim pada saat pelajarannya.

Bisa juga memberi peringatan kepada seorang murid dengan cara tidak
memperhatikannya dan tidak menjawab pertanyaannya, karena diam juga
merupakan jawaban, sebagaimana yang dikatakan A’masy.

Kami sering melihat praktek tersebut dari guru-guru kami, diantaranya


Syaikh bin Baz –rahimahullah–, terkadang ada yang bertanya kepada beliau
tentang suatu hal yang tidak bermanfaat, syaikh pun enggan menjawabnya
dan menyuruh muridnya yang bertugas untuk membaca agar melanjutkan
bacaannya, atau beliau memberikan jawaban yang bertentangan dengan
maksud si penanya.

Kiat Kedelapanbelas: Tidak Sembarangan Dalam Bertanya

Hal ini harus diperhatikan agar bisa terhindar dari permasalahan yang bisa
menimbulkan fitnah dan juga demi menjaga kewibawaan seorang ‘alim.
Karena sebagian pertanyaan dimaksudkan untuk memancing keributan,
menyulut api fitnah dan keburukan.

Siapa yang memperhatikan sikap ulama saat menghadapi pertanyaan-


pertanyaan semisal, maka dia akan mendapati ketidaksukaan pada diri
mereka, sebagaimana telah disebutkan dalam pembahasan tentang
memberikan peringatan kepada seorang murid. Sehingga seorang murid
diharuskan untuk berhati-hati saat bertanya. Dan hal tersebut bisa terwujud
dengan memperhatikan 4 prinsip:

1. Memikirkan tujuan untuk apa dia bertanya? Tujuan bertanya haruslah


untuk belajar dan memahami agama bukan untuk mendebat dan
menjatuhkan. Sungguh siapa yang jelek tujuannya, dia akan terhalang
dari keberkahan dan manfaat ilmu.

2. Cerdas dalam memilih pertanyaan. Jangan menanyakan sesuatu yang


tidak ada manfaatnya, baik dari sudut pandang diri sendiri ataupun
dilihat dari permasalahan tersebut. Termasuk dalam hal ini bertanya
tentang suatu hal yang belum terjadi atau permasalahan yang bukan
untuk konsumsi publik.

3. Melihat kesiapan seorang guru untuk menjawab pertanyaan. Jangan


bertanya pada kondisi yang tidak tepat, seperti ketika guru sedang
bersedih, banyak pikiran, sedang berada di jalan atau sedang menyetir
mobil. Tunggulah sampai kondisi guru siap untuk menjawab pertanyaan.

19
4. Memperhatikan metode bertanya kepada seorang guru, dengan
menunjukkan sikap bertanya yang penuh adab: mendoakan guru
sebelum bertanya dan memuliakannya ketika berbicara, jangan sampai
dia berbicara dengan seorang guru seperti dia bicara dengan orang-
orang di pasar maupun orang awam.

Kiat Kesembilanbelas: Mencintai Ilmu dengan Segenap Hati

Keseriusan dalam mencari ilmu akan menghadirkan kecintaan dan


keterikatan hati dengannya. Seorang hamba tidak akan mendapatkan
derajat yang tinggi dalam ilmu sampai dia menjadikan ilmu tersebut sebagai
kelezatan terbesarnya.

Lezatnya ilmu, sebagaimana yang disebutkan oleh Abu Abdillah Ibnul


Qayyim, akan dirasakan dengan memperhatikan 3 hal:

1. Mengerahkan seluruh daya dan upaya.


2. Keseriusan dalam mencarinya.
3. Benar dan ikhlasnya sebuah niat.

Dan ketiga hal ini tidak akan sempurna kecuali dengan menghalau segala
yang dapat menyibukkan hati.

Sesungguhnya kelezatan ilmu jauh lebih nikmat daripada sebuah jabatan


kekuasaan yang biasanya diincar oleh kebanyakan orang dengan
mengucurkan dana yang begitu banyak, bahkan banyak darah yang
tertumpahkan.

Oleh sebab itu, para raja dahulu merindukan kelezatan ilmu, mereka
merasakan ada sesuatu yang hilang sehingga mereka pun ingin
mendapatkannya.

Abu Ja’far Al-Manshur, – seorang khalifah bani Abbasiyah yang terkenal, yang
mana kerajaaanya meliputi timur dan barat – pernah ditanya: “Masih
adakah kelezatan dunia yang belum engkau dapatkan?” Beliau pun
menjawab – sambil duduk diatas singgasananya – : “Ada satu hal, yaitu bisa
duduk di atas sebuah kursi dan di sekelilingku ada para pencari hadits.”
Kemudian berkatalah seorang mustamli’: “Tolong sebutkan sanad hadits
Anda – semoga Allah merahmatimu–.”

Maksudnya adalah ia ingin sekali bisa untuk mengatakan: telah


mengabarkan kepada kami fulan, dia berkata telah mengabarkan kepada
kami fulan, dan menyebutkan sebuah hadits lengkap dengan sanadnya.

20
Ketika hati seseorang sudah dipenuhi dengan kelezatan ilmu, gugurlah
kelezatan lainnya dan jiwa pun melupakannya, bahkan rasa sakitpun bisa
berubah menjadi kenikmatan dikarenakan lezatnya ilmu.

Ketika hati seseorang sudah dipenuhi dengan kelezatan ilmu, gugurlah


kelezatan lainnya dan jiwa pun melupakannya, bahkan rasa sakitpun bisa
berubah menjadi kenikmatan dikarenakan lezatnya ilmu.

Kiat Keduapuluh: Menjaga Waktu demi Ilmu

Ibnul Jauzi berkata di dalam kitab (Shoidul Khotir): Seorang itu haruslah
mengetahui betapa mulia dan berharganya waktu yang dia miliki, jangan
sampai dia biarkan waktunya berlalu tanpa sebuah ketaatan dan hendaklah
dia mendahulukan amalan yang paling afdhol, baik berupa perkataan
maupun perbuatan.

Didasari hal tersebut, para ulama sangat memperhatikan waktu, sampai-


sampai Muhammad bin Abdul Baqi Al-Bazzaz berkata: Aku tidak pernah
membiarkan sesaat dari waktuku berlalu untuk perkara yang sia-sia.

Abul Wafa bin ‘Uqail – penulis kitab (Al-Funun) sebanyak 800 jilid – pernah
berkata:

Tidak halal bagiku untuk menyia-nyiakan sesaat pun dari


waktuku. Saking mereka memuliakan waktu, mereka menyuruh orang
lain membacakan ilmu ketika waktu makan, bahkan ketika mereka
sedang berada di dalam toilet. Maka wahai para penuntut ilmu jagalah
waktumu, sungguh sangat indah apa yang dikatakan Ibnu Hubairah Al-
Hanbaly:

“Waktu adalah harta paling berharga yang hendaknya kau jaga.


Akan tetapi aku melihatmu sangat mudah membuangnya.”

Demikianlah 20 kiat memahami ilmu yang dijelaskan oleh Syaikh Sholih


Al-‘Ushoimy di dalam Kitab Ta’zhimul ‘Ilmi, yang beliau rangkum dari
penjelasan-penjelasan ulama terdahulu yang telah sukses memahami ilmu
dan menjadi imam dalam setiap cabang ilmu.

Oleh karenanya, sebagaimana kita berusaha mencontoh orang-orang sukses


dalam urusan dunia agar kita bisa mengikuti jejak kesuksesan mereka,
begitu pula dalam proses memahami ilmu, hendaklah kita mencontoh dan
menapaki jalan para ulama yang telah lebih dahulu mempelajari ilmu.

21

Anda mungkin juga menyukai