BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan ialah salah satu kebutuhan manusia untuk dapat berproses dan
berinteraksi di dunia luar dengan semua masyarat sekitaranya. Pendidikan juga menjadi
salah satu Bekal penting di masa depan. pendidikan menjadi salah satu hal pokok yang
harus di perhatikan sebab pendidikan mampu menbenuk karaker pribadi seiap orang
apabila sungguh sungguh dalam menekuninya.
Pedidikan ialah proses pembelajaran tentang akhlak, ilmu pengetahuan dan
keerampilan yang menjadi kebiasaan turun temurun sekelompok orang untuk
melakukan pelaihan atau penelitian pengajaran dan pengamaan.
Menurut UU Republik Indonesia no.20 tahun 2003 tentang sisem pendidikan
nasional pasal 1aya1 pengertian pendidikan adalah usaha sadar dan erencana untuk
mewujudkan suasan belajar dan proses pembelajaran agar pesera didik secara aktif
mengembangkan potensi didrinya unukmemiliki kekuatan spriual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang di
perlukan dirinya ,masyarakat , bangsa dan negara.
B. Rumusan Masalah
a. Apa itu Historis
b. Bagaimana Sejarah Perkembangan Pendidikan Indonesia
c. Bagaimana Pendidikan Kaum Pergerakan Kebangsaan/Nasional
1
C. Tujuan Masalah
a. Mengetahui Pengertian Historis
b. Mengetahui Sejarah Perkembangan Pendidikan Indonesia
c. Mengetahui Pendidikan Kaum Pergerakan Kebangsaan/Nasional
2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Historis
Historis sama dengan sejarah, Almarhum prof. Kuntowijoyo secara singkat
mendefenisikan sejarah sebagai “rekontruksi masa lalu.” 1 Tetapi sejarah tidak
menjadikan seluruh masa lalu sebagai objeknya. Pada intinya sejarah beproses pada
masa lalu manusia.
Sejarah membahas tentang manusia dari sudut pandang waktu. Dalam jangka
waktu dapat terjadi beberapa hal, antara lain: perkembangan, kesinambungan,
pengulangan, dan perubahan. Perubahan dapat terjadi dengan cara yang cepat, lambat,
atau dengan cara yang paling lambat. Menjadi penyebab periodisasi sangat penting
dalam sejarah; yakni agar dalam masing-masing periode dapat dilihat secara jelas ciri-
ciri dan karakteristik perubahannya. Sejarah tidak mampu mengupayakan generalisasi,
sebagaimana dalam ilmu-ilmu sosial lainnya seperti sosiologi dan antropologi. 2
B. Sejarah Perkembangan Pendidikan di Indonesia
1. Pendidikan pada Masa Purba
Pendidikan pada masa Purba, didominasi oleh peranan seorang bapak kepada
anak lelakinya dengan menurunkan kepandaian dan pengetahuan pada anaknya. Adapun
pengetahuan yang diturunkan biasanya pengetahuan yang mudah seperti berburu,
1
Kuntowijoyo,Pengantar Ilmu Sejarah, cet.5 (Yogyakarta:Bentang, 2005),h.18
2
Ibid., h. 13-17
3
menangkap ikan dan memanjat pohon. Sedangkan ibu mempunyai tugas mendidik anak
perempuannya seperti memasak dan merawat anak-anaknya. Jadi, konsep pendidikan
pada masa purba adalah konsep pendidikan keluarga. Selain bapak dan ibu, pada masa
purba juga ada yang dianggap guru.
Pendidikan secara umum pada masa purba bertujuan untuk membentuk
seseorang agar menjadi seorang yang berjiwa ''gotong royong'' dan membentuk manusia
agar mempunyai kecakapan dalam hal beretika, ilmu berburu dan menangkap ikan.
Di zaman ini belum di kenal dengan istilah kurikulum, namun pendidikannya
telah mencakup aspek kajian kurikulum, yang meliputi pengetahuan, sikap dan nilai
mengenai kepercayaan melalui upacara-upacara keagamaan dalam rangka menyembah
nenek moyang.
2. Pendididkan Indonesia di Masa kerajaan
Pendidikan di masa kerajaan berawal dari kerajaan sriwijaya. Pada kerajaan
Mataram kuno yang berpusat di jawa Tengah dengan aktifitas pendidikannya yaitu
menterjemahkan buku-buku agama budha maupun buku-buku lainnya ke bahasa jawa
kuno, seperi ramayana. Perguruan tinggi pada masa kerajaan Mataram kuno sudah
Meliputi fakultas agama ,fakutas sastra, fakultas bangunan ,atau teknik bangunan.
Selain kerajaan Mataram, Kerajaan hindu- budha dan ada juga kerajaan islam.
Agama hindu dan Budha sudah mulai masuk ke nusantara sejak abad ke-4. Bukti
awalnya adalah ditemukan prasasti Yupa Kerajaan Kutai yang menceritakan tentang
upacara keagamaan di sana. Di dalam sistem sosial masyarakatnya pun, pendidikan juga
sudah mulai berkembang. Pengajaran agama dari para pendeta ke masyarakat dan
4
kalangan bangsawan sudah tentu menggunakan sebuah sistem yang terstruktur. Tulisan
Pallawa dan Sansekerta yang digunakan dalam tiap prasasti pun, tentu ada sistem
pengajaran yang digunakan sehingga masyarakat pribumi mampu menguasainya.3
Patapan ialah suatu kegiatan seseorang yang menjauhi masyarakat dan berdiam
di tempat yang sepi dan memilih menyendiri. Seseorang akan bertapa untuk merenung
dan mendekatkan dirinya kepada dewa. Dengan kegiatan seperti itu,agar dia bisa lebih
pahan dengan ajaran agama melalui kebatinannya. Ciri utama patapan ialah tempat yang
tidak berupa bangunan Tetapi, Patapan bisa di lakukan di goa, pinggir sungai, atas
bukit, dan tempat-tempat sunyi lainnya. Sedangkan mandala merupakan tempat
pengajaran agama yang sifatnya kolektif dan terstruktur. Mandala adalah tempat atau
bangunan yang biasanya terletak di pinggir kota raja , Baik pendeta atau murid sama-
sama berdiam diri dan belajar di satu tempat, sehingga terbentuklah nuansa
kekeluargaan antara guru dan murid. Selain itu, mandala juga dijadikan sebagai simbol
kesaktian bagi para raja. Para raja menganggap mandala-mandala ini sanga penti karena
dianggap sebagai sumber kekuatan mereka.
3. Pendidikan pada Masa Belanda
Pendidikan di bawah kekuasaan kolonial Belanda diawali dengan pelaksanaan
pendidikan yang dilakukan oleh VOC. Pada masa VOC, yang merupakan sebuah kongsi
(perusahaan) dagang, kondisi pendidikan di Indonesia dapat dikatakan tidak lepas dari
maksud dan kepentingan komersial. Zaman VOC (Kompeni) Orang belanda datang ke
Indonesia bukan untuk menjajah melainkan untuk berdagang. Mereka di motifasi oleh
hasrat untuk mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya, sekalipun harus mengarungi
3
Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, h. 90-107.
5
laut yang berbahaya sejauh ribuan kilometer dalam kapal layar kecil untuk mengambil
rempah-rempah dari Indonesia. Sekolah pertama didirikan VOC di Ambon pada tahun
1607. Sampai dengan tahun 1627 di Ambon telah berdiri 16 sekolah, sedangkan di
pulau-pulau lainnya sekitar 18 sekolah.
VOC menyelenggarakan sekolah dengan tujuan untuk misi keagamaan
(Protestan), bukan untuk misi intelektualitas, adapun tujuan lainnya adalah untuk
menghasilkan pegawai administrasi rendahan di pemerintahan dan gereja. Sekolah-
sekolah utamanya didirikan di daerah-daerah yang penduduknya memeluk Katholik
yang telah disebarkan oleh bangsa Portugis.4
Pada awalnya yang menjadi guru adalah orang Belanda, kemudian digantikan
oleh penduduk pribumi, yaitu mereka yang sebelumnya telah dididik di Belanda.
Kurikulum pendidikan pada zaman VOC berisi mengenai pelajaran membaca, menulis
dan sembahyang. Tujuan didirikan sekolah-sekolah oleh VOC adalah untuk
melaksanakan pemeliharaan dan penyebaran agama Protestant, maka dari itu guru yang
diangkat adalah para pendeta. Adapun mengenai uraian rencana pelajaran tidak dibuat
karena sekolah yang didirikan memiliki tujuan keagamaan bukan intelektualitas
Indonesia.
Tahun 1893 keluar kebijakan diferensiasi sekolah untuk bumi putera sebagai
akibat dikeluarkannya UU Agraris 1870. Kebijakan tersebut ditandai dengan
dikeluarkannya Indisch Staatsblad 1893, No 125 yang membagi sekolah Bumi Petera
yaitu Sekolah Kelas I untuk golongan priyayi, sedangkan Sekolah Kelas II untuk
golongan rakyat jelata. Isi rencana pelajaran disesuaikan dengan keharusan sekolah
4
Sofyan Rofi, Sejarah Pendidikan Islam Indonesia (Yogyakarta: Deepublish, 2016), hal. 16
6
untuk mendidik calon-calon pegawai. Pada mata pelajaran tampak adanya penyesuaian
dengan keperluan dan kebutuhan perkantoran seperti menggambar, berhitung, dan ilmu
pertanian. Mata pelajaran menggambar dilaksanakan dengan cara memberi tugas
menggambar peta-peta lapangan, mata pelajaran berhitung tidak terlepas dari soal-soal
yang berhubungan dengan pemungutan pajak tanah, administrasi gudang-gudang garam
dan kopi, membuat macam-macam daftar dan tata buku yang sederhana, sedangkan
mata pelajaran ilmu pertanian diupayakan agar meningkatkan hasil kuantitas dan
kualitas pertanian.5
Pengajaran bumiputera pada sekolah kelas I memiliki tujuan memenuhi
kebutuhan akan pegawai-pegawai pemerintah, perdagangan, dan perusahaan dengan
lama waktu belajar lima tahun dan mata pelajaran yang diberikan adalah membaca,
menulis, berhitung, ilmu bumi, sejarah, pengetahuan alam, menggambar, dan ilmu
mengukur tanah, sedangkan sekolah kelas II memiliki tujuan untuk memenuhi
kebutuhan akan pengajaran di kalangan rakyat umum dengan lama pendidikan tiga
tahun. Adapun mengenai mata pelajaran yang diberikan adalah membaca, menulis, dan
berhitung. Tahun 1914 Sekolah Kelas I diubah menjadi HIS (Holands Inlandse School)
6 tahun dengan bahasa pengantar bahasa Belanda. Sedangkan Sekolah Kelas II tetap
bernama demikan atau disebut Vervoleg School (sekolah sambungan) dan merupakan
lanjutan dari Sekolah Desa yang pelaksanaan pendidikan terdiri dari tiga tingkat kelas
yaitu Kelas I, Kelas II, dan Kelas III didirikan mulai tahun 1907.
4. Pendidikan Pada Masa Jepang
5
Djumhur, Pelajaran Sejarah Pendidikan (Bandung: Ilmu, 1976)
7
Pada masa penjajahan Jepang kegiatan pendidikan dan pengajaran menurun
akibatnya angka buta huruf meningkat. Oleh karena itu diadakanlah program
pemberantasan buta huruf yang di pelopori oleh organisasi Putera. Namun di bidang
pendidikan, Jepang telah menghapus dualisme pendidikan dari penjajah Belanda dan
menggantikannya dengan pendidikan yang sama bagi semua orang. Jepang menerapkan
beberapa kebijakan terkait pendidikan yang memiliki implikasi luas terutama bagi
sistem pendidikan di era kemerdekaan6.
Hal-hal tersebut antara lain:
a) Dijadikannya Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi pengantar pendidikan
menggantikan Bahasa Belanda.
b) Adanya integrasi sistem pendidikan dengan dihapuskannya sistem pendidikan
berdasarkan kelas sosial di era penjajahan Belanda.
Sistem pendidikan pada masa pendudukan Jepang itu kemudian dapat
dikategorikan sebagai berikut :
a) Sekolah Rakyat, Lama studi 6 tahun. Sekolah Pertama yang merupakan konversi
nama dari Sekolah dasar 3 atau 5 tahun bagi pribumi di masa Hindia Belanda.
b) Pendidikan Lanjutan, Terdiri dari Shoto Chu Gakko (Sekolah Menengah
Pertama) dengan lama studi 3 tahun dan Koto Chu Gakko (Sekolah Menengah
Tinggi) juga dengan lama studi 3 tahun. Sekolah guru terdiri dari sekolah guru 2
tahun, sekolah guru 3 tahun dan sekolah guru lama pendidikannya 6 tahun.
5. Pendidikan Indonesia Periode tahun 1945-1969
6
Yasumasa, Politik dan Pendidikan Moral di Jepang (Englan: Pergamon, 1988) hal. 12
8
Setelah Indonesia merdeka, perjuangan bangsa Indonesia tidak berhenti sampai
di sini karena gangguan-gangguan dari para penjajah yang ingin kembali menguasai
Indonesia datang silih berganti sehingga bidang pendidikan pada saat itu bukanlah
prioritas utama karena konsentrasi bangsa Indonesia adalah bagaimana
mempertahankan kemerdekaan yang sudah diraih dengan perjuangan yang amat berat.
Tujuan pendidikan belum dirumuskan dalam suatu undang-undang yang
mengatur pendidikan. Sistem persekolahan di Indonesia yang telah dipersatukan oleh
penjajah Jepang terus disempurnakan. Namun dalam pelaksanaannya belum tercapai
sesuai dengan yang diharapkan, bahkan banyak pendidikan di daerah-daerah tidak dapat
dilaksanakan karena faktor keamanan para pelajarnya. Di samping itu, banyak pelajar
yang ikut serta berjuang mempertahankan kemerdekaan sehingga tidak dapat
bersekolah.
Setelah gangguan-gangguan itu mereda, pembangunan untuk mengisi
kemerdekaan mulai digerakkan. Pembangunan dilaksanakan serentak di berbagai
bidang, baik spiritual maupun material. Setelah diadakan konsolidasi yang intensif,
system pendidikan Indonesia terdiri atas: Pendidikan Rendah, Pendidikan Menengah,
dan Pendidikan Tinggi.
Orde Baru dimulai setelah penumpasan G-30S PKI pada tahun 1965 dan
ditandai oleh upaya melaksanakan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Haluan
penyelenggaraan pendidikan dikoreksi dari penyimpangan-penyimpangan yang
dilakukan oleh Orde Lama yaitu dengan menetapkan pendidikan agama menjadi mata
pelajaran dari sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi.
9
Menurut Orde Baru, pendidikan adalah usaha sadar untuk mengembangkan
kepribadian dan kemampuan di dalam sekolah dan di luar sekolah yang berlangsung
seumur hidup serta dilaksanakan di dalam lingkungan rumahtangga, sekolah dan
masyarakat. Pendidikan pada masa kemerdekaan memungkinkan adanya penghayatan
dan pengamalan Pancasila secara meluas di masyarakat, tidak hanya di dalam sekolah
sebagai mata pelajaran di setiap jenjang pendidikan.7
Namun demikian, dalam dunia pendidikan pada masa ini masih memiliki beberapa
kesenjangan. Buchori dalam Pidarta (2008: 138-39) mengemukakan beberapa
kesenjangan, yaitu:
a) Kesenjangan okupasional (antara pendidikan dan dunia kerja)
b) Kesenjangan akademik (pengetahuan yang diperoleh di sekolah kurang
bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari)
c) Kesenjangan kultural (pendidikan masih banyak menekankan pada pengetahuan
klasik dan humaniora yang tidak bersumber dari kemajuan ilmu dan teknologi)
d) Kesenjangan temporal (kesenjangan antara wawasan yang dimiliki dengan
wawasan dunia terkini).
C. Pendidikan Kaum Pergerakan Kebangsaan/Nasional
Ditinjau dari istilah katanya “pergerakan” berasal dari kata dasar “gerak”. Di
dalam bahasa Inggris pergerakan dapat diartikan movement. Kemudian istilah
pergerakan ini digunakan dalam sejarah perjuangan bangsa, menjadi “pergerakan
nasional” yang identik dengan “kebangkitan nasional”.
7
Muhammad Rijal Fadli dan Dei Kumala Sari, Pendidikan Indonesia Pada Masa Orde Lama, hal.158
10
Pergerakan nasional Indonesia yaitu perjuangan bangsa Indonesia melawan
kolonialisme dan imperialisme yang dilalui dengan mendirikan organisasi-organisasi
yang bersifat nasional dan tidak terikat lagi dengan perjuangan fisik yang suporadis dan
berbau kedaerahan maupun agama.8
Sejak dijalankannya Politik Etis ini tampak kemajuan yang lebih pesat dalam
bidang pendidikan selama beberapa dekade. Pendidikan yang berorientasi Barat ini
meskipun masih bersifat terbatas untuk beberapa golongan saja, antara lain anak-anak
Indonesia yang orang tuanya adalah pegawai pemerintah Belanda, telah menimbulkan
elite intelektual baru.
Golongan baru inilah yang kemudian berjuang merintis kemerdekaan melalui
pendidikan. Perjuangan yang masih bersifat kedaerahan berubah menjadi perjuangan
bangsa sejak berdirinya Budi Utomo pada tahun 1908 dan semakin meningkat dengan
lahirnya Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.
Setelah itu tokoh-tokoh pendidik lainnya adalah Mohammad Syafei dengan
Indonesisch Nederlandse School-nya, Ki Hajar Dewantara dengan Taman Siswa-nya,
dan Kyai Haji Ahmad Dahlan dengan Pendidikan Muhammadiyah-nya yang semuanya
mendidik anak-anak agar bisa mandiri dengan jiwa merdeka.
BAB III
8
Ajar, Sejarah Pergerakan Nasional dari Budi Utomo 1908-1945, hal.14
11
PENUTUP
A. Kesimpulan
Historis sama dengan sejarah, Almarhum prof. Kuntowijoyo secara singkat
mendefenisikan sejarah sebagai “rekontruksi masa lalu”. Tetapi sejarah tidak
menjadikan seluruh masa lalu sebagai objeknya. Pada intinya sejarah beproses pada
masa lalu manusia.
Sejarah perkembangan pendidikan di indonesia itu terbagi menjadi 5 periode,
yakni pada masa purba, masa kerajaan, masa belanda, masa jepang, dan masa tahun
1945-1969.
Pergerakan nasional Indonesia yaitu perjuangan bangsa Indonesia melawan
kolonialisme dan imperialisme yang dilalui dengan mendirikan organisasi-organisasi
yang bersifat nasional dan tidak terikat lagi dengan perjuangan fisik yang suporadis dan
berbau kedaerahan maupun agama.
Sejak dijalankannya Politik Etis ini tampak kemajuan yang lebih pesat dalam
bidang pendidikan selama beberapa dekade. Pendidikan yang berorientasi Barat ini
meskipun masih bersifat terbatas untuk beberapa golongan saja, antara lain anak-anak
Indonesia yang orang tuanya adalah pegawai pemerintah Belanda, telah menimbulkan
elite intelektual baru.
B. Saran
12
Pemerintah harus senantiasa belajar dari masa lalu agar kualitas pendidikan di
indonesia kedepannya itu dapat maju. Sebagai calon pendidik yang akan bergerak dalam
dunia pendidikan sudah seharusnya mengetahui dan memahami sejarah perkembangan
pendidikan di indonesia dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
13
Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, cet.5 (Yogyakarta: Bentang, 2005)
Yusuf, Machmud, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta: Mutiara
Sumber Widya, 1992)
Rofi Sofyan, Sejarah Pendidikan Islam Indonesia (Yogyakarta: Deepublish,
2016)
Djumhur, Pelajaran Sejarah Pendidikan (Bandung: Ilmu, 1976)
Yasumasa, Politik dan Pendidikan Moral di Jepang (Englan: Pergamon, 1988)
14