0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
122 tayangan9 halaman

Tugas Multikultural 2

Dokumen ini membahas budaya Sumba Barat Daya terkait kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, dan keluarga berencana, serta dampaknya dari segi masyarakat dan kebidanan. Meskipun beberapa tradisi memiliki nilai positif, terdapat risiko kesehatan akibat kepercayaan yang tidak didukung oleh bukti ilmiah. Pemecahan masalah diusulkan melalui pendekatan agama, kesenian tradisional, dan paguyuban untuk meningkatkan kesadaran kesehatan di masyarakat.

Diunggah oleh

Dinii Matutina
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
122 tayangan9 halaman

Tugas Multikultural 2

Dokumen ini membahas budaya Sumba Barat Daya terkait kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, dan keluarga berencana, serta dampaknya dari segi masyarakat dan kebidanan. Meskipun beberapa tradisi memiliki nilai positif, terdapat risiko kesehatan akibat kepercayaan yang tidak didukung oleh bukti ilmiah. Pemecahan masalah diusulkan melalui pendekatan agama, kesenian tradisional, dan paguyuban untuk meningkatkan kesadaran kesehatan di masyarakat.

Diunggah oleh

Dinii Matutina
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS

Nama : Maria Arnoldine N.M Larantukan


Nim : 232211116

PROGRAM STUDI KEBIDANAN PROGRAM SARJANA


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS CITRA BANGSA
2025
Tugas
1. Carilah budaya dari daerah asal anda yang berhubungan dengan kehamilan,
persalinan, nifas, bbl dan keluarga berencana.
2. Berikan pendapat jika budaya tersebut dilihat dari segi masyarakat dan dari segi
kebidanan.
3. Berikan pemecahan masalah dengan menggunakan pendekatan-pendekatan yang
sudah anda pelajari.
4. Tugas harus dapat dipertanggungjawabkan

Jawab
1. Budaya yang saya ambil yaitu budaya Sumba terkhususnya di Sumba Barat Daya
terkait dengan kehamilan, persalinan, nifas, bbl dan keluarga berencana :
a. Budaya kehamilan di Sumba Barat Daya
1. Ibu hamil tidak boleh makan ikan pari atau belut karena dipercaya bisa
menyebabkan bayi lahir dengan kulit bersisik atau licin.
2. Membunuh ular piton,atau biasa disebut dengan “Kaboko” karena
dipercaya bisa menyebabkan bayi lahir cacat.
3. Tidak boleh menaruh handuk di leher (untuk suami) dan istri atau ibu
tidak boleh melilit handuk di kepala,karena di percaya bisa menyebabkan
bayi lahir dengan lilitan tali pusat.
4. Ibu hamil kalau keluar rumah harus memegang paku atau gunting kuku,
dipercaya agar terhindar dari roh halus.
b. Budaya Persalinan di Sumba Barat Daya
1. Persalinan di rumah dengan bantuan dukun atau biasa disebut “Bali
Wunu” biasanya di pedalaman yang masih percaya dan menghormati
dukun.
2. Suami atau saudara laki-laki dilarang untuk menemani ibu melahirkan
hanya boleh mama dari ibu hamil atau saudarinya saja.
3. Sebelum melahirkan disuruh minum air rebusan daun sirih dan kunyit
dipercaya bisa membantu mempercepat proses persalinan.

c. Budaya Nifas di Sumba Barat Daya


1. Ibu nifas tidak boleh keluar rumah selama 40 hari, terutama di sore haru
dan malam hari, karena dipercaya masih dalam keadaan lemah dan bisa
diganggu oleh roh halus
2. Ibu nifas harus mandi dengan rendaman daun dan airnya harus panas lalu
di tempel-tempel di badan untuk mempercepat pemulihan.
3. Ibu dilarang makan makanan yang sudah dingin karena dipercaya bisa
membuat perut bayi kembung.
d. Budaya Bbl di Sumba Barat Daya
1. Bayi tidak boleh tidur sore-sore atau pada saat adzan karena dipercaya
dapat diganggu oleh roh halus.
2. Tali pusar diobati dengan minyak kompren agar cepat kering.
3. Untuk menamai bayi dan potong rambut biasanya harus ijin dengan
leluhur dengan memotong seekor ayam kampung dengan bulu putih
polos.
e. Budaya Keluarga Berencana (KB) di Sumba Barat Daya
1. KB di SBD sebagian besar sudah diterapkan tetapi di desa desa terpencil
masih tidak menerima KB karena mereka percaya jika memilik banyak
anak adalah simbol kekuatan dan kemakmuran.
2. Pendapat dari :
a. Segi Masyarakat
Dari segi positif yaitu gotong royong dan dukungan keluarga yang kuat
terhadap ibu hamil dan ibu nifas, Penggunaan ramuan herbal alami yang bisa
bermanfaat dalam perawatan ibu dan bayi, dan yang terakhir ritual spiritual
dan perlindungan bayi yang memberikan rasa aman secara psikologis bayi ibu
dan keluarga.
Dari segi negatif yaitu kepercayaan terhadap dukun yang lebih tinggi
dibanding tenaga kesehatan, sehingga ada resiko persalinan tidak aman jika
dilakukan tanpa fasilitas medis, ada juga pantangan makanan tertentu bisa
menyebabkan ibu kekurangan nutrisi selama kehamilan dan nifas, dan terakhir
kurangnya penerimaan terhadap program KB yang menyebabkan kehamilan
yang tidak direncanakan serta angka kematian ibu yang lebih tinggi.

b. Segi Kebidanan
1. Berdasarkan Jurnal Ekologi Kesehatan Vol. 17 No 1, Juni 2018 : 52 - 63
yang berjudul “ASPEK GIZI DAN MAKNA SIMBOLIS TABU
MAKANAN IBU HAMIL DI INDONESIA” lauk pauk hewani yang
cukup banyak ditabukan bagi ibu hamil berasal dari jenis ikan-ikanan.
Jika ditinjau dari segi gizi dan kesehatan, makanan jenis ikan-ikanan
sangat bermanfaat bagi ibu hamil, janin dalam kandungan, dan bayi.
Ikan-ikanan tinggi akan zat gizi protein, asam lemak tak jenuh seperti
omega-3, mineral, dan komponen bioaktif lainnya (Susanto & Fahmi,
2012). Menurut Huang et al. (2012), omega-3 terutama EPA dan DHA
dapat meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan kognitif bayi,
anak-anak, ibu hamil, mengurangi risiko serta penyakit kardiovaskular.
2. Berdasarkan Jurnal Berkala Kesehatan, Vol. 1, No.2, Mei 2016: 78-87
yang berjudul “Kajian Budaya dan Makna Simbolis Perilaku Ibu Hamil”
menunjukkan bahwa beberapa kepercayaan tradisional tidak memiliki
dasar medis yang jelas. Tidak ditemukan bukti ilmiah yang mengaitkan
tindakan membunuh ular piton dengan kelahiran bayi cacat. Cacat lahir
umumnya disebabkan oleh faktor genetik, infeksi selama kehamilan, atau
paparan zat teratogenik.
3. Berdasarkan Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Volume 14 Nomor 2
Tahun 2019 eISSN: 2302-2531 yang berjudul “ Gambaran Kejadian
Asfiksia dengan Lilitan Tali Pusat” menjelaskan bahwa lilitan tali pusat
umumnya tidak menimbulkan masalah selama kehamilan, namun dapat
menjadi signifikan selama persalinan. Lilitan tali pusat pada bayi
disebabkan oleh faktor seperti panjang tali pusat, gerakan janin yang aktif,
dan jumlah cairan ketuban, bukan oleh kebiasaan ibu melilitkan handuk
di leher atau kepala.
4. Berdasarkan Jurnal Kesehatan Reproduksi Vol. 3 No 3, Desember 2012 :
113-123 yang berjudul “ Budaya Perawatan Kehamilan” mencatat bahwa
beberapa ibu hamil membawa gunting atau benda tajam lainnya saat
bepergian untuk merasa terlindungi dari gangguan. Kepercayaan ini
berakar dari budaya lokal dan tidak memiliki dasar ilmiah. Namun, jika
praktik ini memberikan rasa aman dan nyaman bagi ibu hamil tanpa
membahayakan, maka dapat dihormati sebagai bagian dari kearifan lokal.
5. Berdasarkan Jurnal MAKARA, KESEHATAN, VOL. 14, NO. 1, JUNI
2010: 11-16 Penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Ilmiah
Kesehatan Media Husada menyatakan bahwa pemanfaatan dukun beranak
dipandang sebagai salah satu faktor yang menyebabkan tingginya angka
kematian ibu di Indonesia. Meskipun dukun beranak memiliki peran
penting dalam budaya lokal dan dipercaya oleh masyarakat, persalinan
yang ditangani oleh tenaga non-medis dapat meningkatkan risiko
komplikasi bagi ibu dan bayi. Tenaga kesehatan profesional memiliki
pelatihan dan fasilitas yang lebih memadai untuk menangani situasi
darurat selama persalinan.
6. Berdasarkan Jurnal Ilmiah Mahasiswa & Penelitian Keperawatan Volume
1 Nomor 5 2022 menyebutkan bahwa budaya dapat mempengaruhi
keterlibatan suami dalam pelayanan kesehatan ibu, di mana dalam
beberapa budaya, suami dilarang terlibat dalam pelayanan ibu termasuk
pada waktu persalinan. Dukungan suami selama proses persalinan
memiliki dampak positif terhadap kondisi psikologis ibu, yang dapat
membantu memperlancar proses persalinan. Namun, dalam beberapa
budaya, partisipasi suami dalam persalinan dibatasi oleh norma sosial
yang berlaku.
7. Penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Ilmiah Kesehatan Media Husada
menunjukkan bahwa air rebusan daun sirih efektif dalam mempercepat
penyembuhan luka perineum pasca persalinan, tetapi tidak membahas
efeknya dalam mempercepat proses persalinan itu sendiri. Daun sirih dan
kunyit memiliki sifat antiseptik dan anti-inflamasi yang dapat bermanfaat
dalam penyembuhan luka. Namun, efektivitas konsumsi air rebusan daun
sirih dan kunyit dalam mempercepat proses persalinan belum didukung
oleh bukti ilmiah yang kuat.
8. Berdasarkan Artikel “ Mitos Seputar Masa Nifas, Kenapa Tak Boleh
Keluar Rumah 40 Hari?” menyebutkan bahwa larangan ini adalah mitos
dan tidak memiliki dasar ilmiah. Secara medis, tidak ada larangan bagi
ibu nifas untuk keluar rumah sebelum 40 hari, asalkan kondisi
kesehatannya memungkinkan dan aktivitas yang dilakukan tidak berat.
Namun, tradisi ini mungkin bertujuan untuk memberikan waktu istirahat
yang cukup bagi ibu setelah melahirkan.
9. Berdasarkan penelitian Penelitian “Perawatan Tradisional Indonesia bagi
Ibu pada Masa Nifas ” mencatat bahwa praktik mandi dengan bahan
alami seperti jeruk perut dan ramuan daun-daunan dilakukan dalam
masyarakat sebagai bagian dari perawatan tradisional. Mandi dengan air
hangat dapat membantu relaksasi otot dan meningkatkan sirkulasi darah,
yang bermanfaat bagi pemulihan ibu nifas. Penambahan daun-daunan
tertentu mungkin memiliki efek aromaterapi atau antiseptik alami, namun
efektivitasnya secara ilmiah belum banyak diteliti.
10. Berdasarkan Artikel “ Ibu Menyusui Hindari 9 Makanan Ini Ya karena
Bisa Picu Bayi Kembung” menyebutkan bahwa protein susu dan laktosa
dalam susu sapi dapat menyebabkan perut bayi dipenuhi gas atau jadi
kembung, terutama bagi yang tidak toleran laktosa. Tidak ada bukti
ilmiah yang menunjukkan bahwa konsumsi makanan dingin oleh ibu
menyusui dapat menyebabkan perut bayi kembung. Namun, beberapa
makanan yang dikonsumsi ibu, seperti produk susu atau makanan yang
mengandung gas, dapat mempengaruhi kualitas ASI dan menyebabkan
kembung pada bayi.
11. Berdasarkan penelitian “Kepercayaan terhadap Berbagai Larangan pada
Wanita Hamil ” mencatat bahwa dalam beberapa budaya, terdapat
kepercayaan tentang waktu-waktu tertentu yang dianggap berisiko
terhadap gangguan roh halus, meskipun tidak memiliki dasar ilmiah yang
kuat. Kepercayaan bahwa bayi tidak boleh tidur pada waktu-waktu
tertentu untuk menghindari gangguan roh halus merupakan bagian dari
tradisi budaya di beberapa masyarakat. Secara medis, tidak ada bukti
ilmiah yang mendukung larangan ini. Bayi membutuhkan tidur yang
cukup dan teratur untuk pertumbuhan dan perkembangan yang optimal,
tanpa memandang waktu tertentu.
12. Penelitian “ Perawatan Tali Pusat Terbuka sebagai Upaya Mempercepat
Pelepasan Tali Pusat ” menunjukkan bahwa perawatan tali pusar secara
terbuka tanpa penggunaan zat tambahan dapat mempercepat proses
pelepasan tali pusar dan mengurangi risiko infeksi. Perawatan tali pusar
yang tepat sangat penting untuk mencegah infeksi pada bayi baru lahir.
Penggunaan bahan tradisional seperti minyak kompren perlu diteliti lebih
lanjut mengenai keamanannya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)
merekomendasikan perawatan tali pusar secara kering dan terbuka tanpa
penggunaan zat tambahan, kecuali dalam kondisi tertentu yang
memerlukan antiseptik.
13. Studi “ Kajian Perawatan Bayi Suku Sasak di Dusun Sade Lombok
Tengah” mencatat bahwa upacara adat seperti pemotongan rambut bayi
(ngurisang) merupakan bagian dari tradisi yang dilakukan dengan
berbagai ritual, termasuk penyembelihan hewan, sebagai bentuk
penghormatan kepada leluhur dan doa untuk keselamatan bayi. Ritual
penamaan dan pemotongan rambut bayi yang melibatkan izin leluhur dan
pengorbanan hewan merupakan praktik budaya yang penting dalam
beberapa masyarakat. Secara medis, ritual ini tidak memiliki dampak
langsung terhadap kesehatan bayi, namun penting untuk memastikan
bahwa praktik tersebut dilakukan dengan cara yang higienis untuk
mencegah risiko infeksi.
14. Berdasarkan Lestari Sitinjak, H. (2024). HUBUNGAN BUDAYA
DENGAN TERJADINYA UNMET NEED KB DI DESA LANGLING
WILAYAH KERJA PUSKESMAS PEMATANG KANDIS
KABUPATEN MERANGIN. Jurnal Kesehatan Dan Sains Terapan, 8(2).
Penelitian menunjukkan bahwa budaya memiliki peran signifikan dalam
unmet need KB. Masyarakat yang memegang teguh nilai budaya tertentu
cenderung enggan menggunakan kontrasepsi, sehingga meningkatkan
angka unmet need.
3. Pemecahan masalah berdasarkan pendekatan yang sudah dipelajari
1. Pendekatan agama
a. Melibatkan tokoh agama dalam edukasi kesehatan , atau pemuka agama
bisa memberikan penyuluhan tentang pentingnya menjaga kesehatan ibu
hamil, persalinan yang aman, dan perawatan bayi baru lahir.
b. Menggunakan khotbah atau ceramah keagamaan sebagai media edukasi.
Misalnya, dalam misa atau kebaktian, bisa disampaikan bahwa tubuh
adalah anugerah Tuhan sehingga harus dijaga dengan baik, termasuk
dengan pemeriksaan kehamilan rutin dan persalinan di fasilitas kesehatan.
c. Mendorong doa bersama sebelum persalinan di fasilitas kesehatan Jika
ibu hamil merasa lebih nyaman dengan doa sebelum melahirkan, rumah
sakit atau puskesmas bisa memfasilitasi ritual doa sebelum persalinan
agar tetap sesuai dengan keyakinan mereka.
2. Pendekatan Kesenian Tradisional
a. Membuat lagu atau syair adat tentang kesehatan ibu dan anak. Misalnya,
lagu-lagu rakyat yang dinyanyikan saat acara adat bisa dimodifikasi untuk
menyampaikan pesan tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan dan
ASI eksklusif.
b. Menggunakan tarian adat sebagai media kampanye kesehatan. Misalnya,
dalam acara Posyandu atau penyuluhan, bisa disisipkan pertunjukan
tarian adat yang menggambarkan perjuangan ibu dalam melahirkan dan
pentingnya bantuan tenaga kesehatan.
c. Memasukkan motif atau simbol kesehatan dalam tenun tradisional. Tenun
Sumba yang memiliki makna filosofis bisa dimanfaatkan untuk
mengangkat tema kesehatan ibu dan anak, sehingga masyarakat lebih
sadar akan pentingnya menjaga kesehatan keluarga
3. Pendekatan Paguyuban
a. Membentuk kelompok ibu hamil berbasis adat dan komunitas. Misalnya,
membuat kelompok diskusi bagi ibu hamil yang difasilitasi oleh bidan
dan tokoh adat, sehingga mereka merasa lebih nyaman berdiskusi dalam
lingkungan yang dekat dengan budaya mereka.
b. Mengadakan arisan kesehatan ibu dan anak. Arisan bisa menjadi media
untuk mengedukasi ibu hamil dan ibu menyusui tentang pentingnya
pemeriksaan kesehatan dan imunisasi bayi.
c. Membangun kerja sama antar keluarga dalam mendukung persalinan di
fasilitas kesehatan. Jika ada ibu hamil yang kesulitan akses ke fasilitas
kesehatan, paguyuban bisa membantu mengoordinasikan bantuan
transportasi atau dana gotong royong untuk biaya persalinan

Anda mungkin juga menyukai