Makalah Hisprung
Makalah Hisprung
Disusun Oleh :
Penulis
ii
DAFTAR ISI
Kata Pengantar…………………………………………………………………..ii
Daftar Isi……………………………………………………………………...….iii
Bab I Pendahuluan………………………………..…………………………...…1
BAB II PEMBAHASAN…………….…………………………………………....3
3.4 Implementasi………………………………………………………………....27
3.5 Evaluasi………………………………………………………………………28
BAB IV PENUTUP…………………………….………………………………..29
4.1 Kesimpulan………………………………………….......................................29
4.2 Saran…………………………………………………………………….……29
iii
DAFTAR PUSTAKA……………………..…………………………………….30
iv
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Kejadian penyakit hirschpung diperkirakan 1: 5000 kelahiran hidup.
Kejadian penyakit hirschprung ini bervariasi antar etnis. Penderita hirschprung
dengan rentang usia 1 bulan sampai 9 tahun memperlihatkan bahwa resiko
terjadinya peradangan usus, komplikasi, susah BAB, dan kematian cukup
rendah melalui teknik operasi baru kejadian sembelit (konstipasi) yang muncul
sebanyak 7 kasus (11,95%), sedangkan dengan teknik operasi lama muncul
sebanyak 19 kasus (42,2%). Selanjutnya kejadian luka atau peradangan usus
(enterokolitis) dengan teknik baru hanya muncul 4 kasus (6,8%), sedangkan
dengan teknik operasi lama muncul 14 kasus (31,1%). Kejadian komplikasi
yang tinggi juga terlihat saat pembedahan dengan teknik operasi lama, yaitu ada
16 kasus (35,6%). Sementara dengan operasi baru hanya muncul 6 kasus
penderita yang mengalami komplikasi. Insidens keseluruhan dari penyakit
hisprung 1: 5000 kelahiran hidup, laki-laki lebih banyak diserang dibandingkan
perempuan (4:1). Biasanya, penyakit hisprung terjadi pada bayi aterm dan
jarang pada bayi prematur. Penyakit ini mungkin disertai dengan cacat bawaan
dan termasuk down sindrom, sindrom waardenburg serta kelainan
kardiovaskuler. Penyakit hisprung merupakan suatu kelainan bawaan berupa
agangliosis usus yang dimulai dari sfingter ani internal kearah proksimal
dengan panjang yang bervariasi dan termasuk anus sampai rectum. Juga
dikatakan sebagai suatu kelainan kongenital dimana tidak terdapat sel ganglion
para simpatis dari pleksus Auerbach di kolon. Keadaan abnormal tersebut yang
dapat menimbulkan tidak adanya peristaltic dan evakuasi usus secara spontan,
sfingter rectum tidak dapat berelaksasi, tidak mampu mencegah keluarnya feces
secara spontan, kemudian dapat menyebabkan isi usus terdorong kebagian
segmen yang tidak ada ganglion dan akhirnya feces dapat terkumpul pada
bagian tersebut sehingga dapat menyebabkan dilatasi usus proksimal (Aziz,
2012). Selain pada anak, penyakit ini ditemukan tanda dan gejala yaitu adanya
kegagalan mengeluarkan mekonium dalam waktu 2448 jam setelah lahir,
muntah berwarna hijau dan konstipasi faktor penyebab penyakit hisprung
diduga dapat terjadi karena faktor genetik dan faktor lingkungan.
1.1 Rumusan Masalah
1. Bagaimana Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Hisprung?
1.3 Tujuan
1. Tujuan Umum
Memahami konsep dasar teori dan asuhan keperawatan anak pada pasien
hisprung.
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu memahami tentang definisi penyakit hisprung.
b. Mahasiswa mampu memahami tentang etiologi dari penyakit hisprung.
c. Mahasiswa mampu memahami tentang manifestasi klinis dari penyakit
hisprung.
d. Mahasiswa mampu memahami tentang patofisiologi dan Pathway dari
penyakit hisprung.
e. Mahasiswa mampu memahami tentang komplikasi dari penyakit
hisprung.
f. Mahasiswa mampu memahami pemeriksaan diagnostik dari penyakit
hisprung.
g. Mahasiswa mampu memahami tentang penatalaksanaan dari penyakit
hisprung.
h. Mahasiwa mampu memahami Konsep Asuhan Keperawatan Anak Pada
Pasien Hisprung.
1.4 Manfaat
a. Memperoleh pengetahuan tentang asuhan keperawatan anak dengan
penyakit hisprung dan penatalaksanaan serta meningkatkan keterampilan
dan wawasan.
b. Memperoleh dan menambah wawasan mengenai asuhan keperawatan
anak dengan penyakit hisprung.
2
BAB II
PEMBAHASAN
3
menimbulkan keabnormalan atau tidak adanya peristaltic serta tidak adanya
evakuasi usus spontan. Isi usus terdorong ke segmen aganglionik, karena tidak
dipersarafi, feses terkumpul di daerah tersebut, yang menyebabkan dilatasi
bagian usus (megakolon) yang proksimal terhadap daerah itu. Selain itu,
sfingter rektal menjadi rileks, yang menghalangi jalan feses sehingga ikut
berpengaruh terhadap terjadinya obstruksi. Penyakit hisprung dapat muncul
pada usia berapa pun, walaupun paling sering terjadi pada neonatus (Cecily,
2009).
Istilah congenital aganglionic Mega Colon menggambarkan adanya kerusakan
primer dengan tidak adanya sel ganglion pada dinding sub mukosa kolon distal.
Segmen aganglionic hampir selalu ada dalam rectum dan bagian proksimal pada
usus besar. Ketidakadaan ini menimbulkan keabnormalan atau tidak adanya
gerakan tenaga pendorong (peristaltik) dan tidak adanya evakuasi usus spontan
serta spinkter rectum tidak dapat berelaksasi sehingga mencegah keluarnya
feses secara normal yang menyebabkan adanya akumulasi pada usus dan
distensi pada saluran cerna. Bagian proksimal sampai pada bagian yang rusak
pada Mega Colon (Cecily Betz & Sowden, 2002:196).
Isi usus terdorong ke segmen aganglionik dan feses terkumpul didaerah
tersebut, menyebabkan terdilatasinya bagian usus yang proksimal terhadap
daerah itu karena terjadi obstruksi dan menyebabkan dibagian Colon tersebut
melebar (Price, S & Wilson, 1995: 141).
Aganglionic mega colon atau hirschprung dikarenakan karena tidak adanya
ganglion parasimpatik disubmukosa (meissher) dan mienterik (aurbach) tidak
ditemukan pada satu atau lebih bagian dari kolon menyebabkan peristaltik usus
abnormal. Peristaltik usus abnormal menyebabkan konstipasi dan akumulasi
sisa pencernaan di kolon yang berakibat timbulnya dilatasi usus sehingga terjadi
megakolon dan pasien mengalami distensi abdomen. Aganglionosis
mempengaruhi dilatasi sfingter ani interna menjadi tidak berfungsi lagi,
mengakibatkan pengeluaran feses, gas dan cairan terhambat. Penumpukan sisa
pencernaan yang semakin banyak merupakan media utama berkembangnya
bakteri. Iskemia saluran cerna berhubungan dengan peristaltik yang abnormal
4
mempermudah infeksi kuman ke lumen usus dan terjadilah enterocolitis.
Apabila tidak segera ditangani anak yang mengalami hal tersebut dapat
mengalami kematian (kirscher dikutip oleh Dona L. Wong, 1999:2000)
PATWAY
5
2.4 Manifestasi Klinis
1. Tanda dan gejala pada neonatus meliputi:
a. Kegagalan mengeluarkan mekonium dalam tempo 24 hingga 48 jam
karena usus tidak mampu mendorong isinya ke arah distal.
b. Muntah dengan muntahan yang mengandung feses atau empedu sebagai
akibat obstruksi intestinal.
c. Distensi abdomen yang terjadi sekunder karena retensi isi usus dan
obstruksi usus.
d. Iritabilitas (anak menjadi rewel) akibat distensi abdomen yang
ditimbulkan.
e. Kesulitan menyusu dan kegagalan tumbuh kembang yang berhubungan
dengan retensi isi usus dan distensi abdomen.
f. Dehidrasi yang berhubungan dengan kesulitan menyusu dan
ketidakmampuan mengonsumsi cukup cairan.
g. Diare overflow yang terjadi sekunder karena peningkatan sekresi air
kedalam usus disertai obstruksi usus.
2. Tanda dan gejalah pada anak-anak meliputi:
a. Konstipasi persisten akibat penurunan motilitas gastrointerstinal (GI).
b. Distensi abdomen akibat retensi feses.
c. Massa feses yang bisa diraba akibat retensi feses.
d. Ekstremitas yang lisut( pada kasus-kasus berat) yang terjadi sekunder
karena gangguan motilitas intestinal dan pengaruhnya pada nutrisi serta
asupan makanan.
e. Kehilangan jaringan subkutan (pada kasus-kasus berat) yang terjadi
sekunder karena malnutrisi.
f. Abdomen yang besar dan menonjol akibat retensi feses dan perubahan
homeostatis cairan serta elektrolit yang ditimbulkan
3. Tanda dan gejala pada dewasa (yang lebih jarang ditemukan dan prevalen
pada laki-laki) meliputi:
a. Distensi abdomen akibat penurunan motilitas usus dan konstipasi.
6
b. Konstipasi intermitan yang kronis dan merupakan keadaan sekunder
karena gangguan motilitas usus. (Kowalak, Welsh, & Mayer, 2014)
7
Gerakan muskulus sfingter ani tak pernah mengadakan gerakan kontraksi
dan relaksasi karena ada colostomy sehingga terjadi kekakuan ataupun
penyempitan.
8
seluruh kolon tidak mempunyai sel ganglion. Hal ini terjadi
meskipun pengeluaran barium terlambat 24 jam setelah
pemeriksaan diagnostik.
3. Biopsi
a. Biopsi isap, yakni mengambil mukosa dan submukosa dengan alat
penghisap and mencari sel ganglion pada daerah submukosa.
b. Biopsi otot rectum, yakni pengambilan lapisan otot rectum,
dilakukan dibawah narkos. Pemeriksaan ini bersifat traumatik.
c. Biopsi rectal, yakni untuk mendeteksi ada tidaknya sel ganglion.
d. Manometri anorektal, yakni untuk mencatat respons refleks sfingter
interna dan eksterna.
e. Pemeriksaan aktivitas enzim asetilkolin dari hasil biopsy asap. Pada
penyakit ini klhas terdapat peningkatan aktivitas enzim asetikolin
enterase.
f. Pemeriksaan aktivitas norepinefrin dari jaringan biopsy usus.
2.7 Penatalaksanaan
1. Bagian usus yang tidak ada persyarafan harus dibuang lewat
pembedahan atau operasi, pembedahan pada kasus ini dilakukan 2 kali.
Pertama usus yang tidak ada persyarafan dibuang. Kedua, jika usus
dapat ditarik ke bawah, langsung disambung ke dalam anus. Kalau
belum bisa ditarik, maka dilakukan operasi kolostomi. Bila ususnya
cukup panjang dapat dioperasi kembali untuk diturunkan dan disambung
langsung ke anus. Namun terkadang proses ini cukup memakan waktu
lebih dari 3 bulan, bahkan mungkin hingga 6-12 bulan. Setelah dioperasi
biasanya BAB bayi akan normal, kecuali pada kasus yang parah seperti
perforasi.
2. Asuhan pada bayi preoperasi adalah tindakan kolostomi dengan atau
tanpa pembilasan garam fisiologis, konseling pada orang tua
(psikososial family status), perbaikan keadaan umum, pencegahan
9
obstipasi dengan cara spuling setiap hari, pemberian diit TKTP, serta
pecegahan infeksi. (Aziz, 2012).
10
BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian
A. Anamnesis
Identitas klien Meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, alamat,
pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam MRS, nomor register, dan
diagnosis medis.
B. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan Utama
Masalah yang dirasakan klien yang sangat mengganggu pada saat
dilakukan pengkajian, pada klien Hirschsprung misalnya, sulit BAB,
distensi abdomen, kembung, muntah.
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Yang diperhatikan adanya keluhan mekonium keluar setelah 24 jam
setelah lahir, distensi abdomen dan muntah hijau atau fekal. Tanyakan
sudah berapa lama gejala dirasakan pasien, ukur lingkar abdomen untuk
mengkaji distensi abdomen.
c. Riwayat Penyakit Dahulu
Apakah sebelumnya pasien pernah melakukan operasi, Riwayat
kehamilan, persalinan dan kelahiran, riwayat alergi, dan imunisasi.
d. Riwayat Penyakit Keluarga
Tanyakan pada orang tua apakah ada anggota keluarga yang lain yang
menderita Hirschsprung, respon emosional keluarga, penyesuaian
keluarga terhadap stress menghadapi penyakit anaknya.
e. Riwayat Tumbuh Kembang
Tanyakan sejak kapan, berapa lama klien merasakan susah BAB.
f. Riwayat Kebiasaan Sehari-hari
Meliputi kebutuhan nutrisi, istirahat dan aktivitas.
11
Riwayat kebutuhan nutrisi meliputi: masukan diet anak dan pola makan
anak, apakah ada mual, muntah, adanya mencret, peningkatan atau
penurunan BB, keadaan turgor kulit
g. Riwayat psikologis
Apakah anak terlihat rewel, kemampuan beradaptasi dengan penyakit,
mekanisme koping yang digunakan.
C. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan yang di dapatkan sesuai dengan manifestasi klinis. Pada
survey umum terlihat lemah atau gelisah. TTV biasa didapatkan hipertermi
dan takhikardi dimana menandakan adanya iskemia usus dan gejala
terjadinya perforasi. Tanda dehidrasi dan demam bisa di dapatkan pada
kondisi syok atau sepsis.
a. Sistem Gastrointestinal
1. Inspeksi: tanda khas didapatkan adanya distensi abdomen. Pada
rectum dan feces akan didapatkan adanya perubahan feces
seperti pita dan berbau busuk.
2. Auskultasi pada fase awal didapatkan penurunan bising usus dan
berlanjut dengan hilangnya bising usus.
3. Perkusi timpani akibat abdominal mengalami kembung.
4. Palpasi teraba diatas kolon abdominal.
b. Sistem kardiovaskuler
Kaji adanya kelainan bunyi jantung (mur-mur, gallop), irama denyut
nadi apikal, frekuensi denyut nadi / apikal.
c. Sistem Respirasi
Kaji apakah ada kesulitan bernapas, frekuensi pernapasan, distress
pernafasan.
d. Sistem integument
Kebersihan kulit mulai dari kepala maupun tubuh, pada palpasi dapat
dilihat capilary refil, warna kulit, edema kulit.
e. Sistem penglihatan
Kaji adanya konjungtivitis, rinitis pada mata.
12
D. Pengkajian Psikososial Keluarga berkaitan dengan :
a. Anak Kemampuan beradaptasi dengan penyakit, koping yang
digunakan.
b. Keluarga Respon emosional keluarga, koping yang digunakan keluarga,
penyesuaian keluarga terhadap stress menghadapi penyakit anak
E. Kaji Pre dan Post Operasi
a. Pre Operasi
1) Kaji status klinik anak (tanda-tanda vital, asupan dan keluaran).
2) Kaji adanya tanda-tanda perforasi usus.
3) Kaji adanya tanda-tanda enterokolitis.
4) Kaji kemampuan anak dan keluarga untuk melakukan koping
terhadappembedahan yang akan datang.
5) Kaji tingkat nyeri yang dialami anak
b. Post Operasi
1) Kaji status pascabedah anak (tanda-tanda vital, bising usus,
distensi abdomen).
2) Kaji adanya tanda-tanda dehidrasi atau kelebihan cairan.
3) Kaji adanya komplikasi.
F. Pengkajian Nyeri
a. Skala nyeri paska operasi (Post Operative Pain skor/POPS) Digunakan
untuk mengkaji nyeri pada bayi pada usia 1-7 bulan. Skala ini terdiri
dari 10 penilaian dengan masing-masing skor 0-2 dengan rentang skor
total 0 untuk nyeri hebat dan 20 untuk tidak nyeri. Adapun variabel yang
dinilai adalah tidur (0-2), fleksi jari- jari tangan maupun kaki (0-2),
ekspresi wajah (0-2), kemampuan menghisap (0-2), kualitas menangis
(0-2), suara (0-2), gerakan (0- 2), rangsangan (0-2), kemampuan dihibur
(0-2), keramahan (0-2), (Hockenberry & Wilson, 2009).
13
b. Face pain rating seale
14
Pengeluaran feses lama ↓
dan sulit Kolon aganglionik
Do: Refleks stimulasi
- Feses Keras enteric Nervous System
- Peristaltik (ENS) kurang
Menurun ↓
- Gejala dan Peristaltik Menurun
Tanda Minor ↓
Ds: Refleks rektospingter
- Mengejan saat menghilang
defekasi ↓
Do: Kemampuan
- Distensi mendorong feses
abdomen berkurang
- Kelemahan ↓
Umum Konstipasi
- Teraba massa
pada rektal
2 Gejala dan Tanda Distensi Abdomen Inkontinensia
Mayor ↓ Fekal
Ds: Tindakan Pembedahan
- Tidak mampu ↓
mengontrol Eliminasi Fekal melalui
pengeluaran stoma
feses ↓
- Tidak mampu Feses cair
menunda ↓
defekasi Frekuensi sering
Do: ↓
Inkontinensia fekal
15
- Feses sedikit-
dan sering
keluar sedikit
Gejala dan Tanda minor
Ds: -
Do:
- Bau Feses
- Kulit Peranal
- Kemerahan
3 Gejala dan Tanda Distensi Abdomen Defisit Nutrisi
Mayor ↓
Ds: - Intake Nutrisi peroral
Do: berkurang
- Berat Badan ↓
menurun Defisit Nutrisi
minimal 10%
dibawah rentang
ideal
Gejala dan Tanda Minor
Ds:
- Cepat kenyang
setelah makan.
- Kram Nyeri
abdomen
- Nafsu makan
menurun
Do:
- Bising hiperaktif
usus
16
- Otot pengunyah
lemah
- Membran
mukosa pucat
- Serum albumin
turun
- Diare
4 Ds: - Distensi Abdomen Risiko ketidak
Do: ↓ seimbangan
- Mual muntah Intake cairan kurang cairan
- Turgor kulit ↓
menurun Risiko Keseimbangan
- Ttv dibawah Cairan
normal
5 Gejala dan Tanda Distensi abdomen Defisit
Mayor ↓ pengetahuan
Ds: Tindakan Pembedahan orang tua
- Menanyakan ↓
masalah yang Orang tua belum tahu
dihadapi cara perawatan stoma
Do: ↓
- Menunjukkan Orang tua takut
perilaku tidak menyentuh stoma
sesuai anjuran ↓
- Menunjukan Khawatir dengan
persepsi yang adanya stoma
keliru terhadap ↓
masalah Defisit pengetahuan
Gejala dan Tanda Minor orang tua
17
Ds: -
Do:
- Menjalani
pemeriksaan
yang tidak tepat
- Menunjukan
perilaku
berlebihan (mis.
Apatis,
bermusuhan,
agitasi, histeria)
6 Ds: Distensi Abdomen Nyeri
- Mengeluh Nyeri ↓
Do: Tindakan pembedahan
- Tampak ↓
Meringis Insisi dan luka operasi
- Gelisah ↓
- Frekuensi Nyeri
meningkat nadi
- Sulit Tidur
- Pola berubah
nafas
- Tekanan darah
meningkat
- Nafsu makan
berubah
18
3.3 Diagnosa Keperawatan
sfingter rektum.
kurang.
informasi.
19
memburuk)
menjadi skala 3
(sedang)
- Distensi
abdomen dari
skala 1
(meningkat)
menjadi skala 3
(sedang)
2 Inkontinensia Fekal Setelah dilakukan 1. Bowel management,
Berhubungan dengan asuhan keperawatan - Catat BAB terakhir
kehilangan fungsi selama 3x24 jam - Monitor tanda konstipasi
pengendalian sfingter diharapkan BAB lancar, - Anjurkan keluarga
rektum. dengan kriteria: untuk mencatat frekuensi
- Pengontrolan BAB. warna, jumlah,
meningkat (5) - Berikan
pengeluaran supositoria jika
feses perlu.
- Defekasi
membaik (5) 2. Bowel irrigation
- Frekuensi buang - Jelaskan tujuan
air besar dari irigasi rektum.
membaik (5) - Check order terapi.
- Kondisi kulit - Jelaskan prosedur
perianal pada orangtua
membaik (5) pasien.
Berikan posisi
yang sesuai dan
nyaman.
- Cek suhu cairan
sesuai suhu tubuh.
20
- Berikan jelly
sebelum rektal
dimasukkan.
- Monitor effect dari
irigasi.
3. Persiapan preoperative
- Jelaskan persiapan
yang harus
dilakukan. lakukan
pemeriksaan
- Pemeriksaan
laboratorium:
darah rutin,
elektrolit, AGD.
- lakukan transfusi
darah bila perlu.
3 Defisit Nutrisi Setelah dilakukan Manajemen Nutrisi
berhubungan dengan asuhan keperawatan - Identifikasi status
kurang asupan makanan selama 3x24 jam nutrisi.
diharapkan Status nutrisi - Berikan makan
baik, dengan kriteria: tinggi sera tuntuk
- Nyeri abdomen mencegah
dari skala 1 konstipasi
(meningkat) - Identifikasi
menjadi skala 3 makanan yang
(sedang) disukai
- Frekuensi makan
dari skala 1
(memburuk)
menjadi skala 3
(sedang)
21
- Nafsu makan
dari skala 1
(memburuk)
menjadi skala 3
(sedang)
4 Risiko Setelah dilakukan 1.Manajemen cairan
ketidakseimbangan asuhan keperawatan - Timbang berat
cairan berhubungan selama 3x24 jam badan tiap hari
dengan intake cairan diharapkan Status - catatan intake dan
kurang. hidrasi terpenuhi dengan output.
Kriteria: - monitor status
- Gelisah menurun hidrasi (membran
(5) mukosa, nadi
- Frekuensi nafas adekuat, ortostatik,
menurun (5) TD)
- Pola istirahat - monitor hasil lab
membaik (5) - monitor TTV
- monitor status
nutrisi
- berikan cairan
- lakukan
pemasangan infus
2. monitor cairan
- Kaji jumlah dan
jenis intakecairan
dan kebiasaan
eliminasi
- Kaji faktor resiko
terjadinya
- ketidakseimbangan
cairan
22
- monitor intake dan
output
- monitor serum,
dan elektrolit
3. Managemen
hipovolemi
- Monitor status
cairan termasuk
intake dan output
- jaga kepatenan
terpi intra vena
- monitor
kehilangan cairan
- monitor hasil
laboratorium
- hitung kebutuhan
cairan
- observasi indikasi
dehidrasi
- monitor tanda dan
gejala over
hidration
5 Defisit pengetahuan Setelah dilakukan Edukasi Kesehatan
orang tua berhubungan asuhan keperawatan 1. Identifikasi kesiapan
dengan kurang terpapar selama 1x24 diharapkan dan kemampuan
informasi. pengetahuan orangtua menerima informasi
tentang penyakit anak 2. Berikan kesempatan
bertambah kriteria: untuk bertanya
3. Jelaskan faktor resiko
yang dapat mempengaruhi
kesehatan
23
- Perilaku sesuai
anjuran
meningkat (5)
- Kemampuan
menjelaskan
pengetahuan
tentang suatu
topik meningkat
(5)
- Perilaku sesuai
dengan
kemampuan
meningkat (5)
- Persepsi yang
keliru terhadap
masalah
menurun (5)
6 Nyeri berhubungan Setelah dilakukan 1. Management nyeri
dengan prosedure operasi asuhan keperawatan - Kaji nyeri meliputi
selama 3x24 jam karakteristik,
diharapkan skala nyeri lokasi, durasi,
berkurang dengan frekuensi, kualitas,
kriteria: dan faktor
- Meringis presipitasi.
menurun (5) - Observasi
- Gelisah menurun ketidaknyamanan
(5) non verbal
- Frekuensi nadi - Berikan posisi
membaik (5) yang nyaman semi
- Pola napas fowler
membaik (5)
24
- Tekanan darah - Anjurkan orangtua
membaik (5) untuk memberikan
pelukan agar anak
merasa nyaman
dan tenang.
- Tingkatkan
istirahat anak
2. Teaching
- Jelaskan pada
orangtua tentang
proses terjadinya
nyeri
- Pertahankan
imobilisasi bagian
yang sakit
- Evaluasi keluhan
nyeri atau
ketidaknyamanan
- Perhatikan lokasi
nyeri.
3. Kolaborasi
- Tentukan lokasi,
karakteristik,
kualitas dan
derajat nyeri
sebelum
pemberian obat.
- Monitor tanda vital
sebelum dan
sesudah pemberian
obat.
25
- Berikan analgetik
sesuai resep dokter
- Dokumentasikan
pemberian obat
- Berikan terapi
bermain kepada
anak untuk
membantu anak
mengalihkan rasa
nyerinya
7 Resiko infeksi Setelah dilakukan 1. Proteksi infeksi
berhubungan dengan efek asuhan keperawatan - Monitor tanda-
prosedure invasif selama 3x24 diharapkan tanda infeksi lokal
tidak terjadi infeksi maupun sistemik.
dengan kriteria: - Monitor hasil lab:
- Demam wbc, granulosit
menurun (5) dan hasi lab yang
- Kemerahan lain.
menurun (5) - Batasi pengunjung
- Nyeri menurun - Inspeksi kondisi
(5) luka insisi operasi.
- Bengkak - Ajarkan orang tua
menurun (5) dan anak cuci
tangan 6 langkah
tanda vital dalam
batas normal
2. Ostomy care
- Bantu dan ajarkan
keluarga pasien
untuk melakukan
26
perawatan
kolostomi
- Monitor luka insisi
stoma.
- Ajarkan dan
dampinggi
keluarga saat
merawat kolostomi
- Irigasi stoma
sesuai indikasi.
- Monitor produk
stoma
- Ganti kantong
kolostomi setiap
kotor.
- Ajarkan pada
orang tua tentang
tanda-tanda infeksi
- Ajarkan cara
mencegah infeksi
- Ajarkan orangtua
colostomy cara
perawatan
3.5 Implementasi
Pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun
pada tahap perencanaan, implementasi merupakan tahap tahap proses
keperawatan dimana perawat memberikan intervensi keperawatan
langsung dan tidak langsung terhadap pasien.
27
3.6 Evaluasi
Setelah tindakan keperawatan dilaksanakan evaluasi proses dan hasil
mengacu pada kriteria hasil yang telah di tentukan pada masing masing
diagnosa keperawatn, sehingga :
1. Masalah teratasi atau tujuan tercapai
2. Masalah teratasi atau tercapai Sebagian
3. Masalah tidak teratasi atau tujuan tidak tercapai
28
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
usus yang dimulai dari sfingter ani internal ke arah proksimal dengan panjang
yang bervariasi dan termasuk anus sampai rectum. Penyakit ini disebabkan
4.2 Saran
29
DAFTAR PUSTAKA
Cecily dan Linda. 2009. Buku Saku Keperawatan Pediatri. Jakarta: EGC.
Hidayat, Aziz Alimul. 2012. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta: Salemba
Medika.
Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ke-3. Jakarta: Media
Aesulapius FKUI
Sodikin. 2011. Asuhan Keperawatan Anak Gangguan Sistem Gastrointestinal dan
Hepatobilier. Jakarta: Salemba Medika
Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak. 1991. Ilmu Kesehatan Anak. Edisi Ke-2.
Jakarta FKUI
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2016. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia
Jakarta Dewan Pengurus Pusat PPNI.
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. 2019. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia
Jakarta Dewan Pengurus Pusat PPNI.
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. 2019. Standar Luaran Keperawatan Indonesia Jakarta
Dewan Pengurus Pusat PPNI.
30
31