0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
372 tayangan273 halaman

Tyas Purnami Skripsi

Skripsi ini membahas pengaruh pembelajaran matematika realistik berbantuan makanan khas Lampung terhadap pemahaman konsep pecahan siswa kelas V di SDN 2 Pringsewu Timur. Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain pre-eksperimen dengan kelas VA sebagai eksperimen dan kelas VC sebagai kontrol. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan dalam kemampuan pemahaman konsep pecahan antara siswa yang menggunakan model pembelajaran tersebut dan yang menggunakan model konvensional.

Diunggah oleh

Dinda Setyaningrum
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
372 tayangan273 halaman

Tyas Purnami Skripsi

Skripsi ini membahas pengaruh pembelajaran matematika realistik berbantuan makanan khas Lampung terhadap pemahaman konsep pecahan siswa kelas V di SDN 2 Pringsewu Timur. Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain pre-eksperimen dengan kelas VA sebagai eksperimen dan kelas VC sebagai kontrol. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan dalam kemampuan pemahaman konsep pecahan antara siswa yang menggunakan model pembelajaran tersebut dan yang menggunakan model konvensional.

Diunggah oleh

Dinda Setyaningrum
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGARUH PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK

BERBANTUAN MAKANAN KHAS LAMPUNG TERHADAP


KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP PECAHAN KELAS V DI SDN 2
PRINGSEWU TIMUR

SKRIPSI

OLEH:
TYAS PURNAMI
2021406405093

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIIDKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PRINGSEWU LAMPUNG
2025
PENGARUH PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK
BERBANTUAN MAKANAN KHAS LAMPUNG TERHADAP
KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP PECAHAN KELAS V DI SDN 2
PRINGSEWU TIMUR

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana


pendidikan

OLEH:
TYAS PURNAMI
2021406405093

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIIDKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PRINGSEWU LAMPUNG
2025

ii
ABSTRAK

PENGARUH PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK


BERBANTUAN MAKANAN KHAS LAMPUNG TERHADAP
KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP PECAHAN KELAS V DI SDN 2
PRINGSEWU TIMUR

Sulitnya siswa dalam memahami materi pecahan yang disampaikan guru,


karena guru belum menggunakan model pembelajaran yang sesuai dengan
karakteristik siswa. Penerapan model pembelajaran yang tepat, mudah dipahami
dan menyenangkan sehingga siswa mampu belajar dengan baik. Tujuan dari
penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh pembelajaran matematika realistik
berbantuan makanan khas lampung terhadap kemampuan pemahaman konsep
pecahan kelas V Di SDN 2 Pringsewu Timur.
Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif menggunakan jenis eksperimen
yang digunakan yaitu Pre-Eksperimen Desain. Populasi penelitian ini adalah
siswa kelas V SDN 2 Pringsewu Timur. Dengan sampel penelitan kelas VA
sebagai kelas eksperimen dan kelas VC sebagai kelas kontrol. Penentuan sampel
dengan cara cluster random sampling. Instrument yang digunakan berupa tes
uraian untuk menjawab hipotesis. Teknik analiss data yang digunakan dalam uji
normalitas dan uji homogenitas dilanjutkan dengan uji hipotesis menggunakan
uji-t.
Hasil analisis uji t- dua pihak diperoleh nilai 4,038 2,019 yang berarti
menolak bahwa terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar kemampuan
pemahaman konsep pecahan siswa yang menggunakan model pembelajaran
matematika realistik berbantuan makanan khas lampung dan model pembelajaran
konvensional dan uji- satu pihak diperoleh nilai 4,038 1,683 yang berarti
menolak bahwa terdapat pengaruh yang lebih baik antara rata-rata hasil belajar
siswa yang menggunakan model pembelajaran matematika realistik berbantuan
makanan khas lampung dan rata-rata hasil belajar siswa yang menggunakan
model pembelajaran konvensional kelas V SDN 2 Pringsewu Timur.

Kata Kunci : Model Pembelajaran Realistik, Makanan Khas Lampung,


Kemampuan Pemahaman Konsep Pecahan

iii
vi
vii
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Yang bertanda tangan dibawah ini, saya:

Nama : TYAS PURNAMI

NPM : 202I406405093

Program Studi : Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Fakultas : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Univeritas Muhammadiyah Pringsewu Lampung

Menyatakan bahwa skripsi yang saya tulis ini benar-benar murni gagasan,
penulisan dan rumusan saya sendiri, tanpa bantuan tidak sah dari pihak lain,
kecuali arahkan dari tim pembimbing.

Karya tulis saya buat ini tidak terdapat hasil karya maupun pendapat yang telah
ditulis maupun dipublikasikan orang lain, kecuali dikutip secara tertulis dengan
jelas dan dicantumkan sebagai acuan dalam naskah saya dengan disebutkan nama
pengarangnya serta dicantumkan daftar kepustakaan.

Pringsewu, ……………….
Yang menyatakan

TYAS PURNAMI
2021406405093

viii
HALAMAN PERNYATAAN PUBLIKASI

Sebagai sivitas akademik FKIP Universitas Muhammadiyah Pringsewu Lampung,


saya yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama : TYAS PURNAMI
NIM : 2021406405093
Program Studi : Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Jenis Karya : Skripsi
Judul : Pengaruh Pembelajaran Matematika Realistik Berbantuan
Makanan Khas Lampung Terhadap Kemampuan Pemahaman
Konsep Pecahan Kelas V Di Sdn 2 Pringsewu Timur
Guna pengembangan ilmu pengetahuan pendidikan, menyetujui memberikan
kepada Universitas Muhammadiyah Pringsewu Lampung tanpa menuntut ganti
rugi berupa materi atas karya ilmiah saya yang berjudul: Pengaruh
Pembelajaran Matematika Realistik Berbantuan Makanan Khas Lampung
Terhadap Kemampuan Pemahaman Konsep Pecahan Kelas V Di SDN 2
Pringsewu Timur.
Dengan pernyataan ini Universitas Muhammadiyah Pringsewu Lampung berhak
menyimpan, mengalih mediakan dalam bentuk format yang lain, mengelola dalam
bentuk pangkalan data (database), merawat, dan mempublikasikan tugas akhir
saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis atau pencipta dan
sebagai pemilik hak atas karya.Demikian pernyataan ini saya buat dengan
sebenarnya.

Dibuat di : Pringsewu
Pada tanggal : ……………..
Yang menyatakan

TYAS PURNAMI

2021406405093

ix
HALAMAN PERSEMBAHAN

Puji dan syukur kehadirat Allah Subhanahuwata’ala yang telah memberikan

rahmat, taufik, hidayah, dan kemudahan-Nya. Sholawat serta salam saya haturkan

kepada Nabi Muhammad Sholallahu’alaihiwassallam.

Dari hati yang terdalam, skripsi ini penulis persembahkan kepada:

1. Cinta pertama dan panutanku, Ayahanda Syahroni. Terimakasih atas doa

yang tak pernah henti, pengorbanan tanpa pamrih, dan cinta yang tak

ternilai. Kebijaksanaanmu telah mengajarkan saya arti perjuangan,

kesabaran, dan ketulusan dalam menghadapi kehidupan.

2. Pintu surgaku, ibunda tercintaku ibu Yuningsih. Sosok penuh kasih yang

selalu menjadi pelita dalam gelap, support sistem terbaikku, dan kekuatan

di setiap doa yang terucap. Terimakasih atas kesabaran tanpa batas, cinta

yang tulus, dan pengorbanan yang tak pernah terhitung. Engaku adalah

alasan saya untuk terus melangkah, menggapai mimpi, dan menjadi

pribadi yang lebih baik.

3. Adikku tercinta Rafi Ramadhan. Satu-satunya saudara laki-laki yang selalu

menjadi penyemangat dan pengingat akan pentingnya arti keluarga..

4. Keluarga besar yang selalu memberikan kasih sayang, semangat, motivasi

dan do’a selama proses ini. Kehangatan keluarga menjadi sumber

kekuatan di setiap langkah.

5. Sahabat-sahabat tersayang, calon penghuni surga (Amalia Indah, Fatnur

Laeli, Serly Dwi S, Heni Astriana, Siti Wulan, Novera, Nanda Ardiansyah,

x
Diki Praditya, Tegar Ramadoni, Panca Dewa S, Ariel Fajar R) Yang selalu

hadir sebagai sumber tawa, dukungan, dan semangat. Terima kasih untuk

setiap momen berharga yang telah kita lewati bersama, untuk bahu yang

selalu siap menopang, dan untuk kata-kata penyemangat yang tak pernah

habis. Kalian adalah keluarga yang saya pilih sendiri, dan perjalanan ini

terasa lebih ringan karena kehadiran kalian. Semoga kebersamaan kita

terus abadi dan menjadi kenangan indah sepanjang hidup.

6. Kepada teman-teman KKN tersayang Okta Fellisha, Sekar Pramesti,

Ridho wicaksono dan M Galih, Terimakasih telah menjadi keluarga

selama masa pengabdian. Setiap momen berharga bersama kalian adalah

kenangan yang selalu saya ingat. Semoga langkah kita kedepan selalu

penuh keberkahan dan kesuksesan.

7. Untuk diriku sendiri, yang telah bertahan di setiap lelah, ragu, keringat dan

air mata. Terimakasih telah terus melangkah. Meskipun berat, Ini adalah

bukti bahwa mimpi dan usaha tak pernah mengkhianati.

8. Almamaterku Tercinta Universitas Muhammadiyah Pringsewu Lampung

xi
MOTTO

“Kalau anda tidak bisa membantu banyak orang, bantulah beberapa orang, kalau
beberapa orang pun anda tidak bisa bantu, bantulah satu orang. Kalau satu orang
pun anda tidak bisa bantu, minimal jangan menyulitkan,menyusahkan apalagi
menyakiti orang lain.”

(Prabowo Subianto)

“ Tidak usah membenarkan diri kesana kemari agar engkau dikagumi, jika
perkataan dan perilaku mu benar dari hati, maka diam mu pun akan dihormati dan
disegani”

(Prabowo Subianto)

xii
RIWAYAT HIDUP PENULIS

Tyas Purnami lahir di Sidodadi pada tanggal 15 Juni 2003, anak pertama dari

pasangan Bapak Syahroni dan Ibu Yuiningsih.

Pendidikan yang pernah ditempuh:

1. TK Pengayunan lulus pada tahun 2008

2. SD N 2 Sidodadi lulus pada tahun 2015

3. SMP N 2 Gadingrejo lulus pada tahun 2018

4. SMA N 2 Gadingrejo lulus pada tahun 2021

5. Tahun 2021 hingga 2024 tercatat sebagai Mahasiswa Program Studi

Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Pringsewu

Lampung.

xiii
KATA PENGANTAR

Segala puji syukur penulis ucapkan terimakasih kepada allah SWT yang

berkehendak atas segala sesuatu yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya

sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi. skripsi ini disusun sebagai salah

satu syarat untuk memenuhi mata kuliah skripsi.

Penulis akan melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Pembelajaran

Matematika Realistik Berbantuan makanan khas lampung Terhadap Kemampuan

Pemahaman Konsep Pecahan Kelas V Di SDN 2 Pringsewu Timur”. Penulis

menerima banyak masukan, arahan, bimbingan, motivasi, bantuan dari berbagai

pihak. Sehubungan dengan hal itu, penulis mengucapkan terimakasih kepada :

1. Nrs. Arena Lestari,M.Kep.,Sp.Kep.J.,Ph.D selaku rektor Universitas

Muhammadiyah Pringsewu Lampung.

2. Nurfaizal, M.Pd selaku Dekan FKIP Universitas Muhammadiyah

Pringsewu Lampung.

3. Yunni Arnidha, M.Pd selaku Ketua Program Studi Pendidikan Guru

Sekolah Dasar FKIP Universitas Muhammadiyah Pringsewu

Lampung.

4. Robia Astuti,M.Pd selaku dosen pembimbing I yang telah memberikan

dorongan serta memberi banyak ilmu dalam penulisan proposal

peneliitian ini.

xiv
5. Deny Apriyani Juhri,M.Pd selaku dosen pembimbing II yang telah

memberikan dorongan serta memberi banyak ilmu dalam penulisan

proposal penelitian ini.

6. Gadis Nabilah, S.Pd., Selaku Guru Wali Kelas VA Kelas eksperimen

UPT SDN 2 Pringsewu Timur dan sebagai Validator butir soal dalam

penelitian ini.

7. Dwi cahya oktaviani, S.Pd., Selaku Guru Wali Kelas VC Kelas

Kontrol UPT SDN 2 Pringsewu Timur dan sebagai Validator butir soal

dalam penelitian ini.

8. Bapak dan Ibu Dosen serta segenap staf dan karyawan Universitas

Muhammadiyah Pringsewu Lampung.

9. Deni Mulyadi, S.Pd., Selaku Kepala Sekolah UPT SDN 2 Pringsewu

Timur sebagai sekolah tempat penelitian.

kepada penulis mendapatkan ridho dari Allah SWT. Penulis menyadari

bahwa dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu,

segala kritik dan saran yang membangun sangatlah penulis harapkan untuk

perbaikan di masa mendatang.

Pringsewu, 24 Januari 2025

Tyas Purnami
2021406405093

xv
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ............................................................................... i


HALAMAM JUDUL ................................................................................ ii
ABSTRAK ................................................................................................ iii
HALAMAN PERSETUJUAN ................................................................ iv
HALAMAN PENGESAHAN ................................................................... v
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ................................... vi
HALAMAN PERNYATAAN PUBLIKASI .......................................... vii
HALAMAN PERSEMBAHAN ............................................................ viii
MOTTO ..................................................................................................... x
RIWAYAT HIDUP PENULIS ................................................................ xi
KATA PENGANTAR ............................................................................. xii
DAFTAR ISI ........................................................................................... xiv
DAFTAR TABEL .................................................................................. xvi
DAFTAR GAMBAR ............................................................................. xvii
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................ xviii

BAB I PENDAHULUAN .......................................................................... 1


A. Latar Belakang ................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................... 6
C. Tujuan Penelitian ............................................................................ 6
D. Ruang Lingkup Penelitian ............................................................... 6
E. Manfaat Penelitian .......................................................................... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................... 9


A. Kajian Teori .................................................................................... 9
B. Penelitian Yang Relevan ............................................................... 37
C. Kerangka Konsep .......................................................................... 41
D. Hipotesis........................................................................................ 44

xvi
BAB III METODE PENELITIAN ........................................................ 45
A. Jenis Dan Desain Penelitian .......................................................... 45
B. Populasi Dan Sampel Penelitian ................................................... 45
C. Definisi Operasional Variabel ....................................................... 46
D. Teknik Dan Instrument Pengumpulan Data .................................. 47
E. Validitas Dan Reliabilitas ............................................................. 50
F. Teknik Analisis Data ..................................................................... 55

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................ 61


A. Hasil penelitian.............................................................................. 61
B. Analissi data .................................................................................. 66
C. Pembahasan ................................................................................... 79

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .................................................. 82


A. Kesimpulan ................................................................................... 82
B. Saran ............................................................................................. 82

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................. 84


LAMPIRAN ............................................................................................. 88

xvii
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Data Nilai Ulangan Harian Konsep Pecahan Siswa Kelas V
SDN 2 Pringsewu Timur Tahun Ajaran 2023/2024 Semester
Ganjil. ........................................................................................ 2
Tabel 1.2 Intaq Group Comparison .............................................................. 45
Tabel 1.3 Data Siswa Kelas V SDN 2 Pringsewu Timur ............................. 46
Tabel 1.4 Pedoman Penskoran Kemampuan Pemahaman Konsep .............. 48
Tabel 1.5 Kriteria indeks daya pembeda ...................................................... 52
Tabel 2.1 Kriteria indeks tingkat kesukaran ................................................. 53
Tabel 2.2 kriteria indeks korelasi ................................................................ 54
Tabel 2.3 Hasil Tes Uji Coba Instrumen ...................................................... 61
Tabel 2.4 Hasil Tes Uji Validitas Instrumen ................................................ 62
Tabel 2.5 Hasil Tes Uji Daya Beda .............................................................. 63
Tabel 3.1 Kriteria Tingkat Kesukaran .......................................................... 64
Tabel 3.2 Hasil Indeks Tingkat Kesukaran .................................................. 64
Tabel 3.3 Penetapan instrument pemecahan masalah matematika .............. 65
Tabel 3.4 Hasil Realibilitas .......................................................................... 66
Tabel 3.5 Hasil Analisis Data Hasil Belajar Eksperimen Dan Kontrol ....... 67
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Data Hasil Belajar Kelas Eksperimen ......... 68
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Data Tes Akhir Hasil Belajar Kelas
Kontrol ......................................................................................... 70
Tabel 4.3 Stastistik Hasil Belajar Kelas Eksperimen Dan Kontrol .............. 72
Tabel 4.4 Hasil Uji Normalitas Data ............................................................ 74
Tabel 4.5 Uji Homogenitas .......................................................................... 75

xviii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Sekubal……………. ........................................................... 31


Gambar 1.2 Bebai Maghing……. ..................................................... …..31
Gambar 1.3 Lapis Legit………….. ......................................................... 32
Gambar 1.4 Engkak Lampung….. ........................................................... 33
Gambar 1.5 Kerangka Konsep ………. ….............................................. 43
Gambar 2.1 Diagram Nilai Tes Akhir Hasil Belajar Kelas Eksperimen . 69
Gambar 2.2 Diagram Nilai Tes Akhir Hasil Belajar Kelas Kontrol ........ 71
Gambar 2.3 Nilai Tes Akhir Belajar Kelas Eskpermen.......................... 73
Gambar 2.4 Nilai Tes Akhir Belajar Kelas Kontrol ................................ 73

xix
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Modul Ajar Kelas Eksperimen ............................................ 89


Lampiran 2 Modul Ajar Kelas Kontrol ................................................. 113
Lampiran 3 ATP Dalam Rangka Pengembangan Perangkat Ajar ........ 131
Lampiran 4 Kisi-Kisi Soal Instrument Penelitian ................................. 134
Lampiran 5 Lembar Soal Uji Coba Instrumen ..................................... 136
Lampiran 6 Kunci Jawaban…….. ......................................................... 139
Lampiran 7 Lembar Soal Tes……. ....................................................... 152
Lampiran 8 Perhitungan uji validitas soal ............................................. 154
Lampiran 9 Daya Pembeda……….. ..................................................... 173
Lampiran 10 Tingkat Kesukaran ........................................................... 178
Lampiran 11 Uji Reliablitas .................................................................. 182
Lampiran 12 Uji Normalitas Kelas Eksperimen ................................... 186
Lampiran 13 Uji Normalitas Kelas Kontrol .......................................... 193
Lampiran 14 Uji Homogenitas .............................................................. 200
Lampiran 15 Uji-T Dua Pihak ............................................................... 202
Lampiran 16 Uji-T Satu Pihak .............................................................. 205
Lampiran 17 Lembar Validasi Modul Ajar ........................................... 208
Lampiran 18 Lembar Validasi Soal Tes ................................................ 214
Lampiran 19 Surat Izin Penelitian ......................................................... 222
Lampiran 20 Surat Balasan Penelitian .................................................. 223
Lampiran 21 Surat Balasan Uji Coba Penelitian ................................... 224
Lampiran 22 Surat Balasan Validasi .................................................... 225
Lampiran 23 Uji Coba Penelitan ........................................................... 226
Lampiran 24 Pembelajaran Di Kelas Kesperimen ................................ 227
Lampiran 25 Pembelajaran Di Kelas Kontrol ....................................... 229
Lampiran 26 Pedoman wawancara ....................................................... 230
Lampiran 27 Daftar Nilai Ulangan Harian Kelas V Sdn 2 Pringsewu
Utara Tahun 2023/2024 ................................................... 239
Lampiran 28Surat Pengantar Pra penelitian .......................................... 242

xx
Lampiran 29 Surat Balasan Pra Penelitian………. ............................... 243
Lampiran 30 Blangko Konsultasi Bimbingan 1 ……………………. 244
Lampiran 31 Blangko Konsultasi Bimbingan 2 ……………………. 246

xxi
1

BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pembelajaran matematika merupakan proses dimana siswa memperoleh

pengetahuan, keterampilan, dan pemahaman konsep matematika melalui

berbagai metode dan strategi pembelajaran yang sesuai dengan tingkat

perkembangan siswa. Hal ini melibatkan penggunaan aktivitas yang

mendorong pemahaman konsep dan penerepan dalam konteks nyata.

Pembelajaran matematika adalah salah satu aspek penting dalam pendidikan,

Pembelajaran matematika di sekolah dasar memiliki cakupan materi yang

sangat beragam salah satunya konsep pecahan.

Konsep pecahan berhubungan dengan kehidupan sehari-hari siswa

misalnya seorang siswa yang mempunyai satu buah coklat dan membagi

sebatang coklat tersebut menjadi empat bagian yang sama untuk dibagikan

kepada teman-temannya, selain untuk membagi makanan konsep pecahan juga

digunakan dalam berbagai aktivitas lain seperti mengukur bahan saat akan

membuat kue, mengatur waktu untuk belajar dan bermain serta memahami

pecahan nilai mata uang sebagai alat pembayaran dalam kehidupan sehari-

hari. Konsep pecahan ini membantu siswa untuk memahami bagaimana

membagi sesuatu secara adil dan proposional serta dapat menerapkan

matematika dalam situasi nyata.

Konsep pecahan belum dipahami secara maksimal oleh siswa kelas V di

SD Negeri 2 pringsewu timur, hal tersebut dapat diihat dari pemahaman

konsep pecahan pada nilai ulangan harian materi pecahan dibawah ini :
2

Tabel 1.1 Data Nilai Ulangan Harian Konsep Pecahan Siswa Kelas V
SDN 2 Pringsewu Timur Tahun Ajaran 2023/2024 Semester Ganjil.

Kelas Keterangan
V Tuntas Tidak tuntas
X 100 X 70
Jumlah presentase Jumlah Presentase
siswa siswa
27 34% 52 66%
Jumlah 79
siswa
Sumber : Data Nilai Ulangan Harian Siswa Kelas V SDN 2 Prinsewu Timur

Data nilai pada tabel 1.1 diketahui bahwa hasil nilai ulangan harian

konsep pecahan mata pelajaran matematika kelas V SDN 2 Pringsewu Timur

belum mencapai standar penilaian yaitu 70. Hal tersebut dapat diketahui dari

presentase nilai. Jumlah keseluruhan siswa kelas V yaitu 79 siswa. Dari 79

siswa hanya 27 siswa yang tuntas dengan presentase 34% dan 52 siswa tidak

tuntas dengan presentase nilai 66%. Melalui data tersebut dapat disimpulkan

bahwa kemampuan pemahaman konsep siswa pada materi pecahan belum

tuntas. Hal ini menjadi permasalah terhadap kemampuan pemahaman konsep

pecahan siswa .

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan dengan guru

kelas V diketahui bahwa rendahnya kemampuan pemahaman konsep siswa

disebabkan oleh beberapa faktor yaitu: 1). guru belum menggunakan model

pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa sekolah dasar. Menurut

piaget siswa SD yang berada pada usia 7-12 tahun masih berada pada tahap

operasional konkrit yang belum dapat berpikir abstrak atau formal (Hastuti

dkk, 2019). Mereka pada usia ini masih belum dapat berpikir secara abstrak

sehingga orientasinya masih terkait dengan objek-objek, peristiwa atau

pengalaman pribadi yang langsung dialami. 2). Siswa kurang menguasai


3

indikator pemahaman konsep matematika. Indikator pemahaman konsep

matematika menurut Zuliana (2017) yaitu (1) menyatakan ulang sebuah

konsep, (2) mengkasifikasikan objek-objek menurut sifat-sifat tertentu, (3)

memberikan contoh dan non contoh dari konsep, (4) menyajikan konsep

dalam berbagai bentuk representasi matematika, (5) mengembangkan syarat

perlu atau syarat cukup suatu konsep, (6) menggunakan, memanfaatkan, dan

memilih prosedur atau operasi tertentu, (7) mengaplikasikan konsep atau

algoritma pemecahan masalah.

Berdasarkan pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa permasalahan

yang terjadi dalam pembelajaran matematika pada pemahaman konsep yaitu

banyak siswa yang belum menguasai indikator pemahaman konsep. Sebagain

siswa sudah mampu menyatakan ulang sebuah konsep, siswa masih

kebingungan untuk mengenali objek berdasarkan sifatnya, siswa dengan

bantuan guru mampu membedakan contoh dan bukan contoh, siswa kesulitan

mengartikan soal terutama soal yang berbentuk cerita dan tidak mampu

memodelkan pertanyaan dalam bentuk matematika. Hal ini sejalan dengan

Suartama (2016), bahwa ternyata masih banyak siswa yang mengalami

kesulitan dalam menyelesaikan soal matematika dalam bentuk cerita,

memahami bahasa, apa yang ditanyakan dalam soal dan dalam perhitungan.

Berdasarkan wawancara dengan guru, siswa tidak bisa mengembangkan

syarat yang diperlukan karena masih terpaku dengan hapalan rumus, siswa

hanya meniru penyelesaian soal yang sama dengan guru, ketika diberikan soal

yang berbeda siswa masih kebingungan bagaimana cara menyelesaikannya.

Siswa banyak yang salah dalam perhitungan sehingga tidak tepat. Hasil
4

wawancara tersebut menunjukkan bahwa siswa kurang menguasai pemahaman

konsep karena rendahnya minat siswa dalam pembelajaran matematika. Hal

ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mukrimatin dkk (2018),

yang dilakukan di SD negeri Rau Kedung Jepara pada kelas V bahwa secara

umum siswa kurang minat dalam pembelajaran matematika, respon siswa

terhadap pembelajaran kurang dan hanya beberapa siswa yang mampu

mengikuti pembelajaran. Hal tersebut membuktikan bahwa kemampuan

pemahaman konsep siswa masih rendah.

Salah satu upaya peningkatan pemahaman konsep pecahan dengan

menggunakan model pembelajaran matematika realstik. Fatturrahman (2015),

menyatakan model Pembelajaran matematika realistik adalah model

pembelajaran matematika yang menggunakan situasi atau dunia yang nyata

atau suatu konsep yang real dan pengalaman siswa sebagai titik tolak belajar

matematika. Pendapat tersebut beetentangan dengan Wijaya (2021),

Permasalahan realistik tidak harus selalu berupa masalah yang ada di dunia

nyata dan bisa ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. jadi, suatu masalah

disebut realistik jika masalah tersebut dapat dibayangkan dalam pikiran siswa.

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran realistik adalah

pembelajaran yang dapat dibayangkan dalam pikiran ssiwa seolah-olah nyata

yang mampu membentuk pengetahuan siswa antara pengalaman yang telah

diperoleh dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun

demikian, pembelajaran matematika realistik mempunyai beberapa

kelemahan, salah satunya yakni membutuhkan waktu yang lama untuk siswa
5

menentukan jawabannya sendiri. Namun kelemahan tersebut dapat

diminimalisir dengan bantuan makanan tradisional.

Makanan tradisional dapat menjadi alat bantu yang efektif untuk

mengajarkan konsep pecahan dalam matematika. Penggunaan bantuan

makanan tradisional dapat membantu siswa untuk menemukan konsep sendiri

mengenai materi sebut. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh

Nurrafifah dkk (2021), bahwa hasil pengamaatan dan tes hasil belajar siswa

materi pecahan dengan menggunakan konteks makanan tradisional diperoleh

bahwa siswa sangat antusias dan benar-benar menikmati proses pembelajaran

yang terjadi. Siswa benar-benar memahami konsep pecahan melalui

menggambar, memotong, membagi bahkan menemukan rumus dasar pecahan

serta siswa dapat menyelesaikan soal cerita yang berhubungan dengan

pecahan. Penelitian tersebut membuktikan bahwa penggunaan bantuan

makanan tradisional pada materi pecahan dapat meningkatkan pembelajaran

matematika dengan cara yang menyenangkan. Pembelajaran yang

menyenangkan akan berdampak pada peningkatan prestasi belajar siswa.

Berdasarkan pemaparan di atas Selain menggunakan model

pembelajaran matematika realistik, di zaman sekarang ini banyak siswa yang

tidak memahami dengan budaya dari tempat tinggalnya sendiri yaitu budaya

lampung. Salah satunya pada makanan tradisional lampung sehingga pada

penelitian ini ingin mengeksperimenkan sebuah model pembelajaran yang

sesuai dengan taraf kognitif siswa sekolah dasar yaitu matematika realistik

yang terintegrasi dengan makanan tradisional lampung. Berdasarkan

pemaparan di atas maka peneliti tertarik untuk malakukan penelitian dengan


6

judul “ pengaruh pembelajaran matematika realistik berbantuan makanan khas

lampung terhadap kemampuan pemahaman konsep pecahan di kelas V SDN 2

Pringsewu Timur”.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam

penelitian ini adalah “Apakah terdapat pengaruh pembelajaran matematika

realistik berbantuan makanan khas lampung terhadap kemampuan pemahaman

konsep Pecahan di SDN 2 Pringsewu Timur”?

C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pembelajaran

matematika realistik berbantuan makanan khas lampung terhadap kemampuan

pemahaman konsep pecahan di SDN 2 Pringsewu Timur”

D. Ruang Lingkup Penelitian


Agar penelitian ini terarah dan terfokus pada pokok yang akan dibahas,

maka ruang lingkup masalah penelitian adalah sebagai berikut :

1. Pembelajaran matematika realistik berbantuan makanan khas lampung

dalam penelitian ini merupakan pembelajaran yang mengaitkan kebiasaan

atau kebudayaan yang ada di tempat tinggal peserta didik dengan konsep

matematika disekolah dasar.

2. Materi penelitian ini yaitu konsep pecahan

3. Subjek penelitian adalah siswa kelas V SDN 2 Pringsewu Timur.

4. Objek penelitian ini adalah kemampuan pemahaman konsep pecahan

5. Waktu penelitian dilaksanakan pada semester ganjil tahun ajaran

2024/2025.
7

6. Lokasi penelitian dilaksanakan di SDN 2 Pringsewu Timur pada tahun

2024.

E. Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik

secara teoritis maupun praktis. Adapun manfaat teoritis dan manfaat praktis

yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Manfaat teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat menambah referensi ilmiah dalam

bidang matematika yang berkaitan dengan pengaruh pembelajaran

matematika realistik berbantuan makanan khas lampung terhadap

kemampuan pemahaman konsep pecahan dan bermanfaat untuk para

peneliti yang lainnya dalam mengembangkan penelitian yang serupa.

2. Manfaat praktis

1. Bagi Kepala sekolah

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan

masukan dan pertimbangan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran

di SDN 2 Pringsewu Timur.

2. Bagi pendidik

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan

pendidik dalam menerapkan variasi dalam proses pembelajaran

matematika yang tepat, agar kemampuan pemahaman konsep pecahan

peserta didik dapat tercapai dengan maksimal.


8

3. Bagi peneliti

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi pengalaman tersendiri

bagi peneliti serta sebagai sarana penerapan dan pengembangan

pegetahuan selama mengikuti proses belajar di bangku kuliah,

khususnya dalan penerapan pembelajaran matematika realistik berbasis

budaya lampung sebagai bekal dalam melakukan variasi dalam

pembelajaran.
9

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Kajian Teori

1. Kemampuan Pemahaman Konsep Pecahan

a. Pengertian Kemampuan Pemahaman Konsep Matematika

Salah satu tujuan yang diharapkan dalam pembelajaran

matematika merupakan kemampuan pemahaman konsep matematika

yang baik. Materi-materi pada mata pelajaran matematika saling

berkaitan satu sama lain, siswa dituntun untuk memiliki pemahaman

tentang materi prasyarat atau materi sebelumnya.

Menurut Ruqqoyah dkk (2020), pemahaman merupakan

kemampuan dalam mengambangkan suatu kondisi atau permasalahan

yang terjadi sedangkan konsep adalah ide atau gagasan yang

memungkinkan pendidik dalam mengelompokkan objek dalam suatu

contoh dan dapat diartikan bahwa konsep matematika bersifat abstrak

dan mengkasifikasikan objek atau kejadian.

Menurut Arnidha (2017), pemahaman konsep adalah kemampuan

dalam memahami konsep, operasi, dan relasi dalam matematika.

Pernyataan tersebut sejalan dengan pendapat Fahrudhin (2018), bahwa

pemahaman konsep adalah salah satu kemampuan atau kecakapan

dalam memahami serta menjelaskan suatu kondisi atau perlakuan

dalam kelas yang mempunyai sifat-sifat umum dalam matematika.

Menurut Batubara (2017), pemahaman konsep merupakan

kemampuan siswa yang berupa penugasan materi pelajaran agar siswa


10

mengetahui dan mengingat sejumlah konsep yang telah dipelajari,

dimengerti dan dapat diimplemantasikan sesuai dengan struktur

kognitif yang siswa miliki.

Berdasarkan keempat pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa

Kemampuan pemahaman konsep matematika adalah Kemampuan

yang mencakup aspek kognitif termasuk kemampuan

mengembangkan, mengelompokkan, mengklasifikasikan, serta

memahami operasi dan relasi matematika. Pemahaman ini penting

untuk menguasai dan menerapkan konsep matematika dalam berbagai

situasi, baik secara teoritis maupun praktis.

b. Indikator Kemampuan Pemahaman Konsep Matematika SD

Dalam mengukur kemampuan pemahaman konsep matematika,

dapat kita lihat dari soal-soal yang mempunyai indikator pemahaman

konsep matematika. Adapun indikator pemahaman konsep

matematika. Menurut Arrahim dan Widayanti (2018), indikator konsep

matematika diantaranya :

1) Menyatakan ulang konsep yang telah dipelajari.

2) Mengklasifikasikan objek-objek berdasarkan dipenuhi tidaknya

persyaratan yang membentuk konsep .

3) Mengidentifikasi sifat-sifat operasi atau konsep.

4) Menerapkan konsep secara logis.

5) Memberikan contoh atau contoh kontra.

6) Menyiapkan konsep dalam bentuk representasi.

7) Mengaitkan berbagai konsep dalam matematika maupun diluar.


11

8) Mengembangkan syarat perlu atau cukup suatu konsep.

Menurut Ruqoyyah dkk (2020), indikator kemampuan

pemahaman konsep matematika sebagai berikut:

1) Kemampuan menyatakan ulang konsep yang telah dipelajari.

2) Kemampuan mengkasifikasikan objek-objek berdasarkan dipenuhi

atau tidaknya persyaratan yang membentuk konsep.

3) Kemampuan menerapkan konsep secara algoritma.

4) Kemampuan memberikan contoh atau bukan contoh dari konsep

yang telah dipelajari.

5) Kemampuan menyajikan konsep dalam berbagai macam bentuk

representasi matematika.

Menurut Nuraeni dkk (2018), indikator kemampuan pemahaman

matematis yaitu:

1) Menyatakan ulang sebuah konsep.

2) Mengkasifikasikan objek menurut tertentu sesuai dengan sifatnya.

3) Mengidentifikasi contoh dan bukan contoh dari suatu konsep.

4) Menggunakan dan memanfaatkan serta memilih prosedur atau

operasi tertentu.

5) Mengaplikasikan konsep atau algoritma dalam pemecahan

masalah.

Berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas maka pada

penelitian ini indikator kemampuan pemahaman konsep yang akan

digunakan yaitu: menyatakan ulang sebuah konsep, mengkasifikasikan


12

objek menurut tertentu sesuai dengan sifatnya, mengidentifikasi contoh

dan bukan contoh dari suatu konsep, menggunakan dan memanfaatkan

serta memilih prosedur atau operasi tertentu, mengaplikasikan konsep

atau algoritma dalam pemecahan masalah.

c. Konsep Pecahan

Kemampuan pemahaman konsep matematika merupakan

kemampuan yang dimiliki siswa, untuk menyelesaikan suatu

permasalahan atau soal-soal matematika. Seseorang dapat dikatakan

menguasai suatu pemahaman konsep apabila memenuhi indikator-

indikator pemahaman konsep. indikator merupakan sesuatu yang dapat

memberikan petunjuk atau keterangan dan pedoman bagi pengguna

dalam menyusun alat ukur. Terdapat beberapa indikator pemahaman

konsep yaitu menyatakan ulang sebuah konsep, mengklasifikasikan

objek-objek menurut sifat-sifat tertentu, memberikan contoh dan bukan

contoh dari suatu konsep, menggunakan, memanfaatkan, dan memilih

prosedur atau operasi tertentu, mengaplikasikan konsep atau algoritma

pemecahan masalah, menyajikan konsep dalam berbagai bentuk

representasi, mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup suatu

konsep. Indikator-indikator pemahaman konsep tersebut harus dikuasai

oleh siswa. Tetapi Siswa kelas V di SDN 2 pringsewu timur belum

menguasai indikator-indikator pemahaman konsep matematika dengan

baik.

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas bahwa sebagian

siswa sudah mampu menyatakan ulang sebuah konsep dengan


13

mengembangkan ide dan gagasan yang telah dipelajarinya, siswa

masih kebinggungan untuk mengenali objek berdasarkan sifatnya

mereka kesulitan dalam mengkasifikasikan macam-macam pecahan

dari berbagai macam bilangan dan belum mampu memahami konsep

pecahan, siswa mampu membedakan contoh dan bukan tetapi masih

dengan bantuan guru, siswa masih kesulitan menyajikan konsep dalam

berbagai bentuk representasi matematis hal ini dikarenakan siswa tidak

bisa memahami isi soal sehingga mereka kebinggungan bagaimana

cara menyelesaikannya, siswa belum mampu mengembangkan syarat

perlu karena masih terpaku dengan hapalan rumus serta siswa hanya

meniru penyelesaian soal yang sama dengan guru ketika diberikan soal

yang berbeda siswa masih kebinggungan bagaimana cara

menyelesaikannya, siswa belum mampu menggunakan, memanfaatkan

dan memilih prosedur atau operasi dengan menggunakan konsep yang

ada.

1. Pembelajaran Matematika

a. Pengertian Matematika

Secara etimologi matematika berasal dari bahasa inggris yaitu

mathematis yang artinya ilmu hitung. Ahli matematika disebut sebagai

mathematician. Matematika berkaitan dengan ide, gagasan yang

terstruktur dan simbol-simbol yang abstrak. Menurut Hastuti dkk

(2019), “matematika adalah ilmu deduktif, formal, dan hierarki yang

menggunakan bahasa simbol”. Guru hendaknya memiliki kemampuan

dalam menghubungkan antara dunia siswa yang belum dapat berpikir


14

secara deduktif agar dapat mengerti matematika yang bersifat deduktif

salah satunya mengajar dengan menggunakan benda konkrit atau alat

praga.

Menurut fahrurrozi dkk (2017), matematika adalah suatu disiplin

ilmu yang sistematis yang menelaah pola hubungan, pola pikir, seni dan

bahasa yang semuanya dikaji dengan logika serta bersifat deduktif,

matematika berguna untuk membantu manusia dalam memahami dan

menguasai permasalahan sosial, ekonomi dan alam.

Menurut Ovan (2022), matematika merupakan ilmu deduktif,

aksiomatik, hierarkis, abstrak, bahasa simbol yang padat artinya dan

sejenis dengan sistem matematika. Sistem matematika adalah sistem

yang mencakup model-model matematika yang dipergunakan dalam

memecahkan masalah didunia nyata. Manfaat dari ilmu matematika

yaitu membuat pola pikir seseorang yang mempelajarinya berubah

menjadi pola pikir matematis yang sistematis, logis, kritis dan penuh

dengan kecermatan.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa

matematika merupakan salah satu disiplin ilmu yang dapat

meningkatkan kemampuan berpikir, menggunakan logika, sistematis

dan konsep-konsep satu sama lain yang saling berhubungan dengan

penuh kecermatan. Matematika tersusun secara deduktif, formal,

hierarki, abstrak, menggunakan bahasa simbol dan tersusun dari konsep

yang paling sederhana sampai ke konsep yang paling kompleks dalam


15

memudahkan untuk berpikir dan memberikan kontribusi dalam

menyelesaikan masalah didunia nyata.

b. Pembelajaran matematika di SD

Pembelajaran merupakan suatu proses interaksi antara guru dan

siswa dan sumber belajar pada satuan lingkungan pendidikan.

Pembelajaran matematika SD dimulai dari usia 7-12 tahun yang masih

berada pada tahap operasional konkret. Menurut pendapat piaget,

siswa SD yang berada pada usia 7 sampai 12 tahun masih berada pada

tahap operasional konkret yang belum dapat berpikir secara abstrak

atau formal (Hastuti,dkk 2019). Pembelajaran matematika di sekolah

dasar merupakan proses dimana siswa belajar konsep dasar

matematika seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian,

geometri dasar, pengukuran dan konsep lainnya yang penting dalam

memahami dasar matematika.

Menurut Wandini (2019), pembelajaran matematika adalah

kegiatan belajar matematika dengan rencana terstruktur berbekal

pikiran dan kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan

pemecahan masalah dan cara mengkomunikasikan gagasan. Menurut

pendapat Yuda (2020), pembelajaran matematika merupakan sebuah

proses penyampaian materi matematika oleh guru menggunakan

sebuah metode yang dipilih agar siswa bisa memahami materi dengan

mudah.

Bersadarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa

pembelajaran matematika merupakan proses interaksi terstruktur


16

antara pendidik dan siswa yang bertujuan untuk memahami materi

matematika. Proses ini dirancang untuk meningkatkan keterampilan

pemecahan masalah dan cara mengkomunikasikan gagasan matematis

dengan menggunakan metode yang dipilih oleh pendidik agar siswa

dapat memahami materi dengan mudan dan efektif.

c. Ciri-Ciri Pembelajaran Matematika Di SD

Menurut Hastuti dkk (2019), ciri-ciri pembelajaran matematika

sekolah dasar yaitu:

1. Pembelajaran konsep matematika saling berkaitan

Pembelajaran konsep atau suatu topik matematika selalu

mengaitkan dan menghubungkan dengan topik terdahulu. Topik

terdahulu dapat dijadikan prasyarat untuk memahami dan

mempelajari topik matematika yang baru. Topik yang baru

dipelajari adalah pendalaman serta perluasan dari topik terdahulu.

2. Pembelajaran matematika bertahap

Materi pelajaran matematika harus diajarkan secara bertahap

yaitu dimulai dari konsep sederhana menuju ke konsep yang lebih

rumit, selain itu pembelajaran matematika dimulai dari benda

konkrit ke benda semi konkrit dan pada akhirnya menuju ke

konsep abstrak.

3. Pembelajaran matematika menggunakan metode induktif

Matematika adalah ilmu yang bersifat deduktif yaitu dari

umum ke khusus. Namun karena harus sesuai tahap perkembangan

mental siswa maka pada pembelajaran matematika di sekolah dasar


17

digunakanlah pendekatan yang bersifat induktif yaitu dari khusus

ke umum.

4. Pembelajaran matematika menganut kebenaran konsistensi

Kebenaran matematika adalah kebenaran yang konsisten

artinya tidak ada pertentangan antara kebenaran yang satu dengan

kebenaran yang lainnya. Suatu pertnyataan dianggap benar apabila

didasarkan kepada pernyataan terdahulu yang telah diterima

kebenarannya.

5. Pembelajaran matematika hendaknya bermakna

Pembelajaran secara bermakna adalah cara mengajarkan

materi pelajaran yang mengutamakan pengertian daripada hafalan.

Menurut Yuda (2020), ciri-ciri pembelajaran matematika dalah

sebagai berikut:

1. Pembelajaran matematika menggunakan metode spiral, maksudnya

adalah setiap materi yang dipelajari pasti akan saling terkait dengan

materi lainnya.

2. Pembelajaran matematika dilaksanakan secara bertahap.

maksudnya materi yang diajarkan dimulai dari konsep yang

sederhana kemudian menjadi lebih kompleks.

3. Pembelajaran matematika dilaksanakan menggunakan metode

induktif walaupun matematika sebagai ilmu pengetahuan memiliki

sifat yang deduktif. Hal tersebut dilakukan untuk menyesuaikan

dengan tahap perkembangan siswa.

4. Pembelajaran matematika berpedoman pada kebenaran konsistensi.


18

5. Pembelajaran matematika seharusnya bermakna,maksudnya adalah

konsep matematika yang dipelajari tidak diberikan dalam bentuk

jadi oleh guru, tapi siswalah yang mengonstruksi konsep tersebut

berdasarkan bimbingan guru.

Berdasarkan pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa

ciri-ciri pembelajaran matematika di sekolah dasar adalah

pembelajaran matematika yang saling berkaitan atau spiral,

pembelajaran yang bertahap, pembelajaran yang bersifat deduktif,

pembelajaran menganut kebenaran konsistensi dan pembelajaran yang

hendaknya bermakna.

2. Pembelajaran Matematika Realistik

a. Pengertian Pembelajaran Matematika Realistik

Menurut Haji & Abdullah (2016), mengatakan pembelajaran

matematika realistik sebagai suatu pola yang sistematis dalam

merancang pembelajaran matematika yang efektif untuk mencapai

tujuan pembelajaran matematika dengan bertumpu pada kreativitas

siswa dalam melakukan doing mathematics yang memandang

matematika sebagai suatu aktivitas manusia melalui kegiatan

memecahkan masalah kontekstual, merumuskan model, mengaitkan

berbagai topik, berinteraksi dengan berbagai sumber, memanfaatkan

berbagai potensi diri, berdiskusi, melakukan refleksi, memanfaatkan

fenomena pendidikan, mengeksplor, dan akhirnya menemukan

berbagai konsep dan algoritma matematika.


19

Menurut Fahrrurozi (2017), pembelajaran matematika realistik

adalah model pembelajaran untuk pendidikan matematika yang

melibatkan siswa mengembangkan pemahaman mereka dengan

mengeksplorasi dan memecahkan masalah yang ditetapkan dalam

konteks yang terlibat ketertarikan siswa.

Menurut Menurut Rahman (2018), matematika realistik

merupakan model pembelajaran yang mendorong interaksi siswa

dalam menentukan solusi dari suatu permasalahan matematika yang

dirujuk dari masalah kehidupan sehari-hari.

Menurut Ovan (2022), pembelajaran matematika realistik

merupakan pendekatan yang membawa konsep matematika kedalam

dunia nyata. Pendekatan ini menjadikan matematika mudah dipahami

oleh siapaun baik antara pendidik dan siswa mempunyai peran masing-

masing. Pendidik mempunyai peran sebagai pembimbing atau

fasilitator dan siswa mempunyai peran sebagai orang yang mnenerima

bimbingan dan pengajaran.

Berdasarkan pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa

pembelajaran matematika realistik adalah Pembelajaran yang

melibatkan siswa secara aktif dalam "doing mathematics," dengan

menganggap matematika sebagai aktivitas manusia. Siswa

memecahkan masalah kontekstual, membuat model, dan mengaitkan

berbagai topik. Pendidik berperan sebagai fasilitator, sementara siswa

aktif berinteraksi, berdiskusi, dan mengeksplorasi konsep matematika


20

dari masalah kehidupan nyata sehingga lebih relevan dan mudah

dipahami.

b. Prinsip-Prinsip Pembelajaran Matematika Realistik

Menurut Ovan (2022), terdapat 5 prinsip uatama yaitu:

a) Didominasi oleh permasalahan dalam konteks, melayani dua hal

yaitu sebagai sumber dan sebagai terapan konsep matematika

b) Perhatikan diberikan kepada pengembangan model-model, situasi,

skema, dan simbol-simbol

c) Sumbangan dari siswa, sehingga siswa dapat membuat

pembelajaran menjadi konstruktif dan produktif artinya siswa

memproduksi sendiri dan mengonstruksi sendiri, sehingga dapat

mengarahkan siswa dari tingkat matematika informal menuju

formal

d) Interaktif sebagai ciri-ciri dan proses pembelajaran matematika

Menurut Sihotang (2021), ada tiga prinsip dalam pembelajaran

matematika realistik yaitu :

a) Guided Reinvention Through Progressive Mathematizing

(Reinvensi Terpandu Melalui Progresif Menghitung), dalam

prinsip ini, Siswa harus mandiri dalam menemukan konsep,

teorema, definisi, dan cara meyelesaikan persoalan yang diberikan

pendidik sebagai pembimbing.


21

b) Didactical Phenomenology (Fenomena Dikdaktik), dalam prinsip

ini, Siswa diharuskan untuk dapat menekankan persoalan pada

dunia nyata.

c) Self Developed Models (Mengembangkan Model Sendiri), dalam

prinsip ini, Siswa harus mengembangkan semua model matematika

dengan cara siswa sendiri.

Awalnya treffers menyatakan bahwa ada 5 prinsip pembelajaran

matematika realistik yang kemudian disempurnakan oleh jupri menjadi

6 prinsip (Sihotang, 2021) diantaranya:

a) Prinsip Aktivitas

Pada prinsip ini, siswa sebagai partisipasi aktif yang berarti

siswa terlibat secara langsung dalam menemukan pemecahan

masalah dalam proses pembelajaran matematika.

b) Prinsip Realitas

Pada prinsip ini, siswa tidak mendapatkan materi secara tak

langsung oleh pendidikan, tetapi guru akan melalui dengan

membuat situasi realistik yang bermakna bagi siswa. Kemudian

pendidik memberikan latihan soal.

c) Prinsip Tingkatan

Pada prinsip ini, Siswa mengalami tindakan dalam

pemahaman matematis, baik dari pemahaman informal, semi

formal, sampai formal.


22

d) Prinsip Keterkaitan

Pada prinsip ini, Topik-topik matematika dilihat sebagai

topik yang saling berhubungan antara yang satu dengan yang lain.

e) Prinsip Interaktivitas

Pada prinsip ini, Siswa dapat berkomunikasi dengan

temannya melalui diskusi untuk saling menyampaikan

pendapatnya.

f) Prinsip Pembimbingan

Pada prinsip ini, pendidik diharuskan dapat berperan aktif

dalam memberikan bimbingan kepada siswa selama proses

pembelajaran.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan

bahwa pembelajaran matematika realistik merupakan model yang

menekankan penerapan konsep matematika dalam konteks nyata,

dengan tujuan mengembangkan pemahaman siswa secara bertahap

dari informal ke formal. Prinsip utamanya meliputi penggunaan

masalah kontekstual, pengembangan model dan simbol

matematika, partisipasi aktif siswa, serta keterkaitan topik

matematika dengan fenomena dunia nyata. Pendekatan ini

mendorong siswa untuk membangun pemahaman yang mendalam

melalui interaksi dan bimbingan pendidik, menciptakan

pembelajaran yang lebih bermakna dan relevan dengan kehidupan

sehari-hari.
23

c. Karakteristik Pembelajaran Matematika Realistik

Menurut Fahrrurozi (2017), karaktesistik pembelajaran matematika

realistik sebagai berikut:

1) Penggunaan konteks

Konteks atau permasalahan realistik digunakan sebagai titik

awal pembelajaran matematika. Konteks tidak harus berupa

masalah dunia nyata namun bisa dalam bentuk permainan,

penggunaan alat praga, atau situasi lain selama hal tersebut

bermakna dan bisa dibayangkan dalam pikiran siswa.

2) Penggunaan model untuk matematisasi progresif

Penggunaan model berfungsi sebagai jembatan dari

pengetahuan dan matematika tingkat konkrit menuju pengetahuan

matematika tingkat formal. Kata model merujuk pada alat praga.

3) Pemanfaatkan hasil kontruksi siswa

Siswa memiliki kebebasan untuk mengembangkan strategi

pemecahan masalah sehingga diharapkan akan diperoleh strategi

yang bervariasi. Hasil kerja dan konstruksi siswa selanjutnya

digunakan untuk landasan pengemabngan konsep matematika.

4) Interaktivitas

Proses belajar seseorang bukan hanya suatu proses individu

melainkan juga secara bersamaan merupakan suatu proses sosial.

Proses belajar siswa akan lebih singkat dan bermakna ketika siswa

saling mengkomunikasikan hasil kerja dan gagasan mereka.


24

5) Keterkaitan

Konsep-konsep dalam matematika tidak bersifat parsial,

namun banyak konsep matematika yang memiliki keterkaiatan.

Oleh karena itu konsep-konsep matematika tidak dikenalkan secara

terpisah kepada siswa.

Menurut Sihotang (2021), karakteristik pembelajaran matematika

realistik yaitu:

a) Menggunakan konteks

Konteks sangatlah penting dalam pembelajaran matematika,

langkah-langkah pada pembelajaran matematika realistik selalu

ditentukan oleh pemilihan konteks yang benar dan sesuai dengan

kegiatan siswa, sehingga siswa membutuhkan pembelajaran yang

bermakna agar siswa lebih mudah dalam memahaminya serta

pendidik menjadikan matematika sebagai bagian dari pengalaman

hidup.

b) Menggunakan Model

Penggunaan model dilakukan untuk siswa dengan mengubah

masalah realistik kedalam matematika oleh sebab itu siswa

diharuskan menemukan hubungan antara bagian masalah dalam

model matematika.

c) Menggunakan Kontribusi Siswa

Pendidik memberikan siswa kebebasan dalam menemukan

cara dalam menyelesaikan masalah sendiri karena disini siswa


25

berperan seabgai subjek dan siswa dapat meningkatkan

kreativitasnya dalam menemukan penyelesain masalah.

d) Adanya interaktif

Siswa membangun kemampuannya dalam berinteraksi

dengan pendidik dan teman sebaya serta pendidik mengajarkan

nilai-nilai afektif pada siswa.

e) Adanya keterkaitan

Adanya hubungan antara materi pelajaran dalam matematika

oleh sebab itu siswa diharuskan memahami hubungan antara materi

di dalam pembelajaran matematika.

Menurut Ovan (2022), bahwa karakteristik pembelajaran

matematika realistik diantranya:

a) Memulai pembelajaran matematika dengan permasalahan nyata

b) Menggunakan model sebagai penghubung antara nyata dan abstrak

yang dapat membantu siswa belajar matematika pada level

abstraksi

c) Menggunakan produksi dan kontribusi siswa sebagai hasil

d) Memaksimalkan komunikasi antara siswa dan siswa

e) Menghubungkan materi matematika dengan materi matematika

yang lain.

Berdasarkan pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa

karakteristik pembelajaran matematika realistik merupakan

pembelajaran yang berfokus pada pengalaman nyata siswa, partisipasi


26

aktif, dan keterlibatan dalam konteks matematika yang relevan. Hal ini

membantu siswa memahami konsep matematika dengan lebih baik dan

mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari, sehingga memperkuat

pemahaman dan penguasaan mereka terhadap materi matematika.

d. Langkah-langkah Pembelajaran Matematika Realistik

Menurut Ovan (2022), secara umum langkah-langkah

pembelajaran matematika realistik yaitu :

a) Persiapan

Guru menyiapkan permasalahan yang kontekstual serta guru

harus menguasai permasalahan tersebut dan mempunyai

bermacam-macan strategi yang akan digunakan pendidik dalam

menyelesaikannya.

b) Pembukaan

Guru memperkenalkan strategi pembelajaran yang akan

dipakai kepada siswa yang berkaitan dengan dunia nyata.

Kemudian siswa diminta untuk menyelesaikan masalah dengan

pengalamanya.

c) Proses

Dalam pembelajarann Siswa berperan mencoba berbagai

strategi dalam menyelesaikan masalah sesuai dengan

pengalamannya yang dapat dikerjakan secara berkelompok

maupun individu setelah itu siswa diminta untuk memaparkan hasil

tugasnya di depan siswa yang lain dan meminta siswa yang lainnya

untuk memberikan tanggapan terhadap hasil pemaparan


27

presentator. Kemudian guru berperan dalam memperhatikan

jalannya diskusi kelas dan memberikan tanggapan dengan

mengarahkan siswa dalam mendapatkan strategi yang baik serta

menemukan aturan dan prinsip yang bersifat umum.

d) Penutup

Siswa dibimbing untuk menarik kesimpulan dari materi yang

telah dipelajari dan pada akhir pembelajaran siswa mengerjakan

soal sebagai bahan evaluasi dalam bentuk matematika formal.

Menurut Sihotang (2021), Selain prinsip dan karakteristik, ada

beberapa langkah-langkah dalam menerapkan kegiatan pembelajaran

matematika dengan model pembelajaran matematika realistik yaitu:

a) Memahami Masalah Kontekstual

Guru memberikan siswa masalah kontektual serta meminta

kepada siswa dalam memahami masalah tersebut.

b) Menyelesaikan Masalah Kontekstual

Siwa diminta oleh pendidik untuk menyelesaikan masalah

secara individu baik dari buku atau LKS. Guru memberikan

motivasi dengan cara membimbing siswa dalam mencari jawaban

dari masalah yang ada.

c) Membandingkan Dan Mendiskusikan Jawaban

Setelah siswa mendapatkan jawaban guru memberikan waktu

kepada siswa dalam membandingkan jawaban mereka dan untuk

melatih keberanian siswa dalam menyampaikan pendapat.


28

d) Menarik kesimpulan

Pendidik meminta siswa untuk menarik kesimpulan tentang

materi yang telah dipelajari.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas maka dalam penelitian

ini langkah-langkah pembelajaran matematika realistik yang akan

digunakan yaitu memahami masalah kontekstual, menyelesaikan

masalah kontekstual, membandingkan dan mendiskusikan jawaban

dan menarik kesimpulan.

e. Kelebihan Pembelajaran Matematika Realistik


Menurut Sihotang (2021), pembelajaran matematika realistik

memiliki beberapa kelebihan yaitu:

1) Siswa mempunyai pemahaman tentang hubungan matematika

dalam kehidupan sehari-hari.

2) Membantu mengubah cara berpikir siswa bahwa matematika

adalah mata pelajaran yang bisa dikembangkan oleh siswa baik

secara individu ataupun kelompok.

3) Pembelajaran matematika dapat mempermudah siswa sebab

menggunakan pengalaman siswa dalam kehidupan sehari-hari.

4) pembelajaran matematika realistik mengajarkan pada siswa dengan

jelas bahwa memahami matematika siswa harus terlibat secara

langsung pada prosesnya dan berusaha dalam menemukan

jawabannya sendiri.

5) pembelajaran matematika realistik bersifat utuh dan universal .


29

6) pembelajaran matematika realistik memberikan kesempatan kepada

siswa dalam mengembangkan potensi dan cara berfikir alternatif.

7) pembelajaran matematika realistik mengajarkan kepada siswa agar

saling menghargai pendapat teman sebaya yang berbeda-beda dan

menanamkan kepada siswa dengan adanya pertukaran pendapat

baik antar siswa dan guru.

f. Kelemahan Pembelajaran Matematika Realistik


Selain adanya kelebihan pembelajaran matematika realistik juga

memiliki kelemahan, Menurut Sihotang (2021), kelemahan

pembelajaran matematika realistik diantaranya:

1) pembelajaran matematika realistik membutuhkan pemaham dan

perubahan pandangan baik dari guru, siswa, peranan konteks, dan

lainnya.

2) Susahnya membuat soal-soal yang kontekstual yang sesuai dengan

syarat pembelajaran matematika realistik.

3) Susahnya memberikan motivasi kepada siswa agar mau berusaha

dalam menumukan cara dalam menyelesaikan setiap soal.

4) pembelajaran matematika realistik membutuhkan kemampuan

mengambangkan cara berpikir siswa dan itu merupakan hal yang

tidak mudah sebab guru harus teliti dalam membantu siswa agar

bisa menemukan konsep matematika.

5) Siswa memiliki kemampuan pemahman yang rendah sehingga

membutuhkan waktu dalam menyelesaikan masalah.


30

6) Kurangnya kesabaran bagi siswa yang cerdas untuk menunggu

temannya yang kesulitan dalam mengerjakan soal.

7) Membutuhkan alat praga yang sesuai.

8) Sulitnya penilain pembelajaran matematika realistik daripada

pembelajaran konveksional.

9) Padatnya materi kurikulum yang harus dikurangi dalam

menciptakan proses pembelajaran yang sesuai dengan prisip

pembelajaran matematika realistik..

3. Makanan Khas Lampung


Salah satu provinsi yang memiliki kue tradisional yang beraneka

ragam yaitu provinsi lampung. Banyak sekali kue tradisional lampung

yang saat ini masih sering dibuat oleh masyarakat setempat baik untuk

dikonsumsi sendiri ataupun untuk dijual sebagai penghasilan masyarakat.

Menurut sari dkk (2023) beberapa kue tradisional yang ada di provinsi

lampung yaitu kue sekubal, kue bebai maghing, kue selimpok, kue buak

tar, kue engkak, kue lapis lengit dan masih banyak kue-kue lainnya.

Sejarah kue tradisional lampung didasarkan pada kearifan lokal

dan warisan budaya yang telah di turunkan secara turun temurun. Kue-

kue tradisional tersebut basanya dibuat pada saat acara-acara adat,

upacara adat, atau sebagai cemilan sehari-hari. Berikut ini adalah gambar-

gambar kue tradisional lampung :


31

1) Sekubal

Gambar 1.1 sekubal

Sekubal adalah makanan khas lampung yang terbuat dari beras

ketan dan santan yang dibungkus daun pisang dan cara memasaknya

dikukus. Sekubal dijadikan hidangan istimewah pada hari raya dan

bisa menjadi hidangan saat buka puasa. Menurut sari dkk (2023),

sekubal merupakan makanan khas masyarakat lampung yang terkenal

sejak ratusan tahun baik dari keadatan sai batin maupun pepadun,

masyarakat lampung sering menyajikan makanan ini sebagai menu

utama pada acara besar, seperti acara pernikahan, pertunangan,

khitanan, begawi dan acara adat lainnya.

2) Bebai maghing

Gambar 1.2 Bebai Maghing

Bebai maghing adalah makanan khas lampung yang terbuat

dari camputan pisang, gula dan ketan. Kue ini biasanya dibuat pada

saat acara menjelang hajatan sebagai wujud kekurunan, kebersamaan


32

dan gotong royong. Menurut sari dkk (2023), Bebai maghing adalah

wanita malas karena kue ini dibuat dengan mudah tanpa harus

berpindah-pindah tempat.

3) Lapis legit

Gambar 1.3 Lapis Legit

Lapis legit adalah kue khas lampung yang terdiri dari dua

lapisan warna yang saling bertumpuk satu sama lain, yang mempunyai

ciri khas warna kuning keemasan dan coklat. Lapis legit berkembang

pada masa colonial belanda menjajah di Indonesia. Kue tersebut

mendapat pengaruh dari penduduk lokal dan orang-orang Indonesia

memodifikasinya dengan menggunakan bahan-bahan lokal dan rasa

kue tersebut disesuaikan dengan citarasa lidah orang Indonesia.

Menurut sari dkk (2023), kue lapis legit merupakan symbol

kemakmuran bagi masyarakat tionghoa, banyaknya layer pada kue ini

menggambarkan rezeki yang berlapis-lapis dan taka da habisnya.


33

4) Engkak

Gambar 1.4 Engkak Lampung

Kue engkak adalah kue tradisional yang popular di daerah

Palembang dan merupakan makanan khas lampung. Kue engkak sering

disajikan dalam acara-acara besar, seperti perayaan hari raya atau

perhelatan tradisonal. Namun kue ini juga bisa dinikmati kapan saja

tanpa harus menunggu acara tertentu. Kue engkak kan kue lapis legit

jika dilihat dari bentuknya terihat hamper sama tetapi kue ini memiliki

perbadaan dimana kue engkak di buat dengan menggunakan santan

sedangkan lapis legit tidak menggunakan santan. Kue engkak memiliki

tekstur yang lebih lembut dan memiliki daya tahan yang lama daripada

lapis legit.

4. Pembelajaran Matematika Realistik Berbantuan makanan khas

Lampung.

Pembelajaran matematika realistik berbantuan makanan khas

lampung merupakan integrasi antara pembelajaran matematika dengan

makanan tradisional. Pada pembelajaran matematika realistik proses

pembelajaran merupakan suatu yang utama dalam mempelajari

matematika. Siswa harus menjalani sendiri proses tersebut, siswa dituntut

untuk menemukan sendiri konsep dan materi-materi matematika yang


34

lain dengan bimbingan guru. Sedangkan makanan khas dapat dikatakan

sebagai kacamata untuk memandang dan memahami matematika sebagai

suatu produk budaya.

Berdasarkan penjelasan tersebut dapat diartikan bahwa

pembelajaran matematika realistik berbantuan makanan khas lampung

merupakan pembelajaran yang mengaitkan dengan makanan tradisional

yang ada disekitar lingkungan siswa dengan konsep matematika di

sekolah. Oleh karena itu guru dalam mengajarkan konsep pecahan

disekolah diharapkan dapat selalu mengaitkan dengan makanan

tradisional. Hal ini akan memberikan dampak kepada siswa dalam

memahami manfaat matematika pada kehidupan sehari-hari. Sehinga

diharapkan pembelajaran matematika di sekolah semakin mudah

dipahami dan diterapkan oleh siswa.

Berdasarkan pemaparan di atas, makanan khas akan menjembatani

pembelajaran matematika realistik agar mampu mencapai proses

pembelajaran yang bermakna sehingga siswa mudah untuk menemukan

sendiri konsep pembelajaran tersebut. Pembelajaran matematika realistik

berbantuan makanan khas lampung akan sangat memungkinkan suatu

materi yang dipelajari dapat membangkitkan motivasi belajar siswa. Hal

ini disebabkan karena pembelajaran yang dihasilkan tidak membuat siswa

bosan yang hanya dengan memandang rumus saja, tetapi siswa juga bisa

belajar dengan cara yang menyenangkan yaitu mengaitkan pembelajaran

matematika dengan kehidupan sehari-hari dan budaya mereka sendiri.


35

Pembelajaran matematika realistik adalah pembelajaran yang

berfokus pada penggunaan konteks nyata untuk membantu siswa

memahami konsep-konsep matematika. Dalam konteks ini, makanan khas

lampung dapat digunakan sebagai alat bantu untuk mengajarkan konsep

pecahan kepada siswa SD. Pembelajaran matematika realistik berbantuan

makanan khas lampung dalam penelitian ini menggunakan contoh

konkret pada bentuk makanan khas lampung yaitu lapis legit dan enggak.

Kue tradisional tersebut dapat dipotong-potong menjadi beberapa bagian-

bagian tertentu setiap potongannya, misalnya kue tersebut dibagi menjadi

setengah, sepertiga, ataupun seperempat yang dapat membantu siswa

dalam memvisualisasikan dan memahami konsep pecahan secara konkret.

Dengan pendekatan ini, diharapkan siswa dapat mengembangkan

pemahaman yang lebih mendalam dan bermakna tentang konsep pecahan,

serta dapat meningkatkan kemampuan mereka dalam menerapkan konsep

tersebut dalam berbagai situasi nyata.

5. Langkah-langkah pembelajaran matematika realistik berbantuan

makanan khas lampung.

KEGIATAN PENDAHULUAN

1. Peserta didik mengucapkan selamat pagi kepada guru

2. Peserta didik melakukan kegiatan berdoa sebelum belajar

3. Peserta didik memberi salam kepada guru

4. Peserta didik ditanyai bagaimana kabarnya oleh guru

5. Peserta didik dicek kehadirannya oleh guru


36

6. Peserta didik mengecek kebersihan dan kondisi kelas

7. Peserta didik melakukan kegiatan pembiasaan sebelum belajar

yaitu menyanyikan lagu nasional “ Garuda Pancasila”

8. Peserta didik melakukan ice breaking

9. Peserta didik melakukan apersepsi dengan mengaitkan materi

yang akan dipelahi dengan materi sebelumnya.

10. Peserta didik menjawab pertanyaan pemantik yang ditanyakan

oleh guru

11. Peserta didik mendengarkan guru menyampaikan tujuan

pembelajaran

KEGIATAN INTI

Memahami Masalah Kontekstual

1. Peserta didik membuka buku cetak halaman 63

2. Peserta didik mendengarkan penjelasan guru tentang pecahan

3. Peserta didik memahami masalah kontekstual yang disajikan

dalam bentuk soal cerita yang di berikan oleh guru

Menyelesaikan Masalah Kontekstual

4. Peserta didik menyelesaikan masalah kontekstual dengan

dibimbing oleh guru

5. Peserta didik menyelesaikan masalah tersebut dengan bantuan

makanan khas lampung (kue lapis legit)

Membandingkan dan mendiskusikan jawaban

6. Peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok


37

7. Peserta didik dalam kelompok menerima LKPD dan kue lapis

legit

8. Peserta didik mendengarkan guru membacakan petunjuk

mengerjakan LKPD

9. Peserta didik mengerjakan LKPD sesuai waktu yang ditentukan

10. Peserta didik dibimbing oleh guru untuk mengerjakan LKPD

11. Peserta didik mempresentasikan hasil diskusi kelompok

12. Peserta didik mengerjakan soal latihan pecahan

Menarik Kesimpulan

13. Peserta didik menarik Kesimpulan dari materi yang telah

dipelajari dengan dibimbing oleh guru

KEGIATAN PENUTUP

1. Peserta didik melakukan kegiatan refleksi

2. Peserta didik menutup kegiatan pembelajran dengan berdoa

B. Penelitian Yang Relevan


1. Umimatul Mupidah (2020) melakukan penelitian dengan judul “ Pengaruh

Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) Terhadap Hasil Belajar Siswa

Pada Konsep Bilangan Pecahan Di Kelas IV MI NW Karawang Bata”

Kesimpulan yang dapat diperoleh berdasarkan hasil penelitian ini adalah

ada pengaruh pembelajaran matematika realistik terhadap hasil belajar

siswa pada konsep bilangan pecahan di kelas IV MI NW Karang Bata. Hal

ini ditunjukkan oleh hasil uji t yang menunjukkan bahwa nilai Hasil ini

juga didukung dengan adanya perbedaan nilai rata-rata pre test dan post
38

test antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Nilai rata-rata pre test

dan post test kelas eksperimen adalah 56,6 dan 83,2, sedangkan nilai rata-

rata pre test dan post test kelas kontrol adalah 58,25 dan 63,25.

Kesamaan penelitian ini dengan penelitian pendahulu yaitu sama-sama

menggunakan pendekatan pembelajaran matematika realistik dan

perbedaan penelitian ini dengan penenlitian pendahulu yaitu pada

penelitian ini menggunakan pembelajaran matematika realistik berbantuan

makanan khas lampung dan pada penelitian ini memfokuskan pada

pemahaman konsep pecahan pada siswa kelas V sedangkan pada

penelitian pendahulu memfokuskan pada hasil belajar siswa pada konsep

bilangan pecahan pada kelas IV.

2. Widad Rifda Ulhaq (2023) melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh

Model Realistic Mathematics Education Berbasis Etnomatematika

Terhadap Pemahaman Konsep Geometri Siswa” Berdasarkan hasil

penelitian yang dilakukan di MTs Islamiyah Ciputat pada mata

pembelajaran matematika materi bangun datar geometri segitiga dan

segiempat dengan pendekatan pembelajaran matematika realistik berbasis

etnomatematika permainan tradisional, diperoleh kesimpulan:

Kemampuan pemahaman konsep geometri siswa kelas eksperimen yang

pembelajarannya menggunakan pendekatan pembelajaran matematika

realistik berbasis etnomatematika permainan tradisionaltergolong baik

dengan skor rata-rata posttest mencapai 84.09 dan dengan skor rata-rata

untuk masing-masing indikator diantaranya visualisasi mencapai 97,27%,

analisis 80,68%, dan deduksi informal 78,79%. Sedangkan pemahaman


39

konsep geometri siswa kelas kontrol yang pembelajaran menggunakan

pendekatan ekspositori rata-rata skor posttest hanya mencapai 59.35

dengan skor rata-rata masing-masing indikator visualisasi mencapai

70,91%, analisis 48,01%, dan deduksi informal 56,63%, hal ini lebih

rendah dibandingkan dengan kelas eksperimen. Berdasarkan pengujian

hipotesis menggunakan Mann-Whiteney (Uji U) diperoleh nilai Asyimp.

Sig (2 -tailed) adalah 0.00 < 0.05, maka H0 ditolak dan H1 diterima.

Sehingga terdapat pengaruh model pembelajaran matematika realistik

berbasis etnomatematika permainan tradisional terhadap pemahaman

konsep geometri, dimana pemahaman konsep geometri kelas eksperimen

lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol.

Kesamaan pada penelitian ini dengan penelitian pendahulu yaitu sama-

sama menggunakan pembelajaran matematika realistik berbantuaan

makanan khas lampung dan perbedaan penelitian ini dengan penelitian

pendahulu yaitu penelitian pendahulu memfokuskan pada pemahaman

konsep geometri siswa sedangkan pada penelitian ini mengguankan

pembelajaran matematika realistik berbantuan makanan tradidional

lampung dan memfokuskan pada pemahaman konsep pecahan siswa.

3. Kartika Sari (2024), melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh

Pembelajaran Matematika RealistiRealistik Berbasis Etnomatematika

Terhadap Penguasaan Konsep Matematika Peserta Didik Kelas V SD

Negeri 6 Metro Barat” Berdasarkan hasil analisis data penelitian dan

pembahasan dalam penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa terdapat

pengaruh yang signifikan pada penerapan pembelajaran matematika


40

realistik berbasis etnomatematika terhadap penguasaan konsep matematika

peserta didik kelas V SD Negeri 6 Metro Barat Pengaruhnya dapat dilihat

dari perbedaan penguasaan konsep kelas eksperimen sebelum diberikan

perlakuan yang memperoleh rata-rata nilai 45,17, sedangkan setelah

diberikan perlakuan rata-rata nilai menjadi 73. Hasil uji hipotesis

independent sample t-test diperoleh nilai sig. 0,001 ˂ 0,05 menunjukan

bahwa terdapat perbedaan peningkatan rata-rata penguasaan konsep

matematika yang signifikan. Serta, didukung oleh nilai partial eta square

sebesar 0,305 yang diinterpretasikan dalam effect size dengan kategori

besar. Peningkatan penguasaan konsep matematika ditunjukan dari nilai

ratarata N-gain pada kelas eksperimen sebesar 0,5145 dengan kategori

sedang, perolehan ini lebih tinggi dari kelas kontrol.

Kesamaan penelitian ini dengan penelitian pendahulu yaitu sama-sama

menggunakan pendekatan pembelajaran matematika realistik berbantuan

makanan khas lampung dan perbedaan penelitian ini dengan penelitian

pendahulu yaitu penelitian pendahulu memfokuskan pada penguasaan

konsep matematika sedangkan pada penelitian ini hanya memfokuskan

pada pemahaman konsep pecahan siswa.


41

C. Kerangka Konsep
Pemahaman konsep pecahan pada siswa sekolah dasar merupakan tahap

penting dalam perkembangan kemampuan matematis mereka. Di tingkat ini,

siswa mulai mengenal bahwa pecahan mewakili bagian dari keseluruhan atau

suatu kuantitas yang dibagi. Pemahaman ini melibatkan pengenalan istilah

seperti pembilang dan penyebut, serta kemampuan untuk membandingkan,

mengurutkan, dan menyederhanakan pecahan. Siswa juga perlu belajar

mengaitkan pecahan dengan representasi visual, seperti gambar potongan atau

bagian benda, agar lebih mudah memahami maknanya. Tantangan yang sering

dihadapi adalah kesulitan menghubungkan pecahan dengan konsep bilangan

bulat atau operasi matematika lainnya. Oleh karena itu, pendekatan yang

konkret dan kontekstual sangat diperlukan agar siswa dapat menguasai konsep

pecahan dengan lebih baik.

Upaya yang dapat dilakukan untuk memudahkan siswa dalam

memahami dan berpartisipasi aktif dalam pembelajaran adalah dengan

menggunakan variasi pembelajaran, salah satunya menggunakan pembelajaran

matematika realistik berbantuan makanan khas lampung. Pembelajaran

matematika realistik adalah pembelajaran yang memanfaatkan realita dan

lingkungan yang dapat dipahami siswa dalam memperlancar proses

pembelajaran matematika secara lebih baik dari yang sebelumnya. Realita

yang dimaksud yaitu hal-hal nyata atau konkrit yang dapat diamati dan

dipahami ataupun dibayangkan, sedangkan lingkungan adalah sesuatu yang

berada dalam kehidupan sehari-hari. Unsur kebudayaan dapat menjadi salah

satu alternatif yang bisa dikaitkan dengan pembelajaran matematika. Salah

satu yang dapat mengatarkan antara budaya dan pembelajaran matematika


42

yaitu dengan menerapkan pembelajaran matematika realistik berbantuan

makanan khas lampung.

Pembelajaran matematika realistik berbantuan makanan khas lampung

merupakan pembelajaran matematika yang mengaitkan materi belajar dengan

kehidupan yang nyata, unsur budaya sangat efektif digunakan dalam

pembelajaran. Melalui pembelajaran tersebut peserta akan dihadapkan pada

persoalan yang erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari mereka dan juga

budaya lampung di mana mereka tinggal. Hal tersebut memungkinkan siswa

akan lebih mudah dalam memahami konsep matematika yang sedang mereka

pelajari karena siswa bisa melihat ataupun membayangkan dan menemukan

sendiri bagaimana konsep tersebut diterapkan dalam kebudayaan serta

kehidupan sehari-hari.

Pada penelitian ini, pembelajaran matematika realistik berbantuan

makanan khas lampung berfungsi sebagai variabel bebas (X), sedangkan

kemampuan pemahaman matematika siswa berfungsi sebagai variabel terikat

(Y) Hubungan antar variabel dalam penelitian ini dapat dilihat dari gambar

kerangka konsep berikut ini:


43

Rendahnya Kemampuan Pemahaman Konsep

Guru hanya menggunakan metode ceramah yang bersifat abstrak


dalam pembelajaran dan belum menggunakan pendekatan
pembelajaran sesuai karakteristik serta siswa belom menguasai
indikator pemahaman konsep

Makanan khas lampung adalah kue tradisional lampung yang


dijumpai pada hari raya idul fitri,pernikahan, khitanan dan acara adat
lainnya

Perlunya dilakukan penelitian

Kelas eksperimen Kelas kontrol

Kelas yang menggunakan model Kelas yang menggunakan


pembelajaran matematika realistik pembelajaran Konvensional
berbantuan makanan khas lampung

Adakah Pengaruhnya terhadap kemampuan


pemahaman konsep pecahan ?
Gambar 1.5 Kerangka Konsep
44

D. Hipotesis
Berdasarkan landasan teori dan kerangka konsep diatas, maka hipotesis

penelitian yang diajukan dalam penelitian ini adalah:

“Terdapat Pengaruh Pembelajaran Matematika Realistik Berbantuan makanan

khas Lampung Terhadap Kemampuan Pemahaman Konsep Pecahan Di Kelas

V Di SDN 2 Pringsewu Timur”


45

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Dan Desain Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian Pre-Eksperimen

Desain. Desain penelitian yang digunakan yaitu intaq group comparison.

Pada desain ini terdapat satu kelompok yang digunakan untuk penelitian,

tetapi dibagi dua, yaitu setengah kelompok untuk eksperimen (yang diberi

perlakuan) dan setengah untuk kelompok kontrol (yang tidak diberi

perlakuan). Desain penelitiannya sebagai berikut:

Tabel 1.2
Intaq group comparison

Sumber : Sugiyono,2019

Keterangan :

X : Perlakuan

: Hasil pengukuran setengah kelompok yang di beri perlakuan

: Hasil pengukuran setengah kelompok yang tidak diberi perlakuan

B. Populasi , Sampel dan Teknik Sampling

1. Populasi

Adapun populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V

SDN 2 Pringsewu Timur tahun ajaran 2024/2025 sebanyak 68 siswa.

Berikut ini data populasi dalam penelitian sebagai berikut:


46

Tabel 1.3 Data Siswa Kelas V SDN 2 Pringsewu Timur

No Kelas Jumlah Siswa


1. VA 22
2. VB 24
3. VC 22
Jumlah 68
Sumber : siswa kelas VA,VB,VC SDN 2 Pringsewu Timur.

2. Sampel Penelitian

Adapun sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas VA sebagai

kelas eskperimen yang berjumlah 22 siswa dan siswa kelas VC sebagai

kelas kontrol yang berjumlah 22 siswa. Dengan jumlah seluruh sampel

sebanyak 44 siswa.

3. Teknik Sampling

Teknik pengambilan sampel yang digunakan oleh peneliti dalam

penelitian ini adalah teknik probability sampling yaitu teknik pengambilan

sampel yang tidak memberi peluang/kesempatan yang sama bagi setiap

unsur populasi untuk dipilih menjadi sampel. Dari beberapa teknik

probality sampling yang ada, peneliti memilih teknik cluster random

sampling, karena dari kelas-kelas dan dilakukan secara acak tanpa

memperlihatkan strata pada populasi.

C. Definisi Operasional Variabel

Adapun variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Pembelajaran matematika realistik ( Variabel Bebas/ Independent)

Pembelajaran matematika realistik adalah pembelajaran yang

melibatkan siswa secara aktif dalam "doing mathematics," dengan

menganggap matematika sebagai aktivitas manusia. Siswa memecahkan


47

masalah kontekstual, membuat model, dan mengaitkan berbagai topik.

Pendidik berperan sebagai fasilitator, sementara siswa aktif berinteraksi,

berdiskusi, dan mengeksplorasi konsep matematika dari masalah

kehidupan nyata sehingga lebih relevan dan mudah dipahami.

b. Kemampuan Pemahaman Konsep Pecahan (Variabel Terikat/ Dependen)

Kemampuan pemahaman konsep pecahan adalah Kemampuan

pemahaman konsep matematka yang mencakup aspek kognitif termasuk

kemampuan mengembangkan, mengelompokkan, mengklasifikasikan,

serta memahami operasi dan relasi matematika. Pemahaman ini penting

untuk menguasai dan menerapkan konsep matematika dalam berbagai

situasi, baik secara teoritis maupun praktis.

D. Teknik Dan Instrument Pengumpulan Data

1. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan langkah-langkah yang

digunakan dalam memperoleh data-data penting dalam rangka mencapai

tujuan penelitian. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu tes. Tes

digunakan untuk mengumpulkan data berupa nilai-nilai hasil belajar pada

ranah kognitif, untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa pada mata

pelajaran matematika. Teknik ini dilakukan untuk melihat hasil belajar

siswa yang mencerminkan sejauh mana pemahaman konsep pecahan yang

siswa kuasai sebelum dan sesudah diberikan perlakuan pembelajaran

matematika realistik berbantuan kue trasisional lampung.


48

2. Instrument Penelitian

Instrumen yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah berupa

tes. Instrumen tes yang digunakan pada penelitian ini berupa tes tertulis

yang berfungsi untuk mengetahui keberhasilan proses pembelajaran dan

juga tingkat Pemahaman konsep pecahan siswa. Tes merupakan cara untuk

menafsirkan kemampuan siswa melalui stimulus atau pertanyaan.

Tes dapat digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa melalui

pertanyaan atau tugas yang harus dijawab atau diselesaikan oleh siswa

untuk mengetahui kemajuan siswa. Hasil belajar tersebut dapat digunakan

sebagai media untuk menganalisis sejauh mana kemampuan pemahaman

konsep pecahan siswa setelah diberikan perlakuan pembelajaran

matematika realistik berbantuan kue tradisional lampung. Tes yang

diberikan dalam penelitian ini berbentuk soal uraian.

Kemampuan pemahaman konsep siswa dinilai berdasarkan indikator

pemahaman konsep. Adapun kriteria penilaian kemampuan pemahaman

konsep menurut adaptasi (Kartika,2018), dapat dilihat pada tabel berikut

ini:

Tabel 1.4 pedoman penskoran kemampuan pemahaman konsep

Indikator pemahaman Keterangan Skor


konsep
Menyatakan ulang sebuah Jawaban kosong 0
konsep Tidak dapat menyatakan ulang 1
konsep
Dapat menyatakan ulang 2
konsep tetapi masih banyak
kesalahan
Dapat menyatakan ulang 3
konsep tetapi belum tepat
Dapat menyatakan ulang 4
konsep dengan tepat
49

Mengklasifikasikan objek Jawaban kosong 0


menurut tertentu sesuai Tidak dapat mengkasifiksikan 1
dengan sifatnya objek sesuai dengan sifatnya
Dapat mengklasifikasikan objek 2
sesuai dengan sifatnya tetapi
masih ada kesalahan
Dapat mengklasifikasikan objek 3
sesuai dengan sifatnya tetapi
belum tepat
Dapat mengkalsifikasikan objek 4
sesuai dengan sifatnya dengan
tepat
Mengidentifikasi contoh Jawaban kosong 0
dan bukan contoh dari Tidak dapat memberikan contoh 1
suatu konsep dan bukan contoh
Dapat memberikan contoh dan 2
bukan contoh tetapi masih ada
kesalahan
Dapat mmeberikan contoh dan 3
bukan contoh tetapi belum tetap
Dapat memberikan contoh dan 4
bukan contoh dengan tepat
Menggunakan dan Jawaban kosong 0
memanfaatkan serta Tidak dapat menggunakan, 1
memilih prosedur atau memanfaatkan dan memilih
operasi tertentu prosedur
Dapat menggunakan, 2
memanfaatkan dan memilih
prosedur tetapi masih ada
kesalahan
Dapat menggunakan, 3
memanfaatkan dan memilih
prosedur tetapi belum tepat
Dapat menggunakan, 4
memanfaatkan dan memilih
prosedur dengan tepat tepat
Mengaplikasikan konsep Jawaban kosong 0
atau algoritma dalam Tidak dapat mengaplikasikan 1
pemecahan masalah rumus sesuai prosedur dalam
menyelesaikan soal pemecahan
masalah
Dapat mengaplikasikan rumus 2
sesuai prosedur dalam
menyelesaikan soal pemecahan
masalah tetapi masih ada
kesalahan
dapat mengaplikasikan rumus 3
50

sesuai prosedur dalam


menyelesaikan soal pemecahan
masalah tetapi belum tepat
dapat mengaplikasikan rumus 4
sesuai prosedur dalam
menyelesaikan soal pemecahan
masalah dengan tepat
n=

keterangan

= skor yang diperoleh

b = skor maksimum

n = jumlah nilai

E. Validitas Dan Reliabilitas Instrument

a. Validitas Isi

Untuk instrument yang berbentuk test, pengujian validitas isi dapat

dilakukan dengan membandingkan isi instrument dengan materi pelajaran

yang telah diajarkan dan disesuaikan dengan indikatror dan isinya.

Validitas isi dilakukan oleh validator atau ahli.

b. Validitas Instrument

Tes dikatakan valid jika soal yang dibuat telah sesuai dengan materi

yang akan diajarkan dalam proses pembelajaran. Validitas tiap item

dilakukan dengan mengkorelasi skor butir soal tersebut dengan skor total

yang diperoleh. Koefisien korelasi dihitung dengan rumus korelasi

pearson product moment.

Rumus Korelasi Pearson Product Moment

∑ (∑ )(∑ )
√* ∑ (∑ ) +* ∑ (∑ ) +
51

Sumber : Arikunto,2018

Keterangan

: Koefisien korelasi

∑ : jumlah skor yang diperoleh dari tes (skor item)

∑ : Jumlah skor total (seluruh item)

N : jumlah responden

Untuk mengetahui valid tidaknya butir soal, maka

dibandingkan product momen dengan 5% dan derajat

kebebasan (dk) = n 2 . Jika , maka soal tersebut

dinyatakan tidak valid dan jika , maka angket skla

pemahaman konsep tersebut dinyatakan valid tetap dipertahankan dalam

instrument yang selanjutnya digunakan untuk proses pengelolahan data

dalam penelitian yang sebenarnya.

c. Daya Pembeda

Untuk mengetahui sejauh mana tiap nutir soal mampu membedakan

kelompok dalam aspek yang diukur sesuai dengan perbedaan yang ada

dalam kelompok tes. Rumus untuk menghitung daya pembeda dapat

digunakan formula sebagai berikut:

= -

Sumber : Arikunto,2018
52

Keterangan :

: Jumlah peserta tes

: Banyaknya peserta tes kelompok atas

: Banyaknya peserta tes kelompok bawah

: Banyaknya peserta tes pada kelompok atas yang menjawab soal

itu benar

: Banyaknya peserta tes pada kelompok bawah yang menjawab

soal itu benar

: Proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar

: Proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar

Hasil dari perhitungan daya pembeda dikonstruksikan dengan

kriteria indeks daya pembeda yang dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 1.5 Kriteria indeks daya pembeda

Nilai Keputusan
0,00 – 0,20 Jelek
0,20 – 0,40 Cukup
0,40 – 0,70 Baik
0,70 – 1,00 Baik Sekali
Sumber : Arikunto,2018

Soal yang diterima adalah soal yang terletak pada daya pembeda

0,40 – 0,70 . Disimpulkan dalam penelitian ini daya pembeda soal yang

diterima pada nilai lebih dari 0,40.


53

d. Tingkat kesukaran

Tingkat kesukaran digunakan untuk mengetahui kesukaran soal

dalam rangka menyediakan berbagai alat diagnostic kesulitan belajar siswa

ataupun dalam rangka meningkatkanpenilaian berbasis kelas. Tingkat

kesukaran soal dapat ditentukan dari kedalaman soal. Rumus yang

digunakan untuk menentukan tingkat kesukaran adalah:

P=

Sumber : Arikunto,2018

Keterangan :

P : Indeks kesukaran

B : Banyaknya siswa yang menjawab soal itu benar

: Jmlah seluruh siswa peserta tes

Hasil dari perhitungan tingkat kesukaran maka nilai perhitungan

dirumuskan dengan kategori tingkat kesukaran yang dapat dilihat pada

tabel berikut ini:

Tabel 2.1 Kriteria indeks tingkat kesukaran

Nilai Keputusan
Sukar
Sedang
Mudah

Sumber : Arikunto,2018

Soal yang diterima adalah soal yang terletak pada rentang tingkat

kesukaran 0,31 sampai dengan 0,70. Disimpulkan dalam penelitian ini

tingkat kesukaran soal yang diterima terletak pada rentang 0,31 sampai

dengan 0,70 dengan ketegori soal sedang.


54

e. Reliabilitas Instrument

Uji reliabilitas dilakukan untuk mengetahui tingkat keajegan atau

ketetapan tes yang digunakan. Tes dikatakan reliable yaitu jika soal tes

tersebut memberikan hasil yang relative sama (konsisten) walaupun soal

tes tersebut diberikan pada subjek, waktu dan tempat yang bebeda. Untuk

mengetahui reliabilitas tes pada soal uraian menggunakan rumus

Cronbach alpha, sebagai berikut:


( )( )

Sumber : Arikunto,2018

Keterangan

: reliabilitas yang dicari

: Jumlah butir soal

∑ : Jumlah varians skor tiap-tiap item


:
Varians total

Tabel 2.2 kriteria indeks korelasi

Nilai Kriteria
0,000-0,199 Sangat Rendah
0,200-0,399 Rendah
0,400-0.599 Cukup
0,600-0,799 Tinggi
0.800-1,000 Sangat Tinggi
(Sumber : Arikunto,2018)
55

F. Teknik Analisis Data

Untuk mengetahui pengaruh pembelajaran matematika realistik

berbantuan makanan khas lampung terhadap kemampuan pemahaman konsep

pecahan siswa kelas V SDN 2 Pringsewu Timur dengan menggunakan uji t.

namun dalam uji t terdapat beberapa syarat:

1. Uji Pra Syarat

Uji pra syarat analisis statistik dalam penelitian ini yaitu

menggunakan uji normalitas, uji homogenitas, dan uji t. berikut ini

merupakan penjelasan dari uji pra syarat :

a. Uji Normalitas

Sampel membutuhkan pengujian untuk mengetahui apakah

berdistribusi normal atau tidak. Adapun dalam penelitian ini, untuk

menguji normalitas menggunakan uji Lillieforx. Menurut Nuryadi dkk

(2017), uji normalitas data dapat dilakukan menggunakan uji Lilliefors

(Lo) dengan tahapan sebagai berikut. Langkah pertama adalah

menetapkan tingkat signifikansi, yakni pada tingkat signifikansi 5%

(0,05). Hipotesis uji dinyatakan, sebagai berikut:

: Data berdistribusi normal

: Data berdistribusi tidak normal

Kriteria pengujian:

1) Jika nilai atau maka

diterima.

2) Jika nilai atau maka

ditolak.
56

Adapun langkah-langkah yang akan di lakukan dalam pengujian

normalitas, sebagai berikut:

a. Mencari simpangan baku

̅
Rumus; =

Keterangan

̅ = Rata-rata sampel

= simpangan baku ( standar deviasai)

b. Menentukan peluang

Untuk setiap bilangan baku ini dengan menggunakan daftar

distribusi normal baku, kemudian di hitung peluang F (z)

c. Menghitung proporsi

Rumus : S ( ) =

d. Menghitung selisih F ( ) – S ( ), Maka kemudian menentukan

harga mutlaknya.

e. Mengambil harga L hitung yang paling besar diantara harga mutlak

( ), untuk menerima atau menolak hipotesis, maka akan di

bandingkan antara dengan nilai kritis L yang diambil dari

daftar, untuk taraf nyata = 0,05.

b. Uji Homogenitas

Setelah diketahui data hasil penelitian berdistribusi normal, maka

selanjutnya diadakan pengujian homogenitas. Pengujian homogenitas

berfungsi apakah kedua kelompok populasi itu bersifat homogeny. Uji


57

homogenitas yang digunakan pada penelitian ini adalah uji fisher

dengan rumus sebagai berikut:

JIKA maka tidak homogen

JIKA maka homogeny (Arikunto,2013)

2. Uji Hipotesis

Untuk melihat apakah ada pengaruh penggunaan pembelajaran

matematika realistik berbantuan makanan khas lampung terhadap

kemampuan pemahaman konsep pecahan siswa uji t-test parametis

varians. Adapun rumus yang dimaksud sebagai berikut:

a. Uji t dua pihak

̅ ̅ ̅ ̅
dimana
( ) ( )
√ √ ( )

Sumber : Hajaroh & Raehanah, 2021

Keterangan :

̅₁ : Nilai Rata-rata kelas Eksperimen

̅₂ : Nilai Rata-rata Kelas Kontrol

: Jumlah Sampel Kelas Eksperimen

: Jumlah sampel Kelas Kontro

: Varians kelas Eksperimen

: Varians kelas Kontrol


58

Berdasarkan pada kajian pustaka di atas dan fenomena yang

telah terjadi dilapangan, maka hipotesis ( ) yang diajukan adalah:

: Terdapat pengaruh signifikan Pembelajaran Matematika

Realistik Beberbantuan makanan khas lampung Terhadap

Kemampuan Pemahaman Konsep Pecahan.

: Tidak terdapat pengaruh signifika Pembelajaran Matematika

Realistik Berbantuan makanan khas Lampung Terhadap

Kemampuan Pemahaman Konsep Pecahan.

Hipotesis Statistik:

Uji hipotesis yang digunakan adalah uji perbedaan rata-rata

hasil tes dengan rumus uji hipotesisnya adalah sebagai berikut :

3) Jika nilai atau maka

ditolak dan diterima.

4) Jika nilai atau maka

diterima dan ditolak.

Nilai ditentukan dengan dk ( derajat kebebasan) dan nilai

signifikan. Harga dk diketahui memulai persamaan dk = n-1, dimana

n adalah jumlah data.


59

b. Uji t satu pihak

Uji t satu pihak digunakan untuk mengetahui bagaimana

pengaruh pembelajaran matematika realistik berbantuan makanan khas

lampung terhadap kemampuan pemahaman konsep pecahan siswa

dengan rumus sebagai berikut:

̅ ̅ ̅ ̅
dimana
( ) ( )
√ √ ( )

Sumber : Hajaroh & Raehanah, 2021

Keterangan :

̅₁ : Nilai Rata-rata kelas Eksperimen

̅₂ : Nilai Rata-rata Kelas Kontrol

: Jumlah Sampel Kelas Eksperimen

: Jumlah sampel Kelas Kontrol

S : Varians kelas Eksperimen

S : Varians kelas Kontrol

Berdasarkan pada kajian pustaka diatas dan fenomena yang

telah terjadi dilapangan, maka hipotesis ( ) yang diajukan adalah:

: rata-rata kemampuan pemahaman kemampuan konsep pecahan

siswa dengan menggunakan pembelajaran matematika realistik

lebih baik dari rata-rata kemampuan pemahaman konsep

pecahan yang menggunakan metode ceramah.

: rata-rata kemampuan pemahaman kemampuan konsep pecahan

siswa dengan menggunakan pembelajaran matematika realistik


60

kurang dari atau sama dengan rata-rata kemampuan pemahaman

konsep pecahan yang menggunakan metode ceramah.

Hipotesis Statistik:

Uji hipotesis yang digunakan adalah uji perbedaan rata-rata

hasil tes dengan rumus uji hipotesisnya adalah sebagai berikut:

a. Jika nilai atau maka

ditolak dan diterima.

b. Jika nilai atau maka

diterima dan ditolak.

Nilai ditentukan dengan dk ( derajat kebebasan) dan nilai

signifikan. Harga dk diketahui memulai persamaan dk = n-1, dimana

n adalah jumlah data.


61

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil penelitian

1. Uji Coba Instrumen

Penelitian uji coba instrumen telah dilaksanakan pada tanggal 08

November 2024 di UPT SDN 2 Pringsewu Timur, Kecamatan Pringsewu,

Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung pada Tahun Ajaran 2024/2025.

Uji coba ini dilakukan di kelas VB yang berjumlah 24 siswa. Instrument

tes pada penelitian ini berbentuk soal uaraian yang berjumlah 10 soal.

Hasil uji coba instrument dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2.3 Hasil Tes Uji Coba Instrumen

Responden Nama Nilai


1 AFH 59
2 ASP 43
3 RNP 53
4 MIA 37
5 IS 51
6 AAH 64
7 DRA 52
8 FZA 97
9 DAZ 97
10 KPA 54
11 KGR 61
12 MAS 43
13 MAD 64
14 MASH 27
15 MMA 48
16 NFP 65
17 PAA 34
18 PA 52
19 PA 45
20 SFA 49
21 RA 45
22 AHW 34
23 SF 86
24 TAR 35
62

a. Uji validitas

Penelitian ini menggunakan validitas item (butir soal).

Validitas ini dilakukan dengan cara mencocokkan butir soal dengan

indikator. Adapun validitas untuk memeriksa dan menvalidasikan

instrument yang sudah di buat terdiri dari validator guru kelas 5 UPT

SDN 2 pringsewu timur yaitu Ibu Gadis Nabila,S.Pd dan Ibu Dwi

Cahya Oktaviani,S.Pd tes tersebut dinyatakan valid setelah dilakukan

validasi oleh kedua validator tersebut.

Uji coba dilakukan di kelas V UPT SDN 2 Pringsewu Timur

dengan jumlah 24 siswa dengan instrument tes berupa soal uraian yang

berjumlah 10 soal. Pada materi konsep pecahan, selanjutnya untuk

mengetahui validitas tes tiap item atau soal dilakukan perhitungan

menggunakan rumus pearson product moment untuk menentukan nilai

dari hasil perhitungan diperoleh hasul pada tabel berikut:

Tabel 2.4 Hasil Tes Uji Validitas Instrumen

No Soal R hitung R tabel Keterangan


1 0,484 0,423 Valid
2 0,426 0,423 Valid
3 0,470 0,423 Valid
4 0,489 0,423 Valid
5 0,198 0,423 Tidak valid
6 0,186 0,423 Ttidak Valid
7 0,091 0,423 Tidak Valid
8 0,451 0,423 Valid
9 0,153 0,423 Tidak Valid
10 0,098 0,423 Tidak valid
( Perhitungan dapat dilihat pada lampiran hal 154-172)
63

Setelah di bandingkan dengan dengan taraf signifikan

5% jika > maka dikatakan soal valid. Hasil analisis tersebut,

di peroleh 5 item soal diantaranya nomor 1,2,3,4dan 8 dinyatakan valid,

sedangkan 5 item soal diantaranya nomor 5,6,7,9 dan 10 dinyatakan tidak

valid.

b. Daya pembeda

Uji daya pembeda tes digunakan untuk melihat apakah tes disusun

dapat di bedakan antara siswa yang berkemampuan rendah dengan siswa

yang berkemampuan tinggi, daya beda setiap soal diperoleh sebagai

berikut:

Tabel 2.5 Hasil Tes Uji Daya Beda

No soal Daya pembeda Kriteria


1 0,50 Baik
2 0,41 Baik
3 0,50 Baik
4 0,33 Cukup
5 0,32 Cukup
6 0,33 Cukup
7 0,50 Baik
8 0,42 Baik
9 0.33 Cukup
10 0,25 Cukup
( Perhitungan dapat dilihat di lampiran hal 173-177)

Dilihat dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa indeks daya

beda dari 10 soal berbentuk uraian di ketahui, 5 soal mempunyai indeks

daya beda (Baik) dan 5 soal mempunyai indeks daya beda (Cukup).
64

c. Tingkat Kesukaran

Uji tingkat kesukaran digunakan untuk mengetahui apakah test

yang diajukan sukar,sedang, dan mudah. Dengan menunjukkan kepada

klasifikasi tingkat kesukaran tes berada pada:

Tabel 3.1 Kriteria Tingkat Kesukaran

0,00 – 0,30 Sukar


0,31 – 0,70 Sedang
0,71 – 0,100 Mudah

Tingkat kesukaran pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3.2 Hasil Indeks Tingkat Kesukaran

No Soal Tingkat Kriteria


Kesukaran
1 0,50 Sedang
2 0,45 Sedang
3 0,41 Sedang
4 0,50 Sedang
5 0,20 Sukar
6 0,16 Sukar
7 0,25 Sukar
8 0,37 Sedang
9 0,12 Sukar
10 0,08 Sukar
(Perhitungan dapat di lihat pada lampiran hal 178-181)

Berdasarkan kriteria tingkat kesukaran dinyatakan diterima

apabila berada pada 0,30-0,71. Dilihat dari tabel diatas dapat disimpulkan

bahwa indeks kesukaran dari 10 soal berbentuk uraian di ketahui, 5 soal


65

mempunyai indeks kesukaran (Sedang), dan 5 soal mempunyai indeks

kesukaran (Sukar).

Tabel 3.3 Penetapan Instrument Pemecahan Masalah Matematika

No Validitas Daya Tingkat Keputusan


Soal pembeda kesukaran
1 Valid Baik Sedang Digunakan
2 Valid Baik Sedang Digunakan
3 Valid Baik Sedang Digunakan
4 Valid Cukup Sedang Tidak
digunakan
5 Tidak valid Cukup Sukar Tidak
digunakan
6 Tidak valid Cukup Sukar Tidak
digunakan
7 Tiidak valid Baik Sukar Tidak
digunakan
8 Valid Baik Sedang Digunakan
9 Tidak valid Cukup Sukar Tidak
digunakan
10 Tidak valid Cukup Sukar Tidak
digunakan

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa dari 10 soal yang

di uji cobakan hanya 4 soal yang memenuhi kriteria diatas yaitu soal

nomor 1,2,3, dan 8. Dengan demikian hanya 4 soal yang digunakan untuk

penelitian selanjutnya .
66

d. Uji reliabilitas
Instrument pengukuran dikatakan reliabilitas jika pengukurannya

konsisten dan cermat akurat. Adapun hasil dari perhitungan reliabilitas

tersebut ada dalam tabel dibawah ini :

Tabel 3.4 Hasil Reliabilitas

Kriteria
0.929 Tinggi
( Perhitungan dapat dilihat pada lampiran hal 182-185)

Berdasarkan perhitungan menunjukkan bahwa item-item

instrument soal yang valid tersebut memiliki koefisien reliabilitas soal

sebesar 0.929. dengan demikian tingkat reliabilitasnya sangat tinggi atau

dapat dikatakan tiap butir soal tersebut ialah sangat reliabel.

B. Analisis data
Penelitian telah dilaksanakan pada tanggal 18-21 November 2024 di

UPT SDN 2 Pringsewu Timur, Kecamatan Pringsewu, Kabupaten Pringsewu,

Provinsi Lampung Tahun Pelajaran 2024/2025. Penelitian dilakukan di kelas

VA (Kelas Eksperimen) yang berjumlah 22 siswa, dan kelas VC (Kelas

Kontrol) yang berjumlah 22 siswa, instrumen tes pada penelitian ini

berbentuk tes uraian yang berjumlah 4 soal.

Peneliti melakukan perlakuan pada kelas VA (Kelas Eksperimen)

dengan memberikan materi pecahan dengan menggunakan model

pembelajaran matematika realistik berbantuan makanan khas lampung,

sedangkan pada kelas VC (Kelas Kontrol) diberikan perlakuan dengan model

pembelajaran konvensional dimana perlakuan ini diberikan guru seperti


67

pembelajran sebelumnya. Pengambilan tes dilakukan setelah diberikan

perlakuan. Adapun hasil tes kelas VA (Kelas Eksperimen) dan kelas VC

(Kelas kontrol) yang diperoleh pada tabel berikut:

Tabel 3.5 Hasil Analisis Data Hasil Belajar Eksperimen Dan Kontrol

N0 Nama Siswa Eksperimen Nama Siswa Kontrol


1 R 53 NZA 15
2 KNF 56 FAP 20
3 FNP 57 EAP 33
4 DUJW 58 ADA 34
5 NFS 64 KAF 36
6 AAP 64 NMU 49
7 DDLP 65 NMA 50
8 ANA 66 AP 57
9 TIR 70 NLU 57
10 TMA 72 DM 60
11 ELF 77 RAP 60
12 C 77 RA 60
13 D 78 UZ 60
14 RR 79 SK 62
15 RBFP 82 HZP 62
16 AH 82 AS 62
17 KA 83 AEP 63
18 RA 84 RDL 64
19 AZ 85 ABS 70
20 EL 90 ARRR 73
21 ZKP 90 ANS 75
22 DPA 91 AKZP 80

Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil tes kelas VA (Kelas

Eksperimen) pada 22 responden dengan menggunakan 4 soal uraian. Data

deskriptif peserta didik kelas eksperimen saat di berikan perlakuan dapat

dilihat pada tabel berikut:


68

Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Data Hasil Belajar Kelas Eksperimen

No INVERVAL FREKUENSI %
1 50-54 1 4,5 %
2 55-59 3 14%
3 60-64 2 9%
4 65-69 2 9%
5 70-74 2 9%
6 75-79 4 18%
7 80-84 4 18%
8 85-89 1 4,5%
9 90-94 3 14%
JMLH 22 100%

Berdasarkan tabel diatas dapat di ketahui bahwa interval yang

didapatkan antara 50-54 yaitu sebesar 4,5%, antara 55-59 yaitu sebesar

14%, antara 60-64 yaitu sebesar 9 %, antara 65-69 yaitu sebesar 9%,

antara 70-74 yaitu sebesar 9 %, antara 75-79 yaitu sebesar 18%, antara 80-

84 yaitu sebesar 18%, antara 85-89 yaitu sebesar 4,5% dan antara 90-94

yaitu sebesar 14%. Berdasarkan hasil nilai tes siswa yang memperoleh

nilai diatas KKM (70). persebaran nilai lebih lanjut dapat dilihat pada

diagram berikut:
69

4,5
Frekuensi
4

3,5

2,5

1,5

0,5

0
50-54 55-59 60-64 65-69 70-74 75-79 80-84 85-89 90-94

Gambar 2.1 Diagram Nilai Tes Akhir Hasil Belajar Kelas Eksperimen

Berdasarkan diagram di atas dapat dipahami bahwa jumlah siswa

yang memperoleh rentang nilai 50-54 adalah sebanyak 1, antara rentang

nilai 55-59 adalah sebanyak 3, antara rentang nilai 60-64 adalah sebanyak

2, antara rentang nilai 65-69 adalah sebanyak 2, antara rentang nilai 70-74

adalah sebanyak 2, antara rentang nilai 75-79 adalah sebanyak 4,antara

rentang nilai 80-84 adalah sebanyak 4, antara rentang nilai 85-89 adalah

sebanyak 1, dan antara 90-94 adalah sebanyak 3.

Selanjutnya berdasarkan data yang diperoleh dari hasil tes kelas

VC (Kelas Kontrol) pada 22 responden dengan menggunakan 4 soal uraian.

Data deskriptif hasil belajar matematika peserta didik kelas kontrol dapat

dilihat pada tabel berikut:


70

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Data Tes Akhir Hasil Belajar Kelas Kontrol

No INVERVAL FREKUENSI %
1 15-19 1 4,5 %
2 20-24 1 4,5%
3 25-29 0 0%
4 30-34 2 9%
5 35-39 1 4,5%
6 40-44 0 0%
7 45-49 1 4,5%
8 50-54 1 4,5%
9 55-59 2 9%
10 60-64 9 41,5%
11 65-69 0 0%
12 70-74 2 9%
13 75-79 1 4,5%
14 80-84 1 4,5%
JMLH 22 100%

Berdasarkan tabel diatas dapat di ketahui bahwa interval yang

didapatkan antara 15-19 yaitu sebesar 4,5%, antara 20-24 yaitu sebesar

4,5%, antara 25-29 yaitu sebesar 0%, antara 30-34 yaitu sebesar 9%,

antara 35-39 yaitu sebesar 4,5 %, antara 40-44 yaitu sebesar 0%, antara

45-49 yaitu sebesar 4,5%, 50-54 yaitu sebesar 4,5%, antara 55-59 yaitu

sebesar 9%, antara 60-64 yaitu sebesar 41,5 %, antara 65-69 yaitu sebesar

0%, antara 70-74 yaitu sebesar 9 %, antara 75-79 yaitu sebesar 4,5%, dan

antara 80-84 yaitu sebesar 4,5%, Berdasarkan hasil nilai tes siswa yang

mmeperoleh nilai diatas KKM (70). persebaran nilai lebih lanjut dapat

dilihat pada diagram berikut:


71

10 Frekuensi
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0

Gambar 2.2 Diagram Nilai Tes Akhir Hasil Belajar Kelas Kontrol

Berdasarkan diagram di atas dapat dipahami bahwa jumlah siswa

yang memperoleh rentang nilai 15-19 adalah sebanyak 1 siswa, antara

rentang nilai 20-24 adalah sebanyak 1 siswa, antara rentang nilai 25-29

adalah sebanyak 0 siswa, antara rentang nilai 30-34 adalah sebanyak 1,

antara rentang nilai 35-39 adalah sebanyak 1 siswa, rentang nilai 40-44

adalah sebanyak 0 siswa, antara rentang nilai 45-49 adalah sebanyak 1

siswa, antara rentang nilai 50-54 adalah sebanyak 1 siswa, antara rentang

nilai 55-59 adalah sebanyak 2, antara rentang nilai 60-64 adalah sebanyak

9 siswa, antara rentang nilai 65-69 adalah sebanyak 0 siswa, antara rentang

nilai 70-74 adalah sebanyak 2, antara rentang nilai 75-79 adalah sebanyak

1, dan antara rentang nilai 80-84 adalah sebanyak 1 siswa.

Data tes hasil belajar peserta didik yang diberikan perlakuan

menggunakan model pembelajaran matematika realistik berbantuan

makanan khas lampung di kelas VA (Kelas Eksperimen) dan model


72

pembelajaran konvensional di kelas VC (Kelas Kontrol) yang diperoleh

dideskripsikan menurut rata-rata, standar deviasi, nilai minimum, dan nilai

maksimum. Tes hasil belajar Matematika peserta didik kelas VA (Kelas

Eksperimen) dan kelas VC (Kelas Kontrol) secara lengkap dapat dilihat

pada tabel. Deskripsi data mengenai hasil belajar Matematika peserta didik

dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.3 Stastistik Hasil Belajar Kelas Eksperimen Dan Kontrol

No Statistik Hasil Belajar


Eksperimen Kontrol
1 Rata-rata (mean) 73 55
2 Standar deviasi 12 17
3 Varians 141,1 292,5
4 Minimum 53 15
5 Maksimum 91 80
6 N (Jumlah Siswa) 22 22

Tabel terlihat bahwa rata-rata nilai hasil belajar Matematika siswa

yang menggunakan model pembelajaran matematika realistik berbantuan

makanan khas lampung lebih tinggi daripada rata-rata hasil belajar peserta

didik kelas kontrol yang menggunakan model pembelajaran pembelajaran

konvensional. Hal ini berarti ada perbedaan hasil belajar antara siswa yang

menggunakan model pembelajaran matematika realistik dengan

berbantuan makanan khas lampung dan yang tidak menggunakan model

pembelajaran matematika realistik dengan berbantuan makanan khas

lampung dengan selisih 18.

Berdasarkan standar deviasi, maka nilai tes hasil belajar

Matematika dengan menggunakan model pembelajaran matematika

realistik dengan berbantuan makanan khas lampung lebih tinggi


73

dibandingkan nilai tes hasil belajar dengan menggunakan model

pembelajaran konvensional karena standar deviasi siswa dengan

menggunakan model pembelajaran matematika realistik dengan

berbantuan makanan khas lampung lebih tinggi dari pada siswa yang

menggunakan model pembelajaran konvensional. Tes hasil belajar

matematika siswa dapat dilihat secara lengkap berikut ini:

Gambar 2.3 Nilai Tes Akhir Gambar 2.4 Nilai Tes Akhir

Belajar Kelas Eskpermen Belajar Kelas Kontrol

Skor rata-rata kemampuan hasil belajar Matematika siswa

eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan siswa kelas kontrol.

Berdasarkan hasil rata-rata tes peserta didik diketahui bahwa rata- ratanya

adalah 73 (Kelas Eksperimen) dan 55 (Kelas Kontrol). Dapat disimpulkan

bahwa rata-rata nilai tes kelas eksperimen lebih tinggi daripada nilai tes

kelas kontrol.
74

1. Uji Prasyarat

a. Uji Normalitas Data

Uji normalitas dilakukan bertujuan untuk mengetahui apakah

distribusi data berasal dari populasi normal atau tidak. Pengujian

normalitas dilakukan di UPT SDN 2 Pringsewu Timur pada dua

kelompok data yang terdiri dari kelas VA sebagai kelas eksperimen

dan VB sebagai kelas kontrol. Pengujian ini menggunakan uji Liliefors

dengan syarat sebagai berikut; jika Lhitung > Ltabel (sampel tidak

berdistribusi normal) jika Lhitung < Ltabel (sampel berdistribusi normal).

Untuk lebih jelasnya pada perhitungan uji normalitas untuk nilai

posttest pada kelas eksperimen dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.4 Hasil Uji Normalitas Data

No Distribusi Lhitung Ltabel Kesimpulan


Kelompok
1 Eksperimen 0,1084 0,1832 Normal
2 Kontrol 0,141 0,1832 Normal

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa hasil distribusi

kelompok eksperimen dan kelompok kontrol berdistribusi normal.

b. Uji Homogenitas

Uji Homogenitas (Uji Fisher) Uji homogenitas data dilakukan

dengan uji fisher menggunakan varians terbesar dibandingkan dengan

varian terkecil dari data yang ada. Pengujian homogenitas ini

dilakukan untuk mengetahui apakah hasil belajar matematika memiliki

varians yang homogen atau tidak. Berdasarkan hasil perhitungan uji


75

homogenitas data hasil belajar matematika diperoleh Fhitung sebesar

2,072 dan taraf signifikansi α = 0,05 diperoleh Ftabel sebesar 2,084.

Dimana jika: Fhitung > Ftabel berarti tidak homogen dan Fhitung < Ftabel

berarti homogen. Karena Fhitung < Ftabel maka data yang digunakan

berasal dari populasi yang homogen. Untuk lebih jelas hasil penelitian

dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 4.5 Uji Homogenitas

Varians Eksperimen 141,1


Varians Kontrol 292,5
F hitung 2,072
F tabel 2,084
Kesimpulan Homogen

Berdasarkan hasil uji homogenitas pada tabel diatas maka

Fhitung ≤ Ftabel (2,072 ≤ 2,084), dapat ditarik kesimpulan bahwa HOl

diterima yang berarti kedua varians bersifat homogen.

2. Uji Hipotesis

Uji hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan

rumus uji-t. berdasarkan uji normalisasi dan uji homogenitas yang

telah dilakukan peneliti menunjukkan bahwa dan selanjutnya dapat

dilakukan uji hipotesis karena data berdistribusi normal dan data

homogen. Uji hipotesis dilakukan untuk mengetahui ada tau tidak

pengaruh antara pembelajaran matematika realistik berbantuan

makanan khas lampung terhadap kemampuan pemahaman konsep

pecahan. Dasar pengambilan keputusan uji hipotesis apakah Ha ditolak

atau diterima menggunakan taraf signifikan 5% yaitu jika


76

maka Ha diterim dan Ho ditolak. Jika maka

Ho di terima dan Ha ditolak. Berikut hipotesisnya sebagai berikut:

: Terdapat pengaruh signifikan Pembelajaran Matematika

Realistik Beberbantuan makanan khas lampung Terhadap

Kemampuan Pemahaman Konsep Pecahan.

: Tidak terdapat pengaruh signifika Pembelajaran Matematika

Realistik Berbantuan makanan khas Lampung Terhadap

Kemampuan Pemahaman Konsep Pecahan.

Adapun hasil analisis menggunakan uji t ,dapat dilihat dibawah ini:

a. Uji-t Dua Pihak

Hipotesis statistik

: = Terdapat pengaruh signifika Pembelajaran

Matematika Realistik Berbantuan makanan

khas Lampung Terhadap Kemampuan

Pemahaman Konsep Pecahan

: = Tidak terdapat pengaruh signifika Pembelajaran

Matematika Realistik Berbantuan makanan

khas Lampung Terhadap Kemampuan

Pemahaman Konsep Pecahan


77

Perhitungan didapat = 4,308, selanjutnya

dibandingkan dengan dk = 22 + 22 – 2 = 42 a= 5% hasil

= 2,019. Berdasarkan perhitungan = 4,308

= 2,019 maka Ho ditolak dan menerima Ha.

Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh kemampuan

pemahaman konsep pecahan dengan menggunakan pembelajaran

matematika realistik dengan bantuan makanan khas lampung.

Berdasarkan uji tersebut bahwa Ha diterima yang artinya ada

pengaruh pembelajaran matematika realistik berbantuan makanan

khas lampung terhadap kemmapuan pemahaman konsep pecahan .

perhitungan uji t dapat dilihat pda lampiran hal 202-204.

b. Uji –t Satu Pihak

Hipotesis statistik

: = Rata-rata kemampuan pemahaman konsep

pecahan ssiwa dengan menggunakan model

pembelajaran matematika realistik lebih baik

dari rata-rata kemmapuan pemahaman pecahan

dengan menggunakan pembelajaran

konvensional.

: = Rata-rata kemampuan pemahaman konsep

pecahan siswa dengan menggunakan

pembelajaran matematika realistik kurang dari


78

atau sama dengan rata-rata kemampuan

pemahaman konsep pecahan yang

menggunakan pembelajaran konvensiona.

Dari hasil perhitungan uji-t dua pihak di peroleh

4,308 dengan taraf nyata ( )= 0,05 dan dk = (22+ 22-2) = 42,

=( ) = ( 1- 0,05) = 0,95 sehingga di dapatkan

1,683.

Berdasarakan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa

atau 4,308 1,683 maka Ho ditolak, sehingga hal

ini menunjukkan bahwa rata-rata kempamuan pemahaman konsep

pecahan siswa dengan menggunakan pembelajaran matematika

realistik berbantuan makanan khas lampung lebih tinggi dari

kemampuan pemahaman konsep pecahan siswa dengan

menggunakan pembelajaran konvensional. Perhitungan dapat

dilihat pada lampiran hal 205-207.


79

C. Pembahasan

Dari hasil analisis uji pra syarat yaitu uji normalitas data diperoleh

bahwa data kelas VA (Kelas Eksperimen) dan data kelas VC (Kelas

Kontrol) keduanya berdistribusi normal, selanjutnya melalui uji

homogenitas diperoleh bahwa kedua sampel berasal dari variasi yang

homogen. Karena uji analisis data terpenuhi, dilanjutkan uji hipotesis

menggunakan uji-t. Hasil perolehan dari analisis uji-t dua pihak pada taraf

5% menunjukkan bahwa = 4,308 dan = 2,019. Berdasarkan

kriteria uji menunjukkan yang berarti ditolak dan

diterima yang artinya terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar siswa

yang menggunakan model pembelajaran matematika realistik berbantuan

makanan khas lampung (kelas eksperimen) dengan siswa yang

menggunakan model pembelajaran konveksional (kelas kontrol). Kemudian

dari hasil analisis data uji-t satu pihak dengan taraf signifikan 5% didapat

bahwa = 4,308 dan = 1,683. Berdasarkan kriteria uji

menunjukkan yang berarti ditolak dan diterima yang

artinya rata-rata kemampuan pemahaman konsep pecahan siswa yang di

peroleh melalui model pembelajaran matematika realistik berbantuan

makanan khas lampung (kelas eksperimen) lebih tinggi daripada rata-rata

kemampuan pemahaman konsep pecahan siswa yang diperoleh dengan

model pembelajaran konvensional (kelas kontrol).

Perolehan dari data dapat terlihat rata-rata sebesar 73, yaitu rata-rata

hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran matematika

realistik berbantuan makanan khas lampung dan nilai rata-rata sebesar 55


80

yaitu rata-rata hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran

konveksional. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar siswa yang

menggunakan model pembelajaran matematika realistik berbantuan

makanan khas lampung lebih tinggi daripada rata-rata hasil belajar siswa

yang menggunakan model pembelajaran konveksional. Hal ini di dukung

oleh penelitian yang di lakukan oleh Ananda (2018) yang di peroleh

kesimpulan bahwa hasil belajar siswa kelas IV SDN 08 langgini

bangkinang kota setelah mengikuti pembelajaran penjumlahan pecahan

dengan penyebut yang tidak sama dengan menggunakan model

pembelajaran matematika realistik meningkat. Berdasarkan hasil belajar

siswa dari pra tindakan siklus I ke siklus II meningkat sebanyak 79%.

Pembelajaran dengan menggunakan model matematika reaslitik

dengan berbantuan mkanan khas lampung lebih baik dibandingkan dengan

pembelajaran yang menggunakan model konvensional. Terlihat dari siswa

saat memahami materi dengan berbantuan makanan khas lampung , dapat

membuat siswa lebih antusisas dan menambah minat belajar siswa pada saat

pembelajaran berlansung. Hal tersebut di dukung oleh penelitian yang

dilakukan putri dkk (2022), bahwa pembelajaran matematika materi pecahan

melalui model pembelajaran matematika realistik yang menggunakan kue

spiku sebagai konteks utama dapat menfasilitasi pemahaman dan

pengontruksian pengetahuan siswa sehingga pembelajaran menjadi lebih

menarik. Penelitian ini memberikan hasil bahwa siswa dapat memahami

konsep pecahan melalui model pembelajaran matematika realistik

etnomatematika kue spiku. Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang
81

dilakukan oleh nurafifah dkk (2021), bahwa tes hasil belajar materi pecahan

menggunakan konteks makanan tradisional di peroleh bahwa siswa sangat

antusias dan benar-benar menikmati proses yang terjadi. Siswa benar-benar

memahami konsep pecahan melalui aktivitas menggambar,

memotong,membagi dan bahkan menemukan rumus dasar pecahan. siswa

juga sudah dapat menyelesaikan soal cerita yang berhubungan dengan

pecahan.

Berdasarkan pembahasan dapat disimpulkan bahwa pembelajaran

dengan menggunakan model pembelajaran matematika realistik berbantuan

makanan khas lampung dapat dikatakan efektif dibandingkan dengan

menggunakan model pembelajaran konvensional untuk meningkatkan hasil

belajar matematika siswa, dan dapat disimpulkan bahwa terdapat

peningkatan hasil belajar siswa dengan model pembelajaran matematika

realistik berbantuan makanan khas lampung.


82

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat diambil kesimpulan bahwa

hasil belajar matematika setelah menggunakan model pembelajaran

matematika realistik berbantuan makanan khas lampung ada pengaruh yang

lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar yang menggunakan model

pembelajaran konvensional pada materi pecahan. Hal ini dilihat dari rata-rata

hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran matematika

realistik berbantuan makanan khas lampung pada kelas eksperimen lebih

tinggi dengan nilai 73 sedangkan, nilai rata-rata hasil belajar siswa dengan

model pembelajaran konvensional pada kelas kontrol lebih rendah dengan

nilai 55.

B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, peneliti ingin

memberikan saran-saran sebagai berikut:

1. Bagi Kepala Sekolah

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan

pertimbangan dalam menyususn kebijakan yang mendukung penerapan

pembelajaran inovatif, khususnya pembelajaran matematika realistik

berbasis budaya lokal, seperti makanan khas lampung untuk meningkatkan

kualitas pembelajaran di sekolah.


83

2. Bagi Pendidik

Pendidik diharapkan dapat memanfaatkan hasil penelitian ini sebagai

referensi dalam mengembangkan metode pembelajaran yang bervariasi

dan relevan dengan budaya lokal.

3. Bagi Peneliti

Peneliti diharapkan mempunyai bekal dalam mengembangkan dan

menerapkan inovasi pembelajaran berbasis budaya dalam pendidikan,

serta melakukan penelitian lanjutan yang lebih mendalam untuk

memberikan konstribusi yang lebih besar terhadap dunia pendidikan.

.
84

DAFTAR PUSTAKA

Ananda,R. (2018). Penerapan Pendekatan Realistik Mathematic Education (RME)


Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Sekolah Dasar.
Jurnal Cendekia. Jurnal Pendidikan Matematika. Vol 2, NO 1.

Arikunto,S. (2013). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:


Rineka Cipta.

Arikunto,S. (2018). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Arnidha, Y. (2017). Analisis Pemahaman Konsep Matematika Siswa Sekolah


Dasar Dalam Penyelesaian Bangun Datar. JPGMI, 3 (1), 53-61.

Arrahim, & Widayanti, N. (2018). Perbandingan Pemahaman Konsep Siswa


Kelas IV Dengan Menggunakan Model Problem Based Learning (PBL)
Dan Model Realistik Mathematic Education (RME) Pada Mata Pelajaran
Matematika Di SD IT Darul Hasani Kabupaten Bekasi. Pedagogie, 6(2),
134-143.

Batubara, I. H. (2017). Peningkatan Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis


Melalui Model Pembelajaran Berbasis Masalah Berbantuan Autograph
Dan Geogebra Di Sma Freemethodist Medan. MES (Journal Of
Mathematics Education And Science), 3(1), 47-54.

Fahrrurozi & Hamdi, S. (2017). Metode Pembelajaran Matematika. Lombok


Timur: Universitas Hamzanwadi Press.

Fahrudhin, A. G., Zuliana, E., & Bintoro, H. S. (2018). Peningkatan Pemahaman


Konsep Matematika Melalui Realistic Mathematic Education Berbantu
Alat Peraga Bongpas. ANARGYA: Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika,
1(1), 14-20.

Fathurrrahman, Muhammad, (2015). Model-model pembelajaran inovatif,


jogyakarta: Ar-Ruzz Media.
85

Gunanto & Dhesy Adhalia. (2016). ESPS Matematika Untuk SD/MI Kelas V.
Erlangga : PT Gelora Aksara Pratama.

Hajaroh, S, & Raehanah. (2021). Statistik Pendidikan Teori Dan Praktik.


Mataram. Sanabil.

Haji , S, & Abdullah,M. I. (2016). Peningkatan Kemampuan Komunikasi


Matematik Melalui Pembelajaran Matematika Realistik. Infinity Journal, 5
(1), 42-49.

Hamalik, O. (2019). Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Hastuti. I. D, Suratman, Dan Sutarto.(2019). Pembelajaran Matematika Sekolah


Dasar. Mataram : Lembaga Penelitian Pendidikan (LPP).

Kartika, Y. (2018). Analisis Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Peserta


Didik Kelas VII SMP Pada Materi Bentuk Aljabar. Jurnal Pendidikan
Tambusai, 2 (4).

Mukrimatin dkk. (2028). Pemahaman Konsep Matematika Siswa Kelas V SD


Negeri Rau Kedung Jepara Pada Materi Perkalian Pecahan. Jurnal Ilmiah
Pendidikan Matematika Ilmiah. Vol.1 No.1.

Nuraeni, dkk . (2018). Analisis Kemampuan Pemahaman Matematika Dan


Tingkat Kepercayaan Diri Pada Siswa Mts. Jurnal Pembelajaran
Matematika Inovatif. Volume 1, No. 5.

Nurafifah dkk. (2021). Learning Trajectory: Bagaimanakah Mengajarkan Pecahan


Menggunakan Konteks Makanan Tradisional. Jurnal Gema Wiralodra,
Vol 12 No 2.

Nuryadi dkk. (2017). Dasar-dasar statistik penelitian. Yogyakarta. Gramasurya.

Ovan. (2022). Strategi Belajar Mengajar Matematika. Jakarta : Kencana

Putri dkk. (2022). Implemetasi Pembelajaran RME Berbasis Etnomatematika


Materi Pecahan Menggunakan Konteks Kue Spiku. Jurnal Pendidikan
Dasar “ jurnal kajian pendidikan dan hasil penelitian” Vol 8, No 2.
86

Rahman,A, A. (2018). Strategi Belajar Mengajat Matematika. Banda Aceh :


Syiah Kuala University Press.

Ruqqoyah, S, Murni. S. & Linda. (2020). Kemampuan Pemahaman Konsep Dan


Resiliensi Matematika Dengan VBA Microsofr Exel. Puewakarta : CV. Tre
Alea Jacta Pedadogie.

Sani, R,A. (2022). Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta : Kencana.

Sari , T. V. N., dkk . ( 2023). Eksplorasi Kue Tradisonal Lampung Sebagai


Inovasi Bahan Ajar Etnomatematika Pada Materi Bangun Ruang. Jurnal
Seminar Nasional Tadris Matematika “Integrasi Ethno-Stem And
Technological Pedagogic Content Knowledge” Vol 3.

Sari. K. dkk.(2024). Pengaruh Pembelajaran Matematika Realistic Berbasis


Etnomatematik Aterhadap Penguasaan Konsep Matematika Peserta Didik
Kelas V SDN 6 Metro Barat.

Sihotang, H. (2021). Strategi Pembelajaran Matematika. Jakarta : UKI Press

Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, Dan R&D. Bandung:


Alfabeta.

Surapranata,S. (2009). Metodologi Penelitian. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Ulhaq, W. R (2023). Pengaruh Model Realistic Mathematic Edication Berbasis


Etnomatematika Terhadap Pemahaman Konsep Geometri Siswa.

Wandini, R. R. (2019). Pembelajaran Matematika Untuk Calon Guru MI/SD.


Medan : Widya Puspita

Wijaya, A. (2021). Pendidikan Matematika Realistik Suatu Alternative


Pendekatan Pembelajaran Matematika. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Yuda, E, K.(2020). Sifat-Sifat Operasi Hitung Perkalian Bilangan Bulat Dalam


Pembelajaran Matematika Di Sekolah Dasar. Jurnal Seminar Nasional.
87

Zuliana, E. (2017). Penerapan Inquiry Based Learning Berbantuan Peraga


Manipulative Dalam Meningkatkan Pemahaman Konsep Matematika Pada
Materi Geometri Mahasiswa PGSD Universitas Muria Kudus. Jurnal
Pendidikan, (8)1.
88

LAMPIRAN
89

Lampiran 1

MODUL AJAR

KELAS EKSPERIMEN

A. IDENTITAS MODUL
Penyusun : Tyas purnami
Instansi : UPT SDN 2 Pringsewu Timur
Tahun penyusunan : 2024
Jenjang sekolah : SD
Mata Pelajaran : Matematika
Fase/kelas : C/5
Bab : 3 Bilangan Pecahan
Topik : Penjumlahan Dan Pengurangan Bilangan Pecahan
Alokasi waktu : 4 X 35 menit
B. CAPAIAN PEMBELAJARAN
Peserta didik dapat memahami konsep pecahan dan dapat melakukan operasi
penjumlahan dan pengurangan bilangan pecahan dengan penyebut yang berbeda
C. TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Melalui media pembelajaran (lapis legit), peserta didik dapat memahami
konsep operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan pecahan
dengan penyebut yang berbeda.
2. Melalui media pembelajaran (lapis legit), peserta didik dapat
memecahkan persoalan operasi hitung penjumlahan dan pengurangan
bilangan pecahan dengan penyebut yang berbeda.
3. Melalui diskusi kelompok, peserta didik dapet menyelesaikan masalah
dalam kehidupan sehrai-hari yang berkaitan dengan pecahan.
D. PROFIL PELAJAR PANCASILA
1. Beriman, bertakawa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berakhlak mulia
dengan cara melarih peserta didik berdoa sebelum dan sesudah belajar.
2. Berkebhinekaan global, dengan cara menyanyikan lagu nasional dengan
sungguh-sungguh .
3. Mandiri, dengan cara tidak bergantung pada teman saat melakukan
90

pembelajaran
4. Bergotong royong dengan cara melatih peserta didik untuk saling
membantu bekerja sama dalam kelompok saat melakukan kegiatan
diskusi, maupun presentasi hasil kerja.
5. Bernalar kritis dengan memecahkan persoalan operasi hitung
penjumlahan dan pengurangan bilangan pecahan dalam kehidupan
sehari-hari
E. ASESSMENT
Asesmen diagnostik
1. Kognitif
2. Non kognitif
F. KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK
Perangkat ajar ini di gunakan oleh guru untuk mengajar kategori peserta didik
dengan jumlah peserta didik 27 orang yang terdiri dari 17 peserta didik
perempuan dan 10 peserta didik laki-laki, mayoritas agama yang di anut adalah
agama islam, ada keberagaman warna kulit peserta didik, ada peserta didik yang
memiliki tinggi badan yang tinggi, sedang, dan pendek, ada peserta didik yang
memiliki badan yang gemuk dan kurus, ada beberapa peserta didik yang
memiliki rambut ikal dan sebagian besar peserta didik memiliki rambut lurus,
dan Kemampuan berpikir peserta didik di level medium.
G. MATERI PEMBELAJARAN
Matematika
Face C / Kelas 5
Bab 3 bilangan pecahan
Topik penjumlahan dan pengurangan bilangan pecahan
H. PERTANYAAN PEMANTIK
1. Apa yang kalian ketahui tentang pecahan?
2. Apakah pembelajaran pecahan sering kita terapkan dalam kehidupan
sehari-hari?
3. Bagaimana cara memecahkan permasalahan sehari-hari yang
berhubungan dengan penjumlahan dan pengurangan pecahan?
91

I. MODEL PEMBELAJARAN
1. Model Pembelajaran : Realistik Matematika Education
2. Pendekatan : Student Center Learning
3. Gaya Belajar : Visual, Audio Visual Dan Kinestetik
4. Moda : Pembelajaran Tatap Muka
J. KEGIATAN PEMBELAJRAN
Pertemuan Pertama 2 X 35 Menit
KEGIATAN PENDAHULUAN
1. Peserta didik mengucapkan selamat pagi kepada guru
2. Peserta didik melakukan kegiatan berdoa sebelum belajar
3. Peserta didik memberi salam kepada guru
4. Peserta didik ditanyai bagaimana kabarnya oleh guru
5. Peserta didik dicek kehadirannya oleh guru
6. Peserta didik mengecek kebersihan dan kondisi kelas
7. Peserta didik melakukan kegiatan pembiasaan sebelum belajar yaitu
menyanyikan lagu nasional “ Garuda Pancasila”
8. Peserta didik melakukan ice breaking
9. Peserta didik melakukan apersepsi dengan mengaitkan materi yang akan
dipelahi dengan materi sebelumnya.
10. Peserta didik menjawab pertanyaan pemantik yang ditanyakan oleh guru
11. Peserta didik mendengarkan guru menyampaikan tujuan pembelajaran

KEGIATAN INTI
Memahami Masalah Kontekstual
1. Peserta didik membuka buku cetak halaman 63
2. Peserta didik mendengarkan penjelasan guru tentang pecahan
3. Peserta didik memahami masalah kontekstual yang disajikan dalam
bentuk soal cerita yang di berikan oleh guru
Menyelesaikan Masalah Kontekstual
1. Peserta didik menyelesaikan masalah kontekstual dengan dibimbing
oleh guru
2. Peserta didik menyelesaikan masalah tersebut dengan bantuan makanan
92

khas lampung (kue lapis legit)


Membandingkan dan mendiskusikan jawaban
1. Peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok
2. Peserta didik dalam kelompok menerima LKPD dan kue lapis legit
3. Peserta didik mendengarkan guru membacakan petunjuk mengerjakan
LKPD
4. Peserta didik mengerjakan LKPD sesuai waktu yang ditentukan
5. Peserta didik dibimbing oleh guru untuk mengerjakan LKPD
6. Peserta didik mempresentasikan hasil diskusi kelompok
7. Peserta didik mengerjakan soal latihan pecahan

Menarik Kesimpulan
1. Peserta didik menarik Kesimpulan dari materi yang telah dipelajari
dengan dibimbing oleh guru
2.
KEGIATAN PENUTUP
1. Peserta didik melakukan kegiatan refleksi
2. Peserta didik menutup kegiatan pembelajran dengan berdoa

Pertemuan kedua 2 x 35 menit


KEGIATAN PENDAHULUAN
1. Peserta didik mengucapkan selamat pagi kepada guru
2. Peserta didik melakukan kegiatan berdoa sebelum belajar
3. Peserta didik memberi salam kepada guru
4. Peserta didik ditanyai bagaimana kabarnya oleh guru
5. Peserta didik dicek kehadirannya oleh guru
6. Peserta didik mengecek kebersihan dan kondisi kelas
7. Peserta didik melakukan kegiatan pembiasaan sebelum belajar yaitu
menyanyikan lagu nasional “ Garuda Pancasila”
8. Peserta didik mendengarkan penjelasan guru dalam mengerjakan tes
dengan peraturan dan waktu yang telah di tentukan
9. Peserta didik menyimak dan mengikuti peraturan tes.
93

KEGIATAN INTI
1. Peserta didik menerima soal tes yang dibagikan guru
2. Peserta didik mengerjkan soal tes dengan waktu yang telah ditentukan
3. Peserta didik mengumpulkan jawaban dan soal tes kepada guru

KEGIATAN PENUTUP
1. Peserta didik melakukan doa sebelum pulang
2. Peserta didik mmeberikan salam kepada guru

3. KEGIATAN REFLEKSI
Refleksi Peserta Didik
1. Apa hal menarik yang kalian pelajari pada topik ini?
2. Apakah kalian merasa kesulitan dalam mempelajari materi ini ?

Refleksi pendidik
Agar proses belajar selanjutnya lebih baik lagi, mari lakukan refleksi diri
dengan menjawab pertanyaan berikut:
1. Apa yang sudah berjalan baik di dalam kelas?
2. Apa yang guru sukai dari kegiatan pembelajaran kali ini?
3. Apa yang tidak pendidik sukai?
4. Pelajaran apa yang guru dapatkan selama pembelajaran?
5. Apa yang ingin pendidik ubah untuk meningkatkan/ memperbaiki

4. SUMBER BELAJAR
 Buku guru matematika kelas 5 kementerian Pendidikan,
kebudayaan,riset, dan teknologi republik Indonesia 2022
 Buku guru matematika kelas 5 kementerian Pendidikan,
kebudayaan,riset, dan teknologi republik Indonesia 2022
5. PENGAYAAN DAN REMEDIAL
Pengayaan
Diberikan Peserta didik dengan nilai rata-rata dan nilai diatas rata-rata
mengikuti pembelajaran dengan pengayaan,
94

Remedial
Diberikan kepada peserta didik yang mendapatkan nilai dibawah rata-rata
6. PENILAIAN
PENILAIAN KOGNITIF

No Soal Kunci Jawaban Skor


1. Ibu membeli gula kg, Diketahui 2
 Ibu membeli gula
kemudian ia membeli lagi
kg
kg, berapa jumlah gula
ibu………..kg?  Lalu membeli lagi

kg.
Ditanya : berapa jumlah gula 2
yang ibu beli?
Jawab 2
+ = + = =

Jadi jumlah gulu yang ibu 2


miliki yaitu kg

2. Budi membeli pizza 1 buah, Diketahui 2


lalu diberikan kepada andi  Budi mmebeli pizza 1

bagian. Sisa pizza budi buah

adalah……bagian?  Lalu diberikan


kepada andi bagian.

Ditanya : berapa sisa pizza 2


budi?
jawab 2
1- = = =

Jadi sisa pizza budi yaitu 2

bagian.
95

3. Bu Karina membeli 2 kg Diketahui : 2


Tepung yang dibeli Bu
tepung, Bu Rini Membeli 3
Karina = 2 kg Tepung
Kg dan Bu Rahma 4 Kg.
yang dibeli Bu Rini = 3
Hitunglah jumlah semua
kg
tepung yang dibeli oleh Bu
Tepung yang dibeli Bu
Karina, Bu Rini dan Bu
Rahma! Rahma = 4 kg

Ditanya : berapa jumlah 2


tepung yang dibeli bu karina,
bu rini dan bu rahma ?

jawab 3
Jumlah semuanya :
=2 kg + 3 kg + 4 kg

= Kg + kg + kg

= Kg + Kg + Kg =

kg = 9 Kg

Jadi jumlah semua tepung 2


yang dibeli yaitu 9 Kg

4. Ibu sari memiliki 5 liter Diketahui : 2

minyak goreng di dapurnya. Minyak goreng awal= 5

Hari ini, dia menggunakan 2 liter


Minyak goreng yang
liter minyak untuk memasak.
Berapa liter minyak goreng digunakan= 2 liter

yang terssisa? Ditanya : berapa liter minyak 2


goring yang tersisa ?
96

jawab 3
Jumlah semuanya :
=5 -2

= -

= -

= =2

Jadi jumlah minyak yang 2


tersisa yaitu 2 liter

5. Ali memiliki kue, lalu ia Diketahui 2


 Ali memiliki kue
mendapat tambahan kue

dari temannya. Berapa total  Lalu ia mendapatkan

kue yang dimiliki Ali tambahan kue dari


sekarang? temannya
Ditanya : berapa total kue 2
yang dimiliki ali sekarang?

Jawab: 3
Pecahan dan memiliki

penyebut yang berbeda, kita


samakan penyebutnya
dengan mencari Kelipatan
Persekutuan Terkecil (KPK)
dari 4 dan 8, yaitu 8.
=

=
97

Jadi, total kue yang dimiliki 2


Ali adalah

Total 45

Skor : x 100

PENILAIAN SIKAP
Lembar pe Lembar pengamatan ketercapaian profil pelajar Pancasila:
No Aspek Yang Dinilai Skor
1 2 3 4
1 Beriman, bertak wa kepada Tuhan yang
Maha Esa dan berakhlak mulia dengan cara
melarih pesert didik berdo sebelum dan
sesudah belajar.
2 Berkebhinekaan global, dengan cara
menyanyikan lagu nasional dengan sungguh-
sungguh .

3 Mandiri, dengan cara tidak bergantung pada


teman saat melakukan pembelajaran
4 Bergotong royong dengan cara melatih
peserta didik untuk saling membantu bekerja
sama dalam kelompok saat melakukan
kegiatan diskusi, maupun presentasi hasil
kerja.
5 Bernalar kritis dengan cara melatih peserta
didik dengan pertanyaan-pertanyaan dalam
peristiwa kehidupan sehari-hari
98

Keterangan :
1. Perlu bimbingan
2. Cukup
3. Baik
4. Baik sekali

7. BAHAN AJAR
Penyusun : Melita Fitrinawati, Ika Suratiani,Afit Istiandaru. Buku
Matematika Kelas 5 SD
Instansi : UPT SDN 2 Pringsewu Timur
Tahun penyusunan : 2024
Jenjang sekolah : SD
Mata Pelajaran : Matematika
Fase/kelas : C/5
Bab : 3 Bilangan Pecahan
Topik : Penjumlahan Dan Pengurangan Bilangan Pecahan
Alokasi waktu : 2 X 35 menit

Tujuan Pembelajaran
a. Melalui media pembelajaran (lapis legit), peserta didik dapat memahami
konsep operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan pecahan
dengan penyebut yang berbeda.
b. Melalui media pembelajaran (lapis legit), peserta didik dapat
memecahkan persoalan operasi hitung penjumlahan dan pengurangan
bilangan pecahan dengan penyebut yang berbeda.
c. Melalui diskusi kelompok, peserta didik dapet menyelesaikan masalah
dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan pecahan.
99
100
101
102
103
104
105
106
107
108
109

Guru kelas VA Mahasiswa

Gadis Nabila,S.Pd Tyas purnami

Mengetahui

Kepala Sekolah

UPT SDN 2 Pringsewu Timur

Deni mulyadi,S.Pd

NIP. 19831208 201001 1 011


110

LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK

Penyusun : Tyas purnami

Instansi : UPT SDN 2 Pringsewu Timur

Tahun penyusunan : 2024

Jenjang sekolah : SD

Mata Pelajaran : Matematika

Fase/kelas : C/5

Bab : 3 Bilangan Pecahan

Topik : Penjumlahan Dan Pengurangan Bilangan Pecahan

Alokasi waktu : 2 X 35 menit

Tujuan Pembelajaran

a. Melalui media pembelajaran (lapis legit), peserta didik dapat memahami


konsep operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan pecahan
dengan penyebut yang berbeda.
b. Melalui media pembelajaran (lapis legit), peserta didik dapat memecahkan
persoalan operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan pecahan
dengan penyebut yang berbeda.
c. Melalui diskusi kelompok, peserta didik dapet menyelesaikan masalah
dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan pecahan.

Petunjuk Pengerjaan :

1. Setiap kelompok mendapatkan satu soal yang dibagikan


2. Baca soal yang telah dibagikan dengan teliti
3. Lakukan perhitungan ada lembar yang disediakan
4. Setelah menyelesaikan perhitungan, aplikasikan jawaban kalian dengan
kue lapis legit yang sudah dibagikan. Potong kue sesuai dengan hasil
perhitungan yang kalian dapatkan
111

5. presentasikan hasil perhitungan dan pengamatan kalian didepan kelas!

SOAL
1. Ibu membawakan kue untuk dibagikan kepada kalian. Setiap anak
mendapatkan bagian dari kue pertama. Kemudian, Ibu memberikan

tambahan bagian dari kue yang lain. Berapa total bagian kue yang kalian

dapatkan?

2. Tina dan Rina membawa kue ulang tahun untuk dibagikan kepada teman-
teman. Tina memberikan kue kepada kelompok kalian, sementara Rina

memberikan tambahan bagian kue. Berapa total kue yang kalian dapatkan

dari Tina dan Rina?

3. Di sebuah kebun, terdapat dua jenis buah. Buah apel yang dipetik oleh Rina
adalah dari total buah yang ada. Rina kemudian memberikan dari buah

apel yang dipetik kepada temannya. Berapa bagian dari total buah apel yang
dimiliki Rina setelah memberikan kepada temannya?

4. Sebuah pizza dibagi menjadi 4 bagian yang sama. Andi memakan bagian

pizza tersebut. Kemudian, temannya, Budi, juga memakan bagian

pizza.Berapa sisa pizza yang masih ada setelah Andi dan Budi memakannya?
112

LEMBAR JAWABAN

Kelompok:

Kelas :

Anggota kelompok:

1………………

2………………

3………………

4………………

………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………..
113

Lampiran 2

MODUL AJAR

KELAS KONTROL

A. IDENTITAS MODUL
Penyusun : Tyas purnami
Instansi : UPT SDN 2 Pringsewu Timur
Tahun penyusunan : 2024
Jenjang sekolah : SD
Mata Pelajaran : Matematika
Fase/kelas : C/5
Bab : 3 Bilangan Pecahan
Topik : Penjumlahan Dan Pengurangan Bilangan Pecahan
Alokasi waktu : 4 X 35 menit
B. CAPAIAN PEMBELAJARAN
Peserta didik dapat memahami konsep pecahan dan dapat melakukan operasi
penjumlahan dan pengurangan bilangan pecahan dengan penyebut yang
berbeda
C. TUJUAN PEMBELAJARAN
1. peserta didik dapat memahami konsep operasi hitung penjumlahan dan
pengurangan bilangan pecahan dengan penyebut yang berbeda.
2. peserta didik dapat memecahkan persoalan operasi hitung penjumlahan
dan pengurangan bilangan pecahan dengan penyebut yang berbeda.
3. peserta didik dapet menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehrai-
hari yang berkaitan dengan pecahan.
D. PROFIL PELAJAR PANCASILA
1. Beriman, bertakawa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berakhlak
mulia dengan cara melarih peserta didik berdoa sebelum dan sesudah
belajar.
2. Berkebhinekaan global, dengan cara menyanyikan lagu nasional
dengan sungguh-sungguh .
3. Mandiri, dengan cara tidak bergantung pada teman saat melakukan
114

pembelajaran
4. Bergotong royong dengan cara melatih peserta didik untuk saling
membantu bekerja sama dalam kelompok saat melakukan kegiatan
diskusi, maupun presentasi hasil kerja.
5. Bernalar kritis dengan memecahkan persoalan operasi hitung
penjumlahan dan pengurangan bilangan pecahan dalam kehidupan
sehari-hari

E. ASESSMENT
Asesmen diagnostik
Kognitif
Non kognitif
F. KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK
Perangkat ajar ini di gunakan oleh guru untuk mengajar kategori peserta didik
dengan jumlah peserta didik 26 orang yang terdiri dari 15 peserta didik
perempuan dan 11 peserta didik laki-laki, mayoritas agama yang di anut adalah
agama islam, ada keberagaman warna kulit peserta didik, ada peserta didik
yang memiliki tinggi badan yang tinggi, sedang, dan pendek, ada peserta didik
yang memiliki badan yang gemuk dan kurus, ada beberapa peserta didik yang
memiliki rambut ikal dan sebagian besar peserta didik memiliki rambut lurus,
dan Kemampuan berpikir peserta didik di level medium.
G. MATERI PEMBELAJARAN
Matematika
Face C
Kelas 5
Bab 3 bilangan pecahan
Topik penjumlahan dan pengurangan bilangan pecahan
H. PERTANYAAN PEMANTIK
1. Apa yang kalian ketahui tentang pecahan?
2. Apakah pembelajaran pecahan sering kita terapkan dalam kehidupan
sehari-hari?
3. Bagaimana cara memecahkan permasalahan sehari-hari yang
115

berhubungan dengan penjumlahan dan pengurangan pecahan?


I. MODEL PEMBELAJARAN
1. Model Pembelajaran : Konvensional
2. Metode : Ceramah, Tanya Jawab, Diskusi
3. Moda : Pembelajaran Tatap Muka

J. KEGIATAN PEMBELAJRAN
Pertemuan Pertama 2 X 35 Menit
KEGIATAN PENDAHULUAN
1. Peserta didik mengucapkan selamat pagi kepada guru
2. Peserta didik melakukan kegiatan berdoa sebelum belajar
3. Peserta didik memberi salam kepada guru
4. Peserta didik ditanyai bagaimana kabarnya oleh guru
5. Peserta didik dicek kehadirannya oleh guru
6. Peserta didik mengecek kebersihan dan kondisi kelas
7. Peserta didik melakukan kegiatan pembiasaan sebelum belajar yaitu
menyanyikan lagu nasional “ Garuda Pancasila”
8. Peserta didik melakukan ice breaking
9. Peserta didik melakukan apersepsi dengan mengaitkan materi yang
akan dipelahi dengan materi sebelumnya.
10. Peserta didik menjawab pertanyaan pemantik yang ditanyakan oleh
guru
11. Peserta didik mendengarkan guru menyampaikan tujuan pembelajaran

KEGIATAN INTI
1. Peserta didik membuka buku cetak halaman 63 (buku siswa)
2. Peserta didik mendengarkan guru dalam menjelaskan materi
3. Peserta didik bersama-sama menyanyikan lagu pecahan
4. Pesera didik dibagi menjadi beberapa kelompok untuk melakukan
diskusi
5. Peserta diidk setiap kelompok memahami konsep penjumlahan dan
pengurangan pecahan dengan penyebut yang berbeda
116

6. Peserta didik memperhatikan guru menjelaskan contoh soal


penjumlahan dan pengurangan pecahan sederhana dengan penyebut
yang berbeda
7. Peserta didik mengerjakan soal penjumlahan dan pengurangan pecahan
dengan penyebut yang berbeda yang dikerjkaan secara berkelompok
8. Peserta didik yang kesulitan dibimbing oleh guru untuk menyelesaikan
soal
9. Peserta didik mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya didepan
kelas tentang penjumlahan dan pengurangan pecahan dengan penyebut
yang berbeda
10. Peserta didik diberikan penguatan oleh guru setelah mempersentasikan
hasil diskusi kelompoknya
11. Peserta didik mengerjakan soal latihan

KEGIATAN PENUTUP
1. Peserta didik menyimpulkan materi yang telah dipelajari dengan
bimbingan guru
2. Peserta didik melakukan kegiatan refleksi setelah melakukan kegiatan
pembelajaran
3. Peserta didik menutup kegiatan pembelajran dengan berdoa

Pertemuan Kedua 2 X 35 Menit


KEGIATAN PENDAHULUAN
1. Peserta didik mengucapkan selamat pagi kepada guru
2. Peserta didik melakukan kegiatan berdoa sebelum belajar
3. Peserta didik memberi salam kepada guru
4. Peserta didik ditanyai bagaimana kabarnya oleh guru
5. Peserta didik dicek kehadirannya oleh guru
6. Peserta didik mengecek kebersihan dan kondisi kelas
7. Peserta didik melakukan kegiatan pembiasaan sebelum belajar yaitu
menyanyikan lagu nasional “ Garuda Pancasila”
8. Peserta didik mendengarkan penjelasan guru dalam mengerjakan tes
117

dengan peraturan dan waktu yang telah di tentukan


9. Peserta didik menyimak dan mengikuti peraturan tes.
KEGIATAN INTI
1. Peserta didik menerima soal tes yang dibagikan guru
2. Peserta didik mengerjkan soal tes dengan waktu yang telah ditentukan
3. Peserta didik mengumpulkan jawaban dan soal tes kepada guru

KEGIATAN PENUTUP
1. Peserta didik melakukan doa sebelum pulang
2. Peserta didik mmeberikan salam kepada guru

K. KEGIATAN REFLEKSI
Refleksi Peserta Didik
1. Apa hal menarik yang kalian pelajari pada topik ini?
2. Apakah kalian merasa kesulitan dalam mempelajari materi ini ?

Refleksi pendidik
Agar proses belajar selanjutnya lebih baik lagi, mari lakukan refleksi diri
dengan menjawab pertanyaan berikut:
1. Apa yang sudah berjalan baik di dalam kelas?
2. Apa yang guru sukai dari kegiatan pembelajaran kali ini?
3. Apa yang tidak pendidik sukai?
4. Pelajaran apa yang guru dapatkan selama pembelajaran?
5. Apa yang ingin pendidik ubah untuk meningkatkan/ memperbaiki
L. SUMBER BELAJAR
 Buku guru matematika kelas 5 kementerian Pendidikan,
kebudayaan,riset, dan teknologi republik Indonesia 2022
 Buku guru matematika kelas 5 kementerian Pendidikan,
 kebudayaan,riset, dan teknologi republik Indonesia 2022
118

M. PENGAYAAN DAN REMEDIAL


Pengayaan
Diberikan Peserta didik dengan nilai rata-rata dan nilai diatas rata-rata
mengikuti pembelajaran dengan pengayaan,
Remedial
Diberikan kepada peserta didik yang mendapatkan nilai dibawah rata-rata

N. PENILAIAN
PENILAIAN KOGNITIF

No Soal Kunci Jawaban Skor


1. Ibu membeli gula kg, Diketahui 2
 Ibu membeli gula
kemudian ia membeli lagi kg,
kg
berapa jumlah gula
ibu………..kg?  Lalu membeli lagi

kg.
Ditanya : berapa jumlah gula 2
yang ibu beli?
Jawab 2
+ = + = =

Jadi jumlah gulu yang ibu 2


miliki yaitu kg

2. Budi membeli pizza 1 buah, Diketahui 2


lalu diberikan kepada andi  Budi mmebeli pizza 1

bagian. Sisa pizza budi buah

adalah……bagian?  Lalu diberikan


kepada andi bagian.

Ditanya : berapa sisa pizza 2


budi?
119

jawab 2
1- = = =

Jadi sisa pizza budi yaitu 2

bagian.

3. Bu Karina membeli 2 kg Diketahui : 2


Tepung yang dibeli Bu
tepung, Bu Rini Membeli 3
Karina = 2 kg Tepung
Kg dan Bu Rahma 4 Kg.
yang dibeli Bu Rini = 3
Hitunglah jumlah semua tepung
kg
yang dibeli oleh Bu Karina, Bu
Tepung yang dibeli Bu
Rini dan Bu Rahma!
Rahma = 4 kg

Ditanya : berapa jumlah 2


tepung yang dibeli bu karina,
bu rini dan bu rahma ?

jawab 3
Jumlah semuanya :
=2 kg + 3 kg + 4 kg

= Kg + kg + kg

= Kg + Kg + Kg =

kg = 9 Kg

Jadi jumlah semua tepung 2


yang dibeli yaitu 9 Kg
120

4. Ibu sari memiliki 5 liter Diketahui : 2

minyak goreng di dapurnya. Minyak goreng awal= 5

Hari ini, dia menggunakan 2 liter


Minyak goreng yang
liter minyak untuk memasak.
Berapa liter minyak goreng digunakan= 2 liter

yang terssisa? Ditanya : berapa liter minyak 2


goring yang tersisa ?

jawab 3
Jumlah semuanya :
=5 -2

= -

= -

= =2

Jadi jumlah minyak yang 2


tersisa yaitu 2 liter

5. Ali memiliki kue, lalu ia Diketahui 2


 Ali memiliki kue
mendapat tambahan kue dari

temannya. Berapa total kue  Lalu ia mendapatkan

yang dimiliki Ali sekarang? tambahan kue dari

temannya
Ditanya : berapa total kue 2
yang dimiliki ali sekarang?
121

Jawab: 3
Pecahan dan memiliki

penyebut yang berbeda, kita


samakan penyebutnya
dengan mencari Kelipatan
Persekutuan Terkecil (KPK)
dari 4 dan 8, yaitu 8.
=

Jadi, total kue yang dimiliki 2


Ali adalah

Total 45

Skor : x 100

PENILAIAN SIKAP
Lembar peLembar pengamatan ketercapaian profil pelajar Pancasila:
No Aspek Yang Dinilai Skor
1 2 3 4
1 Beriman, bertakawa kepada Tuhan yang
Maha Esa dan berakhlak mulia dengan cara
melarih p serta didik berdoa sebelum dan
sesudah belajar.
2 Berkebhinekaan global, dengan cara
menyanyikan lagu nasional dengan sungguh-
sungguh .

3 Mandiri, dengan cara tidak bergantung pada


122

teman saat melakukan pembelajaran


4 Bernalar kritis dengan cara melatih peserta
didik dengan pertanyaan-pertanyaan dalam
peristiwa kehidupan sehari-hari

Keterangan :
1. Perlu bimbingan
2. Cukup
3. Baik
4. Baik sekali

O. BAHAN AJAR
Penyusun : Melita Fitrinawati, Ika Suratiani,Afit Istiandaru. Buku
Matematika Kelas 5 SD
Instansi : UPT SDN 2 Pringsewu Timur
Tahun penyusunan : 2024
Jenjang sekolah : SD
Mata Pelajaran : Matematika
Fase/kelas : C/5
Bab : 3 Bilangan Pecahan
Topik : Penjumlahan Dan Pengurangan Bilangan Pecahan
Alokasi waktu : 2 X 35 menit

Tujuan Pembelajaran
d. Melalui media pembelajaran (lapis legit), peserta didik dapat
memahami konsep operasi hitung penjumlahan dan pengurangan
bilangan pecahan dengan penyebut yang berbeda.
e. Melalui media pembelajaran (lapis legit), peserta didik dapat
memecahkan persoalan operasi hitung penjumlahan dan pengurangan
bilangan pecahan dengan penyebut yang berbeda.
f. Melalui diskusi kelompok, peserta didik dapet menyelesaikan masalah
dalam kehidupan sehrai-hari yang berkaitan dengan pecahan
123
124
125
126
127
128
129
130
131
132
133

Guru kelas VC Mahasiswa

Dwi chaya oktaviani,S.Pd Tyas purnami

NIP. 19941003 2022212 008

Mengetahui

Kepala Sekolah

UPT SDN 2 Pringsewu Timur

Deni Mulyadi,S.Pd

NIP. 19831208 101001 1 011


134

Lembar kerja peserta didik

Nama :

Kelas :

No absen :

Petunjuk umum

1. Bacalah bissmilah sebelum mengerjakan soal


2. Bacalah dan Kerjakan soal dibawah ini dengan teliti dan benar
3. Waktu mengerjakan soal yaitu 20 menit

Soal

1. Johan memiliki kg daging ayam , kemudian ia membeli lagi di pasar

sebnayak kg, berapa jumlah daging ayan yang dimiliki johan sekarang

………..kg?

2. Sakura memiliki persedian tepung sebanyak 5 kg di toko. Kemudian

ada seorang pelanggan yang membeli tepung sebanyan 2 kg. Berapa

tepung yang tersisa di took setelah di beli oleh pelanggan………kg.


135

LEMBAR JAWABAN

………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………..
131

Lampiran 3

Alur Dan Tujuan Pembelajaran Dalam Rangka Pengembangan Perangkat Ajar

(Matematika Fase C Kelas V SD)

Capaian Pembelajaran Fase C


Pada akhir fase C, peserta didik dapat menunjukkan pemahaman dan intuisi bilangan (number sense) pada bilangan cacah dengan 1.000.000. Mereka
dapat melakukan operasi aritmetika pada bilangan cacah sampai 100.000. Mereka dapat membandingkan dan mengurutkan berbagai pecahan,
melakukan operasi penjumlahan dan pengurangan pecahan, serta melakukan operasi perkalian dan pembagian pecahan dengan bilangan asli. Mereka
dapat membandingkan dan mengurutkan bilangan desimal dan mengubah pecahan menjadi desimal. Mereka dapat mengisi nilai yang belum diketahui
dalam sebuah kalimat matematika yang berkaitan dengan operasi aritmetika pada bilangan cacah sampai 1000. Mereka dapat menyelesaikan masalah
yang berkaitan dengan KPK dan FPB dan masalah yang berkaitan dengan uang. Mereka dapat mengidentifikasi, meniru, dan mengembangkan pola
bilangan membesar yang melibatkan perkalian dan pembagian. Mereka dapat bernalar secara proporsional dan menggunakan operasi perkalian dan
pembagian dalam menyelesaikan masalah seharihari dengan rasio dan atau yang terkait dengan proporsi. Peserta didik dapat menentukan keliling dan
luas beberapa bentuk bangun datar dan gabungannya. Mereka dapat mengonstruksi dan mengurai beberapa bangun ruang dan gabungannya, dan
mengenali visualisasi spasial. Mereka dapat membandingkan karakteristik antar bangun datar dan antar bangun ruang. Mereka dapat menentukan
lokasi pada peta yang menggunakan sistem berpetak.
Peserta didik dapat mengurutkan, membandingkan, menyajikan, dan menganalisis data banyak benda dan data hasil pengukuran dalam bentuk
beberapa visualisasi dan dalam tabel frekuensi untuk mendapatkan informasi. Mereka dapat menentukan kejadian dengan kemungkinan yang lebih
besar dalam suatu percobaan acak.
132

Fase C Berdasarkan Elemen

Elemen Capaian Pembelajaran


Bilangan Pada akhir fase C, peserta didik dapat menunjukkan pemahaman dan intuisi bilangan (number sense) pada bilangan cacah
sampai 1.000.000. Mereka dapat membaca, menulis, menentukan nilai tempat, membandingkan, mengurutkan, melakukan
komposisi dan dekomposisi bilangan tersebut. Mereka juga dapat menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan uang.
Mereka dapat melakukan operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian bilangan cacah sampai 100.000.
Mereka juga dapat menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan KPK dan FPB. Peserta didik dapat membandingkan dan
mengurutkan berbagai pecahan termasuk pecahan campuran, melakukan operasi penjumlahan dan pengurangan pecahan, serta
melakukan operasi perkalian dan pembagian pecahan dengan bilangan asli. Mereka dapat mengubah pecahan menjadi desimal,
serta membandingkan dan mengurutkan bilangan desimal (satu angka di belakang koma)
Aljabar Pada akhir fase C, peserta didik dapat mengisi nilai yang belum diketahui dalam sebuah kalimat matematika yang berkaitan
dengan penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian pada bilangan cacah sampai 1000 (contoh : 10 x … = 900, dan
900 : … = 10) Peserta didik dapat mengidentifikasi, meniru, dan mengembangkan pola bilangan membesar dan mengecil
yang melibatkan perkalian dan pembagian. Mereka dapat bernalar secara proporsional untuk menyelesaikan masalah sehari-
hari dengan rasio satuan. Mereka dapat menggunakan operasi perkalian dan pembagian dalam menyelesaikan masalah
seharihari yang terkait dengan proporsi.
Pengukuran Pada akhir fase C, peserta didik dapat menentukan keliling dan luas berbagai bentuk bangun datar (segitiga, segiempat, dan
segibanyak) serta gabungannya. Mereka dapat menghitung durasi waktu dan mengukur besar sudut.
Geometri Pada akhir fase C, peserta didik dapat mengonstruksi dan mengurai bangun ruang (kubus, balok, dan gabungannya) dan
mengenali visualisasi spasial (bagian depan, atas, dan samping). Mereka dapat membandingkan karakteristik antar bangun
datar dan antar bangun ruang. Mereka dapat menentukan lokasi pada peta yang menggunakan sistem berpetak.
Analisa Data Pada akhir fase C, peserta didik dapat mengurutkan, membandingkan, menyajikan, dan menganalisis data banyak benda dan
danPeluang data hasil pengukuran dalam bentuk gambar, piktogram, diagram batang, dan tabel frekuensi untuk mendapatkan informasi.
Mereka dapat menentukan kejadian dengan kemungkinan yang lebih besar dalam suatu percobaan acak.
133

Topik/Materi
Alokasi
Tujuan Pembelajaran Profile Pelajar Pancasila
Waktu
Sub Topik/Sub Materi

 Untuk memperdalam pemahaman pecahan, memahami 2 Jam Penjumlahan dan  Penjumlahan  Beriman Bertakwa kepada
arti penjumlahan dan pengurangan pecahan yang Pengurangan Pecahan Tuhan YME dan Berakhlak
berbeda penyebut, serta mampu mengaplikasikannya. Pecahan  Pengurangan Mulia
 Dapat memikirkan tentang cara menghitung Pecahan  Berkebhinekaan Global
penjumlahan dan pengurangan pecahan yang berbeda  Mandiri
penyebut dan menghitungnya.  Bernalar Kritis
134

Lampiran 4

KISI-KISI SOAL INSTRUMENT PENELITIAN

MATERI PECAHAN

Capaian Pembelajaran Tujuan pembelajaran Indikator kemampuan Indikator soal Level No Butir Bentuk
pemahaman konsep kognitif Soal Soal

Pada akhir fase C, peserta 1. Peserta didik dapat 1. Menyatakan ulang 1. Peserta didik dapat C2 1&6 Uraian
didik dapat membandingkan sebuah konsep. membandingkan
membandingkan dan dan mengurutkan pecahan pada soal
mengurutkan berbagai pecahan 2. Mengklasifikasikan yang disajikan
pecahan, melakukan objek menurut tertentu
operasi penjumlahan dan 2. Peserta didik dapat sesuai dengan sifatnya. 1. Peserta didik dapat C3 2 Uraian
pengurangan pecahan, melakukan operasi menghitung hasil
serta melakukan operasi penjumlahan dan 3. Mengidentifikasi contoh operasi penjumlahan
perkalian dan pembagian pengurangan dan bukan contoh dari pecahan biasa dengan
pecahan dengan bilangan pecahan. suatu konsep. penyebut yang
asli. Mereka dapat berbeda pada soa
membandingkan dan 4. Menggunakan dan cerital yang disajikan.
mengurutkan bilangan memanfaatkan serta
desimal dan mengubah memilih prosedur atau C3 3 Uraian
pecahan menjadi desimal operasi tertentu. 2. Peserta didik dapat
menentukan hasil
5. Mengaplikasikan konsep operasi pengurangan
atau algoritma dalam pecahan biasa dengan
pemecahan masalah penyebut yang
berbeda pada soal
135

cerita yang di sajikan.

3. Peserta didik dapat C3 4&5 Uraian


menghitung hasil
operasi penjumlahan
pecahan campuran
dengan penyebut yang
berbeda pada soa
cerital yang disajikan.

4. Peserta didik dapat C3 7&8 Uraian


menentukan hasil
operasi pengurangan
pecahan campuran
dengan penyebut yang
berbeda pada soal
cerita yang di sajikan.

5. Peserta didik dapat C3 9 & 10 Uraian


menyelesaikan
masalah penalaran
yang berkaitan dengan
penjumlahan dan
pengurangan pecahan
yang berbentuk
pecahan campuran dan
pecahan biasa pada
soal yang di sajikan.
136

Lampiran 5

LEMBAR SOAL UJI COBA INSTRUMEN

Nama sekolah : UPT SDN 2 Pringsewu Timur

Mata pelajaran : Matematika

Kelas / fase :5/C

Alokasi waktu : 2 X 35 Menit

Petunjuk Pengerjaan

1. Bacalah basmallah terlebih dahulu sebelum memulai mengerjakan.


2. Tuliskan nama di bagian atas lembar jawaban.
3. Kerjakan terlebih dahulu soal-soal yang menurut peserta didik mudah.
4. Periksa kembali jawaban sebelum mengumpulkannya.

SOAL

1. Di pesta ualang tahun tina, terdapat dua kue yaitu kue lapis legit dan kue
engkak yang dipotong untuk dibagikan kepada teman-temannya. Kue lapis
legit di potong menjadi 8 bagian yang sama, dan kue engkak dipotong
menjadi 12 bagian yang sama. Sita memakan 3 bagian dari kue lapis legit
sedangkan andi memakan 5 bagian dari kue engkak. Siapa yang memakan
kue lebih banyak?

2. Bu Ani membuat dua jenis kue untuk acara keluarga. Kue pertama adalah
kue lapis legit yang terbuat dari tepung ketan, dan Bu Ani memotongnya
menjadi 6 bagian yang sama besar. Dia membawa dari kue lapis tersebut ke

rumah nenek. Kue kedua adalah kue talam yang ia potong menjadi 4 bagian
137

yang sama besar, lalu membawa dari kue talam ke rumah paman. Berapa

bagian total kue yang Bu Ani bawa untuk dibagikan di rumah nenek dan
rumah paman?

3. Siti membuat kue lapis dari tepung ketan. Kue tersebut dipotong menjadi
beberapa bagian. Di pagi hari, Siti memotong dan membagikan kue kepada
tetangganya sebesar bagian. Siangnya, ia kembali memberikan kepada

adiknya sebesar bagian dari kue yang tersisa. Berapa bagian kue yang sudah

dibagikan oleh Siti, dan berapa bagian kue yang masih tersisa?

4. Di sebuah pasar tradisional , ada dua jenis hidangan spesial. Pada hari Sabtu,
pasar tradisional menyajikan 3 kue enggak dan 2 kue pisang. Pada hari

Minggu, pasar tradisional menyajikan 2 kue enggak dan 1 kue pisang. Jika

jumlah kue engkak yang disajikan pada hari Sabtu dikurangi dengan jumlah
kue enggak yang disajikan pada hari Minggu, berapa banyak kue engkak yang
tersisa?

5. Di sebuah pasar tradisional lampung, Ibu Rina membeli makanan khas


lampung untuk dijadikan oleh-oleh. Ia membeli 1 kilogram kue lapis dan 2

kilogram kue bolu pisang. Berapa kilogram total kue yang dibeli oleh Ibu
Rina?

6. Ibu Ani membuat dua macam kue untuk dibagikan kepada tetangganya. Kue
pertama adalah kue lapis dan kue kedua adalah bolu kukus. Kue lapis dipotong
menjadi 12 bagian, dan Ibu Ani membagikan 8 bagian kue lapis tersebut
kepada tetangganya. Sedangkan bolu kukus dipotong menjadi 15 bagian, dan
Ibu Ani membagikan 10 bagian bolu kukus kepada tetangganya. Manakah kue
yang lebih banyak dibagikan oleh bu ani kepada tetangganya, apakah kue lapis
atau bolu kukus?
138

7. Di sebuah tokoh kue, Pak Dedi memesan 3 kue lapis dan 2 kue talam untuk

dimakan bersama keluarganya. Setelah makan, ternyata masih tersisa 1 kue

lapis dan kue talam. Berapa kue lapis dan kue talam yang habis dimakan Pak

Dedi dan keluarganya?

8. Rina dan Ibu membuat kue bolu untuk acara keluarga. Rina membuat 1

loyang bolu pisang , sedangkan Ibu membuat 2 loyang bolu keju. Berapa

loyang total kue bolu yang telah dibuat oleh Rina dan Ibu?
9.

10. Pada acara pesta ualng tahun budi. Budi membawa 2 kg kue lapis dan kg

kue keju. Berapa total berat ke dua kue tersebut yang dibawa budi ke pesta
ulang tahunnya?

11. Pada saat hari raya idul fitri, Ibu Siti membuat 3 kg kue lapis dan kg kue

pisang. Setelah hari raya idul fitri, kue lapis yang tersisa adalah 1 kg, dan Ibu

Siti ingin mengetahui berapa banyak kue lapis yang telah dimakan oleh tamu.
Berapa banyak kue lapis yang telah dimakan oleh tamu?
139

Lampiran 6

Kunci Jawaban

NO Kunci Jawaban Indikator skor


kemampuan
pemahaman
1. Di ketahui Menyatakan ulang 4
Di pesta ulang tahun tina terdapat 2 jenis sebuah konsep
kue yaitu:
 1 kue lapis legit yang di potong
menjadi 8 bagian yang sama.
 kue engkak yang dipotong menjadi
12 bagian yang sama
 Sita memakan 3 bagian kue lapis
legit
 Andi memakan 5 bagian kue engkak
Di Tanya : siapah yang memakan kue lebih Mengkasifikasikan 4
banyak? objek menurut
tertentu sesuai
dengan sifatnya
Jawab : Mengidentifikasi 4
1. Menentukan nilai pecahan masing- contoh dan bukan
masing. bagian kue yang dimakan: contoh dari suatu
 Bagian kue yang dimakan sita konsep
dari kue lapis legit adalah

bagian
 Bagian kue yang dimakan andi

dari kue engkak adalah bagian

2. Menyamkan penyebut dari kedua Menggunakan dan 4


pecahan memanfaatkan serta
140

 Penyebut yang sama dari 8 dan memilih prosedur


12 adalah 24 atau operasi tertentu

 Mengubahan pecahan menjadi Mengaplikasikan 4


konsep atau
bentuk pecahan baru dengan
algoritma dalam
penyebut 24
pemecahan masalah
= =

 Mengubahan pecahan menjadi

bentuk pecahan baru dengan


penyebut 24

= =

3. Membandingkan kedua pecahan


 kue yang di makan siti

 kue yang dimakan andi

 lebih besar dari

Jadi andi memakan kue banyak


dibandingkan siti karena lebih besar dari

Total skor 20
2. Diketahui Menyatakan ulang 4
 Bu ani membuat 2 jenis kue yaitu sebuah konsep
kue lapis dan kue talam
 Kue lapis di potong menjadi 6
bagian kemudian di bawa kerumah

nenek.
 Kue talam di potong menjdi 4 bagian
141

kemudian di bawa kerumah paman

Di Tanya : berapa bagian total kue yang bu Mengkasifikasikan 4


ani bawa untuk dibagikan ke rumah nenek objek menurut
dan rumah paman? tertentu sesuai
dengan sifatnya
Jawab : Mengidentifikasi 4
1. Menuliskan pecahan yang di bawa pada contoh dan bukan
setiap kue: contoh dari suatu
 Kue lapis : bagian konsep

 Kue talam bagian

2. Menyamakan penyebut dari kedua Menggunakan dan 4


pecahan memanfaatkan serta
 Penyebut yang sama dari 6 dan 4 memilih prosedur
adalah 12. atau operasi tertentu
 Mengubah Mengubahan pecahan Mengaplikasikan 4

menjadi bentuk pecahan baru konsep atau


algoritma dalam
dengan penyebut 12
pemecahan masalah
= =

 Mengubahan pecahan menjadi

bentuk pecahan baru dengan


penyebut 12
= =

3. Menjumlahkan pecahan yang sudah


memiliki penyebut yang sama

+ =

Jadi bu ani membawa bagian kue untuk


142

dibagikan di rumah nenek dan rumah


paman.
Total skor 20
3. Diketahui Menyatakan ulang 4
 Siti membuat satu kue lapis sebuah konsep

 Di pagi hari bagian kue di

bagikan kepada tetangganya.


 Siangnya bagian di bagikan

kepada adiknya
Ditanya : berapa kue yang sudah dibagikan Mengkasifikasikan 4
siti dan berapa bagian kue yang tersisa? objek menurut
tertentu sesuai
dengan sifatnya
Jawab : Mengidentifikasi 4
1. Menghitung kue yang tersisa setelah contoh dan bukan
pagi hari contoh dari suatu
 Kue awal 1 bagian konsep
 Bagian kue yang dibagikan pagi
hari adalah

 Bagian kue yang tersisa di pagi


hari adalah 1 - =

2. Menghitung kue yang dibagikan siang


hari
 Bagian kue yang tersisa siang
hari adalah

 Bagian kue yang diberikan siang


hari adalah = =

3. Menghitung total bagian kue yang Menggunakan dan 4


sudah di bagikan oleh siti memanfaatkan serta
 Bagian yang di berikan di pagi memilih prosedur
143

hari + bagian yang diberikan atau operasi tertentu


siang hari :
+

 Menyamakan penyebut dari


kedua pecahan
 Penyebut dari 4 dan 6 adalah 12

= = dan = Mengaplikasikan 4
konsep atau
 Jumlahkan pecahan tersebut
algoritma dalam
+ = pemecahan masalah
 Bagian kue yang sudah
dibagikan oleh siti adalah

 Bagian kue yang tersisa adalah


1- = .

Jadi bagian kue yang sudah di bagikan oleh


siti yaitu dan bagian kue yang tersisa

yaitu .

Total skor 20
4. Diketahui Menyatakan ulang 4
 Di sebuah psar tradisional terdapat sebuah konsep
dua jenis hidangan special
 Pada sabtu pasar tradisiobal
menyajikan 3 kue enggak dan 2

kue pisang
Pada hari minggu pasar tradisional
menyajikan 2 kue engkak dan 1 kue

pisang
Ditanya : berapa banyak kue enggak yang Mengkasifikasikan 4
tersisa, jika jumlah kue engak yang objek menurut
144

disajikan pada hari sabtu dikurangi dengan tertentu sesuai


jumlah kue engkak yang disajikan pada hari dengan sifatnya
minggu?
Jawab Mengidentifikasi 4
1. Menulis pecahan campuran dalam contoh dan bukan
bentuk pecahan biasa contoh dari suatu
 Kue engkak hari sabtu 3 = konsep

Kue engkak hari minggu 2 =

2. Untuk mengurangi kedua pecahan Menggunakan dan 4


kita harus menyakan penyebut kedua memanfaatkan serta
pecahan tersebut. memilih prosedur
3. Penyebut pecahan 2 dan 4 adalah 4 atau operasi tertentu
Mengubah pecahan menjadi pecahan

dengan penyebut 4

 = = Mengaplikasikan 4
konsep atau
algoritma dalam
4. Lakukan pengurangan pada pecahan
pemecahan masalah
yang sudah memiliki penyebut yang
sama
 - =

Jadi kue engkak yang tersisa


adalah bagian

Total skor 20
5. Diketahui Menyatakan ulang 4
 Ibu rina membeli makana khas sebuah konsep
lampung untuk dijadikan oleh-
oleh
145

 Ibu membeli 1 kue lapis dan 2

kue bolu pisang

Ditanya : berapa total kue yang dibeli oleh Mengkasifikasikan 4


ibu rina? objek menurut
tertentu sesuai
dengan sifatnya
Jawab Mengidentifikasi 4
1. Ubah pecahan campuran ke dalam contoh dan bukan
bentuk pecahan biasa contoh dari suatu
 1 = dan 2 = konsep

2. Menyamakan penyebut kedua pecahan Menggunakan dan 4


3. Penyebut dari pecahan 2 dan 3 adalah 6 memanfaatkan serta
memilih prosedur
atau operasi tertentu

 = = Mengaplikasikan 4
konsep atau
 = =
algoritma dalam
4. Jumlahkan pecahan diatas
pemecahan masalah
 + =

5. Ubah kembali ke bentuk pecahan


campuran
=3

Jadi tortal kue yang di beli oleh ibu rina

adalah 3 koligram

Total skor 20
6. Diketahui Menyatakan ulang 4
 Ibu ani mmebuat dua macam sebuah konsep
kue yaitu kue lapis dan bolu
146

kukus.
 Kue lapis di potong menjadi 12
bagian dan dibagikan sebanyak
8 bagian kepada tetangganya.
 Bolu kukus di potong menjadi
15 bagian dan dibagikan
sebanyak 10 bagian kepada
tetangganya.
Ditanya : manakan kue yang lebih banyak Mengkasifikasikan 4
dibagikan oleh bu ani kepada tetanganya? objek menurut
tertentu sesuai
dengan sifatnya
Jawab Mengidentifikasi 4
1. Jumlah kue lapis yang dibagikan contoh dan bukan
adalah contoh dari suatu
konsep
2. Jumlah bolu kukus yang dibagikan
adalah

3. Sederhanakan kedua pecahan tersebut Menggunakan dan 4


memanfaatkan serta
memilih prosedur
atau operasi tertentu

 Kue lapis = Mengaplikasikan 4


konsep atau
 Bolu kukus =
algoritma dalam
4. Bandingkan kedua pecahan tersebut
pemecahan masalah
 Kue lapis =

 Bolu kukus =

Jadi, karena = , maka jumlah kue lapis

dan kue bolu kukus yang dibagikan sama


banyak
147

Total skor 20
7. Diketahui Menyatakan ulang 4
 Pak dedi memesan 3 kue lapis dan sebuah konsep

2 kue talam untuk keluarganya

 Setelah memakannya, kue tersebut


ternyata masih tersisa 1 kue lapis

dan kue talam

Ditanya : berapa kue lapis dan kue talam Mengkasifikasikan 4


yang habis dimakan pak dedi dan objek menurut
kleuarganya? tertentu sesuai
dengan sifatnya
Jawab Mengidentifikasi 4
1. Menghitung sisa kue yang dimakan contoh dan bukan
 Kue lapis 3 = contoh dari suatu
konsep
 Sisa kue lapis yang dimakan

1 =

Maka sisa kue lapis yang dimakan:

 3 -1 = -

2. Menghitung sisa kue talam yang


dimakan
 Kue talam 2 =

 Sisa porsi mie goreng

Maka sisa kue talam yang dimakan:


 = =2

 Jadi kue talam yang habis


dimakan adalah 2

3. Untuk mengurangi pecahan kue lapis Menggunakan dan 4


148

kita perlu mencari penyebut yang memanfaatkan serta


sama. Penyebut dari 2 dan 4 adalah 4 memilih prosedur
atau operasi tertentu

 Kue lapis = Mengaplikasikan 4


konsep atau
 = =2
algoritma dalam
 Jadi kue lapis yang habis
pemecahan masalah
dimakan adalah 2 bagian

Jadi kue lapis yang habis dimakan adalah 2


dan kue talam yang habis dimakan adalah

Total skor 20
8. Diketahui Menyatakan ulang 4
 Rina dan ibu membuat kue bolu sebuah konsep

 Rina mem buat 1 loyang bolu

pisang
Ibu membuat 2 loyang bolu keju

Ditanya : berapa Loyang total kue bolu yang Mengkasifikasikan 4


telah di buat oleh rina dan ibu ? objek menurut
tertentu sesuai
dengan sifatnya
Jawab Mengidentifikasi 4
1. Menuliskan pecahan campuran yang contoh dan bukan
akan di jumlahkan contoh dari suatu
1 +2 konsep

2. Mengubah pecahan campuran menjadi Menggunakan dan 4


bentuk pecahan biasa memanfaatkan serta
 1 = dan 2 = memilih prosedur
atau operasi tertentu
3. Menyamakan penyebut dari kedua
149

pecahan
Penyebut dari pecahan 3 dan
4 adalah 12

 = = dan = = Mengaplikasikan 4
konsep atau
algoritma dalam
pemecahan masalah
4. Jumlahkan hasil pecahan diatas
 + =

5. Ubah kembali hasil pecahan kedalam


bentuk pecahan campuran =3

Jadi total kue bolu yang dibuat rina dan ibu


adalah 3 loyang

Total skor 20
9. Diketahui Menyatakan ulang 4
 Budi membawa 2 kg kue lapis dan sebuah konsep

kue keju
Ditanya : berapa total berat kedua kue yang Mengkasifikasikan 4
di bawa budi kepesta ulang tahun ? objek menurut
tertentu sesuai
dengan sifatnya
Jawab Mengidentifikasi 4
1. Ubahlah pecahan campuran dalam contoh dan bukan
bentuk pecahan biasa contoh dari suatu
 Kue lapis 2 = konsep

 Kue keju

2. Samakan penyebut pecahan diatas Menggunakan dan 4


3. Penyebut dari pecahan 2 dan 3 memanfaatkan serta
adalah 6 memilih prosedur
atau operasi tertentu
150

 = = Mengaplikasikan 4
konsep atau
 = =
algoritma dalam
 pemecahan masalah
4. Ubalah kembali hasil pecahan diatas
menjadi pecahan campuran

Jadi, total kedua kue yang dibawa budi


adalah

Total skor 20
10 Diketahui Menyatakan ulang 4
 Ibu siti membuat 3 kg kue lapis dan sebuah konsep

kg kue pisang pada saat hari raya

idul fitri
 Setelah hari raya idul fitri ,Sisa kue
lapis 1 kg

Ditanya : berapa banyak kue lapis yang Mengkasifikasikan 4


dimakan oleh tamu bu siti? objek menurut
tertentu sesuai
dengan sifatnya
Jawab Mengidentifikasi 4
1. Jumlah kue lapis yang di buat contoh dan bukan
 Kue lapis 3 kg contoh dari suatu
konsep
 Diubah kedalam bentuk
pecahan biasa 3 kg

2. Kue lapis yang tersisa


 Kue lapis yang tersisa 1 kg

 Diubah kedalam bentuk


151

pecahan biasa 1 kg

3. Menghitung kue lapis yang dimakan Menggunakan dan 4


 Kue lapis yang dimakan = memanfaatkan serta
kue lapis awal – kue lapis memilih prosedur
yang tersisa atau operasi tertentu

4. Menyamakan penyebut dari kedua


pecahan. penyebut dari pecahan 2
dan 4 adalah 4

 = Mengaplikasikan 4
konsep atau
5. Melakukan pengurangan dari kedua
algoritma dalam
pecahan yang memilikipenyebut
pemecahan masalah
yang sama

 =

6. Mengubah hasil pecahan biasa


kepecahan campuran = 2 kg

Jadi kue lapis yang telah dimakan tamu bu


siti adalah 2 kg

Total skor 20
Total keseluruhan skor 200
152

Lampiran 7

LEMBAR SOAL TES

Nama sekolah : UPT SDN 2 Pringsewu Timur

Mata pelajaran : Matematika

Kelas / fase :5/A&C

Alokasi waktu : 2 X 35 Menit

Petunjuk Pengerjaan

1. Bacalah basmallah terlebih dahulu sebelum memulai mengerjakan.


2. Tuliskan nama di bagian atas lembar jawaban.
3. Kerjakan terlebih dahulu soal-soal yang menurut peserta didik mudah.
4. Periksa kembali jawaban sebelum mengumpulkannya.

SOAL

1. Di pesta ualang tahun tina, terdapat dua kue yaitu kue lapis legit dan kue
engkak yang dipotong untuk dibagikan kepada teman-temannya. Kue lapis
legit di potong menjadi 8 bagian yang sama, dan kue engkak dipotong
menjadi 12 bagian yang sama. Sita memakan 3 bagian dari kue lapis legit
sedangkan andi memakan 5 bagian dari kue engkak. Siapa yang memakan
kue lebih banyak?

2. Bu Ani membuat dua jenis kue untuk acara keluarga. Kue pertama adalah
kue lapis legit yang terbuat dari tepung ketan, dan Bu Ani memotongnya
menjadi 6 bagian yang sama besar. Dia membawa dari kue lapis tersebut ke

rumah nenek. Kue kedua adalah kue talam yang ia potong menjadi 4 bagian
153

yang sama besar, lalu membawa dari kue talam ke rumah paman. Berapa

bagian total kue yang Bu Ani bawa untuk dibagikan di rumah nenek dan
rumah paman?

3. Siti membuat kue lapis dari tepung ketan. Kue tersebut dipotong menjadi
beberapa bagian. Di pagi hari, Siti memotong dan membagikan kue kepada
tetangganya sebesar bagian. Siangnya, ia kembali memberikan kepada

adiknya sebesar bagian dari kue yang tersisa. Berapa bagian kue yang sudah

dibagikan oleh Siti, dan berapa bagian kue yang masih tersisa?

4. Di sebuah pasar tradisional , ada dua jenis hidangan spesial. Pada hari Sabtu,
pasar tradisional menyajikan 3 kue enggak dan 2 kue pisang. Pada hari

Minggu, pasar tradisional menyajikan 2 kue enggak dan 1 kue pisang. Jika

jumlah kue engkak yang disajikan pada hari Sabtu dikurangi dengan jumlah
kue enggak yang disajikan pada hari Minggu, berapa banyak kue engkak yang
tersisa?
154

Lampiran 8

Perhitungan uji validitas soal

1. Menentukan skor

Nomor Soal
No Responden Jumlah
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 R1 20 15 18 17 2 20 2 20 2 2 118
2 R2 10 15 12 14 3 3 3 20 3 3 86
3 R3 20 18 12 16 20 9 3 3 3 3 107
4 R4 15 14 10 14 8 3 2 4 2 2 74
5 R5 20 19 14 20 2 2 2 19 2 2 102
6 R6 20 20 20 20 4 2 20 19 2 2 129
7 R7 10 20 20 20 2 2 2 20 4 4 104
8 R8 20 20 20 20 20 15 20 20 20 20 195
9 R9 20 20 20 20 20 20 20 14 20 20 194
10 R10 15 20 20 15 4 4 2 6 20 2 108
11 R11 20 20 15 20 2 2 20 20 2 2 123
12 R12 20 20 4 13 2 2 2 20 2 2 87
13 R13 20 20 20 20 2 2 20 20 2 2 128
14 R14 11 15 16 6 4 2 0 0 0 0 54
15 R15 13 20 19 20 2 2 2 15 2 2 97
16 R16 20 20 20 20 4 20 6 20 0 0 130
17 R17 15 14 12 7 2 2 2 11 2 2 69
155

18 R18 20 19 20 16 2 2 2 20 2 2 105
19 R19 10 20 10 19 20 4 6 2 0 0 91
20 R20 20 14 15 20 2 2 2 16 4 4 99
21 R21 18 12 20 20 2 2 2 11 2 2 91
22 R22 14 19 19 5 2 2 2 2 2 2 69
23 R23 18 4 20 20 20 20 20 10 20 20 172
24 R24 11 8 10 19 8 4 6 4 0 0 70
Jumlah 401 408 389 405 164 154 175 324 127 110 2657

2. Uji validitas setiap butir soal


Pada tahap ini melakukan uji validitas butir soal dngan skor jawaban setiap butir di identifikasi menjadi variabel X dan total
jawaban menjadi variabel Y.

3. Menentukan nilai tabel


N = 24, a = 5% = 0,05
Sehingga nilai (0,05, 24) = (0,05-24) pada tabel Product Moment = 0,423
156

4. Menentukan nilai r hitung


Soal Nomor 1
Resp X Y X2 Y2 XY Hasil
1 20 118 400 13924 2360 ∑ (∑ )(∑ )
2 10 86 100 7396 860 √* ∑ (∑ ) +* ∑ (∑ ) +

3 20 107 400 11449 2140


4 15 74 225 5476 1110 ( ) +* ( ) +
√*
5 20 102 400 10404 2040
6 20 129 400 16641 2580
√* +* +
7 10 104 100 10816 1040
8 20 195 400 38025 3900
9 20 194 400 37636 3880 √

10 15 108 225 11664 1620


11 20 123 400 15129 2460
12 20 87 400 7569 1740
= 0,484
13 20 128 400 16384 2560
14 11 54 121 2916 594
15 13 97 169 9409 1261
16 20 130 400 16900 2600
157

17 15 69 225 4761 1035


18 20 105 400 11025 2100
19 10 91 100 8281 910
20 20 99 400 9801 1980
21 18 91 324 8281 1638
22 14 69 196 4761 966
23 18 172 324 29584 3096
24 11 70 121 4900 770
∑ 401 2657 160801 7059649 1065457

Soal Nomor 2
Resp X Y X2 Y2 XY Hasil
1 15 118 225 13924 1770 ∑ (∑ )(∑ )
2 15 86 225 7396 1290 √* ∑ (∑ ) +* ∑ (∑ ) +

3 18 107 324 11449 1926


4 14 74 196 5476 1036 ( ) +* ( ) +
√*
5 19 102 361 10404 1938
6 20 129 400 16641 2580
158

7 20 104 400 10816 2080


8 20 195 400 38025 3900 √* +* +

9 20 194 400 37636 3880


10 20 108 400 11664 2160 √
11 20 123 400 15129 2460
12 20 87 400 7569 1740
13 20 128 400 16384 2560
14 15 54 225 2916 810
= 0,426
15 20 97 400 9409 1940
16 20 130 400 16900 2600
17 14 69 196 4761 966
18 19 105 361 11025 1995
19 20 91 400 8281 1820
20 14 99 196 9801 1386
21 12 91 144 8281 1092
22 19 69 361 4761 1311
23 4 172 16 29584 688
24 8 70 64 4900 560
∑ 408 2657 166464 7059649 1084056
159

Soal Nomor 3
Resp X Y X2 Y2 XY Hasil
1 18 118 324 13924 2124 ∑ (∑ )(∑ )
2 12 86 144 7396 1032 √* ∑ (∑ ) +* ∑ (∑ ) +

3 12 107 144 11449 1284


4 10 74 100 5476 740 ( ) +* ( ) +
√*
5 14 102 196 10404 1428
6 20 129 400 16641 2580
√* +* +
7 20 104 400 10816 2080
8 20 195 400 38025 3900
9 20 194 400 37636 3880 √

10 20 108 400 11664 2160


11 15 123 225 15129 1845
12 4 87 16 7569 348
= 0,470
13 20 128 400 16384 2560
14 16 54 256 2916 864
15 19 97 361 9409 1843
16 20 130 400 16900 2600
17 12 69 144 4761 828
160

18 20 105 400 11025 2100


19 10 91 100 8281 910
20 15 99 225 9801 1485
21 20 91 400 8281 1820
22 19 69 361 4761 1311
23 20 172 400 29584 3440
24 10 70 100 4900 700
∑ 389 2657 151321 7059649 1033573

Soal Nomor 4
Resp X Y X2 Y2 XY Hasil
1 17 118 289 13924 2006 ∑ (∑ )(∑ )
2 14 86 196 7396 1204 √* ∑ (∑ ) +* ∑ (∑ ) +

3 16 107 256 11449 1712


4 14 74 196 5476 1036 ( ) +* ( ) +
√*
5 20 102 400 10404 2040
6 20 129 400 16641 2580
√* +* +
7 20 104 400 10816 2080
161

8 20 195 400 38025 3900


9 20 194 400 37636 3880 √

10 15 108 225 11664 1620


11 20 123 400 15129 2460
12 13 87 169 7569 1131
= 0,489
13 20 128 400 16384 2560
14 6 54 36 2916 324
15 20 97 400 9409 1940
16 20 130 400 16900 2600
17 7 69 49 4761 483
18 16 105 256 11025 1680
19 19 91 361 8281 1729
20 20 99 400 9801 1980
21 20 91 400 8281 1820
22 5 69 25 4761 345
23 20 172 400 29584 3440
24 19 70 361 4900 1330
∑ 405 2657 164025 7059649 1076085
162

Soal Nomor 5
Resp X Y X2 Y2 XY Hasil
1 2 118 4 13924 236 ∑ (∑ )(∑ )
2 3 86 9 7396 258 √* ∑ (∑ ) +* ∑ (∑ ) +

3 20 107 400 11449 2140


4 8 74 64 5476 592 ( ) +* ( ) +
√*
5 2 102 4 10404 204
6 4 129 16 16641 516
√* +* +
7 2 104 4 10816 208
8 20 195 400 38025 3900
9 20 194 400 37636 3880 √

10 4 108 16 11664 432


11 2 123 4 15129 246
12 2 87 4 7569 174
= 0,198
13 2 128 4 16384 256
14 4 54 16 2916 216
15 2 97 4 9409 194
163

16 4 130 16 16900 520


17 2 69 4 4761 138
18 2 105 4 11025 210
19 20 91 400 8281 1820
20 2 99 4 9801 198
21 2 91 4 8281 182
22 2 69 4 4761 138
23 20 172 400 29584 3440
24 8 70 64 4900 560
∑ 164 2657 26896 7059649 435748

Soal Nomor 6
Resp X Y X2 Y2 XY Hasil
1 20 118 400 13924 2360 ∑ (∑ )(∑ )
2 3 86 9 7396 258 √* ∑ (∑ ) +* ∑ (∑ ) +

3 9 107 81 11449 963


4 3 74 9 5476 222 ( ) +* ( ) +
√*
5 2 102 4 10404 204
164

6 2 129 4 16641 258


7 2 104 4 10816 208 √* +* +

8 15 195 225 38025 2925


9 20 194 400 37636 3880 √
10 4 108 16 11664 432
11 2 123 4 15129 246
12 2 87 4 7569 174
13 2 128 4 16384 256
= 0,186
14 2 54 4 2916 108
15 2 97 4 9409 194
16 20 130 400 16900 2600
17 2 69 4 4761 138
18 2 105 4 11025 210
19 4 91 16 8281 364
20 2 99 4 9801 198
21 2 91 4 8281 182
22 2 69 4 4761 138
23 20 172 400 29584 3440
24 4 70 16 4900 280
165

∑ 154 2657 23716 7059649 409178

Soal Nomor 7
Resp X Y X2 Y2 XY Hasil
1 2 118 4 13924 236 ∑ (∑ )(∑ )
2 3 86 9 7396 258 √* ∑ (∑ ) +* ∑ (∑ ) +

3 3 107 9 11449 321


4 2 74 4 5476 148 ( ) +* ( ) +
√*
5 2 102 4 10404 204
6 20 129 400 16641 2580
√* +* +
7 2 104 4 10816 208
8 20 195 400 38025 3900
9 20 194 400 37636 3880 √

10 2 108 4 11664 216


11 20 123 400 15129 2460
12 2 87 4 7569 174
= 0,091
13 20 128 400 16384 2560
14 0 54 0 2916 0
166

15 2 97 4 9409 194
16 6 130 36 16900 780
17 2 69 4 4761 138
18 2 105 4 11025 210
19 6 91 36 8281 546
20 2 99 4 9801 198
21 2 91 4 8281 182
22 2 69 4 4761 138
23 20 172 400 29584 3440
24 6 70 36 4900 420
∑ 175 2657 30625 7059649 464975

Soal Nomor 8
Resp X Y X2 Y2 XY Hasil
1 20 118 400 13924 2360 ∑ (∑ )(∑ )
2 20 86 400 7396 1720 √* ∑ (∑ ) +* ∑ (∑ ) +

3 3 107 9 11449 321


4 4 74 16 5476 296 ( ) +* ( ) +
√*
167

5 19 102 361 10404 1938


6 19 129 361 16641 2451 √* +* +

7 20 104 400 10816 2080


8 20 195 400 38025 3900 √
9 14 194 196 37636 2716
10 6 108 36 11664 648
11 20 123 400 15129 2460
12 20 87 400 7569 1740
= 0,451
13 20 128 400 16384 2560
14 0 54 0 2916 0
15 15 97 225 9409 1455
16 20 130 400 16900 2600
17 11 69 121 4761 759
18 20 105 400 11025 2100
19 2 91 4 8281 182
20 16 99 256 9801 1584
21 11 91 121 8281 1001
22 2 69 4 4761 138
23 10 172 100 29584 1720
168

24 4 70 16 4900 280
∑ 324 2657 104976 7059649 860868

Soal Nomor 9
Resp X Y X2 Y2 XY Hasil
1 2 118 4 13924 236 ∑ (∑ )(∑ )
2 3 86 9 7396 258 √* ∑ (∑ ) +* ∑ (∑ ) +

3 3 107 9 11449 321


4 2 74 4 5476 148 ( ) +* ( ) +
√*
5 2 102 4 10404 204
6 2 129 4 16641 258
√* +* +
7 4 104 16 10816 416
8 20 195 400 38025 3900
9 20 194 400 37636 3880 √

10 20 108 400 11664 2160


11 2 123 4 15129 246
12 2 87 4 7569 174
= 0,153
13 2 128 4 16384 256
169

14 0 54 0 2916 0
15 2 97 4 9409 194
16 0 130 0 16900 0
17 2 69 4 4761 138
18 2 105 4 11025 210
19 0 91 0 8281 0
20 4 99 16 9801 396
21 2 91 4 8281 182
22 2 69 4 4761 138
23 20 172 400 29584 3440
24 0 70 0 4900 0
∑ 127 2657 16129 7059649 337439

Soal Nomor 10
Resp X Y X2 Y2 XY Hasil
1 2 118 4 13924 236 ∑ (∑ )(∑ )
2 3 86 9 7396 258 √* ∑ (∑ ) +* ∑ (∑ ) +

3 3 107 9 11449 321


170

4 2 74 4 5476 148
5 2 102 4 10404 204 √* ( ) +* ( ) +

6 2 129 4 16641 258


7 4 104 16 10816 416 √* +* +
8 20 195 400 38025 3900
9 20 194 400 37636 3880

10 2 108 4 11664 216
11 2 123 4 15129 246
12 2 87 4 7569 174
13 2 128 4 16384 256 = 0,098
14 0 54 0 2916 0
15 2 97 4 9409 194
16 0 130 0 16900 0
17 2 69 4 4761 138
18 2 105 4 11025 210
19 0 91 0 8281 0
20 4 99 16 9801 396
21 2 91 4 8281 182
22 2 69 4 4761 138
171

23 20 172 400 29584 3440


24 0 70 0 4900 0
∑ 110 2657 12100 7059649 292270
172

Tabel Hasil Validitas

No Soal R hitung R tabel Keterangan

1 0,484 0,423 Valid

2 0,426 0,423 Valid

3 0,470 0,423 Valid

4 0,489 0,423 Valid

5 0,198 0,423 Tidak valid

6 0,186 0,423 Ttidak Valid

7 0,091 0,423 Tidak Valid

8 0,451 0,423 Valid

9 0,153 0,423 Tidak Valid

10 0,098 0,423 Tidak valid


173

Lampiran 9

Daya Pembeda

1. Menentukan skor

Nomor Soal
No Responden Jumlah
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 R1 20 15 18 17 2 20 2 20 2 2 118
2 R2 10 15 12 14 3 3 3 20 3 3 86
3 R3 20 18 12 16 20 9 3 3 3 3 107
4 R4 15 14 10 14 8 3 2 4 2 2 74
5 R5 20 19 14 20 2 2 2 19 2 2 102
6 R6 20 20 20 20 4 2 20 19 2 2 129
7 R7 10 20 20 20 2 2 2 20 4 4 104
8 R8 20 20 20 20 20 15 20 20 20 20 195
9 R9 20 20 20 20 20 20 20 14 20 20 194
10 R10 15 20 20 15 4 4 2 6 20 2 108
11 R11 20 20 15 20 2 2 20 20 2 2 123
12 R12 20 20 4 13 2 2 2 20 2 2 87
13 R13 20 20 20 20 2 2 20 20 2 2 128
14 R14 11 15 16 6 4 2 0 0 0 0 54
15 R15 13 20 19 20 2 2 2 15 2 2 97
16 R16 20 20 20 20 4 20 6 20 0 0 130
17 R17 15 14 12 7 2 2 2 11 2 2 69
18 R18 20 19 20 16 2 2 2 20 2 2 105
174

19 R19 10 20 10 19 20 4 6 2 0 0 91
20 R20 20 14 15 20 2 2 2 16 4 4 99
21 R21 18 12 20 20 2 2 2 11 2 2 91
22 R22 14 19 19 5 2 2 2 2 2 2 69
23 R23 18 4 20 20 20 20 20 10 20 20 172
24 R24 11 8 10 19 8 4 6 4 0 0 70
Jumlah 401 408 389 405 164 154 175 324 127 110 2657

2. Mengelompokkan data

Kelompok Atas

Soal
Responden jumlah
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
R8 20 20 20 20 20 15 20 20 20 20 195
R9 20 20 20 20 20 20 20 14 20 20 194
R23 18 4 20 20 20 20 20 10 20 20 172
R16 20 20 20 20 4 20 6 20 0 0 130
R6 20 20 20 20 4 2 20 19 2 2 129
R13 20 20 20 20 2 2 20 20 2 2 128
R11 20 20 15 20 2 2 20 20 2 2 123
R1 20 15 18 17 2 20 2 20 2 2 118
R10 15 20 20 15 4 4 2 6 20 2 108
R3 20 18 12 16 20 9 3 3 3 3 107
R3 20 18 12 16 20 9 3 3 3 3 107
R7 10 20 20 20 2 2 2 20 4 4 104
175

∑A 224 217 220 228 125 131 145 183 107 90 1615

Kelompok Bawah

Soal
Responden jumlah
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
R14 11 15 16 6 4 2 0 0 0 0 54
R17 15 14 12 7 2 2 2 11 2 2 69
R22 14 19 19 5 2 2 2 2 2 2 69
R24 11 8 10 19 8 4 6 4 0 0 70
R4 15 14 10 14 8 3 2 4 2 2 74
R2 10 15 12 14 3 3 3 20 3 3 86
R12 20 20 4 13 2 2 2 20 2 2 87
R19 10 20 20 19 20 4 6 2 0 0 91
R21 18 12 20 20 2 2 2 11 2 2 91
R15 13 20 19 20 2 2 2 15 2 2 97
R20 20 14 15 20 2 2 2 16 4 4 99
R5 20 19 14 20 2 2 2 19 2 2 102
∑B 178 192 164 181 62 36 38 132 30 31 989
176

3. Menghitung Daya Pembeda

Rumus yang digunakan:

= -

Soal Nomor 1 Soal Nomor 6

= 0,75- 0,25 = = 0,33 - 0,0 = 0,33

0,50

Soal Nomor 2 Soal Nomor 7

= 0,66 – 0,25 = = 0,5- 0,0 = 0,50


0,41
Soal Nomor 3 Soal Nomor 8

= 0,66 – 0,16 = = 0,58 - 0,16 =


0,50 0,42
Soal Nomor 4 Saol Nomor 9

= 0,66 – 0,33 = = 0,33 - 0,0 = 0,33


0,33
Soal nomor 5 Soal Nomor 10

= 0,41– 0,08 = =0,25 – 0= 0,25

0,32
177

4. Menentukan kriteria daya pembeda


No soal Daya pembeda Kriteria
1 0,50 Baik
2 0,41 Baik
3 0,50 Baik
4 0,33 Cukup
5 0,32 Cukup
6 0,33 Cukup
7 0,50 Baik
8 0,42 Baik
9 0.33 Cukup
10 0,25 Cukup
178

Lampiran 10 Tingkat Kesukaran

1. Menentukan Skor

Nomor Soal
No Responden Jumlah
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 R1 20 15 18 17 2 20 2 20 2 2 118
2 R2 10 15 12 14 3 3 3 20 3 3 86
3 R3 20 18 12 16 20 9 3 3 3 3 107
4 R4 15 14 10 14 8 3 2 4 2 2 74
5 R5 20 19 14 20 2 2 2 19 2 2 102
6 R6 20 20 20 20 4 2 20 19 2 2 129
7 R7 10 20 20 20 2 2 2 20 4 4 104
8 R8 20 20 20 20 20 15 20 20 20 20 195
9 R9 20 20 20 20 20 20 20 14 20 20 194
10 R10 15 20 20 15 4 4 2 6 20 2 108
11 R11 20 20 15 20 2 2 20 20 2 2 123
12 R12 20 20 4 13 2 2 2 20 2 2 87
13 R13 20 20 20 20 2 2 20 20 2 2 128
14 R14 11 15 16 6 4 2 0 0 0 0 54
15 R15 13 20 19 20 2 2 2 15 2 2 97
16 R16 20 20 20 20 4 20 6 20 0 0 130
17 R17 15 14 12 7 2 2 2 11 2 2 69
18 R18 20 19 20 16 2 2 2 20 2 2 105
19 R19 10 20 10 19 20 4 6 2 0 0 91
179

20 R20 20 14 15 20 2 2 2 16 4 4 99
21 R21 18 12 20 20 2 2 2 11 2 2 91
22 R22 14 19 19 5 2 2 2 2 2 2 69
23 R23 18 4 20 20 20 20 20 10 20 20 172
24 R24 11 8 10 19 8 4 6 4 0 0 70
Jumlah 401 408 389 405 164 154 175 324 127 110 2657
180

2. Menghitung indeks kesukaran


Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:

P =

Soal Nomor 1 Soal Nomor 6

P= = 0,50 P= = 0,16

Soal Nomor 2 Soal Nomor 7

P= = 0,45 P= = 0,25

Soal Nomor 3 Soal Nomor 8

P= = 0,41 P= = 0,37

Soal Nomor 4 Saol Nomor 9

P= = 0,50 P= = 0,12

Soal nomor 5 Soal Nomor 10

P= = 0,20 P= = 0,08
181

3. Menentukan kriteria kesukaran


No Soal Jumlah Jumlah Tingkat Kriteria
Siswa Skor Kesukaran
1 24 401 0,50 Sedang
2 24 408 0,45 Sedang
3 24 389 0,41 Sedang
4 24 405 0,50 Sedang
5 24 164 0,20 Sukar
6 24 154 0,16 Sukar
7 24 175 0,25 Sukar
8 24 324 0,37 Sedang
9 24 127 0,12 Sukar
10 24 110 0,08 sukar

Hasil tersebut dapat dilihat di tabel kriteria kesukaran sebagai berikut:


Nilai Keputusan
0,00 – 0,30 Sukar
0,31 – 0,70 Sedang
0,71 – 0,100 Mudah
182

Lampiran 11

Uji Reliablitas

1. Menentukan Skor Total

Nomor Soal Kuadrat


No Responden Skor total skor
total
1 2 3 8
1 R1 20 15 18 20 118 13.924
2 R2 10 15 12 20 86 7.396
3 R3 20 18 12 3 107 11.449
4 R4 15 14 10 4 74 5.476
5 R5 20 19 14 19 102 10.404
6 R6 20 20 20 19 129 16.641
7 R7 10 20 20 20 104 10.816
8 R8 20 20 20 20 195 38.025
9 R9 20 20 20 14 194 37.636
10 R10 15 20 20 6 108 11.664
11 R11 20 20 15 20 123 15.129
12 R12 20 20 4 20 87 7.569
13 R13 20 20 20 20 128 16.384
14 R14 11 15 16 0 54 2.916
15 R15 13 20 19 15 97 9.409
183

16 R16 20 20 20 20 130 16.900


17 R17 15 14 12 11 69 4.761
18 R18 20 19 20 20 105 11.025
19 R19 10 20 10 2 91 8.281
20 R20 20 14 15 16 99 9.801
21 R21 18 12 20 11 91 8.281
22 R22 14 19 19 2 69 4.761
23 R23 18 4 20 10 172 29.584
24 R24 11 8 10 4 70 4.900
Jumlah 401 408 389 324 2657 313.132
Jumlah kuadrat 160.801 166.464 151.321 104.976 7.059.649

1. Menentukan varian Butir

= = = = 6.42

= = = = 6.64

= = = = 6.04
184

= = = = 4.19

Jumlah ∑ = 6.42 + 6.64 + 6.04 + 4.19 = 24,01


185

2. Menentukan varian total

= = = = 790,8

Di masukkan kedalam rumus alpha

= ( )

( )

0,929

3. Menentukan kriteria reliabilitas


Dari hasil perhitungan diatas maka hasil uji reliabilitas mendapatkan
nilai 0,995 yang dinaytakan sangat tinggi atau reliable. Hasil tersebut
dapat dilihat di tabel reliabilitas dibawah ini:

Nilai kriteria

0,000-0,199 Sangat Rendah

0,200-0,399 Rendah

0,400-0.599 Cukup

0,600-0,799 Tinggi

0.800-1,000 Sangat Tinggi


186

Lampiran 12

Uji Normalitas Kelas Eksperimen

Tabel Hasil Nilai Test Kelas Eksperimen

No Nama Siswa X X²
1 R 53 2809
2 KNF 56 3136
3 FNP 57 3249
4 DUJW 58 3364
5 NFS 64 4096
6 AAP 64 4096
7 DDLP 65 4225
8 ANA 66 4356
9 TIR 70 4900
10 TMA 72 5184
11 ELF 77 5929
12 C 77 5929
13 D 78 6084
14 RR 79 6241
15 RBFP 82 6724
16 AH 82 6724
17 KA 83 6889
18 RA 84 7056
19 AZ 85 7225
20 EL 90 8100
21 ZKP 90 8100
22 DPA 91 8281
Jumlah 1623 122697
N 22
Xmaks 53
Xmin 91
1. Merumuskan Hipotesis
Ho: Data berdistribusi normal
Ha: Data berdistribusi tidak normal
2. Taraf signifikansi 5% dengan Ltabel= 0,1832
3. Mencari rata-rata dan standar deviasi
187

a. Rata-rata:

̅ = 73,7 (Dibulatkan menjadi = 74)

b. Standar Deviasi
∑ (∑ )

( )

( )

( )


( )


(Dibulatkan menjadi = 12)
4. Mencari Bilangan Baku
̅
Rumus :
̅
a.
̅
b.
̅
c.
̅
d.
̅
e.
̅
f.
̅
g.
̅
h.
̅
i.
̅
j.
188

̅
k.
̅
l.
̅
m.
̅
n.
̅
o.
̅
p.
̅
q.
̅
r.
̅
s. Z
̅
t.
̅
u.
̅
v.

5. Menghitung peluang F(z)


Jika Z bernilai negatif, maka 0,5-Zt
Jika Z bernilai positif, maka 0,5+Zt
a. F(z) = 0,5-Zt = 0,5-0,4599 = 0,0401
b. F(z) = 0,5-Zt = 0,5-0,4332 = 0,0668
c. F(z) = 0,5-Zt = 0,5-0,4207 = 0,0793
d. F(z) = 0,5-Zt = 0,5-0,4082= 0,0918
e. F(z) = 0,5-Zt = 0,5-0,2967 = 0,2033
f. F(z) = 0,5-Zt = 0,5-0,2967 = 0,2033
g. F(z) = 0,5-Zt = 0,5-0,2734= 0,2266
h. F(z) = 0,5-Zt = 0,5-0,2454 = 0,2546
i. F(z) = 0,5-Zt = 0,5-0,1293 = 0,3707
j. F(z) = 0,5-Zt = 0,5-0,0636= 0,4364
k. F(z) = 0,5-Zt = 0,5+0,0987 = 0,5987
189

l. F(z) = 0,5+Zt = 0,5+0,0987 = 0,5987


m. F(z) = 0,5+Zt = 0,5+0,1293 = 0,6293
n. F(z) = 0,5+Zt = 0,5+0,1591 = 0,6591
o. F(z) = 0,5+Zt = 0,5+0,2454 = 0,7454
p. F(z) = 0,5+Zt = 0,5+0,2454 = 0,7454
q. F(z) = 0,5+Zt = 0,5+0,2734 = 0,7734
r. F(z) = 0,5+Zt = 0,5+0,2967 = 0,7967
s. F(z) = 0,5+Zt = 0,5+0,3186 = 0,8186
t. F(z) = 0,5+Zt = 0,5+0,4082 = 0,9082
u. F(z) = 0,5+Zt = 0,5+0,4082 = 0,9082
v. F(z) = 0,5+Zt = 0,5+0,4207 = 0,9207
6. Menghitung Proporsi S(z)

Rumus: S(z) = ∑
=

a. S(z) = = 0,045

b. S(z) = = 0,090

c. S(z) = = 0,136

d. S(z) = = 0,181

e. S(z) = = 0,227

f. S(z) = = 0,272

g. S(z) = = 0,318

h. S(z) = = 0,363

i. S(z) = = 0,409

j. S(z) = = 0,454

k. S(z) = = 0,5

l. S(z) = = 0,545

m. S(z) = = 0,590
190

n. S(z) = = 0,636

o. S(z) = = 0,681

p. S(z) = = 0,727

q. S(z) = = 0,772

r. S(z) = = 0,818

s. S(z) = = 0,863

t. S(z) = = 0,909

u. S(z) = = 0,954

v. S(z) = =1

7. Menghitung selisih [F(z)-S(z)]


a. [F(z)-S(z)] = [0,0401 – 0,045] = 0,0049
b. [F(z)-S(z)] = [0,0668 – 0,090] = 0,0232
c. [F(z)-S(z)] = [0,0793 – 0,136] = 0,0567
d. [F(z)-S(z)] = [0,0918 – 0,181] = 0,0892
e. [F(z)-S(z)] = [0,2033 – 0,227] = 0,0237
f. [F(z)-S(z)] = [0,2033 – 0,272] = 0,0687
g. [F(z)-S(z)] = [0,2266 – 0,318] = 0,0914
h. [F(z)-S(z)] = [0,2546– 0,363] = 0,1084
i. [F(z)-S(z)] = [0,3707 – 0,409] = 0,0383
j. [F(z)-S(z)] = [0,4364 – 0,454] = 0,0176
k. [F(z)-S(z)] = [0,5987– 0,5] = 0,0987
l. [F(z)-S(z)] = [0,5987– 0,545] = 0,0537
m. [F(z)-S(z)] = [0,6293– 0,590] = 0,0393
n. [F(z)-S(z)] = [0,6591– 0,636] = 0,0231
o. [F(z)-S(z)] = [0,7454- 0,681] = 0,0644
p. [F(z)-S(z)] = [0,7454– 0,727] = 0,0184
q. [F(z)-S(z)] = [0,7734– 0,772] = 0,0014
r. [F(z)-S(z)] = [0,7967– 0,818] = 0,0213
191

s. [F(z)-S(z)] = [0,8186– 0,863] = 0,0444


t. [F(z)-S(z)] = [0,9082– 0,909] = 0,0008
u. [F(z)-S(z)] = [0,9082– 0,954] = 0,0458
v. [F(z)-S(z)] = [0,9207– 1] = 0,0793

8. Membuat tabel penolong

No X Z Zt F(z) S(z) [F(z)-S(z)]

1 53 -1,75 0,4599 0,0401 0,045 0,0049

2 56 -1,50 0,4332 0,0668 0,090 0,0232

3 57 -1,41 0,4207 0,0793 0,136 0,0567

4 58 -1,33 0,4082 0,0918 0,181 0,0892

5 64 -0,83 0,2967 0,2033 0,227 0,0237

6 64 -0,83 0,2967 0,2033 0,272 0,0687

7 65 -0,75 0,2734 0,2266 0,318 0,0914

8 66 -0,66 0,2454 0,2546 0,363 0,1084

9 70 -0,33 0,1293 0,3707 0,409 0,0383

10 72 -0,16 0,0636 0,4364 0,454 0,0176

11 77 0,25 0,0987 0,5987 0,5 0,0987

12 77 0,25 0,0987 0,5987 0,545 0,0537

13 78 0,33 0,1293 0,6293 0,590 0,0393

14 79 0,41 0,1591 0,6591 0,636 0,0231

15 82 0,66 0,2454 0,7454 0,681 0,0644

16 82 0,66 0,2454 0,7454 0,727 0,0184

17 83 0,75 0,2734 0,7734 0,772 0,0014

18 84 0,83 0,2967 0,7967 0,818 0,0213

19 85 0,91 0,3186 0,8186 0,863 0,0444


192

20 90 1,33 0,4082 0,9082 0,909 0,0008

21 90 1,33 0,4082 0,9082 0,954 0,0458

22 91 1,41 0,4207 0,9207 1 0,0793


9. Menentukan nilai Lhitung
Lhitung = Maksimum [F(z)-S(z)]
Lhitung = 0,1084
10. Membandingkan nilai Lhitung dengan Ltabel nilai kritis Uji Lilliefors pada
tingkat signifikan 0,05.
Ltabel = 0,1832, didapatkan dari perhitungan interpolasi data

Rumus:

( ) ( )

( ) ( )

11. Kesimpulan, Lhitung < Ltabel = 0,1084< 0,1832, Maka H0 diterima. Artinya data
berdistribusi normal
193

Lampiran 13

Uji Normalitas Kelas Kontrol

Tabel Hasil Nilai Test Kelas Kontrol

No Nama Siswa X X²
1 NZA 15 225
2 FAP 20 400
3 EAP 33 1089
4 ADA 34 1156
5 KAF 36 1296
6 NMU 49 2401
7 NMA 50 2500
8 AP 57 3249
9 NLU 57 3249
10 DM 60 3600
11 RAP 60 3600
12 RA 60 3600
13 UZ 60 3600
14 SK 62 3844
15 HZP 62 3844
16 AS 62 3844
17 AEP 63 3969
18 RDL 64 4096
19 ABS 70 4900
20 ARRR 73 5329
21 ANS 75 5625
22 AKZP 80 6400
Jumlah 1202 71816
N 22
X Maks 80
X min 15

1. Merumuskan Hipotesis
Ho: Data berdistribusi normal
Ha: Data berdistribusi tidak normal
194

2. Taraf signifikansi 5% dengan Ltabel= 0,1832


3. Mencari rata-rata dan standar deviasi
c. Rata-rata:

̅ = 54,6 (Dibulatkan Menjadi = 55)

d. Standar Deviasi
∑ (∑ )

( )

( )

( )


( )


(Dibulatkan menjadi = 17)
4. Mencari Bilangan Baku
̅
Rumus :
̅
a.
̅
b.
̅
c.
̅
d.
̅
e.
̅
f.
̅
g.
̅
h.
195

̅
i.
̅
j.
̅
k.
̅
l.
̅
m.
̅
n.
̅
o.
̅
p.
̅
q.
̅
r.
̅
s. Z
̅
t.
̅
u.
̅
v.

5. Menghitung peluang F(z)


Jika Z bernilai negatif, maka 0,5-Zt
Jika Z bernilai positif, maka 0,5+Zt
a. F(z) = 0,5-Zt = 0,5-0,4906 = 0,0094
b. F(z) = 0,5-Zt = 0,5-0,4798 = 0,0202
c. F(z) = 0,5-Zt = 0,5-0,4015 = 0,0985
d. F(z) = 0,5-Zt = 0,5-0,3907= 0,1093
e. F(z) = 0,5-Zt = 0,5-0,3665= 0,1335
f. F(z) = 0,5-Zt = 0,5-0,1368= 0,3632
g. F(z) = 0,5-Zt = 0,5-0,1141= 0,3859
h. F(z) = 0,5-Zt = 0,5+0,0040 = 0,504
i. F(z) = 0,5-Zt = 0,5+0,0040= 0,504
196

j. F(z) = 0,5-Zt = 0,5+0,1141 = 0,6141


k. F(z) = 0,5-Zt = 0,5+0,1141 = 0,6141
l. F(z) = 0,5+Zt = 0,5+0,1141 = 0,6141
m. F(z) = 0,5+Zt = 0,5+0,1141= 0,6141
n. F(z) = 0,5+Zt = 0,5+0,1591 = 0,6591
o. F(z) = 0,5+Zt = 0,5+0,1591 = 0,6591
p. F(z) = 0,5+Zt = 0,5+0,1591 = 0,6591
q. F(z) = 0,5+Zt = 0,5+0,1808 = 0,6808
r. F(z) = 0,5+Zt = 0,5+0,1985= 0,6985
s. F(z) = 0,5+Zt = 0,5+0,3106 = 0,8106
t. F(z) = 0,5+Zt = 0,5+0,3531 = 0,8531
u. F(z) = 0,5+Zt = 0,5+0,3790 = 0,879
v. F(z) = 0,5+Zt = 0,5+0,4292 = 0,9292
6. Menghitung Proporsi S(z)

Rumus: S(z) = ∑
=

a. S(z) = = 0,045

b. S(z) = = 0,090

c. S(z) = = 0,136

d. S(z) = = 0,181

e. S(z) = = 0,227

f. S(z) = = 0,272

g. S(z) = = 0,318

h. S(z) = = 0,363

i. S(z) = = 0,409

j. S(z) = = 0,454

k. S(z) = = 0,5

l. S(z) = = 0,545
197

m. S(z) = = 0,590

n. S(z) = = 0,636

o. S(z) = = 0,681

p. S(z) = = 0,727

q. S(z) = = 0,772

r. S(z) = = 0,818

s. S(z) = = 0,863

t. S(z) = = 0,909

u. S(z) = = 0,954

v. S(z) = =1

7. Menghitung selisih [F(z)-S(z)]


a. [F(z)-S(z)] = [0,0094 – 0,045] = 0,0356
b. [F(z)-S(z)] = [0,0202 – 0,090] = 0,0698
c. [F(z)-S(z)] = [0,0985 – 0,136] = 0,0375
d. [F(z)-S(z)] = [0,1093 – 0,181] = 0,0717
e. [F(z)-S(z)] = [0,1335 – 0,227] = 0,0935
f. [F(z)-S(z)] = [0,3632 – 0,272] = 0,0912
g. [F(z)-S(z)] = [0,3859 – 0,318] = 0,0679
h. [F(z)-S(z)] = [0,504 – 0,363] = 0,141
i. [F(z)-S(z)] = [0,504 – 0,409] = 0,095
j. [F(z)-S(z)] = [0,6141 – 0,454] = 0,1601
k. [F(z)-S(z)] = [0,6141– 0,5] = 0,1141
l. [F(z)-S(z)] = [0,6141– 0,545] = 0,0691
m. [F(z)-S(z)] = [0,6141– 0,590] = 0,0241
n. [F(z)-S(z)] = [0,6591– 0,636] = 0,0231
o. [F(z)-S(z)] = [0,6591- 0,681] = 0,0219
p. [F(z)-S(z)] = [0,6591– 0,727] = 0,0679
q. [F(z)-S(z)] = [0,6808– 0,772] = 0,0912
198

r. [F(z)-S(z)] = [0,6985– 0,818] = 0,1195


s. [F(z)-S(z)] = [0,8106– 0,863] = 0,0524
t. [F(z)-S(z)] = [0,8531– 0,909] = 0,0559
u. [F(z)-S(z)] = [0,879– 0,954] = 0,075
v. [F(z)-S(z)] = [0,9292– 1] = 0,0708

8. Membuat tabel penolong

No X Z Zt F(z) S(z) [F(z)-S(z)]

1 15 -2,35 0,4906 0,0094 0,045 0,0356

2 20 -2,05 0,4798 0,0202 0,090 0,0698

3 33 -1,29 0,4015 0,0985 0,136 0,0375

4 34 -1,23 0,3907 0,1093 0,181 0,0717

5 36 -1,11 0,3665 0,1335 0,227 0,0935

6 49 -0,35 0,1368 0,3632 0,272 0,0912

7 50 -0,29 0,1141 0,3859 0,318 0,0679

8 57 0,11 0,0040 0,504 0,363 0,141

9 57 0,11 0,0040 0,504 0,409 0,095

10 60 0,29 0,1141 0,6141 0,454 0,1601

11 60 0,29 0,1141 0,6141 0,5 0,1141

12 60 0,29 0,1141 0,6141 0,545 0,0691

13 60 0,29 0,1141 0,6141 0,590 0,0241

14 62 0,41 0,1591 0,6591 0,636 0,0231

15 62 0,41 0,1591 0,6591 0,681 0,0219

16 62 0,41 0,1591 0,6591 0,727 0,0679

17 63 0,47 0,1808 0,6808 0,772 0,0912

18 64 0,52 0,1985 0,6985 0,818 0,1195


199

19 70 0,88 0,3106 0,8106 0,863 0,0524

20 73 1,05 0,3531 0,8531 0,909 0,0559

21 75 1,17 0,3790 0,879 0,954 0,075

22 80 1,47 0,4292 0,9292 1 0,0708


9. Menentukan nilai Lhitung
Lhitung = Maksimum [F(z)-S(z)]
Lhitung = 0,141
10. Membandingkan nilai Lhitung dengan Ltabel nilai kritis Uji Lilliefors pada
tingkat signifikan 0,05.
Ltabel = 0,1832, didapatkan dari perhitungan interpolasi data

Rumus:

( ) ( )

( ) ( )

11. Kesimpulan, Lhitung < Ltabel = 0,141< 0,1832, Maka H0 diterima. Artinya data
berdistribusi normal
200

Lampiran 14

Uji Homogenitas

Tabel Hasil Test Kelas Eksperimen dan Kontrol

No Kelas Eksperimen (X¹) Kelas Kontrol (X²) X₁² X₂²


1 53 15 2809 225
2 56 20 3136 400
3 57 33 3249 1089
4 58 34 3364 1156
5 64 36 4096 1296
6 64 49 4096 2401
7 65 50 4225 2500
8 66 57 4356 3249
9 70 57 4900 3249
10 72 60 5184 3600
11 77 60 5929 3600
12 77 60 5929 3600
13 78 60 6084 3600
14 79 62 6241 3844
15 82 62 6724 3844
16 82 62 6724 3844
17 83 63 6889 3969
18 84 64 7056 4096
19 85 70 7225 4900
21 90 73 8100 5329
20 90 75 8100 5625
22 91 80 8281 6400
Jumlah 1623 1202 122697 71816
1. Merumuskan Hipotesis
Ho: σ12 = σ22 , Artinya varians kelas eksperimen sama dengan varians kelas
kontrol (Homogen)
Ha: σ12 ≠ σ22 , Artinya varians kelas eksperimen tidak sama dengan
varians kelas kontrol (Tidak Homogen)
2. Menghitung varians dari masing-masing variabel.
a. Varians Kelas Eksperimen
201

∑ (∑ )
( )

( )
( )

( )

b. Varians Kelas Kontrol


∑ (∑ )
( )

( )
( )

( )

3. Memilih varians yang terbesar dan terkecil.


Hasil perhitungan di atas diperoleh varians terbesar adalah dari kelas kontrol
yaitu 292, 2, dan varians terkecil kelas eksperimen yaitu 141,1.
4. Menghitung Fhitung

Fhitung= 2,072
5. Menentukan derajat kebebasan untuk varians terbesar yaitu db = 22 – 1 = 21,
dan derajat kebebasan untuk varians terkecil yaitu db = 22 – 1 = 21.
6. Menentukan nilai F hitung pada tabel dengan α= 0,05 dengan derajat
kebebasan 21;21 diperoleh 2,084

Kesimpulan, Fhitung < Ftabel = 2,072 < 2,084, Maka H0 diterima. Artinya data
homogen
202

Lampiran 15

Uji-T Dua Pihak

Tabel Nilai Kelas Eksperimen dan Kontrol

No Kelas Eksperimen (X¹) Kelas Kontrol (X²) X₁² X₂²


1 53 15 2809 225
2 56 20 3136 400
3 57 33 3249 1089
4 58 34 3364 1156
5 64 36 4096 1296
6 64 49 4096 2401
7 65 50 4225 2500
8 66 57 4356 3249
9 70 57 4900 3249
10 72 60 5184 3600
11 77 60 5929 3600
12 77 60 5929 3600
13 78 60 6084 3600
14 79 62 6241 3844
15 82 62 6724 3844
16 82 62 6724 3844
17 83 63 6889 3969
18 84 64 7056 4096
19 85 70 7225 4900
21 90 73 8100 5329
20 90 75 8100 5625
22 91 80 8281 6400
Jumlah 1623 1202 122697 71816
1. Merumuskan Hipotesis
Ho: μ1 = μ2 , Tidak terdapat pengaruh signifikan pembelajaran matematika
realistik berbantuan makanan khas lampung terhadap
kemampuan pemahaman konsep pecahan.
Ha: μ1 ≠ μ2 , Terdapat pengaruh signifikan pembelajaran matematika realistik
berbantuan makanan khas lampung terhadap kemampuan
pemahaman konsep pecahan.
203

2. Menentukan taraf signifikansi α untuk mendapatkan ttabel

α = 5% = = 0,025

3. Menghitung df
df = +
df = 42
4. Statistik uji
̅ ̅

( ) ( )
√ ( )

√( ) ( )
( )

√( ) ( )
( )

√ ( )

√ ( ) √
√ ( )
thitung = 4,308
Untuk mencari nilai ttabel dengan df = 42 menggunakan cara sebagai berikut:

Rumus:

( ) ( )

( ) ( )

(Dibulatkan menjadi = 2,019)


204

5. Kriteria uji
Jika thitung ttabel, maka H0 diterima
Jika thitung > ttabel, maka H0 ditolak
6. Kesimpulan, thitung > ttabel = 4,308 > 2,019, Maka H0 ditolak dan Ha diterima.

Artinya Terdapat pengaruh signifikan pembelajaran matematika


realistik berbantuan makanan khas lampung terhadap kemampuan
pemahaman konsep pecahan.
205

Lampiran 16

Uji-T Satu Pihak

Tabel Nilai Kelas Eksperimen dan Kontrol

No Kelas Eksperimen (X¹) Kelas Kontrol (X²) X₁² X₂²


1 53 15 2809 225
2 56 20 3136 400
3 57 33 3249 1089
4 58 34 3364 1156
5 64 36 4096 1296
6 64 49 4096 2401
7 65 50 4225 2500
8 66 57 4356 3249
9 70 57 4900 3249
10 72 60 5184 3600
11 77 60 5929 3600
12 77 60 5929 3600
13 78 60 6084 3600
14 79 62 6241 3844
15 82 62 6724 3844
16 82 62 6724 3844
17 83 63 6889 3969
18 84 64 7056 4096
19 85 70 7225 4900
21 90 73 8100 5329
20 90 75 8100 5625
22 91 80 8281 6400
Jumlah 1623 1202 122697 71816

1. Merumuskan Hipotesis dan menentukan arah pengujian


Ho: μ1 μ2 , Rata-rata kemampuan pemahaman kemampuan konsep pecahan
siswa dengan menggunakan pembelajaran matematika realistik
kurang dari atau sama dengan rata-rata kemampuan pemahaman
konsep pecahan yang menggunakan model pembelajaran
konvensional.
206

Ha: μ1 > μ2 , Rata-rata kemampuan pemahaman kemampuan konsep pecahan


siswa dengan menggunakan pembelajaran matematika realistik
lebih baik dari rata-rata kemampuan pemahaman konsep
pecahan yang menggunakan model pembelajaran konvensional.
.
Berdasarkan hipotesis tersebut, maka dapat diartikan uji yang akan dilakukan
adalah uji t satu pihak kanan
2. Menentukan taraf signifikansi α untuk mendapatkan ttabel
α = 5% = 0,05 (Untuk menguji satu sisi saja secara keseluruhan)
3. Menghitung df
df = +
df = 42
4. Statistik uji
̅ ̅

( ) ( )
√ ( )

√( ) ( )
( )

√( ) ( )
( )

√ ( )

√ ( ) √
√ ( )
thitung = 4,308
Untuk mencari nilai ttabel dengan df = 42 menggunakan cara sebagai berikut:

Rumus:

( ) ( )
207

( ) ( )

(Dibulatkan menjadi = 1,683)

5. Kriteria uji
Jika thitung ttabel, maka H0 diterima
Jika thitung > ttabel, maka H0 ditolak
6. Kesimpulan, thitung > ttabel = 4,308 > 1,683, Maka H0 ditolak dan Ha diterima.
Artinya Rata-rata kemampuan pemahaman kemampuan konsep pecahan
siswa dengan menggunakan pembelajaran matematika realistik lebih
baik dari rata-rata kemampuan pemahaman konsep pecahan yang
menggunakan model pembelajaran konvensional.
208

Lampiran 17
209
210
211
212
213
214

Lampiran 18
215
216
217
218
219
220
221
222

Lampiran 19

Surat Izin Penelitian


223

Lampiran 20

Surat Balasan Penelitian


224

Lampiran 21

Surat Balasan Uji Coba


225

Lampiran 22

Surat Balasan Validasi


226

Lampiran 23

Uji coba penelitian


227

Lampiran 24

Penelitian Di Kelas Eksperimen


228
229

Lampiran 25

Pembelajaran Di Kelas Kontrol


230

Lampiran 26

Pedoman wawancara

PEDOMAN WAWANCARA

Nama Narasumber : Bu Gadis Nabila,S.Pd.


Jabatan : Guru kelas VA
Tempat : SDN 2 Pringsewu Timur
Hari/tanggal : Rabu / 01 Apri 2024

NO Pertanyaan Wawancara Jawaban Narasumber


1 Ada berapa jumlah siswa di 27 siswa
kelas VA?
2 Kurikulum apa yang digunakan Kurikulum K-13
dalam pembelajaran di kelas V?
3 Berapa standar penilaian untuk Standar penilaian untuk mata
mata pelajaran matematika? pelajaran matematika untuk setiap
materi yaitu sebesar 70.
4 Materi apa saja yang dipelajari Materi yang diantaranya yaitu:
pada mata pelajaran pecahan,bskala dan perbandingan,
matematika? bangun ruang, dan statistika
5 Menurut pandangan ibu sebagai Materi yang sulit dipelajari oleh
wali kelas sekaligus guru siswa yaitu tentang pecahan.
matematika, materi apa yang
sulit untuk dipelajari oleh
siswa?
6 Apakah nilai matematika pada Belum semua, hanya ada beberapa
materi pecahan sudah mencapai siswa yang sudah mencapai standar
standar penilain? penilain dan masih banyak siswa
yang nilainya dibawah standar
penilaian
231

7 Metode pembelajaran apa yang Metode pembelajaran yang


digunakan dalam pembelajaran digunakan yaitu metode ceramah
matematika?
8 Media pembelajaran apa yang Media pembelajaran yang
digunakan dalam pembelajaran digunakan yaitu hanya buku paket
matematika pada materi saja
pecahan?
9 Apakah seluruh siswa fokus Tidak semua siswa fokus dalam
dalam mengikuti kegiatan mengikuti pembelajran hanya
pembelajaran? beberapa siswa saja yang mengikuti
pembelajaran dengan fokus da nada
juga siswa yang tidak fokus
10 Apakah ibu sudah mengenal Saya belum terlalu mengenal istilah
istilah pembelajaran matematika tersebut
realistik?
11 Apakah ibu sebelumnya sudah Saya belum pernah menerapkan
pernah menerapkan pembelajaran matematika
pembelajaran matematika khususnya pada materi pecahan
khususnya pada materi pecahan dengan budaya setempat siswa
berbasis budaya setempat
siswa?
12 Menurut pendapat ibu apakah Menurut saya siswa belum terlalu
siswa sudah mengenal dan mengenal dan memahami budaya
memahmi budaya setempat setempat apalagi makanan
seperti makanan tradisional
tradisioanl/khas?
13 Menurut pendapat ibu apakah Menurut saya efektif karena
pembelajaran matematika pembelajaran matematika realistik
realistik berbasis budaya berbasis budaya lampung dapat
lampung efektif jika diterapkan memudahkan siswa dalam
232

dalam pembelajaran matematika memahami materi pecahan dalam


khususnya pada materi bentuk benda nyata. Dan
pecahan? pembelajaran tersebut dapat
mengenalkan siswa terhadap
kebudayaan yang ada didaerah
tempat tinggalnya.
Wali kelas VA

Gadis Nabila S.Pd.


233

PEDOMAN WAWANCARA

Nama Narasumber : Bpk Arki Haqromadhana ,S.Pd.


Jabatan : Guru kelas VB
Tempat : SDN 2 Pringsewu Timur
Hari/tanggal : Rabu / 01 Apri 2024

NO Pertanyaan Wawancara Jawaban Narasumber


1 Ada berapa jumlah siswa di 26 siswa
kelas VB?
2 Kurikulum apa yang digunakan Kurikulum K-13
dalam pembelajaran di kelas V?
3 Berapa standar penilaian untuk Standar penilaian untuk mata
mata pelajaran matematika? pelajaran matematika untuk setiap
materi yaitu sebesar 70.
4 Materi apa saja yang dipelajari Materi yang diantaranya yaitu:
pada mata pelajaran pecahan,bskala dan perbandingan,
matematika? bangun ruang, dan statistika
5 Menurut pandangan ibu sebagai Materi yang sulit dipelajari oleh
wali kelas sekaligus guru siswa yaitu tentang pecahan.
matematika, materi apa yang
sulit untuk dipelajari oleh
siswa?
6 Apakah nilai matematika pada Belum semua, hanya ada beberapa
materi pecahan sudah mencapai siswa yang sudah mencapai standar
standar penilain? penilain dan masih banyak siswa
yang nilainya dibawah standar
penilaian
7 Metode pembelajaran apa yang Metode pembelajaran yang
digunakan dalam pembelajaran digunakan yaitu metode ceramah
matematika?
234

8 Media pembelajaran apa yang Media pembelajaran yang


digunakan dalam pembelajaran digunakan yaitu hanya buku paket
matematika pada materi saja
pecahan?
9 Apakah seluruh siswa fokus Tidak semua siswa fokus dalam
dalam mengikuti kegiatan mengikuti pembelajran hanya
pembelajaran? beberapa siswa saja yang mengikuti
pembelajaran dengan fokus da nada
juga siswa yang tidak fokus
10 Apakah ibu sudah mengenal Saya belum terlalu mengenal istilah
istilah pembelajaran matematika tersebut
realistik?
11 Apakah ibu sebelumnya sudah Saya belum pernah menerapkan
pernah menerapkan pembelajaran matematika
pembelajaran matematika khususnya pada materi pecahan
khususnya pada materi pecahan dengan budaya setempat siswa
berbasis budaya setempat
siswa?
12 Menurut pendapat ibu apakah Menurut saya siswa belum terlalu
siswa sudah mengenal dan mengenal dan memahami budaya
memahmi budaya setempat setempat apalagi makanan
seperti makanan tradisional
tradisioanl/khas?
13 Menurut pendapat ibu apakah Menurut saya efektif karena
pembelajaran matematika pembelajaran matematika realistik
realistik berbasis budaya berbasis budaya lampung dapat
lampung efektif jika diterapkan memudahkan siswa dalam
dalam pembelajaran matematika memahami materi pecahan dalam
khususnya pada materi bentuk benda nyata. Dan
pecahan? pembelajaran tersebut dapat
235

mengenalkan siswa terhadap


kebudayaan yang ada didaerah
tempat tinggalnya.

Wali kelas VB

Arki Haqromadhana S.Pd


236

PEDOMAN WAWANCARA

Nama Narasumber : Bu Dwi Cahya Oktaviani,S.Pd.


Jabatan : Guru kelas VC
Tempat : SDN 2 Pringsewu Timur
Hari/tanggal : Rabu / 01 Apri 2024

NO Pertanyaan Wawancara Jawaban Narasumber


1 Ada berapa jumlah siswa di 26 siswa
kelas VC?
2 Kurikulum apa yang digunakan Kurikulum K-13
dalam pembelajaran di kelas V?
3 Berapa standar penilaian untuk Standar penilaian untuk mata
mata pelajaran matematika? pelajaran matematika untuk setiap
materi yaitu sebesar 70.
4 Materi apa saja yang dipelajari Materi yang diantaranya yaitu:
pada mata pelajaran pecahan,bskala dan perbandingan,
matematika? bangun ruang, dan statistika
5 Menurut pandangan ibu sebagai Materi yang sulit dipelajari oleh
wali kelas sekaligus guru siswa yaitu tentang pecahan.
matematika, materi apa yang
sulit untuk dipelajari oleh
siswa?
6 Apakah nilai matematika pada Belum semua, hanya ada beberapa
materi pecahan sudah mencapai siswa yang sudah mencapai standar
standar penilain? penilain dan masih banyak siswa
yang nilainya dibawah standar
penilaian
7 Metode pembelajaran apa yang Metode pembelajaran yang
digunakan dalam pembelajaran digunakan yaitu metode ceramah
matematika?
237

8 Media pembelajaran apa yang Media pembelajaran yang


digunakan dalam pembelajaran digunakan yaitu hanya buku paket
matematika pada materi saja
pecahan?
9 Apakah seluruh siswa fokus Tidak semua siswa fokus dalam
dalam mengikuti kegiatan mengikuti pembelajran hanya
pembelajaran? beberapa siswa saja yang mengikuti
pembelajaran dengan fokus da nada
juga siswa yang tidak fokus
10 Apakah ibu sudah mengenal Saya belum terlalu mengenal istilah
istilah pembelajaran matematika tersebut
realistik?
11 Apakah ibu sebelumnya sudah Saya belum pernah menerapkan
pernah menerapkan pembelajaran matematika
pembelajaran matematika khususnya pada materi pecahan
khususnya pada materi pecahan dengan budaya setempat siswa
berbasis budaya setempat
siswa?
12 Menurut pendapat ibu apakah Menurut saya siswa belum terlalu
siswa sudah mengenal dan mengenal dan memahami budaya
memahmi budaya setempat setempat apalagi makanan
seperti makanan tradisional
tradisioanl/khas?
13 Menurut pendapat ibu apakah Menurut saya efektif karena
pembelajaran matematika pembelajaran matematika realistik
realistik berbasis budaya berbasis budaya lampung dapat
lampung efektif jika diterapkan memudahkan siswa dalam
dalam pembelajaran matematika memahami materi pecahan dalam
khususnya pada materi bentuk benda nyata. Dan
pecahan? pembelajaran tersebut dapat
238

mengenalkan siswa terhadap


kebudayaan yang ada didaerah
tempat tinggalnya.

Wali kelas VC

Dwi Cahya Oktaviani S.Pd


NIP. 19941003 2022212 008
239

Lampiran 27

DAFTAR NILAI ULANGAN HARIAN KELAS V


SDN 2 PRINGSEWU TIMUR
TAHUN 2023/2024

KELAS VA

N0 NAMA MTK

1 Adnan Dimyati Wijaya 50


2 Ainul Iza Masruroh 50
3 Arcelia Mazea Romli 55
4 Atika Wulandari 55
5 Berlian Pradita Putri 80
6 Brayn Steven Halim 65
7 Dzakivah Azzah R 65
8 Egi Melgiansyah 50
9 Fahmy Keyzza Ramadhan S 60
10 Farah Andini 65
11 Fazila Raidah Asshabira 65
12 Hafizah Khaira Lubna 80
13 Kenzo Al Jauha Sadegha 55
14 Khadijah 75
15 M. Abdan Syakuro 65
16 Monada Cahaya Azzahra 60
17 Muhamad Refa Pratama 55
18 Nadia Oktavia Marvella 80
19 Naufal Adlu Hafizh 60
20 Qonita Azkia 65
21 Queen Balqista Azra 75
22 Rangga Andreas Saputra 50
23 Revano Caesar Ar-Rizky 50
24 Rino Syifano Al-Manaf 75
25 Syifa Aulia Nabila 80
26 Villi Virginia 70
27 Zahran Fairuz 75
Wali kelas VA

Gadis Nabila S.Pd.


240

KELAS VB

N0 NAMA MTK

1 Aisyah Azahra 70
2 Arif Budiono 50
3 Arya Perdana 50
4 Ausillia Azzahra 60
5 Dzakiyah Talita Sakhi 55
6 Fandi Denian Saputra 50
7 Felisha Zhafira 70
8 Finka Alya Febriana 75
9 Iqbal Putrawan 50
10 Ivander Alvaro Bayu A 55
11 M. Taufik Andi Rahman 65
12 Marfel Rafa Al Ramadhan 65
13 Miftah Ayu Kinasih 65
14 Muhamad Ferdiansyah 50
15 Naifa Aulia Khairunnisa 75
16 Naji Naufal Saputra 50
17 Nasywa Khairunnisa 80
18 Naufal Fali Asyafiq 60
19 Rasya Suciati 75
20 Ridho Tegar Syahputra 65
21 Dzazkia Maulia Ramadhani 60
22 Aisyah Azahra 70
23 Reyhan Paksi Jaladara 55
24 Risda Ayu Kusuma 70
25 Sena Kurniawan S. 50
26 Zahra Tunnisa Mardatila 80

Wali kelas VB

Arki Haqromadhana S.Pd


241

KELAS VC

N0 NAMA MTK

1 Afika Naura Zakiya 65


2 Akbar Mudaffa 50
3 Alfi Alkhaf Fayeza 60
4 Aqila Dzaskia 75
5 Azsyfa Auriel Putri 70
6 Cahya Fatima Al Murtafi 70
7 Dhastan Witama 60
8 Dhzakiyah Putri Ardini 65
9 Fadly Ahksan Aulia 60
10 Handa Riyatul Musyarafah 60
11 Irdina Ramadhani 50
12 Kharisma Zahwa Aulia 70
13 M.Yudhistira Ramadhan 65
14 Maurellya Chandra Puspita 70
15 M. Raditya Putra 75
16 Nasywa Wikrama 75
17 Rafardhan Nararya Al Fatih 60
18 Rakha Ananda Pratama 65
19 Rasya Aditya 60
20 Razita Rizqullah Inggita 70
21 Rendi Saputra 75
22 Wahyu Saputra 60
23 Evil Asyaqi Nayto 55
24 Safira Julia Musa 60
25 Aysha Mutiara Saputri 65
26 Rahma Anastasya 65

Wali kelas VC

Dwi Cahya Oktaviani S.Pd

NIP. 19941003 2022212 008


242

Lampiran 28

Surat Pengantar Pra penelitian


243

Lampiran 29

Surat Balasan Pra Penelitian


244

Lampiran 30

Blangko Konsultasi Bimbingan 1


245
246

Lampiran 31

Blangko Konsultasi Bimbingan 2


247
248
249

Anda mungkin juga menyukai