PENGARUH PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK
BERBANTUAN MAKANAN KHAS LAMPUNG TERHADAP
KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP PECAHAN KELAS V DI SDN 2
PRINGSEWU TIMUR
SKRIPSI
OLEH:
TYAS PURNAMI
2021406405093
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIIDKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PRINGSEWU LAMPUNG
2025
PENGARUH PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK
BERBANTUAN MAKANAN KHAS LAMPUNG TERHADAP
KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP PECAHAN KELAS V DI SDN 2
PRINGSEWU TIMUR
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana
pendidikan
OLEH:
TYAS PURNAMI
2021406405093
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIIDKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PRINGSEWU LAMPUNG
2025
ii
ABSTRAK
PENGARUH PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK
BERBANTUAN MAKANAN KHAS LAMPUNG TERHADAP
KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP PECAHAN KELAS V DI SDN 2
PRINGSEWU TIMUR
Sulitnya siswa dalam memahami materi pecahan yang disampaikan guru,
karena guru belum menggunakan model pembelajaran yang sesuai dengan
karakteristik siswa. Penerapan model pembelajaran yang tepat, mudah dipahami
dan menyenangkan sehingga siswa mampu belajar dengan baik. Tujuan dari
penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh pembelajaran matematika realistik
berbantuan makanan khas lampung terhadap kemampuan pemahaman konsep
pecahan kelas V Di SDN 2 Pringsewu Timur.
Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif menggunakan jenis eksperimen
yang digunakan yaitu Pre-Eksperimen Desain. Populasi penelitian ini adalah
siswa kelas V SDN 2 Pringsewu Timur. Dengan sampel penelitan kelas VA
sebagai kelas eksperimen dan kelas VC sebagai kelas kontrol. Penentuan sampel
dengan cara cluster random sampling. Instrument yang digunakan berupa tes
uraian untuk menjawab hipotesis. Teknik analiss data yang digunakan dalam uji
normalitas dan uji homogenitas dilanjutkan dengan uji hipotesis menggunakan
uji-t.
Hasil analisis uji t- dua pihak diperoleh nilai 4,038 2,019 yang berarti
menolak bahwa terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar kemampuan
pemahaman konsep pecahan siswa yang menggunakan model pembelajaran
matematika realistik berbantuan makanan khas lampung dan model pembelajaran
konvensional dan uji- satu pihak diperoleh nilai 4,038 1,683 yang berarti
menolak bahwa terdapat pengaruh yang lebih baik antara rata-rata hasil belajar
siswa yang menggunakan model pembelajaran matematika realistik berbantuan
makanan khas lampung dan rata-rata hasil belajar siswa yang menggunakan
model pembelajaran konvensional kelas V SDN 2 Pringsewu Timur.
Kata Kunci : Model Pembelajaran Realistik, Makanan Khas Lampung,
Kemampuan Pemahaman Konsep Pecahan
iii
vi
vii
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS
Yang bertanda tangan dibawah ini, saya:
Nama : TYAS PURNAMI
NPM : 202I406405093
Program Studi : Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Fakultas : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Univeritas Muhammadiyah Pringsewu Lampung
Menyatakan bahwa skripsi yang saya tulis ini benar-benar murni gagasan,
penulisan dan rumusan saya sendiri, tanpa bantuan tidak sah dari pihak lain,
kecuali arahkan dari tim pembimbing.
Karya tulis saya buat ini tidak terdapat hasil karya maupun pendapat yang telah
ditulis maupun dipublikasikan orang lain, kecuali dikutip secara tertulis dengan
jelas dan dicantumkan sebagai acuan dalam naskah saya dengan disebutkan nama
pengarangnya serta dicantumkan daftar kepustakaan.
Pringsewu, ……………….
Yang menyatakan
TYAS PURNAMI
2021406405093
viii
HALAMAN PERNYATAAN PUBLIKASI
Sebagai sivitas akademik FKIP Universitas Muhammadiyah Pringsewu Lampung,
saya yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama : TYAS PURNAMI
NIM : 2021406405093
Program Studi : Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Jenis Karya : Skripsi
Judul : Pengaruh Pembelajaran Matematika Realistik Berbantuan
Makanan Khas Lampung Terhadap Kemampuan Pemahaman
Konsep Pecahan Kelas V Di Sdn 2 Pringsewu Timur
Guna pengembangan ilmu pengetahuan pendidikan, menyetujui memberikan
kepada Universitas Muhammadiyah Pringsewu Lampung tanpa menuntut ganti
rugi berupa materi atas karya ilmiah saya yang berjudul: Pengaruh
Pembelajaran Matematika Realistik Berbantuan Makanan Khas Lampung
Terhadap Kemampuan Pemahaman Konsep Pecahan Kelas V Di SDN 2
Pringsewu Timur.
Dengan pernyataan ini Universitas Muhammadiyah Pringsewu Lampung berhak
menyimpan, mengalih mediakan dalam bentuk format yang lain, mengelola dalam
bentuk pangkalan data (database), merawat, dan mempublikasikan tugas akhir
saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis atau pencipta dan
sebagai pemilik hak atas karya.Demikian pernyataan ini saya buat dengan
sebenarnya.
Dibuat di : Pringsewu
Pada tanggal : ……………..
Yang menyatakan
TYAS PURNAMI
2021406405093
ix
HALAMAN PERSEMBAHAN
Puji dan syukur kehadirat Allah Subhanahuwata’ala yang telah memberikan
rahmat, taufik, hidayah, dan kemudahan-Nya. Sholawat serta salam saya haturkan
kepada Nabi Muhammad Sholallahu’alaihiwassallam.
Dari hati yang terdalam, skripsi ini penulis persembahkan kepada:
1. Cinta pertama dan panutanku, Ayahanda Syahroni. Terimakasih atas doa
yang tak pernah henti, pengorbanan tanpa pamrih, dan cinta yang tak
ternilai. Kebijaksanaanmu telah mengajarkan saya arti perjuangan,
kesabaran, dan ketulusan dalam menghadapi kehidupan.
2. Pintu surgaku, ibunda tercintaku ibu Yuningsih. Sosok penuh kasih yang
selalu menjadi pelita dalam gelap, support sistem terbaikku, dan kekuatan
di setiap doa yang terucap. Terimakasih atas kesabaran tanpa batas, cinta
yang tulus, dan pengorbanan yang tak pernah terhitung. Engaku adalah
alasan saya untuk terus melangkah, menggapai mimpi, dan menjadi
pribadi yang lebih baik.
3. Adikku tercinta Rafi Ramadhan. Satu-satunya saudara laki-laki yang selalu
menjadi penyemangat dan pengingat akan pentingnya arti keluarga..
4. Keluarga besar yang selalu memberikan kasih sayang, semangat, motivasi
dan do’a selama proses ini. Kehangatan keluarga menjadi sumber
kekuatan di setiap langkah.
5. Sahabat-sahabat tersayang, calon penghuni surga (Amalia Indah, Fatnur
Laeli, Serly Dwi S, Heni Astriana, Siti Wulan, Novera, Nanda Ardiansyah,
x
Diki Praditya, Tegar Ramadoni, Panca Dewa S, Ariel Fajar R) Yang selalu
hadir sebagai sumber tawa, dukungan, dan semangat. Terima kasih untuk
setiap momen berharga yang telah kita lewati bersama, untuk bahu yang
selalu siap menopang, dan untuk kata-kata penyemangat yang tak pernah
habis. Kalian adalah keluarga yang saya pilih sendiri, dan perjalanan ini
terasa lebih ringan karena kehadiran kalian. Semoga kebersamaan kita
terus abadi dan menjadi kenangan indah sepanjang hidup.
6. Kepada teman-teman KKN tersayang Okta Fellisha, Sekar Pramesti,
Ridho wicaksono dan M Galih, Terimakasih telah menjadi keluarga
selama masa pengabdian. Setiap momen berharga bersama kalian adalah
kenangan yang selalu saya ingat. Semoga langkah kita kedepan selalu
penuh keberkahan dan kesuksesan.
7. Untuk diriku sendiri, yang telah bertahan di setiap lelah, ragu, keringat dan
air mata. Terimakasih telah terus melangkah. Meskipun berat, Ini adalah
bukti bahwa mimpi dan usaha tak pernah mengkhianati.
8. Almamaterku Tercinta Universitas Muhammadiyah Pringsewu Lampung
xi
MOTTO
“Kalau anda tidak bisa membantu banyak orang, bantulah beberapa orang, kalau
beberapa orang pun anda tidak bisa bantu, bantulah satu orang. Kalau satu orang
pun anda tidak bisa bantu, minimal jangan menyulitkan,menyusahkan apalagi
menyakiti orang lain.”
(Prabowo Subianto)
“ Tidak usah membenarkan diri kesana kemari agar engkau dikagumi, jika
perkataan dan perilaku mu benar dari hati, maka diam mu pun akan dihormati dan
disegani”
(Prabowo Subianto)
xii
RIWAYAT HIDUP PENULIS
Tyas Purnami lahir di Sidodadi pada tanggal 15 Juni 2003, anak pertama dari
pasangan Bapak Syahroni dan Ibu Yuiningsih.
Pendidikan yang pernah ditempuh:
1. TK Pengayunan lulus pada tahun 2008
2. SD N 2 Sidodadi lulus pada tahun 2015
3. SMP N 2 Gadingrejo lulus pada tahun 2018
4. SMA N 2 Gadingrejo lulus pada tahun 2021
5. Tahun 2021 hingga 2024 tercatat sebagai Mahasiswa Program Studi
Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Pringsewu
Lampung.
xiii
KATA PENGANTAR
Segala puji syukur penulis ucapkan terimakasih kepada allah SWT yang
berkehendak atas segala sesuatu yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi. skripsi ini disusun sebagai salah
satu syarat untuk memenuhi mata kuliah skripsi.
Penulis akan melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Pembelajaran
Matematika Realistik Berbantuan makanan khas lampung Terhadap Kemampuan
Pemahaman Konsep Pecahan Kelas V Di SDN 2 Pringsewu Timur”. Penulis
menerima banyak masukan, arahan, bimbingan, motivasi, bantuan dari berbagai
pihak. Sehubungan dengan hal itu, penulis mengucapkan terimakasih kepada :
1. Nrs. Arena Lestari,M.Kep.,Sp.Kep.J.,Ph.D selaku rektor Universitas
Muhammadiyah Pringsewu Lampung.
2. Nurfaizal, M.Pd selaku Dekan FKIP Universitas Muhammadiyah
Pringsewu Lampung.
3. Yunni Arnidha, M.Pd selaku Ketua Program Studi Pendidikan Guru
Sekolah Dasar FKIP Universitas Muhammadiyah Pringsewu
Lampung.
4. Robia Astuti,M.Pd selaku dosen pembimbing I yang telah memberikan
dorongan serta memberi banyak ilmu dalam penulisan proposal
peneliitian ini.
xiv
5. Deny Apriyani Juhri,M.Pd selaku dosen pembimbing II yang telah
memberikan dorongan serta memberi banyak ilmu dalam penulisan
proposal penelitian ini.
6. Gadis Nabilah, S.Pd., Selaku Guru Wali Kelas VA Kelas eksperimen
UPT SDN 2 Pringsewu Timur dan sebagai Validator butir soal dalam
penelitian ini.
7. Dwi cahya oktaviani, S.Pd., Selaku Guru Wali Kelas VC Kelas
Kontrol UPT SDN 2 Pringsewu Timur dan sebagai Validator butir soal
dalam penelitian ini.
8. Bapak dan Ibu Dosen serta segenap staf dan karyawan Universitas
Muhammadiyah Pringsewu Lampung.
9. Deni Mulyadi, S.Pd., Selaku Kepala Sekolah UPT SDN 2 Pringsewu
Timur sebagai sekolah tempat penelitian.
kepada penulis mendapatkan ridho dari Allah SWT. Penulis menyadari
bahwa dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu,
segala kritik dan saran yang membangun sangatlah penulis harapkan untuk
perbaikan di masa mendatang.
Pringsewu, 24 Januari 2025
Tyas Purnami
2021406405093
xv
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ............................................................................... i
HALAMAM JUDUL ................................................................................ ii
ABSTRAK ................................................................................................ iii
HALAMAN PERSETUJUAN ................................................................ iv
HALAMAN PENGESAHAN ................................................................... v
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ................................... vi
HALAMAN PERNYATAAN PUBLIKASI .......................................... vii
HALAMAN PERSEMBAHAN ............................................................ viii
MOTTO ..................................................................................................... x
RIWAYAT HIDUP PENULIS ................................................................ xi
KATA PENGANTAR ............................................................................. xii
DAFTAR ISI ........................................................................................... xiv
DAFTAR TABEL .................................................................................. xvi
DAFTAR GAMBAR ............................................................................. xvii
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................ xviii
BAB I PENDAHULUAN .......................................................................... 1
A. Latar Belakang ................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................... 6
C. Tujuan Penelitian ............................................................................ 6
D. Ruang Lingkup Penelitian ............................................................... 6
E. Manfaat Penelitian .......................................................................... 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................... 9
A. Kajian Teori .................................................................................... 9
B. Penelitian Yang Relevan ............................................................... 37
C. Kerangka Konsep .......................................................................... 41
D. Hipotesis........................................................................................ 44
xvi
BAB III METODE PENELITIAN ........................................................ 45
A. Jenis Dan Desain Penelitian .......................................................... 45
B. Populasi Dan Sampel Penelitian ................................................... 45
C. Definisi Operasional Variabel ....................................................... 46
D. Teknik Dan Instrument Pengumpulan Data .................................. 47
E. Validitas Dan Reliabilitas ............................................................. 50
F. Teknik Analisis Data ..................................................................... 55
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................ 61
A. Hasil penelitian.............................................................................. 61
B. Analissi data .................................................................................. 66
C. Pembahasan ................................................................................... 79
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .................................................. 82
A. Kesimpulan ................................................................................... 82
B. Saran ............................................................................................. 82
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................. 84
LAMPIRAN ............................................................................................. 88
xvii
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Data Nilai Ulangan Harian Konsep Pecahan Siswa Kelas V
SDN 2 Pringsewu Timur Tahun Ajaran 2023/2024 Semester
Ganjil. ........................................................................................ 2
Tabel 1.2 Intaq Group Comparison .............................................................. 45
Tabel 1.3 Data Siswa Kelas V SDN 2 Pringsewu Timur ............................. 46
Tabel 1.4 Pedoman Penskoran Kemampuan Pemahaman Konsep .............. 48
Tabel 1.5 Kriteria indeks daya pembeda ...................................................... 52
Tabel 2.1 Kriteria indeks tingkat kesukaran ................................................. 53
Tabel 2.2 kriteria indeks korelasi ................................................................ 54
Tabel 2.3 Hasil Tes Uji Coba Instrumen ...................................................... 61
Tabel 2.4 Hasil Tes Uji Validitas Instrumen ................................................ 62
Tabel 2.5 Hasil Tes Uji Daya Beda .............................................................. 63
Tabel 3.1 Kriteria Tingkat Kesukaran .......................................................... 64
Tabel 3.2 Hasil Indeks Tingkat Kesukaran .................................................. 64
Tabel 3.3 Penetapan instrument pemecahan masalah matematika .............. 65
Tabel 3.4 Hasil Realibilitas .......................................................................... 66
Tabel 3.5 Hasil Analisis Data Hasil Belajar Eksperimen Dan Kontrol ....... 67
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Data Hasil Belajar Kelas Eksperimen ......... 68
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Data Tes Akhir Hasil Belajar Kelas
Kontrol ......................................................................................... 70
Tabel 4.3 Stastistik Hasil Belajar Kelas Eksperimen Dan Kontrol .............. 72
Tabel 4.4 Hasil Uji Normalitas Data ............................................................ 74
Tabel 4.5 Uji Homogenitas .......................................................................... 75
xviii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Sekubal……………. ........................................................... 31
Gambar 1.2 Bebai Maghing……. ..................................................... …..31
Gambar 1.3 Lapis Legit………….. ......................................................... 32
Gambar 1.4 Engkak Lampung….. ........................................................... 33
Gambar 1.5 Kerangka Konsep ………. ….............................................. 43
Gambar 2.1 Diagram Nilai Tes Akhir Hasil Belajar Kelas Eksperimen . 69
Gambar 2.2 Diagram Nilai Tes Akhir Hasil Belajar Kelas Kontrol ........ 71
Gambar 2.3 Nilai Tes Akhir Belajar Kelas Eskpermen.......................... 73
Gambar 2.4 Nilai Tes Akhir Belajar Kelas Kontrol ................................ 73
xix
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Modul Ajar Kelas Eksperimen ............................................ 89
Lampiran 2 Modul Ajar Kelas Kontrol ................................................. 113
Lampiran 3 ATP Dalam Rangka Pengembangan Perangkat Ajar ........ 131
Lampiran 4 Kisi-Kisi Soal Instrument Penelitian ................................. 134
Lampiran 5 Lembar Soal Uji Coba Instrumen ..................................... 136
Lampiran 6 Kunci Jawaban…….. ......................................................... 139
Lampiran 7 Lembar Soal Tes……. ....................................................... 152
Lampiran 8 Perhitungan uji validitas soal ............................................. 154
Lampiran 9 Daya Pembeda……….. ..................................................... 173
Lampiran 10 Tingkat Kesukaran ........................................................... 178
Lampiran 11 Uji Reliablitas .................................................................. 182
Lampiran 12 Uji Normalitas Kelas Eksperimen ................................... 186
Lampiran 13 Uji Normalitas Kelas Kontrol .......................................... 193
Lampiran 14 Uji Homogenitas .............................................................. 200
Lampiran 15 Uji-T Dua Pihak ............................................................... 202
Lampiran 16 Uji-T Satu Pihak .............................................................. 205
Lampiran 17 Lembar Validasi Modul Ajar ........................................... 208
Lampiran 18 Lembar Validasi Soal Tes ................................................ 214
Lampiran 19 Surat Izin Penelitian ......................................................... 222
Lampiran 20 Surat Balasan Penelitian .................................................. 223
Lampiran 21 Surat Balasan Uji Coba Penelitian ................................... 224
Lampiran 22 Surat Balasan Validasi .................................................... 225
Lampiran 23 Uji Coba Penelitan ........................................................... 226
Lampiran 24 Pembelajaran Di Kelas Kesperimen ................................ 227
Lampiran 25 Pembelajaran Di Kelas Kontrol ....................................... 229
Lampiran 26 Pedoman wawancara ....................................................... 230
Lampiran 27 Daftar Nilai Ulangan Harian Kelas V Sdn 2 Pringsewu
Utara Tahun 2023/2024 ................................................... 239
Lampiran 28Surat Pengantar Pra penelitian .......................................... 242
xx
Lampiran 29 Surat Balasan Pra Penelitian………. ............................... 243
Lampiran 30 Blangko Konsultasi Bimbingan 1 ……………………. 244
Lampiran 31 Blangko Konsultasi Bimbingan 2 ……………………. 246
xxi
1
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pembelajaran matematika merupakan proses dimana siswa memperoleh
pengetahuan, keterampilan, dan pemahaman konsep matematika melalui
berbagai metode dan strategi pembelajaran yang sesuai dengan tingkat
perkembangan siswa. Hal ini melibatkan penggunaan aktivitas yang
mendorong pemahaman konsep dan penerepan dalam konteks nyata.
Pembelajaran matematika adalah salah satu aspek penting dalam pendidikan,
Pembelajaran matematika di sekolah dasar memiliki cakupan materi yang
sangat beragam salah satunya konsep pecahan.
Konsep pecahan berhubungan dengan kehidupan sehari-hari siswa
misalnya seorang siswa yang mempunyai satu buah coklat dan membagi
sebatang coklat tersebut menjadi empat bagian yang sama untuk dibagikan
kepada teman-temannya, selain untuk membagi makanan konsep pecahan juga
digunakan dalam berbagai aktivitas lain seperti mengukur bahan saat akan
membuat kue, mengatur waktu untuk belajar dan bermain serta memahami
pecahan nilai mata uang sebagai alat pembayaran dalam kehidupan sehari-
hari. Konsep pecahan ini membantu siswa untuk memahami bagaimana
membagi sesuatu secara adil dan proposional serta dapat menerapkan
matematika dalam situasi nyata.
Konsep pecahan belum dipahami secara maksimal oleh siswa kelas V di
SD Negeri 2 pringsewu timur, hal tersebut dapat diihat dari pemahaman
konsep pecahan pada nilai ulangan harian materi pecahan dibawah ini :
2
Tabel 1.1 Data Nilai Ulangan Harian Konsep Pecahan Siswa Kelas V
SDN 2 Pringsewu Timur Tahun Ajaran 2023/2024 Semester Ganjil.
Kelas Keterangan
V Tuntas Tidak tuntas
X 100 X 70
Jumlah presentase Jumlah Presentase
siswa siswa
27 34% 52 66%
Jumlah 79
siswa
Sumber : Data Nilai Ulangan Harian Siswa Kelas V SDN 2 Prinsewu Timur
Data nilai pada tabel 1.1 diketahui bahwa hasil nilai ulangan harian
konsep pecahan mata pelajaran matematika kelas V SDN 2 Pringsewu Timur
belum mencapai standar penilaian yaitu 70. Hal tersebut dapat diketahui dari
presentase nilai. Jumlah keseluruhan siswa kelas V yaitu 79 siswa. Dari 79
siswa hanya 27 siswa yang tuntas dengan presentase 34% dan 52 siswa tidak
tuntas dengan presentase nilai 66%. Melalui data tersebut dapat disimpulkan
bahwa kemampuan pemahaman konsep siswa pada materi pecahan belum
tuntas. Hal ini menjadi permasalah terhadap kemampuan pemahaman konsep
pecahan siswa .
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan dengan guru
kelas V diketahui bahwa rendahnya kemampuan pemahaman konsep siswa
disebabkan oleh beberapa faktor yaitu: 1). guru belum menggunakan model
pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa sekolah dasar. Menurut
piaget siswa SD yang berada pada usia 7-12 tahun masih berada pada tahap
operasional konkrit yang belum dapat berpikir abstrak atau formal (Hastuti
dkk, 2019). Mereka pada usia ini masih belum dapat berpikir secara abstrak
sehingga orientasinya masih terkait dengan objek-objek, peristiwa atau
pengalaman pribadi yang langsung dialami. 2). Siswa kurang menguasai
3
indikator pemahaman konsep matematika. Indikator pemahaman konsep
matematika menurut Zuliana (2017) yaitu (1) menyatakan ulang sebuah
konsep, (2) mengkasifikasikan objek-objek menurut sifat-sifat tertentu, (3)
memberikan contoh dan non contoh dari konsep, (4) menyajikan konsep
dalam berbagai bentuk representasi matematika, (5) mengembangkan syarat
perlu atau syarat cukup suatu konsep, (6) menggunakan, memanfaatkan, dan
memilih prosedur atau operasi tertentu, (7) mengaplikasikan konsep atau
algoritma pemecahan masalah.
Berdasarkan pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa permasalahan
yang terjadi dalam pembelajaran matematika pada pemahaman konsep yaitu
banyak siswa yang belum menguasai indikator pemahaman konsep. Sebagain
siswa sudah mampu menyatakan ulang sebuah konsep, siswa masih
kebingungan untuk mengenali objek berdasarkan sifatnya, siswa dengan
bantuan guru mampu membedakan contoh dan bukan contoh, siswa kesulitan
mengartikan soal terutama soal yang berbentuk cerita dan tidak mampu
memodelkan pertanyaan dalam bentuk matematika. Hal ini sejalan dengan
Suartama (2016), bahwa ternyata masih banyak siswa yang mengalami
kesulitan dalam menyelesaikan soal matematika dalam bentuk cerita,
memahami bahasa, apa yang ditanyakan dalam soal dan dalam perhitungan.
Berdasarkan wawancara dengan guru, siswa tidak bisa mengembangkan
syarat yang diperlukan karena masih terpaku dengan hapalan rumus, siswa
hanya meniru penyelesaian soal yang sama dengan guru, ketika diberikan soal
yang berbeda siswa masih kebingungan bagaimana cara menyelesaikannya.
Siswa banyak yang salah dalam perhitungan sehingga tidak tepat. Hasil
4
wawancara tersebut menunjukkan bahwa siswa kurang menguasai pemahaman
konsep karena rendahnya minat siswa dalam pembelajaran matematika. Hal
ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mukrimatin dkk (2018),
yang dilakukan di SD negeri Rau Kedung Jepara pada kelas V bahwa secara
umum siswa kurang minat dalam pembelajaran matematika, respon siswa
terhadap pembelajaran kurang dan hanya beberapa siswa yang mampu
mengikuti pembelajaran. Hal tersebut membuktikan bahwa kemampuan
pemahaman konsep siswa masih rendah.
Salah satu upaya peningkatan pemahaman konsep pecahan dengan
menggunakan model pembelajaran matematika realstik. Fatturrahman (2015),
menyatakan model Pembelajaran matematika realistik adalah model
pembelajaran matematika yang menggunakan situasi atau dunia yang nyata
atau suatu konsep yang real dan pengalaman siswa sebagai titik tolak belajar
matematika. Pendapat tersebut beetentangan dengan Wijaya (2021),
Permasalahan realistik tidak harus selalu berupa masalah yang ada di dunia
nyata dan bisa ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. jadi, suatu masalah
disebut realistik jika masalah tersebut dapat dibayangkan dalam pikiran siswa.
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran realistik adalah
pembelajaran yang dapat dibayangkan dalam pikiran ssiwa seolah-olah nyata
yang mampu membentuk pengetahuan siswa antara pengalaman yang telah
diperoleh dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun
demikian, pembelajaran matematika realistik mempunyai beberapa
kelemahan, salah satunya yakni membutuhkan waktu yang lama untuk siswa
5
menentukan jawabannya sendiri. Namun kelemahan tersebut dapat
diminimalisir dengan bantuan makanan tradisional.
Makanan tradisional dapat menjadi alat bantu yang efektif untuk
mengajarkan konsep pecahan dalam matematika. Penggunaan bantuan
makanan tradisional dapat membantu siswa untuk menemukan konsep sendiri
mengenai materi sebut. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
Nurrafifah dkk (2021), bahwa hasil pengamaatan dan tes hasil belajar siswa
materi pecahan dengan menggunakan konteks makanan tradisional diperoleh
bahwa siswa sangat antusias dan benar-benar menikmati proses pembelajaran
yang terjadi. Siswa benar-benar memahami konsep pecahan melalui
menggambar, memotong, membagi bahkan menemukan rumus dasar pecahan
serta siswa dapat menyelesaikan soal cerita yang berhubungan dengan
pecahan. Penelitian tersebut membuktikan bahwa penggunaan bantuan
makanan tradisional pada materi pecahan dapat meningkatkan pembelajaran
matematika dengan cara yang menyenangkan. Pembelajaran yang
menyenangkan akan berdampak pada peningkatan prestasi belajar siswa.
Berdasarkan pemaparan di atas Selain menggunakan model
pembelajaran matematika realistik, di zaman sekarang ini banyak siswa yang
tidak memahami dengan budaya dari tempat tinggalnya sendiri yaitu budaya
lampung. Salah satunya pada makanan tradisional lampung sehingga pada
penelitian ini ingin mengeksperimenkan sebuah model pembelajaran yang
sesuai dengan taraf kognitif siswa sekolah dasar yaitu matematika realistik
yang terintegrasi dengan makanan tradisional lampung. Berdasarkan
pemaparan di atas maka peneliti tertarik untuk malakukan penelitian dengan
6
judul “ pengaruh pembelajaran matematika realistik berbantuan makanan khas
lampung terhadap kemampuan pemahaman konsep pecahan di kelas V SDN 2
Pringsewu Timur”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah “Apakah terdapat pengaruh pembelajaran matematika
realistik berbantuan makanan khas lampung terhadap kemampuan pemahaman
konsep Pecahan di SDN 2 Pringsewu Timur”?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pembelajaran
matematika realistik berbantuan makanan khas lampung terhadap kemampuan
pemahaman konsep pecahan di SDN 2 Pringsewu Timur”
D. Ruang Lingkup Penelitian
Agar penelitian ini terarah dan terfokus pada pokok yang akan dibahas,
maka ruang lingkup masalah penelitian adalah sebagai berikut :
1. Pembelajaran matematika realistik berbantuan makanan khas lampung
dalam penelitian ini merupakan pembelajaran yang mengaitkan kebiasaan
atau kebudayaan yang ada di tempat tinggal peserta didik dengan konsep
matematika disekolah dasar.
2. Materi penelitian ini yaitu konsep pecahan
3. Subjek penelitian adalah siswa kelas V SDN 2 Pringsewu Timur.
4. Objek penelitian ini adalah kemampuan pemahaman konsep pecahan
5. Waktu penelitian dilaksanakan pada semester ganjil tahun ajaran
2024/2025.
7
6. Lokasi penelitian dilaksanakan di SDN 2 Pringsewu Timur pada tahun
2024.
E. Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik
secara teoritis maupun praktis. Adapun manfaat teoritis dan manfaat praktis
yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Manfaat teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah referensi ilmiah dalam
bidang matematika yang berkaitan dengan pengaruh pembelajaran
matematika realistik berbantuan makanan khas lampung terhadap
kemampuan pemahaman konsep pecahan dan bermanfaat untuk para
peneliti yang lainnya dalam mengembangkan penelitian yang serupa.
2. Manfaat praktis
1. Bagi Kepala sekolah
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan
masukan dan pertimbangan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran
di SDN 2 Pringsewu Timur.
2. Bagi pendidik
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan
pendidik dalam menerapkan variasi dalam proses pembelajaran
matematika yang tepat, agar kemampuan pemahaman konsep pecahan
peserta didik dapat tercapai dengan maksimal.
8
3. Bagi peneliti
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi pengalaman tersendiri
bagi peneliti serta sebagai sarana penerapan dan pengembangan
pegetahuan selama mengikuti proses belajar di bangku kuliah,
khususnya dalan penerapan pembelajaran matematika realistik berbasis
budaya lampung sebagai bekal dalam melakukan variasi dalam
pembelajaran.
9
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Kemampuan Pemahaman Konsep Pecahan
a. Pengertian Kemampuan Pemahaman Konsep Matematika
Salah satu tujuan yang diharapkan dalam pembelajaran
matematika merupakan kemampuan pemahaman konsep matematika
yang baik. Materi-materi pada mata pelajaran matematika saling
berkaitan satu sama lain, siswa dituntun untuk memiliki pemahaman
tentang materi prasyarat atau materi sebelumnya.
Menurut Ruqqoyah dkk (2020), pemahaman merupakan
kemampuan dalam mengambangkan suatu kondisi atau permasalahan
yang terjadi sedangkan konsep adalah ide atau gagasan yang
memungkinkan pendidik dalam mengelompokkan objek dalam suatu
contoh dan dapat diartikan bahwa konsep matematika bersifat abstrak
dan mengkasifikasikan objek atau kejadian.
Menurut Arnidha (2017), pemahaman konsep adalah kemampuan
dalam memahami konsep, operasi, dan relasi dalam matematika.
Pernyataan tersebut sejalan dengan pendapat Fahrudhin (2018), bahwa
pemahaman konsep adalah salah satu kemampuan atau kecakapan
dalam memahami serta menjelaskan suatu kondisi atau perlakuan
dalam kelas yang mempunyai sifat-sifat umum dalam matematika.
Menurut Batubara (2017), pemahaman konsep merupakan
kemampuan siswa yang berupa penugasan materi pelajaran agar siswa
10
mengetahui dan mengingat sejumlah konsep yang telah dipelajari,
dimengerti dan dapat diimplemantasikan sesuai dengan struktur
kognitif yang siswa miliki.
Berdasarkan keempat pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa
Kemampuan pemahaman konsep matematika adalah Kemampuan
yang mencakup aspek kognitif termasuk kemampuan
mengembangkan, mengelompokkan, mengklasifikasikan, serta
memahami operasi dan relasi matematika. Pemahaman ini penting
untuk menguasai dan menerapkan konsep matematika dalam berbagai
situasi, baik secara teoritis maupun praktis.
b. Indikator Kemampuan Pemahaman Konsep Matematika SD
Dalam mengukur kemampuan pemahaman konsep matematika,
dapat kita lihat dari soal-soal yang mempunyai indikator pemahaman
konsep matematika. Adapun indikator pemahaman konsep
matematika. Menurut Arrahim dan Widayanti (2018), indikator konsep
matematika diantaranya :
1) Menyatakan ulang konsep yang telah dipelajari.
2) Mengklasifikasikan objek-objek berdasarkan dipenuhi tidaknya
persyaratan yang membentuk konsep .
3) Mengidentifikasi sifat-sifat operasi atau konsep.
4) Menerapkan konsep secara logis.
5) Memberikan contoh atau contoh kontra.
6) Menyiapkan konsep dalam bentuk representasi.
7) Mengaitkan berbagai konsep dalam matematika maupun diluar.
11
8) Mengembangkan syarat perlu atau cukup suatu konsep.
Menurut Ruqoyyah dkk (2020), indikator kemampuan
pemahaman konsep matematika sebagai berikut:
1) Kemampuan menyatakan ulang konsep yang telah dipelajari.
2) Kemampuan mengkasifikasikan objek-objek berdasarkan dipenuhi
atau tidaknya persyaratan yang membentuk konsep.
3) Kemampuan menerapkan konsep secara algoritma.
4) Kemampuan memberikan contoh atau bukan contoh dari konsep
yang telah dipelajari.
5) Kemampuan menyajikan konsep dalam berbagai macam bentuk
representasi matematika.
Menurut Nuraeni dkk (2018), indikator kemampuan pemahaman
matematis yaitu:
1) Menyatakan ulang sebuah konsep.
2) Mengkasifikasikan objek menurut tertentu sesuai dengan sifatnya.
3) Mengidentifikasi contoh dan bukan contoh dari suatu konsep.
4) Menggunakan dan memanfaatkan serta memilih prosedur atau
operasi tertentu.
5) Mengaplikasikan konsep atau algoritma dalam pemecahan
masalah.
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas maka pada
penelitian ini indikator kemampuan pemahaman konsep yang akan
digunakan yaitu: menyatakan ulang sebuah konsep, mengkasifikasikan
12
objek menurut tertentu sesuai dengan sifatnya, mengidentifikasi contoh
dan bukan contoh dari suatu konsep, menggunakan dan memanfaatkan
serta memilih prosedur atau operasi tertentu, mengaplikasikan konsep
atau algoritma dalam pemecahan masalah.
c. Konsep Pecahan
Kemampuan pemahaman konsep matematika merupakan
kemampuan yang dimiliki siswa, untuk menyelesaikan suatu
permasalahan atau soal-soal matematika. Seseorang dapat dikatakan
menguasai suatu pemahaman konsep apabila memenuhi indikator-
indikator pemahaman konsep. indikator merupakan sesuatu yang dapat
memberikan petunjuk atau keterangan dan pedoman bagi pengguna
dalam menyusun alat ukur. Terdapat beberapa indikator pemahaman
konsep yaitu menyatakan ulang sebuah konsep, mengklasifikasikan
objek-objek menurut sifat-sifat tertentu, memberikan contoh dan bukan
contoh dari suatu konsep, menggunakan, memanfaatkan, dan memilih
prosedur atau operasi tertentu, mengaplikasikan konsep atau algoritma
pemecahan masalah, menyajikan konsep dalam berbagai bentuk
representasi, mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup suatu
konsep. Indikator-indikator pemahaman konsep tersebut harus dikuasai
oleh siswa. Tetapi Siswa kelas V di SDN 2 pringsewu timur belum
menguasai indikator-indikator pemahaman konsep matematika dengan
baik.
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas bahwa sebagian
siswa sudah mampu menyatakan ulang sebuah konsep dengan
13
mengembangkan ide dan gagasan yang telah dipelajarinya, siswa
masih kebinggungan untuk mengenali objek berdasarkan sifatnya
mereka kesulitan dalam mengkasifikasikan macam-macam pecahan
dari berbagai macam bilangan dan belum mampu memahami konsep
pecahan, siswa mampu membedakan contoh dan bukan tetapi masih
dengan bantuan guru, siswa masih kesulitan menyajikan konsep dalam
berbagai bentuk representasi matematis hal ini dikarenakan siswa tidak
bisa memahami isi soal sehingga mereka kebinggungan bagaimana
cara menyelesaikannya, siswa belum mampu mengembangkan syarat
perlu karena masih terpaku dengan hapalan rumus serta siswa hanya
meniru penyelesaian soal yang sama dengan guru ketika diberikan soal
yang berbeda siswa masih kebinggungan bagaimana cara
menyelesaikannya, siswa belum mampu menggunakan, memanfaatkan
dan memilih prosedur atau operasi dengan menggunakan konsep yang
ada.
1. Pembelajaran Matematika
a. Pengertian Matematika
Secara etimologi matematika berasal dari bahasa inggris yaitu
mathematis yang artinya ilmu hitung. Ahli matematika disebut sebagai
mathematician. Matematika berkaitan dengan ide, gagasan yang
terstruktur dan simbol-simbol yang abstrak. Menurut Hastuti dkk
(2019), “matematika adalah ilmu deduktif, formal, dan hierarki yang
menggunakan bahasa simbol”. Guru hendaknya memiliki kemampuan
dalam menghubungkan antara dunia siswa yang belum dapat berpikir
14
secara deduktif agar dapat mengerti matematika yang bersifat deduktif
salah satunya mengajar dengan menggunakan benda konkrit atau alat
praga.
Menurut fahrurrozi dkk (2017), matematika adalah suatu disiplin
ilmu yang sistematis yang menelaah pola hubungan, pola pikir, seni dan
bahasa yang semuanya dikaji dengan logika serta bersifat deduktif,
matematika berguna untuk membantu manusia dalam memahami dan
menguasai permasalahan sosial, ekonomi dan alam.
Menurut Ovan (2022), matematika merupakan ilmu deduktif,
aksiomatik, hierarkis, abstrak, bahasa simbol yang padat artinya dan
sejenis dengan sistem matematika. Sistem matematika adalah sistem
yang mencakup model-model matematika yang dipergunakan dalam
memecahkan masalah didunia nyata. Manfaat dari ilmu matematika
yaitu membuat pola pikir seseorang yang mempelajarinya berubah
menjadi pola pikir matematis yang sistematis, logis, kritis dan penuh
dengan kecermatan.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa
matematika merupakan salah satu disiplin ilmu yang dapat
meningkatkan kemampuan berpikir, menggunakan logika, sistematis
dan konsep-konsep satu sama lain yang saling berhubungan dengan
penuh kecermatan. Matematika tersusun secara deduktif, formal,
hierarki, abstrak, menggunakan bahasa simbol dan tersusun dari konsep
yang paling sederhana sampai ke konsep yang paling kompleks dalam
15
memudahkan untuk berpikir dan memberikan kontribusi dalam
menyelesaikan masalah didunia nyata.
b. Pembelajaran matematika di SD
Pembelajaran merupakan suatu proses interaksi antara guru dan
siswa dan sumber belajar pada satuan lingkungan pendidikan.
Pembelajaran matematika SD dimulai dari usia 7-12 tahun yang masih
berada pada tahap operasional konkret. Menurut pendapat piaget,
siswa SD yang berada pada usia 7 sampai 12 tahun masih berada pada
tahap operasional konkret yang belum dapat berpikir secara abstrak
atau formal (Hastuti,dkk 2019). Pembelajaran matematika di sekolah
dasar merupakan proses dimana siswa belajar konsep dasar
matematika seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian,
geometri dasar, pengukuran dan konsep lainnya yang penting dalam
memahami dasar matematika.
Menurut Wandini (2019), pembelajaran matematika adalah
kegiatan belajar matematika dengan rencana terstruktur berbekal
pikiran dan kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan
pemecahan masalah dan cara mengkomunikasikan gagasan. Menurut
pendapat Yuda (2020), pembelajaran matematika merupakan sebuah
proses penyampaian materi matematika oleh guru menggunakan
sebuah metode yang dipilih agar siswa bisa memahami materi dengan
mudah.
Bersadarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran matematika merupakan proses interaksi terstruktur
16
antara pendidik dan siswa yang bertujuan untuk memahami materi
matematika. Proses ini dirancang untuk meningkatkan keterampilan
pemecahan masalah dan cara mengkomunikasikan gagasan matematis
dengan menggunakan metode yang dipilih oleh pendidik agar siswa
dapat memahami materi dengan mudan dan efektif.
c. Ciri-Ciri Pembelajaran Matematika Di SD
Menurut Hastuti dkk (2019), ciri-ciri pembelajaran matematika
sekolah dasar yaitu:
1. Pembelajaran konsep matematika saling berkaitan
Pembelajaran konsep atau suatu topik matematika selalu
mengaitkan dan menghubungkan dengan topik terdahulu. Topik
terdahulu dapat dijadikan prasyarat untuk memahami dan
mempelajari topik matematika yang baru. Topik yang baru
dipelajari adalah pendalaman serta perluasan dari topik terdahulu.
2. Pembelajaran matematika bertahap
Materi pelajaran matematika harus diajarkan secara bertahap
yaitu dimulai dari konsep sederhana menuju ke konsep yang lebih
rumit, selain itu pembelajaran matematika dimulai dari benda
konkrit ke benda semi konkrit dan pada akhirnya menuju ke
konsep abstrak.
3. Pembelajaran matematika menggunakan metode induktif
Matematika adalah ilmu yang bersifat deduktif yaitu dari
umum ke khusus. Namun karena harus sesuai tahap perkembangan
mental siswa maka pada pembelajaran matematika di sekolah dasar
17
digunakanlah pendekatan yang bersifat induktif yaitu dari khusus
ke umum.
4. Pembelajaran matematika menganut kebenaran konsistensi
Kebenaran matematika adalah kebenaran yang konsisten
artinya tidak ada pertentangan antara kebenaran yang satu dengan
kebenaran yang lainnya. Suatu pertnyataan dianggap benar apabila
didasarkan kepada pernyataan terdahulu yang telah diterima
kebenarannya.
5. Pembelajaran matematika hendaknya bermakna
Pembelajaran secara bermakna adalah cara mengajarkan
materi pelajaran yang mengutamakan pengertian daripada hafalan.
Menurut Yuda (2020), ciri-ciri pembelajaran matematika dalah
sebagai berikut:
1. Pembelajaran matematika menggunakan metode spiral, maksudnya
adalah setiap materi yang dipelajari pasti akan saling terkait dengan
materi lainnya.
2. Pembelajaran matematika dilaksanakan secara bertahap.
maksudnya materi yang diajarkan dimulai dari konsep yang
sederhana kemudian menjadi lebih kompleks.
3. Pembelajaran matematika dilaksanakan menggunakan metode
induktif walaupun matematika sebagai ilmu pengetahuan memiliki
sifat yang deduktif. Hal tersebut dilakukan untuk menyesuaikan
dengan tahap perkembangan siswa.
4. Pembelajaran matematika berpedoman pada kebenaran konsistensi.
18
5. Pembelajaran matematika seharusnya bermakna,maksudnya adalah
konsep matematika yang dipelajari tidak diberikan dalam bentuk
jadi oleh guru, tapi siswalah yang mengonstruksi konsep tersebut
berdasarkan bimbingan guru.
Berdasarkan pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa
ciri-ciri pembelajaran matematika di sekolah dasar adalah
pembelajaran matematika yang saling berkaitan atau spiral,
pembelajaran yang bertahap, pembelajaran yang bersifat deduktif,
pembelajaran menganut kebenaran konsistensi dan pembelajaran yang
hendaknya bermakna.
2. Pembelajaran Matematika Realistik
a. Pengertian Pembelajaran Matematika Realistik
Menurut Haji & Abdullah (2016), mengatakan pembelajaran
matematika realistik sebagai suatu pola yang sistematis dalam
merancang pembelajaran matematika yang efektif untuk mencapai
tujuan pembelajaran matematika dengan bertumpu pada kreativitas
siswa dalam melakukan doing mathematics yang memandang
matematika sebagai suatu aktivitas manusia melalui kegiatan
memecahkan masalah kontekstual, merumuskan model, mengaitkan
berbagai topik, berinteraksi dengan berbagai sumber, memanfaatkan
berbagai potensi diri, berdiskusi, melakukan refleksi, memanfaatkan
fenomena pendidikan, mengeksplor, dan akhirnya menemukan
berbagai konsep dan algoritma matematika.
19
Menurut Fahrrurozi (2017), pembelajaran matematika realistik
adalah model pembelajaran untuk pendidikan matematika yang
melibatkan siswa mengembangkan pemahaman mereka dengan
mengeksplorasi dan memecahkan masalah yang ditetapkan dalam
konteks yang terlibat ketertarikan siswa.
Menurut Menurut Rahman (2018), matematika realistik
merupakan model pembelajaran yang mendorong interaksi siswa
dalam menentukan solusi dari suatu permasalahan matematika yang
dirujuk dari masalah kehidupan sehari-hari.
Menurut Ovan (2022), pembelajaran matematika realistik
merupakan pendekatan yang membawa konsep matematika kedalam
dunia nyata. Pendekatan ini menjadikan matematika mudah dipahami
oleh siapaun baik antara pendidik dan siswa mempunyai peran masing-
masing. Pendidik mempunyai peran sebagai pembimbing atau
fasilitator dan siswa mempunyai peran sebagai orang yang mnenerima
bimbingan dan pengajaran.
Berdasarkan pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran matematika realistik adalah Pembelajaran yang
melibatkan siswa secara aktif dalam "doing mathematics," dengan
menganggap matematika sebagai aktivitas manusia. Siswa
memecahkan masalah kontekstual, membuat model, dan mengaitkan
berbagai topik. Pendidik berperan sebagai fasilitator, sementara siswa
aktif berinteraksi, berdiskusi, dan mengeksplorasi konsep matematika
20
dari masalah kehidupan nyata sehingga lebih relevan dan mudah
dipahami.
b. Prinsip-Prinsip Pembelajaran Matematika Realistik
Menurut Ovan (2022), terdapat 5 prinsip uatama yaitu:
a) Didominasi oleh permasalahan dalam konteks, melayani dua hal
yaitu sebagai sumber dan sebagai terapan konsep matematika
b) Perhatikan diberikan kepada pengembangan model-model, situasi,
skema, dan simbol-simbol
c) Sumbangan dari siswa, sehingga siswa dapat membuat
pembelajaran menjadi konstruktif dan produktif artinya siswa
memproduksi sendiri dan mengonstruksi sendiri, sehingga dapat
mengarahkan siswa dari tingkat matematika informal menuju
formal
d) Interaktif sebagai ciri-ciri dan proses pembelajaran matematika
Menurut Sihotang (2021), ada tiga prinsip dalam pembelajaran
matematika realistik yaitu :
a) Guided Reinvention Through Progressive Mathematizing
(Reinvensi Terpandu Melalui Progresif Menghitung), dalam
prinsip ini, Siswa harus mandiri dalam menemukan konsep,
teorema, definisi, dan cara meyelesaikan persoalan yang diberikan
pendidik sebagai pembimbing.
21
b) Didactical Phenomenology (Fenomena Dikdaktik), dalam prinsip
ini, Siswa diharuskan untuk dapat menekankan persoalan pada
dunia nyata.
c) Self Developed Models (Mengembangkan Model Sendiri), dalam
prinsip ini, Siswa harus mengembangkan semua model matematika
dengan cara siswa sendiri.
Awalnya treffers menyatakan bahwa ada 5 prinsip pembelajaran
matematika realistik yang kemudian disempurnakan oleh jupri menjadi
6 prinsip (Sihotang, 2021) diantaranya:
a) Prinsip Aktivitas
Pada prinsip ini, siswa sebagai partisipasi aktif yang berarti
siswa terlibat secara langsung dalam menemukan pemecahan
masalah dalam proses pembelajaran matematika.
b) Prinsip Realitas
Pada prinsip ini, siswa tidak mendapatkan materi secara tak
langsung oleh pendidikan, tetapi guru akan melalui dengan
membuat situasi realistik yang bermakna bagi siswa. Kemudian
pendidik memberikan latihan soal.
c) Prinsip Tingkatan
Pada prinsip ini, Siswa mengalami tindakan dalam
pemahaman matematis, baik dari pemahaman informal, semi
formal, sampai formal.
22
d) Prinsip Keterkaitan
Pada prinsip ini, Topik-topik matematika dilihat sebagai
topik yang saling berhubungan antara yang satu dengan yang lain.
e) Prinsip Interaktivitas
Pada prinsip ini, Siswa dapat berkomunikasi dengan
temannya melalui diskusi untuk saling menyampaikan
pendapatnya.
f) Prinsip Pembimbingan
Pada prinsip ini, pendidik diharuskan dapat berperan aktif
dalam memberikan bimbingan kepada siswa selama proses
pembelajaran.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan
bahwa pembelajaran matematika realistik merupakan model yang
menekankan penerapan konsep matematika dalam konteks nyata,
dengan tujuan mengembangkan pemahaman siswa secara bertahap
dari informal ke formal. Prinsip utamanya meliputi penggunaan
masalah kontekstual, pengembangan model dan simbol
matematika, partisipasi aktif siswa, serta keterkaitan topik
matematika dengan fenomena dunia nyata. Pendekatan ini
mendorong siswa untuk membangun pemahaman yang mendalam
melalui interaksi dan bimbingan pendidik, menciptakan
pembelajaran yang lebih bermakna dan relevan dengan kehidupan
sehari-hari.
23
c. Karakteristik Pembelajaran Matematika Realistik
Menurut Fahrrurozi (2017), karaktesistik pembelajaran matematika
realistik sebagai berikut:
1) Penggunaan konteks
Konteks atau permasalahan realistik digunakan sebagai titik
awal pembelajaran matematika. Konteks tidak harus berupa
masalah dunia nyata namun bisa dalam bentuk permainan,
penggunaan alat praga, atau situasi lain selama hal tersebut
bermakna dan bisa dibayangkan dalam pikiran siswa.
2) Penggunaan model untuk matematisasi progresif
Penggunaan model berfungsi sebagai jembatan dari
pengetahuan dan matematika tingkat konkrit menuju pengetahuan
matematika tingkat formal. Kata model merujuk pada alat praga.
3) Pemanfaatkan hasil kontruksi siswa
Siswa memiliki kebebasan untuk mengembangkan strategi
pemecahan masalah sehingga diharapkan akan diperoleh strategi
yang bervariasi. Hasil kerja dan konstruksi siswa selanjutnya
digunakan untuk landasan pengemabngan konsep matematika.
4) Interaktivitas
Proses belajar seseorang bukan hanya suatu proses individu
melainkan juga secara bersamaan merupakan suatu proses sosial.
Proses belajar siswa akan lebih singkat dan bermakna ketika siswa
saling mengkomunikasikan hasil kerja dan gagasan mereka.
24
5) Keterkaitan
Konsep-konsep dalam matematika tidak bersifat parsial,
namun banyak konsep matematika yang memiliki keterkaiatan.
Oleh karena itu konsep-konsep matematika tidak dikenalkan secara
terpisah kepada siswa.
Menurut Sihotang (2021), karakteristik pembelajaran matematika
realistik yaitu:
a) Menggunakan konteks
Konteks sangatlah penting dalam pembelajaran matematika,
langkah-langkah pada pembelajaran matematika realistik selalu
ditentukan oleh pemilihan konteks yang benar dan sesuai dengan
kegiatan siswa, sehingga siswa membutuhkan pembelajaran yang
bermakna agar siswa lebih mudah dalam memahaminya serta
pendidik menjadikan matematika sebagai bagian dari pengalaman
hidup.
b) Menggunakan Model
Penggunaan model dilakukan untuk siswa dengan mengubah
masalah realistik kedalam matematika oleh sebab itu siswa
diharuskan menemukan hubungan antara bagian masalah dalam
model matematika.
c) Menggunakan Kontribusi Siswa
Pendidik memberikan siswa kebebasan dalam menemukan
cara dalam menyelesaikan masalah sendiri karena disini siswa
25
berperan seabgai subjek dan siswa dapat meningkatkan
kreativitasnya dalam menemukan penyelesain masalah.
d) Adanya interaktif
Siswa membangun kemampuannya dalam berinteraksi
dengan pendidik dan teman sebaya serta pendidik mengajarkan
nilai-nilai afektif pada siswa.
e) Adanya keterkaitan
Adanya hubungan antara materi pelajaran dalam matematika
oleh sebab itu siswa diharuskan memahami hubungan antara materi
di dalam pembelajaran matematika.
Menurut Ovan (2022), bahwa karakteristik pembelajaran
matematika realistik diantranya:
a) Memulai pembelajaran matematika dengan permasalahan nyata
b) Menggunakan model sebagai penghubung antara nyata dan abstrak
yang dapat membantu siswa belajar matematika pada level
abstraksi
c) Menggunakan produksi dan kontribusi siswa sebagai hasil
d) Memaksimalkan komunikasi antara siswa dan siswa
e) Menghubungkan materi matematika dengan materi matematika
yang lain.
Berdasarkan pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa
karakteristik pembelajaran matematika realistik merupakan
pembelajaran yang berfokus pada pengalaman nyata siswa, partisipasi
26
aktif, dan keterlibatan dalam konteks matematika yang relevan. Hal ini
membantu siswa memahami konsep matematika dengan lebih baik dan
mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari, sehingga memperkuat
pemahaman dan penguasaan mereka terhadap materi matematika.
d. Langkah-langkah Pembelajaran Matematika Realistik
Menurut Ovan (2022), secara umum langkah-langkah
pembelajaran matematika realistik yaitu :
a) Persiapan
Guru menyiapkan permasalahan yang kontekstual serta guru
harus menguasai permasalahan tersebut dan mempunyai
bermacam-macan strategi yang akan digunakan pendidik dalam
menyelesaikannya.
b) Pembukaan
Guru memperkenalkan strategi pembelajaran yang akan
dipakai kepada siswa yang berkaitan dengan dunia nyata.
Kemudian siswa diminta untuk menyelesaikan masalah dengan
pengalamanya.
c) Proses
Dalam pembelajarann Siswa berperan mencoba berbagai
strategi dalam menyelesaikan masalah sesuai dengan
pengalamannya yang dapat dikerjakan secara berkelompok
maupun individu setelah itu siswa diminta untuk memaparkan hasil
tugasnya di depan siswa yang lain dan meminta siswa yang lainnya
untuk memberikan tanggapan terhadap hasil pemaparan
27
presentator. Kemudian guru berperan dalam memperhatikan
jalannya diskusi kelas dan memberikan tanggapan dengan
mengarahkan siswa dalam mendapatkan strategi yang baik serta
menemukan aturan dan prinsip yang bersifat umum.
d) Penutup
Siswa dibimbing untuk menarik kesimpulan dari materi yang
telah dipelajari dan pada akhir pembelajaran siswa mengerjakan
soal sebagai bahan evaluasi dalam bentuk matematika formal.
Menurut Sihotang (2021), Selain prinsip dan karakteristik, ada
beberapa langkah-langkah dalam menerapkan kegiatan pembelajaran
matematika dengan model pembelajaran matematika realistik yaitu:
a) Memahami Masalah Kontekstual
Guru memberikan siswa masalah kontektual serta meminta
kepada siswa dalam memahami masalah tersebut.
b) Menyelesaikan Masalah Kontekstual
Siwa diminta oleh pendidik untuk menyelesaikan masalah
secara individu baik dari buku atau LKS. Guru memberikan
motivasi dengan cara membimbing siswa dalam mencari jawaban
dari masalah yang ada.
c) Membandingkan Dan Mendiskusikan Jawaban
Setelah siswa mendapatkan jawaban guru memberikan waktu
kepada siswa dalam membandingkan jawaban mereka dan untuk
melatih keberanian siswa dalam menyampaikan pendapat.
28
d) Menarik kesimpulan
Pendidik meminta siswa untuk menarik kesimpulan tentang
materi yang telah dipelajari.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas maka dalam penelitian
ini langkah-langkah pembelajaran matematika realistik yang akan
digunakan yaitu memahami masalah kontekstual, menyelesaikan
masalah kontekstual, membandingkan dan mendiskusikan jawaban
dan menarik kesimpulan.
e. Kelebihan Pembelajaran Matematika Realistik
Menurut Sihotang (2021), pembelajaran matematika realistik
memiliki beberapa kelebihan yaitu:
1) Siswa mempunyai pemahaman tentang hubungan matematika
dalam kehidupan sehari-hari.
2) Membantu mengubah cara berpikir siswa bahwa matematika
adalah mata pelajaran yang bisa dikembangkan oleh siswa baik
secara individu ataupun kelompok.
3) Pembelajaran matematika dapat mempermudah siswa sebab
menggunakan pengalaman siswa dalam kehidupan sehari-hari.
4) pembelajaran matematika realistik mengajarkan pada siswa dengan
jelas bahwa memahami matematika siswa harus terlibat secara
langsung pada prosesnya dan berusaha dalam menemukan
jawabannya sendiri.
5) pembelajaran matematika realistik bersifat utuh dan universal .
29
6) pembelajaran matematika realistik memberikan kesempatan kepada
siswa dalam mengembangkan potensi dan cara berfikir alternatif.
7) pembelajaran matematika realistik mengajarkan kepada siswa agar
saling menghargai pendapat teman sebaya yang berbeda-beda dan
menanamkan kepada siswa dengan adanya pertukaran pendapat
baik antar siswa dan guru.
f. Kelemahan Pembelajaran Matematika Realistik
Selain adanya kelebihan pembelajaran matematika realistik juga
memiliki kelemahan, Menurut Sihotang (2021), kelemahan
pembelajaran matematika realistik diantaranya:
1) pembelajaran matematika realistik membutuhkan pemaham dan
perubahan pandangan baik dari guru, siswa, peranan konteks, dan
lainnya.
2) Susahnya membuat soal-soal yang kontekstual yang sesuai dengan
syarat pembelajaran matematika realistik.
3) Susahnya memberikan motivasi kepada siswa agar mau berusaha
dalam menumukan cara dalam menyelesaikan setiap soal.
4) pembelajaran matematika realistik membutuhkan kemampuan
mengambangkan cara berpikir siswa dan itu merupakan hal yang
tidak mudah sebab guru harus teliti dalam membantu siswa agar
bisa menemukan konsep matematika.
5) Siswa memiliki kemampuan pemahman yang rendah sehingga
membutuhkan waktu dalam menyelesaikan masalah.
30
6) Kurangnya kesabaran bagi siswa yang cerdas untuk menunggu
temannya yang kesulitan dalam mengerjakan soal.
7) Membutuhkan alat praga yang sesuai.
8) Sulitnya penilain pembelajaran matematika realistik daripada
pembelajaran konveksional.
9) Padatnya materi kurikulum yang harus dikurangi dalam
menciptakan proses pembelajaran yang sesuai dengan prisip
pembelajaran matematika realistik..
3. Makanan Khas Lampung
Salah satu provinsi yang memiliki kue tradisional yang beraneka
ragam yaitu provinsi lampung. Banyak sekali kue tradisional lampung
yang saat ini masih sering dibuat oleh masyarakat setempat baik untuk
dikonsumsi sendiri ataupun untuk dijual sebagai penghasilan masyarakat.
Menurut sari dkk (2023) beberapa kue tradisional yang ada di provinsi
lampung yaitu kue sekubal, kue bebai maghing, kue selimpok, kue buak
tar, kue engkak, kue lapis lengit dan masih banyak kue-kue lainnya.
Sejarah kue tradisional lampung didasarkan pada kearifan lokal
dan warisan budaya yang telah di turunkan secara turun temurun. Kue-
kue tradisional tersebut basanya dibuat pada saat acara-acara adat,
upacara adat, atau sebagai cemilan sehari-hari. Berikut ini adalah gambar-
gambar kue tradisional lampung :
31
1) Sekubal
Gambar 1.1 sekubal
Sekubal adalah makanan khas lampung yang terbuat dari beras
ketan dan santan yang dibungkus daun pisang dan cara memasaknya
dikukus. Sekubal dijadikan hidangan istimewah pada hari raya dan
bisa menjadi hidangan saat buka puasa. Menurut sari dkk (2023),
sekubal merupakan makanan khas masyarakat lampung yang terkenal
sejak ratusan tahun baik dari keadatan sai batin maupun pepadun,
masyarakat lampung sering menyajikan makanan ini sebagai menu
utama pada acara besar, seperti acara pernikahan, pertunangan,
khitanan, begawi dan acara adat lainnya.
2) Bebai maghing
Gambar 1.2 Bebai Maghing
Bebai maghing adalah makanan khas lampung yang terbuat
dari camputan pisang, gula dan ketan. Kue ini biasanya dibuat pada
saat acara menjelang hajatan sebagai wujud kekurunan, kebersamaan
32
dan gotong royong. Menurut sari dkk (2023), Bebai maghing adalah
wanita malas karena kue ini dibuat dengan mudah tanpa harus
berpindah-pindah tempat.
3) Lapis legit
Gambar 1.3 Lapis Legit
Lapis legit adalah kue khas lampung yang terdiri dari dua
lapisan warna yang saling bertumpuk satu sama lain, yang mempunyai
ciri khas warna kuning keemasan dan coklat. Lapis legit berkembang
pada masa colonial belanda menjajah di Indonesia. Kue tersebut
mendapat pengaruh dari penduduk lokal dan orang-orang Indonesia
memodifikasinya dengan menggunakan bahan-bahan lokal dan rasa
kue tersebut disesuaikan dengan citarasa lidah orang Indonesia.
Menurut sari dkk (2023), kue lapis legit merupakan symbol
kemakmuran bagi masyarakat tionghoa, banyaknya layer pada kue ini
menggambarkan rezeki yang berlapis-lapis dan taka da habisnya.
33
4) Engkak
Gambar 1.4 Engkak Lampung
Kue engkak adalah kue tradisional yang popular di daerah
Palembang dan merupakan makanan khas lampung. Kue engkak sering
disajikan dalam acara-acara besar, seperti perayaan hari raya atau
perhelatan tradisonal. Namun kue ini juga bisa dinikmati kapan saja
tanpa harus menunggu acara tertentu. Kue engkak kan kue lapis legit
jika dilihat dari bentuknya terihat hamper sama tetapi kue ini memiliki
perbadaan dimana kue engkak di buat dengan menggunakan santan
sedangkan lapis legit tidak menggunakan santan. Kue engkak memiliki
tekstur yang lebih lembut dan memiliki daya tahan yang lama daripada
lapis legit.
4. Pembelajaran Matematika Realistik Berbantuan makanan khas
Lampung.
Pembelajaran matematika realistik berbantuan makanan khas
lampung merupakan integrasi antara pembelajaran matematika dengan
makanan tradisional. Pada pembelajaran matematika realistik proses
pembelajaran merupakan suatu yang utama dalam mempelajari
matematika. Siswa harus menjalani sendiri proses tersebut, siswa dituntut
untuk menemukan sendiri konsep dan materi-materi matematika yang
34
lain dengan bimbingan guru. Sedangkan makanan khas dapat dikatakan
sebagai kacamata untuk memandang dan memahami matematika sebagai
suatu produk budaya.
Berdasarkan penjelasan tersebut dapat diartikan bahwa
pembelajaran matematika realistik berbantuan makanan khas lampung
merupakan pembelajaran yang mengaitkan dengan makanan tradisional
yang ada disekitar lingkungan siswa dengan konsep matematika di
sekolah. Oleh karena itu guru dalam mengajarkan konsep pecahan
disekolah diharapkan dapat selalu mengaitkan dengan makanan
tradisional. Hal ini akan memberikan dampak kepada siswa dalam
memahami manfaat matematika pada kehidupan sehari-hari. Sehinga
diharapkan pembelajaran matematika di sekolah semakin mudah
dipahami dan diterapkan oleh siswa.
Berdasarkan pemaparan di atas, makanan khas akan menjembatani
pembelajaran matematika realistik agar mampu mencapai proses
pembelajaran yang bermakna sehingga siswa mudah untuk menemukan
sendiri konsep pembelajaran tersebut. Pembelajaran matematika realistik
berbantuan makanan khas lampung akan sangat memungkinkan suatu
materi yang dipelajari dapat membangkitkan motivasi belajar siswa. Hal
ini disebabkan karena pembelajaran yang dihasilkan tidak membuat siswa
bosan yang hanya dengan memandang rumus saja, tetapi siswa juga bisa
belajar dengan cara yang menyenangkan yaitu mengaitkan pembelajaran
matematika dengan kehidupan sehari-hari dan budaya mereka sendiri.
35
Pembelajaran matematika realistik adalah pembelajaran yang
berfokus pada penggunaan konteks nyata untuk membantu siswa
memahami konsep-konsep matematika. Dalam konteks ini, makanan khas
lampung dapat digunakan sebagai alat bantu untuk mengajarkan konsep
pecahan kepada siswa SD. Pembelajaran matematika realistik berbantuan
makanan khas lampung dalam penelitian ini menggunakan contoh
konkret pada bentuk makanan khas lampung yaitu lapis legit dan enggak.
Kue tradisional tersebut dapat dipotong-potong menjadi beberapa bagian-
bagian tertentu setiap potongannya, misalnya kue tersebut dibagi menjadi
setengah, sepertiga, ataupun seperempat yang dapat membantu siswa
dalam memvisualisasikan dan memahami konsep pecahan secara konkret.
Dengan pendekatan ini, diharapkan siswa dapat mengembangkan
pemahaman yang lebih mendalam dan bermakna tentang konsep pecahan,
serta dapat meningkatkan kemampuan mereka dalam menerapkan konsep
tersebut dalam berbagai situasi nyata.
5. Langkah-langkah pembelajaran matematika realistik berbantuan
makanan khas lampung.
KEGIATAN PENDAHULUAN
1. Peserta didik mengucapkan selamat pagi kepada guru
2. Peserta didik melakukan kegiatan berdoa sebelum belajar
3. Peserta didik memberi salam kepada guru
4. Peserta didik ditanyai bagaimana kabarnya oleh guru
5. Peserta didik dicek kehadirannya oleh guru
36
6. Peserta didik mengecek kebersihan dan kondisi kelas
7. Peserta didik melakukan kegiatan pembiasaan sebelum belajar
yaitu menyanyikan lagu nasional “ Garuda Pancasila”
8. Peserta didik melakukan ice breaking
9. Peserta didik melakukan apersepsi dengan mengaitkan materi
yang akan dipelahi dengan materi sebelumnya.
10. Peserta didik menjawab pertanyaan pemantik yang ditanyakan
oleh guru
11. Peserta didik mendengarkan guru menyampaikan tujuan
pembelajaran
KEGIATAN INTI
Memahami Masalah Kontekstual
1. Peserta didik membuka buku cetak halaman 63
2. Peserta didik mendengarkan penjelasan guru tentang pecahan
3. Peserta didik memahami masalah kontekstual yang disajikan
dalam bentuk soal cerita yang di berikan oleh guru
Menyelesaikan Masalah Kontekstual
4. Peserta didik menyelesaikan masalah kontekstual dengan
dibimbing oleh guru
5. Peserta didik menyelesaikan masalah tersebut dengan bantuan
makanan khas lampung (kue lapis legit)
Membandingkan dan mendiskusikan jawaban
6. Peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok
37
7. Peserta didik dalam kelompok menerima LKPD dan kue lapis
legit
8. Peserta didik mendengarkan guru membacakan petunjuk
mengerjakan LKPD
9. Peserta didik mengerjakan LKPD sesuai waktu yang ditentukan
10. Peserta didik dibimbing oleh guru untuk mengerjakan LKPD
11. Peserta didik mempresentasikan hasil diskusi kelompok
12. Peserta didik mengerjakan soal latihan pecahan
Menarik Kesimpulan
13. Peserta didik menarik Kesimpulan dari materi yang telah
dipelajari dengan dibimbing oleh guru
KEGIATAN PENUTUP
1. Peserta didik melakukan kegiatan refleksi
2. Peserta didik menutup kegiatan pembelajran dengan berdoa
B. Penelitian Yang Relevan
1. Umimatul Mupidah (2020) melakukan penelitian dengan judul “ Pengaruh
Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) Terhadap Hasil Belajar Siswa
Pada Konsep Bilangan Pecahan Di Kelas IV MI NW Karawang Bata”
Kesimpulan yang dapat diperoleh berdasarkan hasil penelitian ini adalah
ada pengaruh pembelajaran matematika realistik terhadap hasil belajar
siswa pada konsep bilangan pecahan di kelas IV MI NW Karang Bata. Hal
ini ditunjukkan oleh hasil uji t yang menunjukkan bahwa nilai Hasil ini
juga didukung dengan adanya perbedaan nilai rata-rata pre test dan post
38
test antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Nilai rata-rata pre test
dan post test kelas eksperimen adalah 56,6 dan 83,2, sedangkan nilai rata-
rata pre test dan post test kelas kontrol adalah 58,25 dan 63,25.
Kesamaan penelitian ini dengan penelitian pendahulu yaitu sama-sama
menggunakan pendekatan pembelajaran matematika realistik dan
perbedaan penelitian ini dengan penenlitian pendahulu yaitu pada
penelitian ini menggunakan pembelajaran matematika realistik berbantuan
makanan khas lampung dan pada penelitian ini memfokuskan pada
pemahaman konsep pecahan pada siswa kelas V sedangkan pada
penelitian pendahulu memfokuskan pada hasil belajar siswa pada konsep
bilangan pecahan pada kelas IV.
2. Widad Rifda Ulhaq (2023) melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh
Model Realistic Mathematics Education Berbasis Etnomatematika
Terhadap Pemahaman Konsep Geometri Siswa” Berdasarkan hasil
penelitian yang dilakukan di MTs Islamiyah Ciputat pada mata
pembelajaran matematika materi bangun datar geometri segitiga dan
segiempat dengan pendekatan pembelajaran matematika realistik berbasis
etnomatematika permainan tradisional, diperoleh kesimpulan:
Kemampuan pemahaman konsep geometri siswa kelas eksperimen yang
pembelajarannya menggunakan pendekatan pembelajaran matematika
realistik berbasis etnomatematika permainan tradisionaltergolong baik
dengan skor rata-rata posttest mencapai 84.09 dan dengan skor rata-rata
untuk masing-masing indikator diantaranya visualisasi mencapai 97,27%,
analisis 80,68%, dan deduksi informal 78,79%. Sedangkan pemahaman
39
konsep geometri siswa kelas kontrol yang pembelajaran menggunakan
pendekatan ekspositori rata-rata skor posttest hanya mencapai 59.35
dengan skor rata-rata masing-masing indikator visualisasi mencapai
70,91%, analisis 48,01%, dan deduksi informal 56,63%, hal ini lebih
rendah dibandingkan dengan kelas eksperimen. Berdasarkan pengujian
hipotesis menggunakan Mann-Whiteney (Uji U) diperoleh nilai Asyimp.
Sig (2 -tailed) adalah 0.00 < 0.05, maka H0 ditolak dan H1 diterima.
Sehingga terdapat pengaruh model pembelajaran matematika realistik
berbasis etnomatematika permainan tradisional terhadap pemahaman
konsep geometri, dimana pemahaman konsep geometri kelas eksperimen
lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol.
Kesamaan pada penelitian ini dengan penelitian pendahulu yaitu sama-
sama menggunakan pembelajaran matematika realistik berbantuaan
makanan khas lampung dan perbedaan penelitian ini dengan penelitian
pendahulu yaitu penelitian pendahulu memfokuskan pada pemahaman
konsep geometri siswa sedangkan pada penelitian ini mengguankan
pembelajaran matematika realistik berbantuan makanan tradidional
lampung dan memfokuskan pada pemahaman konsep pecahan siswa.
3. Kartika Sari (2024), melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh
Pembelajaran Matematika RealistiRealistik Berbasis Etnomatematika
Terhadap Penguasaan Konsep Matematika Peserta Didik Kelas V SD
Negeri 6 Metro Barat” Berdasarkan hasil analisis data penelitian dan
pembahasan dalam penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa terdapat
pengaruh yang signifikan pada penerapan pembelajaran matematika
40
realistik berbasis etnomatematika terhadap penguasaan konsep matematika
peserta didik kelas V SD Negeri 6 Metro Barat Pengaruhnya dapat dilihat
dari perbedaan penguasaan konsep kelas eksperimen sebelum diberikan
perlakuan yang memperoleh rata-rata nilai 45,17, sedangkan setelah
diberikan perlakuan rata-rata nilai menjadi 73. Hasil uji hipotesis
independent sample t-test diperoleh nilai sig. 0,001 ˂ 0,05 menunjukan
bahwa terdapat perbedaan peningkatan rata-rata penguasaan konsep
matematika yang signifikan. Serta, didukung oleh nilai partial eta square
sebesar 0,305 yang diinterpretasikan dalam effect size dengan kategori
besar. Peningkatan penguasaan konsep matematika ditunjukan dari nilai
ratarata N-gain pada kelas eksperimen sebesar 0,5145 dengan kategori
sedang, perolehan ini lebih tinggi dari kelas kontrol.
Kesamaan penelitian ini dengan penelitian pendahulu yaitu sama-sama
menggunakan pendekatan pembelajaran matematika realistik berbantuan
makanan khas lampung dan perbedaan penelitian ini dengan penelitian
pendahulu yaitu penelitian pendahulu memfokuskan pada penguasaan
konsep matematika sedangkan pada penelitian ini hanya memfokuskan
pada pemahaman konsep pecahan siswa.
41
C. Kerangka Konsep
Pemahaman konsep pecahan pada siswa sekolah dasar merupakan tahap
penting dalam perkembangan kemampuan matematis mereka. Di tingkat ini,
siswa mulai mengenal bahwa pecahan mewakili bagian dari keseluruhan atau
suatu kuantitas yang dibagi. Pemahaman ini melibatkan pengenalan istilah
seperti pembilang dan penyebut, serta kemampuan untuk membandingkan,
mengurutkan, dan menyederhanakan pecahan. Siswa juga perlu belajar
mengaitkan pecahan dengan representasi visual, seperti gambar potongan atau
bagian benda, agar lebih mudah memahami maknanya. Tantangan yang sering
dihadapi adalah kesulitan menghubungkan pecahan dengan konsep bilangan
bulat atau operasi matematika lainnya. Oleh karena itu, pendekatan yang
konkret dan kontekstual sangat diperlukan agar siswa dapat menguasai konsep
pecahan dengan lebih baik.
Upaya yang dapat dilakukan untuk memudahkan siswa dalam
memahami dan berpartisipasi aktif dalam pembelajaran adalah dengan
menggunakan variasi pembelajaran, salah satunya menggunakan pembelajaran
matematika realistik berbantuan makanan khas lampung. Pembelajaran
matematika realistik adalah pembelajaran yang memanfaatkan realita dan
lingkungan yang dapat dipahami siswa dalam memperlancar proses
pembelajaran matematika secara lebih baik dari yang sebelumnya. Realita
yang dimaksud yaitu hal-hal nyata atau konkrit yang dapat diamati dan
dipahami ataupun dibayangkan, sedangkan lingkungan adalah sesuatu yang
berada dalam kehidupan sehari-hari. Unsur kebudayaan dapat menjadi salah
satu alternatif yang bisa dikaitkan dengan pembelajaran matematika. Salah
satu yang dapat mengatarkan antara budaya dan pembelajaran matematika
42
yaitu dengan menerapkan pembelajaran matematika realistik berbantuan
makanan khas lampung.
Pembelajaran matematika realistik berbantuan makanan khas lampung
merupakan pembelajaran matematika yang mengaitkan materi belajar dengan
kehidupan yang nyata, unsur budaya sangat efektif digunakan dalam
pembelajaran. Melalui pembelajaran tersebut peserta akan dihadapkan pada
persoalan yang erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari mereka dan juga
budaya lampung di mana mereka tinggal. Hal tersebut memungkinkan siswa
akan lebih mudah dalam memahami konsep matematika yang sedang mereka
pelajari karena siswa bisa melihat ataupun membayangkan dan menemukan
sendiri bagaimana konsep tersebut diterapkan dalam kebudayaan serta
kehidupan sehari-hari.
Pada penelitian ini, pembelajaran matematika realistik berbantuan
makanan khas lampung berfungsi sebagai variabel bebas (X), sedangkan
kemampuan pemahaman matematika siswa berfungsi sebagai variabel terikat
(Y) Hubungan antar variabel dalam penelitian ini dapat dilihat dari gambar
kerangka konsep berikut ini:
43
Rendahnya Kemampuan Pemahaman Konsep
Guru hanya menggunakan metode ceramah yang bersifat abstrak
dalam pembelajaran dan belum menggunakan pendekatan
pembelajaran sesuai karakteristik serta siswa belom menguasai
indikator pemahaman konsep
Makanan khas lampung adalah kue tradisional lampung yang
dijumpai pada hari raya idul fitri,pernikahan, khitanan dan acara adat
lainnya
Perlunya dilakukan penelitian
Kelas eksperimen Kelas kontrol
Kelas yang menggunakan model Kelas yang menggunakan
pembelajaran matematika realistik pembelajaran Konvensional
berbantuan makanan khas lampung
Adakah Pengaruhnya terhadap kemampuan
pemahaman konsep pecahan ?
Gambar 1.5 Kerangka Konsep
44
D. Hipotesis
Berdasarkan landasan teori dan kerangka konsep diatas, maka hipotesis
penelitian yang diajukan dalam penelitian ini adalah:
“Terdapat Pengaruh Pembelajaran Matematika Realistik Berbantuan makanan
khas Lampung Terhadap Kemampuan Pemahaman Konsep Pecahan Di Kelas
V Di SDN 2 Pringsewu Timur”
45
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Dan Desain Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian Pre-Eksperimen
Desain. Desain penelitian yang digunakan yaitu intaq group comparison.
Pada desain ini terdapat satu kelompok yang digunakan untuk penelitian,
tetapi dibagi dua, yaitu setengah kelompok untuk eksperimen (yang diberi
perlakuan) dan setengah untuk kelompok kontrol (yang tidak diberi
perlakuan). Desain penelitiannya sebagai berikut:
Tabel 1.2
Intaq group comparison
Sumber : Sugiyono,2019
Keterangan :
X : Perlakuan
: Hasil pengukuran setengah kelompok yang di beri perlakuan
: Hasil pengukuran setengah kelompok yang tidak diberi perlakuan
B. Populasi , Sampel dan Teknik Sampling
1. Populasi
Adapun populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V
SDN 2 Pringsewu Timur tahun ajaran 2024/2025 sebanyak 68 siswa.
Berikut ini data populasi dalam penelitian sebagai berikut:
46
Tabel 1.3 Data Siswa Kelas V SDN 2 Pringsewu Timur
No Kelas Jumlah Siswa
1. VA 22
2. VB 24
3. VC 22
Jumlah 68
Sumber : siswa kelas VA,VB,VC SDN 2 Pringsewu Timur.
2. Sampel Penelitian
Adapun sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas VA sebagai
kelas eskperimen yang berjumlah 22 siswa dan siswa kelas VC sebagai
kelas kontrol yang berjumlah 22 siswa. Dengan jumlah seluruh sampel
sebanyak 44 siswa.
3. Teknik Sampling
Teknik pengambilan sampel yang digunakan oleh peneliti dalam
penelitian ini adalah teknik probability sampling yaitu teknik pengambilan
sampel yang tidak memberi peluang/kesempatan yang sama bagi setiap
unsur populasi untuk dipilih menjadi sampel. Dari beberapa teknik
probality sampling yang ada, peneliti memilih teknik cluster random
sampling, karena dari kelas-kelas dan dilakukan secara acak tanpa
memperlihatkan strata pada populasi.
C. Definisi Operasional Variabel
Adapun variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Pembelajaran matematika realistik ( Variabel Bebas/ Independent)
Pembelajaran matematika realistik adalah pembelajaran yang
melibatkan siswa secara aktif dalam "doing mathematics," dengan
menganggap matematika sebagai aktivitas manusia. Siswa memecahkan
47
masalah kontekstual, membuat model, dan mengaitkan berbagai topik.
Pendidik berperan sebagai fasilitator, sementara siswa aktif berinteraksi,
berdiskusi, dan mengeksplorasi konsep matematika dari masalah
kehidupan nyata sehingga lebih relevan dan mudah dipahami.
b. Kemampuan Pemahaman Konsep Pecahan (Variabel Terikat/ Dependen)
Kemampuan pemahaman konsep pecahan adalah Kemampuan
pemahaman konsep matematka yang mencakup aspek kognitif termasuk
kemampuan mengembangkan, mengelompokkan, mengklasifikasikan,
serta memahami operasi dan relasi matematika. Pemahaman ini penting
untuk menguasai dan menerapkan konsep matematika dalam berbagai
situasi, baik secara teoritis maupun praktis.
D. Teknik Dan Instrument Pengumpulan Data
1. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah-langkah yang
digunakan dalam memperoleh data-data penting dalam rangka mencapai
tujuan penelitian. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu tes. Tes
digunakan untuk mengumpulkan data berupa nilai-nilai hasil belajar pada
ranah kognitif, untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa pada mata
pelajaran matematika. Teknik ini dilakukan untuk melihat hasil belajar
siswa yang mencerminkan sejauh mana pemahaman konsep pecahan yang
siswa kuasai sebelum dan sesudah diberikan perlakuan pembelajaran
matematika realistik berbantuan kue trasisional lampung.
48
2. Instrument Penelitian
Instrumen yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah berupa
tes. Instrumen tes yang digunakan pada penelitian ini berupa tes tertulis
yang berfungsi untuk mengetahui keberhasilan proses pembelajaran dan
juga tingkat Pemahaman konsep pecahan siswa. Tes merupakan cara untuk
menafsirkan kemampuan siswa melalui stimulus atau pertanyaan.
Tes dapat digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa melalui
pertanyaan atau tugas yang harus dijawab atau diselesaikan oleh siswa
untuk mengetahui kemajuan siswa. Hasil belajar tersebut dapat digunakan
sebagai media untuk menganalisis sejauh mana kemampuan pemahaman
konsep pecahan siswa setelah diberikan perlakuan pembelajaran
matematika realistik berbantuan kue tradisional lampung. Tes yang
diberikan dalam penelitian ini berbentuk soal uraian.
Kemampuan pemahaman konsep siswa dinilai berdasarkan indikator
pemahaman konsep. Adapun kriteria penilaian kemampuan pemahaman
konsep menurut adaptasi (Kartika,2018), dapat dilihat pada tabel berikut
ini:
Tabel 1.4 pedoman penskoran kemampuan pemahaman konsep
Indikator pemahaman Keterangan Skor
konsep
Menyatakan ulang sebuah Jawaban kosong 0
konsep Tidak dapat menyatakan ulang 1
konsep
Dapat menyatakan ulang 2
konsep tetapi masih banyak
kesalahan
Dapat menyatakan ulang 3
konsep tetapi belum tepat
Dapat menyatakan ulang 4
konsep dengan tepat
49
Mengklasifikasikan objek Jawaban kosong 0
menurut tertentu sesuai Tidak dapat mengkasifiksikan 1
dengan sifatnya objek sesuai dengan sifatnya
Dapat mengklasifikasikan objek 2
sesuai dengan sifatnya tetapi
masih ada kesalahan
Dapat mengklasifikasikan objek 3
sesuai dengan sifatnya tetapi
belum tepat
Dapat mengkalsifikasikan objek 4
sesuai dengan sifatnya dengan
tepat
Mengidentifikasi contoh Jawaban kosong 0
dan bukan contoh dari Tidak dapat memberikan contoh 1
suatu konsep dan bukan contoh
Dapat memberikan contoh dan 2
bukan contoh tetapi masih ada
kesalahan
Dapat mmeberikan contoh dan 3
bukan contoh tetapi belum tetap
Dapat memberikan contoh dan 4
bukan contoh dengan tepat
Menggunakan dan Jawaban kosong 0
memanfaatkan serta Tidak dapat menggunakan, 1
memilih prosedur atau memanfaatkan dan memilih
operasi tertentu prosedur
Dapat menggunakan, 2
memanfaatkan dan memilih
prosedur tetapi masih ada
kesalahan
Dapat menggunakan, 3
memanfaatkan dan memilih
prosedur tetapi belum tepat
Dapat menggunakan, 4
memanfaatkan dan memilih
prosedur dengan tepat tepat
Mengaplikasikan konsep Jawaban kosong 0
atau algoritma dalam Tidak dapat mengaplikasikan 1
pemecahan masalah rumus sesuai prosedur dalam
menyelesaikan soal pemecahan
masalah
Dapat mengaplikasikan rumus 2
sesuai prosedur dalam
menyelesaikan soal pemecahan
masalah tetapi masih ada
kesalahan
dapat mengaplikasikan rumus 3
50
sesuai prosedur dalam
menyelesaikan soal pemecahan
masalah tetapi belum tepat
dapat mengaplikasikan rumus 4
sesuai prosedur dalam
menyelesaikan soal pemecahan
masalah dengan tepat
n=
keterangan
= skor yang diperoleh
b = skor maksimum
n = jumlah nilai
E. Validitas Dan Reliabilitas Instrument
a. Validitas Isi
Untuk instrument yang berbentuk test, pengujian validitas isi dapat
dilakukan dengan membandingkan isi instrument dengan materi pelajaran
yang telah diajarkan dan disesuaikan dengan indikatror dan isinya.
Validitas isi dilakukan oleh validator atau ahli.
b. Validitas Instrument
Tes dikatakan valid jika soal yang dibuat telah sesuai dengan materi
yang akan diajarkan dalam proses pembelajaran. Validitas tiap item
dilakukan dengan mengkorelasi skor butir soal tersebut dengan skor total
yang diperoleh. Koefisien korelasi dihitung dengan rumus korelasi
pearson product moment.
Rumus Korelasi Pearson Product Moment
∑ (∑ )(∑ )
√* ∑ (∑ ) +* ∑ (∑ ) +
51
Sumber : Arikunto,2018
Keterangan
: Koefisien korelasi
∑ : jumlah skor yang diperoleh dari tes (skor item)
∑ : Jumlah skor total (seluruh item)
N : jumlah responden
Untuk mengetahui valid tidaknya butir soal, maka
dibandingkan product momen dengan 5% dan derajat
kebebasan (dk) = n 2 . Jika , maka soal tersebut
dinyatakan tidak valid dan jika , maka angket skla
pemahaman konsep tersebut dinyatakan valid tetap dipertahankan dalam
instrument yang selanjutnya digunakan untuk proses pengelolahan data
dalam penelitian yang sebenarnya.
c. Daya Pembeda
Untuk mengetahui sejauh mana tiap nutir soal mampu membedakan
kelompok dalam aspek yang diukur sesuai dengan perbedaan yang ada
dalam kelompok tes. Rumus untuk menghitung daya pembeda dapat
digunakan formula sebagai berikut:
= -
Sumber : Arikunto,2018
52
Keterangan :
: Jumlah peserta tes
: Banyaknya peserta tes kelompok atas
: Banyaknya peserta tes kelompok bawah
: Banyaknya peserta tes pada kelompok atas yang menjawab soal
itu benar
: Banyaknya peserta tes pada kelompok bawah yang menjawab
soal itu benar
: Proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar
: Proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar
Hasil dari perhitungan daya pembeda dikonstruksikan dengan
kriteria indeks daya pembeda yang dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 1.5 Kriteria indeks daya pembeda
Nilai Keputusan
0,00 – 0,20 Jelek
0,20 – 0,40 Cukup
0,40 – 0,70 Baik
0,70 – 1,00 Baik Sekali
Sumber : Arikunto,2018
Soal yang diterima adalah soal yang terletak pada daya pembeda
0,40 – 0,70 . Disimpulkan dalam penelitian ini daya pembeda soal yang
diterima pada nilai lebih dari 0,40.
53
d. Tingkat kesukaran
Tingkat kesukaran digunakan untuk mengetahui kesukaran soal
dalam rangka menyediakan berbagai alat diagnostic kesulitan belajar siswa
ataupun dalam rangka meningkatkanpenilaian berbasis kelas. Tingkat
kesukaran soal dapat ditentukan dari kedalaman soal. Rumus yang
digunakan untuk menentukan tingkat kesukaran adalah:
P=
Sumber : Arikunto,2018
Keterangan :
P : Indeks kesukaran
B : Banyaknya siswa yang menjawab soal itu benar
: Jmlah seluruh siswa peserta tes
Hasil dari perhitungan tingkat kesukaran maka nilai perhitungan
dirumuskan dengan kategori tingkat kesukaran yang dapat dilihat pada
tabel berikut ini:
Tabel 2.1 Kriteria indeks tingkat kesukaran
Nilai Keputusan
Sukar
Sedang
Mudah
Sumber : Arikunto,2018
Soal yang diterima adalah soal yang terletak pada rentang tingkat
kesukaran 0,31 sampai dengan 0,70. Disimpulkan dalam penelitian ini
tingkat kesukaran soal yang diterima terletak pada rentang 0,31 sampai
dengan 0,70 dengan ketegori soal sedang.
54
e. Reliabilitas Instrument
Uji reliabilitas dilakukan untuk mengetahui tingkat keajegan atau
ketetapan tes yang digunakan. Tes dikatakan reliable yaitu jika soal tes
tersebut memberikan hasil yang relative sama (konsisten) walaupun soal
tes tersebut diberikan pada subjek, waktu dan tempat yang bebeda. Untuk
mengetahui reliabilitas tes pada soal uraian menggunakan rumus
Cronbach alpha, sebagai berikut:
∑
( )( )
Sumber : Arikunto,2018
Keterangan
: reliabilitas yang dicari
: Jumlah butir soal
∑ : Jumlah varians skor tiap-tiap item
:
Varians total
Tabel 2.2 kriteria indeks korelasi
Nilai Kriteria
0,000-0,199 Sangat Rendah
0,200-0,399 Rendah
0,400-0.599 Cukup
0,600-0,799 Tinggi
0.800-1,000 Sangat Tinggi
(Sumber : Arikunto,2018)
55
F. Teknik Analisis Data
Untuk mengetahui pengaruh pembelajaran matematika realistik
berbantuan makanan khas lampung terhadap kemampuan pemahaman konsep
pecahan siswa kelas V SDN 2 Pringsewu Timur dengan menggunakan uji t.
namun dalam uji t terdapat beberapa syarat:
1. Uji Pra Syarat
Uji pra syarat analisis statistik dalam penelitian ini yaitu
menggunakan uji normalitas, uji homogenitas, dan uji t. berikut ini
merupakan penjelasan dari uji pra syarat :
a. Uji Normalitas
Sampel membutuhkan pengujian untuk mengetahui apakah
berdistribusi normal atau tidak. Adapun dalam penelitian ini, untuk
menguji normalitas menggunakan uji Lillieforx. Menurut Nuryadi dkk
(2017), uji normalitas data dapat dilakukan menggunakan uji Lilliefors
(Lo) dengan tahapan sebagai berikut. Langkah pertama adalah
menetapkan tingkat signifikansi, yakni pada tingkat signifikansi 5%
(0,05). Hipotesis uji dinyatakan, sebagai berikut:
: Data berdistribusi normal
: Data berdistribusi tidak normal
Kriteria pengujian:
1) Jika nilai atau maka
diterima.
2) Jika nilai atau maka
ditolak.
56
Adapun langkah-langkah yang akan di lakukan dalam pengujian
normalitas, sebagai berikut:
a. Mencari simpangan baku
̅
Rumus; =
Keterangan
̅ = Rata-rata sampel
= simpangan baku ( standar deviasai)
b. Menentukan peluang
Untuk setiap bilangan baku ini dengan menggunakan daftar
distribusi normal baku, kemudian di hitung peluang F (z)
c. Menghitung proporsi
Rumus : S ( ) =
d. Menghitung selisih F ( ) – S ( ), Maka kemudian menentukan
harga mutlaknya.
e. Mengambil harga L hitung yang paling besar diantara harga mutlak
( ), untuk menerima atau menolak hipotesis, maka akan di
bandingkan antara dengan nilai kritis L yang diambil dari
daftar, untuk taraf nyata = 0,05.
b. Uji Homogenitas
Setelah diketahui data hasil penelitian berdistribusi normal, maka
selanjutnya diadakan pengujian homogenitas. Pengujian homogenitas
berfungsi apakah kedua kelompok populasi itu bersifat homogeny. Uji
57
homogenitas yang digunakan pada penelitian ini adalah uji fisher
dengan rumus sebagai berikut:
JIKA maka tidak homogen
JIKA maka homogeny (Arikunto,2013)
2. Uji Hipotesis
Untuk melihat apakah ada pengaruh penggunaan pembelajaran
matematika realistik berbantuan makanan khas lampung terhadap
kemampuan pemahaman konsep pecahan siswa uji t-test parametis
varians. Adapun rumus yang dimaksud sebagai berikut:
a. Uji t dua pihak
̅ ̅ ̅ ̅
dimana
( ) ( )
√ √ ( )
Sumber : Hajaroh & Raehanah, 2021
Keterangan :
̅₁ : Nilai Rata-rata kelas Eksperimen
̅₂ : Nilai Rata-rata Kelas Kontrol
: Jumlah Sampel Kelas Eksperimen
: Jumlah sampel Kelas Kontro
: Varians kelas Eksperimen
: Varians kelas Kontrol
58
Berdasarkan pada kajian pustaka di atas dan fenomena yang
telah terjadi dilapangan, maka hipotesis ( ) yang diajukan adalah:
: Terdapat pengaruh signifikan Pembelajaran Matematika
Realistik Beberbantuan makanan khas lampung Terhadap
Kemampuan Pemahaman Konsep Pecahan.
: Tidak terdapat pengaruh signifika Pembelajaran Matematika
Realistik Berbantuan makanan khas Lampung Terhadap
Kemampuan Pemahaman Konsep Pecahan.
Hipotesis Statistik:
Uji hipotesis yang digunakan adalah uji perbedaan rata-rata
hasil tes dengan rumus uji hipotesisnya adalah sebagai berikut :
3) Jika nilai atau maka
ditolak dan diterima.
4) Jika nilai atau maka
diterima dan ditolak.
Nilai ditentukan dengan dk ( derajat kebebasan) dan nilai
signifikan. Harga dk diketahui memulai persamaan dk = n-1, dimana
n adalah jumlah data.
59
b. Uji t satu pihak
Uji t satu pihak digunakan untuk mengetahui bagaimana
pengaruh pembelajaran matematika realistik berbantuan makanan khas
lampung terhadap kemampuan pemahaman konsep pecahan siswa
dengan rumus sebagai berikut:
̅ ̅ ̅ ̅
dimana
( ) ( )
√ √ ( )
Sumber : Hajaroh & Raehanah, 2021
Keterangan :
̅₁ : Nilai Rata-rata kelas Eksperimen
̅₂ : Nilai Rata-rata Kelas Kontrol
: Jumlah Sampel Kelas Eksperimen
: Jumlah sampel Kelas Kontrol
S : Varians kelas Eksperimen
S : Varians kelas Kontrol
Berdasarkan pada kajian pustaka diatas dan fenomena yang
telah terjadi dilapangan, maka hipotesis ( ) yang diajukan adalah:
: rata-rata kemampuan pemahaman kemampuan konsep pecahan
siswa dengan menggunakan pembelajaran matematika realistik
lebih baik dari rata-rata kemampuan pemahaman konsep
pecahan yang menggunakan metode ceramah.
: rata-rata kemampuan pemahaman kemampuan konsep pecahan
siswa dengan menggunakan pembelajaran matematika realistik
60
kurang dari atau sama dengan rata-rata kemampuan pemahaman
konsep pecahan yang menggunakan metode ceramah.
Hipotesis Statistik:
Uji hipotesis yang digunakan adalah uji perbedaan rata-rata
hasil tes dengan rumus uji hipotesisnya adalah sebagai berikut:
a. Jika nilai atau maka
ditolak dan diterima.
b. Jika nilai atau maka
diterima dan ditolak.
Nilai ditentukan dengan dk ( derajat kebebasan) dan nilai
signifikan. Harga dk diketahui memulai persamaan dk = n-1, dimana
n adalah jumlah data.
61
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil penelitian
1. Uji Coba Instrumen
Penelitian uji coba instrumen telah dilaksanakan pada tanggal 08
November 2024 di UPT SDN 2 Pringsewu Timur, Kecamatan Pringsewu,
Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung pada Tahun Ajaran 2024/2025.
Uji coba ini dilakukan di kelas VB yang berjumlah 24 siswa. Instrument
tes pada penelitian ini berbentuk soal uaraian yang berjumlah 10 soal.
Hasil uji coba instrument dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 2.3 Hasil Tes Uji Coba Instrumen
Responden Nama Nilai
1 AFH 59
2 ASP 43
3 RNP 53
4 MIA 37
5 IS 51
6 AAH 64
7 DRA 52
8 FZA 97
9 DAZ 97
10 KPA 54
11 KGR 61
12 MAS 43
13 MAD 64
14 MASH 27
15 MMA 48
16 NFP 65
17 PAA 34
18 PA 52
19 PA 45
20 SFA 49
21 RA 45
22 AHW 34
23 SF 86
24 TAR 35
62
a. Uji validitas
Penelitian ini menggunakan validitas item (butir soal).
Validitas ini dilakukan dengan cara mencocokkan butir soal dengan
indikator. Adapun validitas untuk memeriksa dan menvalidasikan
instrument yang sudah di buat terdiri dari validator guru kelas 5 UPT
SDN 2 pringsewu timur yaitu Ibu Gadis Nabila,S.Pd dan Ibu Dwi
Cahya Oktaviani,S.Pd tes tersebut dinyatakan valid setelah dilakukan
validasi oleh kedua validator tersebut.
Uji coba dilakukan di kelas V UPT SDN 2 Pringsewu Timur
dengan jumlah 24 siswa dengan instrument tes berupa soal uraian yang
berjumlah 10 soal. Pada materi konsep pecahan, selanjutnya untuk
mengetahui validitas tes tiap item atau soal dilakukan perhitungan
menggunakan rumus pearson product moment untuk menentukan nilai
dari hasil perhitungan diperoleh hasul pada tabel berikut:
Tabel 2.4 Hasil Tes Uji Validitas Instrumen
No Soal R hitung R tabel Keterangan
1 0,484 0,423 Valid
2 0,426 0,423 Valid
3 0,470 0,423 Valid
4 0,489 0,423 Valid
5 0,198 0,423 Tidak valid
6 0,186 0,423 Ttidak Valid
7 0,091 0,423 Tidak Valid
8 0,451 0,423 Valid
9 0,153 0,423 Tidak Valid
10 0,098 0,423 Tidak valid
( Perhitungan dapat dilihat pada lampiran hal 154-172)
63
Setelah di bandingkan dengan dengan taraf signifikan
5% jika > maka dikatakan soal valid. Hasil analisis tersebut,
di peroleh 5 item soal diantaranya nomor 1,2,3,4dan 8 dinyatakan valid,
sedangkan 5 item soal diantaranya nomor 5,6,7,9 dan 10 dinyatakan tidak
valid.
b. Daya pembeda
Uji daya pembeda tes digunakan untuk melihat apakah tes disusun
dapat di bedakan antara siswa yang berkemampuan rendah dengan siswa
yang berkemampuan tinggi, daya beda setiap soal diperoleh sebagai
berikut:
Tabel 2.5 Hasil Tes Uji Daya Beda
No soal Daya pembeda Kriteria
1 0,50 Baik
2 0,41 Baik
3 0,50 Baik
4 0,33 Cukup
5 0,32 Cukup
6 0,33 Cukup
7 0,50 Baik
8 0,42 Baik
9 0.33 Cukup
10 0,25 Cukup
( Perhitungan dapat dilihat di lampiran hal 173-177)
Dilihat dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa indeks daya
beda dari 10 soal berbentuk uraian di ketahui, 5 soal mempunyai indeks
daya beda (Baik) dan 5 soal mempunyai indeks daya beda (Cukup).
64
c. Tingkat Kesukaran
Uji tingkat kesukaran digunakan untuk mengetahui apakah test
yang diajukan sukar,sedang, dan mudah. Dengan menunjukkan kepada
klasifikasi tingkat kesukaran tes berada pada:
Tabel 3.1 Kriteria Tingkat Kesukaran
0,00 – 0,30 Sukar
0,31 – 0,70 Sedang
0,71 – 0,100 Mudah
Tingkat kesukaran pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 3.2 Hasil Indeks Tingkat Kesukaran
No Soal Tingkat Kriteria
Kesukaran
1 0,50 Sedang
2 0,45 Sedang
3 0,41 Sedang
4 0,50 Sedang
5 0,20 Sukar
6 0,16 Sukar
7 0,25 Sukar
8 0,37 Sedang
9 0,12 Sukar
10 0,08 Sukar
(Perhitungan dapat di lihat pada lampiran hal 178-181)
Berdasarkan kriteria tingkat kesukaran dinyatakan diterima
apabila berada pada 0,30-0,71. Dilihat dari tabel diatas dapat disimpulkan
bahwa indeks kesukaran dari 10 soal berbentuk uraian di ketahui, 5 soal
65
mempunyai indeks kesukaran (Sedang), dan 5 soal mempunyai indeks
kesukaran (Sukar).
Tabel 3.3 Penetapan Instrument Pemecahan Masalah Matematika
No Validitas Daya Tingkat Keputusan
Soal pembeda kesukaran
1 Valid Baik Sedang Digunakan
2 Valid Baik Sedang Digunakan
3 Valid Baik Sedang Digunakan
4 Valid Cukup Sedang Tidak
digunakan
5 Tidak valid Cukup Sukar Tidak
digunakan
6 Tidak valid Cukup Sukar Tidak
digunakan
7 Tiidak valid Baik Sukar Tidak
digunakan
8 Valid Baik Sedang Digunakan
9 Tidak valid Cukup Sukar Tidak
digunakan
10 Tidak valid Cukup Sukar Tidak
digunakan
Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa dari 10 soal yang
di uji cobakan hanya 4 soal yang memenuhi kriteria diatas yaitu soal
nomor 1,2,3, dan 8. Dengan demikian hanya 4 soal yang digunakan untuk
penelitian selanjutnya .
66
d. Uji reliabilitas
Instrument pengukuran dikatakan reliabilitas jika pengukurannya
konsisten dan cermat akurat. Adapun hasil dari perhitungan reliabilitas
tersebut ada dalam tabel dibawah ini :
Tabel 3.4 Hasil Reliabilitas
Kriteria
0.929 Tinggi
( Perhitungan dapat dilihat pada lampiran hal 182-185)
Berdasarkan perhitungan menunjukkan bahwa item-item
instrument soal yang valid tersebut memiliki koefisien reliabilitas soal
sebesar 0.929. dengan demikian tingkat reliabilitasnya sangat tinggi atau
dapat dikatakan tiap butir soal tersebut ialah sangat reliabel.
B. Analisis data
Penelitian telah dilaksanakan pada tanggal 18-21 November 2024 di
UPT SDN 2 Pringsewu Timur, Kecamatan Pringsewu, Kabupaten Pringsewu,
Provinsi Lampung Tahun Pelajaran 2024/2025. Penelitian dilakukan di kelas
VA (Kelas Eksperimen) yang berjumlah 22 siswa, dan kelas VC (Kelas
Kontrol) yang berjumlah 22 siswa, instrumen tes pada penelitian ini
berbentuk tes uraian yang berjumlah 4 soal.
Peneliti melakukan perlakuan pada kelas VA (Kelas Eksperimen)
dengan memberikan materi pecahan dengan menggunakan model
pembelajaran matematika realistik berbantuan makanan khas lampung,
sedangkan pada kelas VC (Kelas Kontrol) diberikan perlakuan dengan model
pembelajaran konvensional dimana perlakuan ini diberikan guru seperti
67
pembelajran sebelumnya. Pengambilan tes dilakukan setelah diberikan
perlakuan. Adapun hasil tes kelas VA (Kelas Eksperimen) dan kelas VC
(Kelas kontrol) yang diperoleh pada tabel berikut:
Tabel 3.5 Hasil Analisis Data Hasil Belajar Eksperimen Dan Kontrol
N0 Nama Siswa Eksperimen Nama Siswa Kontrol
1 R 53 NZA 15
2 KNF 56 FAP 20
3 FNP 57 EAP 33
4 DUJW 58 ADA 34
5 NFS 64 KAF 36
6 AAP 64 NMU 49
7 DDLP 65 NMA 50
8 ANA 66 AP 57
9 TIR 70 NLU 57
10 TMA 72 DM 60
11 ELF 77 RAP 60
12 C 77 RA 60
13 D 78 UZ 60
14 RR 79 SK 62
15 RBFP 82 HZP 62
16 AH 82 AS 62
17 KA 83 AEP 63
18 RA 84 RDL 64
19 AZ 85 ABS 70
20 EL 90 ARRR 73
21 ZKP 90 ANS 75
22 DPA 91 AKZP 80
Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil tes kelas VA (Kelas
Eksperimen) pada 22 responden dengan menggunakan 4 soal uraian. Data
deskriptif peserta didik kelas eksperimen saat di berikan perlakuan dapat
dilihat pada tabel berikut:
68
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Data Hasil Belajar Kelas Eksperimen
No INVERVAL FREKUENSI %
1 50-54 1 4,5 %
2 55-59 3 14%
3 60-64 2 9%
4 65-69 2 9%
5 70-74 2 9%
6 75-79 4 18%
7 80-84 4 18%
8 85-89 1 4,5%
9 90-94 3 14%
JMLH 22 100%
Berdasarkan tabel diatas dapat di ketahui bahwa interval yang
didapatkan antara 50-54 yaitu sebesar 4,5%, antara 55-59 yaitu sebesar
14%, antara 60-64 yaitu sebesar 9 %, antara 65-69 yaitu sebesar 9%,
antara 70-74 yaitu sebesar 9 %, antara 75-79 yaitu sebesar 18%, antara 80-
84 yaitu sebesar 18%, antara 85-89 yaitu sebesar 4,5% dan antara 90-94
yaitu sebesar 14%. Berdasarkan hasil nilai tes siswa yang memperoleh
nilai diatas KKM (70). persebaran nilai lebih lanjut dapat dilihat pada
diagram berikut:
69
4,5
Frekuensi
4
3,5
2,5
1,5
0,5
0
50-54 55-59 60-64 65-69 70-74 75-79 80-84 85-89 90-94
Gambar 2.1 Diagram Nilai Tes Akhir Hasil Belajar Kelas Eksperimen
Berdasarkan diagram di atas dapat dipahami bahwa jumlah siswa
yang memperoleh rentang nilai 50-54 adalah sebanyak 1, antara rentang
nilai 55-59 adalah sebanyak 3, antara rentang nilai 60-64 adalah sebanyak
2, antara rentang nilai 65-69 adalah sebanyak 2, antara rentang nilai 70-74
adalah sebanyak 2, antara rentang nilai 75-79 adalah sebanyak 4,antara
rentang nilai 80-84 adalah sebanyak 4, antara rentang nilai 85-89 adalah
sebanyak 1, dan antara 90-94 adalah sebanyak 3.
Selanjutnya berdasarkan data yang diperoleh dari hasil tes kelas
VC (Kelas Kontrol) pada 22 responden dengan menggunakan 4 soal uraian.
Data deskriptif hasil belajar matematika peserta didik kelas kontrol dapat
dilihat pada tabel berikut:
70
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Data Tes Akhir Hasil Belajar Kelas Kontrol
No INVERVAL FREKUENSI %
1 15-19 1 4,5 %
2 20-24 1 4,5%
3 25-29 0 0%
4 30-34 2 9%
5 35-39 1 4,5%
6 40-44 0 0%
7 45-49 1 4,5%
8 50-54 1 4,5%
9 55-59 2 9%
10 60-64 9 41,5%
11 65-69 0 0%
12 70-74 2 9%
13 75-79 1 4,5%
14 80-84 1 4,5%
JMLH 22 100%
Berdasarkan tabel diatas dapat di ketahui bahwa interval yang
didapatkan antara 15-19 yaitu sebesar 4,5%, antara 20-24 yaitu sebesar
4,5%, antara 25-29 yaitu sebesar 0%, antara 30-34 yaitu sebesar 9%,
antara 35-39 yaitu sebesar 4,5 %, antara 40-44 yaitu sebesar 0%, antara
45-49 yaitu sebesar 4,5%, 50-54 yaitu sebesar 4,5%, antara 55-59 yaitu
sebesar 9%, antara 60-64 yaitu sebesar 41,5 %, antara 65-69 yaitu sebesar
0%, antara 70-74 yaitu sebesar 9 %, antara 75-79 yaitu sebesar 4,5%, dan
antara 80-84 yaitu sebesar 4,5%, Berdasarkan hasil nilai tes siswa yang
mmeperoleh nilai diatas KKM (70). persebaran nilai lebih lanjut dapat
dilihat pada diagram berikut:
71
10 Frekuensi
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0
Gambar 2.2 Diagram Nilai Tes Akhir Hasil Belajar Kelas Kontrol
Berdasarkan diagram di atas dapat dipahami bahwa jumlah siswa
yang memperoleh rentang nilai 15-19 adalah sebanyak 1 siswa, antara
rentang nilai 20-24 adalah sebanyak 1 siswa, antara rentang nilai 25-29
adalah sebanyak 0 siswa, antara rentang nilai 30-34 adalah sebanyak 1,
antara rentang nilai 35-39 adalah sebanyak 1 siswa, rentang nilai 40-44
adalah sebanyak 0 siswa, antara rentang nilai 45-49 adalah sebanyak 1
siswa, antara rentang nilai 50-54 adalah sebanyak 1 siswa, antara rentang
nilai 55-59 adalah sebanyak 2, antara rentang nilai 60-64 adalah sebanyak
9 siswa, antara rentang nilai 65-69 adalah sebanyak 0 siswa, antara rentang
nilai 70-74 adalah sebanyak 2, antara rentang nilai 75-79 adalah sebanyak
1, dan antara rentang nilai 80-84 adalah sebanyak 1 siswa.
Data tes hasil belajar peserta didik yang diberikan perlakuan
menggunakan model pembelajaran matematika realistik berbantuan
makanan khas lampung di kelas VA (Kelas Eksperimen) dan model
72
pembelajaran konvensional di kelas VC (Kelas Kontrol) yang diperoleh
dideskripsikan menurut rata-rata, standar deviasi, nilai minimum, dan nilai
maksimum. Tes hasil belajar Matematika peserta didik kelas VA (Kelas
Eksperimen) dan kelas VC (Kelas Kontrol) secara lengkap dapat dilihat
pada tabel. Deskripsi data mengenai hasil belajar Matematika peserta didik
dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.3 Stastistik Hasil Belajar Kelas Eksperimen Dan Kontrol
No Statistik Hasil Belajar
Eksperimen Kontrol
1 Rata-rata (mean) 73 55
2 Standar deviasi 12 17
3 Varians 141,1 292,5
4 Minimum 53 15
5 Maksimum 91 80
6 N (Jumlah Siswa) 22 22
Tabel terlihat bahwa rata-rata nilai hasil belajar Matematika siswa
yang menggunakan model pembelajaran matematika realistik berbantuan
makanan khas lampung lebih tinggi daripada rata-rata hasil belajar peserta
didik kelas kontrol yang menggunakan model pembelajaran pembelajaran
konvensional. Hal ini berarti ada perbedaan hasil belajar antara siswa yang
menggunakan model pembelajaran matematika realistik dengan
berbantuan makanan khas lampung dan yang tidak menggunakan model
pembelajaran matematika realistik dengan berbantuan makanan khas
lampung dengan selisih 18.
Berdasarkan standar deviasi, maka nilai tes hasil belajar
Matematika dengan menggunakan model pembelajaran matematika
realistik dengan berbantuan makanan khas lampung lebih tinggi
73
dibandingkan nilai tes hasil belajar dengan menggunakan model
pembelajaran konvensional karena standar deviasi siswa dengan
menggunakan model pembelajaran matematika realistik dengan
berbantuan makanan khas lampung lebih tinggi dari pada siswa yang
menggunakan model pembelajaran konvensional. Tes hasil belajar
matematika siswa dapat dilihat secara lengkap berikut ini:
Gambar 2.3 Nilai Tes Akhir Gambar 2.4 Nilai Tes Akhir
Belajar Kelas Eskpermen Belajar Kelas Kontrol
Skor rata-rata kemampuan hasil belajar Matematika siswa
eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan siswa kelas kontrol.
Berdasarkan hasil rata-rata tes peserta didik diketahui bahwa rata- ratanya
adalah 73 (Kelas Eksperimen) dan 55 (Kelas Kontrol). Dapat disimpulkan
bahwa rata-rata nilai tes kelas eksperimen lebih tinggi daripada nilai tes
kelas kontrol.
74
1. Uji Prasyarat
a. Uji Normalitas Data
Uji normalitas dilakukan bertujuan untuk mengetahui apakah
distribusi data berasal dari populasi normal atau tidak. Pengujian
normalitas dilakukan di UPT SDN 2 Pringsewu Timur pada dua
kelompok data yang terdiri dari kelas VA sebagai kelas eksperimen
dan VB sebagai kelas kontrol. Pengujian ini menggunakan uji Liliefors
dengan syarat sebagai berikut; jika Lhitung > Ltabel (sampel tidak
berdistribusi normal) jika Lhitung < Ltabel (sampel berdistribusi normal).
Untuk lebih jelasnya pada perhitungan uji normalitas untuk nilai
posttest pada kelas eksperimen dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.4 Hasil Uji Normalitas Data
No Distribusi Lhitung Ltabel Kesimpulan
Kelompok
1 Eksperimen 0,1084 0,1832 Normal
2 Kontrol 0,141 0,1832 Normal
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa hasil distribusi
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol berdistribusi normal.
b. Uji Homogenitas
Uji Homogenitas (Uji Fisher) Uji homogenitas data dilakukan
dengan uji fisher menggunakan varians terbesar dibandingkan dengan
varian terkecil dari data yang ada. Pengujian homogenitas ini
dilakukan untuk mengetahui apakah hasil belajar matematika memiliki
varians yang homogen atau tidak. Berdasarkan hasil perhitungan uji
75
homogenitas data hasil belajar matematika diperoleh Fhitung sebesar
2,072 dan taraf signifikansi α = 0,05 diperoleh Ftabel sebesar 2,084.
Dimana jika: Fhitung > Ftabel berarti tidak homogen dan Fhitung < Ftabel
berarti homogen. Karena Fhitung < Ftabel maka data yang digunakan
berasal dari populasi yang homogen. Untuk lebih jelas hasil penelitian
dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 4.5 Uji Homogenitas
Varians Eksperimen 141,1
Varians Kontrol 292,5
F hitung 2,072
F tabel 2,084
Kesimpulan Homogen
Berdasarkan hasil uji homogenitas pada tabel diatas maka
Fhitung ≤ Ftabel (2,072 ≤ 2,084), dapat ditarik kesimpulan bahwa HOl
diterima yang berarti kedua varians bersifat homogen.
2. Uji Hipotesis
Uji hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan
rumus uji-t. berdasarkan uji normalisasi dan uji homogenitas yang
telah dilakukan peneliti menunjukkan bahwa dan selanjutnya dapat
dilakukan uji hipotesis karena data berdistribusi normal dan data
homogen. Uji hipotesis dilakukan untuk mengetahui ada tau tidak
pengaruh antara pembelajaran matematika realistik berbantuan
makanan khas lampung terhadap kemampuan pemahaman konsep
pecahan. Dasar pengambilan keputusan uji hipotesis apakah Ha ditolak
atau diterima menggunakan taraf signifikan 5% yaitu jika
76
maka Ha diterim dan Ho ditolak. Jika maka
Ho di terima dan Ha ditolak. Berikut hipotesisnya sebagai berikut:
: Terdapat pengaruh signifikan Pembelajaran Matematika
Realistik Beberbantuan makanan khas lampung Terhadap
Kemampuan Pemahaman Konsep Pecahan.
: Tidak terdapat pengaruh signifika Pembelajaran Matematika
Realistik Berbantuan makanan khas Lampung Terhadap
Kemampuan Pemahaman Konsep Pecahan.
Adapun hasil analisis menggunakan uji t ,dapat dilihat dibawah ini:
a. Uji-t Dua Pihak
Hipotesis statistik
: = Terdapat pengaruh signifika Pembelajaran
Matematika Realistik Berbantuan makanan
khas Lampung Terhadap Kemampuan
Pemahaman Konsep Pecahan
: = Tidak terdapat pengaruh signifika Pembelajaran
Matematika Realistik Berbantuan makanan
khas Lampung Terhadap Kemampuan
Pemahaman Konsep Pecahan
77
Perhitungan didapat = 4,308, selanjutnya
dibandingkan dengan dk = 22 + 22 – 2 = 42 a= 5% hasil
= 2,019. Berdasarkan perhitungan = 4,308
= 2,019 maka Ho ditolak dan menerima Ha.
Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh kemampuan
pemahaman konsep pecahan dengan menggunakan pembelajaran
matematika realistik dengan bantuan makanan khas lampung.
Berdasarkan uji tersebut bahwa Ha diterima yang artinya ada
pengaruh pembelajaran matematika realistik berbantuan makanan
khas lampung terhadap kemmapuan pemahaman konsep pecahan .
perhitungan uji t dapat dilihat pda lampiran hal 202-204.
b. Uji –t Satu Pihak
Hipotesis statistik
: = Rata-rata kemampuan pemahaman konsep
pecahan ssiwa dengan menggunakan model
pembelajaran matematika realistik lebih baik
dari rata-rata kemmapuan pemahaman pecahan
dengan menggunakan pembelajaran
konvensional.
: = Rata-rata kemampuan pemahaman konsep
pecahan siswa dengan menggunakan
pembelajaran matematika realistik kurang dari
78
atau sama dengan rata-rata kemampuan
pemahaman konsep pecahan yang
menggunakan pembelajaran konvensiona.
Dari hasil perhitungan uji-t dua pihak di peroleh
4,308 dengan taraf nyata ( )= 0,05 dan dk = (22+ 22-2) = 42,
=( ) = ( 1- 0,05) = 0,95 sehingga di dapatkan
1,683.
Berdasarakan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa
atau 4,308 1,683 maka Ho ditolak, sehingga hal
ini menunjukkan bahwa rata-rata kempamuan pemahaman konsep
pecahan siswa dengan menggunakan pembelajaran matematika
realistik berbantuan makanan khas lampung lebih tinggi dari
kemampuan pemahaman konsep pecahan siswa dengan
menggunakan pembelajaran konvensional. Perhitungan dapat
dilihat pada lampiran hal 205-207.
79
C. Pembahasan
Dari hasil analisis uji pra syarat yaitu uji normalitas data diperoleh
bahwa data kelas VA (Kelas Eksperimen) dan data kelas VC (Kelas
Kontrol) keduanya berdistribusi normal, selanjutnya melalui uji
homogenitas diperoleh bahwa kedua sampel berasal dari variasi yang
homogen. Karena uji analisis data terpenuhi, dilanjutkan uji hipotesis
menggunakan uji-t. Hasil perolehan dari analisis uji-t dua pihak pada taraf
5% menunjukkan bahwa = 4,308 dan = 2,019. Berdasarkan
kriteria uji menunjukkan yang berarti ditolak dan
diterima yang artinya terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar siswa
yang menggunakan model pembelajaran matematika realistik berbantuan
makanan khas lampung (kelas eksperimen) dengan siswa yang
menggunakan model pembelajaran konveksional (kelas kontrol). Kemudian
dari hasil analisis data uji-t satu pihak dengan taraf signifikan 5% didapat
bahwa = 4,308 dan = 1,683. Berdasarkan kriteria uji
menunjukkan yang berarti ditolak dan diterima yang
artinya rata-rata kemampuan pemahaman konsep pecahan siswa yang di
peroleh melalui model pembelajaran matematika realistik berbantuan
makanan khas lampung (kelas eksperimen) lebih tinggi daripada rata-rata
kemampuan pemahaman konsep pecahan siswa yang diperoleh dengan
model pembelajaran konvensional (kelas kontrol).
Perolehan dari data dapat terlihat rata-rata sebesar 73, yaitu rata-rata
hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran matematika
realistik berbantuan makanan khas lampung dan nilai rata-rata sebesar 55
80
yaitu rata-rata hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran
konveksional. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar siswa yang
menggunakan model pembelajaran matematika realistik berbantuan
makanan khas lampung lebih tinggi daripada rata-rata hasil belajar siswa
yang menggunakan model pembelajaran konveksional. Hal ini di dukung
oleh penelitian yang di lakukan oleh Ananda (2018) yang di peroleh
kesimpulan bahwa hasil belajar siswa kelas IV SDN 08 langgini
bangkinang kota setelah mengikuti pembelajaran penjumlahan pecahan
dengan penyebut yang tidak sama dengan menggunakan model
pembelajaran matematika realistik meningkat. Berdasarkan hasil belajar
siswa dari pra tindakan siklus I ke siklus II meningkat sebanyak 79%.
Pembelajaran dengan menggunakan model matematika reaslitik
dengan berbantuan mkanan khas lampung lebih baik dibandingkan dengan
pembelajaran yang menggunakan model konvensional. Terlihat dari siswa
saat memahami materi dengan berbantuan makanan khas lampung , dapat
membuat siswa lebih antusisas dan menambah minat belajar siswa pada saat
pembelajaran berlansung. Hal tersebut di dukung oleh penelitian yang
dilakukan putri dkk (2022), bahwa pembelajaran matematika materi pecahan
melalui model pembelajaran matematika realistik yang menggunakan kue
spiku sebagai konteks utama dapat menfasilitasi pemahaman dan
pengontruksian pengetahuan siswa sehingga pembelajaran menjadi lebih
menarik. Penelitian ini memberikan hasil bahwa siswa dapat memahami
konsep pecahan melalui model pembelajaran matematika realistik
etnomatematika kue spiku. Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang
81
dilakukan oleh nurafifah dkk (2021), bahwa tes hasil belajar materi pecahan
menggunakan konteks makanan tradisional di peroleh bahwa siswa sangat
antusias dan benar-benar menikmati proses yang terjadi. Siswa benar-benar
memahami konsep pecahan melalui aktivitas menggambar,
memotong,membagi dan bahkan menemukan rumus dasar pecahan. siswa
juga sudah dapat menyelesaikan soal cerita yang berhubungan dengan
pecahan.
Berdasarkan pembahasan dapat disimpulkan bahwa pembelajaran
dengan menggunakan model pembelajaran matematika realistik berbantuan
makanan khas lampung dapat dikatakan efektif dibandingkan dengan
menggunakan model pembelajaran konvensional untuk meningkatkan hasil
belajar matematika siswa, dan dapat disimpulkan bahwa terdapat
peningkatan hasil belajar siswa dengan model pembelajaran matematika
realistik berbantuan makanan khas lampung.
82
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat diambil kesimpulan bahwa
hasil belajar matematika setelah menggunakan model pembelajaran
matematika realistik berbantuan makanan khas lampung ada pengaruh yang
lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar yang menggunakan model
pembelajaran konvensional pada materi pecahan. Hal ini dilihat dari rata-rata
hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran matematika
realistik berbantuan makanan khas lampung pada kelas eksperimen lebih
tinggi dengan nilai 73 sedangkan, nilai rata-rata hasil belajar siswa dengan
model pembelajaran konvensional pada kelas kontrol lebih rendah dengan
nilai 55.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, peneliti ingin
memberikan saran-saran sebagai berikut:
1. Bagi Kepala Sekolah
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan
pertimbangan dalam menyususn kebijakan yang mendukung penerapan
pembelajaran inovatif, khususnya pembelajaran matematika realistik
berbasis budaya lokal, seperti makanan khas lampung untuk meningkatkan
kualitas pembelajaran di sekolah.
83
2. Bagi Pendidik
Pendidik diharapkan dapat memanfaatkan hasil penelitian ini sebagai
referensi dalam mengembangkan metode pembelajaran yang bervariasi
dan relevan dengan budaya lokal.
3. Bagi Peneliti
Peneliti diharapkan mempunyai bekal dalam mengembangkan dan
menerapkan inovasi pembelajaran berbasis budaya dalam pendidikan,
serta melakukan penelitian lanjutan yang lebih mendalam untuk
memberikan konstribusi yang lebih besar terhadap dunia pendidikan.
.
84
DAFTAR PUSTAKA
Ananda,R. (2018). Penerapan Pendekatan Realistik Mathematic Education (RME)
Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Sekolah Dasar.
Jurnal Cendekia. Jurnal Pendidikan Matematika. Vol 2, NO 1.
Arikunto,S. (2013). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:
Rineka Cipta.
Arikunto,S. (2018). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Arnidha, Y. (2017). Analisis Pemahaman Konsep Matematika Siswa Sekolah
Dasar Dalam Penyelesaian Bangun Datar. JPGMI, 3 (1), 53-61.
Arrahim, & Widayanti, N. (2018). Perbandingan Pemahaman Konsep Siswa
Kelas IV Dengan Menggunakan Model Problem Based Learning (PBL)
Dan Model Realistik Mathematic Education (RME) Pada Mata Pelajaran
Matematika Di SD IT Darul Hasani Kabupaten Bekasi. Pedagogie, 6(2),
134-143.
Batubara, I. H. (2017). Peningkatan Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis
Melalui Model Pembelajaran Berbasis Masalah Berbantuan Autograph
Dan Geogebra Di Sma Freemethodist Medan. MES (Journal Of
Mathematics Education And Science), 3(1), 47-54.
Fahrrurozi & Hamdi, S. (2017). Metode Pembelajaran Matematika. Lombok
Timur: Universitas Hamzanwadi Press.
Fahrudhin, A. G., Zuliana, E., & Bintoro, H. S. (2018). Peningkatan Pemahaman
Konsep Matematika Melalui Realistic Mathematic Education Berbantu
Alat Peraga Bongpas. ANARGYA: Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika,
1(1), 14-20.
Fathurrrahman, Muhammad, (2015). Model-model pembelajaran inovatif,
jogyakarta: Ar-Ruzz Media.
85
Gunanto & Dhesy Adhalia. (2016). ESPS Matematika Untuk SD/MI Kelas V.
Erlangga : PT Gelora Aksara Pratama.
Hajaroh, S, & Raehanah. (2021). Statistik Pendidikan Teori Dan Praktik.
Mataram. Sanabil.
Haji , S, & Abdullah,M. I. (2016). Peningkatan Kemampuan Komunikasi
Matematik Melalui Pembelajaran Matematika Realistik. Infinity Journal, 5
(1), 42-49.
Hamalik, O. (2019). Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Hastuti. I. D, Suratman, Dan Sutarto.(2019). Pembelajaran Matematika Sekolah
Dasar. Mataram : Lembaga Penelitian Pendidikan (LPP).
Kartika, Y. (2018). Analisis Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Peserta
Didik Kelas VII SMP Pada Materi Bentuk Aljabar. Jurnal Pendidikan
Tambusai, 2 (4).
Mukrimatin dkk. (2028). Pemahaman Konsep Matematika Siswa Kelas V SD
Negeri Rau Kedung Jepara Pada Materi Perkalian Pecahan. Jurnal Ilmiah
Pendidikan Matematika Ilmiah. Vol.1 No.1.
Nuraeni, dkk . (2018). Analisis Kemampuan Pemahaman Matematika Dan
Tingkat Kepercayaan Diri Pada Siswa Mts. Jurnal Pembelajaran
Matematika Inovatif. Volume 1, No. 5.
Nurafifah dkk. (2021). Learning Trajectory: Bagaimanakah Mengajarkan Pecahan
Menggunakan Konteks Makanan Tradisional. Jurnal Gema Wiralodra,
Vol 12 No 2.
Nuryadi dkk. (2017). Dasar-dasar statistik penelitian. Yogyakarta. Gramasurya.
Ovan. (2022). Strategi Belajar Mengajar Matematika. Jakarta : Kencana
Putri dkk. (2022). Implemetasi Pembelajaran RME Berbasis Etnomatematika
Materi Pecahan Menggunakan Konteks Kue Spiku. Jurnal Pendidikan
Dasar “ jurnal kajian pendidikan dan hasil penelitian” Vol 8, No 2.
86
Rahman,A, A. (2018). Strategi Belajar Mengajat Matematika. Banda Aceh :
Syiah Kuala University Press.
Ruqqoyah, S, Murni. S. & Linda. (2020). Kemampuan Pemahaman Konsep Dan
Resiliensi Matematika Dengan VBA Microsofr Exel. Puewakarta : CV. Tre
Alea Jacta Pedadogie.
Sani, R,A. (2022). Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta : Kencana.
Sari , T. V. N., dkk . ( 2023). Eksplorasi Kue Tradisonal Lampung Sebagai
Inovasi Bahan Ajar Etnomatematika Pada Materi Bangun Ruang. Jurnal
Seminar Nasional Tadris Matematika “Integrasi Ethno-Stem And
Technological Pedagogic Content Knowledge” Vol 3.
Sari. K. dkk.(2024). Pengaruh Pembelajaran Matematika Realistic Berbasis
Etnomatematik Aterhadap Penguasaan Konsep Matematika Peserta Didik
Kelas V SDN 6 Metro Barat.
Sihotang, H. (2021). Strategi Pembelajaran Matematika. Jakarta : UKI Press
Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, Dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
Surapranata,S. (2009). Metodologi Penelitian. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Ulhaq, W. R (2023). Pengaruh Model Realistic Mathematic Edication Berbasis
Etnomatematika Terhadap Pemahaman Konsep Geometri Siswa.
Wandini, R. R. (2019). Pembelajaran Matematika Untuk Calon Guru MI/SD.
Medan : Widya Puspita
Wijaya, A. (2021). Pendidikan Matematika Realistik Suatu Alternative
Pendekatan Pembelajaran Matematika. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Yuda, E, K.(2020). Sifat-Sifat Operasi Hitung Perkalian Bilangan Bulat Dalam
Pembelajaran Matematika Di Sekolah Dasar. Jurnal Seminar Nasional.
87
Zuliana, E. (2017). Penerapan Inquiry Based Learning Berbantuan Peraga
Manipulative Dalam Meningkatkan Pemahaman Konsep Matematika Pada
Materi Geometri Mahasiswa PGSD Universitas Muria Kudus. Jurnal
Pendidikan, (8)1.
88
LAMPIRAN
89
Lampiran 1
MODUL AJAR
KELAS EKSPERIMEN
A. IDENTITAS MODUL
Penyusun : Tyas purnami
Instansi : UPT SDN 2 Pringsewu Timur
Tahun penyusunan : 2024
Jenjang sekolah : SD
Mata Pelajaran : Matematika
Fase/kelas : C/5
Bab : 3 Bilangan Pecahan
Topik : Penjumlahan Dan Pengurangan Bilangan Pecahan
Alokasi waktu : 4 X 35 menit
B. CAPAIAN PEMBELAJARAN
Peserta didik dapat memahami konsep pecahan dan dapat melakukan operasi
penjumlahan dan pengurangan bilangan pecahan dengan penyebut yang berbeda
C. TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Melalui media pembelajaran (lapis legit), peserta didik dapat memahami
konsep operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan pecahan
dengan penyebut yang berbeda.
2. Melalui media pembelajaran (lapis legit), peserta didik dapat
memecahkan persoalan operasi hitung penjumlahan dan pengurangan
bilangan pecahan dengan penyebut yang berbeda.
3. Melalui diskusi kelompok, peserta didik dapet menyelesaikan masalah
dalam kehidupan sehrai-hari yang berkaitan dengan pecahan.
D. PROFIL PELAJAR PANCASILA
1. Beriman, bertakawa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berakhlak mulia
dengan cara melarih peserta didik berdoa sebelum dan sesudah belajar.
2. Berkebhinekaan global, dengan cara menyanyikan lagu nasional dengan
sungguh-sungguh .
3. Mandiri, dengan cara tidak bergantung pada teman saat melakukan
90
pembelajaran
4. Bergotong royong dengan cara melatih peserta didik untuk saling
membantu bekerja sama dalam kelompok saat melakukan kegiatan
diskusi, maupun presentasi hasil kerja.
5. Bernalar kritis dengan memecahkan persoalan operasi hitung
penjumlahan dan pengurangan bilangan pecahan dalam kehidupan
sehari-hari
E. ASESSMENT
Asesmen diagnostik
1. Kognitif
2. Non kognitif
F. KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK
Perangkat ajar ini di gunakan oleh guru untuk mengajar kategori peserta didik
dengan jumlah peserta didik 27 orang yang terdiri dari 17 peserta didik
perempuan dan 10 peserta didik laki-laki, mayoritas agama yang di anut adalah
agama islam, ada keberagaman warna kulit peserta didik, ada peserta didik yang
memiliki tinggi badan yang tinggi, sedang, dan pendek, ada peserta didik yang
memiliki badan yang gemuk dan kurus, ada beberapa peserta didik yang
memiliki rambut ikal dan sebagian besar peserta didik memiliki rambut lurus,
dan Kemampuan berpikir peserta didik di level medium.
G. MATERI PEMBELAJARAN
Matematika
Face C / Kelas 5
Bab 3 bilangan pecahan
Topik penjumlahan dan pengurangan bilangan pecahan
H. PERTANYAAN PEMANTIK
1. Apa yang kalian ketahui tentang pecahan?
2. Apakah pembelajaran pecahan sering kita terapkan dalam kehidupan
sehari-hari?
3. Bagaimana cara memecahkan permasalahan sehari-hari yang
berhubungan dengan penjumlahan dan pengurangan pecahan?
91
I. MODEL PEMBELAJARAN
1. Model Pembelajaran : Realistik Matematika Education
2. Pendekatan : Student Center Learning
3. Gaya Belajar : Visual, Audio Visual Dan Kinestetik
4. Moda : Pembelajaran Tatap Muka
J. KEGIATAN PEMBELAJRAN
Pertemuan Pertama 2 X 35 Menit
KEGIATAN PENDAHULUAN
1. Peserta didik mengucapkan selamat pagi kepada guru
2. Peserta didik melakukan kegiatan berdoa sebelum belajar
3. Peserta didik memberi salam kepada guru
4. Peserta didik ditanyai bagaimana kabarnya oleh guru
5. Peserta didik dicek kehadirannya oleh guru
6. Peserta didik mengecek kebersihan dan kondisi kelas
7. Peserta didik melakukan kegiatan pembiasaan sebelum belajar yaitu
menyanyikan lagu nasional “ Garuda Pancasila”
8. Peserta didik melakukan ice breaking
9. Peserta didik melakukan apersepsi dengan mengaitkan materi yang akan
dipelahi dengan materi sebelumnya.
10. Peserta didik menjawab pertanyaan pemantik yang ditanyakan oleh guru
11. Peserta didik mendengarkan guru menyampaikan tujuan pembelajaran
KEGIATAN INTI
Memahami Masalah Kontekstual
1. Peserta didik membuka buku cetak halaman 63
2. Peserta didik mendengarkan penjelasan guru tentang pecahan
3. Peserta didik memahami masalah kontekstual yang disajikan dalam
bentuk soal cerita yang di berikan oleh guru
Menyelesaikan Masalah Kontekstual
1. Peserta didik menyelesaikan masalah kontekstual dengan dibimbing
oleh guru
2. Peserta didik menyelesaikan masalah tersebut dengan bantuan makanan
92
khas lampung (kue lapis legit)
Membandingkan dan mendiskusikan jawaban
1. Peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok
2. Peserta didik dalam kelompok menerima LKPD dan kue lapis legit
3. Peserta didik mendengarkan guru membacakan petunjuk mengerjakan
LKPD
4. Peserta didik mengerjakan LKPD sesuai waktu yang ditentukan
5. Peserta didik dibimbing oleh guru untuk mengerjakan LKPD
6. Peserta didik mempresentasikan hasil diskusi kelompok
7. Peserta didik mengerjakan soal latihan pecahan
Menarik Kesimpulan
1. Peserta didik menarik Kesimpulan dari materi yang telah dipelajari
dengan dibimbing oleh guru
2.
KEGIATAN PENUTUP
1. Peserta didik melakukan kegiatan refleksi
2. Peserta didik menutup kegiatan pembelajran dengan berdoa
Pertemuan kedua 2 x 35 menit
KEGIATAN PENDAHULUAN
1. Peserta didik mengucapkan selamat pagi kepada guru
2. Peserta didik melakukan kegiatan berdoa sebelum belajar
3. Peserta didik memberi salam kepada guru
4. Peserta didik ditanyai bagaimana kabarnya oleh guru
5. Peserta didik dicek kehadirannya oleh guru
6. Peserta didik mengecek kebersihan dan kondisi kelas
7. Peserta didik melakukan kegiatan pembiasaan sebelum belajar yaitu
menyanyikan lagu nasional “ Garuda Pancasila”
8. Peserta didik mendengarkan penjelasan guru dalam mengerjakan tes
dengan peraturan dan waktu yang telah di tentukan
9. Peserta didik menyimak dan mengikuti peraturan tes.
93
KEGIATAN INTI
1. Peserta didik menerima soal tes yang dibagikan guru
2. Peserta didik mengerjkan soal tes dengan waktu yang telah ditentukan
3. Peserta didik mengumpulkan jawaban dan soal tes kepada guru
KEGIATAN PENUTUP
1. Peserta didik melakukan doa sebelum pulang
2. Peserta didik mmeberikan salam kepada guru
3. KEGIATAN REFLEKSI
Refleksi Peserta Didik
1. Apa hal menarik yang kalian pelajari pada topik ini?
2. Apakah kalian merasa kesulitan dalam mempelajari materi ini ?
Refleksi pendidik
Agar proses belajar selanjutnya lebih baik lagi, mari lakukan refleksi diri
dengan menjawab pertanyaan berikut:
1. Apa yang sudah berjalan baik di dalam kelas?
2. Apa yang guru sukai dari kegiatan pembelajaran kali ini?
3. Apa yang tidak pendidik sukai?
4. Pelajaran apa yang guru dapatkan selama pembelajaran?
5. Apa yang ingin pendidik ubah untuk meningkatkan/ memperbaiki
4. SUMBER BELAJAR
Buku guru matematika kelas 5 kementerian Pendidikan,
kebudayaan,riset, dan teknologi republik Indonesia 2022
Buku guru matematika kelas 5 kementerian Pendidikan,
kebudayaan,riset, dan teknologi republik Indonesia 2022
5. PENGAYAAN DAN REMEDIAL
Pengayaan
Diberikan Peserta didik dengan nilai rata-rata dan nilai diatas rata-rata
mengikuti pembelajaran dengan pengayaan,
94
Remedial
Diberikan kepada peserta didik yang mendapatkan nilai dibawah rata-rata
6. PENILAIAN
PENILAIAN KOGNITIF
No Soal Kunci Jawaban Skor
1. Ibu membeli gula kg, Diketahui 2
Ibu membeli gula
kemudian ia membeli lagi
kg
kg, berapa jumlah gula
ibu………..kg? Lalu membeli lagi
kg.
Ditanya : berapa jumlah gula 2
yang ibu beli?
Jawab 2
+ = + = =
Jadi jumlah gulu yang ibu 2
miliki yaitu kg
2. Budi membeli pizza 1 buah, Diketahui 2
lalu diberikan kepada andi Budi mmebeli pizza 1
bagian. Sisa pizza budi buah
adalah……bagian? Lalu diberikan
kepada andi bagian.
Ditanya : berapa sisa pizza 2
budi?
jawab 2
1- = = =
Jadi sisa pizza budi yaitu 2
bagian.
95
3. Bu Karina membeli 2 kg Diketahui : 2
Tepung yang dibeli Bu
tepung, Bu Rini Membeli 3
Karina = 2 kg Tepung
Kg dan Bu Rahma 4 Kg.
yang dibeli Bu Rini = 3
Hitunglah jumlah semua
kg
tepung yang dibeli oleh Bu
Tepung yang dibeli Bu
Karina, Bu Rini dan Bu
Rahma! Rahma = 4 kg
Ditanya : berapa jumlah 2
tepung yang dibeli bu karina,
bu rini dan bu rahma ?
jawab 3
Jumlah semuanya :
=2 kg + 3 kg + 4 kg
= Kg + kg + kg
= Kg + Kg + Kg =
kg = 9 Kg
Jadi jumlah semua tepung 2
yang dibeli yaitu 9 Kg
4. Ibu sari memiliki 5 liter Diketahui : 2
minyak goreng di dapurnya. Minyak goreng awal= 5
Hari ini, dia menggunakan 2 liter
Minyak goreng yang
liter minyak untuk memasak.
Berapa liter minyak goreng digunakan= 2 liter
yang terssisa? Ditanya : berapa liter minyak 2
goring yang tersisa ?
96
jawab 3
Jumlah semuanya :
=5 -2
= -
= -
= =2
Jadi jumlah minyak yang 2
tersisa yaitu 2 liter
5. Ali memiliki kue, lalu ia Diketahui 2
Ali memiliki kue
mendapat tambahan kue
dari temannya. Berapa total Lalu ia mendapatkan
kue yang dimiliki Ali tambahan kue dari
sekarang? temannya
Ditanya : berapa total kue 2
yang dimiliki ali sekarang?
Jawab: 3
Pecahan dan memiliki
penyebut yang berbeda, kita
samakan penyebutnya
dengan mencari Kelipatan
Persekutuan Terkecil (KPK)
dari 4 dan 8, yaitu 8.
=
=
97
Jadi, total kue yang dimiliki 2
Ali adalah
Total 45
Skor : x 100
PENILAIAN SIKAP
Lembar pe Lembar pengamatan ketercapaian profil pelajar Pancasila:
No Aspek Yang Dinilai Skor
1 2 3 4
1 Beriman, bertak wa kepada Tuhan yang
Maha Esa dan berakhlak mulia dengan cara
melarih pesert didik berdo sebelum dan
sesudah belajar.
2 Berkebhinekaan global, dengan cara
menyanyikan lagu nasional dengan sungguh-
sungguh .
3 Mandiri, dengan cara tidak bergantung pada
teman saat melakukan pembelajaran
4 Bergotong royong dengan cara melatih
peserta didik untuk saling membantu bekerja
sama dalam kelompok saat melakukan
kegiatan diskusi, maupun presentasi hasil
kerja.
5 Bernalar kritis dengan cara melatih peserta
didik dengan pertanyaan-pertanyaan dalam
peristiwa kehidupan sehari-hari
98
Keterangan :
1. Perlu bimbingan
2. Cukup
3. Baik
4. Baik sekali
7. BAHAN AJAR
Penyusun : Melita Fitrinawati, Ika Suratiani,Afit Istiandaru. Buku
Matematika Kelas 5 SD
Instansi : UPT SDN 2 Pringsewu Timur
Tahun penyusunan : 2024
Jenjang sekolah : SD
Mata Pelajaran : Matematika
Fase/kelas : C/5
Bab : 3 Bilangan Pecahan
Topik : Penjumlahan Dan Pengurangan Bilangan Pecahan
Alokasi waktu : 2 X 35 menit
Tujuan Pembelajaran
a. Melalui media pembelajaran (lapis legit), peserta didik dapat memahami
konsep operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan pecahan
dengan penyebut yang berbeda.
b. Melalui media pembelajaran (lapis legit), peserta didik dapat
memecahkan persoalan operasi hitung penjumlahan dan pengurangan
bilangan pecahan dengan penyebut yang berbeda.
c. Melalui diskusi kelompok, peserta didik dapet menyelesaikan masalah
dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan pecahan.
99
100
101
102
103
104
105
106
107
108
109
Guru kelas VA Mahasiswa
Gadis Nabila,S.Pd Tyas purnami
Mengetahui
Kepala Sekolah
UPT SDN 2 Pringsewu Timur
Deni mulyadi,S.Pd
NIP. 19831208 201001 1 011
110
LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK
Penyusun : Tyas purnami
Instansi : UPT SDN 2 Pringsewu Timur
Tahun penyusunan : 2024
Jenjang sekolah : SD
Mata Pelajaran : Matematika
Fase/kelas : C/5
Bab : 3 Bilangan Pecahan
Topik : Penjumlahan Dan Pengurangan Bilangan Pecahan
Alokasi waktu : 2 X 35 menit
Tujuan Pembelajaran
a. Melalui media pembelajaran (lapis legit), peserta didik dapat memahami
konsep operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan pecahan
dengan penyebut yang berbeda.
b. Melalui media pembelajaran (lapis legit), peserta didik dapat memecahkan
persoalan operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan pecahan
dengan penyebut yang berbeda.
c. Melalui diskusi kelompok, peserta didik dapet menyelesaikan masalah
dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan pecahan.
Petunjuk Pengerjaan :
1. Setiap kelompok mendapatkan satu soal yang dibagikan
2. Baca soal yang telah dibagikan dengan teliti
3. Lakukan perhitungan ada lembar yang disediakan
4. Setelah menyelesaikan perhitungan, aplikasikan jawaban kalian dengan
kue lapis legit yang sudah dibagikan. Potong kue sesuai dengan hasil
perhitungan yang kalian dapatkan
111
5. presentasikan hasil perhitungan dan pengamatan kalian didepan kelas!
SOAL
1. Ibu membawakan kue untuk dibagikan kepada kalian. Setiap anak
mendapatkan bagian dari kue pertama. Kemudian, Ibu memberikan
tambahan bagian dari kue yang lain. Berapa total bagian kue yang kalian
dapatkan?
2. Tina dan Rina membawa kue ulang tahun untuk dibagikan kepada teman-
teman. Tina memberikan kue kepada kelompok kalian, sementara Rina
memberikan tambahan bagian kue. Berapa total kue yang kalian dapatkan
dari Tina dan Rina?
3. Di sebuah kebun, terdapat dua jenis buah. Buah apel yang dipetik oleh Rina
adalah dari total buah yang ada. Rina kemudian memberikan dari buah
apel yang dipetik kepada temannya. Berapa bagian dari total buah apel yang
dimiliki Rina setelah memberikan kepada temannya?
4. Sebuah pizza dibagi menjadi 4 bagian yang sama. Andi memakan bagian
pizza tersebut. Kemudian, temannya, Budi, juga memakan bagian
pizza.Berapa sisa pizza yang masih ada setelah Andi dan Budi memakannya?
112
LEMBAR JAWABAN
Kelompok:
Kelas :
Anggota kelompok:
1………………
2………………
3………………
4………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………..
113
Lampiran 2
MODUL AJAR
KELAS KONTROL
A. IDENTITAS MODUL
Penyusun : Tyas purnami
Instansi : UPT SDN 2 Pringsewu Timur
Tahun penyusunan : 2024
Jenjang sekolah : SD
Mata Pelajaran : Matematika
Fase/kelas : C/5
Bab : 3 Bilangan Pecahan
Topik : Penjumlahan Dan Pengurangan Bilangan Pecahan
Alokasi waktu : 4 X 35 menit
B. CAPAIAN PEMBELAJARAN
Peserta didik dapat memahami konsep pecahan dan dapat melakukan operasi
penjumlahan dan pengurangan bilangan pecahan dengan penyebut yang
berbeda
C. TUJUAN PEMBELAJARAN
1. peserta didik dapat memahami konsep operasi hitung penjumlahan dan
pengurangan bilangan pecahan dengan penyebut yang berbeda.
2. peserta didik dapat memecahkan persoalan operasi hitung penjumlahan
dan pengurangan bilangan pecahan dengan penyebut yang berbeda.
3. peserta didik dapet menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehrai-
hari yang berkaitan dengan pecahan.
D. PROFIL PELAJAR PANCASILA
1. Beriman, bertakawa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berakhlak
mulia dengan cara melarih peserta didik berdoa sebelum dan sesudah
belajar.
2. Berkebhinekaan global, dengan cara menyanyikan lagu nasional
dengan sungguh-sungguh .
3. Mandiri, dengan cara tidak bergantung pada teman saat melakukan
114
pembelajaran
4. Bergotong royong dengan cara melatih peserta didik untuk saling
membantu bekerja sama dalam kelompok saat melakukan kegiatan
diskusi, maupun presentasi hasil kerja.
5. Bernalar kritis dengan memecahkan persoalan operasi hitung
penjumlahan dan pengurangan bilangan pecahan dalam kehidupan
sehari-hari
E. ASESSMENT
Asesmen diagnostik
Kognitif
Non kognitif
F. KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK
Perangkat ajar ini di gunakan oleh guru untuk mengajar kategori peserta didik
dengan jumlah peserta didik 26 orang yang terdiri dari 15 peserta didik
perempuan dan 11 peserta didik laki-laki, mayoritas agama yang di anut adalah
agama islam, ada keberagaman warna kulit peserta didik, ada peserta didik
yang memiliki tinggi badan yang tinggi, sedang, dan pendek, ada peserta didik
yang memiliki badan yang gemuk dan kurus, ada beberapa peserta didik yang
memiliki rambut ikal dan sebagian besar peserta didik memiliki rambut lurus,
dan Kemampuan berpikir peserta didik di level medium.
G. MATERI PEMBELAJARAN
Matematika
Face C
Kelas 5
Bab 3 bilangan pecahan
Topik penjumlahan dan pengurangan bilangan pecahan
H. PERTANYAAN PEMANTIK
1. Apa yang kalian ketahui tentang pecahan?
2. Apakah pembelajaran pecahan sering kita terapkan dalam kehidupan
sehari-hari?
3. Bagaimana cara memecahkan permasalahan sehari-hari yang
115
berhubungan dengan penjumlahan dan pengurangan pecahan?
I. MODEL PEMBELAJARAN
1. Model Pembelajaran : Konvensional
2. Metode : Ceramah, Tanya Jawab, Diskusi
3. Moda : Pembelajaran Tatap Muka
J. KEGIATAN PEMBELAJRAN
Pertemuan Pertama 2 X 35 Menit
KEGIATAN PENDAHULUAN
1. Peserta didik mengucapkan selamat pagi kepada guru
2. Peserta didik melakukan kegiatan berdoa sebelum belajar
3. Peserta didik memberi salam kepada guru
4. Peserta didik ditanyai bagaimana kabarnya oleh guru
5. Peserta didik dicek kehadirannya oleh guru
6. Peserta didik mengecek kebersihan dan kondisi kelas
7. Peserta didik melakukan kegiatan pembiasaan sebelum belajar yaitu
menyanyikan lagu nasional “ Garuda Pancasila”
8. Peserta didik melakukan ice breaking
9. Peserta didik melakukan apersepsi dengan mengaitkan materi yang
akan dipelahi dengan materi sebelumnya.
10. Peserta didik menjawab pertanyaan pemantik yang ditanyakan oleh
guru
11. Peserta didik mendengarkan guru menyampaikan tujuan pembelajaran
KEGIATAN INTI
1. Peserta didik membuka buku cetak halaman 63 (buku siswa)
2. Peserta didik mendengarkan guru dalam menjelaskan materi
3. Peserta didik bersama-sama menyanyikan lagu pecahan
4. Pesera didik dibagi menjadi beberapa kelompok untuk melakukan
diskusi
5. Peserta diidk setiap kelompok memahami konsep penjumlahan dan
pengurangan pecahan dengan penyebut yang berbeda
116
6. Peserta didik memperhatikan guru menjelaskan contoh soal
penjumlahan dan pengurangan pecahan sederhana dengan penyebut
yang berbeda
7. Peserta didik mengerjakan soal penjumlahan dan pengurangan pecahan
dengan penyebut yang berbeda yang dikerjkaan secara berkelompok
8. Peserta didik yang kesulitan dibimbing oleh guru untuk menyelesaikan
soal
9. Peserta didik mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya didepan
kelas tentang penjumlahan dan pengurangan pecahan dengan penyebut
yang berbeda
10. Peserta didik diberikan penguatan oleh guru setelah mempersentasikan
hasil diskusi kelompoknya
11. Peserta didik mengerjakan soal latihan
KEGIATAN PENUTUP
1. Peserta didik menyimpulkan materi yang telah dipelajari dengan
bimbingan guru
2. Peserta didik melakukan kegiatan refleksi setelah melakukan kegiatan
pembelajaran
3. Peserta didik menutup kegiatan pembelajran dengan berdoa
Pertemuan Kedua 2 X 35 Menit
KEGIATAN PENDAHULUAN
1. Peserta didik mengucapkan selamat pagi kepada guru
2. Peserta didik melakukan kegiatan berdoa sebelum belajar
3. Peserta didik memberi salam kepada guru
4. Peserta didik ditanyai bagaimana kabarnya oleh guru
5. Peserta didik dicek kehadirannya oleh guru
6. Peserta didik mengecek kebersihan dan kondisi kelas
7. Peserta didik melakukan kegiatan pembiasaan sebelum belajar yaitu
menyanyikan lagu nasional “ Garuda Pancasila”
8. Peserta didik mendengarkan penjelasan guru dalam mengerjakan tes
117
dengan peraturan dan waktu yang telah di tentukan
9. Peserta didik menyimak dan mengikuti peraturan tes.
KEGIATAN INTI
1. Peserta didik menerima soal tes yang dibagikan guru
2. Peserta didik mengerjkan soal tes dengan waktu yang telah ditentukan
3. Peserta didik mengumpulkan jawaban dan soal tes kepada guru
KEGIATAN PENUTUP
1. Peserta didik melakukan doa sebelum pulang
2. Peserta didik mmeberikan salam kepada guru
K. KEGIATAN REFLEKSI
Refleksi Peserta Didik
1. Apa hal menarik yang kalian pelajari pada topik ini?
2. Apakah kalian merasa kesulitan dalam mempelajari materi ini ?
Refleksi pendidik
Agar proses belajar selanjutnya lebih baik lagi, mari lakukan refleksi diri
dengan menjawab pertanyaan berikut:
1. Apa yang sudah berjalan baik di dalam kelas?
2. Apa yang guru sukai dari kegiatan pembelajaran kali ini?
3. Apa yang tidak pendidik sukai?
4. Pelajaran apa yang guru dapatkan selama pembelajaran?
5. Apa yang ingin pendidik ubah untuk meningkatkan/ memperbaiki
L. SUMBER BELAJAR
Buku guru matematika kelas 5 kementerian Pendidikan,
kebudayaan,riset, dan teknologi republik Indonesia 2022
Buku guru matematika kelas 5 kementerian Pendidikan,
kebudayaan,riset, dan teknologi republik Indonesia 2022
118
M. PENGAYAAN DAN REMEDIAL
Pengayaan
Diberikan Peserta didik dengan nilai rata-rata dan nilai diatas rata-rata
mengikuti pembelajaran dengan pengayaan,
Remedial
Diberikan kepada peserta didik yang mendapatkan nilai dibawah rata-rata
N. PENILAIAN
PENILAIAN KOGNITIF
No Soal Kunci Jawaban Skor
1. Ibu membeli gula kg, Diketahui 2
Ibu membeli gula
kemudian ia membeli lagi kg,
kg
berapa jumlah gula
ibu………..kg? Lalu membeli lagi
kg.
Ditanya : berapa jumlah gula 2
yang ibu beli?
Jawab 2
+ = + = =
Jadi jumlah gulu yang ibu 2
miliki yaitu kg
2. Budi membeli pizza 1 buah, Diketahui 2
lalu diberikan kepada andi Budi mmebeli pizza 1
bagian. Sisa pizza budi buah
adalah……bagian? Lalu diberikan
kepada andi bagian.
Ditanya : berapa sisa pizza 2
budi?
119
jawab 2
1- = = =
Jadi sisa pizza budi yaitu 2
bagian.
3. Bu Karina membeli 2 kg Diketahui : 2
Tepung yang dibeli Bu
tepung, Bu Rini Membeli 3
Karina = 2 kg Tepung
Kg dan Bu Rahma 4 Kg.
yang dibeli Bu Rini = 3
Hitunglah jumlah semua tepung
kg
yang dibeli oleh Bu Karina, Bu
Tepung yang dibeli Bu
Rini dan Bu Rahma!
Rahma = 4 kg
Ditanya : berapa jumlah 2
tepung yang dibeli bu karina,
bu rini dan bu rahma ?
jawab 3
Jumlah semuanya :
=2 kg + 3 kg + 4 kg
= Kg + kg + kg
= Kg + Kg + Kg =
kg = 9 Kg
Jadi jumlah semua tepung 2
yang dibeli yaitu 9 Kg
120
4. Ibu sari memiliki 5 liter Diketahui : 2
minyak goreng di dapurnya. Minyak goreng awal= 5
Hari ini, dia menggunakan 2 liter
Minyak goreng yang
liter minyak untuk memasak.
Berapa liter minyak goreng digunakan= 2 liter
yang terssisa? Ditanya : berapa liter minyak 2
goring yang tersisa ?
jawab 3
Jumlah semuanya :
=5 -2
= -
= -
= =2
Jadi jumlah minyak yang 2
tersisa yaitu 2 liter
5. Ali memiliki kue, lalu ia Diketahui 2
Ali memiliki kue
mendapat tambahan kue dari
temannya. Berapa total kue Lalu ia mendapatkan
yang dimiliki Ali sekarang? tambahan kue dari
temannya
Ditanya : berapa total kue 2
yang dimiliki ali sekarang?
121
Jawab: 3
Pecahan dan memiliki
penyebut yang berbeda, kita
samakan penyebutnya
dengan mencari Kelipatan
Persekutuan Terkecil (KPK)
dari 4 dan 8, yaitu 8.
=
Jadi, total kue yang dimiliki 2
Ali adalah
Total 45
Skor : x 100
PENILAIAN SIKAP
Lembar peLembar pengamatan ketercapaian profil pelajar Pancasila:
No Aspek Yang Dinilai Skor
1 2 3 4
1 Beriman, bertakawa kepada Tuhan yang
Maha Esa dan berakhlak mulia dengan cara
melarih p serta didik berdoa sebelum dan
sesudah belajar.
2 Berkebhinekaan global, dengan cara
menyanyikan lagu nasional dengan sungguh-
sungguh .
3 Mandiri, dengan cara tidak bergantung pada
122
teman saat melakukan pembelajaran
4 Bernalar kritis dengan cara melatih peserta
didik dengan pertanyaan-pertanyaan dalam
peristiwa kehidupan sehari-hari
Keterangan :
1. Perlu bimbingan
2. Cukup
3. Baik
4. Baik sekali
O. BAHAN AJAR
Penyusun : Melita Fitrinawati, Ika Suratiani,Afit Istiandaru. Buku
Matematika Kelas 5 SD
Instansi : UPT SDN 2 Pringsewu Timur
Tahun penyusunan : 2024
Jenjang sekolah : SD
Mata Pelajaran : Matematika
Fase/kelas : C/5
Bab : 3 Bilangan Pecahan
Topik : Penjumlahan Dan Pengurangan Bilangan Pecahan
Alokasi waktu : 2 X 35 menit
Tujuan Pembelajaran
d. Melalui media pembelajaran (lapis legit), peserta didik dapat
memahami konsep operasi hitung penjumlahan dan pengurangan
bilangan pecahan dengan penyebut yang berbeda.
e. Melalui media pembelajaran (lapis legit), peserta didik dapat
memecahkan persoalan operasi hitung penjumlahan dan pengurangan
bilangan pecahan dengan penyebut yang berbeda.
f. Melalui diskusi kelompok, peserta didik dapet menyelesaikan masalah
dalam kehidupan sehrai-hari yang berkaitan dengan pecahan
123
124
125
126
127
128
129
130
131
132
133
Guru kelas VC Mahasiswa
Dwi chaya oktaviani,S.Pd Tyas purnami
NIP. 19941003 2022212 008
Mengetahui
Kepala Sekolah
UPT SDN 2 Pringsewu Timur
Deni Mulyadi,S.Pd
NIP. 19831208 101001 1 011
134
Lembar kerja peserta didik
Nama :
Kelas :
No absen :
Petunjuk umum
1. Bacalah bissmilah sebelum mengerjakan soal
2. Bacalah dan Kerjakan soal dibawah ini dengan teliti dan benar
3. Waktu mengerjakan soal yaitu 20 menit
Soal
1. Johan memiliki kg daging ayam , kemudian ia membeli lagi di pasar
sebnayak kg, berapa jumlah daging ayan yang dimiliki johan sekarang
………..kg?
2. Sakura memiliki persedian tepung sebanyak 5 kg di toko. Kemudian
ada seorang pelanggan yang membeli tepung sebanyan 2 kg. Berapa
tepung yang tersisa di took setelah di beli oleh pelanggan………kg.
135
LEMBAR JAWABAN
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………..
131
Lampiran 3
Alur Dan Tujuan Pembelajaran Dalam Rangka Pengembangan Perangkat Ajar
(Matematika Fase C Kelas V SD)
Capaian Pembelajaran Fase C
Pada akhir fase C, peserta didik dapat menunjukkan pemahaman dan intuisi bilangan (number sense) pada bilangan cacah dengan 1.000.000. Mereka
dapat melakukan operasi aritmetika pada bilangan cacah sampai 100.000. Mereka dapat membandingkan dan mengurutkan berbagai pecahan,
melakukan operasi penjumlahan dan pengurangan pecahan, serta melakukan operasi perkalian dan pembagian pecahan dengan bilangan asli. Mereka
dapat membandingkan dan mengurutkan bilangan desimal dan mengubah pecahan menjadi desimal. Mereka dapat mengisi nilai yang belum diketahui
dalam sebuah kalimat matematika yang berkaitan dengan operasi aritmetika pada bilangan cacah sampai 1000. Mereka dapat menyelesaikan masalah
yang berkaitan dengan KPK dan FPB dan masalah yang berkaitan dengan uang. Mereka dapat mengidentifikasi, meniru, dan mengembangkan pola
bilangan membesar yang melibatkan perkalian dan pembagian. Mereka dapat bernalar secara proporsional dan menggunakan operasi perkalian dan
pembagian dalam menyelesaikan masalah seharihari dengan rasio dan atau yang terkait dengan proporsi. Peserta didik dapat menentukan keliling dan
luas beberapa bentuk bangun datar dan gabungannya. Mereka dapat mengonstruksi dan mengurai beberapa bangun ruang dan gabungannya, dan
mengenali visualisasi spasial. Mereka dapat membandingkan karakteristik antar bangun datar dan antar bangun ruang. Mereka dapat menentukan
lokasi pada peta yang menggunakan sistem berpetak.
Peserta didik dapat mengurutkan, membandingkan, menyajikan, dan menganalisis data banyak benda dan data hasil pengukuran dalam bentuk
beberapa visualisasi dan dalam tabel frekuensi untuk mendapatkan informasi. Mereka dapat menentukan kejadian dengan kemungkinan yang lebih
besar dalam suatu percobaan acak.
132
Fase C Berdasarkan Elemen
Elemen Capaian Pembelajaran
Bilangan Pada akhir fase C, peserta didik dapat menunjukkan pemahaman dan intuisi bilangan (number sense) pada bilangan cacah
sampai 1.000.000. Mereka dapat membaca, menulis, menentukan nilai tempat, membandingkan, mengurutkan, melakukan
komposisi dan dekomposisi bilangan tersebut. Mereka juga dapat menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan uang.
Mereka dapat melakukan operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian bilangan cacah sampai 100.000.
Mereka juga dapat menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan KPK dan FPB. Peserta didik dapat membandingkan dan
mengurutkan berbagai pecahan termasuk pecahan campuran, melakukan operasi penjumlahan dan pengurangan pecahan, serta
melakukan operasi perkalian dan pembagian pecahan dengan bilangan asli. Mereka dapat mengubah pecahan menjadi desimal,
serta membandingkan dan mengurutkan bilangan desimal (satu angka di belakang koma)
Aljabar Pada akhir fase C, peserta didik dapat mengisi nilai yang belum diketahui dalam sebuah kalimat matematika yang berkaitan
dengan penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian pada bilangan cacah sampai 1000 (contoh : 10 x … = 900, dan
900 : … = 10) Peserta didik dapat mengidentifikasi, meniru, dan mengembangkan pola bilangan membesar dan mengecil
yang melibatkan perkalian dan pembagian. Mereka dapat bernalar secara proporsional untuk menyelesaikan masalah sehari-
hari dengan rasio satuan. Mereka dapat menggunakan operasi perkalian dan pembagian dalam menyelesaikan masalah
seharihari yang terkait dengan proporsi.
Pengukuran Pada akhir fase C, peserta didik dapat menentukan keliling dan luas berbagai bentuk bangun datar (segitiga, segiempat, dan
segibanyak) serta gabungannya. Mereka dapat menghitung durasi waktu dan mengukur besar sudut.
Geometri Pada akhir fase C, peserta didik dapat mengonstruksi dan mengurai bangun ruang (kubus, balok, dan gabungannya) dan
mengenali visualisasi spasial (bagian depan, atas, dan samping). Mereka dapat membandingkan karakteristik antar bangun
datar dan antar bangun ruang. Mereka dapat menentukan lokasi pada peta yang menggunakan sistem berpetak.
Analisa Data Pada akhir fase C, peserta didik dapat mengurutkan, membandingkan, menyajikan, dan menganalisis data banyak benda dan
danPeluang data hasil pengukuran dalam bentuk gambar, piktogram, diagram batang, dan tabel frekuensi untuk mendapatkan informasi.
Mereka dapat menentukan kejadian dengan kemungkinan yang lebih besar dalam suatu percobaan acak.
133
Topik/Materi
Alokasi
Tujuan Pembelajaran Profile Pelajar Pancasila
Waktu
Sub Topik/Sub Materi
Untuk memperdalam pemahaman pecahan, memahami 2 Jam Penjumlahan dan Penjumlahan Beriman Bertakwa kepada
arti penjumlahan dan pengurangan pecahan yang Pengurangan Pecahan Tuhan YME dan Berakhlak
berbeda penyebut, serta mampu mengaplikasikannya. Pecahan Pengurangan Mulia
Dapat memikirkan tentang cara menghitung Pecahan Berkebhinekaan Global
penjumlahan dan pengurangan pecahan yang berbeda Mandiri
penyebut dan menghitungnya. Bernalar Kritis
134
Lampiran 4
KISI-KISI SOAL INSTRUMENT PENELITIAN
MATERI PECAHAN
Capaian Pembelajaran Tujuan pembelajaran Indikator kemampuan Indikator soal Level No Butir Bentuk
pemahaman konsep kognitif Soal Soal
Pada akhir fase C, peserta 1. Peserta didik dapat 1. Menyatakan ulang 1. Peserta didik dapat C2 1&6 Uraian
didik dapat membandingkan sebuah konsep. membandingkan
membandingkan dan dan mengurutkan pecahan pada soal
mengurutkan berbagai pecahan 2. Mengklasifikasikan yang disajikan
pecahan, melakukan objek menurut tertentu
operasi penjumlahan dan 2. Peserta didik dapat sesuai dengan sifatnya. 1. Peserta didik dapat C3 2 Uraian
pengurangan pecahan, melakukan operasi menghitung hasil
serta melakukan operasi penjumlahan dan 3. Mengidentifikasi contoh operasi penjumlahan
perkalian dan pembagian pengurangan dan bukan contoh dari pecahan biasa dengan
pecahan dengan bilangan pecahan. suatu konsep. penyebut yang
asli. Mereka dapat berbeda pada soa
membandingkan dan 4. Menggunakan dan cerital yang disajikan.
mengurutkan bilangan memanfaatkan serta
desimal dan mengubah memilih prosedur atau C3 3 Uraian
pecahan menjadi desimal operasi tertentu. 2. Peserta didik dapat
menentukan hasil
5. Mengaplikasikan konsep operasi pengurangan
atau algoritma dalam pecahan biasa dengan
pemecahan masalah penyebut yang
berbeda pada soal
135
cerita yang di sajikan.
3. Peserta didik dapat C3 4&5 Uraian
menghitung hasil
operasi penjumlahan
pecahan campuran
dengan penyebut yang
berbeda pada soa
cerital yang disajikan.
4. Peserta didik dapat C3 7&8 Uraian
menentukan hasil
operasi pengurangan
pecahan campuran
dengan penyebut yang
berbeda pada soal
cerita yang di sajikan.
5. Peserta didik dapat C3 9 & 10 Uraian
menyelesaikan
masalah penalaran
yang berkaitan dengan
penjumlahan dan
pengurangan pecahan
yang berbentuk
pecahan campuran dan
pecahan biasa pada
soal yang di sajikan.
136
Lampiran 5
LEMBAR SOAL UJI COBA INSTRUMEN
Nama sekolah : UPT SDN 2 Pringsewu Timur
Mata pelajaran : Matematika
Kelas / fase :5/C
Alokasi waktu : 2 X 35 Menit
Petunjuk Pengerjaan
1. Bacalah basmallah terlebih dahulu sebelum memulai mengerjakan.
2. Tuliskan nama di bagian atas lembar jawaban.
3. Kerjakan terlebih dahulu soal-soal yang menurut peserta didik mudah.
4. Periksa kembali jawaban sebelum mengumpulkannya.
SOAL
1. Di pesta ualang tahun tina, terdapat dua kue yaitu kue lapis legit dan kue
engkak yang dipotong untuk dibagikan kepada teman-temannya. Kue lapis
legit di potong menjadi 8 bagian yang sama, dan kue engkak dipotong
menjadi 12 bagian yang sama. Sita memakan 3 bagian dari kue lapis legit
sedangkan andi memakan 5 bagian dari kue engkak. Siapa yang memakan
kue lebih banyak?
2. Bu Ani membuat dua jenis kue untuk acara keluarga. Kue pertama adalah
kue lapis legit yang terbuat dari tepung ketan, dan Bu Ani memotongnya
menjadi 6 bagian yang sama besar. Dia membawa dari kue lapis tersebut ke
rumah nenek. Kue kedua adalah kue talam yang ia potong menjadi 4 bagian
137
yang sama besar, lalu membawa dari kue talam ke rumah paman. Berapa
bagian total kue yang Bu Ani bawa untuk dibagikan di rumah nenek dan
rumah paman?
3. Siti membuat kue lapis dari tepung ketan. Kue tersebut dipotong menjadi
beberapa bagian. Di pagi hari, Siti memotong dan membagikan kue kepada
tetangganya sebesar bagian. Siangnya, ia kembali memberikan kepada
adiknya sebesar bagian dari kue yang tersisa. Berapa bagian kue yang sudah
dibagikan oleh Siti, dan berapa bagian kue yang masih tersisa?
4. Di sebuah pasar tradisional , ada dua jenis hidangan spesial. Pada hari Sabtu,
pasar tradisional menyajikan 3 kue enggak dan 2 kue pisang. Pada hari
Minggu, pasar tradisional menyajikan 2 kue enggak dan 1 kue pisang. Jika
jumlah kue engkak yang disajikan pada hari Sabtu dikurangi dengan jumlah
kue enggak yang disajikan pada hari Minggu, berapa banyak kue engkak yang
tersisa?
5. Di sebuah pasar tradisional lampung, Ibu Rina membeli makanan khas
lampung untuk dijadikan oleh-oleh. Ia membeli 1 kilogram kue lapis dan 2
kilogram kue bolu pisang. Berapa kilogram total kue yang dibeli oleh Ibu
Rina?
6. Ibu Ani membuat dua macam kue untuk dibagikan kepada tetangganya. Kue
pertama adalah kue lapis dan kue kedua adalah bolu kukus. Kue lapis dipotong
menjadi 12 bagian, dan Ibu Ani membagikan 8 bagian kue lapis tersebut
kepada tetangganya. Sedangkan bolu kukus dipotong menjadi 15 bagian, dan
Ibu Ani membagikan 10 bagian bolu kukus kepada tetangganya. Manakah kue
yang lebih banyak dibagikan oleh bu ani kepada tetangganya, apakah kue lapis
atau bolu kukus?
138
7. Di sebuah tokoh kue, Pak Dedi memesan 3 kue lapis dan 2 kue talam untuk
dimakan bersama keluarganya. Setelah makan, ternyata masih tersisa 1 kue
lapis dan kue talam. Berapa kue lapis dan kue talam yang habis dimakan Pak
Dedi dan keluarganya?
8. Rina dan Ibu membuat kue bolu untuk acara keluarga. Rina membuat 1
loyang bolu pisang , sedangkan Ibu membuat 2 loyang bolu keju. Berapa
loyang total kue bolu yang telah dibuat oleh Rina dan Ibu?
9.
10. Pada acara pesta ualng tahun budi. Budi membawa 2 kg kue lapis dan kg
kue keju. Berapa total berat ke dua kue tersebut yang dibawa budi ke pesta
ulang tahunnya?
11. Pada saat hari raya idul fitri, Ibu Siti membuat 3 kg kue lapis dan kg kue
pisang. Setelah hari raya idul fitri, kue lapis yang tersisa adalah 1 kg, dan Ibu
Siti ingin mengetahui berapa banyak kue lapis yang telah dimakan oleh tamu.
Berapa banyak kue lapis yang telah dimakan oleh tamu?
139
Lampiran 6
Kunci Jawaban
NO Kunci Jawaban Indikator skor
kemampuan
pemahaman
1. Di ketahui Menyatakan ulang 4
Di pesta ulang tahun tina terdapat 2 jenis sebuah konsep
kue yaitu:
1 kue lapis legit yang di potong
menjadi 8 bagian yang sama.
kue engkak yang dipotong menjadi
12 bagian yang sama
Sita memakan 3 bagian kue lapis
legit
Andi memakan 5 bagian kue engkak
Di Tanya : siapah yang memakan kue lebih Mengkasifikasikan 4
banyak? objek menurut
tertentu sesuai
dengan sifatnya
Jawab : Mengidentifikasi 4
1. Menentukan nilai pecahan masing- contoh dan bukan
masing. bagian kue yang dimakan: contoh dari suatu
Bagian kue yang dimakan sita konsep
dari kue lapis legit adalah
bagian
Bagian kue yang dimakan andi
dari kue engkak adalah bagian
2. Menyamkan penyebut dari kedua Menggunakan dan 4
pecahan memanfaatkan serta
140
Penyebut yang sama dari 8 dan memilih prosedur
12 adalah 24 atau operasi tertentu
Mengubahan pecahan menjadi Mengaplikasikan 4
konsep atau
bentuk pecahan baru dengan
algoritma dalam
penyebut 24
pemecahan masalah
= =
Mengubahan pecahan menjadi
bentuk pecahan baru dengan
penyebut 24
= =
3. Membandingkan kedua pecahan
kue yang di makan siti
kue yang dimakan andi
lebih besar dari
Jadi andi memakan kue banyak
dibandingkan siti karena lebih besar dari
Total skor 20
2. Diketahui Menyatakan ulang 4
Bu ani membuat 2 jenis kue yaitu sebuah konsep
kue lapis dan kue talam
Kue lapis di potong menjadi 6
bagian kemudian di bawa kerumah
nenek.
Kue talam di potong menjdi 4 bagian
141
kemudian di bawa kerumah paman
Di Tanya : berapa bagian total kue yang bu Mengkasifikasikan 4
ani bawa untuk dibagikan ke rumah nenek objek menurut
dan rumah paman? tertentu sesuai
dengan sifatnya
Jawab : Mengidentifikasi 4
1. Menuliskan pecahan yang di bawa pada contoh dan bukan
setiap kue: contoh dari suatu
Kue lapis : bagian konsep
Kue talam bagian
2. Menyamakan penyebut dari kedua Menggunakan dan 4
pecahan memanfaatkan serta
Penyebut yang sama dari 6 dan 4 memilih prosedur
adalah 12. atau operasi tertentu
Mengubah Mengubahan pecahan Mengaplikasikan 4
menjadi bentuk pecahan baru konsep atau
algoritma dalam
dengan penyebut 12
pemecahan masalah
= =
Mengubahan pecahan menjadi
bentuk pecahan baru dengan
penyebut 12
= =
3. Menjumlahkan pecahan yang sudah
memiliki penyebut yang sama
+ =
Jadi bu ani membawa bagian kue untuk
142
dibagikan di rumah nenek dan rumah
paman.
Total skor 20
3. Diketahui Menyatakan ulang 4
Siti membuat satu kue lapis sebuah konsep
Di pagi hari bagian kue di
bagikan kepada tetangganya.
Siangnya bagian di bagikan
kepada adiknya
Ditanya : berapa kue yang sudah dibagikan Mengkasifikasikan 4
siti dan berapa bagian kue yang tersisa? objek menurut
tertentu sesuai
dengan sifatnya
Jawab : Mengidentifikasi 4
1. Menghitung kue yang tersisa setelah contoh dan bukan
pagi hari contoh dari suatu
Kue awal 1 bagian konsep
Bagian kue yang dibagikan pagi
hari adalah
Bagian kue yang tersisa di pagi
hari adalah 1 - =
2. Menghitung kue yang dibagikan siang
hari
Bagian kue yang tersisa siang
hari adalah
Bagian kue yang diberikan siang
hari adalah = =
3. Menghitung total bagian kue yang Menggunakan dan 4
sudah di bagikan oleh siti memanfaatkan serta
Bagian yang di berikan di pagi memilih prosedur
143
hari + bagian yang diberikan atau operasi tertentu
siang hari :
+
Menyamakan penyebut dari
kedua pecahan
Penyebut dari 4 dan 6 adalah 12
= = dan = Mengaplikasikan 4
konsep atau
Jumlahkan pecahan tersebut
algoritma dalam
+ = pemecahan masalah
Bagian kue yang sudah
dibagikan oleh siti adalah
Bagian kue yang tersisa adalah
1- = .
Jadi bagian kue yang sudah di bagikan oleh
siti yaitu dan bagian kue yang tersisa
yaitu .
Total skor 20
4. Diketahui Menyatakan ulang 4
Di sebuah psar tradisional terdapat sebuah konsep
dua jenis hidangan special
Pada sabtu pasar tradisiobal
menyajikan 3 kue enggak dan 2
kue pisang
Pada hari minggu pasar tradisional
menyajikan 2 kue engkak dan 1 kue
pisang
Ditanya : berapa banyak kue enggak yang Mengkasifikasikan 4
tersisa, jika jumlah kue engak yang objek menurut
144
disajikan pada hari sabtu dikurangi dengan tertentu sesuai
jumlah kue engkak yang disajikan pada hari dengan sifatnya
minggu?
Jawab Mengidentifikasi 4
1. Menulis pecahan campuran dalam contoh dan bukan
bentuk pecahan biasa contoh dari suatu
Kue engkak hari sabtu 3 = konsep
Kue engkak hari minggu 2 =
2. Untuk mengurangi kedua pecahan Menggunakan dan 4
kita harus menyakan penyebut kedua memanfaatkan serta
pecahan tersebut. memilih prosedur
3. Penyebut pecahan 2 dan 4 adalah 4 atau operasi tertentu
Mengubah pecahan menjadi pecahan
dengan penyebut 4
= = Mengaplikasikan 4
konsep atau
algoritma dalam
4. Lakukan pengurangan pada pecahan
pemecahan masalah
yang sudah memiliki penyebut yang
sama
- =
Jadi kue engkak yang tersisa
adalah bagian
Total skor 20
5. Diketahui Menyatakan ulang 4
Ibu rina membeli makana khas sebuah konsep
lampung untuk dijadikan oleh-
oleh
145
Ibu membeli 1 kue lapis dan 2
kue bolu pisang
Ditanya : berapa total kue yang dibeli oleh Mengkasifikasikan 4
ibu rina? objek menurut
tertentu sesuai
dengan sifatnya
Jawab Mengidentifikasi 4
1. Ubah pecahan campuran ke dalam contoh dan bukan
bentuk pecahan biasa contoh dari suatu
1 = dan 2 = konsep
2. Menyamakan penyebut kedua pecahan Menggunakan dan 4
3. Penyebut dari pecahan 2 dan 3 adalah 6 memanfaatkan serta
memilih prosedur
atau operasi tertentu
= = Mengaplikasikan 4
konsep atau
= =
algoritma dalam
4. Jumlahkan pecahan diatas
pemecahan masalah
+ =
5. Ubah kembali ke bentuk pecahan
campuran
=3
Jadi tortal kue yang di beli oleh ibu rina
adalah 3 koligram
Total skor 20
6. Diketahui Menyatakan ulang 4
Ibu ani mmebuat dua macam sebuah konsep
kue yaitu kue lapis dan bolu
146
kukus.
Kue lapis di potong menjadi 12
bagian dan dibagikan sebanyak
8 bagian kepada tetangganya.
Bolu kukus di potong menjadi
15 bagian dan dibagikan
sebanyak 10 bagian kepada
tetangganya.
Ditanya : manakan kue yang lebih banyak Mengkasifikasikan 4
dibagikan oleh bu ani kepada tetanganya? objek menurut
tertentu sesuai
dengan sifatnya
Jawab Mengidentifikasi 4
1. Jumlah kue lapis yang dibagikan contoh dan bukan
adalah contoh dari suatu
konsep
2. Jumlah bolu kukus yang dibagikan
adalah
3. Sederhanakan kedua pecahan tersebut Menggunakan dan 4
memanfaatkan serta
memilih prosedur
atau operasi tertentu
Kue lapis = Mengaplikasikan 4
konsep atau
Bolu kukus =
algoritma dalam
4. Bandingkan kedua pecahan tersebut
pemecahan masalah
Kue lapis =
Bolu kukus =
Jadi, karena = , maka jumlah kue lapis
dan kue bolu kukus yang dibagikan sama
banyak
147
Total skor 20
7. Diketahui Menyatakan ulang 4
Pak dedi memesan 3 kue lapis dan sebuah konsep
2 kue talam untuk keluarganya
Setelah memakannya, kue tersebut
ternyata masih tersisa 1 kue lapis
dan kue talam
Ditanya : berapa kue lapis dan kue talam Mengkasifikasikan 4
yang habis dimakan pak dedi dan objek menurut
kleuarganya? tertentu sesuai
dengan sifatnya
Jawab Mengidentifikasi 4
1. Menghitung sisa kue yang dimakan contoh dan bukan
Kue lapis 3 = contoh dari suatu
konsep
Sisa kue lapis yang dimakan
1 =
Maka sisa kue lapis yang dimakan:
3 -1 = -
2. Menghitung sisa kue talam yang
dimakan
Kue talam 2 =
Sisa porsi mie goreng
Maka sisa kue talam yang dimakan:
= =2
Jadi kue talam yang habis
dimakan adalah 2
3. Untuk mengurangi pecahan kue lapis Menggunakan dan 4
148
kita perlu mencari penyebut yang memanfaatkan serta
sama. Penyebut dari 2 dan 4 adalah 4 memilih prosedur
atau operasi tertentu
Kue lapis = Mengaplikasikan 4
konsep atau
= =2
algoritma dalam
Jadi kue lapis yang habis
pemecahan masalah
dimakan adalah 2 bagian
Jadi kue lapis yang habis dimakan adalah 2
dan kue talam yang habis dimakan adalah
Total skor 20
8. Diketahui Menyatakan ulang 4
Rina dan ibu membuat kue bolu sebuah konsep
Rina mem buat 1 loyang bolu
pisang
Ibu membuat 2 loyang bolu keju
Ditanya : berapa Loyang total kue bolu yang Mengkasifikasikan 4
telah di buat oleh rina dan ibu ? objek menurut
tertentu sesuai
dengan sifatnya
Jawab Mengidentifikasi 4
1. Menuliskan pecahan campuran yang contoh dan bukan
akan di jumlahkan contoh dari suatu
1 +2 konsep
2. Mengubah pecahan campuran menjadi Menggunakan dan 4
bentuk pecahan biasa memanfaatkan serta
1 = dan 2 = memilih prosedur
atau operasi tertentu
3. Menyamakan penyebut dari kedua
149
pecahan
Penyebut dari pecahan 3 dan
4 adalah 12
= = dan = = Mengaplikasikan 4
konsep atau
algoritma dalam
pemecahan masalah
4. Jumlahkan hasil pecahan diatas
+ =
5. Ubah kembali hasil pecahan kedalam
bentuk pecahan campuran =3
Jadi total kue bolu yang dibuat rina dan ibu
adalah 3 loyang
Total skor 20
9. Diketahui Menyatakan ulang 4
Budi membawa 2 kg kue lapis dan sebuah konsep
kue keju
Ditanya : berapa total berat kedua kue yang Mengkasifikasikan 4
di bawa budi kepesta ulang tahun ? objek menurut
tertentu sesuai
dengan sifatnya
Jawab Mengidentifikasi 4
1. Ubahlah pecahan campuran dalam contoh dan bukan
bentuk pecahan biasa contoh dari suatu
Kue lapis 2 = konsep
Kue keju
2. Samakan penyebut pecahan diatas Menggunakan dan 4
3. Penyebut dari pecahan 2 dan 3 memanfaatkan serta
adalah 6 memilih prosedur
atau operasi tertentu
150
= = Mengaplikasikan 4
konsep atau
= =
algoritma dalam
pemecahan masalah
4. Ubalah kembali hasil pecahan diatas
menjadi pecahan campuran
Jadi, total kedua kue yang dibawa budi
adalah
Total skor 20
10 Diketahui Menyatakan ulang 4
Ibu siti membuat 3 kg kue lapis dan sebuah konsep
kg kue pisang pada saat hari raya
idul fitri
Setelah hari raya idul fitri ,Sisa kue
lapis 1 kg
Ditanya : berapa banyak kue lapis yang Mengkasifikasikan 4
dimakan oleh tamu bu siti? objek menurut
tertentu sesuai
dengan sifatnya
Jawab Mengidentifikasi 4
1. Jumlah kue lapis yang di buat contoh dan bukan
Kue lapis 3 kg contoh dari suatu
konsep
Diubah kedalam bentuk
pecahan biasa 3 kg
2. Kue lapis yang tersisa
Kue lapis yang tersisa 1 kg
Diubah kedalam bentuk
151
pecahan biasa 1 kg
3. Menghitung kue lapis yang dimakan Menggunakan dan 4
Kue lapis yang dimakan = memanfaatkan serta
kue lapis awal – kue lapis memilih prosedur
yang tersisa atau operasi tertentu
4. Menyamakan penyebut dari kedua
pecahan. penyebut dari pecahan 2
dan 4 adalah 4
= Mengaplikasikan 4
konsep atau
5. Melakukan pengurangan dari kedua
algoritma dalam
pecahan yang memilikipenyebut
pemecahan masalah
yang sama
=
6. Mengubah hasil pecahan biasa
kepecahan campuran = 2 kg
Jadi kue lapis yang telah dimakan tamu bu
siti adalah 2 kg
Total skor 20
Total keseluruhan skor 200
152
Lampiran 7
LEMBAR SOAL TES
Nama sekolah : UPT SDN 2 Pringsewu Timur
Mata pelajaran : Matematika
Kelas / fase :5/A&C
Alokasi waktu : 2 X 35 Menit
Petunjuk Pengerjaan
1. Bacalah basmallah terlebih dahulu sebelum memulai mengerjakan.
2. Tuliskan nama di bagian atas lembar jawaban.
3. Kerjakan terlebih dahulu soal-soal yang menurut peserta didik mudah.
4. Periksa kembali jawaban sebelum mengumpulkannya.
SOAL
1. Di pesta ualang tahun tina, terdapat dua kue yaitu kue lapis legit dan kue
engkak yang dipotong untuk dibagikan kepada teman-temannya. Kue lapis
legit di potong menjadi 8 bagian yang sama, dan kue engkak dipotong
menjadi 12 bagian yang sama. Sita memakan 3 bagian dari kue lapis legit
sedangkan andi memakan 5 bagian dari kue engkak. Siapa yang memakan
kue lebih banyak?
2. Bu Ani membuat dua jenis kue untuk acara keluarga. Kue pertama adalah
kue lapis legit yang terbuat dari tepung ketan, dan Bu Ani memotongnya
menjadi 6 bagian yang sama besar. Dia membawa dari kue lapis tersebut ke
rumah nenek. Kue kedua adalah kue talam yang ia potong menjadi 4 bagian
153
yang sama besar, lalu membawa dari kue talam ke rumah paman. Berapa
bagian total kue yang Bu Ani bawa untuk dibagikan di rumah nenek dan
rumah paman?
3. Siti membuat kue lapis dari tepung ketan. Kue tersebut dipotong menjadi
beberapa bagian. Di pagi hari, Siti memotong dan membagikan kue kepada
tetangganya sebesar bagian. Siangnya, ia kembali memberikan kepada
adiknya sebesar bagian dari kue yang tersisa. Berapa bagian kue yang sudah
dibagikan oleh Siti, dan berapa bagian kue yang masih tersisa?
4. Di sebuah pasar tradisional , ada dua jenis hidangan spesial. Pada hari Sabtu,
pasar tradisional menyajikan 3 kue enggak dan 2 kue pisang. Pada hari
Minggu, pasar tradisional menyajikan 2 kue enggak dan 1 kue pisang. Jika
jumlah kue engkak yang disajikan pada hari Sabtu dikurangi dengan jumlah
kue enggak yang disajikan pada hari Minggu, berapa banyak kue engkak yang
tersisa?
154
Lampiran 8
Perhitungan uji validitas soal
1. Menentukan skor
Nomor Soal
No Responden Jumlah
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 R1 20 15 18 17 2 20 2 20 2 2 118
2 R2 10 15 12 14 3 3 3 20 3 3 86
3 R3 20 18 12 16 20 9 3 3 3 3 107
4 R4 15 14 10 14 8 3 2 4 2 2 74
5 R5 20 19 14 20 2 2 2 19 2 2 102
6 R6 20 20 20 20 4 2 20 19 2 2 129
7 R7 10 20 20 20 2 2 2 20 4 4 104
8 R8 20 20 20 20 20 15 20 20 20 20 195
9 R9 20 20 20 20 20 20 20 14 20 20 194
10 R10 15 20 20 15 4 4 2 6 20 2 108
11 R11 20 20 15 20 2 2 20 20 2 2 123
12 R12 20 20 4 13 2 2 2 20 2 2 87
13 R13 20 20 20 20 2 2 20 20 2 2 128
14 R14 11 15 16 6 4 2 0 0 0 0 54
15 R15 13 20 19 20 2 2 2 15 2 2 97
16 R16 20 20 20 20 4 20 6 20 0 0 130
17 R17 15 14 12 7 2 2 2 11 2 2 69
155
18 R18 20 19 20 16 2 2 2 20 2 2 105
19 R19 10 20 10 19 20 4 6 2 0 0 91
20 R20 20 14 15 20 2 2 2 16 4 4 99
21 R21 18 12 20 20 2 2 2 11 2 2 91
22 R22 14 19 19 5 2 2 2 2 2 2 69
23 R23 18 4 20 20 20 20 20 10 20 20 172
24 R24 11 8 10 19 8 4 6 4 0 0 70
Jumlah 401 408 389 405 164 154 175 324 127 110 2657
2. Uji validitas setiap butir soal
Pada tahap ini melakukan uji validitas butir soal dngan skor jawaban setiap butir di identifikasi menjadi variabel X dan total
jawaban menjadi variabel Y.
3. Menentukan nilai tabel
N = 24, a = 5% = 0,05
Sehingga nilai (0,05, 24) = (0,05-24) pada tabel Product Moment = 0,423
156
4. Menentukan nilai r hitung
Soal Nomor 1
Resp X Y X2 Y2 XY Hasil
1 20 118 400 13924 2360 ∑ (∑ )(∑ )
2 10 86 100 7396 860 √* ∑ (∑ ) +* ∑ (∑ ) +
3 20 107 400 11449 2140
4 15 74 225 5476 1110 ( ) +* ( ) +
√*
5 20 102 400 10404 2040
6 20 129 400 16641 2580
√* +* +
7 10 104 100 10816 1040
8 20 195 400 38025 3900
9 20 194 400 37636 3880 √
10 15 108 225 11664 1620
11 20 123 400 15129 2460
12 20 87 400 7569 1740
= 0,484
13 20 128 400 16384 2560
14 11 54 121 2916 594
15 13 97 169 9409 1261
16 20 130 400 16900 2600
157
17 15 69 225 4761 1035
18 20 105 400 11025 2100
19 10 91 100 8281 910
20 20 99 400 9801 1980
21 18 91 324 8281 1638
22 14 69 196 4761 966
23 18 172 324 29584 3096
24 11 70 121 4900 770
∑ 401 2657 160801 7059649 1065457
Soal Nomor 2
Resp X Y X2 Y2 XY Hasil
1 15 118 225 13924 1770 ∑ (∑ )(∑ )
2 15 86 225 7396 1290 √* ∑ (∑ ) +* ∑ (∑ ) +
3 18 107 324 11449 1926
4 14 74 196 5476 1036 ( ) +* ( ) +
√*
5 19 102 361 10404 1938
6 20 129 400 16641 2580
158
7 20 104 400 10816 2080
8 20 195 400 38025 3900 √* +* +
9 20 194 400 37636 3880
10 20 108 400 11664 2160 √
11 20 123 400 15129 2460
12 20 87 400 7569 1740
13 20 128 400 16384 2560
14 15 54 225 2916 810
= 0,426
15 20 97 400 9409 1940
16 20 130 400 16900 2600
17 14 69 196 4761 966
18 19 105 361 11025 1995
19 20 91 400 8281 1820
20 14 99 196 9801 1386
21 12 91 144 8281 1092
22 19 69 361 4761 1311
23 4 172 16 29584 688
24 8 70 64 4900 560
∑ 408 2657 166464 7059649 1084056
159
Soal Nomor 3
Resp X Y X2 Y2 XY Hasil
1 18 118 324 13924 2124 ∑ (∑ )(∑ )
2 12 86 144 7396 1032 √* ∑ (∑ ) +* ∑ (∑ ) +
3 12 107 144 11449 1284
4 10 74 100 5476 740 ( ) +* ( ) +
√*
5 14 102 196 10404 1428
6 20 129 400 16641 2580
√* +* +
7 20 104 400 10816 2080
8 20 195 400 38025 3900
9 20 194 400 37636 3880 √
10 20 108 400 11664 2160
11 15 123 225 15129 1845
12 4 87 16 7569 348
= 0,470
13 20 128 400 16384 2560
14 16 54 256 2916 864
15 19 97 361 9409 1843
16 20 130 400 16900 2600
17 12 69 144 4761 828
160
18 20 105 400 11025 2100
19 10 91 100 8281 910
20 15 99 225 9801 1485
21 20 91 400 8281 1820
22 19 69 361 4761 1311
23 20 172 400 29584 3440
24 10 70 100 4900 700
∑ 389 2657 151321 7059649 1033573
Soal Nomor 4
Resp X Y X2 Y2 XY Hasil
1 17 118 289 13924 2006 ∑ (∑ )(∑ )
2 14 86 196 7396 1204 √* ∑ (∑ ) +* ∑ (∑ ) +
3 16 107 256 11449 1712
4 14 74 196 5476 1036 ( ) +* ( ) +
√*
5 20 102 400 10404 2040
6 20 129 400 16641 2580
√* +* +
7 20 104 400 10816 2080
161
8 20 195 400 38025 3900
9 20 194 400 37636 3880 √
10 15 108 225 11664 1620
11 20 123 400 15129 2460
12 13 87 169 7569 1131
= 0,489
13 20 128 400 16384 2560
14 6 54 36 2916 324
15 20 97 400 9409 1940
16 20 130 400 16900 2600
17 7 69 49 4761 483
18 16 105 256 11025 1680
19 19 91 361 8281 1729
20 20 99 400 9801 1980
21 20 91 400 8281 1820
22 5 69 25 4761 345
23 20 172 400 29584 3440
24 19 70 361 4900 1330
∑ 405 2657 164025 7059649 1076085
162
Soal Nomor 5
Resp X Y X2 Y2 XY Hasil
1 2 118 4 13924 236 ∑ (∑ )(∑ )
2 3 86 9 7396 258 √* ∑ (∑ ) +* ∑ (∑ ) +
3 20 107 400 11449 2140
4 8 74 64 5476 592 ( ) +* ( ) +
√*
5 2 102 4 10404 204
6 4 129 16 16641 516
√* +* +
7 2 104 4 10816 208
8 20 195 400 38025 3900
9 20 194 400 37636 3880 √
10 4 108 16 11664 432
11 2 123 4 15129 246
12 2 87 4 7569 174
= 0,198
13 2 128 4 16384 256
14 4 54 16 2916 216
15 2 97 4 9409 194
163
16 4 130 16 16900 520
17 2 69 4 4761 138
18 2 105 4 11025 210
19 20 91 400 8281 1820
20 2 99 4 9801 198
21 2 91 4 8281 182
22 2 69 4 4761 138
23 20 172 400 29584 3440
24 8 70 64 4900 560
∑ 164 2657 26896 7059649 435748
Soal Nomor 6
Resp X Y X2 Y2 XY Hasil
1 20 118 400 13924 2360 ∑ (∑ )(∑ )
2 3 86 9 7396 258 √* ∑ (∑ ) +* ∑ (∑ ) +
3 9 107 81 11449 963
4 3 74 9 5476 222 ( ) +* ( ) +
√*
5 2 102 4 10404 204
164
6 2 129 4 16641 258
7 2 104 4 10816 208 √* +* +
8 15 195 225 38025 2925
9 20 194 400 37636 3880 √
10 4 108 16 11664 432
11 2 123 4 15129 246
12 2 87 4 7569 174
13 2 128 4 16384 256
= 0,186
14 2 54 4 2916 108
15 2 97 4 9409 194
16 20 130 400 16900 2600
17 2 69 4 4761 138
18 2 105 4 11025 210
19 4 91 16 8281 364
20 2 99 4 9801 198
21 2 91 4 8281 182
22 2 69 4 4761 138
23 20 172 400 29584 3440
24 4 70 16 4900 280
165
∑ 154 2657 23716 7059649 409178
Soal Nomor 7
Resp X Y X2 Y2 XY Hasil
1 2 118 4 13924 236 ∑ (∑ )(∑ )
2 3 86 9 7396 258 √* ∑ (∑ ) +* ∑ (∑ ) +
3 3 107 9 11449 321
4 2 74 4 5476 148 ( ) +* ( ) +
√*
5 2 102 4 10404 204
6 20 129 400 16641 2580
√* +* +
7 2 104 4 10816 208
8 20 195 400 38025 3900
9 20 194 400 37636 3880 √
10 2 108 4 11664 216
11 20 123 400 15129 2460
12 2 87 4 7569 174
= 0,091
13 20 128 400 16384 2560
14 0 54 0 2916 0
166
15 2 97 4 9409 194
16 6 130 36 16900 780
17 2 69 4 4761 138
18 2 105 4 11025 210
19 6 91 36 8281 546
20 2 99 4 9801 198
21 2 91 4 8281 182
22 2 69 4 4761 138
23 20 172 400 29584 3440
24 6 70 36 4900 420
∑ 175 2657 30625 7059649 464975
Soal Nomor 8
Resp X Y X2 Y2 XY Hasil
1 20 118 400 13924 2360 ∑ (∑ )(∑ )
2 20 86 400 7396 1720 √* ∑ (∑ ) +* ∑ (∑ ) +
3 3 107 9 11449 321
4 4 74 16 5476 296 ( ) +* ( ) +
√*
167
5 19 102 361 10404 1938
6 19 129 361 16641 2451 √* +* +
7 20 104 400 10816 2080
8 20 195 400 38025 3900 √
9 14 194 196 37636 2716
10 6 108 36 11664 648
11 20 123 400 15129 2460
12 20 87 400 7569 1740
= 0,451
13 20 128 400 16384 2560
14 0 54 0 2916 0
15 15 97 225 9409 1455
16 20 130 400 16900 2600
17 11 69 121 4761 759
18 20 105 400 11025 2100
19 2 91 4 8281 182
20 16 99 256 9801 1584
21 11 91 121 8281 1001
22 2 69 4 4761 138
23 10 172 100 29584 1720
168
24 4 70 16 4900 280
∑ 324 2657 104976 7059649 860868
Soal Nomor 9
Resp X Y X2 Y2 XY Hasil
1 2 118 4 13924 236 ∑ (∑ )(∑ )
2 3 86 9 7396 258 √* ∑ (∑ ) +* ∑ (∑ ) +
3 3 107 9 11449 321
4 2 74 4 5476 148 ( ) +* ( ) +
√*
5 2 102 4 10404 204
6 2 129 4 16641 258
√* +* +
7 4 104 16 10816 416
8 20 195 400 38025 3900
9 20 194 400 37636 3880 √
10 20 108 400 11664 2160
11 2 123 4 15129 246
12 2 87 4 7569 174
= 0,153
13 2 128 4 16384 256
169
14 0 54 0 2916 0
15 2 97 4 9409 194
16 0 130 0 16900 0
17 2 69 4 4761 138
18 2 105 4 11025 210
19 0 91 0 8281 0
20 4 99 16 9801 396
21 2 91 4 8281 182
22 2 69 4 4761 138
23 20 172 400 29584 3440
24 0 70 0 4900 0
∑ 127 2657 16129 7059649 337439
Soal Nomor 10
Resp X Y X2 Y2 XY Hasil
1 2 118 4 13924 236 ∑ (∑ )(∑ )
2 3 86 9 7396 258 √* ∑ (∑ ) +* ∑ (∑ ) +
3 3 107 9 11449 321
170
4 2 74 4 5476 148
5 2 102 4 10404 204 √* ( ) +* ( ) +
6 2 129 4 16641 258
7 4 104 16 10816 416 √* +* +
8 20 195 400 38025 3900
9 20 194 400 37636 3880
√
10 2 108 4 11664 216
11 2 123 4 15129 246
12 2 87 4 7569 174
13 2 128 4 16384 256 = 0,098
14 0 54 0 2916 0
15 2 97 4 9409 194
16 0 130 0 16900 0
17 2 69 4 4761 138
18 2 105 4 11025 210
19 0 91 0 8281 0
20 4 99 16 9801 396
21 2 91 4 8281 182
22 2 69 4 4761 138
171
23 20 172 400 29584 3440
24 0 70 0 4900 0
∑ 110 2657 12100 7059649 292270
172
Tabel Hasil Validitas
No Soal R hitung R tabel Keterangan
1 0,484 0,423 Valid
2 0,426 0,423 Valid
3 0,470 0,423 Valid
4 0,489 0,423 Valid
5 0,198 0,423 Tidak valid
6 0,186 0,423 Ttidak Valid
7 0,091 0,423 Tidak Valid
8 0,451 0,423 Valid
9 0,153 0,423 Tidak Valid
10 0,098 0,423 Tidak valid
173
Lampiran 9
Daya Pembeda
1. Menentukan skor
Nomor Soal
No Responden Jumlah
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 R1 20 15 18 17 2 20 2 20 2 2 118
2 R2 10 15 12 14 3 3 3 20 3 3 86
3 R3 20 18 12 16 20 9 3 3 3 3 107
4 R4 15 14 10 14 8 3 2 4 2 2 74
5 R5 20 19 14 20 2 2 2 19 2 2 102
6 R6 20 20 20 20 4 2 20 19 2 2 129
7 R7 10 20 20 20 2 2 2 20 4 4 104
8 R8 20 20 20 20 20 15 20 20 20 20 195
9 R9 20 20 20 20 20 20 20 14 20 20 194
10 R10 15 20 20 15 4 4 2 6 20 2 108
11 R11 20 20 15 20 2 2 20 20 2 2 123
12 R12 20 20 4 13 2 2 2 20 2 2 87
13 R13 20 20 20 20 2 2 20 20 2 2 128
14 R14 11 15 16 6 4 2 0 0 0 0 54
15 R15 13 20 19 20 2 2 2 15 2 2 97
16 R16 20 20 20 20 4 20 6 20 0 0 130
17 R17 15 14 12 7 2 2 2 11 2 2 69
18 R18 20 19 20 16 2 2 2 20 2 2 105
174
19 R19 10 20 10 19 20 4 6 2 0 0 91
20 R20 20 14 15 20 2 2 2 16 4 4 99
21 R21 18 12 20 20 2 2 2 11 2 2 91
22 R22 14 19 19 5 2 2 2 2 2 2 69
23 R23 18 4 20 20 20 20 20 10 20 20 172
24 R24 11 8 10 19 8 4 6 4 0 0 70
Jumlah 401 408 389 405 164 154 175 324 127 110 2657
2. Mengelompokkan data
Kelompok Atas
Soal
Responden jumlah
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
R8 20 20 20 20 20 15 20 20 20 20 195
R9 20 20 20 20 20 20 20 14 20 20 194
R23 18 4 20 20 20 20 20 10 20 20 172
R16 20 20 20 20 4 20 6 20 0 0 130
R6 20 20 20 20 4 2 20 19 2 2 129
R13 20 20 20 20 2 2 20 20 2 2 128
R11 20 20 15 20 2 2 20 20 2 2 123
R1 20 15 18 17 2 20 2 20 2 2 118
R10 15 20 20 15 4 4 2 6 20 2 108
R3 20 18 12 16 20 9 3 3 3 3 107
R3 20 18 12 16 20 9 3 3 3 3 107
R7 10 20 20 20 2 2 2 20 4 4 104
175
∑A 224 217 220 228 125 131 145 183 107 90 1615
Kelompok Bawah
Soal
Responden jumlah
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
R14 11 15 16 6 4 2 0 0 0 0 54
R17 15 14 12 7 2 2 2 11 2 2 69
R22 14 19 19 5 2 2 2 2 2 2 69
R24 11 8 10 19 8 4 6 4 0 0 70
R4 15 14 10 14 8 3 2 4 2 2 74
R2 10 15 12 14 3 3 3 20 3 3 86
R12 20 20 4 13 2 2 2 20 2 2 87
R19 10 20 20 19 20 4 6 2 0 0 91
R21 18 12 20 20 2 2 2 11 2 2 91
R15 13 20 19 20 2 2 2 15 2 2 97
R20 20 14 15 20 2 2 2 16 4 4 99
R5 20 19 14 20 2 2 2 19 2 2 102
∑B 178 192 164 181 62 36 38 132 30 31 989
176
3. Menghitung Daya Pembeda
Rumus yang digunakan:
= -
Soal Nomor 1 Soal Nomor 6
= 0,75- 0,25 = = 0,33 - 0,0 = 0,33
0,50
Soal Nomor 2 Soal Nomor 7
= 0,66 – 0,25 = = 0,5- 0,0 = 0,50
0,41
Soal Nomor 3 Soal Nomor 8
= 0,66 – 0,16 = = 0,58 - 0,16 =
0,50 0,42
Soal Nomor 4 Saol Nomor 9
= 0,66 – 0,33 = = 0,33 - 0,0 = 0,33
0,33
Soal nomor 5 Soal Nomor 10
= 0,41– 0,08 = =0,25 – 0= 0,25
0,32
177
4. Menentukan kriteria daya pembeda
No soal Daya pembeda Kriteria
1 0,50 Baik
2 0,41 Baik
3 0,50 Baik
4 0,33 Cukup
5 0,32 Cukup
6 0,33 Cukup
7 0,50 Baik
8 0,42 Baik
9 0.33 Cukup
10 0,25 Cukup
178
Lampiran 10 Tingkat Kesukaran
1. Menentukan Skor
Nomor Soal
No Responden Jumlah
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 R1 20 15 18 17 2 20 2 20 2 2 118
2 R2 10 15 12 14 3 3 3 20 3 3 86
3 R3 20 18 12 16 20 9 3 3 3 3 107
4 R4 15 14 10 14 8 3 2 4 2 2 74
5 R5 20 19 14 20 2 2 2 19 2 2 102
6 R6 20 20 20 20 4 2 20 19 2 2 129
7 R7 10 20 20 20 2 2 2 20 4 4 104
8 R8 20 20 20 20 20 15 20 20 20 20 195
9 R9 20 20 20 20 20 20 20 14 20 20 194
10 R10 15 20 20 15 4 4 2 6 20 2 108
11 R11 20 20 15 20 2 2 20 20 2 2 123
12 R12 20 20 4 13 2 2 2 20 2 2 87
13 R13 20 20 20 20 2 2 20 20 2 2 128
14 R14 11 15 16 6 4 2 0 0 0 0 54
15 R15 13 20 19 20 2 2 2 15 2 2 97
16 R16 20 20 20 20 4 20 6 20 0 0 130
17 R17 15 14 12 7 2 2 2 11 2 2 69
18 R18 20 19 20 16 2 2 2 20 2 2 105
19 R19 10 20 10 19 20 4 6 2 0 0 91
179
20 R20 20 14 15 20 2 2 2 16 4 4 99
21 R21 18 12 20 20 2 2 2 11 2 2 91
22 R22 14 19 19 5 2 2 2 2 2 2 69
23 R23 18 4 20 20 20 20 20 10 20 20 172
24 R24 11 8 10 19 8 4 6 4 0 0 70
Jumlah 401 408 389 405 164 154 175 324 127 110 2657
180
2. Menghitung indeks kesukaran
Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:
P =
Soal Nomor 1 Soal Nomor 6
P= = 0,50 P= = 0,16
Soal Nomor 2 Soal Nomor 7
P= = 0,45 P= = 0,25
Soal Nomor 3 Soal Nomor 8
P= = 0,41 P= = 0,37
Soal Nomor 4 Saol Nomor 9
P= = 0,50 P= = 0,12
Soal nomor 5 Soal Nomor 10
P= = 0,20 P= = 0,08
181
3. Menentukan kriteria kesukaran
No Soal Jumlah Jumlah Tingkat Kriteria
Siswa Skor Kesukaran
1 24 401 0,50 Sedang
2 24 408 0,45 Sedang
3 24 389 0,41 Sedang
4 24 405 0,50 Sedang
5 24 164 0,20 Sukar
6 24 154 0,16 Sukar
7 24 175 0,25 Sukar
8 24 324 0,37 Sedang
9 24 127 0,12 Sukar
10 24 110 0,08 sukar
Hasil tersebut dapat dilihat di tabel kriteria kesukaran sebagai berikut:
Nilai Keputusan
0,00 – 0,30 Sukar
0,31 – 0,70 Sedang
0,71 – 0,100 Mudah
182
Lampiran 11
Uji Reliablitas
1. Menentukan Skor Total
Nomor Soal Kuadrat
No Responden Skor total skor
total
1 2 3 8
1 R1 20 15 18 20 118 13.924
2 R2 10 15 12 20 86 7.396
3 R3 20 18 12 3 107 11.449
4 R4 15 14 10 4 74 5.476
5 R5 20 19 14 19 102 10.404
6 R6 20 20 20 19 129 16.641
7 R7 10 20 20 20 104 10.816
8 R8 20 20 20 20 195 38.025
9 R9 20 20 20 14 194 37.636
10 R10 15 20 20 6 108 11.664
11 R11 20 20 15 20 123 15.129
12 R12 20 20 4 20 87 7.569
13 R13 20 20 20 20 128 16.384
14 R14 11 15 16 0 54 2.916
15 R15 13 20 19 15 97 9.409
183
16 R16 20 20 20 20 130 16.900
17 R17 15 14 12 11 69 4.761
18 R18 20 19 20 20 105 11.025
19 R19 10 20 10 2 91 8.281
20 R20 20 14 15 16 99 9.801
21 R21 18 12 20 11 91 8.281
22 R22 14 19 19 2 69 4.761
23 R23 18 4 20 10 172 29.584
24 R24 11 8 10 4 70 4.900
Jumlah 401 408 389 324 2657 313.132
Jumlah kuadrat 160.801 166.464 151.321 104.976 7.059.649
1. Menentukan varian Butir
= = = = 6.42
= = = = 6.64
= = = = 6.04
184
= = = = 4.19
Jumlah ∑ = 6.42 + 6.64 + 6.04 + 4.19 = 24,01
185
2. Menentukan varian total
= = = = 790,8
Di masukkan kedalam rumus alpha
= ( )
( )
0,929
3. Menentukan kriteria reliabilitas
Dari hasil perhitungan diatas maka hasil uji reliabilitas mendapatkan
nilai 0,995 yang dinaytakan sangat tinggi atau reliable. Hasil tersebut
dapat dilihat di tabel reliabilitas dibawah ini:
Nilai kriteria
0,000-0,199 Sangat Rendah
0,200-0,399 Rendah
0,400-0.599 Cukup
0,600-0,799 Tinggi
0.800-1,000 Sangat Tinggi
186
Lampiran 12
Uji Normalitas Kelas Eksperimen
Tabel Hasil Nilai Test Kelas Eksperimen
No Nama Siswa X X²
1 R 53 2809
2 KNF 56 3136
3 FNP 57 3249
4 DUJW 58 3364
5 NFS 64 4096
6 AAP 64 4096
7 DDLP 65 4225
8 ANA 66 4356
9 TIR 70 4900
10 TMA 72 5184
11 ELF 77 5929
12 C 77 5929
13 D 78 6084
14 RR 79 6241
15 RBFP 82 6724
16 AH 82 6724
17 KA 83 6889
18 RA 84 7056
19 AZ 85 7225
20 EL 90 8100
21 ZKP 90 8100
22 DPA 91 8281
Jumlah 1623 122697
N 22
Xmaks 53
Xmin 91
1. Merumuskan Hipotesis
Ho: Data berdistribusi normal
Ha: Data berdistribusi tidak normal
2. Taraf signifikansi 5% dengan Ltabel= 0,1832
3. Mencari rata-rata dan standar deviasi
187
a. Rata-rata:
∑
̅ = 73,7 (Dibulatkan menjadi = 74)
b. Standar Deviasi
∑ (∑ )
√
( )
( )
√
( )
√
( )
√
(Dibulatkan menjadi = 12)
4. Mencari Bilangan Baku
̅
Rumus :
̅
a.
̅
b.
̅
c.
̅
d.
̅
e.
̅
f.
̅
g.
̅
h.
̅
i.
̅
j.
188
̅
k.
̅
l.
̅
m.
̅
n.
̅
o.
̅
p.
̅
q.
̅
r.
̅
s. Z
̅
t.
̅
u.
̅
v.
5. Menghitung peluang F(z)
Jika Z bernilai negatif, maka 0,5-Zt
Jika Z bernilai positif, maka 0,5+Zt
a. F(z) = 0,5-Zt = 0,5-0,4599 = 0,0401
b. F(z) = 0,5-Zt = 0,5-0,4332 = 0,0668
c. F(z) = 0,5-Zt = 0,5-0,4207 = 0,0793
d. F(z) = 0,5-Zt = 0,5-0,4082= 0,0918
e. F(z) = 0,5-Zt = 0,5-0,2967 = 0,2033
f. F(z) = 0,5-Zt = 0,5-0,2967 = 0,2033
g. F(z) = 0,5-Zt = 0,5-0,2734= 0,2266
h. F(z) = 0,5-Zt = 0,5-0,2454 = 0,2546
i. F(z) = 0,5-Zt = 0,5-0,1293 = 0,3707
j. F(z) = 0,5-Zt = 0,5-0,0636= 0,4364
k. F(z) = 0,5-Zt = 0,5+0,0987 = 0,5987
189
l. F(z) = 0,5+Zt = 0,5+0,0987 = 0,5987
m. F(z) = 0,5+Zt = 0,5+0,1293 = 0,6293
n. F(z) = 0,5+Zt = 0,5+0,1591 = 0,6591
o. F(z) = 0,5+Zt = 0,5+0,2454 = 0,7454
p. F(z) = 0,5+Zt = 0,5+0,2454 = 0,7454
q. F(z) = 0,5+Zt = 0,5+0,2734 = 0,7734
r. F(z) = 0,5+Zt = 0,5+0,2967 = 0,7967
s. F(z) = 0,5+Zt = 0,5+0,3186 = 0,8186
t. F(z) = 0,5+Zt = 0,5+0,4082 = 0,9082
u. F(z) = 0,5+Zt = 0,5+0,4082 = 0,9082
v. F(z) = 0,5+Zt = 0,5+0,4207 = 0,9207
6. Menghitung Proporsi S(z)
Rumus: S(z) = ∑
=
a. S(z) = = 0,045
b. S(z) = = 0,090
c. S(z) = = 0,136
d. S(z) = = 0,181
e. S(z) = = 0,227
f. S(z) = = 0,272
g. S(z) = = 0,318
h. S(z) = = 0,363
i. S(z) = = 0,409
j. S(z) = = 0,454
k. S(z) = = 0,5
l. S(z) = = 0,545
m. S(z) = = 0,590
190
n. S(z) = = 0,636
o. S(z) = = 0,681
p. S(z) = = 0,727
q. S(z) = = 0,772
r. S(z) = = 0,818
s. S(z) = = 0,863
t. S(z) = = 0,909
u. S(z) = = 0,954
v. S(z) = =1
7. Menghitung selisih [F(z)-S(z)]
a. [F(z)-S(z)] = [0,0401 – 0,045] = 0,0049
b. [F(z)-S(z)] = [0,0668 – 0,090] = 0,0232
c. [F(z)-S(z)] = [0,0793 – 0,136] = 0,0567
d. [F(z)-S(z)] = [0,0918 – 0,181] = 0,0892
e. [F(z)-S(z)] = [0,2033 – 0,227] = 0,0237
f. [F(z)-S(z)] = [0,2033 – 0,272] = 0,0687
g. [F(z)-S(z)] = [0,2266 – 0,318] = 0,0914
h. [F(z)-S(z)] = [0,2546– 0,363] = 0,1084
i. [F(z)-S(z)] = [0,3707 – 0,409] = 0,0383
j. [F(z)-S(z)] = [0,4364 – 0,454] = 0,0176
k. [F(z)-S(z)] = [0,5987– 0,5] = 0,0987
l. [F(z)-S(z)] = [0,5987– 0,545] = 0,0537
m. [F(z)-S(z)] = [0,6293– 0,590] = 0,0393
n. [F(z)-S(z)] = [0,6591– 0,636] = 0,0231
o. [F(z)-S(z)] = [0,7454- 0,681] = 0,0644
p. [F(z)-S(z)] = [0,7454– 0,727] = 0,0184
q. [F(z)-S(z)] = [0,7734– 0,772] = 0,0014
r. [F(z)-S(z)] = [0,7967– 0,818] = 0,0213
191
s. [F(z)-S(z)] = [0,8186– 0,863] = 0,0444
t. [F(z)-S(z)] = [0,9082– 0,909] = 0,0008
u. [F(z)-S(z)] = [0,9082– 0,954] = 0,0458
v. [F(z)-S(z)] = [0,9207– 1] = 0,0793
8. Membuat tabel penolong
No X Z Zt F(z) S(z) [F(z)-S(z)]
1 53 -1,75 0,4599 0,0401 0,045 0,0049
2 56 -1,50 0,4332 0,0668 0,090 0,0232
3 57 -1,41 0,4207 0,0793 0,136 0,0567
4 58 -1,33 0,4082 0,0918 0,181 0,0892
5 64 -0,83 0,2967 0,2033 0,227 0,0237
6 64 -0,83 0,2967 0,2033 0,272 0,0687
7 65 -0,75 0,2734 0,2266 0,318 0,0914
8 66 -0,66 0,2454 0,2546 0,363 0,1084
9 70 -0,33 0,1293 0,3707 0,409 0,0383
10 72 -0,16 0,0636 0,4364 0,454 0,0176
11 77 0,25 0,0987 0,5987 0,5 0,0987
12 77 0,25 0,0987 0,5987 0,545 0,0537
13 78 0,33 0,1293 0,6293 0,590 0,0393
14 79 0,41 0,1591 0,6591 0,636 0,0231
15 82 0,66 0,2454 0,7454 0,681 0,0644
16 82 0,66 0,2454 0,7454 0,727 0,0184
17 83 0,75 0,2734 0,7734 0,772 0,0014
18 84 0,83 0,2967 0,7967 0,818 0,0213
19 85 0,91 0,3186 0,8186 0,863 0,0444
192
20 90 1,33 0,4082 0,9082 0,909 0,0008
21 90 1,33 0,4082 0,9082 0,954 0,0458
22 91 1,41 0,4207 0,9207 1 0,0793
9. Menentukan nilai Lhitung
Lhitung = Maksimum [F(z)-S(z)]
Lhitung = 0,1084
10. Membandingkan nilai Lhitung dengan Ltabel nilai kritis Uji Lilliefors pada
tingkat signifikan 0,05.
Ltabel = 0,1832, didapatkan dari perhitungan interpolasi data
Rumus:
( ) ( )
( ) ( )
11. Kesimpulan, Lhitung < Ltabel = 0,1084< 0,1832, Maka H0 diterima. Artinya data
berdistribusi normal
193
Lampiran 13
Uji Normalitas Kelas Kontrol
Tabel Hasil Nilai Test Kelas Kontrol
No Nama Siswa X X²
1 NZA 15 225
2 FAP 20 400
3 EAP 33 1089
4 ADA 34 1156
5 KAF 36 1296
6 NMU 49 2401
7 NMA 50 2500
8 AP 57 3249
9 NLU 57 3249
10 DM 60 3600
11 RAP 60 3600
12 RA 60 3600
13 UZ 60 3600
14 SK 62 3844
15 HZP 62 3844
16 AS 62 3844
17 AEP 63 3969
18 RDL 64 4096
19 ABS 70 4900
20 ARRR 73 5329
21 ANS 75 5625
22 AKZP 80 6400
Jumlah 1202 71816
N 22
X Maks 80
X min 15
1. Merumuskan Hipotesis
Ho: Data berdistribusi normal
Ha: Data berdistribusi tidak normal
194
2. Taraf signifikansi 5% dengan Ltabel= 0,1832
3. Mencari rata-rata dan standar deviasi
c. Rata-rata:
∑
̅ = 54,6 (Dibulatkan Menjadi = 55)
d. Standar Deviasi
∑ (∑ )
√
( )
( )
√
( )
√
( )
√
(Dibulatkan menjadi = 17)
4. Mencari Bilangan Baku
̅
Rumus :
̅
a.
̅
b.
̅
c.
̅
d.
̅
e.
̅
f.
̅
g.
̅
h.
195
̅
i.
̅
j.
̅
k.
̅
l.
̅
m.
̅
n.
̅
o.
̅
p.
̅
q.
̅
r.
̅
s. Z
̅
t.
̅
u.
̅
v.
5. Menghitung peluang F(z)
Jika Z bernilai negatif, maka 0,5-Zt
Jika Z bernilai positif, maka 0,5+Zt
a. F(z) = 0,5-Zt = 0,5-0,4906 = 0,0094
b. F(z) = 0,5-Zt = 0,5-0,4798 = 0,0202
c. F(z) = 0,5-Zt = 0,5-0,4015 = 0,0985
d. F(z) = 0,5-Zt = 0,5-0,3907= 0,1093
e. F(z) = 0,5-Zt = 0,5-0,3665= 0,1335
f. F(z) = 0,5-Zt = 0,5-0,1368= 0,3632
g. F(z) = 0,5-Zt = 0,5-0,1141= 0,3859
h. F(z) = 0,5-Zt = 0,5+0,0040 = 0,504
i. F(z) = 0,5-Zt = 0,5+0,0040= 0,504
196
j. F(z) = 0,5-Zt = 0,5+0,1141 = 0,6141
k. F(z) = 0,5-Zt = 0,5+0,1141 = 0,6141
l. F(z) = 0,5+Zt = 0,5+0,1141 = 0,6141
m. F(z) = 0,5+Zt = 0,5+0,1141= 0,6141
n. F(z) = 0,5+Zt = 0,5+0,1591 = 0,6591
o. F(z) = 0,5+Zt = 0,5+0,1591 = 0,6591
p. F(z) = 0,5+Zt = 0,5+0,1591 = 0,6591
q. F(z) = 0,5+Zt = 0,5+0,1808 = 0,6808
r. F(z) = 0,5+Zt = 0,5+0,1985= 0,6985
s. F(z) = 0,5+Zt = 0,5+0,3106 = 0,8106
t. F(z) = 0,5+Zt = 0,5+0,3531 = 0,8531
u. F(z) = 0,5+Zt = 0,5+0,3790 = 0,879
v. F(z) = 0,5+Zt = 0,5+0,4292 = 0,9292
6. Menghitung Proporsi S(z)
Rumus: S(z) = ∑
=
a. S(z) = = 0,045
b. S(z) = = 0,090
c. S(z) = = 0,136
d. S(z) = = 0,181
e. S(z) = = 0,227
f. S(z) = = 0,272
g. S(z) = = 0,318
h. S(z) = = 0,363
i. S(z) = = 0,409
j. S(z) = = 0,454
k. S(z) = = 0,5
l. S(z) = = 0,545
197
m. S(z) = = 0,590
n. S(z) = = 0,636
o. S(z) = = 0,681
p. S(z) = = 0,727
q. S(z) = = 0,772
r. S(z) = = 0,818
s. S(z) = = 0,863
t. S(z) = = 0,909
u. S(z) = = 0,954
v. S(z) = =1
7. Menghitung selisih [F(z)-S(z)]
a. [F(z)-S(z)] = [0,0094 – 0,045] = 0,0356
b. [F(z)-S(z)] = [0,0202 – 0,090] = 0,0698
c. [F(z)-S(z)] = [0,0985 – 0,136] = 0,0375
d. [F(z)-S(z)] = [0,1093 – 0,181] = 0,0717
e. [F(z)-S(z)] = [0,1335 – 0,227] = 0,0935
f. [F(z)-S(z)] = [0,3632 – 0,272] = 0,0912
g. [F(z)-S(z)] = [0,3859 – 0,318] = 0,0679
h. [F(z)-S(z)] = [0,504 – 0,363] = 0,141
i. [F(z)-S(z)] = [0,504 – 0,409] = 0,095
j. [F(z)-S(z)] = [0,6141 – 0,454] = 0,1601
k. [F(z)-S(z)] = [0,6141– 0,5] = 0,1141
l. [F(z)-S(z)] = [0,6141– 0,545] = 0,0691
m. [F(z)-S(z)] = [0,6141– 0,590] = 0,0241
n. [F(z)-S(z)] = [0,6591– 0,636] = 0,0231
o. [F(z)-S(z)] = [0,6591- 0,681] = 0,0219
p. [F(z)-S(z)] = [0,6591– 0,727] = 0,0679
q. [F(z)-S(z)] = [0,6808– 0,772] = 0,0912
198
r. [F(z)-S(z)] = [0,6985– 0,818] = 0,1195
s. [F(z)-S(z)] = [0,8106– 0,863] = 0,0524
t. [F(z)-S(z)] = [0,8531– 0,909] = 0,0559
u. [F(z)-S(z)] = [0,879– 0,954] = 0,075
v. [F(z)-S(z)] = [0,9292– 1] = 0,0708
8. Membuat tabel penolong
No X Z Zt F(z) S(z) [F(z)-S(z)]
1 15 -2,35 0,4906 0,0094 0,045 0,0356
2 20 -2,05 0,4798 0,0202 0,090 0,0698
3 33 -1,29 0,4015 0,0985 0,136 0,0375
4 34 -1,23 0,3907 0,1093 0,181 0,0717
5 36 -1,11 0,3665 0,1335 0,227 0,0935
6 49 -0,35 0,1368 0,3632 0,272 0,0912
7 50 -0,29 0,1141 0,3859 0,318 0,0679
8 57 0,11 0,0040 0,504 0,363 0,141
9 57 0,11 0,0040 0,504 0,409 0,095
10 60 0,29 0,1141 0,6141 0,454 0,1601
11 60 0,29 0,1141 0,6141 0,5 0,1141
12 60 0,29 0,1141 0,6141 0,545 0,0691
13 60 0,29 0,1141 0,6141 0,590 0,0241
14 62 0,41 0,1591 0,6591 0,636 0,0231
15 62 0,41 0,1591 0,6591 0,681 0,0219
16 62 0,41 0,1591 0,6591 0,727 0,0679
17 63 0,47 0,1808 0,6808 0,772 0,0912
18 64 0,52 0,1985 0,6985 0,818 0,1195
199
19 70 0,88 0,3106 0,8106 0,863 0,0524
20 73 1,05 0,3531 0,8531 0,909 0,0559
21 75 1,17 0,3790 0,879 0,954 0,075
22 80 1,47 0,4292 0,9292 1 0,0708
9. Menentukan nilai Lhitung
Lhitung = Maksimum [F(z)-S(z)]
Lhitung = 0,141
10. Membandingkan nilai Lhitung dengan Ltabel nilai kritis Uji Lilliefors pada
tingkat signifikan 0,05.
Ltabel = 0,1832, didapatkan dari perhitungan interpolasi data
Rumus:
( ) ( )
( ) ( )
11. Kesimpulan, Lhitung < Ltabel = 0,141< 0,1832, Maka H0 diterima. Artinya data
berdistribusi normal
200
Lampiran 14
Uji Homogenitas
Tabel Hasil Test Kelas Eksperimen dan Kontrol
No Kelas Eksperimen (X¹) Kelas Kontrol (X²) X₁² X₂²
1 53 15 2809 225
2 56 20 3136 400
3 57 33 3249 1089
4 58 34 3364 1156
5 64 36 4096 1296
6 64 49 4096 2401
7 65 50 4225 2500
8 66 57 4356 3249
9 70 57 4900 3249
10 72 60 5184 3600
11 77 60 5929 3600
12 77 60 5929 3600
13 78 60 6084 3600
14 79 62 6241 3844
15 82 62 6724 3844
16 82 62 6724 3844
17 83 63 6889 3969
18 84 64 7056 4096
19 85 70 7225 4900
21 90 73 8100 5329
20 90 75 8100 5625
22 91 80 8281 6400
Jumlah 1623 1202 122697 71816
1. Merumuskan Hipotesis
Ho: σ12 = σ22 , Artinya varians kelas eksperimen sama dengan varians kelas
kontrol (Homogen)
Ha: σ12 ≠ σ22 , Artinya varians kelas eksperimen tidak sama dengan
varians kelas kontrol (Tidak Homogen)
2. Menghitung varians dari masing-masing variabel.
a. Varians Kelas Eksperimen
201
∑ (∑ )
( )
( )
( )
( )
b. Varians Kelas Kontrol
∑ (∑ )
( )
( )
( )
( )
3. Memilih varians yang terbesar dan terkecil.
Hasil perhitungan di atas diperoleh varians terbesar adalah dari kelas kontrol
yaitu 292, 2, dan varians terkecil kelas eksperimen yaitu 141,1.
4. Menghitung Fhitung
Fhitung= 2,072
5. Menentukan derajat kebebasan untuk varians terbesar yaitu db = 22 – 1 = 21,
dan derajat kebebasan untuk varians terkecil yaitu db = 22 – 1 = 21.
6. Menentukan nilai F hitung pada tabel dengan α= 0,05 dengan derajat
kebebasan 21;21 diperoleh 2,084
Kesimpulan, Fhitung < Ftabel = 2,072 < 2,084, Maka H0 diterima. Artinya data
homogen
202
Lampiran 15
Uji-T Dua Pihak
Tabel Nilai Kelas Eksperimen dan Kontrol
No Kelas Eksperimen (X¹) Kelas Kontrol (X²) X₁² X₂²
1 53 15 2809 225
2 56 20 3136 400
3 57 33 3249 1089
4 58 34 3364 1156
5 64 36 4096 1296
6 64 49 4096 2401
7 65 50 4225 2500
8 66 57 4356 3249
9 70 57 4900 3249
10 72 60 5184 3600
11 77 60 5929 3600
12 77 60 5929 3600
13 78 60 6084 3600
14 79 62 6241 3844
15 82 62 6724 3844
16 82 62 6724 3844
17 83 63 6889 3969
18 84 64 7056 4096
19 85 70 7225 4900
21 90 73 8100 5329
20 90 75 8100 5625
22 91 80 8281 6400
Jumlah 1623 1202 122697 71816
1. Merumuskan Hipotesis
Ho: μ1 = μ2 , Tidak terdapat pengaruh signifikan pembelajaran matematika
realistik berbantuan makanan khas lampung terhadap
kemampuan pemahaman konsep pecahan.
Ha: μ1 ≠ μ2 , Terdapat pengaruh signifikan pembelajaran matematika realistik
berbantuan makanan khas lampung terhadap kemampuan
pemahaman konsep pecahan.
203
2. Menentukan taraf signifikansi α untuk mendapatkan ttabel
α = 5% = = 0,025
3. Menghitung df
df = +
df = 42
4. Statistik uji
̅ ̅
( ) ( )
√ ( )
√( ) ( )
( )
√( ) ( )
( )
√ ( )
√ ( ) √
√ ( )
thitung = 4,308
Untuk mencari nilai ttabel dengan df = 42 menggunakan cara sebagai berikut:
Rumus:
( ) ( )
( ) ( )
(Dibulatkan menjadi = 2,019)
204
5. Kriteria uji
Jika thitung ttabel, maka H0 diterima
Jika thitung > ttabel, maka H0 ditolak
6. Kesimpulan, thitung > ttabel = 4,308 > 2,019, Maka H0 ditolak dan Ha diterima.
Artinya Terdapat pengaruh signifikan pembelajaran matematika
realistik berbantuan makanan khas lampung terhadap kemampuan
pemahaman konsep pecahan.
205
Lampiran 16
Uji-T Satu Pihak
Tabel Nilai Kelas Eksperimen dan Kontrol
No Kelas Eksperimen (X¹) Kelas Kontrol (X²) X₁² X₂²
1 53 15 2809 225
2 56 20 3136 400
3 57 33 3249 1089
4 58 34 3364 1156
5 64 36 4096 1296
6 64 49 4096 2401
7 65 50 4225 2500
8 66 57 4356 3249
9 70 57 4900 3249
10 72 60 5184 3600
11 77 60 5929 3600
12 77 60 5929 3600
13 78 60 6084 3600
14 79 62 6241 3844
15 82 62 6724 3844
16 82 62 6724 3844
17 83 63 6889 3969
18 84 64 7056 4096
19 85 70 7225 4900
21 90 73 8100 5329
20 90 75 8100 5625
22 91 80 8281 6400
Jumlah 1623 1202 122697 71816
1. Merumuskan Hipotesis dan menentukan arah pengujian
Ho: μ1 μ2 , Rata-rata kemampuan pemahaman kemampuan konsep pecahan
siswa dengan menggunakan pembelajaran matematika realistik
kurang dari atau sama dengan rata-rata kemampuan pemahaman
konsep pecahan yang menggunakan model pembelajaran
konvensional.
206
Ha: μ1 > μ2 , Rata-rata kemampuan pemahaman kemampuan konsep pecahan
siswa dengan menggunakan pembelajaran matematika realistik
lebih baik dari rata-rata kemampuan pemahaman konsep
pecahan yang menggunakan model pembelajaran konvensional.
.
Berdasarkan hipotesis tersebut, maka dapat diartikan uji yang akan dilakukan
adalah uji t satu pihak kanan
2. Menentukan taraf signifikansi α untuk mendapatkan ttabel
α = 5% = 0,05 (Untuk menguji satu sisi saja secara keseluruhan)
3. Menghitung df
df = +
df = 42
4. Statistik uji
̅ ̅
( ) ( )
√ ( )
√( ) ( )
( )
√( ) ( )
( )
√ ( )
√ ( ) √
√ ( )
thitung = 4,308
Untuk mencari nilai ttabel dengan df = 42 menggunakan cara sebagai berikut:
Rumus:
( ) ( )
207
( ) ( )
(Dibulatkan menjadi = 1,683)
5. Kriteria uji
Jika thitung ttabel, maka H0 diterima
Jika thitung > ttabel, maka H0 ditolak
6. Kesimpulan, thitung > ttabel = 4,308 > 1,683, Maka H0 ditolak dan Ha diterima.
Artinya Rata-rata kemampuan pemahaman kemampuan konsep pecahan
siswa dengan menggunakan pembelajaran matematika realistik lebih
baik dari rata-rata kemampuan pemahaman konsep pecahan yang
menggunakan model pembelajaran konvensional.
208
Lampiran 17
209
210
211
212
213
214
Lampiran 18
215
216
217
218
219
220
221
222
Lampiran 19
Surat Izin Penelitian
223
Lampiran 20
Surat Balasan Penelitian
224
Lampiran 21
Surat Balasan Uji Coba
225
Lampiran 22
Surat Balasan Validasi
226
Lampiran 23
Uji coba penelitian
227
Lampiran 24
Penelitian Di Kelas Eksperimen
228
229
Lampiran 25
Pembelajaran Di Kelas Kontrol
230
Lampiran 26
Pedoman wawancara
PEDOMAN WAWANCARA
Nama Narasumber : Bu Gadis Nabila,S.Pd.
Jabatan : Guru kelas VA
Tempat : SDN 2 Pringsewu Timur
Hari/tanggal : Rabu / 01 Apri 2024
NO Pertanyaan Wawancara Jawaban Narasumber
1 Ada berapa jumlah siswa di 27 siswa
kelas VA?
2 Kurikulum apa yang digunakan Kurikulum K-13
dalam pembelajaran di kelas V?
3 Berapa standar penilaian untuk Standar penilaian untuk mata
mata pelajaran matematika? pelajaran matematika untuk setiap
materi yaitu sebesar 70.
4 Materi apa saja yang dipelajari Materi yang diantaranya yaitu:
pada mata pelajaran pecahan,bskala dan perbandingan,
matematika? bangun ruang, dan statistika
5 Menurut pandangan ibu sebagai Materi yang sulit dipelajari oleh
wali kelas sekaligus guru siswa yaitu tentang pecahan.
matematika, materi apa yang
sulit untuk dipelajari oleh
siswa?
6 Apakah nilai matematika pada Belum semua, hanya ada beberapa
materi pecahan sudah mencapai siswa yang sudah mencapai standar
standar penilain? penilain dan masih banyak siswa
yang nilainya dibawah standar
penilaian
231
7 Metode pembelajaran apa yang Metode pembelajaran yang
digunakan dalam pembelajaran digunakan yaitu metode ceramah
matematika?
8 Media pembelajaran apa yang Media pembelajaran yang
digunakan dalam pembelajaran digunakan yaitu hanya buku paket
matematika pada materi saja
pecahan?
9 Apakah seluruh siswa fokus Tidak semua siswa fokus dalam
dalam mengikuti kegiatan mengikuti pembelajran hanya
pembelajaran? beberapa siswa saja yang mengikuti
pembelajaran dengan fokus da nada
juga siswa yang tidak fokus
10 Apakah ibu sudah mengenal Saya belum terlalu mengenal istilah
istilah pembelajaran matematika tersebut
realistik?
11 Apakah ibu sebelumnya sudah Saya belum pernah menerapkan
pernah menerapkan pembelajaran matematika
pembelajaran matematika khususnya pada materi pecahan
khususnya pada materi pecahan dengan budaya setempat siswa
berbasis budaya setempat
siswa?
12 Menurut pendapat ibu apakah Menurut saya siswa belum terlalu
siswa sudah mengenal dan mengenal dan memahami budaya
memahmi budaya setempat setempat apalagi makanan
seperti makanan tradisional
tradisioanl/khas?
13 Menurut pendapat ibu apakah Menurut saya efektif karena
pembelajaran matematika pembelajaran matematika realistik
realistik berbasis budaya berbasis budaya lampung dapat
lampung efektif jika diterapkan memudahkan siswa dalam
232
dalam pembelajaran matematika memahami materi pecahan dalam
khususnya pada materi bentuk benda nyata. Dan
pecahan? pembelajaran tersebut dapat
mengenalkan siswa terhadap
kebudayaan yang ada didaerah
tempat tinggalnya.
Wali kelas VA
Gadis Nabila S.Pd.
233
PEDOMAN WAWANCARA
Nama Narasumber : Bpk Arki Haqromadhana ,S.Pd.
Jabatan : Guru kelas VB
Tempat : SDN 2 Pringsewu Timur
Hari/tanggal : Rabu / 01 Apri 2024
NO Pertanyaan Wawancara Jawaban Narasumber
1 Ada berapa jumlah siswa di 26 siswa
kelas VB?
2 Kurikulum apa yang digunakan Kurikulum K-13
dalam pembelajaran di kelas V?
3 Berapa standar penilaian untuk Standar penilaian untuk mata
mata pelajaran matematika? pelajaran matematika untuk setiap
materi yaitu sebesar 70.
4 Materi apa saja yang dipelajari Materi yang diantaranya yaitu:
pada mata pelajaran pecahan,bskala dan perbandingan,
matematika? bangun ruang, dan statistika
5 Menurut pandangan ibu sebagai Materi yang sulit dipelajari oleh
wali kelas sekaligus guru siswa yaitu tentang pecahan.
matematika, materi apa yang
sulit untuk dipelajari oleh
siswa?
6 Apakah nilai matematika pada Belum semua, hanya ada beberapa
materi pecahan sudah mencapai siswa yang sudah mencapai standar
standar penilain? penilain dan masih banyak siswa
yang nilainya dibawah standar
penilaian
7 Metode pembelajaran apa yang Metode pembelajaran yang
digunakan dalam pembelajaran digunakan yaitu metode ceramah
matematika?
234
8 Media pembelajaran apa yang Media pembelajaran yang
digunakan dalam pembelajaran digunakan yaitu hanya buku paket
matematika pada materi saja
pecahan?
9 Apakah seluruh siswa fokus Tidak semua siswa fokus dalam
dalam mengikuti kegiatan mengikuti pembelajran hanya
pembelajaran? beberapa siswa saja yang mengikuti
pembelajaran dengan fokus da nada
juga siswa yang tidak fokus
10 Apakah ibu sudah mengenal Saya belum terlalu mengenal istilah
istilah pembelajaran matematika tersebut
realistik?
11 Apakah ibu sebelumnya sudah Saya belum pernah menerapkan
pernah menerapkan pembelajaran matematika
pembelajaran matematika khususnya pada materi pecahan
khususnya pada materi pecahan dengan budaya setempat siswa
berbasis budaya setempat
siswa?
12 Menurut pendapat ibu apakah Menurut saya siswa belum terlalu
siswa sudah mengenal dan mengenal dan memahami budaya
memahmi budaya setempat setempat apalagi makanan
seperti makanan tradisional
tradisioanl/khas?
13 Menurut pendapat ibu apakah Menurut saya efektif karena
pembelajaran matematika pembelajaran matematika realistik
realistik berbasis budaya berbasis budaya lampung dapat
lampung efektif jika diterapkan memudahkan siswa dalam
dalam pembelajaran matematika memahami materi pecahan dalam
khususnya pada materi bentuk benda nyata. Dan
pecahan? pembelajaran tersebut dapat
235
mengenalkan siswa terhadap
kebudayaan yang ada didaerah
tempat tinggalnya.
Wali kelas VB
Arki Haqromadhana S.Pd
236
PEDOMAN WAWANCARA
Nama Narasumber : Bu Dwi Cahya Oktaviani,S.Pd.
Jabatan : Guru kelas VC
Tempat : SDN 2 Pringsewu Timur
Hari/tanggal : Rabu / 01 Apri 2024
NO Pertanyaan Wawancara Jawaban Narasumber
1 Ada berapa jumlah siswa di 26 siswa
kelas VC?
2 Kurikulum apa yang digunakan Kurikulum K-13
dalam pembelajaran di kelas V?
3 Berapa standar penilaian untuk Standar penilaian untuk mata
mata pelajaran matematika? pelajaran matematika untuk setiap
materi yaitu sebesar 70.
4 Materi apa saja yang dipelajari Materi yang diantaranya yaitu:
pada mata pelajaran pecahan,bskala dan perbandingan,
matematika? bangun ruang, dan statistika
5 Menurut pandangan ibu sebagai Materi yang sulit dipelajari oleh
wali kelas sekaligus guru siswa yaitu tentang pecahan.
matematika, materi apa yang
sulit untuk dipelajari oleh
siswa?
6 Apakah nilai matematika pada Belum semua, hanya ada beberapa
materi pecahan sudah mencapai siswa yang sudah mencapai standar
standar penilain? penilain dan masih banyak siswa
yang nilainya dibawah standar
penilaian
7 Metode pembelajaran apa yang Metode pembelajaran yang
digunakan dalam pembelajaran digunakan yaitu metode ceramah
matematika?
237
8 Media pembelajaran apa yang Media pembelajaran yang
digunakan dalam pembelajaran digunakan yaitu hanya buku paket
matematika pada materi saja
pecahan?
9 Apakah seluruh siswa fokus Tidak semua siswa fokus dalam
dalam mengikuti kegiatan mengikuti pembelajran hanya
pembelajaran? beberapa siswa saja yang mengikuti
pembelajaran dengan fokus da nada
juga siswa yang tidak fokus
10 Apakah ibu sudah mengenal Saya belum terlalu mengenal istilah
istilah pembelajaran matematika tersebut
realistik?
11 Apakah ibu sebelumnya sudah Saya belum pernah menerapkan
pernah menerapkan pembelajaran matematika
pembelajaran matematika khususnya pada materi pecahan
khususnya pada materi pecahan dengan budaya setempat siswa
berbasis budaya setempat
siswa?
12 Menurut pendapat ibu apakah Menurut saya siswa belum terlalu
siswa sudah mengenal dan mengenal dan memahami budaya
memahmi budaya setempat setempat apalagi makanan
seperti makanan tradisional
tradisioanl/khas?
13 Menurut pendapat ibu apakah Menurut saya efektif karena
pembelajaran matematika pembelajaran matematika realistik
realistik berbasis budaya berbasis budaya lampung dapat
lampung efektif jika diterapkan memudahkan siswa dalam
dalam pembelajaran matematika memahami materi pecahan dalam
khususnya pada materi bentuk benda nyata. Dan
pecahan? pembelajaran tersebut dapat
238
mengenalkan siswa terhadap
kebudayaan yang ada didaerah
tempat tinggalnya.
Wali kelas VC
Dwi Cahya Oktaviani S.Pd
NIP. 19941003 2022212 008
239
Lampiran 27
DAFTAR NILAI ULANGAN HARIAN KELAS V
SDN 2 PRINGSEWU TIMUR
TAHUN 2023/2024
KELAS VA
N0 NAMA MTK
1 Adnan Dimyati Wijaya 50
2 Ainul Iza Masruroh 50
3 Arcelia Mazea Romli 55
4 Atika Wulandari 55
5 Berlian Pradita Putri 80
6 Brayn Steven Halim 65
7 Dzakivah Azzah R 65
8 Egi Melgiansyah 50
9 Fahmy Keyzza Ramadhan S 60
10 Farah Andini 65
11 Fazila Raidah Asshabira 65
12 Hafizah Khaira Lubna 80
13 Kenzo Al Jauha Sadegha 55
14 Khadijah 75
15 M. Abdan Syakuro 65
16 Monada Cahaya Azzahra 60
17 Muhamad Refa Pratama 55
18 Nadia Oktavia Marvella 80
19 Naufal Adlu Hafizh 60
20 Qonita Azkia 65
21 Queen Balqista Azra 75
22 Rangga Andreas Saputra 50
23 Revano Caesar Ar-Rizky 50
24 Rino Syifano Al-Manaf 75
25 Syifa Aulia Nabila 80
26 Villi Virginia 70
27 Zahran Fairuz 75
Wali kelas VA
Gadis Nabila S.Pd.
240
KELAS VB
N0 NAMA MTK
1 Aisyah Azahra 70
2 Arif Budiono 50
3 Arya Perdana 50
4 Ausillia Azzahra 60
5 Dzakiyah Talita Sakhi 55
6 Fandi Denian Saputra 50
7 Felisha Zhafira 70
8 Finka Alya Febriana 75
9 Iqbal Putrawan 50
10 Ivander Alvaro Bayu A 55
11 M. Taufik Andi Rahman 65
12 Marfel Rafa Al Ramadhan 65
13 Miftah Ayu Kinasih 65
14 Muhamad Ferdiansyah 50
15 Naifa Aulia Khairunnisa 75
16 Naji Naufal Saputra 50
17 Nasywa Khairunnisa 80
18 Naufal Fali Asyafiq 60
19 Rasya Suciati 75
20 Ridho Tegar Syahputra 65
21 Dzazkia Maulia Ramadhani 60
22 Aisyah Azahra 70
23 Reyhan Paksi Jaladara 55
24 Risda Ayu Kusuma 70
25 Sena Kurniawan S. 50
26 Zahra Tunnisa Mardatila 80
Wali kelas VB
Arki Haqromadhana S.Pd
241
KELAS VC
N0 NAMA MTK
1 Afika Naura Zakiya 65
2 Akbar Mudaffa 50
3 Alfi Alkhaf Fayeza 60
4 Aqila Dzaskia 75
5 Azsyfa Auriel Putri 70
6 Cahya Fatima Al Murtafi 70
7 Dhastan Witama 60
8 Dhzakiyah Putri Ardini 65
9 Fadly Ahksan Aulia 60
10 Handa Riyatul Musyarafah 60
11 Irdina Ramadhani 50
12 Kharisma Zahwa Aulia 70
13 M.Yudhistira Ramadhan 65
14 Maurellya Chandra Puspita 70
15 M. Raditya Putra 75
16 Nasywa Wikrama 75
17 Rafardhan Nararya Al Fatih 60
18 Rakha Ananda Pratama 65
19 Rasya Aditya 60
20 Razita Rizqullah Inggita 70
21 Rendi Saputra 75
22 Wahyu Saputra 60
23 Evil Asyaqi Nayto 55
24 Safira Julia Musa 60
25 Aysha Mutiara Saputri 65
26 Rahma Anastasya 65
Wali kelas VC
Dwi Cahya Oktaviani S.Pd
NIP. 19941003 2022212 008
242
Lampiran 28
Surat Pengantar Pra penelitian
243
Lampiran 29
Surat Balasan Pra Penelitian
244
Lampiran 30
Blangko Konsultasi Bimbingan 1
245
246
Lampiran 31
Blangko Konsultasi Bimbingan 2
247
248
249