LAPORAN PENDAHULUAN
DIABETES MELITUS
1. Konsep Penyakit
A. Definisi
Melitus merupakan kondisi yang serius, jangka panjang (kronis),
Diabetes yang muncul ketika kadar glukosa darah meningkat karena
tubuh tidak dapat menghasilkan insulin dalam jumlah yang tepat atau
cukup atau tidak dapat menggunakan insulin yang dihasilkannya secara
efektif (Rina dkk, 2024).
B. Etiologi
Menurut Nuraini dkk (2023), etiologi DM berdasarkan klafikasinya
sebagai berikut :
1. DM Tipe 1
Disebabkan oleh autoimun yang merusak sel beta pankreas, sehingga
insulin tidak diproduksi. Umumnya terjadi pada anak-anak dan remaja,
dipicu oleh faktor genetik dan infeksi virus.
2. DM Tipe 2
Disebabkan oleh resistensi insulin dan gangguan fungsi sel beta.
Dipengaruhi oleh faktor genetik, lingkungan, usia, pola makan, gaya
hidup, dan riwayat diabetes saat hamil.
C. Manifestasi Klinis
Menurut (Martha dkk, 2024), tanda dan gejala diabetes melitus dapat
meliputi:
1. Poliuria: Sering buang air kecil karena kelebihan glukosa dikeluarkan
lewat urin.
2. Polidipsia: Haus berlebihan akibat banyaknya cairan yang hilang.
3. Polifagia: Lapar terus-menerus karena glukosa tidak masuk ke sel.
4. Penurunan berat badan: Lemak dibakar sebagai sumber energi.
5. Malaise: Tubuh lemas karena gangguan metabolisme glukosa.
D. Web Of Caution
E. Diagnosis Medis
Diabetes Melitus
F. Penatalaksanaan Medis
Menurut Nian dkk (2024) , penatalaksanaan pada pasien DM yaitu :
1. Farmakologis
Menggunakan obat hipoglikemik oral (OHO) atau insulin jika kadar
glukosa tidak terkontrol.
a) Peningkat sekresi insulin: Sulfonilurea, glinida
b) Sensitiser insulin: Biguanida, tiazolidindion
c) Penghambat penyerapan karbohidrat: Inhibitor α-glukosidase
2. Terapi Diet
Mengatur pola makan untuk mengontrol kadar glukosa darah,
mempertahankan berat badan ideal, dan mencegah komplikasi.
a) Kalori disesuaikan dengan BB ideal (25–30 kal/kgBB), usia, jenis
kelamin, dan aktivitas.
2. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian (Nian dkk, 2024)
a) Identitas Klien: Meliputi: nama, usia, jenis kelamin, suku, agama,
pendidikan, pekerjaan, status kawin, dan alamat.
b) Keluhan Utama: Gatal, bisul sulit sembuh, kesemutan, mata kabur,
lemas.
c) Riwayat Penyakit Sekarang: Trias DM: poliuria, polidipsia, polifagia,
lemas, nafsu makan ↑, BB turun cepat.
d) Riwayat Penyakit Dahulu: Riwayat DM, obesitas, hipertensi,
dislipidemia, penyakit jantung, konsumsi alkohol, rokok, dan obat-
obatan.
e) Riwayat Keluarga: Ada riwayat DM dalam keluarga (ayah, ibu, saudara
kandung).
f. Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan Umum
Kesadaran: Lemas (astenia)
Antropometri: BB, TB, IMT >23 kg/m² → risiko DM
LILA: Menilai status gizi
2. TTV (Tanda Vital)
Tensi sering ↑ (>140/90 mmHg)
Suhu, nadi, RR biasanya normal
3. Kepala & Rambut
Rambut tipis/rontok akibat nutrisi buruk
4. Wajah
Umumnya normal
5. Mata
Konjungtiva pucat (anemia)
6. Hidung & Telinga
Normal, kecuali ada infeksi sekunder
7. Mulut
Pucat, sianosis (asidosis/perfusi ↓)
8. Leher
Umumnya normal, jarang pembesaran kelenjar
9. Dada & Paru
Normal, bisa ada stridor/wheezing jika ada komorbid
10. Hepar
Umumnya normal
11. Sistem Kardiovaskular
Nadi lemah, takikardi/bradikardi, hipertensi, aritmia
12. Sistem Gastrointestinal
Mual, muntah, diare, konstipasi, polifagia, obesitas
13. Sistem Muskuloskeletal
Otot ↓, lemah, cepat lelah, ulkus diabetikum, gangren
14. Sistem NeurologisSensorik menurun, sakit kepala, letargi, refleks lambat,
disorientasi
2. Diagnosis Keperawatan
a) Ketidakstabilan kadar gula darah b.d resistensi insulin d.d glukosa
dalam darah/urin tinggi, mulut kering, haus meningkat, mengantuk,
pusing.
b) Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri d.d mengeluh sulit
tidur, mengeluh sering terjaga, mengeluh tidak puas tidur.
c) Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang terpaparnya
informasi ditandai dengan tidak mengikuti instruksit tampak bingung
terhadap informasi kesehatan.
d) Resiko defisit nutrisi d.d berhubungan dengan peningkatan
kebutuhan metabolisme.
3. Intervensi Keperawatan
No. Diagnosa Tujuan & Kriteria Intervensi Keperawatan
Keperawatan Hasil
1 D.0027 Tujuan Manajemen Hiperglikemia
L.03022 (I.03115)
Ketidakstabilan
Setelah dilakukan Observasi
kadar glukosa
asuhan keperawatan 1. Identifikasi kemungkinan
darah
selama 1x24 jam, penyebab hiperglikemia
berhubungan
maka diharapkan 2. Identifikasi situasi yang
dengan resistensi
kestabilan kadar menyebabkan kebutuhan insulin
insulin.
glukosa darah meningkat (mis: penyakit
Gejala dan Tanda
meningkat, dengan kambuhan)
Mayor Subjektif
kriteria hasil : 3. Monitor kadar glukosa darah,
Hipoglikemia
1. Koordinasi jika perlu
1.Mengantuk
(Meningkat) 4. Monitor tanda dan gejala
2.Pusing
Hiperglikemia 2. Mengantuk hiperglikemia (mis: polyuria,
1. Lelah atau lesu (Menurun) polydipsia, polifagia, kelemahan,
Objektif 3. Pusing (Menurun) malaise, pandangan kabur, sakit
Hipoglikemia 4. Lelah/lesu kepala)
1. Gangguan (Menurun) 5. Monitor intake dan output cairan
koordinasi 5. Rasa lapar 6. Monitor keton urin, kadar
2. Kadar glukosa (Menurun) Analisa gas darah, elektrolit,
dalam darah/urin 6. Gemetar tekanan darah ortostatik dan
tinggi (Menurun) frekuensi nadi
Hipoglikemia 7. Berkeringat Terapeutik
1.Kadar glukosa (Menurun) 1. Berikan asupan cairan oral
dalam darah/urin 8. Mulut kering 2. Konsultasi dengan medis jika
tinggi (Menurun) tanda dan gejala hiperglikemia
Gejala dan 9. Rasa haus tetap ada atau memburuk
Tanda Minor (Menurun) 3. Fasilitasi ambulasi jika ada
Subjektif 10. Kadar glukosa hipotensi ortostatik
Hipoglikemia dalam darah Edukasi
1. Palpitası (Membaik) 1. Anjurkan menghindari olahraga
2. Mengeluh lapar saat kadar glukosa darah lebih
Objektif dari 250 mg/dL
Hipoglikemia 2. Anjurkan monitor kadar glukosa
darah secara mandiri
3. Anjurkan kepatuhan terhadap
diet dan olahraga
4. Ajarkan indikasi dan pentingnya
pengujian keton urin, jika perlu
5. Ajarkan pengelolaan diabetes
(mis: penggunaan insulin, obat
oral, monitor asupan cairan,
penggantian karbohidrat, dan
bantuan professional kesehatan
Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian insulin,
jika perlu
2. Kolaborasi pemberian cairan IV,
jika perlu
3. Kolaborasi pemberian kalium,
jika perlu
2. D.0055, Pola Tidur Dukungan Tidur
L.05045
Gangguan pola (I.05174).
1. Setelah dilakukan
tidur berhubungan Observasi
tindakan
dengan adanya 1. Identivikasi pola aktivitas dan
keperawatan 3x24
nyeri tidur.
jam diharapkan
Gejala dan Tanda 2. Identifikasi faktor pengganggu
masalah
Mayor : tidur (fisik dan/atau psikologis).
keperawatan Pola
Subjektif 3. Identifikasi makanan dan
tidur membaik
1. Mengeluh tidak minuman yang menggangu tidur
dengan kriteria
puas tidur (mis. Kopi, teh, alkohol, makanan
hasil:
2. Mengeluh pola mendekati aktu tidur, minum
2. Kemampuan
tidur berubah banyak air sebelum tidur).
beraktifitas
3. Mengeluh Terapeutik
meningkat.
istirahat tidak 1. Modifikasi lingkungan (mis.
3. Keluhan sulit tidur
cukup Pencahayaan, kebisingan, suhu,
menurun.
4. Mengeluh sulit matras, dan tempat tidur).
4. Keluhan sering
tidur Mengeluh 2. Batasi waktu tidur siang, jika
terjaga menurun.
sering terjaga perlu.
5. Keluhan tidak
Objektif 3. Fasilitasi menghilangi stres
puas tidur
(tidak tersedia) sebelum tidur.
menurun.
Gejala dan Tanda 4. Tetapkan jadwal tidur rutin.
6. Keluhan pola tidur
Minor Edukasi
berubah menurun.
Subjektif 1. Jelaskan pentingnya tidur cikup
7. Keluhan istirahat
1.Mengeluh selama sakit.
tidak cukup
kemampuan menurun. 2. Anjurkan menepati kebiasaan
beraktivitas waktu tidur.
menurun 3. Anjurkan menghindari
Objektif makanan,minuman yang
menggangu tidur.
(tidak tersedia)
3. D.0096 Status Pengetahuan Edukasi Kesehatan (I.15080)
(L.09091)
Defisit Observasi:
Setelah dilakukan
pengetahuan b.d 1) Identifikasi tingkat pendidikan
tindakan keperawatan
kurang terpapar dan pemahaman
selama 3x24 jam,
informasiGejala 2) Identifikasi kebutuhan informasi
diharapkan
dan Tanda 3) Identifikasi hambatan belajar
pengetahuan klien
MayorSubjektif: (bahasa, psikologis, kognitif)
meningkat dengan
1) Menanyakan 4) Monitor sikap terhadap informasi
kriteria hasil:
kembali informasi Terapeutik:
1) Pemahaman
yang telah 1) Tentukan tujuan edukasi bersama
tentang kondisi dan
dijelaskan pasien
terapi (Meningkat)
2) Mengungkapkan 2) Gunakan metode dan media
2) Kemampuan
ketidaktahuan edukasi sesuai kebutuhan
menjelaskan ulang
tentang kondisi, 3) Sampaikan informasi dengan
informasi (Meningkat)
tindakan, atau bahasa sederhana
3) Partisipasi dalam
pengobatan 4) Gunakan teknik ulang balik untuk
pengobatan
Objektif: mengevaluasi pemahaman
(Meningkat
1) Tidak mengikuti Edukasi:
4) Kepatuhan
instruksi 1) Jelaskan kondisi dan perawatan
terhadap instruksi
2) Tampak bingung secara bertahap
kesehatan
terhadap informasi 2) Ajarkan tanda/gejala yang harus
(Meningkat)
Kesehatan dilaporkan
5) Kecemasan karena
Gejala dan Tanda ketidaktahuan 3) Libatkan keluarga dalam proses
MinorSubjektif: (Menurun) edukasi
1) Menyatakan Kolaborasi:
ingin tahu lebih 6) Ketergantungan 1) Kolaborasi dengan tim medis
banyak terhadap perawat untuk materi edukasi
(Menurun)
2) Menyatakan 2) Kolaborasi dengan ahli
bingung dan cemas gizi/farmasi bila perlu
karena kurang
informasi
Objektif:
1) Tampak ragu-
ragu
2) Tidak melakukan
tindakan mandiri
4. Defisit nutrisi Status nutrisi Manajemen Nutrisi Tindakan
D.0032 L.03030 I.03111
Resiko defisit Setelah dilakukan Observasi
nutrisi d.d intervensi
1. Identifikasi status nutrisi
berhubungan keperawatan selama 3
x 24 jam, maka status 2. Identifikasi alergi dan
dengan peningkatan intoleransi makanan
nutrisi membaik,
kebutuhan dengan kriteria hasil: 3. Identifikasi makanan yang
metabolisme 1.Porsi makan yang disukai
dihabiskan meningkat 4. Identifikasi kebutuhan kalori
Faktor risiko 2.Berat badan dan jenis nutrient
1.Ketidakmampuan membaik 5. Identifikasi perlunya
menelan makanan 3.Indeks massa tubuh penggunaan selang
2.Ketidakmampuan (IMT) membaik nasogastrik
mencerna makanan 6. Monitor asupan makanan
3.Ketidakmampuan 7. Monitor berat badan
mengabsorbsi 8. Monitor hasil pemeriksaan
nutrien laboratorium
4.Peningkatan Terapeutik
kebutuhan 1. Lakukan oral hygiene
metabolisme sebelum makan, jika perlu
2. Fasilitasi menentukan
Faktor ekonomi pedoman diet (mis. Piramida
(mis: finansial tidak makanan)
mencukupi) 3. Sajikan makanan secara
Faktor psikologis menarik dan suhu yang
(mis: stres, sesuais
keengganan untuk 4. Berikan makan tinggi serat
makan) untuk mencegah konstipasi
5. Berikan makanan tinggi
kalori dan tinggi protein
6. Berikan suplemen makanan,
jika perlu
7. Hentikan pemberian makan
melalui selang nasigastrik
jika asupan oral dapat
ditoleransi
Edukasi
1. Anjurkan posisi duduk, jika
mampu
2. Ajarkan diet yang
diprogramkan
Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian
medikasi sebelum makan
(mis. Pereda nyeri,
antiemetik), jika perlu
2. Kolaborasi dengan ahli gizi
untuk menentukan jumlah
kalori dan jenis nutrient
yang dibutuhkan
4. Implementasi keperawatan
Implementasi adalah fase ketika perawat mengimplementasikan
intervensi keperawatan. Implementasi merupakan langkah keempat dari
proses keperawatan yang telah di rencanakan oleh perawat untuk
dikerjakan dalam rangka membantu klienuntuk mencegah, mengurangi,
dan menghilangkan dampak atau respons yang ditimbulkan oleh
masalah keperawatan dan kesehatan (Nursalam, 2018).
5. Evaluasi keperawatan
Evaluasi adalah tahap akhir proses keperawatan yang meliputi
evaluasi proses (formatif) dan evaluasi hasil (sumatif) dan mencakup
penilaian hasil tindakan asuhan keperawatan yang telah dilakukan
(Nursalam, 2018). Evaluasi terdiri dari 2 jenis yaitu Evaluasi formatif
adalah evaluasi yang dilakukan secara terus-menerus setelah tindakan
keperawatan hingga tujuan tercapai. Evaluasi sumatif dilakukan setiap
hari setelah intervensi selesai, menggunakan format SOAP (Subjektif,
Objektif, Analisis, dan Perencanaan) untuk menilai respon pasien
(Nursalam, 2018).
DAFTAR PUSTAKA
Martha, R., Lestari, D., & Wijaya, H. (2024). Asuhan Keperawatan pada
Pasien Diabetes Melitus. Jakarta: Penerbit Kesehatan Indonesia.
Nian, A., Pratiwi, L., & Hidayat, M. (2024). Penatalaksanaan dan
Pengkajian Diabetes Melitus. Bandung: Pustaka Medika.
Nuraini, S., Ramadhani, T., & Kusuma, A. (2023). Dasar-dasar Ilmu
Penyakit Dalam: Diabetes Melitus. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press.
Nursalam. (2018). Proses dan Dokumentasi Keperawatan: Konsep dan
Praktik. Jakarta: Salemba Medika.
Rina, P., Yuliana, D., & Sari, M. (2024). Ilmu Penyakit Dalam untuk Profesi
Kesehatan. Surabaya: Bina Ilmu.