0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
51 tayangan89 halaman

Meli Nuramalia Skripsi Jasinga

Dokumen ini membahas pentingnya pembelajaran matematika, khususnya materi perkalian dan pembagian, di SD Negeri Neglasari. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan siswa melalui model pembelajaran Number Head Together (NHT) yang diharapkan dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan meningkatkan pemahaman siswa. Identifikasi masalah mencakup rendahnya hasil belajar siswa dan kurangnya variasi metode pengajaran yang digunakan oleh guru.

Diunggah oleh

yayanmulyana021090
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
51 tayangan89 halaman

Meli Nuramalia Skripsi Jasinga

Dokumen ini membahas pentingnya pembelajaran matematika, khususnya materi perkalian dan pembagian, di SD Negeri Neglasari. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan siswa melalui model pembelajaran Number Head Together (NHT) yang diharapkan dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan meningkatkan pemahaman siswa. Identifikasi masalah mencakup rendahnya hasil belajar siswa dan kurangnya variasi metode pengajaran yang digunakan oleh guru.

Diunggah oleh

yayanmulyana021090
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHLUAN

A. Latar Belakang Masalah

Menurut Undang - Undang Nomor 20 tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1

(satu) ayat 1 bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana

belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya

untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak

mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Berdasarkan undang undang di atas dikatakan bahwa guru diharapkan dapat terampil

dalam membuat silabus, prota (program tahunan), prosem (program semester), RPP (Rencana

Pelaksanaan Pembelajaran), jurnal analisis dan penilaian serta materi pembelajaran. Selain itu

guru harus dapat menciptakan suasana yang menyenangkan dalam kegiatan pembelajaran . Hal

tersebut bisa diwujudkan dengan penggunaan berbagai model dan media yang disesuaikan

dengan materi pembelajan. Penggunaan model dan media yang tepat akan membuat siswa

menjadi subyek yang memiliki keterampilan dan kecakapan dalam belajar seperti pada mata

pelajaran Matematika.

Matematika merupakan salah satu ilmu dasar yang memiliki peran penting dalam dunia

pendidikan dan dalam kehidupan sehari-hari. Pentingnya peran matematika, maka perlu

mendapat perhatian yang serius, karena pembelajaran matematika di sekolah merupakan peletak

konsep dasar yang menjadi landasan untuk belajar ke jenjang selanjutnya. Kompetensi

matematika diperlukan untuk mempersiapkan siswa dalam menghadapi perubahan keadaan dan

pola pikir dalam kehidupan di dunia yang selalu berkembang. Sehingga apabila telah memahami

50
51

konsep matematika secara mendasar, konsep tersebut dapat di terapkan dalam kehidupan sehari-

hari. Selain itu, berkembangnya teknologi dan komunikasi saat ini juga tidak terlepas dari adanya

campur tangan matematika. Sesuai dengan pendapat Turmudi (2008 : 3), bahwa matematika

berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari sehingga dengan segera siswa akan mampu

menerapkan matematika dalam konteks yang berguna bagi siswa, baik dalam dunia

kehidupannya, ataupun dalam dunia kerja.

Oleh karena itu, matematika diberikan pada semua peserta didik mulai dari tingkat dasar

hingga menengah untuk membekali siswa dengan kemampuan berfikir secara logika. Dengan

berfikir secara logika, siswa dapat mengikuti alur kehidupan di era modern saat ini. Namun disisi

lain tidak sedikit siswa yang menganggap matematika merupakan pelajaran yang sulit. Anggapan

siswa terhadap matematika sebagai mata pelajaran yang sulit salah satunya karena faktor ketidak

pahaman konsep. Banyak siswa yang sudah merasa takut sebelum mereka benar-benar

mempelajari dan akhirnya banyak siswa yang kurang tertarik terhadap matematika. Nasution

(2011:9), juga menyatakan rendahnya penalaran matematis siswa disebabkan guru hanya

menerapkan materi pelajaran dilengkapi dengan contoh dan latihan rutin, namun ketika diberi

soal tidak rutin siswa mengalami kesulitan harus bekerja dari mana.

Berdasarkan wawancara pra penelitian terhadap guru kelas di SD Negeri Neglasari

diperoleh informasi bahwa hasil belajar matematika khususnya pada materi perkalian dan

pembagian siswa terbilang rendah. Hal ini dibuktikan dengan masih adanya beberapa nilai

Matematika siswa pada materi perkalian yang belum tuntas Kriteria Ketuntasan Minimun

sehingga mempengaruhi pada materi selanjutnya. Guru kelas juga mengatakan bahwa siswa

kurang memberikan umpan balik saat proses pembelajaran. Hal ini dikarenakan penggunaan

metode dan media yang kurang bervariasi seperti ceramah, sehingga siswa kesulitan dalam
52

menerima materi dan tidak dapat mengingat konsep yang lebih lama pada materi perkalian. Saat

pembelajaran, di SD tersebut masih jarang guru yang menggunakan media khususnya pada

pembelajaran matematika, sebagian guru hanya mengajar di depan kelas menggunakan papan

tulis. Sedangkan siswa hanya mendengarkan dan memperhatikan penjelasan guru tanpa

dilibatkan dalam proses menemukan konsep/materi yang diajarkan secara mandiri sehingga

siswa merasa jenuh dan lama-lama siswa kurang memperhatikan materi yang sedang disampaikan

guru. Hal ini menjadikan siswa tidak paham materi sehingga tujuan pembelajaran siswa tidak bisa

tercapai secara maksimal.

Upaya peningkatan hasil belajar membutuhkan proses belajar mengajar yang optimal.

Pemilihan model dan media yang cocok sangatlah penting dan berpengaruh terhadap

kemampuan siswa dalam memahami materi yang diajarkan guru, sehingga proses belajarpun

akan berjalan dengan maksimal. Begitu pula sebaliknya, jika model dan media yang dibawakan

atau digunakan kurang, bahkan tidak menarik maka proses belajarpun tidak akan berjalan

maksimal karena siswa akan menjadi pasif. Hasil dari wawancara di SD Negeri Neglasari

menunjukkan hasil belajar matematika lebih rendah dibandingkan dengan mata pelajaran yang

lain. Guru menyatakan bahwa siswa sulit dalam mencerna materi perkalian jika hanya dilakukan

dengan menggunakan papan tulis dan logika. Karena itu, bayak siswa yang hanya diam,

mengantuk dan bermain-main sendiri pada saat pembelajaran matematika berlangsung. Siswa

juga enggan bertanya tentang kejelasan materi karena malu dan takut.

Bila masalah tersebut diabaikan terus menerus maka akan berpengaruh pada kemampuan

kognitif siswa dan tentunya akan mempengaruhi pada materi selanjutnya. Sehingga, hasil belajar

siswa akan terus menurun, padahal pendidikan matematika khususnya pada materi perkalian dan

pembagian sangatlah dibutuhkan dalam kehidupan sehari hari baik di dunia pendidikan maupun
53

dunia kerja. Berbagai upaya telah dilakukan oleh guru, namun belum memperoleh hasil yang

memuaskan seperti pengaplikasian model diskusi,tanya jawab, maupun ceramah. Selain itu, guru

juga sudah memberikan soal-soal untuk belajar siswa namun belum juga mendapat hasil yang

maksimal, karena siswa juga belum bisa mengerjakan secara mandiri, mereka masih saling

mencontek daripada bertanya pada guru. Hal itu dikarenakan, bayak siswa yang masih sulit

memahami materi perkalian dan pembagian tetapi siswa malu dan takut bertanya langsung pada

guru.

Maka dari itu peneliti mencoba model Number Heads Together (NHT) untuk

meningkatkan hasil belajar matematika. Model pembelajaran Number Heads Together (NHT) ini

merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur-struktur

khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa, sehingga siswa akan lebih aktif

dan tidak merasa jenuh saat pembelajaran berlangsung. Penerapan model pembelajaran Number

Heads Together (NHT) yang menciptakan pembelajaran

menyenangkan sehingga dapat meningkatkan antusias siswa dan memudahkan pemahaman

siswa kelas rendah khususnya untuk menguasai materi perkalian dan pembagian.

Berdasarkan beberapa hal tersebut, peneliti akan menggunakan Model Pembelajaran

Number Head Together (NHT). Pada pembelajaran Matematika materi perkalian dua bilangan

cacah, dikarenakan ada beberapa peneliti sebelumnya yang menggunakan metode NHT memiliki

tingkat keberhasilan yang baik. Maka dari itu peneliti mencoba model Number Heads Together

(NHT) untuk meningkatkan hasil belajar matematika. Model pembelajaran Number Heads

Together (NHT) ini merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada

struktur-struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa, sehingga siswa

akan lebih aktif dan tidak merasa jenuh saat pembelajaran berlangsung. Penerapan model
54

pembelajaran Number Heads Together (NHT) yang menciptakan pembelajaran menyenangkan

sehingga dapat meningkatkan antusias siswa dan memudahkan pemahaman siswa kelas rendah

khususnya untuk menguasai

materi perkalian.

Kondisi faktual di tempat penelitian yaitu SDN Neglasari kecamatan

Jasinga Kabupaten Bogor adalah sebagai berikut:

1. Tidak tersedianya sarana dan prasarana yang memadai dalam menunjang proses belajar

mengajar

2. Guru hanya menggunakan beberapa metode dan model pembelajaran

3. Siswa belum terampil dan cakap dalam proses pembelajaran matematika

4. Pemecahan masalah dalam kegiatan belajar di kelas belum melibatkan semua siswa.

5. Siswa belum faham tentang materi khususnya perkalian dua bilangan

Bila kegiatan pembelajaran ini dibiarkan, maka proses pembelajaran dirasakan kurang

bermakna. Siswa tidak akan aktif, guru kurang kreatif, dan hasilnya keterampilan siswa kurang

sesuai dengan harapan. Untuk mengatasi hal ini, dirasakan perlu adanya upaya mengubah proses

pembelajaran dengan cara mencari metode yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan. Salah

satunya dengan menggunakan model pembelajaran NHT (Number Head Together).


55

Berdasarkan uraian diatas penulis bermaksud untuk mengadakan penelitian dengan judul

“ Upaya Meningkatkan Keterampilan Siswa Tentang Perkalian Dua Bilangan Pada Mata Pelajaran

Matematika Melalui Model

Pembelajaran NHT ( Number Head Together) dikelas III SD Negeri Neglasari

Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor”

B. Identifikasi Masalah

Mengingat luasnya permasalahan di atas, maka penulis mengidentifikasi masalahnya

sebagai berikut:

1. Bagaimana tingkat pemahaman siswa pada mata pelajaran Matematika tentang perkalian

dua bilangan di kelas III SD Negeri Neglasari Kecamatan Jasinga ?

2. Apa saja hambatan yang dihadapi guru dan siswa dalam kegiatan pembelajaran Matematika

di kelas ?

3. Bagaimana penggunaan model NHT (Number Head Together) dalam kegiatan pembelajaran

Matematika di kelas III SDN Neglasari Kecamatan Jasinga pada materi Perkalian Dua

Bilangan ?

4. Apa sajakah hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan model NHT

(Number Head Together)?


56

5. Bagaimana dampak penggunaan metode NHT(Number Head Together) erhadap tingkat

pemahaman siswa tentang Perkalian Dua Bilangan dalam kegiatan pembelajaran Matematika

di kelas III SDN Neglasari Kecamatan Jasinga?

6. Bagaimana guru mengevaluasi hasil belajar siswa dalam pembelajaran

Matematika?

7. Bagaimana guru memilih metode/model pembelajaran yang efektif ?

8. Apa kelemahan dan kelebihan model pembelajaran NHT (Number Head

Together)?

9. Bagaimana langkah-langkah pembelajaran menggunakan Model NHT

(Number Head Together)?

C. Fokus Masalah

Bersadarkan identifikasi masalah di atas, permasalahan dalam penelitian ini

dibatasi pada:

1. Bagaimana hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika tentang

perkalian dua bilangan pada mata pelajaran matematika di kelas III SDN Neglasari

Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor ?

2. Bagaimana guru menerapakan model NHT (Number Head Together) dalam

pembelajaran matematika di kelas III SDN Neglasari Kecamatan Jasinga


57

Kabupaten Bogor ?

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah, maka masalah

penelitian ini dikemukakan dalam pertanyaan “ Bagaimana cara meningkatkan

keterampilan siswa tentang perkalian dua bilangan pada mata pelajaran matematika

melalui model pembelajaran NHT ( Number Head Together) dikelas III SD Negeri

Neglasari Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor?

E. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data empiris mengenai

penggunaan model NHT ( Number Head Together) dalam meningkatkan keterampilan

siswa tentang perkalian dua bilangan pada mata pelajaran matematika melalui model

pembelajaran NHT ( Number Head Together) dikelas III SD Negeri Neglasari

Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor.

F. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoretis

Secara umum hasil penelitian dapat memberikan pengetahuan tambahan bagi

guru dalam pembelajaran matematika,utamanya pada peningkatan pemahaman siswa


58

tentang perkalian dua bilangan pada mata pelajaran matematika melalui model

pembelajaran NHT ( Number Head

Together) dikelas III SD Negeri Neglasari Kecamatan Jasinga Kabupaten

Bogor.

a. Mahasiswa sebagai masukan berupa informasi dan sumbangan tentang penggunaan

model pembelajaran NHT ( Number Head Together) dikelas III SD Negeri Neglasari

Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor.

b. STKIP Arrahmaniyah Depok, sebagai kajian dan acuan dalam menerapkan model

pembelajaran NHT ( Number Head Together) bagi siswa dan mahasiswanya.

2. Manfaat Praktis

a. Kepala sekolah dan guru-guru SD Negeri Neglasari Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor

sebagai masukan agar diterapkan NHT ( Number Head Together) terhadap mata

pelajaran matematika dan mata pelajaran lainnya, dengan harapan siswa lebih mudah

memahami materi yang

disajikan.

b. Guru,untuk mengetahui peran guru sebagai fasilitator,mengetahui kelemahan proses

pembelajaran sehingga dapat diperbaiki dan mengetahui langkah – langkah

pembelajaran yang efektif dan efisien agar keterampilan siswa tentang perkalian dua

bilangan meningkat.

c. Siswa,untuk mendorong siswa dalam memahami tujuan

pembelajaran,memotivasi siswa dan tidak jenuh dalam menerima pembelajaran


59

d. STKIP Arrahmaniyah Depok, sebagai kajian dan acuan dalam menerapkan model NHT (

Number Head Together) bagi siswa dan mahasiswanya.

G. Penelitian yang Relevan

Dibawah ini terdapat beberapa referensi tentang Skripsi Number Head

Together (NHT) sebegai berikut:

1. Chromeextension://efaidnbmnnnibpcajpcglclefindmkaj/https://repository.uk

sw.edu/bitstream/123456789/11023/7/T1_292012259_Judul.pdf

2. chromeextension://efaidnbmnnnibpcajpcglclefindmkaj/https://repository.me

trouniv.ac.id/id/eprint/9589/1/YUAN%20DEVINA%20BELA%20%28200

1030039%29.pdf

3. chromeextension://efaidnbmnnnibpcajpcglclefindmkaj/https://download.gar

uda.kemdikbud.go.id/article.php?article=1716405&val=9706&title=PENIN

GKATAN%20HASIL%20BELAJAR%20MATEMATIKA%20MATERI% 20PERKALIAN%20MELALUI
%20PENERAPAN%20MODEL%20NHT

%20NUMBERED%20HEAD%20TOGETHER%20DI%20MADRASAH%

20IBTIDAIYAH

4. chromeextension://efaidnbmnnnibpcajpcglclefindmkaj/http://eprintslib.um

mgl.ac.id/3278/2/16.0305.0118_BAB%20I_BABII_BABIII_BABV_DAFT

AR%20PUSTAKA%20-%20atika%20dp.pdf
60

BAB II

LANDASAN TEORI , KERANGKA PIKIR

TINDAKAN DAN HIPOTESIS TINDAKAN

A. Landasan Teori

1. Hakikat Keterampilan Perkalian Dua Bilangan Dengan Dua Dilangan

a. Pengertian Keterampilan

Menurut Iverson “keterampilan membutuhkan pelatihan dan kemampuan dasar

yang dimiliki setiap orang dapat lebih membantu menghasikan sesuatu yang lebih

bernilai dengan lebih cepat”. Sedangkan menurut Zahri er al keterampilan disebutkan

bahwa:

“Keterampilan adalah kepandaian melakukan sesuatu pekerjaan dengan cepat


dan benar, dalam hal ini ruang lingkup keterampilan sangat luas yang
melingkupi berbagai kegiatan antara lain, perbuatan, berfikir, berbicara,
melihat, mendengar, dan lain sebagainya.”

Menurut Robbins “keterampilan dibagi menjadi 4 kategori, yaitu :

a. Basic Literacy Skill : Keahlian dasar yang sudah pasti harus dimiliki oleh setiap

orang seperti membaca, menulis, berhitung serta mendengarkan.

b. Technical Skill : Keahlian secara teknis yang didapat melalui pembelajaran dalam

bidang teknik seperti mengoperasikan komputer dan alat digital lainnya.


61

c. Interpersonal Skill : Keahlian setiap orang dalam melakukan komunikasi satu sama

lain seperti mendengarkan seseorang, memberi pendapat dan bekerja secara tim.”

Sedangkan menurut Putri terkait keterampilan disebutkan bahwa

“keterampilan merupakan merupakan usaha untuk memperoleh

kompetensi cekat, cepat, dan tepat dalam menghadapi masalah.”

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa

keterampilan adalah kemampuan dasar yang dimiliki setiap orang yang

memerlukan pelatihan agar dapat bertindak,

berfikir,berbicara,melihat,mendengar dan mampu menghadapi masalah dengan cepat

dan tepat.

b. Materi Perkalian Dua Bilangan

Menurut Sri Subarina “Operasi perkalian pada bilangan cacah diartikan sebagai

penjumlahan berulang.” Sehingga untuk memahami konsep perkalian anak harus paham

dan terampil melakukan operasi penjumlahan. Perkalian a x b diartikan sebagai

penjumlahan bilangan b sebanyak a kali. Jadi a x b = b+b+b+…+b sebanyak a kali.

Sedangkan menurut Heruman (2008: 22) pada prinsipnya perkalian sama dengan

penjumlahan secara berulang. Oleh karena itu, kemampuan prasyaratan yang harus

dimiliki siswa sebelum mempelajari perkalian adalah penguasaan penjumlahan. Perkalian

dapat juga diartikan suatu langkah untuk melipatgandakan sebuah angka dengan angka

yang lain. Tentu saja untuk mendapatkan angka yang lebih


62

Perkalian bilangan dua angka

Bagaimana cara mengalikan bilangan yang terdiri atas dua angka?

1. Perkalian dengan cara mendatar

1. 34 × 7 = ....
2. 45 × 8 = ....

Penyelesaian:

1. 34 adalah 30 + 4 sehingga 34 × 7 dapat diubah menjadi (30 × 7) + (4 × 7) = 210 +


28 = 238.
2. 45 adalah 40 + 5 sehingga 45 × 8 dapat diubah menjadi (40 × 8) + (5 × 8)
= 320 + 40

= 360

Perkalian dengan cara bersusun

Perkalian dapat juga diselesaikan dengan cara bersusun seperti halnya pen
jumlahan. Mari perhatikan contoh berikut

1. 23 × 3 = .... 2. 47 × 6 = ....
Jawab: Jawab:
Bentuk perkalian tersebut Bentuk perkalian tersebut
dapat diubah dalam bentuk dapat diubah dalam bentuk
perkalian bersusun, yaitu: perkalian bersusun, yaitu:
23 47
3 x 6 x
9 (dari 3 × 3) 60 (dari 20 × 42 (dari 7 × 6)
3) x 240 (dari 40 × 6)
69 +
282

Jadi, 23 x 3 = 69 Jadi, 47 x 6 = 69

2. Hakikat Mata Pelajaran Matematika


63

a. Mata Pelajaran Matematika

Matematika merupakan suatu ilmu yang berhubungan atau menelaah bentuk-

bentuk atau struktur-struktur yang abstrak dan hubungan-hubungan di antara hal-hal itu.

Untuk dapat memahami struktur-struktur serta hubungan- hubungan, tentu saja

diperlukan pemahaman tentang konsep-konsep yang terdapat di dalam matematika itu.

Definisi atau pengertian tentang matematika oleh beberapa pakar yang diungkapkan

oleh R. Soedjadi yaitu:

a) Matematika adalah cabang ilmu pengetahuan eksak dan terorganisir secara

sistematik.

b) Matematika adalah pengetahuan tentang bilangan dan kalkulasi.

c) Matematika adalah pengetahuan tentang penalaran logika dan berhubungan

dengan bilangan.

d) Matematika adalah pengetahuan tentang fakta-fakta kuantitatif dan masalah

tentang ruang dan bentuk.

e) Matematika adalah pengetahuan tentang struktur-struktur yang logik.

f) Matematika adalah pengetahuan tentang aturan-aturan yang ketat.”

Dijelaskan pula dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia bahwa

“matematika adalah hubungan antar bilangan dan prosedur operasional yang digunakan

dalam penyelesaian masalah mengenai bilangan”.

Menurut Depdikbud matematika adalah suatu ilmu yang mempelajari sifat dan

hubungan antara bilangan, himpunan dan ukuran serta bentuk-bentuk seperti

berhubungan dengan bilangan atau himpunan.


64

Berdasarkan beberapa pengertian matematika di atas dapat disimpulkan bahwa

matematika adalah suatu ilmu tentang bilangan, himpunan dan ukuran yang

menggunakan cara bernalar deduktif tetapi juga tidak melupakan cara berfikir induktif.

Matematika merupakan ilmu yang mempelajari logika, bentuk, susunan, besaran,

konsep-konsep aljabar, geometri, kalkulasi penalaran logika dan berhubungan dengan

bilangan yang memiliki aturan-aturan yang ketat dan berdiri sendiri tanpa bergantung

pada bidang studi lain.

b. Tujuan Matematika

Mata pelajaran matematika bertujuan agar peserta didik memiliki

kemampuan sebagai berikut:

a) Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan


mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat,
dalam pemecahan masalah.
b) Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika
dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan
pernyataan matematika.
c) Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang
model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh.
d) Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk
memperjelas keadaan atau masalah.
e) Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki
rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap
ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.21

Menurut Cornelius sebagaimana yang dikutip Mulyono Abdurahman

mengemukakan lima alasan pentingnya belajar matematika karena matematika

merupakan sarana untuk :

a) Berfikir jelas dan logis.


b) Memecahkan masalah kehidupan sehari-hari.
c) Mengenal pola-pola hubungan dan generalisasi pengalaman.
d) Mengenal dan mengembangkan kreativitas.
65

Meningkatkan kesadaran terhadap perkembangaan budaya.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas bahwa tujuan dari diajarkannya mata pelajaran

matematika karena mengingat betapa pentingnya matematika dalam kehidupan sehari-

hari serta dapat melatih siswa dalam memecahkan masalah khususnya yang

berhubungan dengan angka,

bilangan dan lain sebagainya.

3. Fungsi Mata Pelajaran Matematika

Matematika mempunyai banyak kegunaan diantanya adalah:

a) Matematika sebagai pelayan ilmu yang lain.

Banyak ilmu-ilmu yang penemuan dan pengembangannya bergantung dari

matematika. Contoh: Penemuan dan pengembangan Teori Mendel dalam Biologi melalui

konsep Probabilitas, perhitungan dengan bilangan imajiner digunakan untuk

memecahkan masalah tentang kelistrikan, dengan matematika, Einstein membuat rumus

yang dapat digunakan untuk menaksir jumlah energi yang dapat diperoleh dari ledakan

atom, dalam ilmu kependudukan, matematika digunakan untuk memprediksi jumlah

penduduk dll.

b) Matematika digunakan manusia untuk memecahkan masalahnya dalam kehidupan

sehari-hari. Contoh: Memecahkan persoalan dunia nyata, mengadakan transaksi jual

beli, maka manusia memerlukan proses perhitungan matematika yang berkaitan dengan

bilangan dan operasi hitungnya, menghitung luas daerah, menghitung jarak yang

ditempuh dari suatu tempat ke tempat yang lain, menghitung laju kecepatan kendaraan

dan lain sebagainya.


66

4. Hakikat Model Pembelajaran Numbered Head together (NHT)

a. Pengertian Model Pembelajaran Numbered Head Together (NHT)

Model Pembelajaran Numbered Head Together (NHT) merupakan suatu

pendekatan yang dikembangkan oleh Kagan, untuk melibatkan banyak siswa dalam

memperoleh materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman

mereka terhadap isi pelajaran.1

Menurut Ibrahim model NHT adalah “bagian dari model pembelajaran kooperatif

struktural, yang menekankan pada struktur-struktur khusus yang dirancang untuk

mempengaruhi pola interaksi siswa”.2 Lebih lanjut Lie berpendapat bahwa:

“Teknik belajar mengajar kepala bernomor Numbered Head Together

merupakan teknik memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan ide-

ide atau gagasan dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat. Selain itu, teknik

ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak

didik.”

Berdasarkan beberapa uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa Numbered

Head Together (NHT) adalah suatu model pembelajaran dimana siswa dibagi menjadi

beberapa kelompok kecil terdiri atas 3-5 orang dan setiap anggota kelompok diberi

nomor dari nomor kecil sampai dengan nomor besar (1-5) untuk bekerja sama dalam

kelompok yang diharapkan setiap anggota bertanggung jawab untuk menelaah materi

yang disajikan. Kemudian model pembelajaran tipe NHT juga cocok untuk semua mata

pelajaran dan semua jenjang.


67

5. Tujuan Penerapan Model Pembelajaran Numbered Head Together (NHT)

Herdian mengemukakan tiga tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran NHT

yaitu:

a. Hasil belajar akademik structural, yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa

dalam tugas-tugas akademik.

b. Pengakuan adanya keragaman, bertujuan agar siswa dapat menerima teman-temannya

yang mempunyai berbagai latar belakang.

c. Pengembangan keterampilan sosial bertujuan untuk mengembangkan keterampilan

sosial siswa. Keterampilan yang dimaksud antara lain berbagi tugas, aktif bertanya,

menghargai pendapat orang lain, mau menjelaskan ide atau pendapat dan bekerja

dalam kelompok.

Berdasarkan pendapat di atas, tujuan dari penerapan model pembelajaran NHT

yaitu untuk meningkatkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dan pada saat

mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru sehingga dapat mempengaruhi hasil

belajarnya. Kemudian adanya pengakuan keragaman dari siswa bahwa setiap orang

mempunyai latar belakang yang berbeda-beda, memiliki kelebihan dan kekurangan

sehingga pada saat mengikuti pembelajaran siswa menjadi aktif, berbagi dengan temannya

dan dapat mengahargai pendapat orang lain.

6. Langkah-langkah Penerapan Model Pembelajaran Numbered Head

Together (NHT)

Setiap model pembelajaran memiliki sintaks terstruktur dalam pelaksanaannya.

Sintaks pembelajaran berisi langkah-langkah praktis yang harus di pembelajaran dapat


68

berjalan secara sistematis dan terencana. Hamdani mengemukakan bahwa NHT memiliki

langkah-langkah seperti

berikut.

a. Siswa dibagi dalam kelompok dan setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor.

b. Guru memberikan tugas dan tiap-tiap kelompok disuruh untuk mengerjakannya.

c. Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan bahwa setiap anggota

kelompok dapat mengerjakannya.

d. Guru memanggil salah satu nomor siswa dan siswa yang nomornya dipanggil melaporkan

hasil kerja sama mereka.

e. Siswa lain diminta untuk memberikan tanggapan, kemudian menunjuk nomor lain.

f. Kesimpulan.6

Kurniasih dan Berlin menyatakan bahwa NHT memiliki langkahlangkah pembelajaran

seperti berikut:

a) Membentuk kelompok secara homogen.

b) Setiap kelompok beranggotakan 3-5 siswa.

c) Setiap anggota memiliki satu nomor.

d) Guru mengajukan pertanyaan untuk didiskusikan bersama kelompok.

e) Salah satu nomor dapat mewakili kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi.7

Berdasarkan pendapat di atas maka peneliti menyimpulkan bahwa akan

menggunakan langkah-langkah pembelajaran NHT yang dikemukakan oleh Hamdani. Siswa

dibentuk kelompok, masing-masing siswa diberi nomor dan mereka bertanggung jawab atas
69

nomor yang dipegangnya, siswa berdiskusi dengan teman kelompoknya untuk menjawab

tugas yang telah diajukan oleh gurunya serta salah satu dari mereka yang ditunjuk guru

dapat mewakili teman kelompoknya untuk menjawab soal atau mempresentasikan hasil

diskusinya. Lebih jelasnya langkah-langkah penerapan model pembelajaran NHT dapat dilihat

pada tabel di bawah ini:

Tabel 2.1 Sintaks Model Pembelajaran Tipe Numbered Head Together

Fase Kegiatan Guru Kegiatan Siswa

Fase 1 Guru membagi peserta didik Siswa membentuk kelompok sesuai

Penomora kedalam kelompok 3-5 orang dengan arahan dariguru dan setiap

n dan kepada setiap anggota siswa memegang nomor yang telah

kelompok diberi nomor antara dibagikan.

1-5.

Fase 2 Guru mengajukan sebuah Siswa mendengarkan pertanyaan atau

Pengajuan pertanyaan kepada peserta menerima LKS yang diberikan oleh

pertanyaan didik atau guru membagikan guru.

LKS kepada setiap kelompok.

Fase 3 Guru membantu atau Siswa menyatukan pendapatnya

Berpikir mengarahkan siswa dalam kerja terhadap jawaban pertanyaan dan

bersama kelompok. meyakinkan tiap anggota dalam timnya

mengetahui jawaban itu.

Fase Guru memanggil satu nomor peserta didik yang nomornya sesuai

4 tertentu untuk menjawab mengacungkan tangannya dan


70

Menjawab pertanyaan. mencoba untuk menjawab

pertanyaan.

7. Kelebihan dan Kekurangan Model PembelajaranKooperatif tipe

Numbered Head Together

Setiap model pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangan, oleh sebab itu

tidak ada model pembelajaran yang dianggap sempurna. Setelah kita mengetahui kelebihan

dan kekurangannya, diharapkan kita mampu mengoptimalkan kelebihan dari model

pembelajaran yang hendak digunakan, sertamengatasi kekurangan-kekurangan yang ada

dalam pelaksanaan pembelajaran.

Hamdani berpendapat bahwa kelebihan dan kekurangan model

pembelajaran kooperatif tipe NHT sebagai berikut:

a. Kelebihan

1) Setiap siswa menjadi siap semua.

2) Siswa dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh.

3) Siswa yang pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai.

b. Kekurangan

1) Kemungkinan nomor yang dipanggil, akan dipanggil lagi oleh guru. 2) Tidak semua

anggota kelompok dipanggil oleh guru.


71

Kurniasih dan Berlin berpendapat bahwa kelebihan dan kekurangan model

pembelajaran kooperatif tipe NHT adalah:

a) Kelebihan

1. Dapat meningkatkan prestasi siswa.

2. Mampu memperdalam pemahaman siswa.

3. Melatih tanggung jawab siswa.

4. Menyenangkan siswa dalam belajar.

5. Mengembangkan rasa ingin tahu siswa.

6. Meningkatkan rasa percaya diri siswa.

7. Mengembangkan rasa saling memiliki dan kerja sama.

8. Setiap siswa termotivasi untuk menguasai materi.

9. Menghilangkan kesenjangan antara yang pintar dengan tidak pintar.

10.Tercipta suasana gembira dalam belajar dengan demikian meskipun saat pembelajaran

menempati jam terakhir pun, siswa tetap antusias belajar.

b) Kekurangan

1. Ada siswa yang takut diintimidasi bila memberi nilai jelek kepada anggotanya (bila

kenyataannya siswa lain kurang mampu menguasai materi).

2. Ada siswa yang mengambil jalan pintas dengan meminta tolong pada temannya

untuk mencarikan jawabannya.

3. Apabila pada satu nomor kurang maksimal mengerjakan tugasnya, tentu saja

mempengaruhi pekerjaan pemilik tugas lain pada nomer selanjutnya.10

c) Berdasarkan pendapat para ahli, peneliti menyimpulkan bahwa model pembelajaran

kooperatif tipe NHT memiliki banyak kelebihan, yaitu membuat siswa lebih siap semua
72

dalam proses belajar, rasa saling memiliki dan kerja sama antara siswa yang pintar

dengan yang tidak pintar sehingga dalam proses pembelajaran khususnya pada mata

pelajaran matematika terciptanya suasana gembira sehingga dapat meningkatkan hasil

belajar siswa. Adapun kelemahannya akan terlihat ketika model kooperatif tipe NHT

belum dapat diterapkan dengan baik.

Berdasarkan kajian teoritis yang telah diuraikan di atas maka peneliti berasumsi erat

kaitan antara penerapan model pembebelajaran NHT (Numbered Head Together) dengan

meningkatkan keterampilan siswa tentang perkalian dua bilangan pada mata pelajaran

Matematika di kelas III SD Negeri Neglasari Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor.

Keterkaitan tersebut dapat dideskripsikan dalam bagan sebagai berikut :

Solusi

Mengadakan
Masalah Hasil
PTK dengan
Hasil Belajar Model NHT Hasil Belajar

siswa (Numbered meningkatkan


Head Together)
meningkatkan keterampilan

keterampilan siswa tentang

tentang perkalian dua

perkalian dua bilangan

bilangan masih meningkat


73

rendah

Dalam bagan di atas, peneliti ingin menjelaskan bahwa masalah yang dihadapi peneliti

adalah kurangnya hasil belajar siswa, khususnya berkaitan dengan keterampilan siswa tentang

perkalian dua bilangan pada mata pelajaran Matematika di kelas III SD Negeri Neglasari Kecamatan

Jasinga Kabupaten Bogor.

Sebagai solusi terhadap masalah yang dihadapi, maka peneliti berupaya mengatasinya

dengan upaya yang dipilih adalah melakukan tindakan pembelajaran dengan model pembelajaran

NHT (Numbered Head Together) peneliti meyakini bahwa metode ini dapat mengatasi masalah

tersebut, karena di dalamnya terdapat kerja sama siswa, memunculkan pemikiran yang terampil

dalam myelesaikan permasalahan matematika

Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa jika model NHT (Numbered Head

Together) diterapkan dengan baik dan benar,maka

keterampilan siswa tentang perkalian dua bilapada mata pelajaran Matematika di kelas III SD Negeri

Neglasari Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor akan dapat ditingkatkan.

C. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis penelitian ini adalah penerapan

model NHT (Numbered Head Together) dapat meningkatkan keterampilan siswa tentang

perkalian dua bilangan pada mata pelajaran Matematika kelas III SD Negeri Neglasari

Kecamatan Jasinga Kabupaten


74

Bogor.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat, Waktu, dan Sasaran Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan penelitian tindakan kelas (PTK),

dengan rancangan sebagai berikut :

1. Tempat Penelitian

Waktu Penelitian Tempat penelitian ini dilaksanakan di Kelas III SD Negeri Neglasari Kecamatan Jasinga

Kabupaten Bogor.

2. Waktu penelitian dilakukan pada semester genap selama 3 bulan (Maret,April dan Mei)

pada tahun 2023-2024. Penentuan waktu penelitian mengacu kepada kalender

pendidikan sekolah, karena penelitian tindakan kelas memerlukan beberapa siklus yang

membutuhkan proses pembelajaran yang efektif di sekolah.

Tabel 3.1

Waktu Pelaksanaan Penelitian

Jam Acara Jumlah


No Hari/Tanggal Waktu Keterangan
Pelajaran Tindakan Siswa
04 Maret 07.30 – 2 x 35 menit 32 Pra
1 PTK
2024 09.30- Siswa Penelitian
05 April 07.30 – 2 x 35 menit 32
2 PTK Siklus 1
2024 09.30- Siswa
12 April 07.30 – 2 x 35 menit 32
3 PTK Siklus 2
2024 09.30- Siswa
75

1
3. Sasaran Penelitian

Sasaran penelitian adalah siswa Kelas III SD Negeri Neglasari

Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor, dengan jumlah siswa 38

orang terdiri dari 18 siswa laki – laki dan

14 siswa perempuan.

B. Jenis dan Desain Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan teknik

PTK (Penelitian Tindakan Kelas) atau Classroom Actions Research.

Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan dengan desain penelitian sebagai

berikut.

Bagan 3.2 Desain Penelitian

Perencanaan

Perencanaan Perencanaan

Pengamatan

Perencanaan
Siklus I

50
51

Refleksi Pelaksanaan

Pengamatan

24
Keterangan :

Melalui bagan di atas peneliti ingin menjelaskan bahwa sebelum

melakukan siklus 1 peneliti berupaya untuk mengetahui kondisi awal di kelas

yang akan diteliti dengan melaksanakan kegiatan “pra – penelitian”. Selanjutnya

penelitian ini dilakukan dengan dua siklus, setiap siklus terdiri dari kegiatan

Planning (rencana), Actuating (tindakan), Observing

(observasi), dan Reflecting (refleksi).

C. Prosedur Penelitian Tindakan Kelas


52

Prosedur penelitian tindakan kelas terdiri dari prapenelitian dan

pelaksanaan penelitian tindakan kelas.

1. Pra-penelitian

Pra-penelitian merupakan refleksi kondisi kelas sebelum penelitian

tindakan dilakukan, tujuannya adalah untuk mengetahui kondisi awal yang akan

diteliti.Adapun kegiatan yang dilakukan dalam pra-penelitian ini adalah sebagai

berikut :

a. Menyusun format pengumpulan data obyektif sekolah

b. Menyusun kisi - kisi soal dan instrumen penilaian / tes awal. Materi tes awal

adalah materi yang sudah diajarkan oleh guru.

c. Mengumpulkan data obyektif sekolah dengan menggunakan format

pra-penelitian

d. Melaksanakan penilaian / tes awal tentang perkalian dua bilangan pada mata

pelajaran Matematika

e. Menganalisis data obyektif sekolah dan hasil tes untuk dimanfaatkan dalam

perencanaan tindakan dan pembahasan hasil belajar

2. Penelitian Tindakan Kelas (Siklus 1)


53

Berdasarkan hasil evaluasi analisis dara pra-penelitian dan hasil tes awal,

serta diskusi tim kolaborasi, penelitian melaksanakan kegiatan penelitian dengan

langkah – langkah sebagai berikut :

a. Perencanaan Tindakan

Pada tahap perencanaan, kegiatan yang dilakukan adalah

sebagai berikut :

1) Peneliti membuat rencana perbaikan pembelajaran (RPP) dengan Model

Pembelajaan NHT(Numbered Head Together). RPP disusun oleh peneliti

dengan pertimbangan dari dosen pembimbing dan guru kelas yang

bersangkutan, RPP disusun sebagai pedoman guru dalam melaksanakan

pembelajaran di

kelas.

2) Peneliti membuat Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD)/LKS (Lembar

Kerja Siswa) dengan materi tentang perkalian dua bilangan pada Mata

Pelajaran Matematika.

3) Peneliti mempersiapkan lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran

berdasarkan masalah dan lembaran analisi hasil belajar peserta didik.

4) Peneliti mempersiapkan soal pretest untuk mengetahui hasil belajar

peserta didik materi tentang perkalian dua bilangan pada mata pelajaran

Matematika
54

b. Pelaksanaan Tindakan

Setelah RPP beserta perangkatnya dibuat maka dilaksanakan

tindakan yang berupa kegiatan pembelajaran. Dalam pelaksanaan

pembelajaran ini, peneliti berpedoman pada RPP yang telah dibuat.

1) Membuka pembelajaran

2) Melaksanakan Pembelajaran

3) Kegiatan inti

4) Mengevaluasi hasil pembelajaran

5) Menganalisis hasil pembelajaran

c. Observasi

a) Pelaksanaan observasi dilakukan bersamaan dengan waktu pelaksanaan

pembelajaran. Observasi dilakukan oleh dua orang kolaborator yang

berasal dari guru kelas dan kepala sekolah. Kolaborator tersebut menilai

peneliti dalam melaksanakan proses pembelajaran dengan menggunakan

instrumen penilaian

pelaksanaan pembelajaran di kelas yang terdiri dari beberapa aspek yang

diamati.

b) Kolaborator melakukan penilaian pelaksanaan pembelajaran di kelas

dengan menggunakan instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran di

kelas.
55

c) Observer bersama peneliti melakukan pengumpulan data hasil belajar

siswa tentang perkalian dua bilangan pada mata pelajaran Matematika

dengan menggunakan angket.

d) Merefleksi adalah kegiatan untuk merenungkan kembali dan membahas

apa yang telah terjadi dan hasil belajar yang telah dicatat dalam observasi

maupun penilaian. Adapun aspek yang direnungkan yaitu :

1) Proses pembelajaran di kelas

2) Hasil belajar secara individu dan klasikal Refleksi dilakukan bersama

antara peneliti dengan tim kolaborasi. Dari kegiatan merefleksi ini

dihasilkan rekomendasi :

• Karena indicator keberhasilan belum tercapai maka

penelitian dianggap belum selesai.

• Dilanjutkan ke siklus berikutnya dengan perbaikan RPP,

perbaikan media, alat peraga, dan teknik komunikasi guru

3) Penelitian Tindakan Kelas (Siklus 2)

Berdasarkan refleksi pada siklus 1, terdapat beberapa hal yang

harus peneliti perbaiki, serta hasil belajar siswa belum mencapai

Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

d. Perencanaan Tindakan
56

Perencanaan yang dilakukan pada siklus 2

memperhatikan refleksi dari siklus I. Perencanaan siklus 2

meliputi :

1) Revisi RPP yang telah dibuat pada siklus I

2) Peneliti menyusun lembar angket. Angket berisi garis – garis

pokok yang ditanyakan dengan maksud agar peserta didik

mengungkapkan tanggapan terhadap proses Meodel NHT

(Numbered Head Together) dalam pembelajaran.

3) Peneliti mempersiapkan LKPD mengenai materi dan bahan

memahami penjelasan narasumber tentang perkalian dua

bilangan pada mata pelajaran Matematika. Peneliti

mempersiapkan lembaran analisis peserta didik yang digunakan

sebagai catatan peneliti untuk menilai hasil belajar peserta didik.

4) Peneliti mempersiapkan soal pretest dan post test untuk

mengetahui hasil belajar peserta didik pada materi.

e. Pelaksanaan Tindakan

Pada penelitian di siklus 2 ini menggunakan Model NHT

(Numbered Head Together) untuk memahami penjelasan


57

narasumber tentang perkalian dua bilangan pada mata pelajaran

Matematika, dengan revisi yang diperlukan dalam rangka perbaikan

dari siklus sebelumnya.

f. Observasi

1) Pelaksanaan observasi dilakukan peneliti bersama observer

dengan mengamati tindakan dan kendala peserta didik saat

pembelajaran berlangsung.

2) Peneliti merangkum hasil pengamatan, pretest dan post test, yang

dilakukan pada siklus I untuk memudahkan merefleksi tindakan.

3) Lembar observasi yang digunakan sama seperti lembar

29
observasi pada siklus I

4) Kemudian observer bersama peneliti


melakukan

pengumpulan data hasil belajar siswa tentang perkalian dua

bilangan pada mata pelajaran Matematika dengan menggunakan

angket

5) Selain itu kolaborator juga menilai mengenai perubahan tingkah

laku siswa saat proses pembelajaran berlangsung.

g. Refleksi
58

Merefleksi adalah kegiatan untuk merenungkan kembali dan

membahas apa yang telah terjadi dan hasil belajar yang telah dicatat

dalam observasi maupun penilaian. Adapun aspek yang direnungkan

yaitu :

1. Proses pembelajaran di kelas

2. Hasil belajar secara individu dan klasikal Refleksi dilakukan

bersama antara peneliti dengan tim kolaborasi, dari kegiatan

merefleksi ini dihasilkan rekomendasi :

• Jika indikator keberhasilan telah tercapai


maka

penelitian dianggap selesai.

• Namun jika belum mencapai indikator keberhasilan


maka akan dilanjutkan pada siklus berikutnya.

D. Sumber Data

Dalam penelitian ini peneliti menentukan sumber data sebagai berikut :

1. Sumber data primer (informan) : siswa Kelas III SD Negeri Neglasari

30
yang berjumlah 32 orang
59

2. Sumber data sekunder (key informan) : guru senior dan kepala sekolah

3. Sumber data lain : dokumen kelas (terlampir)

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dilakukan dalam penelitian ini ada 2 jenis yaitu tes dan

non tes. Tes digunakan untuk mengetahui tingkat hasil belajar melalui penyampaian

beberapa pertanyaan tertulis sedangkan non tes digunakan untuk mengetahui

tanggapan siswa setelah mendapatkan pembelajaran.

1. Teknik Tes

Teknik tes dilakukan yaitu dengan melakukan tes formatif dan tes sub-

sumatif. Tes formatif yaitu tes setelah akhir pembelajaran per siklus sedangkan tes

sub-sumatif dilaksanakan setelah akhir dari beberapa

siklus.

2. Teknik Non Tes

Teknik non tes dilakukan dengan beberapa jenis yaitu observasi,

wawancara dan dokumentasi.

a. Observasi (pengamatan) teknik ini digunakan oleh observer untuk

mengobservasi pelaksanaan tindakan yang dilakukan oleh peneliti.

b. Wawancara teknik ini digunakan oleh peneliti untuk mengetahui respons siswa

secara langsung dalam menyelesaikan soal wawancara terutama dilakukan

kepada siswa yang menonjol karena kelebihan atau


60

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Deskripsi Data Sekolah

a. Identitas Sekolah

SD Negeri Neglasari berlokasi di kampung Margaluyu, RT 05/01

Desa Sipak Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat,

dibangun pada 1967 di atas lahan seluas 1330 m2. Terletak di lingkungan

masyarakat yang heterogen baik dari segi, ekonomi sosial dan budaya.

Keanekaragaman tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam pelaksanaan

pembelajaran di SDN.Cigelung Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor.

Tabel 4.1

Identitas Sekolah Dasar Negeri

Nama Satuan SD Negeri Neglasari

NPSN 20200499

Status Kepemilikan Pemerintah Daerah

Status Sekolah Negeri

Tanggal SK 1967

Alamat Sekolah Kp Margaluyu Rt 05/01


61

Desa Sipak

Kecamatan Jasinga

Kabupaten Bogor

Provinsi Jawa Barat

Kode Pos 16670

Lintang/Bujur -6.4886000/106.5230000

Status Akreditasi B

Tanah Milik 1.500 m2

Nomor Telepon 085717518568

Email Sekolah Sdnneglasari67

Tabel 4.2

Keadaan Tenaga Pendidik dan Kependidikan

Berdasarkan Status Kependidikan

No. Nama Personal L/P Jenis Status

1. Lia Agustina, S.Pd.SD P Kepala PNS

Sekolah

2. Yuli Yuliah, S.Pd P Guru PNS

3. Erna Suherna,S.Pd P Guru PNS

4. Euis Subagja, S.Pd P Guru P3K


62

5. Ikbal Nurul Fikri,S.Pd L Guru P3K

6. Intan Diniyatul A, S.Ag P Guru P3K

7. Triya Yuliani,S.Pd P Guru Guru Honorer

8. Meli Nurmalia A, S.Pd P Guru Guru Honorer

9. Tatang Supriatna L Penjaga Tenaga Honorer

Tabel 4.3

Data Rombongan Belajar

Jumlah
No. Kelas Guru/Wali Kurikulum
Rombel

1. Kelas 1 1 Euis Subagja,S.Pd. Kurmer

2. Kelas 2 1 Yuli Yuliah, S.Pd Kurmer

3. Kelas 3 1 Triya Yuliani Kurmer

4. Kelas 4 1 Meli Nurmalia A, S.Pd Kurmer

5. Kelas 5 1 Erna Suherna,S.Pd Kurmer

6. Kelas 6 1 Ikbal Nurul Fikri, S.Pd Kurmer


63

Tabel 4.4

Data Peserta Didik

Jumlah Siswa
No. Ruang Kelas
L P Jumlah

1. Kelas 1 25 20 45

2. Kelas 2 16 18 34

3. Kelas 3 9 21 39

4. Kelas 4 12 15 26

5. Kelas 5 20 15 47

6. Kelas 6 19 21 45

Jumlah 101 110 259

Tabel 4.5

Keadaan Sarana dan Prasarana

Berdasarkan status kependidikan

No. Jenis Prasarana Jumlah Kondisi

1. Ruang Kelas 1 1 Baik

2. Ruang Kelas 2 1 Baik


64

3. Ruang Kelas 3 1 Baik

4. Ruang Kelas 4 1 Baik

5. Ruang Kelas 5 1 Baik

6. Ruang Kelas 6 1 Baik

7. Ruang Guru 1 Baik

8. Ruang Kepala Sekolah 1 Baik

9. Ruang Perpustakaan 1 Baik

10. Kamar Mandi/WC Guru 1 Baik

11. Kamar Mandi/WC Siswa 4 Baik

12. Ruang UKS 1 Baik

13. Musholla 1 Baik

14. Dapur 1 Baik

b. Visi

a. Pembelajar sepanjang hayat, membentuk generasi yang memiliki


motivasi untuk selalu belajar dan mengembangkan diri.
b. Berkarakter, mengimplementasikan Profil Pelajar Pancasila
dalam aktualisasi kehidupan.
c. Inovatif, kemampuan seluruh warga sekolah memaknai keadaan
yang dinamis dan selalu berubah dengan berbagai tantangan dan
hambatan menjadi sebuah celah dalam mengembangkan diri
untuk menemukan solusi yang tepat, bermanfaat dan sesuai
dengan keadaan masa kini dan mempersiapkan masa depan.
65

d. Berprestasi, sebagai hasil akhir dalam sebuah proses, prestasi


merupakan tolak ukur sebuah proses. Prestasi tak hanya berkisar
pada kemampuan kognitif dalam ajang prestatif saja namun lebih
pada keberhasilan menemukan kemampuan diri, mengembangkan
talenta dan kecakapan hidup yang bermanfaat.
c. Misi

1. Merancang pembelajaran yang menarik dan menyenangkan yang


mampu memotivasi peserta didik untuk selalu belajar dan
menemukan pembelajaran
2. Menanamkan keimanan dan ketakwaan melalui pembiasaan shalat
dhuha bersama-sama, serta melaksanakan tadarus sebelum
melaksanakan kegiatan pembelajaran
3. Membangun lingkungan sekolah yang membentuk peserta didik
memiliki akhlak mulia melalui rutinitas kegiatan keagamaan dan
menerapkan ajaran agama melaui cara berinteraksi di sekolah.
4. Pembiasaan kegiatan kultum untuk menumbuhkan akhlak mulia
peserta didik
5. Melaksanakan kegiatan pelatihan penggunaan IT, untuk
meningkatkan kreatifitas peserta didik
6. Melaksanakan kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler untuk
melestarikan budaya daerah jawa barat

Tujuan Pendidikan

a. Menghasilkan lulusan yang berakhlak mulia dalam hal tertib


beribadah, 5S (Senyum, Sapa, Salam, Santun dan Sopan), dan empati.
b. Menghasilkan lulusan yang mampu melanjutkan pendidikan ke
jenjang lebih tinggi sesuai minat dan bakat yang dimiliki.
66

c. Menghasilkan lulusan yang terampil dalam berpikir kritis, kreatif,


menghasilkan karya, memanfaatkan teknologi digital, dan
mengembangkan minat serta bakatnya.
d. Menghasilkan lulusan yang memiliki penguasaan 6 literasi dasar
(literasi baca dan tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital,
literasi budaya kewarganegaraan dan literasi finansial).
e. Terciptanya karakter toleransi melalui pengalaman lintas budaya
dalam pembelajaran lintas kelas ( cross teaching ).
e. Data Kelas

Tabel 4.6

Data Keadaan Kelas

No. Nama Barang Jumlah Keterangan

01 Meja dan kursi 30 set Baik

02 Meja Guru 1 set Baik

03 Lemari 1 buah Baik

04 Papan tulis 1 buah Baik

05 Kipas angin 1 buah Baik

06 Tempat sampah 2 buah Baik

07 Sapu ijuk 4 buah Baik

08 Bendera Merah Putih 1 buah Baik

09 Grafik absen 1 buah Baik

10 Papan absen 1 buah Baik

11 Penggaris Kayu 1 m 1 buah Baik


67

12 Fhoto Presiden 1 set Baik

13 Jam dinding 1 buah Baik

14 Jadwal pelajaran 1 buah Baik

15 Bendera Merah Putih 1 buah Baik

b. Deskripsi Data Hasil Siklus 1

1. Kondisi awal

Siswa memegang peranan penting dalam kegiatan pembelajaran.

Oleh karena itu siswalah yang seyogyanya aktif, sebab siswa sebagai subjek

didik adalah yang merencanakan dan ia sendiri yang melaksanakan

kegiatan belajar. Akan tetapi, guru harus menyadari bahwa setiap individu

itu berbeda. Begitu pula siswa yang dihadapi memiliki latar belakang

kemampuan, minat dan bakat yang berbeda. Dalam pelaksanaan proses

pembelajaran Matematika di kelas III SD Negeri Neglasari Kecamatan

Jasinga Kabupaten Bogor selama ini siswa lebih dominan duduk, dengar,

catat, dan hapal. Materi pelajaran yang begitu banyak dan waktu yang

tersedia sangat kurang. Hal tersebut mengakibatkan suasana kelas terasa

gersang, membosankan dan mengikat. Kondisi ini memberikan indikasi


68

terhadap suatu masalah yang cukup signifikan, yaitu permasalahan yang

bermuara pada kejenuhan siswa dalam mengikuti pelajaran Matematika di

dalam kelas.

Setelah dilakukan observasi, wawancara, dan diskusi dengan siswa,

fakor utama yang dirasakan sebagai penyebab kurangnya minat siswa

dalam pembelajaran Matematika adalah guru kurang atau tidak pernah

menerapkan metode atau pendekatan pembelajaran yang variatif dan

menarik. Guru jarang melibatkan siswa untuk beraktivitas dan bertanggung

jawab dalam kegiatan pembelajaran. Berikut ini data prestasi awal sebelum

dilaksankan tindakan.

Sebelum dilaksanakan tindakan pembelajaran dengan menggunakan

Number Head Together (NHT), penulis melaksanakan penjajakan awal

berupa pembelajaran mata pelajaran Matematika terhadap para siswa

yang akan menjadi subyek penelitian dengan cara pembelajaran yang biasa

dilakukan sehari-hari (konvensional). Hal ini bertujuan untuk mendapatkan

gambaran awal tentang kondisi pembelajaran Matematika dikelas III SD

Negeri Neglasari

Observer mengadakan observasi yang dilaksanakan pada hari Jumat,

17 April 2023. Pada waktu observasi, guru membahas pokok bahasan

tentang perkalian. Hal pertama yang dilakukan para siswa ketika guru
69

memasuki kelas adalah mengucapkan salam secara serentak, lalu dijawab

oleh guru. Selanjutnya para siswa membaca doa dipimpin oleh ketua

murid.

Kegiatan pembuka pembelajaran diawali dengan mengecek

kehadiran siswa, kemudian menyuruh para siswa untuk membuka buku

pegangannya masing-masing, lalu dilanjutkan dengan menuliskan pokok

bahasan yang akan dibahas pada papan tulis. Kemudian guru memulai

dengan kegiatan apersepsi dengan mengajukan pertanyaan ”Apakah kalian

pernah mengenal istilah perkalian? dijawab oleh para siswa adalah Ya. Atas

jawaban tersebut guru memberikan penguatan secara verbal dengan

mengucapkan kata ”Bagus anak-anak”.

Kegiatan selanjutnya yaitu pada kegiatan inti guru memulai dengan

menjelaskan pengertian alat indera mata manusia. Saat guru menulis di

papan tulis, diketahui bahwa banyak siswa yang melakukan kegiatan di luar

kegiatan pembelajaran seperti bercakap-cakap dengan teman sebangku,

mengganggu teman, menunjukan sikap malas, dan ada yang saling lempar

dengan kertas.

Kegiatan selanjutnya, guru menjelaskan mengenai perkalian disertai

contoh. Selanjutnya guru memberikan soal latihan dengan soal yang

berbeda. Kemudian siswa menjawab pertanyaan yang diajukan guru.


70

Hasilnya dikumpulkan di meja guru, kemudian guru memeriksanya satu

persatu. Hal ini memakan waktu yang cukup lama. Sementara guru sedang

asik memeriksa jawaban siswa, siswa juga asik dengan kegiatan

bermainnya. Ada yang ngobrol, lari-larian, dan ada yang memukul-mukul

meja.

Kegiatan selanjutnya, guru menyampaikan bahwa hasil latihan siswa

masih banyak yang salah, dan perlu adanya pembelajaran ulang dan siswa

diharapkan belajar kembali di rumah. Hasil tes awal siswa adalah sebagai

berikut:

Tabel 4.7

Skor Awal Pembelajaran Matematika di Kelas III

SD Negeri Neglasari

KKM: 75

NILAI PRA
NO. NAMA SISWA KET
SIKLUS

1 50 Belum tuntas
ACHKAM AL'ADLI
2 70 Belum Tuntas
AHMAD FIKRI ARDA BILLY
3 50 Belum tuntas
ADNAN NAUFAL HISYAM
4 80 Tuntas
AKSAN KAMIL
5 40 Belum tuntas
ANNISHA PURBA SARI
71

6 70 Belum tuntas
AQILA NUR MAULIDA
7 100 Tuntas
ARISKA ADHARAYA
8 70 Tuntas
AUFA RAIS DARMAWAN
9 AUQILIA PRISILIA SASMITA 70 Tuntas
PELANGI
10 60 Belum tuntas
AZKA ALDRIC BIMANSYAH
11 80 Tuntas
AZRIL MAULANA YUSUP
12 70 BelumTuntas
FHIRA ANGGRAENI
13 60 Belum tuntas
HAIFA SALSABILA
14 70 Belum Tuntas
HAKLIS PUTRA
15 50 Belum Tuntas
HASNA NABILA TIRTANA
16 60 Belum tuntas
M. ZAHRAN FIRDAUS
17 80 Tuntas
MOH. ELVAN ANGGARA
18 60 Belum tuntas
MOH ZAMILUDIN
19 70 Belum Tuntas
MUHAMAD RIZKIAN
20 MUHAMMAD ERZI BO'A 60 Belum tuntas
SAPUTRA
21 100 Tuntas
MUHAMMAD TRIMANSYAH
22 60 Belum Tuntas
NAFISA ZAHIRA RAFIFA
23 80 Tuntas
NENG ANA APRILIA
24 60 Belum tuntas
NIKO ALDIANSYAH
25 70 Belum tuntas
NURHADI IZJI TURTUSY
72

26 SILVA DEANOVAN 100 Tuntas

Jumlah 1790

Rata-Rata 68,85

Tabel 4.8

Pengelompokan berdasarkan skor

Kategori Skor Frekuensi Persen Keterangan

A 100 < A < 90 3 11,54 T

B 89 < B < 79 4 15,38 T

C 78 < C < 68 8 30,77 T

D 67 < D <57 9 42,31 BT

Jumlah 26 100 %

Grafik 4.9 Pengelompokan Pembelajaran Siklus 1


73

Data pada tabel dan grafik di atas menunjukkan perolehan skor awal

pembelajaran Matematika, yaitu siswa yang memperoleh skor 100 ada 3

orang siswa (11,54%) atau sebagian kecil, siswa yang memperoleh skor 80

ada 4 siswa (15,38%) atau sebagian kecil, siswa yang memperoleh skor 70

ada 8 orang (30,77%) atau kurang dari setengahnya, siswa yang

memperoleh skor 60 ada 6 orang (23,07%) atau kurang dari setengahnya,

dan siswa yang memperoleh skor 50 sebanyak 4 orang (15,38%) atau

sebagian kecil dan yang memperoleh 40 ada 1 orang (3,85 % ). Dari

keseluruhan skor deskripsi awal pembelajaran Matematika dapat

disimpulkan bahwa ada 15 siswa (57,69%) dari jumlah keseluruhan siswa

yang dinyatakan lulus atau tuntas sedangkan 11 siswa (42.31%) dinyatakan

belum lulus/tuntas.
74

Berdasarkan gambaran pelaksanaan pembelajaran di atas,

menunjukan bahwa kegiatan pembelajaran Matematika di kelas III SD

Negeri Neglasari yang masih jauh dari yang diharapkan yaitu 75 % atau

lebih.

2. Data Hasil Penelitian

a. Hasil Penelitian pada Siklus Pertama

1) Hasil Tes Siklus 1

a) Hasil Tes Formatif Siklus 1

Tabel 4.10

Skor Tes Formatif Siklus 1 Pembelajaran Matematika di Kelas III

SD Negeri Neglasari

KKM: 75

NILAI SIKLUS
NO. NAMA SISWA KET
1

1 70 Belum Tuntas
ACHKAM AL'ADLI
2 70 Belum Tuntas
AHMAD FIKRI ARDA BILLY
3 70 Belum tuntas
ADNAN NAUFAL HISYAM
4 85 Tuntas
AKSAN KAMIL
5 60 Belum tuntas
ANNISHA PURBA SARI
75

6 80 Tuntas
AQILA NUR MAULIDA
7 100 Tuntas
ARISKA ADHARAYA
8 80 Tuntas
AUFA RAIS DARMAWAN
9 AUQILIA PRISILIA SASMITA 70 Belum Tuntas
PELANGI
10 70 Tuntas
AZKA ALDRIC BIMANSYAH
11 90 Tuntas
AZRIL MAULANA YUSUP
12 70 Belum Tuntas
FHIRA ANGGRAENI
13 80 Tuntas
HAIFA SALSABILA
14 70 Belum Tuntas
HAKLIS PUTRA
15 70 Belum Tuntas
HASNA NABILA TIRTANA
16 70 Belum Tuntas
M. ZAHRAN FIRDAUS
17 85 Tuntas
MOH. ELVAN ANGGARA
18 85 Tuntas
MOH ZAMILUDIN
19 90 Tuntas
MUHAMAD RIZKIAN
20 MUHAMMAD ERZI BO'A 70 Belum Tuntas
SAPUTRA
21 90 Tuntas
MUHAMMAD TRIMANSYAH
22 70 Belum Tuntas
NAFISA ZAHIRA RAFIFA
23 85 Tuntas
NENG ANA APRILIA
24 70 Belum Tuntas
NIKO ALDIANSYAH
25 65 Belum Tuntas
NURHADI IZJI TURTUSY
76

26 SILVA DEANOVAN 100 Tuntas

Jumlah 1945

Rata-rata 74,80

Tabel 4.11

Pengelompokan berdasarkan skor

Kategori Skor Frekuensi Persen Keterangan

A 100 < A < 90 5 19,23 T

B 89 < B < 79 7 26,92 T

C 78 < C < 68 12 46,15 BT

D 67 < D <57 2 7,69 BT

Jumlah 26 100 %

Data pada tabel di atas menunjukkan perolehan skor siklus 1

pembelajaran Matematika, yaitu siswa yang memperoleh skor 100 ada 5

orang siswa (19,23%), siswa yang memperoleh skor 80 ada 7 orang siswa

(26,92%), siswa yang memperoleh skor 70 ada 12 orang (46,15%), siswa yang

memperoleh skor 60 ada 2 orang (7,69%). Dari keseluruhan skor deskripsi

awal pembelajaran Matematika dapat disimpulkan bahwa ada 12 siswa


77

(46,15%) dari jumlah keseluruhan siswa yang dinyatakan lulus atau tuntas

sedangkan 14 siswa (53,84%) dinyatakan belum lulus/tuntas.

Grafik 4.17 Pengelompokan Pembelajaran Siklus 1

Data pada grafik di atas menunjukkan perolehan skor siklus 1

pembelajaran Matematika, yaitu siswa yang memperoleh skor 100 ada 5

orang siswa (19,23%), siswa yang memperoleh skor 80 ada 7 orang siswa

(26,92%), siswa yang memperoleh skor 70 ada 12 orang (46,15%), siswa yang

memperoleh skor 60 ada 2 orang (7,69%). Dari keseluruhan skor deskripsi

awal pembelajaran Matematika dapat disimpulkan bahwa ada 12 siswa

(46,15%) dari jumlah keseluruhan siswa yang dinyatakan lulus atau tuntas
78

sedangkan 14 siswa (53,84%) dinyatakan belum lulus/tuntas. Pada siklus

pertama ini pembelajaran Matematika dengan menggunakan metode NHT (

Number Head Together) dapat disimpulkan bahwa ada 12 siswa (46,15%)

sedangkan 5 siswa (53,84 %) sebagian kecil siswa dinyatakan belum lulus atau

tuntas. Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa hasil skor tes pada siklus

pertama jumlah siswa yang masuk kategori A ada 5 siswa, yang masuk

kategori B sebanyak 7 orang siswa, yang masuk kategor C sebanyak 12 orang

dan yang termasuk kategori D atau kurang ada 2 siswa. Rata-rata siklus 1 =

74,80 %. Ini membuktikan pembelajaran pada siklus ini belum sesuai dengan

harapan perlu ada tindak lanjut pada siklus berikutnya.

2) Hasil Non Tes Siklus 1

a. Hasil Angket Siklus 1

Berdasarkan hasil angket yang disebar kepada siswa setelah selesai

pembelajaran Matematika diperoleh data sebagai berikut:

Angket pertama yaitu sikap siswa terhadap pelajaran Matematika

menunjukan bahwa 40% atau sebagian besar menjawab sangat

setuju, 10% atau sebagian kecil menjawab setuju, 20% menyatakan

tidak setuju, dan sisanya 30% atau hampir setengahnya menyatakan

sangat tidak setuju. Sedangkan angket jenis kedua tentang peskoran


79

terhadap pembelajaran Matematika dengan menggunakan model

NHT (number head together) adalah 40% atau sebagian kecil

menjawab sangat setuju, 30% atau sebagian kecil menyatakan

setuju, 20% atau hampir setengahnya menyatakan tidak setuju, dan

10% atau hampir setengahnya menyatakan sangat tidak setuju.

Berdasarkan hasil angket ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan

model NHT (number head together) pada pembelajaran

Matematikadalam siklus 1 belum diminati seluruh siswa.

b. Hasil Jurnal Siklus 1

Berdasarkan hasil jurnal yang dibuat siswa mengenai pembelajaran

Matematika dengan menggunakan model NHT (number head

together) disebutkan bahwa sebagian kecil siswa (2 orang)

menyatakan penggunaan NHT (number head together) belum

mampu meningkatkan minat dan pemahaman siswa dan sebagian

besar (24 orang) menyatakan pembelajaran Matematika dengan

menggunakan model NHT (number head together) sangat

menyenangkan.

c. Hasil Observasi Siklus 1

Hasil observasi yang dilakukan oleh observer terhadap aktivitas

belajar siswa selama proses pembelajaran Matematika dengan


80

menggunakan model NHT (number head together)pada

pelaksanaan siklus pertama tersusun dalam tabel berikut.

Tabel 4.13

Hasil Observasi pada Kegiatan Pembelajaran Matematika

No. Urut Aspek yang dinilai


Ket.
Siswa A B C D E

1 1 2 1 1 1

2 2 1 2 2 3 A. Kekatifan

3 1 2 1 1 2 B. Kerjasama

4 1 2 1 1 1 C. Disiplin

5 2 2 1 1 2 D. Perhatian

6 3 3 3 3 3 E. Tanggung

7 3 3 3 3 3 Jawab

8 2 3 3 3 3

9 3 1 2 2 2

10 1 1 3 3 3

11 3 2 1 1 1
81

No. Urut Aspek yang dinilai


Ket.
Siswa A B C D E

12 1 2 2 2 2

13 3 3 2 2 3

14 2 2 1 1 1

15 3 1 1 1 2

16 2 1 2 2 3

17 2 2 2 2 2 Kategori

18 2 2 1 1 1

19 2 1 2 2 1 1 = Kurang

20 2 2 2 2 3 2 = Sedang

21 1 2 2 2 3 3 = Baik

22 3 3 3 3 3

23 2 2 3 3 3

24 2 2 2 2 3

25 2 1 1 1 1

26 3 3 2 2 3

∑ Kategori 8 6 5 10 11
3

∑ Kategori 12 12 11 10 6
2
82

No. Urut Aspek yang dinilai


Ket.
Siswa A B C D E

∑ Kategori 6 8 10 6 9
1

Tabel 4.14

Persentase Hasil Observasi Pembelajaran Matematika

Kategori
No. Aspek yang diskor Ket.
1 2 3

1. Keaktifan 26,66% 43,33% 30,00% 1 = Kurang

2. Kerjasama 33,33% 46,66% 20,00% 2 = Sedang

3. Disiplin 36,66% 43,33% 20,00% 3 = Baik

4. Perhatian 23,33% 33,33% 43,33%

5. Tanggung Jawab 33,33% 23,33% 43,33%

Berdasarkan data pada tabel di atas, menunjukan bahwa

proses pembelajaran Matematika pada materi perkalian dua


83

bilangan dengan menggunakan NHT (number head together)

pada pembelajaran Matematika kelas IV SD Negeri Neglasari

jika dilihat dari aspek keaktifan terdapat 9 siswa yang

keaktifannya tinggi atau (34,61%), yang keaktifannya sedang

ada 15 orang siswa (57,69%) dan siswa yang keaktifannya

kurang ada 2 siswa (7,69%). Dari aspek kerjasama, siswa yang

kerjasamanya tinggi ada 12 orang siswa (46,15%), siswa yang

kerjasamanya sedang ada 9 orang (34,62,00%) dan siswa yang

kerjasamanya kurang ada 5 orang siswa (19,23%). Dari aspek

disiplin, siswa yang disiplinya tinggi ada 10 orang (38,46%),

siswa yang disiplinnya sedang ada 11 orang (42,31%), siswa

yang disiplinya kurang ada 5 orang (19.23%). Dari aspek

perhatian, siswa yang perhatiannya tinggi ada 13 orang

(50,00%), siswa yang perhatiannya sedang ada 10 orang siswa

(38,46%), dan siswa yang perhatiannya kurang ada 3 orang

(11,54%). Dari aspek tanggung jawab siswa yang tanggung

jawabnya tinggi ada 16 orang (61,54%), siswa yang tanggung

jawabnya sedang ada 8 orang (30,72%), dan siswa yang

tanggung jawabnya kurang ada 2 orang (7,69%)

d. Hasil Wawancara Siklus 1


84

Untuk mengetahui persepsi siswa terhadap penerapan model

NHT (number head together) pada pembelajaran Matematika

yang telah dilaksanakan, guru melaksanakan wawancara

dengan 7 orang orang siswa yang sudah dipilih berdasarkan

kategorisasi tes hasil belajar.

Hasil wawancara dengan siswa tentang materi dan

penampilan guru ketika dalam proses pembelajaran dikatakan

sebagain kecil siswa (2 orang) menyatakan sangat menarik.

Kemudian perasaan siswa ketika mengikuti pembelajaran

seluruh siswa menyatakan tidak tertekan. Sedangkan menjawab

pertanyaan tentang penerapan NHT (number head together),

sebagian besar siswa (5 orang) menyatakan senang, sebagian

yang lain yakni 2 orang lagi menyatakan kurang senang. Dari

sebagian siswa yang menyatakan senang mereka beralasan

bahwa dengan NHT (number head together) dapat melatih

keterampilan berpikir dan keberanian bertanya. Sedangkan

sebagian siswa yang lain yang menyatakan kurang senang

beralasan bahwa pembelajaran Matematika dengan

menggunakan NHT (number head together) kurang menarik dan

kurang dapat dipahami.


85

3. Hasil Penelitian pada Siklus kedua

1. Hasil Tes Siklus 2

a) Hasil tes Kelompok Siklus 2

Berdasarkan hasil tes kelompok pada siklus kedua didapatkan skor-

skor seperti tercantum dalam tabel berikut:

Tabel 4.15

Skor Hasil Tes Siklus 2 Pembelajaran Matematika di Kelas III

SD Negeri Neglasari

KKM: 75

NILAI PRA
NO. NAMA SISWA KET
SIKLUS 2

1 80 Tuntas
ACHKAM AL'ADLI
2 100 Tuntas
AHMAD FIKRI ARDA BILLY
3 60 Belum tuntas
ADNAN NAUFAL HISYAM
4 100 Tuntas
AKSAN KAMIL
5 70 Belum tuntas
ANNISHA PURBA SARI
6 100 Tuntas
AQILA NUR MAULIDA
7 80 Tuntas
ARISKA ADHARAYA
8 100 Tuntas
AUFA RAIS DARMAWAN
9 AUQILIA PRISILIA SASMITA 80 Tuntas
86

PELANGI
10 80 Tuntas
AZKA ALDRIC BIMANSYAH
11 100 Tuntas
AZRIL MAULANA YUSUP
12 80 Tuntas
FHIRA ANGGRAENI
13 100 Tuntas
HAIFA SALSABILA
14 100 Tuntas
HAKLIS PUTRA
15 80 Tuntas
HASNA NABILA TIRTANA
16 80 Tuntas
M. ZAHRAN FIRDAUS
17 100 Tuntas
MOH. ELVAN ANGGARA
18 80 Tuntas
MOH ZAMILUDIN
19 100 Tuntas
MUHAMAD RIZKIAN
20 MUHAMMAD ERZI BO'A 80 Tuntas
SAPUTRA
21 100 Tuntas
MUHAMMAD TRIMANSYAH
22 80 Tuntas
NAFISA ZAHIRA RAFIFA
23 100 Tuntas
NENG ANA APRILIA
24 80 Tuntas
NIKO ALDIANSYAH
25 100 Tuntas
NURHADI IZJI TURTUSY
26 100 Tuntas
SILVA DEANOVAN
Jumlah 2.310

Rata-rata 88,85
87

Tabel 4.16

Pengelompokan berdasarkan skor

Kategori Skor Frekuensi Persen Keterangan

A 100 < A < 90 13 50,00 T

B 89 < B < 79 11 42,30 T

C 78 < C < 68 1 03,85 BT

D 67 < D <57 1 03,85 BT

Jumlah 26 100 %

Grafik 4.17 Pengelompokan Pembelajaran Siklus 2


88

Berdasarkan data pada tabel di atas menunjukan bahwa semua

kelompok yang dinyatakan lulus pada siklus kedua. Ini menunjukan

bahwa pembelajaran Matematika pada pokok bahasan alat indera

mata manusia dengan menggunakan model NHT (number head

together) dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

b) Hasil Tes Formatif Siklus 2

Data pada tabel di atas menunjukan perolehan skor pada siklus

ke dua pembelajaran Matematika dengan menggunakan model NHT

(number head together), yaitu siswa yang memperoleh skor 100 ada

13 orang siswa (50,00%) atau setengahnya dari jumlah, siswa yang

memperoleh skor 80 ada 11 orang siswa (42,30%) atau hampir

setengahnya dati jumlah, siswa yang memperoleh skor 70 ada 1

orang siswa (03,85%) atau sebagian kecil, dan siswa yang

memperoleh skor 60 ada 1 orang siswa (03,85%) hanya sebagian

kecil. Dari keseluruhan skor pada siklus kedua ini pembelajaran

Matematika dengan menggunakan model NHT (number head

together) dapat disimpulkan bahwa ada 24 siswa (92,31%) hampir

seluruhan siswa yang dinyatakan lulus atau tuntas sedangkan 2 siswa

(1,70%) siswa dinyatakan belum lulus.


89

Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa hasil skor tes pada

siklus kedua jumlah siswa yang masuk kategori A ada 13 orang siswa,

sedang jumlah siswa yang masuk kategori B sebanyak 11 orang, yang

masuk kategori C ada 1 orang dan yang masuk kategori paling bawah

yaitu kategori D ada 1 siswa dinyatakan tidak tuntas. Ini

membuktikan pembelajaran pada siklus ini sudah sesuai dengan

harapan yaitu tingkat ketuntasan 92,31 % lebih dari target 75 %..

2. Hasil Non Tes Siklus 2

a) Hasil Angket Siklus 2

Berdasarkan hasil angket yang disebar kepada siswa setelah

selesai pembelajaran Matematika diperoleh data, angket pertama

yaitu sikap siswa terhadap pelajaran Matematika, menunjukan

bahwa 60% atau lebih dari setenganhnya menjawab sangat setuju,

30% atau hampir setengahnya menjawab setuju, 10% atau sebagian

kecil menyatakan tidak setuju, dan sisanya 0% atau sebagian kecil

menyatakan sangat tidak setuju.

Sedangkan angket jenis kedua tentang peskoran terhadap

pembelajaran Matematika dengan menggunakan model NHT

(number head together) adalah 70% atau hampir setengahnya

menjawab sangat setuju, 20% atau hampir setengahnya menyatakan


90

setuju, 10% atau sebagian kecil menyatakan tidak setuju, dan 0%

atau tidak ada seorang pun yang menyatakan sangat tidak setuju.

Berdasarkan hasil angket ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan

model picture and picture pada pembelajaran Matematika dalam

siklus 2 sudah diminati siswa.

b) Hasil Jurnal Siklus 2

Setelah pelaksanaan tindakan pada siklus ke dua, hasil jurnal

yang dibuat siswa mengenai pembelajaran Matematika dengan

menggunakan NHT (number head together) disebutkan bahwa

hampir sebagian besar siswa (24 orang) menyatakan penggunaan

model NHT (number head together) dapat meningkatkan minat dan

pemahaman siswa dan sebagian kecil lainnya (2 orang) menyatakan

pembelajaran Matematika dengan menggunakan model NHT

(number head together) kurang menyenangkan.

c) Hasil Observasi Siklus 2

Hasil observasi yang dilakukan oleh observer terhadap aktivitas

belajar siswa selama proses pembelajaran Matematika dengan

menggunakan model NHT (number head together) pada pelaksanaan

siklus kedua tersusun dalam tabel berikut.

Tabel 4.18
91

Hasil Observasi pada Kegiatan Pembelajaran

Siklus kedua

No. Urut Aspek yang diskor


Ket.
Siswa A B C D E

1 2 2 1 1 1

2 3 3 3 3 3 A. Keaktifan

3 2 3 3 3 3 B. Kerjasama

4 3 1 2 2 2 C. Disiplin

5 3 3 3 3 3 D. Perhatian

6 2 2 3 3 3 E. Tanggung

7 2 2 2 2 3 Jawab

8 2 2 1 1 1

9 3 3 3 3 3

10 2 3 3 3 3

11 3 1 2 2 2

12 3 3 3 3 3

13 2 2 3 3 3

14 2 2 2 2 3

15 3 3 3 3 3

16 2 1 2 2 3 Kategori
92

No. Urut Aspek yang diskor


Ket.
Siswa A B C D E

17 2 2 2 2 2

18 2 2 1 1 1 1 = Kurang

19 2 2 1 1 1 2 = Sedang

20 3 3 3 3 3 3 = Baik

21 2 3 3 3 3

22 3 1 2 2 2

23 3 3 3 3 3

24 2 2 1 1 1

25 3 3 3 3 3

26 2 3 3 3 3

∑ Kategori 3 11 12 14 14 17

∑ Kategori 2 15 10 7 7 4

∑ Kategori 1 0 4 5 5 5

Tabel 4.19
93

Persentase Hasil Observasi Pembelajaran Matematika

Kategori
No. Aspek yang diskor Ket.
1 2 3

1. Keaktifan 0 56,6 43,33 1 = Kurang

2. Kerjasama 16,6 7 43,33 2 = Sedang

3. Disiplin 7 40 53,33 3 = Baik

4. Perhatian 16,6 30 53,33

5. Tanggung Jawab 7 30 66,67

16,6 16,6

7 7

16,6

Berdasarkan data pada tabel di atas, menunjukan bahwa proses

pembelajaran dengan penerapan model NHT (number head together)

pada pembelajaran Matematika kelas IV SD Negeri Neglasari

Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor pada kompetensi dasar

pentingnya perkalian jika dilihat dari aspek keaktifan terdapat 15 siswa

yang keaktifannya tinggi atau (57,69%), yang keaktifannya sedang ada


94

11 orang siswa (42,31%) dan siswa yang keaktifannya kurang, tidak

ada. Dari aspek kerjasama, siswa yang kerjasamanya tinggi ada 13

orang siswa (50,00%), siswa yang kerjasamanya sedang ada 11 orang

(42,30%) dan siswa yang kerjasamanya kurang ada 2 orang siswa

(7,70%). Dari aspek disiplin, siswa yang disiplinnya tinggi ada 14 orang

(53,85%), siswa yang disiplinnya sedang ada 10 orang (38,45%), siswa

yang disiplinya kurang ada 2 orang (7,70%). Dari aspek perhatian, siswa

yang perhatiannya tinggi ada 13 orang (50,00%), siswa yang

perhatiannya sedang ada 11 orang siswa (42,30%), dan siswa yang

perhatiannya kurang ada 2 orang (07,70%). Dari aspek tanggung jawab

siswa yang tanggung jawabnya tinggi ada 16 orang (61,54%), siswa

yang tanggung jawabnya sedang ada 8 orang (30,76%), dan siswa yang

tanggung jawabnya kurang ada 2 orang (07,70%)

d) Hasil Wawancara Siklus 2

Untuk mengetahui persepsi siswa terhadap penerapan NHT

(number head together) pada pembelajaran Matematika yang telah

dilaksanakan, guru melaksanakan wawancara dengan 5 orang siswa

yang sudah dipilih berdasarkan kategorisasi tes hasil belajar.

Hasil wawancara dengan siswa tentang materi dan penampilan

guru ketika dalam proses pembelajaran dikatakan sebagain besar


95

siswa (4 orang) menyatakan sangat menarik. Kemudian perasaan

siswa ketika mengikuti pembelajaran seluruh siswa menyatakan tidak

tertekan. Sedangkan menjawab pertanyaan penerapan model NHT

(number head together) sebagian besar siswa (4 orang) menyatakan

senang, 1 orang lagi menyatakan kurang senang. Dari sebagian siswa

yang menyatakan senang mereka beralasan bahwa dengan model

NHT (number head together) dapat melatih keterampilan berpikir

dan keberanian bertanya. Sedangkan sebagian siswa yang lain yang

menyatakan kurang senang beralasan bahwa pembelajaran

Matematika dengan menggunakan model NHT (number head

together) kurang menarik dan kurang dapat dipahami.

B. Pembahasan

1. Siklus 1

a. Perencanaan

Hasil penelitian ini terbagi menjadi dua siklus, yang dimulai dari

refleksi awal. Refleksi awal dilaksaanakaan dengan melakukan

pengamatan pendahuluan untuk mengetahui kondisi awal dilakukan oleh

pengamat kelas, yakni rekan sejawat. Hasil refleksi awal dipergunakan


96

untuk menetapkan dan merumuskan rencana tindakan yaitu menyusun

strategi awal pembelajaran.

Berdasarkan hasil pengamatan pendahuluan ditemukan bahwa

selama pembelajaran berlangsung sebagian besar siswa cenderung

kurang berminat menyelesaikan soal-soal latihan, dan guru harus selalu

mengingatkan agar siswa mengerjakan latihan, kurang memperhatikan

penjelasan guru, kurang bersemangat dan cenderung pasif, tidak aktif

dalam mengemukakan pendapat atau bertanya dalam mengikuti proses

pembelajaran.

Minat belajar siswa dalam pembelajaran kurang ditandai dengan

banyaknya siswa selama pembelajaran berlangsung tidak ada minat

untuk segera menyelesaikan soal-soal latihan khususnya perkalian mata

manusia Minat untuk bertanya juga kurang karena siswaa cenderung

pasif pada waktu guru memberikan pertanyaan atau saat guru

memberikan tugas.

Selanjutnya dilakukan refleksi atau pemaknaan terhadap perilaku

siswa tersebut. Berdasarkan hasil refleksi dapat disimpulkan bahwa siswa

kurang berminat dan kurang terampil dalam menyelesaikan masalah alat

indera mata manusia


97

Kegiatan pembelajaran alat indera mata manusia dapat disajikan

dengan menggunakan strategi atau pendekatan dan penggunaan media

pembelajaran yang menarik dan dapat mengatasi permasalahan tersebut,

yaitu model NHT (number head together). Akhirnya kegiatan

pembelajaran dapat berjalan dengan wajar, motivasi belajar siswa

meningkat, dan pada akhirnya pestasi belajar siswa meningkat.

Pada tahap ini, peneliti menyusun rencana-rencana yang akan dilakukan

pada saat pembelajaran, meliputi:

1. Menentukan topik bahasan berdasarkan kurikulum 2013, yaitu materi

memahami pentingnya perkalian

2. Menyusun rencana pembelajaran yang mencakup:

a) Mengkaji standar kompetensi untuk SD kelas III semester 1, yaitu

Memahami pentingnya perkalian

b) Membuat indikator, yaitu:

 Menjelaskan pengertian perkalian

 Menjelaskan fungsi perkalian

 Memberikan contoh perkalian

c) Menyediakan sarana/ alat : Buku siswa dan lembar kerja siswa.

d) Membuat instrumen pembelajaran yang meliputi RPP dan LKS

tentang materi perkalian


98

e) Menyediakan alat-alat dan media yang digunakan.

f) Membuat jadwal pelaksanaan penelitian serta proses pembelajaran

dengan mempergunakan model NHT (number head together).

g) Menyediakan instrumen observasi dan instrumen tes

h) Menyiapkan daftar skor

i) Membentuk kelompok kecil yang terdiri dari 4 orang secara

heterogen

j) Menjelaskan tentang penerapan media pembelajaran.

b. Pelaksanaan Tindakan

Pada tahap ini peneliti akan melakukan kegiatan pembelajaran di

kelas dengan model pembelajaran berdasarkan masalah sesuai dengan

rencana pelajaran (RP). Selama pelaksanaan pembelajaran peneliti dan 2

orang pengamat akan melakukan observasi terhadap jalannya

pembelajaran, setelah proses tersebut selesai peneliti dan pengamat

akan melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang telah berlangsung,

hasil refleksi akan dipakai untuk memperbaiki dan menyusun perangkat

pembelajaran untuk siklus berikutnya. Pembelajaran dalam penelitian ini


99

berlangsung dalam siklus-siklus yang saling berkaitan. Garis besar

pelaksanaan pembelajaran pada setiap siklus adalah melakukan

pembelajaran dengan memakai strategi belajar media pembelajaran

berdasarkan masalah.

Adapun langkah-langkah pelaksanaan strategi belajar ini adalah :

Pendahuluan

1. Guru masuk kelas dan mengucapkan salam

2. Guru mengkondisikan siswa untuk belajar dan mengatur tempat duduk

siswa, berdo’a dan mengabsen siswa.

3. Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang tujuan pembelajaran

dan kegiatan yang akan dilaksanakan.

4. Tanya jawab antara siswa dan guru yang berhubungan dengan materi

pembelajaran.

Kegiatan Inti

1. Siswa dibagi menjadi 6 kelompok, setiap kelompok terdiri atas 4 dan 5

orang.

2. Siswa memperhatikan penjelasan guru tentang hal-hal yang akan

dikerjakan dalam diskusi kelompok

3. Guru memberi kesempatan kepada siswa untk bertanya tentang cara

mengerjakan materi perkalian


100

4. Guru membagikan LKS kepada siswa dalam kelompok.

5. Guru membimbing siswa yang sedang mengerjakan LKS

6. Setiap kelompok melaporkan hasil kerjanya dan membacakan di depan

kelas dan kelompok lain menanggapinya.

Penutup

1. Siswa bersama guru membahas hasil diskusi kelompk

2. Menyimpulkan hasil pembahasan materi

3. Mengerjakan latihan soal

c. Observasi

Pembahasan

Berdasarkan hasil observasi dan tes formatif pada siklus pertama dapat

disimpulkan beberapa hal yaitu sebagai berikut:

1. Hasil tes formatif pada siklus 1 bila dibandingkan dengan skor awal ada

beberapa perubahan. Perubahan tersebut cenderung mengerah ke

perbaikan. Dari 26 orang siswa yang mengalami perubahan baik dari

skor awal ada 24 orang siswa. Sedangkan siswa yang memiliki skor

tidak berubah ada 2 orang siswa . Dari 2 orang siswa yang nilai tesnya

tidak mengalami perubahan disebabkan karena kurang


101

memperhatikan penjelasan guru sedangkan 5 orang siswa dan tingkat

konsentrasi serta pemahamannya kurang baik.

2. Pada saat pembelajaran berlangsung sebagian besar siswa cenderung

kurang berminat menyelesaiakn soal-soal latihan, dan guru harus

selalu mengingatkan agar siswa mengerjakan latihan, kurang

memperhatikan penjelasan guru, kurang bersemangat dan cenderung

pasif, tidak aktif dalam mengemukakan pendapat atau bertanya dalam

mengikuti proses pembelajaran.

3. Minat belajar siswa dalam pembelajaran kurang ditandai dengan

banyaknya siswa selama pembelajaran berlangsung tidak ada minat

untuk segera menyelesaikan lembar kerja siswa.

4. Minat untuk bertanya juga kurang karena siswaa cenderung pasif pada

waktu guru memberikan pertanyaan atau saat guru memberikan

tugas.

d.Refleksi

1. Pada kegiatan awal guru perlu terus-menerus memotivasi siswa agar

aktif selama pembelajaran

2. Pada kegiatan di kelompok, keaktifan siswa perlu ditingkatkan dengan

cara memberi penghargaan kepada anggota kelompok yang yang

masih mengalami kesulitan di dalam menerapkan media pembelajaran


102

benda asli. Guru harus memberi pelayanan menyeluruh kepada semua

kelompok siswa untuk memberi pelayanan yang maksimal kepada

siswa, setiap kelompok diberi waktu untuk mempresentasikan hasil

kerjanya dan kemudian ditanggapi dan disempurnakan

3. Agar interaksi antar siswa tampak aktif, setiap siswa diberi kesempatan

untuk bertanya kepada teman sebaya.

2. Siklus 2

a. Perencanaan

1. Menyusun dan mempersiapkan perbaikan instrumen pembelajaran

yang meliputi RPP dan LKS tentang materi alat indera mata manusia

2. Mempersiapkan alat-alat dan media yang digunakan, yaitu media

pembelajaran benda asli dan semi riil.

3. Menambah waktu diskusi kelompok agar setiap kelompok mendapat

kesempatan mempresentasikan hasil kerja kelompoknya

4. Mempersiapkan instrumen observasi dan instrumen tes

5. Mempersiapkan daftar skor

6. Pembentukan kelompok yang terdiri dari 4 dan 5 orang secara

heterogen

7. Penjelasan tentang penerapan model pembelajaran berdasarkan

masalah.
103

b. Pelaksanaan Tindakan

Pada tahap ini peneliti akan melakukan kegiatan pembelajaran di

kelas dengan model pembelajaran berdasarkan masalah sesuai dengan

rencana pelajaran (RP). Selama pelaksanaan pembelajaran peneliti dan 2

orang observer akan melakukan observasi terhadap jalannya

pembelajaran, setelah proses tersebut selesai peneliti dan pengamat

akan melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang telah berlangsung,

hasil refleksi akan dipakai untuk memperbaiki dan menyusun perangkat

pembelajaran untuk siklus berikutnya. Pembelajaran dalam penelitian ini

berlangsung dalam siklus-siklus yang saling berkaitan. Garis besar

pelaksanaan pembelajaran pada setiap siklus adalah sebagai berikut :

1. Menyusun Rencana pelajaran (RP).

2. Melakukan pembelajaran dengan memakai model pembelajaran NHT

(Number Head Together)

Adapun langkah-langkah pelaksanaan strategi belajar ini adalah :

Pendahuluan

1. Guru mengkondisikan siswa untuk belajar dan mengatur tempat duduk

siswa secara berkelompok.

2. Berdo’a dan mengabsen

3. Tanya jawab guru dan siswa yang berhubungan dengan materi


104

4. Siswa menyiapkan benda-benda yang telah ditugaskan sebelumnya.

Kegiatan Inti

1. Siswa memperhatikan penjelasan guru tentang hal-hal yang akan

dikerjakan dalam diskusi kelompok

2. Guru membagikan LKS kepada siswa dalam kelompok.

3. Guru membimbing siswa yang sedang mengerjakan LKS

4. Setiap kelompok melaporkan hasil kerjanya dan membacakan di depan

kelas dan kelompok lain menanggapinya.

5. Siswa bersama kelompok guru membahas hasil diskusi kelompok.

Penutup

1. Siswa bersama guru menyimpulkan hasil diskusi kelompok.

2. Mengerjakan latihan soal

3. Guru memberikan pekerjaan rumah

c. Obsevasi

Pembahasan

Dalam siklus kedua, observasi dilakukan oleh teman sejawat

sebagai mitra kolaborator, kolaborator mencatat semua aktivitas yang

dilakukan oleh guru dan siswa selama proses pembelajaran, yaitu mulai

kegiatan awal hingga kegiatan akhir. Observasi dilakukan dengan

instrumen observasi. Hasil pengamatan sebagai berikut:


105

1.Berdasarkan hasil analisa terhadap skor tes formatif siklus 2 bila

dibandingkan dengan tes awal ada perubahan skor yang sangat

merata. Dari 26 siswa tidak ada satu orang siswa pun yang nilainya

nenurun. Hanya ada 2 orang siswa yang mendapat nilainya tetap tidak

berubah dari skor awal. Hal ini terjadi karena kekurang hati-hatian

siswa dalam menjawab soal pada tes formatif.

2. Siswa lebih aktif dalam bertanya apabila mereka merasa tidak bisa

mengerjkan soal latihan.

3. Siswa lebih aktif dalam menyelesaikan soal-soal tentang alat indera

mata manusia.

4. Siswa yang malas, cenderung ada peningkatan kinerjanya, mereka lebih

antusias menyelesaikan soal-soal tentang alat indera mata manusia.

d.Refleksi

1. Pada siklus ketiga guru harus lebih memotivasi siswa untuk lebih

berhasil, agar ketuntasan tercapai maksimal.

2. Pada kegiatan di kelompok, keaktifan siswa perlu ditingkatkan dengan

cara memberi penghargaan kepada siswa yang baik dalam hasil kerja

menyelesaikan soal-soal tentang alat indera mata manusia.

3. Setiap siswa diberi kesempatan bertanya dan mengemukakan

pendapat
106

3. Rekapitulasi Tes Formatif

Pembelajaran dengan model NHT (number head together) ini

menekankan pada kegiatan aktif siswa, karena semua siswa terlibat dalam

pembelajaran. Masing-masing kelompok diberi tugas untuk mendiskusikan

atau mengerjakan tugas secara bersama-sama.

Dilihat dari hasil pembelajaran mengalami peningkatan yang sangat

signifikan. Hal ini dapat dibandingkan dari hasil observasi awal, tes sumatif 1

dan tes sumatif 2. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4.20

REKAPITULASI HASIL EVALUASI

Nilai

No. NAMA Pra Siklus Siklus Ket.

siklus I II

1 50 80 80 T
ACHKAM AL'ADLI
2 70 80 100 T
AHMAD FIKRI ARDA BILLY
3 50 70 60 BT
ADNAN NAUFAL HISYAM
4 AKSAN KAMIL 80 100 100 T
107

Nilai

No. NAMA Pra Siklus Siklus Ket.

siklus I II

5 40 60 70 BT
ANNISHA PURBA SARI
6 70 80 100 T
AQILA NUR MAULIDA
7 100 100 80 T
ARISKA ADHARAYA
8 70 80 100 T
AUFA RAIS DARMAWAN
9 AUQILIA PRISILIA SASMITA 70 100 80 T
PELANGI
10 60 80 80 T
AZKA ALDRIC BIMANSYAH
11 80 100 100 T
AZRIL MAULANA YUSUP
12 70 100 80 T
FHIRA ANGGRAENI
13 60 80 100 T
HAIFA SALSABILA
14 70 100 100 T
HAKLIS PUTRA
15 50 80 80 T
HASNA NABILA TIRTANA
16 60 80 80 T
M. ZAHRAN FIRDAUS
17 80 80 100 T
MOH. ELVAN ANGGARA
18 60 80 80 T
MOH ZAMILUDIN
19 70 100 100 T
MUHAMAD RIZKIAN
20 MUHAMMAD ERZI BO'A 60 80 80 T
SAPUTRA
108

Nilai

No. NAMA Pra Siklus Siklus Ket.

siklus I II

21 100 80 100 T
MUHAMMAD TRIMANSYAH
22 60 80 80 T
NAFISA ZAHIRA RAFIFA
23 80 100 100 T
NENG ANA APRILIA
24 60 80 80 T
NIKO ALDIANSYAH
25 70 100 100 T
NURHADI IZJI TURTUSY
26 Siva Deanovan 100 80 100 T

Jumlah 1.790 2.230 2.310

Rata-rata 68,85 85,77 88,85

Grafik 4.21

Rata-Rata Hasil Tes Tiga Siklus


109

Berdasarkan data dalam tabel di atas dapat disimpulkan bahwa

hasil pembelajaran Matematika pada materi perkalian dua bilangan

dengan menggunakan model NHT (number head together) di kelas III

SD Negeri Neglasari Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor dapat

meningkatkan hasil belajar siswa dengan fakta siklus 2 dikurangi

prasiklus (88,85-68,85 = 20). Jadi ada kenaikan rata-rata 20.

Faktor lain yang mendukung keberhasilan pembelajaran

dukungan sarana pembelajaran di kelas yang relatif baik. Suasana

lingkungan belajar yang tenang, nyaman. Kemudian, pembawaan guru

yang baik, santun dalam berbahasa dan mampu memotivasi siswa

untuk belajar sehingga siswa merasa tidak tertekan dan terpaksa untuk

belajar Matematika.
110

Sedangkan Matematika dengan menggunakan model NHT

(number head together) adalah kebiasaan buruk siswa yang selalu

mementingkan kegiatan bermain dari pada belajar. Implikasinya adalah

proses pembelajaran harus selalu dipantau secara maksimal.

BAB V
KESIMPULAN

A. Simpulan
111

Berdasarkan hasil penelitian melalui dua siklus, bahwa dengan

menerapkan model pembelajaran NHT (Number Head Together) maka dapat

disimpulkan:

1. Terdapat peningkatan pemahaman siswa mengenai perkalian dua bilangan

setelah menggunakan model NHT (Number Head Together)

2. Menemukan pembelajaran yang efektif jika NHT (Number Head Together)

dillaksanakan dengan baik, benar dan tepat.

Adapun hasil belajar siswa tentang perkalian dua bilangan setelah

mengikuti pembelajaran dengan model NHT (Number Head Together)

menunjukan perkembangan sebagai berikut:

 Pada akhir siklus 1, dari 26 siswa rata- rata 74,80 , dengan kategori A, B dan

C dengan keterangan Tuntas yakni 46,15 % yaitu 12 siswa.

 Pada akhir siklus II, dari 26 siswa rata-rata 88,85 mencapai KKM dengan

kategori A, B dan C mencapai 92,30 % Yaitu 24 siswa .

B. Saran

Berdasarkan simpulan yang diperoleh dari hasil penelitian, maka peneliti

menyarankan hal- hal sebagai berikut:


112

1. Kepala sekolah diharapkan untuk memberikan dukungan kepada guru agar

menerapkan model NHT (Number Head Together) dalam pelaksanaan

kegiatan pembelajaran.

2. Untuk Guru- guru Sekolah Dasar disarankan agar lebih mengenal dan

mempelajari berbagai model khususnya model NHT (Number Head

Together)

3. Guru dapat mengoptimalkan media yang ada di sekolah .

4. Guru dapat memilih media yang lebih efisien murah dan mudah dibuat

5. Bagi peneliti lain hendaknya melanjutkan dan lebih mengembangkan lagi

penelitian yang lebih luas terhadap faktor- faktor penyebab terjadinya

masalah yang teliti.

Peneliti menyadari bahwa hasil penelitian ini belum sempurna , maka perlu

dilakukan tindakan di sekolah/ kelas lain sehingga dapat menyempurnakan

hasil penelitian ini.

Anda mungkin juga menyukai