BAB I
PENDAHLUAN
A. Latar Belakang Masalah
Menurut Undang - Undang Nomor 20 tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1
(satu) ayat 1 bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak
mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Berdasarkan undang undang di atas dikatakan bahwa guru diharapkan dapat terampil
dalam membuat silabus, prota (program tahunan), prosem (program semester), RPP (Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran), jurnal analisis dan penilaian serta materi pembelajaran. Selain itu
guru harus dapat menciptakan suasana yang menyenangkan dalam kegiatan pembelajaran . Hal
tersebut bisa diwujudkan dengan penggunaan berbagai model dan media yang disesuaikan
dengan materi pembelajan. Penggunaan model dan media yang tepat akan membuat siswa
menjadi subyek yang memiliki keterampilan dan kecakapan dalam belajar seperti pada mata
pelajaran Matematika.
Matematika merupakan salah satu ilmu dasar yang memiliki peran penting dalam dunia
pendidikan dan dalam kehidupan sehari-hari. Pentingnya peran matematika, maka perlu
mendapat perhatian yang serius, karena pembelajaran matematika di sekolah merupakan peletak
konsep dasar yang menjadi landasan untuk belajar ke jenjang selanjutnya. Kompetensi
matematika diperlukan untuk mempersiapkan siswa dalam menghadapi perubahan keadaan dan
pola pikir dalam kehidupan di dunia yang selalu berkembang. Sehingga apabila telah memahami
50
51
konsep matematika secara mendasar, konsep tersebut dapat di terapkan dalam kehidupan sehari-
hari. Selain itu, berkembangnya teknologi dan komunikasi saat ini juga tidak terlepas dari adanya
campur tangan matematika. Sesuai dengan pendapat Turmudi (2008 : 3), bahwa matematika
berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari sehingga dengan segera siswa akan mampu
menerapkan matematika dalam konteks yang berguna bagi siswa, baik dalam dunia
kehidupannya, ataupun dalam dunia kerja.
Oleh karena itu, matematika diberikan pada semua peserta didik mulai dari tingkat dasar
hingga menengah untuk membekali siswa dengan kemampuan berfikir secara logika. Dengan
berfikir secara logika, siswa dapat mengikuti alur kehidupan di era modern saat ini. Namun disisi
lain tidak sedikit siswa yang menganggap matematika merupakan pelajaran yang sulit. Anggapan
siswa terhadap matematika sebagai mata pelajaran yang sulit salah satunya karena faktor ketidak
pahaman konsep. Banyak siswa yang sudah merasa takut sebelum mereka benar-benar
mempelajari dan akhirnya banyak siswa yang kurang tertarik terhadap matematika. Nasution
(2011:9), juga menyatakan rendahnya penalaran matematis siswa disebabkan guru hanya
menerapkan materi pelajaran dilengkapi dengan contoh dan latihan rutin, namun ketika diberi
soal tidak rutin siswa mengalami kesulitan harus bekerja dari mana.
Berdasarkan wawancara pra penelitian terhadap guru kelas di SD Negeri Neglasari
diperoleh informasi bahwa hasil belajar matematika khususnya pada materi perkalian dan
pembagian siswa terbilang rendah. Hal ini dibuktikan dengan masih adanya beberapa nilai
Matematika siswa pada materi perkalian yang belum tuntas Kriteria Ketuntasan Minimun
sehingga mempengaruhi pada materi selanjutnya. Guru kelas juga mengatakan bahwa siswa
kurang memberikan umpan balik saat proses pembelajaran. Hal ini dikarenakan penggunaan
metode dan media yang kurang bervariasi seperti ceramah, sehingga siswa kesulitan dalam
52
menerima materi dan tidak dapat mengingat konsep yang lebih lama pada materi perkalian. Saat
pembelajaran, di SD tersebut masih jarang guru yang menggunakan media khususnya pada
pembelajaran matematika, sebagian guru hanya mengajar di depan kelas menggunakan papan
tulis. Sedangkan siswa hanya mendengarkan dan memperhatikan penjelasan guru tanpa
dilibatkan dalam proses menemukan konsep/materi yang diajarkan secara mandiri sehingga
siswa merasa jenuh dan lama-lama siswa kurang memperhatikan materi yang sedang disampaikan
guru. Hal ini menjadikan siswa tidak paham materi sehingga tujuan pembelajaran siswa tidak bisa
tercapai secara maksimal.
Upaya peningkatan hasil belajar membutuhkan proses belajar mengajar yang optimal.
Pemilihan model dan media yang cocok sangatlah penting dan berpengaruh terhadap
kemampuan siswa dalam memahami materi yang diajarkan guru, sehingga proses belajarpun
akan berjalan dengan maksimal. Begitu pula sebaliknya, jika model dan media yang dibawakan
atau digunakan kurang, bahkan tidak menarik maka proses belajarpun tidak akan berjalan
maksimal karena siswa akan menjadi pasif. Hasil dari wawancara di SD Negeri Neglasari
menunjukkan hasil belajar matematika lebih rendah dibandingkan dengan mata pelajaran yang
lain. Guru menyatakan bahwa siswa sulit dalam mencerna materi perkalian jika hanya dilakukan
dengan menggunakan papan tulis dan logika. Karena itu, bayak siswa yang hanya diam,
mengantuk dan bermain-main sendiri pada saat pembelajaran matematika berlangsung. Siswa
juga enggan bertanya tentang kejelasan materi karena malu dan takut.
Bila masalah tersebut diabaikan terus menerus maka akan berpengaruh pada kemampuan
kognitif siswa dan tentunya akan mempengaruhi pada materi selanjutnya. Sehingga, hasil belajar
siswa akan terus menurun, padahal pendidikan matematika khususnya pada materi perkalian dan
pembagian sangatlah dibutuhkan dalam kehidupan sehari hari baik di dunia pendidikan maupun
53
dunia kerja. Berbagai upaya telah dilakukan oleh guru, namun belum memperoleh hasil yang
memuaskan seperti pengaplikasian model diskusi,tanya jawab, maupun ceramah. Selain itu, guru
juga sudah memberikan soal-soal untuk belajar siswa namun belum juga mendapat hasil yang
maksimal, karena siswa juga belum bisa mengerjakan secara mandiri, mereka masih saling
mencontek daripada bertanya pada guru. Hal itu dikarenakan, bayak siswa yang masih sulit
memahami materi perkalian dan pembagian tetapi siswa malu dan takut bertanya langsung pada
guru.
Maka dari itu peneliti mencoba model Number Heads Together (NHT) untuk
meningkatkan hasil belajar matematika. Model pembelajaran Number Heads Together (NHT) ini
merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur-struktur
khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa, sehingga siswa akan lebih aktif
dan tidak merasa jenuh saat pembelajaran berlangsung. Penerapan model pembelajaran Number
Heads Together (NHT) yang menciptakan pembelajaran
menyenangkan sehingga dapat meningkatkan antusias siswa dan memudahkan pemahaman
siswa kelas rendah khususnya untuk menguasai materi perkalian dan pembagian.
Berdasarkan beberapa hal tersebut, peneliti akan menggunakan Model Pembelajaran
Number Head Together (NHT). Pada pembelajaran Matematika materi perkalian dua bilangan
cacah, dikarenakan ada beberapa peneliti sebelumnya yang menggunakan metode NHT memiliki
tingkat keberhasilan yang baik. Maka dari itu peneliti mencoba model Number Heads Together
(NHT) untuk meningkatkan hasil belajar matematika. Model pembelajaran Number Heads
Together (NHT) ini merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada
struktur-struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa, sehingga siswa
akan lebih aktif dan tidak merasa jenuh saat pembelajaran berlangsung. Penerapan model
54
pembelajaran Number Heads Together (NHT) yang menciptakan pembelajaran menyenangkan
sehingga dapat meningkatkan antusias siswa dan memudahkan pemahaman siswa kelas rendah
khususnya untuk menguasai
materi perkalian.
Kondisi faktual di tempat penelitian yaitu SDN Neglasari kecamatan
Jasinga Kabupaten Bogor adalah sebagai berikut:
1. Tidak tersedianya sarana dan prasarana yang memadai dalam menunjang proses belajar
mengajar
2. Guru hanya menggunakan beberapa metode dan model pembelajaran
3. Siswa belum terampil dan cakap dalam proses pembelajaran matematika
4. Pemecahan masalah dalam kegiatan belajar di kelas belum melibatkan semua siswa.
5. Siswa belum faham tentang materi khususnya perkalian dua bilangan
Bila kegiatan pembelajaran ini dibiarkan, maka proses pembelajaran dirasakan kurang
bermakna. Siswa tidak akan aktif, guru kurang kreatif, dan hasilnya keterampilan siswa kurang
sesuai dengan harapan. Untuk mengatasi hal ini, dirasakan perlu adanya upaya mengubah proses
pembelajaran dengan cara mencari metode yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan. Salah
satunya dengan menggunakan model pembelajaran NHT (Number Head Together).
55
Berdasarkan uraian diatas penulis bermaksud untuk mengadakan penelitian dengan judul
“ Upaya Meningkatkan Keterampilan Siswa Tentang Perkalian Dua Bilangan Pada Mata Pelajaran
Matematika Melalui Model
Pembelajaran NHT ( Number Head Together) dikelas III SD Negeri Neglasari
Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor”
B. Identifikasi Masalah
Mengingat luasnya permasalahan di atas, maka penulis mengidentifikasi masalahnya
sebagai berikut:
1. Bagaimana tingkat pemahaman siswa pada mata pelajaran Matematika tentang perkalian
dua bilangan di kelas III SD Negeri Neglasari Kecamatan Jasinga ?
2. Apa saja hambatan yang dihadapi guru dan siswa dalam kegiatan pembelajaran Matematika
di kelas ?
3. Bagaimana penggunaan model NHT (Number Head Together) dalam kegiatan pembelajaran
Matematika di kelas III SDN Neglasari Kecamatan Jasinga pada materi Perkalian Dua
Bilangan ?
4. Apa sajakah hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan model NHT
(Number Head Together)?
56
5. Bagaimana dampak penggunaan metode NHT(Number Head Together) erhadap tingkat
pemahaman siswa tentang Perkalian Dua Bilangan dalam kegiatan pembelajaran Matematika
di kelas III SDN Neglasari Kecamatan Jasinga?
6. Bagaimana guru mengevaluasi hasil belajar siswa dalam pembelajaran
Matematika?
7. Bagaimana guru memilih metode/model pembelajaran yang efektif ?
8. Apa kelemahan dan kelebihan model pembelajaran NHT (Number Head
Together)?
9. Bagaimana langkah-langkah pembelajaran menggunakan Model NHT
(Number Head Together)?
C. Fokus Masalah
Bersadarkan identifikasi masalah di atas, permasalahan dalam penelitian ini
dibatasi pada:
1. Bagaimana hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika tentang
perkalian dua bilangan pada mata pelajaran matematika di kelas III SDN Neglasari
Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor ?
2. Bagaimana guru menerapakan model NHT (Number Head Together) dalam
pembelajaran matematika di kelas III SDN Neglasari Kecamatan Jasinga
57
Kabupaten Bogor ?
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah, maka masalah
penelitian ini dikemukakan dalam pertanyaan “ Bagaimana cara meningkatkan
keterampilan siswa tentang perkalian dua bilangan pada mata pelajaran matematika
melalui model pembelajaran NHT ( Number Head Together) dikelas III SD Negeri
Neglasari Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor?
E. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data empiris mengenai
penggunaan model NHT ( Number Head Together) dalam meningkatkan keterampilan
siswa tentang perkalian dua bilangan pada mata pelajaran matematika melalui model
pembelajaran NHT ( Number Head Together) dikelas III SD Negeri Neglasari
Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor.
F. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoretis
Secara umum hasil penelitian dapat memberikan pengetahuan tambahan bagi
guru dalam pembelajaran matematika,utamanya pada peningkatan pemahaman siswa
58
tentang perkalian dua bilangan pada mata pelajaran matematika melalui model
pembelajaran NHT ( Number Head
Together) dikelas III SD Negeri Neglasari Kecamatan Jasinga Kabupaten
Bogor.
a. Mahasiswa sebagai masukan berupa informasi dan sumbangan tentang penggunaan
model pembelajaran NHT ( Number Head Together) dikelas III SD Negeri Neglasari
Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor.
b. STKIP Arrahmaniyah Depok, sebagai kajian dan acuan dalam menerapkan model
pembelajaran NHT ( Number Head Together) bagi siswa dan mahasiswanya.
2. Manfaat Praktis
a. Kepala sekolah dan guru-guru SD Negeri Neglasari Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor
sebagai masukan agar diterapkan NHT ( Number Head Together) terhadap mata
pelajaran matematika dan mata pelajaran lainnya, dengan harapan siswa lebih mudah
memahami materi yang
disajikan.
b. Guru,untuk mengetahui peran guru sebagai fasilitator,mengetahui kelemahan proses
pembelajaran sehingga dapat diperbaiki dan mengetahui langkah – langkah
pembelajaran yang efektif dan efisien agar keterampilan siswa tentang perkalian dua
bilangan meningkat.
c. Siswa,untuk mendorong siswa dalam memahami tujuan
pembelajaran,memotivasi siswa dan tidak jenuh dalam menerima pembelajaran
59
d. STKIP Arrahmaniyah Depok, sebagai kajian dan acuan dalam menerapkan model NHT (
Number Head Together) bagi siswa dan mahasiswanya.
G. Penelitian yang Relevan
Dibawah ini terdapat beberapa referensi tentang Skripsi Number Head
Together (NHT) sebegai berikut:
1. Chromeextension://efaidnbmnnnibpcajpcglclefindmkaj/https://repository.uk
sw.edu/bitstream/123456789/11023/7/T1_292012259_Judul.pdf
2. chromeextension://efaidnbmnnnibpcajpcglclefindmkaj/https://repository.me
trouniv.ac.id/id/eprint/9589/1/YUAN%20DEVINA%20BELA%20%28200
1030039%29.pdf
3. chromeextension://efaidnbmnnnibpcajpcglclefindmkaj/https://download.gar
uda.kemdikbud.go.id/article.php?article=1716405&val=9706&title=PENIN
GKATAN%20HASIL%20BELAJAR%20MATEMATIKA%20MATERI% 20PERKALIAN%20MELALUI
%20PENERAPAN%20MODEL%20NHT
%20NUMBERED%20HEAD%20TOGETHER%20DI%20MADRASAH%
20IBTIDAIYAH
4. chromeextension://efaidnbmnnnibpcajpcglclefindmkaj/http://eprintslib.um
mgl.ac.id/3278/2/16.0305.0118_BAB%20I_BABII_BABIII_BABV_DAFT
AR%20PUSTAKA%20-%20atika%20dp.pdf
60
BAB II
LANDASAN TEORI , KERANGKA PIKIR
TINDAKAN DAN HIPOTESIS TINDAKAN
A. Landasan Teori
1. Hakikat Keterampilan Perkalian Dua Bilangan Dengan Dua Dilangan
a. Pengertian Keterampilan
Menurut Iverson “keterampilan membutuhkan pelatihan dan kemampuan dasar
yang dimiliki setiap orang dapat lebih membantu menghasikan sesuatu yang lebih
bernilai dengan lebih cepat”. Sedangkan menurut Zahri er al keterampilan disebutkan
bahwa:
“Keterampilan adalah kepandaian melakukan sesuatu pekerjaan dengan cepat
dan benar, dalam hal ini ruang lingkup keterampilan sangat luas yang
melingkupi berbagai kegiatan antara lain, perbuatan, berfikir, berbicara,
melihat, mendengar, dan lain sebagainya.”
Menurut Robbins “keterampilan dibagi menjadi 4 kategori, yaitu :
a. Basic Literacy Skill : Keahlian dasar yang sudah pasti harus dimiliki oleh setiap
orang seperti membaca, menulis, berhitung serta mendengarkan.
b. Technical Skill : Keahlian secara teknis yang didapat melalui pembelajaran dalam
bidang teknik seperti mengoperasikan komputer dan alat digital lainnya.
61
c. Interpersonal Skill : Keahlian setiap orang dalam melakukan komunikasi satu sama
lain seperti mendengarkan seseorang, memberi pendapat dan bekerja secara tim.”
Sedangkan menurut Putri terkait keterampilan disebutkan bahwa
“keterampilan merupakan merupakan usaha untuk memperoleh
kompetensi cekat, cepat, dan tepat dalam menghadapi masalah.”
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa
keterampilan adalah kemampuan dasar yang dimiliki setiap orang yang
memerlukan pelatihan agar dapat bertindak,
berfikir,berbicara,melihat,mendengar dan mampu menghadapi masalah dengan cepat
dan tepat.
b. Materi Perkalian Dua Bilangan
Menurut Sri Subarina “Operasi perkalian pada bilangan cacah diartikan sebagai
penjumlahan berulang.” Sehingga untuk memahami konsep perkalian anak harus paham
dan terampil melakukan operasi penjumlahan. Perkalian a x b diartikan sebagai
penjumlahan bilangan b sebanyak a kali. Jadi a x b = b+b+b+…+b sebanyak a kali.
Sedangkan menurut Heruman (2008: 22) pada prinsipnya perkalian sama dengan
penjumlahan secara berulang. Oleh karena itu, kemampuan prasyaratan yang harus
dimiliki siswa sebelum mempelajari perkalian adalah penguasaan penjumlahan. Perkalian
dapat juga diartikan suatu langkah untuk melipatgandakan sebuah angka dengan angka
yang lain. Tentu saja untuk mendapatkan angka yang lebih
62
Perkalian bilangan dua angka
Bagaimana cara mengalikan bilangan yang terdiri atas dua angka?
1. Perkalian dengan cara mendatar
1. 34 × 7 = ....
2. 45 × 8 = ....
Penyelesaian:
1. 34 adalah 30 + 4 sehingga 34 × 7 dapat diubah menjadi (30 × 7) + (4 × 7) = 210 +
28 = 238.
2. 45 adalah 40 + 5 sehingga 45 × 8 dapat diubah menjadi (40 × 8) + (5 × 8)
= 320 + 40
= 360
Perkalian dengan cara bersusun
Perkalian dapat juga diselesaikan dengan cara bersusun seperti halnya pen
jumlahan. Mari perhatikan contoh berikut
1. 23 × 3 = .... 2. 47 × 6 = ....
Jawab: Jawab:
Bentuk perkalian tersebut Bentuk perkalian tersebut
dapat diubah dalam bentuk dapat diubah dalam bentuk
perkalian bersusun, yaitu: perkalian bersusun, yaitu:
23 47
3 x 6 x
9 (dari 3 × 3) 60 (dari 20 × 42 (dari 7 × 6)
3) x 240 (dari 40 × 6)
69 +
282
Jadi, 23 x 3 = 69 Jadi, 47 x 6 = 69
2. Hakikat Mata Pelajaran Matematika
63
a. Mata Pelajaran Matematika
Matematika merupakan suatu ilmu yang berhubungan atau menelaah bentuk-
bentuk atau struktur-struktur yang abstrak dan hubungan-hubungan di antara hal-hal itu.
Untuk dapat memahami struktur-struktur serta hubungan- hubungan, tentu saja
diperlukan pemahaman tentang konsep-konsep yang terdapat di dalam matematika itu.
Definisi atau pengertian tentang matematika oleh beberapa pakar yang diungkapkan
oleh R. Soedjadi yaitu:
a) Matematika adalah cabang ilmu pengetahuan eksak dan terorganisir secara
sistematik.
b) Matematika adalah pengetahuan tentang bilangan dan kalkulasi.
c) Matematika adalah pengetahuan tentang penalaran logika dan berhubungan
dengan bilangan.
d) Matematika adalah pengetahuan tentang fakta-fakta kuantitatif dan masalah
tentang ruang dan bentuk.
e) Matematika adalah pengetahuan tentang struktur-struktur yang logik.
f) Matematika adalah pengetahuan tentang aturan-aturan yang ketat.”
Dijelaskan pula dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia bahwa
“matematika adalah hubungan antar bilangan dan prosedur operasional yang digunakan
dalam penyelesaian masalah mengenai bilangan”.
Menurut Depdikbud matematika adalah suatu ilmu yang mempelajari sifat dan
hubungan antara bilangan, himpunan dan ukuran serta bentuk-bentuk seperti
berhubungan dengan bilangan atau himpunan.
64
Berdasarkan beberapa pengertian matematika di atas dapat disimpulkan bahwa
matematika adalah suatu ilmu tentang bilangan, himpunan dan ukuran yang
menggunakan cara bernalar deduktif tetapi juga tidak melupakan cara berfikir induktif.
Matematika merupakan ilmu yang mempelajari logika, bentuk, susunan, besaran,
konsep-konsep aljabar, geometri, kalkulasi penalaran logika dan berhubungan dengan
bilangan yang memiliki aturan-aturan yang ketat dan berdiri sendiri tanpa bergantung
pada bidang studi lain.
b. Tujuan Matematika
Mata pelajaran matematika bertujuan agar peserta didik memiliki
kemampuan sebagai berikut:
a) Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan
mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat,
dalam pemecahan masalah.
b) Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika
dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan
pernyataan matematika.
c) Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang
model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh.
d) Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk
memperjelas keadaan atau masalah.
e) Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki
rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap
ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.21
Menurut Cornelius sebagaimana yang dikutip Mulyono Abdurahman
mengemukakan lima alasan pentingnya belajar matematika karena matematika
merupakan sarana untuk :
a) Berfikir jelas dan logis.
b) Memecahkan masalah kehidupan sehari-hari.
c) Mengenal pola-pola hubungan dan generalisasi pengalaman.
d) Mengenal dan mengembangkan kreativitas.
65
Meningkatkan kesadaran terhadap perkembangaan budaya.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas bahwa tujuan dari diajarkannya mata pelajaran
matematika karena mengingat betapa pentingnya matematika dalam kehidupan sehari-
hari serta dapat melatih siswa dalam memecahkan masalah khususnya yang
berhubungan dengan angka,
bilangan dan lain sebagainya.
3. Fungsi Mata Pelajaran Matematika
Matematika mempunyai banyak kegunaan diantanya adalah:
a) Matematika sebagai pelayan ilmu yang lain.
Banyak ilmu-ilmu yang penemuan dan pengembangannya bergantung dari
matematika. Contoh: Penemuan dan pengembangan Teori Mendel dalam Biologi melalui
konsep Probabilitas, perhitungan dengan bilangan imajiner digunakan untuk
memecahkan masalah tentang kelistrikan, dengan matematika, Einstein membuat rumus
yang dapat digunakan untuk menaksir jumlah energi yang dapat diperoleh dari ledakan
atom, dalam ilmu kependudukan, matematika digunakan untuk memprediksi jumlah
penduduk dll.
b) Matematika digunakan manusia untuk memecahkan masalahnya dalam kehidupan
sehari-hari. Contoh: Memecahkan persoalan dunia nyata, mengadakan transaksi jual
beli, maka manusia memerlukan proses perhitungan matematika yang berkaitan dengan
bilangan dan operasi hitungnya, menghitung luas daerah, menghitung jarak yang
ditempuh dari suatu tempat ke tempat yang lain, menghitung laju kecepatan kendaraan
dan lain sebagainya.
66
4. Hakikat Model Pembelajaran Numbered Head together (NHT)
a. Pengertian Model Pembelajaran Numbered Head Together (NHT)
Model Pembelajaran Numbered Head Together (NHT) merupakan suatu
pendekatan yang dikembangkan oleh Kagan, untuk melibatkan banyak siswa dalam
memperoleh materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman
mereka terhadap isi pelajaran.1
Menurut Ibrahim model NHT adalah “bagian dari model pembelajaran kooperatif
struktural, yang menekankan pada struktur-struktur khusus yang dirancang untuk
mempengaruhi pola interaksi siswa”.2 Lebih lanjut Lie berpendapat bahwa:
“Teknik belajar mengajar kepala bernomor Numbered Head Together
merupakan teknik memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan ide-
ide atau gagasan dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat. Selain itu, teknik
ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak
didik.”
Berdasarkan beberapa uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa Numbered
Head Together (NHT) adalah suatu model pembelajaran dimana siswa dibagi menjadi
beberapa kelompok kecil terdiri atas 3-5 orang dan setiap anggota kelompok diberi
nomor dari nomor kecil sampai dengan nomor besar (1-5) untuk bekerja sama dalam
kelompok yang diharapkan setiap anggota bertanggung jawab untuk menelaah materi
yang disajikan. Kemudian model pembelajaran tipe NHT juga cocok untuk semua mata
pelajaran dan semua jenjang.
67
5. Tujuan Penerapan Model Pembelajaran Numbered Head Together (NHT)
Herdian mengemukakan tiga tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran NHT
yaitu:
a. Hasil belajar akademik structural, yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa
dalam tugas-tugas akademik.
b. Pengakuan adanya keragaman, bertujuan agar siswa dapat menerima teman-temannya
yang mempunyai berbagai latar belakang.
c. Pengembangan keterampilan sosial bertujuan untuk mengembangkan keterampilan
sosial siswa. Keterampilan yang dimaksud antara lain berbagi tugas, aktif bertanya,
menghargai pendapat orang lain, mau menjelaskan ide atau pendapat dan bekerja
dalam kelompok.
Berdasarkan pendapat di atas, tujuan dari penerapan model pembelajaran NHT
yaitu untuk meningkatkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dan pada saat
mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru sehingga dapat mempengaruhi hasil
belajarnya. Kemudian adanya pengakuan keragaman dari siswa bahwa setiap orang
mempunyai latar belakang yang berbeda-beda, memiliki kelebihan dan kekurangan
sehingga pada saat mengikuti pembelajaran siswa menjadi aktif, berbagi dengan temannya
dan dapat mengahargai pendapat orang lain.
6. Langkah-langkah Penerapan Model Pembelajaran Numbered Head
Together (NHT)
Setiap model pembelajaran memiliki sintaks terstruktur dalam pelaksanaannya.
Sintaks pembelajaran berisi langkah-langkah praktis yang harus di pembelajaran dapat
68
berjalan secara sistematis dan terencana. Hamdani mengemukakan bahwa NHT memiliki
langkah-langkah seperti
berikut.
a. Siswa dibagi dalam kelompok dan setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor.
b. Guru memberikan tugas dan tiap-tiap kelompok disuruh untuk mengerjakannya.
c. Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan bahwa setiap anggota
kelompok dapat mengerjakannya.
d. Guru memanggil salah satu nomor siswa dan siswa yang nomornya dipanggil melaporkan
hasil kerja sama mereka.
e. Siswa lain diminta untuk memberikan tanggapan, kemudian menunjuk nomor lain.
f. Kesimpulan.6
Kurniasih dan Berlin menyatakan bahwa NHT memiliki langkahlangkah pembelajaran
seperti berikut:
a) Membentuk kelompok secara homogen.
b) Setiap kelompok beranggotakan 3-5 siswa.
c) Setiap anggota memiliki satu nomor.
d) Guru mengajukan pertanyaan untuk didiskusikan bersama kelompok.
e) Salah satu nomor dapat mewakili kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi.7
Berdasarkan pendapat di atas maka peneliti menyimpulkan bahwa akan
menggunakan langkah-langkah pembelajaran NHT yang dikemukakan oleh Hamdani. Siswa
dibentuk kelompok, masing-masing siswa diberi nomor dan mereka bertanggung jawab atas
69
nomor yang dipegangnya, siswa berdiskusi dengan teman kelompoknya untuk menjawab
tugas yang telah diajukan oleh gurunya serta salah satu dari mereka yang ditunjuk guru
dapat mewakili teman kelompoknya untuk menjawab soal atau mempresentasikan hasil
diskusinya. Lebih jelasnya langkah-langkah penerapan model pembelajaran NHT dapat dilihat
pada tabel di bawah ini:
Tabel 2.1 Sintaks Model Pembelajaran Tipe Numbered Head Together
Fase Kegiatan Guru Kegiatan Siswa
Fase 1 Guru membagi peserta didik Siswa membentuk kelompok sesuai
Penomora kedalam kelompok 3-5 orang dengan arahan dariguru dan setiap
n dan kepada setiap anggota siswa memegang nomor yang telah
kelompok diberi nomor antara dibagikan.
1-5.
Fase 2 Guru mengajukan sebuah Siswa mendengarkan pertanyaan atau
Pengajuan pertanyaan kepada peserta menerima LKS yang diberikan oleh
pertanyaan didik atau guru membagikan guru.
LKS kepada setiap kelompok.
Fase 3 Guru membantu atau Siswa menyatukan pendapatnya
Berpikir mengarahkan siswa dalam kerja terhadap jawaban pertanyaan dan
bersama kelompok. meyakinkan tiap anggota dalam timnya
mengetahui jawaban itu.
Fase Guru memanggil satu nomor peserta didik yang nomornya sesuai
4 tertentu untuk menjawab mengacungkan tangannya dan
70
Menjawab pertanyaan. mencoba untuk menjawab
pertanyaan.
7. Kelebihan dan Kekurangan Model PembelajaranKooperatif tipe
Numbered Head Together
Setiap model pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangan, oleh sebab itu
tidak ada model pembelajaran yang dianggap sempurna. Setelah kita mengetahui kelebihan
dan kekurangannya, diharapkan kita mampu mengoptimalkan kelebihan dari model
pembelajaran yang hendak digunakan, sertamengatasi kekurangan-kekurangan yang ada
dalam pelaksanaan pembelajaran.
Hamdani berpendapat bahwa kelebihan dan kekurangan model
pembelajaran kooperatif tipe NHT sebagai berikut:
a. Kelebihan
1) Setiap siswa menjadi siap semua.
2) Siswa dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh.
3) Siswa yang pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai.
b. Kekurangan
1) Kemungkinan nomor yang dipanggil, akan dipanggil lagi oleh guru. 2) Tidak semua
anggota kelompok dipanggil oleh guru.
71
Kurniasih dan Berlin berpendapat bahwa kelebihan dan kekurangan model
pembelajaran kooperatif tipe NHT adalah:
a) Kelebihan
1. Dapat meningkatkan prestasi siswa.
2. Mampu memperdalam pemahaman siswa.
3. Melatih tanggung jawab siswa.
4. Menyenangkan siswa dalam belajar.
5. Mengembangkan rasa ingin tahu siswa.
6. Meningkatkan rasa percaya diri siswa.
7. Mengembangkan rasa saling memiliki dan kerja sama.
8. Setiap siswa termotivasi untuk menguasai materi.
9. Menghilangkan kesenjangan antara yang pintar dengan tidak pintar.
10.Tercipta suasana gembira dalam belajar dengan demikian meskipun saat pembelajaran
menempati jam terakhir pun, siswa tetap antusias belajar.
b) Kekurangan
1. Ada siswa yang takut diintimidasi bila memberi nilai jelek kepada anggotanya (bila
kenyataannya siswa lain kurang mampu menguasai materi).
2. Ada siswa yang mengambil jalan pintas dengan meminta tolong pada temannya
untuk mencarikan jawabannya.
3. Apabila pada satu nomor kurang maksimal mengerjakan tugasnya, tentu saja
mempengaruhi pekerjaan pemilik tugas lain pada nomer selanjutnya.10
c) Berdasarkan pendapat para ahli, peneliti menyimpulkan bahwa model pembelajaran
kooperatif tipe NHT memiliki banyak kelebihan, yaitu membuat siswa lebih siap semua
72
dalam proses belajar, rasa saling memiliki dan kerja sama antara siswa yang pintar
dengan yang tidak pintar sehingga dalam proses pembelajaran khususnya pada mata
pelajaran matematika terciptanya suasana gembira sehingga dapat meningkatkan hasil
belajar siswa. Adapun kelemahannya akan terlihat ketika model kooperatif tipe NHT
belum dapat diterapkan dengan baik.
Berdasarkan kajian teoritis yang telah diuraikan di atas maka peneliti berasumsi erat
kaitan antara penerapan model pembebelajaran NHT (Numbered Head Together) dengan
meningkatkan keterampilan siswa tentang perkalian dua bilangan pada mata pelajaran
Matematika di kelas III SD Negeri Neglasari Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor.
Keterkaitan tersebut dapat dideskripsikan dalam bagan sebagai berikut :
Solusi
Mengadakan
Masalah Hasil
PTK dengan
Hasil Belajar Model NHT Hasil Belajar
siswa (Numbered meningkatkan
Head Together)
meningkatkan keterampilan
keterampilan siswa tentang
tentang perkalian dua
perkalian dua bilangan
bilangan masih meningkat
73
rendah
Dalam bagan di atas, peneliti ingin menjelaskan bahwa masalah yang dihadapi peneliti
adalah kurangnya hasil belajar siswa, khususnya berkaitan dengan keterampilan siswa tentang
perkalian dua bilangan pada mata pelajaran Matematika di kelas III SD Negeri Neglasari Kecamatan
Jasinga Kabupaten Bogor.
Sebagai solusi terhadap masalah yang dihadapi, maka peneliti berupaya mengatasinya
dengan upaya yang dipilih adalah melakukan tindakan pembelajaran dengan model pembelajaran
NHT (Numbered Head Together) peneliti meyakini bahwa metode ini dapat mengatasi masalah
tersebut, karena di dalamnya terdapat kerja sama siswa, memunculkan pemikiran yang terampil
dalam myelesaikan permasalahan matematika
Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa jika model NHT (Numbered Head
Together) diterapkan dengan baik dan benar,maka
keterampilan siswa tentang perkalian dua bilapada mata pelajaran Matematika di kelas III SD Negeri
Neglasari Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor akan dapat ditingkatkan.
C. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis penelitian ini adalah penerapan
model NHT (Numbered Head Together) dapat meningkatkan keterampilan siswa tentang
perkalian dua bilangan pada mata pelajaran Matematika kelas III SD Negeri Neglasari
Kecamatan Jasinga Kabupaten
74
Bogor.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat, Waktu, dan Sasaran Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan penelitian tindakan kelas (PTK),
dengan rancangan sebagai berikut :
1. Tempat Penelitian
Waktu Penelitian Tempat penelitian ini dilaksanakan di Kelas III SD Negeri Neglasari Kecamatan Jasinga
Kabupaten Bogor.
2. Waktu penelitian dilakukan pada semester genap selama 3 bulan (Maret,April dan Mei)
pada tahun 2023-2024. Penentuan waktu penelitian mengacu kepada kalender
pendidikan sekolah, karena penelitian tindakan kelas memerlukan beberapa siklus yang
membutuhkan proses pembelajaran yang efektif di sekolah.
Tabel 3.1
Waktu Pelaksanaan Penelitian
Jam Acara Jumlah
No Hari/Tanggal Waktu Keterangan
Pelajaran Tindakan Siswa
04 Maret 07.30 – 2 x 35 menit 32 Pra
1 PTK
2024 09.30- Siswa Penelitian
05 April 07.30 – 2 x 35 menit 32
2 PTK Siklus 1
2024 09.30- Siswa
12 April 07.30 – 2 x 35 menit 32
3 PTK Siklus 2
2024 09.30- Siswa
75
1
3. Sasaran Penelitian
Sasaran penelitian adalah siswa Kelas III SD Negeri Neglasari
Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor, dengan jumlah siswa 38
orang terdiri dari 18 siswa laki – laki dan
14 siswa perempuan.
B. Jenis dan Desain Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan teknik
PTK (Penelitian Tindakan Kelas) atau Classroom Actions Research.
Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan dengan desain penelitian sebagai
berikut.
Bagan 3.2 Desain Penelitian
Perencanaan
Perencanaan Perencanaan
Pengamatan
Perencanaan
Siklus I
50
51
Refleksi Pelaksanaan
Pengamatan
24
Keterangan :
Melalui bagan di atas peneliti ingin menjelaskan bahwa sebelum
melakukan siklus 1 peneliti berupaya untuk mengetahui kondisi awal di kelas
yang akan diteliti dengan melaksanakan kegiatan “pra – penelitian”. Selanjutnya
penelitian ini dilakukan dengan dua siklus, setiap siklus terdiri dari kegiatan
Planning (rencana), Actuating (tindakan), Observing
(observasi), dan Reflecting (refleksi).
C. Prosedur Penelitian Tindakan Kelas
52
Prosedur penelitian tindakan kelas terdiri dari prapenelitian dan
pelaksanaan penelitian tindakan kelas.
1. Pra-penelitian
Pra-penelitian merupakan refleksi kondisi kelas sebelum penelitian
tindakan dilakukan, tujuannya adalah untuk mengetahui kondisi awal yang akan
diteliti.Adapun kegiatan yang dilakukan dalam pra-penelitian ini adalah sebagai
berikut :
a. Menyusun format pengumpulan data obyektif sekolah
b. Menyusun kisi - kisi soal dan instrumen penilaian / tes awal. Materi tes awal
adalah materi yang sudah diajarkan oleh guru.
c. Mengumpulkan data obyektif sekolah dengan menggunakan format
pra-penelitian
d. Melaksanakan penilaian / tes awal tentang perkalian dua bilangan pada mata
pelajaran Matematika
e. Menganalisis data obyektif sekolah dan hasil tes untuk dimanfaatkan dalam
perencanaan tindakan dan pembahasan hasil belajar
2. Penelitian Tindakan Kelas (Siklus 1)
53
Berdasarkan hasil evaluasi analisis dara pra-penelitian dan hasil tes awal,
serta diskusi tim kolaborasi, penelitian melaksanakan kegiatan penelitian dengan
langkah – langkah sebagai berikut :
a. Perencanaan Tindakan
Pada tahap perencanaan, kegiatan yang dilakukan adalah
sebagai berikut :
1) Peneliti membuat rencana perbaikan pembelajaran (RPP) dengan Model
Pembelajaan NHT(Numbered Head Together). RPP disusun oleh peneliti
dengan pertimbangan dari dosen pembimbing dan guru kelas yang
bersangkutan, RPP disusun sebagai pedoman guru dalam melaksanakan
pembelajaran di
kelas.
2) Peneliti membuat Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD)/LKS (Lembar
Kerja Siswa) dengan materi tentang perkalian dua bilangan pada Mata
Pelajaran Matematika.
3) Peneliti mempersiapkan lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran
berdasarkan masalah dan lembaran analisi hasil belajar peserta didik.
4) Peneliti mempersiapkan soal pretest untuk mengetahui hasil belajar
peserta didik materi tentang perkalian dua bilangan pada mata pelajaran
Matematika
54
b. Pelaksanaan Tindakan
Setelah RPP beserta perangkatnya dibuat maka dilaksanakan
tindakan yang berupa kegiatan pembelajaran. Dalam pelaksanaan
pembelajaran ini, peneliti berpedoman pada RPP yang telah dibuat.
1) Membuka pembelajaran
2) Melaksanakan Pembelajaran
3) Kegiatan inti
4) Mengevaluasi hasil pembelajaran
5) Menganalisis hasil pembelajaran
c. Observasi
a) Pelaksanaan observasi dilakukan bersamaan dengan waktu pelaksanaan
pembelajaran. Observasi dilakukan oleh dua orang kolaborator yang
berasal dari guru kelas dan kepala sekolah. Kolaborator tersebut menilai
peneliti dalam melaksanakan proses pembelajaran dengan menggunakan
instrumen penilaian
pelaksanaan pembelajaran di kelas yang terdiri dari beberapa aspek yang
diamati.
b) Kolaborator melakukan penilaian pelaksanaan pembelajaran di kelas
dengan menggunakan instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran di
kelas.
55
c) Observer bersama peneliti melakukan pengumpulan data hasil belajar
siswa tentang perkalian dua bilangan pada mata pelajaran Matematika
dengan menggunakan angket.
d) Merefleksi adalah kegiatan untuk merenungkan kembali dan membahas
apa yang telah terjadi dan hasil belajar yang telah dicatat dalam observasi
maupun penilaian. Adapun aspek yang direnungkan yaitu :
1) Proses pembelajaran di kelas
2) Hasil belajar secara individu dan klasikal Refleksi dilakukan bersama
antara peneliti dengan tim kolaborasi. Dari kegiatan merefleksi ini
dihasilkan rekomendasi :
• Karena indicator keberhasilan belum tercapai maka
penelitian dianggap belum selesai.
• Dilanjutkan ke siklus berikutnya dengan perbaikan RPP,
perbaikan media, alat peraga, dan teknik komunikasi guru
3) Penelitian Tindakan Kelas (Siklus 2)
Berdasarkan refleksi pada siklus 1, terdapat beberapa hal yang
harus peneliti perbaiki, serta hasil belajar siswa belum mencapai
Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).
d. Perencanaan Tindakan
56
Perencanaan yang dilakukan pada siklus 2
memperhatikan refleksi dari siklus I. Perencanaan siklus 2
meliputi :
1) Revisi RPP yang telah dibuat pada siklus I
2) Peneliti menyusun lembar angket. Angket berisi garis – garis
pokok yang ditanyakan dengan maksud agar peserta didik
mengungkapkan tanggapan terhadap proses Meodel NHT
(Numbered Head Together) dalam pembelajaran.
3) Peneliti mempersiapkan LKPD mengenai materi dan bahan
memahami penjelasan narasumber tentang perkalian dua
bilangan pada mata pelajaran Matematika. Peneliti
mempersiapkan lembaran analisis peserta didik yang digunakan
sebagai catatan peneliti untuk menilai hasil belajar peserta didik.
4) Peneliti mempersiapkan soal pretest dan post test untuk
mengetahui hasil belajar peserta didik pada materi.
e. Pelaksanaan Tindakan
Pada penelitian di siklus 2 ini menggunakan Model NHT
(Numbered Head Together) untuk memahami penjelasan
57
narasumber tentang perkalian dua bilangan pada mata pelajaran
Matematika, dengan revisi yang diperlukan dalam rangka perbaikan
dari siklus sebelumnya.
f. Observasi
1) Pelaksanaan observasi dilakukan peneliti bersama observer
dengan mengamati tindakan dan kendala peserta didik saat
pembelajaran berlangsung.
2) Peneliti merangkum hasil pengamatan, pretest dan post test, yang
dilakukan pada siklus I untuk memudahkan merefleksi tindakan.
3) Lembar observasi yang digunakan sama seperti lembar
29
observasi pada siklus I
4) Kemudian observer bersama peneliti
melakukan
pengumpulan data hasil belajar siswa tentang perkalian dua
bilangan pada mata pelajaran Matematika dengan menggunakan
angket
5) Selain itu kolaborator juga menilai mengenai perubahan tingkah
laku siswa saat proses pembelajaran berlangsung.
g. Refleksi
58
Merefleksi adalah kegiatan untuk merenungkan kembali dan
membahas apa yang telah terjadi dan hasil belajar yang telah dicatat
dalam observasi maupun penilaian. Adapun aspek yang direnungkan
yaitu :
1. Proses pembelajaran di kelas
2. Hasil belajar secara individu dan klasikal Refleksi dilakukan
bersama antara peneliti dengan tim kolaborasi, dari kegiatan
merefleksi ini dihasilkan rekomendasi :
• Jika indikator keberhasilan telah tercapai
maka
penelitian dianggap selesai.
• Namun jika belum mencapai indikator keberhasilan
maka akan dilanjutkan pada siklus berikutnya.
D. Sumber Data
Dalam penelitian ini peneliti menentukan sumber data sebagai berikut :
1. Sumber data primer (informan) : siswa Kelas III SD Negeri Neglasari
30
yang berjumlah 32 orang
59
2. Sumber data sekunder (key informan) : guru senior dan kepala sekolah
3. Sumber data lain : dokumen kelas (terlampir)
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dilakukan dalam penelitian ini ada 2 jenis yaitu tes dan
non tes. Tes digunakan untuk mengetahui tingkat hasil belajar melalui penyampaian
beberapa pertanyaan tertulis sedangkan non tes digunakan untuk mengetahui
tanggapan siswa setelah mendapatkan pembelajaran.
1. Teknik Tes
Teknik tes dilakukan yaitu dengan melakukan tes formatif dan tes sub-
sumatif. Tes formatif yaitu tes setelah akhir pembelajaran per siklus sedangkan tes
sub-sumatif dilaksanakan setelah akhir dari beberapa
siklus.
2. Teknik Non Tes
Teknik non tes dilakukan dengan beberapa jenis yaitu observasi,
wawancara dan dokumentasi.
a. Observasi (pengamatan) teknik ini digunakan oleh observer untuk
mengobservasi pelaksanaan tindakan yang dilakukan oleh peneliti.
b. Wawancara teknik ini digunakan oleh peneliti untuk mengetahui respons siswa
secara langsung dalam menyelesaikan soal wawancara terutama dilakukan
kepada siswa yang menonjol karena kelebihan atau
60
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Deskripsi Data Sekolah
a. Identitas Sekolah
SD Negeri Neglasari berlokasi di kampung Margaluyu, RT 05/01
Desa Sipak Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat,
dibangun pada 1967 di atas lahan seluas 1330 m2. Terletak di lingkungan
masyarakat yang heterogen baik dari segi, ekonomi sosial dan budaya.
Keanekaragaman tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam pelaksanaan
pembelajaran di SDN.Cigelung Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor.
Tabel 4.1
Identitas Sekolah Dasar Negeri
Nama Satuan SD Negeri Neglasari
NPSN 20200499
Status Kepemilikan Pemerintah Daerah
Status Sekolah Negeri
Tanggal SK 1967
Alamat Sekolah Kp Margaluyu Rt 05/01
61
Desa Sipak
Kecamatan Jasinga
Kabupaten Bogor
Provinsi Jawa Barat
Kode Pos 16670
Lintang/Bujur -6.4886000/106.5230000
Status Akreditasi B
Tanah Milik 1.500 m2
Nomor Telepon 085717518568
Email Sekolah Sdnneglasari67
Tabel 4.2
Keadaan Tenaga Pendidik dan Kependidikan
Berdasarkan Status Kependidikan
No. Nama Personal L/P Jenis Status
1. Lia Agustina, S.Pd.SD P Kepala PNS
Sekolah
2. Yuli Yuliah, S.Pd P Guru PNS
3. Erna Suherna,S.Pd P Guru PNS
4. Euis Subagja, S.Pd P Guru P3K
62
5. Ikbal Nurul Fikri,S.Pd L Guru P3K
6. Intan Diniyatul A, S.Ag P Guru P3K
7. Triya Yuliani,S.Pd P Guru Guru Honorer
8. Meli Nurmalia A, S.Pd P Guru Guru Honorer
9. Tatang Supriatna L Penjaga Tenaga Honorer
Tabel 4.3
Data Rombongan Belajar
Jumlah
No. Kelas Guru/Wali Kurikulum
Rombel
1. Kelas 1 1 Euis Subagja,S.Pd. Kurmer
2. Kelas 2 1 Yuli Yuliah, S.Pd Kurmer
3. Kelas 3 1 Triya Yuliani Kurmer
4. Kelas 4 1 Meli Nurmalia A, S.Pd Kurmer
5. Kelas 5 1 Erna Suherna,S.Pd Kurmer
6. Kelas 6 1 Ikbal Nurul Fikri, S.Pd Kurmer
63
Tabel 4.4
Data Peserta Didik
Jumlah Siswa
No. Ruang Kelas
L P Jumlah
1. Kelas 1 25 20 45
2. Kelas 2 16 18 34
3. Kelas 3 9 21 39
4. Kelas 4 12 15 26
5. Kelas 5 20 15 47
6. Kelas 6 19 21 45
Jumlah 101 110 259
Tabel 4.5
Keadaan Sarana dan Prasarana
Berdasarkan status kependidikan
No. Jenis Prasarana Jumlah Kondisi
1. Ruang Kelas 1 1 Baik
2. Ruang Kelas 2 1 Baik
64
3. Ruang Kelas 3 1 Baik
4. Ruang Kelas 4 1 Baik
5. Ruang Kelas 5 1 Baik
6. Ruang Kelas 6 1 Baik
7. Ruang Guru 1 Baik
8. Ruang Kepala Sekolah 1 Baik
9. Ruang Perpustakaan 1 Baik
10. Kamar Mandi/WC Guru 1 Baik
11. Kamar Mandi/WC Siswa 4 Baik
12. Ruang UKS 1 Baik
13. Musholla 1 Baik
14. Dapur 1 Baik
b. Visi
a. Pembelajar sepanjang hayat, membentuk generasi yang memiliki
motivasi untuk selalu belajar dan mengembangkan diri.
b. Berkarakter, mengimplementasikan Profil Pelajar Pancasila
dalam aktualisasi kehidupan.
c. Inovatif, kemampuan seluruh warga sekolah memaknai keadaan
yang dinamis dan selalu berubah dengan berbagai tantangan dan
hambatan menjadi sebuah celah dalam mengembangkan diri
untuk menemukan solusi yang tepat, bermanfaat dan sesuai
dengan keadaan masa kini dan mempersiapkan masa depan.
65
d. Berprestasi, sebagai hasil akhir dalam sebuah proses, prestasi
merupakan tolak ukur sebuah proses. Prestasi tak hanya berkisar
pada kemampuan kognitif dalam ajang prestatif saja namun lebih
pada keberhasilan menemukan kemampuan diri, mengembangkan
talenta dan kecakapan hidup yang bermanfaat.
c. Misi
1. Merancang pembelajaran yang menarik dan menyenangkan yang
mampu memotivasi peserta didik untuk selalu belajar dan
menemukan pembelajaran
2. Menanamkan keimanan dan ketakwaan melalui pembiasaan shalat
dhuha bersama-sama, serta melaksanakan tadarus sebelum
melaksanakan kegiatan pembelajaran
3. Membangun lingkungan sekolah yang membentuk peserta didik
memiliki akhlak mulia melalui rutinitas kegiatan keagamaan dan
menerapkan ajaran agama melaui cara berinteraksi di sekolah.
4. Pembiasaan kegiatan kultum untuk menumbuhkan akhlak mulia
peserta didik
5. Melaksanakan kegiatan pelatihan penggunaan IT, untuk
meningkatkan kreatifitas peserta didik
6. Melaksanakan kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler untuk
melestarikan budaya daerah jawa barat
Tujuan Pendidikan
a. Menghasilkan lulusan yang berakhlak mulia dalam hal tertib
beribadah, 5S (Senyum, Sapa, Salam, Santun dan Sopan), dan empati.
b. Menghasilkan lulusan yang mampu melanjutkan pendidikan ke
jenjang lebih tinggi sesuai minat dan bakat yang dimiliki.
66
c. Menghasilkan lulusan yang terampil dalam berpikir kritis, kreatif,
menghasilkan karya, memanfaatkan teknologi digital, dan
mengembangkan minat serta bakatnya.
d. Menghasilkan lulusan yang memiliki penguasaan 6 literasi dasar
(literasi baca dan tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital,
literasi budaya kewarganegaraan dan literasi finansial).
e. Terciptanya karakter toleransi melalui pengalaman lintas budaya
dalam pembelajaran lintas kelas ( cross teaching ).
e. Data Kelas
Tabel 4.6
Data Keadaan Kelas
No. Nama Barang Jumlah Keterangan
01 Meja dan kursi 30 set Baik
02 Meja Guru 1 set Baik
03 Lemari 1 buah Baik
04 Papan tulis 1 buah Baik
05 Kipas angin 1 buah Baik
06 Tempat sampah 2 buah Baik
07 Sapu ijuk 4 buah Baik
08 Bendera Merah Putih 1 buah Baik
09 Grafik absen 1 buah Baik
10 Papan absen 1 buah Baik
11 Penggaris Kayu 1 m 1 buah Baik
67
12 Fhoto Presiden 1 set Baik
13 Jam dinding 1 buah Baik
14 Jadwal pelajaran 1 buah Baik
15 Bendera Merah Putih 1 buah Baik
b. Deskripsi Data Hasil Siklus 1
1. Kondisi awal
Siswa memegang peranan penting dalam kegiatan pembelajaran.
Oleh karena itu siswalah yang seyogyanya aktif, sebab siswa sebagai subjek
didik adalah yang merencanakan dan ia sendiri yang melaksanakan
kegiatan belajar. Akan tetapi, guru harus menyadari bahwa setiap individu
itu berbeda. Begitu pula siswa yang dihadapi memiliki latar belakang
kemampuan, minat dan bakat yang berbeda. Dalam pelaksanaan proses
pembelajaran Matematika di kelas III SD Negeri Neglasari Kecamatan
Jasinga Kabupaten Bogor selama ini siswa lebih dominan duduk, dengar,
catat, dan hapal. Materi pelajaran yang begitu banyak dan waktu yang
tersedia sangat kurang. Hal tersebut mengakibatkan suasana kelas terasa
gersang, membosankan dan mengikat. Kondisi ini memberikan indikasi
68
terhadap suatu masalah yang cukup signifikan, yaitu permasalahan yang
bermuara pada kejenuhan siswa dalam mengikuti pelajaran Matematika di
dalam kelas.
Setelah dilakukan observasi, wawancara, dan diskusi dengan siswa,
fakor utama yang dirasakan sebagai penyebab kurangnya minat siswa
dalam pembelajaran Matematika adalah guru kurang atau tidak pernah
menerapkan metode atau pendekatan pembelajaran yang variatif dan
menarik. Guru jarang melibatkan siswa untuk beraktivitas dan bertanggung
jawab dalam kegiatan pembelajaran. Berikut ini data prestasi awal sebelum
dilaksankan tindakan.
Sebelum dilaksanakan tindakan pembelajaran dengan menggunakan
Number Head Together (NHT), penulis melaksanakan penjajakan awal
berupa pembelajaran mata pelajaran Matematika terhadap para siswa
yang akan menjadi subyek penelitian dengan cara pembelajaran yang biasa
dilakukan sehari-hari (konvensional). Hal ini bertujuan untuk mendapatkan
gambaran awal tentang kondisi pembelajaran Matematika dikelas III SD
Negeri Neglasari
Observer mengadakan observasi yang dilaksanakan pada hari Jumat,
17 April 2023. Pada waktu observasi, guru membahas pokok bahasan
tentang perkalian. Hal pertama yang dilakukan para siswa ketika guru
69
memasuki kelas adalah mengucapkan salam secara serentak, lalu dijawab
oleh guru. Selanjutnya para siswa membaca doa dipimpin oleh ketua
murid.
Kegiatan pembuka pembelajaran diawali dengan mengecek
kehadiran siswa, kemudian menyuruh para siswa untuk membuka buku
pegangannya masing-masing, lalu dilanjutkan dengan menuliskan pokok
bahasan yang akan dibahas pada papan tulis. Kemudian guru memulai
dengan kegiatan apersepsi dengan mengajukan pertanyaan ”Apakah kalian
pernah mengenal istilah perkalian? dijawab oleh para siswa adalah Ya. Atas
jawaban tersebut guru memberikan penguatan secara verbal dengan
mengucapkan kata ”Bagus anak-anak”.
Kegiatan selanjutnya yaitu pada kegiatan inti guru memulai dengan
menjelaskan pengertian alat indera mata manusia. Saat guru menulis di
papan tulis, diketahui bahwa banyak siswa yang melakukan kegiatan di luar
kegiatan pembelajaran seperti bercakap-cakap dengan teman sebangku,
mengganggu teman, menunjukan sikap malas, dan ada yang saling lempar
dengan kertas.
Kegiatan selanjutnya, guru menjelaskan mengenai perkalian disertai
contoh. Selanjutnya guru memberikan soal latihan dengan soal yang
berbeda. Kemudian siswa menjawab pertanyaan yang diajukan guru.
70
Hasilnya dikumpulkan di meja guru, kemudian guru memeriksanya satu
persatu. Hal ini memakan waktu yang cukup lama. Sementara guru sedang
asik memeriksa jawaban siswa, siswa juga asik dengan kegiatan
bermainnya. Ada yang ngobrol, lari-larian, dan ada yang memukul-mukul
meja.
Kegiatan selanjutnya, guru menyampaikan bahwa hasil latihan siswa
masih banyak yang salah, dan perlu adanya pembelajaran ulang dan siswa
diharapkan belajar kembali di rumah. Hasil tes awal siswa adalah sebagai
berikut:
Tabel 4.7
Skor Awal Pembelajaran Matematika di Kelas III
SD Negeri Neglasari
KKM: 75
NILAI PRA
NO. NAMA SISWA KET
SIKLUS
1 50 Belum tuntas
ACHKAM AL'ADLI
2 70 Belum Tuntas
AHMAD FIKRI ARDA BILLY
3 50 Belum tuntas
ADNAN NAUFAL HISYAM
4 80 Tuntas
AKSAN KAMIL
5 40 Belum tuntas
ANNISHA PURBA SARI
71
6 70 Belum tuntas
AQILA NUR MAULIDA
7 100 Tuntas
ARISKA ADHARAYA
8 70 Tuntas
AUFA RAIS DARMAWAN
9 AUQILIA PRISILIA SASMITA 70 Tuntas
PELANGI
10 60 Belum tuntas
AZKA ALDRIC BIMANSYAH
11 80 Tuntas
AZRIL MAULANA YUSUP
12 70 BelumTuntas
FHIRA ANGGRAENI
13 60 Belum tuntas
HAIFA SALSABILA
14 70 Belum Tuntas
HAKLIS PUTRA
15 50 Belum Tuntas
HASNA NABILA TIRTANA
16 60 Belum tuntas
M. ZAHRAN FIRDAUS
17 80 Tuntas
MOH. ELVAN ANGGARA
18 60 Belum tuntas
MOH ZAMILUDIN
19 70 Belum Tuntas
MUHAMAD RIZKIAN
20 MUHAMMAD ERZI BO'A 60 Belum tuntas
SAPUTRA
21 100 Tuntas
MUHAMMAD TRIMANSYAH
22 60 Belum Tuntas
NAFISA ZAHIRA RAFIFA
23 80 Tuntas
NENG ANA APRILIA
24 60 Belum tuntas
NIKO ALDIANSYAH
25 70 Belum tuntas
NURHADI IZJI TURTUSY
72
26 SILVA DEANOVAN 100 Tuntas
Jumlah 1790
Rata-Rata 68,85
Tabel 4.8
Pengelompokan berdasarkan skor
Kategori Skor Frekuensi Persen Keterangan
A 100 < A < 90 3 11,54 T
B 89 < B < 79 4 15,38 T
C 78 < C < 68 8 30,77 T
D 67 < D <57 9 42,31 BT
Jumlah 26 100 %
Grafik 4.9 Pengelompokan Pembelajaran Siklus 1
73
Data pada tabel dan grafik di atas menunjukkan perolehan skor awal
pembelajaran Matematika, yaitu siswa yang memperoleh skor 100 ada 3
orang siswa (11,54%) atau sebagian kecil, siswa yang memperoleh skor 80
ada 4 siswa (15,38%) atau sebagian kecil, siswa yang memperoleh skor 70
ada 8 orang (30,77%) atau kurang dari setengahnya, siswa yang
memperoleh skor 60 ada 6 orang (23,07%) atau kurang dari setengahnya,
dan siswa yang memperoleh skor 50 sebanyak 4 orang (15,38%) atau
sebagian kecil dan yang memperoleh 40 ada 1 orang (3,85 % ). Dari
keseluruhan skor deskripsi awal pembelajaran Matematika dapat
disimpulkan bahwa ada 15 siswa (57,69%) dari jumlah keseluruhan siswa
yang dinyatakan lulus atau tuntas sedangkan 11 siswa (42.31%) dinyatakan
belum lulus/tuntas.
74
Berdasarkan gambaran pelaksanaan pembelajaran di atas,
menunjukan bahwa kegiatan pembelajaran Matematika di kelas III SD
Negeri Neglasari yang masih jauh dari yang diharapkan yaitu 75 % atau
lebih.
2. Data Hasil Penelitian
a. Hasil Penelitian pada Siklus Pertama
1) Hasil Tes Siklus 1
a) Hasil Tes Formatif Siklus 1
Tabel 4.10
Skor Tes Formatif Siklus 1 Pembelajaran Matematika di Kelas III
SD Negeri Neglasari
KKM: 75
NILAI SIKLUS
NO. NAMA SISWA KET
1
1 70 Belum Tuntas
ACHKAM AL'ADLI
2 70 Belum Tuntas
AHMAD FIKRI ARDA BILLY
3 70 Belum tuntas
ADNAN NAUFAL HISYAM
4 85 Tuntas
AKSAN KAMIL
5 60 Belum tuntas
ANNISHA PURBA SARI
75
6 80 Tuntas
AQILA NUR MAULIDA
7 100 Tuntas
ARISKA ADHARAYA
8 80 Tuntas
AUFA RAIS DARMAWAN
9 AUQILIA PRISILIA SASMITA 70 Belum Tuntas
PELANGI
10 70 Tuntas
AZKA ALDRIC BIMANSYAH
11 90 Tuntas
AZRIL MAULANA YUSUP
12 70 Belum Tuntas
FHIRA ANGGRAENI
13 80 Tuntas
HAIFA SALSABILA
14 70 Belum Tuntas
HAKLIS PUTRA
15 70 Belum Tuntas
HASNA NABILA TIRTANA
16 70 Belum Tuntas
M. ZAHRAN FIRDAUS
17 85 Tuntas
MOH. ELVAN ANGGARA
18 85 Tuntas
MOH ZAMILUDIN
19 90 Tuntas
MUHAMAD RIZKIAN
20 MUHAMMAD ERZI BO'A 70 Belum Tuntas
SAPUTRA
21 90 Tuntas
MUHAMMAD TRIMANSYAH
22 70 Belum Tuntas
NAFISA ZAHIRA RAFIFA
23 85 Tuntas
NENG ANA APRILIA
24 70 Belum Tuntas
NIKO ALDIANSYAH
25 65 Belum Tuntas
NURHADI IZJI TURTUSY
76
26 SILVA DEANOVAN 100 Tuntas
Jumlah 1945
Rata-rata 74,80
Tabel 4.11
Pengelompokan berdasarkan skor
Kategori Skor Frekuensi Persen Keterangan
A 100 < A < 90 5 19,23 T
B 89 < B < 79 7 26,92 T
C 78 < C < 68 12 46,15 BT
D 67 < D <57 2 7,69 BT
Jumlah 26 100 %
Data pada tabel di atas menunjukkan perolehan skor siklus 1
pembelajaran Matematika, yaitu siswa yang memperoleh skor 100 ada 5
orang siswa (19,23%), siswa yang memperoleh skor 80 ada 7 orang siswa
(26,92%), siswa yang memperoleh skor 70 ada 12 orang (46,15%), siswa yang
memperoleh skor 60 ada 2 orang (7,69%). Dari keseluruhan skor deskripsi
awal pembelajaran Matematika dapat disimpulkan bahwa ada 12 siswa
77
(46,15%) dari jumlah keseluruhan siswa yang dinyatakan lulus atau tuntas
sedangkan 14 siswa (53,84%) dinyatakan belum lulus/tuntas.
Grafik 4.17 Pengelompokan Pembelajaran Siklus 1
Data pada grafik di atas menunjukkan perolehan skor siklus 1
pembelajaran Matematika, yaitu siswa yang memperoleh skor 100 ada 5
orang siswa (19,23%), siswa yang memperoleh skor 80 ada 7 orang siswa
(26,92%), siswa yang memperoleh skor 70 ada 12 orang (46,15%), siswa yang
memperoleh skor 60 ada 2 orang (7,69%). Dari keseluruhan skor deskripsi
awal pembelajaran Matematika dapat disimpulkan bahwa ada 12 siswa
(46,15%) dari jumlah keseluruhan siswa yang dinyatakan lulus atau tuntas
78
sedangkan 14 siswa (53,84%) dinyatakan belum lulus/tuntas. Pada siklus
pertama ini pembelajaran Matematika dengan menggunakan metode NHT (
Number Head Together) dapat disimpulkan bahwa ada 12 siswa (46,15%)
sedangkan 5 siswa (53,84 %) sebagian kecil siswa dinyatakan belum lulus atau
tuntas. Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa hasil skor tes pada siklus
pertama jumlah siswa yang masuk kategori A ada 5 siswa, yang masuk
kategori B sebanyak 7 orang siswa, yang masuk kategor C sebanyak 12 orang
dan yang termasuk kategori D atau kurang ada 2 siswa. Rata-rata siklus 1 =
74,80 %. Ini membuktikan pembelajaran pada siklus ini belum sesuai dengan
harapan perlu ada tindak lanjut pada siklus berikutnya.
2) Hasil Non Tes Siklus 1
a. Hasil Angket Siklus 1
Berdasarkan hasil angket yang disebar kepada siswa setelah selesai
pembelajaran Matematika diperoleh data sebagai berikut:
Angket pertama yaitu sikap siswa terhadap pelajaran Matematika
menunjukan bahwa 40% atau sebagian besar menjawab sangat
setuju, 10% atau sebagian kecil menjawab setuju, 20% menyatakan
tidak setuju, dan sisanya 30% atau hampir setengahnya menyatakan
sangat tidak setuju. Sedangkan angket jenis kedua tentang peskoran
79
terhadap pembelajaran Matematika dengan menggunakan model
NHT (number head together) adalah 40% atau sebagian kecil
menjawab sangat setuju, 30% atau sebagian kecil menyatakan
setuju, 20% atau hampir setengahnya menyatakan tidak setuju, dan
10% atau hampir setengahnya menyatakan sangat tidak setuju.
Berdasarkan hasil angket ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan
model NHT (number head together) pada pembelajaran
Matematikadalam siklus 1 belum diminati seluruh siswa.
b. Hasil Jurnal Siklus 1
Berdasarkan hasil jurnal yang dibuat siswa mengenai pembelajaran
Matematika dengan menggunakan model NHT (number head
together) disebutkan bahwa sebagian kecil siswa (2 orang)
menyatakan penggunaan NHT (number head together) belum
mampu meningkatkan minat dan pemahaman siswa dan sebagian
besar (24 orang) menyatakan pembelajaran Matematika dengan
menggunakan model NHT (number head together) sangat
menyenangkan.
c. Hasil Observasi Siklus 1
Hasil observasi yang dilakukan oleh observer terhadap aktivitas
belajar siswa selama proses pembelajaran Matematika dengan
80
menggunakan model NHT (number head together)pada
pelaksanaan siklus pertama tersusun dalam tabel berikut.
Tabel 4.13
Hasil Observasi pada Kegiatan Pembelajaran Matematika
No. Urut Aspek yang dinilai
Ket.
Siswa A B C D E
1 1 2 1 1 1
2 2 1 2 2 3 A. Kekatifan
3 1 2 1 1 2 B. Kerjasama
4 1 2 1 1 1 C. Disiplin
5 2 2 1 1 2 D. Perhatian
6 3 3 3 3 3 E. Tanggung
7 3 3 3 3 3 Jawab
8 2 3 3 3 3
9 3 1 2 2 2
10 1 1 3 3 3
11 3 2 1 1 1
81
No. Urut Aspek yang dinilai
Ket.
Siswa A B C D E
12 1 2 2 2 2
13 3 3 2 2 3
14 2 2 1 1 1
15 3 1 1 1 2
16 2 1 2 2 3
17 2 2 2 2 2 Kategori
18 2 2 1 1 1
19 2 1 2 2 1 1 = Kurang
20 2 2 2 2 3 2 = Sedang
21 1 2 2 2 3 3 = Baik
22 3 3 3 3 3
23 2 2 3 3 3
24 2 2 2 2 3
25 2 1 1 1 1
26 3 3 2 2 3
∑ Kategori 8 6 5 10 11
3
∑ Kategori 12 12 11 10 6
2
82
No. Urut Aspek yang dinilai
Ket.
Siswa A B C D E
∑ Kategori 6 8 10 6 9
1
Tabel 4.14
Persentase Hasil Observasi Pembelajaran Matematika
Kategori
No. Aspek yang diskor Ket.
1 2 3
1. Keaktifan 26,66% 43,33% 30,00% 1 = Kurang
2. Kerjasama 33,33% 46,66% 20,00% 2 = Sedang
3. Disiplin 36,66% 43,33% 20,00% 3 = Baik
4. Perhatian 23,33% 33,33% 43,33%
5. Tanggung Jawab 33,33% 23,33% 43,33%
Berdasarkan data pada tabel di atas, menunjukan bahwa
proses pembelajaran Matematika pada materi perkalian dua
83
bilangan dengan menggunakan NHT (number head together)
pada pembelajaran Matematika kelas IV SD Negeri Neglasari
jika dilihat dari aspek keaktifan terdapat 9 siswa yang
keaktifannya tinggi atau (34,61%), yang keaktifannya sedang
ada 15 orang siswa (57,69%) dan siswa yang keaktifannya
kurang ada 2 siswa (7,69%). Dari aspek kerjasama, siswa yang
kerjasamanya tinggi ada 12 orang siswa (46,15%), siswa yang
kerjasamanya sedang ada 9 orang (34,62,00%) dan siswa yang
kerjasamanya kurang ada 5 orang siswa (19,23%). Dari aspek
disiplin, siswa yang disiplinya tinggi ada 10 orang (38,46%),
siswa yang disiplinnya sedang ada 11 orang (42,31%), siswa
yang disiplinya kurang ada 5 orang (19.23%). Dari aspek
perhatian, siswa yang perhatiannya tinggi ada 13 orang
(50,00%), siswa yang perhatiannya sedang ada 10 orang siswa
(38,46%), dan siswa yang perhatiannya kurang ada 3 orang
(11,54%). Dari aspek tanggung jawab siswa yang tanggung
jawabnya tinggi ada 16 orang (61,54%), siswa yang tanggung
jawabnya sedang ada 8 orang (30,72%), dan siswa yang
tanggung jawabnya kurang ada 2 orang (7,69%)
d. Hasil Wawancara Siklus 1
84
Untuk mengetahui persepsi siswa terhadap penerapan model
NHT (number head together) pada pembelajaran Matematika
yang telah dilaksanakan, guru melaksanakan wawancara
dengan 7 orang orang siswa yang sudah dipilih berdasarkan
kategorisasi tes hasil belajar.
Hasil wawancara dengan siswa tentang materi dan
penampilan guru ketika dalam proses pembelajaran dikatakan
sebagain kecil siswa (2 orang) menyatakan sangat menarik.
Kemudian perasaan siswa ketika mengikuti pembelajaran
seluruh siswa menyatakan tidak tertekan. Sedangkan menjawab
pertanyaan tentang penerapan NHT (number head together),
sebagian besar siswa (5 orang) menyatakan senang, sebagian
yang lain yakni 2 orang lagi menyatakan kurang senang. Dari
sebagian siswa yang menyatakan senang mereka beralasan
bahwa dengan NHT (number head together) dapat melatih
keterampilan berpikir dan keberanian bertanya. Sedangkan
sebagian siswa yang lain yang menyatakan kurang senang
beralasan bahwa pembelajaran Matematika dengan
menggunakan NHT (number head together) kurang menarik dan
kurang dapat dipahami.
85
3. Hasil Penelitian pada Siklus kedua
1. Hasil Tes Siklus 2
a) Hasil tes Kelompok Siklus 2
Berdasarkan hasil tes kelompok pada siklus kedua didapatkan skor-
skor seperti tercantum dalam tabel berikut:
Tabel 4.15
Skor Hasil Tes Siklus 2 Pembelajaran Matematika di Kelas III
SD Negeri Neglasari
KKM: 75
NILAI PRA
NO. NAMA SISWA KET
SIKLUS 2
1 80 Tuntas
ACHKAM AL'ADLI
2 100 Tuntas
AHMAD FIKRI ARDA BILLY
3 60 Belum tuntas
ADNAN NAUFAL HISYAM
4 100 Tuntas
AKSAN KAMIL
5 70 Belum tuntas
ANNISHA PURBA SARI
6 100 Tuntas
AQILA NUR MAULIDA
7 80 Tuntas
ARISKA ADHARAYA
8 100 Tuntas
AUFA RAIS DARMAWAN
9 AUQILIA PRISILIA SASMITA 80 Tuntas
86
PELANGI
10 80 Tuntas
AZKA ALDRIC BIMANSYAH
11 100 Tuntas
AZRIL MAULANA YUSUP
12 80 Tuntas
FHIRA ANGGRAENI
13 100 Tuntas
HAIFA SALSABILA
14 100 Tuntas
HAKLIS PUTRA
15 80 Tuntas
HASNA NABILA TIRTANA
16 80 Tuntas
M. ZAHRAN FIRDAUS
17 100 Tuntas
MOH. ELVAN ANGGARA
18 80 Tuntas
MOH ZAMILUDIN
19 100 Tuntas
MUHAMAD RIZKIAN
20 MUHAMMAD ERZI BO'A 80 Tuntas
SAPUTRA
21 100 Tuntas
MUHAMMAD TRIMANSYAH
22 80 Tuntas
NAFISA ZAHIRA RAFIFA
23 100 Tuntas
NENG ANA APRILIA
24 80 Tuntas
NIKO ALDIANSYAH
25 100 Tuntas
NURHADI IZJI TURTUSY
26 100 Tuntas
SILVA DEANOVAN
Jumlah 2.310
Rata-rata 88,85
87
Tabel 4.16
Pengelompokan berdasarkan skor
Kategori Skor Frekuensi Persen Keterangan
A 100 < A < 90 13 50,00 T
B 89 < B < 79 11 42,30 T
C 78 < C < 68 1 03,85 BT
D 67 < D <57 1 03,85 BT
Jumlah 26 100 %
Grafik 4.17 Pengelompokan Pembelajaran Siklus 2
88
Berdasarkan data pada tabel di atas menunjukan bahwa semua
kelompok yang dinyatakan lulus pada siklus kedua. Ini menunjukan
bahwa pembelajaran Matematika pada pokok bahasan alat indera
mata manusia dengan menggunakan model NHT (number head
together) dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
b) Hasil Tes Formatif Siklus 2
Data pada tabel di atas menunjukan perolehan skor pada siklus
ke dua pembelajaran Matematika dengan menggunakan model NHT
(number head together), yaitu siswa yang memperoleh skor 100 ada
13 orang siswa (50,00%) atau setengahnya dari jumlah, siswa yang
memperoleh skor 80 ada 11 orang siswa (42,30%) atau hampir
setengahnya dati jumlah, siswa yang memperoleh skor 70 ada 1
orang siswa (03,85%) atau sebagian kecil, dan siswa yang
memperoleh skor 60 ada 1 orang siswa (03,85%) hanya sebagian
kecil. Dari keseluruhan skor pada siklus kedua ini pembelajaran
Matematika dengan menggunakan model NHT (number head
together) dapat disimpulkan bahwa ada 24 siswa (92,31%) hampir
seluruhan siswa yang dinyatakan lulus atau tuntas sedangkan 2 siswa
(1,70%) siswa dinyatakan belum lulus.
89
Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa hasil skor tes pada
siklus kedua jumlah siswa yang masuk kategori A ada 13 orang siswa,
sedang jumlah siswa yang masuk kategori B sebanyak 11 orang, yang
masuk kategori C ada 1 orang dan yang masuk kategori paling bawah
yaitu kategori D ada 1 siswa dinyatakan tidak tuntas. Ini
membuktikan pembelajaran pada siklus ini sudah sesuai dengan
harapan yaitu tingkat ketuntasan 92,31 % lebih dari target 75 %..
2. Hasil Non Tes Siklus 2
a) Hasil Angket Siklus 2
Berdasarkan hasil angket yang disebar kepada siswa setelah
selesai pembelajaran Matematika diperoleh data, angket pertama
yaitu sikap siswa terhadap pelajaran Matematika, menunjukan
bahwa 60% atau lebih dari setenganhnya menjawab sangat setuju,
30% atau hampir setengahnya menjawab setuju, 10% atau sebagian
kecil menyatakan tidak setuju, dan sisanya 0% atau sebagian kecil
menyatakan sangat tidak setuju.
Sedangkan angket jenis kedua tentang peskoran terhadap
pembelajaran Matematika dengan menggunakan model NHT
(number head together) adalah 70% atau hampir setengahnya
menjawab sangat setuju, 20% atau hampir setengahnya menyatakan
90
setuju, 10% atau sebagian kecil menyatakan tidak setuju, dan 0%
atau tidak ada seorang pun yang menyatakan sangat tidak setuju.
Berdasarkan hasil angket ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan
model picture and picture pada pembelajaran Matematika dalam
siklus 2 sudah diminati siswa.
b) Hasil Jurnal Siklus 2
Setelah pelaksanaan tindakan pada siklus ke dua, hasil jurnal
yang dibuat siswa mengenai pembelajaran Matematika dengan
menggunakan NHT (number head together) disebutkan bahwa
hampir sebagian besar siswa (24 orang) menyatakan penggunaan
model NHT (number head together) dapat meningkatkan minat dan
pemahaman siswa dan sebagian kecil lainnya (2 orang) menyatakan
pembelajaran Matematika dengan menggunakan model NHT
(number head together) kurang menyenangkan.
c) Hasil Observasi Siklus 2
Hasil observasi yang dilakukan oleh observer terhadap aktivitas
belajar siswa selama proses pembelajaran Matematika dengan
menggunakan model NHT (number head together) pada pelaksanaan
siklus kedua tersusun dalam tabel berikut.
Tabel 4.18
91
Hasil Observasi pada Kegiatan Pembelajaran
Siklus kedua
No. Urut Aspek yang diskor
Ket.
Siswa A B C D E
1 2 2 1 1 1
2 3 3 3 3 3 A. Keaktifan
3 2 3 3 3 3 B. Kerjasama
4 3 1 2 2 2 C. Disiplin
5 3 3 3 3 3 D. Perhatian
6 2 2 3 3 3 E. Tanggung
7 2 2 2 2 3 Jawab
8 2 2 1 1 1
9 3 3 3 3 3
10 2 3 3 3 3
11 3 1 2 2 2
12 3 3 3 3 3
13 2 2 3 3 3
14 2 2 2 2 3
15 3 3 3 3 3
16 2 1 2 2 3 Kategori
92
No. Urut Aspek yang diskor
Ket.
Siswa A B C D E
17 2 2 2 2 2
18 2 2 1 1 1 1 = Kurang
19 2 2 1 1 1 2 = Sedang
20 3 3 3 3 3 3 = Baik
21 2 3 3 3 3
22 3 1 2 2 2
23 3 3 3 3 3
24 2 2 1 1 1
25 3 3 3 3 3
26 2 3 3 3 3
∑ Kategori 3 11 12 14 14 17
∑ Kategori 2 15 10 7 7 4
∑ Kategori 1 0 4 5 5 5
Tabel 4.19
93
Persentase Hasil Observasi Pembelajaran Matematika
Kategori
No. Aspek yang diskor Ket.
1 2 3
1. Keaktifan 0 56,6 43,33 1 = Kurang
2. Kerjasama 16,6 7 43,33 2 = Sedang
3. Disiplin 7 40 53,33 3 = Baik
4. Perhatian 16,6 30 53,33
5. Tanggung Jawab 7 30 66,67
16,6 16,6
7 7
16,6
Berdasarkan data pada tabel di atas, menunjukan bahwa proses
pembelajaran dengan penerapan model NHT (number head together)
pada pembelajaran Matematika kelas IV SD Negeri Neglasari
Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor pada kompetensi dasar
pentingnya perkalian jika dilihat dari aspek keaktifan terdapat 15 siswa
yang keaktifannya tinggi atau (57,69%), yang keaktifannya sedang ada
94
11 orang siswa (42,31%) dan siswa yang keaktifannya kurang, tidak
ada. Dari aspek kerjasama, siswa yang kerjasamanya tinggi ada 13
orang siswa (50,00%), siswa yang kerjasamanya sedang ada 11 orang
(42,30%) dan siswa yang kerjasamanya kurang ada 2 orang siswa
(7,70%). Dari aspek disiplin, siswa yang disiplinnya tinggi ada 14 orang
(53,85%), siswa yang disiplinnya sedang ada 10 orang (38,45%), siswa
yang disiplinya kurang ada 2 orang (7,70%). Dari aspek perhatian, siswa
yang perhatiannya tinggi ada 13 orang (50,00%), siswa yang
perhatiannya sedang ada 11 orang siswa (42,30%), dan siswa yang
perhatiannya kurang ada 2 orang (07,70%). Dari aspek tanggung jawab
siswa yang tanggung jawabnya tinggi ada 16 orang (61,54%), siswa
yang tanggung jawabnya sedang ada 8 orang (30,76%), dan siswa yang
tanggung jawabnya kurang ada 2 orang (07,70%)
d) Hasil Wawancara Siklus 2
Untuk mengetahui persepsi siswa terhadap penerapan NHT
(number head together) pada pembelajaran Matematika yang telah
dilaksanakan, guru melaksanakan wawancara dengan 5 orang siswa
yang sudah dipilih berdasarkan kategorisasi tes hasil belajar.
Hasil wawancara dengan siswa tentang materi dan penampilan
guru ketika dalam proses pembelajaran dikatakan sebagain besar
95
siswa (4 orang) menyatakan sangat menarik. Kemudian perasaan
siswa ketika mengikuti pembelajaran seluruh siswa menyatakan tidak
tertekan. Sedangkan menjawab pertanyaan penerapan model NHT
(number head together) sebagian besar siswa (4 orang) menyatakan
senang, 1 orang lagi menyatakan kurang senang. Dari sebagian siswa
yang menyatakan senang mereka beralasan bahwa dengan model
NHT (number head together) dapat melatih keterampilan berpikir
dan keberanian bertanya. Sedangkan sebagian siswa yang lain yang
menyatakan kurang senang beralasan bahwa pembelajaran
Matematika dengan menggunakan model NHT (number head
together) kurang menarik dan kurang dapat dipahami.
B. Pembahasan
1. Siklus 1
a. Perencanaan
Hasil penelitian ini terbagi menjadi dua siklus, yang dimulai dari
refleksi awal. Refleksi awal dilaksaanakaan dengan melakukan
pengamatan pendahuluan untuk mengetahui kondisi awal dilakukan oleh
pengamat kelas, yakni rekan sejawat. Hasil refleksi awal dipergunakan
96
untuk menetapkan dan merumuskan rencana tindakan yaitu menyusun
strategi awal pembelajaran.
Berdasarkan hasil pengamatan pendahuluan ditemukan bahwa
selama pembelajaran berlangsung sebagian besar siswa cenderung
kurang berminat menyelesaikan soal-soal latihan, dan guru harus selalu
mengingatkan agar siswa mengerjakan latihan, kurang memperhatikan
penjelasan guru, kurang bersemangat dan cenderung pasif, tidak aktif
dalam mengemukakan pendapat atau bertanya dalam mengikuti proses
pembelajaran.
Minat belajar siswa dalam pembelajaran kurang ditandai dengan
banyaknya siswa selama pembelajaran berlangsung tidak ada minat
untuk segera menyelesaikan soal-soal latihan khususnya perkalian mata
manusia Minat untuk bertanya juga kurang karena siswaa cenderung
pasif pada waktu guru memberikan pertanyaan atau saat guru
memberikan tugas.
Selanjutnya dilakukan refleksi atau pemaknaan terhadap perilaku
siswa tersebut. Berdasarkan hasil refleksi dapat disimpulkan bahwa siswa
kurang berminat dan kurang terampil dalam menyelesaikan masalah alat
indera mata manusia
97
Kegiatan pembelajaran alat indera mata manusia dapat disajikan
dengan menggunakan strategi atau pendekatan dan penggunaan media
pembelajaran yang menarik dan dapat mengatasi permasalahan tersebut,
yaitu model NHT (number head together). Akhirnya kegiatan
pembelajaran dapat berjalan dengan wajar, motivasi belajar siswa
meningkat, dan pada akhirnya pestasi belajar siswa meningkat.
Pada tahap ini, peneliti menyusun rencana-rencana yang akan dilakukan
pada saat pembelajaran, meliputi:
1. Menentukan topik bahasan berdasarkan kurikulum 2013, yaitu materi
memahami pentingnya perkalian
2. Menyusun rencana pembelajaran yang mencakup:
a) Mengkaji standar kompetensi untuk SD kelas III semester 1, yaitu
Memahami pentingnya perkalian
b) Membuat indikator, yaitu:
Menjelaskan pengertian perkalian
Menjelaskan fungsi perkalian
Memberikan contoh perkalian
c) Menyediakan sarana/ alat : Buku siswa dan lembar kerja siswa.
d) Membuat instrumen pembelajaran yang meliputi RPP dan LKS
tentang materi perkalian
98
e) Menyediakan alat-alat dan media yang digunakan.
f) Membuat jadwal pelaksanaan penelitian serta proses pembelajaran
dengan mempergunakan model NHT (number head together).
g) Menyediakan instrumen observasi dan instrumen tes
h) Menyiapkan daftar skor
i) Membentuk kelompok kecil yang terdiri dari 4 orang secara
heterogen
j) Menjelaskan tentang penerapan media pembelajaran.
b. Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap ini peneliti akan melakukan kegiatan pembelajaran di
kelas dengan model pembelajaran berdasarkan masalah sesuai dengan
rencana pelajaran (RP). Selama pelaksanaan pembelajaran peneliti dan 2
orang pengamat akan melakukan observasi terhadap jalannya
pembelajaran, setelah proses tersebut selesai peneliti dan pengamat
akan melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang telah berlangsung,
hasil refleksi akan dipakai untuk memperbaiki dan menyusun perangkat
pembelajaran untuk siklus berikutnya. Pembelajaran dalam penelitian ini
99
berlangsung dalam siklus-siklus yang saling berkaitan. Garis besar
pelaksanaan pembelajaran pada setiap siklus adalah melakukan
pembelajaran dengan memakai strategi belajar media pembelajaran
berdasarkan masalah.
Adapun langkah-langkah pelaksanaan strategi belajar ini adalah :
Pendahuluan
1. Guru masuk kelas dan mengucapkan salam
2. Guru mengkondisikan siswa untuk belajar dan mengatur tempat duduk
siswa, berdo’a dan mengabsen siswa.
3. Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang tujuan pembelajaran
dan kegiatan yang akan dilaksanakan.
4. Tanya jawab antara siswa dan guru yang berhubungan dengan materi
pembelajaran.
Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi menjadi 6 kelompok, setiap kelompok terdiri atas 4 dan 5
orang.
2. Siswa memperhatikan penjelasan guru tentang hal-hal yang akan
dikerjakan dalam diskusi kelompok
3. Guru memberi kesempatan kepada siswa untk bertanya tentang cara
mengerjakan materi perkalian
100
4. Guru membagikan LKS kepada siswa dalam kelompok.
5. Guru membimbing siswa yang sedang mengerjakan LKS
6. Setiap kelompok melaporkan hasil kerjanya dan membacakan di depan
kelas dan kelompok lain menanggapinya.
Penutup
1. Siswa bersama guru membahas hasil diskusi kelompk
2. Menyimpulkan hasil pembahasan materi
3. Mengerjakan latihan soal
c. Observasi
Pembahasan
Berdasarkan hasil observasi dan tes formatif pada siklus pertama dapat
disimpulkan beberapa hal yaitu sebagai berikut:
1. Hasil tes formatif pada siklus 1 bila dibandingkan dengan skor awal ada
beberapa perubahan. Perubahan tersebut cenderung mengerah ke
perbaikan. Dari 26 orang siswa yang mengalami perubahan baik dari
skor awal ada 24 orang siswa. Sedangkan siswa yang memiliki skor
tidak berubah ada 2 orang siswa . Dari 2 orang siswa yang nilai tesnya
tidak mengalami perubahan disebabkan karena kurang
101
memperhatikan penjelasan guru sedangkan 5 orang siswa dan tingkat
konsentrasi serta pemahamannya kurang baik.
2. Pada saat pembelajaran berlangsung sebagian besar siswa cenderung
kurang berminat menyelesaiakn soal-soal latihan, dan guru harus
selalu mengingatkan agar siswa mengerjakan latihan, kurang
memperhatikan penjelasan guru, kurang bersemangat dan cenderung
pasif, tidak aktif dalam mengemukakan pendapat atau bertanya dalam
mengikuti proses pembelajaran.
3. Minat belajar siswa dalam pembelajaran kurang ditandai dengan
banyaknya siswa selama pembelajaran berlangsung tidak ada minat
untuk segera menyelesaikan lembar kerja siswa.
4. Minat untuk bertanya juga kurang karena siswaa cenderung pasif pada
waktu guru memberikan pertanyaan atau saat guru memberikan
tugas.
d.Refleksi
1. Pada kegiatan awal guru perlu terus-menerus memotivasi siswa agar
aktif selama pembelajaran
2. Pada kegiatan di kelompok, keaktifan siswa perlu ditingkatkan dengan
cara memberi penghargaan kepada anggota kelompok yang yang
masih mengalami kesulitan di dalam menerapkan media pembelajaran
102
benda asli. Guru harus memberi pelayanan menyeluruh kepada semua
kelompok siswa untuk memberi pelayanan yang maksimal kepada
siswa, setiap kelompok diberi waktu untuk mempresentasikan hasil
kerjanya dan kemudian ditanggapi dan disempurnakan
3. Agar interaksi antar siswa tampak aktif, setiap siswa diberi kesempatan
untuk bertanya kepada teman sebaya.
2. Siklus 2
a. Perencanaan
1. Menyusun dan mempersiapkan perbaikan instrumen pembelajaran
yang meliputi RPP dan LKS tentang materi alat indera mata manusia
2. Mempersiapkan alat-alat dan media yang digunakan, yaitu media
pembelajaran benda asli dan semi riil.
3. Menambah waktu diskusi kelompok agar setiap kelompok mendapat
kesempatan mempresentasikan hasil kerja kelompoknya
4. Mempersiapkan instrumen observasi dan instrumen tes
5. Mempersiapkan daftar skor
6. Pembentukan kelompok yang terdiri dari 4 dan 5 orang secara
heterogen
7. Penjelasan tentang penerapan model pembelajaran berdasarkan
masalah.
103
b. Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap ini peneliti akan melakukan kegiatan pembelajaran di
kelas dengan model pembelajaran berdasarkan masalah sesuai dengan
rencana pelajaran (RP). Selama pelaksanaan pembelajaran peneliti dan 2
orang observer akan melakukan observasi terhadap jalannya
pembelajaran, setelah proses tersebut selesai peneliti dan pengamat
akan melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang telah berlangsung,
hasil refleksi akan dipakai untuk memperbaiki dan menyusun perangkat
pembelajaran untuk siklus berikutnya. Pembelajaran dalam penelitian ini
berlangsung dalam siklus-siklus yang saling berkaitan. Garis besar
pelaksanaan pembelajaran pada setiap siklus adalah sebagai berikut :
1. Menyusun Rencana pelajaran (RP).
2. Melakukan pembelajaran dengan memakai model pembelajaran NHT
(Number Head Together)
Adapun langkah-langkah pelaksanaan strategi belajar ini adalah :
Pendahuluan
1. Guru mengkondisikan siswa untuk belajar dan mengatur tempat duduk
siswa secara berkelompok.
2. Berdo’a dan mengabsen
3. Tanya jawab guru dan siswa yang berhubungan dengan materi
104
4. Siswa menyiapkan benda-benda yang telah ditugaskan sebelumnya.
Kegiatan Inti
1. Siswa memperhatikan penjelasan guru tentang hal-hal yang akan
dikerjakan dalam diskusi kelompok
2. Guru membagikan LKS kepada siswa dalam kelompok.
3. Guru membimbing siswa yang sedang mengerjakan LKS
4. Setiap kelompok melaporkan hasil kerjanya dan membacakan di depan
kelas dan kelompok lain menanggapinya.
5. Siswa bersama kelompok guru membahas hasil diskusi kelompok.
Penutup
1. Siswa bersama guru menyimpulkan hasil diskusi kelompok.
2. Mengerjakan latihan soal
3. Guru memberikan pekerjaan rumah
c. Obsevasi
Pembahasan
Dalam siklus kedua, observasi dilakukan oleh teman sejawat
sebagai mitra kolaborator, kolaborator mencatat semua aktivitas yang
dilakukan oleh guru dan siswa selama proses pembelajaran, yaitu mulai
kegiatan awal hingga kegiatan akhir. Observasi dilakukan dengan
instrumen observasi. Hasil pengamatan sebagai berikut:
105
1.Berdasarkan hasil analisa terhadap skor tes formatif siklus 2 bila
dibandingkan dengan tes awal ada perubahan skor yang sangat
merata. Dari 26 siswa tidak ada satu orang siswa pun yang nilainya
nenurun. Hanya ada 2 orang siswa yang mendapat nilainya tetap tidak
berubah dari skor awal. Hal ini terjadi karena kekurang hati-hatian
siswa dalam menjawab soal pada tes formatif.
2. Siswa lebih aktif dalam bertanya apabila mereka merasa tidak bisa
mengerjkan soal latihan.
3. Siswa lebih aktif dalam menyelesaikan soal-soal tentang alat indera
mata manusia.
4. Siswa yang malas, cenderung ada peningkatan kinerjanya, mereka lebih
antusias menyelesaikan soal-soal tentang alat indera mata manusia.
d.Refleksi
1. Pada siklus ketiga guru harus lebih memotivasi siswa untuk lebih
berhasil, agar ketuntasan tercapai maksimal.
2. Pada kegiatan di kelompok, keaktifan siswa perlu ditingkatkan dengan
cara memberi penghargaan kepada siswa yang baik dalam hasil kerja
menyelesaikan soal-soal tentang alat indera mata manusia.
3. Setiap siswa diberi kesempatan bertanya dan mengemukakan
pendapat
106
3. Rekapitulasi Tes Formatif
Pembelajaran dengan model NHT (number head together) ini
menekankan pada kegiatan aktif siswa, karena semua siswa terlibat dalam
pembelajaran. Masing-masing kelompok diberi tugas untuk mendiskusikan
atau mengerjakan tugas secara bersama-sama.
Dilihat dari hasil pembelajaran mengalami peningkatan yang sangat
signifikan. Hal ini dapat dibandingkan dari hasil observasi awal, tes sumatif 1
dan tes sumatif 2. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.20
REKAPITULASI HASIL EVALUASI
Nilai
No. NAMA Pra Siklus Siklus Ket.
siklus I II
1 50 80 80 T
ACHKAM AL'ADLI
2 70 80 100 T
AHMAD FIKRI ARDA BILLY
3 50 70 60 BT
ADNAN NAUFAL HISYAM
4 AKSAN KAMIL 80 100 100 T
107
Nilai
No. NAMA Pra Siklus Siklus Ket.
siklus I II
5 40 60 70 BT
ANNISHA PURBA SARI
6 70 80 100 T
AQILA NUR MAULIDA
7 100 100 80 T
ARISKA ADHARAYA
8 70 80 100 T
AUFA RAIS DARMAWAN
9 AUQILIA PRISILIA SASMITA 70 100 80 T
PELANGI
10 60 80 80 T
AZKA ALDRIC BIMANSYAH
11 80 100 100 T
AZRIL MAULANA YUSUP
12 70 100 80 T
FHIRA ANGGRAENI
13 60 80 100 T
HAIFA SALSABILA
14 70 100 100 T
HAKLIS PUTRA
15 50 80 80 T
HASNA NABILA TIRTANA
16 60 80 80 T
M. ZAHRAN FIRDAUS
17 80 80 100 T
MOH. ELVAN ANGGARA
18 60 80 80 T
MOH ZAMILUDIN
19 70 100 100 T
MUHAMAD RIZKIAN
20 MUHAMMAD ERZI BO'A 60 80 80 T
SAPUTRA
108
Nilai
No. NAMA Pra Siklus Siklus Ket.
siklus I II
21 100 80 100 T
MUHAMMAD TRIMANSYAH
22 60 80 80 T
NAFISA ZAHIRA RAFIFA
23 80 100 100 T
NENG ANA APRILIA
24 60 80 80 T
NIKO ALDIANSYAH
25 70 100 100 T
NURHADI IZJI TURTUSY
26 Siva Deanovan 100 80 100 T
Jumlah 1.790 2.230 2.310
Rata-rata 68,85 85,77 88,85
Grafik 4.21
Rata-Rata Hasil Tes Tiga Siklus
109
Berdasarkan data dalam tabel di atas dapat disimpulkan bahwa
hasil pembelajaran Matematika pada materi perkalian dua bilangan
dengan menggunakan model NHT (number head together) di kelas III
SD Negeri Neglasari Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor dapat
meningkatkan hasil belajar siswa dengan fakta siklus 2 dikurangi
prasiklus (88,85-68,85 = 20). Jadi ada kenaikan rata-rata 20.
Faktor lain yang mendukung keberhasilan pembelajaran
dukungan sarana pembelajaran di kelas yang relatif baik. Suasana
lingkungan belajar yang tenang, nyaman. Kemudian, pembawaan guru
yang baik, santun dalam berbahasa dan mampu memotivasi siswa
untuk belajar sehingga siswa merasa tidak tertekan dan terpaksa untuk
belajar Matematika.
110
Sedangkan Matematika dengan menggunakan model NHT
(number head together) adalah kebiasaan buruk siswa yang selalu
mementingkan kegiatan bermain dari pada belajar. Implikasinya adalah
proses pembelajaran harus selalu dipantau secara maksimal.
BAB V
KESIMPULAN
A. Simpulan
111
Berdasarkan hasil penelitian melalui dua siklus, bahwa dengan
menerapkan model pembelajaran NHT (Number Head Together) maka dapat
disimpulkan:
1. Terdapat peningkatan pemahaman siswa mengenai perkalian dua bilangan
setelah menggunakan model NHT (Number Head Together)
2. Menemukan pembelajaran yang efektif jika NHT (Number Head Together)
dillaksanakan dengan baik, benar dan tepat.
Adapun hasil belajar siswa tentang perkalian dua bilangan setelah
mengikuti pembelajaran dengan model NHT (Number Head Together)
menunjukan perkembangan sebagai berikut:
Pada akhir siklus 1, dari 26 siswa rata- rata 74,80 , dengan kategori A, B dan
C dengan keterangan Tuntas yakni 46,15 % yaitu 12 siswa.
Pada akhir siklus II, dari 26 siswa rata-rata 88,85 mencapai KKM dengan
kategori A, B dan C mencapai 92,30 % Yaitu 24 siswa .
B. Saran
Berdasarkan simpulan yang diperoleh dari hasil penelitian, maka peneliti
menyarankan hal- hal sebagai berikut:
112
1. Kepala sekolah diharapkan untuk memberikan dukungan kepada guru agar
menerapkan model NHT (Number Head Together) dalam pelaksanaan
kegiatan pembelajaran.
2. Untuk Guru- guru Sekolah Dasar disarankan agar lebih mengenal dan
mempelajari berbagai model khususnya model NHT (Number Head
Together)
3. Guru dapat mengoptimalkan media yang ada di sekolah .
4. Guru dapat memilih media yang lebih efisien murah dan mudah dibuat
5. Bagi peneliti lain hendaknya melanjutkan dan lebih mengembangkan lagi
penelitian yang lebih luas terhadap faktor- faktor penyebab terjadinya
masalah yang teliti.
Peneliti menyadari bahwa hasil penelitian ini belum sempurna , maka perlu
dilakukan tindakan di sekolah/ kelas lain sehingga dapat menyempurnakan
hasil penelitian ini.