Proposal Kuantitatif
Proposal Kuantitatif
PROPOSAL
Dosen Pengampu:
Oleh:
Ali Ridlo
NIM : 20232600476
Proposal oleh:
Nama : Ali Ridlo
NIM : 20232600476
Judul : Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Numbered Heads
Together Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VI
MI Al-Azhar Menganti
Proposal ini telah diperiksa dan disetujui untuk diujikan oleh:
Dosen Pembimbing
ii
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE
NUMBERED HEADS TOGETHER TERHADAP HASIL BELAJAR
MATEMATIKA SISWA KELAS VI MI AL-AZHAR MENGANTI
1
juga bisa dikatakan bahwa belajar matematika amat membosankan. Hal ini
dikarenakan bahwa masih banyak peserta didik yang mengalami kesulitan-
kesulitan dalam mengerjakan soal matematika.4
Berdasarkan hasil observasi awal di MI Al-Azhar Menganti, ditemukan
bahwa hasil belajar matematika siswa kelas VI masih tergolong rendah.
Sebagai hasil dari data nilai ulangan harian, hanya 41% siswa mencapai
Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebesar 73, sementara 59% siswa
lainnya tidak mencapai nilai tuntas. Salah satu faktor rendahnya prestasi
belajar matematika siswa adalah kurangnya inovasi dalam strategi
pembelajaran yang mampu melibatkan siswa secara aktif dan kolaboratif.
Oleh karena itu, di perlukan inovasi dalam strategi pembelajaran yang dapat
meningkatkan partisipasi aktif siswa dan memfasilitasi pemahaman konsep
secara mendalam.
Untuk mengatasi permasalahan di atas maka banyak solusi yang dapat
dilakukan sebagai upaya perbaikan dalam pembelajaran, salah satunya adalah
dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads
Together (NHT). Model pembelajaran ini mengacu pada belajar kelompok
siswa. Masing-masing siswa diberi nomor kemudian dibuat suatu kelompok
kemudian secara acak guru akan memanggil nomor dari peserta siswa. Tujuan
dari model ini tidak lain adalah untuk memberikan kesempatan kepada siswa
untuk saling berbagi gagasan dan mempertimbangkan jawaban yang paling
tepat.5
Numbered Heads Together merupakan rangkaian penyampaian materi
dengan menggunakan kelompok sebagai wadah dalam menyatukan persepsi
atau pikiran siswa terhadap pertanyaan yang dilontarkan atau diajukan guru,
yang kemudian dipertanggungjawabkan oleh peserta didik sesuai dengan
4
Yuliana Susanti, “PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA
BERHITUNG DI SEKOLAH DASAR DALAM MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA,”
EDISI : Jurnal Edukasi dan Sains 2, no. 3 (Oktober 2020): 435–48,
https://ejournal.stitpn.ac.id/index.php/edisi.
5
Shelvi Febriyani, Mus Mulyadi, And Adam Nasution, “PENGARUH MODEL
PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEAD TOGETHER (NHT)
TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS VIII PADA MATA PELAJARAN SKI DI
MTSN 1 KOTA BENGKULU,” N.D.
2
nomor permintaan guru dari masing-masing kelompok. 6 Menurut Trianto
dalam Simamarta, dkk., model pembelajaran kooperatif tipe NHT sangat
bermanfaat untuk Pendidikan matematika di SD karena memungkinkan siswa
untuk mencari, mengorganisasi, dan memahami data dari berbagai sumber,
yang kemudian di presentasikan di kelas.7
Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dipilih karena
model ini memiliki berbagai keunggulan yang sangat relevan dan efektif
untuk pembelajaran matematika di sekolah dasar. Ada beberapa alasan
mengapa penggunaan model pembelajaran NHT dapat meningkatkan hasil
belajar siswa. Pertama, melalui kerja sama dalam kelompok, siswa dapat
saling membantu dan mendukung satu sama lain dalam memahami materi
pembelajaran. Kedua, NHT melibatkan semua anggota kelompok dalam
proses belajar. Setiap siswa memiliki peran dan tanggung jawab untuk
berkontribusi dalam kelompoknya. Ini dapat mendorong partisipasi aktif dan
memastikan bahwa setiap siswa terlibat aktif dalam pembelajaran.
Ketiga, melalui model pembelajaran NHT, siswa diajak untuk berpikir
kritis dan menganalisis informasi. Mereka harus berpikir secara mendalam
untuk dapat menjawab pertanyaan yang diberikan. Keempat, NHT dapat
meningkatkan keterampilan sosial siswa. Mereka belajar bekerja dalam tim,
berkomunikasi, mendengarkan pendapat orang lain, dan menghormati
perbedaan. Keterampilan sosial ini sangat penting dalam kehidupan sehari-
hari dan juga dapat membantu siswa dalam interaksi mereka di lingkungan
yang lebih luas.8 Dengan penggunaan model pembelajaran ini diharapkan
dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.
6
Indah Karunia Bakti, “Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Numbered Heads Together
(Nht) Terhadap Hasil Belajar Peserta Didik Pada Pembelajaran Pai Di Sd Negeri 5 Putri Betung
Gayo Lues,” n.d., 1–5.
7
Ester Julinda Simarmata Et Al., “Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered
Head Together Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa,” Jurnal Darma Agung 32, no. 6 (2024):
527–532, https://dx.doi.org/10.46930/ojsuda.v32i6.5193.
8
Luluk Mauli Diana et al., “Model Pembelajaran Numbered Head Together Untuk Meningkatkan
Hasil Belajar Siswa,” Jurnal Ilmiah Edutic : Pendidikan dan Informatika 9, no. 2 (June 3, 2023):
201–11, https://doi.org/10.21107/edutic.v9i2.20224.
3
Selain itu, model NHT juga mencerminkan nilai-nilai kebersamaan dan
kerja sama dalam Islam. Dalam pembelajaran kooperatif, siswa diajarkan
untuk saling membantu, berbagi informasi, dan menyelesaikan masalah
secara bersama-sama. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam al-
Quran:
َل اَل َل ْل
َوَتَع اَوُنْوا َع ى ا ِب ِّر َوالَّتْق ٰو ۖى َو َتَع اَوُنْوا َع ى اِاْلْثِم
َواْلُع ْدَواِن ۖ َواَّتُق وا الّٰل َه ۗ ِاَّن
٢ الّٰلَه َش ِدْيُد اْلِعَقاِب
9
Q.S. Al-Ma’idah, 2, n.d.
4
a. Pelajaran matematika merupakan mata pelajaran yang sulit, tidak
menyenangkan, bahkan mata pelajaran yang menakutkan selain itu
juga bisa dikatakan bahwa belajar matematika amat membosankan.
b. Rendahnya hasil belajar matematika siswa kelas VI MI Al-Azhar.
c. Kurangnya inovasi dalam memilih strategi pembelajaran yang mampu
melibatkan siswa secara aktif dan kolaboratif.
2. Batasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, peneliti membuat batasan
masalah supaya masalah dari penelitian ini tidak menyebar terlalu jauh,
dan sesuai topik. Oleh karena itu, peneliti hanya membatasi penelitian ini
yaitu sebagai berikut:
a. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe numbered heads together. Hal ini dikarenakan model
pembelajaran ini memberikan pengaruh yang signifikan terhadap hasil
belajar siswa yang di buktikan oleh peneliti terdahulu.
b. Dalam penelitian ini mata pelajaran yang dijadikan objek dalam
penelitian ini adalah matematika, khususnya pada materi bangun datar.
Hal ini berdasarkan dengan hasil studi dan observasi di lapangan,
materi bangun datar sering dianggap sulit oleh siswa karena
melibatkan pemahaman terhadap operasi hitung seperti perkalian,
pembagian, dan penjumlahan.
c. Penelitian ini dibatasi pada siswa Kelas VI MI Al-Azhar Menganti.
d. Penelitian ini tidak membahas faktor-faktor lain yang mungkin
mempengaruhi hasil belajar siswa, seperti motivasi belajar,
lingkungan belajar, atau perbedaan gaya belajar siswa. Hal ini
dilakukan karena penelitian dilakukan dalam batasan waktu, tenaga,
dan sumber daya tertentu, sehingga tidak memungkinkan untuk
mengkaji semua faktor yang mungkin memengaruhi hasil belajar.
5
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan pada identifikasi dan batasan masalah yang telah diuraikan
maka dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe numbered
heads together terhadap hasil belajar matematika siswa kelas VI MI Al-
Azhar?
2. Bagaimana pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe numbered
heads together terhadap hasil belajar matematika siswa kelas VI MI Al-
Azhar?
3. Bagaimana respon siswa terhadap penggunaan model pembelajaran
kooperatif tipe numbered heads together terhadap hasil belajar siswa
kelas VI MI Al-Azhar?
D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan masalah yang telah dirumuskan, tujuan yang hendak dicapai
dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mendeskripsikan penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe
numbered heads together terhadap hasil belajar matematika siswa kelas
VI MI Al-Azhar.
2. Untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe
numbered heads together terhadap hasil belajar matematika siswa kelas
VI MI Al-Azhar.
3. Untuk mengetahui respon siswa terhadap penggunaan model
pembelajaran kooperatif tipe numbered heads together terhadap hasil
belajar matematika peserta didik kelas VI di MI Al-Azhar.
E. Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara
teoritis maupun praktis.
1. Manfaat Teoritis
6
a. Penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi ilmiah bagi peneliti
lain yang tertarik mengembangkan kajian tentang model
pembelajaran kooperatif, strategi pembelajaran inovatif, atau upaya
peningkatan hasil belajar siswa di berbagai mata pelajaran.
b. Penelitian ini dapat menjadi landasan atau pijakan bagi penelitian
lanjutan yang ingin mengeksplorasi penerapan model NHT pada
tingkat pendidikan lain, mata pelajaran lain, atau dalam kaitannya
dengan variabel lain seperti motivasi belajar, keaktifan siswa, atau
keterampilan berpikir kritis.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Lembaga Pendidikan
Sebagai solusi terhadap masalah yang ada di dalam lembaga
pendidikan dan dapat dijadikan pertimbangan untuk diterapkan
dalam pembelajaran, di samping itu berguna sebagai referensi dalam
ilmu pendidikan yang dapat menambah lebih wawasan. Serta untuk
membantu dalam mengembangkan kualitas lembaga pendidikan,
bagi para pendidik, dan peserta didik yang ada di dalam lembaganya.
b. Bagi Pendidik
Dapat menambah wawasan pengetahuan pendidik dalam
pembelajaran matematika dengan menggunakan model numbered
heads together dalam upaya meningkatkan hasil belajar peserta
didik.
c. Bagi Peserta Didik
Dapat menambah wawasan dan pengetahuan peserta didik, sehingga
peserta didik dapat lebih mudah memahami materi dan dapat
membantu meningkatkan hasil belajar peserta didik dalam mata
pelajaran matematika.
d. Bagi Peneliti
7
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai wawasan, pengetahuan
dan pengalaman bagi peneliti mengenai pengarul model
pembelajaran kooperatif tipe numbered heads together.
F. Kerangka Teoritik
1. Model Pembelajaran Kooperatif
Model pembelajaran adalah bentuk pembelajaran yang tergambar
dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. 10 Joyce &
Weil dalam Putri dan Syifa berpendapat bahwa model pembelajaran
adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk
kurikulum (rencana pembelajaran jangka Panjang), merancang bahan-
bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang
lain.11
Pembelajaran kooperatif merupakan metode belajar yang
dilaksanakan dengan bekerjasama antar peserta didik, sehingga nantinya
peserta didik tidak semata mencapai kesuksesan secara individual atau
saling mengalahkan antar peserta didik. Namun mereka juga bisa
membantu teman belajarnya yang berkemampuan di bawah standar
minimum.12 Isjoni dalam Angga menyatakan, model pembelajaran
kooperatif adalah pemanfaatan kelompok kecil untuk memaksimalkan
belajar mereka dan belajar anggota lainnya dalam kelompok itu. 13
Sehingga dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling
10
Helmiati, Model Pembelajaran (Aswaja Pressindo, 2012).19.
11
Putri Khoerunnisa and Syifa Masyhuril Aqwal, “Analisis Model-Model Pembelajaran,”
Fondatia : Jurnal Pendidikan Dasar 4, no. 1 (March 2020): 1–27.
12
Rusyaid Rusyaid and Muh. Salim, “Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Jigsaw Terhadap
Kemampuan Bekerjasama Peserta Didik SD Negeri 222 Manajeng Kecamatan Sibulue Kabupaten
Bone,” Al-Riwayah : Jurnal Kependidikan 1, no. 1 (April 15, 2021): 91–124,
https://doi.org/10.47945/al-riwayah.v1i1.385.
13
Angga Pranata, “Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Terhadap Hasil Belajar
Ipa Siswa Pada Konsep Cahaya” (Kementrian Agama UIN Jakarta FITK, 2013),
https://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/24410/1/ANGGA%20PRANATA-
FITK.pdf.
8
Kerjasama dan saling membantu untuk memehami suatu materi
pembelajaran.
2. Numbered Heads Together
Model pembelajaran adalah pendekatan yang digunakan oleh guru
untuk mengorganisir dan menyajikan materi pembelajaran kepada siswa. 14
Pilihan model pembelajaran yang tepat dapat membantu meningkatkan
kualitas proses pembelajaran dan hasil belajar siswa. Salah satu model
pembelajaran yang efektif adalah Numbered heads Together (NHT).
NHT pertama kali dikembangkan oleh Spencer Kagan pada tahun
1993. Menurut Rahayu dalam Palupi, dkk, NHT adalah suatu model
pembelajaran yang lebih mengedepankan kepada aktivitas siswa
dalam mencari, mengolah, dan melaporkan informasi dari berbagai
sumber yang akhirnya dipresentasikan di depan kelas. 15 Suprijono dalam
Agni, berpendapat bahwa model NHT adalah model pembelajaran yang
diawali dengan numbering yaitu guru membagi kelompok dan tiap orang
dalam tiap kelompok diberi nomor. Kemudian guru mengajukan beberapa
pertanyaan dan pada kesempatan ini tiap kelompok menyatukan
kepalanya “Heads Together” berdiskusi memikirkan jawabannya.
Selanjutnya guru memanggil siswa yang memiliki nomor yang sama dari
tiap kelompok dan mendiskusikan jawaban yang paling tepat.16
3. Hasil Belajar
Belajar merupakan kegiatan yang dilakukan oleh tiap individu dalam
seluruh proses pendidikan untuk memperolah perubahan tingkah laku
dalam bentuk pengetahuan, ketrampilan dan sikap.17 Matlin dalam
14
Diana et al., “Model Pembelajaran Numbered Head Together Untuk Meningkatkan Hasil Belajar
Siswa.”
15
Diana Indah Palupi et al., “Mengenal Model Kooperatif Numbered Head Together (NHT) Untuk
Pembelajaran Anak Usia Dini,” EDUKASIA: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran 4, no. 1
(August 3, 2022): 21–28, https://doi.org/10.62775/edukasia.v4i1.89.
16
Agni Era Hapsari, “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together
Berbantuan Media Interaktif Untuk Meningkatkan Aktivitas Dan Prestasi Belajar Siswa,”
Scholaria : Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan 7, no. 1 (January 30, 2017): 1,
https://doi.org/10.24246/j.scholaria.2017.v7.i1.p1-9.
17
Teni Nurrita, “Pengembangan Media Pembelajaran Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa,”
MISYKAT: Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran, Hadist, Syari’ah dan Tarbiyah 3, no. 1 (June 27, 2018):
171, https://doi.org/10.33511/misykat.v3n1.171.
9
Nurhasanah & Subandi berpendapat bahwa, belajar adalah suatu
perubahan tingkah laku yang relatif permanen sebagai hasil dari
pengalaman.18 Dari beberapa pengertian belajar di atas maka dapat
disimpulkan bahwa belajar merupakan perubahan tingkah laku yang
dilakukan oleh individu sehingga adanya penambahan ilmu pengetahuan,
keterampilan, dan sikap.
Hasil belajar adalah proses untuk menentukan nilai belajar siswa
melalui kegiatan penilaian atau pengukuran hasil belajar. 19 Firmansyah
dalam Syachtiyani & Trisnawati mengatakan bahwa, belajar merupakan
hasil akhir yang diperoleh siswa setelah menyelesaikan proses belajar
yang dapat dijadikan ukuran apakah siswa tersebut sudah berhasil dalam
memahami materi yang disampaikan atau belum.20 Berdasarkan
pengertian di atas dapat disimpulkan hasil belajar adalah untuk
mengetahui tingkat keberhasilan yang dicapai oleh siswa setelah
mengikuti suatu kegiatan pembelajaran, dimana tingkat keberhasilan
tersebut kemudian ditandai dengan skala nilai berupa huruf atau kata atau
symbol.
G. Variabel Penelitian
Variabel merupakan suatu yang nilainya berubah-ubah atau berbeda-
beda, biasanya diberikan simbol X atau Y. Variabel dalam penelitian ini
adalah:
1. Variabel Independen (X)
Variabel ini sering disebut sebagai variabel stimulus, prediktor,
antecedent. Dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai variabel
bebas. Variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang
18
Mardiah Kalsum Nasution, “Penggunaan Metode Pembelajaran Dalam Peningkatan Hasil
Belajar Siswa,” JURNAL PENDIDIKAN MANAJEMEN PERKANTORAN 11, no. 1 (2017): 129.
19
Yogi Fernando, Popi Andriani, and Hidayani Syam, “Pentingnya Motivasi Belajar Dalam
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa,” ALFIHRIS : Jurnal Inspirasi Pendidikan 2, no. 3 (May 10,
2024): 61–68, https://doi.org/10.59246/alfihris.v2i3.843.
20
Wulan Rahayu Syachtiyani and Novi Trisnawati, “Analisis Motivasi Belajar Dan Hasil Belajar
Siswa Di Masa Pandemi Covid-19,” Prima Magistra: Jurnal Ilmiah Kependidikan 2, no. 1 (March
29, 2021): 90–101, https://doi.org/10.37478/jpm.v2i1.878.
10
menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen
(terikat).21 Variabel bebas dalam penelitian ini adalah “Model
Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together” dengan
indikator:
a. Keterlibatan aktif siswa dalam kelompok
b. Kerjasama dan diskusi dengan anggota kelompok
H. Hipotesis Penelitian
Menurut Ismael Nurdin dan Sri Hartati dalam Sri Rochani Mulyani,
hipotesis merupakan satu kesimpulan sementara yang belum final, jawaban
sementara, dugaan sementara, yang merupakan konstruk peneliti terhadap
masalah penelitian, yang menyatakan hubungan antara dua atau lebih
variabel.22 Suharsimi dalam Zaki dan Saiman, Hipotesis alternatif atau
hipotesis kerja adalah hipotesis yang menyatakan hubungan antara variabel
21
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D (Alfabeta, Bandung, 2013),
https://elibrary.stikesghsby.ac.id/index.php?p=show_detail&id=1879&keywords=.
22
Sri Rochani Mulyani, Metodologi Penelitian (Widina Bhakti Persada Bandung, 2021).
11
(Ha).23 Hipotesis kerja menyatakan adanya hubungan antara variabel X dan Y.
Sedangkan hipotesis nol (Ho) menyatakan tidak adanya hubungan antara
variabel, atau tidak adanya pengaruh variabel X terhadap variabel Y.
Contohnya, tidak ada hubungan antara nilai Matematika dengan nilai IPA.
Dalam penelitian ini asumsi sementara adalah sebagai berikut:
Ha : Terdapat pengaruh yang signifikan antara metode pembelajaran
kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) terhadap hasil
belajar siswa dalam mata pelajaran Matematika Siswa Kelas VI di
MI Al-Azhar Menganti.
H0 : Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara metode pembelajaran
kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) terhadap hasil
belajar siswa dalam mata pelajaran Matematika Siswa Kelas VI di
MI Al-Azhar Menganti.
I. Metode Penelitian
Metode penelitian merupakan serangkaian kegiatan dalam mencari
kebenaran suatu studi penelitian, yang diawali dengan suatu pemikiran yang
membentuk rumusan masalah sehingga menimbulkan hipotesis awal, dengan
dibantu persepsi penelitian terdahulu, sehingga penelitian bisa diolah dan
dianalisis yang akhirnya membentuk suatu kesimpulan.24 Metode penelitian
adalah cara atau langkah dalam melakukan penelitian. 25 Adapun komponen
dalam metode penelitian yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian ini:
1. Jenis Penelitian
Berdasarkan sumber data dan pengambilan datanya penelitian ini
merupakan penelitian lapangan (field research), adalah penelitian yang
dilakukan dengan terjun langsung ke lapangan. Penelitian ini
23
M. Zaki and Saiman Saiman, “Kajian tentang Perumusan Hipotesis Statistik Dalam Pengujian
Hipotesis Penelitian,” JIIP - Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan 4, no. 2 (March 16, 2021): 115–18,
https://doi.org/10.54371/jiip.v4i2.216.
24
Syafrida Hafni Sahir, Metodologi Penelitian (KBM Indonesia, 2021),
https://repositori.uma.ac.id/bitstream/123456789/16455/1/E-Book%20Metodologi%20Penelitian
%20Syafrida.pdf.
25
Sukiati, Metodologi Penelitian (CV. MANHAJI Medan, 2016),
http://repository.uinsu.ac.id/1284/1/buku%20Metopel%202016.pdf#.
12
menggunakan metode penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif
merupakan salah satu pendekatan penelitian yang menggunakan data
dalam bentuk angka untuk menjawab pertanyaan penelitian.26 Penelitian
kuantitatif sering digunakan untuk mempelajari hubungan antar variabel,
mengukur frekuensi, atau mengidentifikasi pola dalam populasi tertentu.
2. Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah
Experimental. Penelitian eksperimen adalah metode penelitian yang
digunakan untuk mencari terhadap yang lain dalam kondisi yang
terkendalikan.27 Sehingga penelitian eksperimen lebih tepat karena
bertujuan untuk mengetahui apakah ada pengaruh dari penerapan model
pembelajaran kooperatif tipe numbered heads together terhadap hasil
belajar siswa.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan Pre-Experimental
Design yang hanya melibatkan satu kelas sebagai kelas eksperimen tanpa
ada kelas kontrol.28 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh
nyata dari penerapan model pembelajaran kooperatif tipe NHT terhadap
hasil belajar.
Model penelitian yang akan digunakan peneliti adalah One-Shot
Pretest and Posttest Design. Dalam penelitian ini, kelompok tidak diambil
secara acak/berpasangan, juga tidak ada kelompok kontrol (pembanding),
tetapi diberi pretest dan posttest di samping perlakuan.29 Dalam penelitian
ini hanya memerlukan satu kali kegiatan untuk mengambil data, sehingga
pelaksanaannya lebih sederhana dan efisien dari segi waktu, tenaga, dan
biaya.
Tabel 1 One shoot pretest and post-test design
26
Marinu Waruwu et al., “Metode Penelitian Kuantitatif: Konsep, Jenis, Tahapan dan Kelebihan,”
Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan 10, no. 1 (February 28, 2025): 917–32,
https://doi.org/10.29303/jipp.v10i1.3057.
27
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D. (Bandung: Alfabeta), 72.
28
Hamsir, “Penerapan Metode Eksperimen Terhadap Hasil Belajar Fisika Peserta Didik Sma
Negeri 1 Turatea Kabupaten Jeneponto,” Jurnal Penelitian Dan Penalaran 4, No. 2 (2017): 734.
29
Fenti Hikmawati, Metode Penelitian, 1st ed. (Depok: PT RAJAGRAFINDO PERSADA, 2020).
13
Kelompok Pretest Perlakuan Posttest
Eksperimen O1 X O2
Keterangan:
O1 adalah tes awal (pretest) sebelum diberi perlakuan.
X adalah perlakuan berupa penerapan model pembelajaran NHT.
O2 adalah tes akhir (posttest) untuk mengukur hasil belajar setelah diberi
perlakuan.
30
Benny Pasaribu and dkk, Metodologi Penelitian Untuk Ekonomi Dan Bisnis (Media Edu
Pustaka, 2022).
31
Nur Fadilah Amin, Sabaruddin Garancang, and Kamaluddin Abunawas, “Konsep Umum
Populasi Dan Sampel Dalam Penelitian,” JURNAL PILAR: Jurnal Kajian Islam Kontemporer 14,
no. 1 (2023): 20.
32
Melda Salsabillah et al., “Budaya Organisasi Sekolah Menengah Kejuruan,” JOHEM: Journal
Higher Educational Management 1, no. 1 (2022): 30, https://doi.org/10.24036/johem.v1i1.
14
peneliti tetap dapat memanfaatkan pembagian kelas tersebut sebagai
kelompok eksperimen dan kontrol secara alami.
15
ditujukan kepada siswa untuk memperoleh data atau mengetahui respon
siswa terhadap penggunaan model pembelajaran NHT.
5. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat-alat yang diperlukan atau
dipergunakan untuk mengumpulkan informasi atau pengumpulan data. 35
Instrumen pengumpulan data akan disajikan dalam bentuk kisi-kisi aspek
yang akan diuji. Adapun instrumen dalam penelitian ini adalah, observasi
aktivitas siswa, tes hasil belajar, dan angket respon siswa.
Pertama, observasi aktivitas siswa, adapun lembar observasi dalam
penelitian ini sebagai berikut:
Tabel 2 Kisi-Kisi Observasi Aktivitas Siswa
No Aspek yang Diamati Indikator yang Terlihat Poin
1 Konsentrasi selama Fokus mendengarkan 1,2
proses pembelajaran atau memperhatikan
Keterlibatan aktif siswa guru, mencatat,
dalam diskusi kelompok mengikuti instruksi
2 Kerjasama dan diskusi Membagi tugas, saling 3,4
dengan anggota membantu, menghargai
kelompok pendapat
3 Keterlibatan aktif siswa Bertanya, menjawab, 5,6,7
dalam diskusi kelompok memberi pendapat
4 Kesiapan saat guru Merespon cepat, 8
menunjuk nomor acak menjawab pertanyaan
5 Antusiasme siswa dalam Bersemangat, tidak 9
mengikuti kegiatan bermain-main
pembelajaran
Keterangan:
A = Sangat Baik
B = Baik
C = Cukup
D = Kurang
Tabel 3 Kisi-kisi lembar observasi aktivitas guru
No Aspek yang Diamati Indikator Penilaian Poin
35
Sahir Syafrida Hafni, Metodologi Penelitian.(KBM Indonesia, 2021), 44
16
1 Keterlibatan guru dalam Guru menjelaskan 1,2,3
pembukaan tujuan pembelajaran
dan memberi motivasi
awal
2 Kesiapan menyampaikan Guru menjelaskan 4
materi materi dengan jelas dan
menggunakan alat
bantu
3 Pengelolaan diskusi NHT Guru membagi 5,6
kelompok, memberi
nomor, membagikan
lembar kerja, dan
mengatur alur diskusi
4 Pemantauan, Guru memantau 7,8,9,10,11
pendampingan, dan kelompok, membantu
memberikan umpan balik jika diperlukan,
memberi umpan balik
5 Evaluasi pembelajaran Guru mengevaluasi 12,13,14
hasil diskusi dan
menutup pelajaran
dengan refleksi
Keterangan:
A : Sangat Baik
B : Baik
C : Cukup
D : Kurang
Kedua ialah tes, berupa prestest dan posttest untuk mengetahui
pengaruh penggunaan model pembelajaran Numbered Heads Together
sebelum dan sesudah diberi perlakuan. Adapun kisi-kisi instrumen 10 soal
pilihan ganda dan 5 soal isian singkat, yaitu:
Tabel 4 Kisi-Kisi Tes Hasil Belajar
No Indikator Materi Sub Aspek Bentuk No.
Pokok Soal Soal
1 Menyebutkan Persegi panjang C1 PG 1
sifat bangun datar
2 Menghitung persegi C2 PG 2
keliling bangun
datar
3 Menghitung luas Persegi, persegi C3 PG 3,4,5
17
dan keliling panjang, segitiga
bangun datar
4 Memecahkan soal Segitiga, C4 Uraian 6-8
cerita persegi,
luas/keliling
bangun datar
5 Menggambar Lingkaran, C6 Uraian 9,10
bangun datar segitiga
Total soal: 10 soal uraian
Ketiga, angket untuk mengetahui respon siswa. Pengisian angket
respon siswa dilakukan untuk mengetahui kesan dan antusias dalam
pembelajaran yang telah dilakukan sebelum dan sesudah penggunaan
model pembelajaran NHT. Berikut adalah kisi-kisi angket respon siswa:
Tabel 5 Kisi-Kisi Angket Respon Siswa
No Aspek yang Diukur Pernyataan Poin
1 Pemahaman materi Saya lebih mudah 1
memahami materi
dengan model NHT
2 Kerjasama dalam Saya senang berdiskusi 2
kelompok dengan teman dalam
kelompok
3 Keaktifan dalam Saya menjadi lebih 3
pembelajaran aktif saat mengikuti
pembelajaran NHT
4 Kepercayaan diri Saya percaya diri saat 4
menjawab pertanyaan
dari guru
5 Tanggungjawab individu Saya merasa 5
bertanggungjawab
dalam memahami
materi pelajaran
6 Antusiasme dalam Saya merasa senang 6
pembelajaran dan bersemangat
mengikuti pembelajaran
NHT
7 Pemahaman dalam Saya mengerti isi 7
diskusi diskusi kelompok saat
pembelajaran
berlangsung
8 Kesempatan berpendapat Saya memiliki 8
kesempatan untuk
menyampaikan
18
pendapat saya di
kelompok
9 Kemampuan Saya lebih mudah 9
menyelesaikan masalah menyelesaikan soal
matematika setelah
berdiskusi
10 Kesenangan mengikuti Saya senang belajar 10
pembelajaran dengan cara seperti ini
Keterangan:
a. Sangat setuju : SS
b. Setuju :S
c. Tidak setuju : TS
d. Sangat tidak setuju : STS
Keterangan:
rxy : Koefisien korelasi antara skor butir X dan skor total Y
X : Skor setiap butir pertanyaan atau soal
Y : Skor total instrumen
N : Jumlah responden
Setelah nilai rxy diperoleh, hasilnya dibandingkan dengan nilai
kritis r tabel untuk tingkat signifikasi tertentu (misalnya, α = 0,05) dan
19
jumlah sampel n. Jika rxy lebih besar dari r tabel, maka butir instrumen
dinyatakan valid. Sebaliknya, jika rxy lebih kecil dari r tabel, maka
butir instrumen tersebut dinyatakan tidak valid dan perlu diperbaiki
atau dihilangkan.
Kedua, uji reliabilitas yang digunakan adalah Cronbach’s Alpha,
yaitu menyediakan informasi dengan mengukur seberapa baik setiap
item dalam isntrumen tersebut saling berkorelasi.
( )
2
k ∑ Sitem
α=
k −1 S2total
Keterangan:
a = Nilai Cronbach’s Alpha
k = Jumlah item (butir soal) dalam instrumen
S2 item = Varians dari setiap item
S2 total = Varians dari total skor setiap responden
Jika nilai Alpha > 0,7 maka dapat dikatakan reliabilitas tinggi;
jika nilai Alpha antara 0,6-0,7 maka dapat dikatakan cukup; jika nilai
Alpha <0,6 dapat dikatakan bahwa realibilitas rendah.
b. Uji Prasyarat
Uji normalitas yang digunakan adalah uji Shapiro-Wilk yang
digunakan untuk menguji apakah suatu perubah acak bersdistribusi
normal atau tidak.
( Σni=1 ai x (i ) ) ²
W= 2
Σ ni=1 ( x +a )
Keterangan:
a : koefisien yang bergantung pada ukuran sampel
x(i) : nilai data diurutkan
x : rata-rata sampel
20
Jika nilai p-value > 0,05 artinya data berdistribusi normal, namun
jika p-value ≤ 0,5 artinya data tidak berdistribusi normal. Pada uji
homogenitas, peneliti menggunakan rumus uji Levene’s Test. Dengan
rumus:
k
N −k Σ i=1 ( Z i .−Z ..)²
W= x k N
(k −1) Σ i=1 Σ j=1 ( Z ij −Z i . ) ²
i
Keterangan:
N : jumlah total sampel
k : jumlah kelompok pretest dan posttest
NI : jumlah data dalam kelompok
Zij : nilai absolut devinisi median dalam kelompok
Jika nilai p-value > 0,05 artinya data homogen, namun jika p-
value ≤ 0,5 artinya data tidak homogen.
21
1. 81% ≤ skor ≤ 100% Sangat Tinggi
2. 61% ≤ skor ≤ 80% Tinggi
3. 41% ≤ skor ≤ 60% Cukup
4. 21% ≤ skor ≤ 40% Kurang
5. 1% ≤ skor ≤ 20% Rendah
Proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran
NHT dikatakan berjalan dengan baik jika presentase mencapai
minimal 61%, dan sebaliknya jika dibawah rentan angka tersebut,
maka pembelajaran dapat dikatakan tidak berjalan dengan baik.
Uji statistik yang digunakan adalah ukuran variasi. Ukuran variasi
menggambarkan seberapa jauh data menyebar dari nilai pusat. Aspek
dalam ukuran variasi adalah range dan varians sample. Range
(jangkauan), yaitu selisih antara nilai maksimum dan minimum dalam
dataset. Varians sample (s2), yaitu mengukur seberapa jauh setiap nilai
dalam dataset dari rata-ratanya. Rumus varians sampel adalah
s=
2 ∑ (X i−¿ X)² ¿
n−1
Keterangan:
S2 : Varians sample
Xi : Nilai data individu
X : Rata-rata sampel
N : Jumlah data dalam sampel
Varians yang besar mengindikasikan adanya pengaruh yang
signifikan, sementara varians yang kecil menunjukkan kemampuan
siswa yang cenderung seragam.
Uji hipotesis yang digunakan adalah Uji paired sample t-test,
karena membandingkan hasil prestest dan posttest dalam kelompok
yang sama.
x 1−x 2
Keterangan:
t=
√ S21 S22 S
+ −2 r 1
n1 n2 √n 1[ ][ ] n2
√ n2
X1 : rata-rata sampel 1
22
X2 : rata-rata sampel 2
S1 : simpangan baku sampel 1
S2 : simpangan baku sampel 2
2
S : varian sampel 1
1
2
S : varian sampel 2
2
r : korelasi antar 2 sampel
Jika nilai t-hitung > nilai t-tabel, maka tolak H 0. Artinya, ada
pengaruh yang signifikan model pembelajaran NHT terhadap hasil
belajar. Jika nilai t-hitung < nilai t-tabel, maka terima H 0, artinya tidak
ada pengaruh signifikan.
J. Sistematika Penelitian
Penelitian ini tertulis dalam lima bab, untuk memperoleh gambaran
yang jelas tentang urutan pembahasan penelitian ini menjadi sebuah kesatuan
yang sistematis, maka penulis akan memaparkan sistematika pembahasan
dalam penelitian ini sebagai berikut:
Bab pertama, adalah pendahuluan. Bab ini memamparkan latar
belakang, identifikasi dan batasan masalah, rumusan masalah, tujuan
penelelitian, serta kegunaan penelitian. Bagian ini menjelaskan konteks
penelitian dan isi utama yang akan dijawab, serta manfaat peneliti yang
diharapkan.
Bab kedua adalah kajian teori, bab ini memaparkan sub bab yang
dimulai dari pengertian model pembelajaran kooperatif, model pembelajaran
NHT, hasil belajar.
Bab ketiga adalah metode penelitian. Pada bagian ini akan memuat
secara rinci mengenai metode penelitian yang digunakan dalam penelitian
mulai dari jenis penelitian, sumber data, populasi dan sampel, teknik
pengumpulan data, instrumen penelitian, teknik analisis data.
Bab keempat adalah laporan hasil penelitian. Bab ini menyajikan hasil
penelitian yang meliputi gambaran umum objek penelitian, penyajian data
23
untuk masing-masing variabel, serta analisis hubungan antara variabel X dan
Y. Bagian pembahasan menginterpresentasikan hasil yang ditemukan.
Bab kelima adalah penutup. Bab ini menyimpulkan temuan penelitian
dalam sub-bab kesimpulan, dimana hasil penelitian ini dijabarkan sesuai
dengan fokus dan tujuan penelitian.
K. Outline Penelitian
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Identifikasi dan Batasan Masalah
C. Rumusan Masalah
D. Tujuan Penelitian
E. Kegunaan Penelitian
BAB II KAJIAN TEORI
A. Media Pembelajaran Kooperatif
B. Numbered Head Together
C. Hasil Belajar
D. Variabel Penelitian
E. Hipotesis Penelitian
F. Penelitian Terdahulu
BAB III METODE PENELITIAN
A. Metode Penelitian
B. Tempat dan Waktu Penelitian
C. Populasi Penelitian
D. Sampel Penelitian
E. Teknik Pengumpulan Data
F. Instrumen Pengumpulan Data
G. Teknik Analisis Data
BAB IV LAPORAN HASIL PENELITIAN
A. Hasil Penelitian
B. Pembahasan
24
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
Diana, Luluk Mauli, Muchamad Arif, Evy Maya Stefany, and Nuru Aini.
“Model Pembelajaran Numbered Head Together Untuk Meningkatkan
Hasil Belajar Siswa.” Jurnal Ilmiah Edutic : Pendidikan dan
Informatika 9, no. 2 (June 3, 2023): 201–11.
https://doi.org/10.21107/edutic.v9i2.20224.
25
Hamsir. “PENERAPAN METODE EKSPERIMEN TERHADAP HASIL
BELAJAR FISIKA PESERTA DIDIK SMA NEGERI 1 TURATEA
KABUPATEN JENEPONTO.” Jurnal Penelitian Dan Penalaran 4, no.
2 (2017): 734.
26
Nurrita, Teni. “PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN UNTUK
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA.” MISYKAT: Jurnal
Ilmu-ilmu Al-Quran, Hadist, Syari’ah dan Tarbiyah 3, no. 1 (June 27,
2018): 171. https://doi.org/10.33511/misykat.v3n1.171.
Palupi, Diana Indah, Emma Rahmani, Erlin Yusnita, Hikmah Pertiwi, Hera
Gustina, and Nita Priyanti. “Mengenal Model Kooperatif Numbered
Head Together (NHT) Untuk Pembelajaran Anak Usia Dini.”
EDUKASIA: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran 4, no. 1 (August 3,
2022): 21–28. https://doi.org/10.62775/edukasia.v4i1.89.
Pasaribu, Benny, and dkk. Metodologi Penelitian Untuk Ekonomi Dan Bisnis.
Media Edu Pustaka, 2022.
27
Higher Educational Management 1, no. 1 (2022): 30.
https://doi.org/10.24036/johem.v1i1.
Simarmata, Ester Julinda, Kasih Chrisye Siahaan, Reflina Sinaga, and Dyan
Wulan Sari. “PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN
KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEAD TOGETHER TERHADAP
HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA.” Jurnal Darma Agung 32,
no. 6 (2024): 527–32. https://dx.doi.org/10.46930/ojsuda.v32i6.5193.
28
Tambun, Sara Indah Elisabet, Goncalwes Sirait, and Janpatar Simamora.
“ANALISIS UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2003
TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL MENCAKUP BAB
IV PASAL 5 MENGENAI HAK DAN KEWAJIBAN WARGA
NEGARA, ORANG TUA DAN PEMERINTAH” 01, no. 01 (2020):
15–22.
Waruwu, Marinu, Siti Natijatul Pu`at, Patrisia Rahayu Utami, Elli Yanti, and
Marwah Rusydiana. “Metode Penelitian Kuantitatif: Konsep, Jenis,
Tahapan dan Kelebihan.” Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan 10, no. 1
(February 28, 2025): 917–32. https://doi.org/10.29303/jipp.v10i1.3057.
Zaki, M., and Saiman Saiman. “Kajian tentang Perumusan Hipotesis Statistik
Dalam Pengujian Hipotesis Penelitian.” JIIP - Jurnal Ilmiah Ilmu
Pendidikan 4, no. 2 (March 16, 2021): 115–18.
https://doi.org/10.54371/jiip.v4i2.216.
29
LAMPIRAN
Nama :
Kelas :
No. Absen :
Setelah mengamati aspek-aspek selama proses pembelajaran berlangsung ,
mohon beri tanda (√) pada kolom penilaian yang tersedia, dengan interpretasi
penilaian:
A = Sangat Baik B = Baik C = Cukup D = Kurang
No Aspek yang diamati Ya Tidak Penilaian
A B C D
1 Fokus memperhatikan atau
30
mendengarkan guru
2 Mencatat materi
3 Saling membantu diskusi
dalam kelompok
4 Menghargai pendapat sesama
anggota kelompok
5 Bertanya ketika tidak bisa
menyelesaikan pertanyaan
6 Menjawab pertanyaan
7 Memberikan pendapat
8 Merespon cepat ketika
menjawab pertanyaan
9 Antusias dalam pembelajaran
Hari/Tanggal :
Mata Pelajaran :
Setelah mengamati aspek-aspek selama proses pembelajaran berlangsung ,
mohon beri tanda (√) pada kolom penilaian yang tersedia, dengan interpretasi
penilaian:
A = Sangat Baik B = Baik C = Cukup D = Kurang
No Aspek yang diamati Ya Tidak Penilaian
A B C D
1 2 3 4 5 6 7 8
I. Awal Pembelajaran/Pendahuluan
1 Guru menjelaskan tujuan
pembelajaran
31
2 Guru memberikan motivasi
awal siswa
3 Guru menyampaikan
langkah-langkah
pembelajaran dengan model
pembelajaran kooperatif tipe
Numbered Heads Together
(NHT)
II. Kegiatan Pembelajaran
4 Guru menjelaskan materi
dengan jelas dan
menggunakan alat bantu
5 Guru membagi siswa
kedalam kelompok, memberi
nomor, dan mengatur alur
diskusi
6 Guru membagi lembar kerja
kepada siswa
7 Guru memantau kelompok
dan membantu kelompok jika
ada yang membutuhkan
bantuan
8 Guru membimbing siswa
dalam melakukan presentasi
hasil diskusi kelompok
9 Guru menunjuk nomor siswa
secara acak untuk menjawab
pertanyaan
10 Guru memberi kesempatan
terhadap siswa, untuk
menyampaikan pendapat,
bertanya, dan menjawab
pertanyaan baik kepada guru
maupun sesama siswa
11 Guru memberikan penguatan,
umpan balik, dan respon
terhadap siswa
III. Penutup
12 Guru membimbing siswa
untuk menarik kesimpulan
tentang materi yang dipelajari
13 Guru memberikan evaluasi
(tes akhir)
14 Guru menutup pembelajaran
32
Lembar 3: Tes Belajar Siswa
LEMBAR TES BELAJAR SISWA
Nama :
Kelas :
No. Absen :
Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan benar!
1. Sebutkan sifat-sifat persegi panjang!
Jawaban:
Diagonal-diagonalnya sama panjang
Keempat sudutnya sama besar
Sisi-sisi yang berhadapan sama panjang
33
Berapa keliling bangun persegi disamping...cm2 4 cm
Jawaban: 16
3. Perhatikan gambar berikut!
4 cm
8 cm
Hitunglah luas bangun persegi panjang di atas!
Jawaban: 32 cm2
4. Perhatikan gambar berikut!
6 cm
9 cm
Keliling persegi panjang di atas
adalah...cm2
Jawaban: 30
5. Perhatikan gambar berikut!
Keliling segitiga sama sisi di samping 5 cm
adalah...cm2
Jawaban: 15
6. Sebuah lapangan sepakbola berbentuk persegi panjang, jika panjangnya
12 m, dan lebarnya 6 m, berapa luas lapangan sepakbola tersebut?
Jawaban: 72 m2
7. Ibu memiliki kain berbentuk persegi panjang dengan panjang 15 m dan
lebar 6 m. Jika ingin menghias pinggirnya, berapa meter pita yang
dibutuhkan?
Jawaban: 90 m2
8. Norine memiliki meja belajar berbentuk segitiga dengan panjang sisi 24
cm dan tinggi 15 cm. Berapa luas meja belajar yang dimiliki Norine?
Jawaban: 180 cm2
34
9. Jay memiliki bola berbentuk lingkaran dengan jari-jari 14 cm. Buatlah
gambar bangun berbentuk lingkaran, lalu hitung luas lingkaran tersebut!
Jawaban: 616 cm2
10. Buatlah gambar segitiga sama kaki, kemudian buat satu soal yang
berkaitan dengan bangun tersebut!
Contoh Jawaban: ..........7 cm
Nama :
Kelas:
No. Absen :
Petunjuk: Berilah tanda centang (√ ) pada jawaban yang dianggap paling
sesuai dengan anda
SS : Sangat Setuju
S : Setuju
TS : Tidak Setuju
STS : Sangat Tidak Setuju
No Pernyataan Jawaban
SS S TS STS
35
1 Saya lebih mudah memahami materi
dengan model NHT
2 Saya senang berdiskusi dengan teman
dalam kelompok
3 Saya menjadi lebih aktif saat
mengikuti pembelajaran NHT
4 Saya percaya diri saat menjawab
pertanyaan dari guru
5 Saya merasa bertanggungjawab dalam
memahami materi pelajaran
6 Saya merasa senang dan bersemangat
mengikuti pembelajaran NHT
7 Saya mengerti isi diskusi kelompok
saat pembelajaran berlangsung
8 Saya memiliki kesempatan untuk
menyampaikan pendapat saya di
kelompok
9 Saya lebih mudah menyelesaikan soal
matematika setelah berdiskusi
10 Saya senang belajar dengan cara
seperti ini
36