Anda di halaman 1dari 32

REFERAT

RINITIS ALERGI

Tri Anna Fitriani


Pembimbing :dr. Markus Rambu, Sp. THT-KL

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM


MATARAM
2016
BAB I
PENDAHULUAN
Rinitis alergi masalah kesehatan global dengan prevalensi
yang terus meningkat. Rinitis alergi 10 25% populasi
dunia, peningkatan prevalensi lebih dari 40% populasi.
Sekitar 80% kasus rinitis alergi berkembang mulai usia 20
tahun. Insidensi rinitis alergi pada anak-anak 40% dan
menurun sejalan dengan usia.
Rinitis alergi dianggap sebagai gangguan pernafasan
utama
Patogenesis OE sangat kompleks dan sejak tahun 1844 banyak peneliti
mengemukakan faktor pencetus dari penyakit ini.
1. Branca (1953) mengatakan bahwa berenang merupakan penyebab OE
dan dapat menimbulkan kekambuhan.
2. Senturia dkk (1984) menganggap bahwa keadaan panas, lembab, dan
trauma terhadap epitel dari liang telinga luar merupakan faktor
penting untuk terjadinya otitis eksterna.
3. Howke dkk(1984) mengemukakan pemaparan terhadap air dan
penggunaan lidi kapas dapat menyebabkan terjadinya otitis eksterna,
baik akut maupun kronis.4
BAB II
ANATOMI dan FISIOLOGI HIDUNG
Fisiologi Hidung
Fungsi respirasi
Fungsi penghidu
Fungsi fonetik
Fungsi statis dan mekanik
Refleks nasal
BAB III
RINITIS ALERGI
DEFINISI
Penyakit inflamasi pada mukosa hidung yang
disebabkan oleh reaksi yang dimediasi IgE
terhadap paparan alergen dengan gejala bersin-
bersin, rinore, rasa gatal dan tersumbat.
EPIDEMIOLOGI
Prevalensi rinitis alergi di Indonesia mencapai 1,5-
12,4% dan cenderung mengalami peningkatan
setiap tahunnya.
Prevalensi rinitis alergi seasonal dan perennial di
USA meningkat mencapai 14,2%, tertinggi pada
usia 18-34 tahun dan 35-49 tahun
ETIOLOGI
Genetik
Lingkungan : alergen
Alergen inhalan
Alergen ingestan.
Alergen injektan.
Alergen kontaktan.
KLASIFIKASI
Berdasarkan lamanya terjadi gejala :
Intermiten : gejala < 4 hari per minggu atau < 4
minggu.
Persisten : gejala > 4 hari per minggu atau > 4
minggu
Berdasarkan keparahan dan kualitas hidup :
Ringan : tidak mempengaruhi tidur, kegiatan
sehari-hari, pekerjaan, sekolah, olahraga atau
bersantai.
Sedang sampai berat : berdampak terhadap
gejala tidur, kegiatan sehari-hari, kerja, sekolah,
olahraga atau bersantai, serta jika ada gejala
merepotkan.
PATOFISIOLOGI

Alergen menginduksi Sel Th-2peningkatan ekspresi sitokin


(IL-3, IL-4, IL-5, IL-9, IL-10)merangsang IgE, dan sel mast( IL-
4, IL-5, IL-6, dan tryptase pada epitel)Khemoattractant IL-
5infiltrasi eosinofil, basofil, sel Th-2, dan sel mast.--
>mengaktifkan, di antaranya histamin dan cystenil-leukotrien
gejala rinorea dan gatal. Eosinofil kerusakan mukosa
iritasi syaraf parasimpatik, bersama mediator Eosinophil
Derivative Neurotoxin (EDN) dan histamingejala bersin.
Sensitisasi awal, alergen spesifik IgE terikat reseptor sel
mast dan basofil + respon inflamasi lepasnya mediator
inflamasi (histamin) lima menit, setelah terpapar alergen
(respon fase awal). 25 menit berikutnya leukotrin,
prostaglandin, aktivasi faktor platelet), dan beberapa
sitokinvasodilatasi, peningkatan sekresi glandula, dan
stimulasi nervus sensoris bersin, rhinorrhea, gatal, dan
kongesti nasal.
DIAGNOSIS
Anamnesis :
serangan bersin berulang, keluar ingus yang encer dan
banyak, hidung tersumbat, hidung dan mata gatal, yang
kadang-kadang disertai dengan banyak air mata keluar
(lakrimasi).
Pemeriksaan Fisik :
mukosa edema, basah, berwarna pucat disertai adanya sekret
encer yang banyak, mukosa inferior tampak hipertrofi.
Anak : allergic shiner, allergic salute, allergic crease, facies
adenoid, cobblestone appearance, geographic tongue.
Allergic Shiner

Allergic Sallute
Allergic Crease
Pemeriksaan Penunjang :
Pemeriksaan sitologi hidung
IgE total .
Tes kulit
Tes provokasi
Immunoassay
Penatalaksanaan
Non farmakoterapi
Menghindari faktor alergen
Farmakoterapi
Antihistamin
Kortikosteroid
Dekongestan
Antikolinergik
Imunoterapi
Operatif
KOMPLIKASI
Polip hidung
Otitis media efusi yang sering residif, terutama pada anak-
anak.
Sinusitis paranasal.
PROGNOSIS
Sebagian besar pasien dapat hidup normal.
Hanya pasien yang mendapat imunoterapi alergen spesifik
yang dapat sembuh dari penyakitnya dan banyak juga
pasien yang melakukan pengobatan simtomatik saja
secara intermiten dengan baik.
Rinitis alergi mungkin dapat timbul kembali dalam 2-3
tahun setelah pemberhentian imunoterapi.
Diagnosa Banding
Rinitis non alergi
Rinitis Vasomotor
Rinitis Medikamentosa
BAB IV
PENUTUP
Rinitis alergi : penyakit inflamasi pada mukosa hidung
dimediasi IgE terhadap allergen, gejala bersin-bersin,
rinore, rasa gatal dan tersumbat.
Rinitis alergi: genetik dan lingkungan yaitu allergen
(Alergen inhalan, alergen ingestan, alergen injektan,
alergen kontaktan)
Riwayat Alergi :
Pasien mengaku tidak memiliki riwayat alergi makanan,
obat-obatan, serta tidak pernah meler dan bersin-bersin
saat terkena debu atau dingin.
Riwayat Pengobatan :
Pasien belum pernah mencoba mengobati keluhan yang
dirasakannya.

Penatalaksanaan pada rhinitis alergi yaitu non


farmakoterapi dengan menghindari alergen dan,
farmakoterapi yaitu antara antihistamin,
kortikosteroid, dekongestan, antikolinergik
imunoterapi, operatif (konkotomi).
Adanya serumen dalam liang telinga (meatus akustikus
eksterna) akan menyebabkan hantaran suara terhalang
dan terjadilah penurunan pendengaran.
Komplikasi yang dapat ditimbulkan rinitis alergi yaitu polip
hidung, otitis media efusi yang sering residif, terutama
pada anak-anak, sinusitis paranasal.
TERIMA KASIH