Anda di halaman 1dari 52

Elmeida Effendy

Departemen Psikiatri
Dalam 20 tahun terakhir ini didapati
kemajuan :
Dalam Brain Imaging Technique; tu dalam
Magnetic Resonance Imaging (MRI) yg
memfokuskan perhatian pd sistem limbik
sbg pusat patofisiolog2ik skizofrenia;
terutama amygdala , hippocampus dan
gyrus parahipocampal
2.ditemukan clozapine, suatu obat
antipsikotik yang atipikal, dengan efek
samping neurologik yang minimal. Obat
anti psikotik atipikal lainnya : risperidone
dan olanzapine. Obat ini lebih efektif
dalam mengatasi simtom negatif
skizofrenia dan dengan efek samping
neurologik minimal
3. Kemajuan dalam drug treatment ,
maka perhatian terhadap faktor psikososial
yang mempengaruhi skizofrenia
meningkat; termasuk mengenai onset,
serangan ulang (relapse) dan hasil
pengobatan (treatment outcome)
Ditandai dengan distorsi ikiran dan persepsi
yg mendasar & khas; dan didapati afek
tidak wajar (inappropriate) atau tumpul;
kesadaran jernih; defisit kognitif tertentu
dapat berkembang kemudian.
Pikiran, perasaan dan perbuatan yg paling
mendalam sering terasa diketahui oleh
orang lain, atau terbagi rasa dengan orang
lain.
Waham dapat timbul mempengaruhi
pikiran &perbuatan penderita. Halusinasi,
terutama : pendengaran (auditorik) lazim
dijumpai dan dapat berupa memberi
komentar tentang perilaku dan pikiran
penderita
Terutama mengenai remaja & dewasa muda.
Usia puncak onset skizofrenia pria pd usia
10-25 thn dan wanita 25-35 thn.
Bila ada keluarga menderita skizofrenia maka
expected rate sebesar 1 % utk seluruh
kelompok usia; bila saudara kandung tanpa
org tua menderita skizofrenia , expected rate
sebesar 6.7-8.2 %
Pria lebih sering memiliki simtom negatif
daripada wanita, ok wanita lebih baik dlm
bersosialisasi dibandingkan pria; pd
umumnya hasil akhir serangan skizofrenia
lebih baik daripada pria.
Bunuh diri dapat juga dijumpai pd kasus
skizofrenik, 50 % pernah berusaha bunuh
diri 1 X dalam seumur hidupnya 10-15 %
penderita skizofrenik meninggal karena
bunuh diri
1.Stress Diathesis Model
Menurut model ini etiologi skizofrenia berupa
integrasi dari faktor biologik dan faktor
psikososial & lingkungan. Seseorang
mungkin
memiliki specific vulnerability ( diatesis) dan
bila berada dlm pengaruh lingkungan yg
stressful dapat membuat simtom skizofrenia
berkembang
Stress dapat biologik, lingkungan
atau keduanya . Biologik misal
infeksi; dan psikologik misal
situasi keluarga yg stressful. Dasar
biologik ini dapat diperkuat misal
adanya substance abuse atau
trauma. Apalagi bila ditambah
dengan adanya stressor
psikososial
Menyatakan bahwa skizofrenia sbg
akibat aktifitas dopaminergik yg
berlebihan. Dengan memberikan
haloperidol, obat antipsikotik yg memilii
efikasi dan potensi antipsikotik dgn
kemampuan bekerja sbg antagonis
reseptor tipe dopamine2 (D2).
Sebaliknya obat yg meningkatkan aktifitas
dopaminergik, misal amfetamin, dapat
menimbulkan ggn psikotik yg menyerupai
gambaran skizofrenia.
Adanya dugaan bahwa reseptor tipe
dopamine 1 (D1) memegang peranan untuk
timbulnya negative symptoms.
Dari hasil penelitian , reseptor tipe
dopamine 5 (D5) berhubungan dgn D1; dan
reseptor dopamine tipe 3 (D3) dan D4
berhubungan dengan reseptor D2
Pemberian obat dopamine reseptor
antagonis menanggulangi semua gejala
psikotik, jadi tidak hanya skizofrenia
Diperkirakan 5 HT(serotonin) memegang
peranan thd skizofrenia; berarti dopamine
(DA) dan 5 HT dlm keadaan disfungsional.
Adanya abnormalitas dalam interaksi 5
HT dan DA mempunyai hubungan dengan
simtom skizofrenia
1. Simtom positif
2. Simtom negatif
3. Defisit kognitif
4. Simtom agresif dan permusuhan
5. Simtom depresif dan kecemasan
Terdiri dari: 1.Simtom positif (7)
2. Simtom negatif (7)
3. Simtom psikopatologik umum
(16)
Yang dibicarakan hanya skala positif
dan skala negatif
1. Waham
2. Kekacauan proses pikir , dapat berupa
sirkumstansial, tangensial, asosiasi longgar,
tidak berurutan, tidak logis yg parah,
putusnya arus pikiran (blocking)
3. Perilaku halusinasi, dapat berupa
halusinasi pendengaran, penglihatan,
penciuman dan somatik
4. Gaduh gelisah, hiperaktifitas dalam
bentuk percepatan perilaku motorik,
peningkatan respons thd stimuli, waspada
berlebihan (hypervigilance)
5. Waham kebesaran , keyakinan ttg
superiorotas berlebihan, tdk realistik
(termasuk kemampuan luar biasa,
kekayaan, pengetahuan, kekuatan &
kebajikan moral )
6.Kecurigaan /kejaran
7. Permusuhan, berupa ekspresi verbal dan
non verbal ttg kemarahan, kebencian;
termasuk sarkasme, perilaku pasif
agresif,caci maki & penyerangan
1. Afek tumpul
berkurangnya respons emosional, yg ditandai
dgn berkurangnya ekspresi wajah, modulasi
perasaan dan gerak-gerik komunikatif.
2. Penarikan emosional (emotional
withdrawal); berkurangnya minat dan
keterlibatan serta curahan perasaan thd
peristiwa kehidupan
3. Kemiskinan rapport
berkurangnya empati interpersonal, kurang
keterbukaan dlm percakapan dan rasa
keakraban. Ditandai adanya jarak
interpersonal dan berkurangnya
komunikasi verbal dan non verbal.
4.Penarikan diri dari hubungan sosial
secara pasif atau apatis. Berkurangnya
minat dan inisiatif dalam interaksi sosial yg
disebabkan pasifitas, apatis, anergia dan
tidak ada dorongan kehendak.
Akibatnya berkurang keterlibatan
interpersonal dan mengabaikan aktifitas
kehidupan sehari-hari.
5. Kesulitan dalam pemikiran abstrak.
Gangguan dlm penggunaan cara berfikir
abstrak atau simbolik, yg dibuktikan dalam
kesulitan mengklasifikasikan, membentuk
generalisasi; jadi dalam berfikir secara
konkrit atau egosentrik dalam
memecahkan masalah.
6.Kurangnya spontanitas dan arus
percakapan. Berkurangnya arus normal
percakapan yg disertai dengan apatis,
avolisi, defensif atau adanya defisit
kognitif.
7. Pemikiran stereotipi
Berkurangnya kelancaran, spontanitas dan
fleksibilitas proses fikir yg terbukti dari
kekakuan, pengulangan atau isi pikiran yg
miskin
Akibat penurunan dopamine pada area pre
frontal, terlihat berupa :
Sulit konsentrasi daya ingat menurun
Kesulitan melakukan fungsi eksekutif
melakukan tugas sehari-hari
Permusuhan yg berlebihan, seperti : verbal,
penyelewengan fisik, atau bahkan
penyerangan
Perilaku melukai diri sendiri, seperti : bunuh
diri, perusakan properti
Sexual acting out
Mood terdepresi, mood kecemasan, perasaan
bersalah, ketegangan (tension), iritabilitas,
kekhawatiran
Gejala yg sering terdapat pada skizofrenia :
a. Thought echo, thought insertion, thought
withdrawal, thought broadcast
b. Waham dikendalikan (delusion of control),
waham dipengaruhi (delusion of influence),
passivity terhadap gerakan tubuh, atau
pikiran, perbuatan atau perasaan;persepsi
delusional
c.Suara halusinasi berkomentar terus-
menerus terhadap perilaku penderita,
mendiskusikan perihal penderita, atau
suara yg berasal dari salah satu bagian
tubuh.
d. Waham menetap jenis lain yang menurut
budaya dianggap tidak wajar serta
mustahil; misal manusia super, mampu
mengendalikan cuaca
e. Halusinasi yg menetap dalam setiap
modalitas, baik disertai waham yang
mengambang maupun yang setengah
berbentuk tanpa kandungan afektif yg
jelas, atau ide yg berlebihan (over valued
ideas) yang menetap; atau apabila terjadi
setiap hari selama berminggu atau
berbulan terus- menerus
f. Arus pikiran yang terputus atau yang
mengalami sisipan (=interpolasi) yang
berakibat inkoherensi atau pembicaraan
yang tidak relevan atau neologisme
g.Perilaku katatonik seperti gaduh gelisah
(=excitement), sikap tubuh (=posturing)
tertentu (misal : katalepsi); atau fleksibilitas
serea, negativisme, mutisme dan stupor.
h. Gejala negatif , seperti sikap masa
bodoh(=apatis), pembicaraan terhenti,
respons emosional menumpul atau tidak
wajar biasanya mengakibatkan penarikan
diri dari pergaulan sosial dan menurunnya
kinerja sosial (tetapi harus jelas bahwa
semua hal tsb tidak disebabkan oleh
depresi atau medikasi neuroleptika).
i.Suatu perubahan yg konsisten dan
bermakna dalam mutu keseluruhan dari
beberapa aspek perilaku, bermanifestasi
sebagai hilangnya minat, tak bertujuan,
sikap malas, sikap berdiam diri (=self
absorbed attitude) dan penarikan diri
secara sosial
Harus ada sedikitnya 1 gejala yg amat jelas
atau 2 gejala atau lebih apabila gejala itu
kurang tajam. Gejala tsb :
1.gejala dari a s/d d
2.gejala dari e s/d h
Yg harus selalu ada selama kurun waktu 1
bulan atau lebih , dan kesadaran/
sensorium harus composmentis
1. ada 2 suara atau lebih membicarakan
mengenai penderita
2. membicarakan penderita dalam bentuk
orang ketiga tunggal
3.membicarakan hal yang sedang dilakukan
penderita
4.membicarakan mengenai hal yang
menjelekkan atau merugikan penderita
5. Suara halusinasi mengancam dan atau
mengganggu penderita
Halusinasi penglihatan lebih sedikit
dijumpai ; pada penderita skizofrenia
halusinasi penglihatan dialami baik siang
maupun malam sama seringnya.
Pada penderita gangguan mental organik
atau gangguan afektif halusinasi
penglihatan lebih sering dialami pada
malam hari
Masuk dalam kelompok: skizofrenia,
gangguan skizotipal dan gangguan waham
(ICD-X, 1992;PPDGJ III,1993)
Menurut DSM -IV (1994) masuk dalam
kelompok skizorenia dan gangguan psikotik
lainnya.
1.Skizofrenia paranoid *
2. Skizofrenia hebefrenik *
3.Skizofrenia katatonik *
4. Skizofrenia tak terinci (undifferentiated)*
(dulu: tak tergolongkan )
5.Depresi pasca skizofrenia
6. Skizofrenia residual *
7.Skizofrenia simpleks
8.Skizofrenia lainnya
* Tipe menurut DSM-IV
1.Skizofrenia paranoid
waham disertai halusinasi, tu :halusinasi
pendengaran. Onset cenderung pada usia
lebih tua
2.Skizofrenia hebefrenik (atau disorganized
schizophrenia) perilaku
regressif & mannerisme. Mulai pada usia 15-
25 thn. Prognosis : cenderung buruk dan
berkembang gejala negatif
3. Skizofrenia katatonik
yang menonjol : ggn psikomotor,
bervariasi antara kondisi ekstrim
hiperkinesis dan stupor. Simtom
katatonik a.l :katalepsi, fleksibilitas
serea, autonomic obidience, dll.
4. Skizofrenia tak terinci
(atau undifferentiated) memperlihatkan
gejala lebih dari satu tipe atau tidak
sesuai dengan salah satu tipe diatas.
5. Depresi pasca skizofrenia
episode depresif setelah serangan
skizofrenia; beberapa gejala skizofrenik
harus tetap ada, gejala menetap dapat
simtom positif atau negatif (walaupun
gejala negatif lebih sering). Gejala depresif
disertai peningkatan risiko bunuh diri (dlm
hal ini skizofrenia telah berlangsung 1 thn
atau lebih)
6. Skizofrenia residual
suatu stadium kronis dalam ggn
skizofrenik, ditandai gejala negatif
(walaupun belum tentu ireversibel)
7. Skizofrenia simpleks
perkembangan yg perlahan, tetapi
progresif, mengenai keanehan tingkah
laku, ketidakmampuan memenuhi
tuntutan masyarakat & penurunan kinerja
secara menyeluruh. Tidak terdapat
waham & halusinasi. Dgn bertambahnya
kemunduran sosial , pasien dpt jadi
gelandangan,pendiam, pemalas dan
hidup tanpa tujuan
Gangguan psikotik akut dgn gejala psikotik
cukup stabil dan memenuhi kriteria
skizofrenia , hanya jangka waktu berlangsung
dua minggu s/d kurang dari satu bulan.
Bila gejala skizofrenia menetap lebih dari 1
bulan , diagnosis harus diubah menjadi
skizofrenia
1. Somatic therapy
a.terapi obat
b.terapi kejang listrik (ECT=electro
convulsive therapy)
2.Psikoterapi
a. berupa tata laksana psikoterapi
b. psikoterapi formal (dapat
diberikan hanya pada kasus yg
tenang)
3.Milleu therapy (=terapi lingkungan )
Terapi dibagi atas 3 fase :
1. Fase akut
2. Fase stabilisasi : paling sedikit 6 bulan
3. Fase stabil
serangan I : 6 bulan-2 tahun
serangan II : 2 tahun-5 tahun
serangan III : seumur hidup
Obat antipsikotik dibagi atas :
1. OAP tipikal
2.OAP atipikal
a. golongan phenotiazine
1.dgn rantai alkil amino / alifatik, misal :
chlorpromazine
2.dgn rantai piperidin, misal : thioridazine (Melleril
R/)

3. Dgn rantai piperazine, misal : fluphenazine


(Anatensol R/), trifluoperazine (Stelazine R/)
b. golongan butirofenon, : Haloperidol
(Haldol R/)
(Serenace R/)
Bila menggunakan chlorpromazine, mulai
dengan dosis 300 mg/oral/hari dalam
dosis terbagi. Kemajuan pengobatan
dievaluasi 2-3 hari atau 5-7 hari
(tergantung keparahan). Bila tidak ada
kemajuan , dosis dinaikkan 30-50 % dari
dosis sebelumya. Rentang dosis untuk
chlorpromazine 300-1000 mg/ oral /hari

Bila memakai haloperidol , rentang dosis


6mg-20 mg /oral/hari dalam dosis
terbagi
Obat antipsikotik atipikal
Dianggap lebih baik daripada golongan
OAP tipikal; ok memiliki :
- efek pengobatan thd simtom negatif
- memiliki efek samping neurologik yg
minimal selain itu dapat mengobati
skizofrenia thd pengobatan yg
resisten/bandel
1.clozapine (Clozaril R/)
dosis: 200-900 mg/oral/ hari
dalam dosis terbagi. Syarat :
leukosit > 3.500/ mm3
2.risperidone ( Risperdal R/
ZofredalR/)
dosis : 1-16 mg/oral/ hari
dalam 2 X pemberian. Dosis
diatas 10 mg efek terapeutik
tidak bertambah banyak, malah
sebaliknya efek samping yg
bertambah
Bioekuivalensi obat anti psikotik
dibandingkan dengan chlorpromazine
tioridazine =1
fluphenazine= 40
haloperidol= 40-50
clozapine=1,2
risperidone =80
olanzapine = 40-50
quetapine = 1,3
aripiprazole = 40
Misal : pasien memakai 400 mg
chlorpromazine, bila mau diganti dgn :
fluphenazine 400: 40 =10 mg
risperidone 400 : 80 = 5 mg
Selain pemakaian peroral, dikenal pula
pemakaian long acting obat
antipsikotik,misal : fluphenazine enantate
(Modecate R/), haloperidol decanoate
(Haldol decanoas R/) utk 20-30 hari