Anda di halaman 1dari 12

Pengujian dan Penilaian Obat

dr. Ilham Hariaji MBiomed

Departemen Farmakologi Dan Terapi


FK UMSU
Pengujian obat

Uji Preklinik Uji Klinik


Uji Pre klinik
Dilakukan pada hewan coba
Lebih dari 2 spesies
Uji farmakokinetik ,farmakodinamik efek
toksik
Pengukuran cairan biologis
Dilakukan 3 tahap :
Uji toksisitas akut -> LD 50, gejala toksisitas dan
patologis
Uji toksisitas kronis -> fungsi dan patologi organ
Uji Pre Klinik
Uji toksisitas khusus ->sistem repro, sistem
teratogenesis, uji karsinogenisitas, uji
mutagenisitas, uji adiksi
Uji hewan belum dapat dijadikan patokan
karena perbedaan spesies-> kasus talidomid
Uji Klinik
Dilakukan pada manusia
Fase I, II , III, IV
Uji Klinis Fase I
Merupakan uji pertama kali pada manusia
Yang diteliti keamanan dan tolerabilitas obat, bukan
efikasinya
Dilakukan pada sukarelawan sehat kecuali untuk obat toksik
dilakukan pada pasien
Tujuan pertama fase ini adala menetukan dosis maksimal
yang dapat ditoleransi (maximally Tolerated Dose =MTD)
yakni dosis sebelum timbul efek toksik yang tidak dapat
diterima. Biasanya dosis dimulai dari 1/50 x dosis minimal
yang menimbulkan efek pada spesies hewan paling sensitif.
Untuk mencari efek toksiknya dilakukan pemeriksaan
hematologi , faal hati, faal ginjal, urin rutin dll
Total jumlah subjek antara 20-50 orang
Uji Klinis Fase II
Obat pertamakali dicobakan pada pasien
Untuk mengetahui apakah obat ini memiliki efek terapi
Dilakukan dibawah pengawasan ahli farmakologi klinik
dan klinisi lain
Seleksi pasien harus ketat, tidak ada penyakit penyerta
dan tidak mendapat terapi lain dan setiap pasien harus
dimonitor dengan intensif
Fase II dibagi menjadi 3 tahap yaitu fase II awal (
terbuka) fase II komparatif dan fase II Akhir atau
tersamar ganda
Jumlah subjeknya biasanya 100-200 pasien
Uji Klinis Fase III
Dilakukan untuk mengetahui efikasi terapi dan untuk mengetahui
kedudukannya dibandingkan dengan obat standar.
Uji klinik ini digunakan untuk menjawab pertanyaan mengenai:
Efeknya jika digunakan secara luasdan diberikan oleh dokter yang kurang ahli
Efek samping lain yang belum terlihat pada fasi II
Dampak penggunaannya pada pasien yang tidak diseleksi secara ketat.
Dilakukan pada pasien yang tidak diseleksi ketat dan dikerjakan oleh
peneliti yang tidak terlaku ahli sehingga menyerupai keadaan sebenarnya
dalam penggunaan sehari hari
Pada fase III biasanya pembandingan dilakukan dengan plasebo , obat
yang sama dengan dosis berbeda, obat standar dengan dosis ekuiefektif
atau obat lain yang indikasinya sama dengan dosis yang ekuiefektif.
Pengujian dilakukan secara acak dan tersamar ganda
Jika lolos fase III maka obat dapat dipasarkan
Jumlah sampel biasanya 500 orang
Uji Klinis Fase IV
Post Marketing Drugs surveillance
Fase ini bertujuan menentukan pola penggunaan obat di masyarakat serta
pola efektivitas dan keamanannya pada penggunaan yang sebenarnya
Fase ini tidak terikat protokol penelitian
Merupakan survey epidemiologi mengenai efeksamping dan efektifitas
obat adapun yang diamati adalah :
Efek samping yang frekwensinya rendah atau yang timbul setelah pemakaian
obat bertahun tahun lamanya
Efektifitas obat pada pasien berpenyakit berat atau berpenyakit ganda, pasien
anak atau usia lanjut atau setelah pemakaian berulang kali dalam jangka
panjang
Masalah penggunaan berlebihan atau salah (misuse) atau (abuse)
Dewasa ini waktu yang diperlukan untuk pengembangan suatu obat baru
mulai dari sintesis bahan kimianya sampai dengan dipasarkan mencapai
waktu 10 tahun atau lebih
Regulasi Obat
Obat merupakan bahan yang diregulasi oleh
pemerintah (BPOM)-> melindungi konsumen
Simpulan
Penemuan obat baru untuk manusia
membutuhkan uji pre klinis dan uji klinis untuk
menjamin keamanan dan keefektifan obat
pada manusia
Daftar Pustaka
Farmakologi dan Terapi FK UI edisi 5