Anda di halaman 1dari 127

1) Alkohol;

2) Eter;
3) Epoksida;
4) Fenol;
Alkohol adalah senyawa yang molekulnya
memiliki suatu gugus hidroksil, yang terikat
pada suatu atom karbon jenuh.

CH3
CH3OH CH3CHCH3

CH3 C CH3
Metanol
OH
CH3CH2OH OH
2-Propanol
(isopropil alkohol) 2-Metil-2-propanol
Etanol
(tert-butil alkohol)
2
Atom karbon dapat berupa suatu atom karbon
dari gugus alkenil atau gugus alkunil.
Atau dapat pula berupa suatu atom karbon jenuh
dari suatu cincin benzena.

CH2OH CH2 CHCH2OH

2-Propenol (alil alkohol)


Benzil alkohol
Suatu alkohol alilik
Suatu alkohol benzilik

H C CCH2OH

2-Propunol
(propargil alkohol)
3
 Senyawa yang memiliki suatu gugus
hiroksil, yang terikat langsung pada cincin
benzena disebut fenol.

OH H3C OH

Fenol p-Metilfenol

Ar OH

Rumus umum suatu fenol

4
 Alkohol dapat dilihat secara struktural:
a sebagai turunan hidroksi dari alkana.
b sebagai turunan alkil dari air.
 Etil alkohol = etana dimana satu hidrogen
diganti dengan gugus hidroksil.
 Etil alkohol = air dimana satu hidrogen diganti
dengan gugus etil.
Gugus etil
CH3CH2 H
CH3CH3
1090 1050 O
O

H H
Gugus hidroksil
Etana Etil Air
alkohol 5
 Alkohol dibagi dalam tiga golongan:
a . Alkohol primer (1º)
b . Alkohol sekunder (2º)
c . Alkohol tersier (3º)
 Penggolongan didasarkan pada derajat
substitusi dari atom karbon yang langsung
mengikat gugus hidroksil.
H H

H C C O H CH2OH

H H

Etil alkohol Benzil alkohol


(suatu alkohol 10) (suatu alkohol 10)
6
 Jika karbon tersebut mengikat satu atom
karbon lain, maka disebut karbon primer dan
alkoholnya disebut alkohol primer.
 Jika karbon yg mengikat gugus -OH juga
mengikat dua atom karbon lain, maka
disebut karbon sekunder dan alkoholnya
disebut alkohol sekunder.
 Jika karbon yg mengikat gugus -OH juga
mengikat tiga atom karbon lain, maka
disebut karbon tersier dan alkoholnya
disebut alkohol tersier.

7
H H H
CH2OH
H C C C H

H O H

Geraniol Isopropil alkohol


(alkohol 10 dgn H (suatu alkohol 20)
aroma mawar)

CH3

Mentol
(alkohol 20 dalam
OH
minyak peppermint)
CH

H3C CH3
8
H

OH
H C H H3C C CH

H H
H H
H C C C H

H O H H H

O
H

Noretindron
tert-Butil alkohol
(kontrasepsi oral dgn gugus alkohol 30)
(suatu alkohol 30)

9
Alkohol juga dapat diklasifikasikan menjadi :
1. Monohidrat : hanya mempunyai satu gugus OH per molekul
2. Dihidrat : mempunyai dua gugus OH per molekul
3. Trihidrat : mempunyai tiga gugus OH per molekul

Contoh
Nama IUPAC Rumus Td (oC)
Metanol CH3OH 65.0
Etanol CH3CH2OH 78.5
1 – Propanol CH3CH2CH2OH 97.0
1 - Butanol CH3CH2CH2CH2OH 117.0
 Dalam Tatanama Substitutif IUPAC, suatu
nama harus mengandung empat karakter :
lokant, awalan, senyawa induk, dan suatu
akhiran.

CH3CH2CHCH2CH2CH2OH

CH3

4-Metil-1-heksanol

lokant awalan lokant induk akhiran


11
 Lokant 4 menunjukkan bahwa substituen
gugus metil, yang merupakan awalan,
terikat pada senyawa induk di posisi C-4.
 Senyawa induk mengandung enam atom
karbon dan tidak ada ikatan rangkap, jadi
induknya adalah heksana.
 Dan karena merupakan suatu alkohol, maka
memiliki akhiran -ol.
 Lokant 1 menunjukkan bahwa C-1 mengikat
gugus hidroksil.

12
 Secara umum, penomoran pada rantai karbon
selalu dimulai dari bagian akhir yang lebih
dekat dengan gugus yang mendapat nama
sebagai suatu akhiran.
 Prosedur berikut harus diikuti untuk memberi
nama alkohol sesuai tatanama substitutif
IUPAC:
1 Pilih rantai karbon utuh yang terpanjang
dimana gugus hidroksil terikat langsung. Ganti
nama dari alkana sesuai rantai karbon
tersebut dengan menghapus huruf a terakhir
dan tambahkan akhiran ol.
13
2 Nomori rantai karbon utuh yang terpanjang
sedemikian sehingga atom karbon yang
mengikat gugus hidroksil memiliki nomor
terkecil. Tandai posisi gugus hidroksil dengan
menggunakan nomor tersebut sebagai lokant.
Tandai posisi gugus-gugus lain (sebagai
awalan) dengan menggunakan nomor yang
sesuai dengan posisi masing-masing
sepanjang rantai karbon sebagai lokant.

14
3 2 1 1 2 3 4 5 4 3 2 1
CH3CH2CH2OH CH3CHCH2CH3 CH3CHCH2CH2CH2OH

1-Propanol OH CH3

2-Butanol 4-Metil-1-pentanol

3 2 1 CH3
ClCH2CH2CH2OH
1 2 3 4 5
CH3CHCH2CCH3
3-Kloro-1-propanol

OH CH3

4,4-Dimetil-2-pentanol

15
 Alkohol sederhana sering dinamai dengan
nama radikofungsional umum yang juga
telah disetujui oleh IUPAC.
 Beberapa contoh alkohol sederhana adalah
sebagai berikut ini:

CH3CH2CH2OH CH3CH2CH2CH2OH CH3CH2CHCH3

Propil alkohol Butil alkohol OH

sec-Butil alkohol

16
CH3 CH3
CH3

H3C C OH CH3CCH2OH
CH3CHCH2OH

CH3 CH3
Isobutil alkohol
tert-Butil alkohol Neopentil alkohol

 Alkohol yang mengandung dua gugus


hidroksil umumnya diberi nama glikol.
 Dalam sistem substitutif IUPAC alkohol
tersebut dinamai sebagai diol.

CH2 CH2 CH3CH CH2 CH2CH2CH2

OH OH OH OH OH OH

Etilen glikol Propilen glikol Trimetilen glikol


1,2-Etanadiol 1,2-Propanadiol 1,3-Propanadiol
17
 Eter berbeda dari alkohol, dimana atom
oksigen dari suatu eter terikat pada dua atom
karbon. Gugus hidrokarbon dapat berupa
alkil, alkenil, vinil, atau aril.
 Eter memiliki rumus umum R-O-R atau R-O-
R’ dimana R’ adalah gugus alkil yang
berbeda dari gugus R.
 Eter = air dimana kedua atom hidrogen
diganti dengan gugus alkil.

18
R R’ CH3

O O 1100 O
atau
R R
CH3

Rumus umum suatu Dimetil eter


eter

H2C CH2

C O C

O
O

Gugus fungsional Etilen oksida Tetrahidrofuran


suatu eter (THF)
ETER SIKLIK
19
 Eter sederhana sering dinamai dengan nama
radikofungsional umum.
 Tuliskan kedua gugus yang terikat pada atom
oksigen (sesuai urutan abjad) dan
tambahkan kata eter.
CH3

CH3OCH2CH3 CH3CH2OCH2CH3 C6H5 O C CH3

Etil metil eter Dietil eter CH3

tert-Butil fenil eter


20
Contoh
CH3 CH2 O CH2 CH3

diethyl ether or
ethyl ether
(If both alkyl groups are the O
same, the "di" is often not used.)

phenoxycyclopentane or
O cyclopentyloxybenzene
CH2-CH3
5-ethoxy-2-methylheptane
 Nama substitutif IUPAC harus dipakai untuk
menamai eter yang rumit dan senyawa
dengan lebih dari satu ikatan eter.
 Dalam sistem IUPAC, eter dinamai sebagai
alkoksialkana, alkoksialkena, dan
alkoksiarena.
 Gugus RO- merupakan suatu gugus alkoksi.
 Dua eter siklik yang sering dipakai sebagai
solven memiliki nama umum tetrahidrofuran
(THF) dan 1,4-dioksana.

23
CH3CHCH2CH2CH3
CH3CH2O CH3
OCH3

2-Metoksipentana 1-Etoksi-4-metilbenzena

O
CH3OCH2CH2OCH3
O
1,2-Dimetoksietana
Tetrahidrofuran O
(oksasiklopentana)
Dioksana
(1,4-dioksasikloheksana)

24
 Eter memiliki titik didih yang sebanding
dengan hidrokarbon dengan berat molekul
yang sama.
 Titik didih dietil eter (MW = 74) adalah
34,6ºC, dan pentana (MW = 72) adalah
36ºC.
 Alhohol memiliki titik didih yang lebih tinggi
dibandingkan dengan eter atau hidrokarbon
yang sebanding.

25
 Titik didih butil alkohol (MW = 74) adalah
117,7ºC.
 Molekul-molekul alkohol dapat berikatan satu
sama lain melalui ikatan hidrogen, sementara
eter dan hidrokarbon tidak dapat.
 Meskipun demikian, eter juga dapat
membentuk ikatan hidrogen dengan
senyawa-senyawa seperti air.

26
 Eter memiliki kelarutan dalam air yang
sebanding dengan alkohol dengan berat
molekul yang sama.
 Sangat berbeda bila dibandingkan dengan
hidrokarbon.
 Dietil eter & 1-butanol memiliki kelarutan
yang sama dalam air, sekitar 8 g per 100 mL
pada suhu kamar.
 Sebaliknya, pentana secara nyata tidak larut
dalam air.

27
 Metanol, etanol, propil alkohol, isopropil
alkohol, dan tert-butil alkohol campur
sempurna dengan air.
 Butil alkohol, isobutil alkohol, dan sec-butil
alkohol memiliki kelarutan antara 8,3 dan
26,0 g per 100 mL.
 Kelarutan alkohol dalam air menurun secara
bertahap sebanding rantai hidrokarbon yang
semakin panjang.
 Alkohol rantai panjang bersifat lebih “mirip
alkana” dan oleh karena itu kurang mirip
dengan air.

28
METANOL
 Memiliki rumus struktur CH3OH dan adalah
alkohol yang paling sederhana.
 Dahulu sebagian besar metanol dibuat dari
distilasi destruktif kayu (pemanasan kayu
pada suhu tinggi tanpa udara) = alkohol
kayu (wood alcohol).
 Sekarang dibuat melalui hidrogenasi katalitik
dari karbon monoksida.

29
 Metanol sangat beracun. Konsumsi dalam
jumlah yg sangat kecil sekalipun dapat
menyebabkan kebutaan; dalam jumlah besar
menyebabkan kematian.
 Keracunan metanol dapat pula terjadi
melalui penghirupan uap atau paparan
jangka panjang terhadap kulit.

30
ETANOL
 Merupakan alkohol dari semua minuman
beralkohol.
 Dapat dibuat dari fermentasi gula, dengan
menambahkan ragi ke dalam campuran
gula dan air.
 Ragi mengandung enzim yang memicu
suatu reaksi berseri yang panjang, dan
akhirnya mengubah suatu gula sederhana
(C6H12O6) menjadi etanol dan karbon
dioksida.

31
 Etanol sangat murah, tapi jika digunakan
untuk minuman dikenakan pajak yang
sangat tinggi.
 Etanol yang digunakan untuk keperluan
sains (penelitian) dan industri diracuni atau
di”denaturasi” sehingga tidak layak untuk
diminum. Beberapa denaturant dapat
digunakan termasuk metanol.
 Etanol adalah senyawa yang penting dalam
industri.

32
 Sebagian besar etanol untuk keperluan
industri dibuat melalui reaksi hidrasi etena
dengan katalis asam.
 Etanol adalah suatu hipnotik (penidur). Ia
menekan aktivitas otak atas meskipun
memberi efek ilusi sebagai suatu stimulant.
 Etanol juga toksik, tapi kurang toksik
dibanding metanol.
 Pada tikus (rat), dosis letal adalah 13,7 g per
kg berat badan.
 Penyalahgunaan etanol menjadi problem di
banyak negara.

33
ETILEN GLIKOL
 Etilen glikol (HOCH2CH2OH) memiliki berat
molekul yang rendah dan titik didih yang
tinggi, serta campur dengan air.
 Sifat ini membuat etilen glikol menjadi suatu
antibeku (antifreeze) ideal untuk kendaraan
bermotor.

34
DIETIL ETER
 Berupa suatu cairan dengan titik didih rendah
dan mudah terbakar.
 Sebagian besar eter bereaksi lambat dengan
oksigen melalui suatu reaksi radikal yang
disebut auto-oksidasi membentuk
hidroperoksida dan peroksida (ekplosif).
 Sering digunakan sebagai pelarut ekstraksi.
 Dipakai sebagai suatu anestetik (pembius)
pada pembedahan.

35
1 Hidrasi Alkena
 Adisi air pada ikatan rangkap alkena dengan
katalis asam.
 Metode pembuatan alkohol dengan berat
molekul rendah (kegunaan utama pada
proses industri skala besar).
 Katalis asam yg paling sering digunakan:
asam sulfat & asam fosfat.

36
Reaksi bersifat regioselektif.
Adisi air pada alkena mengikuti hukum
Markovnikov.
Reaksi secara umum sebagai berikut:

H+
C C + H OH C C
H OH

 Sebagai contoh adalah hidrasi 2-metilpropena

CH3 CH3
+
H
H3C C CH2 + H OH H3 C C CH2 H
25 0C

OH
2-Metilpropena tert-Butil alkohol
37
 Sesuai hukum Markovnikov: reaksi tidak
menghasilkan alkohol primer, kecuali kasus
khusus pada hidrasi etena.

H3PO4
H2C CH2 + H OH 0
CH2CH2OH
300 C

Mekanisme hidrasi alkena secara sederhana


merupakan kebalikan dari reaksi dehidrasi
alkohol.

38
CH2 CH2 H
H
lambat
H
Langkah 1 H3 C C + H O H H3C C +
O H
CH3 CH3

CH3 CH3 H
H cepat
Langkah 2 H3 C C + O H H3C C O H

CH3 CH3

CH3 H CH3
H H
cepat
Langkah 3 H3C C O H+ O H H3 C C O H + H O H

CH3 CH3

39
 Tahap penentu kecepatan adalah tahap 1:
pembentukan karbokation.
 Dihasilkan tert-butil alkohol karena tahap 1
mengarah pada pembentukan kation tert-butil
yang lebih stabil dibandingkan kation isobutil
yang kurang stabil.

CH2 CH2
H H
sangat
H3C C + H O H H3C C H + O H
lambat
CH3 CH3
karbokation 10

40
 Kerumitan yang terjadi adalah adanya
penataan ulang (rearrangement).
 Karbokation awal yang terbentuk akan
mengalami penataan ulang menjadi suatu
karbokation yang lebih stabil.
 Jika 3,3-dimetil-1-butena dihidrasi akan
dihasilkan 2,3-dimetil-2-butanol sebagai
produk utama.

41
CH3 OH
H2SO4
H3C C CH CH2 H3 C C CH CH3
H2O
CH3 CH3 CH3

3,3-Dimetil-1-butena 2,3-Dimetil-2-butanol
(produk utama)

 Adanya penataan ulang karbokation


membatasi penggunaan hidrasi alkena
sebagai suatu metode laboratoris untuk
pembuatan alkohol.

42
2 Reaksi Oksimerkurasi-Demerkurasi
 Reaksi dua tahap yang sangat berguna
untuk mensintesis alkohol dari alkena.
 Alkena bereaksi dgn Hg(OAc)2 dalam
campuran THF dan air menghasilkan
senyawa merkuri(hidroksialkil).
 Senyawa merkuri(hidroksialkil) dapat
direduksi oleh natrium borohidrida menjadi
alkohol.
 Persentase hasil reaksi keseluruhan 90%
dengan regioselektifitas yang tinggi.

43
O O
THF
C C + H2O + Hg OCCH3 2 C C O + CH3COH
oksimerkurasi

OH Hg OCCH3

C C O + OH + NaBH4 C C + Hg + CH3CO
demerkurasi
OH Hg OCCH3 OH H

 Pada tahap 1, oksimerkurasi: air dan merkuri


asetat mengadisi ikatan rangkap.
 Pada tahap 2, demerkurasi: natrium borohidrida
mereduksi gugus asetoksimerkuri dan
menggantinya dengan hidrogen.

44
 Kedua langkah tersebut dapat dilakukan
dalam bejana yang sama.
 Kedua reaksi berlangsung sangat cepat
pada suhu ruangan atau dibawahnya.
 Tahap 1: biasanya mencapai kesempurnaan
dalam kurun waktu 20 detik – 10 menit.
 Tahap 2: secara normal membutuhkan waktu
kurang dari 1 jam.
 Orientasi adisi H2O di atas mengikuti aturan
Markovnikov: atom H dari H2O terikat pada
atom karbon ikatan rangkap yang mengikat
atom H lebih banyak.

45
Hg(OAc)2 NaBH4
CH3(CH2 )2CH CH2 CH3 (CH2)2 CH CH2
THF - H2O OH
(15 s) OH HgOAc (1h)
1-Pentena

CH3 (CH2)2CHCH3 + Hg

OH
2-Pentanol (93%)

CH3 H3C OH H3C OH


Hg(OAc)2 HgOAc NaBH4
+ Hg
THF - H2O H OH
(20 s) (6 min)

1-Metilsiklopentanol
1-Metilsiklopentena
46
 Penataan-ulang rangka karbon jarang terjadi
pada oksimerkurasi-demerkurasi.
 Dicontohkan pada reaksi oksimerkurasi-
demerkurasi dari 3,3-dimetil-1-butena yang
menghasilkan 3,3-dimetil-2-butanol sebagai
produk utama.

CH3 CH3
(1) Hg(OAc)2/THF - H2O
H3C C CH CH2 H3C C CH CH3
-
(2) NaBH4, OH
CH3 CH3 OH

3,3-Dimetil-1-butena 3,3-Dimetil-2-butanol
(94%)

47
3 Reaksi Hidroborasi - Oksidasi
 Adisi elemen air pada suatu ikatan rangkap
dapat pula dilakukan di laboratorium dengan
menggunakan diboran atau THF : BH3.
 Adisi air adalah bersifat tidak langsung dan
melibatkan dua tahap reaksi.
 Pertama adalah adisi boran pada ikatan
rangkap yang disebut hidroborasi.
 Kedua adalah oksidasi dan hidrolisis
senyawa antara organoboron menghasilkan
suatu alkohol dan asam borat.

48
Lebih tersubstitusi Kurang tersubstitusi

CH3CH CH2
CH3 CH CH2 CH3 CHCH2 BH2 (CH3CH2 CH2 )2 BH
Propena H
CH3CH CH2
+
(Faktor sterik)
H BH2
Tripropilbora (CH3CH2 CH2 )3 B
n
 Atom boron terikat pada atom karbon ikatan
rangkap yang kurang tersubstitusi, dan satu
atom hidrogen berpindah dari atom boron ke
atom karbon lain dari ikatan rangkap.
 Hidroborasi bersifat regioselektif dan
mengikuti aturan anti Markovnikov.
49
 Alkilboran yang dihasilkan pada tahap
hidroborasi biasanya tidak diisolasi.
 Dalam bejana yang sama, alkilboran
dioksidasi dan dihidrolisis menghasilkan
alkohol dengan penambahan hidrogen
peroksida dalam suatu larutan basa.

H2O2
(CH3CH2CH2)3B 3 CH3CH2CH2OH + Na3BO3
NaOH, 250C
Propil alkohol

50
 Oksimerkurasi-demerkurasi dari 1-heksena
menghasilkan 2-heksanol (Markovnikov).
 Hidroborasi-oksidasi dari 1-heksena
menghasilkan 1-heksanol (anti-Markovnikov).

H3O+, H2O
CH3 CH2 CH2 CH2 CH CH2 CH3 CH2 CH2 CH2 CHCH3

OH
1-Heksena
2-Heksanol

(1) THF:BH3
CH3 CH2 CH2 CH2 CH CH2 -
CH3 CH2 CH2 CH2 CH2 CH2 OH
(2) H2O2, OH

1-Heksena 1-Heksanol (90%)

51
 Atom oksigen dari suatu alkohol mem-
polarisasi ikatan C–O dan ikatan O–H dari
alkohol tersebut.
 Polarisasi ikatan O–H menyebabkan atom
hidrogen bermuatan positif parsial, dan hal
ini menjelaskan mengapa alkohol bersifat
asam lemah.
 Polarisasi ikatan C–O menyebabkan atom
karbon bermuatan positif parsial.

O
C H

  52
 Jadi meskipun OH¯ bukan basa kuat dan
bukan gugus pergi yang baik, namun atom
karbon dari alkohol bersifat reaktif terhadap
serangan nukleofilik.
 Pasangan elektron pada atom oksigen
membuatnya bersifat basa dan nukleofilik.
 Protonasi alkohol mengubah suatu gugus
pergi yang buruk (OH¯) menjadi gugus pergi
yang baik (H2O).
H
C O H + H A C O H + A

Alkohol Asam kuat Alkohol


terprotonasi
53
 Protonasi juga membuat atom karbon lebih
positif (karena –H2O+ lebih bersifat penarik
elektron daripada –OH¯), dan oleh karena itu
menjadi lebih reaktif terhadap serangan
nukleofilik. Reaksi SN2 menjadi mungkin.

H H
SN 2
Nu + C O H Nu C + O H
Alkohol
terprotonasi

54
 Karena alkohol adalah nukleofil, maka alkohol
dapat bereaksi dengan alkohol terprotonasi. Ini
menjadi langkah penting dalam sintesis eter.

H H
SN 2
R O + C O H R O C + O H
H H
Eter terprotonasi

Pada suhu yang cukup tinggi dan tanpa


kehadiran suatu nukleofil yang baik, maka
alkohol terprotonasi dapat menjalani reaksi
eliminasi E1.
55
Alkohol sebagai asam
 Alkohol memiliki keasaman yang mirip dengan air.
 Metanol sedikit lebih asam dibanding air (pKa = 15,7).
Namun hampir semua alkohol adalah asam yang
lebih lemah dari air.
 Pada alkohol tanpa halangan ruang, molekul air
akan melingkupi dan mensolvasi oksigen negatif dari
ion alkoksida yang terbentuk jika suatu alkohol
melepaskan sebuah proton.

H H

R O H O H R O + H O H
Ion alkoksida
Alkohol (terstabilkan oleh
solvasi)
56
 Pada alkohol dengan halangan ruang besar, solvasi ion negatif
(alkoksida) terhambat sehingga ion alkoksida kurang
terstabilkan dan menjadi asam yang lebih lemah.
Harga pK a
beberapa asam lemah

ASAM pK a

CH3 OH 15,5
H2 O 15,74
CH3 CH2 OH 15,9
(CH3 )3 COH 18,0
HC CH 25
H2 35
NH3 38
CH3 CH3 50
57
 Alkohol bersifat asam yang lebih kuat dibandingkan
dengan alkuna, dan sangat lebih kuat dibandingkan
dengan hidrogen, amonia dan alkana.
 Keasaman relatif :

H2O > ROH > RC CH > H2 > NH3 > RH


 Basa konjugat dari alkohol adalah suatu ion alkoksida.
 Karena sebagian besar alkohol adalah asam yang
lebih lemah dibanding air, maka ion alkoksida adalah
basa yang lebih kuat dibanding ion hidroksida.
 Kebasaan relatif :

R¯ > NH2¯ > H¯ > RC C¯ > RO¯ > OH¯


 Natrium dan kalium alkoksida sering dipakai sebagai
basa dalam sintesis organik.

58
 Konversi Alkohol menjadi Alkil halida
 Alkohol bereaksi dengan bermacam
pereaksi menghasilkan alkil halida.
 Pereaksi yang paling sering digunakan
adalah hidrogen halida (HCl, HBr, atau HI),
fosfor tribromida (PBr3), dan tionil klorida
(SOCl2).
 Semua reaksi di atas merupakan hasil dari
pemutusan ikatan C–O dari alkohol.

59
1 Reaksi alkohol dengan hidrogen halida
 Jika alkohol bereaksi dengan suatu hidrogen
halida, maka terjadi suatu reaksi substitusi
menghasilkan suatu alkil halida dan air.
 Urutan reaktivitas dari hidrogen halida adalah
HI > HBr > HCl (HF umumnya tidak reaktif).
 Urutan reaktivitas alkohol: 3º > 2º > 1º > metil.
 Reaksi ini dikatalisis oleh asam.
 Alkohol primer dan sekunder dapat
dikonversi menjadi alkil klorida dan alkil
bromida melalui reaksi alkil halida dengan
natrium halida dan asam sulfat.

60
Langkah 1
CH3 H CH3 H
cepat
H3 C C O H + H O H H3 C C O H + O H
CH3 CH3 H
Langkah 2
CH3 H CH3 H
lambat
H3 C C O H H3 C C + O H
CH3 CH3
Langkah 3
CH3 CH3
cepat
H3 C C + Cl H3 C C Cl
CH3 CH3

61
2 Reaksi alkohol dengan PBr3
 Alkohol primer dan sekunder bereaksi
dengan fosfor tribromida menghasilkan alkil
bromida.
 Tidak seperti reaksi dengan HBr, reaksi
dengan PBr3 tidak melibatkan pembentukan
karbokation.
 Biasanya berlangsung tanpa penataan-ulang
dari kerangka karbon.
 Sering menjadi pereaksi terpilih untuk
mengubah suatu alkohol menjadi alkil
bromida yang bersesuaian.
 Reaksi diawali dengan terbentuknya suatu
alkil dibromofosfit terprotonasi.
62
3R OH + PBr3 3R Br + H3PO3
(10 atau 20)

RCH2OH + Br P Br R CH2O PBr2 + Br


Br H
alkil dibromofosfit
terprotonasi

Br + RCH2 OPBr2 RCH2Br + HOPBr2


H
Gugus pergi yang baik

 HOPBr2 dapat bereaksi dengan lebih banyak alkohol


sehingga hasil akhir dari reaksi adalah konversi 3
mol alkohol menjadi alkil bromida oleh 1 mol fosfor
tribromida.
63
3 Reaksi alkohol dengan SOCl2
 Tionil klorida mengubah alkohol primer dan
sekunder menjadi alkil klorida (biasanya
tanpa penataan-ulang).
 Sering ditambahkan suatu amina tersier ke
dalam reaksi untuk memacu reaksi melalui
reaksinya dengan HCl.
 Reaksi diawali dengan terbentuknya suatu
alkil klorosulfit.
 Kemudian suatu ion klorida (hasil reaksi R3N
dan HCl) melakukan substitusi SN2 terhadap
suatu gugus pergi yang baik ClSO2¯.

64
refluks
R OH + SOCl2 R Cl + SO2 + HCl
(10 atau 20)

R3 N + HCl R3 NH + ClH

H Cl

RCH2 OH + Cl S Cl RCH2 O S RCH2 O S Cl

O Cl O O
alkil klorosulfit + HCl

 Dekomposisi ClSO2¯ menjadi gas SO2 dan ion Cl¯


mendorong kesempurnaan reaksi.

Cl + RCH2 O S Cl RCH2Cl + O S Cl RCH2Cl + SO2 + Cl

O O
65
Dehidrasi alkohol
Dehidrasi / hilangnya komponen air ( H dan OH) gugus –OH
dari karbon alkohol dan atom H dari karbon yang terikat pada
karbon alkohol.
Asam sulfat (H2SO4) bertindak sebagai zat penarik air dan
sebagai katalis
C alkohol
H+
C C O
C C + HOH
180 C
H OH
Alkohol primer
Dehidrasi alkohol sekunder akan menghasilkan dua isomer
alkena.

Aturan Saytzeff’s : pada dehidrasi alkohol, hidrogen yang lepas


dari atom karbon yang terikat karbon alkohol dengan jumlah H
paling sedikit.
HO +
CH3CH2CH CH3 CH3CH CHCH3 + CH3CH2CH CH2 + H2
180 C
OH 2 – Butena 1 – Butena
2 – Butanol ( 80% ) ( 20% )

Latihan :
Sempurnakan reaksi dehidrasi dibawah ini
+
a) C H H +
H
3C
HO
2H1
8
0C b) CH3CH2CH2OH O
180 C

CH3
OH
c) CH3 CH CH CH3 d) CH3CH2CH2CH CH3
OH
Oksidasi alkohol
Oksidasi alkohol : bertambahnya oksigen atau hilangnya
hidrogen zat pengoksidasi : K2Cr2O7, KMnO4
Oksidasi alkohol terjadi dengan lepasnya satu H dari gugus OH
dan satu H dari karbon alkohol, diikuti dengan pembentukan
ikatan rangkap C = O. Air terbentuk bila hidrogen yang
dibebaskan bersatu dengan oksigen dari zat pengoksidasi

Oksidasi alkohol primer

H O
H
(O) (O)
R C O H R C O + H2O R C OH
ALDEHID ASAM KARBOKSILAT
H

..
..
Oksidasi alkohol sekunder
OH O
(O) + H2O
R C R' R C R'

H KETON

Oksidasi alkohol tersier


OH
(O)

R C R'

Tidak ada H
R''

Oksidasi alkohol di dalam tubuh


NAD+ (nikotinamida adenin dinukleotida) adalah zat
pengoksidasi di dalam tubuh untuk reaksi yang dikatalis oleh
enzim.
Konsumsi alkohol

• Etanol digunakan sebagai minuman, obat-obatan, dan


pelarut dalam sejumlah bahan farmasetikal, padahal etanol
adalah racun. Etanol dapat menyebabkan liver mengeras,
kematian sel-sel otak, dan kecanduan.
• Konsumsi alkohol oleh ibu hamil akan menyebabkan Fetal
Alcohol Syndrome (FAS), bayi yang terkena FAS tumbuh
tidak normal, mental terbelakang, dan bentuk muka cacat.
• Kadar alkohol dalam darah di atas 0,01% bersifat racun,
0,05-0,15% menghambat koordinasi, 0,3-0,5%
menghilangkan kesadaran dengan resiko kematian.
1 Dehidrasi alkohol
 Alkohol mengalami dehidrasi membentuk
alkena.
 Alkohol primer dapat juga terdehidrasi
membentuk eter.
 Dehidrasi menghasilkan eter berlangsung
pada suhu yang lebih rendah dibanding
reaksi dehidrasi membentuk alkena.
 Dehidrasi menghasilkan eter dibantu dengan
distilasi eter segera setelah terbentuk.
71
 Dietil eter dibuat secara komersial melalui
reaksi dehidrasi etanol.
 Dietil eter adalah produk utama pada suhu
140ºC, sedangkan etana adalah produk
utama pada suhu 180ºC.
 Reaksi ini kurang berguna pada alkohol
sekunder karena alkena mudah terbentuk.
 Pada alkohol tersier sepenuhnya terbentuk
alkena.
 Tidak berguna pada pembuatan eter non-
simetrik dari alkohol primer karena terbentuk
campuran produk.

72
H2SO4
CH2 CH2
180 0C
Etena
CH3CH2OH
H2SO4
CH3CH2OCH 2CH3
140 0C
Dietil eter

CH3 CH2 OH + H OSO3 H CH3 CH2 OH2 + OSO3 H

CH3 CH2 OH + CH3 CH2 OH2 CH3 CH2 O CH2 CH3 + H2 O


H

CH3 CH2 OCH 2 CH3 + H3 O

ROR
+
ROH + R'OH ROR' + H2 O
H2SO4 +
alkohol 10 R'OR'
73
2 Sintesis Williamson
 Suatu jalur penting pada preparasi eter non-
simetrik adalah suatu reaksi substitusi
nukleofilik yang disebut reaksi Williamson.
 Merupakan reaksi SN2 dari suatu natrium
alkoksida dengan alkil halida, alkil sulfonat,
atau alkil sulfat.
 Hasil terbaik dicapai jika alkil halida, alkil
sulfonat, atau alkil sulfat yang dipakai adalah
primer (atau metil).
 Jika substrat adalah tersier maka eliminasi
sepenuhnya merupakan produk reaksi.
 Pada suhu rendah substitusi lebih unggul
dibanding dengan eliminasi.

74
R O Na + R' L R O R' + Na L

L = Br, I, OSO2 R", atau OSO2 OR"

CH3 CH2 CH2 OH + Na CH3 CH2 CH2 O Na + 1/2 H2


Propil alkohol Natrium propoksida

CH3CH2I

CH3 CH2 OCH 2 CH2 CH3 + Na I


Etil propil eter
(70%)

75
3 Tert-butil eter dari alkilasi alkohol
 Alkohol primer dapat diubah menjadi tert-
butil eter dengan melarutkan alkohol tersebut
dalam suatu asam kuat seperti asam sulfat
dan kemudian ditambahkan isobutilena ke
dalam campuran tersebut. (Prosedur ini
meminimalkan dimerisasi dan polimerisasi
dari isobutilena).
CH3
H2SO4
RCH2OH + CH2 CCH3 RCH2O CCH3

CH3 CH3
Alkohol 10 Isobutilena tert-butil eter
76
 Metode ini sering dipakai untuk “proteksi”
gugus hidroksil dari alkohol primer sewaktu
reaksi-reaksi lainnya dilakukan terhadap
bagian lain dari molekul tersebut. Gugus
proteksi tert-butil dapat dihilangkan secara
mudah dengan penambahan larutan asam
encer.

4 Trimetilsilil eter (Sililasi)


 Suatu gugus hidroksil juga diproteksi dalam
larutan netral atau basa dengan
mengubahnya menjadi suatu gugus
trimetilsilil eter, –OSi(CH3)3.

77
 Reaksi ini, yang disebut sililasi, dilakukan
dengan membiarkan alkohol tersebut
bereaksi dengan klorotrimetilsilana dengan
kehadiran suatu amina tersier.
(CH3CH2)3N
R OH + (CH3)3SiCl R O Si(CH3)3
Klorometilsilana

Gugus proteksi ini dapat dihilangkan dengan


suatu larutan asam.

H3O+ / H2O
R O Si(CH3)3 R OH + (CH3)3SiOH

78
 Pengubahan suatu alkohol menjadi suatu
trimetilsilil eter membuat senyawa tersebut
lebih volatil (mudah menguap). (Mengapa?)
 Kenaikan volatilitas (sifat mudah menguap)
ini menjadikan alkohol (sebagai bentuk
trimetilsilil-nya) lebih memungkinkan untuk
menjalani analisis dengan kromatografi gas-
cair.

79
 Dialkil eter bereaksi dengan sedikit pereaksi
diluar asam-asam.
 Eter tahan terhadap serangan nukleofil dan
basa.
 Ketidakkreaktifan dan kemampuan eter men-
solvasi kation (dengan mendonorkan
sepasang elektron dari atom oksigen)
membuat eter berguna sebagai solven dari
banyak reaksi.

80
 Eter mengalami reaksi halogenasi seperti
alkana.
 Oksigen dari ikatan eter memberi sifat basa.
 Eter dapat bereaksi dengan donor proton
membentuk garam oksonium.

CH3CH2OCH 2CH3 + HBr CH3CH2 O CH2CH3Br

H
Garam oksonium

Pemanasan dialkil eter dengan asam-asam


sangat kuat (HI, HBr, H2SO4) menyebabkan
eter mengalami reaksi dimana ikatan ikatan
karbon – oksigen pecah.
81
CH3CH2OCH 2CH3 + HBr 2 CH3CH2Br + H2O

 Mekanisme reaksi ini dimulai dari


pembentukan suatu ion oksonium. Kemudian
suatu reaksi SN2 dengan ion bromida yang
bertindak sebagai nukleofil akan menghasilkan
etanol dan etil bromida.

CH3 CH2OCH 2 CH3 + HBr CH3 CH2O CH2 CH3 + Br


H

CH3 CH2O + CH3CH2 Br

H
Etanol Etil bromida

82
 Pada tahap selanjutnya, etanol yang baru
terbentuk bereaksi dengan HBr membentuk
satu mol ekivalen etil bromida yang ke dua.

CH3CH2 OH + HBr Br + CH3CH2 O H

CH3 CH2 Br + O H

83
 Epoksida adalah eter siklik dengan cincin tiga
anggota. Dalam tatanama IUPAC, epoksida
disebut oksirana. Epoksida paling sederhana
memiliki nama umum etilena oksida.

2 3
C C H2C CH2
1
O O
Suatu IUPAC: Oksirana
epoksida
Umum: Etilena oksida

84
 Metode yang paling umum digunakan untuk
mensintesa epoksida adalah reaksi dari suatu
alkena dengan suatu asam peroksi organik,
yaitu suatu proses yang disebut epoksidasi.

O O
Epoksidasi
RCH CHR + R'C O OH RHC CHR + R'C OH

Suatu alkena Suatu asam O


peroksi Suatu epoksida
(atau oksirana)

Dalam reaksi ini, asam peroksi memberikan


suatu atom oksigen kepada alkena.
Mekanismenya adalah seperti berikut ini.

85
O R' O R'
C C C C
+ O O +
C O C O
H
H

 Adisi oksigen pada ikatan rangkap dalam


suatu reaksi epoksidasi adalah adisi syn.
Untuk membentuk suatu cincin dengan tiga
anggota, atom oksigen harus mengadisi
kedua atom karbon dari ikatan rangkap
pada sisi yang sama.

86
 Asam peroksi yang paling umum digunakan
adalah asam peroksiasetat dan asam
peroksibenzoat. Sebagai contoh,
sikloheksana bereaksi dengan asam
peroksibenzoat menghasilkan 1,2-epoksi-
sikloheksana dalam jumlah yang kuantitatif.

O H O

+ C6H5COOH O + C6H5 COH


CH2Cl2
H
Asam 1,2-Epoksi-
peroksibenzoat sikloheksana
(100%)

87
 Reaksi antara alkena dengan asam-asam peroksi
berlangsung dengan suatu cara yang stereospesifik.
Sebagai contoh, cis-2-butena hanya menghasilkan
cis-2,3-dimetiloksirana, sedangkan trans-2-butena
hanya menghasilkan trans-2,3-dimetiloksirana.

H3C H CH3
O 3
C
+ RCOOH H3C H
C
H3C
2 O 1
H
H
cis-2-Butena cis-2,3-Dimetiloksirana
(senyawa meso)

H3C H CH3 CH3


O
C
+ RCOOH H H + H H
C
H CH3 O O
CH3 CH3
trans-2-Butena Enantiomer trans-2,3-Dimetiloksirana
88
 Cincin tiga anggota dengan tegangan
(strain) yang sangat tinggi dalam molekul
epoksida menyebabkan epoksida lebih
reaktif terhadap substitusi nukleofilik
dibandingkan dengan eter yang lain.
 Katalisis asam membantu pembukaan
cincin epoksida dengan menyediakan suatu
gugus pergi yang lebih baik (suatu alkohol)
pada atom karbon yang mengalami
serangan nukleofilik.

89
 Katalisis ini sangat penting terutama jika
nukleofilnya adalah suatu nukleofil lemah
seperti air atau suatu alkohol:

¤ Pembukaan cincin dengan katalis asam

+ H+ H O H
C C C C HO C C O H
_
H+
O O H

H _
H+
HO C C OH

90
 Pembukaan cincin dengan katalis basa

ROH
RO + C C RO C C O HO C C OH

O Ion
Nukleofil
kuat alkoksida + RO

Jika epoksidanya tidak simetris, serangan


pembukaan cincin dengan katalis basa oleh ion
alkoksida berlangsung terutama pada atom
karbon yang kurang tersubstitusi. Sebagai contoh,
metiloksirana bereaksi dengan suatu ion
alkoksida terutama pada atom karbon
primernya:

91
Atom karbon 10 kurang terhalangi
CH3CH2OH
CH3CH2 O + H2C CHCH3 CH3CH2OCH 2CHCH3

O O
Metiloksirana
CH3CH2OCH 2CHCH3 + CH3CH2O

OH
1-Etoksil-2-propanol

 Ini adalah apa yang seharusnya diharapkan:


Reaksi secara keseluruhan adalan reaksi
SN2, dan seperti telah dipelajari sebelumnya,
substrat primer bereaksi lebih cepat melalui
reaksi SN2 karena halangan ruangnya kecil.

92
 Pada pembukaan cincin dengan katalis
asam dari epoksida tidak simetris, serangan
nukleofil terutama terjadi pada atom karbon
yang lebih tersubstitusi. Sebagai contoh:
CH3 CH3
H+
CH3OH + H3C C CH2 H3C C CH2OH

O OCH3
Alasan: Ikatan pada epoksida terprotonasi adalah
tidak simetris dengan atom karbon yang lebih
tersubstitusi mengemban suatu muatan yang
positif sekali. Oleh karena itu, nukleofil
menyerang atom karbon tersebut meskipun lebih
tersubstitusi.
93
Atom karbon ini menyerupai
karbokation 30

CH3 CH3
+ H+
CH3 OH + H3C C CH2 H3 C C CH2 OH

O + OCH3
H H
Epoksida
terprotonasi

 Atom karbon yang lebih tersubstitusi


mengemban suatu muatan positif lebih besar
karena menyerupai suatu karbokation tersier
yang lebih stabil.
94
H3 C CH3 O

O O O O CH3
O CH3 O
CH3
H3C O O O
O

O CH3 CH3

Nonactin

95
 Fenol adalah senyawa yang memiliki sebuah
gugus hidroksil yang terikat langsung pada
cincin benzena.
 Jadi fenol adalah nama spesifik untuk
hidroksibenzena dan merupakan nama
umum untuk kelompok senyawa yang
diturunkan hidroksi benzena.

OH H3C OH

Fenol 4-Metilfenol
96
 Senyawa-senyawa yang memiliki sebuah
gugus hidroksil yang terikat pada cincin
benzenoid polisiklik adalah mirip dengan
fenol secara kimiawi, tetapi dinamakan
naftol dan fenantrol.
7

6 8

5 OH
9

8
OH
1 10
7
OH 4
2

6 3 3 1

5 4 2

1-Naftol 2-Naftol 9-Fenantrol


(-naftol)
97
 Fenol bersifat asam lemah (lebih kuat dari alkohol)
Nama lain fenol : asam karbolat
 Fenol sangat mudah teroksidasi dalam udara
terbuka  cepat berubah warna
 larutan encer fenol bersifat antiseptik
 Antioksidan : dapat mencegah oksidasi 
Antioksidan fenolik

BHA (butilated Hydroksy Anisole) BHT (Butilated Hydroxy Toulene)


 BHA : Digunakan dalam bahan makanan
 BHT : Digunakan dalam bahan makanan,
Makanan ternak, Minyak tumbuhan, Minyak
pelumas, Karet sintetik, Macam-macam plastik
 Vitamin E ( Totoferol), Vitamin C(asam
askorbat), Gingerol  Ketiganya merupakan
antioksidan alami
 Pada banyak senyawa, fenol merupakan
nama dasar.
Cl Br
NO2

OH OH
OH
4-Klorofenol 2-Nitrofenol 3-Bromofenol
(p-klorofenol) (o-nitrofenol) (m-bromofenol)

100
 Senyawa metilfenol umumnya disebut kresol:
CH3 CH3 CH3
OH

OH
OH
2-Metilfenol 3-Metilfenol 4-Metilfenol
(o-kresol) (m-kresol) (p-kresol)

Senyawa benzenadiol memiliki nama umum:


OH OH
OH

OH OH
OH
1,2-Benzenadiol 1,3-Benzenadiol 1,4-Benzenadiol
(katekol) (resorsinol) (hidrokuinon) 101
 Fenol dan senyawa sejenisnya tersebar
meluas di alam.
 Tirosina adalah asam amino yang terdapat
dalam protein.
 Metil salisilat didapatkan dalam wintergreen
oil (tumbuhan).
 Eugenol didapatkan dalam minyak cengkeh.
 Timol didapatkan dalam thyme (tumbuhan).
 Urushiol adalah blistering agent (vesicant)
yang didapatkan dalam ivy (tumbuhan)
beracun.
102
HO CH2CHCO2- Tirosina

NH3+

CO2CH3 CH2CH CH2 CH3


OH

OCH3 OH
OH CH(CH3)2
Metil salisilat Eugenol Timol

OH R= (CH2)14CH3
OH (CH2)7CH CH(CH2)5CH3
(CH2)7CH CHCH2CH CH(CH2)2CH3

R
Urushiol 103
 Estradiol adalah hormon seks pada wanita.
 Tetrasiklin adalah antibiotika penting.

OH
H3 C OH O OH O
OH
CONH2
H

H H OH
Y CH3 H
HO Z N(CH3 )2
HO

Estradiol Tetrasiklin
(Y=Cl, Z=H; Aureomisin)
(Y=H, Z=OH; Teramisin)

104
 Adanya gugus hidroksil dalam fenol berarti
fenol adalah seperti alkohol yang dapat
membentuk ikatan hidrogen intermolekular
yang kuat.
 Ikatan hidrogen ini menyebabkan fenol
berasosiasi sehingga memiliki titik didih
yang lebih tinggi dibanding hidrokarbon
dengan berat molekul yang sama.
 Fenol (bp, 182ºC) memiliki titik didih 70ºC
lebih tinggi dibanding toluena (bp, 106ºC),
meskipun berat molekulnya hampir sama.
105
 Kemampuan membentuk ikatan hidrogen
yang kuat dengan air memberi fenol
kelarutan yang sedang dalam air.
Kelarutan dalam air
Nama mp (0 C) bp (0 C) g/100 mL

Fenol 43 182 9,3

2-Metilfenol 30 191 2,5

3-Metilfenol 11 201 2,6

4-Metilfenol 35,5 201 2,3

2-Klorofenol 8 176 2,8

3-Klorofenol 33 214 2,6

4-Klorofenol 43 220 2,7

2-Nitrofenol 45 217 0,2

3-Nitrofenol 96 1,4

4-Nitrofenol 114 1,7

2,4-Dinitrofenol 113 0,6


2,4,6-Trinitrofenol 122 1,4
106
1 Sintesis Laboratoris
 Sintesis fenol secara laboratoris yang paling
penting adalah hidrolisis garam
arenadiazonium.
 Metode ini sangat serbaguna.
 Kondisi untuk tahap diazotasi dan hidrolisis
bersifat mild.
 Gugus lain yang ada dalam molekul tidak
berubah.

HONO + H3O+
Ar NH2 Ar N2 Ar OH
panas
107
NH2 OH
(1) NaNO2, H2SO 4
0 - 50C

(2) H2O, panas

Br Br
3-Bromofenol (66%)
NH2 OH
(1) NaNO2, H2SO 4
0 - 50C

(2) H2O, panas

NO2 NO2
3-Nitrofenol (80%)
NH2 OH
(1) NaNO2, H2SO 4
Br Br
0 - 50C

(2) H2O, panas

CH3 CH3
2-Bromo-4-metilfenol (80-92%) 108
2 Sintesis Industrial
 Fenol merupakan bahan kimia industri yang
sangat penting, sebagai material awal untuk
sejumlah besar produk komersial mulai dari
aspirin sampai plastik.
a Hidrolisis Klorobenzena (Proses Dow)
Cl ONa
3500C
+ 2 NaOH + NaCl + H2 O
(high pressure)

ONa OH
HCl
+ NaCl

109
b Fusi Alkali dari Natrium Benzenasulfonat
SO3Na ONa
3500C
+ 2 NaOH + Na2 SO4 + H2 O

Dari Kumena Hidroperoksida


H3C CH3
CH

2500C
+ H2C CHCH3
H3PO4
pressure

Kumena
110
CH3 CH3
95-1350C
C6H5 CH + O2 C6H5 C O O H

CH3 CH3
Kumena hidroperoksida

CH3 CH3
+
H , H2O
C6H5 C O O H C6H5OH + C O
0
50-90 C
CH3 CH3
Fenol
Aseton

111
 Meskipun fenol secara struktural mirip
dengan alkohol tapi fenol merupakan asam
yang lebih kuat.
 Harga pKa kebanyakan alkohol adalah 18,
sedangkan pKa fenol lebih kecil dari 11.
 Bandingkan sikloheksanol dan fenol.

OH OH

Sikloheksanol Fenol
pKa = 18 pKa = 9,89
112
 Meskipun fenol bersifat asam lemah bila
dibanding dengan asam karboksilat misal
asam asetat (pKa = 4,74), namun fenol lebih
asam daripada sikloheksanol.
 Cincin benzena bertindak sebagai gugus
penarik elektron sehingga atom O dari
gugus – OH bermuatan positif dan proton
mudah dilepaskan.
H H H H H
O O O O O

Struktur resonansi fenol


113
 Tetapan keasaman beberapa fenol

pK a
Nama
(dalam air pada 25 0 C)

Fenol 9,89

2-Metilfenol 10,20

3-Metilfenol 10,01

4-Metilfenol 10,17

2-Klorofenol 8,11

3-Klorofenol 8,80

4-Klorofenol 9,20

2-Nitrofenol 7,17

3-Nitrofenol 8,28
4-Nitrofenol 7,15

2,4-Dinitrofenol 3,96
2,4,6-Trinitrofenol 0,38

1-Naftol 9,31

2-Naftol 9,55
114
 Membedakan dan memisahkan fenol dari
alkohol dan asam karboksilat
 Fenol larut dalam larutan NaOH, sedangkan
alkohol dengan enam atom karbon atau
lebih tidak larut.
 Sebagian besar fenol tidak larut dalam
larutan Na2HCO3, tapi asam karboksilat larut.

H2 O
OH + NaOH O Na + H2O

Asam lebih kuat Basa lebih kuat Basa lebih lemah Asam lebih lemah
pKa = 10 (larut) pKa = 16
(sedikit larut)

115
 Fenol bereaksi dengan anhidrida karboksilat
dan klorida asam membentuk ester.
 Reaksi ini serupa dengan reaksi dari alkohol.

O
O O
RC 2O
OH basa
O CR + RCO

O
O
RCCl
OH O CR + Cl
basa

116
 Fenol dalam Sintesis Williamson
 Fenol dapat diubah menjadi eter melalui
sintesis Williamson.
 Karena fenol lebih asam dibanding alkohol,
maka fenol diubah menjadi natrium
fenoksida dengan memakai NaOH (logam
Na dipakai untuk mengubah alkohol menjadi
ion alkoksida).

Reaksi Umum

NaOH R X
ArOH ArO Na ArOR + NaX
X = Cl, Br, I,
OSO 2OR atau
OSO 2R'
117
Contoh
spesifik
OH O Na OCH2 CH3

NaOH CH3 CH2 I


+ NaI

OH OH OH

OH O Na OCH3

NaOH CH3OSO2OCH3
+ NaOSO2OCH3
H 2O

Anisol
(Metoksibenzena)
118
 Jika dialkil eter dipanaskan dengan HBr atau
HI berlebih, maka terjadi pemutusan eter dan
dihasilkan alkil halida dari kedua gugus alkil.
HX pekat
R O R panas
R X + R' X + H2 O

Jika alkil aril eter bereaksi dengan asam kuat


seperti HI dan HBr akan menghasilkan suatu
alkil halida dan fenol.

119
 Fenol tidak akan bereaksi lebih lanjut untuk
menghasilkan aril halida karena ikatan
karbon – oksigen sangat kuat dan karena
kation fenil tidak mudah terbentuk.
Reaksi Umum
HX pekat
Ar O R panas
Ar OH + R X

Contoh
spesifik
H2O
H3C OCH3 + HBr H3C OH + CH3Br

p-Metilanisol 4-Metilfenol Metil bromida

HBr

120
no reaction
 Brominasi
OH OH
Br Br
+ 3 Br2 + 3 HBr
H2O

Br
2,4,6-Tribromofenol
(~ 100%)
OH OH

50C
+ Br2 + HBr
CS2

Br
p-Bromofenol
(80-84%) 121
 Brominasi
OH OH
Br Br
+ 3 Br2 + 3 HBr
H2O

Br
2,4,6-Tribromofenol
(~ 100%)
OH OH

50C
+ Br2 + HBr
CS2

Br
p-Bromofenol
(80-84%) 122
 Sulfonasi
OH
SO3H
250C
Produk utama,
kontrol kecepatan

OH

H2SO4
H2SO4, pekat,
pekat

OH

1000C Produk utama, kontrol


kesetimbangan

SO3H 123
 Reaksi Kolbe
 Natrium fenoksida mengabsorpsi CO2 dan dipanaskan pada
125ºC di bawah tekanan beberapa atmosfer CO2.

O Na O O
H
C C O Na tautomerisasi
- H+, + H+
O O

O H O H
C O Na C OH

O O
H+

Natrium salisilat Asam salisilat

124
 Pemanasan alil fenil eter sampai 200ºC menyebabkan suatu
reaksi intermolekuler yang dinamakan penataan-ulang
Claisen. Produk yang dihasilkan adalah o-alilfenol.
OCH2CH CH2 OH
CH2CH CH2
2000C

Alil fenil eter o-Alilfenol

H2C H2C
CH2
O CH O CH OH CH
CH2 CH2
CH2
tautomerisasi
H - H+, + H +

125
Intermediat tidak stabil
 Oksidasi hidrokuinon (1,4-benzenadiol) menghasilkan suatu senyawa
yang dikenal sebagai p-benzokuinon.
 Vitamin K1, yang berperan pada pembekuan darah, mengandung
struktur 1,4-naftokuinon.
OH O

- 2e-
+ 2 H+
+ 2e-

OH O
Hidrokuinon p-Benzokuinon

O O CH3 CH3

CH2 CH C(CH2 CH2 CH2 CH)3 CH 3

CH3

O O
1,4-Naftokuinon Vitamin K1 126