Anda di halaman 1dari 68

FUNGSI KHUSUS

FUNGSI BESSEL
PERSAMAAN DIFERENSIAL BESSEL
Fungsi Bessel muncul sebagai penyelesaian dari persamaan diferensial
𝑥 2 𝑦 ′′ + 𝑥𝑦 ′ + 𝑥 2 − 𝑛2 𝑦 = 0, 𝑛 ≥ 0 (1)
Yang disebut sebagai persamaan diferensial Bessel.
Penyelesaian umum dari (1) diberikan oleh
𝑦 = 𝑐1 𝐽𝑛 𝑥 + 𝑐2 𝑌𝑛 (𝑥)
Penyelesaian 𝐽𝑛 (𝑥), yang mempunyai limit hingga apabila 𝑥 mendekati nol disebut fungsi
Bessel jenis pertama dengan orde n.

Penyelesaian 𝑌𝑛 (𝑥), yang tak mempunyai limit hingga (yaitu tak dibatasi) apabila 𝑥
mendekati nol disebut fungsi Bessel jenis kedua dengan orde n atau fungsi Neumann.
Kalau variabel 𝑥 pada (1) diubah menjadi 𝜆𝑥, dengan 𝜆 sebagai konstan, persamaan yang
dihasilkan adalah

𝑥 2 𝑦 ′′ + 𝑥𝑦 ′ + (𝜆2 𝑥 2 − 𝑛2 )𝑦 = 0 (3)

Dengan penyelesaian umumnya

𝑦 = 𝑐1 𝐽𝑛 (𝜆𝑥) + 𝑐2 𝑌𝑛 (𝜆𝑥) (4)

Persamaan diferensial (1) atau (3) didapat, misalnya, dari persamaan Laplace ∇2 𝑢 = 0
pada koordinat silinder (𝑝, 𝜙, 𝑧). Lihat Soal 6-1.
𝑃𝐸𝑅𝑆𝐴𝑀𝐴𝐴𝑁 𝑃𝐸𝑅𝑆𝐴𝑀𝐴𝐴𝑁 𝑌𝐴𝑁𝐺 𝐷𝐴𝑃𝐴𝑇 𝐷𝐼𝑇𝑅𝐴𝑁𝑆𝐹𝑂𝑅𝑀𝐴𝑆𝐼𝐾𝐴𝑁 𝐾𝐸 𝑃𝐸𝑅𝑆𝐴𝑀𝐴𝐴𝑁 𝐵𝐸𝑆𝑆𝐸𝐿
𝑝𝑒𝑟𝑠𝑎𝑚𝑎𝑎𝑛
𝑥 2 𝑦 ′′ + 2𝑘 + 1 𝑥𝑦 ′ + 𝛼 2 𝑥 2𝑟 + 𝛽 2 𝑦 = 0
𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑘, 𝛼, 𝛽 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑡𝑎𝑛, 𝑚𝑒𝑚𝑝𝑢𝑛𝑦𝑎𝑖 𝑝𝑒𝑛𝑦𝑒𝑙𝑒𝑠𝑎𝑖𝑎𝑛 𝑢𝑚𝑢𝑚
−𝐾
𝛼𝑥 𝑟 𝛼𝑥 𝑟
𝑦=𝑥 𝑐1 𝐽𝐾 + 𝑐2 𝑌𝐾
𝑟 𝑟 𝑟 𝑟
𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝐾 = 𝑘 2 + 𝛽2
FUNGSI BESSEL JENIS PERTAMA

Fungsi Bessel jenis pertama dengan orde 𝑛 didefiniskan sebagai

𝑥𝑛 𝑥2 𝑥4
𝐽𝑛 (𝑥 ) = 𝑛 1− + −⋯ (6)
2 Γ(𝑛 + 1) 2(2𝑛 + 2) 2 ∙ 4(2𝑛 + 2)(2𝑛 + 4)

Atau

∞ 𝑥 𝑛+2𝑟
(−1 )𝑟
𝐽𝑛 (𝑥 ) = 2 (7)
𝑟! Γ(𝑛 + 𝑟 + 1)
𝑟=0
Dengan Γ(𝑛 + 1) sebagai fungsi gamma (Bab IV). Apabila 𝑛 adalah bilangan bulat positif,
Γ(𝑛 + 1) = 𝑛!, Γ(1) = 1.

Untuk 𝑛 = 0, (6) menjadi

𝑥2 𝑥4 𝑥6
𝐽0 (𝑥 ) = 1 − 2 + 2 2 − 2 2 2 + ⋯ (8)
2 2 4 2 4 6

Deret (6) atau (7) konvergen untuk semua 𝑥. Grafik dari 𝐽0 (𝑥) dan 𝐽1 (𝑥) dapat dilihat pada
gambar 6-1.
Kalau 𝑛 adalah separo dari bulangan ganjil, 𝐽𝑛 (𝑥) dapat ditulis dalam suku-suku sinus dan
cosinus. Lihat Soal 6-6 dan 6-9.

Suatu fungsi 𝐽−𝑛 (𝑥 ), 𝑛 > 0, dapat ditentukan dengan mengganti 𝑛 dengan −𝑛 pada (6)
atau (7). Kalau 𝑛 suatu bilangan bulat, maka dapat ditunjukkan bahwa (lihat Soal 6-5).

𝐽−𝑛 (𝑥 ) = (−1)𝑛 𝐽𝑛 (𝑥) (9)

Kalau 𝑛 bukan suatu bilangan bulat, 𝐽𝑛 (𝑥) dan 𝐽−𝑛 (𝑥) tidak bergantungan secara linear
(linearly independent) dan dalam hal ini penyelesaian umum dari (1) adalah

𝑦 = 𝐴𝐽𝑛 (𝑥 ) + 𝐵𝐽−𝑛 (𝑥), 𝑛 ≠ 0,1,2,3, … (10)


FUNGSI BESSEL JENIS KEDUA

Fungsi Bessel jenis kedua dengan orde 𝑛 didefinisikan sebagai

𝐽𝑛 (𝑥) cos 𝑛𝜋 − 𝐽−𝑛 (𝑥)


, 𝑛 ≠ 0,1,2,3, …
sin 𝑛𝜋
𝑌𝑛 (𝑥 ) =
𝐽𝑝 (𝑥 ) cos 𝑝𝜋 − 𝐽−𝑝 (𝑥 )
lim , 𝑛 = 0,1,2,3, …
𝑝→𝑛 sin 𝑝𝜋
FORMULA ULANG (RECURRENCE FORMULA)

Hasil-hasil berikut berlaku untuk semua harga 𝑛.


2𝑛
1. 𝐽𝑛+1 (𝑥 ) = 𝐽 (𝑥 ) − 𝐽𝑛−1 (𝑥)
𝑥 𝑛
′( ) 1
2. 𝐽𝑛 𝑥 = 2 𝐽𝑛−1 (𝑥) − 𝐽𝑛+1 (𝑥)
3. 𝑥𝐽𝑛′ (𝑥 ) = 𝑛𝐽𝑛 (𝑥) − 𝑥𝐽𝑛+1 (𝑥)
4. 𝑥𝐽𝑛′ (𝑥 ) = 𝑥𝐽𝑛−1 (𝑥 ) − 𝑛𝐽𝑛 (𝑥)
𝑑 𝑛 ( ) 𝑛
5. 𝑑𝑥
𝑥 𝐽𝑛 𝑥 = 𝑥 𝐽𝑛−1 (𝑥)
𝑑 −𝑛 ( ) −𝑛
6. 𝑑𝑥
𝑥 𝐽𝑛 𝑥 = −𝑥 𝐽𝑛+1 (𝑥)
6-9. Tunjukkan bahwa

2 𝑠𝑖𝑛𝑥−𝑥 cos 𝑥
a. 𝐽3 𝑥 = 𝜋𝑥 𝑥
2
2 𝑥 𝑠𝑖𝑛𝑥+cos 𝑥
b. 𝐽−3 𝑥 = − 𝜋𝑥 𝑥
2
Jawab:

2 𝑠𝑖𝑛𝑥−𝑥 cos 𝑥
a. 𝐽3 𝑥 = 𝜋𝑥 𝑥
2
1 2 sin 𝑥 2 𝑠𝑖𝑛𝑥 − 𝑥 cos 𝑥
𝐽3 𝑥 = 𝐽1 𝑥 − 𝐽 1 𝑥 = −( − cos 𝑥) = ( )
2 𝑥 2 −2 𝜋𝑥 𝑥 𝜋𝑥 𝑥
2 𝑥 𝑠𝑖𝑛𝑥+cos 𝑥
b. 𝐽−3 𝑥 = − 𝜋𝑥 𝑥
2
6.10 Hitung integral-integral berikut
a. ∫ 𝑥 𝑛 𝐽𝑛−1 𝑥 𝑑𝑥

𝑛 𝑑 𝑛
a. ∫ 𝑥 𝐽𝑛−1 𝑥 𝑑𝑥 𝑥 𝐽𝑛 𝑥 = 𝑥 𝑛 𝐽𝑛−1
𝑑𝑥

𝐽𝑛+1 𝑥
∫ 𝑥 𝑛 𝐽𝑛−1 𝑥 𝑑𝑥 = 𝑥 𝑛 𝐽𝑛 + 𝑐 b
b. ∫ 𝑥𝑛
𝑑𝑥
𝐽𝑛+1 𝑥
b. ∫ 𝑥𝑛
𝑑𝑥

𝑑 −𝑛
𝑥 𝐽𝑛 𝑥 = −𝑥 −𝑛 𝐽𝑛+1
𝑑𝑥
∫ 𝑥 𝑛 𝐽𝑛−1 𝑥 𝑑𝑥 = −𝑥 −𝑛 𝐽𝑛 + 𝑐
6-11. Hitung 𝑎 ∫ 𝑥 4 𝐽1 𝑥 𝑑𝑥 𝑏 ∫ 𝑥 3 𝐽3 𝑥 𝑑𝑥

Penyelesaian:

Metode 1. Pengintegralan demi bagian didapat

∫ 𝑥 4 𝐽1 𝑥 𝑑𝑥 = ∫ 𝑥 2 𝑥 2 𝐽1 𝑥 𝑑𝑥

= 𝑥 2 𝑥 2 𝐽2 𝑥 − ∫ 𝑥 2 𝐽2 𝑥 2𝑥 𝑑𝑥

= 𝑥 4 𝐽2 𝑥 − 2∫ 𝑥 3 𝐽2 𝑥 𝑑𝑥

= 𝑥 4 𝐽2 𝑥 − 2𝑥 3 𝐽3 𝑥 + 𝑐
Metode 2 Dengan menggunakan

𝐽1 𝑥 = −𝐽0′ (𝑥)
∫ 𝑥 4 𝐽1 𝑑𝑥 = −∫ 𝑥 4 𝐽0′ 𝑥 𝑑𝑥 = −{𝑥 4 𝐽0 𝑥 − ∫ 4𝑥 3 𝐽0 𝑥 𝑑𝑥}
∫ 𝑥 3 𝐽0 𝑑𝑥 = ∫ 𝑥 2 𝑥𝐽0′ 𝑥 𝑑𝑥 = −𝑥 2 𝑥𝐽1 𝑥 − ∫ 𝑥𝐽1 𝑥 2𝑥𝑑𝑥
∫ 𝑥 2 𝐽1 𝑑𝑥 = −∫ 𝑥 4 𝐽0′ 𝑥 𝑑𝑥 = − 𝑥 4 𝐽0 𝑥 − ∫ 2𝑥𝐽0 𝑥 𝑑𝑥 = −𝑥 2 𝐽0 𝑥 + 2𝑥𝐽1 (𝑥)

Kemudian,
∫ 𝑥 4 𝐽1 𝑥 𝑑𝑥 = −𝑥 4 𝐽0 𝑥 + 4 𝑥 3 𝐽1 𝑥 − 2 −𝑥 2 𝐽0 𝑥 + 2𝑥𝐽1 𝑥
= 8𝑥 2 − 𝑥 4 𝐽0 𝑥 + 4𝑥 3 − 16𝑥 𝐽1 𝑥

∫ 𝑥 3 𝐽3 𝑥 𝑑𝑥 = ∫ 𝑥 5 𝑥 −2 𝐽3 𝑥 𝑑𝑥}
= 𝑥 5 −𝑥 −2 𝐽2 𝑥 − ∫ −𝑥 −2 𝐽2 𝑥 5𝑥 4 𝑑𝑥
= −𝑥 3 𝐽2 𝑥 + 5∫ 𝑥 2 𝐽2 𝑥 𝑑𝑥

∫ 𝑥 2 𝐽2 𝑥 𝑑𝑥 = ∫ 𝑥 3 𝑥 −1 𝐽2 𝑥 𝑑𝑥
= 𝑥 3 −𝑥 −1 𝐽1 𝑥 − ∫ −𝑥 −1 𝐽1 𝑥 3𝑥 2 𝑑𝑥
= −𝑥 2 𝐽1 𝑥 + 3 ∫ 𝑥𝐽1 𝑥 𝑑𝑥

∫ 𝑥𝐽1 𝑥 𝑑𝑥 = −∫ 𝑥𝐽′ 0 𝑥 𝑑𝑥
= − 𝑥𝐽0 𝑥 − ∫ 𝐽0 𝑥 𝑑𝑥
= −𝑥𝐽0 𝑥 + ∫ 𝐽0 𝑥 𝑑𝑥
Maka

∫ 𝑥 3 𝐽3 (𝑥)𝑑𝑥 = −𝑥 3 𝐽2 (𝑥 ) + 5 −𝑥 2 𝐽1 (𝑥) + 3 −𝑥𝐽0 (𝑥 ) + ∫ 𝐽0 (𝑥)𝑑𝑥

= −𝑥 3 𝐽2 (𝑥) − 5𝑥 2 𝐽1 (𝑥 ) − 15𝑥𝐽0 (𝑥 ) + 15∫ 𝐽0 (𝑥 )𝑑𝑥

Integral ∫ 𝐽0 (𝑥 )𝑑𝑥 tak dapat diselesaikan secara analitis (closed form). Pada umumnya,
∫ 𝑥 𝑝 𝐽𝑞 𝑑𝑥 bisa didapaykan denaagan closed form apabila 𝑝 + 𝑞 ≥ 0 dan 𝑃 + 𝑞 ganjil dengan
𝑝 dan 𝑞 sebagi bilangan-bilangan bulat. Kalau 𝑝 + 𝑞 ternyata genap, maka hasilnya dapat
ditemukan dalam ∫ 𝐽0 (𝑥 )𝑑𝑥.
6-37. Hitung (a) 𝐽5 𝑥 dan (b) 𝐽−5 𝑥 dalam suku-suku sinus dan kosinus
2 2

b. 𝐽−5 𝑥
a. 𝐽5 𝑥 2
2
3 3
𝑛=− maka,
𝑛= maka, 2
2
3 3
𝐽5 𝑥 = 𝐽3 𝑥 − 𝐽1 (𝑥) 𝐽1 𝑥 = − 𝐽 3 𝑥 − 𝐽 5 (𝑥)
−2 𝑥 −2 −2
2 𝑥 2 2
3 2 𝑠𝑖𝑛𝑥−𝑥𝑐𝑜𝑠𝑥 2
= − sin 𝑥 2
cos 𝑥 =
3 2 cos 𝑥 + 𝑥 sin 𝑥
− 𝐽 5 (𝑥)
𝑥 𝜋 𝑥 𝜋
𝜋𝑥 𝑥 𝜋𝑥 𝑥 −2
2 3 𝑠𝑖𝑛𝑥−𝑥𝑐𝑜𝑠𝑥
= − sin 𝑥
𝜋 𝑥 𝑥
2 3 cos 𝑥 + 𝑥 sin 𝑥
2 3 𝑠𝑖𝑛𝑥−𝑥𝑐𝑜𝑠𝑥 −𝑥 2 𝑠𝑖𝑛𝑥) 𝐽 5 𝑥 = − cos 𝑥
−2 𝜋𝑥 𝑥 𝑥
=
𝜋𝑥 𝑥 𝑥2
2 3 cos 𝑥 + sin 𝑥 − 𝑥 2 cos 𝑥)
=
𝜋𝑥 𝑥2
3 1 3
6.40 Hitung (a) ∫ 𝑥 𝐽2 (𝑥)𝑑𝑥 (b) ∫0 𝑥 𝐽0 (𝑥 )𝑑𝑥 (c) ∫ 𝑥 2 𝐽0 (𝑥 )𝑑𝑥

Jawab :
∫ 𝑥𝐽𝑛−1 𝑥 𝑑𝑥 = 𝑥 𝑛 𝐽𝑛 𝑥 + 𝑐
Maka,
1
a. ∫ 𝑥 3 𝐽2 𝑥 𝑑𝑥 = 𝑥 2 𝐽2 𝑥 𝑑𝑥 b. ∫0 𝑥 3 𝐽0 𝑥 𝑑𝑥 = ∫ 𝑥 2 . 𝑥𝐽0 𝑥 𝑑𝑥
2
= 𝐽1 𝑥 − 𝐽0 (𝑥) = 𝑥 3 𝐽1 𝑥 − ∫ 2𝑥 2 𝐽1 𝑥 𝑑𝑥
𝑥
3 2 1
= 𝑥 𝐽1 𝑥 − 2𝑥 𝐽2 𝑥 𝑑𝑥 |
0
= 𝐽1 1 − 2𝐽2 (1)
= 𝐽1 1 − 2(2𝐽1 𝑥 − 𝐽0 𝑥 )
= 𝐽1 1 − 4𝐽1 1 + 2𝐽0 (1)
= 2𝐽0 1 − 3𝐽1 (1)
c. ∫ 𝑥 2 𝐽0 𝑥 𝑑𝑥
misal 𝑢 = 𝑥 → 𝑑𝑢 = 𝑑𝑥
𝑑𝑣 = 𝑥𝐽0 𝑥 𝑑𝑥 → 𝑣 = ∫ 𝑥𝐽0 𝑥 𝑑𝑥 = 𝑥𝐽1 𝑥 + 𝑐
maka,
∫ 𝑥 2 𝐽0 𝑥 𝑑𝑥 = ∫ 𝑥. 𝑥𝐽0 𝑥 𝑑𝑥
= 𝑥 2 𝐽1 𝑥 − ∫ 𝑥𝐽1 𝑥 𝑑𝑥
= 𝑥 2 𝐽1 𝑥 + 𝑥𝐽0 𝑥 − ∫ 𝐽0 𝑥 𝑑𝑥
6.57. Hitung (a) 𝒀𝟏 (𝒙) (b) 𝒀−𝟏 (𝒙) (c) 𝒀𝟑 (𝒙) (d) 𝒀−𝟑 (𝒙)
𝟐 𝟐 𝟐 𝟐

Jawab:
𝐽𝑛 𝑥 cos 𝑛𝜋 − 𝐽−𝑛 𝑥
, 𝑛 ≠ 0,1,2,3, …
sin 𝑛𝜋
𝑦𝑛 𝑥 =
𝐽𝑝 𝑥 cos 𝑝𝜋 − 𝐽−𝑝 𝑥
lim , 𝑛 = 0,1,2,3, …
𝑝→𝑛 𝑝
1
a. 𝑌1 𝑥 maka 𝑛 = 2
2 𝜋
𝐽1 𝑋 cos − 𝐽1 (𝑥) 𝐽 1 𝑥
2
2 2

2 2
𝑌1 𝑥 = 𝜋 =− =− cos 𝑥
2 sin 1 𝜋𝑥
2
1
b. 𝑌−1 𝑥 maka 𝑛 = −
2
2
𝜋
𝐽 1 𝑋 cos − 2 −𝐽1 (𝑥) 𝐽 1 𝑥
− 2 2 −2 2
𝑌1 𝑥 = 𝜋 =− = sin 𝑥
2 sin − 2 −1 𝜋𝑥
6.57. Hitung (a) 𝒀 (𝒙) (b) 𝒀 𝟏
𝟐

𝟏
𝟐
(𝒙) (c) 𝒀𝟑 (𝒙) (d) 𝒀−𝟑 (𝒙)
𝟐 𝟐

3 3
c. 𝑌3 (𝑥) maka 𝑛 = 2
d. 𝑌−3 (𝑥) maka 𝑛 = −
2
2 2
3 3
𝐽3 𝑥 cos2𝜋−𝐽 3 𝑥 𝐽 3 𝑥 cos −2𝜋−𝐽3 𝑥
−2 −
2 2
𝑌3 𝑥 = 2
3𝜋
𝑌3 𝑥 = 3𝜋
2 sin 2 2 sin − 2
𝐽 3 𝑥 𝐽3 𝑥
− 2
=− 2 =−
−1 1

2 (𝑥 𝑠𝑖𝑛𝑥+cos 𝑥) 2 (𝑠𝑖𝑛𝑥 − 𝑥 cos 𝑥)


= 𝐽−3 𝑥 = − = −𝐽3 𝑥 = −
2 𝜋𝑥 𝑥 𝜋𝑥 𝑥
2
6-59. Hitung (a) ∫ 𝒙𝟑 𝒀𝟐 (𝒙)𝒅𝒙 (b) ∫ 𝒀𝟑 (𝒙) (c) ∫
𝒀 𝟑 (𝒙 )
𝒙𝟑
𝒅𝒙

(a)∫ 𝑥 3 𝑌2 𝑥 𝑑𝑥
𝐽𝑝 𝑥 cos 𝑝𝜋 − 𝐽−𝑝 𝑥 𝑥 3 𝐽′ 2 𝑥 − 𝐽′ −2 𝑥
𝑌𝑛 𝑥 = lim ∫ 𝑥 3 𝑌2 𝑥 = න 𝑑𝑥
2
𝑝→𝑛 sin 𝑝𝜋
𝐽𝑝 𝑥 cos 𝑝𝜋−𝐽−𝑝 𝑥 1 1
= ∫ 𝑥 3 𝐽′ 2 𝑥 𝑑𝑥 − ∫ 𝑥 3 𝐽′ −2 𝑥 𝑑𝑥
= lim 2 2
𝑝→2 sin 𝑝𝜋
1 1 1 1
𝐽′𝑝 𝑥 cos 𝑝𝜋−𝐽−𝑝 𝑥 = ∫ 𝑥 3 . 𝐽1 𝑥 − 𝐽3 𝑥 𝑑𝑥 − ∫ 𝑥 3 . 𝐽−3 𝑥 − 𝐽−1 𝑑𝑥
2 2 2 2
= lim
𝑝→2 𝑝 cos 𝑝𝜋
1 1
= ∫ 𝑥 𝐽1 𝑥 − 𝐽3 𝑥 𝑑𝑥 − ∫ 𝑥 3 𝐽−3 𝑥 − 𝐽−1 𝑥 𝑑𝑥
3
J′2 (𝑥) −𝐽′−2 𝑥 4 4
=
2

maka
6-72. Hitung selesaikan 𝟒𝒙𝒚′′ + 𝟒𝒚′ + 𝒚 = 𝟎
Jawab:
𝑥
4𝑥𝑦 ′′ + 4𝑦 ′ + 𝑦 = 0 Kalikan dengan 2𝑘 + 1 = 1 → 𝑘 = 0
1 4 𝛽2 = 0 → 𝛽 = 0
𝑥 2 𝑦 ′′ + 𝑥𝑦 ′ + 𝑥𝑦 = 0 maka didapat 2
1
𝛼 = →𝛼=
1
4
4 2
Maka, 1
2𝑟 = 1 → 𝑟 =
2
𝛼𝑥 𝑟 𝛼𝑥 𝑟
𝑦 = 𝑥 −𝑘 𝑐1 𝐽𝑘 + 𝑐2 𝑌𝑘
𝑟 𝑟 𝑟 𝑟

1 12 1 12
𝑥 𝑥
𝑦 = 𝑥 0 𝑐1 𝐽 0 2 + 𝑐2 𝑌 0 2
1/2 1 1/2 1
2 2
𝑦 = 𝑐1 𝐽0 ( 𝑥) + 𝑐2 𝑌0 ( 𝑥)
PERSAMAAN DIFERENSIAL LEGENDRE

Fungsi –fungsi Legendre timbul sebagai penyelesaian dari persamaan


diferensial

1 − 𝑥 2 𝑦 ′′ − 2𝑥𝑦 ′ + 𝑛 𝑛 + 1 𝑦 = 0 (1)

Yang disebut sebagai persamaan diferensial Legendre. Penyelesaian


umum dari (1) untuk 𝑛 = 0,1,2,3, … diberikan oleh

y = c1 Pn x + c2 Q n (x) (2)
Dengan 𝑃𝑛 (𝑥) sebagai polinomial yang disebut polinomial Legendre dan
𝑄𝑛 𝑥 disebut fungsi Legendre jenis kedua. 𝑄𝑛 𝑥 ini tak dibatasi pada 𝑥 =
±1
Persamaan diferensial (1) didapatkan sebagai contoh dari persamaan Laplace
𝛻 2 𝑢 = 0 dalam koordinat bola 𝑟, 𝜃, 𝜙 apabila dianggap bahwa u tidak
bergantung pada 𝜙
POLINOMIAL LEGENDRE
Polinomial Legendre didefinisikan sebagai :
2𝑛−1 2𝑛−3 … 1 𝑛 𝑛−1 𝑛 𝑛−1
𝑃𝑛 𝑥 = 𝑥𝑛 − 𝑥 𝑛−2 + 𝑥 𝑛−4 − ⋯ (3)
𝑛! 2 2𝑛−1 2∗4 2𝑛−1 2𝑛−3
Perhatikan bahwa Pn(x) adalah polinomial dengan derajat n
𝑃0 = 1
𝑃1 = 𝑥
1
𝑃2 = (3𝑥 2 − 1)
2
1
𝑃3 = (5𝑥 3 − 3𝑥)
2
1
𝑃4 = (35𝑥 4 − 30𝑥 2 + 3)
8
1
𝑃5 = (63𝑥 5 − 70𝑥 3 + 15𝑥)
8
Untuk semua kasus di atas 𝑃𝑛 1 = 1, 𝑃𝑛 −1 = −1 𝑛
Polinomial Legendre dapat juga diekspresikan oleh formula Rodrigue :
1 𝑑𝑛
𝑃𝑛 = 𝑥2 − 1 𝑛
(4)
2𝑛 𝑛! 𝑑𝑥 𝑛
FUNGSI GENERATOR (GENERATING FUNGTION) UNTUK POLINOMIAL
LEGENDRE

Fungsi

1
= 𝑃𝑛 𝑥 𝑡 𝑛
1 − 2𝑥𝑡 + 𝑡 2 𝑛=0

Disebut sebagai fungsi generator(generating function) untuk polinomial Legendre dan


bergunauntuk mendapatkan sifat-sifat dari polinomial Legendre ini.
FORMULA ULANG (RECURRENCE FORMULAS)

2𝑛+1 𝑛
1.𝑃𝑛+1 = 𝑥𝑃𝑛 𝑥 − 𝑃 (𝑥)
𝑛+1 𝑛+1 𝑛−1
2.𝑃′ 𝑛+1 𝑥 − 𝑃′ 𝑛−1 𝑥 = 2𝑛 + 2 𝑃𝑛 (𝑥)
FUNGSI-FUNGSI LEGENDRE JENIS KEDUA
Apabila |x| < 1, maka fungsi Legendre jenis kedua diberikan sebagai berikut ini, tergantung dari
harga 𝑛, yang pertama untuk 𝑛 genap dan yang kedua untuk 𝑛 ganjil.
𝑛 2
−1 𝑛/2 2𝑛 2 ! (𝑛−1) 𝑛+2 𝑛−1 (𝑛−3)(𝑛+2)(𝑛+4) 5
𝑄𝑛 𝑥 = {𝑥 − 𝑥3 + 𝑥 − ⋯} (6)
𝑛! 3! 5!

(𝑛−1) 2
−1 (𝑛+1)/2 2𝑛−1 ! 𝑛 𝑛+1 𝑛(𝑛−2)(𝑛+1)(𝑛+3) 4
𝑄𝑛 𝑥 = 2
{1 − 𝑥2 + 𝑥 − ⋯} (7)
1.3.5…𝑛 2! 4!

Untuk n > 1,koefisien pokoknya diambil sedemikian rupa sehingga formula ulang untuk 𝑃𝑛 (𝑥)
diatas juga berlaku untuk 𝑄𝑛 𝑥
KE-ORTOGONALAN POLINOMIAL LEGENDRE

Berikut adalah hasil-hasil yang fundamental :

1
∫−1 𝑃𝑚 𝑥 𝑃𝑛 𝑥 𝑑𝑥 = 0 𝑎𝑝𝑎𝑏𝑖𝑙𝑎 𝑚 ≠ 𝑛 (7)

1 2 𝑑𝑥 2
∫−1 𝑃𝑛 𝑥 = 2𝑛+1 (8)

Yang pertama menunjukan bahwa dua buah polinomial legendre sebarang yang tidak sama
ortogonal pada interval -1< x< 1.
DERET POLINOMIAL LEGENDRE
Apabila f(x) dan f`(x) kontinu setiap segmennya maka disetiap titik
kontinuitas dari f(x) pada interval -1 < x < 1 akan terdapat ekspansi deret
legendre yang mempunyai bentuk

𝑓 𝑥 = 𝐴0 𝑃0 𝑥 + 𝐴1 𝑃1 𝑥 + 𝐴2 𝑃2 𝑥 + ⋯ = σ∞
𝑘=0 𝐴𝑘 𝑃𝑘 (𝑥)
(10)

2𝑘+1 1
𝐴𝑘 = ∫−1 𝑓(𝑥)𝑃𝑘 (𝑥)𝑑𝑥
(11)
Dengan 2

Disetiap titik tidak kontinu (discontinuity) deret pada ruas kanan dari (10) ini
1
akan konvergen ke 𝑓 𝑥 + 0 + 𝑓 𝑥 − 0 yang dapat digunakan sebagai
2
pengganti dari ruas sebelah kiri (10).
FUNGSI LEGENDRE ASOSIASI
Persamaan diferensial

2 ′′ ′ 𝑚2
1 − 𝑥 𝑦 − 2𝑥𝑦 + 𝑛 𝑛 + 1 − 𝑦 = 0 (12)
1−𝑥 2

Disebut sebagai persamaan diferensial yang berhubungan dengan Legendre. Kalau 𝑚 = 0 persamaan ini
akan menjadi persamaan Legendre seperti pada (1). Penyelesaian (12) ini disebut fungsi Legendre asosiasi.
Akan dibahas suatu kasus dimana 𝑚 dan 𝑛 bukan sebagai bilangan bulat negatif. Dalam hal ini penyelesaian
umum dari (12) diberikan oleh

𝑦 = 𝑐1 𝑃𝑛𝑚 𝑥 + 𝑐2 𝑄𝑛𝑚 (𝑥) (13)

Dengan 𝑃𝑛𝑚 𝑥 dan 𝑄𝑛𝑚 𝑥 disebut masing-masing sebagai fungsi Legendre asosiasi jenis pertama dan jenis
kedua
Fungsi-fungsi ini diberikan dalam bentuk fungsi Legendre biasa ,yaitu:

𝑚
𝑑𝑚
𝑃𝑛𝑚 𝑥 = 1− 2
𝑥 2 𝑚 𝑃𝑛 (𝑥) (14)
𝑑𝑥

𝑚
𝑑𝑚
𝑄𝑛𝑚 𝑥 = 1− 𝑥 2 2 𝑄𝑛 (𝑥) (15)
𝑑𝑥 𝑚

Perhatikan bahwa kalau m > n,. 𝑃𝑛𝑚 𝑥 = 0 Fungsi 𝑄𝑛𝑚 𝑥 tak dibatasi 𝑥 = ±1.
Persamaan diferensial (12) didapatkan dari persamaan Laplace 𝛻 2 u = 0 dalam koordinat bola
𝑟, 𝜃, 𝜙 .
FORMULA ULANG (RECURRENCE FORMULA) UNTUK
POLINOMIAL LEGENDRE
2𝑛+1 𝑛
7-9. Buktikan bahwa 𝑃𝑛+1 𝑥 = 𝑥 𝑃𝑛 𝑥 − 𝑃𝑛−1 (𝑥)
𝑛+1 𝑛+1
Dari fungsi generator Soal 7-8 didapat
1
= σ∞
𝑛=0 𝑃𝑛 (𝑥)𝑡
𝑛 (1)
1−2𝑥𝑡+𝑡 2
Mendiferensialkan terhadap t, maka

𝑥−𝑡
= 𝑛𝑃𝑛 (𝑥)𝑡 𝑛−1
(1 − 2𝑥𝑡 + 𝑡 2 )3/2
𝑛=0
Mengalikannya dengan 1 − 2𝑥𝑡 + 𝑡 2 ,
𝑥−𝑡
= σ∞ 2
𝑛=0(1 − 2𝑥𝑡 + 𝑡 )𝑛𝑃𝑛 (𝑥)𝑡
𝑛−1 (2)
(1−2𝑥𝑡+𝑡 2 )3/2
Ruas sebelah kiri dari (2) dapat ditulis dalam bentuk (I) dan hasilnya
∞ ∞

𝑥 − 𝑡 𝑃𝑛 𝑥 𝑡 𝑛 = (1 − 2𝑥𝑡 + 𝑡 2 )𝑛𝑃𝑛 (𝑥)𝑡 𝑛−1


𝑛=0 𝑛=0
yaitu
∞ ∞ ∞ ∞ ∞

𝑥𝑃𝑛 (𝑥)𝑡 𝑛−1 − 𝑃𝑛 (𝑥)𝑡 𝑛+1 = 𝑛𝑃𝑛 (𝑥)𝑡 𝑛−1 − 2𝑛𝑥 𝑃𝑛 𝑥 𝑡 𝑛 + 𝑛𝑃𝑛 (𝑥)𝑡 𝑛+1
𝑛=0 𝑛=0 𝑛=0 𝑛=0 𝑛=0
Menyamakan koefisien dari 𝑡 𝑛 pada masing-masing sisi, didapatkan
𝑥𝑃𝑛 𝑥 − 𝑥𝑃𝑛−1 𝑥 = 𝑛 + 1 𝑃𝑛+1 𝑥 − 2𝑛𝑥𝑃𝑛 𝑥 + (𝑛 − 1)𝑃𝑛−1 (𝑥)
dan dari sini didapatkan hasil yang diinginkan.
7-10. Diketahui bahwa 𝑃0 𝑥 = 1 , 𝑃1 𝑥 = 𝑥 , carilah (a) 𝑃2 𝑥 dan (b) 𝑃3 𝑥
Dengan menggunakan formula ulang dari Soal 7-9, dan mengambil n = 1 didapatkan
2 1 3 2 3 1
𝑃2 𝑥 = 𝑥 𝑃1 𝑥 − 𝑃0 𝑥 = 𝑥 − = 3𝑥 2 − 1
3 2 2 2 2
Demikian pula dengan mengambil n = 2, didapatkan

5 2 5 3𝑥 2 − 1 2 1
𝑃3 𝑥 = 𝑥 𝑃2 𝑥 − 𝑃1 𝑥 = 𝑥 − 𝑥 = 5𝑥 3 − 3𝑥
3 3 3 2 3 2
FUNGSI LEGENDRE JENIS KEDUA
7-11. Dapatkan hasil (6) dan (7), huntuk fungsi Legendre jenis kedua bilamana n bukan bilangan bulat negatif.
Fungsi Legendre jenis kedua ini tak lain dari pada penyelesaian deret tak berujung dari persamaan
Legender. Dari (3) soal 7-4 terlihat bahwa apabila n genap makan deret tak berujung tersebut adalah
𝑛 − 1 (𝑛 + 2) 2 𝑛 − 1 𝑛 − 3 𝑛 + 2 (𝑛 + 4) 5
𝑥− 𝑥 + 𝑥 − …
3! 5!
dan kalau n ganjil deret ini menjadi
𝑛(𝑛 + 1) 2 𝑛 𝑛 − 2 𝑛 + 1 (𝑛 + 3) 4
1− 𝑥 + 𝑥 − …
2! 4!
Penyelesaian deret ini, terlepas dari konstan pengalinya, adalah definisi dari fungsi Legendre jenis kedua yang
diberikan oleh (6) an (7) halaman 134, Konstan pengali tersebut dipilih sedemikian rupa sehingga fungsi-
fungsi Legendre jenis kedua ini memenuhi formula ulang yang sama (halaman 134) seperti polinomial
Legendre).
7-12. Dapatkan fungsi Legendre jenis kedua (a) 𝑄0 (𝑥) , (b) 𝑄1 (𝑥), (c) 𝑄2 (𝑥)
a. Dari (6), halaman 131, untuk n = 0 didapat,
2 3 1∙3∙2∙4 5 1∙3∙2∙4∙6 7
𝑄0 𝑥 = 𝑥 + 𝑥 + 𝑥 + 𝑥 + …
3! 5! 6!
𝑥3 𝑥5 𝑥7
= 𝑥+ + + + …
3 5 7
1 1+𝑥
= ln
2 1−𝑥
𝑢2 𝑢3 𝑢4
yang dalam hal ini digunakan ekspansi ln 1 + 𝑢 = 𝑢 − + − + …
2 3 4
b. Dari (7), halaman 131, untuk n = 1 didapat,
1 (2) 2 1 −1 2 (4) 4 1 −1 −3 2 4 (6) 6
𝑄1 𝑥 = − 1 − 𝑥 + 𝑥 − 𝑥 + …
2! 4! 6!
𝑥3 𝑥5
=𝑥 𝑥+ + + … − 1
3 5
𝑥 1+𝑥
= ln − 1
2 1−𝑥
c. Formula ulang untuk 𝑄𝑛 𝑥 identik dengan formula ulang untuk 𝑃𝑛 𝑥 . Kemudian dari soal 7-9,
didapat
2𝑛 + 1 𝑛
𝑄𝑛+1 𝑥 = 𝑥 𝑄𝑛 𝑥 − 𝑄 𝑥
𝑛+1 𝑛 + 1 𝑛−1
Memasukkan n = 1 , dan menggunakan (a) dan (b) diatas, maka
3 1 3𝑥 2 − 1 1+𝑥 3𝑥
𝑄2 𝑥 = 𝑥 𝑄1 − 𝑄0 𝑥 = ln −
2 2 4 1−𝑥 2
KEORTOGONALAN POLINOMIAL LEGENDRE
1
7-13. Buktikan bahwa ∫−1 𝑃𝑚 𝑥 𝑃𝑛 𝑥 𝑑𝑥 = 0 apabila m ≠ n .
Karena 𝑃𝑚 𝑥 , 𝑃𝑛 𝑛 memenuhi persamaan Legendre, maka
(1 − 𝑥 2 )𝑃"𝑚 𝑥 −2𝑥 𝑃′𝑚 +𝑚 𝑚 + 1 𝑃𝑚 = 0
(1 − 𝑥 2 )𝑃"𝑛 𝑥 −2𝑥 𝑃′𝑛 +𝑛 𝑛 + 1 𝑃𝑛 = 0
Kemudian dengan mengalikan persamaan pertama dengan 𝑃𝑛 , persamaan kedua dengan 𝑃𝑚 ,
didapatkan
1 − 𝑥 2 𝑃𝑛 𝑃"𝑚 − 𝑃𝑚 𝑃"𝑛 − 2𝑥 𝑃𝑛 𝑃′𝑚 − 𝑃𝑚 𝑃′𝑛 = 𝑛 𝑛 + 1 − 𝑚(𝑚 + 1) 𝑃𝑚 𝑃𝑛
yang dapat ditulis sebagai
2
𝑑
1−𝑥 𝑃 𝑃′ − 𝑃𝑚 𝑃′𝑛 − 2𝑥 𝑃𝑛 𝑃′𝑚 − 𝑃𝑚 𝑃′𝑛 = 𝑛 𝑛 + 1 − 𝑚(𝑚 + 1) 𝑃𝑚 𝑃𝑛
𝑑𝑥 𝑛 𝑚
atau
𝑑
1 − 𝑥 2 𝑃𝑛 𝑃′𝑚 − 𝑃𝑚 𝑃′𝑛 = 𝑛 𝑛 + 1 − 𝑚(𝑚 + 1) 𝑃𝑚 𝑃𝑛
𝑑𝑥
Karenanya dengan mengintegralkan didapat
1
2
1
𝑛 𝑛 + 1 − 𝑚(𝑚 + 1) න 𝑃𝑚 𝑥 𝑃𝑛 𝑥 = 1 − 𝑥 (𝑃𝑛 𝑃′𝑚 − 𝑃𝑚 𝑃′𝑛 )| =0
−1 −1
Dan karena m ≠ n , maka
1
න 𝑃𝑚 𝑥 𝑃𝑛 𝑥 𝑑𝑥 = 0
−1
1 2
7-14. Buktikan bahwa ∫−1 𝑃𝑛 (𝑥)2 𝑑𝑥 =
2𝑛+1
Dari fungsi generator ∞
1
= 𝑃𝑛 (𝑥)𝑡 𝑛
1 − 2𝑥𝑡 + 𝑡2 𝑛=0
dan meng-kuadratkan kedua ruasnya, didapat ∞ ∞
1
= 𝑃𝑚 (𝑥) 𝑃𝑛 (𝑥)𝑡 𝑚+𝑛
1 − 2𝑥𝑡 + 𝑡 2
𝑚=0 𝑛=0
Mengintegralkannya dari -1 ke 1, maka ∞ ∞
1 1
𝑑𝑥
න 2
= න 𝑃𝑚 𝑥 𝑃𝑛 𝑥 𝑑𝑥 𝑡 𝑚+𝑛
−1 1 − 2𝑥𝑡 + 𝑡 −1
𝑚=0 𝑛=0
Menggunakan hasil dari Soal 7-13 untuk ruas sebelah kanan dan ∞
melakukan pengintegralan pada ruas sebelah kiri, didapat
1
1 2 |
1 2
− ln 1 − 2𝑥𝑡 + 𝑡 = න 𝑃𝑛 𝑥 𝑑𝑥 𝑡 2𝑛
2𝑡 −1 −1 𝑛=0
atau ∞ 1
1 1+ 𝑡 2
ln = න 𝑃𝑛 𝑥 𝑑𝑥 𝑡 2𝑛
𝑡 1− 𝑡 −1
𝑛=0
∞ 2𝑡 2𝑛 1 2
yaitu σ𝑛=0 = σ∞
𝑛=0 ∫−1 𝑃𝑛 𝑥 𝑑𝑥 𝑡 2𝑛
2𝑛+1
Menyamakan koefisien-koefisien dari 𝑡 2𝑛 , pada akhirnya didapatkan
1
2 2
න 𝑃𝑛 𝑥 𝑑𝑥 =
−1 2𝑛 + 1
DERET POLINOMIAL LEGENDRE

7-15 Apabila 𝑓 𝑥 = σ∞
𝑘=0 𝐴𝑘 𝑃𝑘 (𝑥) , −1 < 𝑥 < 1 , tunjukkan bahwa:
2𝑘 + 1 1
𝐴𝑘 = න 𝑃𝑘 𝑥 𝑓 𝑥 𝑑𝑥
2 −1
Mengalikan deret di atas dengan 𝑃𝑚 (𝑥) dan mengintegralkannya dari -1 ke 1, serta menggunakan
Soal 7-13 dan 7-14, didapat
1 1
∫−1 𝑃𝑚 𝑥 𝑓 𝑥 𝑑𝑥 = σ∞
𝑘=0 𝐴𝑘 ∫−1 𝑃𝑚 𝑥 𝑃𝑘 𝑥 𝑑𝑥
1 2
= 𝐴𝑚 ∫−1 𝑃𝑚 𝑥 𝑑𝑥
2𝐴𝑚
=
2𝑚+1
Karenanya hasil yang diinginkan adalah
2𝑚 + 1 1
𝐴𝑚 = න 𝑃𝑚 𝑥 𝑓 𝑥 𝑑𝑥
2 −1
1, 0 < 𝑥 < 1
7-16 Ekspansikan fungsi 𝑓 𝑥 = menjadi deret yang berbentuk σ∞
𝑘=0 𝐴𝑘 𝑃𝑘 (𝑥).
0, −1 < 𝑥 < 0
Dari soal 7-15
2𝑘 + 1 1 2𝑘 + 1 0 2𝑘 + 1 1
𝐴𝑘 = න 𝑃𝑘 𝑥 𝑓 𝑥 𝑑𝑥 = න 𝑃𝑘 𝑥 (0) 𝑑𝑥 + න 𝑃𝑘 𝑥 (1) 𝑑𝑥
2 −1 2 −1 2 0
1
2𝑘 + 1
= න 𝑃𝑘 𝑥 𝑑𝑥
2 0
1 1 1 1 1
Maka 𝐴0 = ∫0 𝑃0 𝑥 𝑑𝑥 = ∫0 1 𝑑𝑥 =
1 2 12 2
3 3 3
𝐴1 = න 𝑃1 𝑥 𝑑𝑥 = න 𝑥 𝑑𝑥 =
2 2 0 4
1 0 1 2
5 5 3𝑥 − 1
𝐴2 = න 𝑃2 𝑥 𝑑𝑥 = න 𝑑𝑥 = 0
2 0 2 0 2
7 1 7 1 5𝑥 3 − 3𝑥 7
𝐴3 = න 𝑃3 𝑥 𝑑𝑥 = න 𝑑𝑥 = −
2 0 2 0 2 16
1 1 4 2
9 9 35𝑥 − 30𝑥 + 3
𝐴4 = න 𝑃4 𝑥 𝑑𝑥 = න 𝑑𝑥 = 0
2 0 2 0 8
11 1 11 1 63𝑥 5 − 70𝑥 3 + 15𝑥 11
𝐴5 = න 𝑃 𝑥 𝑑𝑥 = න 𝑑𝑥 =
2 0 5 2 0 8 32
dan sebagainya.
Dengan demikian
1 3 7 11
𝑓 𝑥 = 𝑃0 𝑥 + 𝑃1 𝑥 − 𝑃3 𝑥 + 𝑃5 𝑥 − . . .
2 4 16 32
Suku umum untuk koefisien-koefisien pada deret tersebut bisa didapatkan dengan menggunakan
formula ulang 2 halaman 134 dan hasil-hasil dari Soal 7-34. Yaitu
2𝑛 + 1 1 1 1 1
𝐴𝑛 = න 𝑃𝑛 𝑥 𝑑𝑥 = න 𝑃′𝑛+1 𝑥 − 𝑃′𝑛−1 𝑥 𝑑𝑥 = 𝑃𝑛−1 0 − 𝑃𝑛+1 0
2 0 2 0 2
Untuk n genap, maka 𝐴𝑛 = 0 , sedang untuk n ganjil dapat digunakan Soal 7-34(c).
7-17. Ekspansikan 𝑓 𝑥 = 𝑥 2 ke dalam deret yang bentuknya σ∞
𝑘=0 𝐴𝑘 𝑃𝑘 (𝑥)
Metode 1
Harus ditemukan harga-harga 𝐴𝑘 , 𝑘 = 0, 1, 2, 3, . . . , sehingga
𝑥 2 = 𝐴0 𝑃0 𝑥 + 𝐴1 𝑃1 𝑥 + 𝐴2 𝑃2 𝑥 + 𝐴3 𝑃3 𝑥 + . . .
3𝑥 2 − 1 5𝑥 3 − 3𝑥
= 𝐴0 1 + 𝐴1 𝑥 + 𝐴2 + 𝐴3 +...
2 2
Karena ruas sebelah kirinya polinomial derajat dua, maka 𝐴3 = 0, 𝐴4 = 0, 𝐴5 = 0, . . .
Dengan demikian
2
𝐴2 3
𝑥 = 𝐴0 − 𝐴1 𝑥 + 𝐴2 𝑥 2
2 2
𝐴0 3
dari sini 𝐴0 − = 0 , 𝐴1 = 0 , 𝐴2 = 1
2 2
1 2
Kemudian 𝐴0 = , 𝐴1 = 0 , 𝐴2 =
3 3
1 2
yaitu 𝑥 2 = 𝑃0 𝑥 + 𝑃2 𝑥
3 3
Metode 2.
Dengan menggunakan metode pada Soal 7-15terlihat bahwa apabila

𝑥2 = 𝐴𝑘 𝑃𝑘 (𝑥)
𝑘=0
maka
2𝑘 + 1 1 2
𝐴𝑘 = න 𝑥 𝑃𝑘 𝑥 𝑑𝑥
2 −1
Dengan memasukkan k = 0,1,2,3,. . . , seperti sebelumnya didapatkan
1 2 1 2
𝐴0 = , 𝐴1 = 0 , 𝐴2 = , 𝐴3 = 0 , sehingga 𝑥 2 = 𝑃0 𝑥 + 𝑃2 𝑥
3 3 3 3
Pada umumnya kalau suatu polinomial diekspansikan ke dalam deret polinomial Legendre, maka
deret tersebut (yang berujung), lebih mudah didapatkan dengan menggunakan Metode 1.
7-23. Dapatkan fungsi – fungsi Legendre asosiasi berikut
a. 𝑷𝟏𝟐 𝒙
1 1 2 1
2 2 𝑑 2 2 𝑑 3𝑥 −1
𝑷𝟏𝟐 𝒙 = 1− 𝑥 𝑷 𝒙 = 1− 𝑥 = 3𝑥 1 − 𝑥2 2
𝑑𝑥 𝟐 𝑑𝑥 2
b. 𝑷𝟐𝟑 𝒙
2
𝑑2 𝑑 2 5𝑥 3 −3𝑥
𝑷𝟐𝟑 𝒙 = 1− 2
𝑥 2 2 𝑷𝟑 𝒙 = 1− 𝑥2 = 15𝑥 − 15𝑥 3
𝑑𝑥 𝑑𝑥 2 2
c. 𝑷𝟑𝟐 𝒙
3
𝑑3
𝑷𝟑𝟐 𝒙 = 1− 𝑥 2 2 𝑷 𝒙 = 0.
𝑑𝑥 3 𝟐
Perhatikan bahwa secara umum 𝑃𝑛𝑚 𝑥 = 0 apabila 𝑚 > 𝑛.
𝒅. 𝑸𝟏𝟐 𝒙
Dengan menggunakan Soal 7 – 12(c) didapatkan
𝟏 2
1 𝑑 1 𝑑 3𝑥 2 − 1 1+𝑥 3𝑥
𝑸𝟐 𝒙 = 1 − 𝑥 2 𝑸𝟐 𝒙 = 1 − 𝑥 2 2 ln −
𝑑𝑥 𝑑𝑥 4 1−𝑥 2
1
2 𝑑 3𝑥 1+𝑥 3𝑥 2 −2
= 1− 𝑥 2 ln +
𝑑𝑥 2 1−𝑥 1−𝑥 2
7-24. Tunjukkan bahwa 𝑃32 𝑥 adalah penyelesaian dari persamaan yang berhubungan dengan
Legendre (12), untuk 𝑚 = 2, 𝑛 = 3
Dari SoaL 7.23, 𝑃32 𝑥 = 15𝑥 − 15𝑥 3 . Substitusi harga ini pada persamaannya, didapatkan
4
1 − 𝑥 2 𝑦 ′′ − 2𝑥𝑦 ′ + 3 ∙ 4 − 𝑦=0
1−𝑥 2
Setelah penyederhanaan didapatkan
4
1 − 𝑥 2 −90𝑥 − 2𝑥 15 − 45𝑥 2 + 12 − 15𝑥 − 15𝑥 3 = 0
1 − 𝑥2
Dan karenanya 𝑃32 𝑥 adalah penyelesaiaannya.
7-25. Tunjukkan hasil (16), halaman 135, untuk fungsi – fungsi 𝑃21 𝑥 dan 𝑃31 𝑥 .
1
Dari soal 7-23(a), 𝑃21 𝑥 = 3𝑥 1 − 𝑥2 2 . Juga,
3 3 3
𝑑 𝑑 5𝑥 3 −3𝑥 15𝑥 2
𝑃31 𝑥 = 1− 2
𝑥 2 𝑃3 𝑥 = 1 − 2
𝑥 2 = 1− 𝑥2 2
𝑑𝑥 𝑑𝑥 2 2
Maka
1 31
45𝑥
න 𝑃21 (𝑥) 𝑃31 (𝑥) 𝑑𝑥 = න 1 − 𝑥 2 2 𝑑𝑥 = 0
−1 −1 2
7-26. Tunjukkan hasil (17), halaman 135, untuk fungsi 𝑃21 𝑥 .
1
Karena 𝑃21 𝑥 = 3𝑥 1 − 𝑥2 2
1 1
න 𝑃21 𝑥 2 𝑑𝑥 = 9 න 𝑥 2 1 − 𝑥 2 𝑑𝑥
−1 −1
1
𝑥3 𝑥5
=9 − ቚ
3 5 −1
36
=
15
Menurut (17), hasilnya haruslah
2 2 + 1 ! 2 3! 12
= ∙ =
2 2 + 1 2 − 1 ! 5 1! 5
yaitu yang diinginkan.
Soal-soal tambahan
7-33. Hitung
1 2 𝑑𝑥
a. ∫−1 𝑃2 𝑥
1
2 𝑑𝑥
2
න 𝑃2 𝑥 =
−1 2 2 +1
2
=
5

1
b. ∫−1 𝑃2 𝑥 𝑃4 𝑥 𝑑𝑥
Karena 𝑚 ≠ 𝑛 yaitu 2 ≠ 4 maka hasilnya = 0
1
7-38. Tunjukkan bahwa 𝑃2 (cos 𝜃) = (1 + 3 cos 2𝜃)
4
1
𝑃2 (cos 𝜃) = (1 + 3 cos 2𝜃)
4
2∙1+1 1
𝑃1+1 cos 𝜃 = cos 𝜃 𝑃2 (cos 𝜃) − 𝑃0 (cos 𝜃)
1+1 1+1

3 1
= cos 𝜃 𝑃2 (cos 𝜃) − 𝑃 (cos 𝜃)
2 2 0
3 1
= cos 𝜃 ∙ cos 𝜃 − ∙ 1
2 2
1
= 3 𝑐𝑜𝑠 2 𝜃 − 1
2
1 cos 2𝜃+1
= 3 −1
2 2
1 3 cos 2𝜃 3
= + − 1
2 2 2
1 3 cos 2𝜃 3
= + − 1
2 2 2
1 3 cos 2𝜃 1
= +
2 2 2
1
= (1 + 3 cos 2𝜃)
4
1
7-39. Tunjukkan bahwa 𝑃7 𝑥 = 429𝑥 7 − 693𝑥 5 + 315𝑥 3 − 35𝑥 .
6
13 6
𝑃2 𝑥 = 𝑥 𝑃6 𝑥 − 𝑃5 𝑥
7 7
𝑃0 𝑥 = 1
𝑃1 𝑥 = 𝑥
1
𝑃2 𝑥 = 3𝑥 2 − 1
2
1
𝑃3 𝑥 = 5𝑥 3 − 3𝑥
2
1
𝑃4 𝑥 = 35 𝑥 4 − 30 𝑥 2 + 3
8
63 35 15
𝑃5 𝑥 = 𝑥5 − 𝑥3 + 𝑥
8 4 8
1
𝑃6 𝑥 = 693 𝑥 6 − 945 𝑥 4 + 315 𝑥 2 − 15
48
13 1 6 63 5 35 3 15
𝑃7 𝑥 = 𝑥 ( 693 𝑥 6 − 945 𝑥 4 + 315 𝑥 2 − 15 ) − 𝑥 − 𝑥 + 𝑥
7 48 7 8 4 8
429 585 195 65 54 5 30 5 45
= 𝑥7 − 𝑥5 + 𝑥3 − 𝑥 − 𝑥 − 𝑥 − 𝑥
16 16 16 112 8 4 28
429 585 108 195 120 3 65 180
= 𝑥7 − 𝑥5 − 𝑥5 + 𝑥3 + 𝑥 − 𝑥− 𝑥
16 16 16 16 16 112 112
429 693 315 245
= 𝑥7 − 𝑥5 + 𝑥3 − 𝑥
16 16 16 112
1
= 429 𝑥 7 − 693 𝑥 5 + 315 𝑥 3 − 35 𝑥
16
FUNGSI LEGENDRE JENIS KEDUA
7-44. Tulis penyelesaian umum dari 1 − 𝑥 2 𝑦 ′′ − 2𝑥𝑦 ′ + 12𝑦 = 0.
1 𝑑2 2 3
𝑃3 𝑥 = 3 𝑥 − 1
2 3! 𝑑𝑥 2
1 𝑑2
= 3 𝑥 2 − 1 2𝑥
48 𝑑𝑥 2
1 𝑑2
= 6𝑥 5 − 12𝑥 3 + 6𝑥
48 𝑑𝑥 2
1 𝑑
= 30𝑥 4 − 36𝑥 2 + 6
48 𝑑𝑥
1
= 120𝑥 3 − 72 𝑥
48
24
= (5𝑥 3 − 3𝑥)
48
1
= (5𝑥 3 − 3𝑥)
2
5 2
𝑄3 𝑥 = 𝑥 𝑄2 𝑥 − 𝑄1 𝑥
3 2 3
5 3𝑥 − 1 1+𝑥 3 2 3 1+𝑥
= 𝑥 ln − 𝑥 − ln − 1
3 4 1−𝑥 2 3 2 1−𝑥
5 1+𝑥 5 𝑥 1+𝑥 2
= 3𝑥 3 − 𝑥 ln − 𝑥 − ln +
12 1−𝑥 2 3 1−𝑥 3
15 3 9 1+𝑥 5 2
= 𝑥 − 𝑥 ln − 𝑥+
12 12 1−𝑥 2 3
5 3 1+𝑥 5 2
= 𝑥3 − 𝑥 ln − 𝑥+
4 4 1−𝑥 2 3

Diperoleh
𝑦 = 𝐶1 𝑃3 (𝑥) + 𝐶2 𝑄3 (𝑥)
1 5 3 3 1+𝑥 5 2
𝑦 = 𝐶1 (5𝑥 3 − 3𝑥) + 𝐶2 𝑥 − 𝑥 ln − 𝑥+
2 4 4 1−𝑥 2 3
2𝑥 + 1, 0 < 𝑥 ≤ 1
7-46. Ekspansikan 𝑓 𝑥 = ke dalam deret yang berbentuk σ∞
𝑘=0 𝐴𝑘 𝑃𝑘 𝑥 , dengan
0, −1 ≤ 𝑥 < 0
menulis empat suku pertama yang tidak nol.
2𝑘 + 1 1
𝐴𝑘 = න 𝑃𝑘 𝑥 𝑓 𝑥 𝑑𝑥
2 −1
2𝑘 + 1 0 2𝑘 + 1 1
= න 𝑃𝑘 𝑥 (0) 𝑑𝑥 + න 𝑃𝑘 𝑥 (2𝑥 + 1) 𝑑𝑥
2 −1 2 0
2𝑘 + 1 1
= න 𝑃𝑘 2𝑥 + 1 𝑑𝑥
2 0
Maka
1 1 1 1
𝐴0 = න 𝑃 𝑥 2𝑥 + 1 𝑑𝑥 = න (2𝑥 + 1) 𝑑𝑥 = 1
2 0 0 2 0
3 1 3 1 7
𝐴1 = න 𝑃1 𝑥 2𝑥 + 1 𝑑𝑥 = න 𝑥 2𝑥 + 1 𝑑𝑥 =
2 0 2 0 4
5 1 5 1 2
3𝑥 − 1 5
𝐴2 = න 𝑃 𝑥 2𝑥 + 1 𝑑𝑥 = න (2𝑥 + 1) 𝑑𝑥 =
2 0 2 2 0 2 8
7 1 7 1 3
5𝑥 − 3𝑥 7
𝐴3 = න 𝑃 𝑥 2𝑥 + 1 𝑑𝑥 = න (2𝑥 + 1) 𝑑𝑥 = −
2 0 3 2 0 2 8
Dengan demikian
7 5 7
𝑓 𝑥 = 1 ∙ 𝑃0 𝑥 + ∙ 𝑃1 𝑥 + ∙ 𝑃2 𝑥 − 𝑃3 𝑥 + . . .
4 8 8