Anda di halaman 1dari 23

SOSIAL BUDAYA, HUMANIORA DAN

SPIRITUAL KONTEKS DALAM


KEBIDANAN

DOSEN PENGAMPU:
HERDINI WP, SST.MKes
Aspek sosial budaya dalam
kebidanan
• Dalam masyarakat pada umumnya masih banyak
yang belum memahami pentingnya kesehatan.
Hal ini bisa dikarenakan oleh tingkat pendidikan,
adat istiadat, budaya serta mitos2 ttg cara
mengobati masalah kesehatan mereka. Karena
hal diatas maka menjadi penghambat dalam
peningkatan kesehatan masyarakat terutama
masalah ibu dan anak
Setiap daerah memiliki
kebiasaan/mitos yang berbeda- beda
mengenai :
• Kehamilan
• Persalinan
• Nifas
• BBL
Kebiasaan / mitos kesehatan yang ada di
masyarakat :

1. Ibu hamil
a. Ibu hamil dilarang makan ikan, daging dan telur
krn akan berbau amis
b. Ritual upacara selamatan ibu hamil saat usia
kandungan 4 , 7 dan 9 bulan
c. Minum air dan minyak kelapa agar melancarkan
persalinan
d. Membawa gunting/pisau agar tidak diganggu
makhluk halus
e. Kepercayaan kalau perut ibu hamil membulat
maka anaknya perempuan
Sambungan...

f. Ibu hamil tidak boleh mkn nenas atw durian


g. Ibu hamil tdk boleh membicarakan kejelakan org
lain krn bs berbalik kpd anak
h. Saat hamil tdk boleh menyimpan sesuatu ke dlm
kantong dlm wkt lama dan mengusap minyak
sembarangan krn akan menyebabkan tompel
pada anak
i. Di Suku Dani Papua, kehamilan di anggap
menganggu tugas pokok wanita (mencari Ubi
dan bahan makanan) maka bnyak mereka
melakukan aborsi secara tradisional yg dapat
berdampak buruk pada Ibu.
• Di daerah jawa dan sunda jika Ibu hamil
mengidam , maka keluarga harus segera
memenuhi keinginan Ibu krn jika tidak maka akan
menyebabkan bayi ileran nantinya
• Ibu hamil dilarang makan cumi-cumi, udang, krn
takut nanti saat anak dilahirkan tubuh anak akan
membungkuk seperi udang dan memiliki tangan
yang bersekat
 Ibu bersalin

• Di daerah masyarakat Bali Aga, persalinan di


bantu oleh Balian Tekuk (dukun beranak) yang
notabene adalh pria krn mereka menganggap
proses persalinan adalah tanggung jawab pria.
Maka persalinan akan di bantu oleh Balian tekuk
dan didampingi oleh suami. Jika terdapat
permasalah dalam proses persalinan maka balian
tekuk akan membacakan mantra2 dan mengurut2
perut Ibu.
• Hal ini bertentangan dg ilmu kebidanan krn
dengan mengurut perut ibu bisa mengakibatkan
perdarahan pada ibu.
• Penduduk daerah Mentawai pulau Siberut dulunya
menganggap persalinan adalah hal yg pribadi
maka proses persalinan hanya di hadapi oleh
Suami dan kelg terdekat yg sudah melahirkan
• Suku Rimbo di daerah Jambi, melakukan
persalinan di tanah peranakan, kemudian mereka
bersama2 ke tanah peranakan kemudia berbagi
tugas, sebagian membantu persalinan, sebagian
membuatkan bubur dari ubi untuk ibu yang sudah
melahirkan sebagian lagi menolong bayi baru
lahir, setelah sehari semalam maka mereka
kembali ke tanah peranakan dan bayi hanya di
bawa dengan sehelai kain panjang tanpa pakaian
apapun, dan ibu sudah kembali bekerja seperti
biasa. Krn itulah bnyak ditemukan kasus bayi dan
balita meninggal di suku Rimbo ini.
Bayi baru lahir

• Memberikan ramuan-ramuan di pusar bayi agar


tali pusat cepat kering
• Meletakkan uang logam di atas pusar bayi agar
tidak bodong
• Bayi diberi air nasi agar bayi kenyang
• Bayi dipasangi jimat dan diucapkan mantra-
mantra
Aspek sosial budaya dalam Perkawinan

• Pernikahan merupakan suatu sarana untuk


menyatukan 2 insan manusia. Berdasarkan pada
aspek sosial budaya maka dalam penikahan ada 4
fase/proses yang akan dihadapi :
1. Fase pertama yaitu bulan madu, pada masa ini
semua terasa indah dan menyenangkan
2. Fase kedua yaitu pengenalan kenyataan,
pasangan mengetahuikarakteristik serta
kebiasaan yang sebenatnya dari pasangan
3. Fase ketiga mulai terjadi krisis perkawinan
terjadi proses penyesuaian akan adanya
perbedaan yang terjadi
4. Fase menerima kenyataan yaitu apabila sukses
menerima kenyataan maka pasangan tsb akan
mendapat kebahagiaan.
Faktor pendukung keberhasilan penyesuaian
perkawinan adalah :
Saling memberi dan menerima cinta
Saling menghargai dan menghormati
Saling terbuka
Menurut aspek sosial budaya faktor penghambat yang
mempersulit penyesuaian perkawinan :

• Suami maupun istri tidak bisa menerima


perubahan sifat dan kebiasaan pasangan di awal
pernikahan
• Suami maupun istri tidak berinisiatif
menyelesaikan masalah
• Perbedaan budaya dan agama antara suami dan
istri
• Suami maupun istri tidak tahu peran dan
tugasnya dlam rumah tangga
Peran Bidan dalam aspek sosial
budaya
• Menjadi seorang bidan desa dan ditempatkan
pada desa di pelosok masih tinggi menjunjung
adat istiadat dan mitos2 yang ada dlm
masyarakat. Sehingga bidan harus bekerja keras,
karena masyarakat lebih mempercayai mitos dari
pada nakes dan mereka sangat mempercayai
dukun untuk menolong persalinan dan mengobati
penyakit mereka. Padahal persalinan denga bidan
sangat riskan terhadap infeksi
Upaya pemerintah untuk penunjang
keberhasilan program KIA
• Membangun saran kesehatan disetiap desa spt :
puskesmas, polindes dll
• Menyediakan nakes yang kompeten dan memadai
• Memberikan fasilitas kesehatan yang memadai
dan lengkap
• Lebih sering melakukan penyuluhan ttg kesehatan
• Menyediakan pelayanan kesehatan untuk
masyarakat tidak mampu ex: jamkesmas,
jampersal
• Selain usaha diatas pemerintah juga
melaksanakan Program Perencanaan Persalinan &
Pencegahan Komplikasi ( P4K)Program P4K ini
dicanangkan oleh Menkes, melalui program ini
diharapkan dapat :
a. Meningkatkan peran suami siagaKeluarga &
masyarakat dpt merencanakan persalinan yang
aman
b. Perencanaan pemakaian alat/obat kontrasepsi
pasca persalinan
c. Mendorong ibu hamil u/ memeriksakan
kehamilan, bersalin, pemeriksaan ibu nifas & BBL
yang dilahirkan oleh nakes yg terampil
d. Skrinning status imunisasi tetanus lengkap bumil
e. Melaksanakan IMD
f. Memberikan ASI eksklusif
Humaniora
• Humaniora adalah ilmu pengetahuan yang
bertujuan membuat manusia menjadi lebih
manusiawi (humanior), dalam pengertian manusia
lebih berbudaya.
Humaniora dalam Kebidanan
• Humaniora dalam ilmu kebidanan merupakan
studi yang memusatkan perhatiannya pada
kehidupan manusia, menekankan unsur
kreativitas, kebaharuan, orisinalitas, keunikan dan
berusaha mencari makna dan nilai, sehingga
bersifat normatif.
• Alasan penerapan ilmu Humaniora dalam ilmu
kebidanan yaitu bidan adalah seseorang pada
barisan pertama untuk menangani masalah
kesehatan pada masyarakat.Hal ini membutuhkan
aturan humaniora dalam menjalankan profesi di
kehidupannya. Seorang bidan akan menangani
kehamilan, menolong persalinan, nifas, dan
menyusui yang keseluruhan mencangkup
setengah dari masa kehidupan manusia. Bidan
juga memiliki peluang untuk melakukan aborsi
yang dapat membatasi kelahiran manusia maka
dari itu sungguh penting ilmu humaniora
diterapkan di ilmu kebidanan.
Humaniora Kebidanan dalam Pendidikan Agama

• Semula humaniora mencangkup didalamnya juga


agama/kepercayaan, tetapi kemudian, sejak William
Caxton (1422-1491) (Enycl Britt, 1973) agama
dipisahkan dari humaniora yang mempercayai
adanya hubungan supranatural sebagai naluri
manusia.
• Nilai-nilai agama diturunkan kepada manusia
melalui wahyu, yang dibawakan oleh utusan-
NYA.Nilai-nilai religius seharusnya merupakan nilai –
nilai yang paling dasar dari segala tata nilai dan
karena itu ada titik temu dengan nilai – nilai budaya
yang dikembangkan manusia (Muljohardjono, 2004).
• Humaniora adalah salah satu Ilmu pengetahuan
yang mempelajari apa yang diciptakan atau
diperhatikan manusia. Pengertian lain
menyebutkan bahwa humaniora adalah ilmu yang
berkaitan dengan rasa seni yang dimiliki oleh
manusia, seperti seni sastra, musik, pahat, lukis,
dan sebagainya. Berangkat dari pemahaman
tentang manusia yang demikian , maka ilmu
humaniora itu penting dipelajari, di samping
mempelajari ilmu-ilmu yang canggih.
Humaniora Kebidanan Pendidikan Pancasila
•   Sesuai dengan wewenang dan peraturan
kebijaksanaan yang berlaku bagi bidan, kode etik
ini merupakan pedoman dalam tata cara dan
keselarasan dalam pelaksanaan pelayanan
professional. Bidan senantiasa berupaya memberi
pemeliharaan kesehatan yang komprehensif
terhadap remaja putri, wanita pranikah, wanita
prahamil, ibu hamil, ibu melahirkan, ibu menyusui
bayi, dan balita pada khususnya, sehingga
mereka tumbuh berkembang menjadi insan
bangsa yang sehat jasmani dan rohani dengan
tetap memperhatikan kebutuhan pemeliraan
kesehatan bagi keluarga dan masyarakat pada
umumnya (Wahyuningsih, 2013).
• Sebagai profesi bidan mempunyai pandangan
hidup pancasila. Seorang bidan menganut filosofi
yang mempunyai keyakinan didalam dirinya
bahwa semua manusia adalah makhluk bio-psiko-
sosial-kultural dan spiritual yang unik dengan satu
kesatuan jasmani dan rohani yang utuh dan tidak
ada individu yang sama.