0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
106 tayangan51 halaman

Pendidikan Seni di Sekolah Dasar

Diunggah oleh

onenonly0v
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
106 tayangan51 halaman

Pendidikan Seni di Sekolah Dasar

Diunggah oleh

onenonly0v
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENDIDIKAN SENI DI SD

PDGK4207
PGSD 2B
KELOMPOK 6 :
1. FITRIA CITRA ARY WIDYASTUTI(858525858)
2. ARYA ADI SAPUTRA(858526691)
3. TANGKAS WISNU NUGROHO(858526835)
4. MUHAMMAD FARRICHA I.(858527156)
MODUL 11
KONSEP PENDIDIKAN SENI
Kegiatan Belajar 1
KONSEP PENDIDIKAN SENI
DI SEKOLAH DASAR
Pendidikan adalah usaha sadar mengembangkan anak dalam segala hal sehingga anak
menjadi orang dewasa. Pengertian dewasa meliputi kedewasaan berpikir, merasakan,
berperilaku dan kedewasaan menjalankan tugasnya sebagai anggota masyarakat. Untuk
mewujudkan tugas Pendidikan tersebut maka perlu adanya usaha sadar mendorong
potensi yang ada dalam seorang anak. Potensi yang ada dalam diri seseorang dikendalikan
oleh otak (pikir), perasaan dan karsa. Ketiga komponen tersebut bekerja secara simultan
(kinerja saling mengisi diantara komponen satu dengan yang lain secara terus-menerus)
yang ditunjukkan dalam bentuk perilaku kehidupan sehari-hari.
Seperti diketahui bahwa peranan otak kanan manusia adalah mengembangkan
kedisplinan, keteraturan dan berpikir sistematis, sedangkan kinerja otak kiri adalah untuk
mengembangkan kemampuan kreasi yang unstructured seperti ekspresi, kreasi, imajinasi
yang tidak membutuhkan sistematika kerja.
Berangkat dari prinsip kerja otak kanan dan otak kiri inilah dirancang Pendidikan yang
mampu mendorong pengembangan kedua-duanya. Pendidikan anak kemudian dikemas
dalam kurikulum; oleh karenanya sebuah kurikulum Pendidikan di sekolah dasar
mempunyai pilar Pendidikan otak kanan dan otak kiri.
kelompok mata pelajaran pelatihan pengembangan rasa dikemas dengan melatih rasa
sosial, rasa ketuhanan dan rasa keindahan. Materi ini merupakan dasar melatih manusia
hidup; oleh karenanya, pelatihan rasa social, akan menjadikan seorang anak akan mudah
bergaul dan bermastarakat.
selanjutnya Pendidikan seni, melatih rasa keindahan yang sifatnya juga individual.
Dalam hal ini herbert read mengemukkakan : art is most simply and most usually defined as
attempt to create a pleasing form. secara sederhana, seni adalah usaha untuk menciptakan
bentuk yang menyenangkan (the meaning of art, penguin books:1959).
A. SENI MEMBANTU PENGEMBANGAN DAYA PIKIR, RASA DAN KARSA
Sampai saat ini seni dipandang sebagai karya cipta manusia benda yang berdiri sendiri.
Pengertian ini tidak seluruhnya benar, karena karya seni manusia tersebut mempunyai
makna yang banyak. Apalagi karya seni yang diciptakan oleh anak pada usta SD. Karya
seni anak usia SD mempunyai arti fisik dan simbolis. Dalam modul- modul sebelumnya
telah diungkap banyak tentang hal ini; karya seni mempunyai arti fisik karena karya
ciptaan itu merupakan ungkapan ide, kemampuan rasa, maupun kemanfaatannya dalam
kehidupan sehari-hari Selanjutnya, karya seni mempunyai arti simbolis karena dalam
proses berkarya (berproduksi) anak menggerakkan seluruh indera rasa, pikir, dan karsa.
1. Seni Membantu Pelatihan Pengembangan Daya Pikir
Ketika seorang siswa menyanyi dan menari, seluruh ingatan dan memori gerak dan nada
maupun ırama berkonsentrası dalam satu penampilan. Proses ini memerlukan kecermatan
mengatur tempo, maupun ekspresi yang sebenarnya saling berkaitan antara gerak dan
ırama. Di samping itu, proses menarı melatih kerja otak ketika seorang anak sedang
mengungkap kembali cerita tarian tadı yang dikemas dalam bentuk-bentuk gerak, iringan
lagu yang mengandung syaır Dalam kondisi seperti ini, proses menari merupakan kesatuan
kerja antara fungsi rasa dan pikır menyatu untuk menggerakkan dorongan berkarya
Demikian pula, ketika seorang anak menggambar dan menciptakan benda seni yang praktis,
kinerja otak dan rasa menyatu untuk menemukan proporsi bentuk yang ideal serta
keindahan bentuk yang memuat pengetahuan tentang warna, bahan serta medium karya.
2. Seni Membantu Pelatihan Pengembangan Kepekaan Rasa
Proses kerja rasa digerakkan untuk menciptakan suasana keindahan. Ketika anak melukis
segala angan-angan dan ide anak tercurahkan agar warna yang ditampilkan sesuai dengan
bentuk yang dibayangkan, kadangkala seorang anak harus mengatur kekuatan warna yang
dilakukan secara otomatisPeristiwa ini juga terdapat pada seorang anak ketika menyanyikan
sebuah lagu, perasaan anak bergerak untuk memperoleh keselarasan nada yang diatur dalam
rasa. Sebagai contoh, dalam proses menyanyı, anak secara terus-menerus akan menyesuaikan
nada/bunyı instrumen dengan rasa, dan ketika hal tersebut berlangsung anak
akanmempertahankan citra suara agar tetap konsisten dengan nada dalam instrumen
tersebut. Pada kesempatan ini Leo Toltstoy mengemukakan pendapatnya:adalah suatu
kegiatan manusia yang terdiri bahwa seorang secara sadar dengan perantaraan tanda-tanda
lahiriah tertentu menyampaikan perasaan-perasaan yang telah dihayatinya kepada orang-
orang lain sehingga mereka kejangkitan perasaan ini dan juga mengalaminya. (The Liang Gie,
1976).
Pendapat Tolstoy tersebut memberi gambaran jelas bahwa pendidikan seni sangat erat
dengan pendidikan rasa. Semakin anak diberikan rasa estetik (keindahan) semakin mampu
mengutarakan pendapatnya kepada orang lain, namun sebaliknya semakin anak
mempelajari sent secara mendalam maka kepekaan rasa pun akan tinggi dan dalam.
Ternyata prinsip kepekaan rasa juga diungkapkan oleh Wadjıd Anwar (1980),bahwa aktivitas
seni membangkitkan dalam diri seseorang suatu perasaan yang pernah dialaminya, dan
setelah perasaan itu timbul, maka dengan perantaraan gerak, garis, warna, suara, atau
bentuk kata-kata, perasaan tadi disampaikan kepada orang-orang lain agar mereka
mengalami perasaan yang sama.
3. Pelatihan Produksi Seni Membangkitkan Karya Anak
Proses berkarya pada hakikatnya merupakan kegiatan berangan-angan serta
membayangkan terciptanya suatu karya Misalnya ketika dalam suatu penampilan seorang
anak menyanyikan sebuah lagu Kupu-kupu', sebenarnya angan-angan anak melambung
membayangkan keindahan kupu-kupu yang sedang terbang. Dalam hal ını karsa anak akan
bergerak menuju imajınası tentang kupu-kupu tersebut. Dari skema ını tampak bahwa
kegiatan berkesenian membutuhkan kerja kreativitas, sensitivitas (rasa), dan karsa atau
(mood) yang kesemuanya memberikan korelasi positif terhadap pembinaan cipta, rasa dan
karsa yang senantiasa dibutuhkan oleh siswa. Pelatihan dalam menciptakan atau
memproduksi karya akan memberikan pemindahan kecakapan (transfer of training) dalam
berpikir (kognısı), perasaan (afeksi) dan karsa (psikomotor). Di samping itu terjadi
pemindahan nilai darı hakikat berpikir akan berkembang kemampuan mencipta, hakikat
kepekaan rasa akan berkembang rasa toleransı sosial antar teman yang kuat serta
keinginan untuk menciptakan kehidupan praktis melalui berkarya praktis (life skill).
B. SENI MEMBANTU BELAJAR MEMAHAMI MATERI PELAJARAN LAIN
Secara umum belajar pasti menemui kesulitan, dan darı belajar ını seseorang akan
mencari jalan keluar. Proses ini disebut dengan belajar Namun, adakalanya belajar untuk
mencari jalan keluar belum tentu mudah, bahkan sebagian diantara siswa akan mengalami
kesulitan hingga memeras otak Kondisi belajar ını dapat dibantu oleh guru untuk
menemukan jalan keluar dari permasalahan, yaitu dengan cara kreatif memahami kesulitan
siswa satu persatu atau pada umumnya. Cara guru kreatif ini menggunakan cara yang
bermacam-macam, misalnya membuat permainan, gambar atau pun gerakan yang
memancing ide dan akal siswa muncul. Gambar dan permainan ını dikaitkan secara
langsung dengan permasalahan maupun tidak langsung yang dapat menggugah ingatan
atau memori siswa serta memancing siswa untuk kreatif menemukan cara memecahkan
masalah. Cara seperti ini sering pula disebut dengan seni.
Dari contoh di atas dapat ditarik suatu kesimpulan sementara tentang peranan seni dalam
pembelajaran tersebut.
1. Seni membantu meningkatkan persepsi siswa dalam belajar, persepsi ini dapat berupa
asosiası bentuk yang berkaitan dengan soal atau permasalahan belajar terhadap mata
pelajaran yang lain, atau aosiası kata yang memancing pendapat baru siswa dalam
memecahkan permasalahan.
2. Seni membantu siswa berasosiasi terhadap bentuk yang lain seperti korelasinya dengan
mata pelajaran yang lain:
a. sejarah dengan gambar pakaian adat di suatu daerah.
b. matematika dengan gambar geomatris.
c. pemandangan gunung dengan ipa dst.
3. Seni membantu berimajınası dari abstrak menuju kongkrit dan sebaliknya dari kongkrit
menuju abstrak Misalnya, ketika siswa diminta menggambar keramian di pasar, proses
berpikir siswa diminta memadatkan situasi pasar yang kompleks menuju sebuah ungkapan
dalam gambar anak Demikian pula ketika anak diberi judul kuda - kuda dengan dipancing
gambar kuda, siswa dapat mengembangkan imajinasi menciptakan gerakan kuda dalam
sebuah karya tari. Tampilan tarian kuda kuda akan menyangkut gerakan tubuh, iringan
musik serta imajinasi siswa ketika melihat kuda yang sesungguhnya tentang netuk, jalan
serta peranan kuda terhadap kehidupan manusia. Dalam hal ini seni mempunyai peran
transfer of learning dan transfer of training.
Kegiatan belajar
2
FUNGSI PENDIDIKAN SENI
1. Seni Sebagai Media Ekspresi
Pembahasan seni sebagai media ekspresi telah banyak diungkapkan oleh John Dewey:
art as media expression. Dalam pandangannya dijelaskan bahwa secara harfiahnya, manusia
itu selalu mengungkapkan angan-angan dan pikirannya, perasaan dalam berbagai hal sebagai
pernyataan, komunikasi maupun ungkapan segala macam kebutuhannya. Oleh karenanya,
manusia membutuhkan media atau alat menyalurkan ungkapan tersebut. Apalagi, anak kecil
hingga dia berusia sekolah dasar, ungkapan perasaan merupakan suatu perbuatan yang
sangat diharapkan dari para orang tua sehingga kebutuhan anak dapat diketahui. Anak
kadang sulit menyampaikan isi perasaan karena kemampuan berbahasa anak masih terbatas,
maka melalui berbagai medium anak mencoba mengungkapkan. Pada kesempatan ini
pendidikan adalah usaha untuk memfasilitasi anak mengungkapnya.
2. Seni Sebagai Media Komunikasi
Manfaat yang besar dengan belajar seni adalah seni mengajarkan pemahaman amang
komunikasi visual sangat penting untuk memahamkan murid perihal keterkaitan antara
materi pelajaran, susunan obyek, maupun aru darı karya yang telah diciptakan diri. Karya-
karya tersebut sebagai ungkapan diri maupun sebagai refleksi dari Arinya dalam kehidupan
bermasyarakat. Apalagi pengetahuan yang berada pada kelas- kelas awal, di mana pikiran
dan perasaan anak masih menyatu, kelihatannya saling mempengaruhi, sehingga sulit
membedakan bentuk-bentuk yang diciptakan. Sebagai entoh: ketika seorang anak menari
sendirian ketika mendengarkan lagu tampak bahwa refleksi terhadap itama menyentuh
kepada rasa gerak dan lambat laun ketika ambang dar berubah menuju kesadaran penuh
gerakan tersebut diulang dan ditata menjadi karya tari.
Namun, orang dewasa belum melihat proses perkembangan gerak sebagai dasar
perilaku anak dikemudian harı. Rasa indah yang muncul dari sentuhan irama dan nada tadi
diisi dengan syair yang dibuat sendiri, jadilah pikiran anak muncul dan menyatu dalam rasa
ekspresi seni gerak dan lagu.
3. Seni Sebagai Media Pembinaan Kreativitas
Seorang tokoh pendidikan yang banyak mengemukakan peranan seni dalam pendidikan
adalah Herbert Read (1959), dalam pendapatnya dikatakan bahwa art is meat simply and most
usually defined as attempt to create a pleasing form. Pendapat memberikan insprirasi dalam
pelaksanaan pendidikan pada umumnya bahwa seni memberikan andil dalam pendidikan anak
adalah meningkatkan kreativitas. Kreativitas dapat diartikan sebagai kiat seseorang untuk
mempertahankan hidup melalui usaha yang ulet, tekun dan inovasi sehingga tidak kekurangan
akal dalam menghadapi kesulitan dan tantangan hidup. Perilaku ini sangat banyak dimiliki oleh
pendidikan seni. Pada dasarnya pendidikan seni adalah pendidikan kreatif, yaitu pendidikan
untuk memberikan kesempatan anak untuk berkembang sesuai dengan naluri dalam
memecahkan permasalahan yang dihadapi sehari-hari secara mandiri.
Pendidikan kreatif dalam pendidikan seni dilatihkan melalui 3 (tiga) medium:gerak yang
dilatihkan melalui pembelajaran seni tari, suara yang dilatihkan melalui pembelajaran seni
suara, dan kreativitas mencipta bentuk sebagai inbond activity melalui pembelajaran seni rupa.
4. Seni Sebagai Model Pelatihan Pengembangan Hobi dan Bakat
Salah satu tugas pendidikan seni adalah mengenali potensi yang ada. Potensi anak
secara kodrati mempunyai sifat berbeda di antaranya; seperti dikatakan dalam modul
sebelumnya: bahwa sebanyak 100 orang anak yang belajar seni, maka hasil karya mereka
mempunyai 100 sifat. Sebab, setiap anak mempunyai corak, karakter dan penampilan yang
berbeda-beda.Bertolak dari potensi yang berbeda tersebut, maka di antara beberapa orang
anak lebih mudah menerima rangsangan seni ketika proses apresiasi seni berjalan. Ketika
seorang siswa diajak berjalan-jalan dalam rangka berdarmawisata, salah seorang di
antaranya cepat menerima keterangan tentang karakteristik pohon yang ada dilingkungan
hutan tersebut. Bahkan, anak tersebut kemudian dengan tidak sengaja mampu menyusun
lirik sebuah lagu yang berisi tentang kehebatan dan kelebihan hutan yang dikunjungi Anak
kadangkala menyanyikan lirik tersebut seraya mengiringinya dengan instrumen batu yang
dipukulkan ke batu yang lain. Tentu saja batu yang dipilih adalah batu yang dapat mewakili
nada yang diinginkan. Mereka menjajarkan batu-batu temuan tersebut kemudian
diketuknya satu per satu untuk mengiringi lirik yang diciptakannya.
kegiatan belajar
3

RUANG LINGKUP PENDIDIKAN


SENI
1. Pengetahuan Seni
Pengetahuan seni dalam mata pelajaran kesenian atau Kertakes berbalut erat ngan
praktek berkarya seni. Artinya, ketika seorang guru mengajar praktek berkarya beunya di
dalamnya terganibarkan pengetahuan berkarya sekaligus aru berkarya samggambarkan
jelasnya, di bawah thi digambarkan kegiatan seni yang sekaliguspengetahuan seni yang
tercakup di dalamnya.
Donald Jack Davis dalam Bryce (1978: 37) menyebutkan pengotabuan temempunyai
struktur keilmuan seni: (1) Knowing of the Language of Art (2) Art and their World. Khusus
tentang Knowing the Language of Art dimaksudkan pengetahuan seni yang diperoleh
melalui penghayatan terhadap karys sens. Pengetah Horsebut berupa resapan rasa
keindahan atau estetika terhadap wujad karya pengetahuan ini diperoleh melalui
penghayatan tentang keindahan suatu obyek (seni).
2. Apresiasi
Istilah apresiasi seni diambil dari bahasa asing opreciation (Bhs. Inggris) atau appreriore
(Bhs. Latin). Arti yang terkandung dalanı istilah itu adalah menilai dengan stelalui proses
menghargai dan bertujuan untuk menghargai dan mengerti maupus memahami karya orang
lain, Karya tersebut bisa berupa karya tari, karya musik ataupun karya seni rupa dan bersifat
kompleks. Menurut Primadi (dalam Supriatun, 2004: 33) apresiasi seni sebagai aktivitas
mental terdiri dari beberapa tahapan.
a. Pertama: kejutan (surprise), yakni respon emosional terhadap sensasi inderawi yang
menarik, aneh, unik dan sebagainya.
b.Kedua : empati, yakni suatu proses intuitif yang diiringi rasa-indah-estetik (feeling into
form) dalam wilayah ambang sadar-tidak sadar.
c. Ketiga : rasa-betul estetik, yakni kondisi apresiator menangkap dimessi artistik aspek
formal karya seni sesuai prinsip estetika.
d. Keempat: ialah reaksi psikologis terhadap kontent etis (feeling of content) karya seni,
yakni etika, pesan, dan fungsi karya.
e. Kelima: rasa - benar-etis, yakni kemampuan menangkap dimensi otis karya soni sebagai
akibat dari ilmu pengetahuan apresiator.
f. Keenam: pesona dan haru, yakni efek dari penghayatan dan pencerapan ciri kreasi yang
seringkali melampaui batas-batas formal karya seni serta secara imegral terakumulasi dari
aktivitas inderawi dan psikologi apresiator.
Pengetahuan dan apresiasi sebenarnya merupakan pengetahuan yang saling mengisi.
Jika pengetahuan merupakan khasanah yang akan mendasari pengetahuan lain, maka
semakin tinggi pengetahuan seni dan pengalaman estetika semakin tinggi pola apresiasi
seninya Apresiasi menjadikan kepekaan estetik bertambah manakala bersinggungan dengan
obyek seni, siswa dapat mengomentari dan menginterpretasi obyek berdasarkan tata susun
objek tersebut. Kembali Bryce B. Hudgins (1978- 62) memberi gambaran pembelajaran
apresiasi di sekolah sebagai reaction an amerpretation, dexcription, formal analysis,
evaluation.
Reaction and interpretation adalah Langkah awal pembelajaran seni dengan
memberikan tanggapan terhadap karya seni.
3. Pengalaman Kreatif
Pengetahuan seni anak dapat diperoleh dari pengalaman anak ketika sedang terproduksi
seni. Proses produksi seni anak sebenarnya membutuhkan pengetahuan kognisi, yaitu
pengetahuan yang sistematis dan mampu diungkapkan pada suatu ketika. Di samping itu
pengalaman kreatif anak ketika sedang berproduksi atau berperilaku seni mempunyai
pemahaman tentang bentuk secara apresiatif.
Berdasarkan pengamatan para ahli, pengalaman seni atau sering pula disebut
pengalaman kreatif sebenarnya pengetahuan yang aplikatif yang diperoleh dari berperilaku
seni. Pengetahuan dari pengalaman seni tidak teratur (lihat pembahasan sebelumnya) maka
sudah saatnya guru memberikan gambaran dan menata ulang menjadi pengetahuan
sistematis. Oleh karenanya, dari jenis pengetahuan ini seorang guru harus menciptakan
strategi dan pendekatan belajar seni.
kegiatan belajar

KARAKTERISTIK PENDIDIKAN
SENI DI SD
A. MODEL PEMBELAJARAN SENI
1. Pendekatan Belajar Seni
pendekatan belajar seni bersifat lebih luwes (fleksibel) tidak kaku, kapan seorang guru
akan melakukan perubahan pendekatan, tidak dapat diduga. Dalam hal ini sewaktu-waktu
guru dapat melakukan perubahan sesuai dengan situasi dan kondisi. Situasi yang
dimaksudkan adalah keadaan siswa ketika diajar mendapatkan kesulitan, maka guru dapat
mengubah gaya dan pendekatan belajar siswa. Demikian pula kondisi siswa sangat labil
berdasarkan waktu (jam pelajaran), urutan jadwal pelajaran maupun kondisi peralatan
(sarana-prasarana) juga sangat menentukan kondisi siswa. Dalam hal ini guru dapat
menyesuaikan, misalnya: ketika guru akan megajarkan karakter binatang, dengan meminta
siswa mencari data tersebut dengan memberi tugas lewat perpustakaan; padahal siswa baru
saja belajar Matematika selama 2 jam berturut-turut tentunya kondisi siswa sudah lelah dan
jenuh. Kondisi ini jika diteruskan akan menyebabkan keadaan dan persepsi terhadap pelajaran
kesenian menjadi tidak menyenangkan dan akhirnya siswa menjadi apriori. Beberapa saran
diberikan, ketika guru mengalami kondisi seperti ini, maka tugas guru adalah membangkitkan
minat siswa agar tidak merasa bosan.
2. Model Pembelajaran Seni
Model pembelajaran di sekolah dasar untuk beberapa jenis mata pelajaran hampir
mempunyai kesamaan langkah dan strateginya, karena mereka mendasarkan langkah
mengajarnya dari sifat dan karakter siswanya. Pada dasarnya, anak 6-12 tahun merupakan
usia yang dinamis, yaitu asia yang cepat perkembangnya, Baik ditinjau dari perkembangan
mental (kejiwaan) maupun fisiknya. Seperti telah diungkap dalam modul sebelumnya bahwa
pada masa ini terjadi perkembangan serentak antara chronological age, mental age dan
biologicof age. Masa usia 6-12 tahun ini juga akan mengalami masa global, yaitu suatu masa
mulai terjadi pencairan pikiran-perasaan; perkembangan lain adalah masa 11-12 tahun
terjadi pubertas awal (dini) yakni persiapan menuju masa kedewasaan.
Berdasarkan kajian perkembangan kejiwaan anak usia 6-12 tahun 16, maka pengelolaan
kelas di SD secara teoritis haros mengikuti perkembangan tersebut. Secane garis besar
pengelolaan kelas di SD (sebagian besar di foar negerij dibagi dalam takapen, sebagai
berikut:
a. kelas-kelas awal, adalah kelompok kelas yang terdiri dari kelas 1 sampai kelas 2; secara
poikologis pada tingkatan ini kondisi pikiran dan perasaan masih menyatu. Artinya, ketika
seorang anak diberi tugas oleh guru untuk mengamati suatu obyek, pengetahuan anak
belum dapat membedakan termasuk golongan berpikir atau logika rasional, atau perasaan.
Hal ini hisa terjadi karena pengetahuan yang dipunyai masih global, sebagian pemikiran
digunakan suntuk memecahkan perasaan, sebaliknya ketika diminta merasakan sesuatu anak
masih menyamakan berpikir. Oleh karenanya, masa ini dapat dikatakan sebagai pengetahum
global.
b. Kelas menengah, Kelas menengah, kelas ini berada pada usia kelas 3-4. Kondisi anak
sudah mulai stabil dibanding dengan kelas awal tadi; siswa telah memperoleh banyak
pengetahuan tentang Matematik, Bahasa maupun IPA yang dapat membuat pemisahan
antara kegiatan berpikir dan merasakan. Pelajaran Matematika lebih banyak mengajarkan
berpikir rasional melalui kajian yang abstrak. Demikian pula pelajaran bahasa memberikan
rasionalitas dan realitas, karena selalu berhubungan secara langsung dengan pemanfaatan
bahasa yang dimiliki anak. Oleh karenanya, model pembelajaran anak usia 9-10 pun di SD
sebaiknya menyesuaikan dengan kondisi ini.
c. Kelas akhir, pada kelas ini telah terjadi perbedaan yang menyolok atas perkembangan
siswa perempuan dengan laki-laki. Siswa perempuan kelihatan lebih cepat menuju
kedewasaan terutama pada usia kelas 6 sehingga guru dapat memberi tugas dan
tangungjawab yang berbeda. Pada kelas akhir ini siswa telah mampu memisahkan alam
pikiran dengan perasaan yang jelas sehingga tugas berkesenian pun hendaknya mulai
dijuruskan. Sebagian siswa sudah mulai sensitif terhadap bentuk, artinya siswa tersebut
sangat mudah diberi gambaran tentang bentuk-bentuk, namun sebagian juga terdapat
kemampuan pencerapan rasa tinggi. Dua jenis tingkatan yang berbeda tersebut dipengaruhi
oleh kemampuan pengamatan visual (visual intelegence) maupun cerapan suara (auditory)
tinggi, sehingga dalam pembelajaran seni lebih diarahkan kepada medium bentuk. seperti:
menggambar, melukis, menari, berkarya kerajinan atau menciptakan benda-benda pakai
yang lain. Sedangkan siswa yang kemampuan auditifnya kuat lebih baik dilatih kemampuan
rasa pendengarannya. Kemampuan ini akan berkembang jika guru mampu memotivasi
dengan contoh musik, maupun rasa gerak (harmoni suara maupun gerak).
MODUL 12
PEMBELAJARAN SENI TERPADU
Kegiatan belajar
1

DASAR-DASAR PEMBELAJARAN
TERPADU
1. Pengertian Pembelajaran Terpadu
Pembelajaran terpadu adalah model pembelajaran yang dikembangkan oleh seorang
guru untuk menyampaikan pengetahuan kepada siswa dalam bentuk informasi yang utuh.
Materi informasi tersebut dikemas melalui memadukan beberapa topik, tema, bahan atau
materi pelajaran (kurikulum lintas bidang), strategi belajar maupun arah dengan berpusat
pada kompetensi dasar. Dalam membuat pengembangan materi pelajaran seorang guru
memperhatikan kebutuhan dasar belajar siswa, dan mengetahui kemampuan serta
karakteristik siswa terlebih dahulu, agar mudah mengemas bahan pelajarannya.
Sedangkan untuk mengemas bahan pelajaran, diperlukan pemahaman secara
komprehensif tentang tujuan yang hendak dicapai.
Karakteristik pembelajaran terpadu yang paling menonjol adalah memadukan materi
beberapa mata pelajaran (sesuai dengan topik dan tema yang ada dalam kurikulum)
berdasarkan sifat dan fungsinya. Dari uraian ini dapat dirunut maknanya bahwa
pembelajaran terpadu pada prinsipnya adalah pembelajaran lintas bidang studi dengan
ikatan arah dan tema belajar yang sama sehingga merupakan pengetahuan yang utuh.
2. Prinsip Pembelajaran Terpadu
Belajar pada prinsipoya adalah usaha mencari tahu sesuatu lewat kinerja tersistem
maupun tidak. Kinerja bersistem merupakan perilaku mencari tahu secara teratur, seperti
belajar di sekolah, kursus maupun penataran. Pengetahuan yang diperoleh lewat jalur ini
berdasarkan langkah-langkah atau prosedur sifat informasi tersebut. Oleh karenanya, kinerja
bersistem ini dibatasi oleh tujuan, waktu, lingkup materi yang diakhiri oleh sistem kontrol
berupa evaluasi program pembelajaran.
Di samping pengetahuan diperoleh lewat belajar bersistem, pengetahuan juga dapat
diperoleh melalui peristiwa yang tidak disengaja atau tidak bersistem, misalnya, ketika
seseorang menjumpai poster-poster bertema kesehatan lingkungan. Pengetahuan tentang
kesehatan lingkungan diperoleh pada waktu melihat poster dengan tidak sengaja. Pada saat
itu dia mempunyai ingatan tentang kesehatan lingkungan. Kemudian tulisan dan gambaran
tersebut direnungkan, namun beberapa saat kemudian terlupakan. Namun, suatu ketika,
ingatan yang pernah masuk dalam tanggapannya akan muncul kembali, ketika dia datang
berkunjung menemui tetangganya yang sakit perut karena tidak memperhatikan kesehatan
lingkungan.
Pengembangan materi pelajaran dalam pembelajaran terpadu dapat bersifat vertical
dan horizontal :
A. Pembelajaran Terpadu Vertikal
Pengembangan materi secara vertikal pada pembelajaran terpisah mempunyai arah
materi yang dikemas secara mendalam tanpa melihat keterkaitan dengan materi pelajaran
lain. Hal ini berbeda dengan pendalaman materi vertikal yang terdapat dalam
pembelajaran terpadu, materi ini dapat dikembangkan berdasarkan situasi kelas. Guru
dapat menerangkan pelajaran secara detail dan lengkap berdasarkan rincian karakter dan
rincian langkah-langkahnya. Untuk menerangkan materi ini guru dapat mengaitkannya
dengan beberapa mata pelajaran yang mempunyai ide, tema, maupun Teknik
penyelesaian masalah.
B. Pembelajaran Terpadu Horizontal
Pengembangan materi pembelajaran terpadu horizontal; dilakukan oleh guru dengan
cara menggabungkan beberapa mata pelajaran seperti: perbedaan materi dalam lintas
bidang sesuai dengan akselerasi belajar siswa. Semua mata pelajaran lebur ketika seorang
guru sedang menjelaskan materi pelajaran: terhadap salah satu topik atau tema belajar.
Pada saat itu guru hanya menjelaskan permasalahan, cara dan teknik, kemudian siswa
melanjutkannya dengan diskusi dengan teman dalam kelompok-kelompok. Diskusi tersebut
diarahkan kepada permasalahan yang ada dalam mata pelajaran Kertakes/KTK.
3. Model Pembelajaran Terpadu
Berbicara mengenai pembelajaran terpadu, Robin Fogarty (1991), memberikan sepuluh
alternatif pengembangan dalam kurikulum maupun strategi pengajaran di kelas, yakni:
fragmented, connected, nested, sequenced, shared, webbed, threaded, integrated,
immersed, networked. Kesepuluh model pengembangan pengajaran ini disesuaikan dengan
kondisi dan potensi sekolah, lingkungan, kelas, anak, sumber belajar, dan kemampuan guru.
Kesepuluh model yang diutarakan oleh Fogaty tersebut dapat dikelompokkan menjadi
tiga yakni:
a. Terpadu Prinsip, dilaksanakan terpisah dalam mata pelajaran : model ini dapat
dilaksanakan secara fragmented, connected dan nested.
- fragmented, Keterpaduan Fragmented atau bertahap ini merupakan bentuk pembelajaran
tradisional seperti pembelajaran single subject. Misalnya: prinsip angka dalam matematika
dengan nada pada musik Kedua mata pelajaran mengajarkan tentang angka, namun
keduanya tidak berhubungan secara langsung. Angka berkaitan dengan pemahaman
kedudukan (level), yakni angka '1' sama dengan 'do' atau 'C' yang berada di bawah angka '2'
atau 're' atau "D",
- connected, Keterpaduannya tampak pada hubungan antartopik, yang dilaksanakan
masih seperti pembelajaran biasa, yakni terpisah, sehingga kadangkala keterkaitannya
seperti dipaksakan. Misalnya: menghitung panjang meja. Siswa diminta mengukur
panjang meja dengan terlebih dahulu menggambar meja tersebut. Pada kesempatan ini
pembelajaran yang dilaksanakan seolah menghubungkan tugas menggambar meja
dengan tugas perbandingan ukuran meja.
- nested, Model ini memandang materi pembelajaran dari tiga dimensi pembelajaran
dengan menghitung dampak pembelajaran: fisik, pengembangan keteknikan maupun
kepribadian, namun pelaksanaannya hanya dikaitkan dan belum terpadu secara
murmi. Sebagai contoh: guru mengajarkan menyanyi lagu perjuangan, tujuannya
adalah siswa mempunyai skill menyanyi dengan benar, dan memahami karakteristik
komponen lagu, disamping itu siswa mempunyai semangat juang dan membangun
jiwa patriotik.
b. Terpadu Materi, yang disinggungkan (across several disciplines) yang termasuk di
dalamnya adalah: sequenced, shared, webbed, threaded, integrated.
- sequenced, Pembelajaran terpadu ini digambarkan seperti dua lobang kacamata, keduanya
sama-sama mempunyai fungsi dan dapat digunakan untuk melihat. Kadangkala kaca sebelah
kanan berbeda dengan sebelah kiri namun difungsikan sama. Keduanya dihubungkan oleh
bingkai berupa konsep. Misalnya, dua mata pelajaran: agama dengan kesenian. Keduanya
sama sekali tidak berkaitan secara teknis, namun dapat dipadukan dalam tujuan dan saling
membantu. Pelajaran kesenian membantu cara menghayati dan bertoleransi, sebuah
kemampuan yang dibutuhkan dalam pelajaran agama.
- shared, Bentuk pembelajaran shored ini mirip dengan sequenced, dua lobang kacamata
yang disinggungkan sehingga keterkaitannya lebih menyatu dalam konsep dan sudah
menunjukkan satu hubungan walaupun belum seluruhnya terkait. Keterkaitannya dapat
diungkap pada harapan keteknikan yang sama, atau tujuan dan model pengajarannya.
Misalnya: pelajaran PKK dan kesenian. Pada pembelajaran PKK dengan materi bahasan
memasak; setelah ramuan bumbu dan bahan telah dikemas dalam makanan jadi, untuk
menghidangkan akan membutuhkan bantuan teknis penataan, dan pembelajaran kesenian
akan melatih menata berdasarkan komposisi bentuk, warna dan kerajinannya.
- webbed, Sebenarnya setelah pengetahuan itu terpisah masing-masing mempunyai
karakteristik penampilan serta arah keilmuan berbeda. Namun demikian perbedaan ini
dapat disatukan dalam pembelajaran untuk konsep yang sama, atau tema dan topik
disamakan, sehingga berpenampilan utuh. Misalnya, pelajaran Bahasa Indonesia dengan
pokok bahasan menulis puisi tentang keindahan alam, pelajaran Seni Rupa dengan pokok
bahasan menggambar pemandangan, pelajaran Sains dengan pokok bahasan siklus air.
Ketiga mata pelajaran dapat disampaikan secara terpisah namun, ketiganya mempunyai
satu tema. misalnya Air Bagi Kehidupan Orang Desa.
- threaded, Model pembelajaran tireuded memandang suatu objek dari kaca pembesar
sebagai benang ulit (pintalan) berangkai yang merupakan satu-kesatuan. Jika digambarkan
sebagai materi pembelajaran, mata pelajaran tersebut mempunyai kemanfaatan ganda,
mungkin dari segi teknologi, keterampilan berpikir ataupun keterampilan sosial. Oleh
karenanya, pembelajaran terpadu dikembangkan dengan jalan mencari benang kaitan di
antara materi-materi pelajaran beberapa bidang studi. Gunanya agar pengetahuan
tersebut menjadi utuh dan dapat dipakai untuk memecahkan persoalan bersifat konseptual
maupun praktis.
- intregated, Model ini merupakan bentuk terpadu murni. Guru menggabungkan
beberapa mata pelajaran yang diikat dengan sebuah topik, konsep, terna atau strategi
pembelajaran. Sebagai contoh tema Hidup Berkeluarga, dapat dilihat dari IPS,
Pendidikan Kesenian - Seni Rupa, Bahasa Indonesia, Sains, maupun Keterampilan
Kerajinan. Seperti disarankan oleh Malcolm Ross (1984) bahwa suatu kurikulum
mempunyai jiwa practical and social curriculum maupun cultural curriculum.
c. Terpadu Pengelolaan Kelas (within and across learners), yang berkecenderungan pada
pengaturan kelompok belajar siswa dan struktur kelas. Yang termasuk didalamnya adalah
model immersed, dan networked.
- immersed, Prinsip pembelajaran terpadu immersed terletak pada kesatuan tujuan,
walaupun disiplin ilmu mereka berbeda-beda. Sebagai contoh: ketika siswa diajak karya
wisata ke kota Yogyakarta, guru memberi tugas yang berbeda kepada mereka. Siswa yang
diberi tugas untuk mata pelajaran sains mengamati dan mencatat kondisi ozon kota
Yogyakarta yang sudah menipis dengan terasa sesak pada waktu pagi hari karena terjadi
polusi asap kendaraan bermotor.
- networked, Model Networked merupakan model pembelajaran terpadu yang
berorientasikan pada satu tujuan walaupun yang dikaitkan terdiri dari beberapa mata
pelajaran. Masing-masing mata pelajaran mempunyai karakter dan bentuk serta model yang
berbeda untuk memecahkan permasalahan. Misalnya: matematika bertumpu pada daya pikir,
Bahasa Indonesia bertumpu pada kemampuan komunikasi, agama bertumpu pada
penanaman nilai spiritual. Walaupun demikian, guru harus menyadari bahwa sebenarnya
mereka bertujuan membangun pribadi anak yang mempunyai kemampuan teknologis, yang
dapat dikomunikasikan kepada orang lain serta dilandasi jiwa yang luhur.
Kegiatan belajar
2
PRINSIP PEMBELAJARAN SENI
1. Arah Pembelajaran Pendidikan Seni
Kata kurikulum dalam Kurikulum Pendidikan Seni adalah serangkaian kegiatan
pembelajaran seni termasuk di dalamnya praktek berkarya seni maupun teori seni yang
dirancang untuk dan dirumuskan secara khas berdasarkan karakteristik seni dan tingkat
perkembangan kejiwaan anak dalam rangka mencapai tujuan. Oleh karenanya, suatu
kurikulum disajikan akan tergambarkan keluasan materi pembelajaran seni seperti, langkah,
isi, strategi dan metode yang sesuai dengan mediumnya: suara, rupa, gerak, dan sastra.
Tujuan pembelajaran seni adalah mengajarkan seni melalui pengalaman berseni atau
melalui kegiatan berproduksi. Ross (1984) menjelaskan:
“that the function of the arts in general education is give children by whatever means
and in whatever medium-experiences of the sacred and of the muminous. Not information
but experience.”
bahwa fungsi dari seni di dalam pendidikan umum adalah memberi kesempatan kepada
anak-anak, dengan memfasilitasi berbagai alat-alat dan medium menuju pengembangan
pengalaman yang sesuai dengan karakter anak.
2. Subtansi Pendidikan Kesenian
Dilihat dari substanai kapendidikan, pendidikan kesenian merupakan hasit tumpuan
(common groundh dua disiplin keilenuan, yaitu pendidikan dan berkesenian. Dalam
konteks pendidikan, pendidikan kesenian mengensbangkan ranals jiwa manusia cipta
(cognitive), tasa (affective) dan karsa (prychomotor). Ketiga ranah tersebut cara bekerjanya
simultan dan tidak dapat dipisahkan satu dari yang lain. Sedangkan dalam proses
penciptaan seni, siswa mengembangkan kreativitas, apresiasi, dan rasa keindahan serta
karsa (mood). Jika kedua substarni ini dikaitkan maka makna pendidikan seni merupakan
pembinaan cipta, rasa dan karsa melalui pelatihan berkarya seni di antaranya: mencipta,
apresiasi, merasakan keindahan dan karsa dengan meningkatkan keterampilan teknis
berkarya.
3. Pendekatan Partisipatif Produksi Seni
a. prinsip partisipatif produksi seni
Ketika seorang guru mengajar praktek di studio, sebenarnya juga mengajarkan cara
berpikir sistemik, misalnya: mengemas langkah dan memelihara peralatan, memahami
kinerja alat dan bahan yang harus sesuai dengan prosedur. Dampak pembelajaran seperti
itu disebut dengan dampak sampingat (nuturunt effect). Pendidikan Seni juga mempunyai
dampak kejiwaan, dan diantaranya adalah mengembangkan sikap apresiatif dengan
menghargai nilai budaya luhur melalui pembelajaran seni tradisional, Pendidikana seni
juga membina sikap toleransi yang dimulai dari menghargai karya teman berlanjut kepada
para seniman serta karya-karya pujangga yang terkenal. Dasar pernbelajaran pendidikan
seni adalah memahami prinsip keindahan, melalui pengamatan terhadap objek, serta
membina sikap kreatif, serta menumbuhkan rasa percaya diri.
b. Materi pembelajaran praktek seni
Secara teknis pembelajaran praktek bertolak dari prinsip-prinsip penciptaankarya seni,
yaitu: (1) komposisi, (2) kesatuan, (3) kombinasi, (3) nada dan irama. (4) harmoni, dan (5)
ekspresi. Komposisi merupakan pemaduan unsur maupun komponen seni yang dikemas
menjadi kesatuan yang hidup, mempunyai arti baru. Komposisi ini akan menarik jika unsur
seni tadi mempunyai ikatan yang harmonis sehingga muncul wacana dan arti baru dengan
tidak meninggalkan arti masing-masing posisi komponen yang telah disusun (kesatuan)
Kombinasi adalah perpaduan dua unsur/komponen seni sesuai dengan mediumnya.
Perpaduan tersebut dapat berupa variasi komponen seperti warna, bentuk, kelompok
yang didampingkan satu dengan yang lain dengan tidak bercampur. Contoh es buah adalah
kombinasi beberapa buah yang dijadikan satu dalam gelas. Hal ini berbeda dengan es juice
adalah campuran komponen buah yang menjadi satu rasa. Nada dan irama digunakan
untuk memberi tekanan susunan yang seimbang (harmonis) sehingga dapat dirasakan
tekanan yang indah yang merupakan wujud dari ungkapan rasa (ekspresi).
4. Pendekatan Tematis Pembelajaran Produksi Seni
Tema merupakan hal yang pokok serta menjadi dasar berpikir dan bertindak atau
sebagai motivasi penciptaan karya seni. Namun, setelah karya itu telah berbentuk maka
tema menjadi materi pembahasan. Jika dikaitkan dengan tema suatu karya seni lukisan
(misalnya), tema dimaksudkan sebagai ide pokok dalam sebuah cerita yang dikemukakan
senimannya, tentu saja lewat medium karya lukis. Tema lukisan akan hadir sebelum seorang
seniman memulai berkarya seni yang di dalamnya terjadi proses persiapan berkarya, seperti
persepsi, motivasi, atau dorongan yang berupa keinginan yang kuat untuk mencipta karya
seni. Motivasi itu sendiri terdapat 3 (tiga) bentuk dasar, yaitu artistic motivation, intellectual
motivation, imaginative motivation (Earl W. Linderman dan Donald W. Herbertholz,
1981:96).
Artistic Motivation yang dimaksud adalah dorongan penciptaan karya ketika pencipta
sedang berkarya atau berproduksi seni seperti menggambar. Pencipta seni ketika melihat
sesuatu objek yang indah akan tampil dalam gambarnya berupa tata susunan yang artistic.
Intellectual Motivation merupakan dorongan berkarya seni sebagai akibat anak yang
memandang-pandang objek yang dianggap mempunyai struktur menarik sehingga dia
berkeinginan menggambar. Disamping motivasi penalaran, penciptaan seni juga
memerlukan motivasi imajinasi.
Imajinative Motivation adalah dorongan batiniah. Peristiwa menggambar yang
dilakukan anak sebenarnya merupakan proses menyatunya motivasi dan imajinasi anak
tentang sesuatu, mungkin tentang cita-citanya, atau membayangkan peristiwa yang akan
terjadi yang diwujudkan dalam bentuk sebuah gambar.
5. Pendekatan Medium Produksi Seni
Secara teoretis tidak ada perbedaan cara pengungkapan karya seni berdasarkan
mediumnya: rupa, gerak dan suara. Namun, ketika proses visualisasi, bahasa seni
memberikan kekhasan di antaranya adalah tari yang mempunyai kaidah badan (body)
sebagai medium utamanya. Pada tampilan medium ini, dirinya dipersepsikan sebagai unsur
atau komponen fisik dan nonfisik sekaligus. Komponen fisik, bagian anggota tubuh sebagai
perangkat keras (hardware) dan penjiwaan gerakan sebagai pembentuk watak gerakan yang
khas (software). Untuk menyatakan gerakan, seorang penari harus menyatukan visi dengan
irama dan nada sehingga tekanan bentuk gerakan dapat dilihat simbol-simbolnya. Terjadilah
prinsip komposisi. Demikian pula untuk seni musik, medium ini sangat variatif, mulai suara
yang ditimbulkan oleh setiap ulah gerakan, mulut ataupun ketidaksengajaan yang
menimbulkan suara akan diperhitungkan ketika akan berproduksi karya musik. Apalagi
jikalau pemusik akan menggunakan instrumen musik, pemahaman alat merupakan unsur
utama. Selanjutnya, penguasaan ruang merupakan persyaratan utamanya. Dengan
menguasai kondisi dan situasi akan memberikan suasana penampilan menjadi lebih hidup,
penuh dengan nuansa yang diinginkan.
6. Bentuk Pembelajaran Terpadu Kesenian
Terdapat tiga bentuk keterpaduan dalam pembelajaran seni: (1) keterpaduan kurikulum,
(2) keterpaduan pembelajaran, dan (3) keterpaduan kelas. Keterpaduan kurikulum lebih
dekat dengan mencari korelasi materi pelajaran pada setiap bidang studi; sedangkan untuk
keterpaduan pembelajaran, seperti telah diuraikan oleh Robin Fogarty (1984) di depan.
Keterpaduan kelas mirip dengan kelas kesenian sebagai the composite class, di kelas
terpadu lebih dimaksudkan untuk memberi kesempatan siswa yang berbakat lebih cepat
berkembang. Kelas terpadu disusun berdasarkan minat dan potensi sehingga kelompok
kelas merupakan gradasi kemampuan atau potensi.
Kegiatan belajar
3
MERANCANG PEMBELAJARAN SENI
TERPADU
1. Rancangan Pembelajaran Terpadu
a. indikator
- Menjelaskan lingkungan alam (natural) dan lingkungan buatan (artificial) melalui media
gambar koran. (1)
- Menunjukkan keadaan lingkungan alam sekitar sekolah dan rumahnya. (2)
- Menuliskan peristiwa apa saja yang dialami di rumah di sekolah dan lingkungan dalam
sebuah puisi sederhana sebanyak 12 baris. (3)
- Menggambar rumah, dengan dominasi bangun segiempat, segitiga, persegi dan persegi
panjang dengan ukuran tertentu. (4)
- Mengidentifikasi benda-benda di sekitar yang dapat berubah bentuk seperti peristiwa
atau tanah liat. (5)
- Meminikan gelombang atau gerakan air yang mengalir tenang maupimbergelombang.
(6)
- Mengisi gerakan air tersebut dengan sebuah lagu sesuai dengan lirik puisi yang
diciptakan. (7)
b. Pelaksanaan kegiatan
1). Pendahuluan ( 1 x 20 menit )
- Memberikan apersepsi (keterangan) tentang perjalanan siswa dari rumah ke sekolah
dengan menunjukkan ulah para pengamen di tengah jalan. (8)
- Memancing diskusi tentang sampah yang berbau karena parit penuh dengan sampah.
(9)
2). Kegiatan inti ( 120 menit )
- Menunjukkan contoh pemandangan alami berkaitan dengan tamasya ketika berlibur.
- Meminta siswa menerangkan perjalanan mereka dan keikutsertaan anggota keluarga
ketika sedang berangkat ke sekolah.
3). Penutup ( 1 x 20 menit )
- Siswa diminta menguraikan kembali keterangan guru melalui diskusi, kerja kelompok
lewat gambar yang sudah dibuat.
- Bertanya jawab tentang pemahaman materi.
- Mengakhiri pelajaran dengan berdoa.
2. Aplikasi Pembelajaran Terpadu Seni
a. keterpaduan murni
Untuk mengawali pembelajaran terpadu murni dipersyaratkan :
1. Jadwal pelajaran diatur.
2. Bahan pelajaran hendaknya dirancang berdasarkan pembelajaran kontekstual, artinya
ketika akan menjelaskan permasalahan yang ada dalam materi, pilihlah materi yang mudah
diakses oleh murid seperti materi dari lingkungan sekitar anak agar persepsi anak sama.
3. Guru harus memahami benar karakteristik anak muridnya seperti: kemampuan awal
atau pengetahuan apa yang telah dimiliki siswa, apakah semua siswa sudah memilikinya
secara merata.
Pembelajaran terpadu dengan keterpaduan murni (integrated) dalam penampilan
pembelajarannya guru tidak membedakan masing-masing mata pelajaran, seperti IPS, Sains
atau IPA, Matematika dan seterusnya. Mata pelajaran ini dijadikan dalam satu topik
ataupun tema, sehingga pembelajaran pada saat itu tidak terdeteksi akan belajar apa.
Sasaran dan tujuan/kompetensi yang akan dicapai baru akan terlihat setelah usai
pembelajaran.

Anda mungkin juga menyukai