BAB 9
RETURN ON EQUITY
(ROE) ATAU RETURN ON
COMMON EQUITY (ROCE)
Oleh:
NOVITA SARI
201000462201
031
Bab ini membicarakan ukuran profitabilitas yang lain
yaitu Return On Equity atau sering disebut juga dengan
Return On Common Equity. Dalam bahasa Indonesia,
istilah ini sering diterjemahkan sebagai Rentabilitas
Saham Sendiri (Rentabilitas Modal Saham). Investor
yang akan membeli saham akan tertarik dengan ukuran
profitabilitas ini, atau bagian dari total profitabilitas yang
bisa dialokasikan ke pemegang saham. Seperti diketahui,
pemegang saham mempunyai klaim residual (sisa) atas
keuntungan yang diperoleh. Keuntungan yang diperoleh
perusahaan pertama akan dipakai untuk membayar
bunga utang, kemudian saham preferen, baru kemudian
(kalau ada sisa) diberikan ke pemegang saham biasa.
A.PERHITUNGAN ROE
Return on Equity dihitung sebagai berikut :
ROE = Laba bersih – dividen saham preferen
Rata-rata saham biasa
Bagian diatas persamaan tersebut (numerator)
mencerminkan bagian laba yang bisa di alokasikan ke
pemagang saham untuk periode tertentu, setelah
semua hak-hak kreditur dan saham preferen telah
dilunasi.
B. HUBUNGAN ANTARA ROA DAN
ROE
ROA memperhitungkan kemampuan perusahaan menghasilkan suatu laba
terlepas dari pendanaan yang dipakai. Sedangkan ROE secara eksplisit
memperhitungkan kemampuan perusahaan menghasilkan suatu laba bagi
pemegang saham biasa, setelah memperhitungkan bunga (biaya utang) dan
dividen saham preferen (biaya saham preferen). Hubungan antara ketiganya bisa
dituliskan semacam ini:
Laba yang di peroleh oleh perusahaan mengunakan aktiva
yang dimiliki bisa di alokasikan ke beberapa pemberi dana.
Kreditur menerima bunga, bagi perusahaan , biaya utang
yang muncul adalah utang di kurangi penghematan pajak dari
bunga karena bunga bisa di pakai sebagai pengurang pajak .
Beberapa utang seperti utang dagang, utang gaji , tidak
mempunyai beban biaya yang eksplisit, dan karena itu tidak di
perhitungkan . saham preferen menerima deviden untuk
saham preferen. Saham preferen tidak bisa di pakai sebagai
pengurang pajak , karena itu saham preferen tidak di
sesuaikan dengan (dikurangi oleh ) penghematan pajak.
Apabila ROA melebihi biaya modal utang dan biaya modal
saham preferen, maka ROE akan melebihi ROA. Sisa kelebihan
ROA atas biaya modal utang dan biaya modal saham preferen
menjadi bagian pemegang saham biasa.
Pada Tabel 9.1. di atas, ROA yang dihasilkan adalah 10%.
Biaya modal utang sesudah pajak adalah 6%, berarti
kelebihan sebesar 4% menjadi hak pemegang saham biasa.
Pemegang utang berhak atas 6% dari ROA untuk setiap
rupiah dana (dalam hal ini utang) yang ditanamkan ke aset
perusahaan. Pemegang saham preferen berhak atas 8% dari
ROA untuk setiap rupiah dana (dalam hal ini saham preferen)
yang ditanamkan ke aset perusahaan. Biaya modal saham
preferen adalah 8%, yang berarti sisa sebesar 2% (10%-8%)
menjadi hak pemegang saham biasa. Sementara itu
pemegang saham biasa juga berhak atas 10% atas setiap
rupiah dana yang mereka tanamkan ke aset perusahaan.
C. KOMPONEN-KOMPONEN ROE
ROE bisa dipecah-pecah lagi ke dalam beberapa
komponen yaitu: ROA dan leverage yang disesuaikan.
Leverage yang disesuaikan kemudian dipecah-pecah lagi ke
dalam Common Earning Leverage (Earning Leverage untuk
saham biasa) dan Leverage struktur modal (Capital Structure
Leverage). Berikut ini bagan pemecahan komponen ROE.
ROA mencerminkan kemampuan perusahaan
menghasilkan laba berdasarkan aset yang dimiliki.
Leverage yang disesuaikan mencerminkan efek
penggandaan penggunaan utang dan saham preferen
untuk menaikkan return ke pemegang saham. Leverage
yang disesuaikan merupakan hasil perkalian antara
Common Earning Leverage dengan leverage struktur
modal. Common Earning Leverage mencerminkan
proporsi laba bersih yang menjadi hak pemegang saham
biasa dari jumlah total laba bersih operasional.
Sedangkan leverage struktur modal mencerminkan
sejauh mana aset perusahaan dibiayai oleh saham
sendiri. ROE akan semakin besar apabila ROA tinggi atau
leverage yang disesuaikan tinggi.
Common Earning Leverage dihitung dengan jalan membagi
laba yang tersedia untuk saham biasa (6 dalam situasi 1)
dengan jumlah laba total (10 dalam situasi 1). CEL untuk
situasi 1 adalah 0,6 LSM (leverage struktur modal) dihitung
dengan jalan membagi rata-rata total aset (100 dalam situasi
1) dengan jumlah saham biasa (40 dalam situasi 1). LSM
untuk situasi pertama adalah 2,5. Leverage yang disesuaikan
adalah hasil perkalian antara CEL dengan LSM, dalam situasi
pertama leverage yang disesuaikan adalah 0,6x2,5 atau 1,5.
Kemudian ROE merupakan perkalian antara ROA dengan
leverage yang disesuaikan.
Secara umum kenaikan ROA akan meningkatkan CEL dan
penurunan ROA juga akan memperkecil CEL. Berikut ini ringkasan
hubungan antara komponen-komponen dalam ROE.
Variabel Hubungan
Laverage Struktur Modal dengan CEL
(Common Earning Laverage) Negatif
ROA dengan CEL (Common Earning Laverage) Positif
D. LABA PER LEMBAR SAHAM
Di samping ROE, rasio keuangan lain yang sering digunakan oleh investor
saham (atau calon investor saham) untuk menganalisis kemampuan
perusahaan mencetak laba berdasarkan saham yang dipunyai adalah
Earning per share (EPS) atau laba per lembar saham. EPS bisa dihitung
sebagai berikut:
EPS (untuk Laba bersih – dividen saham-dividen sahan
preferen
permodalan =
yang sederhana) Rata-rata tertimbang jmlh saham biasa yang beredar
Bagian atas rumus di atas sama dengan bagian atas (numerator) untuk
perhitungan ROE. Bagian pembagi (denominator) merupakan rata-rata
tertimbang jumlah saham yang beredar untuk periode tertentu, yang
berarti mencakup jumlah saham yang beredar awal periode, jumlah
saham yang beredar akhir periode. Transaksi-transaksi seperti emisi
saham baru dan pembelian saham kembali (treasury stock) akan
mempengaruhi jumlah saham yang beredar.
E. Penggunaan EPS
EPS bisa digunakan untuk beberapa macam analisis. Pertama, EPS
bisa digunakan untuk menganalisis profitabilitas suatu saham oleh
para analis surat berharga. EPS mudah dihubungkan dengan harga
pasar suatu saham dan menghasilkan rasio PER (Price Earning Ratio).
PER adalah harga pasar suatu saham dibagi dengan EPS-nya.
Seseorang yang ingin membeli suatu saham akan berusaha
menentukan harga yang "sebenarnya" dari saham tersebut. Cara
tersebut dilakukan dengan mem-presentvalue-kan semua aliran kas
masuk yang mungkin muncul pada masa-masa mendatang. Model
perhitungan ersebut dikenal dengan model discounted cash flow,
seperti berikut ini:
F. Kritik Terhadap Penggunaan EDS
EPS mempunyai beberapa kelemahan. Pertama, EPS sering dikritik
sebagai tidak mencerminkan ukuran profitabilitas perusahaan. EPS
tidak memperhitungkan aset perusahaan yang digunakan untuk
menghasilkan EPS tersebut. Kedua, jumlah lembar saham dipakai
sebagai pembagi laba operasional. Jumlah lembar saham bukan
merupakan ukuran penggunaan modal yang representatif.
EPS juga dinilai tidak konsisten untuk pengukuran profitabilitas karena
memakai laba perusahaan pada numerator (yang dibagi) tetapi
memakai jumlah saham pada pembagi (denominator) yang
merupakan hasil keputusan pendanaan.