SELAMAT DATANG DI PELATIHAN
PETUGAS PERAN KEBAKARAN KELAS D
( TEORI API & ANATOMI KEBAKARAN I )
Tujuan Instruksional Umum
Setelah mempelajari materi ini peserta
diharapkan dapat memahami secara umum
tentang pengetahuan perilaku api/teori api
sehingga dapat secara tanggap dan tepat
dalam upaya pencegahan dan pemadaman
kebakaran
Tujuan Instruksional Khusus
Peserta diharapkan:
1. Dapat Menjelaskan Pengertian Api & Kebakaran
2. Mampu Memahami Tentang Teori Api (anatomi
kebakaran/Fenomena Kebakaran).
3. Mengetahui Klasifikasi Kebakaran.
4. Memahami Jenis-Jenis Media Pemadam Api &
Metode Pemadaman Kebakaran.
5. Memahami Prinsip Teknik Pencegahan dan
Penanggulangan Pemadaman Kebakaran.
Sub Pembahasan
1. Pengertian api & kebakaran
2. Teori Api (anatomi kebakaran/Fenomena Kebakaran).
3. Fenomena Kebakaran dan Flashover
4. Fenomena Backdraft
5. BLEVE
6. Konduksi
7. Konveksi
8. Radiasi
9. Teknik Pemadaman Kebakaran (Metode Pemadaman
Kebakaran)
10. Klasifikasi Kebakaran.
11. Media-Media Pemadam Kebakaran
12. Teknik Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran.
1. Kebakaran
Suatu proses kimia yaitu proses
oksidasi yang terbentuk dari tiga
unsur yaitu bahan bakar, oksigen,
panas yang menghasilkan panas
dan cahaya.
Api yang tidak terkontrol dan
tidak dikehendaki karena dapat
menimbulkan kerugian baik harta
benda maupun korban jiwa.
Gejala Api …. ?
Nyala Api adalah gejala yang tampak pada
suatu bahan yang sedang terbakar berupa
cahaya/sinar dan disertai panas
gejala lain yang dapat diamati
antara lain : bara, arang, abu,
asap dan gas
Sebelum dan setelah terbakar terjadi
perubahan sifat fisik dan sifat kimia.
(CIRI REAKSI KIMIA)
GEJALA FISIK ?
Asap
Nyala api
Abu
Cair Arang
Padat
Meledak
NYALA API
• CAHAYA,
• PANAS,
• ASAP,
• GAS
2. Teori Api & Anatomi Kebakaran
TIGA UNSUR UTAMA TERJADINYA API:
FUEL - Setiap jenis bahan yang dapat
terbakar (padat, cair atau gas).
Bahan padat dan cair sebelum menyala,
dibutuhkan energi panas untuk SEGITIGA API
menghasilkan sejumlah uap. (TEORI API)
OXYGEN - Diperlukan suplai oxygen yang
cukup (Udara atau zat oxydant).
Ignition source - Energi panas yang mampu
meningkatkan temperatur sampai fase
penyalaan (ignition temperature).
FIRE SAFETY TRIANGLE
TEORI API
EN
PA
G
NA
SI
OK
S
BAHAN BAKAR
EN
PA
G
NA
SI
OK
S
API LISTRIK PENGELASAN MEROKOK REAKSI ALAM
TERBUKA KIMIA
- Letusan gunung
berapi
- petir, dll.
BAHAN BAKAR
Teori Bidang Empat Kebakaran/Piramida Api
(Tetrahedron of Fire)
Untuk berlangsung suatu pembakaran,
FUEL diperlukan komponen yang keempat,
OXYGEN
Free yaitu rantai reaksi kimia (chemical chain
radicals reaction). Teori ini yang disebut
tetrahedron of fire
reaction
HEAT Rantai reaksi kimia (chemical chain
reaction adalah dimana ketiga elemen
bereaksi secara kimiawi, sehingga yang
dihasilkan bukan hanya pijar saja tetapi
berupa nyala api atau peristiwa
pembakaran.
RANTAI REAKSI
KIMIA
FLAMMABLE RANGE/DAERAH BISA TERBAKAR
OXYGEN
FUEL Free
radicals
reaction
INT
PO
Free radicals reaction
SH
HEAT
A
FL
OH* + OH* --> H2O + O* + Panas
(Exothermal)
FLASHPOINT FLAMMABLE LIQUID 37,8 ºc (100ºF)
NON THERMAL
PANAS (ASAP & GAS) PANAS
BAHAN GAS OKSIGEN HASIL REAKSI + PANAS + NYALA
PANAS
BAHAN PADAT & CAIR BAHAN GAS
NON THERMAL
PANAS (ASAP & GAS) PANAS
BAHAN PADAT OKSIGEN HASIL REAKSI + PANAS + BARA
Percobaan 1
Gelas
Lilin penutup
Air
Perlahan nyala,
Oxygen at 20.8 % padam karena oxygen
berkurang/habis.
Diperlukan unsur O22 (Oxygen)
Percobaan 2 DALAM SUHU NORMAL
Gasoline/bensin pada suhu
ruangan sudah mengeluarkan
uap yang cukup untuk terbakar
Minyak tanah Bensin
Flash point : Suhu terendah
Dipanaskan sampai menguap dimana suatu zat (bahan
bakar), cukup mengeluarkan
uap & menyala (terbakar
sekejab) bila diberi sumber
panas yang cukup
Minyak tanah
Fire Point Suhu terendah
dimana suatu zat (bahan bakar)
cukup untuk mengeluarkan uap
dan terbakar (menyala terus
menerus) bila diberi sumber
panas
Minyak tanah
Selain dipanaskan bagaima cara agar
minyak tanah bisa terbakar?
• Dinaikkan tekanannya supaya berubah fase
menjadi uap
• Dikabutkan, dibuat menjadi butiran kecil
sehingga berbentuk uap.
DAERAH BISA TERBAKAR (FLAMMBLE RANGE )
Tidak terbakar , mengapa?
Flammable Range Daerah miskin Flammable Range
adalah batas antara Oksigen >21% dibagi menjadi dua
minimum dan yaitu: Low Explosive
maksimun konsentrasi Daerah bisa terbakar
Limit/ Low Flammable
bahan bakar di udara 16% - 21% Limit (LEL/LFL) dan
normal, yang dapat Upper Explosive Limit/
menyala/ meledak Daerah kaya Upper Flammable Limit
setiap saat bila diberi
gasoline >21% (UEL/UFL).
sumber panas.
14
13 Daerah Kaya (UEL/UFL):
12 Daerah Kaya (Too Rich) Adalah batas maksimum/atas
11 dari konsentrasi campuran
10 uap bahan bakar dan udara
9 yang akan menyala atau
8 meledak bila diberi sumber
7 Flammable Range nyala yang cukup
6 Daerah BisaTerbakar
Terbakar Daerah Kurang
Oksigen
5
4 Daerah Miskin (LEL/EFL):
Adalah batas
3
minimum/bawah dari
2
Daerah Miskin (Too Lean) konsentrasi campuran uap
1
bahan bakar dan udara yang
21 20 19 18 17 16 15 14 13 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 akan menyala atau meledak
bila diberi sumber nyala
Oksigen % yang cukup
Batas konsentrasi O2 dengan uap
bahan bakar yang dapat terbakar /
menyala bila diberi sumber panas yang
cukup
Daerah Jenuh/Gemuk
Batas Bisa Terbakar
Atas
Bensin
Batas Bisa Terbakar
Bawah
Daerah Kurus
21% 16%
CONTOH KARAKTERISTIK PENYALAAN
BEBERAPA ZAT PRODUK MINYAK BUMI DAN GAS
SUHU
TITK
NYALA
PENYALAA
DAERAH BERAT UAP
N SENDIRI
NAMA BAHAN ( ºC ) BISA (Udara)
( ºC ) TERBAKAR (% vol uap dlm udara)
Bensin -43 253 1,4 – 7,6 3-4
Kerosin 38 - 74 229 0,7 – 5,0 4,5
Jet Fuel – JP.6 38 224 0,6 – 3,7 <1
Minyak Diesel 38 257 ------- >1
Propana -104 468 2,3 – 9,5 1,56
Butana -60 405 1,9 – 8,5 2,5
Spirtus (ethanol) 13 423 4,3 – 19,0 -----
Hidrogen Sulfida -60 260 4,0 – 44,0 1,2
Aceteline (gas karbit) 18 229 2,5 – 82,0 0,91
TITIK NYALA (FLASH POINT)
Suhu terendah dimana suatu zat (bahan bakar), cukup mengeluarkan
uap & menyala (terbakar sekejab) bila diberi sumber panas/api yang
cukup
Bensin = 73 F (22 C) Minyak tanah = 130 F (54 C)
TITIK BAKAR (FIRE POINT)
Suhu terendah dimana suatu zat (bahan bakar) cukup untuk
mengeluarkan uap dan terbakar (menyala terus menerus) bila diberi
sumber panas/api.
SUHU PENYALAAN SENDIRI (AUTO IGNITION TEMPERATURE)
Suhu dimana suatu zat dapat menyala dengan sendirinya tanpa
adanya sumber panas dari luar. Pengertian ini adalah dimana zat
tersebut mendapat suhu yang tertinggi sehingga dia akan menyala
dengan sendirinya. Contoh
Gasoline = 235 C
Kerosene =228,9 C
Paraffin = 316 C
DAERAH BISA TERBAKAR (FLAMMABLE RANGE )
1%- 7% > 7%
< 1%
UDARA UDARA
UDARA
UAP BENSIN
Daerah bisa terbakar adalah batas konsentrasi campuran
antara uap bahan bakar dengan udara yang dapat
terbakar/menyala bila dikenai atau diberi sumber api
Hydrogen 4% - 75 % Bensin 1%
-7%
Propane (LPG) 2% - 8% Minyak Tanah 1% - 5%
Respon manusia terhadap temperatur
o
C
200
Kerusakan fatal berupa kekeringan kulit
180 dalam waktu 30 detik
150
Tidak dapat ditolerir dalam 5 menit
120 Tidak dapat ditolerir dalam 15 menit
Tidak dapat ditolerir dalam 25 menit
95
65 Masih dapat ditolerir selama kurang dari 1
jam (tergantung kelembaban, pakaian, dan
35 aktivitas)
Daerah nyaman termal (tergantung
10 kelembaban, gerakan udara, dan faktor-faktor
lain)
0
Pengaruh Prosentase Kandungan Gas-Gas Terhadap Kondisi Tubuh Manusia
(ASHRAE)
GAS % VOLUME DI UDARA PENGARUH
O2 10 - Pusing-pusing
7 - Kelengar
5 - Konsentrasi minimum untuk dapat hidup
2–3 - Kematian dalam beberapa menit
CO2 2 - Pernafasan 30% lebih cepat Bisa bunuh
4 - Mulai merasa mual diri kalo
begini
4.5 – 5.0 - Pernafasan cepat sekali, timbul mual
caranya…
7–9 - Batas toleransi
10 – 11 - Tidak sadar, dalam 10 menit
15 – 20 - Gejala-gejala iritasi bertambah
25 – 30 - Pernafasan berkurang, tekanan darah turun,
mati suri, kematian setelah beberapa saat
CO 0.02 - Sakit kepala selama 2 – 3 jam
0.04 - Berkeringat, kelengar dalam 1 – 2 jam
0.08 - Tidak sadar diri dalam 2 jam
0.16 - Pusing, mual dalam 20 menit
0.32 - Pusing dalam 5 – 10 menit, kematian dalam
30 menit
0.64 - Pusing dalam 1 – 2 menit, kematian dalam
10 menit
1.2 - Tidak sadar diri, kematian dalam 1 – 2 menit
3. FENOMENA KEBAKARAN
FENOMENA KEBAKARAN
KENAIKAN TEMPERATUR
FLASHOVER PASCA FLASHOVER
PEMBAKARAN
PENUH
PERTUMBUHAN
SURUT
PENYALAAN
WAKTU
Fenomena Terjadinya Flashover
Flashover
Tanda-Tanda/Potensi Flashover
• Meningkatnya panas
• Pemanasan isi ruangan mencapai temperatur penyalaan
Flashover
• Penyalaan simultan/bersamaan terhadap semua benda yang
mudah menyala di dalam ruangan
• Tingkat panas yang tinggi dari lantai hingga langit-langit
Phenomena
Phenomena
kebakaran
kebakaran
INTENSITAS
3 - 10
STEDY
th
menit Fully development fires
ow
DE
(600-1000 o C)
Gr
CA
Initiation
Y
TIME
Source
Energi
Flashover
INTENSITAS
3 - 10 menit STEDY
Fully development fires
H T
(600-1000 o C)
OW
DE
GR
CA
Y
Initiation FIRE STAGE
TIME
Sumber Energy
Awal terjadinya api/kebakaran tidak diduga waktu dan tempatnya;
Faktor pemicunya karena terjadi energi panas yang tidak terkendali. (Source
energy)
Bila energi panas kontak dengan bahan bakar maka akan terjadi awal
penyalaan (Initiation)
Nyala api akan menjadi besar dan meluas bila cukup media penghantarnya;
(Growth)
Dalam waktu 3 mnt untuk bahan cair dan 10 mnt untuk bahan padat terjadi
flash over
Temperatur dan intensitas nyala api dipengaruhi oleh sifat flammability,
Grafik Perkembangan Api
KONSEP STRATEGI MENGHAMBAT LAJU JALAR API
Temperature
Pre-flashover Post - flashover Fully Development Fire
Flashove
Tidak terkendali
Meluas/
Full fire
menjalar
r
Flashover
Active Passiv
e
Flashover
Deteksi
Initiation Growth zone
06/17/2025 Designed by PoweredTemplate.com 43
Bagaimana Menghadapi Bahaya
• Flashover
Bagaimana Menghadapi Bahaya
• Flashover
PEMINDAHAN PANAS
KONVEKSI
RADIASI
KONDUKSI
KONDUKSI
KONVEKSI
Konveksi:
Kontak nyala api langsung.
Perpindahan panas secara
konveksi atau aliran merupakan
perpindahan kalor pada zat yang
disertai dengan perpindahan
partikel-pertikel zat tersebut.
Perpindahan panas konveksi
akan dapat terjadi karena
perbedaan massa jenis zat.
KONDUKSI
Konduksi:
Panas yang dipindahkan dari satu
ruang/lantai ke ruang/lantai yang lain
melalui bahan penghantar panas.
Perpindahan panas dengan cara
konduksi merupakan perpindahan
panas melalui zat tanpa disertai dengan
perpindahan pertikel-partikel zat
tersebut.
RADIASI
Radiasi:
Gelombang panas yang bergerak melalui
daerah yang terbakar menuju permukaan
benda-benda dihadapannya. Perpindahan
panas secara radiasi merupakan
perpindahan panas tanpa melalui suatu
zat perantara.
4. BACK DRAFT
BACK DRAFT?
Masuknya oksigen secara tiba-tiba pada
suatu ruangan tertutup pada tahap
kebakaran mulai surut dengan kondisi
material bahan bakar masih cukup banyak
dan oksigen kurang, sehingga
a
mengakibatkan ledakan dari arah sumber
ar
masuknya oksigen tersebut
Ud
KEBAKARAN DALAM
RUANG TERTUTUP
Tanda-tanda backdraft: KEHABISAN OKSIGEN
• Panas Pintu dan pegangannya (Vakum)
• Asap dari bukaan
• Asap masuk kembali melalui BILA ADA KESEMPATAN
bukaan UDARA MASUK
AKAN TERJADI LEDAKAN
• Suara mendesis atau raungan
5. B L E V E
(Boiling Liquid Expanding
Vapor Explosion)
Peledakan tangki gas cair
yang mendidih akibat paparan panas
TANKI BAHAN BAKAR
PAPARAN GAS CAIR
PANAS
LEDAKAN
Fisika
Physical Explosion Expanse
Pelepasan tekanan uap/gas seperti; ketel uap,
bejana tekan, kompresor, dll.
Kimia
Chemical Explosion Explosive
Pelepasan energi potensial dari reaksi bahan
kimia yang disertai pelepasan energi panas
yang tinggi dalam waktu yang cepat.
6. TEHNIK PEMADAMAN KEBAKARAN
METODE PEMADAMAN
KEBAKARAN
1.COOLING/PENDINGINAN
2. SMOTHERING/MENGISOLASI
OKSIGEN
3. STARVATION/MEMINDAHKAN
BAHAN BAKAR
4. BREAKING CHAIN
REACTION/MEMECAHKAN
REAKSI RANTAI KIMIA
PRINSIP PEMADAMAN
Udara Dilution
Smothering
Starving Cooling
Bahan API
Bakar Heat
PRINSIP PEMADAMAN
• Pendinginan (cooling) sampai dibawah titik nyala dari bahan
yang terbakar atau mengurangi penguraian (dekomposisi)
bahan bakar padat.
• Penyelimutan (smothering) atau mengurangi/menipis kadar
oksigen (dilution) di udara
• Menghentikan/mengambil bahan yang terbakar (starvation)
• Memutuskan rantai reaksi (Breaking Chain Reaction) dari
proses pembakaran.
METODE PEMADAMAN KELAS A
BAHAN BAKAR
COOLING/PENDINGINAN
I
OKSI RANTA
I
GEN
REAKS
KIMIA
PANAS
Memadamkan api dengan air atau busa kelas A
dengan menghilangkan unsur panas dan
mendinginkan api sampai pada titik uap
api/panas tidak lagi diproduksi
METODE PEMADAMAN KELAS B
SMOTHERING/ MENGISOLASI OKSIGEN
BAHAN BAKAR
I
RANTA
OKSI I
GE N REAKS
KIMIA
PANAS
Menghilangkan faktor panas dengan
dengan memisahkan udara/oksigen
hingga mematikan pembakaran seperti
menutup drum yang terbakar dengan menggunakan
karung atau blanket
BAHAN
BAKAR STARVATION/
STOP SUPLAY BAHAN BAKAR
I
OKSI RANTA
I
GE N REAKS
KIMIA
PANAS
Memindahkan bahan bakar/bahan yang
mudah terbakar sampai pada titik dimana
tidak terdapat apapun yang dapat terbakar
seperti menutup keran pada tangki yang
terbakar.
BREAKING CHAIN REACTION
MEMECAHKAN RANTAI REAKSI KIMIA
BAHAN BAKAR
AI
OKSI RANT I
S
GEN REAK
KIMIA
PANAS
Mencegah/menghambat reaksi nyala api dengan
menyingkirkan rangkaian reaksi kimia di daerah
nyala api. Dengan demikian proses pembakaran
akan terhenti dan tidak menjalar
Memadamkan API dengan APAR type HALON
METODE PEMADAMAN KELAS C
• Gunakan alat pemadam yang non konduksi
• Putuskan arus listrik dan padamkan seperti
api kelas A atau kelas B
METODE PEMADAMAN KELAS D
• Gunakan alat pemadam yang non konduksi
• Putuskan arus listrik dan padamkan seperti
api kelas A atau kelas B
PERMENAKER No.
7. KLASIFIKASI KEBAKARAN 04/MEN/1980 (NFPA 10)
(Pasal 2)
• Tujuan:
• memudahkan pemilihan media pemadam yang tepat dari berbagai tipe
bahan bakar.
• Klasifikasi kebakaran:
• Kelas A : Bahan padat/non logam (kertas, kayu, plastik, dll.)
• Kelas B : Bahan cair atau gas mudah terbakar (bensin, solar,minyak
tanah, LPG, gemuk, dll0
• Kelas C : Instalasi listrik (peralatan listrik bertegangan)
• Kelas D : Bahan logam (magnesium, titanium, lithium, dll)
KLASIFIKASI KEBAKARAN
si
ka
as
ifi
Jenis kebakaran CIRI KHUSUS
Kl
Klas A Bahan padat kecuali logam 1. Terdapat bara (kayu/arang/kertas)
2. Barang yang sulit/tidak ada
gantinya
1. Tidak dapat bercampur air
Bahan cair
2. Dapat bercampur
Klas B 3.air
Gas mengalir
Bahan
gas 4. Karena bereaksi dengan air
1. Peralatan listrik
Klas C Listrik bertegangan
2. Peralatan elektrik
Klas D Logam Bertemperatur tinggi
Kalium, litium,
magnesium
06/17/2025 67
8. MEDIA PEMADAM API
• Media Cair
• Air
• Busa
• Asam Soda
• Media Padat
• Pasir dan tanah
• Tepung Kimia
• Media Gas
• Karbon Dioksida (CO2)
• Halon
• AF-11
• Halotron
9. TEKNIK PENCEGAHAN DAN
PENANGGULANGAN KEBAKARAN
Fire Fighting Techniques
• Direct Attack (Serangan
Langsung)
• Indirect Attack(Serangan Tidak
Langsung)
• 3 Dimensional Offensive Fog
Attack (Gas Cooling)
Prinsip-Prinsip Penanggulangan Kebakaran
“Segala upaya untuk mencegah timbulnya kebakaran dengan
berbagai upaya pengendalian setiap perwujudan energi,
pengadaan sarana proteksi kebakaran dan sarana penyelamatan
serta pembentukan organisasi tanggap darurat untuk
memberantas kebakaran”
[Kepmenaker No. 186 Th. 1999]
Pencegahan Kebakaran
1. Jangan biarkan unsur-unsur terjadinya api (segitiga api:
oksigen, bahan bakar dan panas) ada pada saat yang
sesuai sehingga menimbulkan kebakaran
2. Oksigen mutlat ada di udara
3. Maka prinsip pencegahannya: mengendalikan bahan bakar
dari panas
4. Berhati-hati dengan pekerjaan yang menggunakan bahan
bakar dan panas
5. Pergunakan bahan bakar seperlunya dan simpan di tempat
yang telah di tentukan (jauh dari panas langsung)
Prinsip Penanggulangan Kebakaran
Bahan Bakar, O2 Mencegah
,sumber Energi Penyalaan
proses
penyalaan
Pemadaman pada
api timbul tahap dini
Mencegah Api Tumbuh Besar,
Tumbuh & Evakuasi manusia & Barang
menyebar Pengendalian Asap
KONDISI
BAHAYA
Flash Mencegah Penyalaan
Over Serentak
Pembakaran Mencegah perambatan
Penuh api ke lain area
Pendinginan Lanjut,
Surut mencegah Backdraft
diruang tertutup
KONSEP AMAN KEBAKARAN
Tujuan pengamanan kebakaran :
a. Keselamatan jiwa
b. Keselamatan aset
c. Keselamatan Proses Produksi
d. Keselamatan lingkungan
e. Mempertahankan kredibilitas/citra
Perusahaan
Penanggulangan
Pencegahan
Kebakaran
Kebakaran
• Mendeteksi & pemadaman
• Pengendalian
dini
Bahan Bakar •
• Pengendalian Prinsip Dasar Membatasi penjalaran
• Mempermudah
Sumber Energi
• Mencegah penyelamatan
Penyalaan • Meminimisasi kerusakan
“The Best Way To UNDERSTAND is by DOING”