Anda di halaman 1dari 15

HAM

Pengertian dan Definisi HAM HAM / Hak Asasi Manusia adalah hak yang melekat pada diri setiap manusia sejak awal dilahirkan yang berlaku seumur hidup dan tidak dapat diganggu gugat siapa pun. Sebagai warga negara yang baik kita mesti menjunjung tinggi nilai hak azasi manusia tanpa membeda-bedakan status, golongan, keturunan, jabatan, dan lain sebagainya. Melanggar HAM seseorang bertentangan dengan hukum yang berlaku di Indonesia. Hak asasi manusia memiliki wadah organisasi yang mengurus permasalahan seputar hak asasi manusia yaitu Komnas HAM. Kasus pelanggaran ham di Indonesia memang masih banyak yang belum terselesaikan / tuntas sehingga diharapkan perkembangan dunia ham di Indonesia dapat terwujud ke arah yang lebih baik. Salah satu tokoh ham di Indonesia adalah Munir yang tewas dibunuh di atas pesawat udara saat menuju Belanda dari Indonesia. Pembagian Bidang, Jenis dan Macam Hak Asasi Manusia Dunia : 1. Hak asasi pribadi / personal Right - Hak kebebasan untuk bergerak, bepergian dan berpindah-pndah tempat - Hak kebebasan mengeluarkan atau menyatakan pendapat - Hak kebebasan memilih dan aktif di organisasi atau perkumpulan - Hak kebebasan untuk memilih, memeluk, dan menjalankan agama dan kepercayaan yang diyakini masing-masing 2. Hak asasi politik / Political Right - Hak untuk memilih dan dipilih dalam suatu pemilihan - hak ikut serta dalam kegiatan pemerintahan - Hak membuat dan mendirikan parpol / partai politik dan organisasi politik lainnya - Hak untuk membuat dan mengajukan suatu usulan petisi 3. Hak azasi hukum / Legal Equality Right - Hak mendapatkan perlakuan yang sama dalam hukum dan pemerintahan - Hak untuk menjadi pegawai negeri sipil / pns - Hak mendapat layanan dan perlindungan hukum 4. Hak azasi Ekonomi / Property Rigths - Hak kebebasan melakukan kegiatan jual beli - Hak kebebasan mengadakan perjanjian kontrak - Hak kebebasan menyelenggarakan sewa-menyewa, hutang-piutang, dll - Hak kebebasan untuk memiliki susuatu - Hak memiliki dan mendapatkan pekerjaan yang layak

5. Hak Asasi Peradilan / Procedural Rights - Hak mendapat pembelaan hukum di pengadilan - Hak persamaan atas perlakuan penggeledahan, penangkapan, penahanan dan penyelidikan di mata hukum. 6. Hak asasi sosial budaya / Social Culture Right - Hak menentukan, memilih dan mendapatkan pendidikan - Hak mendapatkan pengajaran - Hak untuk mengembangkan budaya yang sesuai dengan bakat dan minat

Perkembangan HAM di Indonesia Pemahaman Ham di Indonesia sebagai tatanan nilai, norma, sikap yang hidup di masyarakat dan acuan bertindak pada dasarnya berlangsung sudah cukup lama. Secara garis besar Prof. Bagir Manan pada bukunya Perkembangan Pemikiran dan Pengaturan HAM di Indonesia ( 2001 ), membagi perkembangan HAM pemikiran HAM di Indonesia dalam dua periode yaitu periode sebelum Kemerdekaan ( 1908 1945 ), periode setelah Kemerdekaan ( 1945 sekarang ). A. Periode Sebelum Kemerdekaan ( 1908 1945 ) Boedi Oetomo, dalam konteks pemikiran HAM, pemimpin Boedi Oetomo telah memperlihatkan adanya kesadaran berserikat dan mengeluarkan pendapat melalui petisi petisi yang dilakukan kepada pemerintah kolonial maupun dalam tulisan yang dalam surat kabar goeroe desa. Bentuk pemikiran HAM Boedi Oetomo dalam bidang hak kebebasan berserikat dan mengeluarkan pendapat. Perhimpunan Indonesia, lebih menitikberatkan pada hak untuk menentukan nasib sendiri. Sarekat Islam, menekankan pada usaha usaha unutk memperoleh penghidupan yang layak dan bebas dari penindasan dan deskriminasi rasial. Partai Komunis Indonesia, sebagai partai yang berlandaskan paham Marxisme lebih condong pada hak hak yang bersifat sosial dan menyentuh isu isu yang berkenan dengan alat produksi. Indische Partij, pemikiran HAM yang paling menonjol adalah hak untuk mendapatkan kemerdekaan serta mendapatkan perlakuan yang sama dan hak kemerdekaan. Partai Nasional Indonesia, mengedepankan pada hak untuk memperoleh kemerdekaan. Organisasi Pendidikan Nasional Indonesia, menekankan pada hak politik yaitu hak untuk mengeluarkan pendapat, hak untuk menentukan nasib sendiri, hak berserikat dan berkumpul, hak persamaan di muka hukum serta hak untuk turut dalam penyelenggaraan Negara. Pemikiran HAM sebelum kemerdekaan juga terjadi perdebatan dalam sidang BPUPKI antara Soekarno dan Soepomo di satu pihak dengan Mohammad Hatta dan Mohammad Yamin pada pihak lain. Perdebatan pemikiran HAM yang terjadi dalam sidang BPUPKI berkaitan dengan masalah hak persamaan kedudukan di muka hukum, hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak, hak untuk memeluk agama dan kepercayaan, hak berserikat, hak untuk berkumpul, hak untuk mengeluarkan pikiran dengan tulisan dan lisan.

B. Periode Setelah Kemerdekaan ( 1945 sekarang ) a) Periode 1945 1950 Pemikiran HAM pada periode awal kemerdekaan masih pada hak untuk merdeka, hak kebebasan untuk berserikat melalui organisasi politik yang didirikan serta hak kebebasan untuk untuk menyampaikan pendapat terutama di parlemen. Pemikiran HAM telah mendapat legitimasi secara formal karena telah memperoleh pengaturan dan masuk kedalam hukum dasar Negara ( konstitusi ) yaitu, UUD 45. komitmen terhadap HAM pada periode awal sebagaimana ditunjukkan dalam Maklumat Pemerintah tanggal 1 November 1945. Langkah selanjutnya memberikan keleluasaan kepada rakyat untuk mendirikan partai politik. Sebagaimana tertera dalam Maklumat Pemerintah tanggal 3 November 1945. b) Periode 1950 1959 Periode 1950 1959 dalam perjalanan Negara Indonesia dikenal dengan sebutan periode Demokrasi Parlementer. Pemikiran HAM pada periode ini menapatkan momentum yang sangat membanggakan, karena suasana kebebasan yang menjadi semangat demokrasi liberal atau demokrasi parlementer mendapatkan tempat di kalangan elit politik. Seperti dikemukakan oleh Prof. Bagir Manan pemikiran dan aktualisasi HAM pada periode ini mengalami pasang dan menikmati bulan madu kebebasan. Indikatornya menurut ahli hukum tata Negara ini ada lima aspek. Pertama, semakin banyak tumbuh partai partai politik dengan beragam ideologinya masing masing. Kedua, Kebebasan pers sebagai pilar demokrasi betul betul menikmati kebebasannya. Ketiga, pemilihan umum sebagai pilar lain dari demokrasi berlangsung dalam suasana kebebasan, fair ( adil ) dan demokratis. Keempat, parlemen atau dewan perwakilan rakyat resprentasi dari kedaulatan rakyat menunjukkan kinerja dan kelasnya sebagai wakil rakyat dengan melakukan kontrol yang semakin efektif terhadap eksekutif. Kelima, wacana dan pemikiran tentang HAM mendapatkan iklim yang kondusif sejalan dengan tumbuhnya kekuasaan yang memberikan ruang kebebasan. c) Periode 1959 1966 Pada periode ini sistem pemerintahan yang berlaku adalah sistem demokrasi terpimpin sebagai reaksi penolakan Soekarno terhaap sistem demokrasi Parlementer. Pada sistem ini ( demokrasi terpimpin ) kekuasan berpusat pada dan berada ditangan presiden. Akibat dari sistem demokrasi terpimpin Presiden melakukan tindakan inkonstitusional baik pada tataran supratruktur politik maupun dalam tataran infrastruktur poltik. Dalam kaitan dengan HAM, telah terjadi pemasungan hak asasi masyarakat yaitu hak sipil dan dan hak politik. d) Periode 1966 1998 Setelah terjadi peralihan pemerintahan dari Soekarno ke Soeharto, ada semangat untuk menegakkan HAM. Pada masa awal periode ini telah diadakan berbagai seminar tentang HAM. Salah satu seminar tentang HAM dilaksanakan pada tahun 1967 yang merekomendasikan gagasan tentang perlunya pembentukan Pengadilan HAM, pembentukan Komisi dan Pengadilan HAM untuk wilayah Asia. Selanjutnya pada pada tahun 1968 diadakan seminar Nasional Hukum

II yang merekomendasikan perlunya hak uji materil ( judical review ) untuk dilakukan guna melindungi HAM. Begitu pula dalam rangka pelaksanan TAP MPRS No. XIV/MPRS 1966 MPRS melalui Panitia Ad Hoc IV telah menyiapkan rumusan yang akan dituangkan dalam piagam tentang Hak hak Asasi Manusia dan Hak hak serta Kewajiban Warganegara. Sementara itu, pada sekitar awal tahun 1970-an sampai periode akhir 1980-an persoalan HAM mengalami kemunduran, karena HAM tidak lagi dihormati, dilindungi dan ditegakkan. Pemerintah pada periode ini bersifat defensif dan represif yang dicerminkan dari produk hukum yang umumnya restriktif terhadap HAM. Sikap defensif pemerintah tercermin dalam ungkapan bahwa HAM adalah produk pemikiran barat yang tidak sesuai dengan nilai nilai luhur budaya bangsa yang tercermin dalam Pancasila serta bangsa Indonesia sudah terlebih dahulu mengenal HAM sebagaimana tertuang dalam rumusan UUD 1945 yang terlebih dahulu dibandingkan dengan deklarasi Universal HAM. Selain itu sikap defensif pemerintah ini berdasarkan pada anggapan bahwa isu HAM seringkali digunakan oleh Negara Negara Barat untuk memojokkan Negara yang sedang berkembang seperti Inonesia. Meskipun dari pihak pemerintah mengalami kemandegan bahkan kemunduran, pemikiran HAM nampaknya terus ada pada periode ini terutama dikalangan masyarakat yang dimotori oleh LSM ( Lembaga Swadaya Masyarakat ) dan masyarakat akademisi yang concern terhaap penegakan HAM. Upaya yang dilakukan oleh masyarakat melalui pembentukan jaringan dan lobi internasional terkait dengan pelanggaran HAM yang terjadi seprti kasus Tanjung Priok, kasus Keung Ombo, kasus DOM di Aceh, kasus di Irian Jaya, dan sebagainya. Upaya yang dilakukan oleh masyarakat menjelang periode 1990-an nampak memperoleh hasil yang menggembirakan karena terjadi pergeseran strategi pemerintah dari represif dan defensif menjadi ke strategi akomodatif terhadap tuntutan yang berkaitan dengan penegakan HAM. Salah satu sikap akomodatif pemerintah terhadap tuntutan penegakan HAM adalah dibentuknya Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNAS HAM ) berdasarkan KEPRES No. 50 Tahun 1993 tertanggal 7 Juni 1993. Lembaga ini bertugas untuk memantau dan menyeliiki pelaksanaan HAM, serta memberi pendapat, pertimbangan, dan saran kepada pemerintah perihal pelaksanaan HAM. e) Periode 1998 sekarang Pergantian rezim pemerintahan pada tahan 1998 memberikan dampak yang sangat besar pada pemajuan dan perlindungan HAM di Indonesia. Pada saat ini mulai dilakukan pengkajian terhadap beberapa kebijakan pemerintah orde baru yang beralwanan dengan pemjuan dan perlindungan HAM. Selanjutnya dilakukan penyusunan peraturan perundang undangan yang berkaitan dengan pemberlakuan HAM dalam kehidupan ketatanegaraan dan kemasyarakatan di Indonesia. Hasil dari pengkajian tersebut menunjukkan banyaknya norma dan ketentuan hukum nasional khususnya yang terkait dengan penegakan HAM diadopsi dari hukum dan instrumen Internasional dalam bidang HAM. Strategi penegakan HAM pada periode ini dilakukan melalui dua tahap yaitu tahap status penentuan dan tahap penataan aturan secara konsisten. pada tahap penentuan telah ditetapkan beberapa penentuan perundang undangan tentang HAM seperti amandemen konstitusi Negara ( Undang undang Dasar 1945 ), ketetapan MPR ( TAP MPR ), Undang undang (UU), peraturan pemerintah dan ketentuan perundang undangam lainnya.

Pengaturan HAM di Indonesia


Pengaturan Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia diawali dengan Konstitusi Negara UUD 1945. Pada Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), Pasal 26, Pasal 27, Pasal 28, Pasal 29, Pasal 30, Pasal 31, Pasal 32, Pasal 33 ayat (1) dan ayat (3), dan Pasal 34. Dalam perkembangan selanjutnya, pengaturan HAM dirasakan harus lebih jelas dan tegas, dengan dasar pemikiran tersebut dibentuklah Bab XA dalam Perubahan Kedua UUD 1945 tentang Hak Asasi Manusia.
Sebagai wujud perhatian Majelis Permusyawaratan Rakyat terhadap permasalahan HAM, maka ditetapkanlah Ketetapan MPR RI Nomor XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia.

Tindak lanjut dari Konstitusi Negara dan Ketetapan MPR, serta kebutuhan akan peraturan perundangundang di bidang HAM, maka dibentuklah Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Dalam Pasal 1 angka 1 UU No.39 Tahun 1999, Hak Asasi Manusia diberikan pengertian sebagai seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan kebenaran manusia sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, Pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia. Hak Asasi Manusia dan Kebebasan Dasar Manusia berdasarkan Bab III UU yang sama meliputi: Hak untuk Hidup, Hak Berkeluarga dan Melanjutkan Keturunan, Hak Mengembangkan Diri, Hak Memperoleh Keadilan, Hak Atas Kebebasan Pribadi, Hak Atas Rasa Aman, Hak Atas Kesejahteraan, Hak Turut Serta dalam Pemerintahan, Hak Wanita, Hak Anak. Pelanggaran HAM berdasarkan Pasal 1 angka 6 UU No.39 Tahun 1999, adalah setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang atau termasuk aparat negara baik sengaja maupun tidak sengaja atau kelalaian yang secara melawan hukum mengurangi, menghalangi, membatasi dan atau mencabut hak asasi manusia seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh Undang-Undang ini, dan tidak mendapatkan, atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyelesaian hukum yang secara adil dan benar, berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku. Tatacara penegakan HAM di Indonesia diatur melalui Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia. Ketentuan dalam Pasal 7 UU Pengadilan HAM disebutkan, Pelanggaran Berat HAM dibagi menjadi dua kategori, yakni Kejahatan Genosida dan Kejahatan terhadap kemanusiaan. Kejahatan Genosida menurut Pasal 8 UU 26/2000, adalah setiap perbuatan yang dilakukan dengan maksud menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok bangsa, ras, kelompok etnis, atau kelompok agama, dengan cara: membunuh anggota kelompok, mengakibatkan penderitaan fisik dan mental yang berat terhadap anggota-anggota kelompok, menciptkan kondisi kehidupan kelompok yang akan mengakibatkan kemusnahan secara fisik, baik seluruh atau sebagiannya, memaksakan tindakan-tindakan yang bertujuan mencegah kelahiran di dalam kelompok, atau memindahkan secara paksa anak-anak dari kelompok tertentu ke kelompok lain. Kejahatan terhadap Kemanusiaan menurut Pasal 9 adalah salah satu perbuatan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan yang meluas dan sitematik yang ditujukan secara langsung terhadap penduduk

sipil. Bentuk-bentuk kejahatan kemanusiaan ini adalah: pembunuhan; pemusnahan; perbudakan; pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa; perampasan kemerdekaan atau perampasan kebebasan fisik lain secara sewenang-wenang yang melanggar (asas-asas) ketentuan pokok hukum internasional; penyiksaan; perkosaan, perbudakan seksual, pelacuran secara paksa, pemaksaan kehamilan, pemandulan atau sterilisasi secara paksa atau bentuk-bentuk kekerasan seksual lain yang setara; penganiayaan terhadap suatu kelompok tertentu atau perkumpulan yang didasari persamaan paham politik, ras, kebangsaan, etnis, budaya, agama, jenis kelamin atau alasan lain yang telah diakui; penghilangan orang secara paksa; atau kejahatan apartheid. Terdapat beberapa Lembaga yang ikut dalam proses penegakan HAM di Indonesia. Lembaga-lembaga tersebut: 1. Jaksa Agung. Lembaga ini bertindak sebagai Penyidik dan Penuntut. Jaksa Agung dapat mengangkat penyidik ad hoc yang terdiri atas unsur pemerintah dan atau masyarakat. 2. Komisi Nasional HAM. Lembaga ini bertindak sebagai penyelidik. Dalam kedudukannya sebagai penyelidik Komnas HAM dapat membentuk tim ad hoc yang terdiri atas Komnas HAM dan unsur masyarakat. 3. Pengadilan HAM. Lembaga inilah yang berhak memeriksa dan memutuskan perkara pelanggaran HAM. Pemeriksaan perkara pelanggaran HAM yang berat dilakukan oleh Majelis Hakim yang berjumlah 5 (lima) orang, terdiri atas 2 (dua) orang hakim pada Pengadilan HAM yang bersangkutan dan 3 (tiga) orang Hakim Ad Hoc. 4. Pengadilan HAM Ad Hoc. Pengadilan ini dibentuk untuk melakukan pemeriksaan terhadap perkara pelanggaran HAM yang terjadi sebelum UU 26/2000 diundangkan. Pengadilan HAM ad hoc dibentuk atas usul DPR.

Peran serta dalam Upaya Penegakan HAM di Indonesia


Beberapa faktor yang mempengaruhi upaya penegakan hak asasi manusia di Indonesia adalah: >>Sosialisasi hak asasi manusiaPendidikan public harus dijalankan, masyarakat harus diberikan peyuluhan sehingga pemahaman tentang hak asasimanusia itu benar. segala pelanggaran jangan dikaitkan dengan hak asasi manusia harus dipisahkan denganpelanggaran kriminal murni. >>Efektifitas penegasan hak asasi manusiaPenegakan hukum sebagai operator di lapangan harus memiliki komitmen moral yang jelas,khususnya terkaitdengan hak asasi manusia. Dalam menjalankan tugasnya harus bersifat obyektif dan hanya berpihak padakebenaran. >>Fungsi lembaga pengontrolKomnas HAM dan LSM adalah suatu lembaga pengontrol penegakan hak asasi manusia yang independen yangmemiliki eempat fungsi yaitu : 1.Fungsi pemantau 2.Fungsi mediasi 3.Fungsi pendidikan dan penyuluhan 4.Fungsi pengkajian dan penelitian Berdasarkan UU No.39 Tahun 1999 tentang hak asasi manusia dijelaskan bahwa, setiap orang, kelompok,organisasi politik, organisasi masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, atau lembaga kemasyarakatan lainnyaberhak berpartiaipasi dalam prlindungan, penegakan dan pemajuan hak asasi manusia. Partisipasi tersebutdapat dilakukan dalam bentuk:

a.Menyampaikan laporan atas terjadinya pelanggaran hak asasi manusia kepada komnas HAM b.Mengajukan usulan mengenai perumusan dan kebijakan yang berkaitan dengan HAM kepada komnas HAM c.Melakukan penelitian, pendidikan, dan penyebarluasan informasi mengenai hak asasi manusia d.Bersama dengan lembaga atau pemerintah melakukan sosialisasi Kasus Pelanggaran HAM di Indonesia

Tabel I Kasus Pelanggaran HAM Masa Lalu yang Belum Tersentuh Proses Hukum
No 1 Nama Kasus Pembantaian massal 1965 Th 1965-1970 Jumlah Korban 1.500.000 Keterangan Korban sebagian besar merupakan anggota PKI, atau ormas yang dianggap berafiliasi dengannya seperti SOBSI, BTI, Gerwani, PR, Lekra, dll. Sebagian besar dilakukan di luar proses hukum yang sah Korban sebagian besar merupakan tokoh kriminal, residivis, atau mantan kriminal. Operasi militer ini bersifat illegal dan dilakukan tanpa identitas institusi yang jelas Dimulai dari agresi militer TNI (Operasi Seroja) terhadap pemerintahan Fretilin yang sah di Timor Timur. Sejak itu TimTim selalu menjadi daerah operasi militer rutin yang rawan terhadap tindak kekerasan aparat RI. Semenjak dideklarasikannya GAM oleh Hasan Di Tiro, Aceh selalu menjadi daerah operasi militer dengan intensitas kekerasan yang tinggi. Operasi militer intensif dilakukan oleh TNI untuk menghadapi OPM. Sebagian lagi berkaitan dengan masalah penguasaan sumber daya alam, antara perusahaan tambang internasional, aparat negara, berhadapan dengan penduduk local Adanya pembantaian terhadap tokoh masyarakat yang dituduh dukun santet.

Penembakkan misterius Petrus

1982-1985

1.678

Kasus di Timor Referendum

Timur

pra

1974-1999

Ratusan ribu

Kasus-kasus di Aceh pra DOM

1976-1989

Ribuan

Kasus-kasus di Papua

1966-..

Ribuan

Kasus Dukun Santet Banyuwangi

1998

puluhan

Kasus Marsinah

1995

Kasus Bulukumba

2003

2 orang tewas, puluhan orang ditahan dan lukaluka.

Pelaku utamanya tidak tersentuh, sementara orang lain dijadikan kambing hitam. Bukti keterlibatan (represi) militer di bidang perburuhan. Insiden ini terjadi karena keinginan PT London Sumatera untuk melakukan perluasan area perkebunan mereka, namun masyarakat menolak upaya tersebut.

Tabel II Kasus Pelanggaran HAM yang Macet di Komnas HAM dan Jaksa Agung
No 1 Kasus Talangsari Lampung Th 1989 Jumlah 803 Konteks Represi terhadap sekelompok komunitas Muslim di Lampung Tengah yang dituduh sebagai GPK ekstrim kanan Penyelesaian Komnas HAM membentuk KPP tahun 2001 dan tim pengkajian di tahun 2004 Keterangan Tim Penyelidik yang sempat disepakati pembentukannya oleh Komnas HAM, berhenti tanpa alasan. Salah seorang yang diduga paling bertanggungjawab menjabat Kepala BIN sehingga sulit tersentuh. Jaksa Agung mengembalikan lagi berkas ke Komnas HAM dengan alasan tidak lengkap. Tidak ada perkembangan lebih lanjut Jaksa Agung mengembalikan lagi berkas ke Komnas HAM dengan alasan tidak lengkap. Tidak ada perkembangan lebih lanjut. DPR menyatakan tidak terjadi pelanggaran HAM berat. Jaksa Agung mengembalikan lagi berkas ke Komnas HAM dengan alasan tidak lengkap. Tidak ada perkembangan lebih lanjut. Dpr menyatakan tidak terjadi pelanggaran

Mei 1998

1998

1.308

Kerusuhan social di Jakarta yang menjadi momentum peralihakekuasaan

Komnas HAM membentuk KPP dan hasilnya telah diserahkan ke Jaksa Agung

Semanggi I

1998

473

Represi TNI atas mahasiswa yang menolak Sidang Istimewa MPR

Komnas HAM membentuk KPP dan hasilnya telah diserahkan ke Jaksa Agung

Semanggi II

1999

231

Represi TNI atas mahasiswa yang menolak UU Negara dalam keadaan bahaya

Komnas HAM membentuk KPP dan hasilnya telah diserahkan ke Jaksa Agung

HAM berat. 5 Penembakan Mahasiswa Trisakti 1998 31 Penembakkan aparat terhadap mahasiswa Trisakti yang sedang berdemonstrasi. Merupakan titik tolak peralihan kekuasaan politik dan pemicu kerusuhan social di Jakarta dan kota besar Indonesia lainnya. Pengadilan lapangan militer bagi pelaku Vonis terlalu ringan, terdakwa hanya aparat rendah di lapangan, tidak menyentuh pelaku utama. Komnas HAM telah membuat KPP (TSS) dan telah dimajukan ke Kejaksaan Agung (2003), namun sampai sekarang belum beranjak maju. DPR menyatakan tidak terjadi pelanggaran HAM berat.

Tabel III Penanganan Kekerasan dan Konflik Komunal


No 1 Kasus Sampit Th 2001 Jumlah Korban 371 Konteks Konflis sosial antara komunitas Dayak dengan Madura di Kalimantan Tengah Konflik sosial antar komunitas Islam-Kristen di Maluku Penyelesaian Komnas membentuk KPP dan menyatakan ada pelanggaran HAM berat Keterangan Tidak ada tindak lanjut dan nasib korban diabaikan.

Ambon

1999

1775

Komnas membentuk KPP dan mediasi pada tahun 2000. Pemerin-ah membuat Deklarasi Malino II untuk upaya resolusi konflik. Pe-eintah membentuk tim pencari fakta indepen-en

Poso

1998

1039

Konflik social antara komunitas Islam-Kristen di Sulawesi Tengah

Komnas HAM membentuk tim pengkajian untuk Poso. Pemerintah membuat Deklarasi Malino

Pada tahun 2004 masih terjadi konflik. Tidak ada upaya hukum lebih lanjut. Nasib korban masih diabaikan. Komnas HAM menyatakan tidak ada pelanggaran HAM berat Komnas HAM menyatakan tidak terjadi pelanggaran HAM berat. Tidak ada proses penegakkan hukum, tidak terungkap scenario besarnya. Tahun 2004 masih terjadi kekerasan

Tabel IV Kasus Pelanggaran HAM Yang Dibawa Ke Pengadilan No Nama Kasus Tah Jumlah Konteks Penyelesaian Masalah un Korban 1 Timor Timur pasca 1999 97 Agresi TNI dan Pengadilan HAM ad hoc di Pelaku utama tidak Jajak Pendapat milisi bentuknya Jakarta,tahun 2002-2003. tersentuh, proses setelah pengadilan yang referendum tidak kompeten, menunjukkan banyaknya putusan mayoritas bebas bagi perwira penduduk militer, vonis TimTim terlalu ringan, dan menghendaki tidak ada reparasi merdeka. buat korban. Pemerintah Timor Leste dan RI sedang melakukan rekonsiliasi dan tidak mempersoalkan lebih lanjut Kasus ini sedang disorot di tingkat internasional (PBB) dengan kemungkinan digelarnya pengadilan HAM internasional 2 27 Juli 1996 1996 1.317 Penyerbuan Pengadilan koneksitas, tahun Vonis hanya kantor PDI 2002. kepada warga sipil, sebagai bentuk tidak ada pejabat intervensi negara militer yang terhadap PDI di dihukum, tidak bawah pimpinan menyentuh pelaku Megawati utama, dan tidak ada reparasi bagi korban. 3 Penculikan Aktivis 1998 23 Penculikkan dan Pengadilan militer bagi pelaku Vonis rendah, 1998 penghilangan lapangan (Tim Mawar) dan pengadilannya paksa bagi aktivis Dewan Kehormatan Perwira ekslusif, tidak pro demokrasi bagi beberapa jendral menyentuh pelaku oleh TNI utama, dan sebagian aktivis masih tidak diketahui keberadaannya

Penembakan Mahasiswa Trisakti

1998

31

Aberpura, Papua

2000

63

Peristiwa Tanjung 1984 Priok

74

Penembakkan Pengadilan militer bagi pelaku Vonis terlalu aparat terhadap lapangan ringan, terdakwa mahasiswa hanya aparat Trisakti yang rendah di lapangan, sedang tidak menyentuh berdemonstrasi. pelaku utama. Merupakan titik Komnas HAM tolak peralihan telah membuat KPP kekuasaan politik (TSS) dan telah dan pemicu dimajukan ke kerusuhan social Kejaksaan Agung di Jakarta dan (2003), namun kota besar sampai sekarang Indonesia lainnya. belum beranjak maju. DPR menyatakan tidak terjadi pelanggaran HAM berat. Penyisiran secara Sampai seka-rang masih di- Terdakwa hanya membabi buta gelar Pengadilan HAM di aparat lapangan dan dilakukan dengan Makassar ditolakknya alasan pengejaran gugatan reparasi terhadap dari korban kelompok yang melakukan penyerangan ke Mapolsek Abepura pada tanggal 6 Desember 2000 Represi terhadap Pengadilan HAM ad hoc di Vonis terlalu massa yang Jakarta, tahun 2003-2004 ringan, ada vonis berdemonstrasi bebas, tidak menolak asas menyentuh pelaku tunggal Pancasila utama, intimidasi di Jakarta selama persidangan dan reparasi yang tidak memadai bagi korban

Tabel V Kasus Pelanggaran HAM di Aceh 1989-98 hingga 2004-10-21 No Nama Kasus Tahun Jumlah Konteks Penyelesaian Korban 1 DOM Aceh 19896.837 Operasi militer guna menumpas GPK di Terbentuknya Tim 1998 bawah pimpinan Tgk. Hasan di Tiro. pada Pencari Fakta (TPF) tiga kabupaten; Aceh Utara, Aceh Timur untuk kasus DOM. dan Pidie.

Simpang KKA

1999

200

Gedung KNPI 1999 kekerasan dalam operasi Wibawa

73

Pembantaian Tgk 1999 Bantaqiah dan santrinya.

57

5 6

Pembantaian Cut Bumi Flora

Idi 1999 2001

28 37

Kasus RATA

Activist 2000

Operasi Rajawali

2001

1216.

Darurat Militer I 2003dan II 2004

1.326

Aparat TNI menem-baki masyarakat yang Presiden BJ Habi-bie sedang berdemon-strasi di Kecamatan mengeluarkan Dewantara, Aceh Utara Keppres No. 88/1999 tentang Komisi Independen Pengusutan Tindak Kekerasan di Aceh (KIPTKA) Operasi Wibawa yang di gelar untuk Pengadilan militer di mencari sejumlah aparat keamanan yang Banda Aceh dikhabarkan diculik oleh orang tak dikenal serta memburu Ahmad Kandang ( seorang anggota GAM ) di Lhoksumawe. Penyerbuan aparat TNI ke pesantren Tgk. Presiden BJ Habi-bie Bantaqiah seorang ulama yang kritis- di mengeluarkan Beutong, Aceh Barat Keppres No. 88/1999 tentang Komisi Independen Pengusutan Tindak Kekerasan di Aceh (KIPTKA) kemudian dilanjutkan dengan pengadilan koneksitas. Pelakunya menghilang Massa yang pulang dari ceramah agama Keppres No. 88/1999 di desa Idi Cut, Aceh Timur tentang (KIPTKA) Pembantaian aparat terhadap karyawan Komnas telah PT Bumi Flora dengan alas an mencari membentuk GAM Langsa, Aceh Timur. KPP,belum ada tindak lanjut. Aparat Polres melakukan sweeping di Di tanggani oleh depan Makoramil Tanah Luas, Aceh Polda Aceh dan Utara. Kejadian pada saat masa Jeda Pomdam I/Bukit Kemanusiaan II Barisan, Komnas membentuk KPP, belum ada tindak lanjut Tentang langkah komperhensif dalam tidak ada menyelesaikan masalah Aceh berdasarkan Inpres No 4/2001 di tengah-tengah Jeda Kemanusiaan. Kegagalan perun-dingan damai antara RI Sejumlah anggota dan GAM direspon dengan kebijakan TNI rendah dihudarurat militer kum. Statusnya diturunkan menjadi Darurat Sipil sampai sekarang

No.

1.

2.

Tabel VI Kasus-kasus Pelanggaran HAM di Papua Pasca 1998 Kasus Thn Jumlah Konteks Korban Kimaam 2001 18 orang Peristiwa lapangan maskura adalah puncak kulminasi dari kekecewaan, kemarahan dan ketidak puasan masyarakat akan kondisi mereka dan ketidak pedulian pemerintah atas hak-hak masyarakat. Pembunuhan diluar 10 2 orang - Pada pertengahan tahun prosedur hukum Novemb 2000 hingga Mei 2001, terhadap Theys er 2001 mengacu pada dokumen Hiyo Eluay dan rahasia milik Depdagri, penghilang orang telah dilaksanakan sacara paksa serangkaian operasi terhadap Aristoteles pengkondisian wilayah, Masoka operasi pengembangan jaringan komunikasi dan operasi diplomasi. Dokumen Depdagri tentang Rencana Operasi Pengkondisian Wilayah dan Pengembangan Jaringan komunikasi dalam menyikapi arah politik Papua untuk merdeka dan melepaskan diri dari NKRI - Theys adalah ketua PDP yang saat itu berada pada garda depan penolakan terhadap Otonomi Khusus

Penyelesaian Belum ada respon Dari Komnas HAM

Keterangan

- Kasus Theys di selidiki oleh berbagai tim penyelidik, tim dari Polda Papua, Mabes Polri, Puspom dan KPN bentukan Presiden Megawati. Kasus ini akhirnya dianggap sebagai pidana militer sehingga diadili di Mahkamah Militer tinggi di Surabaya. - Kasus hilangnya aristoteleas Masoka (sopir Theys) yang terjadi pada malam yang sama saat terbunuhnya Theys, sampai saat ini belum diungkap. Laporan ke Komnas Ham telah dilakukan oleh Keluarga Korban namun belum ada tindak lanjut dari Komnas HAM hingga oktober 2004 ini.

Letkol (Inf) Hartomo (Dansatgas Kopassus Tribuana Papua), divonis hukuman 3 tahun 6 bulan penjara dan diberhentikan dari dinas militer. terdakwa II dan III yakni Kapten (Inf) Rionardo dan Sertu Asrial dijatuhi hukuman 3 tahun penjara. Terdakwa IV, Praka Ahmad Zulfahmi, divonis 3 tahun 6 bulan penjara. Dan dipecat dari dinas militer.

3.

Wasior AprilOktober 2001

117 orang

Masyarakat menuntut ganti rugi atas tanah adat termasuk kayu-kayunyayang dikuasai perusahaan penebangan kayu PT Dharma Mukti Persada. Tuntutan masyarakat tidak dipedulikan oleh pihak perusahaan yang di backup oleh anggota brimob. - Operasi Tumpas 2001

berkas KPP HAM telah diserahkan ke-kejaksaan Agung 2004

4.

Abepura

2000

63 orang

Penyisiran secara membabi buta dilakukan dengan alasan pengejaran terhadap kelompok yang melakukan penyerangan ke Mapolsek Abepura pada tanggal 6 Desember 2000. Selain penyerangan tersebut, kelompok tak dikenal tersebut kemudian membakar sebuah toko yang terletak di pusat kota Abepura. Terapat dua anggota Brimob dan satu orang Satpam tewas.

5.

kekerasan terhadMasyarakat di Wamena

ap 2003

16 orang

Aparat kepolisian dari kesatuan Brimob Polda Papua menangkap dan melakukan penyiksaan terhadap mahasiswa asal Pegunungan Tengah yang dianggap mendukung penyerangan tersebut. Padahal kelompok mahasiswa Penyisiran secara membabi berkas KPP HAM dengan buta dilakukan dengan telah diserahkan munculnya alasan pengejaran ke-kejaksaan kasus kelompok OPM yang Agung 2004 pembobolan melakukan pembobolan gudang senjata gudang senjata pada 4 April di Wamena, 2004. Kopassus kembali masuk ke Papua. Sebelumnya Kopassus ditarik dari papua paska terbongkarnya Kasus Theys HE.

Kasusnya sedang di sidangkan di pengadilan HAM Makasar.

Sumber :KontraS

Hambatan Penegakan HAM a.Faktor kondisi social-budaya 1.Strfikasi dan status social; yaitu tingkat pendidikan, usia, pekerjaan, keturunan, dan ekonomi masyarakatIndonesia yang multi kompleks (heterogen) 2.Norma adat atau budaya local kadang bertentangan dengan HAM, terutama jika sudah bersinggungandengan kedudukan seseorang, upacara-upacara sacral, pergaulan, dan sebagainya 3.Masih adanya konflik horizontal di kalangan masyarakat yang hanya disebabkan oleh hal-hal sepele b.Faktor komunikasi dan informasi 1.Letak geografis Indonesia yang luas dengan luas, sungai, hutan, dan gunung yang membatasi komunikasiantardaerah 2.Sarana dan prasarana komunikasi dan informasi yang belum terbangun secara baik yang mencakup seluruhwilayah Indanesia3) 3.Sistem informasi untuk kepentingan sosialisasi yang masih sangat terbatas baik sumberdaya manusianyamaupun perangkat ( software dan hardware) c.Faktor kebijakan pemerintah 1.Tidak semua penguasa memiliki kebijakan yang sama tentang pentingnya jaminan hak asasi manusia 2.Ada kalanya demi kepentingan stabilitas nasional, persoalan hak asasi manusia sering diabaikan 3.Peran pengawasan legislative dan control social oleh masyarakat terhadap pemerintah sering diartikan oleh penguasa sebagai tindakan pembangkangan`

d.Faktor perangkat perundangan 1.Pemerintah tidak segera meratifikasikan hasil-hasil konvensi internasional tentang hak asasi manusia 2.Kalaupun ada, peraturan perundang-undangan masih sulit untuk diimplementasikan E. Faktor aparat dan penindakannya (Law Enforcement ) 1.Masih adanya oknum aparat yang secara intitusi atau pribadi mengabaikan prosedur kerja yang sesuaidengan hak asasi manusia 2.Tingkat pendidikan dan kesejahteraan sebagian aparat yang dinilai masih belum layak sering membukapeluang `jalan pintas` untuk memperkaya diri 3.Pelaksanaan tindakan pelanggaran oleh oknum aparat masih diskriminatif, tidak konsekuen, dan tindakanpeyimpangan berupa KKN (korupsi, kolusi, dan Nepotisme)