Anda di halaman 1dari 6

A. Definisi Umum Komoditi ini merupakan pendatang baru yang masuk ke wilayah Indonesia.

Komoditi dengan bagian buah yang berwarna merah dan bersisik hijau ini masuk sebagai komoditi impor pada tahun 2001. Dewasa ini, banyak masyarakat Indonesia membudidayakannya sekaligus menjadikannya sebagai peluang usaha yang menjanjikan. Hal ini didukung oleh keberadaan Indonesia yang termasuk dalam wilayah tropis, sama seperti tempat komoditi ini berasal. 1. Sejarah Perkembangan Pitaya atau Pitahaya atau lebih dikenal dengan sebutan Buah Naga (Hylocereus sp.) merupakan komoditi yang berasal dari Mexico, Amerika Tengah dan Amerika Utara. Penduduk tempat komoditi ini berasal sering memanfaatkan komoditi ini sebagai buah yang dikonsumsi secara segar di meja hidangan. Akan tetapi dalam perkembangannya, komoditi ini dikenal sebagai tanaman dari Asia karena sudah dikembangkan secara besar-besaran, terutama di wilayah Vietnam dan Thailand. Gambar 1. Hylocereus undatus Menurut Emil (2011), sejarah mencatat bahwa pada tahun 1800-an, orang http://upload.wikimedia.org/wikipedia/c Perancis membawa tanaman ini dari ommons/thumb/4/43/Pitaya_cross_secti wilayah asalnya ke Vietnam sebagai on_ed2.jpg/220pxtanaman hias. Hal ini didukung dengan Pitaya_cross_section_ed2.jpg bentuk batangnya yang segitiga dan berduri pendek dan memiliki bunga yang indah mirip dengan buang Wijayakusuma berbentuk corong dan muai mekar pada saat senja dan mekar sempurna pada malam hari. Tidak hanya itu, asal nama Buah Naga pun berasal dari wilayah Asia, tepatnya di Cina. Masyarakat Cina kuno sering menyajikan komoditi ini di atas sebuah patung dua ekor naga yang dipercaya mampu mendatangkan berkah. Klasifikasi Buah Naga Divisi : Spermatophyta (tumbuhan berbiji)Subdivisi : Agiospermae (berbiji tertutup) Kelas : Dicotyledonae (berkeping dua) Ordo : Cactales Famili : Cactaceae Subfamily : Hylocereanea Genus : Hylocereus Species : - Hylocereus undatus (daging putih) - Hylocereus polyrhizus ( daging merah) - Hylocereus costaricensis (daging merah super) - Selenicereus megalanthus (kulit kuning, tanpa sisik)

2.

Gambar 2. Hylocereus polyrhizus http://epetani.deptan.go.id/sites/default/fil es/buah%20naga.jpg?1325840537

Gambar 3. Hylocereus costaricensis http://www.mobot.org/MOBOT/Resea rch/gallery/Image/cact2f.jpg

Gambar 4. Selenicereus megalanthus http://pics.davesgarden.com/pics/2009/0 5/10/Faites777/6a0df7.jpg 3. Morfologi Buah Naga Tanaman Buah Naga termasuk ke dalam kelompok tanaman kaktus atau famili Cactaceae dan subfamili Hylocereanea. Termasuk ke dalam genus Hylocereus yang terdiri dari beberapa spesies dan di antaranya adalah buah yang biasa dibudidayakan dan bernilai komersial. Berikut penjelasan lebih lanjut mengenai morfologi dari Tanaman Buah Naga: a. Akar Perakaran buah naga bersifat epifit, merambat dan menempel pada tanaman lain. Dalam pembudidayaannya, dibuat tiang penopang untuk merambatkan batang tanaman buah naga ini. Perakaran buah naga tahan terhadap kekeringan tetapi tidak tahan dalam genangan air terlalu lama. Meskipun akar dicabut dari tanah, masih bisa hidup dengan menyerap makanan dan air dari akar udara yang tumbuh pada batangnya. Perakaran buah naga bisa dikatakan dangkal, saat menjelang produksi hanya mencapai kedalaman 50-60 cm, mengikuti perpanjangan batang berwarna coklat yang di dalam tanah. Hal inilah yang biasa digunakan sebagai tolak ukur dalam pemupukan. Agar pertumbuhan akar normal dan baik, diperlukan derajat keasaman tanah pada kondisi ideal yaitu pH 7. Apabila pH tanah dibawah 5, pertumbuhan tanaman akan menjadi lambat dan menjadi kerdil. Dalam pembudidayaannya pH tanah harus diketahui sebelum maupun sesudah tanaman ditanam, karena perakaran merupakan faktor penting untuk menyerap hara yang ada didalam tanah. b. Batang dan Cabang Batang buah naga berwarna hijau kebiru-biruan atau keunguan. Batang tersebut berbentuk siku atau segitiga dan mengandung air dalam bentuk lender dan berlapiskan lilin bila sudah dewasa. Dari batang ini tumbuh cabang yang bentuk dan warnanya sama dengan batang dan berfungsi sebagai daun untuk proses asimilasi dan mengandung kambium yang berfungsi untuk pertumbuhan tanaman. Pada batang dan cabang tanaman ini tumbuh duri-duri yang keras dan pendek. Letak duri pada tepi siku-siku batang maupun cabang dan terdiri 4-5 buah duri disetiap titik tumbuh. Bunga Bunga buah naga berbentuk corong memanjang berukuran sekitar 30 cm dan akan mulai mekar di sore hari dan akan mekar sempurna pada malam hari. Setelah mekar warna mahkota bunga bagian dalam putih bersih dan didalamnya terdapat benangsari berwarna kuning dan akan mengeluarkan bau yang harum. Buah Buah berbentuk bulat panjang dan biasanya terletak mendekati ujung cabang atau batang. Pada cabang atau batang bias tumbuh lebih dari satu dan terkadang berdekatan. Kulit buah tebal sekitar 1-2 cm dan pada permukaan kulit buah terdapat sirip atau jumbai berukuran sekitar 2 cm.

c.

d.

e.

Biji Biji berbentuk bulat berukuran kecil dan tipis tetapi sangat keras. Biji dapat digunakan perbanyakan tanaman secara generatif, tetapi cara ini jarang dilakukan karena memerlukan waktu yang lama sampai berproduksi. Biasanya biji digunakan para peneliti untuk memunculkan varietas baru. Setiap buah mengandung lebih 1000 biji.

4.

Kandungan Nutrisi Buah Naga Berikut adalah tabel mengenai kandungan nutrisi dari Buah Naga menurut Kandungan Kadar Gula Air Karbohidrat Asam Protein Serat Kalsium Fosfor Magnesium Vitamin C Jumlah Kandungan 13-18 briks 90% 11,5 gr 0,139 gr 0,53 gr 0,71 gr 134,5 mg 8,7 mg 60,4 mg 9,4 mg

Tabel.1 Kandungan Nutrisi Buah Naga (Luders, 1999) 5. Budidaya Buah Naga a. Secara Generatif Perbanyakan generatif melalui biji memiliki kelebihan yaitu bibit yang diperoleh dalam jumlah banyak dengan pertumbuhan yang seragam. Namun kelemahan perbanyakan dengan cara ini ialah dibutuhkan waktu relatif lebih lama hingga diperoleh bibit yang siap tanam. Karena itulah cara ini jarang digunakan (Kristanto, 2002). Perbanyakan melalui biji tentunya membutuhkan biji yang berkualitas baik dan harus benar-benar memenuhi syarat yang berasal dari buah yang benarbenar sehat, tua, dan matang dipohon. Pengambilan biji dari buah juga tidak boleh sembarangan untuk memperoleh kualitas biji yang baik. Buah yang sudah dipilih dibelah dan daging uah diambil menggunakan sendok lalu biji disaring dengan penyaring yang lembut terbuat dari kasa berlubang dari bahan plastik atau kawat nyamuk berbentuk seperti saringan the. Daging buah ditekan-tekan pada penyaring sampai tertinggal bijinya saja, biji yang sudah disaring dicuci/dibersihkan dengan air mengalir lalu diangin-anginkan sampai kering. Biji tersebut bias disimpan atau langsung disemaikan di tempat penyemaian. Menurut pengalaman hanya 75% saja dari jumlah biji yang disemaikan yang siap tanam. Jadi dari 1000 biji hanya diperoleh sekitar 750 an yang siap tanam. Untuk lahan satu hektar dengan sistem penanaman double rawing membutuhkan sekitar 10.000 bibit siap tanam, dan untuk menyemaikan membutuhkan lahan 15 meter persegi. Media semai menggunakan bahan campuran pasir, humus halus, dan pupuk guano atau kotoran burung yang sudah dihaluskan dengan perbandingan 6:1:1. Media tersebut setelah dibasahi dengan air kemudian dimasukkan dalam bok dengan tinggi kurang dari 5 cm dengan ukuran panjang dan lebar sesuai keinginan. Sebelum ditebarkan pada media semai biji dikukus dulu dengan dibungkus dengan kain halus selama kurang lebih setengah menit. Penyebaran benih secara merata kemudian ditutup dengan lapisan humus tipis setelah itu

permukaan disemprot dengan Ridomil kemudian diletakkan ditempat yang terkena cahaya dan sirkulasi udara lancar. Tempat persemaian diberi naungan teduh dengan pencahayaan remang sampai bibit tumbuh sekitar 3 cm. Kelembaban media harus selalu dijaga jangan sampai penyiramannya terlambat. Pemberian dengan air dengan sprayer halus setiap hari saat medianya terlihat kering. Untuk mencegah tumbuhnya jamur bias ditambahkan larutan belerang yang diberikan pada waktu-waktu tertentu, karena jamur akan mudah tumbuh di kelembaban media tinggi. Dosis larutan belerang sebanyak 0,5 g/ltr air untuk persemaian seluas 4 meter persegi. Larutan belerang bisa diganti dengan Dithane atau Ridomil dengan dosis sama seminggu sekali. Setelah bibit berukuran 2-3 cm, bisa dipindahkan dalam polibag berukuran 15 cm x 20 cm dengan media tanam menggunakan campuran tanah, pasir, dan pupuk kandang dengan perbandingan yang sama 1:1:1. Media tanam diberi pupuk NPK 16:16:16 sebanyak 5 kg/200 ltr air untuk sekitar 10.000 polibag. Setelah ditanam, bibit disemprot dengan Ridomil dicampur dengan Atonik seminggu sekali dengan dosis 15 g Ridomil dan 5 cc Atonik yang dilarutkan dalam 10 liter air untuk areal bibit seluas 15 meter persegi. Penyemprotan ini bertujuan untuk mencegah jamur dan menjaga metabolisme bibit. Bibit dalam polibag diletakkan ditempat yang teduh selama seminggu kemudian dipindahkan di lahan terbuka tetapi jangan ditanam dulu. Bibit disiram dengan air secukupnya sehari sekali pada pagi atau sore hari. Setelah dua bulan bibit siap ditanam dilahan penanaman. b. Secara Vegetatif Perbanyakan vegetatif merupakan perbanyakan menggunakan setek cabang atau batang. Batang atau cabang yang digunakan harus dalam kondisi sehat, tua, dan sudah berbuah, berwarna hijau gelap kelabu, dengan ukuran ideal 20-30 cm. melalui ukuran tersebut tunas yang tumbuh akan mudah membesar dan sesuai untuk batang paling bawah bila ditanam untuk produksi. Karena setek diambil dari batang yang tua dan sudah berbuah maka pertumbuhan yang pesat, kokoh dan cepat bertunas. Apabila setek diambil dari batang muda dan belum pernah berbuah atau setek susulan akan mengakibatkan bibit bersifat lunak seolah memiliki kadar air yang tinggi dan akan mempengaruhi umur produksi dan tentunya akan mengakibatkan pembengkakan biaya karena waktu pemeliharaan yang lebih lama (Kristanto, 2002). Bibit yang baik dipengaruhi oleh diameter batang, akan lebih baik bila diameter batang semakin besar dan bibit cenderung lebih tahan terhadap serangan penyakit busuk pangkal batang. Bahan setek dipilih dari yang pernah berbuah 3-4 kali dan sehat dipotong-potong dengan ukuran 20-30 cm menggunakan gunting steril dan untuk membedakan bagian bawah dan atas, untuk bagian bawah dipotong meruncing dan bagian atas dipotong mendatar. Setelah dipotong, setek dikeringanginkan sampai getah mongering supaya batang tidak mudah busuk. Setelah kering, bagian pangkal batang dicelupkan dalam larutan Rootone F ( campuran 3 sendok Rootone F dan 2 sendok the air ). Pemberian Rootone F berguna untuk mempercepat perakaran. Bedengan sebagai penanaman bibit dibuat dengan ukuran tinggi 15 cm dan lebar 100cm, untuk panjang bisa disesuaikan dengan keadaan lahan. Pada bedengan ini diberikan pasir sebanyak 10 kg/meter persegi, pupuk kandang kering sebanyak 3 kg/meter persegi, dan dolomite sebanyak 250g/meter persegi. Diatas permukaan diberikan pupuk NPK sebanyak 50g/meter persegi kemudian permukaan bedengan diaduk merata sedalam 10-15 cm lalu diratakan dan biarkan selama semalam. Setelah itu pada bedengan dibuatkan lubanglubang tanam berukuran 20 cm x 20 cm dengan menggunakan tugal berdiameter 4 cm. Kedalaman lubang tanam 5 cm dan terdapat 16 lubang tanam setiap 1 meter persegi. Selanjutnya setek ditanam pada lubang tanam yang sudah dibuat dengan posisi tegak. Setelah ditanam seluruhnya bedengan diberikan naungan dari

plastik bening/tembus cahaya untuk mencegah terkena air hujan. Tindakan perawatan dilakukan penyiraman 2-3 kali sehari pada pagi atau sore hari. Setelah tiga minggu, setek akan mulai berakar, dan naungan dari plastik bisa dibuka agar terkena sinar matahari langsung. Setelah dua minggu naungan dibuka, bibit sudah tumbuh tunas cabang dapat diberikan pupuk ZA, TSP, dan KCI dengan perbandingan 1:1:1. Pupuk tersebut ditaburkan dalam larikan sedalam 3 cm dengan dosis 100g/mtr persegi/bulan. Sering terjadi tumbuh tunas lebih dari satu secara bersamaan, dipilih satu tunas cabang yang berbentuk kokoh dan lebih besar, sedangkan tunas satunya dipotong dan jika mucul tunas lagi juga segera dipotong. Pemangkasan selalu dilakukan selama bibit belum ditanam pada lahan, sebaiknya bekas luka pangkas disemprot larutan fungisida.. Dengan demikian keseragaman bibit akan terjamin. Selain menggunakan bedengan, bibit setek juga bisa dibesarkan pada polibag ukuran 15 cm x 20 cm dengan komposisi media tanam sama dengan yang digunakan pada bedengan. Perawatan juga hampir sama dengan bibit yang ditanam pada bedengan.

B. Pohon Industri Sampai saat ini, dari tanaman Buah Naga, baru bagian buahnya saja yang dimanfaatkan terutama dalam produk olahannya. Tanaman Buah Naga

Akar

Batang

Buah

Bunga

Biji

Daging Buah

Selai

Sup

Puding

Jelly

Dodol

Permen

Pewarna

C. Data Terkait untuk Bussiness Plan Berikut adalah contoh perhitungan analisa ekonomi salah satu produk olahan buah naga: Analisa Ekonomi Permen Buah Naga (Dragon Candy) 1. Pengeluaran a. Bahan Dragon Candy Buah Naga Merah Buah Naga Putih Gula Pasir Gelatin Glukosa

5 kg/bulan x Rp 35.000,-/kg 5 kg/bulan x Rp 30.000,-/kg 58 kg/bulan x Rp 12.000.-/kg 15 kg/bulan x Rp 140.000,-/kg 15 kg/bulan x Rp 7.500,-/kg

= Rp 00175.000,= Rp 00150.000,= Rp 00696.000,= Rp 2.100.000,= Rp 00112.500,-

Citrid Acid Buffer sitrat Natrium benzoat Icing Sugar Mineral Jumlah b. Tenaga Kerja Karyawan Total Pengeluaran

kg/bulan x Rp 10.000,-/kg kg/bulan x Rp 38.000,-/kg 1 ons/bulan x Rp 10.000,-/kg 10 kg x Rp 10.000,-/kg 1 galon x Rp 15.000,-/gallon

= Rp 00005.000,= Rp 00009.500,= Rp 00001.000,= Rp 00100.000,= Rp 15.000,- + = Rp 3.364.000,-

4 orang x Rp. 450.000,Rp 1.800.000,- + Rp 3.364.000,-

= Rp 1.800.000,= Rp 5.164.000,-

2.

Pemasukan a. Omset Penjualan Dragon candy 2400 x Rp 3.000,b. Keuntungan Rp 7.200.000,- - Rp 5.164.000,-

= Rp 7.200.000,-

= Rp 2.036.000,

D. Daftar Pustaka Emil, S. 2011. Untung Berlipat dari Bisnis Buah Naga Unggul. Yogya; Lily Publisher. Kristanto, D. 2002. Buah Naga: Pembudidayaan di Pot dan Di Kebun. Depok: PS. Luders, L. 1999. The Pitaya (Dragon Fruit): Agnote no.778d42. Australian Department of Primary Industry and Fisheries.