Anda di halaman 1dari 11

BUNG KARNO, BAPAK PROKLAMATOR KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA

Hari ini 80 tahun yang lalu lahirlah : 6 Juni 1901 6 Juni 1981 BUNG KARNO, BAPAK PROKLAMATOR KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA Oleh : T .A. Sakti. Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Jakarta, 17 8 1945 Atas nama bangsa Indonesia Soekarno Hatta. BUNG Karno adalah Presiden Pertama negara kita; Republik Indonesia. Beliau Bapak

Proklamator. Namanya cukup harum diseantero dunia. Mengapa sampai seharum itu?. Karena beliau punya kelebihan tertentu yang di berikan Allah SWT. Kini, ia telah tiada. Pergi buat selamanya. Tapi jasa dan bakti buat negara dan rakyat negara ini tetap bersemi dan jadi kenangan abadi bagi kita semua. Hidupnya penuh pengorbanan demi ibu pertiwi. 13 tahun masuk penjara (termasuk pembuangan) kolonial Belanda, gara-gara memperjuangkan kemerdekaan Tanah Air dari belenggu penjajahan. Sifatnya dalam berjuang tak kenal menyerah; patut jadi tauladan bagi rakyat Indonesia, generasi sekarang maupun generasi mendatang dari penghuni republik ini/. Bung Karno lahir pada tgl. 6 Juni 1901, tepat 80 tahun yang lalu. Putra dari Raden Sukemi Sosro Dihardjo dan Ibu Ida Njoman Rai ini, lahir di saat ummat muslimin hendak melaksanakan shalat shubuh, karena itulah Bung Karno sering pula mendapat julukan; Putra Sang Fajar. Bila kita teliti keturunan beliau selanjutnya, ternyata Bung Karno merupakan cicit Raden Ayu Serang, yang berperang sebagai pahlawan wanita Islam bersama Pengeran Diponegoro melawan

Belanda. Raden Ayu Serang termasuk cicit pula dari Sunan Kalijaga dari kelompok wali songo nan Sembilan. ini fakta sejarah. Masa Pendidikan Surabaya sebagai kota kelahiran Kusno Sosro Soekarno (nama kecil) tidak berapa lama ia menetap di sana. Ketika umur 6 tahun Soekarno bersama keluarganya pindah ke Mojokerto. Sejak kecil Putra Sang Fajar ini telah menampakkan tanda-tanda, bahwa ia akan menjadi orang besar di kemudian hari. Dalam kelompok kawan sepermainan, Karno Cilik sering ditabalkan sebagai ketua. Betapa tidak/, bila panjat pohonpun ia juga yang paling jagoan. Dari Mojokerto Soekarno dijemput embahnya Raden Hardjodikromo untuk tinggal bersamanya di desanya. Orang tua ini sangat sayang kepada si cilik yang sangat lincah itu. Koesno Sosro Soekarno dimasukkan oleh embahnya ke sekolah desa di Tulungagung. Pelajaran yang paling disukainya adalah ilmu sejarah. Setelah tamat dari sekolah desa, ia masuki sekolah rendah berbahasa Belanda Europeesche lagere School dan duduk di kelas lima. Guna bersekolah di tingkat menengah Soekarno terpaksa terpisah dengan keluarganya. Dan pindah kembali ke Surabaya tempat ia dilahirkan, menempati rumah teman akrab dari ayahnya; H.O.S Cokroaminoto. Di Surabaya ia memasuki H.B.S (Hogere Burger School) yang bagi masa itu hanya dapat dimasuki oleh sebagian kecil rakyat Bumi Putra saja. Melihat kepada kegiatan Soekarno sehari-hari selama di Surabaya, semua orang jadi tertarik dengannya, termasuk tokoh Syarikat Islam; HOS Cokroaminoto. Beliau terlalu sayang kepada Soekarno yang masih muda belia. Kemana saja HOS Cokroaminoto berpidato untuk menggerakkan semangat perjuangan rakyat untuk menghapus penjajahan Belanda; beliau membawa pemuda tampan itu bersamanya. Dan kadang-kadang pula, bila Pak Cokro tak dapat hadir pada suatu undangan beliau mewakilkan pada Soekarno untuk pidato di sana. Begitulah kepercayaannya untuk dia. Pada akhirnya Soekarno sendiri mengawini Utari, anak perempuan dari pejuang Islam itu; tapi hanya berlangsung selama beberapa tahun saja. Setelah menamatkan HBS, ia melanjutkan studinya di Bandung. Ia memasuki Fakultas Teknik Sipil (Technische Hoogescholl-ITB sekarang). Selama jadi mahasiswa di Bandung, Soekarno telah memulai kariernya di bidang politik. Karena rajin membaca, ia dapat menguasai bermacam bidang ilmu.

Masa perjuangan

Perguruan Tinggi yang dimasukinya tahun 1921, telah memberi kesempatan pada Bung Karno bagi memperluas horizon pemikirannya. Tahun 1926, titel Insinyur dapat diraihnya dengan sukses. Sebagaimana telah penulis sebutkan tadi, bahwa selama di HBS Bung Karno Indekost dirumah Haji Oemar Said Cokroaminato. Semua kegiatan tokoh perjuangan yang berlandaskan Islam ini, diamati sepenuhnya oleh Bung Karno. Hal ini beliau akui seperti tulisannya: Tuhan adalah bermurah hati kepada saya, Pada waktu aku masih muda diberiNyalah kepadaku pemimpinpemimpin yang utama, Cokroaminoto, Cipto Mangunkusumo, Ahmad Dahlan, F.E Doewes Dekker (kemudian bernama Setiabudhy), Sneevliet dan lain-lain, semua mereka terutama sekali Cokroaminoto termasuklah salah seorang guru saya yang amat saya hormati. Kepribadiannya menarik saya pula, dan Islam ismenya menarik saya pula, oleh karena tidak sempit perpaduan pengaruh pemimpin-pemimpin tersebut kepada jiwa saya, membuatlah saya berpandangan politik sebagai sekarang ini. Pernah saya tuliskan, bahwa saya ini campuran daripada keagamaan, nasionalisme dan sosialisme. Pada saat menulis kalimat ini, pikiranku tertuju pada mereka itu. Moga-moga Tuhan memberikan tempat yang sebaik-baiknya kepada mereka di akhirat. Pada saat saya menyatakan hormat dan terima kasih kepada Cokroaminoto, saya tidak mau melupakan ibu Cokro, yaitu isteri Pak Cokro, seorang wanita yang sungguh luas hati dan luhur budi. Beliau pun meninggalkan kesan yang dalam di kalbu saya ini. Moga-moga beliaupun diberi tempat yang baik oleh Tuhan dialam baka. Amin!, demikian doa Bung Karno kepada orang yang telah menanam budi pada beliau. Pernyataan Bung Karno dapat kita baca dalam buku: Cokroaminoto, Hidup dan Perjuangannya, yang dengan menjelaskan kepada kita bahwa pengakuan bertanggal 2 Mei 1951 ; 30 puluh tahun yang lalu. Sebagai tokoh politik yang radikal dimasa itu, rumah Cokroaminoto adalah tempat berkumpul tokoh-tokoh politik dari bermacam aliran. Kerumah Cokroaminoto sering berkunjung antara lain; Haji Agus Salim, Alimin, Tokoh organisasi pemuda Islam, organisasi kebangsaan dst. Dari perembukan ahli-ahli politik tersebut, Bung Karno yang masih muda itu dapat menarik berbagai siasat dalam permainan politik. Selain bergaul dengan tokoh-tokoh pergerakan nasional di Tanah Air, Bung Karno sangat rajin pula membaca pikiran-pikiran dari tokoh politik luar negeri. Ucapan mereka sering kali menjadi bahan pidato atau tulisan dari beliau. Tentang cinta tanah air, Bung karno pernah mengutip ucapan Karamchand Gandhi sbb: Buat saya, maka cinta saya kepada tanah air itu, masuklah dalam cinta pada segala manusia. Saya ini orang patriot, oleh karena saya manusia dan berbicara manusia, saya tidak mengecualikan siapa juga. Sejumlah negarawan dunia dikagumi Bung Karno. Pidato-pidato Jean Jaures dari Prancis selalu dikutipnya melalui radio. Nama-nama tokoh pergerakan kemerdekaan dan pembangunan dari luar negeri yang jadi sebutannya, baik dalam tulisannya di koran dan majalah adalah seperti: Jawaharlal Nehru (India), Ibnu Saud

(Arab), Benjamin Franklint (USA), Kamal Attaturk (Turki), Amir Ali, Syaukat Ali, Ali Jinnah (ketiganya dari Pakistan), Syeich Muhammad Abduh, dan Jamaluddin Al-Afghani dari Mesir. Kesimpulannya : semua kampiun yang menggerakkan pembaharuan didunia dikenal Soekarno secara dekat melalui tulisan-tulisan mereka. Bung Karno termasuk orang yang paling rajin membaca. Semua hasil bacaan itu dituangkan kembali melalui mass media, untuk membangkitkan semangat perjuangan rakyat menentang Belanda. Bung karno sifatnya gandrung persatuan. Dalam setiap pidato dikobarkannya rasa persatuan dari rakyat diseluruh kepulauan Nusantara. Kita semua mengetahui, bahwa dimasa penjajahan Belanda rakyat di negara kita belum bersatu seperti sekarang. Mereka saling berpisah menurut daerah asalnya. Belanda sangat takut pada persatuan mereka itu. Bung Karnolah salah seorang yang turut berjasa mempersatukan seluruh rakyat dari Sabang sampai Meroke. Dengan pidato Bung Karno yang berapi-api dapat meruntuhkan sikap kedaerahan rakyat. Sebagai pahlawan kemerdekaan Bung karno banyak mengalami penderitaan. Berkali-kali masuk penjara kolonial Belanda. Diasingkan ke Ende Flores 4 tahun, ke Bengkulu selama 4 tahun juga, sampai Jepang masuk. Tanggal 17 Agustus 1945 Bung Karno bersama Bung Hatta atas nama bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Atas kemauan rakyat Bung Karno diangkat sebagai Presiden Pertama Republik Indonesia. Demikian riwayat ringkas hidup dan perjuangan Bapak Proklamator Republik Indonesia sebagai buah renungan bagi kita bangsa Indonesia, yang merayakan ulang tahun hari lahir beliau ke 80. Sebagai bangsa beradab, kita tetap menghormati jasa-jasa pahlawan yang telah pergi, walaupun mereka sendiri tidak memintanya. Bangsa Indonesia sudah tentu tidak akan terpengaruh dengan isapan jempol orang-orang asing yang mengatakan, Bung Karno pernah berkhianat pada perjuangan nasional seperti yang tersiar luas dalam bulan Februari lalu. Kita yakin dengan seyakin-yakinnya, semua gambar-gambar John Ingelson dalam buku Ras to Exile, yang menuduh Bung Karno pernah menyerah pada Belanda asal beliau diperlakukan dengan baik, merupakan fitnah yang tidak berfakta, Pak Harto dan saya sependapat bahwa pemuatan tulisan yang menyebut Ir. Soekarno pernah menyerah pada Belanda adalah tidak benar ,demikian ucapan wakil Presiden Adam Malik ketika menanggapi tuduhan tersebut. Selamat memperingati hari jadi Bung Karno ke 80, semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu merahmati arwah beliau.

Kp. Bucue, 1 Juni 1981.

(Catatan mutakhir: ( 1 ). Mesin Tik milik saya Ondewood made in Spain tidak ada tanda seru ( ! ) tapi memiliki simbol garis miring ( / ). Maka setiap kalimat pada tulisan saya yang memerlukan tanda seru, maka saya ketiklah tanda garis miring, yang kemudian saya beri titik di bawahnya dengan pulpen agar mirip tanda seru ( ! ). ( 2 ). Bahan bacaan utama yang saya pakai buat tulisan Bung Karno di atas adalah buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang saya pinjam di Pustaka Induk Unsyiah. Setelah melanjutkan kuliah ke Yogyakarta saya membeli buku tersebut pada penjual buku bekas keliling di pintu gerbang Kampus UGM Yogyakarta tahun 1982. Tahun 1992 buku itu, Bung Karno Muda, Bung Adam Malik dipinjam mahasiswa saya yang sedang menyusun skripsi sarjana. Setelah skripsinya selesai, ia hanya mengembalikan kepada saya buku Bung Karno Muda dan Bung Adam Malik. Sementara buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adam ( terjemahan) telah dibawa pulang ke rumah orangtuanya di Aceh Utara sampai hari ini. Saya perkirakan ia sekarang sudah jadi guru pelajaran sejarah yang paling kurang berpangkat III/d malah lebih. Buku itu amat saya rindukan memilikinya kembali, karena itu saya tetap mengharapkannya mengembalikan kepada saya!

Bung Karno Lahir di Surabaya, Bukan di Blitar

Presiden pertama RI Bung Karno (Soekarno)[google]

Berita Terkait
Bung Karno Dikenang Umat Muslim Rusia Rumah Kelahiran Bung Karno di Surabaya Diresmikan Megawati Tawarkan Pancasila kepada Dunia Ende Sentral Ikatan Batin Bangsa Boediono Hadiri Natal Bersama di Ende [SURABAYA] Presiden pertama Indonesia, Soekarno (Bung Karno), dilahirkan di Jalan Pandean IV/40 Surabaya, Jawa Timur, bukan di Blitar seperti diketahui masyarakat luas selama ini. Ketua Umum "Soekarno Institute", Peter A Rohi, di Surabaya, Senin, mengatakan pihaknya akan memasang prasasti di rumah itu sebagai tanda bahwa Soekarno dilahirkan di Surabaya. "Di Jakarta ada prasasti Barack Obama, padahal dia Presiden Amerika Serikat yang merupakan negara lain. Mosok di Indonesia tidak ada prasastinya? Kami memasangnya di rumah kelahiran Soekarno," ujarnya. Ketika ditemui di kediamannya di kawasan Jalan Kampung Malang, Surabaya, ia menjelaskan prasasti itu akan dibuka dan diresmikan langsung oleh Prof Ir Hariono Sigit yang merupakan putra dari Utari atau istri pertama Soekarno.

Dalam prasasti tertera gambar Soekarno dan tulisan penegasan rumah kelahirannya. Menurut dia, pemasangan prasasti digelar pada 6 Juni 2011 karena disamakan dengan tanggal kelahiran Soekarno, yakni 6 Juni 1901. Mantan presiden yang akrab disapa Bung Karno tersebut dilahirkan di Surabaya, tepatnya di sebuah rumah kontrakan Jalan Lawang Seketeng, yang sekarang berubah menjadi Jalan Pandean IV/40, Surabaya. Ayah Bung Karno adalah Raden Soekemi merupakan seorang guru sekolah rakyat dan ibunya adalah Idayu Rai yang merupakan seorang perempuan bangsawan Bali. "Sebelum dipasang, prasasti akan diarak dari Jalan Mawar hingga ke Jalan Pandean. Sengaja kami pilih Jalan Mawar, karena di sana merupakan tempat atau pusat upacara laskar pemuda revolusi zaman penjajahan. Di sana dulu juga ada rumah Mayjend Soengkono, Bung Tomo, serta Gubernur Suryo," terang dia. Peter juga menyayangkan sikap pemerintah yang menyatakan bahwa Soekarno lahir di Blitar, padahal berbagai buku-buku sejarah dan arsip nasional mencatat bahwa Soekarno dilahirkan di Surabaya. Ia juga menunjukkan puluhan koleksi buku sejarah yang menuliskan kelahiran Soekarno, di antaranya buku berjudul "Soekarno Bapak Indonesia Merdeka" karya Bob Hering, "Ayah Bunda Bung Karno" karya Nurinwa Ki S. Hendrowinoto tahun 2002, dan "Kamus Politik" karangan Adinda dan Usman Burhan tahun 1950. Selain itu, buku berjudul "Ensiklopedia Indonesia" tahun 1955, "Ensiklopedia Indonesia" tahun 1985, dan "Im Yang Tjoe" tahun 1933 yang sudah ditulis kembali oleh Peter A Rohi dengan judul "Soekarno Sebagi Manoesia" pada tahun 2008. "Bahkan mantan Kepala Perpustakaan Blitar sudah mengakui bahwa Soekarno tidak dilahirkan di Blitar, melainkan di Surabaya," tuturnya. Pihaknya berharap, ke depan masyarakat Indonesia lebih mengetahui dan mengakui bahwa kota kelahiran Soekarno yang selama ini dikenal adalah keliru. "Dulu pascatragedi G30S/PKI, semua buku sejarah ditarik dan diganti di Pusat Sejarah ABRI pimpinan Nugroho Notosusanto. Tapi saya heran, kenapa ada pergantian kota kelahiran Soekarno? Semoga pemerintah ke depan sudah mengakui bahwa lahirnya presiden pertama Indonesia ada di Surabaya

R .A ,KARTINI
R A Kartini adalah motivator wanita Indonesia tapi tak meninggalkan peran sebagai ibu rumah tangga. Kartini lahir dari keluarga penguasa di daerah Jepara. Dia sempat sekolah bersama dengan orang terhormat di Indonesia dan orang Belanda di Indonesia. Kalau jaman sekarang mungkin sekolah Internasional. Namun itu hanya beberapa tahun, karena harus menikah di usia muda mengikuti keinginan orang tuanya. Namun di rumah menjalani peran sebagai ibu rumah tangga, dia tetap baca buku dan menulis harapan-harapannya sebagai wanita Indonesia. Dia berharap wanita Indonesia bisa menuntut ilmu & setinggi mugkin tapi tak melupakan perannya sebagai ibu rumah tangga. Tulisannya dijadikan satu dan diberi judul habis gelap terbitlah terang. Semoga wanita Indonesia bisa seperti harapan R A Kartni.Patutkah R.A Kartini di Jadikan
Pahlawan Emansipasi Wanita Indonesia..?? Mengapa setiap 21 April kita memperingati Hari Kartini? Apakah tidak ada wanita Indonesia lain yang lebih layak ditokohkan, Mengapa Harus R.A Kartini? Menyongsong tanggal 21 April 2011 kali ini, sangatlah relevan untuk membaca dan merenungkan artikelini. Mengapa setiap 21 April kita memperingati Hari Kartini? Apakah tidak ada wanita Indonesia lain yang lebih layak ditokohkan? dan diteladani dibandingkan Kartini? Dalam buku Satu Abad Kartini (1879-1979), (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1990, cetakan ke-4), Harsja W. Bahtiar menulis sebuah artikel berjudul Kartini dan Peranan Wanita dalam Masyarakat Kita. Tulisan ini bernada gugatan terhadap penokohan Kartini. Kita mengambil alih R.A Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih lanjut, tulis Harsja W. Bachtiar, yang menamatkan doktor sosiologinya di Harvard University. Kartini memang dipilih oleh orang Belanda untuk ditampilkan ke depan sebagai pendekar kemajuan wanita pribumi di Indonesia.

Mula-mula Kartini bergaul dengan Asisten-Residen Ovink suami istri. Adalah Cristiaan Snouck Hurgronje, penasehat pemerintah Hindia Belanda, yang mendorong J.H. Abendanon, Direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan, agar memberikan perhatian pada Kartini tiga bersaudara. Harsja menulis tentang kisah ini: Abendanon mengunjungi mereka dan kemudian menjadi semacam sponsor bagi Kartini. Kartini berkenalan dengan Hilda de Booy-Boissevain, istri ajudan Gubernur Jendral, pada suatu resepsi di Istana Bogor, suatu pertemuan yang sangat mengesankan kedua belah pihak.Ringkasnya, Kartini kemudian berkenalan dengan Estella Zeehandelaar, seorang wanita aktivis gerakan Sociaal Democratische Arbeiderspartij (SDAP). Wanita Belanda ini kemudian mengenalkan Kartini pada berbagai ide modern, terutama mengenai perjuangan wanita dan sosialisme. Tokoh sosialisme H.H. van Kol dan penganjur Haluan Etika C.Th. van Deventer adalah orang-orang yang menampilkan Kartini sebagai pendekar wanita Indonesia. Lebih dari enam tahun setelah Kartini wafat pada umur 25 tahun, pada tahun 1911, Abendanon menerbitkan kumpulan surat-surat R.A Kartini dengan judul Door Duisternis tot Lich. Kemudian terbit juga edisi bahasa Inggrisnya dengan judul Letters of a Javaness Princess. Beberapa tahun kemudian, terbit terjemahan dalam bahasa Indonesia dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang : Boeah Pikiran (1922). Dua tahun setelah penerbitan buku Kartini, Hilda de Booy-Boissevain mengadakan prakarsa pengumpulan dana yang memungkinkan pembiayaan sejumlah sekolah di Jawa Tengah. Tanggal 27 Juni 1913, didirikan Komite Kartini Fonds, yang diketuai C.Th. van Deventer. Usaha pengumpulan dana ini lebih memperkenalkan nama R.A Kartini, serta ide-idenya pada orang-orang di Belanda. Harsja Bachtriar kemudian mencatat: Orang-orang Indonesia di luar lingkungan terbatas R.A Kartini sendiri, dalam masa kehidupan R.A Kartini hampir tidak mengenal Kartini dan mungkin tidak akan mengenal Kartini bilamana orang-orang Belanda ini tidak menampilkan Kartini ke depan dalam tulisan-tulisan, percakapanpercakapan maupun tindakan-tindakan mereka. Informasi tentang wanita-wanita Indonesia yang hebat-hebat harusnya dibuka seluas-luasnya, sehingga menjadi pengetahuan suri tauladan banyak orang. Dan bilamana ternyata bahwa dalam berbagai hal wanita-wanita lain lebih mulia, lebih berjasa daripada R.A. Kartini, kita harus berbangga bahwa wanita-wanita kita lebih hebat daripada dikira sebelumnya, tanpa memperkecil penghargaan kita pada RA Kartini. Kalau Kartini hanya menyampaikan ide-idenya dalam surat, mereka sudah lebih jauh melangkah: mewujudkan ide-ide dalam tindakan nyata. Jika Kartini dikenalkan oleh Abendanon yang berinisiatif menerbitkan surat-suratnya, Rohana menyebarkan idenya secara langsung melalui koran-koran yang ia terbitkan sendiri sejak dari Sunting Melayu (Koto Gadang, 1912), Wanita Bergerak (Padang), Radio (padang), hingga Cahaya Sumatera (Medan). Bahkan kalau melirik kisah-kisah Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah, Cut Mutia, Pecut Baren, Pocut Meurah Intan, dan Cutpo Fatimah dari Aceh, klaim-klaim keterbelakangan kaum wanita di negeri pada masa Kartini hidup ini harus segera digugurkan. Mereka adalah wanita-wanita hebat yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan Aceh dari serangan Belanda. Tengku Fakinah, selain ikut berperang juga adalah seorang ulama-wanita. Di Aceh, kisah wanita ikut berperang atau menjadi pemimpin pasukan perang bukan sesuatu yang aneh. Bahkan jauh-jauh hari sebelum era Cut Nyak Dien dan sebelum Belanda datang ke Indonesia, Kerajaan Aceh sudah memiliki Panglima Angkatan Laut wanita pertama, yakni Malahayati. Jadi, ada baiknya bangsa Indonesia bisa berpikir lebih jernih: Mengapa Kartini? Mengapa bukan Rohana Kudus? Mengapa bukan Cut Nyak Dien? Mengapa Abendanon memilih Kartini? Dan mengapa kemudian bangsa Indonesia juga mengikuti kebijakan itu? Cut Nyak Dien tidak pernah mau tunduk kepada Belanda. Ia tidak pernah menyerah dan berhenti menentang penjajahan Belanda atas negeri ini. Apa hubungan Kartini dengan Snouck Hurgronje? Dalam sejumlah suratnya kepada Ny. Abendanon, Kartini memang beberapa kali menyebut nama Snouck. Tampaknya, Kartini memandang orientalis-kolonialis Balanda itu sebagai orang hebat yang sangat pakar dalam soal Islam. Dalam suratnya kepada Ny. Abendanon tertanggal 18 Februari 1902, Kartini menulis: Salam, Bidadariku yang manis dan baik! Masih ada lagi suatu permintaan penting yang hendak saya ajukan kepada Nyonya. Apabila Nyonya bertemu dengan teman Nyonya Dr. Snouck Hurgronje, sudikah Nyonya bertanya kepada beliau tentang hal berikut:

Apakah dalam agama Islam juga ada hukum akil balig seperti yang terdapat dalam undang-undang bangsa Barat? Ataukah sebaiknya saya memberanikan diri langsung bertanya kepada beliau? Saya ingin sekali mengetahui sesuatu tentang hak dan kewajiban perempuan Islam serta anak perempuannya. (Lihat, buku Kartini: Surat-surat kepada Ny. R.M. Abendanon-Mandri dan Suaminya, (penerjemah: Sulastin Sutrisno), (Jakarta: Penerbit Djambatan, 2000), hal. 234235). Melalui bukunya, Snouck Hurgronje en Islam (Diindonesiakan oleh Girimukti Pusaka, dengan judul Snouck Hurgronje dan Islam, tahun 1989), P.SJ. Van Koningsveld memaparkan sosok dan kiprah Snouck Hurgronje dalam upaya membantu penjajah Belanda untuk menaklukkan Islam. Mengikuti jejak orientalis Yahudi, Ignaz Goldziher, yang menjadi murid para Syaikh al-Azhar Kairo, Snouck sampai merasa perlu untuk menyatakan diri sebagai seorang muslim (1885) dan mengganti nama menjadi Abdul Ghaffar. Dengan itu dia bisa diterima menjadi murid para ulama Mekkah. Posisi dan pengalaman ini nantinya memudahkan langkah Snouck dalam menembus daerah-daerah Muslim di berbagai wilayah di Indonesia.Menurut Van Koningsveld, pemerintah kolonial mengerti benar sepak terjang Snouck dalam penyamarannya sebagai Muslim. Snouck dianggap oleh banyak kaum Muslim di Nusantara ini sebagai ulama. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai Mufti Hindia Belanda. Juga ada yang memanggilnya Syaikhul Islam Jawa. Padahal, Snouck sendiri menulis tentang Islam: Sesungguhnya agama ini meskipun cocok untuk membiasakan ketertiban kepada orang-orang biadab, tetapi tidak dapat berdamai dengan peradaban modern, kecuali dengan suatu perubahan radikal, namun tidak sesuatu pun memberi kita hak untuk mengharapkannya. Berikut Pahlawan pahlawan wanita lain Indonesia yang lebih baik dalam tindakannya disbanding R.A Kartini. Dewi Sartika (1884-1947) Jawa barat Wanita ini berhasil mendirikan sekolah yang dinamakan Sakolah Kautamaan Istri (1910) yang berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar Bandung.

Rohana Kudus (1884-1972) padang Wanita ini melakukan hal yang sama di kampung halamannya. Selain mendirikan Sekolah Kerajinan Amal Setia (1911) dan Rohana School (1916), Rohana Kudus bahkan menjadi jurnalis sejak di Koto Gadang sampai saat ia mengungsi ke Medan. Ia tercatat sebagai jurnalis wanita pertama di negeri ini. Rohana menyebarkan idenya secara langsung melalui koran-koran yang ia terbitkan sendiri sejak dari Sunting Melayu (Koto Gadang, 1912), Wanita Bergerak (Padang), Radio (padang), hingga Cahaya Sumatera (Medan)

Sultanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan Wanita ini dikenal sebagai sosok yang sangat pintar dan aktif mengembangkan ilmu pengatetahuan. Selain bahasa Aceh dan Melayu, dia menguasai bahasa Arab, Persia, Spanyol dan Urdu. Di masa pemerintahannya, ilmu dan kesusastraan berkembang pesat. Ketika itulah lahir karya-karya besar dari Nuruddin ar-Raniry, Hamzah Fansuri, dan Abdur Rauf. Ia juga berhasil menampik usaha-usaha Belanda untuk menempatkan diri di daerah Aceh. VOC pun tidak berhasil memperoleh monopoli atas perdagangan timah dan komoditi lainnya. Sultanah memerintah Aceh cukup lama, yaitu 1644-1675. Ia dikenal sangat memajukan pendidikan, baik untuk pria maupun untuk wanita.

Siti Aisyah We Tenriolle. Wanita ini bukan hanya dikenal ahli dalam pemerintahan, tetapi juga mahir dalam kesusastraan. B.F. Matthes, orang Belanda yang ahli sejarah Sulawesi Selatan, mengaku mendapat manfaat besar dari sebuah epos La-Galigo, yang mencakup lebih dari 7.000 halaman folio. Ikhtisar epos besar itu dibuat sendiri oleh We Tenriolle. Pada tahun 1908, wanita ini mendirikan sekolah pertama di Tanette, tempat pendidikan modern pertama yang dibuka baik untuk anak-anak pria maupun untuk wanita. Catatan :

Sekali lagi ini sekedar wacana bukan pembentukan opini, real sejarah harus ditegakkan, diluruskan dan dibenarkan, siapa yang berjuang dengan hati jiwa dan raga adalah pahlawan buat negeri ini. Perputaran zaman tidak akan pernah membuat wanita menyamai laki-laki. Wanita tetaplah wanita dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah wanita harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Wanita harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu. Beliau adalah perlopor kebangkitan perempuan Indonesia, siapakah Beliau?

Sejarah R.A. Kartini


Beliau adalah Raden Adjeng Kartini.seorang tokoh pahlawan Nasional yang lahir pada tanggal 21 April 1879 di Jepara , meninggal pada umur 25 tahun, tepatnya pada tanggal 17 September 1904 di Rembang. Beliau Lahir dari rahim seorang Ibu bernama M.A. Ngasirah dan Ayahnya adalah seorang bupati Jepara, bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat. Beliau adalah anak kelima yang merupakan anak perempuan tertua dari sebelas bersaudara kandung dan tiri. pada tanggal 12 November 1903, R.A. Kartini menikah dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, seorang bupati Rembang. Dari pernikahannya, lahirlah seorang anak bernama R.M. Soesalit tepat pada tanggal 13 September 1904.Suami kartini mendukung apa yang dicita-citakan beliau, yaitu soal emansipasi wanita. Perhatian Beliau tidak tehadap emansipasi wanita saja, tapi juga masalah sosial umum. Beliau sering menulis surat dan dikirimkan pada teman-temannya di Eropa. Surat-surat tersebut berisi tentang pemikiran dan keinginan Beliau. Pemikiran-pemikiran kartini menjadi inspirasi bagi tokoh-tokohkebangkitan nasional Indonesia. Beliau terus memperjuangkan hak-hak wanita pribumi agar memiliki hak yang sama dengan laki-laki dalam mempeloreh pendidikan yang layak. Beliau mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka. Kartini terus berjuang, hingga akhirnya Beliau Wafat pada umur 25 tahun, tepatnya pada tanggal 17 September 1904 di Rembang. Pada tanggal 2 Mei 1964, Presiden Soekarno menetapkan Kartini Sebagai Pahlawan Kemerdekaan Indonesia sekaligus menetapkan tanggal 21 April,hari lahir Kartini sebagai hari Kartini untuk setiap tahun diperingati.

Ibu kita Kartini, Putri sejati Putri Indonesia, Harum namanya

Ibu kita Kartini, Pendekar bangsa Pendekar kaumnya, Untuk merdeka Wahai ibu kita Kartini, Putri yang mulia Sungguh besar cita-citanya Bagi Indonesia

R.A Kartini adalah Pahlawan Wanita Indonesia, namanya harum dan selalu dikenang oleh bangsa Indonesia. Majunya para perempuan Indonesia saat ini adalah karena perjuangan Ibu Kartini, agar para perempuan Indonesia bisa mengenyam pendidikan yang setara dengan kaum pria. Dengan mengetahui, mengerti dan memahami segala sesuatu yang berhubungan dengan R.A Kartini, diharapkan para Perempuan Indonesia bisa lebih maju di masa yang akan datang. Berikut ini adalah biodata lengkap Raden Ajeng Kartini atau lebih dikenal dengan sebutan R.A Kartini atau Ibu Kartini: Nama Lengkap Tanggal Lahir Tempat Lahir Meninggal : Raden Ajeng Kartini : 21 April 1879 : Jepara, Jawa Tengah : 17 September 1904

Riwayat Pendidikan R A Kartini : E.L.S. (Europese Lagere School), atau setingkat dengan Sekolah Dasar Suami R.A Kartini : Raden Adipati Joyodiningrat, pada saat itu menjabat sebagai Bupati Rembang Jawa Tengah. Prestasi yang telah diraih : - Pendiri sekolah untuk wanita di Jepara - Pendiri sekolah untuk wanita di Rembang Kumpulan surat-surat R.A Kartini : Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Penghormatan: - Mendapatkan gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional - Tanggal Kelahiran R.A Kartini yaitu 21 April, ditetapkan oleh pemerintah sebagai hari besar. Demikianlah kiranya biodata singkat dari Raden Ajeng Kartini, semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi banyak pihak.