Anda di halaman 1dari 3

Integrasi Ekonomi Dan Krisis Utang Eropa-Amerika

(Ridwan AR : Doktor Ilmu Ekonomi Bidang Industri dan perdagangan Internasional, Dosen UNHAS)

Integrasi suatu negara ke dalam kawasan integrasi ekonomi telah menarik perhatian banyak negara, terutama setelah Perang Dunia II dan menjadi semakin penting sejak tahun 1990-an. Hal tersebut ditandai dengan meningkatnya jumlah kesepakatan integrasi ekonomi, bersamaan dengan meningkatnya jumlah negara yang menjadi anggota integrasi ekonomi. Saat ini sekitar 97 persen perdagangan dunia melibatkan negara yang minimal terikat dalam suatu perjanjian perdagangan khusus atau Preferential Trade Area (PTA). Meskipun beberapa kesepakatan integrasi tersebut terwujud antara lain karena pertimbangan politik, tetapi motivasi utama adalah kepentingan ekonomi yang telah menjadi alasan dan penggerak utama lahirnya berbagai kesepakatan integrasi ekonomi (Economic Integration Agreement). Integrasi ekonomi berkembang sangat pesat, mulai dari perjanjian perdagangan, customs union, economic union integration, dan total economic integration. Tujuannya adalah memperoleh manfaat pada kemajuan ekonomi dan pencapaian economics welfare. Meskipun demikian, kontroversi terhadap integrasi ekonomi tetap ada sampai sekarang. Pertanyaan mendasarnya adalah apakah integrasi ekonomi memberi manfaat ataukah memberi kerugian bagi ekonomi suatu negara. Keberhasilan integrasi ekonomi Eropa sampai pembentukan mata uang bersama (Currency Union), Euro, adalah contoh yang membuktikan integrasi ekonomi dapat memberikan kemajuan ekonomi bagi anggota. Selain indikator banyaknya kesepakatan integrasi ekonomi, perkembangan dalam dua dekade terakhir juga ditandai dengan semakin berkembangnya integrasi ekonomi pada tingkat regional (Regional Integration Agreement), antara lain Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) di kawasan Asia Pasifik, European Union (EU) di Eropa, Mercado Comun del Sur (MERCOSUR) di Amerika Latin, dan North America Free Trade Area (NAFTA) di Amerika Utara. Indonesia sendiri terlibat dalam beberapa skema kerjasama regional yang mengarah pada intergrasi yakni diantaranya ASEAN Free Trade Area (AFTA) dan APEC. Kedua skema kerjasama regional ini sangat strategis bagi Indonesia saat ini dan ke depan terutama dalam upaya antisipasi pelemahan ekonomi di Amerika Serikat dan Eropa tahun ini. AFTA menjadi jauh lebih strategis dengan masuknya beberapa negara di kawasan Asia dengan kekuatan ekonomi besar ke dalam kesepakatan perdagangan bebas dengan ASEAN. Saat ini ASEAN memiliki sejumlah skema perdagangan bebas yakni dengan China (ASEAN-China Free Trade Area atau ACFTA), Jepang (ASEAN-Japan Comprehensive Economic Partnership atau AJCEP), Korea (ASEAN-Korea Free Trade Area atau AKFTA) India (ASEAN-India Free Trade Area), serta Australia dan New Zealand (ASEAN-Australia-New Zealand Free Trade Area atau AANZFTA). Skema kerjasama ini tidak hanya mencakup perdagangan namun juga dalam hal investasi. Alasan integrasi Ekonomi Integrasi ekonomi dilandasi oleh konsep dasar bahwa manfaat ekonomi yang diperoleh dari integrasi lebih besar dibandingkan dengan biaya yang dihadapi apabila tidak terlibat dalam integrasi. Alasan tersebut yang dipakai pemimpin negara untuk menempuh kebijakan liberalisasi perdagangan dan investasi atau bergabung dalam integrasi ekonomi. Kebijakan integrasi tersebut digunakan sebagai alat untuk mendapatkan akses pasar yang lebih luas serta mendorong pertumbuhan ekonomi. Integrasi ekonomi juga diharapkan memperkuat daya saing kawasan dalam menghadapi kompetisi global. Prinsip dasar integrasi ekonomi adalah mengurangi atau menghilangkan semua hambatan perdagangan dan investasi di antara negara anggota. Tujuannya adalah meningkatkan arus barang dan jasa yang bebas keluar masuk melintasi batas negara setiap anggota. Dari alasan tersebut, volume perdagangan semakin tinggi sehingga mendorong peningkatan produksi, peningkatan efisiensi, peningkatan kesempatan kerja, penurunan cost production, yang dapat meningkatkan daya saing

produk dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Studi integrasi ekonomi dan pengaruhnya terhadap investasi luar negeri atau Foreign direct investmen (FDI) oleh Kreinin and Plummer (2008) yang menemukan kseimpulan penting antara lain bahwa integrasi regional memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap FDI serta FDI dapat bertindak sebagai substitusi untuk perdagangan, meskipun pada beberapa kasus bersifat komplemen bagi perdagangan. Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa integrasi ekonomi telah mengurangi bahkan menghilangkan batas-batas pergerakan modal dan investasi internasional. Utang Eropa-Amerika Krisis utang negara negara anggota Uni Eropa seperti Yunani, Portugal, Spanyol, Irlandia, dan terakhir Italia, menyebabkan pemilik modal internasional khawatir akan terjadi resesi ekonomi sebagaimana halnya yang terjadi pada tahun 2008 yang episentrumnya nya di Amerika Serikat. Saat Eropa tengah berjuang dengan keras untuk menahan meluasnya dampak resesi, kekhawatiran akan keberhasilan upaya tersebut meningkat setelah Jerman dan Perancis mengalami penurunan pertumbuhan dan stagnasi pada kuartal kedua 2011. Jerman yang merupakan negara dengan perekonomian terkuat dan menjadi barometer ketahanan perekonomian di kawasan Eropa baru saja mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua tahun ini sebesar 0,1 persen menjadi 1,2 persen dibandingkan kuartal sebelumnya 1,3 persen. Perancis juga mengalami stagnasi pertumbuhan memasuki kuartal kedua 2011. Pelemahan tersebut telah memperkuat kekhawatiran akan penyembuhan perekonomian di kawasan Eropa. Mengingat Jerman dan Prancis telah tampil sangat baik sebagai motor penggerak perekonomian Eropa . Sementara buruknya presepsi pasar pada perekonomian Amerika diperkuat oleh penilaian lembaga pemeringkat Standard & POORS, yang untuk pertama kalinya dalam sejarah memangkas peringkat utang jangka panjang Amerika dari AAA menjadi AA+ . persepsi pasar yang kalut, akan munculnya kembali resesi ekonomi sangat tinggi, ditandai dengan merosotnya bursa dunia yang dimulai dari pelemahan wall street. Beruntung kongres Amerika menyetujui peningkatan plafon hutang pemerintah sehingga resiko gagal bayar menjadi berkurang. Departemen Keuangan AS menjual US$ 72 juta surat berharga dan obligasi pada pelelangan minggu kedua Agustus 2011. Ini merupakan penjualan dengan imbal hasil terendah sejak Februari tahun 2009 dengan jangka waktu tiga tahun hingga 10 tahun. Sejauh ini obligasi tersebut masih diminati karena hampir tidak ada pilihan bagi para pemegang likuiditas . Obligasi Eropa masih diragukan, begitu pula Jepang yang masih berusaha untuk pulih kembali pasca gempa dan tsunami. Emas yang menjadi alternatif telah menjadi sasaran para pemegang dana sehingga harganya terus naik. Ancaman krisis Amerika belum sepenuhnya hilang. Amerika masih harus membuktikan bahwa kebijakan fiskalnya mampu mendorong pertumbuhan ekonominya. Kalau hal tersebut tidak terjadi sampai beberapa waktu ke depan, maka kemungkinan besar krisis akan menjadi nyata. Setiap Negara harus mewaspadai krisis tersebut dengan merumuskan beberapa kebijakan penting, khususnya menahan modal asing yang selama ini ditanamkan pada negara tertentu termasuk negara emerging market seperti Indonesia. Dampaknya bagi Perekonomian Indonesia Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa integrasi juga adalah kesalingtergantungan dalam hal perdagangan dan investasi. Artinya kalau sebuah kawasan terkena krisis, maka akan ada conteingen efek (efek menular) bagi negara mitranya. Krisis bermuara pada adanya penurunan kinerja perekonomian negara mitra dagang dan investasi, akan menyebabkan output negara tersebut menurun, output yang turun, akan menyebabkan daya beli masyarakat menurun dan akhirnya permintaan akan produk barang impor juga turun. Kinerja ekspor dalam negeri menurun yang akhirnya menurunkan produksi. Turunnya produksi akan membuat pengangguran bertambah.

Jika krisis ekonomi benar-benar terjadi, maka arus barang dan jasa ke berbagai negara akan turun. Indonesia harus mengembangkan mitra baru di luar Eropa dan Amerika untuk tetap memelihara pertumbuhan ekonominya. Beruntung Indonesia memiliki skema kerjasama perdagangan dengan negara-negara yang relatif lebih rendah resiko krisisnya serta pasarnya cukup besar, tumbuh dengan baik Seperti China dan India melalui ASEAN. Berdasarkan data dari kementerian perdagangan, Indonesia mengekspor produknya hanya 11-12 persen ke Eropa, dan 10 persen ke Amerika. Selama negara-negara di Asia pertumbuhan ekonominya tetap baik maka peluang Indonesia meningkatkan ekspornya masih cukup diandalkan. Perlu upaya khusus pemerintah untuk peningkatan ekspor. Jika krisis memburuk di Eropa dan Amerika maka pasar seperti China, India dan ASEAN akan memberikan ruang bagi Indonesia. Kabar baiknya adalah jika kepercayaan terhadap perekonomian Eropa dan Amerika menurun maka akan ada potensi dana yang cukup besar yang mencari alternatif ke negara emerging market yang lebih menjanjikan seperti Indonesia. Dalam keadaan tersebut pemerintah akan lebih mudah menarik dana ke dalam surat utang negara dengan yield yang lebih rendah. Indonesia merencanakan menerbitkan obligasi internasional pada tahun 2012. Antisipasi pemerintah Indonesia masih memiliki fundamental ekonomi yang kuat, sehingga tidak mudah dipengaruhi oleh resesi global. Nilai tukar rupiah terapresiasi cukup baik, neraca perdagangan masih surplus, dan cadangan devisa masih naik sekitar USD 120 Milyar. Tetapi pemerintah tetap perlu waspada karena ekspektasi masyarakat investor bisa berakibat terhadap pelarian modal (capital outflow) khususnya bagi investor pasar modal dari pihak asing. Hal ini mulai terlihat pada penurunan IHSG beberapa hari terakhir, begitu pula dengan pengaruhnya terhadap depresiasi rupiah. Apalagi setelah Morgan Stanlay menurunkan prediksi pertumbuhan IHSG dari 13% menjadi 1% pada tahun 2011. Indonesia masih sangat membutuhkan investasi terutama infrastruktur untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas. Masalahnya sebagian besar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) terpakai untuk belanja rutin, sehingga belanja pembangunan terbatas. Pemerintah harus berhasil mempertahankan stabilitas ekonomi, sehingga momentum capital inflow dapat terjaga. Langkah berikutnya pemerintah harus dapat mengalirkannya ke sektor riil, agar bermanfaat bagi penciptaan pertumbuhan ekonomi.