Anda di halaman 1dari 13

Makalah Akhir Mata Kuliah Teori Hubungan Internasional I

GAME THEORY DAN PENERAPANNYA DALAM NUCLEAR ARMS RACE AMERIKA SERIKAT DAN UNI SOVIET PADA ERA PERANG DINGIN

Aisha Rasyidila (1006694284) Departemen Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Soial dan Ilmu Politik

2011
BAB I PENDAHULUAN
Game theory merupakan suatu teori yang menggambarkan kemungkinankemungkinan tindakan suatu negara dalam menciptakan stabilitas internasional. Lalu bagaimanakah game theory secara praktis menciptakan stabilitas tersebut? Makalah ini akan membahas mengenai game theory serta penerapannya dalam nuclear arms race antara Amerika Serikat dan Uni Soviet dalam Perang dingin. 1.1 Latar Belakang Ilmu Hubungan Internasional pada dasarnya mengkaji tentang hubungan antar aktor, baik itu aktor pemerintah, non-pemerintah, serta perusahaan multinasional. Hal ini seringkali dibahas dengan menggunakan pendekatan game theory; sebuah pendekatan formal yang dapat membantu memprediksikan kemungkinan yang terjadi di dalam hubungan negara, baik itu dua atau lebih, untuk mengambil keputusan yang nantinya akan berpengaruh besar bagi dunia internasional. Sejak pertama kali dipublikasikan dalam Game Theory, of Games and Economic Behaviour, oleh vonn Neumann dan Morgenstan pada tahun 1944; game theory menjadi sistem analisis formal pertama yang dapat diperhitungkan dalam format penelitian sosial (Correa 2002). Lantas bagaimanakah game theory apabila dikaitkan dengan nuclear arms race antara Amerika Serikat dan Uni Soviet dalam perang dingin? Hal inilah yang nantinya akan dikaitkan dengan game theory, dan dibahas di makalah ini menggunakan pendekatan deduktif. Makalah ini bertujuan untuk mendemonstrasikan penerapan kemungkinankemungkinan yang terdapat pada game theory sebagai instrumen analisis dalam ilmu hubungan internasional. Pendekatan yang digunakan merupakan pendekatan dasar dari game theory sebagai suatu bentuk integral dari Ilmu hubungan internasional, sehingga

tidak menggunakan banyak perhitungan matematis di dalamnyaSebuah Pendekatan yang juga dipakai oleh Hector Correa (2002) dan Powell (1999). 1.2 Rumusan Permasalahan Dari latar belakang, penulis menyimpulkan permasalahan ke dalam sebuah pertanyaan: Bagaimanakah penerapan game theory dalam nuclear arms race antara Amerika Serikat dan Uni Soviet dalam era perang dingin? 1.3 Kerangka Teori a. Prisoners Dilemma (game) Theory Prisoners Dilemma game merupakan teori yang diciptakan oleh John von Neuman dan Morgenstan dan digunakan pertamakali pada tahun 1944. Prisoners Dilemma merupakan sebuah perangkat analisis formal dalam ilmu hubungan internasional, di mana dua pihak atau lebih yang terlibat dihadapkan ke dalam beberapa pilihan pilihan: antara menambah kekuatan, atau mengurangi kekuatan untuk sama-sama menciptakan stabilitas. Apabila Prisoners Dilemma digunakan ke dalam konsep kekuatan militer, maka kemungkinan yang terlihat adalah sebagai berikut: Meningkatkan Meningkatkan Persenjataan Melucuti Persenjataan Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa kedua pihak yang terlibat akan mencari poin yang tertinggi untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Pilihan pertama dengan poin terbesar adalah apabila kedua pihak memutuskan untuk meningkatkan persenjataan (kolom 2.2), dimana kedua negara sama-sama mendapatkan power dan kapabilitas untuk mempertahankan keamanan negaranya. Pilihan ini dinilai sebagai pilihan yang paling menguntungkan karena power kedua pihak menjadi stabil dalam level yang kuat (poin 3:3). Persenjataan 3:3 4:1 Melucuti Persenjataan 1:4 2:2

Berbeda dengan pilihan kedua yang lebih menekankan ke arah komunikasi. Pilihan ini berujung pada keadaan di mana kedua pihak saling melucuti senjata. Pelucutan senjata ini akan mengurangi besarnya power kedua belah pihak, juga resistensi kedua pihak terhadap pihak luar, sehingga poin keuntungan yang didapat masih berada di bawah poin pilihan pertama (poin 2:2). Namun pilihan kedua ini menjadi solusi yang bersifat damai, sehingga keadaan yang tegang dapat diatasi dan resiko pecahnya perang menjadi lebih minim. Pilihan ketiga, (tabel 3.2 dan 2.3) menjadi pilihan yang paling tidak menguntungkan bagi suatu pihak. Pilihan ini secara signifikan akan menciptakan suatu ketimpangan kekuatan, dimana satu negara diuntungkan dan negara lain dirugikan. Perbedaan poin keuntungan yang cukup besar dalam pilihan ini (poin 1:4), diakibatkan oleh timpangnya kekuatan militer di antara kedua pihak. Apabila salah satu pihak melucuti senjata, dan pihak lainnya masih mempertahankan kekuatan militernya, maka pihak yang tidak bersenjata akan menjadi pihak yang inferior, dan pihak yang mempertahankan kekuatannya akan menjadi pihak yang superior. Karakteristik negara yang anarki cenderung menghindari keadaan yang membuat security-nya terancam oleh kekuatan negara lain. b. Chicken Game Theory Chicken Game Theory merupakan turunan dari Game Theory, yang melibatkan dua aktor, yang dihadapkan kepada pilihan: berperang atau damai. Chicken game theory menjadi sebuah tolak ukur dalam menentukan probabilitas keuntungan dan kerugian dari suatu negara dalam melaksanakan tindakannya untuk meminimalisir dampak peperangan (Russell 1959). Konfrontasi Konfrontasi (Dare) Menghindar (Chicken) (Dare) 0,0 2.7 Menghindar (Chicken) 7,2 6,6

Dua korelasi di dalamnya adalah chicken (menghindar) dan dare (konfrontasi). Dapat terlihat bahwa apabila kedua pihak tetap memutuskan untuk melakukan konfrontasi, maka akan tercipta peprangan yang dianggap merugikan, sehingga hasil yang didapat oleh kedua pihak adalah 0. Maka di dalam chicken game theory hal yang paling dihindari adalah kehancuran akibat perang sehingga kedua pihak tidak akan melakukan konfrontasi tanpa adanya informasi bahwa pihak lain telah menghindarinya. Pada tabel 2.2 dan 2.3, kemungkinan ini adalah kemungkinan yang peling menguntungkan salah satu pihak. Terlihat bahwa salah satu pihak mendapatkan 7 (nilai tertinggi dalam kemungkinan; yang juga berarti bahwa pihak ini menang), dan satu pihak yang menghindar mendapat poin 2 (tergolong poin yang rendah). Hal ini dikarenakan salah satu pihak dapat dikatakan menang karena berhasil mengambil resiko lebih jauh yang mengarah pada peperangan, sedangkan pihak lainnya menolak resiko tersebut sehingga mundur terlebih dahulu dan dikatakan sebagai pihak yang chichken atau pengecut. Tindakan yang merupakan equilibrium dalam chicken game theory ini adalah samasama menghindar. Kedua belah pihak akan sama-sama menghindari konflik, sehingga tidak ada pihak yang diuntungkan secara berlebih dan tidak ada pihak yang dirugikan sehingga poin keuntunganya menjadi sama, yaitu (6:6). Dalam hal ini tidak akan ada perang yang tercipta dari konflik, karena biasanya poin ini tercapai akibat adanya komunikasi dan negosiasi di antara kedua belah pihak. c. Arms Race

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Krisis Misil Kuba Krisis Misil Kuba merupakan sebuah Krisis yang terjadi pada tahun 1962, akibat persaingan senjata nuklir Uni Soviet dan Amerika Serikat yang saat itu tengah memperebutkan posisi super power. Berawal ketika kamera pengawas U-2 menangkap gambar agen-agen Uni Soviet yang berada dalam misi untuk membawa misil nuklir ke Kuba. Misil iniapabila penanamannya berhasil dan dapat berfungsi secara optimaldiperkirakan dapat menghancurkan sebagian besar wilayah selatan dan timur AS. Amerika khawatir, langkah Soviet memanfaatkan negara tetangga Amerika untuk dijadikan tolakan penyerangan 6

akan berakibat fatal bagi pertahanan negara Amerika. Untuk itulah, pihak AS harus dapat mencegah rencana tersebut. Joint Chief of Staffpersatuan para pemimpin lembaga pertahanan Amerika Serikat menyarankan agar presiden segera menyerang pasukan pengangkut misil Soviet; disusul oleh invasi terhadap Kuba. Namun presiden Amerika pada saat itu, J. F, Kennedy, melihat bahwa tindakan serangan militer hanya akan membuat keadaan bertambah buruk, dan dapat memicu terjadinya peperangan yang lebih besar. Salah satu faktor yang dikhawatirkan Kennedy merupakan perang nuklir, sebab Amerika Serikat dan Uni Soviet merupakan dua negara yang memiliki cadangan persenjataan nuklir paling besar di dunia. Akhirnya diputuskan bahwa masalah ini akan diselesaikan dengan jalur diplomasi. AS berusaha untuk membatalkan penanaman misil Kuba tanpa memicu perang. Pada akhirnya AS memutuskan untuk melakukan blokadedengan cara menahan kapalkapal yang akan berlabuh di Kuba, serta menggeledahnya untuk memastikan apakah kapal tersebut membawa misil atau tidak. Namun ada beberapa kesalahan pemerintahan AS dalam kejadian ini: yaitu ditingkatkannya tingkat kewaspadaan Strategic Air Command (SAC) menjadi DEFCON2 satu tingkat dibawah siaga penuh dalam menghadapi peperangandan percobaan peluncuran misil penyerang tanpa sepengetahuan presiden. Untuk merespon tindakan Amerika, utusan Uni Soviet Aleksander Fomin memanggil seorang wartawan AS yang bekerja pada ABC news, John. A. Scali untuk membuat komunikasi dengan pihak AS. Lewat komunikasi inilah Soviet mengajukan pertukaran, dimana Soviet akan membatalkan penanaman misilnya dan sebagai gantinya Amerika harus membatalkan serangannya terhadap Kuba. Nikita Kruschev, Perdana Menteri Soviet pun melakukan komunikasi berupa telegram yang bersifat tidak formal yang ditujukan kepada pemerintah AS. Hal ini kemudian disusul oleh komunikasi yang lebih intens dimana pemerintah Soviet juga mengajukan perjanjian yang menyangkut dihapuskannya misil Jupiter milik AS di Turki. Hal ini dianggap pemerintah AS sebagai desakan pemerintah Soviet terhadap Nikita Khruschevterlepas dari telegram pertama Khruschev. Tetapi pada akhirnya, setelah melakukan pertimbangan panjang bersama anggota eksekutif Security Council PBB, akhirnya Kennedy secara diam-diam setuju untuk

menghapuskan misil Jupiter dari Turki, serta misil-misil lainnya yang terletak di sepanjang perbatasan Soviet. Soviet pun memenuhi perjanjian tersebut dengan menghapuskan seluruh misil yang ada di kuba, serta menarik kembali misil yang baru akan dikirimkan di kapal-kapal Soviet. Cuban Missile Crisis memperlihatkan sebuah perjanjian dimana kedua negara sepakat untuk melucuti persenjataannya, dan mendapatkan gain yang seimbang. Kedua negara menghindari kehancuran dunia akibat perang nuklir dan bersedia menurunkan kekuatan militer ofensifnya untuk meredakan situasi. 2.2 Penerapan Prisoners Dilemma Game dalam Arms Race dan detterance Amerika Serikat dan Uni Soviet Arms race dan detterance merupakan bahasan yang paling umum dibahas dalam ilmu hubungan internasional, dan paling sering dikaitkan dengan prisoners dilemma game sebagai instrumen analisisnya. Pada dasarnya arms race suatu negara terjadi apabila suatu negara merasa terancam akibat naiknya kekuatan militer negara lain (yang berpotensi menyebabkan konflik); sehingga negara tersebut berusaha untuk mengimbangi kekuatan negara tersebut dengan ikut menaikkan kekuatan militernya (Brams 1975). Dalam hal ini, arms race terjadi kepada Amerika Serikat dan Uni Soviet sebagai salah satu dampak utama dari perang dingin. Sejak berkembang dan digunakannya teknologi senjata nuklir di AS tahun 1945 (dalam kasus bom atom Hiroshima dan Nagasaki), Uni Soviet juga mencoba untuk mengembangkan senjata nuklir, dan berhasil membuatnya pada tahun 1947. Hal ini membuat kekhawatiran masyarakat dunia akan terjadinya perang nuklir, apalagi kedua negar aterus menerus mengembangkan senjata nuklirnya untuk memenangkan arms race tersebut. Tetapi di sisi lain, kedua negara tersebut tidak bisa menghentikan perlombaan senjata mereka karena muncul ketakutan akan kekuatan pihak lawan. Kedua negara tidak bisa melakukan pelucutan senjata apabila pihak lainnya tidak melakukan hal yang sama. Hal tersebut (pelucutan senjata), apabila dilakukan tanpa adanya koordinasi dari pihak lainnya akan menguntungkan satu pihak secara besar-besaran (pihak yang bersenjata). Karena kedua negara masih saling bersaing dan sulit untuk melakukan perundingan,

maka yang dilakukan oleh kedua negara adalah tetap mengebangkan kekuatan militer mereka, sehingga kedua negara berada dalam level stabilitas kekuatan militer yang tinggi. Dengan begitu, kekuatan Militer kedua negara hanya berfungsi sebagai alat untuk mengancam dan menakut-nakuti lawan tanpa harus digunakan dalam perang yang sesungguhnya. Menurut Correa (2002), arms race sendiri terjadi akibat efek dari pencegahan (deterance), karena salah satu pihak tidak mengetahui intensi dari pihak pertama. Dalam tabel prisoners dilemma sederhana yang telah digambarkan pada bab I, terlihat bahwa arms race dapat menjaga kedua negara tersebut dari serangan negara lain. Brams dan Kilgour (1985) menjelaskan bahwa biasanya hal ini terjadi dalam kondisi dimana deterance dilakukan atas kekhawatiran suatu pihak atas konfrontasi laingsung yang dilakukan pihak lain agar terlihat lebih intimidatif. Tindakan menaikkan kekuatan militer di antara keduanya merupakan suatu pencegahan untuk menghindari adanya dominasi salah satu pihak. Apabila penjelasan ini dikaitkan dengan penanaman misil nuklir US di Kuba, maka penanaman misil ini secara fungsional merupakan rencana US untuk menjaga stabilitas di dalam arms race-nya dengan AS. Pangkalan misil nuklir di Kuba dinilai dapat menyeimbangi pangkalan misil Jupiter AS yang didirikan di Turki dan beberapa pangkalan lainnya di sepanjang perbatasan Uni Soviet; namun gagal dilaksanakan karena diketahui lebih dulu oleh pihak AS. Terhambatnya jalur US untuk mengimbani kekuatan AS membuat kedua belah pihak bersitegang, dan pada akhirnya untuk menghindari konflik lebih jauh terjadilah negosiasi di antara keduanya. 2.3 Penerapan Chicken Game Theory dalam Resolusi Krisis Misil Kuba Karakteristik Chicken Game Theory yang memiliki dua outcome sedikit berbeda dengan Prisoners Dilemma Game pada arms race yang hanya memiliki satu outcome. Hal ini dikarenakan kedua belah pihak sama-sama memiliki kekuatan. Di satu sisi, AS telah melakukan blokade bagi kapal misil US; dan di sisi lain US dapat meneruskan konfrontas tersebut dengan memaintain penanaman misil tersebut secara bertahap tanpa

menghiraukan blokade. AS dan US dalam hal ini memiliki dua pilihan: konfrontasi atau negosiasi (Clemens 1998 p. 75). Kekhawatiran sesungguhnya Amerika Serikat dan Uni Soviet pada Krisis Misil Kuba adalah meletusnya perang Nuklir. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, fungsi senjata nuklir yang dituju oleh Amerika Serikat dan Uni Soviet adalah sebagai sarana untuk mengancam dan berjaga-jaga atas ancaman yang diberikan oleh pihak lawan. Amerika dan Uni Soviet sesungguhya memiliki kekhawatiran sendiri mengenai senjata nuklir yang mereka miliki. Sejak pertama kali digunakan pada tragedi bom aton Hiroshima dan Nagasaki, senjata nuklir telah menimbulkan suatu tragedi bagi masyarakat internasional. Dengan mempertimbangkan dari daya rusak yang luar biasa dan radiasi yang tidak akan hilang dalam jangka waktu lama, Amerika Serikat dan Uni Soviet berusaha sekeras mungkin untuk menangguhkan peperangan. Tidak hanya kedua negara yang berkonflik, negara lainnya yang berlokasi dekat dengan peperangan pun dikhawatirkan akan terkena dampak dari perang nuklir tersebut. Hal ini membuat opsi peperangan dalam Krisis Misil Kuba menjadi opsi yang paling dihindari. Berdasarkan Chicken Game Theory, maka pilihan untuk berperang menjadi pilihan dimana kedua belah pihak terus melakukan konfrontasi (dare), dan mendapatkan poin 0. Untuk menghindari hal itu terjadilah maka baik Amerika Serikat dan Uni Soviet harus memikirkan cara yang bisa menguntungkan pihak mereka. Pola di dalam Krisis Misil Kuba sendiri sebenarnya dapat dibaca secara jelas, bahwa krisis ini dimulai oleh US, kemudian dibalas oleh AS, lalu dibalas lagi oleh Uni Soviet (Straffin 1993 p. 39, 227). Tetapi dalam kasus ini penyelesaiannya agak sedikit berbeda dengan outcomes yang seharusnya ditetapkan oleh Chicken Game Theory, sebab proses negosiasi yang terjadi di antara AS dan US pada akhirnya membuat Krisis Misil Kuba sebagai sebuah strategi brinkmanship bagi US; yaitu strategi untuk menyeret lawan ke jurang bahaya demi memukul mundur pihak lawan (AS) (Dixit dan Skeath; 1999 p. 345). Maka dari itu, pada akhirnya AS dan US sama-sama mendapatkan kondisi yang diinginkan, yaitu pelucutan senjata; dimana AS membubarkan pangkalan misil Jupiternya dan pangkalan-pangkalan lain di sepanjang perbatasan US, dan US menarik misilnya kembali dari Kuba. Merujuk dari tabel kemungkinan Chicken Game Theory, dimana

10

kedua negara sama-sama mengambil pilihan mundur (chicken) sehingga kedua belah pihak mendapatkan poin keuntungan tertinggi dalam tabel kemungkinan Chicken Game Theory.

BAB III KESIMPULAN


Penerapan Prisoners Dilemma dalam Krisis Misil Kuba dapat dilihat dari penyebab terjadinya krisis ini, yaitu arms race antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Kedua negara berusaha untuk menjaga stabilitas dengan sama-sama meningkatkan dan mengembangkan senjata nuklir mereka. Hal ini menunjukkan bahwa kedua belah pihak berusaha untuk mengejar stabilitas dalam level persenjataan yang tinggi, sehingga mendapatkan poin 3:3. Hal ini dilakukan untuk berjaga-jaga, karena US tidak mengetahui intensi sesungguhnya dari peningkatan senjata nuklir AS, sehingga US ikut meningkatkan kekuatannya untuk menghindari terjadinya ketimpangan kekuatan (poin 1:4 dalam tabel). Pada Krisis Misil Kuba sendiri, Game Theory yang paling cocok digunakan merupakan Chicken Game Theory; dimana kedua belah pihak mengindari opsi 11

peperangan (dimana AS dan US akan sama-sama dirugikan dan mendapat poin 0:0). Kedua belah pihak juga menghindari tindakan menghindar (chicken), karena khawatir pihak lawan tidak melakukan hal yang sama. Pada akhirnya terjadi proses negosiasi untuk sama-sama melakukan pelucutan senjata, sehingga poin yang didapat menjadi 6:6 poin equilibrium yang terdapat dalam Chicken Game Theory.

REFERENSI
Brams, Steven J. (1975) "Game Theory and Politics", The Free Press: New York, NY Brams, Steven J. and Kilgour D. Marc (1988) "Game Theory and National Security", Basil Blackwell Inc.: New York, NY Brams, Steven J.; Doherty, Ann E. and Weidner, Matthew L. (1994) "Game Theory: Focusing on the Players, Decisions and Agreements", in Zarman, William I., International Multilateral Negotiation: Approaches to the Management of Complexity, Jossey-Bass Publishers: San Francisco, CA Bennett, Peter and Nicholson, Michael (1994) "Formal methods of analysis in IR", in Groom, A. J. R. and Light, Margot (eds.), Contemporary International Relations: A Guide to Theory, Pinter Publishers: New York, NY Binmore, Ken (1992) "Fun and Games: A Text on Game Theory", D. C. Heath and Co: Lexington, MA Brams, Steven J. (1990) "Negotiation Games: Applying Game Theory to Bargaining and Arbitration", Routledge, Chapman and Hall, Inc.: New York, NY Powell, Robert (1999) "In the Shadow of Power", Princeton University Press: Princeton, NJ Reynolds, Philip A. (1994) "An Introduction to International Relations" (3rd. ed.), Longman

12

Publishing: New York, NY Straffin, Philip D. (1993) "Game Theory and Strategy", New Mathematical Library N. 36, The Mathematical Association of America: Washington, DC

13