Anda di halaman 1dari 30

INSTRUMEN

A. Pengertian Instrumen
Salah satu kegiatan dalam penelitian adalah pengumpulan data. Kegiatan
pengumpulan data dilakukan dengan teknik tertentu dan menggunakan alat tertentu
yang sering disebut instrumen penelitian. Data yang diperoleh dari proses tersebut
kemudian dihimpun, ditata, dan dianalisis

untuk

menjadi

informasi

yang dapat

menjelaskan suatu fenomena atau keterkaitan antar fenomena.


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia online, pengertian instrumen adalah sarana
penelitian (berupa seperangkat tes dsb) untuk mengumpulkan data sebagai bahan
pengolahan. Menurut Suharsimi Arikunto (2000:134), instrumen pengumpulan data adalah
alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan data
agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan dipermudah olehnya.
Pendapat lainnya disampaikan oleh Ibnu Hadjar (1996:160) yang menyatakan bahwa
instrumen merupakan alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan informasi kuantitatif
tentang variasi karakteristik variabel secara objektif. Sejalan dengan Ibnu Hadjar, Sumadi
Suryabrata (2008:52) mengungkapkan bahwa instrumen pengumpul data adalah alat yang
digunakan untuk merekam-pada umumnya secara kuantitatif-keadaan dan aktivitas atributatribut psikologis. Atibut-atribut psikologis itu secara teknis biasanya digolongkan menjadi
atribut kognitif dan atribut nonkognitif. Lebih lanjut, Sumadi mengemukakan bahwa untuk
atribut kognitif, perangsangnya adalah pertanyaan. Sedangkan untuk atribut non-kognitif,
perangsangnya adalah pernyataan. Selain itu, Sugiyono (2012) menyatakan bahwa instrumen
alat ukur dalam penelitian.
Dari beberapa pendapat ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa instrumen penelitian
adalah alat bantu yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan informasi tentang
variabel yang sedang diteliti.
Margono (2005:155-156) mengemukakan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
menyusun instrumen antara lain :
1. Masalah dan variabel yang diteliti termasuk indikator variabel, harus jelas spesifik
sehingga dapat dengan mudah menetapkan jenis instrumen yang akan digunakan

2. Sumber data/informasi baik jumlah maupun keragamannya harus diketahui dahulu,


sebagai bahan atau dasar dalam menentukan isi, bahasa, sistematika item dalam
instrumen penelitian
3. Keterampilan dalam instrumen itu sendiri sebagai alat pengumpul data baik dari
keajegan, kesahihan maupun objektivitasnya
4. Jenis data yang diharapkan dari penggunaan instrumen harus jelas, sehingga peneliti
dapat memperkirakan cara analisis data guna pemecahan masalah penelitian
5. Mudah dan praktis digunakan akan tetapi dapat menghasilkan data yang diperlukan.
B. Jenis-jenis Instrumen
1. Tes
Secara harfiah kata test berasal dari kata bahasa prancis kuno: testum yang berarti
piring untuk menyisihkan logam-logam mulia, dalam bahasa Indonesia diterjemahkan
dengan tes yang berarti ujian atau percobaan.
Tes dapat berupa serentetan pertanyaan, lembar kerja, atau sejenisnya yang dapat
digunakan untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, bakat, dan kemampuan dari subjek
penelitian.
Menurut L.R.Gay and P.L.Diehl dalam buku Research Methods for Business and
Management (1996). Test is a means measuring the knowledge, skills, feeling, intelligence,
or aptitude of an individual or group. Test produce numerical scores that can be used to
identify, classify, or evaluate test takers.
Menurut Margono(2005) tes ialah seperangkat rangsangan (stimuli) yang diberikan
kepada seseorang dengan maksud untuk mendapat jawaban yang dapat dijadikan dasar bagi
penetapan skor angka.
Sehingga, tes juga dapat berupa serentetan pertanyaan, lembar kerja, atau sejenisnya
yang dapat digunakan untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, bakat, dan kemampuan
dari subjek penelitian.
Menurut Margono (2005), terdapat dua jenis tes yang sering dipergunakan sebagai alat
ukur yaitu:
a. Tes tulis
Tes tulis adalah sejumlah pertanyaan yang diajukan secara tertulis tentang aspek aspek
yang ingin diketahui keadaanya dari jawaban yang diberikan secara tertulis pula.

b. Tes lisan
Tes lisan adalah sejumlah pertanyaan yang diajukan secara lisan tentang aspek aspek
yang ingin diketahui keadaanya dari jawaban yang diberikan secara lisan pula.
Menurut Tjutju Soendari (2010) tes terbagi menjadi dua, yaitu :
a. Tes Prestasi
Tes prestasi belajar adalah salah satu alat ukur hasil belajar yang dapat mencakup semua
kawasan tujuan pendidikan. Kawasan pendidikan tersebut mencakup kawasan kognitif,
afektif dan psikomotorik.
Tes prestasi terbagi menjadi dua jenis yaitu :
1) Berdasarkan jenis
Tes berbentuk baku
Tes berbentuk baku adalah tes yang telah dipublikasikan dan telah disiapkan oleh
para ahli secara cermat sehingga norma norma perbandingan, validitas,
reliabilitas dan petunjuk pemberian skornya telah diuji dan disiapkan.
Tes buatan sendiri, guru atau peneliti
Tes bentuk ini biasanya disusun atau dirancang oleh kita sendiri, guru atau
peneliti untuk mengukur pemahaman peserta tes dalam mempelajari suatu
materi. Syarat

yang harus dipenuhi agar soal tes buatan sendiri dapat

dipergunakan sebagai alat pengukuran (Margono (2005) yaitu:


a) Tes harus valid
Tes disebut valid apabila tes tersebut benar benar dapat mengungkap aspek
yang diselidiki secara tepat, dengan kata lain harus memiliki tingkat
ketepatan yang tinggi dalam mengungkap aspek aspek yang hendak diukur.
b) Tes harus realiabel
Tes dikatakan realiabel apabila tes tersebut mampu memberikan hasil yang
relatif tetap apabila dilakukan secara berulang pada kelompok individu yang
sama.
c) Tes harus objektif
Tes dikatakan objektif apabila dalam memberikan nilai kuantitatif terhadap
jawaban, unsur subjektivitas penilai tidak ikut mempengaruhi.

d) Tes harus bersifat diagnostik


Tes bersifat diagnostik apabila tes memiliki daya pembeda dalam arti mampu
memilah milah individu yang memiliki kemampuan yang tinggi sampai
angka yang terendah dalam aspek yang akan diungkap. Maka dari itu harus
dilakukan perhitungan tingkat kesukaran butir tes dan analisis butir tes.
Tingkat kesukaran berupa indeks P = 100 dari satu butir tes yang termudah
sampai indeks P = 0,00 dari satu item tes yang tersukar. Keadaan ini harus
tersebar dalam tes dengan presentase 20% butir tes yang sukar, 50% butir tes
yang kesukarannya sedang, dan 30% butirtes yang mudah.
e) Tes harus efisien
Tes yang efisien yaitu tes yang mudah cara membuatnya dan mudah pula
penilaiannya.
2) Berdasarkan Bentuk Soal
Menurut Rus Effendi (2005) test di bagi menjadi dua tipe, yaitu :
Tes subjektif (uraian)
Test uraian, essey atau yang sering disebut dengan tes tipe subjektif, sebab skor
pekerjaan seseorang dipengaruhi oleh penilai: latar belakang penilai,
kemampuan memahami dari penilai, kondisi penilai, dan sebagainya.
Tes dalam bentuk uraian dapat digolongkan menjad dua macam, yaitu :
a) Tes uraian terbatas
Pada tes ini jawaban yang dikehendaki sifatnya sudah dibatasi.
b) Tes uraian tak terbatas atau terbuka
Pada tes ini setiap peserta tes sepenuhnya memiliki kebebasan untuk
menjawab sesuai dengan yang dipikirkan.
Keunggulan: akan memunculkan sifat kreatif pada diri siswa dalam menjawab
soal.
Kelemahan: membutuhkan waktu yang cukup lama dalam menilai atau
mengoreksi jawaban siswa.
Tes objektif
Tipe tes ini disebut tipe objektif karena siapa pun yang menilai skor yang
diperoleh oleh peserta tes akan memberikan hasil tetap.

Tes tipe objektif ini dapat dikelompokkan kedalam bentuk tes sebagai berikut :
a) Benar Salah (True - False)
Soal tes ini berbentuk kalimat berita atau pertanyaan yang soal - soalnya
berupa pernyataan (statement) dan pernyataan tersebut ada yang benar dan
salah.
b) Memasangkan (Matching Test )
Matching test dapat kita ganti dengan istilah mencocokan, memasangkan
atau menjodohkan. Matching test terdiri atas satu seri pernyataan dan satu
seri jawaban.

Masing-masing pertanyaan mempunyai jawaban yang

tercantum dalam seri jawaban. Tugas peserta tes adalah mencari dan
menempatkan jawaban-jawaban, sehingga sesuai atau cocok dengan
pertanyaannya.
c) Isian Singkat (Completion Test)
Completion

test

biasa

kita

sebut

dengan

istilah

tes

isian,

tes

menyempurnakan, atau tes melengkapi. Completion test terdiri atas kalimatkalimat yang ada bagian-bagiannya yang dihilangkan dan bagian yang
dihilangkan tersebut harus dilengkapi oleh peserta tes.
d) Pilihan ganda (Multiple Choice Test)
Multiple choice test terdiri atas suatu keterangan atau pemberitahuan tentang
suatu pengertian yang belum lengkap. Untuk melengkapinya harus memilih
satu dari beberapa kemungkinan jawaban yang telah disediakan.
Keunggulan: Penilaian objektif dan cepat, materi yang ditanyakan bisa lebih
luas dan menyeluruh, dan pertanyaannya dapat mendetail
sehingga dapat digunakan untuk mengukur pengetahuan dan
kemampuan siswa.
Kelemahan: Tipe soal ini dapat mengecoh.
Menurut Margono (2005) dalam membuat butir tes soal objektif harus
memenuhi syarat sebagai berikut :
a) Syarat bagi pembuat tes
Pembuat tes harus berusaha memenuhi syarat sebagai berikut:
Memiliki pengetahuan yang mendalam tentang bahan yang akan dites.

Memiliki kecakapan dan pengetahuan dalam teknik konstruksi tes.


Memiliki kemampuan merumuskan buah pikiran secara teliti, singkat,
dan jelas.
b) Petunjuk umum menyusun butir tes objektif
Hendaknya disertakan petunjuk tentang cara mengerjakan soal dalam
setiap pertanyaan.
Menggunakan istilah dan menyusun kalimat yang sesuai dengan tingkat
kemampuan peserta tes.
Hindarkan pertanyaan yang mengandung lebih dari satu pengertian.
Pertanyaan yang diambil jangan diambil langsung dari buku bacaan atau
bahan pelajaran, karena hal itu akan melatih ingatan saja dan kurang
mendorong peserta tes untuk berpikir.
Ururtan jawaban yang salah dan yang benar jangan mengikuti suatu pola
tertentu.
Jangan sampai pertanyaan yang satu tergabung pada pertanyaan yang
lain sehingga apabila peserta tes tidak dapat menjawab yang satu maka
tidak akan dapat menjawab yang lain.
Tes objektif harus mengevaluasi tujuan tujuan pengajaran yang sudah
ditetapkan.
Butir butir tes hendaknya disusun sedemikian sehingga peserta tes
yang sudah mencapai tujuan pengajaran akan mendapatkan jawaban
yang benar.
Butiran tes harus memiliki discriminatory power untuk membedakan
peseta tes yang sudah mencapai tujuan pengajaran dan yang belum.
Petunjuk tes dan butir butir tes harus mudah dipahami peserta tes.
Tes harus dipersiapkan dengan baik.
Waktu yang diberikan kepada peserta tes harus cukup.
Untuk tes pilihan ganda, hendaknya memberikan pilihan yang jelas dan
hanya ada satu jawaban yang benar.
b. Tes Potensi
1) Tes Kecerdasan Umum

Tes Intelegensi (Intelligence test)


Tes ini digunakan untuk mengetahui atau memperkirakan tingkat intelektualitas
seseorang.
Tes Prestasi Achievement test)
Digunakan untuk mengetahui pencapaian seseorang setelah mempelajari sesuatu.
2) Tes Kecerdasan Khusus
Tes Kepribadian (Personality test)
Digunakan untuk mengungkap kepribadian seseorang yang menyangkut konsep
pribadi, kreativitas, disiplin, kemampuan, bakat khusus, dan sebagainya.
Tes Sikap(Attitude test)
Digunakan untuk mengukur berbagai sikap seseorang dalam menghadapi suatu
kondisi.
Tes Bakat (Aptitude test)
Tes ini digunakan untuk mengetahui bakat seseorang.
Tes Minat (Measures of interest)
Digunakan untuk menggali minat seseorang terhadap sesuatu.
2. Nontes
a. Interview (Wawancara)
Metode wawancara menurut Silalahi (2012) merupakan metode yang digunakan
untuk mengumpulkan data atau keterangan secara lisan dari seseorang yang disebut
responden melalui suatu percakapan yang berlangsung secara sistematis dan terorganisasi
yang dilakukan oleh peneliti sebagai pewawancara (interviewer) dengan sejumlah orang
sebagai responden atau yang diwawancarai (interviewee) untuk mendapatkan sejumlah
informasi yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.
Menurut Sugiyono (2012), wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan
data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan
yang harus diteliti, dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden
yang lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit/kecil. Sutrisni Hadi (dalam
Sugiyono, 2012) mengemukakan bahwa anggapan yang perlu dipegang oleh peneliti
dalm menggunakan metode interview dan juga kuesioner (angket) adalah sebagai berikut:
1) Bahwa subjek (responden) adalah orang yang paling tahu tentang dirinya sendiri.

2) Bahwa apa yang dinyatakan oleh subyek kepada peneliti adalah benar dan dapat
dipercaya.
3) Bahwa interpretasi subyek tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peneliti
kepadanya adalah sama dengan apa yang dimaksud oleh peneliti.
Selanjutnya, berdasarkan Silalahi (2012) wawancara dapat dibedakan sebagai
berikut:
1) Wawancara Terstruktur (Structured Interview)
Wawancara terstruktur (structured interview), kadang-kadang disebut wawancara
distandarisasi (standarized interview), memerlukan administrasi dari suatu jadwal
wawancara oleh seorang pewawancara. Wawancara terstruktur dilakukan oleh
peneliti apabila peneliti mengetahui secara jelas dan terperinci informasi yang
dibutuhkan dan memiliki suatu daftar pertanyaan yang sudah ditentukan atau disusun
sebelumnya yang akan disampaikan kepada responden. Oleh karena itu, dalam
melakukan wawancara, pengumpul data telah menyiapkan instrumen penelitian
berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis dan alternatif jawabannya. Responden diberi
pertanyaan yang sama, dan pewawancara mencatatnya.
Contoh:
Wawancara tentang tanggapan siswa terhadap model pembelajaran diskusi kelompok.
Yang diwawancarai adalah 10 siswa yang dipilih secara random. Pewawancara
melingkari salah satu jawaban yang diberikan responden.
1. Bagaimana tanggapan anda dengan model pembelajaran diskusi?
a. Sangat bagus
b. Bagus
c. Tidak bagus
d. Sangat tidak bagus
2. Bagaimana proses belajarnya?
a. Sangat bagus
b. Bagus
c. Tidak bagus
d. Sangat tidak bagus, dst.

2) Wawancara Tak Terstruktur


Wawancara tidak terstruktur adalah adalah wawancara yang bebas dimana peneliti
tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan
lengkap untuk pengumpulan datanya. Pedoman wawancara yang digunakan hanya
berupa garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan (Sugiyono, 2012).
Dalam wawancara tak terstruktur, peneliti belum mengetahui secara pasti data yang
akan diperoleh, sehingga peneliti lebih banyak mendengarkan aapa yang diceritakan
oleh responden. Berdasarkan analisis terhadap setiap jawaban dari responden
tersebut, maka peneliti dapat mengajukan berbagai pertanyaan berikutnya yang lebih
terarah pada suatu tujuan. Dalam melakukan wawancara peneliti dapat menggunakan
cara berputar-putar baru menukik artinya pada awal wawancara, yang dibicarakan
adalah hal-hal yang tidak terkait dengan tujuan, dan bila sudah terbuka kesempatan
untuk menanyakan sesuatu yang menjadi tujuan, maka segera ditanyakan.
Contohnya: bagaimanakah pendapat bapak/ibu terhadap kebijakan pemerintah
terhadap Perguruan Tinggi Berbadan Hukum? Dan bagaiman peluang masyarakat
miskin dalam memperoleh pendidikan yang bermutu? Dst.
Sedangkan dari jenis-jenis wawancara tersebut, Silalahi (2012) membagi
wawancara dalam pelaksanaannya menjadi sebagai berikut:
1) Wawancara Tatap Muka (Face To Face Interview)
Wawancara tatap muka (personal interview) dilakukan secara personal antara peneliti
antara peneliti (pewawancara) dan responden (yang diwawancara).
Contohnya: penelitian tentang penerima beasiswa di sebuah sekolah. Untuk
memperoleh data dapat dilakukan interview tatap muka dengan orangtua siswa secara
langsung.
2) Wawancara Telepon (Interview By Telephone)
Wawancara melalui telepon merupakan pembicaraan antara peneliti (pewawancara)
dan responden (yang diwawancara) dengan menggunakan telepon sebagai alat. Ini
merupakan metode semipersonal untuk pengumpulan informasi.
Contohnya: meneliti pengaruh aktifitas siswa dirumah terhadap prestasi belajar siswa
di kelas. Data diperoleh dengan menghubungi orangtua siswa melalui telepon.

Berdasarkan Silalahi (2012), garis besar langkah-langkah melakukan wawancara


adalah sebagai berikut:
1) Susun pertanyaan yang berhubungan dengan objek penelitian; apakah pertanyaan
terstruktur atau tak terstruktur.
2) Tentukan subjek yang diwawancarai dan cara wawancara.
3) Adakan hubungan dengan responden untuk memperkenalkan diri dan penelitian,
mengomunikasikan maksud wawancara, sekaligus menentukan jadwal dan tempat
dan sarana wawancara.
4) Uji coba wawancara dengan sampel kecil dari sampel yang telah ditentukan.
5) Perbaiki pertanyaan wawancara jika membingungkan.
6) Lakukan wawancara dan ajukan pertanyaan.
7) Bangun komunikasi efektif selama wawancara (termasuk tahap uji coba).
8) Lakukan probing untuk mengkonfirmasi jawaban dan untuk mendapat informasi yang
lebih luas.
9) Catat jawaban-jawaban, baik secara manual dan atau secara mekanik melalui alat
perekam.
10) Ucapkan terimakasih kepada responden jika wawancara telah selesai dan buat janji
jika masih diperlukan wawancara lanjutan.
Selain itu, menurut Silalahi (2012) ada beberapa faktor yang mempengaruhi baik
langsung maupun tidak langsung dalam pelaksanaan wawancara dan menentukan kualitas
informasi yang diperoleh. Adapun faktor-faktor tersebut antara lain:
1) Faktor yang berpengaruh langsung
Pewawancara
Seorang pewawancara bukan saja memiliki rasa ingin tahu yang besar, melainkan
juga harus memiliki kualitas seperti penguasaan masalah, penguasaan teori, dan
penguasaan metode wawancara dan daya tanggap yang peka tentang apa yang
dibutuhkan untuk dilaksanakan dalam konteks wawancara.
Yang diwawancara
Agar wawancara menghasilkan informasi yang bermutu, responden yang
diwawancarai bukan saja menguasai informasi yang berhubungan dengan
permasalahan yang diselidiki, melainkan juga dia mampu mengungkapkan

pikiran-pikirannya dalam bahasa dan makna yang mudah dimengerti. Jika


responden cenderung sukar berbicara atau mengungkapkan pengetahuannya atas
informasi tentang masalah yang ditanyakan, kelayakan untuk mengumpulkan data
atau informasi dari mereka cenderung berkurang, apalagi jika pengetahuannya
tentang data atau informasi yang berhubungan dengan masalah terbatas. Selain itu
objektif informasi yang berhubungan dengan masalah juga menentukan mutu
wawancara. Jadi, responden yang paling baik adalah orang yang suka berbicara
bebas, terbuka, dan objektif.
Sifat dan manfaat permasalahan
Mutu wawancara juga dipengaruhi oleh relevansi topik permasalahan yang diteliti
dengan subjek yang diwawancara. Dalam hal ini, jika sifat permasalahan dan
pemecahannya memiliki implikasi manfaat atau menguntungkan bagi responden,
wawancara akan berlangsung dengan lancar. Sebaliknya, jika permasalahan dan
pemecahannya tidak menguntungkan dan bahkan memiliki implikasi yang
merugikan bagi responden, wawancara akan gagal atau tidak mendapatkan
informasi yang sahih.
Proses pencatatan
Mutu wawancara akan bermutu juga ditentukan oleh pencatatan karena harus
dilakukan semestinya jangan sampai ada bagian dari informasi yang hilang.
Pencatatan dapat dilakukan langsung, pencatatan dengan alat perekam, dan
pencatatan dari ingatan.
2) Faktor yang berpengaruh tidak langsung
Lingkungan wawancara
Lingkungan wawancara berhubungan dengan situasi dan kondisi dimana
wawancara dilakukan. Wawancara yang dilakukan di tempat terbuka, bising dan
banyak orang hilir mudik, tentu akan menghasilkan data yang kurang bermutu
dibandingkan dengan jika wawancara dilakukan di tempat tenang.
Supaya hasil wawancara dapat direkam dengan baik, dan peneliti memiliki
bukti telah melakukan wawancara kepada informan atau sumber data, maka diperlukan
bantuan alat-alat sebagai berikut:

1) Buku catatan: berfungsi untuk mencatat semua percakapan dengan sumber data.
Sekarang sudah banyak komputer yang keci, notebook yang dapat digunakan untuk
membantu mencatat data hasil wawancara.
2) Tape recorder: berfungsi untuk merekam semua percakapan atau pembicaraan.
Penggunaan tape recorder dalam wawancara perlu memberi tahu kepada informan
apakah dibolehkan atau tidak.
3) Camera: untuk memotret kalau peneliti sedang melakukan pembicaraan dengan
informan/sumber data. Dengan adanya foto, keabsahan data penelitian akan lebih
terjamin, karena peneliti betul-betul melakukan pengumpulan data.
b. Observasi
Berdasarkan Sugiyono dalam Sutrisno Hadi (1986) mengemukakan bahwa
observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari
pelbagai proses biologis dan psikologis. Teknik pengumpulan data dengan observasi
digunakan bila penelitian berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala
alam dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar.
Menurut Sugiyono dalam Nasution (1988) menyatakan bahwa, observasi adalah
dasar semua ilmu pengetahuan. Para ilmuwan hanya dapat bekerja berdasarkan data,
yaitu fakta mengenai dunia kenyataan yang diperoleh melalui observasi. Selain itu,
Sugiyono dalam Marshall (1995) menyatakan bahwa through observation, the
researcher learn about behavior and meaning attached to those behavior. Melalui
observasi, peneliti belajar tentang perilaku, dan makna dari perilaku tersebut.
Dari pernyataan-pernyataan diatas dapat disimpulakn bahwa observasi adalah
pengamatan terhadap suatu objek, gejala, peristiwa atau proses yang terjadi dalam suatu
situasi baik yang terjadi pada manusia dan lingkungannya.
Sugiyono dalam Sanafiah Faisal (1990) mengklasifikasikan observasi menjadi
sebagai berikut:
1) Observasi Berpartisipasi (Participant Observation)
Dalam observasi ini, peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang
diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian.
Sugiyono dalam Susan Stainback (1988) menyatakan In participant observation, the
reseacher observes what people do, listent to what they say, and participates in their

activities. Dalam observasi partisipatif, peneliti mengamati apa yang dikerjakan


orang, mendengarkan apa yang mereka ucapkan, dan berpartisipasi dalam aktifitas
mereka. Contohnya, peneliti berperan sebagai guru di suatu kelas yang diteliti,
peneliti dapat mengamati bagaimana proses pembelajaran dikelas, semangat belajar,
dsb. Selanjutnya, Sugiyono dalam Susan Stainback (1988) membagi observasi
partipasi menjadi sebagai berikut:
a) Partisipai pasif (passive participant) : meansthe research is present at the scene of
action but does not interact or participate. Jadi dalam hal ini peneliti datang di
tempat kegiatan orang yang diamati, tetapi tidak ikut terlibat dalam kegiatan
tersebut.
b) Partisipasi moderat (moderate participation) : means that the reseacher maintains
a balance between being insider and being outsider. Dalm observasi ini terdapat
keseimbangan antara peneliti menjadi orang dalam dengan orang luar. Peneliti
dalam mengumpulkan data ikut observasi partisipatif dalam beberapa kegiatan,
tetapi tidak senuanya.
c) Partisipasi aktif (active participation) : means that the reseacher generally does
what others in the setting do. Dam observasi ini peneliti ikut melakukan apa yang
dilakukan oleh nara sumber, tetapi belum sepenuhnya lengkap.
d) Partisipasi lengkap (complete participation) : means the reseacher is a natural
participant. This is the highest level of involvement. Dalam melakukan
pengumpulan data, peneliti sudah terlibat sepenuhnya terhadap apa yang
dilakukan sumber data. Jadi suasana sudah natural, peneliti tidak terlihat
melakukan penelitian. Hal ini merupakan keterlibatan peneliti yang tertinggi
terhadap aktifitas yang diteliti.
2) Observasi Terang-terangan dan Tersamar (Overt Observation and Covert
Observation)
Dalam hal ini, peneliti dalam melakukan pengumpulan data menyatakan terus terang
kepada sumber data, bahwa ia sedang melakukan penelitian. Jadi mereka yang diteliti
mengetahui sejak awal sampai akhir tentang aktifitas peneliti. Tetapi dalam suatu saat
peneliti juga tidak terus terang atau tersamar dalam observasi, hal ini untuk
menghindari kalau suatu data yang dicari merupakan data yang masih dirahasiakan.

Contohnya, peneliti melakukan penelitian terhadap siswa yang kurang mampu,


peneliti dapat memperoleh data dengan melakukan observasi secara langsung dengan
datang kerumah siswa, melakukan pengamatan, namun tidak menyampaikan secara
keseluruhan maksud kedatangannya untuk berkunjung kerumah siswa karena
dikhawatirkan akan menyinggung perasaan siswa. Oleh karena itu dalam memperoleh
data dilakukan pengamatn secara terang-terangan dan tersamar.
3) Observasi Tidak Terstruktur (Unstructured Observation)
Observasi tidak terstruktur adalah observasi yang tidak dipersiapkan secara sistematis
tentang apa yang akan diobservasi. Hal ini dilakukan karena peneliti tidak tahu secara
pasti tentang apa yang akan diamati. Dalam melakukan pengamatan peneliti tidak
menggunakan instrumen yang telah baku, tetapi hanya berupa rambu-rambu
pengamatan. Contohnya, penelitian yang dilakukan pada sebuah sekolah yang belum
dikenalnya. Peneliti belum tahu pasti apa yang akan diamati. Oleh karena itu peneliti
dapat melakukan observasi tidak terstruktur untuk mendapatkan informasi yang
dibutuhkan.
Berdasarkan proses pelaksanaannya, Sugiyono (2012) membagi observasi antara
lain:
1) Observasi Berperanserta (Participant Observation)
Dalam observasi ini, peneliti ikut melakukan apa yang dikerjakan oleh sumber data,
dan ikut merasakan suka dukanya. Dengan observasi partisipan ini, maka data yang
diperoleh akan lebih lengkap, tajam, dan sampai mengetahui pada tingkat makna dari
setiap perilaku yang nampak
2) Observasi Nonpartisipan (Nonparticipant Observation)
Dalam observasi ini, peneliti tidak terlibat dan hanya sebagai pengamat independen.
Pengumpulan data dengan observasi nonpartisipan tidak akan mendapatkan data yang
mendalam, dan tidak sampai pada tingkat makna. Makna adalah nilai-nilai dibalik
perilaku yang tampak, yang terucapkan dan yang tertulis. Misalnya, dalam suatu
sekolah, peneliti dapat mengamati bagaimana hasil belajar siswa dalam pelajaran
matematika kelas X dengan mengumpulkan hasil nilai siswa dari guru
matematikanya, mengalisis dan selanjutnya dapat membuat kesimpulannya.

Selanjutnya, dari segi instrumen yang digunakan, observasi dibagi menjadi


sebagai berikut (Sugiyono, 2012):
1) Observasi Terstruktur
Observasi terstruktur adalah observasi yang telah dirancang secara sistematis, tentang
apa yang diamati, dimana tempat. Jadi observasi terstruktur dilakukan apabila peneliti
telah tahu dengan pasti tentang variabel apa yang akan diamati.
2) Observasi Tidak Terstruktur
Observasi tidak terstruktur adalah observasi yang tidak dipersiapkan secara sistematis
tentang apa yang akan diobservasi. Hal ini dilakukan karena peneliti tidak tahu secara
pasti tentang apa yang akan diamati. Dalam melakukan pengamatan peneliti tidak
menggunakan instrumen yang telah baku, tetapi hanya berupa rambu-rambu
pengamatan.
Menurut Sugiyono dalam Nasution (1988), manfaat observasi adalah sebagai
berikut:
1) Peneliti akan lebih mampu memahami konteks data dalam keseluruhan situasi sosial,
jadi akan diperoleh pandangan yang holistik atau menyeluruh.
2) Peneliti akan memperoleh pengalaman langsung, sehingga memungkinkan peneliti
menggunakan pendekatan induktif, jadi tidak dipengaruhi oleh konsep atau
pandangan sebelumnya.
3) Peneliti dapat melihat hal-hal yang kurang atau tidak diamati orang lain, khususnya
orang yang berada dalam lingkungan itu.
4) Peneliti dapat menemukan hal-hal yang sedianya tidak akan terungkapkan oleh
responden.
5) Peneliti dapat menemukan hal-hal yang diluar persepsi responden.
Objek observasi menurut Sugiyono dalam Spradley dibedakan menjadi sebagai
berikut:
1) Place, atau tempat dimana interaksi dalam situasi sosial sedang berlangsung.,
contohnya tempat belajar siswa (kelas).
2) Actor, pelaku atau orang-orang yang sedang memainkan peran tertentu, contohnya
guru dan siswa.

3) Activity, atau kegiatan yang dilakukan oleh aktor dalam siatuasi sosial yang sedang
berlangsung, contohnya kegiatan belajar mengajar dikelas.
Selanjutnya, Sugiyono dalam Spradley (1980) tahapan observasi adalah sebagai
berikut:
1) Observasi deskriptif
Observasi deskriptif dilakukan peneliti pada saat memasuki situasi sosial tertentu
sebagai objek penelitian. Pada tahap ini peneliti belum membawa masalah yang jelas
yang akan diteliti, maka peneliti melakukan penjelajahan umum, dan menyeluruh,
melakukan deskripsi terhadap semua yang dilihat, didengar dan dirasakan. Observasi
tahap ini sering disebut sebagai grand tour observation , dan peneliti menghasilkan
kesimpulan pertama.
2) Observasi terfokus
Pada tahap ini, peneliti sudah melakukan mini tour observation, yaitu suatu observasi
yang telah dipersempit untuk difokuskan pada aspek tertentu. Observasi ini juga
dinamakan observasi taksonomi sehingga dapat menemukan fokus.
3) Observasi terseleksi
Pada tahap ini peneliti telah menguraikan fokus yang ditemukan sehingga datanya
lebih rinci. Dengan melakukan analisis komponensial terhadap fokus, maka pada
tahap ini peneliti telah menemukan karakteristik, kontras-kontras/perbedaan dan
kesamaan antar kategori, serta menemukan hubungan antara suatu kategori dengan
kategori yang lain.
c. Kuesioner (Angket)
Arikunto (2006) mendefinisikan angket sebagai pernyataan tertulis yang
digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang
pribadi atau hal-hal yang ia ketahui. Sedangkan menurut Soendari (2010), angket adalah
perangkat pernyataan atau pertanyaan tertulis yang harus dijawab oleh responden secara
tertulis pula. Sejalan dengan itu Sugiyono (2012) menyatakan bahwa kuesioner
merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat
pernyataan atau pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Kuesioner
merupakan teknik pengumpulan data yang efisien bila peneliti tahu dengan pasti variabel

yang akan diukur dan tahu apa yang bisa diharapkan dari responden. Selain itu, kuesioner
juga cocok digunakan bila jumlah responden cukup besar dan tersebar di wilayah yang
luas. Kuesioner dapat berupa pertanyaan/ pernyataan tertutup atau terbuka, dapat
diberikan kepada responden secara langsung atau dikirim melalui pos atau internet.
Uma Sekaran (1992) mengemukakan beberapa prinsip dalam penulisan angket
sebagai teknik pengumpulan data, yaitu prinsip penulisan, pengukuran, dan penampilan
fisik.
1. Prinsip Penulisan Angket
Prinsip penulisan angket menyangkut beberapa faktor, yaitu:
a. Isi dan tujuan pertanyaan
Yang dimaksud di sini adalah, apakah isi pertanyaan tersebut merupakan bentuk
pengukuran atau bukan. Jika berbentuk pengukuran, maka dalam membuat
pertanyaan harus teliti, sebab pertanyaan harus dalam bentuk skala pengukuran dan
jumlah itemnya mencukupi untuk mengukur variabel yang diteliti.
b. Bahasa yang digunakan
Bahasa yang digunakan dalam penulisan angket harus disesuaikan dengan
kemampuan

berbahasa

responden.

Bahasa

yang

digunakan

pun

harus

memperhatikan jenjang pendidikan responden, keadaan sosial budaya, dan frame


of reference dari responden.
c. Tipe dan bentuk pertanyaan
Tipe pertanyaan dalam angket dapat terbuka (pertanyaan yang mengharapkan
responden untuk menuliskan jawabannya dalam bentuk uraian) atau tertutup
(pertanyaan yang mengharapkan jawaban singkat atau mengharapkan responden
untuk memilih salah satu alternatif jawaban yang telah disediakan) dan dapat pula
menggunakan kalimat positif ataupun negatif.
d. Pertanyaan tidak mendua
Setiap pertanyaan dalam angket sebisa mungkin jelas dan tidak mendua (doublebarrelled) sehingga menyulitkan responden untuk memberikan jawaban.
e. Tidak menanyakan pertanyaan yang sudah lupa

Setiap pertanyaan dalam instrumen angket juga sebaiknya tidak menanyakan halhal yang sekiranya responden sudah lupa, atau pertanyaan yang memerlukan
jawaban dengan berpikir berat.
Contoh : Bagaimana menurut Anda pendapat siswa SMA tentang pelaksanaan
SIPENMARU 30 tahun yang lalu? Jikalau responden yang bersangkutan baru
berumur 30an tahun, pastilah akan sulit memberikan jawaban.
f. Pertanyaan tidak menggiring
Pertanyaan dalam angket sebaiknya juga tidak menggiring ke jawaban yang baik
saja atau ke yang jelek saja.
g. Panjang pertanyaan
Pertanyaan dalam angket sebaiknya tidak terlalu panjang, sehingga akan membuat
jenuh responden dalam mengisi. Bila jumlah variabel banyak, sehingga
memerlukan instrumen yang banyak, maka instrumen tersebut dibuat bervariasi
dalam poenampilan, model skala pengukuran yang digunakan, dan cara
mengisinya.
h. Urutan pertanyaan
Urutan pertanyaan dalam angket dimulai dari yang umum menuju ke hal yang
spesifik, atau dari yang mudah menuju ke hal yang sulit, atau diacak. Hal ini perlu
dipertimbangkan karena secara psikologis akan mempengaruhi semangat
responden untuk menjawab. Jika pada awalnya responden langsung diberi
pertanyaan yang sulit, maka responden akan patah semangat untuk mengisi angket
yang telah mereka terima. Urutan pertanyaan yang diacak perlu dibuat bila tingkat
kematangan responden terhadap masalah yang ditanyakan sudah tinggi.
2. Prinsip Pengukuran
Angket merupakan instrumen penelitian yang akan digunakan untuk mengukur
variabel yang akan diteliti. Oleh karena itu, angket tersebut harus dapat digunakan
untuk mendapat data yang valid dan reliabel tentang variabel yang diukur.Untuk
memperoleh data yang valid dan reliabel, maka instrumen angket tersebut perlu diuji
validitas dan reliabilitasnya terlebih dahulu sebelum digunakan.
3. Penampilan Fisik Angket

Penampilan fisik angket sebagai alat pengumpul data akan mempengaruhi respon atau
keseriusan responden dalam mengisi angket.
Contoh : Angket yang dibuat di kertas buram, akan mendapat respon yang kurang
menarik bagi responden, bila dibandingkan angket yang dicetak dalam kertas yang
bagus dan berwarna.

Kelebihan dan Kelemahan Angket


Dari http://wimamadiun.com (dalam Bimpome, 2011), angket memiliki beberapa
kelebihan, di antaranya:
1. Merupakan

metode

yang

praktis,

karena

dapat

dipergunakan

untuk

mengumpulkan data kepada responden dalam jumlah yang banyak dan waktu
yang singkat.
2. Merupakan metode yang ekonomis, dari segi tenaga yang dibutuhkan.
3. Setiap responden menerima sejumlah pertanyaan yang sama.
4. Responden mempunyai kebebasan untuk memberikan keterangan.
5. Responden mempunyai waktu cukup menjawab pertanyaan.
6. Pengaruh subyektif dapat dihindarkan.
Selain

kelebihan,

angket

juga

memiliki

beberapa

kelebihan

http://wimamadiun.com (dalam Bimpome, 2011), di antaranya:


1. Sulit untuk mendapat jaminan bahwa responden memberikan jawaban yang tepat.
2. Terbatas hanya pada responden yang bisa membaca dan menulis.
3. Karena tidak berhadapan langsung dengan responden, maka bila ada pertanyaan
yang kurang jelas, responden tidak dapat mendapatkan keterangan lebih lanjut.
4. Bersifat kaku, karena pertanyaan-pertanyaan dalam angket telah ditentukan,
sehingga tidak dapat diubah sesuai dengan keadaan sekitar.
5. Sulit mendapat jaminan bahwa responden akan mengembalikan angket yang
diberikan.
Angket/ kuesioner dapat dibagi ke dalam beberapa bentuk/tipe, tergantung dari
sudut pandang kita melihatnya.

Silalahi (2012) membagi kuesioner menjadi 2 tipe berdasarkan pertanyaan yang


digunakan, yakni:
1. Pertanyaan dan Jawaban Terbuka (Open Ended)
Pertanyaan terbuka

merupakan

pertanyaan

dengan kategori

respons

tidak

dispesifikasi. Pertanyaan menghendaki responden menjawab dalam cara yang mereka


pilih. Responden menguraikan pendapat, persepsi, atau sikap mereka mengenai hal
yang ditanyakan. Jadi, alternatif kategori respon yang dipilih oleh responden tidak
secara pasti ditentukan dalam kuesioner. Kadang-kadang pertanyaan terbuka dibuat
secara fleksibel dan digunakan untuk pertanyaan-pertanyaan rumit yang memerlukan
penjelasan terperinci.
Contoh pertanyaan kuesioner terbuka adalah:
Kondisi kelas yang bagaimana yang Anda senangi dalam sebuah perkuliahan? Hal
apa yang Anda senangi dari dosen pengampu mata kuliah A? Mengapa?
Dalam pengajuan pertanyaan-pertanyaan tersebut, tidak ada pilihan yang disediakan;
tetapi responden harus bisa mengimprovisasi jawabannya.
Keuntungan:
Pertanyaan terbuka memberikan mengizinkan responden untuk menjawab kerangka
acuan mereka sendiri, seluruhnya tidak dipengaruhi oleh alternatif spesifik apa pun
yang diusulkan oleh pewawancara. Mereka juga mengungkapkan apa yang paling
mencolok mata responden, berbagai hal apa yang terpenting dalam pikiran mereka
(Peter et al dalam Silalahi, 2012)).
Kelemahan:
Dapat menimbulkan pengulangan, material tidak relevan, responden akan sering
kehilangan titik pertanyaan serta terlibat kejanggalan yang panjang ketika mereka
mencoba mengorganisasikan atau mengartikulasikan pemikiran-pemikiran mereka
(Ibi dalam Silalahi, 2012)).
2. Pertanyaan dan Jawaban Tertutup (Closed Questions)
Pertanyaan tertutup meminta responden membuat pilihan di antara satu set alternatif
tertentu yang telah ditetapkan oleh peneliti. Sejumlah alternatif kategori respon yang
pasti telah disusun secara lengkap dan terpisah sehingga responden hanya memilih
salah satu atau lebih dari kategori respon tersebut (Silalahi, 2012). Sidiq (2013)

menambahkan bahwa angket tertutup biasa juga disebut dengan angket berstruktur,
yakni jenis angket yang setelah rumusan pertanyaannya disediakan pula alternatif
jawaban yang dapat dipilih oleh responden. Angket (Sidiq, 2013) berstruktur
dibedakan menjadi dua bentuk, yaitu:

Angket berstruktur dengan pertanyaan tertutup ialah angket yang telah


menyediakan alternatif jawaban yang harus dipilih responden tanpa kemungkinan
jawaban lain.
Contoh:
Bagaimana pendapat Anda terhadap pembalajaran yang telah berlangsung tadi?
a. Sangat baik

b. Baik

c. Cukup

d. Kurang

e. Sangat kurang

Angket berstruktur dengan pertanyaan terbuka merupakan jenis pertanyaan angket


yang juga termasuk ke dalam angket tertutup, maksudnya alternatif jawabannya
berbentuk pilihan ganda tetapi peneliti berasumsi dari jawaban yang telah
disediakan untuk setiap pertanyaan mungkin tidak ada jawaban yang sesuai atau
tepat, sehingga responden perlu diberi kesempatan untuk menyampaikan jawaban
yang lebih tepat.
Contoh :
Pembelajaran yang bagaimanakah yang Anda sukai?
a. Pembelajaran dengan tugas-tugas terstruktur
b. Pembelajaran yang humoris
c. Pembelajaran yang santai
d. Pembelajaran yang komunikatif
e. ........................

Angket berstruktur dengan jawaban singkat (short answer item), angket jenis ini
merupakan gabungan atau kombinasi antara angket tidak berstruktur dengan
angket berstruktur.

Menurut Silalahi (2012), keuntungan dari kuesioner dengan item tertutup adalah:
1. Jawaban terstandar dan dapat dibandingkan dari orang ke orang.
2. Jawaban mudah diberi kode dan bahkan sering dapat diberi kode secara langsung
dalam kuesioner dan karenanya akan mempermudah analisis data.

3. Menghemat waktu bagi responden dan bagi peneliti. Di samping itu, juga
menghemat biaya.
4. Responden lebih sering jelas tentang arti pertanyaan dan kategori respon.
5. Jawaban secara relatif lengkap dan sedikit respon yang tidak relevan diterima.
Sedangkan kekurangannya adalah seringkali jawaban yang disediakan dalam
pertanyaan tertutup tidak sesuai dengan keinginan dan harapan responden. Dalam
menjawab pertanyaan, resoonden tidak dapat menyertakan kualifikasi untuk jawaban
mereka atau menekankan pendapat mereka.
3. Pertanyaan dan Jawaban Kontingensi
Pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner sering disusun dalam apa yang disebut
contingency questions (Bailey dalam Silalahi (2012)), yaitu suatu pertanyaan yang
relevan untuk responden ditentukan oleh responnya untuk satu pertanyaan
penyaringan. Pada dasarnya, pertanyaan tipe ini merupakan kasus spesial dari
pertanyaan tertutup. Cara ini disebut probing atau pertanyaan filter.
Contoh :
Pertanyaan dan jawaban kontingensi
Apakah Anda pernah mengikuti pelajaran tambahan di Lembaga Bimbingan Belajar?
(Silakan nyatakan jawaban Anda dengan memberi tanda pada jawaban yang sesuai
dengan kondisi Anda)
__ YA
__ TIDAK
Jika YA, sejak kapan Anda mengikuti bimbingan belajar tersebut?
__ SD
__ SMP
__ SMA
Mengapa Anda lebih memilih belajar di Lembaga bimbingan belajar?
(Pilihan dapat lebih dari satu)
(Silakan nyatakan jawaban Anda dengan cara mengurutkan jawaban yang membuat
Anda pindah dengan urutan angka 1 untuk item yang paling mendorong Andan untuk
mengikuti pelajaran tambahan di Lembaga Bimbel hingga ke angka yang lebih tinggi)

__ IKLIM BELAJAR YANG KONDUSIF


__ BERTEMU DENGAN TEMAN-TEMAN BARU
__ TENTOR/PENGAJAR YANG MENYENANGKAN
__MATERI PELAJARAN YANG MENYENANGKAN DAN MUDAH DIPAHAMI
__ REKOMENDASI ORANG TUA
__ LAINNYA ...
Jenis angket berdasarkan bentuknya (Arikunto, 2006), yaitu :
1. Angket pilihan ganda sama dengan kuesioner tertutup.
Contoh:
Pilihlah satu jawaban yang paling sesuai dengan diri Anda.
Ketika belajar di siang hari (jam-jam pelajaran terakhir) di kelas, saya merasa:
a. Tidak konsentrasi sama sekali
b. Sulit untuk berkonsentrasi
c. Berkonsentrasi sesaat
d. Mudah untuk berkonsentrasi
e. Konsentrasi penuh
2. Angket isian sama dengan kuesioner terbuka.
Contoh:
Bagaimana menurut Anda pembelajaran Matematika yang menyenangkan?
3. Angket check list yaitu angket yang telah menyediakan daftar jawaban dan responden
tinggal membubuhkan tanda check/ centang pada kolom yang sesuai.
4. Angket dengan rating scale (skala bertingkat) yaitu sebuah daftar pertanyaan yang
diikuti oleh kolom-kolom yang menunjukkan tingkata-tingkatan, misalnya mulai dari
sangat setuju sampai sangat sangat tidak setuju.
Contoh:
Angket Sikap Siswa Kelas PMRI
Berikan tanda pada kolom yang sesuai dengan kenyataan yang ada.
SS : sangat setuju

S : setuju

KS : kurang setuju

TS : tidak setuju

No

Pernyataan

SS

KS

TS

1.
2

Matematika merupakan mata pelajaran yang


saya sukai
Mata
pelajaran
Matematika
banyak
manfaatnya bagi kehidupan sehari-hari
(BiMPoME, 2011)

Jenis angket dipandang dari jawaban yang diberikan (Arikunto, 2006) :


1. Kuesioner langsung yaitu responden menjawab tentang dirinya. Jadi, angket tersebut
langsung diberikan kepada responden yang ingin diselidiki.
2. Kuesioner tidak langsung yaitu jika responden menjawab tentang orang lain. Jadi
jawaban angket tersebut diperoleh dengan melalui perantara, sehingga jawabannya
tidak dari sumber pertama.
Dalam merancang pertanyaan-pertanyaan suatu angket, kita harus memperhatikan
aturan umum dan aturan khusus dalam penyusunannya (Silalahi, 2012).
Aturan umum meliputi:
a.

Selalu mengingat pertanyaan penelitian sehingga pertanyaan yang Anda ajukan


berhubungan dengan pertanyaan penelitian.

b. Secara pasti memutuskan apa yang ingin Anda tahu


c. Menempatkan diri dalam posisi responden.
Aturan khusus meliputi:
a. Menghindari istilah mendua (ambigous words) dalam pertanyaan.
b. Menghindari pertanyaan panjang. Tulis pertanyaan dalam kata-kata yang singkat
dan jelas.
c. Menghindari pertanyaan tunggal yang menanyakan dua hal yang berbeda
d. Menghindari pertanyaan yang sangat umu karena aka sulit bagi responden untuk
menentukan kerangka referensi.
e. Menghindari pertanyaan yang secara aktual menanyakan dua pertanyaan.
d. Dokumentasi
Menurut Guba dan Lincoln (dalam Soendari, 2010), dokumentasi adalah setiap
bahan tertulis ataupun film yang sering digunakan untuk keperluan penelitian. Arikunto
(2006) menyatakan bahwa dokumentasi adalah mencari dan mengumpulkan data
mengenai hal-hal yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, notulen,

rapot, agenda dan sebagainya. Sedangkan Sugiyono (2012) mendefinisikan dokumen


sebagai catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar,
atau karya-karya monumental dari seseorang. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya
catatan harian, sejarah kehidupan (life histories), cerita, biografi, peraturan, kebijakan.
Sedangkan dokumen yang berbentuk gambar misalnya foto, gambar hidup, sketsa, dan
lain-lain. Dokumen yang berbentuk karya seni dapat berupa gambar, patung, film, dan
lain-lain.
Hasil penelitian dari observasi atau wawancara akan lebih kredibel atau dapat
dipercaya jika didukung oleh dokumentasi, baik berupa foto-foto, karya tulis akademik
dan seni yang telah ada, maupun bentuk dokumen lainnya. Tetapi perlu dicermati bahwa
tidak semua dokumen memiliki kredibilitas yang tinggi. Sebagai contoh, banyak foto
yang tidak mencerminkan keadaan aslinya, karena foto dibuat untuk kepentingan tertentu.
Demikian juga autobiografi yang ditulis untuk dirinya sendiri, sering cenderung subyektif
(Sugiyono, 2012).
Menurut Silalahi (2012), kuesioner atau angket merupakan satu mekanisme
pengumpulan data yang efisien bila peneliti mengetahui secara jelas apa yang
diisyaratkan dan bagaimana mengukur variabel yang diminati. Satu kuesioner atau angket
adalah satu set tulisan tentang pertanyaan yang diformulasi supaya responden mencatat
jawabannya.
Langkah-langkah dalam pelaksanaan pengumpulan data dengan metode angket
secara esensial (Silalahi, 2012) adalah:
1. Pernyataan masalah
2. Pilih subjek
3. Susun kuesioner: lebih atraktif dan singkat serta mudah dijawab.
4. Validasi kuesioner
5. Siapkan surat pengantar
6. Uji coba kuesioner kepada sampel kecil dari subjek
7. Tindaklanjuti kegiatan
8. Lakukan pengertian kuesioner dan pengkodean terhadap tiap respons
9. Analisis data
10. Tulis satu laporan yang menyajikan temuan

C. Cara Penyusunan Instrumen


Iskandar (2008:79) mengemukakan enam langkah dalam penyusunan instrumen
penelitian, yaitu:
1. Mengidentifikasikan variabel-variabel yang diteliti.
2. Menjabarkan variabel menjadi dimensi-dimensi
3. Mencari indikator dari setiap dimensi.
4. Mendeskripsikan kisi-kisi instrumen
5. Merumuskan item-item pertanyaan atau pernyataan instrumen
6. Petunjuk pengisian instrumen.
Sedangkan Margono mengemukakan langkah umum penyusunan instrumen sebagai
berikut :
1. Analisis variabel penelitian
2. Menentapkan jenis instrumen yang digunakan
3. Menyusun kisi-kisi atau lay out instrumen
4. Menyusun item atau pertanyaan sesuai dengan jenis instrumen dan jumlah yang telah
ditetapkan dalam kisi-kisi
5. Uji coba dan revisi
D. Skala Pengukuran Instrumen
Menurut Margono (1996:176), skala adalah seperangkat nilai angka yang ditetapkan
kepada subjek, objek atau tingkah laku dengan tujuan mengukur sifat. Skala biasa digunakan
untuk mengukur sifat nilai-nilai dan minat. Lebih lanjut, Margono menyebutkan empat
macam skala, yaitu:
1. Skala Libert
Skala Libert merupakan sejumlah pertanyaan positif dan negatif mengenai suatu objek
sikap. Misalkan sangat setuju, setuju, tidak mempunyai pilihan, tidak setuju, dan sangat
tidak setuju.
2. Skala Thurstone
Thurstone mengembangkan suatu metode untuk menentukan skala tertentu pada hal-hal
yang mewakili berbagai tingkat sikap yang menyenangkan. Misalkan, ..........
3. Skala Guttman

Teknik skala Guttman digolongkan sebagai skala berdimensi tunggal. Suatu sikap
dianggap berdimensi tunggal hanya kalau sikap itu menghasilkan skala yang kumulatif,
yaitu skala yang butir-butirnya berkaitan satu sama lain sedemikian sehingga seorang
subjek yang setuju dengan pernyataan nomer dua misalnya, akan juga merasa setuju
dengan pernyataan nomer satu, dan seterusnya. Misal, responden diminta menyatakan
setuju atau tidak setuju terhadap pernyataan berikut :
a. Manfaat pramuka sepadan dengan waktu yang dihabiskan untuk organisasi itu
b. Pramuka mempunyai pengaruh besar dalam meningkatkan peranan generasi muda
c. Pramuka adalah organisasi yang paling penting di Indonesia dalam meningkatkan
peranan generasi muda.
4. Skala Perbedaan Makna
Skala perbedaan makna didasarkan pada pandangan bahwa objek itu mempunyai dua
macam makna bagi seseorang, yaitu makna denotatif dan konotatif.
Ulber Silalahi menjelaskan berbagai macam skala pengukuran instrumen yaitu
sebagai berikut:
1. Skala Nominal
Skala atau tingkat nominal merupakan skala ukuran variabel paling rendah karena secara
esensial hanya merupakan level of classifiable. Ukuran nominal mengindikasikan bahwa
hanya ada satu perbedaan antara kategori (sebagai contoh agama), data yang diperoleh
dari skala nominal adalah data categorical atau classifiable. Oleh karena itu, skala
nominal disebut juga kelas, klasifikasi, kategori, dan menunjuk pada nama atau label atau
identitas. Ukuran nominal hanya sekadar kategori yang menunjuk ada perbedaan, tetapi
tidak ada indikasi tentang jarak atau urutan-urutan berjenjang yang membedakan antara
objek yang satu dengan lainnya. Ukuran nominal sebagai skala ukuran nonmetrik
merupakan ukuran terbaik untuk qualitative attributes. Atribut-atribut kualitatif memiliki
label atau nama, bukan angka atau bilangan pada nilai atau kategori respons seperti dalam
atribut kuantitatif. Jadi, skala nominal juga dikenal sebagai categorical scales,
menggambarkan jumlah kejadian dalam tiap kelas atau kategori variabel yang dipelajari.
Contoh variabel dan kategori respons skala nominal
Variabel/indikator

Jenis kelamin

Departemen tempat

Saluran TV yang

kerja

sering ditonton

Kategori respon/Item Pria

Personalia

Indosiar

respon

Produksi

Lativi

Akunting

Metro TV

Keuangan

RCTI

R&D

SCTV

Pemasaran

TV 7

Lainnya

TVRI

Wanita

Lainnya
Dalam skala nominal, peneliti hanya dapat menjumlah banyaknya orang dalam tiap
kategori dan menentukan proporsi tiap kategori tetapi tidak dapat membagi atau
membedakan jumlah yang ditentukan pada tanda-tanda nominal. Variabel yang diukur
dengan skala nominal sering dinamakan variabel kualitatif yang secara ekstentif
digunakan dalam penelitian dengan pengumpulan data menggunakan teknik observasi
atau survei.
2. Skala Ordinal
Skala ordinal dapat diurut dalam urutan tingkatan (rank order) dalam hubungan dengan
jumlah atribut yang dimiliki. Ukuran ordinal mengindikasikan satu perbedaan, juga
ditambah kategori dapat diurut (contoh, ukuran pendapat : sangat setuju, setuju, tidak
setuju, sangat tidak setuju). Banyak skala dalam ilmu perilaku masuk ke dalam kategori
ordinal ini. Sebagai contoh, variabel sikap atau persepsi, status sosioekonomi, kepaduan
kelompok, dan moral pekerja adalah skala ordinal. Setiap subkelas dapat dibandingkan
dengan subkelas yang lainnya dalam istilah hubungan greater than atau less than dan
sebagainya. Ini berarti bahwa skala ordinal tidak hanya menunjukkan kategori tetapi juga
mengindikasikan bahwa beberapa subjek lebih tinggi atau lebih rendah, lebih baik atau
lebih jelas, daripada subjek yang lainnya.
Ada beberapa tipe kategori respons yang penting diperhatikan untuk skala ukuran ordinal.
a. Ada variabel dengan kategori respons telah pasti, seperti tingkat pendidikan, pangkat
kepegawaian, dan jabatan akademik.
b. Menyusun beberapa alternatif ukuran yang menunjukkan urutan kategori yang
berbeda, misal penelitian yang dilakukan untuk mengetahui urutan pentingnya lima
karakteristik pekerjaan.

c. Peneliti menyusun kategori respons berdasarkan ranking, misalkan pengukuran


tentang

sikap

terhadap

pekerjaan

dapat

diklasifikasikan

sebagai

sanagt

menyenangkan, menyenangkan, netral, tidka menyenangkan, dan sangat tidak


menyenangkan.
3. Skala Interval
Skala interval memiliki karakteristik nominal (klasifikasi) dan ordinal (urutan) dan ada
equal intervals atau menggambarkan equal spacing between members. Ukuran interval
memiliki sifat nominal dan ordinal, ditambah ukuran dapat menentapkan jumlah jarak
antara kategori (contoh, temperatur: 50, 450, 900; skor IQ : 95, 110, 125). Jadi dalam skala
interval ada perbedaan (sifat nominal), lebih besar atau lebih kecil (sifat ordinal), dan ada
jarak di antara mereka (sifat interval) sehingga dapat dilakukan penambahan atau
pengurangan untuk menentukan jarak tersebut. Skala interval yang sangat familiar adalah
skala temperatur Fahrenheit dan Celsius.
4. Skala Rasio
Skala rasio mewakili bentuk paling tinggi dari skala ukuran. Skal rasio memiliki
karakteristik semua skala ukuran dan ditambah ada absolute zero point dari objek yang
diukur yang membuatnya mungkin untuk menyatakan hubungan dalam arti proporsi atau
rasio. Misalkan, tahun sekolah formal 1 tahun, 5 tahun, 10 tahun, 25 tahun. Nol absolut
artinya tidak ada nilai jika berada pada titik nol. Karena memiliki titik nol absolut,
dengan skala rasio dapat dibuat bukan saja penambahan dan pengurangan, melainkan
juga perkalian atau pembagian dan bahkan nilai angka pada skala rasio menunjukkan
nilai yang sebenarnya dari objek yang diukur. Contoh skala rasio adalah berat, panjang,
tinggi, usia, dll.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. 2006. Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Bina Aksara.


BiMPoME. 2011. Assesment in Mathematics Education. Palembang: Perpustakaan PPs
UNSRI.
Gay&Diehl. 1992. Research Methods for Business and Management. Singapore: Prentice
Hall International, Inc.
Kuncoro, Mudrajad. 2009. Metode Riset untuk Bisnis dan Ekonomi. Jakarta: Erlangga.
Margono. 2005. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Silalahi, Ulber. 2012. Metodologi Penelitian Sosial. Bandung: Refika Aditama.
Soendari, T. 2010. Instrumen Penelitian.
Sugiyono. 2012. Metodologi Penelitian Bisnis. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. 2012. Metodologi Penelitian Kombinasi. Bandung: Alfabeta.