Anda di halaman 1dari 7

GERAKAN PEMUDA ANSOR : Sebuah Pengantar 1 A.

Pendahuluan

Perkembangan dinamika di masyarakat pada saat ini dan akan datang semakin kompetitif. Hal ini dapat diketahui dari dinamika perubahan kehidupan masyarakat pada tingkat global, nasional maupun regional dalam bidang politik, ekonomi, sosial, kebudayaan dan aspek kehidupan lainya. Masyarakat sudah semakin terbuka dengan berbagai macam ideologi dan budaya transnasional yang mengancam tercabutnya nilai-nilai agama dan budaya bangsa, sebuah kondisi yang mengkhawatirkan bagi masyarakat yang menjunjung tinggi norma agama dan budaya yang luhur. Dinamika kehidupan ini tentunya sulit untuk kita hindari, oleh karena itu kita harus melindungi generasi mudanya dengan nilai-nilai ajaran agama Islam dan budaya yang luhur di masyarakat dan meningkatkan sumberdaya manusia sesuai dengan kebutuhan dan melengkapinya dengan kemampuan ketrampilan yang mumpuni agar dapat bersaing dengan peradaban yang terus berkembang sesuai dengan jati diri bangsa yang adil dan beradab. Ahkir-akhir ini sering terjadi konflik antara sesama anak negeri yang tidak jelas apa yang diperebutkan, persoalan sederhana misalnya, dapat berubah menjadi tindak kekerasan yang mengerikan dan melibatkan banyak kalangan terutama pemuda. Padahal pemuda merupakan harapan bangsa, tentunya pemuda yang memiliki etika dan moral yang baik didukung dengan penguasaaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta ketrampilan yang memadai serta bertanggung jawab atas proses yang dilakukannya. Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) lahir dalam situasi dimana pemuda Indonesia mencapai puncak keinginan untuk membangun masyarakat politik melalui semangat mencapai kemerdekaan dan sumpah pemuda yang dicetuskan pada tanggal 28 Oktober 1928. Pada saat itu Nahdlatul Ulama tengah meluaskan kiprahnya untuk mempertahankan, mengamalkan dan melestarikan ajaran Islam Ahlussunnah wal jamaah. Salah satu organisasi yang berada di bawah Nahdlatul Ulama (NU), Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) merupakan organisasi yang memiliki akar sejarah yang kuat dengan Nahdlatul Ulama (NU). Hubungan kesejarahan antara keduanya berlangsung sejak kedua organisasi tersebut masih embrio untuk kemudian dideklarasikan menjadi sebuah organisasi formal yang diakui oleh masyarakat maupun pemerintah. Dalam perkembangannya keberadannya, yaitu: Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) menemukan hakikat

Pertama sebagai potensi nasional yang tidak terpisahkan dari bangsa Indonesia dan dilandasi dengan semangat wawasan kebangsaan, kedua sebagai anak kandung Nahdlatul Ulama (NU), maka jati dirinya semakin disirami oleh keyakinan yang mendalam terhadap ajaran Islam Ahlussunnah waljamaah.2 Sebagai organisasi pemuda, Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) telah banyak memainkan peran pengabdian baik kepada agama, negara maupun bangsa. Disaat kondisi politik, ekonomi, sosial maupun budaya tengah dijajah, organisasi pemuda ini lahir dengan komitmen ke-Indonesia-an. Saat perang kemerdekaan berkecamuk, Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) juga tidak tinggal diam. Hampir seluruh kekuatannya diperbantukan memperkuat Hizdbullah, lalu turun ke medan laga ikut mempertahankan proklamasi kemerdekaan. Setelah merdeka, Ansor kembali melakukan aktifitas kepemudaannya. Dalam mukadimah Peraturan Dasar Gerakan Pemuda Ansor dijelaskan bahwa perjuangan Gerakan Pemuda Ansor merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjuangan NU dalam berkhidmat kepada perjuangan bangsa untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan, berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Ditegaskan pula bahwa dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan tersebut, Gerakan Pemuda Ansor senantiasa bersandarkan kepada bimbingan NU dan akan terus berjuang dengan gigih mempertahankan dan mengisi kemerdekaan, membebaskan diri dari kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan serta mengembangkan ajaran Islam Ahlussunnah wal jamaah, yang mengikuti salah satu madzhab empat: Hanafi, Maliki, Syafii dan Hambali. Seiring dengan perkembangan waktu dan berkah doa para ulama, GP Ansor terus berkembang menjadi organisasi kemasyarakatan pemuda di Indonesia yang bisa diandalkan, baik oleh Nahdlatul Ulama maupun bangsa Indonesia. Organisasi ini memiliki watak kepemudaan, kerakyatan, keislaman dan kebangsaan. Tidak heran kalau GP Ansor tidak pernah terlibat dalam gerakan radikal, meski telah banyak mendapatkan godaan dari kanan dan kiri. Kini GP Ansor telah memiliki 433 cabang di bawah
1 Oleh Try Prasetyo, Wakil Sekretaris PAC GP ANSOR Kecamatan Pilangkenceng Masa Khidmat 2012-2015 2 Choirul Anam, Gerak Langkah Pemuda Ansor, Sebuah Percikan Sejarah Kelahiran , Surabaya:Majalah
Nandlatul Ulama AULA,1990, hal. iv

koordinasi 32 pengurus wilayah. Masing-masing berakar di tingkatan kecamatan dan menurun hingga ke tingkat desa. Ditambah dengan Banser (Barisan Ansor Serba Guna) yang juga memiliki struktur kepengurusan sendiri di setiap jenjang yang sama.3 Filosofi Gerakan Pemuda Ansor terperinci secara detail dalam tujuan Gerakan Pemuda Ansor dibentuk, yaitu: Pertama, menegakkan ajaran Islam yang berakidah Ahlussunnah wal jamaah dan mengikuti salah satu dari madzhab empat ditengah-tengah kehidupan, di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berazaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Kedua, menyukseskan pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila, demi terwujudnya keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia yang diridlai Allah SWT dan Ketiga, membina pemuda agar memiliki kepribadian yang luhur, berjiwa patriot, berilmu dan beramal sholeh.4 Ketiga tujuan di atas merupakan modal dasar, sekaligus arah perjuangan Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) yang hendak dituju di dalam mengemban tugas organisasi melalui pendekatan gerakan terhadap kenyataan yang terjadi dimasarakat. Gerakan Pemuda Ansor lebih fokus pada segmen pemuda yang diproyeksikan mendidik dan melatih para pemuda agar memiliki kepribadian yang luhur, memiliki dedikasi dan perangkat ilmu yang memadai serta mewujudkanya dalam amal perbuatan sehari-hari. Sebagai organisasi kemasyarakatan pemuda yang berbasis sosialkeagamaan Islam dan sayap Nahdlatul Ulama, Gerakan Pemuda Ansor sejak berdirinya telah mengikatkan diri untuk berada digaris depan pembangunan sosial-budaya yang menjadi basis pembangunan ekonomi dan politik. Semakin banyak rakyat yang terpinggirkan karena kebijakan negara yang tidak adil, maka disanalah Ansor akan tampil melakukan gerakan pembelaan, pendampingan, pemberdayaan, dan pelayanan masyarakat. Tuntutan agar Indonesia menjadi negara yang tetap bermartabat dan berkeadaban adalah sebuah keharusan yang tidak bisa dibendung. Meskipun nyatanya masih banyak permasalahan riil yang hingga kini belum bisa dituntaskan, seperti kemiskinan, kerusakan lingkungan dan sumberdaya alam, korupsi, dan penikmatan duniawi yang berlebihan dalam masyarakat konsumtif baru.5Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) sebagai kader Nahdlatul Ulama (NU) merupakan keniscayaan yang harus dipertahankan sampai kapanpun, sekalipun secara hirarkis GP Ansor merupakan badan otonom yang diberikan kebebasan dalam mengaktualisasikan programprogramnya di tengah-tengah masyarakat. Independensi dalam kaitan ini bukan sama sekali tidak ada ikatan dengan organisasi induknya. GP Ansor tetap menjadi bagian dari perjuangan NU yang diharapkan memiliki kreasi dan inovasi yang visioner dalam pembangunan generasi muda, yang dalam jangka panjang dapat diproyeksikan mengisi jabatan-jabatan strategis, baik di NU maupun di masyarakat. Selama ini GP Ansor telah terbukti selalu konsisten memegang amanah agama dan bangsa, sehingga muara dari seluruh gerakannya harus bertujuan untuk kejayaaan Islam dan memperteguh semangat nasionalisme. Struktur organisasi pemuda yang berada di bawah naungan NU ini punya basis masa di daerah pedesaan. Dengan basis massa seperti ini, Ansor bisa dibilang tumbuh dan berkembang dengan akar kerakyatan. Di sini terlihat posisi strategis massa, dibandingkan pucuk pimpinan. Banyak orang salah beranggapan, posisi strategis massa bisa dipegang hanya dengan mengendalikan pucuk pimpinan. Padahal, untuk bisa memegang Gerakan Pemuda Ansor secara utuh, peranan ulama kiai sebagai panutan utama di Nahdlatul Ulama tidak bisa dilupakan.6 Dewasa ini, tantangan yang dihadapi Indonesia semakin bertambah berat. Banyak permasalahan besar sedang melanda negeri ini yang seharusnya Ansor turut ambil bagian dalam proses penyelesaian. Birokrasi yang semakin korup, peradilan yang menjadi barang dagangan, hukum diperjualbelikan kasus-kasus besar korupsi tidak kunjung selesai diungkap, konflik antaragama, arogansi mayoritas atas minoritas terus berlangsung, sistem perekonomian tidak kunjung menyejahterakan rakyat dan terorisme yang terus merebak, adalah rangkaian tantangan serius Gerakan Pemuda Ansor sebagai organisasi pemuda Islam terbesar di Indonesia. Berdasarkan kenyataan di atas maka Gerakan Pemuda Ansor sebagai organisasi yang mewadahi kaum muda hendaknya melakukan proses percepatan dalam upaya mempersiapkan kader-kadernya yang tangguh ditengah persaingan jaman yang semakin kompetitif, menyongsong era baru kedepan yang lebih baik.

B.

Pengertian Organisasi Gerakan Pemuda Ansor


3 Majalah Nahdlatul ulama, AULA No. 12 Tahun XXXII, Surabaya:PW NU Jawa Timur, 2010, hal. 16 4 Choirul Sholeh Rasyid, Doktrin Ansor, Surabaya:@Insanpena Publishing 2010, hal. 72 5 Gerakan Pemuda Ansor,Materi Konggres XIV, Jakarta PP GP Ansor:, 2010, hal. 1 6 Erwien Kusuma, Yang Muda Berkiprah: Gerakan Pemuda Ansor dan Politik Indonesia Masa Demokrasi Liberal

Hingga Masa Reformasi (1950 2010) Bogor: Kekal Press, cetakan pertama, 2011, hal. 237

1.

Pengertian Organisasi

Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat berada secara sendiri, sehingga dalam seluruh kehidupannya, manusia memerlukan orang lain. Menurut Drs. Sumadi Suryabrata, manusia semacam ini masuk dalam tipe manusia sosial. Sifat utama dari manusia golongan tipe ini adalah besar kebutuhannya akan adanya resonansi dari sesama manusia, butuh hidup diantara manusia-manusia lain dan ingin mengabdi kepada kepentingan umum. Nilai yang dipandangnya sebagai nilai yang paling tinggi adalah cinta terhadap sesama manusia, baik yang tertuju kepada individu tertentu maupun yang tertuju kepada kelompok manusia.7 Memang sejak dibentuk, dilahirkan, tumbuh besar sampai dengan mati, manusia selalu tidak dapat melepaskan diri dari orang lain. Setiap manusia akan selalu berada dan berhubungan dengan beraneka macam orang dan selalu berada dan dibesarkan dalam suatu organisasi. Kehidupan masyarakat sehari-hari tentu tidak dapat terlepas dari ikatan budaya yang diciptakan, ikatan budaya tercipta oleh masyarakat yang bersangkutan, baik dalam keluarga, organisasi, bisnis maupun bangsa. Budaya inilah yang kemudian membedakan masyarakat satu dengan yang lainnya dalam cara berinteraksi dan bertindak menyelesaikan pekerjaannya. Selain itu, budaya dapat mengikat anggota kelompok masyarakat menjadi satu kesatuan pandangan yang menciptakan keseragaman berperilaku, bersikap dan dalam mengambil keputusan. Organisasi merupakan sebuah representasi masyarakat dalam kelompok kecil. Perbedaan antar organisasi merupakan sebuah replikasi dari perbedaan yang nyata di masyarakat. Seiring berjalannya waktu, budaya pasti terbentuk dalam organisasi dan dapat dirasakan manfaatnya dalam memberi kontribusi bagi kinerja dalam sebuah organisasi secara menyeluruh. Pengertian serta konsep organisasi selalu berkaitan dengan kerjasama dan interaksi manusia-manusia sehinga menunjukkan kegiatan yang mengandung unsur-unsur yang sangat komplek dan rumit. Oleh karena itu gambaran tentang apa yang dimaksud dengan organisasi bergantung pada cara pandang perspektif yang mendasari orang yang mendefinisikan organisasi. Kehadiran organisasi tertentu memiliki tujuan yang sering diindentikan dengan gerakan. Transformasi dalam struktur masyarakat perlu didukung dan dikawal oleh organisasi. Menurut Richard L. Daft, yang dimaksud dengan organisasi adalah kesatuan sosial yang mempunyai tujuan tertentu dan secara sengaja membentuk sistem-sistem kegiatan dengan batas-batasnya terhadap lingkungannya yang dapat dikenali dengan mudah.8 Dari definisi di atas, terdapat empat elemen kunci untuk menjelaskannya.

a. Satu kesatuan sosial


Organisasi terdiri atas orang-orang dan kelompok-kelompok. Organisasi ditegakkan oleh orang-orang yang mempunyai peran masing-masing. Mereka saling berinteraksi dan berhubungan satu sama lain, membentuk kerjasama dan membentuk fungsi-fungsi penting dalam organisasi. Disini dapat diketahui arti penting unsur manusiannya.

b. Terarah pada tujuan


Keberadaan organisasi ditentukan oleh adanya tujuan. Organisasi dan para anggota selalu berusaha untuk menyelesaikan misinya. Tujuan organisasi dan para anggotanya bisa berbeda.

c. Membentuk sistem-sistem kegiatan


Sistem kegiatan mempunyai arti bahwa di dalam organisasi terdapat kegiatan kerja. Tugas-tugas organisasi secara sengaja dibagi-bagi menjadi bagian-bagian yang terpisah dan berbagai kegiatan. Dengan pembagian tersebut akan dapat dicapai efisiensi dalam pelaksanaaan proses kerja. Struktur-struktur organisasi tersebut digunakan untuk mengkoordinasi dan mengarahkan berbagai unit kerja yang mempunyai tugas masing-masing.

d. Batas yang mudah dikenal.


Terdapatnya batas menunjukan adanya unsur-unsur di dalam dan di luar organisasi. Batas yang jelas terlihat adanya karakteristik organisasi itu sendiri. Organisasi terdiri dari unsur-unsur yang secara ketat berhubungan satu sama lain dari unsur luar organisasi, tetapi harus
7 Drs. Sumadi Suryabrata, BA, MA, Ed.S, Ph.D, Psikologi Kepribadian, Raja Grafinfo Persada, Jakarta, 2002,
hal. 91

8 Drs. Muharto, M.Si, Drs. Darminto, M.Ed, Perilaku Organisasi, Pusat Penerbitan Universitas Terbuka, Jakarta 2002, Hal. 29

mempertahankan lingkungannnya.

dirinya

ssendiri

juga

sebagai

satu

kesatuan

yang

berbeda

dari

Menurut Hari Lubis dan Martani Huseini, yang dimaksud dengan organisasi adalah suatu kesatuan sosial dari sekelompok manusia yang saling berinteraksi menurut suatu pola tertentu, sehingga setiap anggota organisasi memiliki fungsi dan tugasnya masing-masing, yang sebagai suatu kesatuan mempunyai tujuan tertentu dan mempunyai batas-batas yang jelas, sehingga dapat dipisahkan secara tegas dari lingkungannya.9 Dengan demikian menurut Hari Lubis dan Murtani Husein, organisasi dipandang sebagai proses pembagian kerja dan sistem kerjasama. Sebagai suatu proses dalam suatu sistem sosial maka organisasi akan bermakna sebagai kegiatan pengorganisasian yang teratur, nasional dan logis. Sedangkan menurut Prof. Dr. Sondang P Siagian, yang dimaksud dengan organisasi adalah setiap bentuk perekrutan antara dua orang atau lebih serta secara formal terikat dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan dalam ikatan mana terdapat seseorang/berberapa orang yang disebut atasan dan seseorang/sekelompok orang disebut bawahan.10 Dari beberapa definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan organisasi adalah suatu kesatuan kelompok sosial yang terdiri dari dua orang atau lebih yang mempunyai tujuan yang sama dan membentuk suatu sistem secara formal dengan batas-batas tertentu terhadap lingkungannya.
2.

Pengertian Gerakan

Gerakan berasal dari kata Gerak, yang berarti peralihan tempat atau kedudukan, baik hanya sekali maupun dua kali.11 Kemudian dari kata gerak, mendapat akhiran an menjadi kata gerakan yang berari perbuatan atau dalam keadaan bergerak12. Adapun maksud dari stilah gerakan dalam rangkaian kata Gerakan Pemuda Ansor adalah tindakan terencana yang dilakukan oleh Pemuda Ansor disertai program terencana yang ditujukan pada suatu perubahan atau sebagai gerakan perlawanan untuk melestarikan pola-pola dalam organisasi Gerakan Pemuda Ansor.
3.

Pengertian Gerakan Pemuda Ansor

Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) adalah organisasi pemuda Islam tradisional yang di bentuk beberapa saat setelah berdirinya Nahdlatul Ulama (NU).13 Yang dimaksud Islam tradisional dalam hal ini adalah gerakan Islam konservatif berbasis di pesantren pedesaan yang meski berpegang teguh pada Al Quran dan Hadits, masih menoleransi pemberlakuan tradisi dalam kehidupan keagamaan. 14 Gerakan Pemuda Ansor merupakan kelanjutan dari Ansoru Nahdlatul Oelama (ANO) yang didirikan pada 10 Muharram 1353 Hijriyah atau bertepatan dengan 24 April 1934 di Banyuwangi, Jawa Timur, untuk waktu yang tidak terbatas. 15 Pusat organisasi Gerakan Pemuda Ansor berkedudukan di Ibukota Negara Republik Indonesia.16 Gerakan Pemuda Ansor beraqidah Islam Ahlussunah Wal Jamaaah dengan menempuh manhaj dalam bidang fiqih salah satu madzab empat: Hanafi, Maliki, Syafii atau Hambali. Abu Hasan Al Asyari dan Abu Mansur Al Maturidi manhaj dalam bidang teologi. Al Ghozali dan Junaidi Al Baghdadi manhaj dalam bidang tasawuf dan Al Mawardi manhaj dalam bidang siyasah.17 Gerakan Pemuda Ansor bersifat kepemudaan, kemasyarakatan, kebangsaan dan keagamaan yang berwatak kerakyatan

9 Ibid, hal. 30 10 Prof. Dr. Sondang P. Siagian, Filsafat Administrasi, Gunung Agung, Jakarta, 1985, hal.7 11 Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, op-cit, hal. 356 12 Ibid 13 Erwien Kusuma,Yang Muda Berkiprah_Gerakan Pemuda Ansor dan Politik Indonesia Masa Demokrasi Liberal
Hingga Masa Reformasi (1950 2010) Bogor: Kekal Press, cetakan pertama, 2011, hal.1 14 Selengkapnya lihat Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, LP3ES, Jakarta, 1996. dan A. Syafii Maarif, Studi tentang Percaturan dalam Konstituante: Islam dan Masalh Kenegaraan , LP3ES, 1996. 15 PP GP Ansor, Peraturan Dasar Gerakan Pemuda Ansor Hasil Kongres XIV, 2010, Bab 1 Pasal 1 Ayat 1. 16 PP GP Ansor, Peraturan Dasar Gerakan Pemuda Ansor Hasil Kongres XIV, 2010, Bab 1 Pasal 1 Ayat 2 17 PP GP Ansor, Peraturan Dasar Gerakan Pemuda Ansor Hasil Kongres XIV, 2010, Bab II Pasal 2.

C.

Sejarah Singkat Gerakan Pemuda Ansor

Sejarah merupakan perangkat penting bagi umat manusia untuk dapat mengetahui apa yang telah terjadi pada masa lalu, untuk diambil pelajaran sebagai referensi berbuat dan bersikap dimasa mendatang. Kelahiran Gerakan Pemuda Ansor tidak lahir secara kebetulan, namun merupakan buah dari Nahdlatul Ulama dalam perjalanan sejarah masyarakat Indonesia. Gerakan Pemuda Ansor (Selanjutnya disebut GP Ansor), sebagai kader Nahdlatul Ulama mempunyai sejarah kelahiran yang hampir sama dengan Nahdlatul Ulama. Keduanya lahir dengan di awali oleh timbulnya organisasi lokal yang bergerak di bidang sosial, pendidikan dan dakwah. Jauh sebelum NU lahir, di Surabaya telah berdiri sebuah perkumpulan bernama Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air).18 Organiasasi ini menitikberatkan kegiatannya pada peningkatan mutu pendidikan Islam, pembentukan kader dan pembinaan mubaligh atau juru dakwah, perkumpulan itu didirikan oleh KH. Abdul Wahab Hasbullah, KH. Mas Mansur, H. Abdul Kahar (saudagar terkenal saat itu) dan seorang arsitek terkemuka Soejoto.19 Seorang tokoh pergerakan yang juga dikenal sebagai pemimpin Sarekat Islam Kala itu, H. Oemar Said Tjokroaminoto, turut pula membantu Nahdlotul Wathan kemudian mendapat sambutan hangat dari umat Islam, terutama kalangan pemudanya. 20 Untuk melegalkan eksistensinya, Nahdlatul Wathan mengajukan semacam perizinan operasional organisasi kepada pemerintah Hindia-belanda yang berkuasa di Indonesia waktu itu. Setelah mendapat rechtspersoon (status badan hukum) dari pemerintah hindia-belanda pada 1916. Nahdlatul Wathan berhasil mendirikan puluhan cabangnya di berbagai daerah, seperti misalnya di Gresik, Sidoarjo, Malang dan bahkan Semarang, Jawa Tengah. Di Surabaya sendiri, cabang Nahdlatul Wathan bermunculan dimana-mana dan dengan dimoyori H. Abdul Kahar, berhasil pula membangun sebuah gadung bertingkat di kampung Kawatan VI sebagai pusat pendiddikan. Bertindak selaku kepala guru kala itu, KH. Mas Mansur. Sedangkan H. Abdul Kahar sebagai direkturnya. Di samping sebagai pusat kegiatan belajar-mengajar, gedung Nahdlatul Wathan juga berfungsi sebagai markas bagi berkumpulnya para pemuda yang hendak mendalami masalah keagamaan, kemasyarakatan dan kadang juga soal kebangsaan, melalui diskusi dan kursus-kursus yang disampaikan oleh KH. Abdul Wahab Hasbullah. Kegiatan ini berlangsung tiga kali dalam seminggu. Teknis pelaksanaanya dipercayakan kepada Abdul Halim, anggota Sarekat Islam termuda (16 tahun) kala itu, berasal dari Cirebon. Sedangkan pesertanya, terdiri pemuda-pemuda pilihan dari berbagai daerah sekitar Surabaya. Setelah Nahdlatul Wathan, KH. Abdul Wahab Hasbullah dan KH. Mas Mansur mendirikan Taswirul Afkar (Bertukar Pikiran). Sebuah perkumpulan yang juga bergerak di bidang sosial, pendidikan dan dakwah. Bedanya, jika Nahdlatul Wathan didirikan bersama seorang saudagar, arsitek dan juga dibantu oleh tokoh pergerakan Tjokroaminoto, maka Taswirul Afkar didirikan bersama sseorang pengasuh pondok (kebondalem) KH. A. Dachlan Achyad, dan P. Mangun (anggota perhimpunan Budi Utomo). Seperti juga namanya, Taswirul Afkar lahir melalui diskusi-diskusi kecil diantara para pendiri menggenai berbagai masalah keagamaan dan kemasyarakatan yang timbul waktu itu. Dengan demikian, dalam kurun waktu tiga tahun, KH. Abdul Wahab dan KH. Mas Mansur berhasil memprakarsai dua Perguruan Islam yamg, kala itu, cukup berpengaruh di Surabaya. Perguruan Nahdlatul Wathan berpusat di kawasan (Surabaya Tengah) dan pengaruhya sampai keluar daerah, sedang Tafwirul Afkar berkedudukan (pada mulanya) di Ampel Suci (Surabaya Utara) dan lebih dikonsentrasikan bagi pembinaan umat Islam di wilyah kota Surabaya. Sejak didirikan tahun 1918 hingga tahun 1929, nama yang tertulis di papan pengenal adalah : Suryo Sumirat Afdeeling Taswirul Afkar. Ini menunjukkan bahwa, secara organisatoris, Taswirul Afar (pada mulanya) tidak berdiri sendiri. Tapi, merupakan bagian Suryo Sumirat sebuah perkumpulan yang didirikan oleh anggota perhimpunan Budi Utomo yang ada di Surabaya. Kenapa begitu ?. Menurut keterangan Atmo Redjo (kepala tata usaha periode pertama) yang kemudian dituturkan kembali oleh KH. Hamim Syahid. (kepala guru Taswirul Afkar 1929-1935), sekedar untuk memudahkan perijinan kepada pihak pemerintah. Sebab, pada masa itu, syarat untuk mendapatkan izin dan rechtspersoon tidaklah sederhana sehingga, ditempuhlah jalan terobosan : menjadikan Taswirul Afkar sebagai bagian dari Suryo Sumirat. Namun, kenapam Suryo Sumirat begitu saja sepakat ? sejauh dari keterangan dua sumber tadi,
18 KH. Abdul Halim, Sejarah Perjuangan KH. Abdul Wahab, Bandung, Percetakan Baru, tt, hal.8 19 Zamakhsyari Dhofir, Tradisi Pesantren Studi tentang Pandangan Hidup Kiai, Jakarta, LP3ES, 1982, hal. 61. 20 Choirul Anam, Gerak Langkah Pemuda Ansor, Sebuah Percikan Sejarah Kelahiran, Surabaya:Majalah
Nandlatul Ulama AULA,1990, hal.2

pada saat itu belum terlihat kotak-kotak golangan yang dipertentangkan. Apakah ia nasionalis, agamis, abangan maupun santri, dapat mrnyatu dalam suatu semangat : mengangkat derajat dan martabat bangsa yang sedang terjajah dan juga, mereka sering bertemu dalm diskusi-diskusi kecil membicarakan berbagai hal, terutama yang menyangkut soal keagamaan dan kebangsaan. 21 Tidak heran dokter Sutomo patriot nasionalis yang mempelopori pendirian Budi Utomo (20 Mei 1908), kemudian indonesisce studieclub (1924). justru banyak bergaul dengan ulama-ulama muda seperti KH Abdul Wahab dan KH Mas Mansur.22 Bahkan dari pergaulan itu kemudian lahir Islam college, suatu perkumpulan untuk membahas faham-faham keagamaan.23 Sikap Suryo Sumirat mencerminkan semangat pergaulan itu. Apalagi, anggota yang tergabung di dalamnya terdiri dari berbagai golongan. karenya, ketika golongnan santri ingin mendirikan perkumpulan yang bergerak dibidang sosial keagamaan, anggota Suryo Sumirat yang bukan santri tidak merasa kebertan, bahkan menyetujuinya. Maka lahirlah Suryo Sumirat Afdeeling Taswirul Afkar. Pengalaman itu menunjukkan bahwa, paham kebangsaan sesungguhnya telah melekat di hati masyarakat kita jauh sebelum Indonesia merdeka. Pergaulan nasional, kesatuan dalam kemajemukan masyarakat kita dan penunggalan dalam kebhinekaan, benar-benar terwujud dalam bentuk perbuatan nyata. Seolah, pergaulan antar pemuka golongan pada masa itu, tidak dan atau belum tercemari oleh teori kotak-kotak dikotomik.24 Perkembangan Nahdhotul Wathan dan Taswirul Afkar semakin menggembirakan, pemuda yang dikursus pun kian bertambah sehinga timbul pikiran untuk menyatukan para pemuda itu dalam satu wadah. Sekitar akhir tahun 1921, ide untuk mendirikan organisasi pemuda itu mulai dibicarakan secara intensif. Bisa dimaklumi karena, pada masa itu, dimana-mana muncul organisasi pemuda bersifat kedaerahan. Ada Jong Java, Jong Ambon, Jong Sumatra, Jong Miahasa, Jong Celebes, dan masih banyak lagi jong-jong yang lain. Tujuannya, selain untuk mempererat hubungan diantara mereka, juga untuk mendidik pemuda kita agar memiliki kecintaan terhadap tanah air. Dengan demikian, gagasan mendirikan organisasi pemuda di kalangan Nahdatul Wathan, boleh jadi terilhami oleh munculnya berbagai organisasi pemuda tersebut.25 Namun, dibalik ide itu, muncul pula perbedaan pendapat yang mengacu pada pertentangan antara kaum modernis dan tradisionalis. Sehingga, kekompakan mereka mulai terancam oleh gemuruhnya perdebatan disekitar tahlil, talkin, taklid, ijtihad, mazhab dan masalah furuiyah lainnya. Ini terjadi karena, Islamic revivalism bergolak di timur tengah kala itu, merembes pula ke negri ini. Akibatnya, pemuda yang bernaung di bawah panji Nahdatul Wathan terbelah menjadi dua kubu. Kubau pendukng KH. Mas Mansur (tokoh modernis yang kemudian dikenal sebagai pemimmpin Muhammadiyah), dan kubu pengikut KH. Abdul Wahab Hasbullah (Tokoh tradisionalis yang kemudian dikenal sebagai bapak pendiri NU). Meski sudah terbelah, ide mendirikan organisasi pemuda tetap jalan. Terbukti pada tahun 1922, kedua kubu mengadakan rapat gabungan guna membicarakan nama organisasi yang mereka impikan. Kedua guru besar mereka KH. Abdul Wahab dan KH. Mas Mansur, juga hadir. Rapat bejalan tegang, perdebatan berlangsung seru. Masing-masing kubu bersiteguh pada pendapatnya sendisendiri. Kubu pengikut KH. Abdul Wahab mengusulkan nama Dakwatu Syubban (panggilan pemuda), sedang kubu Mas Mansur (pemuda Muhammadiyah) mengusulkan Mardi Santoso. Pertemuan bersejarah itu akhirnya tiadak mengahasilkan apa-apa, sampai kemudian KH. Mas mansur memisahkan diri dan masuk Muhamadiah. Jabatan kepala guru Nahdhatul Wathan akhirnya diserahkan kepada ulama muda, KH. Mas Alwi bin Abdul Azis. Dua tahun berikutnya, tepatnya pada tahun 1924, pemuda pendukung KH. Abdul Wahab membentuk organisasi tersendiri. Maklum, kala itu, kader-kader siap pakai yang digembleng kiai Wahab lewat media kursus, telah mencapai 65 orang. Mereka lalu mengadakan pertemuan di rumah (loteng) Kiai Dachlan dan berhasil membentuk organisasi bernama Syubhanul Wathan (pemuda tanah air). Sesudah itu, mereka menyewa sebuah gedung di kl. Ordeling belang (ujung jalan Bubutan) sebagai markas dan pusat kegiatannya. Organisasi baru itu dipimpin Abdullah Ubaid (kawatan) sebagai ketua. Thohir Bakri (Peraban) sebagai wakil ketua, dan Abdur Rahim (Bubutan) selaku sekretaris. Sedang Moh. Sholeh (Peneleh), Mas Alwi (Ampel Sawah) dan Abdul Halim, masing-masing sebagai bendahara dan awam. Kehadiran Syubhanul Wathan disambut baik kalangan pemuda Surabaya kala itu. Dalam tempo relatif singkat, ratusan pemuda mencatatkan diri sebagai anggota, bahkan remaja-remaja di bawah tujuh belas aktif pula mengikuti kegiatan organisasi ini, bisa jadi, karena tokoh Abdullah Ubaid yang selalu memukau di depan umum. Jika ketua Syubhanul Wathan ini naik ke mimbar dakwah, hampir
21 Ibid 22 Hasan Shadilu, MA, Ensiklopedi Umum, Jakarta, Kanisius, 1977, hal.1063 23 Soebagijo I N, KH. Mas Mansur Pembaharu Islam di Indonesia, Jakarta, PT. Gunung Agung, 1982, hal.21 24 Choirul Anam, op.cit.hal. 3 25 Mr. AK. Pringgodigdo, Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia, Jakarta, Pustaka Rakyat, 1964, hal. 30

semua pendengar dibikin tercengang mendengarkannya. Selain itu, aktifitas organisasi itu sendiri, agaknya, telah menyentuh kepentingan dan kebutuhan masyarakat pemuda zaman itu.26 Pada tahun 1924, sekelompok pemuda Islam trasidionalis yang aktif dalam kelompok kajian Taswirul Afkar juga mendirikan organisasi pemuda bernama Dawatus Syubyan. Keduanya hampir sama, yang membedakan adalah Syubbanul Wathan lebih mengutamakan pembentukan kader-kader pemimpin, sedangkan Dawatus Syubyan lebih mengutamakan pendalaman ilmu keIslaman bagi pemuda. Berdirinya dua organisasi pemuda dari kelompok yang sama tersebut menandakan bahwa sistem pengorganisasian Islam tradisional pada saat itu masih kurang baik. Pada tanggal 31 Januari 1926, didirikan Nahdlatul Ulama yang berarti kebangkitan ulama oleh beberapa kalangan kiai tradisional yang dimotori oleh KH. Wahab Hasbullah dengan restu KH. Hasjim Asjaari, sebagai ulama senior dan cukup disegani kala itu. 27 Sejak saat itu, para pemuda yang terlibat dalam Syubbanul Wathan dan Dawatus Syubban mulai berfikir untuk membentuk suatu organisasi pemuda yang lebih besar dan mapan. Mulai tahun 1930-an, kedua organisasi pemuda tersebut melebur menjadi satu dengan nama Nahdlatus Syubban (Kebangkitan Pemuda). Organisasi tersebut masih dipelopori oleh Abdullah Ubaid dan Thohir Bakri menjadi organisasi yang tidak terkait secara organisatoris dengan Nahdlatul Ulama. Dalam peraturan organisasi NU belum dicantumkan secara resmi keanggotaan Nahdlatul Syubban meski secara kulturan mereka adalah kader Islam tradisional.28 Dalam proses pembentukan organisasi dan usaha untuk mendapatkan pengakuan resmi dari NU, Nahdlatus Syubban giat mengembangkan organisasi. Pada tahun 1931, dengan merekrut beberapa organisasi pemuda Islam tradisional lainya, Nahdlatus Syubban berubah menjadi Persatuan Pemuda Nahdlatul Ulama (PPNU) dan pada tahun 1932 menjadi Pemuda Nahdlatul Ulama (PNU). Meskipun demikian NU belum menerima mereka sebagai bagian resmi dari organisasi NU.29 Pentingnya pengakuan Nahdlatul Ulama bagi organisasi tersebut tidak lepas dari kesadaran meraka bahwa meraka adalah anggota NU muda yang tentu saja berhak mendapatkan perlindungan dan bantuan dari para ulama dan kiai tradisional yang lebih senior. Dengan demikian legitimasi NU tersebut secara logis mereka perlukan demi kemudahan mereka dalam mengembangkan organisasi dan merekrut kader pemuda Islam tradisionalis yang berbasis santri. Kemudian, pada Muktamar NU ke-9 di Banyuwangi tanggal 21-28 April 1934, disahkan bagian pemuda NU dengan nama Ansor Nahdlatul Ulama (ANU). 30 Tepatnya tanggal 24 April 1934 adalah tanggal resmi dan telah diakui sebagi hari kelahiran Gerakan Pemuda Ansor, setelah para pemuda yang dibantu oleh KH. Wahab Chasbullah, KH.Wahid Hasjim, Machfudz Siddiq dan KH. M. Dachlan mendesak ulama tradisional agar mau menerima mereka di NU.
D. Dasar dan Tujuan Gerakan Pemuda Ansor

Gerakan Pemuda Ansor berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusian yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.31 Tujuan adalah suatu yang diharapkan tercapainya sesuatu usaha/ kegiatan, adapun tujuan dibentuknya Gerakan Pemuda Ansor adalah :
a. Membentuk dan mengembangkan generasi muda Indonesia sebagai kader bangsa yang

tangguh, memiliki keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT, berkepribadian luhur, berakhlak mulia, sehat terampil, patriotik, ikhlas dan beramal shalih
b. Menegakkan ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jamaah dengan menempuh manhaj salah satu

madzab empat di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia


c.

Berperan secara aktif dan kritis dalam pembangunan nasional demi terwujudnya cita-cita kemerdekaan Indonesia yang berkeadilan, kemakmuran, berkemanusiaan dan bermartabat bagi seluruh rakyat Indonesia yang diridlai Allah SWT.32

26 Choirul Anam, op.cit.hal. 4 27 Choirul Anam, Pertumbuhan dan Perkembangan Nahdlatul Ulama, Bisma Satu, Surabaya, hal.34 28 Ibid, hal.18 29 Greg Fealy, Ijtihad Politik Ulama: Sejarah NU 1952-1967, LkiS, Yogyakarta, 2003, hal. 43 30 Umuar Burhan, Riwayat Singkat ANU, Gresik, 1936, tidak diterbitkan, tt, hal.1 31 PP GP Ansor, Peraturan Dasar Gerakan Pemuda Ansor Hasil Kongres XIV, 2010, Bab III Pasal 3. 32 PP GP Ansor, Peraturan Dasar Gerakan Pemuda Ansor Hasil Kongres XIV, 2010, Bab III Pasal 4.