Anda di halaman 1dari 3

Aku Datang Bersama Lautan

Cerpen Firman Venayaksa

Sambil mendengar lengking burung kematian, aku berdiam di altar langit, bersiap
melanjutkan kembali pekerjaanku. Mataku terus saja menyapu tiap adegan yang
dipertontonkan Allah; sukma-sukma yang meronta, nafas yang terkubur lumpur,
muka yang jengah, mata yang terbelalak, penuh dengan sobekan-sobekan kejadian,
seakan tak sanggup menampung kecemasan tentang lautan yang tak lagi ramah.
Marah! Kemudian aku melayang-layang di tengah himpitan ketakutan mereka dan aku
mengintip sepasang lelaki dan perempuan sedang sibuk dengan kalimat-kalimat.

"Inong, mana Inong, Tengku? Agam, mana Agam, Tengku? Jangan biarkan mereka
berdiri di tepi lautan lagi. Jangan biarkan mereka terus berkelakar di tepi lautan lagi,
Tengku."

Seorang lelaki yang dipanggil Tengku tak mau menatap istrinya lagi. Ia tak kuasa. Ia
terus bertasbih mengarah kiblat. Komat-kamit doa ia layangkan kepada Allah. Aku
sendiri melihat panah doa itu melesat ke arah langit, namun terbentur sesuatu, dan
panah doa itu tak lagi punya sayap, kembali ke tanah, berakhir menjadi abu.

"Tengku, ayo cepat bediri, kita tak punya lagi waktu untuk diam. Orang-orang sudah
berlari ke tenda-tenda pengungsian. Orang-orang sudah meninggalkan kita. Oh Agam,
oh Inong, di manakah kalian berada? Sudah lenyapkah diterkam lautan atau kalian
telah selamat, pergi ke tempat-tempat pengungsian bersama mereka? Apakah kalian
membawa pakaian, mi instan dan buku-buku pelajaran? Di tenda pengungsian itu
kalian harus tetap sekolah agar menjadi orang berilmu. Inong, boneka kesayanganmu
masih di sini. Sudah berlumur lumpur, tapi masih lucu seperti katamu. Inong, ibu
akan membawakan boneka ini untukmu, sayang."

"Agam, pistol-pistolanmu juga masih di sini. Ah, ibu masih ingat kalau besar nanti
cita-citamu ingin menjadi tentara kan? Cita-citamu itu akan terwujud anakku dan
engkau akan membasmi tiap penjahat, persis seperti katamu. Ibu akan membawakan
juga untukmu, semoga kita bertemu dengan segera. Tengku, ayo Tengku. Cepat
beranjak dari tempat ini. Sebentar lagi lautan akan datang kembali dan kita akan
dimangsa dengan segera. Ayo!"

Perempuan itu menjamah tangan Tengku dan menarik-nariknya. Namun lelaki itu
tetap saja tak mau memalingkan muka. Ia tetap bertasbih. Cucuran air mata lembut
mulai menganak sungai di pipinya. Airmatanya memang tidak ganas seperti lautan
yang marah, yang mereka lihat sebelumnya, tapi air mata itu telah membuatku lupa
akan tugas yang seharusnya kukerjakan. Airmata itu telah menenggelamkan niatku
untuk mengajaknya ke negeri akhirat.

"Tengku, segeralah beranjak dari tempat dudukmu. Sudah waktunya kita berlari.
Dengar, aku mendengar kembali kegaduhan di sana. Orang-orang menjerit histeris.
Derap langkahnya aku dengar, Tengku. Bukankah kau mendengarnya pula? Mereka
sedang dimangsa lautan dan kita pun harus segera menjauh dari tempat ini. Bila
tidak, kita akan sama seperti orang-orang yang mendahului kita. Aku tak mau mati
hari ini, Tengku. Tapi aku juga tak mau meninggalkanmu. Jadi, marilah kita sama-
sama melangkahkan kaki."
"Kita cari Inong dan Agam. Aku tak mau mereka menangis, aku tak kuasa mendengar
mereka merintih mencari-cari kita. Mainan mereka sudah ada dipangkuanku,
waktunya untuk memberikan boneka dan pistol-pistolan. Mereka akan terhibur
dengan mainan ini, Tengku. Segeralah beranjak dari tempat ini. Lekas. Apa sebenarnya
yang kau tunggu? Lautan itu? Oh, tidak. Engkau menunggu lautan itu rupanya. Aku
tak mau menunggu lautan. Aku tak mau berperang dengan lautan. Kita akan mati
mengenaskan. Lautan terlalu gagah untuk dikalahkan. Lautan terlampau bengis untuk
ditaklukan."

"Aku tak menunggu lautan, Cut Nyak." Akhirnya suara lelaki itu pun mulai terdengar
kendati terbata. Aku tetap khusyuk mengintip obrolan mereka, benar-benar lupa
dengan pekerjaanku.

"Lantas jika tak menunggu apa-apa, mengapa engkau masih termenung di tempat ini.
Aku tahu engkau meminta pertolongan Allah, tapi bukankah kita bisa bertasbih di
tempat lain, di tempat yang aman?"

"Nyut Nyak, bertasbih tidak mengenal tempat dan waktu. Lagi pula, di manakah
tempat yang aman itu? Di tempat aman mana yang engkau maksud, istriku? Di tenda-
tenda pengungsian itu? Di sana aku rasa dia tak mau datang, terlalu banyak orang,
terlalu banyak suara-suara. Lagi pula aku tidak merasa terancam. Takdir tak pernah
membuatku terancam. Takdirlah yang membuat hidup kita menjadi aman, Cut Nyak."

"Apa maksudmu, Tengku? Jadi engkau menunggu seseorang? Siapa? Gubernur?


Mentri-mentri? Presiden? Siapa Tengku? Jelaskan kepadaku dengan segera. Kau
dengar, kini derap langkah orang-orang tak lagi bersuara, sudah sirna. Suara-
suaranya digantikan dengan debur lautan yang pernah kita dengar sebelumnya, yang
memisahkan kita dengan Inong dan Agam. Oh, Tengku, suara lautan yang samar-
samar itu mulai merambat di telingaku, di telingamu juga kan? Tengku, mari kita pergi
dari tempat ini. Suara kematian sudah mulai memburu kita. Deburan keras itu siap
mengancam jiwa kita. Aku tak mau mati di sini, Tengku. Inong dan Agam masih
membutuhkan kita. Boneka dan pistol-pistolan belum sempat aku berikan."

"Dia akan datang bersama lautan. Aku sudah merasakannya, Cut Nyak. Tunjukkan
wajahmu, tunjukkan wajahmu."
"Siapa yang akan datang bersama lautan, Tengku? Hanya, hanya malaikat kematian
yang datang bersama lautan. Hanya dia yang akan menemani lautan. Mengangkat ruh
kita menuju semesta akhirat."
"Betul Cut Nyak. Malaikat maut yang aku tunggu."
"Apa? Jadi engkau ingin mati, Tengku? Kau ingin kita mati? Tidak, Tengku. Jangan
lakukan itu. Ayo kita pergi. Aku tidak mau bertemu dengan malaikat kematian, aku
ingin selamat. Masih ada Inong dan Agam yang harus kita rawat, masih ada harapan
yang menunggu kita di masa depan. "Masa depanku sudah berada di hadapanku. Tak
berapa lama lagi aku akan bertemu dengan lautan, berjumpa dengan malaikat maut.
Keselamatanku berada di tangannya."

"Ya Allah, air sudah mulai nampak. Lihat, Tengku. Lautan itu begitu ganas dan aku
tak bisa berdiam di tempat ini. Lupakan malaikat maut. Mari pergi bersamaku. Kita
cari Inong dan Agam."
Perempuan itu mencoba untuk menarik tangan Tengku berkali-kali. Akhirnya Tengku
berdiri, kemudian memeluk istrinya dengan lembut dan mencium keningnya berkali-
kali. Wajahnya nampak berseri. Senyum hangatnya membuat Cut Nyak merasa aneh.
Lalu akupun menampakan diri dari persembunyianku. Tengku menundukan wajahnya
penuh rasa takzim, sementara Cut Nyak menantang dengan sorotan matanya yang
tajam dan penuh pertanyaan-pertanyaan.
"Assalamualaikum," sapa Tengku.
"Waalaikum salam," jawabku lirih.
"Jadi engkau yang bernama malaikat kematian?"
Nada suara Cut Nyak yang tercekik membuatku terhenyak.
"Aku ingin membawa suamimu ke negeri akhirat."
"Tidak!"
"Cut Nyak!" hardik Tengku.
Cut Nyak kini berada di depanku dengan sorot mata menantang. "Wahai malaikat
maut, jangan engkau renggut suamiku. Betapa aku begitu menyayanginya. Aku tak
tahu lagi apakah aku masih bisa hidup tanpa suamiku. Tidak. Aku tak mungkin bisa
hidup tanpa suamiku. Jadi bawalah aku serta bersamanya. Pergi ke negeri akhirat."
"Aku tak bisa berdamai dengan takdir. Aku hanya menjalankan tugas," jawabku.

Tengku mencoba untuk memegang bahu Cut Nyak yang mulai menggigil menahan
tangis, namun tangannya ia tepis. Kini air mata itu pun mengalir dan Cut Nyak
menangis sejadi-jadinya.
Setiap kali aku menjalankan tugas, aku selalu diiringi tangis. Tangisan-tangisan itu
sudah biasa aku lihat dan kerap kali memohon agar menunda pekerjaanku, tapi sekali
lagi, aku tak bisa berdamai dengan takdir. Takdir adalah hukum yang menjadi
pedoman dalam menjalankan tugasku, pun ini kali.
"Jika engkau tak mau mengajak serta aku, maka tundalah ajakanmu kepada suamiku.
Ajaklah lautan itu pergi ke tempatnya, jangan mampir ke tempat ini, jangan biarkan
menerkam suamiku. Aku tak sudi kehilangan suamiku."

Dengan bahasa cinta, Tengku merengkuh kekasihnya,


"Cut Nyak kekasihku, bersetialah dengan takdir. Kita hanya berpisah barang sesaat.
Lagi pula lautan itu tidak akan menerkamku. Ia hanyalah kendaraan yang diutus
Allah, yang akan membawaku ke sana, ke masa depanku. Masa depanmu adalah
mengasuh Inong dan Agam. Sampaikan salamku kepada mereka."

"Lalu bagaimana jadinya masa depanku tanpa dirimu, Tengku? Masa depanku akan
suram tak berkesudahan. Masa depanku akan legam seperti malam. Masa depanku
tandas tanpa cintamu."

Dari arah kejauhan, suara-suara bocah memanggil-manggil mereka. Suara polos tak
berdosa mengajak naluri keibunya meninggalkan Tengku seorang diri. Cut Nyak
langsung menuju suara itu. Dipeluknya Inong dan Agam, boneka dan pistol-pistolan
tak lupa ia berikan.
Kini, aku pun menyelesaikan tugasku. Lautan merengkuh jasad Tengku, aku
memapah ruhnya, pergi meninggalkan Cut Nyak, Inong dan Agam. Sekali lagi,
tangisan-tangisan mengajakku berdamai dengan takdir.

Tanah Air, 2005