Anda di halaman 1dari 8
BAB 2 ALASAN DI BALIK PEMETARENCANAAN “keberhasilan” pada dasarnya bukanlah semata “suatu keadaan (a state),”

BAB 2

ALASAN DI BALIK PEMETARENCANAAN

“keberhasilan” pada dasarnya bukanlah semata “suatu keadaan (a state),” tetapi lebih merupakan “suatu proses” terutama dalam mengembangkan dan memanfaatkan peluang, menghadapi tantangan serta bagaimana cara positif menyikapi berbagai perubahan/perkembangan

2.1.

PENDAHULUAN

Pemetarencanaan hakikatnya menyangkut konseptualisasi dan pragmatisasi alternatif langkah-langkah yang mungkin, perlu dan hendak dilakukan di masa depan. Hal ini akan mempunyai makna jika mengacu kepada tujuan (alternatif tujuan) yang jelas dan didukung alasan (argumen) yang dapat diterima (reasonable), memiliki kegunaan praktis yang signifikan dan memberikan kemanfaatan yang dinilai melampaui “pengorbanan” (misalnya biaya) yang harus dikeluarkan, sehingga “dapat diterima (akseptabel)” dalam kerangka penilaian pihak yang melakukannya dan/atau menerima manfaatnya. Kondisi umum demikian perlu dipenuhi sebagai prasyarat untuk dapat menentukan, menjabarkan dan menilai keluaran dari pemetarencanaan berdasarkan kaidah umum atau praktik baik seperti prinsip SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, and Time-bound).

Seperti telah disinggung sebelumnya, pemetarencanaan pada dasarnya mencerminkan upaya untuk melangkah ke depan. Jadi di satu sisi, pemetarencanaan mengandung upaya memperkirakan bagaimana masa depan yang mungkin terjadi/berkembang dan apa yang diperkirakan perlu dan hendak dicapai/dituju. Di sisi lain, pencapaian masa datang tersebut dilakukan melalui langkah-langkah yang pada dasarnya tidak terlepas dari kondisi masa kini sebagai pijakan/titik mulai (starting point), yang tentunya dipengaruhi/ditentukan oleh pengalaman masa lampau.

Karenanya, pemetarencanaan sebenarnya merupakan upaya menggali kemungkinan- kemungkinan lintasan untuk melangkah ke depan berdasarkan tujuan yang hendak dicapai

17

(yang mungkin berupa alternatif-alternatif yang pada dasarnya juga perlu digali) dan proyeksi kebutuhan terkaitnya di masa depan.

Dalam pandangan demikian, pemetarencanaan merupakan penyikapan terhadap masa datang yang bersifat “proaktif” berdasarkan pengalaman masa lampau. Alternatif cara penyikapan lain bisa saja lebih bersifat “reaktif,” atau bahkan “pasif” (status quo). Pemetarencanaan akan memiliki nilai pragmatis jika ada perbedaan signifikan dibanding kedua cara penyikapan terakhir.

Tetapi persoalannya, pemetarencanaan mengandung elemen masa depan yang tidak seorang pun mampu “mengetahuinya” dengan pasti dan “mengendalikan” sepenuhnya. Selain itu, faktor yang lebih “teknis,” seperti misalnya penetapan “target” yang terlampau “konservatif” atau sebaliknya yang terlampau “ambisius” dapat mempengaruhi bagaimana perbedaan antara yang dipetarencanakan dengan hasil sebenarnya. Karena itu, penilaian ex-post atas “ketepatan hasil” pemetarencanaan akan menimbulkan kerancuan dan dapat “menyesatkan” (misleading) dalam menilai suatu proses pemetarencanaan.

Kualitas pemetarencanaan (dan petarencana yang dihasilkan) sebenarnya perlu dinilai dari “proses” pemetarencanaan itu sendiri, termasuk apakah pemetarencanaan tersebut sebagai suatu bentuk perencanaan yang “logis” dan dipandang sebagai proses iteratif untuk terus diperbaiki sejalan dengan perkembangan yang terjadi, serta apakah petarencana yang dihasilkan menjadi pijakan bagi para pihak yang bersangkutan untuk memiliki komitmen melaksanakan tindak lanjut seperti yang dituangkan di dalamnya.

Sehubungan dengan itu, bagian ini selanjutnya membahas beberapa aspek penting terkait terutama menyangkut pendorong (driver), tujuan, kegunaan dan manfaat umum, serta beberapa tantangan yang biasanya muncul dalam pemetarencanaan.

2.2. PENDORONG DAN TUJUAN PEMETARENCANAAN

A. Pendorong Pemetarencanaan

Di antara pendorong utama bagi perusahaan atau industri untuk melakukan pemetarencanaan, khususnya pemetarencanaan teknologi/PRT atau technology roadmapping/ TRM pada dasarnya adalah lingkungan persaingan global yang makin ketat. Seperti juga ditegaskan dalam EISDISR (2001), tantangan utama bagi perusahaan adalah mengembangkan dan mempertahankan keunggulan daya saing dalam suatu lingkungan bisnis yang kompleks. Pasar dan teknologi berubah sangat cepat, tekanan atas biaya meningkat, pelanggan semakin menuntut, dan siklus produk serta time-to-market cenderung semakin pendek. Dalam lingkungan demikian, maka perusahaan perlu berfokus pada pasar-pasar masa depan mereka dan menggunakan perencanaan teknologi untuk tetap terdepan dalam persaingan (lihat ilustrasi Gambar 2.1).

18

PEMETARENCANAAN (ROADMAPPING): KONSEP, METODE DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN

BAB 2 ALASAN DI BALIK PEMETARENCANAAN

Pasar dan persaingan Cepatnya perubahan yang berubah teknologi Kompleksitas Tekanan teknologi/produk globalisasi
Pasar dan persaingan
Cepatnya perubahan
yang berubah
teknologi
Kompleksitas
Tekanan
teknologi/produk
globalisasi
Industri
Tekanan pada
Tingginya
investasi dan
biaya dan risiko
biaya produksi
litbang
Tuntutan
Regulasi
akan quick returns
dari stakeholder
Sumber : Diadopsi dari EISDISR (2001).

Gambar 2.1

Perubahan, Kompleksitas, dan Persaingan:

Pemicu Pemetarencanaan Teknologi.

Schaller (2001) mengidentifikasi pendorong pemetarencanaan sebagai berikut:

1. Eksternal:

Persaingan

Perubahan teknologi

Tekanan harga/biaya

Fokus kebutuhan konsumen

2. Internal:

Perencanaan dan eksekusi yang lebih baik

Komunikasi antar organisasi yang lebih baik

19

Pemetarencanaan teknologi biasanya mengidentifikasi persyaratan sistem yang utama (untuk sehimpunan kebutuhan produk, berdasarkan atas perkiraan perkembangan pasar dan rencana pasar sasaran yang dituju), target kinerja produk dan proses, dan alternatif teknologi serta milestones untuk mencapai target-target tersebut. Jadi pada dasarnya pemetarencanaan teknologi adalah proses perencanaan teknologi yang bersifat needs-driven untuk membantu mengidentifikasi, memilih, dan mengembangkan beberapa alternatif untuk memenuhi serangkaian kebutuhan produk.

Suatu “petarencana teknologi” atau technology roadmap merupakan hasil dari proses pemetarencanaan teknologi dari suatu perusahaan ataupun kolaborasi multipihak dalam suatu industri tertentu (lihat misalnya Garcia dan Bray, 2001). Petarencana pada dasarnya merupakan dokumen yang dapat memberikan suatu kerangka atau petunjuk untuk rencana tindakan beberapa waktu ke depan (misalnya dalam kurun waktu 3 5 tahun) berdasarkan rencana tindakan dan aktivitas yang direkomendasikan.

Petarencana tersebut menjelaskan suatu gambaran masa datang, berdasarkan visi bersama para pihak yang terlibat dalam mengembangkan peta rencana tersebut, dan memberikan suatu kerangka kerja (framework) untuk merealisasikan masa datang tersebut agar secara teknologi dapat terwujud.

Karena setiap “industri” pada dasarnya memiliki karakteristik spesifik masing-masing (selain elemen yang bersifat universal), maka eksplorasi dan elaborasi tentang faktor penentu suatu industri tertentu di masa datang perlu dilakukan. Kondisi masa datang bagaimana yang diperkirakan dan faktor pendorong apa di balik perubahan yang terjadi dan/atau diperkirakan akan terjadi adalah di antara isu yang perlu ditelaah dengan cermat dalam setiap pemetarencanaan.

B. Tujuan Pemetarencanaan

Seperti telah disampaikan bahwa tujuan mendasar pemetarencanaan adalah menyusun rencana (yang berperan strategis dan dalam bentuk pragmatis) dengan sasaran yang tepat, lintasan perjalanan yang tepat, dengan biaya yang tepat, menggunakan teknologi dan kapabilitas yang tepat, dan pada saat/waktu yang tepat.

Tujuan utama PRT adalah menyusun rencana tindak yang sistematis tentang pengembangan dan penyediaan kemampuan teknologi untuk konteks tertentu yang spesifik oleh para stakeholder kuncinya yang diperkirakan dibutuhkan di masa datang.

Sementara itu, tujuan umum PRT biasanya adalah (Çetindamar dan Farrukh, 2001):

Memfasilitasi integrasi teknologi baru ke dalam proses perencanaan;

Sinkronisasi pengembangan pasar, produk dan teknologi dalam dan antara organisasi;

Memberikan informasi penting tentang kecenderungan-kecenderungan teknologi dan dampaknya;

Mendukung komunikasi dan kerjasama dalam dan antara organisasi;

Mendukung seleksi proyek, alokasi sumber daya, dan keputusan pendanaan.

20

PEMETARENCANAAN (ROADMAPPING): KONSEP, METODE DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN

BAB 2 ALASAN DI BALIK PEMETARENCANAAN

Çetindamar dan Farrukh (2001) mengidentifikasi tentang bidang aplikasi, tujuan umum dan maksud PRT sebagai berikut. Bidang aplikasi PRT antara lain adalah:

Perencanaan

untuk target-target yang diketahui yang melibatkan beragam

proyek

teknologi;

Perencanaan produk (berkaitan dengan platform dan evolusi);

Media untuk mengkomunikasikan strategi teknologi atau kebijakan teknologi;

Peramalan teknologi dan produk.

Sementara itu, aplikasi PRT di negara berkembang biasanya ditujukan untuk:

Menentukan arah dan memberikan suatu konteks perencanaan: pendekatan jangka panjang dan kesiapan (readiness);

Memperluas pilihan, alternatif, opsi;

Menentukan prioritas penggunaan sumber daya secara efisien;

persoalan

Memungkinkan

peringatan

dini

(early

warning)

tentang

kesulitan

dan

pengembangan;

Perbaikan dalam pengkajian, alih, dan penggunaan teknologi, yang membawa kepada kemampuan bertahan (survival) dalam lingkungan teknologi yang kompleks dan berubah- ubah;

Mencari “ceruk (niches),” menggunakan teknologi yang efisien, dan meningkatkan keunggulan daya saing;

Mendapatkan manfaat dari pembelajaran organisasi (organizational learning), dan manajemen pengetahuan (knowledge management);

Sebagai strategi teknologi-produk bersama (a shared technology-product strategy).

Secara umum, PRT biasanya dimaksudkan untuk (Çetindamar dan Farrukh, 2001):

Mendukung

perintisan

perusahaan/organisasi;

proses

pemetarencanaan

teknologi

khusus

suatu

Membangun keterkaitan kunci antara sumber daya teknologi dengan pendorong bisnis (business drivers);

Mengidentifikasi kesenjangan penting dalam inteligen pasar, produk dan teknologi;

Mengembangkan peta lintasan terobosan teknologi;

Mendukung strategi dan prakarsa perencanaan teknologi di dalam suatu perusahaan;

Menunjang komunikasi antara fungsi teknis dengan komersial.

21

2.3. KEGUNAAN DAN MANFAAT PEMETARENCANAAN

A. Kegunaan

PRT memberikan kerangka mekanisme koordinasi dan dukungan sumber daya yang diperlukan untuk menginisiasi tindak lanjut serta sebagai katalis untuk melaksanakan langkah- langkah penting yang disepakati. Bagi pembuat kebijakan (termasuk kebijakan teknologi), PRT jelas merupakan hal sangat penting untuk memformulasikan kerangka kebijakan yang efektif dalam pengembangan teknologi, termasuk misalnya “teknologi masyarakat (indigenous technology)” sebagai bagian dari aset intelektual bangsa sendiri.

PRT pada dasarnya mempunyai 3 (tiga) kegunaan utama, yaitu:

1. Membantu pengembangan suatu konsensus tentang sehimpunan kebutuhan (needs) dan teknologi yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

2. Memberikan suatu mekanisme untuk membantu para ahli dan stakeholders kunci untuk memperkirakan dan menggali alternatif kemungkinan pengembangan teknologi dalam bidang-bidang tertentu yang dituju (menjadi sasaran).

3. Memberikan suatu kerangka untuk membantu perencanaan dan koordinasi pengembangan teknologi, baik di dalam suatu organisasi (perusahaan) maupun keseluruhan industri.

Bukan rahasia lagi bahwa perusahaan-perusahaan yang berhasil dengan produktivitas tinggi dan pangsa pasar yang meningkat, biasanya saling berbagi pengetahuan dan know-how untuk memperkirakan, menganilisis dan merencanakan tindakan ke depan. Untuk dapat kompetitif dan memperbesar peluang keberhasilan jangka panjang, perusahaan dan/atau kelompok kepentingan (interest group) atas teknologi pun perlu berfokus pada pasar masa depan dan menerapkan strategi pengembangan teknologi yang dikaji dengan tepat. Dalam kaitan inilah pemetarencanaan teknologi dapat berperan.

Sehubungan dengan itu, aplikasi pemetarencanaan teknologi bisa berguna untuk:

Membantu dunia usaha dan para stakeholder lain memperkirakan atas kebutuhan teknologi dan “produk-pasar” masa depan;

Menentukan “peta perjalanan” pengembangan teknologi dan langkah lain yang harus ditempuh agar dapat bersaing di pasar masa depan;

Menuntun keputusan-keputusan penelitian dan pengembangan (litbang) teknologi;

Meningkatkan kolaborasi dan berbagi pengetahuan serta kemitraan;

Mengurangi risiko investasi mahal dalam pengembangan teknologi;

Membantu dunia usaha untuk memanfaatkan peluang pasar masa depan.

22

PEMETARENCANAAN (ROADMAPPING): KONSEP, METODE DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN

BAB 2 ALASAN DI BALIK PEMETARENCANAAN

B.

membantu

keputusan-keputusan investasi teknologi secara lebih baik. Manfaat umum dari PRT adalah:

Memberikan pendekatan yang sistematis bagi pengembangan teknologi yang berorientasi kebutuhan pasar masa datang;

Memberikan konsensus pandangan tentang peluang-peluang pasar yang baru dan teknologi-teknologi yang dinilai sangat penting (critical technologies);

Mengidentifkasi hambatan/kendala-kendala utama bagi pengembangan di masa depan;

Membimbing investasi litbang di masa depan;

Mendorong pengembangan teknologi-teknologi terobosan, terdepan, atau yang dapat mempelopori perkembangan lebih lanjut (leading-edge technologies);

Mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan keterampilan yang dinilai penting;

Meningkatkan daya saing, produktivitas dan profitabilitas;

Mendorong formasi aliansi baru, jaringan dan kemitraan;

Mengurangi risiko kolaborasi;

regulasi

Memberikan

Manfaat

PRT

dinilai

bermanfaat

terutama

dalam

memberikan

informasi

untuk

arah

untuk

menyesuaikan

kebijakan-kebijakan,

program

dan

pemerintah.

2.4. CATATAN PENUTUP

Dalam batas rasionalitas manusiawi (yang sering disebut bounded rationality) dan kearifan (wisdom), apa yang dapat dilakukan oleh manusia “hanyalah” berupaya melihat ke depan, dan perlu terus belajar dari masa lampau agar makin mampu melangkah ke depan secara lebih baik.

Dalam perspektif demikian, barangkali tak berlebihan untuk menyatakan bahwa “keberhasilan” pada dasarnya bukanlah “suatu keadaan (a state),” tetapi lebih merupakan “suatu proses” terutama dalam mengembangkan dan memanfaatkan peluang, menghadapi tantangan serta bagaimana cara positif menyikapi berbagai perubahan/perkembangan.

Dalam konteks demikian lah setiap upaya/proses pemetarencanaan perlu dilihat, sebagai suatu cara penyikapan positif dalam melihat masa datang. Banyak pihak terus berupaya mengembangkan pemetarencanaan, baik dalam tataran konsep maupun aplikasi praktis, yang satu sama lain akan saling melengkapi/memperkuat.

23

24

PEMETARENCANAAN (ROADMAPPING): KONSEP, METODE DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN