Anda di halaman 1dari 5

http://biomedicaloptics.spiedigitallibrary.org/article.aspx?

articleid=1102947

Spektroskopi merupakan studi antaraksi radiasi elekromagnetik dengan materi. Radiasi elektromagnetik adalah suatu bentuk dari energi yang diteruskan melalui ruang dengan kecepatan yang luar biasa. Dikenal berbagai bentuk radiasi elektromagnetik dan yang mudah dilihat adalah cahaya atau sinar tampak. Daerah sinar tampak mulai dari warna merah pada panjang gelombang 780 nm sampai warna ungu pada panjang gelombang 380 nm (kisaran frekuensi 12800 26300 cm-1), sedangkan daerah ultraviolet berkisar dari 380 nm sampai 180 nm (kisaran frekuensi 2630 55500 cm-1). Energi pada daerah ultraviolet dan sinar tampak berkisar dari 140 sampai 660 kj/mol (Mudzakir dan Soja Fatimah, 2008).

Gambar 2. Daerah Spektrum Radiasi Elektromagnetik

Teknik spektroskopi pada daerah ultraviolet dan sinar tampak biasa disebut spektroskopi UV-Vis atau spektrofotometer UV-Vis. Dari spekrum absorbsi dapat diketahui panjang gelombang dengan absorbansi maksimum dari suatu unsur atau senyawa. Konsentrasi suatu unsur atau senyawa juga dengan mudah dapat dihitung dari kurva standar yang diukur pada panjang gelombang dengan absorbansi maksimum yang telah ditentukan (Satiadarma, dkk, 2004).

Radiasi yang berasal dari ultraviolet-visibel diabsorbsi oleh molekul organik aromatik, molekul yang mengandung elektron- terkonjugasi dan atau atom yang mengandung elektron-n, menyebabkan transisi elektron dari orbit terluarnya dari tingkat energi elektron dasar ke tingkat energi elektron tereksitasi yang lebih tinggi. Besarnya absorbansi radiasi tersebut sebanding dengan banyaknya molekul analit yang mengabsorbsi dan dapat digunakan untuk analisis kuantitatif (Satiadarma, dkk, 2004). Spektrofotometer Spektronik-20 D merupakan salah satu contoh spektrofotometer yang dapat digunakan untuk mengukur serapan sinar ultraviolet dan sinar tampak oleh suatu materi dalam bentuk larutannya. Jumlah cahaya yang diserap oleh suatu zat dalam larutan berbanding lurus dengan konsentrasi zat dalam larutannya. Hubungan antara serapan cahaya dengan konsentrasi zat dalam larutan dapat dinyatakan dengan persamaan Lambert-Beer berikut ini: A = - log T = b c Dimana: A = absorbansi T = transmitansi = absorptivitas molar (L/mol cm) b = panjang sel (cm) c = konsentrasi zat yang menyerap sinar (mol/L) Dalam aplikasinya, terdapat beberapa persyaratan agar hukum LambertBeer dapat digunakan, yaitu: a) Syarat konsentrasi, konsentrasi larutan yang diukur harus encer b) Syarat kimia, zat pengabsorbsi (zat yang dianalisis) tidak boleh terdisosiasi, berasosiasi atau bereaksi dengan pelarut menghasilkan produk lain. c) Syarat cahaya, radiasi cahaya yang digunakan untuk pengukuran harus monokromatis (cahaya yang mempunyai satu macam panjang gelombang). d) Syarat kejernihan, kekeruhan larutan yang disebabkan oleh partikel-partikel koloid misalnya menyebabkan penyimpangan hukum Beer (Sudarmadji, dkk. 2010).

Gambar 3. Spektronik 20 -D atau merekam atau pengelompokan Instrumen ini dapat dikelompokkan secara manual lain yaitu berkas tunggal dan berkas rangkap. Spektrofotometer berkas tunggal biasanya dijalankan secara manual dan dimungkinkan untuk merekam suatu spektrum, sedangkan instrumen berkas rangkap umumnya merupakan perekaman automatik terhadap spektra serapan. Metoda spektrofotometer ini didasarkan atas interaksi antara materi dan larutan standar. Suatu spektrofotometer memiliki komponen-komponen penting sebagai berikut: 1. Sumber energi cahaya Sumber sinar yang ideal untuk spektroskopi absorpsi harus memancarkan spektrum yang kontinyu, berintensitas tinggi dan merata pada daerah panjang gelombang yang digunakan. Sumber sinar dapat dibedakan menjadi dua jenis: a) Sumber sinar ultraviolet Spektrum kontinyu dalam daerah UV dihasilkan dari eksitasi elektron deuterium pada tekanan rendah. Harga lampu cukup mahal dan umur pemakaiannya relatif pendek. b) Sumber sinar tampak Sumber sinar tampak biasanya lampu Tungsten atau pijaran kawat Wolfram. Lampu ini tidak memerlukan perawatan khusus karena relatif murah serta sinar yang dipancarkan tidak membahayakan (Soja Siti Fatimah, 2003). 2. Monokromator Monokromator yaitu suatu alat untuk memencilkan pita sempit panjang panjang gelombang dari spektrum lebar yang dipancarkan oleh sumber cahaya. Komponen yang penting dari sebuah monokromator adalah suatu sistem celah dari suatu dispersif. Radiasi dari sumber difokuskan ke celah masuk, kemudian disejajarkan oleh sebuah lensa atau cermin sehingga suatu berkas sejajar jatuh ke unsur pendispersi, yang berupa prisma atau kisi difraksi (Nurlisa Hidayati, 2010).

3. Wadah untuk sampel Pada umumnya spektrofotometer melibatkan larutan dan karenanya kebanyakan wadah sampel adalah sel untuk meletakkan cairan ke dalam berkas cahaya

spektrofotometer. Sel itu haruslah meneruskan energi cahaya dalam daerah spectral yang diinginkan; jadi sel kaca yang digunakan untuk daerah tampak, sel kuarsa atau kaca silika tinggi istimewa untuk daerah ultraviolet dan garam dapur alam untuk inframerah. 4. Detektor Detektor adalah alat untuk mengubah energi cahaya menjadi suatu isyarat listrik. Detektor dalam suatu spektrofotometer dapat memberikan kepekaan yang tinggi dalam daerah spektral yang diinginkan, respon yang linier terhadap daya radiasi, waktu respons yang cepat, dapat digandakan dan kestabilan tinggi atau tingkat bisingan yang rendah. Detektor fotolistrik digunakan dalam daerah tampak dan UV dan detektor yang didasarkan pada efek termal digunakan dalam inframerah. Detektor fotolistrik yang paling sederhana adalah tabung foton, berupa tabung hampa udara, dengan jendela yang tembus cahaya, yang berisi sepasang elektroda. 5. Amplifier (pengganda) dan rangkaian yang berkaitan yang membuat isyarat listrik itu bisa dibaca (Nurlisa Hidayati, 2010). 6. Sistem pembacaan yang menyatakan besarnya isyarat listrik. Gambar 4. menjelaskan tentang diagram blok yang menunjukkan komponenkomponen sebuah spektrofotometer berkas tunggal. Anak panah tunggal menunjukkan energi cahaya, anak panah ganda menunjukkan hubungan listrik. Bagian optis dan bagian listrik dari instrumen itu bertemu pada detektor. Spektrofotometer yang biasanya digunakan dalam analisis adalah jenis spektrofotometer berkas tunggal yaitu spektronik 20 D. Diagram bagan dari sistem optis spektronik 20 dapat dilihat pada Gambar 4. di bawah ini :

Gambar 4. Skema Diagram Sistem Optik Spektronik-20 D GRAVIMETRI Perhitungan gravimetri secara sederhana merupakan pengembangan dari perhitungan stoikhiometri. Faktor stoikhiometri lebih didasarkan pada jumlah (dalam mol) analit yang terdapat dalam endapan yang ditimbang. Faktor gravimetri = Mol analit dalam endapan x BM analit BM endapan Setelah sampel berisi analit yang dikehendaki diperoleh, lakukan penimbangan. Tahap berikutnya, merubah sampel ke bentuk yang dapat ditimbang (dalam hal ini endapan). Bila endapan yang didapat adalah analit yang dikehendaki maka : % Analit = (berat Analit / berat sampel) x 100 % Biasanya endapan yang didapat mengandung analit bersama dengan unsur lain, untuk itu berat analit ditentukan dengan faktor gravimetri (Sonny,Widiarto. 2009).

Fatimah, Soja Siti. (2003). Kalibrasi dan Perawatan Spektrofotometer UV-Vis. Makalah disampaikan pada program pengabdian pada masyarakat Jurusan Pendidikan Kimia FPMIPA UPI Bandung: tidak diterbitkan.

Mudzakir, Ahmad. Kusrijadi, Ali. dan Fatimah Siti Soja. (2008). Perangkat Perkuliahan (Satuan Acara Perkuliahan, Bahan Ajar, dan Bahan Presentasi) Praktikum Kimia Anorganik. Jurusan Pendidikan Kimia FPMIPA UPI Bandung: tidak diterbitkan.

Nurlisa Hidayati. (2010). Penentuan Panjang Gelombang, Kurva Kalibrasi dan Uji Presisi Terhadap Senyawa Kompleks Fe(ii) -1,10-Fenantrolin. Jurusan Kimia FMIPA Universitas Sriwijaya Sumatera Selatan

Satiadarma, K., dkk. (2004). Azas Pengembangan Prosedur Analisis. Surabaya. Airlangga University Press.