Anda di halaman 1dari 5

1.

Skor mallampati atau klasifikasi mallampati adalah sistem skor medis yang digunakan di bidang anestesiologi untuk menentukan level kesulitan dan bisa menimbulkan resiko pada intubasi pasien yang sedang menjalani proses pembedahan. Hasil menentukan tingkat yg dibedakan dari I sampai IV. Kelas I mengindikasikan seorang pasien yg seharusnya lebih mudah diintubasi. Tingkat tertinggi, kelas IV ditujukan ditujukan kepada pasien dengan resiko tinggi, komplikasi.Klasifikasi allampati ditentukan oleh pengamatan visual dari rongga mulut Tes untuk membentuk skor allampati dilakukan dengan pasien dalam posisi duduk tegak, dengan kepala terangkat dalam posisi netral. !asien memegang mulutnya terbuka lebar dan meluaskan lidah, teknisi memeriksa visibilitas dari struktur faring. Skor Kelas I allampati diberikan jika palatum molle, amandel anterior dan posterior pila , dan seluruh uvula " potongan jaringan lunak yang menggantung dari atap mulut dekat bagian belakang lidah " yang mudah terlihat. Skor KelasII diberikan jika palatum molle, amandel, dan sebagian besar uvula dapat dilihat. #alam kasus di mana hanya palatum molle dan uvula dasar terlihat, pasien diberikan rating Kelas III. Skor Kelas IV allampati $diperuntukkan bagi mereka kasus di mana palatum molle tidak terlihat sama sekali. !asien yang memiliki hasil kelas III atau Kelas IV %enderung sulit untuk intubasi, dan persiapan lainnya harus dibuat untuk manajemen jalan nafas alternatif, seperti penggunaan masker respirator. &rade 1 ' Tampak pilar faring, palatum molle dan uuvula &rade ( ' Tampak hanya palatum molle dan uvula &rade ) ' Tampakhanya palatum molle &rade * ' !alatummolle tidak tampak &rade ) dan * diperkirakan akan menyulitkan intubasi trakea (. SK+, -!-.H/ 0eratnya penyakit ditentukan berdasarkan sistem skoring -!-.H/ III yaitu skor berkisar 1 2 (33, dengan tingginya skor mengindikasikan lebih beratnya penyakit dan meningkatkan resiko kematian pada saat masuk I.4. Validasi skor yang menyatakan beratnya penyakit seperti, usia pasien, kondisi komorbid penyakit dan parameter"parameter fisiologik seperti, tanda"tanda vital,nilai"nilai kimia5i serologi, nilai gas darah arterial dan &lasgo5 .oma S%ore. Sistem skoring -!-.H/ III menggabungkan dan menilai beberapa variabel, yaitu beberapa diantaranya seperti ' a. variasi variabel fisilologik 6sepertimean arterial pressure, temperatur, tekanan parsial arterioksigen, alveolar arterial +(differen%e, frekuensi nadi dan pernapasan7 b. nilai laboratorium 6beberapa seperti hemoglobin, kreatinin, hitung sel darah putih7 %. usia d. variabel penyakit kronik e. status neurologik 8&lasgo5 .oma S%ale 6&.S7

Tabel (. Sistem skoring -!-.H/ III. Skor fisiologik akut untuk nilai tanda tanda vital dan abnormalitas laboratorium.

Tabel ). Sistem skoring -!-.H/ III. Skor fisiologik akut untuk nilai abnormalitas neurologik. ata buka spontan oleh rangsang verbal 8 rasa nyeri

). &.S &lasgo5 .oma S%ale 6&.S7 adalah skala yang menilai tiga fungsi , yaitu mata 6/9eyes7, verbal 6V7, dan gerak motorik 6 7. Ketiga fungsi masing"masing dinilai dan pada akhirnya dijumlahkan dan hasilnya merupakan derajat kesadaran. Semakin tinggi nilai menunjukkan semakin baik nilai kesadaran. :ilai terendah adalah ) 6koma dalam atau meninggal7, dan yang tertinggi adalah nilai 1; 6kesadaran penuh7. ,espon ata 6/yes7

1. Tidak dapat membuka mata (. ata membuka dengan rangsang nyeri. 0iasanya rangsang nyeri pada dasar kuku"kuku jari< atau tekanan pada supraorbita, atau tulang dada, atau tulang iga ). ata membuka dengan rangsang suara. 6jangan keliru dengan pasien yang baru terbangun dari tidur, pasien seperti demikian mendapat nilai * bukan )7 *. ata membuka spontan ,espon Verbal 6V7 1. Tidak ada respon suara (. Suara"suara tak berarti 6mengerang8mengeluh dan tidak berbentuk kata"kata7 ). Kata"kata tidak berhubungan 60erkata"kata a%ak atau berseru"seru, namun tidak sesuai per%akapan *. 0ingung atau disorientasi 6pasien merespon pertanyaan tapi terdapat kebingungan dan disorientasi7 ;. +rientasi baik 6pasien merespon dengan baik dan benar terhadap pernyataan, seperti nama, umur, posisi sekarang dimana dan mengapa, bulan, tahun, dsb7 ,espon otorik 6 7

1. Tidak ada respon gerakan (. /kstensi terhadap rangsang nyeri 6abduksi jari tangan, bahu rotasi interna, pronasi lengan ba5ah,ekstensi pergelangan tangan7 ). =leksi abnormal terhadap rangsang nyeri 6adduksi jari"jari tangan, bahu rotasi interna, pronasi lengan ba5ah, fle>i pergelangan tangan7

*. =le>i8penarikan terhadap rangsang nyeri 6fleksi siku, supinasi lengan ba5ah, fleksi pergelangan tangan saat ditekan daerah supraorbita< menarik bagian tubuh saat dasar kuku ditekan7 ;. #apat melokalisasi nyeri 6gerakan terarah dan bertujuan ke arah rangsang nyeri< misal tangan menyilang dan mengarah ke atas klavikula saat area supraorbita ditekan ?. #apat bergerak mengikuti perintah 6melakukan gerakan sederhana seperti yang diminta7 Interpretasi &.S dapat diklasifikasikan ' a. Skor 1*"1; ' %ompos mentis b. Skor 1("1) ' apatis %. Skor 11"1( ' somnolent d. Skor @"11 ' stupor e. Skor A ; ' koma #erajat Kesadaran " Sadar ' dapat berorientasi dan komunikasi " Somnolens ' dapat digugah dengan berbagai stimulasi, bereaksi se%ara motorik 8 verbal kemudian terlelap lagi. &elisah atau tenang. " Stupor ' gerakan spontan, menja5ab se%ara refleks terhadap rangsangan nyeri, pendengaran dengan suara keras dan penglihatan kuat. Verbalisasi mungkin terjadi tapi terbatas pada satu atau dua kata saja. :on verbal dengan menggunakan kepala. " Semi Koma ' tidak terdapat respon verbal, reaksi rangsangan kasar dan ada yang menghindar 6%ontoh menghindari tusukan7. " Koma ' tidak bereaksi terhadap stimulus. Kualitas Kesadaran 1. .ompos entis 6%ons%ious7, yaitu kesadaran normal, sadar sepenuhnya, dapat menja5ab semua pertanyaan tentang keadaan sekelilingnya.. (. -patis, yaitu keadaan kesadaran yang segan untuk berhubungan dengan sekitarnya, sikapnya a%uh tak a%uh. ). #elirium, yaitu gelisah, disorientasi 6orang, tempat, 5aktu7, memberontak, berteriak"teriak, berhalusinasi, kadang berhayal. *. Somnolen 6+btundasi, Betargi7, yaitu kesadaran menurun, respon psikomotor yang lambat, mudah tertidur, namun kesadaran dapat pulih bila dirangsang 6mudah dibangunkan7 tetapi jatuh tertidur lagi, mampu memberi ja5aban verbal. ;. Stupor 6soporo koma7, yaitu keadaan seperti tertidur lelap, tetapi ada respon terhadap nyeri. ?. .oma 6%omatose7, yaitu tidak bisa dibangunkan, tidak ada respon terhadap rangsangan apapun 6tidak ada respon kornea maupun reflek muntah, mungkin juga tidak ada respon pupil terhadap %ahaya7.