Anda di halaman 1dari 15

Analisis Artikel Dengan Sistemic Functional Grammar

Laporan Hasil Analisis Dari Teks Suso: My life in LFC's first team
Ita Juita Nim: 2010041117 Tlp. 085724123990 Universitas Kuningan

Pendahuluan
Makalah ini melaporkan hasil analisis metafunction pada sebuah teks berjudul Suso: My life in LFC's first team yang diunduh dari situs Liverpoolfc.com pada tanggal 2 November 2012. Proses analisis teks terdiri dilakukan dengan cara mengkajilexicogrammar melalui 2004).

sistem metafunction yang

dari ideational,interpersonal dan textual (Halliday,

Kegiatan ini diyakini akan membantu pelajar untuk menjadi pembaca yang lebih baik (Bumela,L, 2011). Dengan cara demikian, pembaca mampu mengungkapkan: (1) context of ideas, (2) context of culture (genre), dan (3) context of situation (register), yang terdiri dari field of discourse (ideational meaning), tenor of discourse (interpersonal meaning), danmode of discourse (textual meaning). Ideational metafunction merupakan ranah analisis yang mengkaji kegiatan yang sedang berlangsung. Ideational metafunction direalisasikan melalui sistem grammatical yang disebut transitifity sistem. Transitivity of situation system sistem yang berhubungan terdiri dengan dari tiga variabel elemen

pertama context

(register) yang

disebutfield -

yakni participant, process type, dan circumstances. Participant merupakan nama-nama yang spesifik dan mewakili satu individu (Gerot dan Wignell : 1994,18). Process type atau predicative mengacu kepada kata kerja yang terdapat dalam teks baik material, mental, verbal, behavioral, relationalmaupun existential process. Sedangkan circumstances merupakan keterangan-

keterangan berupa tempat, waktu, cara dan lain sebagainya yang dapat diletakan di awal, tengah atau akhir kalimat. Eggins (1994) menjelaskan bahwa interpersonal metafunction merupakan makna yang mengungkapkan sikap-sikap penulis atau pembicara. Kemunculan makna sikap tersebut dipengaruhi oleh variabel tenor, hubungan sosial antara interaksi yang terkandung didalamnya. Selain itu tenor merujuk pada status atau power, peranan interaksi dan berbagai pengaruh yang saling berkaitan dalam sebuah teks (Gerot dan Wignell : 1994, 11). Textual metafunction mengungkapkan hubungan bahasa terhadap lingkungannya, termasuk lingkungan verbal apa yang diucapkan atau ditulis sebelumnya (co-text)- dan non-verbal (lingkungan situasianal/context). Makna-makna ini dihubungkan dengan theme dan cohesion. Makna textual sangat dipengaruhi olehmode of discourse, jalan pengantar pesan apakah melalui bentuk tertulis ataukah lisan. Dalam proses analisis ini, perlu melewati tiga tahap utama guna memperoleh hasil penganalisisan yang bermakna. Tahapan tersebut meliputi context of ideas,context of culture (genre) dan context of situation (register). 1. Context of ideas Teks yang diunduh dari situs Liverpoolfc.com pada tanggal 2 November 2012 dengan judul Suso : my life in LFCs first team diunggah oleh James_Carroll84, menginformasikan menganai perjalanan karir pesepak bola yang bernama Jesus Fernandez Saez. Jesus Fernandez Saez atau lebih dikenal dengan nama Suso, pada usianya yang ke-18, kini mendapatkan kepercayaan dari Brendan Rodgers, bosnya di Liverpoolfc untuk memulai karirnya dengan diposisikan sebagai pemain utama. Sebelumnya, Suso hanya berada pada posisi cadangan saja. Suso menyatakan bahwa ia sangat senang mendapatkan kesempatan tersebut. Selain itu Suso juga menyatakan bahwa kerja kerasnya saat ini adalah salah satu bentuk terimakasih yang bisa ia berikan kepada semua yang telah mendukung karirnya selama ini terutama kepada bosnya. James Carrol sang penulis memposisikan dirinya dalam posisi yang netral atau tidak dalam posisi mempengaruhi pembaca. Hal tersebut dapat terlihat dari beberapa alasan sebagai berikut: (1) Teks tersebut merupakan teks yang berbentuk descriptive atau taks yang menggambarkan seseorang atau sesuatu secara objektif dan dapat dikuatkan dengan data yang diperoleh dari hasil analisis berupa persentase declarative yang mencapai 100%. Declarative merupan jenis teks yang berfungsi memberikan informasi dan bukan untuk mempengaruhi, sebagaimana arti declarative

itu sendiri memiliki arti bahwa declaration is an official written statement giving information(Oxford Advanced Learners Dictionary : 2000). (2) Kemunculan modal finite yang sedikit menunjukan bahwa penulis tidak mengkontribusikan posisinya dalam teks tersebut, hal tersebut dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Jenis Finite modal Finite Occurence 9 Total 102 Percentage 8,8% Tabel 1.1 (3) Kemunculan finite present yang cukup besar dari teks mengindikasikan bahwa teks tersebut dikutip secara langsung melalui wawancara, oleh sebab itu penulis tidak memiliki kekuasaan untuk membumbui atau memanipulasi data pada teks tersebut, maka jadilah sebuah teks yang menginformasikan suatu penomena secara alami dan besifat informatif.

2. Context of culture (genre) Teks dengan judul Suso : my life in LFCs first team dikontruksikan dalam bentuk mood type declarative. Declarative merupkan suatu pernyataan formal atau sebuah pernyataan lisan maupun tulisan terutama mengenai perasaan atau kepercayaan seseorang ( Oxford Advanced Learner). Hal ini mengindikasikan bahwa teks dikategorikan kedalam genre descriptive. Sebagaimana teks descriptive pada umumnya, teks yang mengulas sepak terjang pesepak bola ini tersusun dengan diawali orientation dan diakhiri dengan descriptionyakni penggambaran menyaluruh mengenai karir, perasaan dan tekad yang ada pada diri Jesus Fernandes saez. Pengemasan teks yang sederhana, baik dalam pemilihan kata dan susunan grammar membuat teks tersebut mudah dipahami dan dicerna sehingga informasi yang hendak disampaikan mampu terbaca secara makna dengan baik oleh pembaca. 3.Contex of situation Penghasilan makna dari suatu teks yang dihasilkan oleh pembaca dipengaruhi oleh konteks situasi dan budaya yang ada. Kajian dalam konteks situasi berfokus pada

gagasan metafunction yakni ideational, interpersonal dan textual.

a. Ideational

Secara singkat taks Suso : My life in LFCs first team menginformasikan mengenai perjalanan karir Jesus Fernandez Saez, 18 tahun. Kini mendapatkan

kepercayaan dari Brendan Rodgers, boss dari Liverpollfc untuk memulai karirnya dengan mendapat kesempatan menjadi pemain utama, sedangkan sebelumnya Suso hanya berada diposisi cadangan saja. Suso menyatakan bahwa ia sangatlah senang mendapatkan kesempatan tersebut. Ia pun menyatakan bahwa kerja kerasnya saat ini adalah salah satu bentuk terimakasih yang ia berikan. Meskipun sekarang Suso menjadi pemain yang cukup terkenal tapi ia menyatakan bahwa akan seprti ia sebelumnya. Dengan bergabungnya Suso, ia telah membantu membawa Liverpool menjadi team yang memiliki pemain rata-rata berusia muda dalam Barclays Premier League dan diikuti dengan lahirnya berjuta fans yang mendukung dan memprediksikan team tersebut akan sangat berjaya dimasa mendatang. Tahapan pertama dalam proses ideational ini merupakan analisis mengenai kemunculan participant yang berperan dalam teks tersebut. Adapun tabel kemunculan perticipant berikut ini,
No 1 2 3 4 5 6 7 8 Participants Jesus Fernandes Saez (Suso) Brenden Rodgers (the boss) The Spaniard Fans Pundit Steven Gerrard and Luis Suarez Andre Wisdom and Raheem sterling Non human TOTAL Occurence 70 14 2 3 1 4 4 27 125 Percentage 51,85% 10,37% 1,62% 2,22% 0,74% 2,29% 2,29% 27,55% 100%

Tabel 1.2 Dari tabel di atas, dengan jelas diketahui bahwa Suso mengalami kemunculan terbanyak dibandingkan participant lainnya. Persentase Jesus Fernandes Saez yang mencapai 51,85% ini mengindikasikan bahwa Suso yang menjadi topik utama dari teks terkait. Hal lain yang menggambarkan Suso merupakan topik utama dari teks tersebut tergambar jelas dari judul dan banyaknya pernyataan langsung yang dikutip dari ujaran Suso itu sendiri.

Participant berikutnya yang memiliki persentase cukup banyak yaitu sekitar 10,37% diduduki oleh Brenden Rodgers yang merupakan boss dari Liverpollfc. Hal tersebut mencerminkan bahwa Brenden Rodgers cukup berpengaruh terhadap Suso yang menjadi participan utama dalam teks tersebut. Participan lainnya yang memiliki kaitan yang cukup erat dan berpengaruh adalah Fans, 2,22%. Tahap analisis ketiga dalam gagasan metafunction ini adalah process type. Proses ini merupakan bagian sentral yang menduduki sistem transitivity. process type menjelaskan perbedaan kejadian-kejadian yang dikonstruksi oleh penulis. Setiap proses direalisasikan oleh kata kerja yang digunakan dalam setiap klausa (Halliday: 2004). Process type atauPredicative ini terbagi kepada empat macam : (1) material process, proses dalam melakukan sesuatu secara fisik, dilakukan oleh seseorang (actor) terhadap seseorang atau sesuatu lainnya (goal), (2) behavioral process, menggambarkan kebiasaan fisiologis dan psikologis, participant dalam proses ini disebut behaver, (3) mental process, proses pengindraan, baik melalui panca indra secara langsung ataupun dengan melalui perasaan dan pemikiran. Participant yang berperan dalam dalam proses ini disebut senser sedang objek pengindraan disebut denganphenomenon, (4) verbal precess, proses pengungkapan pesan secara lisan dan biasanya ditandai oleh simbol ungkapan, misalnya say, conclude, argue dan lain sebagainya. Dalam proses iti sendiri), target terdapat receiver (objek (objek penderita), maka apabila disebut verbalisasi), verbiage/range(verbialisasi fungsinya, menunjukan apabila ditunjukan

(5) relational process, proses kepemilikan. Proses ini diklasifikasikan berdasarkan untuk menggambarkan sesuatu sesuatu disebut attributive (participant berupa carrier dan attribute) suatu kualitas sedangkan maka

denganidentifying (participant berupa token dan value), (6) existential, proses yang menunjukan keberadaan sesuatu, ditandai dengan penggunaan kata penunjuk, misalnya there is, that is, there are, dan lain sebagainya. Data mengenai hasil analisis process type yang diperoleh dari teks Suso : my life in LFCs first team dapat dilihat dari tabel dibawah ini:
No Process Type Occurence Percentage

1 2 3 4 5 6

Material Process Behavioral Process Mental Process Verbal Process Relational Process Exixtential Process TOTAL

44 8 20 14 53 1 140

31,43% 5,71% 14,29% 10% 37,86% 0,71% 100%

Tabel 1.3 Jenis proses yang paling banyak muncul yaitu relational process dengan persentase 37,86%. Penomena tersebut disebabkan perlunya penjelasan dan pengidentifikasian participan yang terlibat dalam teks. Persentase terbanyak kedua dengan persentase 31,43% dimiliki oleh material process guna menjelaskan tindakan atau perbuatan yang dilakukan oleh participan-participan yang ada. Mental process dengan 14,29% mengindikasikan kehadiran-kehadiran perasaan, pengindraan dan pemikiran dari participant. Banyaknya verbal proses menunjukan bahwa teks tersebut banyak diambil dari mengutip pernyataan langsung dari participant yang terkait dalam teks. Elemen ketiga dari ideational ini adalah circumstances. Garot dan Wignel menerangkan jenis-jenis circumstance yang terbagi kepada tujuh bagian : (1) circumstances of time (temporal) menceritakan mengenai waktu atau kapan sesuatu terjadi, seberapa lama dan seberapa sering, (2)circumstances of place, keterangan yang menjelaskan mengenai mengenai bagaimana waktu, seseorang (3) circumstances melakukan of manner, menjelaskan sesuatu,

(4)circumstances of clause, menerangkan alasan terjadinya suatu kejadian serta memberikan informasi tentang sebab terjadinya suatu kejadian, (5) circumstances of accompaniment, menerangkan keikut sertaan seseorang dalam melakukan suatu hal, (6) circumstances of manner, menginformasikan tentang bagaimana seseorang melakukan sesuatu, (7) circumstances of role, penggambaran mengenai bagai mana peranan seseorang dalam melakukan sesuatu.

Kemunculan jenis-jenis circumstances dan persentasenya dapat dilihat dari tabel dibawah ini :
No 1 2 3 4 5 6 7 Total Circumstances The use of Circumstances of time The use of Circumstances of place The use of Circumstances of manner The use of Circumstances of cause The use of Circumstances of accompaniment The use of Circumstances of matter The use of Circumstances of role Occurrence 18 32 8 5 5 2 2 72 Percentage 25% 44,44% 11,11% 6,94% 6,94% 2,78% 2,78% 100%

Tabel 1.4 Dari tabel diatas, kemunculan circumstances of placemenduduki angka terbanyak dengan persentase 44,44%. Hal tersebut mengindikasikan bahwa participant yang ada memiliki kaitan yang erat dengan suatu tempat dan banyaknya pernyataan yang memerlukan informasi berupa keterangan tempat. Penggunaan circumstances of timemencapai 25% yang menandakan bahwa keterangan waktu banyak dimunculkan dalam teks mengenai Suso tersebut, sehingga runut kejadian-kejadian yang ada jelas keterangan waktunya. Circumstances of manner yang menerangkan mengenai cara dan menjelaskan tentang kejadian apa yang terjadi menduduki persentase 11,11%. Sedangkancircumstances of cause 6,94%, accompaniment 6,94%, manner2,78% dan circumstances of role 2,78% kemunculannya tidak terlalu penting untuk memperkuat teks tersebut. Maka dapat disimpulkan bahwa dalam teks Suso : My life in LFCs first team kemunculan participan Suso,relational process dan circumstances of place menunjukan bahwa keterlibatan Suso sangatlah dominan dalam setiap event yang ada dalam teks dan peristiwa-peristiwa tersebut berkaotan erat dengan suatu atau beberapa tempat, misalnya Suso berada pada team apa, dimana ia biasa berlatih, dimana Suso dilahirkan dan lain sebagainya.

b. Interpersonal Metafunction Teks Suso : My life in LFCs first team dikategorikan dalam bentuk mood declarative dengan keragaman pada setiap klausanya. Tabel declarative dapat dilihat dari tabel dibawah ini:
No 1 2 3 Jenis kalimat Declarative Imperative Introgative Occurence 140 Percentage 100% -

Tabel 1.5 Text mengenai Suso ini memiliki mood type declarativesecara keseluruhan karena memang memiliki presentase 100% declarative. Declarative itu sendiri merupakan tipe atau jenis yang paling penting. Dan tipe inilah yang paling sering digunakan dalam penulisan teks, dari pada tiga jenis tipe kalimat yang lain (Interogatif, imperatif dan esklamatif). Kalimat deklaratif secara mudah menyatakan fakta atau argumen, menyatakan gagasan tanpa meminta jawaban atau tindakan dari pembaca. Tipe kalimat ini tidak memberi perintah atau permintaan dan tidak juga menanyakan sesuatu hal. Jenis ini adalah jenis yang paling mudah dan sederhana karena subyek dan predikatnya memiliki urutan kata yang normal. Hal tersebut juga lagi-lagi dapat menunjukan posisi penulis yang bersikap netral. Dalam mood declarative sesalu memiliki polarity yang pada umumnya positif dan negatif pada setiap klausanya. Tabel polarity dapat dilihat pada tabel berikutnya :

No 1 2

Polaruty Positive Negative TOTAL

Occurence 131 9 140

Percentage 93,57% 6,43% 100%

Tabel 1.6

Informasi yang dapat dibaca dari tabel di atas menunjukan penulis banyak menyampaikan informasi dalam bentuk deklaratif atau kalimat positif dengan persentase 93,57% dibandingkan kalimat negatif yang hanya memiliki persentase 6,43%. Teks Suso : My life in LFCs first team 131 klausanya disampaikan dalam bentuk deicticity temporal (finite tense) sementara deicticity modality hanya muncul dalam 9 klausa saja. Berikut tabel persentase deicticity :
No 1 2 Temporal Modality TOTAL Deicticity Occurence 131 9 140 Percentage 93,57% 6,43% 100%

Tabel 1.7 Rendahnya persentase modality yang tergambar pada tabel 1.7 di atas mengindikasinya rendahnya pengaruh penulis dalam teks tersebut. Hal ini dipengaruhi pula dengan cukup banyaknya pernyataan yang dikutip secara langsung dari penuturan participant yang ada dalam teks tersebut. Sembilan klausa yang menempati deicticity modal terbagi lagi dalam tiga bentuk yaitu, finite probability, obligation dan ability. Adapun data yang diperoleh sebagai berikut:
No 1 2 3 Modal Finite Probability Obligation Ability TOTAL Occurence 5 4 9 Percentage 55,56% 44,44% 100%

Tabel 1.8 Modal finite obligation muncul dalam 5 klausa dengan persentase 55,56%, sedangkan modal finite ability muncul dalam 4 klausa dengan persentase 44,44% Lalu dalam proses deicticity temporal atau finite tenseterbagi lagi menjadi tiga jenis tenses yaitu, present tense,future tense dan past tense.

No 1 2 3

Tense Finite Present tense Past tense Future tense

Occurence 107 21 3 131

Percentage 81,68% 16,03% 2,29% 100%

TOTAL

Tabel 1.9 Jenis present tense mencapai 81,68% dan merupakan tense finite terbanyak yang sering muncul dalam teks. Hal ini menggambarkan bahwa genre teks yang dianalisis dapat dikategorikan dalam genre descriptive. Kembali kepada tujuan teks itu sendiri, teks yang diunduh dari situs internet Liverpoolfc.com ini berfungsi menggambarkan proses perjalanan karir Jesus Fenandes Saez ,segala aktivitas dan karakternya sebelum dan sesudah terkenal seperti sekarang ini. Banyaknya participant dalam teks dapat dikategorikan kepada speaker, speaker+, addressee, dan non-interactant. Subject participant non-interactant dalam teks mengenai pesepak bola Suso memperoleh angka paling besar yaitu mencapai persentase 76,43% diikuti oleh speaker ysebesar 20,17%, adressee 2,14% dan Speaker + yang hanya memiliki persentase 0,71%. Berikut tabel repersentasinya :
No 1 2 3 4 Subject Person Speaker Speaker+ Addressee Non-interactant TOTAL Occurence 29 1 3 107 140 Percentage 20,7% 0,7% 2,1% 76,4% 100%

Tabel 2.0 Dalam teks Suso: My life in LFCs first team menghadirkan circumstancial adjunct dan comment adjunct. Diketahui bahwa circumstancial adjunct memiliki persentase 87,93%, dan 12,07% berupa comment adjunct. Tabel representasi terkait dapat dilihat dari tabel selanjutnya :

No 1 2 3

Type of adjunct Circumstancial adjunct Comment adjunct Conjunctive adjunct TOTAL

Occurrence 51 7 58

Percentage 87,93% 12,07% 100%

Tabel 2.1 Berdasarkan analisis yang diuraikan di atas, maka dapat disimpulkan teks Suso: My life in LFCs first team dikategorikan kedalam genre descriptive yang mempunyai tujuan berupa menggambarkan mengenai perjalanan karir dan berbagai usaha yang dilakukan oleh Jesus Fernandes Saez di dalam team Liverpollfc. Hal tersebut dapat dilihat dari jenis polarity yang muncul. Polarity paling dominan atau bahkan hamir sebagian besar yang muncul berupa polarity positif. Selain itu penulis menggambarkan berbagai macam kejadian sebagian besar menggunakan deicticity temporal. Modal finite present lebih banyak muncul dibandingkan modal finite lainnya guna menggambarkan dan membangun teks dengan genre descriptive dan teks tersebut memang banyak diambil dari kutipan langsung participant terkait. Jenis subject person yang paling banyak muncul berupa non-interactant. Lalu jenis adjunct yang paling banyak digunakan yaitu jenis circumstancial adjunct. c. Textual Dalam konteks textual atau tematic structure di dalamnya mengkaji mengenai theme dan rheme. Terdapat tiga bagian yang tergolong kepada theme yaitu topical (ideational), textual dan interpersonal. Untuk mempermudah dalam penganalisisan dalam tahap textual ini salah satunya adalah mengetahui apa yang menjadi syarat topical theme, dimana topical adalah point penting dalam penganalisisan ini. Dalam buku AN INTRODUCTION FUNCTIONAL GRAMMAR (M. A. K. HALLIDAY : 2004:79) mengtakan bahwa We refer to this constituent, in its texttual function, as the topical theme. Yang artinya bahwa topical theme adalah pokok dari fungsi tekstual dan memiliki ciri-ciri yaitu muncul di awal clausa, menduduki satu

fungsi transitifity (participant, process dan circumstance, selain itu memiliki ciri-ciri memiliki karakteristik berupa sesuatu yang ditonjolkan pada clausa yang bersangkutan). Dalam teks Suso: My life in LFCs first team diketahuai bahwa textual team dipersentasikan sebanyak 13,68%, sedangkan topical team muncul lebih banyak dengan persentase sebesar 86,32%. Kemunculan themedalam teks mengindikasikan paradigma seorang penulis atau pembicara. Persentase jenis-jenis theme yang terdapat dalam teks bisa dilihat dibawah ini :
No 1 2 3 Type of Themes Topical Interpersonal Textual TOTAL Occurence 101 16 117 Percentage 86,2% 13,68% 100%

Tabel 2.2
Dalam Teks Suso: My life in LFCs first team terdapat textual

theme jeniscontinuatives, conjunctives dan structural. Gerot dan Wegnel (1994) dalam bukunya making sense of functional grammar mengemukakan bahwa continuativeselalu muncul di awal klausa atau kalimat. Data yang diperoleh dari proses analisis memperlihatkan bahwa conjunctives muncul sebanyak 10 kali dengan persentase 19,6%. Hal tersebut mengindikasikan bahwa penulis membutuhkan kata sambung pada setiap perpindahan paragraf agar teks tidak terlihat rumpang dan menghasislkan teks yang cohesion.

Kemudian conjuctunctive adjuncts (sama halnya seperti kata sambung namun memiliki posisi yang bisa dibalik atau si kata penghubung tersebut bisa diletakan dimana saja) memiliki persentase sebanyak 3,9 % dengan 2 kali kemunculan,

sedangkan conjuction atau structural (kata sambung yang memiliki posisi relatif tetap atau tidak bisa dipindah-pindah layaknya conjunctive adjuncts), muncul sebanyak 39 kali atau 76,4% hal tersebut menggambarkan bahwa penulis bertujuan membentuk kalimat efektive. Kalimat efektif itu sendiri yaitu kalimat yangkoherens, yaitu adanya hubungan timbal-balik yang baik dan jelas antara unsur-unsur ( kata atau kelompok kata ) yang membentuk kata itu. Setiap bahasa memiliki

kaidah-kaidah tersendiri bagaimana mengurutkan gagasan tersebut. Ada bagian-bagian kalimat yang memiliki hubungan yang lebih erat sehingga tidak boleh dipisahkan, ada yang lebih renggang kedudukannya sehingga boleh ditempatkan dimana saja, asal jangan disisipkan antara kata-kata atau kelompok-kelompok kata yang rapat hubungannya. Text mengenai Suso memiliki tingkat koherensi yang cukup tinggi karena: a). Tempat kata dalam kalimat sesuai dengan pola kalimat. b). Ketepatan menggunakan kata-kata depan, kata penghubung, dan sebagainya. c). Pemakaian kata, baik karena merangkaikan dua kata yang maknanya tidak tumpang tidih, atau hakekatnya mengandung kontradiksi.

d). Benar dalam menempatkan keterangan aspek (sudah, telah., akan, belum, dan sebagainya) pada kata kerja tanggap. Adapun tabel persentasenya :
No 1 2 3 Type of Textual Theme Continuatuve Conjunctive Conjuction (Structural) Occurence 10 2 39 51 Percentage 19,6% 3,9% 76,4% 100%

TOTAL

Tabel 2.3
Jenis-jenis topical theme terbagi kepada empat bagian yaitu marked topical

theme (Susunan kalimat yang tidak biasa atau tidak umum)

yang muncul sebesa

7,4%, unmarked topical theme (kalimat dengan susunan biasa dan tidak hendak menonjolkan sesuatu) sebesar 77,7%, more marked (kalimat yang tidak biasa dan cukup rumit) mendapatkan presentase sebesar 14,8% dan yang terakhir extremely marked (Kalimat yang sangt rumit dan susunannya sangan tidak biasa) yang tidak ditemukan dalam teks sehingga persentasenya sebanyak 0%. Berikut tabel type of topical theme : No 1 2 3 4 Type of Topical Themes Marked Topical Themes Unmarked Topical Themes More Maked Topical Themes Extremely Maked Topical Themes Occurrence 10 105 20 Percentage 7,4% 77,7% 14,8% -

TOTAL Tabel 2.4

135

100%

Jenis-jenis unmarked yang muncul dalam teks, berupa nominal group as theme yang muncul sebanyak 71 kali atau 75,53%, nominal group complex as theme yang muncul sebanyak 21 kali atau 22,34% dan embedded clause muncul 2 kali dengan persentase 2,13%. Berikut persentasenya :

No 1 2 3

Type of unmarked topical theme nominal group as theme nominal group complex as theme embedded clause

Occurrence 71 21 2 94 Tabel 2.5

Percentage 75,53% 22,34% 2,13% 100%

TOTAL

Adapun jenis-jenis marked topical theme berupa adverbial as theme, prepositional phrase as theme dan complement as theme. Dengan data yang diperoleh terdapat pada tabel berikut: No 1 2 3 Type of marked topical theme adverbial as theme prepositional phrase as theme complement as theme TOTAL Tabel 2.6 Dari data diatas diperoleh bahwa adverbial as theme macapai persentase sebanyak 71,43%, prepositional phrase as theme 0% dan complement as theme dengan 2 kali kemunculan memperoleh presentase 28,57%. Kesimpulan Dalam proses analisis teks Suso : My life in LFCs first team bila dilihat dari data-data yang diperoleh berupa kemunculan conjunction, marked Topical themes, nominal group as theme dan adverbial as theme yang lebih dominan diantara yang lainnya, maka dapat disimpulkan teks tersebut memiliki tingkat coherensi dan cohesi yang cukup tinggi dengan bantuan kemunculan conjunction yang banyak. Selain itu teks tersebut mudah dicerna oleh pembaca sehingga pesan Occurrence 5 2 7 Percentage 71,43% 28,57% 100%

yang terkandung dalam teks dapat dimengerti dengan baik, hal tersebut ditandai dengan kemunculan unmarked topical themes yang sangat banyak.

REFERENCES

Eggins, S. (1994). An Introduction to Systemic Functional Linguistics. London: Pinter Publishers Ltd. Gerot, L. And Wignell, P. (1994). Making Sense of Functional Grammar. Sidney: Antipodean Educational Enterprise (AEE). Halliday, M.A.K. (2004). Introduction to Functional Grammar. London: Edward Arnold Hornby, A.S. (2003). Oxford Advanced Learners Dictionary. New York: Oxford University Press. Lehtonen,M. (2000). Cultural Analysis Of Texts. London: SAGE publication Ltd.