Anda di halaman 1dari 30

ENERGI TERBARUKAN

Perancangan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro Berkapasitas 3318 kW di


Desa Sipungguk, Kecamatan Bangkinang Seberang, Kabupaten Kampar, Propinsi
Riau Menggunakan Turbin Air Jenis Cross Flow dengan Sudut Serang Sudu 14
o

dan Sudut Buang Sudu 26.5
o


Oleh :
Jossy Kolata (1007121681)
Jufrianto (1007113700)
Fakhru Rozi Z (1007113665)
Devri Naldy (1007113689)
M. Amuh Muhidin (1007113751)




PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN S1
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS RIAU
2013
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
segala limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis, sehingga dalam
melakukan proses perancangan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH)
dengan kapasitas 2450 kW yang berlokasi di desa sipungguk dapat terselesaikan
dengan baik meskipun masih perlu diadakan proses review dan tinjauan kembali
mengenai proses perancangan agar hasil menjadi lebih baik.
Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
membimbing dan membantu serta memyumbangkan jasanya dalam proses
Perancangan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Ucapan terima
kasih penulis di haturkan kepada :
1. Dr. Awaludin Martin, S.T., M.T, selaku dosen pembimbing perancangan turbin
air jenis cross flow serta dosen pengampu mata kuliah energi terbarukan.
2. Romi, S.T., M.T selaku dosen pengampu mata kuliah energi terbarukan.
3. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bandara Sultan
Syarif Kasim - Pekanbaru.
4. Badan Wilayah Sungai (BWS) Propinsi Riau.
5. Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional (Bakorsultanal).
6. Kelompok kerja perancangan mahasiswa Teknik Mesin S1.
7. Seluruh masyarakat desa Sipungguk.
Dalam proses perancangan lebih lanjut, penulis mengharapkan adanya kritik
dan saran yang bertujuan untuk membangun perbaikan dalam perancangan dan
dalam penulisan laporan berikutnya. Semoga laporan ini dapat diterima dan
bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pekanbaru, 20 Oktober 2013



Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sejalan dengan perkembangan sosial, budaya dan ekonomi serta informasi,
maka listrik telah menjadi salah satu kebutuhan pokok bagi masyarakat terpencil
khususnya masyarakat perdesaan. Terbatasnya kemampuan PLN dalam
menyediakan tenaga listrik kepada masyarakat Indonesia, berdasarkan data
Direktorat Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi (DJLPE) pencapaian rasio
elektrifikasi baru mencapai 64 % dan rasio desa berlistrik mencapai 88 % dari total
sekitar 66.000 desa pada tahun 2008.
Salah satu daerah di propinsi riau yang memerlukan tenaga listrik adalah
desa Sipungguk yang berada di kecamatan Bangkinang Seberang, kabupaten
Kampar. Listrik yang didistribusikan oleh PT. PLN (Perusahaan Listrik Negara)
telah masuk ke desa Sipungguk, akan tetapi dengan kapasitas listrik yang di suplai
untuk propinsi Riau tidak mencukupi untuk keseluruhan daerah, maka sering
terjadinya pemadaman listrik yang dilakukan oleh pihak PLN dan pemadaman
inilah yang sering mengganggu pekerjaan masyarakat.
Di sisi lain, desa Sipungguk dilalui salah satu anak sungai kampar yang
melintas di sepanjang desa. Pada saat sekarang ini, sungai ini dipergunakan untuk
mengaliri saluran irigasi persawahan. Aliran sungai ini juga berpotensi untuk
dijadikan sumber Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Penulis
melihat potensi ini sebagai salah satu peluang yang baik agar desa Sipungguk dapat
menjadi desa yang mandiri akan kebutuhan tenaga listrik.
Selain itu, Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) ini juga
merupakan salah satu penerapan dari energi yang baru dan terbarukan dengan
kapasitas daya yang dihasilkan adalah masih dalam jangkauan rendah sampai
menengah. Sehingga sangat cocok untuk diterapkan di daerah-daerah pedesaan, dan
diharapkan dapat meningkatkan perekonomian di daerah tersebut.
1.2 Identifikasi Masalah
Pemadaman listrik yang dilakukan oleh PT. PLN di daerah Riau merupakan
salah satu akibat dari kurangnya pasokan listrik milik PT. PLN, akan tetapi hal ini
bertentangan dengan kebutuhan masyarakat akan penggunaan listrik yang selalu
meningkat. Daerah-daerah di propinsi Riau harus memiliki pembangkit sendiri
untuk dapat terus memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pembangkit listrik tenaga
mikro hidro merupakan salah satu alternatif energi terbarukan yang dapat
membantu permasalahan listrik di propinsi Riau.
Anak sungai Kampar yang melintasi desa Sipungguk memiliki aliran yang
baik, sehingga sumber daya air dari anak sungai kampar ini dapat dimanfaatkan
untuk sumber pembangkit tenaga listrik mikro hidro. Sumber tenaga listrik berasal
dari sungai secara alami dan tersedia terus menerus sehingga mampu menciptakan
pembangkit listrik yang murah dan ramah lingkungan.

1.3 Maksud dan Tujuan
Maksud dari perancangan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro
(PLTMH) ini adalah mengkaji potensi tenaga air yang terdapat di desa Sipungguk,
kecamatan Bangkinang kabupaten Kampar, kemudian memilih alat atau teknologi
yang cocok untuk diterapkan sebagai pembangkit listrik sesuai dengan debit dan
head serta keadaan topografi di wilayah tersebut.
Tujuan dari perencanaan PLTMH ini adalah memberikan penanganan
masalah pemenuhan kebutuhan listrik di daerah pedesaan. Kebutuhan yang dapat
dipenuhi oleh listrik di pedesaan, khususnya di Desa Sipungguk antara lain :
1. Penerangan,
2. Sumber tenaga untuk alat-alat elektronik,
3. Industri kecil dan rumah tangga,
4. Industri perikanan, dan peternakan.


1.4 Batasan Masalah
Ruang lingkup pembatasan masalah dalam perancangan ini dibatasi pada
masalah perencanaan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di desa
Sipungguk, Bangkinang, yang mencakup hal-hal sebagai berikut :
1. Menggunakan peta topografi rupa muka bumi melalui data Bakorsultanal dan
data untuk menentukan lokasi perencanaan PLTMH.
2. Pembangkit listrik yang digunakan adalah turbin air jenis cross flow.
3. Data curah hujan yang digunakan sebagai perhitungan adalah data 10 tahun
terakhir dan membuat Flood Duration Curve (FDC).
4. Debit air yang digunakan adalah debit anak sungai kampar yang terletak di desa
sipungguk.
5. Variasi sudut serang dimulai dari 14
o
hingga 30
o
.

1.5 Lokasi Studi
Dalam proses perancangan PLTMH direncanakan untuk pembangkit listrik
di desa sipungguk, kecamatan Bangkinang Seberang, kabupaten Kampar yang
mengambil sumber energi potensial aliran anak sungai.

Gambar 1.1 Lokasi Studi di desa Sipungguk, kecamatan Bangkinang, kabupaten
Kampar.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Elektrifikasi Pedesaan
Elektrifikasi pedesaan merupakan sebuah proses penyediaan layanan listrik
untuk daerah pedusunan/pedesaan. Pada umumnya daerah dengan tingkat populasi
masyarakat yang sedikit dimana mata pencaharian mereka dominannya adalah
pertanian, peternakan, dan perkebunan. Elektrifikasi Pedesaan ini akan sangat
mensejahterakan masyarakat pedalaman/pedesaan, dimana akan meningkatkan
kualitas hidup mereka dan juga akan meningkatkan tingkat keamanan,
produktifitas, informasi, kesehatan, hiburan, dan pendidikan. seperti yang telah kita
ketahui bahwa di negara Indonesia ini, masih banyak daerah-daerah terpencil yang
belum pernah menikmati penerangan, ini karena kemampuan pembangkit-
pembangkit listrik yang masih terbatas dan jauhnya jarak antara populasi dengan
pembangkit listrik sehingga listrik tidak bisa sampai ke pedalaman/pedesaan.

2.2 Desa Sipungguk, (Bangkinang Seberang, Kabupaten Kampar)
2.2.1 Kondisi Desa
Perancangan pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) ini dirancang
berdasarkan sumber energi potensial air yang berada di desa Sipungguk. Sumber
energi potensial air ini adalah energi dari anak sungai kampar yang memiliki beda
ketinggian pada bagian hulu dan hilirnya. Desa Sipungguk merupakan salah satu
desa yang ada di kecamatan Bangkinang Seberang, Kabupaten Kampar. Mata
Pencaharian masyarakat desa Sipungguk adalah dibagian pertanian, perikanan,
peternakan, dan sebagian kecil berwirausaha lainnya.

2.2.2 Data Curah Hujan Sungai Sipungguk
Desa Sipungguk merupakan daerah tropis yang memiliki iklim sebanyak
tiga musim yaitu musim hujan, musim kemarau, dan musim semi. Curah hujan desa
Sipungguk sangat tergantung oleh musim yang terjadi. Data curah hujan desa
Sipungguk telah direkam selama 10 tahun terakhir oleh Badan Meteorologi,
Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bandara Sultan Syarif Kasim Pekanbaru.
Hasil data curah hujan yang telah di rekam oleh BMKG merupakan data curah
hujan bulanan selama 12 bulan penuh.

2.3 Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH)
Mikrohidro adalah istilah yang digunakan untuk instalasi pembangkit listrik
yang mengunakan energi air. Kondisi air yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber
daya (resources) penghasil listrik adalah memiliki kapasitas aliran dan ketinggian
tertentu dan instalasi. Semakin besar kapasitas aliran maupun ketinggiannya dari
istalasi maka semakin besar energi yang bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan
energi listrik.
Ada beberapa klasifikasi pembangkit listrik berdasarkan Power Output
yang dapat di hasilkan seperti terlihat pada tabel 2.1.
Tabel 2.1 Klasifikasi Pembangkit Listrik
Klasifikasi Power Output
Besar
Menengah
Kecil
Mini
Mikro
Piko
> 100 MW
10 100 MW
1 10 MW
100 kW 1 MW
5 100 kW
< 5 kW

2.4 Turbin Air
Turbin air berfungsi untuk mengubah energi potensial yang dimiliki air
menjadi energi kinetik. Selanjutnya energi kinetik ini akan dirubah menjadi energi
listrik melalui generator. Turbin air pada saat sekarang ini merupakan hasil
pengembangan dari beberapa peneliti pada beberapa dekade hingga tercipta turbin
air dengan efisiensi yang paling maksimal dan dengan desain turbin yang dapat
disesuaikan dengan kebutuhan. Sejarah singkat mengenai turbin air adalah sebagai
berikut.
Pada tahun 1700, Jn Andrej Segner telah mengembangkan turbin air reaksi,
dimana turbin yang diciptakannya mempunyai sumbu horizontal yang merupakan
awal mula turbin air modern. Pada tahun 1820, Jean-Victor Poncelet
mengembangkan turbin aliran kedalam. Pada tahun 1826, Benoit Fourneyon
mengembangkan turbin aliran keluar. Turbin ini tingkat efisiensinya mencapai
80% yang bisa mengalirkan air melalui saluran dengan sudu lengkung satu dimensi.
Saluran keluaran juga mempunyai lengkungan pengarah.
Pada tahun 1844, Uriah A. Boyden mengembangkan turbin aliran keluar
yang meningkatkan performa dari turbin Fourneyon. Bentuk sudunya mirip dengan
turbin Francis. Pada tahun 1849, James B. Francis dapat meningkatkan efisiensi
turbin reaksi aliran kedalam hingga lebih dari 90%. Turbin Francis dinamakan
sesuai dengan namanya, yang merupakan turbin air modern pertama. Turbin ini
masih banyak digunakan secara luas di dunia sampai sekarang.
Sekitar tahun 1913, Victor Kaplan membuat turbin Kaplan, merupakan tipe
mesin baling-baling. Ini merupakan evolusi dari turbin Francis, turbin ini dapat
dikembangkan dengan kemampuan sumber air yang mempunyai head kecil.
Pada tahun 1866, Samuel Knight seorang warga California, menemukan
sebuah mesin dengan konsep yang berbeda jauh dari turbine yang lainnya. Turbin
ini disebut turbin impulse atau turbin tangensial. Aliran air mendorong ceruk di
sekeliling kincir turbin pada kecepatan maksimum dan jatuh keluar sudu dengan
tanpa kecepatan.
Pada tahun 1879, Lester Pelton, mengembangkan turbine samuael Knight,
Lester pelton membuat desain ceruk ganda yang membuang air kesamping,
menghilangkan beberapa energi yang hilang pada kincir Knight yang membuang
sebagian air kembali melawan kincir.
Pada tahun 1895, William Doble mengembangkan ceruk setengah silinder
milik Lester Pelton menjadi ceruk berbentuk bulat memanjang, dan membuat
sebuah potongan didalamnya yang dapat menyemburkan untuk membersihkan
masukan ceruk. Turbin ini merupakan bentuk modern dari turbin Pelton yang saat
ini dapat memberikan efisiensi hingga 92%. Pelton telah memprakarsai desain yang
efektif, kemudian Doble mengambil alih perusahaan Pelton dan tidak mengganti
namanya menjadi Doble karena nama Pelton sudah dikenal. Turgo dan turbin aliran
silang merupakan desain turbin impulse selanjutnya.

2.4.1 Jenis-Jenis Turbin
Turbin air berfungsi untuk mengubah energi potensial air menjadi energi
mekanis. Energi mekanis akan diubah lagi menjadi energi listrik dengan bantuan
generator. Berdasarkan prinsip kerjanya, turbin air dibedakan menjadi dua
kelompok yaitu turbin reaksi dan turbin impuls.
Turbin Air
Turbin Impuls
Turbin Reaksi
Turbin Turgo
Turbin Cross
Flow
Turbin Prancis
Turbin Kaplan
Turbin Pelton

Gambar 2.1 Jenis-Jenis Turbin Berdasarkan Prinsip Kerjanya

2.4.2 Turbin Cross Flow
Turbin Cross flow atau disebut juga turbin Banki adalah salah satu turbin air
dari jenis turbin aksi (impulse turbine). Turbin ini ditemukan oleh seorang insinyur
Australia yang bernama A.G.M. Michell pada tahun 1903 kemudian turbin ini
dikembangkan dan di patenkan di Jerman Barat oleh Prof. Donat Banki sehingga
turbin ini diberi nama turbin Banki atau Turbin Michell-Ossberger (Haimerl 1960).
Pemakaian jenis turbin Banki lebih menguntungkan dibanding dengan
pengunaan kincir air maupun jenis turbin mikrohidro lainnya. Penggunaan turbin
ini untuk daya yang sama dapat menghemat biaya pembuatan penggerak mula
sampai 50 % dari penggunaan kincir air dengan bahan yang sama. Penghematan ini
dapat dicapai karena ukuran turbin Banki lebih kecil dan lebih kompak dibanding
kincir air. Diameter kincir air yakni roda jalan atau runnernya biasanya 2 meter ke
atas, tetapi diameter turbin Banki dapat dibuat hanya 20 cm saja sehingga bahan-
bahan yang dibutuhkan jauh lebih sedikit, itulah sebabnya bisa lebih murah.
Untuk daya guna atau effisiensi rata-rata turbin Banki lebih tinggi dari pada
daya guna kincir air. Hubungan antara effisiensi dengan pengurangan debit akibat
pengaturan pembukaan katup yang dinyatakan dalam perbandingan debit terhadap
debit maksimumnya. Untuk Turbin Banki dengan Q/Qmak = 1 menunjukan
effisiensi yang cukup tinggi sekitar 80 %, disamping itu untuk perubahan debit
sampai dengan Q/Qmax= 0,2 menunjukan harga efisiensi yang relatif tetap (Meier,
Ueli,1981). Hasil pengujian laboratorium yang telah dilakukan oleh pabrik turbin
Ossberger Jerman Barat yang menyimpulkan bahwa daya guna kincir air dari jenis
yang paling unggul sekalipun hanya mencapai 70 % sedang effisiensi turbin Banki
mencapai 82 % (Haimerl 1960).

Gambar 2.2 Turbin Cross Flow
Setiap unit dari turbin ini dapat dibuat sampai kekuatan kurang lebih 750
kW, dapat dipasang pada ketinggian jatuh antara 01 sampai 200 meter dengan debit
air sampai 3.000 liter/detik. Cocok digunakan untuk PLTMH, penggerak instalasi
pompa, mesin pertanian, workshop, bengkel dan lain sebagainya (Haimerl 1960).
2.5 Karakterisitik Turbin air Cross-Flow
2.5.1 Perbandingan karakteristik Turbin
Perbandingan karakteristik jenis turbin dapat dlihat dari chart di bawah ini:

Gambar 2.3 Pemilihan Turbin Berdasarkan Debit Rencana

Aplikasi penggunaan turbin berdasarkan tinggi head yang didapatkan
adalah sebagai berikut ini :
Tabel 2.2 Penggunaan Turbin Berdasarkan Head
Jenis Turbin Range head (m)
Kaplan dan Propeller
Francis
Pelton
Michel-banki atau Crossflow
Turgo
2<H<40
10<H<350
50<H<1300
3<H<250
50<H<250


2.5.2 Parameter-Parameter Turbin Air Cross-Flow
Parameter-parameter dalam perhitungan turbin air cross flow :
1) Perhitungan Head net (Hn)
Persamaan head net dapat dihitung dengan (Mockmore, C. A. dkk., 1949) :
n g tl
H H H = + (2.1)
Dimana :
Hn = Head net (m)
Hg = Head gross, merupakan jarak vertikal antara permukaan air dari
intake menuju turbin. (m)
Htl = Head total losses, merupakan jumlah losses pada open channel,
trash back, intake, penstock, dan gate or value. Biasanya 6% dari
Head gross. (m)

2) Perhitungan Debit (Q)
Debit dapat diketahui dengan persamaan (Mockmore, C. A. dkk., 1949) :
Q v A (2.2)
Dimana :
Q = Debit air (m
3
/s)
v = Kecepatan air (m/s)
A = Luas penampang (m
2
)

3) Daya Turbin (Pt)
Daya turbin dapat diketahui dengan persamaan (Mockmore, C. A. dkk.,
1949) :
t n
P g H Q q = (2.3)
Dimana :
Pt = Daya (kW)
= Massa jenis air (kg/m
3
)
Q = Debit (m
3
/s)
g = Percepatan gravitasi (m/s
2
)
Hn = Perbedaan ketinggian (m)
= Efisiensi total yaitu efisiensi dari turbin, generator, gearbox dan
transformer.

4) Efisiensi Turbin (t)
Efisiensi maksimum pada turbin dapat dihitung dengan persamaan
(Mockmore, C. A. dkk., 1949) :
2 2
0, 5 (1 )
t
C cos q o = + (2.4)
Dimana :
C = Koefisien nozel
= Koefisien kekasaran blade (0.98)
= Sudut serang (asusmsi 16
o
)
Dari persamaan (2.4) di atas dapat dilihat bahwa semakin kecil sudut serang
maka semakin tinggi efisiensi turbin.

5) Kecepatan Putar Turbin (n)
Hubungan kecepatan putar spesifik dan kecepatan putar turbin pada turbin
cross-flow (Layman., 1998) :
0.505
513.25/
n
Ns H =

(2.5)
5/ 4
t
n
N P
Ns
H
= (2.6)
Dari persamaan (2.5) dan (2.6) diatas dapat diketahui kecepatan putar turbin,
yaitu :
0.745
513.25
n
t
H
N
P
= (2.7)
Dimana :
N = Kecepatan putar turbin (rpm)
Ns = Kecepatan spesifik

6) Diameter luar runner (Do)
Saat efisiensi maksimum, kecepatan tangensial pada runner didapat dengan
persamaan (Mockmore, C. A. dkk., 1949) :
0.5 2 cos
t n
v C g H o = (2.8)
2

2 120
o o
t
D N D
v w
t
= = (2.9)
Dari persamaan (2.8) dan (2.9) diatas dapat dihitung diameter luar runner
yaitu :
40
n
o
H
D
N
= (2.10)
Dimana :
vt = Kecepatan tangensial (m/s)
Do = Diameter luar runner (m)



7) Jarak Blade (tb)
Ketebalan dari jet entrance (te) dapat dihitung dengan persamaan
(Mockmore, C. A. dkk., 1949) :
e o
t K D = (2.11)
Jarak tangensial blade adalah (Mockmore, C. A. dkk., 1949) :
( )
0 1
1
/ sin( )
sin
e
h
t
t K D |
|
= = (2.12)
tb = 0.173 Do (2.13)
Dimana :
te = Ketebalan jet entrance (m)
K = Konstanta (0.087)
1 = Blade inlet angle (30
o
)
tb = Jarak tangensial blade (m)

8) Lebar radial rim (a)
Merupakan perbedaan antara radius luar (ro) dan radius dalam (ri) pada
runner turbin, dan sama dengan jarak tangensial blade yaitu (Mockmore, C.
A. dkk., 1949) :
a = 0.173 Do (2.14)

9) Jumlah blade (n)
Banyaknya jumlah blade dapat dihitung dengan persamaan (Mockmore, C.
A. dkk., 1949) :
n = D
o
/ t
b
(2.15)

10) Ketebalan water jet (tj)
Dapat didefiniskan sebagai lebar nozel yang dihitung dengan persamaan
(Mockmore, C. A. dkk., 1949) :
0.233

2
j
j
j
n n
Q
v
A Q Q
t
L
L C g H L L H
= = = = (2.16)
Dimana :
t
j
= Ketebalan water jet (m)
Aj = Area jet (m
2
)
L = Panjang runner (m)
v
j
= Kecepatan jet sebelum masuk (m/s)

11) Panjang runner (L)
Panjang runner dapat dihitung dengan persamaan (Mockmore, C. A. dkk.,
1949) :
0.81

o
n
Q
LD
H
= (2.17)
Subsitusi persamaan (2.10) ke (2.17) :
L = Q N / 50 Hn (2.18)
Subsitusi persamaan (2.18) ke (2.16) :
11.7

n
j
H
t
N
= (2.19)
Kemudian subsitusi persamaan (2.10) ke (2.19) :
t
j
= 0.29 Do (2.20)

12) Jarak antara water jet dan the center of runner shaft (y1)
Dengan persamaan (Mockmore, C. A. dkk., 1949) :
y1 = 0.116 Do (2.21)
Dimana :
y1 = Jarak antara water jet dan shaft center (m)

13) Jarak antara water jet and the inner periphery of runner (y2)
Dengan persamaan (Mockmore, C. A. dkk., 1949) :
y2 = 0.05 Do (2.22)
Dimana :
y2 = Jarak antara water jet and the inner periphery of runner (m)

14) Diameter dalam runner (Di)
Dengan persamaan (Mockmore, C. A. dkk., 1949) :
Di = Do 2a (2.23)
Dimana :
Di = Diameter dalam runner (m)

15) Radius blade curvature (rc)
Dengan persamaan (Mockmore, C. A. dkk., 1949) :
rc = 0.163 Do (2.24)


2.6 Generator
Generator berfungsi sebagai alat pengubah energi mekanik menjadi energi
listrik. Generator dipilih berdasarkan standarisasi yang sudah ditetapkan. Generator
yang digunakan memiliki jumlah kutub 2 pasang dan putaran 1500 rpm. Pada
perancangan ini daya dan putaran dari poros turbin dikopel langsung ke putaran
generator, sehingga putaran turbin sama dengan putaran generator. Generator yang
digunakan mempunyai faktor daya (cos ) sebesar 0,85 (literatur 10). Besarnya
daya yang dihasilkan generator berdasarkan persamaan :

G t gen tr
N P q q = (2.25)
Dimana :
NG = Daya generator (kVA)
Pt = Daya turbin (W)
gen = Efisiensi generator
tr = Efisiensi transmisi
Daya generator dalam satuan kW adalah :

G
N k V A Cos = (2.26)
Dimana :
Cos = Faktor daya

2.7 Diameter Pipa Penstock
1
Q A C = (2.27)
1
2
v
C C gh =
(2.28)
Dimana :
C1 = kecepatan absolut fluida pada sisi masuk / kecepatan fluida keluar
dari nozel. (m/s)
Cv = Koefisien kecepatan nozel.
A = Luas penampang pipa penstock.
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Metodologi Penelitian
Mulai
Studi Literatur
Survei Lokasi
PLTMH
Pengukuran Debit Sungai,
Kedalaman Sungai, Lebar Sungai
Perancangan PLTMH
Revisi
Hasil berupa kapasitas turbin air,
jumlah turbin, sudut serang, dan
sudut buang
Selesai
Ya
Tidak

Perancangan PLTMH Bangkinang
Data Awal Hasil Survey

Gambar 1 Peta Rupa Bumi Desa Sipungguk
(Bakorsultanal)

Gambar 2 Posisi Rencana dan Data GPS untuk Saluran Sungai Menuju Intake
Data GPS (Hulu)
Latitude = 0
o
22 23.61 N
Longitude = 100
o
57 46.82 E
Altitude = 62.5 m
Position Accuracy = 30.33 m
Altitude Accuracy = 47 m

Gambar 3 Posisi Rencana dan Data GPS untuk Lokasi Rumah Pembangkit
Luas Anak Sungai
Kampar
9.8 meter
2
.
3

m
e
t
e
r

Gambar 4 Sketsa Anak Sungai Kampar
Data-data tersebut ditujukan untuk digunakan sebagai data awal pembuatan
diagram curah hujan (flow duration curve) berikut juga dilampirkan data curah
hujan daerah bangkinang selama 10 tahun terakhir dan lokasi pembangkit dalam
peta rupa muka bumi bangkinang sebagai acuan.




Data GPS (Hilir)
Latitude = 0
o
22 01.06 N
Longitude = 100
o
58 05.55 E
Altitude = 47.5 m
Position Accuracy = 29.9 m
Altitude Accuracy = 33.5 m











Mesin pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) masih dapat
beroperasi pada debit minimum. Dimana debit minimum adalah 40% dari debit
normal, sehingga debit normal adalah :
3
min
= ( 100%)/40 3, 381 m /s
normal
Q Q =
Berdasarkan kondisi monografi desa, daerah lingkungan tempat PLTMH
memiliki 100 Kepala Keluarga dengan asumsi konsumsi daya sebesar 900
Watt/KK. Di dusun tersebut juga terdapat industri perikanan dan industri
pengembangbiakan bibit ikan. Dalam melakukan operasi di industri memerlukan
daya masing-masing adalah 500 kW. Sehingga daya total yang dibutuhkan oleh
masyarakat desa sipungguk adalah :
( ) ( ) 100 900W 2 400kW Daya yang dibutuhkan =
( ) ( ) 90kW 800kW 890kW = =

3.2 Pemilihan Jenis Turbin
3.2.1 Net Head
Diketahui head yang didapatkan adalah 15 meter, maka jenis turbin
yang dapat digunakan adalah berdasarkan tabel berikut 1.1 ini :
Tabel 1.1 Net Head Pada Beberapa Jenis Turbin Air
Jenis turbin Range head (m) Keterangan
Kaplan dan propeller 2 < H < 40 Good
Francis 10 < H < 350 Good
Pelton 50 < H < 1300 Not good
Michel-banki atau
crossflow
3 < H < 250 Good
Turgo 50 < H < 250 Not good


3.2.2 Debit Rencana

Jenis turbin terpilih adalah :
A. Francis
15 m
3,381 m
3
/s
B. Cross flow
Pada kedua model pemilihan jenis turbin maka yang terpilih adalah turbin
air jenis cross flow. Turbin air jenis cross flow dipilih karena cross flow merupakan
jenis turbin yang paling cocok untuk diterapkan pada turbin kapasitas rendah. Pada
pembangkit listrik skala mikro, turbin cross flow sangat baik digunakan.

3.3 Perhitungan Turbin Cross Flow
3.3.1 Perhitungan Head net (Hn)
n g tl
H H H = +
Dimana :
Hg = 15 meter
Htl = 6% * Hg = 0,06 * 15 meter = 0,9 meter
Maka head net adalah :
n g tl
H H H = +
15 0, 9 14,1
n
H m m m = =
3.3.2 Daya Turbin (Pt)
t n
P g H Q q =
Dimana :
= 1000 kg/m
3

Q = 3,381 m
3
/s
g = 9,81 m/s
2

Hn = 14,1 m

gen trans turb
x x q q q q =
= 0,80 x 0,95 x 0,895 = 0,6802
3 2 3
1000 / 9,81 / 14,1 3, 381 / 0, 6802
t
P kg m x m s x m x m s x =
= 318104,5 Watt = 318,1046 KW

3.3.3 Efisiensi turbin (t)

( )( )( )
2
1 1 2 1 1 1 1
2 / 1 cos / / e C u V cos cos u V | | o = +
1 2
| | =

1 1
tan 2tan | o =
2 2
1
0.5 (1 )
t
C cos q o = +
Dimana :
C = 0,98
= 0.98
1 = Berada pada rentang 14
o
hingga 30
o




Sudut Serang Sudut Buang
1 cos 1 1 Cos 1 2 Cos 2 C Efisieinsi turbin
14 0,970296 26,5 0,89491 26,503 0,89491 0,98 0,98 0,89514952
15 0,965926 28,19 0,88141 28,187 0,88141 0,98 0,98 0,887104745
16 0,961262 30 0,86603 30 0,86603 0,98 0,98 0,878558369
17 0,956305 31,44 0,85315 31,444 0,85315 0,98 0,98 0,869520804
18 0,951057 33,02 0,83851 33,017 0,83851 0,98 0,98 0,860003061
19 0,945519 34,55 0,8236 34,553 0,8236 0,98 0,98 0,850016736
20 0,939693 36,05 0,80848 36,052 0,80848 0,98 0,98 0,839573996
21 0,93358 37,51 0,7932 37,514 0,7932 0,98 0,98 0,828687564
22 0,927184 38,94 0,7778 38,94 0,7778 0,98 0,98 0,817370702
23 0,920505 40,33 0,76233 40,33 0,76233 0,98 0,98 0,8056372
24 0,913545 41,68 0,74683 41,684 0,74683 0,98 0,98 0,793501352
25 0,906308 43 0,73132 43,003 0,73132 0,98 0,98 0,780977944
26 0,898794 44,29 0,71583 44,288 0,71583 0,98 0,98 0,768082234
27 0,891007 45,54 0,7004 45,541 0,7004 0,98 0,98 0,754829933
28 0,882948 46,76 0,68505 46,76 0,68505 0,98 0,98 0,741237188
29 0,87462 47,95 0,66979 47,949 0,66979 0,98 0,98 0,727320558
30 0,866025 49,11 0,65465 49,107 0,65465 0,98 0,98 0,713097

3.3.4 Kecepatan putar turbin (N)
=
513.25

0.745


N = 513,25 x (14,1 m)
0,745
/ (318,1046 KW)
0,5
= 207 rpm
=

5/4

Ns = 207 rpm x (318,1046 KW)
0,5
/ (14,1 m)
5/4
= 135 rpm

3.3.5 Diameter luar runner (Do)

= 40


Do = 40 x (14,1 m)
0,5
/ 207 rpm
= 0,73 m
3.3.6 Jarak blade(tb)
tb = 0,173 Do
tb = 0,173 x 0,73 m = 0,13 m

3.3.7 Lebar radial rim (a)
a = 0.173 Do
a = 0,173 x 0,73 m = 0,13 m

3.3.8 Jumlah blade(n)
n = Do / tb
n = 3,14 x 0,73 m / 0,13 m = 18 buah

3.3.9 Ketebalan water jet (tj)
tj = 0,29 Do
tj = 0,29 x 0,73 m = 0,21 m

3.3.10 Panjang runner (L)
L = Q N / 50 Hn
L = 3,381 m
3
/s x 207 rpm / 50 * 14,1 m = 0,99 m = 1 m

3.3.11 Jarak antara water jet dan the center of runner shaft (y1)
y1 = 0.116 Do
y1 = 0,116 x 0,73 m = 0,084 m



3.3.12 Jarak antara water jet and the inner periphery of runner (y2)
y2 = 0.05 Do
y2 = 0,05 x 0,73 m = 0,036 m

3.3.13 Diameter dalam runner (Di)
Di = Do 2a
Di = 0,73 m (2 x 0,13 m) = 0,47 m

3.3.14 Radius blade curvature (rc)
rc = 0.163 Do
rc = 0,163 x 0,73 m = 0,118 m

3.3.15 Radius blade curvature (rc)
rc = 0.163 Do
rc = 0,163 x 0,73 m = 0,118 m

3.4 Analisis Hasil Data yang Didapatkan
Setelah dilakukan perhitungan untuk mencari parameter-parameter yang
dibutuhkan pada perancangan turbin melalui data survey dan data bakorsultanal.
Maka didapatkan turbin yang akan digunakan adalah jenis cross flow dengan
kapasitas 318 kW. Karena kebutuhan masyarakat diatas kapasitas turbin yaitu
sebesar 890 kW, maka di bangun jumlah turbin lebih dari satu buah. Dengan hasil
pembagian antara kebutuhan dan kapasitas maka didapatkan jumlah turbin yang
dibutuhkan adalah sebanyak 3 buah.
Dimensi turbin juga menjadi faktor yang harus diperhatikan, setelah melalui
perhitungan didapatkan dimensi turbin dengan efisiensi maksimum yang
didapatkan sebesar 89,5% yaitu :
1. Sudu serang = 14
o

2. Sudu buang = 26,5
o
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dari perhitungan yang dilakukan dalam perancangan ini dapat ditampilkan
sebagai berikut :
5.1.1 Turbin
1) Jumlah : 3 buah
2) Jenis turbin : turbin Cross Flow
3) Daya turbin : 318 KW
4) Putaran turbin : 207 rpm
5) Putaran spesifik : 135 rpm
6) Tinggi jatuh air : 14,1 m
7) Debit aliran : 3,381 m
3
/s
8) Posisi poros : horizontal
9) Jenis rumah : turbin tertutup
10) Efisiensi turbin : 89,5%
11) Sudut serang : 14
o

12) Sudut buang : 26,5
o


5.1.2 Generator
1) Daya generator : 242 KW
2) Putaran generator : 207 rpm

5.1.3 Pipa penstock
1) Panjang : 1,392 km
2) Diameter : 50 cm



5.1.4 Runner
1) Diameter dalam roda runner : 0,48 m
2) Diameter luar roda runner : 0,73 m
3) Jumlah sudu : 18 buah
4) Tebal water jet : 0,21 m
5) Jarak antar sudu : 0,125 m
6) Lebar radial : 0,125 m
7) Jarak antar water jet dan tengah poros runner : 0,084 m
8) Jarak antar water jet, inner periphery runner : 0,036 m
9) Panjang runner : 1 m
10) Radius blade curvature : 0,118 m

Daya keluaran turbin ini sangat dipengaruhi oleh berbagai kerugian seperti
kerugian pada generator, transmisi dan turbin itu sendiri, atau dapat dikatakan
efisiensinya. Efisiensi turbin ini terutama dipengaruhi oleh sudut serang saat
perancangan blade, semakin kecil sudut serang turbin maka efisiensi turbin akan
semakin meningkat dan sebaliknya.

5.2 Saran
Dari hasil perancangan, penulis dapat memberi saran agar pada pembuatan
turbin sudut serang turbin harus diperhatikan dengan baik, agar efisiensi yang
didapat lebih tinggi.