Anda di halaman 1dari 100

1

PENANGANAN PERDARAHAN POST PARTUM


(HAEMORHAGI POST PARTUM, HPP)
Harry Kurniawan Gondo
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya
ABSTRAK
Perdarahan postpartum dini oleh karena atonia uteri merupakan salah satu tiga penyebab terbesar
kematian maternal di negara berkembang. Pencegahan, diagnosis dini, dan manajemen yang benar,
merupakan kunci untuk mengurangi dampak tersebut. Angka kematian maternal merupakan
indikator yang mencerminkan status kesehatan ibu, terutama risiko kematian bagi ibu pada waktu
hamil dan persalinan.

Manajemen bedah pada perdarahan postpartum termasuk ligasi dari arteri
uterina, ligasi iliaka interna, dan akhirnya abdominal histerektomi total atau subtotal. Selain itu ada
sebuah prosedur manajemen alternatif bedah konservatif yang dikenal dengan teknik jahitan
kompresi dan terbukti efektif untuk mengontrol perdarahan postpartum. Prosedur ini pertama kali
dilakukan dan dijelaskan pada tahun 1997 oleh Mr. Christopher B-Lynch, seorang konsultan
obstetri, ahli bedah ginekologi. Jahitan B-Lynch ditujukan untuk menimbulkan kompresi vertikal
berkelanjutan pada sistim vaskuler. Pada kasus perdarahan postpartum karena plasenta previa,
jahitan kompresi segmen transversal lebih efektif.

HANDLING POST PARTUM HEMORRHAGE
(POST PARTUM HAEMORRHAGE, HPP)
Harry Kurniawan Gondo
Lecturer Faculty of Medicine, University of Wijaya Kusuma Surabaya
ABSTRACT
Haemorhagi postpartum cause of uteri atonia represent one of three biggest death of maternal in
developing countries. Prevention, diagnosed early, and real correct management, representing key
to lessen the impact. Mortality of maternal represent indicator expressing status health of mother,
especially death risk to mother when pregnancy and labor. Management operate haemorhagi
postpartum, including ligasi of artery of uterina, interna iliaka ligasi, and abdominal finally total
hysterectomy or subtotal. Conservative surgical operation alternative management procedure
which recognized with stitching technique of compress and effective proven to control blood of
postpartum. This procedure first time conducted and explained in the year 1997 by Christopher B-
Lynch, a consultant of obstetri, gynaecology surgeon. Stitching of B-Lynch addressed to evoke
vertical kompresi have continuation to vascular systems. Blood case of postpartum because
placenta of previa, stitching of compress segment of transversal more effective.

1. PENDAHULUAN
Perdarahan postpartum dini oleh
karena atonia uteri merupakan salah satu
tiga penyebab terbesar kematian
maternal di negara berkembang dan
maju. Pencegahan, diagnosis dini, dan
manajemen yang benar, merupakan
kunci untuk mengurangi dampak
tersebut. Perawatan intrapartum harus
selalu menyertakan perawatan
pencegahan perdarahan postpartum dini,
identifikasi faktor risiko, dan
ketersediaan fasilitas untuk mengatasi
kejadian perdarahan postpartum dini
1
.


Angka kematian maternal
merupakan indikator yang
mencerminkan status kesehatan ibu,
terutama risiko kematian bagi ibu pada
waktu hamil dan persalinan
2
.

Setiap
tahun diperkirakan 529.000 wanita di
dunia meninggal sebagai akibat
komplikasi yang timbul dari kehamilan
dan persalinan, sehingga diperkirakan
Angka kematian maternal di seluruh
dunia sebesar 400 per 100.000 kelahiran
hidup
1
.

Kematian maternal 98% terjadi
di Negara berkembang. Indonesia
sebagai Negara berkembang, masih
memiliki Angka kematian maternal
cukup tinggi. Hasil SDKI 2002/2003
menunjukkan bahwa Angka kematian
maternal di Indonesia sebesar 307 per
100.000 kelahiran hidup
3
.

Angka
kematian maternal di Indonesia sangat
jauh berbeda bila dibandingkan dengan
Angka kematian maternal di negara
2

negara maju (20 per 100.000 KH) dan
Angka kematian maternal di negara
negara anggota ASEAN seperti Brunei
Darussalam (37 per 100.000 kelahiran
hidup) dan Malaysia (41 per 100.000
kelahiran hidup)
3
.


Penyebab kematian ibu cukup
kompleks, dapat digolongkan atas
faktor-faktor reproduksi, komplikasi
obstetrik, pelayanan kesehatan dan
sosio-ekonomi. Penyebab komplikasi
obstetrik langsung telah banyak
diketahui dan dapat ditangani, meskipun
pencegahannya terbukti sulit. Menurut
SKRT 2001, penyebab obstetrik
langsung sebesar 90%, sebagian besar
perdarahan (28%), eklampsia (24%) dan
infeksi (11%). Penyebab tak langsung
kematian ibu berupa kondisi kesehatan
yang dideritanya misalnya Kurang
Energi Kronis (KEK) 37%, anemia (Hb
< 11 g%) 40% dan penyakit
kardiovaskuler
4
.
Faktor kunci dalam manajemen
bedah dari perdarahan postpartum
adalah mengenali faktor-faktor
predisposisi dan kesiapan dari tim yang
terdiri dari obstetrik, anestesi, dan
hematologi. Strategi profilaksis,
termasuk suntikan oksitosin setelah
persalinan, telah terbukti mengurangi
insiden Perdarahan postpartum primer
dari sebanyak 18% menjadi sekitar 5-
8%
5
.

Manajemen Perdarahan
postpartum primer terdiri kompresi
bimanual atau mekanis dari uterus, obat-
obatan uterotonika dan metode
pembedahan, yang dikombinasikan
dengan langkah-langkah resusitasi
6
.
Kejadian histerektomi darurat
postpartum yang merupakan pilihan
terakhir ketika semua perawatan
konservatif gagal, adalah 1-3 per 1000
kelahiran
7,8,9
. Namun, histerektomi
setelah Perdarahan postpartum primer
memiliki beberapa kelemahan, tak
hanya mengakibatkan ketidaksuburan,
tetapi juga ada kesulitan teknis
menghilangkan segmen bawah rahim
dan ini meningkatkan kemungkinan
cedera pada kandung kemih atau saluran
kencing. Sebuah prosedur yang lebih
konservatif, kini lebih dikenal dengan
teknik jahitan kompresi, dijelaskan
pertama kali oleh B-lynch pada tahun
1997. Seiring waktu dengan modifikasi
yang lebih lanjut oleh Hayman , Cho .
Teknik jahitan kompresi ini dapat
terbukti efektif dan total abdominal
histerektomi atau subtotal hendaknya
dipertimbangkan sebagai pilihan
terakhir
10
.
2. ATONIA UTERI
2.1 Definisi
Atonia uteri merupakan
kegagalan miometrium untuk
berkontraksi setelah persalinan sehingga
uterus dalam keadaan relaksasi penuh,
melebar, lembek dan tidak mampu
menjalankan fungsi oklusi pembuluh
darah. Akibat dari atonia uteri ini adalah
terjadinya perdarahan. Perdarahan pada
atonia uteri ini berasal dari pembuluh
darah yang terbuka pada bekas
menempelnya plasenta yang lepas
sebagian atau lepas seluruhnya. Atonia
uteri menyebabkan terjadinya
perdarahan yang cepat dan parah dan
juga shock hypovolemik. Dari semua
kasus perdarahan postpartum sebesar 70
% disebabkan oleh atonia uteri
11
.


Miometrium terdiri dari tiga
lapisan dan lapisan tengah merupakan
bagian yang terpenting dalam hal
kontraksi untuk menghentikan
perdarahan postpartum, lapisan tengah
miometrium tersusun sebagai anyaman
dan ditembus oleh pembuluh darah.
Masing-masing serabut mempunyai dua
buah lengkungan sehingga setiap dua
buah serabut kira-kira membentuk angka
delapan. Setelah partus, dengan adanya
susunan otot seperti diatas, jika otot
berkontraksi akan menjempit pembuluh
darah. Ketidakmampuan miometrium
untuk berkontraksi ini akan
menyebabkan terjadinya perdarahan
postpartum
11
.

Kekuatan kontraksi dari
miometrium yang efektif sangat penting
untuk menghentikan kehilangan darah
setelah persalinan. Kompresi yang
dihasilkan dari vaskular uterus adalah
untuk mengganggu aliran darah 800 ml /
menit pada bantalan plasenta (placenta
bed)
12
.


3

2.2 Faktor Risiko Atonia Uteri
Penilaian faktor risiko
perdarahan postpartum pada wanita
sangat penting dalam mengidentifikasi
terjadinya peningkatan risiko atonia
uteri, sehingga memungkinkan untuk
tindakan preventif, adanya faktor risiko
perdarahan postpartum meningkatkan
risiko perdarahan 2 - 4 kali lipat
dibandingkan dengan wanita tanpa
faktor risiko. Dengan demikian wanita
yang memiliki faktor risiko harus
persalinan di rumah sakit dengan
fasilitas yang memadai untuk mengelola
perdarahan postpartum. Namun, perlu
dicatat bahwa kejadian atonia uteri tak
dapat diprediksi pada wanita yang tidak
mempunyai faktor risiko. Sehingga
diperlukan protokol yang ketat untuk
pengelolaan perdarahan postpartum di
tempat yang menyediakan perawatan
kebidanan
12
.

Faktor faktor
predisposisi terjadinya atonia uteri
12
:
1. Uterus yang teregang berlebihan :
Kehamilan kembar, anak sangat
besar (BB > 4000 gram) dan
polihidramnion;
2. Kehamilan lewat waktu;
3. Partus lama;
4. Grande multipara;
5. Penggunaan uterus relaxants
(Magnesium sulfat);
6. Infeksi uterus ( chorioamnionitis,
endomyometritis, septicemia );
7. Perdarahan antepartum (Plasenta
previa atau Solutio plasenta);
8. Riwayat perdarahan postpartum;
9. Obesitas;
10. Umur > 35 tahun;
11. Tindakan operasi dengan anestesi
terlalu dalam.

2. 3 Pencegahan Atonia Uteri
Pemberian oksitosin rutin pada
kala III dapat mengurangi risiko
perdarahan postpartum lebih dari 40%,
dan juga dapat mengurangi kebutuhan
obat tersebut sebagai terapi. Manajemen
aktif kala III dapat mengurangi jumlah
perdarahan dalam persalinan, anemia,
dan kebutuhan transfusi darah
13
.
Manajemen aktif kala III terdiri
atas intervensi yang direncanakan untuk
mempercepat pelepasan plasenta dengan
meningkatkan kontraksi uterus dan
untuk mencegah perdarahan postpartum
dengan menghindari atonia uteri. Atonia
uteri dapat dicegah dengan Manajemen
aktif kala III, yaitu:
1. Memberikan obat oksitosin 10 IU
segera setelah bahu bayi lahir;
2. Melakukan penegangan tali pusat
terkendali;
3. Masase uterus segera setelah
plasenta dilahirkan agar uterus tetap
berkontraksi.
2.4 Manajemen Atonia Uteri
2.4.1 Manajemen Standar
2.4.1.1 Masase Uterus;
2.4.1.2. Kompresi Uterus
Bimanual;
2.4.1.3 Pemberian Uterotonika.

2.4.2 Manajemen Bedah
2.4.2.1 Tampon Uterus Internal;
2.4.2.2 Pelvic Pressure Pack;
2.4.2.3 Embolisasi;
2.4.2.4 Jahitan Compression;
2.4.2.5 Ligasi Arteri Iliaka
Interna (Hipogastrika);
2.4.2.6 Histerektomi
Peripartum.

2.4.1 Manajemen Standar
2.4.1.1 Masase Uterus
Masase uterus dilakukan dengan
membuat gerakan meremas yang
lembut berulang-ulang dengan satu
tangan pada perut bagian bawah untuk
merangsang uterus berkontraksi. Hal ini
diyakini bahwa gerakan berulang seperti
ini akan merangsang produksi
prostaglandin dan menyebabkan
kontraksi uterus dan mengurangi
kehilangan darah, meskipun hal ini akan
mengakibatkan ketidaknyaman atau
bahkan menyakitkan
14
. Secara
keseluruhan, masase uterus tampaknya
memiliki beberapa keuntungan dari segi
kehilangan darah ibu
14
.

2.4.1.2. Kompresi Uterus Bimanual
Kompresi Bimanual Eksternal
4

Menekan uterus melalui dinding
abdomen dengan jalan saling
mendekatkan kedua belah telapak
tangan yang melingkupi uterus. Pantau
aliran darah yang keluar, bila perdarahan
berkurang kompresi diteruskan,
pertahankan hingga uterus dapat
kembali berkontraksi. Bila belum
berhasil dilakukan kompresi bimanual
internal

Kompresi Bimanual Internal
Uterus ditekan di antara telapak
tangan pada dinding abdomen dan tinju
tangan dalam vagina untuk menjepit
pembuluh darah di dalam miometrium
(sebagai pengganti mekanisme
kontraksi). Perhatikan perdarahan yang
terjadi. Pertahankan kondisi ini bila
perdarahan berkurang atau berhenti,
tunggu hingga uterus berkontraksi
kembali. Apabila perdarahan tetap
terjadi , coba kompresi aorta
abdominalis

Kompresi Aorta Abdominalis
Raba arteri femoralis dengan
ujung jari tangan kiri, pertahankan posisi
tersebut, genggam tangan kanan
kemudian tekankan pada daerah
umbilikus, tegak lurus dengan sumbu
badan, hingga mencapai kolumna
vertebralis. Penekanan yang tepat akan
menghentikan atau sangat mengurangi
denyut arteri femoralis. Lihat hasil
kompresi dengan memperhatikan
perdarahan yang terjadi

2.4.1.3 Pemberian Uterotonika
Oksitosin
Oksitosin merupakan hormon
sintetik yang diproduksi oleh lobus
posterior hipofisis. Obat ini
menimbulkan kontraksi uterus yang
efeknya meningkat seiring dengan
meningkatnya umur kehamilan dan
timbulnya reseptor oksitosin. Pada dosis
rendah oksitosin menguatkan kontraksi
dan meningkatkan frekwensi, tetapi
pada dosis tinggi menyebabkan tetani.
Oksitosin dapat diberikan secara im atau
iv, untuk perdarahan aktif diberikan
lewat infus dengan ringer laktat 20 IU
perliter, jika sirkulasi kolaps bisa
diberikan oksitosin 10 IU
intramiometrikal. Efek samping
pemberian oksitosin sangat sedikit
ditemukan yaitu nausea dan vomitus,
efek samping lain yaitu intoksikasi
cairan jarang ditemukan
13
.


Dengan menggunakan terapi
uterotonika yang sesuai dan tepat waktu,
mayoritas wanita dengan atonia uterus
dapat menghindari intervensi bedah.
Stimulasi kontraksi uterus biasanya
dicapai dengan pemijatan uterus
bimanual dan injeksi oksitosin (baik
secara intramuskuler atau intravena),
dengan atau tanpa ergometrine. oksitosin
melibatkan stimulasi dari segmen uterus
bagian atas untuk kontraksi secara
ritmik. Karena oksitosin mempunyai
half-life dalam plasma pendek (rata-rata
3 menit), infus intravena secara kontinu
diperlukan untuk menjaga uterus
berkontraksi . Dosis biasa adalah 20 IU
dalam 500 ml larutan kristaloid, dengan
tingkat dosis disesuaikan dengan respon
(250 ml / jam). Ketika diberikan secara
intravena, puncak konsentrasi dicapai
setelah 30 menit. Sebaliknya, jika
diberikan secara intramuskular
mempunyai onset yang lebih lambat (3-
7 menit) tetapi efek klinis berlangsung
lama (hingga 60 menit)
15
.
Methyl Ergometrine
Berbeda dengan oksitosin,
ergometrine menyebabkan kontraksi
tonik yang terus menerus melalui
stimulasi reseptor -adrenergik
miometrium terhadap kedua segmen
bagian atas dan bawah uterus dengan
demikian dirangsang untuk berkontraksi
secara tetanik. Suntikan intramuskular
dosis standar 0,25 mg dalam permulaan
aksi 2-5 menit. Metabolismenya melalui
rute hepar dan half-life nya dalam
plasma adalah 30 menit. Meskipun
demikian, dampak klinis dari
ergometrine berlangsung selama sekitar
3 jam. Respon oksitosin segera dan
ergometrine lebih berkelanjutan
15
.

Misoprostol
Misoprostol adalah suatu analog
5

sintetik prostaglandin E1 yang mengikat
secara selektif untuk reseptor prostanoid
EP-2/EP-3 miometrium, sehingga
meningkatkan kontraktilitas uterus. Hal
ini dimetabolisme melalui jalur hepar.
Ini dapat diberikan secara oral,
sublingual, vagina, dubur atau melalui
penempatan intrauterin langsung.
pemberian melalui rektal terkait dengan
tindakan awal, tingkat puncak yang
lebih rendah dan profil efek samping
yang lebih menguntungkan bila
dibandingkan dengan rute oral atau
sublingual. Misoprostol oral sebagai
agent profilaksis untuk partus kala III
menunjukkan kurang efektif untuk
mencegah perdarahan postpartum
dibandingkan pemberian oksitosin
parenteral. Namun, karena kenyataan
bahwa interval waktu Misoprostol lebih
lama yang diperlukan untuk mencapai
kadar puncak serum dapat membuatnya
menjadi agen lebih cocok untuk
perdarahan uterus yang
berkepanjangan, dan dalam perannya
sebagai terapi bukan agen profilaksis
15
.

2.4.2 Manajemen Bedah
2.4.2.1 Tampon Uterus Internal
Asal-usul dari kata tampon
tampaknya datang dari kata Prancis,
yang membawa konotasi plug, atau
sumbatan yang dimasukkan ke luka
terbuka atau rongga tubuh untuk
menghentikan aliran darah
16
.
Pada perdarahan postpartum,
dengan memasukkan beberapa jenis
tampon uterus untuk menghentikan
aliran darah. Biasanya dalam bentuk
satu bungkus kasa atau balon kateter.
prosedur internal uterin tamponade
telah digunakan dengan sukses secara
tersendiri atau dalam kombinasi dengan
Brace jahitan untuk mengurangi atau
menghentikan perdarahan postpartum .
Prinsip Tampon Uterin
Prinsip tampon uterin dalam
menghentikan perdarahan dengan
membuat tekanan intrauterin. Ini bisa
dicapai dengan dua cara:
1. Dengan masuknya balon yang
mengakibatkan distensi dalam
rongga uterus dan menempati
seluruh ruang, sehingga
menciptakan tekanan intrauterin
yang lebih besar dari pada tekanan
arteri sistemik. Dengan tidak
adanya lecet, aliran darah ke dalam
uterus akan berhenti saat tekanan di
balon tampon lebih besar daripada
tekanan arteri sistemik;
2. Dengan penyisipan dari uterine
pack yang terdiri dari gulungan
kasa yang dikemas dimasukkan ke
dalam uterus dengan demikian
tekanan kapiler langsung pada
perdarahan pembuluh vena atau
permukaan dari dalam uterus,
sehingga dapat menghentikan
perdarahan uterus
16
.
Tindakan Ini harus dilakukan di ruang
operasi dengan anestesi dan staf
keperawatan serta persiapan transfusi
darah. Wanita itu ditempatkan dalam
Davies Lloyd atau posisi lithotomy
dengan kateter. Pemeriksaan dilakukan
dibawah pembiusan. kemudian prosedur
tampon dicoba. Uterotonika dan
hemostatik disarankan sebagai terapi
tambahan dan dapat diberikan secara
simultan
16
.
2.4.2.2 Pelvic Pressure Pack
Ketika farmakologis dan
intervensi bedah gagal untuk
memperbaiki perdarahan postpartum,
histerektomi menjadi pilihan terakhir.
pelvic pressure pack pasca-bedah adalah
konsep lama dan salah satu yang telah
digunakan untuk mengontrol perdarahan
dari berbagai sumber, termasuk trauma
liver, pra-eclampsia induced rupture
hepar, kanker dubur, dan pembedahan
kanker ginekologik. Pada tahun 1926,
Logothetopoulos menjelaskan
pengelolaan perdarahan panggul post
histerektomi yang tidak terkendali.
Teknik ini kemudian disebut jamur,
parasut, payung, tekanan panggul, atau
pack Logothetopoulos
17
.
Singkatnya, pelvic pressure
pack berasal dari bahan-bahan medis
yang umum tersedia dan sederhana dan
dalam hal kontrol perdarahan berhasil
dicapai sebagian besar kasus. Jika pelvic
6

pressure pack gagal untuk
mengendalikan perdarahan, intervensi
medis, bedah dan radiologi akan
diperlukan untuk mengendalikan
perdarahan. pelvic pressure pack akan
sangat berguna di negara berkembang di
mana kemampuan pembedahan dan
teknologi, seperti embolisasi arteri
selektif tidak tersedia. Pada kebanyakan
kasus, pelvic pressure pack akan mampu
menghantarkan pasien yang kritis ke
pemulihan pasca operasi, di mana
pemulihan hemodinamik, temperatur,
hematologi, dan hemostasis asam-basa
dapat dicapai
17
.


2.4.2.3 Embolisasi
Ketika perlakuan standar
perdarahan postpartum tidak berhasil,
maka, percutaneous transcatheter
arterial embolization (selanjutnya
disebut embolisasi) dapat dipilih. Tujuan
utama dari embolisasi adalah untuk
menghentikan perdarahan aktif dari
uterus atau jalan lahir dan untuk
mencegah perdarahan berulang. Apabila
hal ini tidak mungkin, usaha terakhir
adalah untuk menutup jalan arteri iliaka
internal sementara untuk membantu
intervensi bedah berikutnya
18
.
Ketika embolisasi berhasil, di
sisi lain, pasien bisa cepat sembuh tanpa
menjalani operasi tambahan. Embolisasi
tidak hanya menyelamatkan kehidupan
pasien, tetapi juga uterus dan organ
adnexa, sehingga mempertahankan
kesuburan. Prosedur ini juga bermanfaat
pada pasien yang tidak dapat menerima
transfusi karena alasan agama atau
lainnya Di rumah sakit yang mana
embolisasi tersedia, merupakan prosedur
pilihan untuk perdarahan postpartum
sebelum intervensi bedah
18
.

2.4.2.4 Jahitan Kompresi (dibahas
pada bagian 3 review ini)

2.4.2.5 Ligasi Arteri Iliaka Interna
(Hipogastrika)
Sejumlah publikasi menyatakan ligasi
arteri iliaka internal tersebut telah
digunakan oleh ahli bedah dengan
berbagai spesialisasi di seluruh dunia.
Indikasi Ligasi Arteri Iliaka Internal
Pencegahan, indikasi ligasi
arteri iliaka internal untuk tindakan
pencegahan meliputi perdarahan post
aborsi, perdarahan postpartum, atonia
uteri sebelum histerektomi, solusio
plasenta dengan atonia uterus,
kehamilan abdominal dengan pelvis
implantasi plasenta, plasenta akreta
dengan perdarahan keras, dan sebelum
total atau subtotal histerektomi ketika
semua langkah yang konservatif telah
gagal
19
.
Pasien yang juga dianggap
beresiko tinggi untuk perdarahan
postpartum berulang, plasenta previa
atau mempunyai faktor-faktor risiko
yang penting mungkin menjadi kandidat
untuk ligasi profilaksis iliaka internal.
penilaian klinis sangat penting dan jika
ligasi profilaksis dianggap jalan terbaik,
maka tidak boleh ditunda
19
. Tindakan
ligasi diperlukan pada keadaan:
1. Sebelum atau setelah histerektomi
untuk perdarahan postpartum;
2. Apabila terjadi perdarahan yang
signifikan dari bagian bawah
ligamentum latum ;
3. Apabila ada perdarahan yang
banyak dari dinding samping
pelvis;
4. Jika ada perdarahan berlebihan
dari sudut vagina;
5. Dimana terjadi perdarahan yang
difus tanpa identifikasi yang jelas
dari vascular bed;
6. Ketika ada indikasi tambahan
termasuk atonia uteri dimana
metode konvensional telah gagal;
7. Luka yang luas pada servix yang
terjadi setelah persalinan;
8. Bila ada luka tembakan pada perut
bagian bawah;
9. Dalam hal fraktur panggul dan
perdarahan intraperitoneal.
Dalam keadaan seperti itu,
histerektomi sendiri mungkin tidak
memadai untuk mengontrol perdarahan.
ligasi arteri iliaka internal, unilateral
atau bilateral, menjadi perlu dan tidak
boleh ditunda dalam situasi yang
membahayakan jiwa
19
.


7

Ligasi Arteri Uterina
Beberapa penelitian tentang
ligasi arteri uterina menghasilkan angka
keberhasilan 80-90%. Pada teknik ini
dilakukan ligasi arteri uterina yang
berjalan disamping uterus setinggi batas
atas segmen bawah rahim. Jika
dilakukan seksio sesarea, ligasi
dilakukan 2-3 cm dibawah irisan
segmen bawah rahim. Untuk melakukan
ini diperlukan jarum atraumatik yang
besar dan benang absorbable yang
sesuai. Arteri dan vena uterina diligasi
dengan melewatkan jarum 2-3 cm
medial vasa uterina, masuk ke
miometrium keluar di bagian avaskular
ligamentum latum lateral vasa uterina.
Saat melakukan ligasi hindari rusaknya
vasa uterina dan ligasi harus mengenai
cabang asenden arteri miometrium,
untuk itu penting untuk menyertakan 2-3
cm miometrium. Jahitan kedua dapat
dilakukan jika langkah diatas tidak
efektif dan jika terjadi perdarahan pada
segmen bawah rahim. Dengan
menyisihkan vesika urinaria, ligasi
kedua dilakukan bilateral pada vasa
uterina bagian bawah, 3-4 cm dibawah
ligasi vasa uterina atas. Ligasi ini harus
mengenai sebagian besar cabang arteri
uterina pada segmen bawah rahim dan
cabang arteri uterina yang menuju ke
servik, jika perdarahan masih terus
berlangsung perlu dilakukan bilateral
atau unilateral ligasi vasa ovarian
13
.

Ligasi arteri Iliaka Interna
Identifikasi bifurkasio arteri
iliaka, tempat ureter menyilang, untuk
melakukannya harus dilakukan insisi 5-8
cm pada peritoneum lateral paralel
dengan garis ureter. Setelah peritoneum
dibuka, ureter ditarik ke medial
kemudian dilakukan ligasi arteri 2,5 cm
distal bifurkasio iliaka interna dan
eksterna. Klem dilewatkan dibelakang
arteri, dan dengan menggunakan benang
non absobable dilakukan dua ligasi
bebas berjarak 1,5-2 cm. Hindari trauma
pada vena iliaka interna. Identifikasi
denyut arteri iliaka eksterna dan
femoralis harus dilakukan sebelum dan
sesudah ligasi risiko ligasi arteri iliaka
adalah trauma vena iliaka yang dapat
menyebabkan perdarahan. Dalam
melakukan tindakan ini operator harus
mempertimbangkan waktu dan kondisi
pasien
13
.

2.4.2.6 Histerektomi Peripartum
Histerektomi emergensi
peripartum adalah pilihan terakhir yang
diambil bila terjadi maternal morbiditas
yang berat dan juga near miss mortality.
Kajian data selama 25 tahun terakhir
menunjukkan insiden yang bervariasi,
dari satu kejadian per 3313 persalinan
sampai satu kejadian per 6978
persalinan. Di Negara berkembang
kejadiannya mencapai satu per 2000
persalinan
20
.
Angka mortalitas maternal yang
dihubungkan dengan histerektomi
emergensi berkisar 0 - 30%, dengan
angka kejadian yang tertinggi pada
daerah dengan sarana rumah sakit dan
pelayanan kesehatan yang minimal.
Namun demikian, sekalipun pada
Negara dengan angka mortalitas yang
rendah, angka morbiditasnya dapat tetap
tinggi akibat perdarahan, transfusi darah,
disseminated intravascular coagulation,
infeksi dan potensi cedera pada saluran
kemih bagian bawah. Perdarahan
obstetri, seperti pada plasenta previa
dan/atau plasenta akreta, sudah
seharusnya kasus-kasus seperti ini
dirujuk ke fasilitas dengan peralatan dan
personel yang mampu memberikan
pilihan histerektomi
20
.

3. JAHITAN KOMPRESI
3.1 Jahitan kompresi B-Lynch
Manajemen bedah pada
perdarahan postpartum termasuk ligasi
dari arteri uterina, ligasi iliaka interna,
dan akhirnya abdominal histerektomi
total atau subtotal
10
. Selain itu ada
sebuah prosedur manajemen alternatif
bedah konservatif yang dikenal dengan
teknik jahitan kompresi dan terbukti
efektif untuk mengontrol perdarahan
postpartum. Prosedur ini pertama kali
dilakukan dan dijelaskan pada tahun
1997 oleh Mr. Christopher B-Lynch,
seorang konsultan obstetri, ahli bedah
ginekologi , anggota dari the Royal
College of Obstetricians and
8

Gynaecologists of the UK, dan anggota
dari the Royal College of Surgeons of
Edinburgh, bermarkas di Milton Keynes
General Hospital National Health
Service (NHS) Trust (Oxford Deanery,
UK), selama menangani pasien dengan
perdarahan postpartum, pasien ini
menolak untuk dilakukan histerektomi
17
.
Prinsip
Jahitan ditujukan untuk menimbulkan
kompresi vertikal berkelanjutan pada
sistim vaskuler. Pada kasus perdarahan
postpartum karena plasenta previa,
jahitan kompresi segmen transversal
lebih efektif
10
.

Bahan
Berbagai bahan jahitan telah
dicoba, termasuk vicryl (polyglactin
910), dexon (polyglycolic asam), PDS
(polydioxanone), prolene (monofilamen
polypropylene) dan nilon. Diyakini
bahwa jahitan yang ideal adalah jahitan
yang kuat, berbahan monofilamen
(untuk meminimalkan kemungkinan
terjadinya trauma pada jaringan yang
lemah pada atonia uteri), cepat diserap,
dan dipasang pada jarum melengkung
yang besar untuk kemudahan
penempatan jahitan. Bahan tidak diserap
atau perlahan-lahan diserap oleh usus
dapat mengakibatkan proses inflamasi,
sehingga jahitannya menjadi longgar,
dan juga dapat merangsang
pembentukan adhesi. Idealnya, perlu
jahitan untuk mempertahankan daya
regang selama 48-72 jam, dan kemudian
diserap dengan cepat. Atas dasar ini,
monocryl (polyglecaprone 25) telah
dinyatakan oleh Price dan B-Lynch
sebagai bahan yang paling yang sesuai
untuk jahitan B-Lynch
21,22
.
Dua mekanisme utama
penyerapan pada benang yang diserap.
Bahan benang yang berasal dari
biologis seperti usus secara bertahap
dicerna oleh enzim jaringan sedangkan
bahan benang yang dibuat dari polimer
sintetis akan dipecah melalui hidrolisis
(air masuk ke benang yang
menyebabkan rusaknya rantai polimer)
didalam cairan jaringan. Di stadium
pertama proses absorbsi kekuatan
benang berangsur berkurang (beberapa
minggu), kemudian pada stadium kedua
terdapat hilangnya materi benang
53
.

Teknik Prosedur Jahitan B-Lynch
1. Posisi ahli bedah berdiri di sebelah
kanan pasien, dianggap ahli bedah
tidak kidal.
2. Laparatomi sangat penting untuk
melihat keadaan uterus.
Melakukan Insisi transversal
segmen bawah rahim atau
Pembukaan kembali jahitan seksio
sesaria pada segmen bawah rahim
untuk memeriksa rongga uterus
apakah ada sisa plasenta dan untuk
membersihkannya
10
.
3. Sebelum prosedur jahitan B-lynch
dimulai, penting melakukan uji
efektifitas penggunaan dari teknik
jahitan B-lynch.
Pasien dalam posisi Lloyd davies
atau semi litotomi (kaki katak),
seorang asisten berdiri diantara kaki
pasien dan secara berkala
melakukan pembersihan vagina
untuk menentukan adanya
perdarahan dan lainnya. Uterus
kemudian di eksteriorkan dan
dilakukan kompresi bimanual (jika
sudah dilakukan seksio sesarea
sebelumnya, lokasi tersebut ditekan
kembali), seluruh uterus kemudian
dikompresi dengan meletakkan satu
tangan dengan ujung jari berada
pada serviks dibagian posterior dan
tangan lainnya tepat dibawah
bladder dibagian anteriornya. Jika
perdarahan berhenti dengan
melakukan kompresi tersebut, maka
ada peluang baik untuk dilakukan
aplikasi jahitan B-lynch yang akan
bekerja dan menghentikan
perdarahan
10
.
Jika kriteria dari uji penggunaan
jahitan B-lynch sudah didapatkan,
uterus tetap dalam keadaan
eksteriorasi hingga aplikasinya
lengkap. Asisten senior mengambil
alih dalam melakukan kompresi dan
mempertahankannya dengan dua
tangan selama dilakukannya jahitan
9

oleh ahli bedah yang memimpin.
4. Jahitan pertama dilakukan 3 cm di
bawah insisi histerotomi / seksio
sesaria pada sisi kiri pasien dan
dirajut sepanjang rongga uterus
untuk menutup 3 cm diatas tepi
insisi kira-kira 4 cm dari batas
lateral uterus (gambar 1a(i);
5. Jahitan kemudian dilakukan pada
bagian atas uterus dan bagian
belakangnya. Saat lokasi jahitan
tepat difundus, penjahitan harus
dilakukan kurang lebih vertikal dan
berada sekitar 4 cm dari kornu, tidak
ada kecenderungan terjadinya
pergeseran kearah lateral menuju
broad ligamen karena uterus telah
dikompresi dan jahitan melekat,
sehingga memastikan bahwa
penutupan jahitan yang tepat telah
dicapai dan dipertahankan (gambar
1a);
6. Pada bagian belakang uterus dimana
penjahitan dilakukan sepanjang
dinding uterus. Tepatnya pada
bidang horizontal pada tingkat insisi
uterus dari perlekatan / insersi
ligament uterosakral (gambar 1b);
7. Saat jarum menembus sisi rongga
uterus dari dinding posterior, lalu
diarahkan ke dinding posterior,
sehingga jahitan berada diatas
fundus dan pada sisi kanan anterior
uterus. Jarum dimasukkan kembali
ke rongga uterus seperti yang
dilakukan pada sisi kiri, yaitu 3 cm
diatas insisi atas dan 4 cm dari sisi
lateral uterus melalui tepi atas insisi,
menuju rongga uterus dan keluar
lagi sepanjang 3 cm dibawah tepi
bawah insisi (gambar 1a (ii));
8. Asisten mempertahankan kompresi
saat benang jahitan dilekatkan dari
sudut yang berbeda untuk
memastikan tekanan yang seragam
dan tidak bergeser. Kedua ujung
jahitan dilakukan double throw
knot untuk keamanan dalam
mempertahankan tekanan;
9. Tekanan pada kedua ujung benang
dapat dijaga selama proses
penutupan segmen bawah rahim
yang diinsisi atau simpul diikat
terlebih dahulu diikuti dengan
penutupan segmen bawah rahim
(gambar 2c) jika ini dipilih, hal ini
sangat penting untuk
memperhatikan sudut insisi
histerotomi dan posisi jahitan
sebelum simpul ini diikat untuk
memastikan bahwa segmen
terbawah telah tertutup dan sudut
insisi tertutup rapat. Kedua prosedur
ini sama baiknya. Sangat penting
untuk mengidentifikasi sudut insisi
uterus untuk meyakinkan tidak ada
titik perdarahan.

Gambar 1 :
a c Prosedur Teknik B-Lynch
10


10

10. Pasca aplikasi dan penutupan
histerotomi. Pada tahapan ini dapat
terjadi efek maksimum dari tekanan
jahitan, dalam kurun waktu 24-48
jam. Karena uterus mengkerut pada
minggu pertama setelah persalinan
pervaginam / seksio sesarea, jahitan
mulai kehilangan kontraksinya ,akan
tetapi proses hemostasis telah
terjadi. Tidak ada alasan untuk
menunda penutupan dinding
abdomen setelah aplikasi jahitan.
Asisten berdiri diantara kedua
tungkai dan melakukan pembersihan
pada vagina dan meyakinkan bahwa
perdarahan telah terkontrol.

Aplikasi Setelah Persalinan Normal
Vagina.
Jika laparatomi diperlukan
sebagai manajemen dari perdarahan
atonia postpartum, histerotomi sangat
penting untuk melakukan aplikasi
jahitan B-lynch. Histerotomi dilakukan
untuk mengeksplorasi rongga uterin,
mengeluarkan produk-produk konsepsi ,
mengevakuasi blood clot yang besar dan
mendiagnosa plasentasi abnormal,
kerusakan dan perdarahan. Teknik
penjahitan B-lynch dengan
modifikasinya, tanpa histerotomi akan
mengakibatkan perdarahan postpartum
sekunder oleh karena itu memastikan
bahwa rongga uterus benar-benar
kosong. Kemudian histerotomi bisa juga
untuk menunjukkan bahwa penjahitan
yang benar dari jahitan tersebut akan
memberi efek kompresi maksimum,
selama dan setelah penjahitan, dengan
memakai teknik B-lynch , ini juga untuk
menghindari obliterasi servikal / rongga
uterus yang bias menyebabkan
penumpukan bekuan darah, debris
infeksi, pyometra, sepsis dan kematian.
Penjahitan untuk plasentasi abnormal
22,24,25,26
. Jahitan B-lynch bisa
bermanfaat pada kasus plasenta akreta,
perkreta, dan inkreta. Kompresi jahitan
transversal ke anterior bawah atau
Kompartemen posterior atau keduanya,
dilakukan untuk mengontrol perdarahan.
Jika ini tidak berhasil longitudinal brace
jahitan component bisa dilakuan untuk
memicu proses hemostasis
26
.
Seluruh uterus dikompresi dari
atas ke bawah dan dari kiri ke kanan
menggunakan benang yang dapat
diserap , mengikat pada anterior dan
posterior segmen bawah uterus sehingga
integritas dan hemostasis dipelihara,
sebagaimana dibuktikan oleh
laparoskopi, histerosalpingografi, USS
dan MRI dan visualisasi langsung uterus
pada saat operasi sesarea elektif
berikutnya
27,28
. Rongga yang tetap
terbuka ini untuk aliran darah tetap
terjaga . Pyometra, yang telah
dilaporkan dalam satu kasus setelah
jahitan Teknik Square dimana teknik ini
menghilangkan rongga uterus
25
.
Kejadian ini belum ada laporan pada
pasien yang menggunakan teknik jahitan
B-Lynch. Salah satu pengamatan yang
paling penting untuk komplikasi jahitan
B-Lynch adalah involusi cepat dari
uterus selama minggu pertama pasca
persalinan. Fisiologis ini mencegah
proses ketegangan berlebihan dari
jahitan ke uterus.
Jahitan kompresi uterus tepat
untuk perdarahan postpartum primer
dan sekunder pada atonia uteri, DIC,
plasenta akreta, inkreta dan previa.
Tindakan ini tidak direkomendasikan
pada perdarahan postpartum primer dan
sekunder tanpa terlebih dahulu
menggunakan langkah-langkah medis
yang telah direkomendasikan. Memang
dianjurkan sebelum dilakukan
pembedahan lebih radikal. Landasan
pengelolaan pada perdarahan
postpartum dengan teknik ini adalah
diagnosis dini sebelum pasien menjadi
terancam. Teknik jahitan B-Lynch
memperoleh kepercayaan diseluruh
dunia sebagai alternatif histerektomi
dalam pengelolaan perdarahan
postpartum sebagaimana ditunjukkan
dalam literatur internasional. Prosedur
ini lebih cepat dan sederhana dari pada
histerektomi atau ligasi iliaka internal
29
.
Keuntungan Teknik Jahitan B-Lynch
1. Aplikasi sederhana;
2. Life saving;
3. Relatif aman;
11

4. Mempertahankan uterus dan
fertilitas;
5. Hemostasis dapat dinilai segera
setelah aplikasi;
6. Daya regang berkurang dalam 48
jam, sehingga menghindari adanya
kerusakan permanen pada uterus;
7. Uterus yang terbuka
memungkinkan mengeksplorasi
rongga uterus untuk mengeluarkan
produk-produk yang tertinggal dan
memungkinkan penjahitan
langsung dibawah visualisasi
operator.
3.2 Jahitan U
Beberapa prosedur melibatkan
kompresi dengan jahitan seperti penahan
untuk mempertahankan uterus setelah
perdarahan dengan atonia
11,15,23,45
, juga
dengan kombinasi dengan intrauterine
balon kateter
46
. Yang lain menjelaskan
beberapa jahitan persegi dan jahitan
vertikal ke dalam segmen bawah rahim
dikombinasikan dengan jahitan
penetrasi miring pada korpus atau
beberapa jahitan vertikal
24,47,48,49
.

Gambar 2 teknik Jahitan U
Aplikasi jahitan U
Benang Vicryl 0 Yang dapat
diserap dan sebuah jarum XLH
melengkung digunakan secara manual
untuk menjahit. Untuk melakukan
jahitan tunggal U, jarum disisipkan di
dinding ventral uterus, dilanjutkan
melalui dinding posterior dan kemudian
kembali ke ventral dinding tempat
benang itu bergabung dengan simpul
ganda (Gambar 2a dan b). Sementara
ahli bedah yang memimpin mengikat
jahitan, yang lain membantu
dilakukannya kompresi uterus
bimanual. Jumlah jahitan yang
dibutuhkan tergantung pada ukuran
uterus dan banyaknya perdarahan.
Secara umum, memakai 6-16 jahitan U
pada barisan horizontal sepanjang uterus
(Gambar 2), mulai dari fundus dan
berakhir di serviks. Jadi, kira-kira 2-4
cm jaringan dipadatkan dalam setiap
jahitan. Antibiotik diberikan pada semua
kasus. Ini dilanjutkan pasca operasi
selama 5 hari
50
.

3.3 Metode Jahitan Haemostatic
Multiple Square(Cho)
Teknik ini diperkenalkan oleh
Cho JI pada tahun 2000
24
.

Tujuan dari
teknik ini adalah untuk mendekati
dinding uterus anterior dan posterior
sehingga tidak ada ruang sisa pada
rongga uterus. Demikian juga
perdarahan dari endometrium karena
atonia uteri atau plasenta bed terkontrol
karena tekanan
22
.


Teknik ini dilakukan di tempat
yang banyak perdarahan pada seluruh
dinding uterus, dari lapisan serosa
dinding anterior ke dinding posterior,
12

melalui rongga uterus, teknik jahitan ini
berbentuk angka 7 atau angka 8 dengan
menggunakan jarum bedah lurus,
benang chromic atraumatic nomor 1.
beberapa jahitan kemudian dimasukkan
sehingga tidak ada ruang sisa pada
rongga uterus. Jika perdarahan
disebabkan oleh atonia uterus, empat
sampai lima jahitan persegi ditempatkan
secara merata seluruh uterus dari fundus
ke segmen yang lebih rendah. Jika
perdarahan itu karena plasenta akreta,
dengan sumber perdarahan dari tempat
plasenta, jahitan difokuskan pada dua
sampai tiga tempat sumber perdarahan
yang banyak. Dengan menjahit beberapa
daerah dengan metode ini, perdarahan
dapat dikendalikan dengan menekan
dinding uterus anterior dan posterior.
Jika perdarahan terjadi di segmen bawah
uterus karena plasenta previa,
hemostasis dilakukan pada beberapa
tempat dengan jahitan persegi disisipkan
setelah mendorong kandung kemih ke
bawah
22
. Namun teknik ini dapat
menyebabkan risiko pada rongga uterus
dengan perkembangan selanjutnya
menjadi pyometra
25
. Teknik ini juga
kurang berhasil dibandingkan dengn
teknik jahitan B-Lynch
51
.

2.4.2.4.4 Modifikasi Teknik B-Lynch
Oleh Hayman
Modifikasi teknik B-Lynch oleh
Hayman (2002)
23
, memiliki
keunggulan, teknik yang sederhana dan
cepat, untuk melakukannya tidak
memerlukan uterus dibuka.
Menggunakan jarum lurus Dexon
nomor 2, jahitan dilakukan tusukan pada
seluruh dinding uterus , di atas refleksi
kandung kemih, dari dinding anterior (3
cm di bawah dan 2 cm medial tepi
bawah rongga uterus) ke posterior
dinding uterus
22
.


Gambar 3 Teknik Hayman Gambar 4 Teknik Cho
multiple square


DAFTAR PUSTAKA
1. WHO. Maternal mortality in 2000.
Department of Reproductive Health
and Research WHO, 2003.
2. Saifudin AB. Issues in training for
essential maternal healthcare in
Indonesia. Medical Journal of
Indonesia Vol 6 No. 3, 1997: 140
148.
3. UNFPA, SAFE Research study and
impacts. Maternal mortality update
2004, delivery into good hands.
New York, UNFPA; 2004.
4. Depkes RI, Dirjen Binkesmas.
Prinsip Pengelolaan Program KIA.
Dalam: Pedoman Pemantauan
Wilayah Setempat Kesehatan Ibu
dan Anak (PWS-KIA). 2004. Hal.
1-11.
13

5. Prendiville W, Elbourne D. Care
during the third stage of labour. In:
ChalmersI, Enkin M, Keirse MJNC
(ed). Effective Care in Pregnancy
and Childbirth.Oxford: Oxford
University Press, 1998, 11451169.
6. Prendiville WJ, Elbourne D,
McDonald S. Active versus
expectant management in the third
stage of labour. Cochrane Database
of Systematic Reviews 2000, Issue
3. Art No: CD000007. DOI:
10.1002/ 14651858.CD000007.
7. Engelsen IB, Albrechtsen S,
Iversen OE. Peripartum
hysterectomy-incidence and
maternal morbidity. Acta Obstet
Gynecol Scand 2001;80:409412.
8. Francois K, Ortiz J, Harris C, Foley
MR, Elliott JP. Is peripartum
hysterectomy more common in
multiple gestations? Obstet
Gynecol 2005;105:13691372.
9. Wingprawat S, Chittacharoen A,
Suthutvoravut S. Risk factors for
emergency peripartum Sesareaean
hysterectomy. Int J Gynaecol
Obstet 2005;90: 136 137.
10. B-Lynch C, Keith L.G., Lalonde
A.B., Karoshi M (2006)
Postpartum Hemorrhage 1
st

Published. Sapiens Publishing,UK.
287-98
11. Anderson J, Etches D, Smith D.
Postpartum haemorrhage. In
Damos JR, Eisinger SH, eds.
Advanced Life Support in
Obstetrics (ALSO) provider course
manual. Kansas: American
Academy of Family Physicians,
2000:115
12. Nelson GS, Birch C. Compression
jahitans for uterine atony and
hemorrhage following Sesareaean
delivery. Int J Gynecol Obstet
2006;92:248250.
13. Schuurmans, et al, 2000, SOGC
Clinical Practice Guidelines,
Prevention and Management of
postpartum Haemorrhage, No. 88,
April 2000.
14. Hofmeyr GJ, Abdel-Aleem H,
Abdel-Aleem MA, 2008.Uterine
massage for preventing postpartum
haemorrhage (Review) In : The
Cochrane Library, Issue 3
15. B-Lynch C, Keith L.G., Lalonde
A.B., Karoshi M (2006)
Postpartum Hemorrhage 1
st

Published. Sapiens Publishing,UK.
256-61.
16. B-Lynch C, Keith L.G., Lalonde
A.B., Karoshi M (2006)
Postpartum Hemorrhage 1
st

Published. Sapiens Publishing,UK..
17. Koh E, Devendra K, Tan L K B-
Lynch jahitan for the treatment of
uterine atony Singapore Med J
2009; 50(7) : 693
18. El-Hammamy E, B-Lynch C. A
worldwide review of the uses of the
uterine compression jahitan
techniques as alternative
tohysterectomy in the management
of severe post-partum
haemorrhage. J Obstet Gynaecol
2005;25:1439
19. Hayman RG, Arulkumaran S, Steer
PJ. Uterine compression jahitans:
surgical management of post
partum hemorrhage. Obstet
Gynecol 2002; 99:5026
20. Cho JH, Jun HS, Lee CN.
Hemostatic suturing technique for
uterine bleeding during cesarean
delivery. Obstet Gynecol 2000;96:
12931
21. Ochoa M, Allaire AD, Stitely ML.
Pyometra after hemostatic square
jahitan technique. Obstet Gynecol
2002;99:5069
22. B-Lynch C, Cowen M.J. A new
non-radical surgical treatment of
massive post partum hemorrhage.
Contemp Rev Obstet Gynaecol
1997; March:1924 C. B-Lynch
23. Ferguson JE, Bourgeois FJ,
Underwood PB. 2000. B-Lynch
jahitan for postpartum
haemorrhage. Obstetrics and
Gynecology 95(6 Pt 2):1020
1022.
24. Basket TF. 2003. Emergency
obstetric hysterectomy. BJOG:An
International Journal of Obstetrics
and Gynaecology 23(4),353 355.
14

25. Hebisch G, Huch A. 2002. Vaginal
uterine artery ligation avoids high
blood loss and puerperal
hysterectomy in postpartum
hemorrhage. Obstetrics and
Gynecology 2002; 100(3): 574
578.
26. Tsitpakidis C, Lalonde A, Danso D,
B-Lynch C. Long term anatomical
and clinical observations of the
effects of the B-Lynch uterine
compression jahitan for the
management of post partum
hemorrhage ten years on. J
Obstet Gynaecol 2006; in press
27. Grotegut CA, Larsen FW, Jones
MR, Livingston E. Erosion of a B-
Lynch jahitan through the uterine
wall: a case report. J Reprod Med
2004; 49: 849-52.
28. Wohlmuth CT, Gumbs J, Quebral-
Ivie J. B-Lynch jahitan: a case
series. Int J Fertil Womens Med
2005; 50:164-73.
29. Joshi MV, Shrivastava M. Partial
ischaemic necrosis of the uterus
following a uterine brace
compression jahitan. BJOG 2004;
111:279-80.
30. B-Lynch C, Coker A, Lawal AH,
Abu J, Cowen MJ. 1997. The
BLynch surgical technique for the
control of massive postpartum
haemorrhage: An alternative to
hysterectomy? Five cases reported.
British Journal of Obstetrics and
Gynaecology 104:372 375.
31. Pal M, Biswas A K , Bhattacharya
SM. (2003) B-Lynch Brace
suturing in primary postpartum
haemorrhage during sesareaean
section. J Obst. Gynaecol Res.2003
Oct;29(5): 317-20
32. Majhar S B , Yasmin S, Guljar S. (
2003) Management of massive
postpartum hemorrhage by B-
Lynch brace jahitan. J Coll
physicians Surg. Pak. 2003 Jan;
13(1): 51-2
33. OLeary JA. 1986. Stop of
haemorrhage with uterine artery
ligation. Contemporary Obestetrics
and Gynaecology 28:13 16
34. Dacus JV, Busowski MT, Busowski
JD, Smilthson S, Masters K and
Sibai BM. 2000. Surgical treatment
of uterine atony employing the B-
Lynch technique. Journal of
Maternal-Fetal Medicine 9(3):194
196.
35. Abd Rabbo SA. 1994. Step-wise
uterine devascularization: a novel
technique for management of
uncontrollable postpartum
haemorrhage with the preservation
of the uterus. American Journal of
Obstetrics and Gynaecology
171:694 700
36. Maier RC. 1993. Control of
postpartum haemorrhage with
uterine packing. American Journal
of Obstetrics and Gynecology
169:317 321.
37. Kalu E, Wayne C, Croucher C,
Findley I, Manyonda I. 2002.
Triplet pregnancy in a Jehovahs
Witness: recombinant human
erythroietin and iron
supplementation for minimising the
risks of excessive blood loss.
BJOG:An International Journal of
Obstetrics and Gynaecology
109:723 725.
38. Danso D, Reginald P. 2002.
Combined B-lynch jahitan with
intrauterine balloon catheter
triumphs over massive postpartum
haemorrhage. BJOG:An
International Journal of Obstetrics
and Gynaecology 109(8):963.
39. Gupta Anjali, Nanda Smriti,
Dahiya Pushpa, Chauhan
Meennakshi, Sangwan Krishna
Placenta percreta causing
spontaneous uterine rupture in late
pregnancy: conservative surgical
management. Australian and New
Zealand journal of Obstetrics and
gynaecology August 2003 Vol 43
issue 4 p-334
40. Chaudhary P1, Sharma S2, Yadav
R3, Dhaubhadel P4 B-Lynch Brace
jahitan for conservative surgical
management for placenta increta.
Kathmandu University Medical
15

Journal (2003) Vol. 2, No. 2, Issue
6, 149-151
41. Bhal K, Bhal N, Mulik V, Shankar
L. The uterine compression
jahitana valuable approach to
control major haemorrhage at
lower segmentsesareaean section.J
Obstet Gynaecol 2005;25:10-14.
42. Nelson WL, OBrien JM. The
uterine sandwich for persistent
uterine atony: combining the B-
Lynch compression jahitan and an
intrauterine Bakriballoon. Am J
Obstet Gynecol 2007;196:e9e10.
43. Tjalma WAA, Jacquemyn Y. A
uterus-saving procedure for
postpartum haemorrhage. Int J
Gynaecol Obstet 2004;86:396397.
44. Hwu YM, Chen CP, Chen HS, Su
TH. Parallel vertical compression
jahitans: a technique to control
bleeding from placenta praevia or
akreta during sesareaean section.
Br J Obstet Gynaecol
2005;112:14201423.
45. Ouahba J, Piketty M, Huel C,
Azarian M, Feraud O, Luton D,
Sibony O, Oury JF. Uterine
compression jahitans for
postpartum bleeding with uterine
atony. Br J Obstet Gynaecol
2007;114:619622.
46. Hackethal1,*, D. Brueggmann1, F.
Oehmke1, H.-R. Tinneberg1, M.T.
Zygmunt2 and K. Muenstedt1
Uterine compression U-jahitans in
primary postpartum hemorrhage
after Cesarean section: fertility
preservation with a simple and
effective technique Hum. Reprod.
Advance Access published
November 17, 2007
47. Smith KL, Baskett TF. 2003.
Uterine compression jahitans as an
alternative to hysterectomy for
severe postpartum haemorrhage.
Journal of Obstetrics and
Gynaecology Canada. 2003;25(3):
197 200.
48. Shakila Yasmin ( 2003) B-Lynch
brace jahitan as an alternative to
hysterectomy for severe PPH.
Pakistan J Med Res Sep 2003 ;
42(3) : 146-148
49. David, L. Dunn The Wound
Closure Manual. Ethicon, inc a
Johnson & Johnson company














































16

Aedes aegypti SEBAGAI VEKTOR DEMAM BERDARAH DENGUE
Kartika I shartadiati
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya
ABSTRAK
Aedes aegypti adalah nyamuk yang termasuk dalam subfamili Culicinae, famili Culicidae,
ordo Diptera, kelas Insecta. Nyamuk ini berpotensi untuk menularkan penyakit demam berdarah
dengue (DBD). DBD adalah suatu penyakit yang ditandai dengan demam mendadak, perdarahan
baik di kulit maupun di bagian tubuh lainnya serta dapat menimbulkan syok dan kematian.
Penyakit DBD ini terutama menyerang anak-anak termasuk bayi, meskipun sekarang proporsi
penderita dewasa meningkat.
Penyebab penyakit demam berdarah ialah virus Dengue yang termasuk dalam genus
Flavivirus, famili Flaviviridae. Terdapat empat serotipe dari virus Dengue, yaitu DEN-1, DEN-2,
DEN-3, dan DEN-4, yang semuanya dapat menyebabkan DBD. Virus ini ditularkan melalui
gigitan nyamuk Ae. aegypti. Nyamuk betina terinfeksi melalui pengisapan darah dari orang yang
sakit.
Tempat perindukan Ae. aegypti dapat dibedakan atas tempat perindukan sementara,
permanen, dan alamiah. Tempat perindukan sementara terdiri dari berbagai macam tempat
penampungan air (TPA) yang dapat menampung genangan air bersih. Tempat perindukan
permanen adalah TPA untuk keperluan rumah tangga dan tempat perindukan alamiah berupa
genangan air pada pohon.
Cara yang saat ini dianggap tepat untuk mengendalikan penyebaran DBD adalah dengan
mengendalikan populasi dan penyebaran vektor, yaitu dengan 3M: menguras bak mandi, menutup
TPA, dan mengubur barang bekas.
Kata kunci: Aedes aegypti, vektor, demam berdarah dengue

Aedes aegypti as DENGUE HEMORRHAGIC FEVERS VECTOR
Kartika I shartadiati
Lecturer Faculty of Medicine, University of Wijaya Kusuma Surabaya
ABSTRACT
Aedes aegypti mosquito belongs to the subfamily Culicinae, family Culicidae, order
Diptera, class Insecta. This mosquitoe has the potential for transmitting dengue hemorrhagic fever
(DHF). Dengue is a disease characterized by sudden fever, bleeding in both the skin and in other
parts of the body and can cause shock and death. DHF attacks primarily children, including
infants, although nowaday the proportion of adult patients increased.
Dengue virus, the etiological agent of dengue hemorrhagic fever, is transmitted to the
human host during blood uptake by an infective Aedes aegypti. There are four antigenically
distinct (DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4), but related, serotypes of Dengue virus, a Flavivirus
member of the family Flaviviridae. Infection of the female mosquito occurs during a blood feeding
on a viremic human host.
Breeding places of Ae. aegypti can be distinguished as temporary, permanent, and natural
breeding places. Temporary breeding place consists of various water reservoirs, which can hold
stagnant clean water. Permanent breeding place is a shelter of domestic water, while natural
breeding places is of standing water on the tree.
Current method that is considered appropriate to control the spread of DHF is to control
the population and the spread of vectors, known as 3M: drain the tub, shut the water reservoirs,
and bury the trash.
Keywords: Aedes aegypti, vector, dengue hemorrhagic fever
17

PENDAHULUAN
Aedes aegypti merupakan jenis
nyamuk yang dapat membawa virus
Dengue penyebab penyakit demam
berdarah dengue (DBD). Penyakit ini
telah dikenal di Indonesia sebagai
penyakit yang endemis terutama bagi
anak-anak. Kasus penyakit ini di
Indonesia termasuk terbesar di dunia
setelah Thailand (Sinar Harapan, 2003).
Di Indonesia DBD timbul sebagai
wabah untuk pertama kalinya di Surabaya
pada tahun 1968 (Chahaya, 2003). DBD
telah menyebar luas ke seluruh wilayah
provinsi dengan jumlah kabupaten/kota
terjangkit semakin meningkat. Penyakit
ini sering muncul sebagai Kasus Luar
Biasa (KLB) dengan angka kesakitan dan
kematian yang relatif tinggi
(ridwanamiruddin.wordpress.com, 2007).
KLB demam berdarah terjadi di
Indonesia, tepatnya di Jakarta, pada tahun
1998 yang mencapai angka penderita
15.452 dan angka kematian 134 orang
(Sinar Harapan, 2003). Angka insidens
DBD secara nasional sangat berfluktuasi
dengan siklus puncak 4-5 tahunan.
Incidence rate meningkat dari 10,17 per
100.000 penduduk pada tahun 1999
menjadi 15,99 per 100.000 penduduk
pada tahun 2000 dan meningkat lagi
menjadi 21,75 per 100.000 penduduk
pada tahun 2001, kemudian menurun
menjadi 19,24 per 100.000 penduduk
pada tahun 2002. Penyakit ini menempati
urutan ketiga penyakit terbanyak yang
ditemukan pada penderita rawat inap di
RSU di Indonesia tahun 2002
(ridwanamiruddin.wordpress.com, 2007).
Wabah penyakit demam berdarah
yang sering terjadi di berbagai daerah di
Indonesia perlu mendapat perhatian.
Begitu pula vektor Ae. aegypti memberi
resiko timbulnya wabah penyakit ini di
masa yang akan datang.

TAKSONOMI Aedes aegypti
Menurut Boror dkk. (1989), klasifikasi
Ae. aegypti adalah sebagai berikut:
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Diptera
Familia : Culicidae
Subfamilia : Culicinae
Genus : Aedes
Spesies : Ae. aegypti

MORFOLOGI Aedes aegypti
Ae. aegypti dewasa berukuran
lebih kecil jika dibandingkan dengan
ukuran nyamuk rumah (Culex
quinquefasciatus), mempunyai warna
dasar yang hitam dengan bintik-bintik
putih pada bagian-bagian badannya
terutama pada kakinya dan dikenal dari
bentuk morfologinya yang khas sebagai
nyamuk yang mempunyai gambaran lira
(lire-form) yang putih pada punggungnya
(mesonotum) (Djakaria, 2000), yaitu ada
dua garis melengkung vertikal di bagian
kiri dan kanan. Nyamuk jantan umumnya
lebih kecil dari betina dan terdapat
rambut-rambut tebal pada antena nyamuk
jantan. Telur Ae. aegypti berbentuk elips
berwarna hitam (Womack, 1993),
mempunyai dinding yang bergaris-garis
dan membentuk bangunan yang
menyerupai gambaran kain kasa. Larva
Ae. aegypti mempunyai pelana yang
terbuka dan gigi sisir yang berduri lateral
(Djakaria, 2000).

18












Telur Ae.
aegypti Ae. aegypti sedang mengisap darah










Larva Ae. aegypti

19


PERILAKU DAN SIKLUS HIDUP
Aedes aegypti
Ae. aegypti bersifat diurnal atau
aktif pada pagi hingga siang hari.
Penularan penyakit dilakukan oleh
nyamuk betina, karena hanya nyamuk
betina yang menghisap darah. Hal itu
dilakukannya untuk memperoleh asupan
protein yang diperlukannya untuk
memproduksi telur (Womack, 1993).
Pengisapan darah dilakukan dari pagi
sampai petang dengan dua puncak waktu
yaitu setelah matahari terbit (8.00-10.00)
dan sebelum matahari terbenam (15.00-
17.00) (Djakaria, 2000). Nyamuk jantan
tidak membutuhkan darah, dan
memperoleh energi dari nektar bunga
ataupun tumbuhan. Nyamuk ini
menyenangi area yang gelap dan benda-
benda berwarna hitam atau merah
(id.wikipedia.org/wiki/Aedes_aegypti,
2008). Nyamuk dewasa biasanya tinggal
pada tempat gelap di dalam ruangan
seperti lemari baju dan di bawah tempat
tidur (WHO, 1999).
Infeksi virus dalam tubuh
nyamuk dapat mengakibatkan perubahan
perilaku yang mengarah pada peningkatan
kompetensi vektor, yaitu kemampuan
nyamuk menyebarkan virus. Infeksi virus
dapat mengakibatkan nyamuk kurang
handal dalam menghisap darah, berulang
kali menusukkan probosisnya, namun
tidak berhasil menghisap darah, sehingga
nyamuk berpindah dari satu orang ke
orang lain, akibatnya resiko penularan
virus menjadi semakin besar
(id.wikipedia.org/wiki/Aedes_aegypti,
2008).
Tempat perindukan Ae. aegypti di
daerah asalnya (Afrika) berbeda dengan di
Asia. Di Afrika nyamuk hidup di hutan
dan tempat perindukkannya pada
genangan air di pohon. Di Asia nyamuk
hidup di daerah pemukiman, dan tempat
perindukannya pada genangan air bersih
buatan manusia (man made breeding
place). Tempat perindukan Ae. aegypti
dapat dibedakan atas tempat perindukan
sementara, permanen, dan alamiah.
Tempat perindukan sementara terdiri dari
berbagai macam tempat penampungan air
(TPA), termasuk kaleng bekas, ban mobil
bekas, pecahan botol, pecahan gelas,
talang air, vas bunga, dan tempat yang
dapat menampung genangan air bersih.
Tempat perindukan permanen adalah TPA
untuk keperluan rumah tangga seperti bak
penampungan air, reservoar air, bak
mandi, gentong air. Tempat perindukan
alamiah berupa genangan air pada pohon,
seperti pohon pisang, pohon kelapa, pohon
aren, potongan pohon bambu, dan lubang
pohon (Chahaya, 2003).
Ae. aegypti mengalami
metamorfosis sempurna. Nyamuk betina
meletakkan telur pada permukaan air
bersih secara individual, terpisah satu
dengan yang lain, dan menempel pada
dinding tempat perindukkannya. Seekor
nyamuk betina dapat meletakkan rata-rata
sebanyak seratus butir telur tiap kali
bertelur. Telur menetas dalam satu sampai
dua hari menjadi larva. Terdapat empat
tahapan dalam perkembangan larva yang
disebut instar. Perkembangan dari instar I
ke instar IV memerlukan waktu sekitar
lima hari. Setelah mencapai instar IV,
larva berubah menjadi pupa di mana larva
memasuki masa dorman. Pupa bertahan
selama dua hari sebelum akhirnya nyamuk
dewasa keluar dari pupa. Perkembangan
dari telur hingga nyamuk dewasa
membutuhkan waktu tujuh hingga delapan
hari, namun bisa lebih lama bila kondisi
lingkungan tidak mendukung (Djakaria,
2000;
id.wikipedia.org/wiki/Aedes_aegypti,
2008).
Telur Ae. aegypti tahan
kekeringan dan dapat bertahan hingga satu
bulan dalam keadaan kering. Jika
terendam air, telur kering dapat menetas
menjadi larva. Sebaliknya, larva sangat
membutuhkan air yang cukup untuk
perkembangannya. Kondisi larva saat
berkembang dapat mempengaruhi kondisi
nyamuk dewasa yang dihasilkan. Sebagai
contoh, populasi larva yang melebihi
ketersediaan makanan akan menghasilkan
nyamuk dewasa yang cenderung lebih
rakus dalam menghisap darah
(id.wikipedia.org/wiki/Aedes_aegypti,
2008).

EPIDEMIOLOGI
Ae. aegypti adalah vektor utama
penyakit DBD di daerah tropik. Nyamuk

20

ini semula berasal dari Afrika kemudian
menyebar melalui sarana transportasi ke
negara lain di Asia dan Amerika. Di Asia,
Ae. Aegypti merupakan satu-satunya
vektor yang efektif menularkan DBD,
karena tempat perindukkannya berada di
sekitar rumah dan hidupnya tergantung
pada darah manusia. Di daerah yang
penduduknya jarang, Ae. aegypti masih
memiliki kemampuan penularan yang
tinggi karena kebiasaan nyamuk ini
menghisap darah manusia berulang-ulang
(Chahaya, 2003).
Ae. aegypti tersebar luas di
seluruh Indonesia meliputi semua provinsi
yang ada. Walaupun spesies-spesies ini
ditemukan di kota-kota pelabuhan yang
penduduknya padat, namun spesies
nyamuk ini juga ditemukan di daerah
pedesaan yang terletak di sekitar kota
pelabuhan. Penyebaran Ae. aegypti dari
pelabuhan ke desa disebabkan karena
larva Ae. aegypti terbawa melalui
transportasi yang mengangkut benda-
benda berisi air hujan pengandung larva
spesies ini (Djakaria, 2000).

ETIOLOGI DBD
DBD disebabkan oleh virus
Dengue, yang termasuk dalam genus
Flavivirus, keluarga Flaviviridae.
Flavivirus merupakan virus dengan
diameter 30 nm terdiri dari asam
ribonukleat rantai tunggal dengan berat
molekul 4 x 10
6
.
Terdapat 4 serotipe virus yaitu
DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4 yang
semuanya dapat menyebabkan DBD.
Keempat serotipe ditemukan di Indonesia
dengan DEN-3 merupakan serotipe
terbanyak.
Penelitian pada artropoda
menunjukkan virus Dengue dapat
bereplikasi pada nyamuk genus Aedes
(Stegomya) dan Toxorhynchites (Suhendro
dkk., 2006).
Infeksi terhadap serotipe
memunculkan imunitas sepanjang umur,
tetapi tidak menghasilkan imunitas silang
(cross protective immunity). Virus Dengue
sensitif terhadap eter, namun stabil bila
disimpan pada suhu minus 70C dan pada
keadaan liofil stabil pada suhu 5C. Virus
Dengue bertahan hidup melalui siklus
transmisi lingkungan kota pada daerah
tropis dan subtropis oleh nyamuk Ae.
aegypti, spesies yang berhubungan erat
dengan habitat manusia (WHO, 1999).



Virus Dengue

TRANSMISI PENYAKIT
Nyamuk Ae. aegypti terinfeksi
melalui pengisapan darah dari orang yang
sakit dan dapat menularkan virus Dengue
kepada manusia, baik secara langsung
(setelah menggigit orang yang sedang
dalam fase viremia), maupun secara tidak
langsung, setelah melewati masa inkubasi
dalam tubuhnya (extrinsic incubation
period) (Soewondo, 2002).
Masa inkubasi dalam tubuh
nyamuk (extrinsic incubation period)

21

antara 7-14 hari, dan tergantung pada
strain nyamuk, genotip virus, serta faktor
lingkungan seperti kelembaban dan
temperatur. Virus bereplikasi di dalam
jaringan midgut nyamuk, kemudian
melalui hemolymph menyebar ke jaringan
lain seperti trakea, lemak tubuh, dan
kelenjar ludah. Titer virus tertinggi dalam
midgut didapatkan pada 7-10 hari setelah
infeksi, sedangkan pada abdomen terjadi
antara 7-17 hari, dan pada kelenjar ludah
setelah 12-18 hari (Xi et al., 2008).
Masa inkubasi di dalam tubuh
manusia (intrinsic incubation period)
antara 4-6 hari. Manusia infektif hanya
pada saat viremia saja (5-7 hari), tetapi
nyamuk dapat infektif selama hidupnya
(Soewondo, 2002).

MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinis virus Dengue
dapat bersifat asimptomatik, atau dapat
berupa demam yang tidak khas, demam
dengue, demam berdarah dengue sindrom
syok dengue (SSD).
Pada umumnya pasien mengalami
fase demam selama 2-7 hari, yang diiukuti
oleh fase kritis selama 2-3 hari. Pada
waktu fase ini pasien sudah tidak demam,
akan tetapi mempunyai resiko untuk
terjadi renjatan jika tidak mendapat
pengobatan adekuat (Suhendro dkk.,
2006).

PENGENDALIAN VEKTOR
Cara yang saat ini masih dianggap
tepat untuk mengendalikan penyebaran
penyakit DBD adalah dengan
mengendalikan populasi dan penyebaran
vektor.
Program yang paling sering
dikampanyekan di Indonesia adalah 3 M,
yaitu menguras, menutup, dan mengubur.
Menguras bak mandi, untuk
memastikan tidak adanya larva
nyamuk yang berkembang di
dalam air dan tidak ada telur yang
melekat pada dinding bak mandi.
Menutup tempat penampungan
air, sehingga tidak ada nyamuk
yang memiliki akses ke tempat itu
untuk bertelur.
Mengubur barang bekas, sehingga
tidak dapat menampung air hujan
dan dijadikan tempat nyamuk
bertelur.
Beberapa cara alternatif pernah dicoba
untuk mengendalikan vektor DBD ini,
antara lain mengintroduksi musuh
alamiahnya yaitu larva nyamuk
Toxorhyncites sp. Predator larva Aedes
sp. ini ternyata kurang efektif dalam
mengurangi penyebaran virus Dengue.
Penggunaan insektisida yang
berlebihan tidak dianjurkan, karena
sifatnya yang tidak spesifik, sehingga
akan membunuh berbagai jenis
serangga lain yang bermanfaat secara
ekologis. Penggunaan insektisida juga
akan memunculkan masalah resistensi
serangga, sehingga mempersulit
penanganan di kemudian hari
(id.wikipedia.org/wiki/Aedes_aegypti,
2008).

KESIMPULAN
Penularan penyakit DBD pada
dasarnya terjadi karena adanya penderita
DBD maupun pembawa virus Dengue,
yaitu nyamuk Ae. aegypti sebagai vektor,
dan masyarakat sebagai sasarannya.
Pengendalian vektor merupakan cara yang
efektif untuk membantu memutuskan
rantai penularan DBD.

DAFTAR PUSTAKA
Aedes aegypti, 2008. Wikipedia bahasa
Indonesia, ensiklopedia bebas.
http://id.wikipedia.org/wiki/Aedes_ae
gypti, diakses pada tanggal 23
Agustus 2010.
Borror DJ, Tripelhorn CA, Johnson NF,
1989. An introduction to the study of
insects. USA: Saunders College
Publishing.
Capaian Kesehatan Indonesia, 2007.
http://ridwanamiruddin.wordpress.co
m, diakses pada tanggal 23 Agustus
2010.
Chahaya, I., 2003. Pemberantasan Vektor
Demam Berdarah di Indonesia. USU
digital library.
Djakaria, 2000. Vektor penyakit virus,
riketsia, spiroketa dan bakteri. Dalam:
Srisasi G, Herry DI, Wita P,

22

penyunting. Parasitologi Kedokteran.
Edisi Ketiga. Balai Penerbit FKUI,
Jakarata: 235-237.
Sinar Harapan, 2003. Demam Berdarah di
Indonesia, Terbesar Setelah Thailand.
http://www.sinarharapan.co.id/iptek/k
esehatan/2003/0523/kes2.html,
diakses pada tanggal 23 Agustus 2010.
Soewondo, E.S., 2002. Tata Laksana
Demam Berdarah Dengue pada Orang
Dewasa. Seri Penyakit Tropik Infeksi,
Perkembangan Terkini Dalam
Pengelolaan Beberapa Penyakit
Tropik Infeksi. Airlangga University
Press, Surabaya: 117.
Suhendro, Nainggolan, L., Chen, K.,
Pohan, H.T., 2006. Demam Berdarah
Dengue. Dalam: Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam Jilid III Edisi IV,
Departemen Ilmu Penyakit Dalam
FKUI, Jakarta: 1731-1732.
Womack, M., 1993. The yellow fever
mosquito, Aedes aegypti. Wing Beats.
5(4): 4.
World Health Organization, 1999.
Regional Office for South-East Asia,
New Delhi. Guidelines for Treatment
of Dengue Fever/Dengue
Hemmorhagic Fever in Small
Hospitals.
Xi, Z., Ramirez, J.L., Dimopoulus, G.,
2008. The Aedes aegypti Toll Pathway
Controls Dengue Virus Infection. Plos
Pathogens Journal. 4(7): 1-12.

































23

PAP SMEAR DENGAN ANALISA DNA FINGERPRINTINGNYA SEBAGAI
ALAT UNTUK TES PATERNITAS SAAT PRENATAL
Pratika Yuhyi Hernanda
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya
Abstrak
Tes paternitas dapat membantu pengadilan untuk menentukan seorang terdakwa dalam kasus
perkosaan. Metode untuk tes paternitas dalam diagnosa prenatal yang umum dilakukan adalah Chorion
Villous Sampling (CVS) atau amniocentesis. Namun metode ini merupakan metode invasif yang dapat
menyakitkan baik sang ibu maupun janin yang dikandung dan waktu pengambilan juga lama yaitu
antara 10-13 minggu kehamilan (CVS) dan 16-20 minggu kehamilan (amniosentesis). Dengan metode
Pap Smear, kita dapat melakukan tes paternitas jauh lebih awal, yaitu di usia 6 minggu kehamilan
sehingga keputusan untuk terminasi kehamilan (aborsi) dapat dilakukan lebih dini mengingat salah satu
sudut pandang agama yang menyatakan dibolehkannya aborsi sebelum usia kehamilan 120 hari ( 16
minggu). Selain itu metode Pap Smear ini juga tidak menyakitkan baik bagi sang ibu maupun janin
yang dikandungnya.

PAP SMEAR BY DNA ANALYSIS AS A TOOL FOR TESTING
FINGERPRINTINGNYA MOMENT PRENATAL PATERNITY
Pratika Yuhyi Hernanda
Lecturer Faculty of Medicine, University of Wijaya Kusuma Surabaya
Abstract
Paternity test can help the court to determine an accused in rape cases. The method for paternity testing
in prenatal diagnosis is generally made chorion villous sampling (CVS) or amniocentesis. However,
this method is an invasive method that can hurt both the mother and fetus that was conceived and also
taking a long time is between 10-13 weeks of pregnancy (CVS) and 16-20 weeks of pregnancy
(amniocentesis). With the method of Pap smear, we can perform paternity tests much earlier, ie at the
age of 6 weeks of gestation so the decision for termination of pregnancy (abortion) can be done earlier
recall one religious viewpoint expressed permissibility of abortion before 120 days gestation ( 16
weeks). In addition, the Pap smear method also does not hurt both the mother and the fetus she is
carrying.

Pendahuluan
DNA fingerprinting pada 2 orang yang
mempunyai hubungan pertalian keluarga
akan mirip. Tes paternitas dapat dilakukan
untuk beberapa alasan, antara lain untuk
menentukan siapakah ayah dari seorang
bayi yang dikandung oleh seorang wanita.
Di dalam kasus perkosaan, tes paternitas
ini dapat diajukan oleh sang wanita
(korban), sang lelaki (tertuduh) atau
penyidik untuk membuktikan bahwa bayi
yang dikandung adalah memang benar
anak dari sang pemerkosa, apalagi apabila
terjadi juga dugaan multiple sexual
partners. Sebuah tes paternitas dengan
DNA fingerprinting juga dapat membantu
pengadilan untuk menentukan siapa ayah
dari seorang anak sehingga tahu kepada
siapa bantuan pemeliharaan anak harus
diwajibkan.

DNA Fingerprinting
DNA atau Deoxyribonucleic acid (asam
deoksiribonukleat) adalah struktur kimia
yang membentuk sebuah kromosom
sedang asam nukleat sendirimerupakan
senyawa-senyawa polimer yang
menyimpan semua informasi gen. Secara
structural, DNA berbentuk double helix,
dua helai material genetic yang terikat
spiral satu dengan yang lain. Setiap
helainya mengandung sekuens basa
(adenine, guanine, sitosin dan timin) yang
disebut nukleotida
4
.
Struktur kimia DNA masing-masing orang
adalah sama. Yang membedakan hanya
urutan pasangan basanya. Ada berjuta-juta
pasangan basa DNA dimana masing-
masing orang sekuens (urutannya)
berbeda. Terdapat pola yang berulang
dalam DNA manusia. Pola ini memberikan
kita fingerprint
4
, yang dapat menentukan
apakah 2 sampel DNA berasal dari orang
yang sama, dalam pertalian keluarga, atau
tak ada pertalian keluarga sama sekali.
Para ilmuwan menggunakan urutan DNA
ini dan menganalisanya untuk
mendapatkan kemungkinan-kemungkinan

24

kesesuaian.
Metode umum analisis DNA
fingerprinting
Sistematika analisis DNA fingerprint sama
dengan metode analisis ilmiah yang biasa
dilakukan di laboratorium kimia.
Sistematika ini dimulai dari proses
pengambilan sampel sampai ke analisis
dengan PCR (Polymerase Chain
Reaction). Pada pengambilan sampel
dibutuhkan kehati-hatian dan kesterilan
peralatan yang digunakan. Setelah didapat
sampel dari bagian tubuh tertentu, maka
dilakukan isolasi untuk mendapatkan
sampel DNA. Bahan kimia yang
digunakan untuk isolasi adalah
Phenolchloroform dan Chilex.
Phenolchloroform biasa digunakan untuk
isolasi darah yang berbentuk cairan
sedangkan Chilex digunakan untuk
mengisolasi barang bukti berupa rambut.
Lama waktu proses tergantung dari
kemudahan suatu sampel di isolasi, bisa
saja hanya beberapa hari atau bahkan bisa
berbulan-bulan
5
.
Tahapan selanjutnya adalah sampel DNA
dimasukkan kedalam mesin PCR.
Langkah dasar penyusunan DNA
fingerprint dengan PCR yaitu dengan
amplifikasi (penggandaan) sebuah set
potongan DNA yang urutannya belum
diketahui. Prosedur ini dimulai dengan
mencampur sebuah primer amplifikasi
dengan sampel genomik DNA. Satu
nanogram DNA sudah cukup untuk
membuat plate reaksi. Jumlah sebesar itu
dapat diperoleh dari isolasi satu tetes darah
kering, dari sel-sel yang melekat pada
pangkal rambut atau dari sampel jaringan
apa saja yang ditemukan di TKP.
Kemudian primer amplifikasi tersebut
digunakan untuk penjiplakan pada sampel
DNA yang mempunyai urutan basa yang
cocok. Hasil akhirnya berupa kopi urutan
DNA lengkap hasil amplifikasi dari DNA
Sampel
5
.
Selanjutnya kopi urutan DNA akan
dikarakterisasi dengan elektroforesis untuk
melihat pola pitanya. Karena urutan DNA
setiap orang berbeda maka jumlah dan
lokasi pita DNA (pola elektroforesis)
setiap individu juga berbeda. Pola pita
inilah yang dimaksud DNA fingerprinting.
Adanya kesalahan bahwa kemiripan pola
pita bisa terjadi secara random (kebetulan)
sangat kecil kemungkinannya, mungkin
satu diantara satu juta. Finishing dari
metode ini adalah mencocokkan tipe-tipe
DNA fingerprinting dengan pemilik
sampel jaringan (tersangka pelaku
kejahatan).

DNA Fingerprinting untuk Prenatal
Testing
Tes DNA yang dilakukan saat kehamilan
dinamakan tes prenatal atau prenatal
testing. Pada prenatal testing, sampel
jaringan bisa didapat dari plasenta (korion)
atau cairan amnion (ketuban). Untuk
mendapatkan sampel ini terdapat 2 metode
yang dasar yaitu dengan amniosentesis
(pengambilan cairan ketuban) dan CVS
(chorionic villous sampling = isolasi jonjot
korion). Adapun amniosentesis dilakukan
pada usia kehamilan minggu ke 16-20,
dimana pada usia ini cairan amnion cukup
banyak untuk bisa diambil. Prosedur ini
dilakukan dengan panduan ultrasonografi
(USG). Sedang CVS dilakukan pada
minggu ke 10-13. Namun kedua metode
ini memiliki beberapa resiko diantaranya
kebocoran cairan amnion, infeksi pada
rahim dan keguguran yang terjadi pada
kurang lebih 1% kejadian. Namun apabila
prosedur ini dilakukan pada tangan-tangan
yang sudah ahli dan berpengalaman, maka
resiko tersebut diatas dapat ditekan. Hasil
dari analisa kedua metode ini cukup
reliable dan akurat. Dari sampel jaringan
ini kemudian diisolasi DNAnya untuk
dianalisa lebih lanjut dengan teknik
diagnostic PCR.

Pap Smear untuk DNA Fingerprinting
pada Prenatal Testing
Teknologi Pap Smear sebenarnya sudah
ditemukan sekitar 20 tahun yang lalu,
namun penggunaannya pada sel-sel fetal
belum banyak diaplikasikan
2
. Umumnya
Pap Smear dilakukan untuk deteksi adanya
kanker serviks atau leher rahim.
Penggunaan Pap Smear ntuk DNA
fingerprinting dapat menggantikan
prosedur amniosentesis yang dilakukan
secara invasif pada usia kehamilan 16-20
minggu. Metode Pap Smear ini dilakukan
1.
pada usia kehamilan 6 minggu dan dapat
menghindari resiko keguguran 1% oleh
teknik invasif
1
. Para dokter umum di

25

daerah-daerah juga dapat dengan mudah
melakukannya dengan sedikit menambah
perlengkapan untuk mesin PCR untuk
analisa DNAnya.
Teknik diagnostik yang dapat dilakukan
salah satunya adalah prosedur PCR
berbasis STR (Single Tandem Repeat) dan
Multiplex Fluorescent PCR (MFPCR)
2,3,6
.
Selain untuk DNA fingerprinting, teknik
diagnostik MFPCR ini juga dapat dipakai
untuk menentukan jenis kelamin anak,
mengetahui adanya kelainan gen tunggal
atau diagnosa aneuploidi kromosom pada
anak
3
. Teknik ini pernah dilakukan oleh
ilmuwan di Australia, Jepang dan Jerman
dengan hasil yang memuaskan
3,6
.

Kesimpulan
Metode DNA fingerprinting pada
kandungan bermacam-macam. Yang
umumnya dilakukan adalah dengan
melakukan amniosentesis (pengambilan
cairan ketuban) dan CVS (chorionic
villous sampling = isolasi jonjot korion).
Metode ini telah lama dilakukan, namun
metode ini merupakan metode invasif
yang tentu saja dapat menyakitkan baik
sang ibu maupun janin yang dikandung.
Waktu pengambilan juga antara 10-13
minggu kehamilan (CVS) dan 16-20
minggu kehamilan (amniosentesis).
Dengan metode Pap Smear, kita dapat
melakukan tes paternitas jauh lebih awal,
yaitu di usia 6 minggu kehamilan sehingga
keputusan untuk terminasi kehamilan
(aborsi) dapat dilakukan lebih dini
mengingat salah satu sudut pandang
agama yang menyatakan dibolehkannya
aborsi sebelum usia kehamilan 120 hari (
16 minggu). Selain itu metode Pap Smear
ini juga tidak menyakitkan baik bagi sang
ibu maupun janin yang dikandungnya.
Teknik diagnostik Pap Smear untuk DNA
Fingerprinting saat ini masih perlu
dikembangkan.

Daftar Pustaka
1. Chandramita Bora, DNA Testing
During Pregnancy,
http://www.buzzle.com/articles/dn
a-testing-during-pregnancy.html,
June 2009
2. Clara Pirani, Fetal Test Takes
Needle Blues Away, The Weekend
Australian News, March 2005.
3. Darryl Irwin, Ian Findlay, Using
Single Cell Dna Fingerprinting To
Identify Fetal Cells Serially
Enriched From Pap Smears, XIX
International Congress Of
Genetics, 2003
4. http://protist.biology.washington.e
du/fingerprint/elementa.html
5. Sinly Evan Putra, DNA
fingerprint, Metode Analisis
Kejahatan pada Forensik, chem.-
is-try.org, 2007
6. Toshikazu Kondo,Wolfgang Keil,
et al., DNA Typing From Stained
Sperm-positive Vaginal Smears:
Four Rape Cases, Journal of
Clinical Forensic Medicine, Vol 4,
Issue 2, Pages 81-84, 1997



























26

MIASIS
Indah Widyaningsih, Bambang Supriyono
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya
ABSTRAK
Miasis adalah penyakit hewan yang disebabkan oleh makan larva lalat parasit dipterous pada jaringan
inang nekrotik atau hidup. Bahasa sehari-hari untuk Myiasis termasuk flystrike dan terbang-putus.
Myiasis merupakan masalah serius bagi industri peternakan, menyebabkan kerugian ekonomi yang
parah di seluruh dunia. Meskipun kutu oleh larva lalat jauh lebih menonjol pada hewan, itu adalah
relatif sering terjadi pada manusia di daerah pedesaan, tropis dan subtropis
Myiasis bisa datang dalam segala macam variasi, tergantung pada spesies lalat dan di mana larva
berada. Beberapa lalat dapat bertelur di luka terbuka, larva lain mungkin menyerang kulit tak terputus
atau memasuki tubuh melalui hidung atau telinga, dan masih lain mungkin ditelan jika telur disimpan
pada bibir atau pada makanan.
Kunci dunia: larva, jaringan hidup, terbang larva

Myasis
Indah Widyaningsih, Bambang Supriyono
Lecturer Faculty of Medicine, University of Wijaya Kusuma Surabaya
ABSTRACT
Myasis is an animal disease caused by parasitic dipterous fly larvae feeding on the host's necrotic or
living tissue. Colloquialisms for myiasis include flystrike and fly-blown.
Myiasis is a serious problem for the livestock industry, causing severe economic losses worldwide.
Although infestation by fly larvae is much more prevalent in animals, it is a relatively frequent
occurrence in humans in rural, tropical and subtropical regions
Myiasis can come in all sorts of variations, depending on the fly species and where the larvae are
located. Some flies may lay eggs in open wounds, other larvae may invade unbroken skin or enter the
body through the nose or ears, and still others may be swallowed if the eggs are deposited on the lips or
on food
Key world : larva, living tissue, fly larva

DEFINISI
Miasis adalah penyakit yang
disebabkan oleh oleh infestasi larva lalat
dari ordo Diptera pada manusia atau
vertebrae hidup dan memakan jaringan
mati atau hidup, cairan tubuh atau
makanan yang ditelan hospesnya ( Lynne
S. Garcia 1996 ). Miasis ini perlu
dipelajari dan diketahui karena dapat
menyebabkan penyakit pada manusia serta
hewan yang hidup. Miasis ini pada
umumnya jinak ( tidak berbahaya ) hanya
pada infestasi tempat tempat tertentu
saja yang berbahaya karena dapat
mengakibatkan kematian ( Herms, 1998 )
Miasis ini banyak ditemukan pada
Negara Negara tropis dan subtropis
seperti Afrika dan Amerika . Beberapa
penelitian menemukan miasis ini James (
1984 ), Zumpt ( 1965 ) dan Morikawa (
1958 ) juga beberapa laporan
ditemukannya di Amerika Utara oleh Scott
( 1964 ) dan laporan serupa juga di
Australia oleh Lee ( 1968 ) ( Medical
entomology ). Petugas kesehatan di negara
negara yang berkembang di utara kurang
mengenal dari infeksi parasit ini sehingga
sering terjadi kesalahan diagnosis dan
terapi yang tidak tepat. Perhatian yang
besar dari petugas kesehatan mengenai
gejala klinis serta riwayat penularan
penyakit perlu diketahu untuk dapat
melakukan terapi yang tepat.
Penyakit ini banyak pada daerah
pedesaan dan berhubungan dengan
lingkungan yang buruk. Pada manusia
infestasi larva ini dapat mengenai kulit,
luka yang terbuka, usus dan rongga tubuh
yang lain ( mulut, hidung, telinga, mata,
sinus, vagina dan uretra dll ) ( Adisa and
Mbanaso, 2004 ).

KLASIFIKASI ( Anna M. West )
Klasifikasi dari miasis dibagi dua
yaitu berdasrkan :
1. Klasifikasi berdasarkan
Taksonomi
2. Klasifikasi berdasarkan etiologi
KLASIFIKASI BERDASARKAN
TAKSONOMI ( yang penting bagi

27

kesehatan ) :
1. Family Muscidae
2. Family Calliphorida
- Genus Cochliomya
- Genus Cordylobia
- Genus Chrysomia
- Genus Auchmeromya
3. Famili Sarchophagidae
- Genus Sarcophaga
- Genus Wohlfahrtia :
W.magnifica
W.
vigil

W.opaca
4. Famili Chloropidae
- Genus Hippelates
5. Famili Gasterophilidae
- Genus Gasterophilus
6. Famili Oestridae
- Oestus ovis, Rhinostreus
purpures
- Genus Hypoderma
7. Famili Cuterebridae
- Genus Cuterebridae
- Genus Dermatobia
KLASIFIKASI BERDASARKAN
ETIOLOGI ( Anna M West., Medical
Entomology, Soedarto 20 )
1. Miasis spesifik ( Miasis
Obligatori ) , miasis yang
berkembang pada berkembang
pada jaringan atau manusia yang
hidup
2. Miasis semi spesifik ( Miasis
fakultatif ), parasit ini dapat
tumbuh pada jaringan yang hidup
atau yang mati
3. Miasis Akidental ( Miasis
Accidental ), telur dari lalat akan
masuk kedalam tubuh melalui
makanan yang sudah
terkontaminasi.
JENIS JENIS MIASIS MENURUT
JARINGAN YANG TERKENA ( Anna
M. West. Hunter 1991. Soedarto 2007 )
1.Kutan, jaringan mukokutan, mata,
hidung dan telinga
Larva masuk ke jaringan menimbulkan
berbagai macam kelainan mulai dari
iritasi, pruritus sampai invasi ke organ
organ yang lain
2.Intestinal
Lalat betina menempel pada makanan atau
minuman kemudian bertelur lalu bisa
berubah menjadi larva, kemudian
makanan / minuman tersebut tertelan oleh
manusia atau hewan lain
3. Tempat tempat lain
Pernah dilaporkan ditemukannya larva di
urin, vagina dan paru paru ( inhalasi
secara tidak sengaja dari lalat dewasa
betina gravid atau melalui telur yang
berterbangan. ( Chan JC 2005. Heng sin.
Natali 1997. Jiang CA 2002. NG KH Yip
KT 2003 )

EPIDEMIOLOGI
Miasis endemik terutama di Negara
Afrika dan Amerika di daerah tropis
maupun subtropik, terutama pada musim
panas ( Noutsis and Milikan ).
Miasis merupakan penyakit self
limiting infection. Pada umumnya miasis
ini tidak berbahaya.
Di Panama tercatat 160 kasus / 1000
pertahun dan dia Amerika tengah
kemungkinan kasusnya lebih tinggi.

GEJALA KLINIS
Menurut Jiang C 2002, bahwa dia
menemukan 54 kasus miasis di Cina sejak
tahun 1995 2001. Beliau membagi
miasis dalam tujuh kelompok yaitu :
miasis pada mata, rongga hidung, telingan
luar, kulit, organ pencernaan, Urogenital
dan miasis trauma ( sub cutan ) ( Jiang C
2002 )
1. Miasis pada kulit ( Furuncular
Cutaneus Myasis )
Miasis pada kulit banyak dijumpai
pada daerah pedesaan dan
mempunyai lingkungan yang
buruk. Seringkali miasis ini
disertai dengan infeksi sekunder
oleh bakteri.
Miasis pada kulit disebabkan oleh
tumbu fly ( Cordylobia
antropophaga ) banyak
ditemukan di Afrika ( Verald et all
). dan human botfly ( Dermatobia
hominis ). Lokasi dari lesi
bervariasi disebabkan karena cara
penularannya yang berbeda.
Miasis yang disebabkan oleh
tumby fly ( Cordylobia antrophaga
) sering terdapat pada badan,
bokong, paha. Sedangkan human
botfly ( D. Hominis ) menyerang
kepala, muka, lengan dan betis (

28

Luchina et al ). Larva dari
keduanya dapat menginfestsi
kedalam jaringan kulit.
Beberapa jenis yang lain juga
dapat menimbulkan gejala pada
kulit :
1. Gasterophylus intestinalis
2. Cochliomya hominivorax (
famili Calliphorida )
3. Chrysomia bezziana
4. Cordylobia rhodaini
Gejala klinis :
1. Lesi berupa papul, eritema dan
gatal dengan diameter 2 3 mm
dalam waktu 24 jam setelah
kontak dengan larva ( Purych-
Alberta, Swetter et al )
2. Pada tempat lesi akan terasa
sakit dan ini bisa disebabkan adanya duri
disekitar
tubuh larva yang dapat
menimbulkan iritasi pada jaringan
sekitarnya ( Purych )
3.Papul dapat menjadi purulent
dan bernanah ( infeksi )
2. Miasis intestinalis ( miasis usus )
Biasanya terjadi pada infeksi larva
jenis eksidental, dimana telur dari
lalat tersebut terdapat dalam
makanan dan kemudian
makanannya tersebut dimakan
oleh manusia sehingga dapat
masuk ke usus dan berkembang
menjadi larva sehingga dapat
menginfestasi usus itu sendiri (
jenis Muscidae ). Sedangkan
untuk jenis Sarcophagidae maka
yang menempel pada makanan
adalah jenis larvanya dan itu yang
dapat masuk kedalam usus. Larva
Sarcophagidae dapat
menimbulkan ulkus atau iritasi
pada usus.
Miasis usus ini dilaporkan oleh Y.
Chigusa 2000, dimana beliau
menemukan adanaya larva
Dryomiza formosa pada feses
segar dari wanita Jepang penderita
skizofrenia berusia 27 tahun. (
Medical Entomology. Heng Sin )
Jenis yang dapat menyebabkan
miasis intestinalis antara lain :
- Musca
- Fania
- Sarcophaga
3. Miasis pada luka yang terbuka (
miasis traumatik )
Pintu mauk dari infestasi lalat ini
adalah melalui luka yag terbuka
dimana lalat
dewasa meletakkan telurnya pada
luka atau di dekat luka terbuka dan
berbau, lalu
larva tersebut akan membuat
terowongan dan membuat nodul pada
subcutaneus (
Noutsis and Milikan )
Jenis yang dapat mengakibatkan
miasis traumatik :
- Sarcophaga
- Calliphoridae
4. Miasis pada rongga tubuh
Miasis ini sering terjadi pada
organ organ lain yang dimulai
dengan adanya lubang pada
rongga tubuh.
Miasis bisa terjadi pada rongga
hidung maupun telinga dimana
infestasi dari larva ini dapat
memasuki organ otak, seperti
diketahui bahwa organ otak
berhubungan dengan hidung dan
telinga melalui tuba Eustachii.
Larva ini dapat merusak jaringan
sekitar telinga sampai ke lapisan
otak yang sangat berbahaya yang
dapat menyebabkan kematian.
Miasis dapat terjadi juga pada
vulva, vagina bahkan pada traktus
urinarius. Penularannya bisa
melalui alat alat kedokteran
contahnya pemakaian kateter pada
orang sakit dimana kateter
tersebut dapat terkontaminasi
dengan telur atau larva dari lalat
tersebut.
Penyebab miasis Urinaria yang
pernah dilaporkan adalah Fannia,
Muscina, Musca, Calliphora dan
Sarcophaga ( Soedarto 1992 ) .



29



Miasis pada rongga mata
diambil dari : http://www.kaskus.us/showthread.

CARA PENULARAN
Cara penularan dari larva lalat tersebut
bermacam macam tergantung dari jenis
spesies lalat tersebut.
Cordylobia antropophaga ( tumbu fly ),
meletakkan telurnya pada tempat tempat
antara lain tanah atau pakaian, telur akan
berkembang menjadi larva dan membuat
terowongan kedalam kulit ( Kpea and
Zywocinski 1996 ). Siklus ini mirip
dengan siklus hidup dari C. Rhodaini.

RESERVOAR DAN VEKTOR
Vektor atau resevoar yang dapat
menyebabkan miasis yang disebabkan
oleh lalat tergantung dari jenis apakah lalat
tersebut, obligat / fakultatif atau
eksidental, pada umumnya adalah
berhubungan dengan nyamuk

MASA INKUBASI
Masa inkubasi tergantung dari siklus
hidup dari lalat tersebut, pada umumnya
antara 5 12 minggu.

30

Keterangan ini sangat penting
karena sangat berguna untuk mendiagnosis
penderita yangmempunyai riwayat
mengadakan perjalanan dari darah
endemik kurang lebih 5 12 minggu
sebelumnya ( Tsuda et all 1995 ).

DIAGNOSIS
Diagnosis miasis ini sulit karena jarang
ditemukan sehingga penatalaksanaannya
menjadi terlambat. Diagnosis dini sangat
penting diketahui untuk menghindari
penggunaan antibiotik yang tidak efektif.
Diagnosis yang perlu diketahui adalah :
- Mempunyai riwayat perjalanan kedaerah
endemik
- Adanya satu / lebih lesi pada daerah yang
terbuka
- Cairan seros, atau seropurulent yang
keluar dari pungtum lesi
- Adanya gejala lokal antara lain : rasa
gatal, nyeri terasa ada sesuatu yang
bergerak dari
lesi tersebut.
- Adanya larva ( maggot ) yang ditemukan
baik itu dari tempat lesi atau spesimen
yang
lain.
- Ultrasound
Penelitian di Inggris menggunakan
ultrasound sebagai alat untuk mengetahui
dan terapi pada larva yang dewasa.
Peneliti sudah mengatahui lokasi dari
larva dan ukurannya. Dengan alat ini dapat
memudahkan pengangkatan larva melalui
operasi.

DIAGNOSIS BANDING
- Cellulitis
- Furunkulosis
- laeismaniasis
- Onchocerciasis
- Tungais
- Adenopathi
- Abses kulit
- Gigitan serangga
- Kista subcutaneus

PENATALAKSANAAN DAN TERAPI
Pengangkatan dari larva terutama
yang di kulit sulit karena bentuk dari
larvanya yang mempunyai duri disekitar
tubuhnya yang menancap pada jaringan
sekitarnya. ( Swetter et al 1996 )
Pada umumnya miasis yang tidak
berbahaya tidak perlu diangkat ( Shorter et
al, Bowry and Cottingham, Powers and
Yorgensen 1997 ).
Jika di angkat maka diadakan pembedahan
dengan anestesi lokal, hati hati karena
duri yang menancap pada jaringan
sekitarnya dapat menyebabkan
peradangan, infeksi bakteri terkadang
telah membentuk granuloma.

PENCEGAHAN :
1. Memakai baju adalah salah satu cara
menghindari dari kontak dengan lalat
2. Jika ada luka maka luka tersebut harus
ditutup guna menghindari kontak dengan
lalat
3. Sayur, buah dan daging segar dan
dicuci dahulu sebelum diolah
4. Tutup makanan matang sehingga tidak
dihinggapi oleh lalat

KESIMPULAN DAN SARAN
1. Miasis adalah infestasi larva dari ordo
Diptera pada manusia atau mamalia lain
2. Infestasi dari parasit ini berhubungan
dengan lingkungan yang buruk.
3. Miasis dibagi menurut taksonomi dan
etiologi
4. Miasis menyerang hampir seluruh
organ pada manusia
5. Kebanyakkan infestasi parasit ini tidak
berbahaya dan jarang menyebabkan
kematian
kecuali yang menyerang organ vital (
otak )
6. Diagnosis berdasarkan gejala klinis dan
ditemukannya larva dari lesi / spesimen
lain
- Penatalaksanaan bisa dengan operasi (
pengangkatan larva )atau obat topikal
- Pencegahan hindari kontak dengan
vektor, kebersihan diri, memakai baju,
mencuci
dan menyetrikanya.

DAFTAR PUSTAKA


1. Anna M. West. Myasis. File
:// G : \ Myasis . 5/1/2007
2. Chan JC, Less js. Unusual
Cases of Human Myasis
Due to old World
Screwworm . Chinese med

31

journal. www pubmed 2005.
5/4/2007
3. G.Thomas Strickland.
Tropical Medicine. WB
Saunders 1991
4. Heng Sin. Dept Disease of
the Skin and Veneral
Disease. University of
Cambodia. 5/7/2007
5. Jelinek T. Cutaneus Myasis.
Int Journal Dermatol. 2000
6. Jiang C. A collective
analysis on 54 cases of
human myasis. Chinese med
journal 2002. www pub
med. 5/4/2007
7. Maurice T james. Medical
Entomology. Mc Millan
USA. 1969
8. Musca domestica house fly.
University of Florida.
5/7/2007
9. Natali R, Menager. Salivary
Myasis. Journal of trop med.
www pub med 1997.
5/1/2007
10. NG KH, Yip KT. A case of
oral Myasis. Hongkong med
Journal 2003. 5/4/2007
11. Passos MR, Varela. Vulvar
Myasis during pregnancy.
www pub med 2002.
5/1/2007
12. Soedarto. Sinopsis
Kedokteran. Airlangga
university press 2007
13. Statistical Notes. Republic
of South Africa. March
2006
14. www.pubmed. NG KH, Yip
KT. A Case oral myasis due
to Chrysomia bezziana. Dec
2003
15. www.pubmed. Sehgall R,
Bhatti HP. Intestinal myasis
due to Musca domestica :
areport of two cases. Dec
2002.
16. Shorter N; Werninghaus K.
Afuruncel cuterebrid
myasis. J Pediatr Surg.
1997. 5/3/2007
17. Sweter S; Stewart M.
Cutaneous myasis following
travel to Belize. Int J
Dermatol 1998.



















































32

EKSPRESI PROTEIN P53 MUTAN PADA MELANOMA MALIGNA DAN
NEVUS MELANOSITIK
Lusiani Tjandra
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya
Abstrak
Latar belakang : Melanoma maligna merupakan tumor ganas sel melanosit dengan
pertumbuhan agresif dan resisten terhadap terapi konvensional. Proses karsinogenesis melanoma
maligna secara umum melibatkan onkogen dan gen penghambat tumor yang berhubungan dengan
siklus sel serta gen pengendali apoptosis.Mutasi pada gen P53 menyebabkan hilangnya fungsi gen dan
menjadi dasar perubahan dalam proses terjadinya kanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
apakah P53 berperan penting dalam proses karsinogenesis melanoma maligna.
Metode : blok paraffin pasien melanoma maligna kulit di instalasi Patologi Anatomi RSU Dr
Soetomo Surabaya sejak bulan Juli 2007 30 juni 2008.Sebagai pembanding diambil 5 kasus nervus
melanositik. Blok paraffin dipotong dengan mikrotom, kemudian dilakukan pewarnaan
Immunohistokimia dengan antibody anti p53 dan dihitung jumlah sel tumor positif.
Hasil : pada penelitian ini didapatkan 50% kasus yang positif dengan pewarnaan anti P53.
Analisis statistic uji Mann Whithney menunjukkan tidak ada peningkatan yang signifikan ekspresi
protein P53 mutan (P=0,129 ; p> 0,05) pada melanoma maligna dibandingkan nevus melanositik.
Kesimpulan: P53 kurang berperan pada karsinogenesis melanoma maligna yang
menunjukkan adanya kemungkinan gen penghambat tumor lain yang lebih berperan,
Kata kunci : Melanoma maligna, p53

P53 PROTEIN EXPRESSION IN MALIGNANT MELANOMA DAN
MELANOCYTIC NEVI
Lusiani Tjandra
Lecturer Faculty of Medicine, University of Wijaya Kusuma Surabaya
ABSTRACT
Background: Melanoma is the form of skin cancer that has an aggressive behavior and
resistance to conventional therapy. These unusual behaviors reflecting its unique carcinogenesis
process which involve several mutations in chromosomes and genome that regulate proliferation and
apoptotic process. The most common mutated genes in malignant tumors is p53. The object of this
study is to determine whether these three genes play an important role in melanoma carcinogenesis.
Methods: block paraffin of melanoma patients from Pathologic Department were collected
from the period of July 2007 until June 2008. Five cases of melanocytic nevi were added as a control
groups. The block then cut by microtome, placed on microscopic slides which stained with monoclonal
antibody against p53 respectively.
Results: melanoma specimen show 50% cases has scattered positive cell for p53 staining. The
data then statistically analyzed Mann Whitney and the result shows that there was no significance
difference in the expression of p53 (p = 0,129 ; p > 0,05) in melanoma compared with nevus.
Conclusions: p53 has a less role in melanoma carcinogenesis suggesting that there was
another tumor suppressor genes that was mutated in melanoma cells.
Keywords: malignant melanoma, p53

PENDAHULUAN
Melanoma maligna merupakan
tumor ganas sel melanosit dengan
pertumbuhan agresif dan resisten terhadap
terapi. Sel melanosit merupakan sel
normal yang terdapat pada lapisan basal
epidermis kulit. Sel ini berfungsi untuk
melindungi tubuh dari paparan sinar
matahari terutama sinar UV yang dapat
merusak komposisi DNA sel normal.
Paparan sinar ultraviolet B serta terjadinya
mutasi gen yang berperan dalam
proliferasi dan apoptosis sel, dapat
meningkatkan pertumbuhan sel melanosit
dan menghasilkan tumor, baik tumor jinak
yang disebut nevus melanositik atau tumor
ganas yang dikenal sebagai melanoma
maligna. Sampai saat ini peran p53 pada
melanoma maligna belum dapat
dijelaskan.
Melanoma maligna merupakan
tumor ganas kulit yang paling banyak
menimbulkan kematian di Amerika Serikat
dan Eropa (Ugurel, 2009). Di Australia,
insiden dan mortalitas masih terus
meningkat. Di Indonesia menurut data

33

histopatologis, kanker kulit merupakan
kanker ketiga tersering dan melanoma
maligna menyebabkan 1% sampai 2% dari
semua kematian akibat kanker (Harahap,
2000 ; Djuanda, 1999).
Proses berkembangnya sel
melanosit menjadi nevus ataupun
melanoma maligna terjadi melalui banyak
tahapan dan melibatkan banyak perubahan
pada gen maupun kromosom. Penelitian
dengan teknik Comparative genomic
Hybridization pada melanoma telah
mengidentifikasi beberapa perubahan
kromosom baik berupa penambahan
maupun pengurangan jumlah nukleotida
pada melanoma maligna dibandingkan
dengan sel melanosit maupun nevus
melanositik. Perubahan tersebut
melibatkan mutasi berbagai macam gen
yang berperan pada karsinogenesis
melanoma maligna (Bastian, 1998). Pola
pertumbuhan melanoma yang agresif dan
resisten terhadap terapi konvensional
berkaitan dengan proses karsinogenesis
tumor. Proses karsinogenesis melanoma
melibatkan mutasi beberapa gen yang
berfungsi sebagai gen pengatur
pertumbuhan sel (p53). Mutasi pada gen
tersebut akan menghasilkan pertumbuhan
neoplastik sel melanosit baik berupa
neoplasma jinak (nevus melanositik)
maupun neoplasma ganas (melanoma
maligna). Pemahaman karsinogenesis
melanoma diperlukan untuk mengungkap
perilaku biologi tumor serta cara untuk
menghambat pertumbuhan tumor.
Walaupun sudah banyak diiteliti tetapi
karsinogenesis melanoma masih belum
dapat diungkap secara menyeluruh.
Penelitian ini dilakukan untuk
mengetahui apakah ada peningkatan yang
bermakna dari ekspresi protein p53 pada
melanoma maligna dibanding dengan
nevus melanositik. Hasil penelitian ini
diharapkan dapat menjadi panduan dalam
terapi melanoma maligna.

BAHAN DAN CARA KERJA

A.Sampel penelitian
Kasus melanoma dari 1 Juli 2007
sampai dengan 31 Juli 2008 di Instalasi
Patologi Anatomi RSU Dr. Soetomo
sebanyak 26 kasus, yang memenuhi
kriteria inkusi dan eksklusi penelitian
sebanyak 10 kasus dan 5 kasus nevus
melanositik sebagai pembanding.
Rancangan penelitian ini adalah
eksplanatori dan jenis penelitian adalah
observasional analitik.

B.Pemeriksaan Immunohistokimia
Ekspresi protein p53 mutan
merupakan jumlah sel tumor dengan inti
berwarna merah (pada pemeriksaan
imunohistokimia) dan dihitung dari 100
sel tumor. Pada setiap kasus diberikan skor
berdasarkan hasil penghitungan jumlah sel
tumor yang memberikan reaksi positif
terhadap antibodi p53 dengan ketentuan
sebagai berikut (Stretch, 1991) :
Skor 0 = sel tumor
tidak terwarnai pada intinya
Skor +1 = sel tumor
terwarnai pada inti sel < 5 %
Skor +2 = sel tumor
terwarnai pada inti sel antara 5
50%
Skor +3 = sel tumor
terwarnai pada inti sel > 50 %

HASIL DAN ANALISIS PENELITIAN
Hasil pemeriksaan immunohistokimia sel
tumor yang mengekspresikan protein p53
mutan pada melanoma maligna dan nevus
melanositik.
Pemeriksaan jumlah sel tumor
yang mengekspresikan p53 mutan pada
melanoma maligna dilakukan dengan
teknik immunohistokimia Biotin
Streptavidin Amplified. Satu sampel
diamati dan dihitung jumlah sel tumor
yang mengekspresikan protein p53 mutan
dengan menggunakan mikroskop cahaya
pembesaran 400x. diamati pada seluruh
lapang pandang dan dihitung jumlah sel
tumor yang memberikan reaksi positif dan
negatif terhadap antibodimonoklonal p53.
Hasil perhitungan dapat dilihat pada
lampiran 4, kemudian dihitung persentase
dan diberi skor, hasil dapat dilihat pada
gambar 1


34

Gambar 2 Fotomikroskopi Melanoma maligna dengan
pewarnaan antibodi p53 pembesaran 400 X
Tampak sel tumor memberikan reaksi positif dengan inti
berwarna merah (tanda panah).

Gambar 1. Ekspresi p 53 pada nevus dan melanoma
Dari gambar 1 dapat diketahui bahwa 10 kasus melanoma hanya 5 kasus
yang menunjukkan ekspresi protein p53 yang positif dengan rincian 2 kasus positif
pada < 5% sel tumor dan 3 kasus positif pada 5 10% sel tumor. Tidak ada kasus
yang positif > 10% sel tumor. Sedangkan untuk kasus nevus tidak ada yang
memberikan
hasil positif.













Pengujian
peningkatan
ekspresi protein p53 pada melanoma maligna dibandingkan nevus melanositik.
Dari hasil analisis statistika dengan mengunakan uji Mann Whitney didapatkan tidak
ada peningkatan yang bermakna ekspresi protein p53 mutan pada melanoma dibanding
dengan nevus melonositik (p = 0,129 ; p > 0,05).

DISKUSI
Jumlah kasus melanoma dari 1
Juli 2007 sampai dengan 31 Juli 2008 di
Instalasi Patologi Anatomi RSU Dr.
Soetomo sebanyak 26 kasus. Dari 26
kasus, 10 kasus yang memenuhi kriteria
inklusi dan digunakan dalam penelitian
ini, sedangkan untuk nevus melanositik
diambil 5 kasus sebagai pembanding.
Kriteria pemilihan kasus nevus adalah
proliferasi sel yang mengandung pigmen
melanin dan secara jelas menunjukkan
perilaku jinak pada gambaran histologi
(nevus intradermal).
Sampel penelitian melanoma
terdiri dari 7 orang penderita wanita dan 3
orang penderita pria dengan rentang usia
antara 28 80 tahun. Menurut literatur
melanoma maligna dapat menyerang
semua umur dengan insiden paling banyak
pada usia di atas 40 tahun, tanpa adanya
predileksi jenis kelamin (Harahap, 2000).
Lokasi melanoma yang sering
ditemukan (7 dari 10 kasus) adalah
melanoma pada daerah telapak kaki dan
jari kaki (acral melanoma). Melanoma
jenis ini faktor paparan sinar matahari
kurang berperan dalam proses terjadinya
tumor, karena telapak kaki relatif
terlindung dari sinar matahari. Dua kasus
Ekspresi p53 pada Nevus dan
Melanoma
0
2
4
6
Nevus Melanoma
Negatif
Positif 1
Positif 2
Positif 3

35

yang lain adalah penderita wanita dengan
melanoma pada daerah perineum / vulva
dan kulit abdomen yang juga terlindung
dari sinar matahari, hanya satu penderita
melanoma di kulit regio cruris dimana
paparan sinar matahari ikut berperan
pada proses karsinogenesis.
Gambaran mikroskopis penderita
melanoma maligna di RSU Dr. Soetomo
Surabaya adalah semua kasus
menunjukkan sel melanosit anaplastik
yang menghasilkan pigmen dan tidak
didapatkan kasus amelanotik melanoma.
Derajad invasi tumor semuanya tergolong
Clark level 5 dengan kedalaman invasi
tumor menurut Breslow pada level 4 serta
pertumbuhan tumor secara vertikal
(Vertical Growth Phase). Tidak
ditemukannya kasus melanoma tahap awal
disebabkan oleh kurangnya pengetahuan
tenaga medis dan masyarakat akan gejala
melanoma secara dini. Gejala melanoma
awal serupa dengan lesi kulit lain yang
berpigmen seperti nevus melanositik,
nevus biru (blue nevus) serta pigmented
basal cell carcinoma sedangkan melanoma
amelanotik dapat memberikan gejala yang
serupa dengan pyogenic granuloma,
hemangioma atau basal cell carcinoma
(Paek, 2008).
Ditemukannya kasus melanoma
pada stadium lanjut disebabkan oleh jenis
pertumbuhan melanoma yang termasuk
pola pertumbuhan vertikal (Vertical
Growth Phase) sehingga tumor dapat
melakukan invasi pada struktur kulit
bagian bawah dalam waktu singkat, tanpa
atau belum melakukan penyebaran secara
horisontal. Hal ini berbeda dengan kasus
yang ditemukan di negara barat dimana
sebagian besar berupa melanoma dengan
penyebaran superfisial (Superficial
Spreading Melanoma) yang menunjukkan
pola penyebaran secara horisontal.
Berkembangnya sel melanosit
menjadi nevus melanositik dan melanoma
maligna yang tumbuh secara vertikal
melalui beberapa tahapan. Mutasi paling
awal ditemukan pada gen NRAS dan
BRAF yang tergolong dalam jalur MAP
kinase. Mutasi ini menyebabkan sel
melanosit berproliferasi dan membentuk
nevus melanositik. Proliferasi sel nevus
bersifat terbatas dimana pada suatu titik
tertentu akan berhenti karena sel
mengalami senescence. Proses senescence
dipengaruhi oleh gen p16INK4a yang
merupakan tumor supresor gen, yang
berperan dalam jalur gen retinoblastoma
(Rb). Tahap berikut dalam terjadinya
melanoma adalah Nevus displastik yang
memiliki kemampuan menghindar dari
proses senescence. Proses terjadinya nevus
displatik melibatkan mutasi pada gen
p16INK4a dan CDK4 yang berperan
dalam jalur Rb. Kedua gen ini dikenal
sebagai gen susceptibilitas melanoma.
Aktivasi telomerase pada nevus displastik
menghasilkan perubahan menjadi
melanoma dengan pertumbuhan radial /
horisontal yang menghasilkan sel
melanosit imortal (dapat berproliferasi
terus tanpa mengalami proses senescence)
akan tetapi pertumbuhan sel tumor masih
bergantung pada sel keratinosit di
sekitarnya. Tahap akhir dari progresi
melanoma adalah melanoma dengan pola
pertumbuhan vertikal yang bersifat invasif
dan tidak bergantung pada keratinosit.
Proses ini melibatkan mutasi pada jalur
penghambat apoptosis. (Ha Linan, 2008;
Bennet C Dorothy 2003).

Ekspresi protein p53 pada melanoma
maligna
Pada sel normal didapatkan
molekul p53 wild type yang berfungsi
mengendalikan replikasi DNA. Mutasi
pada gen p53 menghasilkan protein p53
mutan serta hilangnya fungsi p53 wild
type untuk mengendalikan siklus sel.
Ekspresi protein p53 mutan merupakan
perubahan yang umum didapatkan pada
berbagai jenis kanker pada manusia. Gen
p53 terletak pada lokus kromosom 17p13
yang umumnya mengalami delesi.
Penelitian struktur kromosom pada
melanoma didapatkan bahwa terjadi
banyak perubahan kromosom pada
melanoma primer tetapi mutasi pada
kromosom 17 tempat gen p53 jarang
ditemukan. Hal ini menunjukkan bahwa
mutasi gen p53 kurang berperan dalam
terjadinya melanoma (Stretch, 1991).
Pada penelitian ini ekspresi
protein p53 mutan didapatkan pada 5 dari
10 kasus melanoma, dengan kurang dari
10% sel tumor yang terwarnai sedangkan
pada kasus nevus melanositik tidak ada
kasus yang memberikan reaksi p53 positif

36

. Menurut analisis statistik tidak
didapatkan peningkatan ekspresi protein
p53 mutan secara bermakna pada
melanoma maligna dibandingkan nevus
melanositik (p= 0,129 ; p > 0,05).
Proses pertumbuhan melanoma
maligna melibatkan dua jalur mutasi yaitu
gen p53 atau gen p16INK4a sebagai tahap
untuk menghindari proses senescence.
Walaupun peran inaktivasi gen p16INK4a
dalam melanoma sudah dapat dipastikan,
peranan mutasi gen p53 masih belum
dapat dijelaskan sepenuhnya. Secara
normal gen p53 dapat mencegah
terjadinya tumor dengan menjaga
stabillitas genom, penghentian siklus sel
pada tahap tertentu, induksi apoptosis serta
menghambat aktivitas transkripsi gen
yang berperan pada progresi tumor
(Milyavsky, 2005) sehingga gen p53
dikenal sebagai gen penjaga (guardian
genome). Frekuensi mutasi gen p53 pada
melanoma dilaporkan lebih rendah
dibanding dengan tumor ganas lainnya
(Rodolfo, 2005). Penelitian Yang et al
menemukan mutasi gen p53 pada 25%
kasus melanoma. Mekanisme perubahan
yang menyebabkan kerusakan jalur p53
terletak pada lokus CDKN2A berakibat
mutasi pada gen ARF (alternatif reading
frame) dan p16. ARF berperan menjaga
aktivitas fungsional p53 sedangkan p16
lebih berperan pada jalur retinoblastoma
(Rb). Delesi pada ekson CDKN2A
mengganggu kedua jalur tersebut.
Walaupun pada umumnya mutasi
melibatkan salah satu jalur di atas, mutasi
gen p53 dan p16 secara bersamaan dapat
terjadi pada beberapa kultur sel melanoma
yang seringkali berhubungan dengan
mutasi BRAF. Mutasi yang bersamaan ini
ditemukan pada penderita dengan survival
yang rendah (Daniotti, 2004).
Sebagai gen penjaga, gen p53
berfungsi dalam perbaikan DNA sel pada
kulit yang rusak karena berbagai macam
faktor seperti sinar ultraviolet, obat yang
diberikan secara topikal serta iritasi kronis.
Mutasi gen p53 pada kulit telah terbukti
berperan dalam terjadinya karsinoma sel
skuamous sedangkan pemberian p53 wild
type dapat menghentikan pertumbuhan sel
kanker dan menginduksi apoptosis.
Analisis proses perkembangan dan
progresi melanoma menunjukkan bahwa
mutasi genetik p53 pada melanoma sedikit
ditemukan sedangkan peningkatan
ekspresi p73 yang termasuk keluarga gen
p53, berhubungan dengan progresi dari
melanoma primer menjadi metastasis.
Keluarga gen p53 terbukti berperan dalam
perbaikan kerusakan DNA pada melanosit,
proses apoptosis dan penghentian siklus
sel melanosit (Johnson, 2005).

PENUTUP

Dari hasil penelitian ini dapat
disimpulkan bahwa Tidak didapatkan
peningkatan bermakna ekspresi protein
p53 mutan pada melanoma maligna
dibanding dengan nevus melanositik.

Daftar Pustaka
Bastian C Boris, LeBoit E Phillip, Hamm
Henning, Brocker Eva-Bettina and
Pinkel Dan, 1998. Chromosomal
Gains and Losses in Primary
Cutaneous Melanomas Detected
by Comparative Genomic
Hybridization. Cancer Research
58 : 2170-2175.

Bennett C Dorothy, 2003. Human
melanocyte senescence and
melanoma susceptibility genes,
Oncogene 22: 3063-3069.

Daniotti M, Oggionni M, Ranzani T,
2004.BRAF alternations are
associated with complex
mutational profiles in malignant
melanoma. Oncogene 23;5968-
5977.

Djarwanto, 2007 : Statistik Nonparametrik
Edisi 4, Yogyakarta. 30-35, 75-80

Djuanda Adhi, Hamzah Mochtar, Aisah
Siti, 1999 : Ilmu Penyakit Kulit
dan kelamin Edisi 3, Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia,
Jakarta. 221-223.

Ha Linan, Merlino Glenn, and
Sviderskaya V Elena, 2008.
Melanomagenesis : Overcoming
the Barrier of Melanocyte
Senescence, Cell Cycle, Juli I;
7(13); 1944-1948.

37


Harahap M, 2000. Ilmu Penyakit Kulit,
Hipokrates. Jakarta, 228-235

Johnson Jodi, Lagowski James, Sundbert
Alexandra and Kulesz-Martin
Molly, 2005. P53 Family
Activities in Development and
Cancer : Relationship to
Melanocyte and Keratinocyte
Carcinogenesis, J Invest
Dermatol125: 857-864.

Milyavsky M, Tabach Y,Shats I, 2005.
Transcriptional programs
following genetic alterrations in
p53, INK4A and H-Ras genes
along defined stanges of
malignant transformation. Cancer
Res 11 :4530-4543.

Paek SC, Sober AJ, Tsao H, 2008,
Cutaneous melanoma in :
Freedberg IM, Eisen AZ, Wolff K
editor, Fitzpatricks Dermatologyin
general medicine 7
th
ed New York:
Mc Grow Hill, p 1134-1157.

Rodolfo M, Pierotti MA and Parmiani G,
2005. A Merging Duo in
melanoma Formation, The society
for Investigative Dermatology,
p1242-1251.

Stretch JR, Gatter KG, Ralfkiar E, Iane DP
and Harris AI, 1991. Expression
of mutant p53 in melanoma.
Cancer Resear Ch51.Nov I,
p5976-5979

Ugurel Selma, Utikal Jochen, and Becker
C Jurgen, 2009. Tumor
Biomarkers in Melanoma, Cancer
Control Juli, 16 (3), 219 224.


























































38

PCR AND SOUTHERN BLOT FOR LYMPHOMA MALIGNA
Titiek Sunaryati
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya
Abstrak
Analisis blot Southern tetap menjadi standar emas untuk mendeteksi T-sel reseptor antigen (TCR)
penyusunan ulang gen, biasanya target gen- TCR karena penataan-kembali TCR- terlalu terbatas
untuk membedakan andal monoklonal dari populasi T-sel poliklonal. Tetapi karena reaksi rantai
polimerase (PCR) adalah cepat dan teknis yang kuat, secara bertahap menggantikan analisis blot
Southern sebagai metode pilihan untuk mendeteksi penyusunan ulang gen klonal TCR.
Kami retrospektif mempelajari 52 sampel jaringan segar-beku dari pasien klinis dicurigai
keganasan T-sel. Sebuah penataan gen klonal TCR- terdeteksi pada 14 sampel dengan analisis DNA
kurva leleh. Ketika pencairan DNA dibandingkan dengan metode standar emas blot Selatan atau
denaturing gradien elektroforesis gel, itu mencapai sensitivitas sebesar 71% dan spesifisitas sebesar
94%. Kami juga membandingkan analisis kurva leleh dan polyacrylamide gel elektroforesis: analisa
kurva leleh mencapai sensitivitas sebesar 100% dan spesifisitas sebesar 97%.
Kami menyimpulkan bahwa pemaparan analisis DNA kurva dalam sistem LightCycler memiliki
potensi untuk penggunaan klinis sebagai metode, baru ultra-cepat untuk diagnosis awal penyusunan
ulang gen klonal TCR-.
Kata kunci: Southern blot, PCR, penyusunan ulang gen TCR, LightCycler system

PCR DAN BLOT SELATAN UNTUK LIMFOMA MALIGNA
Titiek Sunaryati
Lecturer Faculty of Medicine, University of Wijaya Kusuma Surabaya
Abstract
Southern blot analysis remains the gold standard for detecting T-cell antigen receptor (TCR) gene
rearrangements, it usually targets the TCR- gene because the rearrangements of TCR- are too limited
to reliably distinguish monoclonal from polyclonal T-cell populations. But because the polymerase
chain reaction (PCR) is rapid and technically robust, it has gradually replaced Southern blot analysis as
the method of choice for detecting clonal TCR gene rearrangements.
We retrospectively studied 52 fresh-frozen tissue samples from patients clinically suspected of T-cell
malignancy. A clonal TCR- gene rearrangement was detected in 14 samples by DNA melting curve
analysis. When DNA melting was compared to the gold standard methods of Southern blot or
denaturing gradient gel electrophoresis, it achieved a sensitivity equal to 71% and a specificity equal to
94%. We also compared melting curve analysis and polyacrylamide gel electrophoresis: melting curve
analysis reached a sensitivity equal to 100% and a specificity equal to 97%.
We conclude that DNA melting curve analysis in the LightCycler system has potential for clinical
use as a new, ultra-fast method for the initial diagnosis of clonal TCR- gene rearrangements.
Keywords: Southern blot, PCR, TCR gene rearrangements, LightCycler system

Introduction
The invention of polymerase chain
reaction (PCR) by Kary Mullis in 1984
was considered as a revolution in science.
Real-time PCR, hereafter abbreviated RT
PCR, is becoming a common tool for
detecting and quantifying expression
profiles of selected genes (Deepak, 2007).
Southern blotting is still one of the
standard techniques to determine the
presence of a gene and its integrity. The
method can be used to detect small
mutations as well as large deletions,
duplications and gene rearrangements. A
Southern blot is a method routinely used
in molecular biology for detection of a
specific DNA sequence in DNA samples.
Southern blotting combines transfer of
electrophoresis-separated DNA fragments
to a filter membrane and subsequent
fragment detection by probe hybridization.
The method is named after its inventor, the
British biologist Edwin Southern in the
1970 (Southern, 1975).

PCR And SOUTHERN BLOT For
Lymphoma Maligna
Various molecular methods have been
developed to diagnose clonal T-cell
receptor (TCR) gene rearrangements in
clinical samples. Most polymerase chain
reaction strategies for detecting clonal
TCR gene rearrangements rely on either
gel or capillary electrophoresis. However,

39

a cumbersome manual transfer step
separates amplification from analysis (
Xiao, 2005).
Recently, we developed a novel
polymerase chain reaction assay using the
LightCycler system to detect clonal
immunoglobulin heavy chain gene
rearrangement. In the current study, we
extend this work to include the TCR. We
report that clonal TCR- (TCR-) gene
rearrangements can be detected in less
than 1 hour after preparing the DNA by
measuring DNA melting immediately after
amplification in a single closed capillary
tube ( Xiao, 2005).
We retrospectively studied 52 fresh-
frozen tissue samples from patients
clinically suspected of T-cell malignancy.
A clonal TCR- gene rearrangement was
detected in 14 samples by DNA melting
curve analysis. When DNA melting was
compared to the gold standard methods of
Southern blot or denaturing gradient gel
electrophoresis, it achieved a sensitivity
equal to 71% and a specificity equal to
94%. We also compared melting curve
analysis and polyacrylamide gel
electrophoresis: melting curve analysis
reached a sensitivity equal to 100% and a
specificity equal to 97%. We conclude that
DNA melting curve analysis in the
LightCycler system has potential for
clinical use as a new, ultra-fast method for
the initial diagnosis of clonal TCR- gene
rearrangements ( Xiao, 2005).
Southern blot analysis remains the gold
standard for detecting T-cell antigen
receptor (TCR) gene rearrangements, it
usually targets the TCR- gene because
the rearrangements of TCR- are too
limited to reliably distinguish monoclonal
from polyclonal T-cell populations. But
because the polymerase chain reaction
(PCR) is rapid and technically robust, it
has gradually replaced Southern blot
analysis as the method of choice for
detecting clonal TCR gene rearrangements
( Xiao, 2005).
The TCR- gene has become a favorite
target for PCR-based T-cell clonality
assays for two reasons: it is rearranged in
most / and / T cells and its structure,
containing 14 V segments and 5 J
segments, is relatively simple. In contrast,
the TCR- locus is highly complex: It
includes 64 to 67 V segments, 2 D
segments, and 13 J segments. Thus, there
have been few diagnostic PCR studies of
TCR- gene arrangements compared to
TCR- because of the necessity for many
primers. But now a set of rigorously tested
multiplex primers for TCR- are available
( Xiao, 2005).
Traditional strategies for detecting TCR
clonality using DNA-based PCR rely
either on measuring the length of the
amplicon or on detecting gel mobility
variations owing to sequence-dependent
conformational changes. Recently, we and
others have shown that DNA melting
curve analysis is a rapid and accurate
method for detecting clonal
immunoglobulin heavy chain (IGH) gene
rearrangements. Melting curve analysis
has also proven to be useful for studying
clonal TCR- gene rearrangements.
Because TCR- is structurally similar to
IGH in terms of containing not only V and
J but also D gene segments, we
hypothesized that DNA melting curve
analysis could detect clonal TCR- gene
rearrangements as well. Therefore, we
evaluated the diagnostic utility of
combining TCR- PCR and melting curve
analysis in a panel of T-cell malignancies
and reactive lymphoid tissues ( Xiao,
2005).
In the current report, we use
LightCycler-PCR and DNA melting curve
analysis to experimentally demonstrate
that clonal TCR- gene rearrangements in
T-cell lymphomas produce homoduplex
PCR amplicons with a sharp dF/dT peak.
In contrast, nonclonal TCR- gene
rearrangements produce heteroduplexes in
tonsil, B-cell lymphomas, and reactive
lymphoid hyperplasia. To our knowledge,
only one other LightCycler study has used
DNA melting to analyze TCR gene
rearrangements: clonal TCR- gene
rearrangements were reported in a series
of cutaneous T-cell lymphomas; the
sensitivity equaled 59% by melting curve
analysis and 72% by PAGE ( Xiao, 2005).
The sensitivity of a TCR- gene
rearrangement PCR assay is dependent on
both the primers and the analytic system.
For example, PCR-PAGE assays yield a
sensitivity of 44 to 76%. On the other
hand, two-step PCR assays in combination

40

with direct sequencing or seminested PCR
in combination with GeneScan yield an
enhanced sensitivity of 98 to 100%.
However, all of these traditional methods
require a cumbersome manual transfer
step in between amplification and analysis
( Xiao, 2005).
The distribution of gene segments in
either TCR- or TCR- genes are highly
variable. For the TCR- gene, no single
common sequence is sufficient to identify
and amplify all of the possible
rearrangements that occur in T-cell
lymphomas. Therefore, multiple primer
sets are needed. The same is true for the
detection of TCR- gene rearrangements.
Recently, standardized multiplex PCR
primers have been tested in 32 diagnostic
PCR laboratories in Europe (BIOMED-2
Concerted Action). In the TCR- PCR
portion of this study, clonal TCR- gene
rearrangements were detected by
heteroduplex analysis in 86% of cases and
by GeneScan analysis in 79% of cases of
29 Southern blot defined cases. A similar
study in fresh-frozen tissues, using
BIOMED-2 multiplex PCR primers,
detected clonal TCR- gene
rearrangements using heteroduplex and
GeneScan analyses in 76% and 66% of
cutaneous T-cell lymphomas, which was
comparable to Southern blot analysis
(68%). In the current report, we have used
the BIOMED-2 TCR- primers for PCR
amplification, but DNA melting for
analysis. Overall, we achieved a
sensitivity of 71%, which is equivalent to
the other methodologies ( Xiao, 2005).
Although we could routinely amplify
TCR- using primer sets A and C, we were
not successful using primer set B. Both
primer sets A and B cover the identical 23
V gene segments. The major difference
between primer sets A and B is in the
coverage of the J region. Primer set A
contains six J1 primers and three J2
primers: J1.1 to 1.6, 2.2, 2.6, and 2.7. On
the other hand, primer set B contains four
J2 primers and no J1 primers: J2.1,
2.3, 2.4, and 2.5. Primer set C contains
two D primers and no V primers: D1
and D2. In addition, primer set C
contains all 13 J indicated above.
Therefore, the inability to amplify TCR-
gene rearrangements using primer set B
appears to be because of the J2.1, 2.3,
2.4, and 2.5 DNA sequences. Thus, we
will underestimate TCR- gene
rearrangements that use these J2
sequences ( Xiao, 2005).
Real-time PCR using allele-specific
oligonucleotides in the LightCycler can be
used to quantify minimal residual disease
in acute lymphoblastic leukemia at the
10
4
and 10
6
level of leukemia cells.
Clearly, the TCR- LightCycler-PCR
method described here is not suitable for
detecting minimal residual disease because
the lower limits varied between 12.5% and
6.25% of clonal DNA. Nevertheless, the
detection limit for TCR- is of the same
order of magnitude as other melting curve
assays for IGH (12.5%) and for TCR-
(10%) ( Xiao, 2005).
Unfortunately, we could not detect
TCR- gene rearrangements in FFPE
tissues using LightCycler and DNA
melting curve analysis. In our previous
study of IGH, DNA melting curve analysis
did successfully detect gene
rearrangements from FFPE tissues, but the
size of those PCR amplicons was much
smaller, ranging from 69 to 129 bp. In
contrast, the BIOMED-2 TCR- primer
sets generate larger PCR products. Primer
set A: 240 to 285 bp; primer set B: 240 to
285 bp; primer set C: 170 to 210 and 285
to 325 bp. Initially, we considered that the
most likely reason why TCR- clonality
could not be detected in the LightCycler
from FFPE tissues was because of the
larger PCR products of TCR- compared
to IGH. However, after successfully
reamplifying a 324-bp fragment of -
globin using conventional PCR soon after
the LightCycler analysis, we conclude that
DNA integrity by itself is not a sufficient
explanation. We can only speculate that
whereas the FFPE DNA could be
amplified by conventional PCR, it may be
suboptimal for producing relatively large
amplicons under the LightCycler
conditions. Also, DNA extracted from
FFPE tissue tends to be severely
fragmented and might contain PCR
inhibitors that do not affect conventional
PCR but could be detrimental in the
LightCycler ( Xiao, 2005).
We believe that DNA melting curve
analysis for the detection of clonal TCR-

41

gene rearrangements has several unique
advantages: monoclonal versus polyclonal
T cells are distinguished based on
fundamental DNA characteristic such as
length, sequence, G:C content, and
Watson-Crick base pairing, very fast
temperature transition rates give rapid
results (less than 1 hour after DNA
preparation); precise temperature control
produces accurate and reproducible Tms;
and combined PCR and DNA melting
curve analysis in a closed system reduce
cross-contamination risk. Using the same
PCR products, melting curve analysis
versus PAGE revealed sensitivity equal to
100% and specificity equal to 97%.
Further, melting curve analysis compared
to gold standard methods of Southern blot
and DGGE revealed sensitivity equal to
71% and specificity equal to 94%. These
results are within the typical range of most
other methods for detecting PCR products.
Because the sensitivity of detecting a T-
cell clone diluted in tonsil DNA is
between 6.25% and 12.5%, DNA melting
curve analysis is clearly not suitable for
assaying minimal residual disease in T-cell
lymphomas. Nevertheless, we believe that
this LightCycler DNA melting assay could
play a role in rapidly evaluating clonal
TCR- gene rearrangements in initial fresh
or frozen tissue samples ( Xiao, 2005).

Conclusion
Recently, we developed a novel
polymerase chain reaction assay using the
LightCycler system to detect clonal
immunoglobulin heavy chain gene
rearrangement. We conclude that DNA
melting curve analysis in the LightCycler
system has potential for clinical use as a
new, ultra-fast method for the initial
diagnosis of clonal TCR- gene
rearrangements.
REFERENCES
Deepak SA, Kottapalli KR, Rakwal R,
2007. Real-Time PCR:
Revolutionizing Detection and
Expression Analysis of Genes,
Current Genomics 8(4):234-251.
Heid CA, Stevens J, Livak KJ, Williams
PM,1996. Real time quantitative
PCR. Genome Res. 6:986994.
Innis MA, 1990. Academic Press. PCR
Protocols: A Guide to Methods
and Applications.
Shimizu H, and Burns J.C, 1995. in: PCR
Strategies, Innis, M.A. et al. (eds.),
Academic Press, San Diego, CA,
2.
Southern, E.M. 1975. Detection of specific
sequences among DNA fragments
separated by gel e1lectrophoresis,
J Mol Biol. 98:503-517.
Xiao Y, Dongsheng X, 2005. Rapid
Detection of Clonal T-Cell
Receptor- Gene Rearrangements
in T-Cell Lymphomas Using The
Light Cycler-Polymerase Chain
Reaction with DNA Melting
Curve Analysis. J. Mol Diagn
7:81-88.














42

PRODUKSI ETANOL DARI HIDROLISAT
CARBOXY METHYL CELLULOSE (CMC)
Masfufatun
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya
Abstrak
Carboxy Methyl Cellulose (CMC) merupakan turunan selulosa yang mudah larut dalam air. Oleh
karena itu CMC mudah dihidrolisis menjadi gula-gula sederhana oleh enzim selulase dan selanjutnya
difermentasi menjadi etanol oleh bakteri.
Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari pola fermentasi Zymomonas mobilis ATCC 10988
yang menggunakan hidrolisat Carboxy Methyl Cellulose (CMC) sebagai substrat dalam produksi
etanol. Kadar etanol dari proses fermentasi dianalisa dengan Kromatografi Gas (GC). Setelah
fermentasi berlangsung selama 10 jam laju konsumsi glukosa (hidrolisat CMC) Zymomonas mobilis
meningkat dengan tajam yaitu sebesar 0,0967 g glukosa/L per jam. Sedangkan laju konsumsi glukosa
murni Zymomonas mobilis lebih besar dan lebih cepat yaitu 0,2581 g glukosa/L per jam setelah
fermentasi berlangsung 5 jam. Laju konsumsi hidrolisat CMC maupun glukosa murni mulai konstan
pada saat fermentasi berlangsung selama 30 jam. Fermentasi dengan menggunakan Hidrolisat Carboxy
Methyl Cellulose (CMC) sebagai substrat dihasilkan etanol sebesar 0,457 g/g glukosa atau yield etanol
sebesar 89,6% dibanding teori (0,0283 g etanol/g CMC).
Kata Kunci: Hidrolisis, hidrolisat Carboxy Methyl Cellulose,selulase,etanol

ETHANOL PRODUCTION FROM HYDROLYSED
CARBOXYMETHYL CELLULOSE (CMC)
Masfufatun
Lecturer Faculty of Medicine, University of Wijaya Kusuma Surabaya
Abstract
Carboxy Methyl Cellulose (CMC) is a derivative of cellulose soluble in water. Therefore, CMC easily
hydrolyzed into simple sugars by cellulase enzymes and subsequently fermented into ethanol by
bacteria.
The purpose of this research was to study the pattern of fermentation of Zymomonas mobilis ATCC
10988 using hydrolysed carboxy methyl Cellulose (CMC) as substrate in ethanol production. Levels of
ethanol from the fermentation process is analyzed by Gas Chromatography (GC). After fermentation
lasted for 10 hours the rate of consumption of glucose (hydrolysed CMC) Zymomonas mobilis by a
sharp increase in the amount of 0.0967 g glucose / L per hour. While the rate of consumption of pure
glucose and Zymomonas mobilis bigger faster is 0.2581 g glucose / L per hour after fermentation lasted
5 hours. The rate of consumption of pure glucose hydrolyzed CMC and began constant during
fermentation lasted for 30 hours. Fermentation by using hydrolysed carboxy methyl Cellulose (CMC)
as substrate produced ethanol at 0.457 g / g glucose or ethanol yield of 89.6% compared to theory
(0.0283 g ethanol / g CMC).

Keywords: Hydrolysis, hydrolysed carboxy methyl Cellulose, cellulase, ethanol

1. Pendahuluan
Kebutuhan energi bahan bakar
minyak, sampai saat ini masih disuplai oleh
bahan yang berasal dari fosil. Dengan
deposit terbatas dan tidak dapat
dtperbaharui, cepat atau lambat pasti habis.
Keterbatasan ini mendorong usaha
penghematan dan mencari sumber energi
pengganti. Alternatif penggunaan etanol
sebagai bahan bakar, salah satu
pemecahan masalah. Keuntungan dari
penggunaan etanol, dapat diproduksi terus
menerus, ramah lingkungan serta dapat
digunakan sebagai bahan baku industri
kimia, kosmetik dan farmasi
Produksi etanol di berbagai negara
telah dilakukan dengan menggunakan bahan
baku yang berasal dari hasil pertanian
dan perkebunan. Dengan demikian akan
menimbulkan pertentangan antara
kebutuhan produksi bahan bakar dan
penggunaan sebagai bahan pangan dan
pakan. Oleh karena Itu dilakukan upaya
mencari bahan baku alternatif lain dari
sektor non pangan untuk pembuatan etanol.
Salah satunya adalah dari bahan selulosa.

43

Di alam, selulosa banyak dijumpai
sebagai selulosa natif yang masih berikatan
dengan senyawa lainnya seperti lignin dan
selulosa. Adapula selulosa yang telah
dijadikan serbuk bahkan dimurnikan
dengan derajat kristalinitas tinggi seperti
avisel. Avisel lebih sukar larut dibandingkan
serbuk selulosa. Selain itu dikenal juga
beberapa senyawa turunan selulosa,
diantaranya adalah Carboxy Methyl Celulose
(CMC). Carboxy Methyl Celulose (CMC)
merupakan kopolimer dua unit -D glukosa
dan -D-glukopiranosa 2-O-
(karboksilmetil)-garam monosodium yang
terikat melalui ikatan -1,4-glikosidik.
Carboxy Methyl Cellulose (CMC)
memiliki kelarutan lebih tinggi daripada
selulosa, sehingga mudah dihidrolisis.
Hidrolisis Carboxy Methyl
Cellulose (CMC) menjadi gula-gula
sederhana dapat dilakukan dengan
menggunakan katalis asam, enzim maupun
mikroba selulolitik. Dari penelitian
sebelumnya dilaporkan bahwa hidrolisis
CMC secara enzimatis lebih
menguntungkan dibandingkan dengan
menggunakan asam maupun mikroba.
Selain tidak menimbulkan korosi,
hidrolisis secara enzimatis dapat
berlangsung lebih cepat pada kondisi
mild(T=50
o
C dan pH=5,2) dan kadar
glukosa yang dihasilkan lebih
tinggi(Masfufatun, 2009). Selanjutnya
Hidrolisat CMC yang mengandung
glukosa sebagai hasil hidrolsisis enzimatis
dijadikan sebagai bahan baku dalam
pembuatan etanol melalui proses
fermentasi. Berbagai mikroba telah
digunakan dalam fermentasi etanol.
Diantaranya adalah bakteri Zymomonas
mobilis.
Beberapa penelitian fermentasi
etanol dari berbagai substrat dengan
menggunakan mikroba Zymomonas
mobilis telah dilakukan, diantaranya
menggunakan substrat glukosa dengan
Zymomonas mobilis mutan oleh Muspahaji
(2008) dan Alfena (2009), glukosa dengan
Zymomonas mobilis amobil (Pancasning,
2008), sukrosa dengan Z. mobilis ATCC
10988 oleh Hany (2009), sari buah pisang
dengan Zymomonas mobilis FNCC 0056
oleh Imamah (2006), sari buah pepaya
oleh Sujito, (2008), limbah karet alam oleh
Ttripetchul dkk (1992), buah dan limbah
nanas dengan. Zymomonas mobilis ATCC
10988 oleh Tanaka dkk, (1999)
Oleh karena itu dalam penelitian
akan dilakukan fermentasi etanol dari
substrat hidrolisat Carboxy Methyl
Cellulose (CMC) dengan menggunakan
Zymomonas mobilis ATCC 10988. Tujuan
dari penelitian ini adalah untuk
mempelajari pola fermentasi hidrolisat
Carboxy Methyl Cellulose (CMC)
menjadi etanol oleh Zymomonas mobilis
ATCC 10988.

2. Eksperimen
Pembuatan Hidrolisat Carboxy Methyl
Cellulose (CMC)
Disediakan labu erlenmeyer 250 mL
dan diisi dengan 100 mL larutan Carboxy
Methyl Cellulose (CMC) dengan
konsentrasi optimum 4% dalam bufer
asetat pH optimum 5,2. Ke dalam larutan
tersebut ditambahkan 40 mL larutan enzim
selulase yang diisolasi dari bekicot
(Achatina fulica) kemudian diinkubasi
pada suhu optimum 50
o
C selama 22 jam
dengan kecepatan 160 rpm. Untuk
menghentikan proses hidrolisis dilakukan
pemanasan pada suhu 100
o
C. Kadar
glukosa dalam hidrolisat Carboxy Methyl
Cellulose (CMC) ditentukan dengan
menggunakan metode Somogyi-Nelson.

Proses Fermentasi etanol dari Hidrolisat
Carboxy Methyl Cellulose (CMC)
(Tanaka, 1999)
Regenerasi Zymomonas mobilis pada
media padat (Agar Miring)
Sebanyak 1 ose Zymomonas mobilis
diambil dengan menggunakan jarum ose.
Kemudian digoreskan di atas permukaan
agar miring dengan pola zig-zag. Semua
pemindahan dilakukan di dalam ruang
steril (laminary air flow) dekat dengan api
spiritus. Hasil pemindahan diinkubasi
pada suhu kamar selama 24 jam.
Produksi biomassa
Inokulum dibuat dengan
memindahkan sel Zymomonas mobilis
dari media agar miring ke labu 250mL
yang mengandung 50 mL media cair pH
5,5. Media yang telah diinokulasi ini
kemudian diinkubasi selama 20 jam pada
suhu 30
o
C dan dishaker 125 rpm.
Inokulum yang diperoleh ditransfer ke

44

labu 1 liter yang mengandung 450mL
media cair diinkubasi dan dishaker pada
kecepatan 125 rpm. Setelah 17-18 jam
inkubasi dihentikan sehingga diperoleh
biomassa/starter biakan Zymomonas
mobilis yang dipakai sebagai inokulat
pada proses fermentasi.
Proses Fermentasi
Sebanyak 200mL starter Zymomonas
mobilis disentrifus pada kecepatan 4000
rpm selama 30 menit. Biomassa yang
diperoleh disuspensikan dalam air steril
dan dimasukkan dalam labu 100 mL yang
berisi media fermentasi yang
menggunakan hidrolisat CMC sebagai
sumber karbonnya.. Media yang telah
dinokulasi ini diinkubasi pada suhu 30
o
C
selama beberapa jam dan dishaker pada
kecepatan 50 rpm. Sebagai kontrol
dilakukan fermentasi dengan
menggunakan glukosa murni sebagai
sumber karbonnya. Setiap interval 5 jam
diuji kadar gula dan etanol. Sebelum
dianalisa, hasil fermentasi disentrifuge
terlebih dahulu. Residu glukosa dianalisa
dengan metode Somogyi-Nelson dan
etanol yang dihasilkan dianalisa dengan
kromatografi gas.
Metoda Analisa
Analisa kadar glukosa
Analisa kadar glukosa dilakukan
dengan menggunakan metode Somogyi-
Nelson(Sudarmaji, 1984). Sebelum analisa
kadar glukosa dilakukan, terlebih dahulu
dibuat kurva standar glukosa. Dibuat
larutan glukosa dengan kadar 20, 40, 60,
dan 100 ppm. Sebanyak 1 mL larutan
tersebut dimasukkan dalam masing-
masing tabung reaksi kemudian
ditambahkan 1 mL pereaksi Nelson A.
Semua tabung dipanaskan dalam penangas
air mendidih selama 20 menit. Semua
larutan dalam tabung tersebut selanjutnya
didinginkan dalam beker gelas yang berisi
air dingin. Setelah dingin, kedalam
masing-masing tabung reaksi ditambahkan
1 mL peraksi Nelson B. Masing-masing
tabung dikocok hingga semua endapan
Cu
2
O larut. Setelah semua endapan Cu
2
O
larut dan tidak terdapat buih, ditambahkan
ke dalam masing-masing tabung reaksi
sebanyak 7 mL air suling dan dikocok
sampai homogen. Setelah homogen
kemudian diukur absorbansinya dengan
menggunakan spektrofotometer Genesys
pada panjang gelombang 540 nm. Kurva
standar glukosa dibuat dengan membuat
grafik hubungan antara kadar glukosa
sebagai gula reduksi dengan absorbansi.
Penentuan kadar glukosa pada
masing-masing sampel dilakukan dengan
cara yang sama dengan penentuan kadar
gula reduksi standar. Untuk penentuan
kadar gula pada proses fermentasi, sampel
diambil sebanyak 100 mL dalam setiap
interval waktu 5 jam selanjutnya
disentrifuse. Filtrat hasil sentrifuse diambil
1 mL untuk dilakukan pengukuran kadar
glukosa. Absorbansi yang diperoleh
diplotkan pada persamaan regresi linier
kurva standar glukosa, sehingga diperoleh
kadar glukosa.
Analisa Kadar Etanol
Sebelum analisa kadar etanol
dilakukan dengan menggunakan
kromatografi gas, terlebih dahulu sampel
disentrifuse untuk memisahkan
biomassanya. Filtrat hasil sentrifuse
dianalisa kadar etanolnya dengan
menggunakan kromatografi gas.
Kromatografi gas yang digunakan
untuk menganalisa kadar etanol adalah
kromatografi gas milik Universitas
Surabaya (Ubaya) dengan spesifikasi
sebagai berikut : Shimadzu GC 14 B,
Kolom CBP 10 medialy polar, detektor
FID, integrator CR 6 cromatopac,
temperatur kolom 180, temperatur injeksi
250C dan waktu retensi 4,2 menit.

3. Pembahasan
Hidrolisis Carboxy Methyl Cellulose
(CMC)
Hidrolisis Carboxy Methyl Cellulose
(CMC) secara Enzimatis
Hidrolisis Carboxy Methyl
Cellulose secara Enzimatis dilakukan
dengan menggunakan enzim selulase dari
bekicot (Achatina fulica) pada kondisi
optimum (pH 5,2, temperatur 50
o
C,
konsentrasi CMC 4% dan 10mL ekstrak
enzim) dalam waktu tertentu. Gambar 3.1
menunjukkan bahwa aktivitas optimum
ekstrak kasar enzim dicapai pada waktu
hidrolisis 22 jam dengan kadar glukosa
245,8 mg/100mL (61,45 mg glukosa/g
CMC).


45















Gambar 1. Kurva Hubungan antara Kadar Glukosa dengan Waktu Hidrolisis Menggunakan Enzim
Selulase

Dalam gambar 3.1 menunjukkan
penambahan waktu hidrolisis akan
meningkatkan kadar glukosa. Sisi aktif
enzim dalam mengikat substrat secara
optimum membutuhkan waktu yang
cukup. Jika waktu yang dikondisikan pada
enzim dan substrat kurang dari cukup,
maka sisi aktif enzim belum optimal
dalam mengikat substrat, sehingga produk
yang terbentuk masih sedikit pada saat
reaksi dihentikan. Pada saat waktu
hidrolisis optimum, substrat terikat secara
maksimum oleh sisi aktif enzim, sehingga
pada saat ini dihasilkan produk yang
melimpah. Produk glukosa yang
dihasilkan dari reaksi enzimatis sebanding
dengan lama waktu hidrolisis, tetapi jika
sisi aktif enzim telah jenuh oleh substrat,
maka lama waktu hidrolisis kurang
berpengaruh, sehingga produk yang
dihasilkan hanya mengalami peningkatan
yang relatif kecil.
Hasil hidrolisis enzimatis ini lebih
rendah jika dibandingkan dengan hasil
penelitian yang telah dilaporkan Saryono
(1991). Hidrolisis selulosa ampas nanas
dengan menggunakan bekicot dalam
waktu 6 jam menghasilkan glukosa
dengan kadar 660 mg/mL. Hal ini
disebabkan karena enzim selulase yang
digunakan dalam penelitian ini merupakan
ekstrak kasar belum dimurnikan dan
belum dipekatkan sehingga aktivitas lebih
rendah.

Fermentasi
Penyiapan Sel Zymomonas mobilis
Mikroorganisme yang digunakan
dalam penelitian ini adalah bakteri
Zymomonas mobilis ATCC 10988 .
Zymomonas mobilis ini memiliki
karakteristik sebagai bakteri Gram negatif,
anaerob tetapi toleran terhadap oksigen
atau biasa disebut anaerob fakultatif,
mampu memperfermentasi glukosa,
fruktosa dan sukrosa menghasilkan
sejumlah etanol dan CO
2
, tetapi tidak
dapat memfermentasikan manitol dan
laktosa, mampu menghasilkan enzim
katalase, tidak dapat menggunakan sitrat
sebagai sumber karbon serta tidak
memiliki enzim triptofanase dan gelatinase
(Hany, 2009).
Media pertumbuhan bakteri
Zymomonas mobilis terdiri dari glukosa,
yeast ekstrak, ammonium sulfat
(NH
4
)
2
SO
4
, Kalium Dihidrogen
Posfat(KH
2
PO
4
), Magnesium Sulfat
(MgSO
4
.7H
2
O). Glukosa berfungsi
sebagai sumber karbon, yeast ekstrak dan
garam amonium berfungsi sebagai sumber
nitrogen. Sedangkan garam-garam yang
lain seperti kalium dan magnesium
berfungsi sebagai aktivator dalam kerja
enzim (Schlegel, 1994)
Penyediaan biakan Zymomonas
mobilis meliputi 2 tahap yaitu penanaman
dalam media padat dan selanjutnya
penanaman dalam media cair. Penanaman
dalam media padat bertujuan untuk
memperbanyak stok biakan murni. Biakan
Zymomonas mobilis mampu tahan dalam
media padat selama dua minggu, sehingga
perlu diregenerasi/diremajakan setiap dua
minggu sekali. Pemindahan biakan
zymomonas mobilis dari media padat ke
0.00
50.00
100.00
150.00
200.00
250.00
300.00
0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22 24 26
Waktu Hidrolisis (jam)
K
a
d
a
r

G
l
u
k
o
s
a

(
m
g
/
1
0
0

m
L
)

46

media cair dengan tujuan untuk
memperoleh inokulum yang sudah
beradaptasi dengan lingkungan fermentasi.
Berdasarkan penelitian sebelumnya
(Hani,2009), telah ditentukan kurva
pertumbuhan Zymomonas mobilis.
Penentuan kurva pertumbuhan dilakukan
untuk mengetahui fase log atau
eksponensial bakteri Z. mobilis. Pada fase
log, pertumbuhan bakteri berlangsung
paling cepat. Dengan demikian fase ini
merupakan fase yang paling baik untuk
dijadikan inokulum dalam proses
fermentasi. Biomassa dipanen pada saat
pertumbuhan bakteri mencapai fase akhir
logaritma yaitu pada 17-18 jam. Pada fase
ini diharapkan mampu bekerja lebih baik
dalam proses fermentasi setelah
mengalami adaptasi dan memiliki ukuran
yang lebih seragam.

Menentukan Pola Fermentasi Etanol
Fermentasi etanol dilakukan
menggunakan proses anaerob, yaitu
dengan shaker sangat pelan 50 rpm.
Shaker pelan hanya difungsikan sebagai
penghomogenan larutan supaya bakteri
tidak mengendap dibawah untuk
mengoptimalkan proses fermentasi. Hal
ini karena Z. Mobilis bersifat anaerob
fakultatif (mampu tumbuh dalam
lingkungan tanpa atau dengan oksigen).
Dalam hal ini oksigen akan menekan
fermentasi dan menguntungkan respirasi
(Schlegel, 1994). Media fermentasi
menggunakan glukosa hasil hidrolisis
Carboxy Methyl Cellulose (CMC) secara
enzimatis sebagai sumber karbonnya
dengan konsentrasi 0,19%. Sedangkan
sumber nitrogen dan garam-garam lain
sama dengan media cair. Sebagai kontrol,
media fermentasi menggunakan glukosa
murni sebagai sumber karbon. Fermentasi
dilakukan pada media fermentasi pH
optimum 5,5 (Hani, 2009). Pola fermentasi
etanol menggunakan Zymomonas mobilis
ATCC 10988 ditentukan dengan
memantau pola konsumsi glukosa dan
produksi etanol setiap 5 jam selama 30
jam.
Berdasarkan teori kesetimbangan
reaksi yang berlangsung secara anaerobik,
glukosa secara enzimatis akan diubah
menjadi etanol dan karbondioksida. Pada
penelitian ini menggunakan glukosa
sebagai kontrol dikarenakan glukosa
memiliki struktur yang sederhana sehingga
lebih mudah dimanfaatkan oleh
mikroorganisme sebagi sumber karbon
dan sumber energi. Reaksi tersebut dapat
digambarkan sebagai berikut:
C
6
H
12
O
6
2 C
2
H
5
OH + 2 CO
2

Dari persamaan reaksi tersebut diatas
dapat diketahui bahwa jika 1 gram glukosa
(sebagai satu-satunya sumber karbon)
difermentasikan secara sempurna maka
etanol yang dihasilkan atau yield etanol
secara teoritis adalah 0,51 gram
etanol/gram glukosa (El-Mansi, 2007).
Artinya jika 10 gram glukosa
difermentasikan secara sempurna (semua
menjadi etanol) akan dihasilkan etanol
sebanyak 5,1 gram.
Dalam setiap proses fermentasi
seiring dengan berjalannya waktu akan
terjadi peningkatan jumlah etanol yang
dihasilkan dan penurunan jumlah residu
glukosa. Hal ini karena glukosa yang
tersedia sebagai substrat akan secara
bertahap dimanfaatkan oleh
mikroorganisme untuk diubah menjadi
etanol. Penggambaran lebih jelas dapat
dipahami dari gambar 2.
Dari Gambar 2 pola fermentasi
menggunakan substrat hidrolisat Carboxy
Methyl Cellulose (CMC) menunjukkan
bahwa dalam waktu 5 jam belum nampak
kenaikan kadar etanol dan penurunan
kadar glukosa yang berarti. Hal ini
dikarenakan selama waktu 5 jam
Zymomonas mobilis melakukan adaptasi
terhadap media fermentasi yang berbeda
dengan media cair. Di dalam hidrolisat
Carboxy Methyl Cellulose (CMC) selain
glukosa juga terdapat senyawa lain seperti
selobiosa, selotriosa, selotetrosa dan lain-
lain (Sreenath, 2002). Setelah fermentasi
berlangsung selama 10 jam laju konsumsi
glukosa (hidrolisat CMC) Zymomonas
mobilis meningkat dengan tajam yaitu
sebesar 0,0967 g glukosa/L per jam.
Sedangkan laju konsumsi glukosa murni
Zymomonas mobilis lebih besar dan lebih
cepat yaitu 0,2581 g glukosa/L per jam
setelah fermentasi berlangsung 5 jam. Laju
konsumsi hidrolisat CMC maupun glukosa
murni mulai konstan pada saat fermentasi
berlangsung selama 30 jam.


47





















Gambar 2. Pola produksi etanol dan Konsumsi Glukosa pada Fermentasi

Fermentasi etanol selama 30 jam
dengan menggunakan glukosa murni
0,199% sebagai substrat (kontrol)
menghasilkan etanol adalah 0,47 g
etanol/g gula reduksi, artinya memberikan
yield etanol sebesar 92,38% dibanding
teori. Sedangkan fermentasi dengan
menggunakan hidrolisat Carboxy Methyl
Cellulose (CMC) sebagai substrat
menghasilkan etanol sebesar 0,457 g
etanol/g gula reduksi, artinya memberikan
yield etanol sebesar 89,6 % dibanding
teori. Yield etanol yang dihasilkan dari
fermentasi menggunakan hidrolisat CMC
tidak berbeda jauh jika dibandingkan
dengan kontrol. Hal ini menunjukkan
bahwa hidrolisat CMC hanya
berpengaruh pada awal fermentasi saja.
Berdasar data hasil penelitian
tersebut diatas maka dapat dikatakan
bahwa hidrolisat Carboxy Methyl
Cellulose (CMC) dapat dijadikan sebagai
substrat alternatif pengganti glukosa dalam
pembuatan etanol.


KESIMPULAN
Dari penelitian yang telah dilakukan
maka dapat disimpulkan bahwa
Fermentasi dengan menggunakan
hidrolisat Carboxy Methyl Cellulose
(CMC) sebagai substrat selama 30 jam
dihasilkan etanol sebesar 0,457 g/g
glukosa atau yield etanol sebesar 89,6 %
dibanding teori (0,028g etanol/g CMC)
dengan laju konsumsi hidrolisat CMC
tertinggi sebesar 96,7 mg glukosa/L per
jam pada saat fermentasi berlangsung 10
jam.
Dengan demikian hidrolisat
Carboxy Methyl Cellulose memiliki
potensi sebagai bahan baku untuk
pembuatan etanol.

DAFTAR PUSTAKA

Alfena, (2009), Produksi Etanol
Menggunakan Mutan Zymomonas
mobilis yang Dimutasi dengan
Hidroksilamin, Skripsi, ITS,
Surabaya.

Bhat, M.K., (1997), Cellulose Degrading
Enzymes and Their Potential
Industrial Applications, Food
Macromolecul Science
Departement, Institute pf Food
Research. Biotechnology
Advances. Vol.15. 583-620

Doelle, M. B & Doelle, H. W. (1989).
Ethanol Production from Sugar Cane
Syrup using Zymomonas mobilis.
J. Biotechnol. 11: 25-36

Dipardo, J., (2000), Outlook for biomass
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
0 5 10 15 20 25 30 35
waktu fermentasi (jam)

y
i
e
l
d

e
t
a
n
o
l

t
e
o
r
i
t
i
s

(
%
)
0
0.05
0.1
0.15
0.2
0.25
R
e
s
i
d
u

G
l
u
k
o
s
a

(
g
/
1
0
0
m
L
)
kontrol (glukosa) Hidrolisat CMC
residu glukosa (kontrol) residu glukosa HCMC

48

ethanol production. Energy
information
administration.Available from
http://www.eia.doe.qov/oiaf/ana
lysis paper/biomass.html.

Fardiaz, S. (1987), Fisiology Feementasi,
PAU Pangan dan Gizi, IPB,
Bogor

Gunasekaran, P & Raj, K.C.(1999)
Ethanol Fermentation
Tecnology- Zymomonas
mobilis, Departemen of
microbial Technology, School
of Biological Sciences,
Mandurai Kamaraj University,
India.

Hanny,S.H., (2009), Penentuan pH
Optimum dalam Produksi
Bioetanol dengan
Menggunakan Zymomonas
mobilis ATCC 19088, Skripsi,
Fakultas Teknobiologi,
Universitas Surabaya.

Hermiati, Euis dan Endang Sukara,
(2005), Konversi Bahan
Berlignoselulosa menjadi
Bioenergi Etanol, dalam
seminar Nasional Biomassa
Ligno-Selulosa. Jurusan Kimia
FMIPA Universitas Airlangga
Surabaya

Imamah Anisah, (2006), Pemanfaatan Sari
Buah Pisang Sebagai Substrat
Untuk Pembuatan Etanol
Dengan Menggunakan
Zymomonas Mobilis, Thesis
Magister, Institut Teknologi
Sepuluh Nopember, Surabaya.

Muspahaji (2008). Pembuatan mutan
Zymomonas mobilis yang tahan
terhadap asam untuk produksi
etanol dengan mutagen HNO
2
,
Thesis, Jurusan Kimia FMIPA,
ITS Surabaya

Saryono,(1991), Hidrolisa Selulosa Ampas
Nanas, Ananas comucus dengan
Enzim Selulase dari Bekicot,
Achatina fulica, Master theses,
Departemen Teknik Sipil ITB,
Bandung.

Silaban, Ramlan., (1999), Enzim
Selulolitik pada Bakteri
Pseudomonas alchaligenes
PaAf-18, PhD Theses from
JBPTITBPP, Bandung

Schlegel, H.G, (1994), Mikrobiologi
Umum, Gajah Mada University Press.

Sudarmadji, S., Haryono,B., Harsono.,
(1984), Prosedur Analisa untuk
Bahan Makanan dan
Pertanian, Liberti, Yogyakarta
Tanaka, K. Hilary, Z. D., & Ishizaky,
(1999) A Investigation of the
Utility of Pineapple Juice and
Pineapple Waste Material as
Low-Cost Substrate for Ethanol
Fermentation by Zymomonas
mobilis, J.Biosci Bioeng Vol 87
No 5: 642-646.

Tripetchkul, S., Tonokawa, M., dan
Ishizaki, A. (1992) Ethanol
Production by Zymomonas
mobilis Using Natural Rubber
Waste as a Nuritional Source
J. Ferment. Bioeng Vol. 74,
No.6: 384-388.



















49

PERANAN STATUS HORMONAL ER, PR DAN HER-2/neu
DENGAN TERAPI KANKER PAYUDARA
Jimmy Hadi Widjaja
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya
ABSTRAK
Kanker payudara merupakan keganasan tersering dan menjadi penyebab utama kematian pada wanita
di seluruh dunia. Status homonal melalui ekspresi estrogen receptors (ER) dan progesterone receptors
(PR) telah lama digunakan untuk menentukan kesesuaian penderita terhadap terapi endokrin.
Belakangan ini pemeriksaan human epidermal growth factor receptor-2 (HER-2/neu) telah digunakan
sebagai petanda prognosis dan untuk memprediksi respon terhadap trastuzumab (Herceptin
TM
). Namun
sekarang tidak sedikit dijumpai penderita karsinoma duktal invasif payudara dengan ekspresi ER, PR
dan HER-2/neu yang negatif (triple negative tumors). Untuk penderita dengan triple negative tumors
ini perlu diadakan penelitian lebih lanjut untuk menemukan petanda prognosis dan target terapi baru.
Kata kunci : karsinoma duktal invasif payudara, ER, PR, HER-2/neu

ROLE OF HORMONAL STATUS ER, PR and HER-2/neu
WITH BREAST CANCER THERAPY
Jimmy Hadi Widjaja
Lecturer Faculty of Medicine, University of Wijaya Kusuma Surabaya
ABSTRACT
Invasive ductal carcinoma is the most common malignancy and main mortality cause in woman.
Hormonal status (ER and PR expression) was long used as patient suitability for hormonal therapy.
Recently human epidermal growth factor receptor-2 (HER-2/neu) examination is used as prognostic
factor and to predict respons to trastuzumab (Herceptin
TM
). But lately there are many patient with ER,
PR and HER-2/neu negative (triple negative tumors). For these patients we should find new prognostic
factor, and therapeutical target.
Keywords : invasive ductal carcinoma, ER, PR, HER-2/neu

PENDAHULUAN
Kanker payudara merupakan
keganasan tersering dan menjadi penyebab
utama kematian pada wanita di seluruh
dunia, dengan jumlah lebih dari 1.000.000
kasus setiap tahun (Rosai J, 2004).
Menurut WHO 8-9% wanita akan
mengalami kanker payudara. Ini
menjadikan kanker payudara sebagai jenis
kanker yang paling banyak ditemui pada
wanita. Setiap tahun lebih dari 250.000
kasus baru kanker payudara terdiagnosa di
Eropa dan kurang lebih 175.000 di
Amerika Serikat. Masih menurut WHO,
tahun 2000 diperkirakan 1,2 juta wanita
terdiagnosa kanker payudara dan lebih
dari 700.000 meninggal karenanya. The
US Centre for Disease Control and
Prevention (CDC) melaporkan bahwa
pada akhir 2004, sejumlah 215.990 wanita
di Amerika Serikat di diagnosis sebagai
kasus baru kanker payudara, dan 40.580
wanita di Amerika meninggal karena
penyakit ini pada akhir tahun. Data Badan
Registrasi Kanker (BRK) Indonesia tahun
1998, menunjukkan kanker payudara
menduduki urutan ke-2 terbanyak dari
seluruh keganasan pada wanita di seluruh
sentra Patologi Anatomi di Indonesia,
dengan jumlah 2671 kasus. Karsinoma
payudara juga dapat menyerang pria tetapi
kemungkinannya sangat kecil, yaitu 1/100
dari wanita. Kesempatan kanker
berkembang dengan pesat sangat
tergantung umur, semakin tua usia
semakin cepat kanker berkembang.
Invasive ductal carcinoma (IDC)
adalah tipe karsinoma mamma terbanyak,
merupakan kelompok yang heterogen
yang tidak menunjukkan karakteristik
khusus untuk tipe histologi tertentu.
Faktor-faktor prognostik yang digunakan
saat ini masih belum memberikan cukup
informasi untuk memberikan perkiraan
resiko dan rencana terapi yang akurat,
yang menekankan dibutuhkannya faktor
prognosis dan terapi tambahan (Stendahl
M, 2004).
Status hormonal melalui ekspresi
estrogen receptors (ER) dan progesterone
receptors (PR) telah lama digunakan untuk
menentukan kesesuaian penderita untuk

50

terapi endokrin. Belakangan ini
pemeriksaan human epidermal growth
factor receptor-2 (HER-2/neu) telah
dimasukkan ke dalam pemeriksaan rutin
karena fungsinya sebagai petanda
prognosis dan khususnya untuk
memprediksi respons terhadap tratuzumab
(Herceptin
TM
) (Payne SJL, 2008). Namun
sekarang tidak sedikit dijumpai penderita
karsinoma duktal invasif payudara dengan
ekspresi ER, PR, dan HER-2/neu yang
negatif (triple negative tumors). Untuk
penderita dengan triple negative tumors ini
perlu diadakan penelitian lebih lanjut
untuk menemukan petanda prognosis dan
target terapi baru. HER-2/neu dan estrogen
receptors (ER) telah banyak diketahui
mempunyai kapasitas proliferasi sel.

TINJAUAN TENTANG ESTROGEN
RECEPTORS (ER)
Estrogen receptors (ER)
pertamakali diidentifikasi oleh Elwood V.
Jensen di University of Chicago pada
tahun 1950. Kemudian pada tahun 1996
Kuiper berhasil mengidentifikasi gen
untuk ER pada prostat dan ovarium tikus
(Kuiper, 2006).
ER mungkin merupakan faktor
prediktif yang paling utama yang diperiksa
pada karsinoma payudara. Sekitar
duapertiga wanita penderita karsinoma
payudara berumur <50 tahun mempunyai
ekspresi ER positif, sementara sekitar 80%
tumor pada wanita berusia >50 tahun
adalah ER positif. Hal ini mempunyai
implikasi terapeutik yang signifikan
(Payne SJL, 2008). Secara umum
konsentrasi ER lebih rendah pada wanita
premenopause daripada post menopause.
Fisher et al. menyatakan bahwa adanya
ER berhubungan secara signifikan dengan
derajat inti yang tinggi dan derajat
histopatologi yang rendah, tidak adanya
nekrosis, dan usia pasien yang lebih tua
(Rosai J, 2004).
ER mengalami over-ekspresi pada
sekitar 70% kanker payudara yang
kemudian disebut ER positif. Mekanisme
proses karsinogenesis pada kanker
payudara dapat terjadi melalui ikatan
estrogen pada ER, menstimulasi
proliferasi sel-sel payudara yang
menimbulkan peningkatan pembelahan sel
dan replikasi DNA yang menimbulkan
mutasi, dan metabolisme estrogen
memproduksi limbah yang toksik terhadap
gen dan metabolit yang menyebabkan
mutasi. Kedua proses akan menyebabkan
inisiasi, promosi, dan proses
karsinogenesis (Yager JD, 2006). Hal ini
menyebabkan ER mempunyai peran
penting dalam proses karsinogenesis, dan
penghambatannya melalui targeting
endokrin, baik secara langsung dengan
menggunakan agonis lemah estrogen
(selective estrogen receptor modulators)
maupun secara tidak langsung dengan
mengeblok perubahan androgen menjadi
estrogen (misalnya : aromatase, inhibitor),
merupakan terapi terhadap kanker
payudara. Tumor payudara yang ER+ dan
/ atau PR+ mempunyai resiko mortalitas
lebih rendah daripada ER- dan / atau PR-
(Payne SJL, 2008).
Paparan terhadap estrogen adalah
faktor resiko untuk kanker payudara.
Hormon ini menimbulkan efeknya melalui
reseptor estrogen, yang merupakan protein
inti, terdiri dari 2 subtipe, ER dan ER.
Keduanya merupaan faktor transkripsi
yang memperantarai kerja estrogen.
Keduanya mengikat estradiol pada lokasi
yang sama, namun berbeda afinitas dan
respon yang dihasilkannya. ER
ditemukan lebih dulu, dan kemudian
diubah namanya dari ER menjadi ER
saat ditemukan subtipe yang kedua. ER
positif pada hampir 70% kanker payudara,
namun nilai prediktifnya tidak ideal
karena sekitar sepertiga kanker payudara
yang metastase dengan ER+ tidak
merespon terapi hormonal. Er lebih
sedikit dikenal, dan sebagian besar data
klinis yang tersedia mengacu pada ER
(Payne SJL, 2008). Kedua bentuk reseptor
estrogen ini dikode oleh gen yang berbeda,
yaitu ESR1 dan ESR2 pada kromosom 6
dan 14 (6q25 dan 14q). Kedua reseptor ini
diekspresikan secara luas pada berbagai
jaringan, yang berbeda, dengan pola
ekspresi yang berbeda pula. ER
ditemukan pada endometrium, sel-sel
kanker payudara, sel stroma ovarium, dan
di hipothalamus. Er ditemukan pada
ginjal, otak, tulang, jantung, mukosa usus,
prostat, dan sel-sel endotel. ER dalam fase
unligand merupakan reseptor sitoplasma,
namun penelitian menunjukkan adanya
fraksi ER yang bergeser ke dalam inti

51

(Levin ER, 2005). ER berhubungan
dengan tumor yang mempunyai derajat
diferensiasi lebih baik, sementara
keterlibatan Er masih diperdebatkan.
ER berikatan dengan hormon
estradiol dan pada obat anti kanker
Tamoxifen (3ERT). Keduanya berikatan
pada ujung yang berbeda, yang
menimbulkan aktivitas yang berbeda pula
(agonis dan antagonis). Konsep dari
modulator selektif terhadap ER dibuat
berdasarkan kemampuan untuk memicu
interaksi ER dengan protein-protein yang
berbeda apakah protein tersebut berfungsi
sebagai ko-aktivator atau ko-represor.
Rasio dari ko-aktivator dan ko-represor ini
bervariasi pada masing-masing jaringan.
Dan akibatnya ligand yang bersifat agonis
(pada organ-organ dimana ko-aktivator
dominan) pada beberapa jaringan mungkin
bersifat antagonis pada jaringan yang lain
(pada organ-organ dimana ko-represor
dominan). Contohnya Tamoxifen, yang
bersifat antagonis di payudara dan
digunakan untuk terapi kanker payudara,
pada tulang bahan ini bersifat agonis
(sehingga bisa mencegah osteoporosis),
dan agonis parsial pada endometrium
(meningkatkan resiko kanker kandungan).
Apabila tidak ada hormon
estrogen, ER sebagian besar terletak pada
sitosol. Ikatan pada reseptor memicu
perpindahan reseptor dari sitosol ke inti,
kemudian berikatan dengan DNA.
Kompleks yang terbentuk kemudian
meregulasi sintesa protein yang akan
menimbulkan perubahan fungsi sel.
Sebagian ER terletak pada permukaan
membran sel dengan perlekatan pada
caveolin-1 dan membentuk kompleks
dengan protein G, striatin, reseptor tyrosin
kinase (misal : EGFR dan IGF-1) dan non
reseptor tyrosin kinase (misal : Src).
Melalui striatin ER meningkatkan kadar
Ca2+ dan NO. Melalui reseptor tyrosin
kinase, beberapa signal dikirimkan ke inti
melalui jalur mitogen activated protein
kinase (MAPK/ERK) dan jalur
phosphoinositide 3-kinase (PI2K/AKT).
Glycogen synthase kinase-3 (GSK-3)
menghambat transkripsi melalui ER yang
terletak di inti dengan menghambat
fosforilasi serine 118 dari nuclear ER.
Fosforilasi ini menghilangkan efek
inhibitor ER. 17-estradiol mengaktivasi
GPR 30 (sebuah G protein-coupled
receptor). Namun letak dan fungsi reseptor
ini masih merupakan suatu kontroversi.
Terapi endokrin untuk kanker
payudara melibatkan selective estrogen
receptor modulators (SERMS) yang
bertindak sebagai ER antagonis pada
jaringan payudara atau inhibitor
aromatase. SERM yang lain, raloxifene
telah digunakan sebagai kemoterapi
preventif untuk wanita yang beresiko
tinggi mengidap kanker payudara. Obat
kemoterapi lain, Faslodex yang bertindak
sebagai antagonis juga meningkatkan
degradasi ER (Fabian CJ, 2005).
Selain pada kanker payudara,
estrogen dan ER juga tampak berperan
dalam kanker ovarium, kanker usus besar,
kanker prostat, dan kanker endometrium.
Kanker usus besar tahap lanjut
dihubungkan dengan hilangnya ekspresi
Er, ER yang dominan di jaringan usus
besar, dan kanker usus besar di terapi
dengan agonis spesifik Er.

TINJAUAN TENTANG
PROGESTERONE RECEPTORS (PR)
Progesterone Receptors (PR)
adalah gen yang diregulasi oleh estrogen,
karena itu ekspresinya mengindikasikan
adanya jalur ER yang sedang aktif.
Penilaian ekspresi PR dapat membantu
memprediksi respons terhadap terapi
hormonal secara lebih akurat. Sejalan
dengan hal ini ada beberapa fakta yang
menyatakan bahwa tumor-tumor dengan
ekspresi PR yang positif mempunyai
respons lebih bagus terhadap tamoxifen,
baik pada penderita dengan metastase dan
sebagai terapi adjuvant. Sekitar 55-65%
kanker payudara adalah PR+. Tumor-
tumor PR+ menunjukkan prognosis lebih
bagus daripada PR-. Dari penelitian-
penelitian yang sudah ada telah dinyatakan
bahwa PR+ sangat sedikit didapatkan pada
tumor dengan ER-, sehingga PR yang
positif kuat pada kasus dengan ER yang
tampaknya negatif bisa merupakan
indikator adanya ER negatif palsu (Ellis
IO, 2003). PR mungkin dapat terdeteksi
pada kasus-kasus dengan ER negatif. Hal
ini antara lain dapat disebabkan karena
pulasan ER yang negatif palsu, level ER
yang sangat rendah, atau varian ER yang
terdapat dalam jaringan tersebut tidak

52

dikenali oleh antibodi yang digunakan.
Nilai prediktif dari PR positif pada
penderita dengan ER negatif masih
merupakan kontroversi, beberapa laporan
mengatakan PR positif pada kasus ER
negatif didapatkan pada kelompok
penderita yang lebih responsif terhadap
terapi hormonal, namun temuan ini tidak
universal (Payne SJL, 2008).
Selama ini ER digunakan sebagai
determinan utama respon terhadap
hormonal terapi pada kanker payudara.
Sekitar 40% tumor ER+ mempunyai
ekspresi PR-. Dan hanya 1-2% tumor ER-
yang mempunyai ekspresi PR+.
Berdasarkan ekspresi hormonalnya kanker
payudara dapat dikelompokkan menjadi 4
: kelompok positif ganda (ER+/PR+),
positif tunggal (ER+/PR- dan ER-/PR+),
serta negatif ganda (ER-/PR-). Tumor
positif ganda (55-65% kanker payudara)
mempunyai prognosis yang lebih bagus
dan respons yang bagus terhadap
hormonal terapi. Kelompok ini juga
dikaitkan dengan umur yang lebih tua,
derajat yang lebih rendah, ukuran tumor
lebih kecil, dan mortalitas yang rendah.
Dunwald et al. menyatakan bahwa
hubungan antara angka kematian dengan
ekspresi reseptor hormonal tidak terkait
terhadap stage, umur atau grade dari
kankernya. Tumor yang negatif ganda
yang merupakan kelompok terbesar kedua
(18-25%) sekitar 85%-nya merupakan
tumor derajat 3, dan dihubungkan dengan
tingkat rekurensi yang tinggi, ketahanan
yang rendah, dan tidak responsif terhadap
terapi hormonal. Sementara untuk
kelompok yang positif tunggal, ER+/PR-
(12-17%) dan ER-/PR+ (1-2%) masih
belum banyak dimengerti konsekuensinya.
Kelompok ini dapat dihubungkan dengan
derajat histopatologi yang tinggi,
prognosis yang buruk, dan ukuran tumor
yang besar (Ellis IO, 2003).

METODOLOGI PENILAIAN
RECEPTOR HORMONAL
Immunohistokimia (IHK) saat ini
merupakan metode standar untuk
menentukan status reseptor hormonal.
Prosedur ini dapat diterapkan pada
jaringan hasil core biopsy maupun bahan
dari eksisi. Fiksasi yang kurang bagus
dapat mempengaruhi hasil ER, dan kontrol
yang positif kuat, positif lemah, dan
negatif harus ada pada setiap proses
pewarnaan IHK. Level ER dan PR perlu
dinilai pada masing-masing penderita
karena ER dan PR yang negatif
mengidentifikasikan respons yang kurang
terhadap terapi hormonal. Pada kasus
dengan ER positif lemah namun PR positif
kuat, terapi hormonal masih dapat
memberikan hasil yang cukup bagus
(Payne SJL., 2008).
Sistem skoring yang banyak
direkomendasikan adalah quick score
(Allred Score), yang menggabungkan
intensitas dan proporsi sel yang tercat
positif, dengan skor maksimal 8 (Tabel 1).
Bahkan penderita dengan skor 2 masih
dapat memperoleh keuntungan dari terapi
hormonal adjuvan (Payne SJL, 2008).
Hasil pulasan IHK, reseptor
hormonal ini sangat sensitif terhadap
teknis pewarnaan sehingga teknis yang
tidak optimal dapat menyebabkan negatif
palsu pada kasus-kasus dengan level
reseptor yang rendah, yang masih dapat
memberikan respons terhadap terapi
hormonal (Payne SJL, 2008).
Selain dengan IHK, reseptor
hormonal bisa dinilai dari blok parafin
dengan menggunakan teknik hibridisasi in
situ dan PCR. Status hormonal tidak
banyak berhubungan dengan jenis
karsinoma payudara. Tidak ada perbedaan
signifikan antara tipe lobular dan duktal,
dan beberapa studi menunjukkan bahwa
sebagian besar medullary carcinoma dan
karsinoma intraduktal tipe
comedocarcinoma menunjukkan hasil
yang negatif, sementara mucinous
carcinoma mempunyai nilai positif yang
tinggi (Rosai J, 2004).

Quick (Allred) Score untuk menilai ekspresi reseptor hormonal
Intensity of
immunoreactivity
Score Proportion reactive Score
No reactivity 0 No reactivity 0
Weak reactivity 1 <1% nuclei reactive 1
Moderate 2 1-10% nuclei reactive 2

53

Strong reactivity 3 11-33% nuclei reactive 3
- 34-66% nuclei reactive 4
- 67-100% nuclei reactive 5

TINJAUAN TENTANG HER-2/neu
Human epidermal growth factor
receptor-2 onkogen ERBB2 (lebih sering
disebut sebagai HER-2) mengkode
epidermal growth factor receptor (EGFR)
famili dari tyrosine kinase dan terletak
pada kromosom 17q21. Gen tersebut
sangat penting untuk diferensiasi, adhesi,
dan motilitas sel. HER-2 positif pada
sekitar 18-20% kanker payudara. HER-2
positif sering diasosiasikan dengan
diferensiasi yang buruk, metastase ke
kelenjar getah bening, rekurensi, dan
tingkat kematian yang tinggi sehingga
prognosisnya buruk (Payne SJL, 2008).
Peneliti lain menyatakan bahwa ekspresi
HER-2/neu yang tinggi berhubungan
dengan derajat histopatologi yang tinggi,
ketahanan yang menurun, dan respons
terhadap methotrexate dan modulator
reseptor hormonal yang menurun, dan
respons terhadap doxorubicine yang
meningkat. Selain itu juga dikaitkan
dengan ukuran tumor yang lebih besar,
metastase ke kelenjar getah bening, serta
angka ketahanan yang lebih buruk (Lee A,
2007).
Status HER-2 merupakan faktor
prediktif untuk respons terhadap
kemoterapi dengan menggunakan
trastuzumab (Herceptin
TM
, Genetech,
South San Fransisco, CA, USA).
Trastuzumab adalah antibodi monoklonal
yang pada beberapa studi terbukti
memperbaiki survival baik sebagai agen
tunggal maupun kombinasi dengan
kemoterapi pada penderita kanker
payudara dengan metastase. Pernah
dilaporkan pula, lapatinib (Tykerb;
GlaxoSmithKline, Philadelphia, USA)
yang merupakan inhibitor terhadap HER-2
dan EGFR tyrosine kinase, menunjukkan
hasil yang baik dengan kombinasi
capecitabine (Payne SJL., 2008).
Imunohistokimia digunakan untuk
mendeteksi ekspresi protein HER-2. Saat
ini antibodi yang banyak digunakan adalah
CB11 (Novocastra, Newcastle upon Tyne,
UK), TAB 250 (Zymed, San Fransisco,
CA, USA), dan polyclonal anti-sera
A0485 (DakoCytomation). Validasi dari
metode imunohistokimia memastikan
bahwa imunoreaktivitas pada membran
yang kuat hanya terdeteksi pada kasus-
kasus yang secara Fluorescence in situ
hybridization (FISH) positif. Skor untuk
menilai ekspresi HER-2 terdiri dari grade
0 sampai +3, berdasarkan pada penilaian
intensitas reaksi dan prosentase sel-sel
yang positif. Yang terhitung positif hanya
reaksi membran yang komplit pada area
yang invasif, sehingga membentuk
gambaran yang menyerupai chicken
wire. (Payne SJL, 2008)
Panduan yang dipakai saat ini
menyatakan bahwa pada kasus-kasus
borderline (HER-2 positif 2) perlu
dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan
FISH. Analisa imunohistokimia harus
diulang atau dikonfirmasi dengan FISH
apabila : kontrol tidak sesuai dengan
harapan, didapatkan banyak artefak,
sampel menunjukkan reaksi positif kuat
pada membran sel duktuli normal (kontrol
internal) yang menunjukkan adanya
antigen retrieval yang berlebih.
Fluorescence in situ hybridization
(FISH) adalah teknik sitogenetik yang
dapat digunakan untuk mengidentifikasi
adanya kromosom atau bagian dari suatu
kromosom dengan hibridisasi probe DNA
kromosom yang telah terdenaturasi dengan
menggunakan fluorescence. Sebaiknya
smpel untuk pemeriksaan FISH tidak
disimpan selama > 6 bulan. Hendaknya
dilakukan pemeriksaan dengan HE juga
untuk menentukan lokasi dari tumor yang
invasif.
Chromogenic in situ hybridization
(CISH) menyerupai FISH namun
menggunakan metode chromogenic untuk
mendeteksi, sehingga dapat dilihat dengan
menggunakan mikroskop cahaya.
Persiapan jaringan dan prosedur
hibridisasinya serupa dengan FISH.

PENUTUP
Invasive ductal carcinoma (IDC)
adalah tipe karsinoma mamma terbanyak,
merupakan kelompok yang heterogen
yang tidak menunjukkan karakteristik
khusus untuk tipe histologi tertentu.

54

Faktor-faktor prognostik yang digunakan
saat ini masih belum memberikan cukup
informasi untuk memberikan perkiraan
resiko dan rencana terapi yang akurat.
Status hormonal melalui ekspresi
estrogen receptors (ER) dan progesterone
receptors (PR) telah lama digunakan untuk
menentukan kesesuaian penderita untuk
terapi endokrin. Belakangan ini
pemeriksaan human epidermal growth
factor receptor-2 (HER-2/neu) telah
dimasukkan ke dalam pemerikssaan rutin
karena fungsinya sebagai petanda
prognosis.

DAFTAR PUSTAKA
1. Alao JP. 2007. The Regulator of
Cyclin D1 degradation: Roles in
cancer development and the
potential for therapeutic invention.
2. Ellis IO, Schinitt SJ, Sastre GX, et
al. 2003. Invasive Breast
Carcinoma in World Health
Organization Classification of
Tumours Pathology & Genetics
Tumours of the Breast and Female
Genital Organs. IARC, p13-59.
3. Fabian CJ, Kimler BF. 2005.
Selective estrogen-receptor
modulators for primary prevention
of breast cancer. J. Clin. Oncol.
23(8): p1644-55.
4. Kuiper GG, Enmark E, Pelto-
Huikko M, Nilsson S, Gustafsson
JA. 1996. Cloning of a novel
receptor expressed in rat prostate
and ovary. Proc. Natl. Acad. Sci.
USA, 93(12): p5925-30.
5. Lee A, Park WC, Yim HW, Lee
MA, Park G, Lee KY. 2007.
Expression of c-erbB2, cyclin D1
and Estrogen Receptor and their
Clinical Implications in the
Invasive Ductal Carcinoma of the
Breast. Japan Journal of Clinical
Oncology 37(9): p708-714.
6. Levin ER. 2005. Integration of the
extranuclear and nuclear actions
of estrogen. Mol. Endocrinol.
19(8):p1951-9.
7. Payne SJL, Bowen RL, Jones JL
& Wells CA. 2008. Predictive
markers in breast cancer-the
present. Histopathology; 52: p82-
90
8. Rosai J. 2004. Breast, In Rosai
and Ackermans Surgical
Pathology, 9th ed. Philadelphia :
Elsevier, p1763-1877.
9. Stendahl M, Kronblad A, Ryde L,
Emdin S, Bengtsson NO,
Landberg G. 2004. Cyclin D1
overexpression is a negative
predictive factor for tamoxifen
response in postmenopausal breast
cancer patients. Cancer Research
UK: British Journal of Cancer; 90:
p1942-1948.
10. Yager JD, Davidson NE. 2006.
Mechanisms of disease, Estrogen
Carcinogenesis in Breast Cancer.
New England Journal of
Medicine; 354: p270-82.

































55

ENTEROBACTER SAKAZAKI I (CRONOBACTER SAKAZAKI I ) :
SEBAGAI BAKTERI PENCEMAR SUSU BUBUK FORMULA BAYI
Asih Rahayu
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya
Abstrak :
Enterobacter sakazakii (Cronobacter sakazaki) adalah bakteri batang gram negatif , fakultatif anaerob
dari famili Enterobacteriaceae. Bakteri ini tidak mempunyai kemampuan membentuk endospora.
Enterobacter sakazakii bukan merupakan flora normal pada saluran pencernaan hewan atau manusia,
sehingga diduga bahwa lingkungan , tanah, air, sayuran, tikus dan lalat merupakan sumber infeksi.
Pencemaran susu bubuk formula bayi oleh Enterobacter sakazakii terjadi karena kontaminasi eksternal
yaitu penanganan yang buruk saat merekonstitusi susu formula dengan air atau karena kontaminasi
internal selama produksinya. Codex Alimentarius Commission, FAO/WHO bekerjasama dengan
lembaga-lembaga pakar dan negara anggota Codex telah menerbitkan panduan Codex tentang proses
dan pengujian susu formula untuk produsen susu formula, serta panduan bagi rumah sakit maupun
rumah tangga dalam menyiapkan susu formula untuk diberikan pada bayi.
Kata Kunci : Enterobacter sakazakii (Cronobacter sakazakii), susu bubuk formula bayi, codex

ENTEROBACTER SAKAZAKII (CRONOBACTER SAKAZAKII) :
AS CONTAMINANT BACTERIA IN POWDERED INFANT FORMULA
Asih Rahayu
Lecturer Faculty of Medicine, University of Wijaya Kusuma Surabaya
Abstract :
Enterobacter sakazakii (Cronobacter sakazaki) is a rodshape , Negative Gram, facultative anaerob
bacteria included in Enterobacteriaceae family that does not endosporeformers. Enterobacter sakazakii
is not Normal Flora of Tractus Digestivus of animal or human , thus it is assumed that the infection
source may come from the environments, soil, water, vegetables, mouse and flies. The contamination
of Enterobacter sakazakii in infants formula is caused by the external effluences, which are the
inadequate handling on the reconstruction of the product or the internal contamination during the
production process. Codex Alimentarius Commission, FAO/WHO in cooperation with some expertise
institutions and countries of Codexs member has published Codex guide about the process and
examination of infant formula for the producer of infant formula, and also guide for hospital and
household in preparing the infant formula.
Keywords : Enterobacter sakazakii (Cronobacter sakazakii), Powdered Infant Formula, Codex

Pendahuluan :

Akhir akhir ini masyarakat di
Indonesia terutama para orang tua yang
mempunyai anak bayi yang
mengkonsumsi susu formula bayi
diresahkan oleh adanya berita pencemaran
bakteri Enterobacter sakazakii pada
produk susu formula bayi. Hal ini bermula
dari hasil penelitian sebuah institusi
pendidikan yang menemukan adanya
pencemaran bakteri Enterobacter
sakazakii pada beberapa sampel susu
formula bayi yang diteliti. Temuan pada
hasil penelitian tersebut akhirnya menjadi
polemik yang berkepanjangan dan
melibatkan Kementrian Kesehatan, Balai
Pengawas Obat dan Makanan, masyarakat
konsumen dan DPR. Terlepas benar-
tidaknya akurasi temuan tersebut,
sebaiknya pemerintah dalam hal ini
Kementerian Kesehatan harus bertindak
cepat dan tepat sebelum terjadi
kegelisahan dan korban yang memakan
jiwa.
Enterobacter sakazakii adalah
bakteri opportunistic pathogen yang
sampai saat ini belum diketahui secara
lengkap tentang ekologi, taksonomi,
virulensi maupun karakteristik lainnya.
Enterobacter sakazakii pertama kali
ditemukan pada 1958 pada 78 kasus bayi
dengan infeksi meningitis. Urmenyi and
Franklin melaporkan adanya kasus
meningitis, septicemia dan enterocolitis
necrotic yang disebabkan oleh infeksi
Enterobacter sakazakii. ( Urmenyi AMC
and Franklin AW, 1961)
Selama rentang tahun 1958 sampai tahun
2002 di seluruh dunia telah tercatat sekitar
duapuluhlima peristiwa infeksi oleh
bakteri Enterobacter sakazakii yang

56

melibatkan enampuluhan bayi (Iversen &
Forsythe, 2003). Dari duapululima
peristiwa yang terjadi, delapan di
antaranya dapat dikaitkan dengan
konsumsi susu formula. Jumlah peristiwa
infeksi ini tergolong rendah jika
dibandingkan dengan patogen lain seperti
Salmonella. Oleh karenanya, the
International Commission for
Microbiological Specification for Foods
pada tahun 2002 memeringkatkan bakteri
ini sebagai cemaran dengan tingkat bahaya
yang parah untuk populasi yang terbatas.
(ICMSF,2002)

Taxonomi Enterobacter sakazakii :
Enterobacter sakazakii
(Cronobacter spp.) adalah bakteri
berbentuk batang yang tidak membentuk
spora, bersifat Gram negative, fakultatif
anaerob. Pada awalnya, bakteri ini hanya
dikenal sebagai Enterobacter cloacae
yang memiliki pigmen kuning (Yellow
pigmented Enterobacter cloacae), yang
pertama kali dilaporkan oleh Pangalos
pada tahun 1929. Bakteri ini tergolong
dalam famili Enterobacteriaceae, genus
Enterobacter, species - species dalam
genus ini antara lain adalah Enterobacter
agglomerans, Enterobacter cloacae,
Enterobacter aerogenes dan Enterobacter
gergoviae. Pembedaan antar spesies
tersebut berdasarkan reaksi biokimiawi,
serologis dan tehnik molekuler (Lai KK,
2001; Van Acker J et al. 2001; Taylor CJ.
2002; Hoffman H and Roggenkamp A,
2003 ; Iversen C and Forsythe SJ. 2003;
Iversen C and Forsythe SJ, 2004 )
Enterobacter sakazakii
merupakan salah satu bakteri patogen
yang pada tahun 1980 dipisahkan dari
spesies Enterobacter cloacae berdasarkan
unsur genetik penyusunnya, perbedaan
analisis hibridasi DNA, reaksi biokimia
dan uji kepekaannya terhadap antibiotika ,
dan selanjutnya bakteri ini dikukuhkan
dalam genus Enterobacter sebagai suatu
spesies baru yang diberi nama
Enterobacter sakazakii untuk menghargai
seorang bakteriolog Jepang bernama
Riichi Sakazakii. Reklasifikasi ini
dilakukan berdasarkan studi DNA
hibridisasi yang menunjukkan kemiripan
41% dengan Citrobacter freundii dan 51%
dengan Enterobacter cloacae
.
. ( Farmer
JJ et al,1980)
Pada tahun 2007, beberapa
peneliti mengklarifikasi kriteria taxonomi
dari Enterobacter sakazakii dengan
menggunakan cara lebih canggih, yaitu
dengan f-AFLP, automated ribotyping,
full-length 16S rRNA gene sequencing
and DNA hybridization. Hasil yang
didapatkan adalah klasifikasi alternatif
dengan temuan genus baru, yaitu
Cronobacter yang terdiri dari 5 spesies.
(Iversen C et al,2007)

Sumber / Habitat dan Proses
Kontaminasi Enterobacter sakazakii :
Enterobacter sakazakii bukan
merupakan fora normal pada saluran
pencernaan hewan maupun manusia,
sehingga diduga bahwa tanah, air, sayuran,
tikus dan lalat merupakan sumber infeksi.
Enterobacter sakazakii dapat ditemukan
pula di beberapa lingkungan industri
makanan misalnya di pabrik susu, pabrik
coklat, pabrik kentang, pabrik sereal,
pabrik pasta, lingkungan berair dan
sedimen tanah yang lembab. Selain itu
bakteri ini dapat pula ditemukan dalam
beberapa bahan makanan yang berpotensi
terkontaminasi Enterobacter sakazakii
antara lain pada keju, roti, tahu, teh asam,
sosis, daging cincang awetan, susu bubuk,
dan ragi roti karena bakteri ini banyak
ditemukan pada permukaan biji sorghum
dan biji padi. Meskipun demikian selain
susu formula, semua bahan pangan
tersebut di atas tidak pernah dilaporkan
menyebabkan infeksi oleh Enterobacter
sakazakii. Hal ini mungkin disebabkan
karena bahan makanan tersebut tidak
dikonsumsi langsung oleh kelompok bayi
yang rentan. ( Iversen C and Forsythe SJ.
2003 ; Hassel S. 2004)
Terjadinya pencemaran susu
formula oleh Enterobacter sakazkakii
diduga dapat terjadi karena kontaminasi
eksternal yaitu melalui penanganan yang

57

buruk saat merekonstitusi susu formula
dengan air atau kontaminasi internal
selama produksinya. Pencemaran selama
penyiapan dapat terjadi dari orang, alat -
alat, debu atau lingkungan sekitar serta air
yang digunakan untuk merkonstitusi.
Sedangkan pencemaran selama produksi
kemungkinan terjadi setelah proses
pasteurisasi susu yaitu selama
pengeringan, selama pencampuran kering
dan atau selama pengemasan.
Karena akumulasi laporan terkait
Enterobacter sakazakii dan susu formula
bayi ini, maka sejak tahun 2004 lembaga
pangan dunia Codex Alimentarius
Commission, FAO/WHO bekerjasama
dengan lembaga-lembaga pakar dan
negara anggota Codex mendiskusikan
data-data ilmiah terkait temuan
Enterobacter sakazakii dari berbagai
negara dan melakukan analisis risiko
berdasarkan data- data yang terkumpul
tersebut.
Hasil kajian risiko selama beberapa tahun
tersebut akhirnya bermuara pada
diterbitkannya panduan Codex tentang
proses dan pengujian susu formula bayi
yang ditujukan untuk produsen susu
formula, serta panduan bagi rumah sakit
maupun rumah tangga dalam menyiapkan
(merekonstitusi) susu formula bayi.
Panduan bagi produsen yang dikeluarkan
oleh Codex pada tahun 2008 segera
diadopsi oleh banyak negara termasuk
oleh Indonesia melalui suatu Ketetapan
Badan Pengawas Obat dan Makanan.
Panduan tersebut mensyaratkan pengujian
bakteri Enterobacter sakazakii yang
sebelumnya tidak dipersyaratkan di
manapun di seluruh dunia. Persyaratan
produksi dan pengujiannya relatif ketat,
meski tidak seketat untuk Salmonella yang
dianggap lebih tinggi frekuensi kasus
infeksinya. Panduan Codex tersebut
mensyaratkan untuk tiap lot produksi
dilakukan pengujian sebanyak 30 sampel
masing-masing 10 g dan tidak boleh ada
satu sampel pun yang terdeteksi
mengandung Enterobacter sakazakii. Jika
ditransformasikan secara statistika
berdasarkan ICMSF (2002) maka suatu lot
susu formula akan tidak boleh
diperdagangkan jika rata-rata jumlah
bakteri ini lebih dari 1 dalam 278 g susu.
(CAC,2008)
Pencemaran susu oleh
mikroorganisme dapat terjadi selama
pemerahan (milking), penanganan
(handling), penyimpanan (storage), dan
aktivitas pra-pengolahan (pre-processing)
lainnya. Mata rantai produksi susu
memerlukan proses yang steril dari hulu
hingga hilir sehingga mikroorganisme
tidak mendapat kesempatan untuk tumbuh
dan berkembang dalam susu. Peralatan
pemerahan yang tidak steril dan tempat
penyimpanan yang tidak bersih dapat
menyebabkan tercemarnya susu oleh
mikroorganieme. Susu memerlukan
penyimpanan dalam temperatur rendah
agar tidak mudah terjadi kontaminasi
mikroorganisme. Udara yang terdapat
dalam lingkungan di sekitar tempat
pengolahan merupakan media yang dapat
membawa bakteri untuk mencemari susu.
Pengolahan susu sangat dianjurkan untuk
dilakukan di dalam ruangan tertutup.
Manusia yang berada dalam proses
memerah dan mengolah susu dapat
menjadi penyebab timbulnya
mikroorganisme dalam susu. Tangan dan
anggota tubuh lainnya harus steril ketika
memerah dan mengolah susu. Bahkan,
hembusan napas manusia ketika proses
memerah dan mengolah susu dapat
menjadi sumber timbulnya
mikroorganisme. Sapi perah dan peternak
yang berada dalam sebuah peternakan
harus dalam kondisi sehat dan bersih agar
tidak mencemari susu. Proses produksi
susu di tingkat peternakan memerlukan
penerapan good farming practice seperti
yang telah diterapkan di negara-negara
maju.
Enterobacter sakazakii tumbuh
optimal pada kisaran suhu antara 30C
hingga 40C. Waktu generasi bakteri ini
terjadi setiap 40 menit jika diinkubasikan
pada suhu 23C, yang tentunya akan
sedikit lebih cepat pada suhu optimum
pertumbuhannya. Kontaminasi satu koloni
Enterobacter sakazakii memiliki peluang
hidup maksimum sebesar 6,5% untuk
dapat berkembang hingga mencapai
jumlah yang signifikan (1 juta sel/g

58

produk) dalam waktu maksimal 100 jam
pada suhu antara 18C hingga 37C.
Artinya, apabila 1 sel hidup Enterobacter
sakazakii mengkontaminasi produk susu
formula pada proses produksi, hanya
dalam 5 hari, produk tersebut telah
menjadi sangat berbahaya bagi bayi.
(Iversen C and Forsythe SJ, 2003)
Keberadaan Enterobacter
sakazakii pada produk susu formula
meningkat dan menjadi medium
kontaminasi yang dominan karena produk
ini pada umumnya dikenal sebagai produk
yang aman untuk langsung dikonsumsi
bayi tanpa memerlukan pemrosesan lebih
lanjut. Asumsi-asumsi inilah yang
sebenarnya harus ditinjau kembali. Dalam
hal proses produksi, bagaimana
Enterobacter sakazakii dapat sampai pada
produk susu formula yang disiapkan
secara aseptik masih terus diteliti. Ada
kecurigaan bahwa bakteri ini bersifat
airborne (mengkontaminasi lewat udara)
pada industri susu dan rumah tangga,
sehingga diperlukan penanganan
tambahan terhadap bakteri ini dalam
mekanisme Hazard Analysis Critical
Control Point (analisis titik penanganan
kritis pada bahaya) di tingkat produksi
susu formula. (Kandhai et al, 2004).
Fisiologi Enterobacter sakazakii :
Enterobacter sakazakii tumbuh
pada rentang suhu yang luas yakni antara
6C hingga 47C. Beberapa galur yang
diisolasi dari susu formula di Kanada bisa
tumbuh pada kisaran suhu 5,5C hingga
8,0C dan terhambat pada suhu 4C.
Menurut penelitian Farmer dkk.
sebanyak 57 strain dari Enterobacter
sakazakii tumbuh dengan baik pada suhu
25C, 36C dan 45C. Limapuluh strain
diantaranya dapat tumbuh dengan baik
pada suhu 47C tetapi tidak pada suhu 4C
ataupun pada suhu 50C. ( Farmer JJ et al,
1980)
Suhu minimum untuk
pertumbuhan Enterobacter sakazakii pada
media Brain Heart Infusion (BHI)
bervariasi dari 5,5C hingga 8C dan
bakteri akan mati secara perlahan pada
suhu 4C. Sedangkan temperature
maksimal untuk pertumbuhan bakteri ini
adalah 41C hingga 45C. (Nazarowec-
White, M., & Farber, J.M. 1997)
Waktu generasi Enterobacer
sakazakii di dalam susu bubuk formula
bayi yang direkonstituen bervariasi antara
4,15 jam hingga 5, 5 jam pada suhu 10C
dan 37 menit hingga 44 menit pada suhu
22C. Fase lag pada suhu 10C antara 19
samapai 47 jam dan pada 23C antara 2
sampai 3 jam. (Nazarowec-White and
Farber,1997)
Menurut Iversen dkk waktu
generasi Enterobacter sakazakii pada
susu bubuk formula bayi adalah 13,7 jam
pada suhu 6C, 1,7 jam pada 21C dan 19
21 menit pada suhu 37C. (Iversen C
and Forsythe SJ, 2004)
Rata-rata waktu pembelahan
bakteri ini di dalam susu formula adalah
40 menit pada 23C dan 4.98 jam pada
10C. Artinya, jika ada 1.000 bakteri ini
dalam susu formula yang sudah
direkonstitusi (dibuat siap minum) maka
setelah disimpan pada suhu 23C selama
40 menit jumlahnya menjadi 2.000. Pada
suhu lemari es (10C), kenaikan jumlah
tersebut baru dicapai setelah 5 jam.
Enterobacter sakazakii merupakan
bakteri yang tidak dapat membentuk
endospora maka bakteri ini mudah mati
oleh panas. Untuk menurunkan jumlah
Enterobacter sakazakii menjadi 1/10-nya,
diperlukan pemanasan pada suhu 60 C
selama 2,5 menit. Ini berarti bahwa jika
jumlah awal bakteri ini adalah 1.000 per
mililiter, maka pemanasan pada suhu 60C
selama 2,5 menit, 5 menit, 7,5 menit dan
10 menit akan menurunkan jumlah bakteri
ini menjadi berturut-turut 100, 10, 1 dan
0.1 per mililiter. Karena terdiri dari
berbagai jenis, maka ketahanan panas
bakteri ini cukup beragam dan beberapa
bersifat toleran terhadap panas. Peneliti
lain di Korea melaporkan bahwa
rekonstitusi susu formula dengan air
bersuhu 50C akan menyebabkan bakteri
berkurang menjadi 1/100-nya, sementara
dengan suhu 65-70C terjadi penurunan
Enterobacter sakazakii menjadi 1/10.000

59

sampai 1/1000.000-nya. (Kim SH and
Park JH, 2007)
Aspek Kesehatan Masyarakat :
Bayi yang lahir premature dan
bayi yang sakit / lemah mempunyai resiko
yang tinggi terhadap infeksi Enterobacter
sakazakii (Van Acker J et al. 2001)
Enterobacter sakazakii tergolong
sebagai patogen pangan 'emerging' yang
perlu diwaspadai karena dalam 20 tahun
terakhir ditengarai dapat mengakibatkan
penyakit melalui makanan. Bakteri ini
juga dikategorikan sebagai 'patogen
oportunistik', yakni patogen yang
menyebabkan penyakit pada kelompok
rentan yang memiliki kekebalan rendah.
Infeksi oleh Enterobacter
sakazakii menjadi perhatian karena tingkat
mortalitas yang tinggi (40-80%) pada bayi
yang baru lahir (0-6 bulan), terutama
sekali bayi prematur atau bayi lahir
prematur atau bayi dengan berat badan
lahir rendah atau bayi dari ibu yang
menderita AIDS (Acquired Immuno
Deficiency Syndrome) yaitu bayi bayi
yang memiliki imunitas lebih rendah dari
rata-rata bayi-bayi lainnya . Meskipun
tidak ada bukti secara epidemiologis
tentang dosis infeksinya, Iversen &
Forsythe (2003) memperkirakan bahwa
diperlukan 1.000 sel untuk terjadinya
infeksi oleh E. sakazakii.
(Iversen C and Forsythe SJ, 2003).
Faktor virulensi dan patogenitas
Enterobacter sakazakii belum banyak
diketahui.
Sampai saat ini, ada beberapa faktor yang
dimiliki oleh Enterobacter sakazakii yang
diduga berperan dalam terjadinya penyakit
di antaranya protein invasin dan
enterotoksin. Penelitian tentang faktor
virulensi bakteri ini terus berlangsung di
berbagai negara termasuk upaya untuk
menemukan struktur enterotoksin yang
dihasilkan. Beberapa strain dari bakteri ini
menghasilkan Enterotoxin-like compound
diantaranya toxin yang mempunyai efek
cytotoxic, 18 isolat yang terdiri dari 2
strain menghasilkan toxin yang mampu
mengakibatkan kematian anak mencit
secara per oral. (Kline MW, 1988).
Enterobacter sakazakii secara
sporadis juga dapat menyebabkan small
outbreak sepsis, meningitis, cerebritis dan
enterocolitis necrotic. Walaupun bakteri
ini dapat menyebabkan penyakit pada
semua golongan usia tetapi yang paling
rentan adalah bayi dibawah usia 28 hari.
Data menunjukkan bahwa separuh dari
bayi penderita tersebut mempunyai berat
badan lahir kurang dari 2000 gram dan
duapertiga diantara bayi penderita adalah
premature yang lahir kurang dari 37
minggu kehamilan. Pola penyakit pada
bayi penderita tersebut terlihat nyata
diantaranya dapat terjadi neural tube
defect dan Trisomy 21 / down syndrome.
Lambung bayi yang baru lahir terutama
bayi premature lebih asam daripada
lambung dewasa, hal ini merupakan faktor
penting yang menunjang suksesnya infeksi
Enterobacter sakazakii. Sebanyak 50%
pasien yang dilaporkan menderita infeksi
Enterobacter sakazakii meninggal dalam
waktu satu minggu setelah diagnosa, tetapi
gambaran tersebut cenderung menurun
dalam kurum 20 tahun terakhir ini.
Walaupun Enterobacter sakazakii pada
umumnya peka terhadap antibiotika yang
biasa dipakai tetapi beberapa peneliti
menengarai adanya strain yang resisten
terhadap antibiotika beta laktam dan
cephalosporine (Pitout et al., 1997 ; Clark
et al., 1990;Lai KK, 2001)
Bakteriemia akibat infeksi oleh
Enterobacter sakazakii juga pernah
teridentifikasi pada bayi yang lebih tua
usianya atau bayi yang ada di rumah.
(CDC, 2002)
Pada bayi terinfeksi yang
asymptomatis , ternyata Enterobacter
sakazakii dapat diisolasi dari feces atau
urinnya dan terus positif selama 18
minggu .(Biering et al., 1989; CDC, 2002;
Block et al., 2002)
Enterobacter sakazakii dapat
menyebabkan radang selaput otak dan
radang usus pada bayi . Kelompok bayi

60

yang memiliki risiko tertinggi terinfeksi E.
sakazakii yaitu neonatus (baru lahir hingga
umur 28 hari), bayi dengan gangguan
sistem tubuh, bayi dengan berat badan
lahir rendah (BBLR), bayi prematur, dan
bayi yang lahir dari ibu yang mengidap
Human Immunodeficiency Virus (HIV) (
Taylor CJ,2002 ; Kane V, 2004)
Meskipun sangat jarang, infeksi
karena bakteri ini dapat mengakibatkan
penyakit yang sangat berbahaya sampai
dapat mengancam jiwa, di antaranya
adalah neonatal meningitis, hidrocephalus
, sepsis , dan enterocolitis necrotic .Pada
beberapa kasus dilaporkan terjadi infeksi
saluran kencing dan secara umum, tingkat
kefatalan kasus atau risiko untuk dapat
mengancam jiwa berkisar antara 40-80
persen pada bayi baru lahir yang mendapat
diagnosis infeksi berat karena penyakit ini.
Infeksi otak yang disebabkan karena
Enterobacter sakazakii dapat
mengakibatkan infark atau abses otak
dengan bentukan kista, gangguan
persarafan yang berat dan gejala sisa
gangguan perkembangan. Gejala yang
dapat terjadi pada bayi atau anak di
antaranya adalah diare, kembung, muntah,
demam tinggi, bayi tampak kuning,
kesadaran menurun (malas minum, tidak
menangis), mendadak biru, sesak hingga
kejang. Bayi prematur, berat badan lahir
rendah (kurang dari 2.500 gram) dan
penderita dengan gangguan kekebalan
tubuh adalah individu yang paling berisiko
untuk mengalami infeksi ini. Meskipun
juga jarang bakteri patogen ini dapat
mengakibatkan bakterimeia dan
osteomielitis (infeksi tulang) pada
penderita dewasa. (Muytens et al , 1983;
Muytens HL dan Kolle LA. 1990)
Enterobacter sp. merupakan
patogen nosokomial yang menjadi
penyebab berbagai macam infeksi
termasuk bakteremia, infeksi saluran
pernapasan bagian bawah, infeksi kulit
dan jaringan lunak, infeksi saluran kemih,
infeksi dalam perut, radang jantung,
radang sendi, osteomyelitis, dan infeksi
mata. Angka kematian akibat infeksi E.
sakazakii mencapai 40-80%. (Pagotto et
al,2003)














61

Pemeriksaan Laboratoris / Identifikasi Enterobacter sakazakii :

Diambil dari : WHO.2004. Enterobacter sakazakii and other microorganisms in powdered infant
formula. WHO Food and Agriculture Organization of The United Nations.Microbial Risk assessment
series 6. Meeting Report.

Metode lain dari identifikasi Enterobacter
sakazakii juga dapat dilakukan yaitu
dengan menggunakan new Oxoid
chromogenic Enterobacter sakazakii Agar
(DFI formulation) . Dengan metode ini
hasil pemeriksaan dapat dilihat 2 hari lebih
cepat daripada metode konvensional
sebelumnya.Mula mula sampel ditanam
pada Pre-enrichment and selective
enrichment dan selanjutnya dilakukan
penanaman pada Oxoid Chromogenic
Enterobacter sakazakii Agar ( DFI
formulation ) yaitu suatu media
chromogenic yang mengandung substrate
5-bromo-4-chloro-3-indolyl-, D-
glucopyranoside yang dapat dipecah oleh
enzyme -glucosidase yang dihasilkan
Enterobacter sakazakii dan menghasilkan
koloni khas berwarna biru- hijau ( Blue-
green colonies). (Kane V, 2004)
Penutup :
Enterobacter sakazakii merupakan
bakteri yang bukan anggota flora normal
saluran pencernaan hewan maupun
manusia dan habitatnya sampai saat ini
belum diketahui secara pasti serta
ditengarai berpotensi mencemari produk
susu formula bayi. Untuk mencegah
Quantitative E. sakazakii isolation
procedure.
a
USFDA (2002);
b
Muytjens, Roelofs-
Willemse, and Jasper (1988);
c
Nazarowec-
White and Farber (1997b) from Iversen and
Forsythe (2003).
BPW, Buffered peptone water; EE Broth,
Enterobacteriaceae enrichment broth;
VRBG, Violet red bile glucose agar.


62

terjadinya infeksi oleh bakteri ini maka
semua pihak yang terkait hendaknya
mematuhi panduan Codex tentang proses
dan pengujian susu formula untuk
produsen susu formula, serta panduan bagi
rumah sakit maupun rumah tangga dalam
menyiapkan (merekonstitusi) susu formula
untuk diberikan pada bayi. Panduan bagi
konsumen maupun rumah sakit lebih
dititikberatkan pada praktik sanitasi yang
baik bagi orang (pekerja), air, botol yang
digunakan untuk merekonstitusi susu
formula serta pembatasan waktu untuk
tidak menyimpan susu formula yang telah
direkonstitusi pada suhu kamar lebih dari
2 jam. Sebagai tambahan, beberapa negara
juga mengadopsi panduan dari WHO
yang merekomendasikan rekonstitusi
dengan menggunakan air bersuhu 70 C
untuk meminimalkan risiko patogen ini. (
WHO,2007)
KEPUSTAKAAN
BIERING G, KARLSSON S, CLARK
NC, JONSDOTTIR KE, LUDVIGSSON P
and STEINGRIMSSON O. 1989. Three
Cases of Neonatal Meningitis Caused by
Enterobacter sakazakii in Powdered Milk.
Journal of Clinical Microbiology, 27(9):
2054-2056.
BLOCK C, PELEG O, MINSTER N,
BAR-OZ B, SIMHON A, ARAD I and
SHAPIRO M. 2002. Cluster of Neonatal
Infections in Jerusalem due to Unusual
Biochemical Variant of Enterobacter
sakazakii. European Journal of Clinical
Microbiology and Infectious Diseases,
21(8): 613-616.
CAC (Codex Alimentarius Commission).
2008. Code of Hygienic Practice fpr
Powdered
Formulae for Infants and Young Children.
http://www.codexalimentarius.net/downlo
ad/standards/11026/cxp_066e.pdf

CDC (Centers for Disease Control and
Prevention). 2002. Enterobacter sakazakii
Infections Associated with the Use of
Powdered Infant Formula in Tennessee
2001. Morbidity and Mortality Weekly
Report, 51: 297-300.
CLARK NC, HILL BC, OHARA CM,
STEINGRIMSSON O and COOKSEY
RC. 1990. Epidemiologic Typing of
Enterobacter sakazakii in Two Neonatal
Nosocomial Outbreaks. Diagnostic and
Microbiological Infectious Diseases, 13:
467-472.
FARMER JJ , ASBURY MA, HICKMAN
FW, BRENNER DJ and The
Enterobacteriaceae Study group. 1980. A
new species of Enterobacteriaceae Isolated
From Clinical Specimens. International
Journal of Systematic Bacteriology. 30 (3):
569-584.
HASSEL S. 2004. Enterobacter sakazakii
in Powdered Infant Formula. FAO/WHO
Regional Conference on Food Safety for
Asia and the Pacific. May 26, Seremban,
Malaysia.
HOFFMAN H and ROGGENKAMP
A.2003. Population Genetics of the
Nomenspecies Enterobacter cloacae.
Applied and Environmental
Microbiology.69.5306-5318.
ICMSF (International Commission on
Microbiological Specification for Foods).
2002.
Microorganisms in Foods 7.
Microbiological Testing in Food Safety
Management.
Kluwer Academic, NY.
IVERSEN C and FORSYTHE SJ. 2003.
Risk Profile of Enterobacter sakazakii, an
Emergent Pathogen Associated With
Infant Milk Formula. Trends in Food
Science and
Technology 14: 443-454.
IVERSEN C and FORSYTHE SJ. 2004.
Isolation for Enterobacter sakazakii and
Other Enterobacteriaceae from Powdered
Infant Milk and Related Procuct. Journal
of Food Microbiology.21.771-777.
IVERSEN C, LEHNER A, MULLANE
N, BIDLAS E, CLEENWERCK I,

63

MARUGG J, FANNING S, STEPHAN
R,and JOOSTEN . 2007. The taxonomy of
Enterobacter sakazakii: Proposal of New
Genus Cronobacter gen.nov. and
Descriptions of Cronobacter sakazakii
comb.nov. Cronobacter sakazakii subsp.
sakazakii, Cronobacter sakazakii subsp.
malonaticus sbsp.nov., Cronobacter
turicensis sp.nov., Cronobacter muytjensii
sp.nov., Cronobacter dublinensis sp.nov.
and Cronobacter genomospecies I. BMC
Evolutionary Biology 7 (64).
KANE V. 2004. Faster Detection of
Enterobacter sakazakii in Infant Formula.
Oxoid Ltd.
KANDHAI MC, REIJ MW and GORRIS
LGM. 2004. Occurrence of Enterobacter
sakazakii in Food Production
Environments and Households. The
Lancet, 363: 39-40.
KIM SH and PARK JH. 2007. Thermal
Resistance and Inactivation of
Enterobacter
sakazakii Isolates During Rehydration of
Powdered Infant Formula. J Microbiol
Biotechnol. 17 (2): 364-368.

KLINE MW. 1988. Pathogenesis of Brain
Abscesses Caused by Citrobacter diversus
or Enterobacter sakazakii. The Pediatric
Infectious Disease Journal, 7: 891-892.
LAI, K.K. 2001. Enterobacter sakazakii
Infections Among Neonates, Infants,
Children, and Adults. Journal Medicine,
80: 113-122.
MUYTENS HL, ZANEN HC,
SONERKAMP HJ, KOLLEE A.,
WACHSMUTH IK, FARMER JJ. 1983.
Analysis of Eight Cases of Neonatal
Meningitis and Sepsis due to
Enterobacter sakazakii. J. Clin. Microbiol.
18 (1):115-120.

MUYTEN HL and KOLLEE LA. 1990.
Enterobacter sakazakii Meningitis in
Neonates :
Causative Role of Formula? . Pediatric
Infectious Disease 9: 372-373.
NAZAROWEC-WHITE and FARBER
JM. 1997. Incidence, Survival and Growth
of Enterobacter sakazakii in Infant
Formula. Journal of Food Protection, 60:
226-230.
PAGOTTO FJ, NAZAROWEC-WHITE
M, BIDAWID S and FARBER JM. 2003.
Enterobacter sakazakii: Infectivity and
Enterotoxin Production in vitro and in
vivo. Journal of Food Protection, 66: 370-
375.
PITOUT JD, MOLAND ES, SANDERS
CC, THOMSON KS and
FITZSIMMONS SR. 1997. Beta-
lactamases and Detection of Beta-lactam
Resistance in Enterobacter spp.
Antimicrobial Agents and Chemotherapy,
41(1): 35-39.
TAYLOR, CJ. 2002. Health Professionals
Letter on Enterobacter sakazakii Infections
Associated with Use of Powdered Dry
Infant Formulas in Neonatal Intensive
Care Unit. US: US Department of Health
and Human Services.
URMENYI AMC and FRANKLIN
AW.1961. Neonatal Death from
Pigmented Coliform Infection. Lancet.
313-315.
VAN ACKER J, DE SMET F,
MUYLDERMANS G, ANNE NA and
LAUWERS.2001. Outbreak of
Necrotizing Enterocolitis Associated with
Enterobacter sakazakii in Powdered Milk
Formula. Journal of Clinical
Microbiology, 39(1): 293-297.
WHO.2004. Enterobacter sakazakii and
Other Microorganisms in Powdered Infant
Formula. WHO Food and Agriculture
Organization of The United
Nations.Microbial Risk assessment series
6. Meeting Report.
WHO/FAO . 2007. Safe Preparation,
Storage and Handling of Powdered Infant
Formula Guidelines.


64

EFIKASI SUPLEMEN MIKRONUTRIEN SEBAGAI TERAPI ADJUVAN
PADA PENDERITA TUBERKULOSIS AKTIF
Budhi Setiawan
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya
Abstrak
Tuberkulosis (TB) adalah salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan di seluruh dunia karena
penyakit menular dapat disembuhkan. Malnutrisi dan kekurangan gizi mikro yang umum di antara
pasien TB aktif karena malabsorpsi, peningkatan permintaan energi, asupan makanan yang tidak
memadai dan jalur metabolik diubah. Studi Cross sectional dalam pengaturan spesifik menunjukkan
bukti bahwa kekurangan vitamin A, C, D, E dan Zinc terjadi pada tuberkulosis. Meningkatkan stres
oksidatif dan fase akut merespon dapat menyebabkan depresi tingkat beredar beberapa mikronutrien.
Keberhasilan multivitamin dan suplemen mineral sebagai terapi tambahan untuk obat anti TB masih
memiliki bukti terbatas. Hasil Hasil uji klinis baru-baru ini menghasilkan kontradiksi dan hasil yang
kurang jelas untuk membentuk dasar untuk rekomendasi. Ada kemungkinan bahwa dosis, seks dan
mikronutrisi kombinasi faktor mempengaruhi hasil studi. Ada kebutuhan untuk percobaan lebih lanjut,
untuk menilai efektivitas multivitamin dan suplemen mineral di TB aktif dengan ukuran sampel yang
cukup.

Kata kunci: tuberkulosis, suplemen, mikronutrien, multivitamin, mineral, khasiat, sidang

EFFICACY OF MICRONUTRIENT SUPPLEMENTS AS ADJUVANT
THERAPY IN PATIENTS WITH ACTIVE TUBERCULOSIS
Budhi Setiawan
Lecturer Faculty of Medicine, University of Wijaya Kusuma Surabaya
Abstract
Tuberculosis (TB) is one of the major causes for mortality and disability in the worldwide due to
curable infectious disease. Malnutrition and micronutrient deficiency are common among active
tuberculosis patients because of malabsorption, increase of energy demand, inadequate food intake and
altered metabolic pathways. Cross sectional studies in specific settings show evidences that deficiency
of vitamin A, C, D, E and Zinc occurs in tuberculosis. Increase oxidative stress and acute phase
respond may contribute to some circulating micronutrient level depression. Efficacy of multivitamin
and mineral supplementation as adjunctive therapy for anti TB drugs still has limited evidence. The
recent outcome results of clinical trials produce contradiction and inconclusive results to form the basis
for recommendations. There are possibilities that dosage, sex and micronutrient combination factors
affect the outcomes of the studies. There is a need for further trials, to assess the efficacy of
multivitamins and minerals supplementation in active TB with adequate sample sizes.

Keywords: tuberculosis, supplement, micronutrient, multivitamin, mineral, efficacy, trial

Pendahuluan
Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit
infeksi yang disebabkan oleh
Mycobacterium tuberculosis. Sebagian
besar menginfeksi paru, tetapi bisa juga
menginfeksi susunan saraf pusat, sistem
limfatik, sirkulatorik, genitourinari, tulang
dan persendian. Sebagian infeksi tidak
menimbulkan gejala yang dikenal dengan
tuberkulosis laten. Tuberkulosis aktif
dapat terjadi kapan saja setelah infeksi
yang mana penderita menjadi
simptomatik. TB adalah satu dari sepuluh
penyakit yang menyebabkan kematian dan
kecacatan di seluruh dunia serta
merupakan penyebab utama kematian dari
penyakit infeksi yang dapat disembuhkan
(1,2).

Estimasi global dari WHO angka kejadian
kasus TB pada tahun 2008 adalah 9,4 juta
(antara 8,8 9,9 juta) yang mana setara
dengan 139 kasus per 100.000 populasi.
Kebanyakan dari angka perkiraan global
kejadian kasus terjadi di Asia (55%) dan
Afrika (30%). Perkiraan angka kematian
adalah 1,3 juta yang setara dengan 20
kematian per 100.000 populasi. Pada
tahun 2008, dalam jumlah total angka
kejadian kasus TB Indonesia menempati
ranking ke 5 dengan jumlah 0,34 - 0,52
juta setelah India (1,6 2,4 juta), Cina (1,0

65

1,6 juta), Afrika Selatan (0,38 - 0,57
juta), dan Nigeria (0,37 - 0,55 juta).
Sebelumnya, Indonesia berada pada urutan
ke 3 setelah India dan Cina (3).

Telah banyak diketahui, status nutrisi yang
rendah ditemukan lebih sering terjadi pada
penderita tuberkulosis aktif dibandingkan
orang sehat (4). Tuberkulosis dapat
menyebabkan berat badan dibawah normal
dan defisiensi mikronutrien (multivitamin
dan mineral) karena terjadinya
malabsorpsi, meningkatnya kebutuhan
energi, terganggunya proses metabolik dan
berkurangnya asupan makanan karena
penurunan nafsu makan dan dapat
mengarah terjadinya kondisi wasting
(5,6).

Defisiensi mikronutrien telah dilaporkan
pada penderita tuberkulosis, termasuk juga
mereka yang dengan ko infeksi HIV.
Penelitian penelitian secara cross sectional
mengindikasikan defisiensi vitamin A,
thiamin, vitamin B6, folat dan vitamin E
sering terjadi pada penderita TB aktif.
Defisiensi vitamin A, vitamin E, thiamin,
riboflavin, vitamin B6 dan vitamin C lebih
umum terjadi penderita TB dengan
HIV(4). Defisiensi mikronutrien dan
status gisi umum yang jelek pada
penderita TB aktif dapat menekan sistem
imun cell-mediated yang merupakan
pertahanan utama host untuk melawan
bakteri Mycobacterium (7).

Dengan terapi obat anti tuberkulosis
standar, status nutrisi umum penderita
akan membaik berjalan seiring dengan
proses penyembuhan. Terapi standar untuk
TB menurut pedoman WHO tahun 2003
edisi ke-3 yang telah disetujui oleh STAG
TB (Strategy and Technical Advisory
Group for TB) pada tahun 2004 adalah: 4-
6 mg/kg BB isoniazid, 8-12 mg/kg BB
rifampicin, 20-30 mg/kg BB
pyrazinamide, dan 15-20 mg/kg BB mg
ethambutol, 12-18 mg/kg BB
streptomycin, setiap hari selama 2 bulan,
dilanjutkan dengan 8-12 mg/kg BB
isoniazid, 8-12 mg/kg BB rifampicin, 30-
40 mg/kg BB pyrazinamide, dan 20-35
mg/kg BB mg ethambutol, 12-18 mg/kg
BB streptomycin, 3 kali per minggu
selama 4 bulan (8).

Sebelum era ditemukan antibiotik,
pemberian nutrisi dahulu dianggap terapi
utama dalam melawan TB. Sebagai
contoh, dahulu digunakan minyak ikan
yang banyak mengandung vitamin A dan
D sebagai terapi utama (9). Tetapi sejak
perkembangan antibiotika anti
tuberkulosis pada tahun 1940 an
pemberian nutrisi tidak lagi memegang
peranan penting (10). Sampai sekarang,
tidak ada satu nutrisi pun yang terbukti
bisa dijadikan sebagai pengganti atau
alternatif terapi obat anti tuberkulosis.

Saat ini, suplemen mikronutrien tidak
terintegrasi dalam pentalaksanaan klinis
standar untuk tuberkulosis terutama pada
negara negara yang sedang berkembang,
yang mungkin perlu mendapat perhatian
lebih jauh. Meskipun konsekuensi
defisiensi nutrisi telah banyak diketahui,
tetapi tidak banyak diketahui efikasi dari
suplemen multi vitamin dan mineral
sebagai terapi adjuvan anti TB standar.
Tujuan dari tinjauan pustaka ini adalah
untuk memberikan ulasan dari publikasi
internasional penelitian klinis terkini
terhadap status mikronutrien penderita TB
aktif dan efikasi (kemampuan dalam
memberikan efek yang diinginkan)
suplemen multivitamin dan mineral
sebagai adjuvan antibiotika anti
tuberkulosis standar.

Status mikronutrien pada penderita
tuberkulosis

Karyadi et al. menyelidiki status
mikronutrien pada penderita TB aktif
dewasa di Jakarta, Indonesia sebelum
pemberian anti TB antibiotika
dibandingkan dengan sejumlah penderita
sehat sebagai kontrol. Ditemukan rata rata
kadar konsentrasi plasma retinol,
hemoglobin dan Zn lebih rendah pada
penderita TB aktif. Lebih banyak
penderita TB yang menderita defisiensi
mikronutrien dibanding dengan kelompok
kontrol. Sebanyak 33% kelompok
penderita TB dengan retinol
<0.70mol/L dibanding 13% pada
kelompok kontrol, (p<0.05); 58%
penderita TB dengan hemoglobin
<12g/L dibanding dengan 22% pada

66

kelompok kontrol, (p<0.05); 21.1%
kelompok penderita TB dengan Zn <10.7
mol/L dibanding 5.1% pada kelompok
kontrol, (p<0.01). Lebih dari setengah
pada semua kelompok, memiliki
konsentrasi plasma tokoferol (vitamin E)
dibawah normal. Kadar tokoferol tersebut
tidak berbeda secara bermakna pada
kelompok penderita TB dan kontrol (11).

Sebuah penelitian cross sectional
bertujuan untuk meneliti profil antioksidan
dan hubungannya dengan stres oksidatif
pada penderita TB. Subyek 125 penderita
TB aktif (25 pasien HIV positif dan 100
pasien HIV negatif) di Etiopia sebelum
terapi dibandingkan dengan kelompok
kontrol orang sehat yang berasal dari
Etiopia (n=45) dan Norwegia (n=25).
Ditemukan bahwa pada kelompok
penderita TB memiliki konsentrasi serum
vitamin C dan vitamin E yang lebih
rendah secara bermakna. Kadar
malondialdehyde (sebuah pengukur
peroksidasi lipid dan stres oksidatif)
ditemukan lebih tinggi secara signifikan
pada kelompok penderita TB dengan HIV
positif. Kadar malondialdehyde yang
tinggi berkorelasi dengan skor Karnofsky
yang rendah (sebuah skala pengukur
kemampuan fisik) dan status
anthropometry yang rendah. Kesimpulan
yang diberikan adalah adanya hubungan
antara stress oksidatif, TB dan HIV (12).

Pada penelitian lain yang bertujuan untuk
mengetahui hubungan antara peroksidasi
lipid, vitamin C, vitamin E dengan
turunnya kadar glutathione di plasma,
eritrosit dan eritrosit di membran paru
pada pasien TB di India. Pengukuran
peroksidasi lipid dengan melihat kadar
thiobarbituric acid reactive substances.
Partisipan 30 penderita yang baru dan
belum diterapi dibandingkan dengan 30
orang sehat pada kelompok kontrol.
Ditemukan peningkatan peroksidasi lipid
di plasma, eritrosit dan eritrosit di
membran paru. Sedang kadar vitamin C,
vitamin E dan glutathione ditemukan
menurun secara signifikan pada penderita
TB. Peningkatan peroksidasi lipid,
penurunan kadar vitamin C, vitamin E dan
glutathione mengindikasikan adanya
kerusakan oksidatif terhadap eritrosit dan
eritrosit membran paru pada penderita TB
(13).

Sebuah penelitian terhadap status vitamin
A dilakukan secara cross sectional pada
penderita TB di Tanzania. Pengukuran
serum diambil dari 100 penderita TB paru
(baik yang positif atau negatif HIV) pada
saat masuk rumah sakit dan setelah dua
bulan terapi, dibandingkan dengan 144
orang sehat sebagai kontrol. Penderita TB
pada nilai baseline rata rata kadar serum
vitamin A lebih rendah dibanding kontrol.
Pada penderita dengan ko infeksi TB/HIV
memiliki kadar serum vitamin A terendah
(13,1 5,6 g/dl di kelompok ko infeksi
TB/HIV vs. 26,6 5,4 g/dl pada
kelompok kontrol). Hampir 90% pasien
TB menderita defisiensi vitamin A
(<20g/dl), dengan proporsi lebih tinggi
pada penderita ko infeksi TB/HIV
dibandingkan dengan kontrol (43% vs.
26%, p<0.001). Setelah menjalani terapi
standar selama dua bulan, kadar serum
vitamin A mengalami peningkatan pada
penderita TB tanpa HIV tetapi tidak
meningkat pada penderita dengan
TB/HIV(14).

Untuk memperkirakan status vitamin A
pada saat dimulainya terapi dan masa
berakhirnya terapi, Ramachandran et al.
meneliti 47 penderita TB yang
dibandingkan dengan 47 saudara serumah
yang sehat dan 30 orang pada kelompok
sehat sebagai kontrol di India. Pada
permulaan terapi, 81% TB penderita
ditemukan konsentrasi vitamin A yang
rendah (didefinisikan sebagai konsentrasi
retinol < 30g/dl) dibandingkan dengan
24% pada saudara yang tinggal serumah
dan 7% pada kelompok kontrol. Rata rata
konsentrasi vitamin A penderita TB (21,2
g/dl) signifikan lebih rendah dibanding
dengan saudara serumah dan kontrol (42,2
g/dl dan 48,1g/dl, p<0.001). Setelah
menjalani terapi standar TB selama 6
bulan, 93% penderita TB mengalami
peningkatan konsentrasi vitamin A tetapi
32% tetap di bawah normal. Diduga
perubahan yang terjadi adalah akibat dari
respon akut terhadap infeksi daripada
kenaikan kadar vitamin A (15).

Bakaev et al. meneliti 159 penderita TB

67

paru yang merokok dan 20 perokok tanpa
TB untuk mengukur perubahan metabolik
vitamin C dan metabolitnya di Rusia.
Level serum asam askorbat pada penderita
TB secara bermakna lebih rendah
dibanding kontrol. Adanya inflamasi pada
paru mengindikasikan melambatnya
metabolisme asam askorbat dan
metabolitnya pada populasi penderita TB.
Pada penderita TB aktif yang merokok,
suplemen vitamin C mungkin tidak
memberikan perbaikan karena
bioavailabilitas yang rendah. Bentuk lain
dari vitamin C, dehydroascorbic acid dapat
dipertimbangkan (16).

Sebuah penelitian di Finland menyelidiki
apakah asupan vitamin C dan makanan
yang mengandung tinggi vitamin C
memiliki hubungan dengan insiden aktif
TB yang merokok. Median asupan
vitamin C adalah 90 mg/hari dan183 g/hari
buah buahan, sayuran dan buah berry. Ada
167 kasus TB aktif antara tahun 1985
sampai 1993. Ditemukan bahwa asupan
tinggi vitamin C tidak memiliki hubungan
yang bermakna dalam menurunkan resiko
TB aktif tetapi meningkatnya asupan buah
buahan, sayuran dan berry yang rendah
kandungan vitamin C nya berhubungan
dengan menurunnya resiko terjadinya TB
aktif (17).

Visser et al. mengukur PLP (pyridoxal
phosphate, suatu ko enzym yang
dibutuhkan untuk sintesis neurotransmiter)
pada penderita TB aktif baru sebelum dan
satu minggu sesudah terapi isoniasid atau
isonicotinylhydrazine (INH) di Afrika
Selatan. Dari 29 penderita, hanya 2 yang
mempunyai kadar plasma PLP normal
(>24.3nmol/L). Hampir semua penderita,
setelah satu minggu terapi dengan INH
terjadi penurunan kadar plasma PLP
secara bermakna. Disimpulkan bahwa
penderita TB aktif baru, memiliki kadar
PLP suboptimal yang diperburuk dengan
terapi INH. Suplemen pyridoxine
dibutuhkan pada penggunaan INH untuk
TB (18).

Dua ratus sepuluh imigran yang tinggal di
London yang didiagnosis TB aktif diukur
secara rutin kadar vitamin D (25(OH)D
3
).
Dan ditemukan sebanyak 76% menderita
defisiensi vitamin D (<22 nmol/L) dan
sebanyak 56% tidak bisa terdeteksi
kadar vitamin D (25(OH)D
3
).
Dihipotesiskan bahwa imigran yang
berasal dari wilayah tropis yang mana TB
laten banyak dijumpai, akan menurun
kadar vitamin D nya bila tinggal di daerah
yang relatif kurang terekspos sinar
matahari. Disimpulkan bahwa kurangnya
ekspos terhadap sinar matahari dan pola
diet vegetarian berkontribusi terhadap
defisiensi vitamin D (25(OH)D
3
) (19).

Penelitian lain yang dilakukan pada orang
orang India Gujarat yang hidup di London,
Inggris, ditemukan prevalensi yang tinggi
defisiensi vitamin D
3
dan konsentrasi yang
terendah terjadi pada orang orang dengan
TB aktif. Odds ratio dari TB aktif
meningkat dengan menurunnya
konsentrasi vitamin D
3
(OR 2.9; 95%
CI1.3-6.5 pada kelompok kadar vitamin
D
3
<10 nmol/L vs. OR 9.9; 95% CI1.3-
76.2 pada kelompok kadar vitamin D
3

yang tidak terdeteksi, p<0.01).
Kesimpulannya adalah asupan yang
rendah vitamin D serta ditambah dengan
kurangnya ekspos terhadap matahari
berkontribusi terhadap kerentanan
terjadinya TB aktif pada populasi ini (20).

Pada penelitian tentang penderita TB paru
yang hidup di komunitas dengan insiden
TB yang tinggi di Peruvia, polimorfisme
reseptor vitamin D berhubungan secara
signifikan dengan kecepatan proses
penyembuhan terapi anti TB dengan
metode DOTS (Directly Observed
Treatment, Short course). Sedangkan
polimorfisme yang lain dikaitkan dengan
agresifitas proses penyakit dan lambatnya
respon terhadap terapi. Diduga rifampin
dan isoniazid yang digunakan pada
regimen dapat mempengaruhi
metabolisme vitamin D dan polimorfisme
selama masa pengobatan. Disarankan
pemberian suplemen vitamin D mungkin
dapat bermanfaat pada keadaan seperti ini
(21).

Sebuah penelitian dilakukan untuk
memeriksa konsentrasi serum Zn, Fe, Cu
dan selenium pada 155 pasien TB aktif di
Ethiopia sebelum dan sesudah terapi anti
TB dibandingkan dengan 31 orang sehat

68

sebagai kontrol. Pada nilai baseline,
sebelum dilakukan terapi, rata rata serum
Zn, Fe dan Selenium pada pasien TB lebih
rendah dibandingkan dengan kontrol dan
proporsi lebih tinggi menderita defisiensi
(defisiensi Zn 47,1% pada pasien TB vs.
25,8% pada kontrol, defisiensi Fe 14,8%
pada pasien TB vs. 3,2% pada kontrol,
Selenium defisiensi 35.5% pada pasien
TB vs. 22,6% pada kontrol.). Setelah dua
bulan terapi anti TB, rata rata konsentrasi
Zn meningkat secara bermakna pada
penderita TB (87,3 26,8 sebelum vs.
118,3 59,6 g/dl sesudah terapi,
p<0.05). Tetapi tidak terjadi pada
penderita dengan ko infeksi HIV dan
mineral lain yang diukur. Serum Zn yang
rendah pada nilai baseline mungkin
disebabkan redistribusi Zn dari serum ke
jaringan atau karena perubahan transport
protein, yang mana keduanya disebabkan
oleh respon akut pada TB, karena serum
Fe, Zn, dan Cu dapat berubah dengan
infeksi dan respon akut. Keterbatasan dari
penelitian adalah tidak mengukur adanya
proses fase akut (22).

Penderita TB aktif baru sebanyak 500
pasien di Malawi diteliti status
mikronutriennya (termasuk 370 penderita
dengan ko infeksi HIV). Ditemukan
prevalensi anemia lebih tinggi dan lebih
sering ditemukan pada kelompok dengan
ko infeksi HIV (76,9% pada pasien TB
and 88,4% pada pasien dengan ko infeksi
HIV, p = 0,002). Defisiensi mikronutrien
umum terjadi. Sebanyak 59% terjadi
defisiensi vitamin A, 12% menderita
defisiensi vitamin E, 80% menderita
defisiensi Zn, 88% menderita defisiensi
Selenium. Penurunan konsentrasi dari
retinol, karotenoid dan selenium
berhubungan dengan peningkatan derajat
anemia. Dikemukakan bahwa defisiensi
selenium mungkin berkontribusi terhadap
anemia melalui peningkatan stres oksidatif
(23).

Di Zimbabwe dilakukan penelitian
terhadap 98 penderita TB aktif dan 98
kontrol sehat yang memiliki kebiasaan
meminum bir tradisional yang
mengandung Fe. Peningkatan diet Fe
didefinisikan peningkatan konsumsi bir
tradisional > 1000 liter. Indeks Fe diukur
selama 9 bulan setelah dimulai terapi anti
TB. Pada saat dimulai terapi, rata rata
hemoglobin ditemukan lebih rendah (9,4
2,1 pada penderita TB vs. 14,3 1,7
pada kontrol, p<0.001) dan rata rata
serum transferin dan transferring
saturation lebih tinggi pada penderita TB.
Setelah menjalani terapi, level serum
ferritin menurun dan konsentrasi
hemoglobin meningkatkan secara
bermakna. Diantara penderita HIV negatif,
20,2% dari group diet Fe tidak meningkat,
menderita TB sedangkan 44,8% dari group
diet Fe meningkat, menderita TB. Diantara
penderita HIV positif, 81,4% dari group
diet Fe yang tidak meningkat, menderita
TB, sedangkan 71,4% dari group diet Fe
yang meningkat menderita TB. Pada group
diet Fe yang meningkat, terjadi
peningkatan 3,5 kali resiko menderita TB
dan 1,3 kali peningkatan resiko mortalitas.
Kesimpulan yang diberikan adalah
peningkatan diet Fe meningkatkan resiko
aktifasi TB (24).

Untuk meneliti apakah konsentrasi plasma
vitamin A berkorelasi dengan tingkat
keparahan secara klinis penderita TB aktif,
Pakasi et al. mengadakan penelitian
terhadap 300 penderita TB aktif (53% TB
ringan dan 47% TB berat) di NTT,
Indonesia. Ditemukan konsentrasi vitamin
A, hemoglobin, plasma albumin lebih
rendah dan CRP (C-reative protein) lebih
tinggi pada TB berat dibandingkan dengan
TB ringan. Disimpulkan, kadar vitamin A
berkorelasi dengan tingkat keparahan TB
tetapi tidak pada kadar Zn. MUAC (Mid
Upper Arm Circumference) merupakan
prediktor yang lebih baik dari pada Body
Mass Index/ BMI (25).

Suplemen mikronutrien sebagai terapi
adjuvan

Untuk meneliti efek suplemen vitamin A
dan Zn pada penderita TB baru dengan
terapi anti TB standar, Karyadi et al.
melakukan penelitian double blind dengan
kontrol plasebo. Penderita (n=40)
menerima vitamin A 500 IU dengan 15 mg
Zn dan group kontrol (n=40) menerima
plasebo setiap hari selama 6 bulan. Setelah
dua bulan dan enam bulan, kedua group
mengalami peningkatan hemoglobin dan

69

plasma retinol, tetapi peningkatan retinol
didapati lebih tinggi secara signifikan
terjadi pada group dengan suplemen
dibanding dengan kontrol setelah 6 bulan
(p<0,05). Konversi sputum dan proses
penyembuhan lesi secara lebih cepat
dibanding kontrol (p<0,05 dan p<0,01).
Proporsi penderita dengan anemia dan
plasma Zn atau retinol yang rendah tidak
terdapat perbedaan diantara dua group
tersebut. Setelah 6 bulan skor Karnofsky
pada kelompok dengan suplemen lebih
tinggi dibanding dengan plasebo.
Kesimpulan yang diberikan adalah
pemberian suplemen vitamin A dan Zn
meningkatkan keefektifan terapi anti TB
terutama pada dua bulan pertama dan
kurang efektif setelah dua bulan (26).

Sebuah penelitian secara prospective
double blind untuk mengetahui efek terapi
suplemen Fe pada penderita dewasa TB
paru aktif pria yang menderita anemia
ringan - sedang (konsentrasi hemoglobin
80-110g/L) Penderita dibagi dalam 3
kelompok : (1) kelompok plasebo (n=40),
(2) kelompok suplemen 75 mg Ferrous
fumarate (n=38) dan (3) Fe dengan dosis
sama ditambah kombinasi mikronutrien
(n=39). Peningkatan secara bermakna
terhadap BMI, status Fe dan indeks
hematologi yang lain pada ketiga group.
Peningkatan tertinggi terjadi pada bulan
pertama dan kedua pada kedua kelompok
suplemen dibanding plasebo. Kesimpulan
yang diberikan adalah, pada penderita
anemia ringan - sedang dengan TB aktif,
pemberian suplemen Fe hanya dapat
mengakselerasi proses hematopoesis
hanya pada fase awal. Ini disebabkan
mungkin karena proses inflamasi
berkontribusi terhadap terjadinya anemia.
Suplemen mikronutrien hanya dapat
mempercepat beberapa indeks hematologi,
tetapi proses pemulihan yang utama
anemia pada TB tergantung dari proses
penyembuhan (27).

Untuk menentukan apakah suplemen
mikronutrien mempercepat waktu
konversi kultur sputum, dilakukan
penelitian suplemen multivitamin dan
mineral secara randomized double blind
dengan kontrol plasebo pada penderita TB
aktif baru sebanyak 530 orang di Tanzania.
Secara acak, penderita dibagi menjadi 4
group: (1) Plasebo, (2) 45 mg Zn (3) Zn
dan Vitamin A, B kompleks, C, D, E,
Selenium dan Cu (4) Vitamin A, B
kompleks, C, D, E, Selenium dan Cu tanpa
Zinc. Kultur sputum diperoleh dari
minggu ke 2, ke 4 dan ke 8 dari standar
terapi anti TB DOTS. Tidak ditemukan
efek yang bermakna pemberian suplemen
mikronutrien atau Zn pada konversi kultur
sputum. Pada kelompok dengan suplemen
Zn dengan multivitamin dan mineral
didapatkan peningkatan berat badan dan
penurunan mortalitas secara signifikan
dibanding dengan kelompok lainnya.
Diantara penderita dengan ko infeksi HIV,
suplemen Zn atau multivitamin/mineral
berhubungan dengan menurunnya resiko
kematian sebanyak 50%-70% walaupun
secara statistik tidak signifikan.
Keterbatasan dari penelitian ini adalah
kepatuhan terhadap suplemen tidak pasti.
Kesimpulan yang dikemukakan adalah
suplemen dosis tinggi multivitamin dan
mineral selama terapi TB mungkin dapat
meningkatkan survival rate penderita
HIV/TB (28,29).

Villamor et al. melakukan penelitian
secara randomized, double blind dengan
kontrol plasebo pemberian suplemen
multivitamin dan mineral di Tanzania pada
penderita TB aktif dewasa. Diantara
penderita, 471 terinfeksi HIV dan
sebanyak 416 tidak terinfeksi. Suplemen
mengandung vitamin A, B kompleks, C, E
dan Selenium dengan dosis 6-8 kali dari
RDA (Recommended Daily Allowance).
Suplemen mikronutrien menurunkan
resiko rekurensi TB sebanyak 45% (P =
0,02) dan 63% penderita dengan infeksi
HIV (P=0,02). Selain itu pemberian
suplemen juga meningkatkan CD3
+
dan
CD4
+
dan menurunkan resiko kejadian TB
di luar paru dan ulkus genital pada
penderita tanpa HIV. Angka kejadian
neuropati perifer turun sebanyak 57%
(P<0,001) baik pada penderita dengan
HIV atau tidak. Tidak ditemukan efek
yang bermakna pada mortalitas, berat
badan, komposisi tubuh, anemia serta HIV
load (30).

Untuk mengetahui efek pemberian
suplemen multi mikronutrien terhadap

70

mortalitas penderita TB aktif baik HIV
positif atau negatif, Semba et al.
melakukan penelitian terhadap 1148
penderita (873 HIV positif dan 573 HIV
negatif). Suplemen multi mikronutrien
mengandung vitamin A, B kompleks, C,
D, E, Se, Zn dan Iodine dengan
menggunakan dosis sesuai RDA kecuali
untuk vitamin untuk vitamin C (500 mg)
dan E (200 IU). Kesimpulan yang
diberikan adalah, dibutuhkan dosis yang
lebih besar dari anjuran RDA untuk
menghasilkan efek yang bermakna karena
mungkin disebabkan oleh malabsorpsi dan
kebutuhan yang meningkat, terutama pada
penderita dengan HIV positif (31).

Dengan tujuan untuk melihat efek
pemberian suplemen vitamin A, Zn dan
kombinasi keduanya terhadap waktu
konversi sputum dari positif menjadi
negatif dilakukan penelitian terhadap 255
penderita TB aktif dewasa di NTT,
Indonesia oleh Pakasi et al. Walaupun
kelompok suplemen vitamin A dan Zn
menunjukkan waktu konversi yang lebih
cepat, tetapi tidak bermakna secara
statistik. Tidak ada keuntungan yang
ditunjukkan oleh pemberian suplemen
terhadap respon klinis, status nutrisi, x-ray
maupun hasil pemeriksaan laboratorium.
Hasil yang didapat, tidak bisa
mengkonfirmasi penelitian sebelumnya
oleh Karyadi et al. di Jakarta, Indonesia
yang kemungkinan disebabkan karena
dosis yang terlalu kecil, tingkat keparahan
TB lebih tinggi dan status nutrisi yang
lebih rendah (32).

Diskusi

Salah satu faktor yang dapat memberikan
perbedaan hasil hasil penelitian tersebut
diatas bisa disebabkan karena dosis
pemberian suplemen multivitamin yang
tidak adekuat. Study di Tanzania (30)
menggunakan dosis 4 sampai 10 kali yang
disarankan oleh RDA. Penelitian di
Malawi (31) dan Indonesia (32) memberi
catatan yang sama tentang efikasi yang
rendah karena dosis yang suboptimal.
Abba et al. (43) dan Benn et al. (44) juga
memberikan pendapat bahwa dosis
anjuran RDA suplemen mikronutrien tidak
memberikan efikasi yang adekuat,
walaupun faktor kandungan kombinasi
multivitamin mungkin juga berpengaruh.
Dibutuhkan data yang lengkap tentang
berapa dosis yang memberikan efek yang
diinginkan (potensi) tetapi tetap aman dari
adverse drug reaction dan intoksikasi
untuk setiap vitamin dan mineral yang
dimasukkan dalam kombinasi.

Perlu dilakukan penelitian lebih mendalam
terhadap Fe terhadap efek nya dalam
terapi TB. Dihipotesiskan sebelumnya
bahwa Fe, dapat meningkatkan
pertumbuhan Mycobacterium dan
memperburuk keadaan melalui hambatan
makrofag yang melawan invasi
mikroorganisme. Seperti pada penyakit
infeksi lainnya, baik host dan patogen
sama sama menggunakan Fe sebagai ko
faktor pada enzym enzym esensial yang
terlibat dalam banyak fungsi seluler dan
metabolic pathway (33,34). Pemberian
vitamin B6 (pyridoxine) perlu
dipertimbangkan, karena regimen standar
obat anti TB menggunakan INH.
Suplemen pyridoxine ditujukan untuk
mengurangi angka kejadian adverse drug
reaction INH neuropati perifer, terutama
bila ada kecenderungan diet pyridoxine
penderita tidak adekuat. Pada kondisi
ekspos sinar matahari yang kurang serta
diet vitamin D yang kurang, suplemen
vitamin D mungkin diperlukan walaupun
masih diperlukan study yang lebih
mendalam.

Faktor lainnya yang mungkin
mempengaruhi hasil penelitian, tetapi
terabaikan selama ini adalah faktor gender.
Telah dilaporkan bahwa wanita memiliki
faktor resiko yang lebih rendah menderita
TB (35). Ditemukan lebih lanjut bahwa
ada perbedaan prevalensi sex dalam
defisiensi mikronutrien (36,37,38). Pada
anak anak, juga telah telah diketahui
adanya perbedaan dalam mortalitas
terhadap respon suplemen mikronutrien
(39,40,41). Bila memang perbedaan
gender ini juga memberikan pengaruh
pada kelompok usia dewasa, maka faktor
gender perlu juga dipertimbangkan
sebagai penyebab hasil yang inkonklusif
pada penelitian efikasi suplemen
mikronutrien untuk TB aktif.


71

Implikasi untuk study selanjutnya adalah
seharusnya intervensi suplemen
difokuskan kepada kombinasi
multivitamin dan mineral yang telah
memberikan hasil positif sebelumnya
termasuk vitamin A dan Zn. Selain
mikronutrien, suplemen makronutrien
dengan tinggi kalori dan tinggi protein
merupakan suplemen yang dapat
memberikan efikasi yang baik (42).
Parameter pengukuran yang digunakan
dapat merupakan mortalitas, rekurensi,
waktu konversi sputum, status nutrisi
secara anthropometry (misalnya; BB,
BMI, MUAC) atau kembalinya fungsi
fisik secara normal. Penderita dengan ko
infeksi HIV sebaiknya diakomodasi dan
dibandingkan dengan yang HIV negatif.
Beberapa penelitian masih sedang
berlangsung saat ini yang akan
memberikan gambaran yang lebih jelas
tentang efikasi penggunaan suplemen
multi vitamin dan mineral sebagai terapi
adjuvan terhadap obat anti TB standar
(43).

Beberapa mikronutrien mungkin memiliki
data yang berbeda dari penelitian
sebelumnya untuk dipertimbangkan masuk
dalam daftar kombinasi suplemen. Sebagai
contoh, Villamor et al. tidak memasukkan
vitamin D dalam kombinasi, walaupun ada
bukti awal dapat memberikan efek
menguntungkan pada imun respon host
terhadap Mycobacterium; dan juga tidak
memasukkan Zn yang bermanfaat
terhadap lean body mass, fungsi imun dan
dilaporkan menurunkan mortalitas pada
penelitian sebelumnya di Tanzania.
Villamor et al. beragumentasi bahwa ada
data yang menunjukkan bahwa diet tinggi
Zn dapat meningkatkan mortalitas pada
individu TB aktif dengan ko infeksi HIV.
Pada kondisi seperti ini, yang mana efek
negatif mikronutrien tidak bisa di
eksklusikan, maka penelitian secara two by
two factorial design mungkin ideal untuk
diterapkan (44).



Kesimpulan

Hubungan antara TB dan defisiensi
mikronutrien adalah sangat kompleks
karena banyak faktor turut terlibat. Stres
oksidatif, proses inflamasi, reaksi fase
akut, turunnya nafsu makan dan
meningkatnya kebutuhan nutrisi, mungkin
berkontribusi dalam turunnya kadar
mikronutrien dalam plasma sehingga
terjadi defisiensi. Dokumentasi yang
disusun secara sistematis terhadap apa
yang melatar belakangi derajat defisiensi
mikronutrien dari penderita TB aktif juga
belum tersedia. Sehingga kadang kala
mungkin terjadi over estimation peran
mikronutrien sebagai adjuvan dalam tata
laksana TB (33). Dibutuhkan lebih banyak
bukti melalui penelitian yang melibatkan
sample yang adekuat dan multi centre
untuk dapat memberikan dasar dalam
rekomendasi.


Daftar Pustaka

1. Davies PD. The world-wide
increase in tuberculosis: how
demographic changes, HIV
infection and increasing numbers
in poverty are increasing
tuberculosis. Ann Med.
2003;35(4):235-243.
2. Dye C. Global epidemiology of
tuberculosis. Lancet. Mar 18
2006;367(9514):938-940.
3. World Health Organization.
Global Tuberculosis Control. A
short update to the 2009 report.
Geneva: WHO. 2009.
4. van Lettow M, Fawzi WW, Semba
RD. Triple trouble: the role of
malnutrition in tuberculosis and
human immunodeciency virus
coinfection. Nutrition Reviews
2003;61(3):8190.
5. Macallan DC. Malnutrition in
tuberculosis. Diagnostic
Microbiology and Infectious
Disease 1999;34(2):1537.
6. MacAllan DC, Mc Nurlan MA,
Kurpad AV, de Souza G, Shetty
PS, Calder AG, et al Whole
protein metabolism in human
pulmonary tuberculosis and under
nutrition: Evidence for anabolic
block in tuberculosis. Clinical Sci
(Lond) 1998;94:321-31.

72

7. Cegielski JP, McMurray DN. The
relationship between malnutrition
and tuberculosis, evidence from
studies in humans and
experimental animals.
International Journal of
Tuberculosis and Lung Disease
2004;8(3):28698.
8. World Health Organization (2003)
Treatment of Tuberculosis:
Guidelines for National
Programmes, Ed. 3. WHO,
Geneva.
9. Daniel TM. The history of
tuberculosis. Respir Med 2006;
100:186270.
10. Ramakrishnan CV, Rajendran K,
Jacob PG, Fox W, Radhakrishna
S. The role of diet in the treatment
of pulmonary tuberculosis: an
evaluation in a controlled
chemotherapy study in home and
sanatorium patients in South
India. Bull World Health Organ
1961; 25:33959.
11. Karyadi E, Schultink W, Nelwan
RH, et al. Poor micronutrient
status of active pulmonary
tuberculosis patients in Indonesia.
J Nutr. Dec 2000;130(12):2953-
2958.
12. Madebo T, Lindtjorn B, Aukrust P,
Berge RK. Circulating
antioxidants and lipid
peroxidation products in
untreated tuberculosis patients in
Ethiopia. Am J Clin Nutr. Jul
2003;78(1):117-122.
13. Vijayamalini M, Manoharan S.
Lipid peroxidation, vitamins C,
E and reduced glutathione levels
in patients with pulmonary
tuberculosis. Cell Biochem Funct.
Jan-Feb 2004;22(1):19-22.
14. Mugusi FM, Rusizoka O, Habib
N, Fawzi W. Vitamin A status of
patients presenting with
pulmonary tuberculosis and
asymptomatic HIV-infected
individuals, Dar es Salaam,
Tanzania. Int J Tuberc Lung Dis.
Aug 2003;7(8):804-807.
15. Ramachandran G, Santha T, Garg
R, et al. Vitamin A levels in
sputum-positive pulmonary
tuberculosis patients in
comparison with household
contacts and healthy normals. Int
J Tuberc Lung Dis. Sep
2004;8(9):1130-1133.
16. Bakaev VV, Duntau AP. Ascorbic
acid in blood serum of patients
with pulmonary tuberculosis and
pneumonia. Int J Tuberc Lung Dis.
Feb 2004;8(2):263-266.
17. Hemila H, Kaprio J, Pietinen P,
Albanes D, Heinonen OP.
Vitamin C and other
compounds in vitamin C rich
food in relation to risk of
tuberculosis in male smokers. Am
J Epidemiol. Sep 15
1999;150(6):632-641.
18. Visser ME, Texeira-Swiegelaar
C, Maartens G. The short-term
effects of anti-tuberculosis
therapy on plasma pyridoxine
levels in patients with
pulmonary tuberculosis. Int J
Tuberc Lung Dis. Feb
2004;8(2):260-262.
19. Ustianowski A, Shaffer R, Collin
S, Wilkinson RJ, Davidson RN.
Prevalence and associations of
vitamin D deficiency in foreign-
born persons with tuberculosis in
London. J Infect. Jun
2005;50(5):432-437.
20. Wilkinson RJ, Llewelyn M, Toossi
Z, et al. Influence of vitamin D
deficiency and vitamin D receptor
polymorphisms on tuberculosis
among Gujarati Asians in west
London: a case-control study.
Lancet. Feb 19
2000;355(9204):618-621.
21. Roth DE, Soto G, Arenas F, et al.
Association between vitamin D
receptor gene polymorphisms and
response to treatment of
pulmonary tuberculosis. J Infect
Dis. Sep 1 2004;190(5):920-927.
22. Kassu A, Yabutani T, Mahmud
ZH, et al. Alterations in serum
levels of trace elements in
tuberculosis and HIV infections.
Eur J Clin Nutr. May
2006;60(5):580-586.
23. Van Lettow M, West CE, van der
Meer JW, Wieringa FT, Semba

73

RD. Low plasma selenium
concentrations, high plasma
human immunodeficiency virus
load and high interleukin-6
concentrations are risk factors
associated with anemia in adults
presenting with pulmonary
tuberculosis in Zomba district,
Malawi. Eur J Clin Nutr. Apr
2005;59(4):526-532.
24. Gangaidzo IT, Moyo VM,
Mvundura E, et al. Association of
pulmonary tuberculosis with
increased dietary iron. J Infect
Dis. Oct 1 2001;184(7):936-939.
25. Pakasi TA, Karyadi E, Wibowo Y,
Simanjuntak Y, Suratih NM,
Salean M, Darmawidjaja N, van
der Meer JW, van der Velden K,
Dolmans WM. Vitamin A
deficiency and other factors
associated with severe
tuberculosis in Timor and Rote
Islands, East Nusa Tenggara
Province, Indonesia. Eur J Clin
Nutr. 2009 Sep;63(9):1130-5.
26. Karyadi E, West CE, Schultink W,
et al. A double-blind, placebo-
controlled study of vitamin A and
zinc supplementation in persons
with tuberculosis in Indonesia:
effects on clinical response and
nutritional status. Am J Clin Nutr.
Apr 2002;75(4):720-727.
27. Das BS, Devi U, Mohan Rao C,
Srivastava VK, Rath PK. Effect of
iron supplementation on mild to
moderate anaemia in pulmonary
tuberculosis. Br J Nutr. Sep
2003;90(3):541-550.
28. Range N, Andersen AB,
Magnussen P, Mugomela A, Friis
H. The effect of micronutrient
supplementation on treatment
outcome in patients with
pulmonary tuberculosis: a
randomized controlled trial in
Mwanza, Tanzania. Tropical
Medicine and International
Health 2005;10(9):82632.
29. Range N, Changalucha J, Krarup
H, Magnussen P, Andersen AB,
Friis H. The effect of multi-
vitamin/mineral supplementation
on mortality during treatment of
pulmonary tuberculosis: a
randomised two-by-two factorial
trial in Mwanza, Tanzania. British
Journal of Nutrition
2006;95(4):76270.
30. Villamor E, Mugusi F, Urassa W,
Bosch R J, Saathoff E, Matsumoto
K, et al.A trial of the effect of
micronutrient supplementation on
treatment outcome, T cell counts,
morbidity, and mortality in adults
with pulmonary tuberculosis.
Journal of Infectious Diseases
2008;197(11):1499505.
31. Semba RD, Kumwenda J, Zijlstra
E, Ricks MO, van Lettow M,
Whalen C, et al. Micronutrient
supplements and mortality of HIV-
infected adults with pulmonary
TB: a controlled clinical trial. Int J
Tuberc Lung Dis 2007;11(8):854
859.
32. Trevino A Pakasi, Elvina Karyadi,
Ni Made Desy Suratih, Michael
Salean, Nining Darmawidjaja ,
Hans Bor, Koos van der Velden,
Wil MV Dolmans, Jos WM van
der Meer. Zinc and vitamin A
supplementation fails to reduce
sputum conversion time in
severely malnourished pulmonary
tuberculosis patients in Indonesia.
Nutrition Journal 2010, 9:41.
33. Africas Health in 2010
project/AED. Nutrition and
tuberculosis: A review of the
literature and considerations for
TB control programs. Washington
DC: USAID. 2008.
34. Nacer Lounis, Chantal Truffot-
Pernot, Jacques Grosset,Victor R.
Gordeuk, Johan R. Boelaert. Iron
and Mycobacterium tuberculosis
infection. Journal of Clinical
Virology 20 (2001) 123126.
35. Gustafson P, Gomes VF, Vieira
CS, et al. Tuberculosis in Bissau:
incidence and risk factors in an
urban community in sub Saharan
Africa. Int J Epidemiol 2004;
33:16372.
36. Wejse C, Olesen R, Rabna P, et al.
Serum 25-hydroxy-vitamin D in a
West African population of
tuberculosis patients and

74

unmatched healthy controls. Am J
Clin Nutr 2007; 86:137683.
37. Stephensen CB, Gildengorin G.
Serum retinol, the acute phase
response, and the appar-ent
misclassication of vitamin A
status in the third National Health
and Nutrition Examination
Survey. Am J Clin Nutr 2000;
72:11708.
38. Ghayour-Mobarhan M, Taylor A,
New SA, Lamb DJ, Ferns GA.
Determinants of serum copper,
zinc and selenium in healthy
subjects. Ann Clin Biochem 2005;
42:36475.
39. Benn CS, Fisker AB, Diness BR,
Aaby P. Sex differential effects of
neonatal vitamin A
supplementation on mortality? J
Infect Dis 2006;194:719.
40. Benn CS, Martins C, Rodrigues A,
Jensen H, Lisse IM, Aaby P.
Randomised study of the impact
of different doses of vitamin A on
childhood morbidity and
mortality. BMJ 2005; 331:1428
32.
41. Sazawal S, Black RE, Ramsan M,
et al. Effects of zinc
supplementation on mortality in
children aged 148 months: a
community-based randomised,
placebo-controlled trial. Lancet
2007; 369:92734.
42. Paton NI, Chua YK, Earnest A,
Chee CB. Randomized controlled
trial of nutritional
supplementation in patients with
newly diagnosed tuberculosis and
wasting. Am J Clin Nutr. Aug
2004;80(2):460-465.
43. Abba K, Sudarsanam TD, Grobler
L, Volmink J. Nutritional
supplements for people being
treated for active tuberculosis.
Cochrane Database Syst Rev
2008;(4):CD006086.
44. Christine Stabell Benn, Henrik
Friis, Christian Wejse. Should
Micronutrient Supplementation Be
Integrated into the Case
Management of Tuberculosis? The
Journal of Infectious Diseases
2008; 197:14879.

















































75

KORELASI JUMLAH PENDERITA DIARE DENGAN MENINGKATNYA
POPULASI E.COLI DI KECAMATAN ASEMROWO
E. Devi Dwi Rianti

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya
ABSTRAK
Pencemaran sungai adalah peristiwa nyata yang terjadi akibat banyaknya aktivitas masyarakat
di bantaran sungai, peneliti ingin mengetahui keadaan wilayah yang padat khususnya di wilayah
kecamatan Asemrowo. Dimana masalah lingkungan terjadinya lingkungan kumuh yang diakibatkan
oleh aktivitas manusia sehingga mengakibatkan penyakit diare. Tujuannya, mengetahui kondisi
lingkungan dan mengetahui secara khusus koralasi antara penyakit diare dengan meningkatnya jumlah
populasi E.coli di sungai Asemrowo dan Kalianak.
Hasil yang diperoleh dari sungai Asemrowo dan Kalianak, memiliki 76.900 koloni/100 ml
bakteri E.coli, berarti bahwa 76.900 x 1,25 x 10
6
=96 milyar sel/ml (1 koloni=1,25x10
6
). Adanya
pencemaran domestik , memberi dampak yang berhubungan dengan kualitas kesehatan masyarakat.
Data puskesmas menunjukkan tingkat penderita diare tiap tahunnya bertambah. Pembuangan limbah
yang terus dibuangan menuju sungai terciptanya lingkungan yang buruk, ditunjang dengan kondisi
sanitasi yang buruk sebagai penyebab banyaknya kontaminasi bakteri E.coli mengindikasikan adanya
pencemaran tinja manusia.
Kata Kunci: Kumuh, Pembuangan limbah, Pencemaran domestik

CORRELATION OF PATIENTS WITH DIARRHOEA increasing population of
E. COLI IN SUB ASEMROWO
E. Devi Dwi Rianti
Lecturer Faculty of Medicine, University of Wijaya Kusuma Surabaya
ABSTRACT
Pollution of rivers is a real event that happened due to the many community activities along the river,
the researchers wanted to know the state of the dense region, especially in districts Asemrowo. Where
environmental problems of the slum environment by human activities that cause diarrheal disease. The
goal, determine the condition of the environment and find out specifically koralasi between diarrheal
disease by increasing the number of E. coli in river populations Asemrowo and Kalianak.
Results obtained from the river and Kalianak Asemrowo, has 76,900 koloni/100 ml E.coli bacteria,
means that 76,900 x 1.25 x 106 = 96 billion cells / ml (1 colony = 1.25 x106). Domestic pollution,
impact-related quality of public health. Data centers shows the level of diarrhea patients each year
increases. Disposal of waste into the river continues dibuangan creation of bad environment, supported
by poor sanitary conditions as the cause of many E. coli bacterial contamination may indicate human
fecal pollution.
Keywords: Slums, waste disposal, domestic Pollution

PENDAHULUAN
Pencemaran sungai adalah
peristiwa nyata yang terjadi akibat
banyaknya aktivitas masyarakat di
bantaran sungai, yang sadar maupun tidak
telah membuang limbah ke dalam sungai.
Dalam Peraturan Pemerintah RI Nomor
35 Tahun 1991 Tentang Sungai, dimana
pengertian sungai adalah tempat tempat
dan wadah-wadah serta jaringan
pengaliran air mulai dari mata air sampai
muara dengan dibatasi kanan dan kirinya
serta sepanjang pengalirannya oleh garis
sempadan. Garis sempadan sungai adalah
garis batas luar pengamanan sungai. Garis
sempadan ini dalam bentuk bertanggul
dengan ketentuan batas lebar sekurang-
kurangnya 5 (lima) meter yang terletak
disebelah luar sepanjang kaki tanggul, jadi
bukan tempat pembuangan limbah, baik
cair maupun rumah tangga.
Dengan terbatasnya lahan yang
tersedia di Surabaya yang tidak seimbang
dengan pertambahan penduduk maka
banyak penduduk yang tinggal di bantaran
sungai sehingga terciptalah pemukiman
kumuh, yang merupakan pemukiman yang
tidak layak huni bagi masyarakat di
Surabaya. Yang menimbulkan terciptanya
perbedaan corak, bentuk atau keadaan
pemukiman antara satu masyarakat dengan
masyarakat lainnya di Surabaya. Namun
demikian, betapapun bervariasinya
pemukiman itu semuanya harus memenuhi

76

syarat syarat kesehatan, sehingga para
penghuninya tidak sampai menderita suatu
penyakit.
Kesehatan adalah faktor utama
sebagai parameter penilaian kelayakan
sebuah pemukiman penduduk . Salah satu
penilaian terhadap pemukiman sebagai
tujuan akhir dari lingkungan yang
memadai sangat dipengaruhi oleh
kesehatan, karena sebuah pemukiman
sehat tentunya akan mendukung
tercapainya lingkungan yang sehat.
Dimana di dalam sebuah pemukiman
yang sehat menyebabkan terwujudnya
penghuni yang sehat, dan juga
meningkatkan kualitas fisik maupun
psikologinya. Pemukiman terdiri dari
beberapa macam rumah sehat dan
sederhana bagi penghununya. Menurut
Azwar (1996) rumah sehat adalah tempat
untuk berlindung atau bernaung dan
tempat untuk beristirahat sehingga
menumbuhkan kehidupan yang sempurna,
baik fisik, rohani maupun sosial. Rumah
sehat juga harus memenuhi syarat syarat
yang berkaitan dengan kesehatan,
kekuatan bangunan, dan keterjangkauan.
Akan tetapi tidaklah mudah untuk
memperoleh rumah memenuhi syarat
sesuai dengan yang kita inginkan. Saat ini
masih banyak keluarga di wilayah kota
Surabaya yang masih tinggal di rumah
rumah yang tidak memenuhi syarat untuk
tempat tinggal. Bantaran sungai, pinggiran
rel kereta api, pinggir jalan raya
merupakan beberapa contoh area yang
seharusnya tidak menjadi tempat
pemukiman masyarakat, karena ditinjau
dari kesehatan dan keamanan tidak
memenuhi syarat pemukiman yang sehat
sesuai dengan peraturan kesehatan
lingkungan untuk menjadi daerah
pemukiman.
Peneliti dalam hal ini ingin
mengetahui keadaan wilayah yang padat
penduduk di wilayah Surabaya Barat.
Khususnya di wilayah kecamatan
Asemrowo . Peneliti ingin mempelajari
masalah lingkungan dari kemungkinan
terjadinya lingkungan kumuh yang
diakibatkan oleh aktivitas manusia
sehingga mengakibatkan penyakit diare
yang merugikan kesehatan masyarakat di
kecamatan Asemrowo. Terutama dengan
meningkatnya jumlah E.coli di air sungai
Asemrowo sebagai vektor. Karena air
merupakan salah satu materi esensial
untuk penyebaran bibit penyakit
(Suriawiria, 2005). Tujuan penelitian ini
adalah , mencari korelasi jumlah populasi
E.coli (koloni/ml) yang berada dibeberapa
karakteristik pemukiman yang berbeda
beda dengan jumlah penderita diare.
Berdasarkan kondisi wilayah
kecamatan Asemrowo yang memiliki
karakteristik berbeda, memiliki daerah
seperti : pasar, pemukiman penduduk,
jalan raya, kawasan industri, serta sungai.
Sehingga akibat dari karakteristik
lingkungan yang berbeda di kecamatan
Asemrowo menyebabkan terciptanya
kawasan kumuh, sanitasi dan higienis
yang tidak memenuhi syarat, akibat dari
sanitasi dan higienis yang tidak baik
tersebut dapat mengganggu kesehatan
penduduk. Sanitasi menurut Azwar (1996)
adalah suatu usaha kesehatan masyarakat
yang menitik beratkan pada pengawasan
berbagai faktor lingkungan yang
mempengaruhi derajat kesehatan manusia,
kondisi lingkungan dapat mempengaruhi
kesehatan masyarakat. Banyak aspek
kesejahteraan manusia dipengaruhi oleh
kondisi lingkungan, dan banyak penyakit
dapat timbul karena didukung, dan
dirangsang oleh faktor faktor
lingkungan. Dalam Undang Undang
Republik Indonesia Nomer 23 Tahun 1992
Tentang Kesehatan Bab I Pasal 1 sebagai
berikut: Kesehatan adalah keadaan
sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang
memungkinkan setiap orang hidup
produktif secara sosial ekonomi. Jika
dikaji lebih lanjut tentang kesehatan, maka
tidak banyak manusia yang benar benar
memenuhi syarat sehat. Akan tetapi bukan
berarti semua manusia selalu menderita
penyakit. Arti penyakit sendiri adalah;
merupakan perubahan yang mengganggu
kondisi tubuh sebagai respon dari faktor
lingkungan yang mungkin berupa nutrisi,
kimia, biologi atau psikologi ( Rick ,
2005). Menurut Chandra (2007), penyakit
adalah riwayat alami perjalanan penyakit
atau sering disebut natural history of
disease yang riwayat alami perjalanan
penyakit pada manusia yang terdiri
atas,terjadinya gangguan keseimbangan
antara penyakit, manusia, dan lingkungan.
Kondisi lingkungan yang kumuh lebih

77

menguntungkan penyakit dan merugikan
manusia. Menurut Chandra (2007),
mengatakan bahwa proses perjalanan
suatu penyakit terjadi dimulai sejak
adanya gangguan keseimbangan antara
penyakit, manusia, dan lingkungan
sehingga dapat terjadinya suatu kesakitan.
Penyakit diare ditemukan
dikalangan penduduk dalam kondisi
masyarakat dan lingkungan yang buruk.
Ternyata diare banyak diderita oleh
masyarakat kecamatan Asemrowo. Diare
merupakan penyakit yang terjadi karena
pola hidup yang tidak memenuhi peraturan
kesehatan atau tingkat kebersihan yang
masih kurang memadai ( Efendi,1981).
Penyebab diare juga dapat dipengahuhi
oleh mikroorganisme yaitu bakteri yang
terdapat pada kotoran manusia dan hewan,
seperti bakteri E.coli, shigella, vibrio
cholera dan salmonella (Suriawiria, 2008).
Kecamatan Asemrowo merupakan
salah satu wilayah kota Surabaya bagian
barat. Yang memiliki masyarakat tingkat
kemiskinannya tertinggi di wilayah
Surabaya Barat (Data BPS, 2007).
Wilayah kecamatan Asemrowo yang
memiliki lima kelurahan yaitu; kelurahan
Tambak Langon, kelurahan Greges,
kelurahan Asemrowo, kelurahan Genting,
kelurahan Kalianak. kecamatan Asemrowo
mempunyai luas wilayah 13,06 km
2

yang tingkat masyarakatnya mempunyai
kemiskinan, oleh adanya keadaan wilayah
kecamatan tersebut yang kumuh. Batas
wilayah dari kecamatan Asemrowo yaitu;
sebelah utara : Selat Madura, sebelah
Timur: kecamatan Sawahan, sebelah
selatan : kecamatan Tandes dan kecamatan
Benowo. Kecamatan Asemrowo adalah
salah satu dari kecamatan yang merupakan
pusat perekonomian. Di wilayah Surabaya
Barat, sehingga tidak heran jika banyak
pemukiman yang mempunyai karakteristik
lingkungan yang berbeda, mulai dari
pemukiman yang padat penduduk dan
kumuh hingga pemukiman sehat .
Keadaan lingkungan inilah yang dapat
mempengaruhi lingkungan hidup
masyarakat di kecamatan Asemrowo
dengan karakteristik masyarakat yang
berbeda, yang antara lain telah membuang
limbah domestik maupun industri ke aliran
sungai sehingga menimbulkan berbagai
jenis mikroorganisme berkembang biak di
aliran sungai , yang dapat menimbulkan
penyakit (Suriawiria, 2008). Adanya
penyakit yang salah satunya dipengaruhi
oleh lingkungan pada masyarakat
Asemrowo, diantaranya penyakit diare.
Perumusan Masalah
Dari latar belakang di atas maka
dapat dirumuskan permasalahannya
sebagai berikut :
Apakah dengan kondisi
lingkungan di wilayah di kecamatan
Asemrowo, memiliki karakteristik
pemukiman yang berbeda menimbulkan
penyakit diare pada penduduk kecamatan
Asemrowo?
Tujuan Penelitian
Dari latar belakang tersebut diatas peneliti
bertujuan untuk ;
a. Tujuan umum
Mengetahui kondisi
lingkungan di kecamatan
Asemrowo yang berkarakteristik
berbeda-beda.
b. Tujuan khusus
Mengetahui korelasi
antara penyakit diare dengan
meningkatnya jumlah populasi
E.coli di sungai Asemrowo.
Hipotesis Penelitian
H0 : Timbulnya penyakit diare tidak
ada hubungan dengan
meningkatnya jumlah populasi
E.coli di sungai Asemrowo.
H1 : Timbulnya penyakit diare
hubungan dengan meningkatnya
jumlah populasi E.coli di sungai
Asemrowo.
METODE PENELITIAN
Lokasi Dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di
laboratorium mikrobiologi Fakultas
Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma
Surabaya dan kecamatan Asemrowo
wilayah kota Surabaya. Penelitian
dilakukan pada bulan April 2009.
Alat Dan Bahan Yang Digunakan
Alat penguji bakteri: petridisk,
tabung reaksi, beker glass, OSE, pipet,
cawan petri, quebec colony counter dan
lup, pembakar bunsen.
Bahan Yang Digunakan
Alat tulis, alat untuk penguji
bakteri berupa; air sampel, EMB agar
Variabel Penelitian
Variabel penelitian ini akan

78

mengidentifikasi bakteri E.Coli dengan
karekteristik wilayah di kecamatan
Asemrowo.
Prosedur pengumpulan data distribusi
bakteri E.coli
Pengumpulan data sekunder yang
diperoleh dari puskesmas Asemrowo;
Tanggal Kegiatan Pelaksanaan:
- November 2008 sampai Januari
2009 ijin Dinas Kesehatan
Surabaya diperoleh.
- Januari 2009 sampai Maret 2009,
pengambilan data di puskesmas
Asemrowo.
- 1 Juni sampai 25 Juni 2009,
pelaksanaan percobaan bakteri
E.coli dari sampel air sungai
Asemrowo dan Kalianak.
Pada tahapan ini penelitian
diarahkan untuk mengetahui distribusi
bakteri E.coli disungai Asemrowo ,yang
dilakukan dengan cara sebagai berikut;

1. Prosedur lokasi pengambilan sampel :
Pantai


Rumah di
daerah industri



Daerah rumah sehat



Daerah padat penduduk



Daerah pasar



Keterangan: titik pengambilan sampel
air
Gambar Lokasi
pengambilan sampel air sungai
a. Mengambil sampel air dari sungai
yang ada di wilayah kecamatan
Asemrowo.
b. Sampel air diambil dari empat
karakteristik yang berbeda, yaitu;
pemukiman padat penduduk,
rumah sehat, pasar, rumah di
daerah industri
c. Sampel air diambil di empat titik
permukaan air sungai pada
karakteristik daerah yang berbeda.
d. Pengambilan dilakukan dengan
menggunakan botol dan sampel
air sungai di masukkan ke dalam
botol botol kecil.
e. Botol botol tesebut kemudian
diberi tanda dengan menggunakan
spidol sebagai tanda sampel
pengambilan.
f. Sampel air dibawa ke
labolatorium untuk dilihat jumlah
bakteri E.Coli.
g. Persiapan kultur bakteri E.coli di
laboratorium mikrobiologi
Universitas Wijaya Kusuma
Surabaya.
h. Untuk mengetahui jumlah koloni
E.coli digunakan perhitungan nilai
MPN atau JPT coli (Most
Probable Number atau Jumlah
Perkiraan Terdekat).
Pengolahan Data
Dalam penghitungan jumlah
bakteri E.coli digunakan interval estimasi.
Interval estimasi dapat dicari
menggunakan rumus;


79

Untuk n < 30 digunakan :
s s
n t < n
p

< n + t
n n

Untuk n > 30 digunakan :
s s
n z < n
p

< n + z
n n

2. Prosedur penentuan jumlah bakteri E.coli

Menentukan Jumlah Bakteri E.coli Di
Sungai Asemrowo dan Kalianak
Dengan Karakteristik daerah Yang
Berbeda;
Tempat percobaan; laboratorium
Mikrobiologi Fakultas Kedokteran
Universitas Wijaya Kusuma Surabaya,
tanggal percobaan ;1 Juni sampai 25 Juni
2009, populasi ; air sungai Asemrowo dan
Kalianak , sampel
;air sungai Asemrowo dan Kalianak
disekitar pasar, rumah padat penduduk,
rumah sehat, rumah di daerah kawasan
industri. Dengan panjang sungai ; 3 km,
debit air sungai ; 2,16 m
3
/s, volume air
yang diamati;1 ml, faktor pengenceran; 10
kali.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Tabel 1. Populasi E.coli di sungai Asemrowo dan Kalianak

Tabel 1. Populasi E.coli di sungai Asemrowo dan Kalianak
lokasi pe- Pasar Rumah padat Rumah Rumah di
ngamatan (koloni/ml) penduduk sehat kawasan
Titik (koloni/ml) (koloni/ml) industri
(koloni/ml)
pengamatan

I 172 157 17 13 9 6 12 20
II 76 173 20 15 9 12 17 28
III 219 141 21 17 3 7 22 204
IV 235 266 154 11 9 3 173 220
Data hasil pengamatan diolah dengan menggunakan program Excell,
maka dapat ditentukan nilai statistik bakteri E.coli di berbagai lokasi;
Tabel 2. Hasil pengamatan populasi E.coli di sungai Asemrowo dan Kalianak
Nilai statistik Pasar
(Koloni)
Rumah Padat
Penduduk
(Koloni)
Rumah Sehat
(Koloni)
Rumah Di Kawasan
Industri (Koloni)
Mean Jumlah
Bakteri E-coli
n
P
= 179, n
RP
= 33,5 n
RS
= 7,3 n
RKI
= 87,0
Standart Deviasi S
P
= 60,13 S
RP
= 48,80 S
RS
= 3,15 S
RKI
= 93,72

80

Interval estimasi
dengan
Level significan
95% dan derajat
kebenaran 7
(t = 2,365)
126,16<n
p
<232,74 17,01<n
RP
<49,99 4,48<n
RS
<10,12 3,23<n
RKI
<170,77


Nilai statistik jumlah bakteri E.coli di
sungai Asemrowo dan Kalianak secara
keseluruhan adalah :
- Mean jumlah bakteri E.coli = 76,9
koloni/ml
- Standart deviasi = 88,48 koloni/ml
- Interval estimasi dengan level
signifikan 95 % dan derajat kebebasan 31
(z = 1,96 ) = ( 46,24 < n
t
< 107,96)
koloni/ml

Tabel 3. Surveilans Terpadu Penyakit Diare Berbasis Puskemas
No Gol. Umur
Tahun
<1thn 1-4
Thn
5-14
thn
15-44
thn
45-55
thn
55-64
thn
65
thn
Jlh
1 2007 111 229 220 203 181 120 70 1134
2 2008 178 272 232 207 208 129 90 1316
3 2009 42 76 10 20 54 41 10 253
Sumber: Puskesmas Kecamatan Asemrowo,2009

Dari hasil pengolah data di atas dapat
diketahui bahwa jumlah bakteri E.coli di
aliran sungai Asemrowo dan Kalianak
Surabaya terbesar berada dilokasi pasar .
Hal ini disebabkan karena:
1. Masyarakat yang berada di pasar
membuang sampahnya ke sungai.
2. Berdirinya ponten ponten umum
(kamar mandi umum) di sepanjang
pasar yang letaknya di bantaran
sungai.
3. Pembuangan tinja langsung ke sungai.
Sedangkan jumlah bakteri E.coli
terkecil disepanjang aliran sungai
Asemrowo dan Kalianak Surabaya berada
dilokasi dekat perumahan sehat. Hal ini
disebabkan karena:
1. Pada perumahan sehat, disetiap rumah
memiliki bak bak sampah
2. Pembungan tinja melalui septic tank
3. Keadaan sanitasi yang lebih baik
Secara keseluruhan mean jumlah
bakteri E.coli yang berada di sungai
Asemrowo dan Kalianak Surabaya tanpa
pengenceran adalah 76.900 koloni/ 100
ml.
Standar deviasi yang diperoleh
dari penelitian ini relatif besar karena nilai
varian dari data yang diperoleh juga relatif
besar disamping jangkauan dari data yang
diperoleh juga relatif besar.

Tabel 4. Perbandingan jumlah E.coli dibeberapa sungai di Surabaya
Daerah sungai di Surabaya
Karang pilang
dan
Ngagel (Jagir)
Kali Mas Asemrowo dan
Kalianak
Jumlah (sel/100 ml) 64.000 milyar 350 milyar s/d 1600
milyar
96 milyar

Pembahasan
Data dari puskesmas
menunjukkan bahwa jumlah penderita
penyakit diare pada tahun 2007 = 1134
penderita, tahun 2008 = 1316 penderita,
dan pada jangka dua bulan (Januari dan
Pebruari) 2009 = 253 penderita. Dari data
tersebut adanya peningkatan yang sangat
berarti, karena pada penyakit diare sering
menyerang bayi dan balita, bila tidak
diatasi lebih lanjut akan menyebabkan
dehidrasi yang mengakibatkan kematian.
Data terakhir dari Departemen Kesehatan
menunjukkan bahwa diare menjadi

81

penyakit pembunuh kedua bayi di bawah
lima tahun (balita) di Indonesia. Data
puskesmas menunjukkan adanya
peningkatan, peningkatan data tersebut
juga menunjukkan hubungan dengan
meningkatnya populasi E.coli .
Selain data dari puskesmas,
dilakukan pula penelitian dengan
pengambilan sampel air yang berada di
sungai Asemrowo dan Kalianak. Dimana
sepanjang sungai tersebut memiliki
daerah berkarakteristik berbeda. Dari
daerah berkarakteristik berbeda di
sepanjang sungai Asemrowo dan Kalianak
hasil penelitian memiliki jumlah bakteri
E.coli terbesar di daerah pasar yang berada
di sepanjang sungai Asemrowo. Dari
jumlah yang besar tersebut dapat terjadi
karena;
1. Daerah pasar tersebut berada di
bantaran sungai Asemrowo.
2. Aktifitas pedagang dan masyarakat
sekitar pasar sering membuang
sampahnya di sungai.
3. Aktifitas MCKnya pun berada di
bantaran sungai tersebut, dengan
membuang tinjanya langsung ke
badan air.
Dari nilai statistik jumlah bakteri
E.coli di sungai Asemrowo dan
Kalianak secara keseluruhan adalah :
- Mean jumlah bakteri E.coli = 76,9
koloni/ml
- Standart deviasi = 88,48 koloni/ml
- Interval estimasi dengan level
significance 95 % dan derajat kebebasan
31 (z = 1,96 ) = ( 46,24 < n
t
< 107,96)
koloni/ml
Dari data tersebut jumlah bakteri
E.coli yang berada di sepanjang sungai
Asemrowo dan Kalianak sebesar 76,9
koloni/ml .
Pada tahun 2005, Bapedal
Provinsi Jawa Timur dan Sarpedal
Kementerian Negara Lingkungan Hidup
menjelaskan tentang kualitas air di sungai
JawaTimur menunjukkan,kandungan
bakteri E.coli di aliran sungai Surabaya,
khususnya di Karang Pilang dan Ngagel
(Jagir), mencapai 64.000 sel bakteri per
100 mililiter sampel air. Dan dijumpai di
hulu Kali Mas tepatnya di daerah Ngagel,
jumlah E.coli dalam 100 ml air Kali Mas
mencapai 350 milyar sampai 1600 milyar.
Dalam baku mutu yang ditetapkan
oleh Pemerintah dalam Peraturan
Pemerintah Nomer 82 tahun 2001 tentang
Pengendalian Limbah Cair, yang
menyebutkan bahwa badan air yang
dimanfaatkan sebagai bahan baku air
minum seperti pada Kali Mas, dimana
memiliki kandungan E.coli dalam 100 ml
air tidak boleh lebih dari 10.000.
Sungai Asemrowo dan Kalianak
yang memiliki 76.900 koloni/ 100ml
bakteri E.coli, yang berati bahwa 76.900 x
1,25 x 10
6
sel = 96 milyar sel/ml karena 1
koloni = 1,25 x 10
6
( Tortora, 2007). Maka
jumlah bakteri E.coli di Sungai
Asemrowo dan Kalianak memiliki jumlah
lebih besar dibandingkan dengan Karang
Pilang dan Ngagel. Akan tetapi dengan
jumlah tersebut masih melebihi nilai baku
mutu yang telah ditetapkan oleh Peraturan
Pemerintah Nomer 82 Tahun 2001.
Wilayah Kecamatan Asemrowo, dimana
kecamatan ini dilewati sungai Asemrowo
dan Kalianak, dimana dalam penelitian
jumlah bakteri sungai tersebut memiliki
jumlah bakteri E.coli 769.00 koloni/ 100
ml.
Perbandingan jumlah E.coli di
sungai Asemrowo dan Kalianak tersebut
melebihi batas baku mutu yang sudah
ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah
Nomor 82 tahun 2001 Tentang
Pengendalian Limbah Cair. Dalam
Peraturan Pemerintah tersebut
menyebutkan bahwa badan air
dimanfaatkan sebagai bahan baku air
minum yang mana kandungan bakteri
E.coli dalam air 100 ml air tidak boleh
lebih dari 10.000.

KESIMPULAN
Adanya pencemaran domestik
yang terjadi di Kecamatan Asemrowo,
memberi dampak yang berhubungan
dengan kualitas kesehatan masyarakat.
Dimana data dari puskesmas menunjukkan
tingkat penderita diare tiap tahunnya
bertambah. Pembuangan limbah yang
terus dibuangan menuju sungai inilah
terciptanya lingkungan yang buruk.
Dimana ditunjang dengan kondisi sanitasi
yang buruk sebagai penyebab banyaknya
kontaminasi bakteri E.coli
mengindikasikan adanya pencemaran tinja
manusia.
Dari penjelasan diatas maka

82

perlunya program penyehatan lingkungan
yang diperuntukkan bagi masyarakat
yaitu, dengan menekankan pada kegiatan
penyuluhan kesehatan meliputi:
1. Penyuluhan dilakukan oleh ibu ibu
PKK serta DASAWISMA, langsung
kepada masyarakat.
2. Pengawasan mutu lingkungan, dengan
memberi pengarahan kepada
masyarakat tentang pencemaran yang
terjadi pada lingkungan dan dampak
yang diakibatkan oleh pencemaran
sehingga dapat mengganggu
kesehatan.
3. Pengarahan di dalam pembangunan
sarana jamban keluarga dan saluran
pembuangan air limbah yang benar
kepada masyarakat, terutama yang
diperuntukkan bagi rumah di daerah
pasar dimana pembuangan limbahnya
langsunga di buang ke sungai.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim,http://kmpk.forumpustakamas.or.i
d-dikunjungi26Juni2009,11:57AM
Anonim,http://air.bappenas.go.id-
dikunjungi27Juni2009,12:50 PM
Anies,2006.Manajemen Berbasis
Lingkungan, Penerbit Elex Media
Komputindo, Jakarta.
Azwar,1996.Pengantar Ilmu Kesehatan
Lingkungan, Penerbit Mutiara Sumber
Widya,Jakarta.
Asdak,2004.Hidrologi Dan Pengelolaan
Daerah Aliran Sungai, Gajah Mada
University Press, Yogyakarta.
Brooks,Geo.F,2005. Mikrobiologi
Kedokteran, Penerbit Salemba Medika,
Jakarta.
Chandara, Budiman,2007. Pengantar
Kesehatan Lingkungan, Penerbit Buku
Kedokteran, Jakarta.
Darmono,2001.Lingkungan Hidup Dan
Pencemaran, Penerbit Universitas
Indonesia, Jakarta.
Ginting, Perdana,2007. Sistim
Pengelolaan Lingkungan Dan Limbah
Industri, Penerbit Rama Widya, Bandung.
Hadi, Anwar, 2007. Prinsip Pengelolaan
Pengambilan Sampel Lingkungan,
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta.
Julia S.S, 2007. Epidemiologi Lingkungan,
Penerbit Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta.
Oswari.E,2003. Penyakit dan
Penanggulangannya, Balai Penerbit
Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia, Jakarta.
Suriawiria, Unus, 2008. Air Dalam
Kehidupan Dan Lingkungan Yang Sehat,
Penerbit PT Alumni, Bandung.
Wheler, 1989. Mikrobiologi Dasar,
Penerbit Erlangga, Jakarta.










































83

AEDES AEGYPTI SEBAGAI VEKTOR PENYAKIT DEMAM BERDARAH
DENGUE
Bagus Uda Palgunadi, Asih Rahayu
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya
Abstrak : Aedes aegypti merupakan nyamuk yang dapat berperan sebagai vektor Demam Berdarah
Dengue (DBD). Nyamuk ini dapat mengandung virus DBD bila menghisap darah penderita DBD.
Virus tersebut akan masuk ke dalam intestinum nyamuk dan bereplikasi dalam hemocoelum.
Selanjutnya virus akan menuju ke dalam kelenjar air liur nyamuk ini dan siap ditularkan. Dengan
mengendalikan vektor maka Kejadian Luar Biasa suatu penyakit yang ditularkan melalui vektor dapat
dicegah.
Kata kata kunci : Aedes aegypti, Demam Berdarah Dengue, Vektor

AEDES AEGYPTI AS DENGUE HAEMORRHAGIC FEVER VECTOR
Bagus Uda Palgunadi, Asih Rahayu
Lecturer Faculty of Medicine, University of Wijaya Kusuma Surabaya
Abstract : Aedes aegypti is mosquito that take role as Dengue Haemorrhagic Fever vector (DHF).
This mosquito has DHF virus inside its body when it sucked the blood of DHF patient. This Virus will
enter the intestinum of the mosquito and replicate inside the hemocoelum. The virus will then go to the
saliva gland of the mosquito and so it is ready to be transmitted. By controlling the vector, the special
case of a disease transmitted by the vector can be avoided.
Keywords :Aedes aegypti, Dengue Haemorrhagic Fever, Vector

Pendahuluan :
Pemberantasan penyakit menular
dilaksanakan dengan upaya penyuluhan,
penyelidikan, pengebalan, menghilangkan
sumber dan perantara penyakit, tindakan
karantina serta upaya lain yang diperlukan.
Upaya untuk menghilangkan perantara
penyakit adalah dengan cara pengendalian
vektor penyakit. Dengan mengendalikan
vektor maka Kejadian Luar Biasa ( KLB )
suatu penyakit yang ditularkan melalui
vektor dapat dicegah.
Aedes aegypti merupakan nyamuk
yang dapat berperan sebagai vektor
berbagai macam penyakit diantaranya
Demam Berdarah Dengue (DBD).
Walaupun beberapa spesies dari Aedes sp.
dapat pula berperan sebagai vektor tetapi
Aedes aegypti tetap merupakan vektor
utama dalam penyebaran penyakit Demam
Berdarah Dengue. (Lawuyan S, 1996 ;
Yotopranoto S dkk., 1998 ; Soegijanto S,
2003)
Keberhasilan dalam upaya
pemberantasan vektor penular penyakit
ditentukan oleh berbagai faktor , antara
lain sarana, prasarana maupun sumber
daya manusia. Dalam hal upaya
pengendalian Aedes aegypti , perlu kiranya
pemahaman ilmu entomologi diantaranya
adalah taksonomi, morfologi, ekologi dan
siklus hidup dari vektor.
Demam Berdarah Dengue (Dengue
Haemorrhagic Fever):
Kejadian Luar Biasa Demam
Berdarah Dengue pertama di Asia
ditemukan di Manila pada tahun 1954 dan
di Bangkok Thonburi serta sekitarnya
pada tahun 1958. Di Singapura ditemukan
kasus Demam Berdarah Dengue pada usia
dewasa muda dengan hasil isolasi virusnya
adalah tipe DEN1 dan tipe DEN 2. Pada
tahun 1961 di Kamboja telah diisolasi
virus Dengue tipe DEN 1 dan tipe DEN 4.
Di Penang , Malaysia Barat penyakit ini
ditemukan pertamakali pada tahun 1962.
Sedangkan di Calcuta pada tahun 1963
dan 1964 serta di Srilangka pada tahun
1966. Di Indonesia Demam Berdarah
Dengue pertamakali ditemukan tahun
1968. (Soegijanto S,2003)
Virion Dengue merupakan virus
dengan genome RNA dari family
Flaviviridae, genus Flavivirus. Virion ini
berbentuk spheris dengan diameter
nucleocapsidnya 30 nm dan ketebalan
envelopenya 10 nm. Envelopenya terdiri
dari lipid yang mengandung dua protein
yaitu envelope protein (E) dan protein
membrane (M). Envelope berperan dalam
haemaglutinasi / menginduksi uji
hambatan aglutinasi, neutralisasi dan
interaksi antara virus dengan sel host pada
saat awal infeksi / menarik sel (cell

84

tropism). Virus Dengue mampu
bereplikasi dalam tubuh manusia, hewan
sebangsa monyet, simpanse, kelinci,
mencit, marmot, tikus, hamster dan
nyamuk. Pada manusia , masa viraemia
berkisar dua sampai duabelas hari
sedangkan pada hewan primate masa
viraemia berkisar antara satu sampai dua
hari, tetapi titer virus dalam darah manusia
dapat mencapai lebih dari seratus kali
dibandingkan dengan pada darah hewan
primata. Virus bereplikasi dengan baik
pada nyamuk genus Aedes. Virus Dengue
diklasifikasikan menjadi empat serotipe
yaitu DEN 1, DEN 2, DEN 3 dan DEN 4.
Virus Dengue termasuk virus yang labil
terhadap suhu dan faktor kimiawi lain
serta mempunyai masa viraemia yang
pendek, oleh karena itu keberhasilan
isolasi dan identifikasi virus ini sangat
tergantung kepada kecepatan dan
ketepatan pengambilan sampel . Virus
Dengue juga mempunyai manifestasi
klinik yang sangat bervariasi. Virus
Dengue mempunyai dua macam protein
yaitu protein struktural dan protein non-
struktural. Protein struktural terdiri dari
protein E, protein M, dan protein C,
sedangkan protein non struktural terdiri
dari tujuh protein yaitu NS1, NS2A,
NS2B, NS3, NS4A, NS4B, dan NS5.
Protein nonstrukutral tidak mempunyai
kaitan dengan berat ringannya manifestasi
klinis Demam Berdarah Dengue.
Patofisiologi primer pada Demam
Berdarah Dengue dengan Dengue Shock
Syndrome adalah peningkatan akut
permeabilitas vaskuler yang mengarah ke
kebocoran plasma ke dalam ruang
ekstravaskuler sehingga menimbulkan
hemokonsentrasi dan penurunan tekanan
darah . Perubahan hemostasis pada
Demam Berdarah Dengue dan Dengue
Shock Syndrome melibatkan tiga faktor
utama yaitu perubahan vaskuler,
trombositopenia dan kelainan koagulasi.
Hampir semua penderita Demam Berdarah
Dengue mengalami peningkatan fragilitas
vaskuler dan trombositopenia. (Joklik
WK et al,1992 ; Soegijanto S,2003 ;
Brooks GF et al, 2007 )
Vektor Demam Berdarah Dengue :
Di Indonesia, vektor penyakit
Demam Berdarah Dengue adalah nyamuk
Aedes sp. terutama adalah Aedes aegypti
walaupun Aedes albopictus dan Aedes
scutellaris dapat juga menjadi vektornya.
Aedes aegypti :
Taxonomi : nyamuk Aedes
aegypti merupakan anggota dari phylum
arthropoda , class insecta atau hexapoda
(mempunyai enam kaki) , subclass
pterygota (mempunyai sayap), divisi
endopterygota atau holometabola (
mempunyai sayap di bagian dalam dengan
metamorfosanya lengkap) , ordo diptera (
hanya mempunyai sepasang sayap depan
sedangkan sepasang sayap bagian
belakang rudimenter dan berubah fungsi
sebagai alat keseimbangan atau halter),
subordo nematocera, family culicidae,
subfamily culicinae dan genus Aedes.
Breeding Place ( Tempat
Perindukan ) : Aedes sp. termasuk
nyamuk yang aktif pada siang hari dan
biasanya akan berbiak dan meletakkan
telurnya pada tempat tempat
penampungan air bersih atau genangan air
hujan misalnya bak mandi, tangki
penampungan air, vas bunga ( baik di
lingkungan dalam rumah, sekolah,
perkantoran maupun pekuburan) , kaleng
bekas, kantung plastik bekas, di atas lantai
gedung terbuka, talang rumah , pagar
bambo, kulit buah (rambutan, tempurung
kelapa ), ban bekas ataupun semua bentuk
kontainer yang dapat menampung air
bersih . (Sembel DT, 2009)
Aedes aegypti dewasa terutama hidup dan
mencari mangsa di dalam lingkungan
rumah atau bangunan sedangkan Aedes
albopictus lebih menyukai hidup dan
mencari mangsa di luar lingkungan rumah
atau bangunan yaitu di kebun yang rimbun
dengan pepohonan. (Soedarto,2008) .
Jarak terbang maksimum antara breding
place dengan sumber makanan pada Aedes
sp. antara 50 sampai 100 mil. Umumnya
nyamuk tertarik oleh cahaya terang ,
pakaian berwarna gelap dan oleh adanya
manusia atau hewan. Daya penarik jarak
jauh disebabkan karena perangsangan bau
dari zat zat yang dikeluarkan dari hewan
ataupun manusia , CO
2
dan beberapa
Asam Amino serta lokasi yang dekat
dengan temperature hangat serta lembab. (
Neva FA and Brown HW, 1994)
Morfologi : Nyamuk ini dikenal
juga sebagai Tiger mosquito atau Black
White Mosquito karena tubuhnya

85

mempunyai ciri khas berupa adanya garis
garis dan bercak bercak putih keperakan
di atas dasar warna hitam. Dua garis
melengkung berwarna putih keperakan di
kedua sisi lateral serta dua buah garis
putih sejajar di garis median dari
punggungnya yang berwarna dasar hitam.
(James MT and Harwood RF, 1969)
Nyamuk dewasa Aedes albopictus mudah
dibedakan dengan Aedes aegypti karena
garis thorax hanya berupa dua garis lurus
di tengah thorax. (Soedarto, 2008)
Mulut nyamuk termasuk tipe menusuk dan
mengisap ( rasping sucking) ,
mempunyai enam stilet yaitu gabungan
antara mandibula, maxilla yang bergerak
naik turun menusuk jaringan sampai
menemukan pembuluh darah kapiler dan
mengeluarkan ludah yang berfungsi
sebagai cairan racun dan antikoagulan. (
Sembel DT, 2009)
Pada keadaan istirahat nyamuk dewasa
hinggap dalam keadaan sejajar dengan
permukaan. Nyamuk Aedes betina
mempunyai abdomen yang berujung
lancip dan mempunyai cerci yang panjang.
Hanya nyamuk betina yang mengisap
darah dan kebiasaan mengisap darah pada
Aedes aegypti umumnya pada waktu siang
hari sampai sore hari. Lazimnya yang
betina tidak dapat membuat telur yang
dibuahi tanpa makan darah yang
diperlukan untuk membentuk hormone
gonadotropik yang diperlukan untuk
ovulasi. Hormon ini berasal dari corpora
allata yaitu pituitary pada otak insecta,
dapat dirangsang oleh serotonin dan
adrenalin dari darah korbannya. Kegiatan
menggigit berbeda menurut umur, waktu
dan lingkungan. Demikian pula irama
serangan sehari-hari dapat berubah
menurut musim dan suhu. Kopulasi
didahului oleh pengeriapan nyamuk jantan
yang terbang bergerombol mengerumuni
nyamuk betina. Aedes memilih tanah
teduh yang secara periodik di genangi air.
Jumlah telur yang diletakkan satu kali
maksimum berjumlah seratus sampai
empat ratus butir.(Neva FA and Brown
HW, 1994)
Telur Aedes sp. tidak mempunyai
pelampung dan diletakkan satu persatu di
atas permukaan air. Ukuran panjangnya
0,7 mm, dibungkus dalam kulit yang
berlapis tiga dan mempunyai saluran
berupa corong untuk masuknya
spermatozoa. Telur Aedes aegypti dalam
keadaan kering dapat tahan bertahun
tahun lamanya. Telur berbentuk elips dan
mempunyai permukaan yang polygonal.
Telurnya tidak akan menetas sebelum
tanah digenangi air dan telur akan
menetas dalam waktu satu sampai tiga hari
pada suhu 30C tetapi membutuhkan tujuh
hari pada suhu 16C. ( Neva FA and
Brown HW, 1994 )
Larva memiliki kepala yang cukup
besar serta thorax dan abdomen yang
cukup jelas. Larva menggantungkan
dirinya pada permukaan air untuk
mendapatkan oksigen dari udara. Larva
menyaring mikroorganisme dan partikel-
partikel lainnya dalam air. Larva biasanya
melakukan pergantian kulit sebanyak
empat kali dan berubah menjadi pupa
sesudah tujuh hari. (Harwood RF and
James MT, 1979)
Pupa berbentuk agak pendek,
tidak makan tetapi tetap aktif bergerak
dalam air terutama bila terganggu. Pupa
akan berenang naik turun dari bagian dasar
ke permukaan air. Dalam waktu dua atau
tiga hari perkembangan pupa sudah
sempurna, maka kulit pupa pecah dan
nyamuk dewasa muda segera keluar dan
terbang. ( Sembel DT, 2009)
Siklus Hidup : Aedes aegypti
mengalami metamorfosis lengkap /
metamorfosis sempurna (holometabola)
yaitu dengan bentuk siklus hidup berupa
Telur, Larva (beberapa instar), Pupa dan
Dewasa (James MT and Harwood
RF, 1969)
Peran Aedes aegypti sebagai vector
penyakit Demam Berdarah Dengue :
Nyamuk dapat mengandung virus Demam
Berdarah Dengue bila menghisap darah
penderita. Virus tersebut akan masuk ke
dalam intestinum nyamuk. Replikasi virus
terjadi dalam hemocoelum dan akhirnya
akan menuju ke dalam kelenjar air liur
serta siap ditularkan. Fase ini disebut
sebagai extrinsic incubation periode yang
memerlukan waktu selama tujuh sampai
empatbelas hari. ( Soewondo ES, 1998)
Pada biakan sel mamalia, virus

86

Dengue dapat menimbulkan Cyto
Pathogenic Effect (CPE) yang tergantung
pada jenis sel yang digunakan. Pada sel
vertebrata dapat terjadi vacuolisasi dan
proliferasi membrane intraseluler
sedangkan pada sel nyamuk sering CPE
tidak terjadi sehingga infeksinya bersifat
persisten. Dengan demikian hal ini dapat
dianalogikan dengan keberadaan virus
pada tubuh nyamuk Aedes di alam,
dimana virus ini dapat berada dalam tubuh
nyamuk dan bereplikasi tanpa
menimbulkan kematian pada nyamuk
karena tidak terbentuknya CPE (
Soegijanto S, 2003)
Pengaruh lingkungan yaitu suhu
udara dan kelembaban nisbi udara juga
berpengaruh bagi viabilitas nyamuk Aedes
maupun virus Dengue. Suhu yang relatif
rendah atau relatif tinggi, serta
kelembaban nisbi udara yang rendah dapat
mengurangi viabilitas virus Dengue yang
hidup dalam tubuh nyamuk maupun juga
mengurangi viabilitas nyamuk itu sendiri.
Sehingga pada waktu musim kemarau
penularan penyakit Demam Berdarah
Dengue sangat rendah dibandingkan
dengan pada waktu musim hujan.
(Yotopranoto S dkk.,1998)
Banyak peneliti telah melaporkan
adanya transovarial transmission virus
Dengue yang ada di dalam tubuh nyamuk
betina Aedes aegypti ke dalam telur
telurnya. Dengan dibuktikannya adanya
transovarial transmission virus Dengue
dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti maka
diduga kuat bahwa nyamuk ini di alam
memegang peranan penting yang
bermakna dalam mempertahankan virus
Dengue, khususnya pada keadaaan dimana
tidak ada hospes susceptible atau kondisi
iklim yang tidak menguntungkan bagi
nyamuk. (Soegijanto S, 2003)
Pengendalian Aedes aegypti : tujuan
utama pengendalian vektor adalah untuk
menurunkan kepadatan populasi nyamuk
Aedes aegypti sampai serendah
rendahnya sehingga kemampuan sebagai
vektor akan menghilang.
Menurut Soegijanto S (2003)
secara garis besar terdapat empat cara
pengendalian vektor yakni secara kimiawi,
biologik, radiasi dan mekanik atau
pengelolaan lingkungan. Pengendalian
secara kimiawi dengan menggunakan
insektisida dapat ditujukan terhadap
nyamuk dewasa maupun larva. Insektisida
untuk nyamuk dewasa Aedes aegypti
antara lain dari golongan organochlorine,
organophosphor, carbamate dan
pyrethroid. Insektisida tersebut dapat
diaplikasikan dalam bentuk spray terhadap
rumah-rumah penduduk. Sedangkan
insektisida untuk larva Aedes aegypti yaitu
dari golongan organophosphor
(Temephos) dalam bentuk sand granules
yang dilarutkan dalam air di tempat
perindukannya ( tindakan abatisasi).
Pengendalian scara radiasi dilakukan
dengan bahan radioaktif dosis tertentu
terhadap nyamuk dewsa jantan sehingga
menjadi mandul, meskipun nantinya akan
berkopulasi dengan nyamuk betina tetapi
tidak akan menghasilkan telur yang fertile.
Pengendalian lingkungan dilakukan
dengan cara mencegah nyamuk kontak
dengan manusia misalnya memasang
kawat kasa pada lubang ventilasi rumah
serta menggalakkan gerakan 3 M yaitu
menguras tempat-tempat penampungan air
dengan menyikat dinding bagian dalam
paling sedikit seminggu sekali, menutup
rapat tempat penampungan air sehingga
tidak dapat diterobos oleh nyamuk
dewasa, menanam atau menimbun dalam
tanah barang-barang bekas yang dapat
menampung air hujan. Cara lain lagi yang
disebut autocidal ovitrap menggunakan
suatu tabung silinder warna gelap dengan
diameter 10 cm dengan salah satu ujung
tertutup rapat dan ujung lainnya terbuka.
Tabung tersebut diisi air tawar kemudian
ditutup dengan kasa nylon. Secara
periodik air dalam tabung ditambah untuk
mengganti peguapan yang terjadi.
Nyamuk yang bertelur disini dan telurnya
menetas menjadi larva dalam air tadi ,
maka akan menjadi nyamuk dewasa yang
tetap terperangkap di dalam tabung tadi.
Dari cara pengendalian tersebut diatas
tidak ada satupun yang paling unggul.
Untuk menghasilkan cara yang efektif
maka perlu dilakukan kombinasi dari
beberapa cara - cara tersebut diatas.
Sedangkan menurut Agoes R

87

(2009) pengendalian nyamuk Aedes
aegypti dapat dilakukan dengan cara
perlindungan perseorangan, mencegah
nyamuk meletakkan telurnya, mencegah
pertumbuhan jentik dan membunuh telur,
pemberian larvisida, melakukan fogging
dan pendidikan kesehatan masyarakat.
Perlindungan perseorangan untuk
mencegah terjadinya gigitan nyamuk ini
yaitu dengan memasang kawat kasa di
lubang angin; tidur dengan menggunakan
kelambu; penyemprotan dinding rumah
dengan insektisida malathion dan
penggunaan repellent pada kulit saat
berkebun. Mencegah nyamuk meletakkan
telurnya dengan cara membuang,
membakar atau mengubur benda-benda di
pekarangan atau di kebun yang dapat
menampung air hujan seperti kaleng,
botol, ban mobil dan tempat-tempat lain
yang menjadi tempat perindukan Aedes
aegypti. Mencegah pertumbuhan jentik
dan membunuh telur dengan cara
mengganti air atau membersihkan tempat-
tempat air secara teratur tiap minggu
sekali, pot bunga, tempayan dan bak air
mandi. Pemberian larvisida ( abate ) ke
dalam tempat penampungan
air/penyimpanan air bersih (abatisasi ).
Melakukan fogging dengan malathion
untuk membunuh nyamuk dewasa
sekurangnya dua kali dengan jarak waktu
sepuluh hari misalnya di daerah yang
terkena wabah dan daerah endemic yang
indeks kepadatan nyamuknya relatif
tinggi. Pendidikan kesehatan masyarakat
melalui ceramah agar masyarakat dapat
memelihara kebersihan lingkungan dan
turut secara perseorangan memusnahkan
tempat perindukan Aedes aegypti disekitar
rumahnya masing-masing. Disamping itu
pemantauan kepadatan populasi nyamuk
dapat meningkatkan pengendalian vektor.
Pengukuran kepadatan populasi larva
dilakukan dengan cara pemeriksaan
tempat perindukan di dalam dan di luar
rumah dari 100 rumah yang terdapat di
daerah pemeriksaan. Ada tiga angka
indeks yang perlu diketahui yaitu indeks
rumah (house index) yaitu suatu
persentase rumah yang positif dengan
larva Aedes aegypti dari 100 rumah yang
diperiksa; indeks wadah (container index)
yaitu persentase tempat perindukan yang
positif dengan larva Aedes aegypti dari
100 wadah yang diperiksa; indeks breteau
(breteau index) ialah jumlah tempat
perindukan yang positif dengan larva
Aedes aegypti dalam tiap 100 rumah.
Penutup :
Virus Dengue merupakan virus
RNA yang menyebabkan penyakit dengan
manifestasi klinis berupa Demam Dengue,
Demam Berdarah Dengue dan Dengue
Shock Syndrome. Penyakit ini termasuk
penyakit yang ditularkan atau disebarkan
melalui nyamuk genus Aedes sp. terutama
Aedes aegypti yang sering disebut sebagai
Tiger Mosquito melalui gigitannya karena
nyamuk ini akan mengandung virus
Dengue pada kelenjar ludahnya setelah
menghisap darah penderita Dengue.
Nyamuk ini mempunyai siklus hidup
metamorfosis sempurna dengan bentuk
siklus hidup berupa tingkatan telur, larva,
pupa dan dewasa. Berbagai upaya dapat
dilakukan untuk mengontrol populasi
nyamuk ini dengan tujuan utama adalah
menurunkan kepadatan populasi nyamuk
Aedes aegypti sampai serendah
rendahnya sehingga kemampuan sebagai
vektor akan menghilang dengan cara
kimiawi, biologik, radiasi, mekanik
terhadap telur, larva, pupa, dewasa
maupun terhadap tempat perindukannya.

Kepustakaan :
BROOKS,GF., BUTEL,JS and
MORSE,SA. 2007. Jawetz, Melnick &
Adelberg : Mikrobiologi Kedokteran.
Edisi 23. EGC.hal 536-537.
BROWN,HW. and NEVA,FA. 1994. Basic
Clinical Parasitology. 6
th
Ed. Prentice Hall
International Edition

HARWOOD, RF and JAMES, MT. 1979.
Entomology in Human and Animal Health.
7
th
Ed. Mc Millan Pub. Co.p. 548

JAMES,MT. and HARWOOD,RF. 1969.
Herms Medical Entomology. 6
th
Ed.The
Macmillan Company USA.

JOKLIK, WK.,WILLETT, HP., AOS ,DB.
And WILFERT,CM. 1992. Zinsser
Microbiology. 20
th
Ed.Aplleton &
Lange.pp.


88

LAWUYAN,S. 1996. Demam Berdarah
Dengue di Kotamadya Surabaya. Seminar
Sehari Demam Berdarah Dengue. Tropical
Disease Center, Universitas Airlangga
,Surabaya 28 Oktober 1996.

NATADISASTRA, D dan AGOES, R.
2009. Parasitologi Kedokteran. Ditinjau
dari Organ Tubuh yang Diserang.EGC.
hal. 315-318.

SCHLESINGER, S and SCHLESINGER,
MJ.1986. The Togaviridae and
Flaviviridae.Plenum Press, New York and
London.

SEMBEL DT. 2009. Entomologi
Kedokteran. Penerbit ANDI Yogyakarta.

SOEDARTO. 2008. Parasitologi Klinik.
Airlangga University Press Surabaya.

SOEGIJANTO,S. 2003. Demam Berdarah
Dengue, Tinjauan dan Temuan Baru di Era
2003.

SOEWONDO, ES. 1998. Demam
Berdarah Dengue pada Orang Dewasa,
Gejala Klinik dan Penatalaksanaannya.
Seminar Demam Berdarah Dengue. TDC-
UNAIR, Surabaya, 19 September
1998.hal.23-38.

YOTOPRANOTO,S.,SUBEKTI,S.,
ROSMANIDA, SALAMUN. 1998.
Analisis Dinamika Populasi Vektor pada
Lokasi dengan Kasus Demam Berdarah
Dengue yang Tinggi di Kotamadya
Surabaya.Majalah Kedokteran Tropis
Indonesia, 9 (1-2) : 23-31.



















































89

INFEKSI HUMAN PAPI LLOMAVI RUS DAN CARA PENCEGAHANNYA
Akhmad Sudibya
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya
Abstrak
Ada banyak jenis HPV. Tipe 6 dan 11 memiliki kemampuan menyebabkan kutil kelamin. Tipe 16 dan
18 yang terlibat dalam kanker serviks. Kutil kelamin dan kanker serviks dapat dicegah dengan
vaksinasi HPV.
Kata Kunci : HPV, tipe-tipe HPV, kutil, kutil kelamin, kanker leher
rahim, vaksinasi HPV

Human papilloma virus infection AND HOW CANCER
Akhmad Sudibya
Lecturer Faculty of Medicine, University of Wijaya Kusuma Surabaya
Abstract : There are many types of HPV. Type 6 and 11 have the ability
to cause genital warts. Type 16 and 18 are implicated in
cervical cancer. Genital warts and cervical cancer can be
prevented by HPV vaccination.
Keywords: HPV, HPV types, warts, genital warts, cervical cancer
uterus, HPV vaccination

Pendahuluan
Virus Papiloma Manusia
(HPV/Human Papillomavirus) termasuk
genus Papovavirus Familia Papovaviridae.
Papovavirus dibagi menjadi dua
kelompok. Dua kelompok tersebut adalah
Papillomavirus dan Polyomavirus.
Papillomavirus dibagi memjadi dua
kelompok, yaitu kelompok yang
menyerang manusia dan kelompok yang
menyerang hewan. Kelompok yang
menyerang manusia diberi tambahan nama
human. Nama lengkap virus menjadi
Human Papillomavirus atau populer
dengan nama HPV. Untuk selanjutnya
istilah HPV selalu digunakan dalam
tulisan ini. Kelompok virus yang
menyerang hewan diberi tambahan nama
hewan dalam bentuk ajektiva misalnya
bovine. Contoh Virus Papiloma yang
menyerang hewan adalah bovine
papillomavirus (Androphy EJ, 1999).
Tidak ada singkatan baku unuk Virus
Papiloma yang menyerang hewan. Sebagai
contoh istilah BPV tidak dikenal dalam
bidang virologi. Jadi, tidak ada singkatan
populer untuk bovine papillomavirus.
Nama HPV akhir-akhir ini sangat sering
dibicarakan karena keterkaitan HPV tipe
tertentu dengan kanker leher rahim.

Klasifikasi HPV
Klasifikasi HPV sangat
beragam. Menurut Androphy EJ (2007),
HPV dibagi menjadi banyak tipe
berdasarkan penyakit yang berkaitan. HPV
tipe 14 dapat menyebabkan penyakit
kutil (cutaneous warts/verruca vulgaris).
HPV tipe 6,11,16,18, 31, dan 35 dapat
menimbulkan penyakit kutil kelamin
(genital warts/condyloma acuminata).
Lebih dari 90% kanker leher rahim
disebabkan oleh HPV tipe 16, 18, 31, 35,
39, 45, 51, 52, 56, 58, 59, 66, 68, dan 70
(Androphy EJ, 2007).

Karateristik HPV
HPV tidak mempunyai
envelope sehingga lebih tahan terhadap
kondisi lingkungan. HPV merupakan virus
DNA yang bersifat nonlitik dan
melakukan replikasi di sel-sel epitel
skuamosa. Jaringan target meliputi kulit
dan membrana mukosa. Bagian tubuh
yang diserang adalah tangan, kaki, dan
daerah genital. Infeksi kronis HPV tipe
tertentu dapat menyebabkan keganasan
(Androphy EJ, 2007).

Penularan HPV
Penularan dapat melalui
beberapa cara, yaitu secara seksual, kontak
langsung kulit ke kulit, dan melalui kontak
dengan benda mati yang terkontaminasi
HPV (Androphy EJ, 2007).

Cara Pencegahan Penyakit Kutil
Yang terpenting pada

90

pencegahan kutil adalah menjaga
kebersihan kulit daerah predileksi dan
mengenal lebih dini tanda-tanda awal
terjadinya kutil. Daerah predileksi kutil
adalah punggung tangan, jari tangan,
punggung kaki, jari kaki, dan telapak kaki.
Kutil lebih banyak ditemukan pada anak-
anak (Sularsito SA dkk., 1986). Penularan
kutil melalui kontak kulit ataupun
otoinokulasi (Handoko RP, 1999). Vaksin
untuk mencegah HPV tipe tertentu yang
dapat menimbulkan kutil belum tersedia.

Cara Pencegahan Penyakit Kutil
Kelamin
Nama lain untuk penyakit
kutil kelamin adalah penyakit jengger
ayam dan genital warts. Penyakit ini dapat
digolongkan ke dalam Infeksi Menular
Seksual. Salah satu rantai penularan yang
harus dipotong adalah penularan melalui
hubungan seksual (Anonim1, 2009 ;
Zubier F, 2009). Selain dengan regulasi
hubungan seksual, vaksin untuk mencegah
HPV tipe tertentu yang dapat
menyebabkan kutil kelamin sudah ada
misalnya Gardasil.

Cara Pencegahan Kanker Leher Rahim
Ada beberapa cara
pencegahan kanker leher rahim. Beberapa
cara tersebut adalah menghindari kawin
muda, tidak berganti-ganti pasangan,
paritas lebih kecil atau sama dengan tiga,
dan vaksinasi HPV (Harahap RE, 1985 ;.
Rengganis I & Kurniawati L, 2009).
Paritas lebih kecil atau sama dengan tiga
berarti mempunyai anak maksimal tiga..
Selain itu, yang perlu diwaspadai adalah
faktor risiko kanker leher rahim. Menurut
Emilia O dkk. (2010), faktor risiko kanker
leher rahim adalah hubungan seksual
pertama usia muda, mempunyai banyak
pasangan, berhubungan dengan pria yang
menderita penile warts, infeksi virus
herpes simpleks, merokok, kadar karoten
beta serum rendah, kadar vitamin A
rendah, dan pemakaian kontrasepsi oral.

Vaksinasi HPV
Sampai saat ini di negeri
kita vaksin HPV yang dapat melawan
semua tipe HPV belum ada. Yang tersedia
adalah vaksin HPV untuk tipe 6, 11, 16,
dan 18. Ada 2 merek vaksin yang beredar,
yaitu Cervarix dan Gardasil.
Cervarix diproduksi oleh
GlaxoSmithkline. Vaksin ini dapat
melawan HPV tipe 16 dan 18. Oleh karena
itu, vaksin ini sering disebut vaksin HPV
bivalen. Harga Cervarix lebih murah
daripada Gardasil (Anonim2, 2007 ;
.Djauzi S. dkk., 2009 ; Rengganis I &
Kurniawati L, 2009 ; Pramudianto A &
Evaria, 2010).

Gardasil dibuat oleh
Merck Sharp & Dohme. Ada 4 tipe HPV
yang dilawan oleh Gardasil, yakni tipe 6,
11, 16, dan 18. Julukan vaksin HPV
kuadrivalen sungguh tepat untuk Gardasil.
Harga vaksin ini jauh lebih mahal daripada
Cervarix (Djauzi S. dkk., 2009 ;
Rengganis I & Kurniawati L, 2009 ;
Pramudianto A & Evaria, 2010).
Konsensus usia pemberian
vaksin dari tiga organisasi dokter spesialis
yang sudah ada masih tetap berlaku.
Konsensus PAPDI (perhimpunan dokter
spesialis penyakit dalam) adalah usia
1255 tahun. Konsensus POGI
(perhimpunan dokter spesialis obstetri dan
ginekologi) adalah 1055 tahun.
Konsensus IDAI (perhimpunan dokter
spesialis anak) adalah 10 tahun
(Rengganis I & Kurniawati L, 2009).

Kesimpulan
Salah satu cara
pencegahan infeksi HPV adalah vaksinasi
HPV. Belum semua tipe HPV tersedia
vaksinnya. Vaksinasi HPV hanya dapat
melawan infeksi HPV tipe-tipe tertentu.
Vaksinasi HPV masih jarang dilakukan
karena belum populer dan harga vaksin
yang relatif tinggi.

Daftar Pustaka
Androphy EJ. Human Papillomaviruses
and Warts. Dalam : Engleberg NC,
DiRita V, Dermody TS,
penyunting. Schaechters
Mechanisms of Microbial
Disease. Edisi ke-4. Philadelphia :
Lippincott Williams &
Wilkins, 2007. h. 399 405.

Anonim1. Kebijaksanaan Program
Pencegahan dan Pemberantasan I MS
Termasuk AI DS di

91

I ndonesia. Dalam : Daili SF, Makes WIB,
Zubier F, penyunting.
Infeksi Menular Seksual. Edisi ke-4
Cetakan ke-1. Jakarta :
Balai Penerbit FK UI, 2009. h. 269
275.

Anonim2, Cervarix
TM
, GlaxoSmithKline,
2007.

Djauzi S dkk..Konsensus Imunisasi HPV
PAPDI Tahun 2008. Dalam :
Djauzi S dkk,, penyunting.
Pedoman Imunisasi pada Orang
Dewasa Tahun 2009.
Cetakan ke-2 : Jakarta : Satgas Imunisasi
Dewasa Perhimpunan
Doketr Spesialis Penyakit dalam
(PAPDI), 2009. h. 205, 207.

Emilia O dkk..Bebas Ancaman Kanker
Serviks. Edisi I. Yogyakarta : Media
Pressindo, 2010. h. 7393.

Handoko RP. Penyakit Virul. Dalam :
Djuanda A dkk,, penyunting. Ilmu
Penyakit Kulit dan
Kelamin. Edisi III Cetakan I. Jakarta : FK
UI, 1999. h. 107115.

Harahap RE. Tumor Ganas pada Alat-
Alat Genital. Dalam : Prawirohardjo S
dkk,, penyunting. Ilmu
Kandungan. Cetakan ke-2 : Jakarta :
Yayasan Bina Pustaka,
1985. h. 313341.

Pramudianto A, Evaria. MI MS I ndonesia
Petunjuk Konsultasi. Edisi ke-9
2009/2010. Jakarta :
CMPMedica, 2010. 389390.

Rengganis I, Kurniawati L. Human
Papilloma Virus. Dalam : Djauzi S dkk,,
penyunting. Pedoman
Imunisasi pada Orang Dewasa Tahun
2009. Cetakan ke-2 :
Jakarta : Satgas Imunisasi Dewasa
Perhimpunan Doketr
Spesialis Penyakit dalam (PAPDI), 2009.
h. 132140.

Sularsito SA dkk.. Dermatologi Praktis.
Edisi ke-1. Jakarta : PADVI, 1986.
6465.

Zubier F. Kondiloma Akuminata. Dalam :
Daili SF, Makes WIB, Zubier F,
penyunting. Infeksi Menular
Seksual. Edisi ke-4 Cetakan ke-1.
Jakarta : Balai Penerbit FK
UI, 2009. h. 140 145.













































92

PENGARUH DOSIS PAPARAN GELOMBANG ULTRASONIK TERHADAP
KEMATIAN BAKTERI E. COLI
Mas Mansyur
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya
ABSTRAK
Ultrasonik adalah gelombang bunyi yang mempunyai frekuensi lebih besar dari 20.000 Hz.
Dalam penjalarannya memindahkan energi dan momentum, gelombang ini jugamengalami pelemahan,
pemantulan , hamburan dan penyerapan sehingga intensitasnya berkurang. Disamping sifat ini juga
mempunyai sifat menhasilkan panas, gaya ultrasonic steady, kavitasi dan tegangan mekanik yang besar.
Bakteri adalah organism bersel tunggal yang dibangun oleh inti, sitoplasma, dan dinding sel. Jika
bakteri E. Coli berada di dalam medan ultrasonic, bakteri akan mengalami tegangan mekanik yang
besar dan dindingnya akan mengalami peregangan yang besar dan jika batas elastisitasnya terlampaui
akan sobek dan bakteri E. Coli pun mati. Dari hasil penelitian yang saya lakukan dibagian
Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Univesitas Wijaya Kusuma Surabaya diperoleh hasil, gelombang
ultrasonik dihasilkan oleh fungtion generator yang berdaya 0,42 watt, frekuensi optimum yang dapat
membnunuh bakteri E. Coli 1,05 Hz ( Mansyur, 2010), Dosis paparan gelombang ultrasonic yang dapat
membunuh bakteri E. Coli sebesar 100% adalah 6,286 x 10
-3
Kwh/liter dalam waktu 15,70 menit.
Dengan koefisien korelasi sebesar 0,9946.
Kata Kunci : Dosis paparan, persen kematian, mikroorganisme, metode alternative

THE EFFECT OF EXPOSURE DOSE ULTRASONIK WAVE ON
DEATH E. COLI BACTERIA
Mas Mansyur
Lecturer Faculty of Medicine, University of Wijaya Kusuma Surabaya
ABSTRACT
Ultrasonik wave is acoustic wave that have frecuency more than 20.000 Hz. On its transmission energy
and momentum. This wave also experience attenuation, reflection, scattering, ans absorption so that
decreases its intensity. Beside this characteristic also have special characteristic that make heat,
ultrasonic steady force, cavity, and bigger stress mechanic. Bacteria is singgel cell orgamism that
formed by nucleus substance, cytoplasm and cell wall. In. If the E. Coli bacteria in the ultrasonic field,
the bacteria will experience bigger stress mechanic and its wall obtain the big stretching and if more
than elasticity its wall, will broken and the E. Coli bacteria is die. From the result of that research
which I do in a part of Microbiology Faculty of Medicine Wijaya Kusuma University Surabaya are,
The ultrasonic wave produced by fungtion generator with power is 0.42 watt. Optional frecuency that
can kill E. Coli bacteria is 1.05 MHz, ( Mansyur, 2010), Exposure dose ultrasonic that can kill the
bacteria in 100 % is 6,286 kwh / lliter in 15.70 minute with correlation coefficient 0.9946.
Key Word : Exposure dose, percent of death, microorgamism, alternative methods

PENDAHULUAN
Menurut Suriawiria, U (2003)
Setiap hari, secara normal, manusia
menghasilkan antara 100-150 gram berat
kering feses atau tinja. Ternyata dari
sekian jumlah tersebut akan didapatkan
antara 2,5 x 100.000.000.000 sampai 3,6 x
100.000.00.000 sel bakteri yang termasuk
bakteri koliform. Bakteri ini merupakan
penghuni tubuh manusia bagian dalam dan
hewan berdarah panas lainnya yang cukup
unik. Artinya, walaupun kehadirannya di
dalam usus atau lambung manusia itu
normal, tetapi dalam batas-batas keadaan
dan lingkungan tertentu ternyata dapat
mendatangkan penyakit atau minimal
gangguan terhadap pemiliknya.
Kecepatan tumbuh bakteri ini
cukup meyakinkan, kalau persyaratan
lingkungan memadai. Jika pukul 07.00
kita memiliki 1 batang bakteri ini
kemudian ditumbuhkan ke dalam media
yang tepat baginya, pada pukul 17.00 sore
jumlah tersebut akan menjadi 1.048.576
sel. Jadi hanya di dalam kurun waktu 10
jam jumlahnya akan berlipat ganda sangat
cepat dan sangat tinggi. Hal ini disebabkan
bakteri dapat memperbanyak diri secara
pembelahan sel, yaitu dari 1 menjadi 2, 2
menjadi 4, 4 menjadi 8, 8 menjadi 16, 16
menjadi 32, dan seterusnya di dalam kurun
waktu yang relatif singkat ( Tortora,

93

Gerorrd. J, 2007).
Berdasarkan rangkaian keterangan
di atas, jadilah bakteri koliform sebagai
nilai penentu kualitas suatu bahan atau
benda terhadap ada tidaknya pencemaran
fekal. Penentuan kualitas suatu bahan,
khususnya air minum, bahan makanan,
obat-obatan, tidak saja dilakukan secara
fisik dan kimia, tetapi juga secara biologis
atau secara bakteriologis (Saruji, Didik,
2006).
Bila gelombang ultrasonik
merambat di dalam air, saat terjadi
kompresi jarak molekul molekul air
menjadi lebih pendek dari keadaan
normal, pada saat terjadi ekspansi jarak
molekul molekul air menjadi lebih besar,
untuk di perlukan energi dan energi
diambil dari gelombang ultrasonik yang
merambat di dalam air.
Selain itu, gelombang ultrasonik
yeng intensif diberikan di dalam air dapat
menimbulkan beberapa perubahan sifat
fisik seperti perubahan suhu air, gaya
ultrasonik stedy dan efek mematikan yang
disebabkan oleh peristiwa kavitasi, dan
radikal radikal itu bereaksi yang
menghasilkan H
2
O
2
. Dengan demikian di
dalam air akan terdapat banyak H
2
O
2

yang berfungsi sebagai desinfektan
(Ackerman, 1989).
Keuntungan penggunaan gelombang
ultrasonik untuk membunuh bakteri adalah
;
1. Ramah lingkungan
2. Dapat membunuh bakteri secara
mekanik dan kavitasi yang
ditimbulkan oleh gelombang
ultarasonik ( Maskunah, 1988;
Widodo, Asnar, 1990)
3. Bersifat desinfektan karena
gelombang ultrasonik di dalam
air dapat membentuk H
2
O
2
. (
Croknell, AP, 1980 ).
Bakteri E. Coli digunakan sebagai obyek
penelitian karena :
1. Digunakan sebagai indikator
pencemaran air oleh kotoran
manusia atau
Hewan (Fardiaz, S, 1992).
2. Merupakan bakteri pathogen yang
dapat menimbulkan penyakit
pada
Manusia (Pelezar,M, 1988).
3. Merupakan bakteri yang paling
sering ditemukan jika terjadi
pencemaran
Air (Fardiaz,S, 1992)
Perumusan Masalah
Dari latar belakang masalah di atas
maka dapat dirumuskan permasalahan
sebagai berikut :
1. Berapa dosis paparan
gelombang ultrasonik yang
dapat membunuh bakteri E.
Coli ?
2. Berapa koefisien korelasi
pengaruh dosis paparan
gelombang ultrasonik
terhadap persen kematian
bakteri E. Coli.
Tujuan Penelitian
a. Tujuan umum
Mendayagunakan gelombang
ultrasonik sebagai metode alternatif
membuhuh bakteri E. Coli
b. Tujuan khusus
1. Menemukan dosis paparan
gelombang ultrasonik untuk membunuh
bakteri E. Coli.
2. Menemukan koefisien korelasi
antara dosis paparan gelombang ultrasonik
dengan
persen kematian bakteri E. Coli
BAHAN DAN METODE
Bahan dan alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian
ini adalah bakteri E. Coli, Nutrient Agar
Broth, aquadestilasi, EMB agar, alkohol
70 %, kantong plastik, kapas. Sedangkan
alat yang digunakan adalah signal
generator, osiloskop, transduser ultrasonic,
incubator, laminar flow with U V lamp,
autoclave, cawan petri, tabung reaksi,
gelas beker, O S E, Quebec colony counter
dan lup, pembakar bunsen.
Variabel penelitian
Melalui penelitian ini peneliti
mendayagunakan gelombang ultrasonik
sebagai metode alternatif untuk
membunuh bakteri E. Coli. Variabel yang
digunakan dalam penelitian ini adalah :
-. Variabel bebas : dosis paparan
gelombang ultrasonik.
- Variabel terikat : persen kematian
bakteri E. Coli

a. Menemukan Waktu Paparan
Gelombang Ultrasonik

94

Terhadap Persen Kematian
Bakteri E. Coli.
Untuk menemukan energi
paparan gelombang ultrasonik
terhadap persen kematian bakteri
E. Coli, dilakukan percobaan
dengan data sebagai berikut :
- Frekuensi = 1,05
MHz
- Daya = 0,42
watt
- Volume = 20 ml
- Waktu = 1
menit, 2 menit, 3 menit, 4
menit, 5 menit
Hasil pengamatan dari percobaan
tersebut ditunjukkan pada tabel 1

Tabel 1. Hasil pengamatan waktu paparan gelombang ultrasonik terhadap persen. .
kematian bakteri E. Coli.
No
Waktu
(menit)
Jumlah E. Coli Kontrol Jumlah E. Coli Terpapar %
Kema-
tian
I II III
1
X

I II III
2
X

1 1 100 98 103 101 66 65 79 70 30,69
2 2 93 169 110 124 100 75 68 81 34,68
3 3 105 111 96 104 41 89 59 63 39,42
4 4 110 123 97 110 53 67 63 61 44,55
5 5 132 110 103 115 51 49 74 58 49,57

Untuk memberi gambaran yang
lebih jelas hubungan energi
paparan gelombang ultrasonik
dengan persen kematian bakteri E.
Coli, data dari tabel 1. akan
disajikan pada Tabel 2
Energi paparan gelombang
ultrasonik didefinisikan dengan
E = p . t dan p = daya paparan
gelombang ultrasonik, bersatuan
watt dan t = waktu paparan
gelombang ultrasonik, bersatuan
detik.

Tabel 2. Hasil pengamatan waktu dan energi paparan gelombang ultrasonik
. persen kematian bakteri E. Coli.
No Waktu (menit) Energi (joule) Persen kematian
(%)
1 1 25,2 30,69
2 2 50,4 34,68
3 3 75,6 39,42
4 4 100,8 44,55
5 5 126,0 49,55

Analisis Data
Untuk memperjelas
hubungan antara kedua variabel di
atas (waktu dan persen kematian)
dinyatakan dalam bentuk grafik
yang digambar dan dihitung
dengan menggunakan program
Excell, yang tampak pada gambar
di bawah ini.

95


Gambar 1. Grafik hubungan antara waktu paparan gelombang ultrasonik dengan persen
kematian bakteri E. Coli

Dengan metode regresi linier, dari
Gambar 1. dapat ditentukan
Persamaan garis hubungan antara
waktu ( t ) dengan persen
kematian (K), yaitu : K = 4,764t +
25,493
- Koefisien korelasi r =
0,9989
- Koefisien determinasi R
2
=
0,5133
- Hasil tersebut menunjukkan adanya
hubungan linier yang meyakinkan
antara kedua variabel tersebut,
meskipun sebenarnya bervariasi. Dari
persamaan di atas terlihat bahwa
semakin besar waktu paparannya
semakin besar pula persen kematian
bakteri E. Coli.
- Dari persamaan regresina, dapat
ditentukan secara teoritis bahwa
kematian sebesar 100% terjadi pada
waktu paparan 15,70 menit + atau 15
menit 42 detik. Jika energi sama
dengan daya dikalikan waktu paparan,
maka waktu paparan sebesar 15 menit
42 detik setara dengan energi sebesar
395,64 joule (daya gelombang
ultrasonik 0,42 watt).
Secara teoritis, energi
yang dapat membunuh bakteri E.
Coli 100% akan digunakan untuk
percobaan selanjutnya, yaitu
menentukan hubungan antara
dosis paparan gelombang
ultrasonik dengan persen kematian
bakteri E. Coli. Energi gelombang
ultrasonik dibuat konstan (395,64
joule) sedangka volume suspensi
bakteri E. Coli divariasi yaitu
20ml, 30 ml, 40 ml, 50 ml dan 60
ml.

b. Menemukan Dosis Paparan
Gelombang Ultrasonik Dengan
Persen Kematian Bakteri E.
Coli
Untuk menemukan
hubungan antara dosis (energi
persatuan volume) paparan
gelombang ultrasonik, dilakukan
percobaan dengan data sebagai
berikut :
- Frekuensi = 1,05
MHz
- Daya = 0,42
Watt
- Waktu = 15,70
menit
- Volume = 20 ml,
30 ml, 40 ml, 50 ml dan 60 ml
Hasil pengamatan percobaan ini
ditunjukkan pada tabel 3. di
bawah ini.





0
20
40
60
0 1 2 3 4 5 6
P
E
R
S
E
N

K
E
M
A
T
I
A
N

(
%
)

WAKTU (menit)
GRAFIK HUBUNGAN ANTARA WAKTU PAPARAN
GELOMBANG ULTRASONIK DENGAN PERSEN KEMATIAN
BAKTERI E. COLI

96

Tabel 3. Hasil pengamatan variasi volume suspensi bakteri E. Coli yang dipapari
gelombang ultrasonik dengan persen kematian bakteri E. Coli.
No
Volume
(ml)
Jumlah E. Coli Kontrol Jumlah E. Coli Perlakuan %
Kema-
tian
I II III
1
X

I II III
2
X

1 20 113 93 104 110 19 23 21 21 80,91
2 30 111 97 98 102 61 51 32 32 52,94
3 40 103 139 112 118 67 64 79 79 40,68
4 50 99 104 91 98 71 68 59 59 32,65
5 60 57 61 92 70 21 97 32 32 28,57

Untuk memberikan gambaran
yang jelas hubungan antara dosis
paparan gelombang ultrasonik
dengan persen kematian bakteri E.
Coli data dari tabel 3 akan
disajikan pada tabel 4.

Tabel 4. Hasil pengamatan dosis paparan gelombang ultrasonik terhadap .
persen kematian bakteri E. Coli.
No Dosis (D)
(joule / ml)
Persen kematian
(%)
1 19,782 80,91
2 13,188 52,94
3 9,891 40,68
4 7,913 32,65
5 6,594 28,57

Analisis Data
Untuk memperjelas hubungan antara kedua variabel diatas dinyatakan dalam
bentuk Gambar 2

Gambar 2.Grafik hubungan antara dosis paparan gelombang ultrasonik dengan persen
kematian bakteri E. Coli.

Berdasarkan Gambar 2.
persamaan garisnya adalah K =
aD
2
+ b dengan K adalah persen
kematian dan D adalah dosis
paparan gelombang ultrasonik.
Untuk mencari koefisien korelasi
r, koefisien determinasi R
2
grafik
di atas perlu diubah dalam bentuk
regresi linier yang
menghubungkan antara persen
kematian (K) dengan dosis
paparan gelombang ultrasonik
kuadrat (D
2
).
0
20
40
60
80
100
6.595 7.913 9.891 13.188 19.782
P
E
R
S
E
N

K
E
M
A
T
I
A
N


(
%
)

DOSIS (Juole/ml)
GRAFIK HUBUNGAN ANTARA DOSIS PAPRAN GELOMBANG
ULTRSONIK DENGAN PERSEN KEMATIAN BAKTERI E. COLI

97

Tabel 5. Hubungan antara persen kematian bakteri E. Coli (K) dengan dosis
paparan gelombang ultrasonik kuadrat (D
2
)
No D
2

(joule
2
/ ml
2
)
K
(%)
1 391,328 80,91
2 173,923 52,94
3 97,832 43,68
4 62,616 32,65
5 43,481 28,57

Untuk memperjelas hubungan antara kedua variabel diatas dinyatakan dalam
bentuk Gambar 3 yang digambar dan dihitung dengan program Excell.

Gambar 3. Grafik hubungan antara kuadrat dosis paparan gelombang ultrasonik
dengan persen kematian bakteri E. Coli.

Dari data dan grafik diatas dapat
ditentukan :
- Koefisien korelasi r = 0,9946
- Koefisien determinasi R
2
=
0,5358
- Persamaan linier antara K dan
D
2

K = 0,1475 D
2
+
24,4509
Dosis yang menyebabkan
kematian bakteri E. Coli sebesar
100% (K=100) dapat ditentukan
dengan persamaan garis diatas.
Dari perhitungan diperoleh bahwa
kematian bakteri sebesar 100%
diperlukan dosis paparan
gelombang ultrasonik sebesar
22,628 joule/ml atau 6,286 x 10
-3

kwh / liter.

Koefisien korelasi r =
0,9946 menunjukkan bahwa dosis
paparan gelombang ultrasonik
mempunyai hubungan yang
bermakna terhadap persen
kematian bakteri E. Coli.
Koefisien determinasi R
2
=
0,5358. Hal ini menunjukkan
sebaran titik sampelnya sangat
bervariasi. Hal ini dapat diatasi
dengan menambah jumlah sampel
percobaan.
PEMBAHASAN
Dari hasil pengamatan
persen, kematian bakteri E. Coli
terhadap waktu paparan gelombang
ultrasonik terlihat bahwa semakin
lama waktu paparannya persen
kematian bakteri E. Coli semakin
besar. Dari persamaan regresinya
terlihat bahwa kematian bakteri
sebanyak 100% terjadi saat suspensi
bakteri E. Coli terpapar gelombang
ultrasonik selama 15 menit 42 detik.
Jika daya yang dihasilkan oleh
fungtion generator sebesar 0,42
watt, maka energi paparan
gelombang ultrasonik yang
menghasilkan kematian sebesar
100% adalah 395,64 joule. Energi
paparan gelombang ultrasonik
sebesar ini dapat diperoleh dengan
jalan : daya gelombang ultrasonik
kecil dan waktu paparan lama atau
0
50
100
0 100 200 300 400 500
P
E
R
S
E
N

K
E
M
A
T
I
A
N

(
%
)

KUADRAT DOSIS (juole2/ml2
GRAFIK HUBUNGAN ANTARA KUADRAT DOSIS DENGAN
PERSEN KEMATIAN BAKTERI E. COLI

98

daya gelombang ultrasonik besar
dan waktu paparannya pendek.
Kedua macam percobaan harus
dilakukan untuk mengetahui
efektivitas paparan gelombang
ultrasonik.
Untuk memperoleh daya
gelombang ultrasonik yang lebih
besar perlu didesain alat penguat
daya gelombang ultrasonik. Alat ini
berfungsi sebagai penguat getaran
listrik yang berasal dari fungtion
generator serta meningkatkan daya
listrik sehingga diperoleh getaran
dengan daya tinggi. Dalam
mendesain peralatan tersebut
peneliti mengalami kesulitan
diantaranya adalah :
- Karakteristik transduser
ultrasonik tidak diketahui
dengan baik.
- Tingginya frekuensi yang
digunakan untuk membunuh
bakteri E. Coli, yang
mengakibatkan transistor dan
transduser ultrasonik menjadi
panas.
- Transistor yang ada dipasaran
pada umumnya berada pada
daerah audio.
Dari tabel 5. dan gambar
3 serta analisis data dengan
frekuensi dan energi tetap
diperoleh dosis paparan
gelombang ultrasonik yang dapat
membunuh bakteri E. Coli
sebesar 100% adalah 22,628
joule/ml atau 6,286 x 10
-3

Kwh/liter. Hasil ini kurang
sempurna mengingat bahwa
energi paparan gelombang
ultrasonik tergantung pada daya
dan waktu. Seharusnya sebelum
mencari dosis paparan gelombang
ultrasonik, dilakukan percobaan
untuk menentukan hubungan
antara daya dengan persen
kematian bakteri E. Coli. Dari
percobaan tersebut dapat
ditentukan daya gelombang
ultrasonik yang dapat membunuh
bakteri E. Coli sebesar 100%.
Sedangkan waktu yang
diperlukan untuk membunuh
bakteri E. Coli sebesar 100%
telah berhasil ditemukan. Dengan
memanfaatkan daya dan waktu
paparan gelombang ultrasonik
yang dapat membunuh bakteri E.
Coli sebesar 100% pada
percobaan terdahulu, digunakan
untuk menentukan dosis paparan
gelombang ultrasonik.
- Tingginya nilai dosis paparan
gelombang ultrasonik terkait
dengan keterbatasan respon
transduser ultrasonik yang
digunakan. Bila frekuensi respon
transduser semakin tinggi, maka
selain berkaitan dengan nilai
frekuensi alamiah bakteri E. Coli,
juga meningkatkan impedansi
transduser. Hal ini berhubungan
dengan efisiensi energi
transduser. Jadi keterbatasan
respon transduser merupakan
kendala utama dari pemanfaatan
gelombang ultrasonik untuk
membunuh bakteri E. Coli.
- Terlepas dari kendala yang
dihadapi didalam percobaan yang
saya lakukan, upaya
pendayagunaan gelombang
ultrasonik sebagai metode
alternatif untuk menurunkan
jumlah bakteri E. Coli pada
proses pengolahan air bersih
memiliki prospek yang baik. hasil
penelitian ini membuka peluang
bagi peneliti lain untuk
melakukan penelitian serupa
dengan metode dan respon
transduser yang juga lebi baik.
Hal ini digunakan untuk
mendapatkan metode
pengendalian. Jumlah bakteri E.
Coli pada proses pengolahan air
bersih sekaligus berfungsi
mengurangi atau menghilangkan
dampak negatif akibat
keberadaan bakteri E. Coli di
dalam air bersih.
- Keuntungan penggunaan
gelombang ini adalah merupakan
gelombang mekanik dengan
frekuensi di atas frekuensi
ambang dengar manusia adalah
tidak terjadinya efek kebisingan
yang mengganggu. Di samping
itu paparan gelombang ultrasonik

99

di dalam air memiliki efektivitas
yang lebih baik karena cepat
rambat gelombang ultrasonik
didalam air lebih tinggi
dibandingkan di udara. Hal ini
ditunjang pula oleh derajat
kebebasan bergerak bakteri E.
Coli di dalam air yang terbatas.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang
bertujuan untuk menentukan
frekuensi optimal dan dosis paparan
gelombang ultrasonik untuk jumlah
bakteri E. Coli, yang dilakukan di
bagian Mikrobiologi Fakultas
Kedokteran Universitas Wijaya
Kusuma Surabaya dapat
disimpulkan sebagai berikut :
1. Untuk mencapai persen
kematian bakteri E. Coli
maksimum dibutuhkan
paparan gelombang
ultrasonik dengan dosis
(energi persatuan volume)
sebesar 6,286 x 10
-3

Kwh/liter.
2. Terdapat hubungan yang
signifikan antara variabel-
variabel yang diteliti. Hal
ini ditandai dengan nilai
koefisien korelasi yang
mendekati 1, yaitu :
a. Terdapat hubungan
yang signifikan
antara waktu paparan
gelombang ultrasonik
dengan persen
kematian bakteri E.
Coli, dengan r =
0,9989
b. Terdapat hubungan
yang signifikan
antara dosis (energi
persatuan volume)
paparan gelombang
ultrasonik dengan
persen kematian
bakteri E. Coli,
dengan r = 0,9946.
S a r a n
Dari hasil penelitian
menunjukkan bahwa upaya untuk
mendayagunakan gelombang
ultrasonik sebagai metode
desinfeksi terhadap mikroorganisme
khususnya bakteri E. Coli memiliki
prospek yang baik untuk
dikembangkan sebagai metode
alternatif. Selain relatif tidak
beresiko menimbulkan pencemaran
lingkungan, metode ini mempunyai
efektivitas yang cukup baik. Di
bawah ini adalah Kendala utama
penerapan metode ini dan saran
untuk memperbaikinya :
1. Terbatasnya respon frekuensi
transduser, sehingga perlu
diupayakan untuk
mendapatkan jenis transduser
dengan spesifikasi yang
diinginkan agar upaya optimasi
dosis paparan gelombang
ultrasonik memiliki hasil yang
lebih baik, ditinjau dari aspek
fisis maupun ekonomis.
Dengan respon frekuensi yang
lebih baik, diharapkan faktor
energi persatuan volume yang
dibutuhkan untuk desinfeksi E.
Coli akan memiliki nilai yang
lebih kecil, sehingga tercipta
efisiensi energi yang
diinginkan.
2. Besar sampel pada percobaan
yang ditujukan untuk
menemukan waktu dan dosis
paparan gelombang ultrasonik
terhadap persen kematian
bakteri E. Coli perlu ditambah,
untuk mendapatkan sebaran
titik sampel yang lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Ackerman, Eugene, 1985. Biophysical
Science, Prinsice Hal Inc,
Engelwwood Cliffa, New Jersey.
Brooks, Geo F, et al, 2001, Medical
Microbiology Twenty Second
Edition, McGraw-Hill Inc.
Amsyari, Fuad, 2007. Penyakit yang
ditularkan melalui air, Seminar
Air Sehat, Fakultas Kedokteran
Universitas Airlangga, Surabaya.
Cameron, Skfronik, 1988. Medical
Physics, A. Wileg Inter Sciences,
New York.
Croknell, AP, 1980. Ultrasonic, Wykeham
Publication LTD, London.

100

Cromer, Alan, 1994. Physics For Life
Sciences, Mc Graw Hill Inc.
Publication, New York.
Fardiaz, Srikandi, 1992. Polusi Air dan
Udara, Penerbit Kanisius
Yogyakarta.
Gobermen, GI, 1988. Ultrasonic Theory
and Applicaton, The English
University Press, London.
Hariaji, Imam, 1990. Pemanfaatan
Gelombang Ultrasonik Untuk
Mengusir Lalat Rumah, Skripsi,
FMIPA Universitas Airlangga,
Surabaya.
Mansyur. Mas, dkk, 2007. Optimasi
Frekuensi dan Dosis Paparan
Gelombang Ultrasonik Untuk
Membunuh Jentik Nyamuk,
Seminar DP2M Dikti Depdiknas,
Jakarta
Maskunah, 1988. Pengaruh Gelomang
Ultrasonik Terhadap Suspensi
Bakteri, Kolokium, FMIPA
Universitas Airlangga Surabaya.
Nasir. Moh, 1988. Metode Penelitian,
Penerbit Ghalia, Jakarta
Pelezar, Michael. J, 1988. Dasar-Dasar
Mikrobiologi, Diterjemahkan oleh
ratna Sti H, Penerbit UI Press,
Jakarta
Prijo, T. Anggono, 1989. Studi Tentang
Cepat Rambat Gelombang
Ultrasonik dan Metode
Pengukurannya, Kolokium,
FMIPA Universitas Airlangga
Surabaya.
Saruji, Didik, 2006. Kesehatan
Lingkungan, Media Ilmu,
Sidoarjo.
Spiegel, RM, 1996. Statistika, Penerbit,
Erlangga, Jakarta.
Suriawiria, Unus, 2005. Air Dalam
Kehidupan dan Lingkungan Yang
Sehat, Penerbit PT. Alumni,
Bandung.
Suriawiria, Unus, 2003. Mikrobiologi Air,
Penerbit PT. Alumni, Bandung.
Tortora, Gerorrd. J, 2007. Microbiology,
Pearson Education Inc, San
Francisco.
Wiantari, Sugiani, 1993. Pemanfaatan
Gelombang Ultrasonik Untuk
Membunuh Larva Aedes Aegypti,
Skripsi, FMIPA Universitas
Airlangga, Surabaya.
Widodo, Asnar, 1990. Pembersihan
Kotoran Pada Benda Dengan
Menggunakan Gelombang
Ultrasonik, Kolokium, FMIPA
Universitas Airlangga, Surabaya.
Widodo, Asnar, 1990. Efisiensi Pencucian
Gelombang Ultrasonik, Kolokium,
FMIPA Universitas Airlangga,
Surabaya.