Anda di halaman 1dari 19

I.

Tujuan
Mengetahui ruangan yang mempunyai intensitas cahaya yang baik dan kurang baik
Mengetahui ruangan yang mempunyai daya pencahayaan yang baik dan kurang baik
Menghitung kelayakan secara teknis dan ekonomi
Memberikan rekomendasi konservasi yang layak
II. Dasar Teori
2.1 Tingkat Pencahayaan
Tingkat cahaya yang dibutuhkan tergantung pada jenis pekerjaan. Suatu
pekerjaan yang memerlukan ketelitian yang tinggi, seperti; menggambar,
pemeriksaan laboratorium, akan memerlukan tingkat pencahayaan yang tinggi pula.
Sedangkan pekerjaan-pekerjaan/aktifitas, seperti yang bisa dilakukan di tempat
parkir, koridor, dan lain-lain yang tidak memerlukan ketelitian yang tinggi, maka
tingkat pencahayaan yang dibutuhkan relatif rendah.
Tabel 1.1 Tingkat Pencahayaan Minimum

Sumber: SNI 03-6575-2001

2.2 Daya Pencahayaan
Daya pencahayaan adalah daya listrik yang digunakan untuk pencahayaan
dibagi dengan luas ruangan.
Pc =

............................................... (1.5)
Dimana:
Pc = Daya Pencahayaan (W/
2
)
Pt = Jumlah daya penerangan terpasang (watt)
At = Luas bangunan/ruangan (m
2
)
Besar kecilnya daya pencahayaan ini tergantung dari fungsi dan jenis ruangan
atau bangunannya. Berikut ini adalah tabel yang menjelaskan tentang daya
pencahayaan maksimum yang direkomendasikan.
TABEL 1.2 STANDAR DAYA PENCAHAYAAN MAKSIMUM
No Fungsi Ruangan
Tingkat
Pencahayaa
n (Lux)
Daya
Pencahayaan
(W/m
2
)
Kelompok
Renderensi
Warna
1 Ruang Kantor 350 15 1 atau 2
2 Ruang Komputer 350 15 1 atau 2
3 Ruang Rapat 300 15 1 atau 2
4 Gudang arsip 150 5 1 atau 2
5 Ruang Kelas 250 15 1 atau 2
6 Perpustakaan 300 15 1 atau 2
7 Laboratorium 500 15 1
8 Koridor 100 10 1
9 Kamar Mandi 250 5 1 atau 2
Sumber: SNI 03-6575, 2001




2.3 Intensitas Konsumsi Energi
Nilai Intensitas Konsumsi Energi penting untuk dijadikan sebagai perbandingan
seberapa besar potensi efisiensi energi yang mungkin diterapkan diruangan atau seluruh
area gedung. Dengan membandingkan intensitas konsumsi energi dengan standar nasional.
Di bawah ini adalah tabel SNI Intensitas Konsumsi Energi yang telah disusun oleh
Direktorat Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi ( Ditjen.LPE)-ESDM.
Kriteria
Intensitas
Konsumsi
Adaptasi
untuk
Energi
Gedung non-
AC
kWh/m2/tahun kWh/m2/tahun
Sangat
Efisien
60 - 95 20 38
Efisien 95 - 145 38 58
Cukup
Efisien
145 - 175 58 70
Agak
Boros
175 - 230 70 92
Boros 230 - 285 92 114
Sangat
Boros
285 - 450 114 180
Sumber : Ditjen LPE-ESDM
Intensitas Konsumsi Energi (IKE) adalah perbandingan antara konsumsi energi
dengan satuan luas bangunan gedung.






2.4 Perhitungan Jumlah Pencahayaan Buatan
Perhitungan pencahayaan pada banguan publik didasarkan perhitungan sistem
pencahayaan untuk dalam ruangan yang dikeluarkan oleh Departemen ESDM tentang
petunjuk Teknik Konservasi Energi untuk sistem pencahayaan pada bangunan
gedung.
a. Efikasi
Efikasi adalah hasil bagi antara fluks luminus (lumen) dengan daya
listrik masukan suatu sumber cahaya dinyatakan dalam rumus ;


b. Konsumsi Energi Penerangan ( Watt.hour)
KEP = [ (Daya lampu x lampu) + ( armature x daya ballast) ] x jam
operasi kerja

c. Biaya Konsumsi Energi Penerangn ( Rp )
Biaya energi (Rp) = KEP x Tarif listrik (Rp/kWh)*
* = Rp 900/kWh
d. IKE (kWh/m
2
/tahun)


[ ]



III. Perhitungan Biaya Ekonomi
Perhitungan biaya ekonomi merupakan suatu teknik analisa dalam pengambilan
keputusan pada suatu rencana alternatif teknik. Suatu rencana teknik mengandung
sejumlah transaksi baik penerimaan maupun pengeluaran dalam berbagai bentuk selama
masa operasi. Untuk memudahkan dalam suatu analisa ekonomi semua jenis transaksi
dieqivalenkan kedalam suatu bentuk transaksi dasar dalam bentuk tarnsaksi perioda
tertentu (annual), atau kebentuk tarnsaksi tunggal (present). Eqivalensi dari semua
transaksi ke salah satu bentuk transaksi dasar akan memudahkan dalam pengambilam
keputusan.
Analisa ekonomi pada suatu langkah konservasi bertujuan untuk mengetahui
rasionalisasi biaya yang dikeluarakan dan rasionalisasi jangka waktu pengambilan modal
untuk mendapatkan keuntungan. Metoda ekonomi yang digunakan untuk menganalisa
yaitu Payback Period
Payback period adalah jumlah tahun yang dibutuhkan untuk memulihkan modal yang
diinvestasikan atau dengan kata lain perbandingan antara investasi awal dengan
penghematan yang dicapai, hasil dari menggunakan suatu alat tertentu. Dengan kata lain,
payback period adalah waktu yang diperlukan untuk menghemat uang sebesar nilai alat.
Metode ini sederhana dalam perhitungan yang biasanya tidak termasuk pertimbangan
waktu arus kas, tingkat inflasi, tingkat suku bunga, biaya modal, penyusutan, biaya
kesempatan pertimbangan dan lain-lain. Namun biasanya akan berada dalam kisaran yang
wajar.
Payback period (tahun) = investasi awal / penghematan dalam setahun
IV. Metodologi Pengukuran
Pengukuran intensitas penerangan ini memakai alat luxmeter yang hasilnya dapat
langsung dibaca. Alat ini mengubah energi cahaya menjadi energi listrik, kemudian energi
listrik dalam bentuk arus digunakan untuk menggerakkan jarum skala. Untuk alat digital,
energi listrik diubah menjadi angka yang dapat dibaca pada layar monitor. Berikut ini
merupakan tata cara pengukuran system penerangan :
Meminjam luxmeter.
Lakukan pengecekan terhadap luxmeter, apakah sudah terkalibrasi atau belum.
Apabila sudah melakukan pengecekan, catat pada draft peminjaman alat dan
minta tandatangan pembimbing praktikum anda.
Bawalah luxmeter ke tempat yang akan diukur.
Tentukan letak titik-titik pengukuran pada tempat yang akan diukur.
Hidupkan luxmeter yang telah dikalibrasi dengan membuka penutup sensor.
Bawa alat ke tempat titik pengukuran yang telah ditentukan.
Baca hasil pengukuran pada layar monitor setelah menunggu beberapa saat
sehingga didapat nilai angka yang stabil.
Catat hasil pengukuran pada lembar kertas kerja anda.
Matikan luxmeter setelah selesai dilakukan pengukuran intensitas penerangan
Kembalikan luxmeter ke tempat peminjaman alat.
1. Parameter Pengukuran
1. Durasi waktu;
2. Jenis lampu;
3. Daya beban terpasang;
4. Intensitas cahaya;
5. Arus;
6. Tegangan.
2. Instrumen Ukur
1. Luxmeter
2. Tang-Ampere
3. Wattmeter
4. Multimeter

V. Hasil Praktikum
Pengukuran dilakukan pada jam 09.00 11.00 WIB dengan kondisi cuaca mendung.
Dibawah ini merupakan hasil pengukurannya :
Table 1 Data Hasil Praktikum
No Fungsi Ruang
Luas
Ruangan
(m
2
)
Jenis
Lampu
Jumlah
Lampu
Jumlah
Armatur
Daya/unit
(Watt)
Lumen/m
2

Rugi ballas
per lampu
(Watt)
1 Teknisi 44.6 TL 1 4 36 109.2 8.5
2 Motor Bakar 39.8 TL 2 2 58 35
12
3 Unit PLTU 57.23 TL 2 6 58 214.3
12
4 Pengukuran 89.79 TL 2 4 58 87.6
12
5 Motor Listrik 68.08 TL 2 8 58 144.4
12
6 Unit PLTA 56.1 TL 2 4 58 162.8
12
7 R. Komputer 16.6 TL 1 2 36 34
8.5
8 R. Dosen 1 (B) 16.4 TL 2 2 58 251.7
12
9 R. Teori 38.65 TL 2 1 58 40
12
10 R.Dosen 2 (B) 26.2 TL 2 1 58 62.5
12
11
Lab Tegangan
Tinggi
63 TL 2 3 58 46
12
12 R. Dosen 3 (A) 33.2 TL 2 3 58 296.2
12
13 R. Rapat 14 TL 2 2 58 328.667
12

PERHITUNGAN
Contoh data yang dipakai dalam perhitungan yaitu data ruangan Motor Listrik dengan
jam kerja 1440 Jam/tahun
a. Efikasi









b. Konsumsi Energi Penerangan/Tahun



c. Biaya Konsumsi Energi



d. IKE







Dibawah ini merupakan data hasil perhitungan :
Table 2 Data Hasil Praktikum
No Fungsi Ruang
Luas
Ruanga
n
(m
2
)
Lumen/m
2

Efikasi
(Lumen/Wat
t)
IKE

(kWh/m
2
/tahu
n)
Konsum
si Energi
kWh
Biaya
Penggunaan/
Tahun
1 Teknisi 44.6 109.2 33.79 6.20 256.32 Rp230,688
2 Motor Bakar 39.8
35
4.00
10.13
403.2
Rp362,880
3 Unit PLTU 57.23
214.3
17.62
21.14
1209.6
Rp1,088,640
4 Pengukuran 89.79
87.6
16.95
8.98
806.4
Rp725,760
5 Motor Listrik 68.08
144.4
10.59
23.69
1612.8
Rp1,451,520
6 Unit PLTA 56.1
162.8
19.68
14.37
806.4
Rp725,760
7 R. Komputer 16.6
34
7.84
8.33
128.2
Rp115,344
8
R. Dosen 1
(B)
16.4
251.7
17.79
24.59
403.2
Rp362,880
9 R. Teori 38.65
40
13.33
5.22
201.6
Rp181,440
10
R.Dosen 2
(B)
26.2
62.5
14.11
7.69
201.6
Rp181,440
11
Lab Tegangan
Tinggi
63 46 8.33
9.60
604.8
Rp544,320
12
R. Dosen 3
(A)
33.2
296.2
28.25
18.22
604.8
Rp544,320
13 R. Rapat 14 328.667 19.83
28.80
403.2
Rp362,880

A. Penggantian Ballast Konvensional dengan Ballast Elektronik
Diasumsikan Politkenik Negeri Bandung termasuk golongan S-3, yang saat ini bertarif
Rp 900/kWh, dihitung penghematan secara keseluruhan. Ballast elektronik dengan tipe HF-P
158 TL-D III 220-240V 50/60Hz IDC dengan harga Rp. 250.000,- per unit lampu.
Investasi







Saving


Sebelum konservasi:


Setelah konservasi:


Simple Payback



Table 3 Hasil Perhitungan Penghematan
No Nama Ruangan
Luas
Ruangan
(m
2
)
Lumen
/m
2

Konsumsi Energi
Sebelum
Penghematan
(kWh)
Konsumsi Energi
Sesudah
Penghematan
(kWh)
1 Teknisi 44.6 109.2 256.32 235.008
2 Motor Bakar 39.8 35 403.20 361.728
3 Unit PLTU 57.23 214.3 1209.60 1085.184
4 Pengukuran 89.79 87.6 806.40 723.456
5 Motor Listrik 68.08 144.4 1612.80 1446.912
6 Unit PLTA 56.1 162.8 806.40 723.456
7 R. Komputer 16.6 34 128.16 129.024
8 R. Dosen 1 (B) 16.4 251.7 403.20 361.728
9 R. Teori 38.65 40 201.60 180.864
10 R.Dosen 2 (B) 26.2 62.5 201.60 180.864
11
Lab Tegangan
Tinggi
63 46 604.80 542.592
12 R. Dosen 3 (A) 33.2 296.2 604.80 542.592
13 R. Rapat 14 328.667 403.20 361.728
Total Konsumsi Energi/tahun 7642.08 6875.136
Biaya Energi/tahun Rp 6,877,872 Rp6,187,622
SAVING+PENJUALAN BALLAST Rp 924,250
INVESTASI Rp 20,040,000
PAYBACK PERIOD 21.7

B. Penggantian Lampu TL dengan Lampu LED
Diasumsikan Politkenik Negeri Bandung termasuk golongan S-3, yang saat ini bertarif
Rp 900/kWh, dihitung penghematan secara keseluruhan. Lampu LED dengan tipe PHILIPS
CorePro LEDtube 1500mm 25W 840 C | =58W dengan harga Rp. 482.835,- per pcs.
Investasi







Saving


Sebelum konservasi:


Setelah konservasi:



Simple Payback



No Nama Ruangan
Luas
Ruangan
(m
2
)
Lumen /m
2

Konsumsi Energi
Sebelum
Penghematan
(kWh)
Konsumsi Energi
Sesudah
Penghematan
(kWh)
1 Teknisi 44.6 109.2 256.3 213.1
2 Motor Bakar 39.8 35 403.2 213.1
3 Unit PLTU 57.23 214.3 1209.6 639.4
4 Pengukuran 89.79 87.6 806.4 426.2
5 Motor Listrik 68.08 144.4 1612.8 852.5
6 Unit PLTA 56.1
162.8
806.4 426.2
7 R. Komputer 16.6 34 128.2 106.6
8 R. Dosen 1 (B) 16.4 251.7 403.2 213.1
9 R. Teori 38.65 40 201.6 106.6
10 R.Dosen 2 (B) 26.2 62.5 201.6 106.6
11
Lab Tegangan
Tinggi
63 46 604.8 319.7
12 R. Dosen 3 (A) 33.2 296.2 604.8 319.7
13 R. Rapat 14 328.667 403.2 213.1
Total Konsumsi Energi/tahun 7642.08 4155.8
Biaya Energi/tahun Rp 6,877,872 Rp 3,740,256
SAVING + Penjualan Lampu Rp 3,622,889
INVESTASI Rp 39,366,769
PAYBACK PERIOD 10.9


IV. ANALISA DATA
4.1 Tingkat Pencahayaan
Setelah dilakukan praktikum mengenai sistem penerangan di Lab Atas Teknik Energi
maka dilakukan perhitungan dan pengolahan data. Berdasarkan hasil pengolahan data
didapatkan profil mengenai kondisi sistem penerangan di Lab Atas Teknik Energi seperti
di bawah ini. Diagram batang di bawah ini merupakan profil tingkat pencahayaan di Lab
Atas Teknik Energi secara keseluruhan.

Berdasarkan diagram batang di atas dapat dilihat bahwa sistem penerangan di Lab
Atas Teknik Energi tidak seimbang. Dapat dilihat dari kondisi presentase tingkat
penerangan yang berbeda-beda. Berdasarkan diagram batang didapatkan ruangan-ruangan
dengan tingkat penerangan yang rendah, diantaranya yaitu : Ruang Motor Bakar, Ruang
Pengukuran, Ruang Komputer, Ruang Teori, Ruang Dosen 2 (B), serta Ruang Lab.
Tegangan Tinggi.
Pada diagram batang diatas dapat dilihat besar dan variasi tingkat pencahayaan di Lab
Atas Teknik Energi. Diagram batang diatas menyajikan tingkat pencahayaan lampu
0
50
100
150
200
250
300
350
l
u
m
e
n
/
m
2

Ruangan
Profil Tingkat Pencahayaan
Teknisi
Motor Bakar
Unit PLTU
Pengukuran
Motor Listrik
Unit PLTA
R. Komputer
R. Dosen 1 (B)
R. Teori
R.Dosen 2 (B)
Lab Tegangan Tinggi
R. Dosen 3 (A)
R. Rapat
dalam kondisi ON. Standar tingkat pencahayaan berdasarkan SNI 6197 : 2011
diklasifikasikan berdasarkan fungsinya.

Untuk laboratorium sendiri besar tingkat pencahayaan masih di bawah standar. Besar
tingkat pencahayaan minimal untuk lab adalah sebesar 500 lumen/m2, namun
berdasarkan data yang didapat ruangan lab nilai tingkat pencahayaannya masih dibawah
500 lumen/m2. Artinya lab membutuhkan pencahayaan tambahan agar tingkat
pencahayaannya memenuhi standar. Intensitas pencahayaan yang di bawah standar akan
mengakibatkan kurang fokus dan kerusakan kemampuan penglihatan. Pada ruangan yang
difungsikan sebagai laboratorium juga terdapat ruangan dengan kondisi lampu tidak dapat
menyala, ruangan tersebut antara lain ruangan motor listrik, unit pltu, dan lab motor
bakar. Dan hal ini menjadi salah satu faktor yang mengurangi tingkat pencahayaan di
ruangan-ruangan tersebut.
Untuk ruangan non-lab seperti ruangan kelas dan ruangan dosen berdasarkan SNI
6197 : 2011 memiliki nilai standarnya masing-masing. Standar untuk ruangan kelas yaitu
sebesar 350 lumen/m2 sedangkan untuk ruang dosen dan ruang rapat sebesar 300
lumen/m2.
0
50
100
150
200
250
l
u
m
e
n
/
m
2

Ruanagan
Profil Tingkat Pencahayaan Kategori
Lab
Motor Bakar
Unit PLTU
Pengukuran
Motor Listrik
Unit PLTA
Lab Tegangan Tinggi

Berdasarkan diagram batang di atas, ruangan teknisi, ruang komputer, ruangan dosen
1, ruangan dosen 2 dan ruangan dosen 3 dikategorikan sebagai ruangan dosen dengan
nilai standar tingkat pencahayaan sebesar 300 lumen/m2. Namun dari semua ruangan
tersebut tidak ada yang tingkat pencahayaannya memenuhi standar. Untuk kategori ruang
rapat sendiri standar tingkat pencahayaannya sebesar 300 lumen/m2, dan tingkat
pencahayaan di ruang rapat sudah memenuhi standar.
4.2 Daya Pencahayaan

0
100
200
300
400
l
u
m
e
n
/
m
2

Ruangan
Profil Tingkat Pencahayaan Ruangan
Non-Lab
Teknisi
R. Komputer
R. Dosen 1 (B)
R. Teori
R.Dosen 2 (B)
R. Dosen 3 (A)
0.00
2.00
4.00
6.00
8.00
10.00
12.00
14.00
16.00
18.00
W
a
t
t
/
m
2

Ruangan
Profil Daya Penerangan
Teknisi
Motor Bakar
Unit PLTU
Pengukuran
Motor Listrik
Unit PLTA
R. Komputer
R. Dosen 1 (B)
R. Teori
R.Dosen 2 (B)
Lab Tegangan Tinggi
R. Dosen 3 (A)
R.Rapat
Berdasarkan diagram daya pencahayaan di atas, daya penerangan paling kecil yaitu
sebesar 3 watt/m2 pada ruang teori dan daya penerangan terbesar yaitu sebesar 20
watt/m2 pada ruang rapat. Mengacu pada SNI 6197 : 2011, daya penerangan maksimum
untuk ruangan kelas 15 watt/m2, untuk laboratorium sebesar 13 watt dan untuk ruang
dosen sebesar 12 watt.
Jumlah lampu yang terlalu banyak dalam suatu luasan akan mengakibatkan daya
penerangan yang terlalu tinggi dan menyebabkan sistem pencahayaan menjadi tidak
efisien. Grafik di bawah ini merupakan profil dari daya penerangan untuk kategori
laboratorium. Berdasarkan grafik di bawah ini dapat dilihat bahwa terdapat satu ruangan
yang daya penerangannya melebihi standar, ruangan tersebut adalah ruangan motor listrik
dengan daya penerangan sebesar 13,63 watt/m2. Sedangkan ruangan lab lainnya masih
dikategorikan hemat karena tidak melebihi besar standar daya penerangan.
Ruangan dengan lampu rusak akan tetap mengkonsumsi energi, maka dari itu ruangan
dengan lampu yang tidak dapat menyala (rusak) harus dilakukan penggantian lampu.

Sedangkan untuk ruangan non laboratorium seperti ruang kelas, ruang dosen, ruang
komputer dan ruang teknisi memiliki standar daya pererangan yang berbeda. Ruangan
kelas memiliki standar daya penerangan sebesar 15 watt/m2 dan berdasarkan grafik
ruang kelas yang terdapat di lab atas dikatakan hemat karena tidak melebihi standar.
Untuk ruangan lainnya yaitu ruangan dosen, teknisi dan ruangan komputer yang
diasumsikan sebagai ruang dosen, memiliki standar daya penerangan sebesar 12 watt/m2.
0.00
5.00
10.00
15.00
W
a
t
t
/
m
2

Ruangan
Profil Daya Penerangan Kategori
Lab
Motor Bakar
Unit PLTU
Pengukuran
Motor Listrik
Unit PLTA
Lab Tegangan Tinggi
Berdasarkan diagram batang dibawah ini terdapat dua ruangan yang besar daya
penerangannya melebihi standar. Yaitu pada ruangan dosen 1 dan ruang rapat.

4.3 IKE

Berdasarkan data pengamatan dan diagram di atas terlihat bahwa nilai IKE
dari sistem penerangan lab atas Teknik Energi dapat dikatakan sangat efektif karena
berada dalam rentang 20-38 kWh/m2/th. IKE paling rendah terdapat di ruangan teori
sebesar 5,22 kWh/m2/th. Sedangkan IKE tertinggi yaitu sebesar 28,80 dan nilai IKE
terendah sebesar 5,22 kWh/m2/th. Berdasarkan IKE Ditjen LPE-ESDM, IKE dengan
rentang antara 20 samapi dengan 38 38 kWh/m2/th dapat dikategorikan sangat efisien
0.00
2.00
4.00
6.00
8.00
10.00
12.00
14.00
16.00
18.00
W
a
t
t
/
m
2

Ruangan
Profil Daya Penerangan Kategori
Non Lab
Teknisi
R. Komputer
R. Dosen 1 (B)
R. Teori
R.Dosen 2 (B)
R. Dosen 3 (A)
R.Rapat
0.00
5.00
10.00
15.00
20.00
25.00
30.00
35.00
k
W
H
/
m
2
/
t
a
h
u
n

Ruangan
Profil IKE
Teknisi
Motor Bakar
Unit PLTU
Pengukuran
Motor Listrik
Unit PLTA
R. Komputer
R. Dosen 1 (B)
R. Teori
4.4 Kelayakan Ekonomi
Berdasarkan data pengamatan terlihat bahwa nila IKE dari sistem penerangan
lab atas Teknik Energi dapat dikatakan sangat efektif karena berada dalam rentang 20-
38 kWh/m2. Namun berdasarkan hasil pengukuran terhadap tingkat pencahayaan di
lab ternyata tingkat pencahayaan di lab berdasarkan SNI 6197 : 2011 masih di bawah
standar. Besar tingkat pencahayaan minimal untuk lab adalah sebesar 500 lumen/m2,
namun berdasarkan data yang didapat masih banyak ruangan yang berfungsi sebagai
lab namun nilai tingkat pencahayaannya dibawah 500 lumen/m2. Artinya lab
membutuhkan pencahayaan tambahan agar tingkat pencahayaannya memenuhi
standar. Begitu pun dengan ruangan non lab seperti ruang kelas, ruang dosen, ruang
teknisi, ruang rapat dan ruang komputer. Hanya ruang rapat yang memenuhi standar
tingkat pencahayaan menurut standar tingkat pencahayaan ruang rapat, yaitu sebesar
300 lumen/m2.
Untuk daya penerangan baik ruangan lab maupun non lab terdapat 3 ruangan
yang daya penerangannya melebihi standar. Ruangan yang daya penerangannya
melebihi standar adalah lab motor bakar untuk kategori laboratorium dan ruang dan
ruangan dosen 1 dan ruang rapat untuk kategori non lab.
Pemasangan lampu fluoresen dengan ballast elektonik frekuensi tinggi
bertujuan untuk meningkatkan efisiensi energi. Pengoperasian lampu fluoresen
dengan ballast frekuensi tinggi meningkatkan lumen/watt dari output lampu.
Sebenarnya berdasarkan nilai IKE sistem pencahayaan di lab Teknik Energi dikatakan
sangat hemat, sehingga penggantian ballast konvensional dengan ballast eletronik
tidak terlalu dibutuhkan. Selain itu penginvestasian penggantian ballast juga harus
memerhatikan payback period, apabila lama payback period lebih lama dari usia
ballast elektronik itu sendiri maka proyek penggantian ballast dikatakan tidak layak.
Berdasarkan hasil perhitungan payback period dari penggantian ballast konvensional
dengan ballast elektonik yaitu selama 21,7 tahun. Sedangkan usia dari ballast
elektronik ini selama 10 tahun atau 20 ribu jam. Artinya proyek penggantian ballast
tidak layak untuk dilaksanakan.
Sedangkan, berdasarkan perhitungan payback period penggantian lampu TL
dengan lampu LED, lama payback period adalah 10,9 tahun. Sedangkan usia lampu
yaitu 50 ribu jam atau kurang lebih 14 tahun. Artinya proyek layak untuk
dilaksanakan. Keuntungan dari penggunaan lampu LED sendiri yaitu, menghasilkan
lebih banyak cahaya per watt dibandingkan lampu TL.
Untuk memperbaiki tingkat pencahayaan, sebelum melakukan konservasi
dengan langkah retrofitting, sebaiknya dilakukan dahulu langkah langkah house
keeping. Langkah house keeping sendiri merupakan langkah konservasi no cost
dengan cara maintanance peralatan penerangan. Contoh dari langkah house keeping
adalah membersihkan armatur dan lampu dari debu yang menempel. Karena debu
yang menenmpel pada armaur dan lampu akan menyebabkan cahaya yang berasal dari
lampu kurang maksimal.
VI. Rekomendasi
House keeping terhadap peralatan penerangan di Lab Atas Teknik Energi.
Kategori lab dan non lab :Pembersihan lampu dan armatur dari denut yang
menempel untuk memaksimalkan tingkat pencahayaan. Dan pengaturan
ketinggian lampu terhadap objek kerja.
Retrofitting terhadap peralatan penerangan di Lab Atas Teknik Energi.
Kategori lab :
Berdasarkan hasil pengambilan seluruh ruangan tidak memenuhi standar tingkat
pencahayaan. Rekomendasi kegiatan yang dilakukan yaitu penggantian lampu yang
tidak menyala untuk ruangan motor listrik, unit pltu, dan lab motor bakar. Karena
lampu yang rusak akan tetap menhkonsumsi listrik. Dan penggantian lampu TL
dengan lampu LED untuk menekan IKE. Selanjutnya, pemasangan lampu tambahan
bagi ruangan dengan profil tingkat pencahayaan yang tidak seimbang untuk
memenuhi tingkat pencahayaan yang sesuai standar.
Kategori Non lab :
Berdasarkan hasil pengambilan seluruh ruangan hanya ruangan rapat yag
memenuhi standar tingkat pencahayaan. Maka untuk ruangan yang tingkat
pencahayaannya masih dibawah standar harus dilakukan retrofitting. Langkahya yaitu
dengan mengganti lampu TL dengan lampu LED, serta mengganti lampu yang tidak
menyala.
Kurangi jumlah lampu pada ruangan-ruangan yang dekat dengan jendela seperti Unit
PLTU dan Unit PLTA.
VII. Kesimpulan
Sistem pencahayaan lab atas Teknik Energi dapat dikatakan hemat berdasarkan hasil
perhitunggan IKE.
Lab Atas Teknik Energi membutuhkan retrofitting dan lampu tambahan karena
tingkat pencahayaannya masih dibawah standar
Proyek penggantian ballast konvensional dengan balllast elektonik tidak layak
dilaksanakan
Proyek penggantian lampu TL dengan lampu LED layak dilaksanakan.