Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI

Percobaan Sikap dan Keseimbangan Badan pada Manusia dan


Pemeriksaan Pendengaran

Kelompok F2
KETUA : Cinthia
ANGGOTA : Stephanie Clara
IP. Ady Putra Astawan
Michael Laban
Hollerik Sahat Efesus
Glory Artauli
Risma Lestari Siregar
Anggraini Hertanti
Ogi Leksi Susanto

PROGRAM STUDI SARJANA KEDOKTERAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
KELOMPOK F2
102012148 Cinthia
102010250 Stephanie Clara
102011141 IP. Ady Putra Astawan
102012285 Michael Laban
102012304 Hollerik Sahat Efesus
102012343 Glory Artauli
102012426 Risma Lestari Siregar
102012440 Anggraini Hertanti
102012448 Ogi Leksi Susanto

Percobaan Sikap dan Keseimbangan Badan
Tujuan
Tujuan penulisan laporan ini adalah untuk mengetahui pentingnya kedudukan kepala dan
mata dalam mempertahankan keseimbangan badan dan mendemonstrasikan dan
menerangkan pengaruh percepatan sudut dengan kursi barany terhadap gerakan bola mata
dan dengan berjalan mengelilingi statif.
Alat dan Bahan
1. Kursi putar Barany
2. Tongkat atau statif yang panjang

I. Pengaruh Kedudukan Kepala dan Mata yang Normal terhadap Keseimbangan
Badan
Cara kerja :
1. Suruhlah orang percobaan berjalan mengikuti suatu garis lurus di lantai
dengan mata terbuka dan kepala serta badan dalam sikap yang biasa.
Perhatikan jalannya dan tanyakan apakah ia mengalami kesukaran dalam
mengikuti garis lurus tersebut.
2. Ulangi percobaan diatas (no.1) dengan mata tertutup.
3. Ulangi percobaan (no.1 dan 2) dengan :
a. kepala dimiringkan dengan kuat ke kiri
b. kepala dimiringkan dengan kuat ke kanan.
Hasil Percobaan
1. Mata terbuka dengan kepala dan badan dalam sikap biasa OP mampu
mengikuti garis yang ada tanpa adanya kesulitan
2. Mata tertutup dengan kepala dan badan dalam sikap biasa OP sudah tidak
bisa mengikuti garis yang ada, keseimbangannya terganggu
3. Mata terbuka dengan kepala dimiringkan dengan kuat ke kiri OP cenderung
berjalan kearah kiri
4. Mata tetutup dengan kepala dimiringkan dengan kuat ke kiri
ketidakseimbangan OP makin nyata.
5. Mata terbuka dengan kepala dimiringkan dengan kuat ke kanan OP
cenderung berjalan kearah kanan
6. Mata tertutup dengan kepala dimiringkan dengan kuat ke kanan
ketidakseimbangan OP makin nyata.
Pembahasan
Bila kepala dimiringkan terjadi perangsangan asimetris pada reseptor proprioseptif di
otot leher dan alat vestibuler yang menyebabkan tonus yang asimetris pula pada otot-
otot ekstrimitas. Dalam keadaan seperti di atas mata yang terbuka berusaha untuk
mempertahankan sikap badab yang seimbang sebagai komoensasi. Bila mata ditutup
ketidakseimbangan ini akan lebih jelas.
Hal di atas dipengaruhi oleh :
1. Proprioseptif leher
Apparatus vestibular hanya mendeteksi orientasi dan gerakan kepala. Oleh
karena itu, pada prinsipnya pusat-pusat saraf juga menerima informasi
yang sesuai mengenai orientasi kepala sehubungan dengan keadaan tubuh.
Bila kepala condong ke salah satu sisi akibat menekuknya leher, impuls
yang berasal proprioseptif leher dapat mencegah sinyal yang terbentuk di
dalam apparatus vestibular mencetuskan rasa ketidakseimbangan pada
seseorang.
2. Informasi proprioseptif dan eksteroseptif dari bagian-bagian tubuh lainnya
Informasi proprioseptif yang berasal dari bagian tubuh selain leher juga
penting untuk menjaga keseimbangan.

II. Percobaan dengan Kursi Barany
A. Nistagmus
Cara Kerja :
1. Suruhlah orang percobaan duduk tegak di kursi Barany dengan kedua
tangannya memegang erat tangan kursi.
2. Tutup kedua matanya dengan saputangan dan tundukkan kepalanya 30 ke
depan.
3. Putarlah kursi ke kanan 10 kali dalam 20 detik secara teratur dan tanpa
sentakan.
4. Hentikan pemutaran kursi dengan tiba-tiba.
5. Bukalah saputangan (buka mata) dan suruhlah orang percobaan melihat jauh
ke depan.
6. Perhatikan adanya nistagmus.
Tetapkan arah komponen lambat dan cepat nistagmus tersebut.
Apa yang dimaksud dengan rotarory nistagmus dan postrotatory nystagmus?
Hasil Percobaan
Setelah berputar ke kanan, terdapat nistagmus komponen cepat ke arah kiri
dan komponen lambat ke arah kanan.
Pembahasan
Hal ini disebabkan oleh adanya refleks vestibulo-okular (VOR) yang
merupakan refleks gerakan mata untuk menstabilkan gambar pada retina selama
gerakan kepala dengan memproduksi sebuah gerakan mata ke arah yang berlawanan
dengan gerakan kepala, sehingga mempertahankan gambar untuk berada pada pusat
bidang visual.
Rotatory nistagmus adalah nistagmus yang muncul akibat terjadinya rotasi,
sedangkan postrotatory nistagmus adalah nistagmus yang muncul setelah rotasi.
B. Tes Penyimpangan Penunjukkan (Past Pointing Test of Barany)
Cara Kerja :
1. Suruhlah orang percobaan duduk tegak di kursi barany dan tutuplah kedua
matanya dengan saputangan.
2. Pemeriksa berdiri tepat di muka kursi Barany sambil tangan kirinya kearah
orang percobaan.
3. Suruhlah orang percobaan meluruskan lengan kanannya ke depan sehingga
dapat menyentuh jari tangan pemeriksa yang telah diulurkan sebelumnya.
4. Suruhlah orang percobaan mengangkat lengan kanannya ke atas dan kemudian
dengan cepat menurunkannya kembali sehingga dapat menyentuh jari
pemeriksa lagi :
Tindakan no.1 sampai 4 merupakan persiapan untuk tes yang sesungguhnya
sebagai berikut:
5. Suruhlah sekarang orang percobaan dengan kedua tangannya memegang erat
tangan kursi, menundukan kepala 30 ke depan.
6. Putarlah kursi kekanan 10 kali dalam 20 kali detik secara teratur tanpa
sentakan.
7. Segera setelah pemutaran, kursi dihentikkan dengan tiba-tiba, suruhlah orang
percobaan menegakkan kepalanya dan menegakan kepalanya dan melakukan
tes penyimpangan penunjukkan seperti di atas.
8. Perhatikan apakah yang terjadi penyimpangan penunjukkan oleh orang
percobaan. Bila terjadi penyimpangan, tetapkanlah arahan penyimpangan.
Tetukanlah tes tersebut sampai orang percobaan tidak salah lagi menyentuh
jari tangan pemeriksa.
Hasil Percobaan
Awalnya OP dapat menyentuh tangan pemeriksa dengan baik. Setelah diputar
OP kesulitan menyentuh tangan pemeriksa dan cenderung ke arah kanan. Dan setelah
3 kali mencoba menyentuh tangan pemeriksa, baru benar dan dapat menyentuhnya.
Pembahasan
Pada OP terjadi nistagmus dan OP msh bisa menunjuk dengan deviasi kearah
kanan. Saat mata OP dalam keadaan tertutup, terdapat koordinasi yang salah dari OP
karena sensasi putaran yang dialaminya. Namun setelah mata dibuka, OP dapat
menyentuh jari tangan yang sebernarnya bisa dilakukan dengan tepat.
C. Tes jatuh
Cara Kerja :
1. Orang pecobaan disuruh duduk di kusi Barany dengan kedua tangannya
memegang tangan kursi. Kedua matanya ditutup dan kepala dan badannya
dibungkuk sehingga posisi kepala membentuk sudut 120 dari posisi normal.
2. Kursi diputar ke kanan 10 kali dalam 10 detik secara teratur dan tanpa
sentakan.
3. Segera setelah pemutaran kursi dihentikan dengan tiba-tiba, OP disuruh
tegakkan kembali kepala dan badannya.
4. Perhatikan kemana dia akan jatuh dan tanyakan kepada OP kemana rasanya ia
akan jatuh.
5. Ulangi tes ini, tiap kali pada OP lain dengan :
a. Memiringkan kepala kearah bahu kanan sehingga kepala miring 90
terhadap posisi normal.
b. Mengendahkan kepala kebelakang sehingga membuat sudut 60
Hasil Percobaan
Pada percobaan OP membungkukkan badannya, arah penyimpangan kepala
OP menunjukkan ke arah kanan, namun gerakan kompensasi atau arah jatuh yang
dirasakan oleh OP ke arah kiri.
Pada percobaan kepala OP miring 90, arah penyimpangan kepala OP
menunjukkan kearah kiri depan, namun gerakan kompensasi atau arah jatuh yang
dirasakan oleh OP kearah belakang.
Pembahasan
Vertigo adalah sensasi berputar tanpa ada putaran yang sebenarnya yang
merupakan gejala yang menonjol bila salah satu labirin meradang. OP akan
merasakan jatuh ke kiri, sebenarnya yang terjadi OP jatuh ke kanan.
D. Kesan(Sensasi)
Cara Kerja :
1. OP disuruh duduk di kursi Barany dan kedua matanya ditutup.
2. Kursi tersebut diputar ke kanan dengan kecepatan yang beransur-ansur
bertambah dan kemudian kurangilah kecepatan putaran secara beransur-ansur
pula sampai berhenti.
3. Tanyakan kepada OP arah perasan berputar:
a. Sewaktu kecepatan putar masih bertambah
b. Sewaktu kecepatan putar menetap
c. Sewaktu kecepatan putar dikurangi
d. Segera setelah kursi dihentikan.
Hasil Percobaan
Saat kecepatan putar masih bertambah, OP merasakan berputar kearah kanan.
Sewaktu kecepatan putar menetap, OP merasakan berputar ke kanan. Sewaktu
kecepatan putar dikurangi dan setelah kursi dihentikan, OP sama-sama merasa
berputar ke arah kiri.
Pembahasan
Saat kursi mulai diputar ke kanan, endolimfe akan berputar ke arah
sebaliknya, yaitu ke kiri. Akibatnya, kupula akan bergerak ke kiri dan OP akan
merasa berputar ke kiri. Kemudian, kupula akan bergerak ke kanan searah dengan
putaran kursi sehingga OP akan merasa bergerak ke kanan. Saat kecepatan mulai
konstan, kupula dalam posisi tegak sehingga OP akan merasa tidak berputar. Saat
kursi dihentikan, kupula akan bergerak ke arah sebaliknya, yaitu ke kanan, sehingga
OP akan merasa berputar ke kanan. Namun, pada praktikum OP masih merasa
berputar ke kanan saat kecepatan sudah konstan dan OP tidak merasa berputar ke
kanan saat kursi dihentikan.
Tabel untuk Percobaan dengan Kursi Barany
Posisi Kepala Jenis dan arah
nistagmus
( komponen cepat)
Arah Penyimpangan
penunjukan
Gerakan
kompensasi (arah
jatuh)
Sensasi
a. 30 ke depan Ke kanan Kiri - -
b.60 ke belakang - - kiri Kiri
c.120ke depan - - Kiri Kiri
d.miring 90 ke bahu
kanan
- - Kiri depan Belakang

III. Percobaan Sederhana untuk Kanalis Semisirkularis Horizontalis
Cara Kerja :
1. OP memejamkan kedua mata dan kepala ditundukan 30
0

2. Kemudian berputar sambil berpegangan pada tongkat atau statif, menurut arah
jarum jam, sebanyak 10 kali dalam 30 detik.
3. Setelah itu OP berhenti dan membuka kedua matanya lalu berjalan lurus ke
depan
4. Amati dan ulangi percobaan ini dengan berputar arah berlawanan jarum jam
Hasil Percobaan
Pada perputaran searah jarum jam, OP berjalan ke arah kanan lalu kiri lalu
kanan lalu lurus. Sedangkan pada perputaran berlawanan arah jarum jam, OP berjalan
ke arah kiri lalu kanan lalu kiri lalu lurus.
Pembahasan
Kanalis semisirkularis berperan dalam mendeteksi atau deselerasi kepala
rotasional atau angular, misalnya ketika kita mulai atau berhenti berputar, jungkir-
balik, atau menengok. Akselerasi atau deselerasi selama rotasi kepala baik itu searah
maupun berlawanan jarum jam menyebabkan gerakan endolimfe yang awalnya tidak
ikut bergerak, bergerak sesuai arah rotasi kepala. Apabila gerakan kepala berlanjut
dalam arah dan kecepatan yang sama, endolimfe akan menyusul dan bergerak
bersama dengan kepala. Namun, ketika kepala berhenti berotasi, keadaan sebaliknya
terjadi. Endolimfe tetap bergerak searah dengan rotasi kepala sementara kepala
melambat untuk berhenti. Jika kepala berotasi searah jarum jam, berarti kepala
berotasi ke arah kanan begitu juga dengan endolimfe juga bergerak ke arah kanan.
Oleh sebab itu ketika OP berhenti berputar dan mencoba berjalan lurus, tanpa sadar
OP berjalan ke arah kanan. Begitu juga yang berlaku sebaliknya saat OP berputar
berlawanan arah jarum jam yang berarti kepala berputar ke arah kiri, endolimfe
bergerak ke arah kiri, OP pun berjalan ke arah kiri.
PEMERIKSAAN PENDENGARAN
Tujuan
Tujuan penulisan laporan ini adalah untuk mendemonstrasikan cara untuk melakukan
tes pendengaran yang benar dan memahami hasil interprestasi dari hasil percobaaan dari tes
pendengaran yang didapat.
Alat dan Bahan
1. Penala dengan berbagai frekuensi
2. Kapas untuk menyumbat telinga

I. Cara Rinne
Cara Kerja :
1. Sebuah penala digetarkan dengan cara memukulkan salah satu ujung jarinya
ke telapak tangan pemeriksa. Jangan sekali-kali memukulkannya pada benda
yang keras.
2. Tekankanlah kedua ujung penala pada processus mastoideus salah satu telinga
OP
3. Tanyakanlah kepada OP apakah ia mendengar bunyi penala mendengung di
telinga yang diperiksa, bila demikian OP harus segera memberi tanda apabila
dengungan bunyi itu telah menghilang
4. Pada saat dengungan bunyi sudah hilang dari telinga OP, pemeriksa langsung
mengangkat penala dari processus mastoideus OP dan kemudian ujung jari
penala ditempatkan sedekat-dekatnya di depan liang telinga yang sedang
diperiksa itu.
5. Catatlah hasil pemeriksaan Rinne sebagai berikut:
Positif: bila OP masih mendengar dengungan secara hantaran
aerotimpanal.
Negatif: bila OP tidak lagi mendengar dengungan secara hantaran
aerotimpanal.
Hasil Percobaan
OP dapat mendengar dengungan secara hantaran aerotimpanal.
Pembahasan
Penghantaran udara merupakan hantaran melalui semua bagian telinga, dari
kanalis auditoius eksternus, membrana timpani, tulang-tulang pendengaran lalu ke
fenestra ovalis. Penghantaran tulang adalah melalui tulang langsung ke telinga bagian
dalam.
Pada percobaan ditemukan hasil Positif. Hal ini menunjukkan OP memiliki
telinga normal, karena penghantaran melalui udara lebih besar daripada penghantaran
melalui tulang. Pada gangguan pendengaran konduktif, stimulus lewat hantaran tulang
akan terdengar lebih keras daripada lewat hantaran udara. Pada gangguan
pendengaran sensorineural, baik persepsi lewat hantaran udara maupun tulang akan
berkurang, tetapi keduanya akan berkurang jika dibandingkan dengan telinga normal.
II. Cara Weber
Cara Kerja :
1. Getarkanlah penala (frekuensi 256 atau yang lain) dengan cara seperti no. A.1
(cara Rinne).
2. Tekankanlah ujung tangkai penala pada dahi orang percobaan di garis median.
3. Tanyakan kepada orang percobaan apakah ia mendengar dengungan bunyi
penala sama kuat di kedua telinganya ataukah terjadi lateralisasi.
4. Apa yang dimaksud dengan lateralisasi?
5. Bila pada orang percobaan tidak terdapat lateralisasi, maka untuk
menimbulkan lateralisasi secara buatan, tutuplah salah satu telinganya dengan
kapas dan ulangilah pemeriksaanya.
Hasil Percobaan
Pada saat ujung tangkai penala di tekan pada dahi, orang percobaan
mendengar dengungan bunyi di kedua telinganya sama kuat, maka dari itu dilakukan
lateralisasi. Untuk menimbulkan lateralisasi secara buatan, maka orang percobaan
ditutup telinga sebelahnya dengan menggunakan kapas. Maka suara terdengar lebih
kuat di telinga yang ditutup dengan kapas.
Pembahasan
Gangguan pada pendengaran umumnya ada dua jenis yaitu gangguan hantaran
bunyi di dalam telinga luar dan tengah hal ini berarti tuli hantar, sedangkan kerusakan
sel rambut atau jaras saraf berarti tuli saraf. Sebab tuli hantar antara lain sumbatan
meatus akustikus ekternus oleh serumen ataupun benda asing, perusakan ossicula
auditus, penebalan mambrana timpani. Sedangkan tuli saraf antara lain disebabkan
oleh degenerasi toksin sel rambut yang dihasilkan oleh streptomisin dan gentamisin,
yang terkonsentrasi di dalam endolymphe. Kerusakan sel rambut luar oleh antibiotika
atau pemaparan lama ke bising disertai dengan ketulian. Sebab lain bisa juga karena
tumor N.vestibulocochlearis dan angulus cerebellopontin serta kerusakan vaskular di
dalam medula oblongata.
Tuli hantar dan saraf dapat dibedakan oleh sejumlah tes dengan mnggunakan
garpu tala, Tes weber:
Metode: basis garpu tala berfibrasi ditempatkan pada vertex tengkorak
Normal: terdengar suara sama kuat di kedua telinga
Tuli hantar: bunyi lebih keras pada telinga sakit, karena efek penutupan bising
lingkungan tidak ada pada sisi yang sakit
Tuli saraf: bunyi lebih keras pada telinga normal
III. Cara Schwabach
Cara Kerja :
1. Getarkanlah penala ( frekuensi 256 atau yang lain ) dengan cara seperti no A.1
2. Tekankanlah ujung tangkai penala pada proc. Mastoideus salah satu telinga
orang percobaan
3. Suruhlah orang percobaan mengacungkan tangannya pada saat dengungan
bunyi menghilang
4. Pada saat itu dengan segera pemeriksa memindahkan penala dari processus
mastoideusnya sendiri
Pada pemeriksaan ini telinga pemeriksa dianggap normal
Bila dengungan penala setelah dinyatakan berhenti oleh orang percobaan
masih dapat didengar oleh si pemeriksa maka hasil pemeriksaan ialah
SCHWABACH MEMENDEK.
5. Apabila dengungan penala dinyatakan berhenti oleh orang percobaan juga
tidak dapat didengar oleh si pemeriksa, maka hasil pemeriksaan mungkin
SCHWABACH MEMANJANG ATAU SCHWABACH NORMAL. Untuk
memastikan hal ini maka dilakukan pemeriksaan sebagai berikut :
Penala digetarkan, ujung tangkai penala mula-mua ditekankan ke
processus mastoideus si pemeriksa sampai tidak terdengar lagi, kemudiaan
ujung tangkai penala segera ditekankan ke processus mastoideus orang
percobaan
Bila dengungan (setelah dinyatakan berhenti oleh si pemeriksa) masih
dapat didengar oleh orang percobaan , hasil pemeriksaan ialah
SCHWABACH MEMANJANG,
Bila dengungan setelah dinyatakan berhenti oleh si pemeriksa juga tidak
dapat didengar oleh orang percobaan maka hasil pemeriksaan ialah
SCHWABACH NORMAL.
Hasil Percobaan
Pada percobaan pertama OP tidak mendengar dengungan tetapi pemeriksa
masih dapat mendengar dengungan. Pada percobaan kedua, OP dan pemeriksa sama-
sama tidak mendengar dengungan.
Pembahasan
Hasil dari orang percobaan menunjukkan schawabach memendek normal,
ketika orang percobaan sudah tidak mendengar dengungan orang pemeriksa juga tidak
mendengar adanya dengungan. Pada pemeriksaan selanjutnya, schawabach
memanjang atau normal karena ketika pada orang percobaan dan juga pada pemeriksa
tidak mendengar dengungan.

Daftar Pustaka
1. Swart MH. Buku ajar diagnostik fisik. Jakarta: EGC; 1995.
2. Ginsberg L. Neurologi. Edisi ke-8. Jakarta: Erlangga; 2007.
3. Asdie AH, editor. Harrison: prinsip-prinsip Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: EGC;
1995.
4. Ganong, WF. Buku ajar fisiologi kedokteran. edisi 14. Jakarta: EGC; 1992.h.165-6.
5. Sherwood L. Fisiologi Manusia Dari Sel ke Sistem. Edisi 6. Jakarta: EGC;
2012.h.240-1.