Anda di halaman 1dari 46

http://www.ilmusipil.

com/alat-ukur-waterpass-dan-theodolit
(http://mymindmyown.blogspot.com/2013/02/waterpass.html)
TUGAS PRAKTEK UKUR TANAH

1. Gambar Waterpass


2. Fungsi bagian-bagian waterpass
Penjelas bayangan :
berfungsi untuk memfokuskan bayangan dan memperjelas obyek yang dibidik.
Sekrup pengungkit :
berfungsi untuk menggerakkan teropong secara vertikal dengan terbatas
Klem horizontal :
berfungsi untuk mengunci perputaran alat arah horisontal
Penggerak halus horizontal:
berfungsi untuk menggerakkan waterpass pada arah horisontal secara halus setalah klem
aldehide horisontal dikunci agar kedudukan benang pada alat tepat pada obyek yang dibidik.
Penutup nivo :
berfungsi untuk melindungi nivo tabung
Lensa Okuler :
berfungsi untuk mengamati objek yang dibidik
Lensa obyektif :
berfungsi untuk menerima obyek yang dibidik.
Plat dasar :
berfungsi sebagai tempat landasan alat di atas statif
Sekrup ABC :
berfungsi untuk mengatur kedataran pesawat (sumbu I vertikal).

3. Perbedaan waterpass dengan teodolit
Theodolit Waterpass
Berfungsi untuk mengukur jarak dan
sudut
Berfungsi untuk mengukur beda tinggi
Terdapat sekrup alhidade horisontal
untuk memutar alat arah atas dan bawah
Tidak ada sekrup aldhidade horizontal
dan hanya terdapat sekrup alhidade
vertikal. Pergerakan alat terbatas pada
arah kanan-kiri.
Untuk proses centering perlu mengatur
nivo kotak dan nivo tabung
Untuk proses centering hanya perlu
mengatur nivo kotak
Terdapat sumbu horizontal Tidak terdapat sumbu horizontal
Terdapat pembacaan lingkaran vertikal
dan horizontal
Hanya terdapat pembacaan lingkaran
vertikal
Tidak terdapat prisma pendulum Terdapat prisma pendulum

4. Kelemahan dan kelebihan waterpass
Kelebihan Waterpass
1) Memiliki ketelitian yang cukup tinggi
2) Mampu melakukan pengukuran beda tinggi secara lebih cepat
3) Centering lebih cepat karena hanya centering untuk nivo kotak
4)
Kelemahan Waterpass
1) Gerakan teropong sipat datar terbatsr sehingga kurang mampu membidik area curam.


5. Syarat pengaturan waterpass
Mengatur Garis Mendatar Diafragma Tegak Lurus Sumbu I
Pada umumnya garis mendatar diafragma (benang silang mendatar) telah dibuat tegak lurus
sumbu I oleh pabrik yang memproduksi alat ukur.
Mengatur Garis Arah Nivo Tegak Lurus Sumbu I
Pada alat ukur waterpass tipe semua tetap tanpa skrup ungkit, syarat ini penting sekali.
Namun pada alat dengan skrup ungkir, syarat ini agak sedikit longgar karena apabila ada
sedikit pergeseran nivo dalam pengukuran, dapat diseimbangkan dengan skrup ungkir ini.
Adapun maksud dari persyaratan ini adalah apabila sumbu I telah dibuat vertikal, kemana pun
teropong diputar, gelembung nivo akan tetap seimbang. Ini berarti garis bidik selalu mendatar
karena garis bidik telah dibuat sejajar dengan garis arah nivo.
Membuat Garis Bidik Sejajar Garis Arah Nivo
Pada alat ukur waterpass, yang diperlukan adalah garis bidik mendatar. Untuk mengetahui
apakah garis bidik sudah betul-betul mendatar atau belum, digunakan nivo tabung. Jika
gelembung nivo seimbang, garis arah nivo pasti mendatar. Dengan demikian, jika kita bisa
membuat garis bidik sejajar dengan garis arah nivo, garis arah nivo pasti mendatar.

6. Terdapat bagian untuk sentering pada waterpass, yaitu dengan menyeimbangkan nivo kotak
dengan menggunakan sekrup A,B,C agar instrumen terletak tepat pada titik pengukuran.

7. Sesuai dengan fungsinya, yaitu untuk mengukur beda tinggi, maka pada alat ukur
waterpass hanya terdapat bacaan vertikal. Namun seiring berjalannya waktu, waterpass
terbaru telah dilengkapi bacaan horizontal pada kiapnya sehingga juga bisa untuk mengukur
jarak dan sudut.

(http://aryadhani.blogspot.com/2012/03/alat-ukur-waterpas-dalam-ilmu-ukur.html)
Alat ukur waterpas dalam Ilmu Ukur Tanah

Alat ukur waterpas dapat di golongkan ke dalam beberapa jenis,
yakni :
a. Type semua tetap (dumpy level), dimana teropong dengan nivo
menjadi satu, penyetelan kedudukan teropong di lakukan dengan
tiga sekrup pengatur.
b. Type nivo refreksi (wye level), dimana teropong dapat di putar
pada sumbu memanjangnya.
c. Type semua tetap dengan sekrup pengungkit (dumpy tilting level),
pada jenis ini sumbu teropong dapat di setel dengan menggunakan
sekrup pengungkit (tilting screw).
d. Type otomatis (automatic level), Pada jenis ini kedudukan sumbu
teropong akan horizontal secara otomatis karena di dalamnya di
lengkapi dengan prisma-prisma yang di gantungkan pada plat baja.
e. Hand level, dimana alat ini hanya terdiri dari teropong yang di
lengkapi dengan nivo, sedangkan cara menggunakannya cukup di
pegang dengan tangan.
Waterpas atau sipat datar bertujuan untuk menentukan
beda tinggi antara titik-titik di permukaan atas permukaan bumi
secara teliti. Tinggi suatu obyek di atas permukaan bumi ditentukan
dari suatu bidang referensi, yaitu bidang yang ketinggiannya
dianggap nol. Dalam geodesi, bidang ini dianggap sebagai bidang
geoid, yaitu bidang equipotensial yang berimpit dengan permukaan
air laut rata-rata (mean sea level). Bidang equipotensial disebut
juga bidang nivo. Bidang ini selalu tegak lurus dengan arah gaya
berat di mana saja di permukaan bumi.
Agar dapat digunakan di lapangan, alat ukur waterpas harus
memenuhi beberapa syarat tertentu, baik syarat utama yang tidak
dapat ditawar-tawar lagi maupun syarat tambahan yang
dimaksudkan untuk memperlancar pelaksanaan pengukuran di
lapangan. Adapun syarat-syarat pemakaian alat waterpass pada
umumnya adalah:
a. Syarat dinamis: sumbu I vertikal
b. Syarat statis, antara lain :
1. Garis bidik teropong sejajar dengan garis arah nivo
2. Garis arah nivo tegak lurus sumbu I
3. Garis mendatar diafragma tegak lurus sumbu I

Urutan persyaratan statis memang demikian. Namun agar
pengaturannya lebih sistematis dan tidak berulang-ulang, urutan
pengaturannya dibalik dari poin 3 ke 1.
1. Mengatur Garis Mendatar Diafragma Tegak Lurus Sumbu I
Pada umumnya garis mendatar diafragma (benang silang
mendatar) telah dibuat tegak lurus sumbu I oleh pabrik yang
memproduksi alat ukur.
2. Mengatur Garis Arah Nivo Tegak Lurus Sumbu I
Pada alat ukur waterpass tipe semua tetap tanpa skrup ungkit,
syarat ini penting sekali. Namun pada alat dengan skrup ungkir,
syarat ini agak sedikit longgar karena apabila ada sedikit
pergeseran nivo dalam pengukuran, dapat diseimbangkan dengan
skrup ungkir ini.
Adapun maksud dari persyaratan ini adalah apabila sumbu I
telah dibuat vertikal, kemana pun teropong diputar, gelembung nivo
akan tetap seimbang. Ini berarti garis bidik selalu mendatar karena
garis bidik telah dibuat sejajar dengan garis arah nivo.
3. Membuat Garis Bidik Sejajar Garis Arah Nivo
Pada alat ukur waterpass, yang diperlukan adalah garis bidik
mendatar. Untuk mengetahui apakah garis bidik sudah betul-betul
mendatar atau belum, digunakan nivo tabung. Jika gelembung nivo
seimbang, garis arah nivo pasti mendatar. Dengan demikian, jika
kita bisa membuat garis bidik sejajar dengan garis arah nivo, garis
arah nivo pasti mendatar.
Jarak bidik optimum waterpass berkisar antara 40-60 m.
Berikut contoh pengukuran dengan alat ukur waterpass.

Apabila alat didirikan di antara dua buah rambu, maka antara
dua buah rambu dinamakan slag yang terdiri dari bidikan ke rambu
muka dan rambu belakang. Selain garis bidik atau benang tengah
(BT), teropong juga dilengkapi dengan benang stadia yaitu benang
atas (BA) dan benang bawah (BB). Selain untuk pengukuran jarak
optis, pembacaan BA dan BB juga sebagai kontrol pembacaan BT
di mana seharusnya pembacaan 2BT=BA+BB
Apabila jarak antara dua buah titik yang akan diukur beda
tingginya relatif jauh, maka dilakukan pengukuran berantai. Pada
metode ini, pengukuran tak dapat dilakukan dengan satu kali berdiri
alat. Oleh karena itu antara dua buah titik kontrol yang berurutan
dibuat beberapa slag dengan titik-titik bantu dan pengukurannya
dibuat secara berantai (differential lavelling).
Seperti halnya pengukuran jarak dan sudut, pengukuran beda
tinggi juga tidak cukup dilakukan dengan sekali jalan, tetapi dibuat
pengukuran pergi pulang, yang pelaksanaannya dapat dilakukan
dalam satu hari (dinamakan seksi), serta dimulai dan diakhiri pada
titik tetao. Gabungan beberapa seksi dinamakan trayek.
Persamaan yang berlaku dalam sipatdatar :
a. Waterpas terbuka : h akhir h
awal......................................... (II. p)
b. Waterpas tertutup : 0 (II. q)

Gambar 2.6. Penentuan beda tinggi dengan sipat datar

Keterangan gambar :
A dan B : titik di atas permukaan bumi yang akan diukur
beda tin
gginya
a dan b : bacaan atau tinggi garis mendatar di titik A dan B
Ha dan Hb : ketinggian titik A dan B di atas bidang referensi
h
AB
: beda tinggi antara titik A dan B

Bagian-Bagian Dari Waterpass
Ada berbagai macam peralatan sipat datar yang dugunakan dalam
pengukuran, antara lain sebagai berikut :
1. Waterpass
Waterpass ini dipasangkan di atas kaki tiga dan pandangan dilakukan
melalui teropong. Ada beberapa macam bagian-bagian dari waterpass, antara lain:
a. Lup
Lensa yang bisa disetel menjadi alat pengamat melakukan pembidikan. Lup
tersebut diputar agar salib sumbu bidik berada dalam fokus.
b. Teropong
Tabung yang menjaga agar semua lensa dan gigi fokus berada pada
posisinya yang benar.
b. Penahan sinar
Sebuah tudung metal atau plastik yang dipasang di atas lensa obyektif untuk
melindungi lensa tersebut dari kerusakan dan untuk mengurangi silau pada waktu
level digunakan.
c. Tombol fokus
Sebuah tombol pengatur yang memfokuskan level sacara internal terhadap
target yang dikehendaki.
d. Piringan horizontal
e. Sekrup-sekrup level
Sekrup-sekrup pengatur yang dipaki untuk mendatangkan level.
g. Alas
Alas tipis berukuran 3 x 8 yang mengikat alat pada tripod.
h. Unting-unting, kait dan rantai
Kait dan rantai ditempatkan tepat di tengah-tengah di bawah level,
tempat unting-unting digantung bila sudut pandang akan diputar.
i. Sumbu yang dapat digeser-geser
Sebuah alat yang dimaksudkan untuk memungkinkan ditempatkannya
sumbu alat tepat di atas suatu titik tertentu.
j. Nama dan nomor seri plat.
k. Sekrup tengensial horizontal.
Sebuah sekrup pengatur untuk memperkirakan kelurusan antara salib sumbu
bidik dan sasaran bidang horizontal.
l. Tabung nivo.
Sebuah tabung gelas bergraduasi yang berisi cairan yang sejajar dengan
garis bidik teropong.
2. Kaki tiga
Kaki tiga digunakan untuk menyangga alas waterpass dan menjaganya tetap
stabil selama pengamatan. Kaki tiga ini mempunyai dua baut yaitu baut pertama
digunakan untuk menentukan sambungan kaki dengan kepala sedangkan baut
kedua digunakan untuk penyetelan kekerasan penggerak engsel antara kaki tiga
dengan kepalanya.
3. Mistar ukur / rambu ukur
Mistar ukur adalah sebuah pita ukur yang ditopang vertikal dan digunakan
untuk mengukur jarak vertikal antara garis bidik dan sebuah titik tertentu yang
berada di atas atau di bawah garis bidik tadi.
Rambu ini terbuat dari bahan kayu atau aluminium. Panjangnya 3 meter (ada
yang 4 dan 5 meter). Yang penting dari rambu ukur ini adalah pembagian skalanya
harus betul-betul teliti untuk dapat menghasilkan pengukuran yang baik. Di samping
itu cara memegangnya harus benar-benar tegak (vertikal).

Kesalahan-Kesalahan dalam Pengukuran Waterpass
Walaupun sebelum pengukuran peralatan telah dikoreksi dan
syarat-syarat lain telah terpenuhi, namun karena hal-hal yang tak
terduga sebelumnya, kesalahan-kesalahan yang lain tetap dapat
terjadi, yaitu:
1. Bersumber dari alat ukur, antara lain:
a. Garis bidik tidak sejajar arah nivo
Pada pengukuran dengan alat ukur waterpas, garis bidik
harus dibuat sejajar dengan garis arah nivo agar hasil yang
didapatkan teliti. Adapun jika garis bidik tidak sejajar dengan garis
arah nivo, kesalahan dapat dihilangkan dengan membuat jarak alat
ukur ke rambu muka sama dengan jarak alat ukur ke rambu
belakang
a. Kesalahan Titik Nol Rambu
Kesalahan ini bisa terjadi dari pabrik, namun bisa pula terjadi
karena alas rambu yang aus dimakan usia atau sebab yang lain.
Pengaruh dari kesalahan ini apabila jumlah slag dibuat genap.
c. Kesalahan Karena Rambu yang tidak Betul-Betul Vertikal
Untuk menghindari kesalahan ini maka rambu harus betul-betul
vertikal dengan cara menggunakan nivo rambu atau unting-unting
yang digantungkan padanya.
d. Kesalahan Karena Penyinaran yang Tidak Merata
Sinar matahari yang jatuh tidak merata pada alat ukur
waterpas akan menyebabkan panas dan pemuaian pada alat
waterpas yang tidak merata pula, khususnya nivo teropong,
sehingga pada saat gelembung seimbang, garis arah nivo tidak
mendatar dan garis bidik juga tidak mendatar. Untuk menghindari
keadaan semacam ini sebaiknya alat ukur dipayungi agar tidak
langsung terkena sinar matahari.
2. Bersumber dari si pengukur, antara lain:
a. Kurang paham tentang pembacaan rambu
Untuk menghindari kesalahan ini, pembacaan dikontrol dengan
koreksi 2BT=BA+BB
b. Kesalahan karena mata cacat atau lelah
Untuk menghindari kesalahan ini sebaiknya mata yang cacat
menggunakan kacamata dan pengamatan dilakukan dengan mata
secara bergantian. Mata yang sedang tidak digunakan untuk
membidik juga tidak perlu dipejamkan atau dipicingkan.
c. Kondisi fisik yang lemah
Untuk menghindari keadaan yang demikian, surveyor perlu
istirahat di tengah hari, makan teratur dan selalu menjaga kondisi
tubuh
d. Pendengaran yang kurang
3. Bersumber dari alam, antara lain:
a. Kesalahan karena kelengkungan permukaan bumi
Kesalahan ini dapat diabaikan dengan membuat jarak rambu
muka sama dengan jarak rambu belakang
b. Kesalahan karena refraksi sinar
Permukaan bumi diselimuti dengan lapisan-lapisan udara yang
ketebalannya tidak sama karena suhu dan tekanan yang tidak
sama. Hal ini akan mengakibatkan sinar yang sampai pada
teropong dari obyek yang dibidik akan menjadi melengkung ke atas
sehingga yang terbaca menjadi terlalu besar.
c. Kesalahan Karena Undulasi
Pada tengah hari yang panas antara pukul 11 sampai pukul 14
sering terjadi undulasi, yaitu udara di permukaan bumi yang
bergerak naik karena panas (fatamorgana). Jika rambu ukur
didirikan di tempat yang demikian, maka apabila dibidik dengan
teropong akan kelihatan seolah-olah rambu tersebut bergerak
bergelombang-gelombang, sehingga sukar sekali untuk
menentukan angka mana yang berimpit dengan garis bidik atau
benang silang. Sehingga apabila terjadi undulasi sebaiknya
pengukuran dihentikan.
d. Kesalahan karena kondisi tanah tidak stabil
Akibat kondisi tanah tempat berdiri alat atau rambu tidak stabil, maka setelah
pembidikan ke rambu belakang, pengamat pindah posisi untuk mengamat ke rambu
muka ketinggian alat atau statif akan mengalami perubahan sehingga beda tinggi
yang didapat akan mengalami kesalahan. Untuk itu, hendaknya tempat berdiri alat
dan rambu harus betul-betul stabil atau rambu rambu diberi alas rambu.

(http://a2karim99.wordpress.com/pengukuran-2/pengukuran-
kayu/hagameter/)
Hagameter; Penggunannya
Posted on Juni 17, 2012by a2karim99
Hagameter adalah alat untuk mengukur tinggi pohon. Sebenarnya alat ini dapat pula
difungsikan untuk mengukur tinggi apa saja, termasuk kelerengan.
Kecenderungan pengukuran tinggi pohon dengan Hagameter selama ini pada posisi
relatif datar. Bagaimana cara penggunaannya pada kondisi lapangan yang relatif
tidak datar. Permasalahan ini sering dan berulang-ulang ditujukan kepada kami.
Saya katakan kalau ada yang lebih mudah dan praktis, kenapa pilih yang susah !.
Boleh dikatakan skala % (%lereng/sudut) lebih banyak dijelaskan atau digunakan
jika dibanding dengan skala sudut (derajat-sudut). Namun kalau diperhatikan
sungguh2 penggunaan %sudut tidak semudah yang banyak dibayangkan orang.
Keterangan :
B1 = jendela ; B2 = pisir
P = batang skala dengan pemutar P
S = skala pada batang
J = jarum skala
K = Pengunci (K1 = buka; K2 = tutup)
L = lubang penggantung tali
Panjang total batang-skala sekitar 14 cm atau 5,5 inchi. Sekitar 11,5 cm (4,5 inchi)
yang dimanfaatkan untuk penulisan skala. Batang-skala tersebut bersisi 6 yang
terdiri dari 6 skala ukur yaitu 5 skala ukur derajat/jarak dan 1 skala ukur persen.
Kelima skala ukur derajat/jarak terdiri dari 1 skala Britis (inchi/feet) dan 4 skala
matriks (meter/derajat).
Rumusan dasarnya didasarkan pada rumus tangen dengan ilustrasi pengukuran
segitiga-samasisi.
Batang-skala Hagameter diilustrasikan sebagai berikut.
Memperhatikan skala ukur yang ada dapat dibagi dua bagian yaitu skala derajat (a
e) dan skala persen (f).
Penggunaannya secara ringkas adalah :
a. Tentukan skala sudut
@ jika menggunakan skala derajat (15, 20, 25, 30 m dan 66 ft), maka perkirakan
dulu tinggi pohon yang akan diukur. Misalnya diperkirakan 15 meter, maka ukur
jarak dari si pengukur ke batang pohon yang bersangkutan sejauh 15 meter. Putar
batang-skala hingga tampak skala ukur untuk jarak 15 meter (b)
@ jika menggunakan skala persen (%lereng atau %sudut), maka perkirakan dulu
tinggi pohon yang akan diukur (cukup hanya memperkirakan). Perkiraan tersebut
misalnya 15 meter, maka ukur jarak dari si pengukur ke batang pohon yang
bersangkutan sejauh 15 meter. Putar batang-skala hingga tampak skala ukur untuk
%lereng (f)
b. Buka kunci K1 (tekan) agar jarum bergerak bebas. Kemudian arahkan Haga ke
batang pohon (A = pangkal batang, B = setinggi mata dan C = tajuk). Pengertian
tajuk disini dapat berupa puncak tajuk (ujung batang), pada diameter tertentu atau
pada bebas cabang. Setelah pembidikan tepat di titik A atau B atau C tutup kunci K2
(tekan). Catat hasil pembacaan yang ditunjukkan jarum skala saat pembidikan titik A
atau B atau C.
c. Tinggi pohon (T = AC)
Rumusan perhitungan tinggi yang digunakan
@ jika menggunakan skala ukur derajat (derajat-sudut)
* T = (tg tg ) . Jd
@ jika menggunakan skala ukur persen (%sudut)
* T = [(%MC - %MA)/100].Jd
sedikit berbagi ilmu, Cara penggunaannya :

1. Fungsikan alat penunjuk arah tinggi, dengan memutar tombol untuk berbagai jarak
pohon dari pengukuran ( bisa 10, 15, 20m dll ).
2. Atur posisi pembidik dengan jarak antara pembidik dengan pohon yang akan di ukur
sesuai dengan skala jarak yang digunakan.
3. Buka kunci jarum penunjuk dengan menekan knop / tombol.
4. Lakukan pembidik melaluhi visir ke pangkal pohon kemudian kunci dengan menekan
tombol / knop.
5. Baca dan catat skala yang ditunjukkan jarum.
6. Lakukan bidikan ke ujung pohon yang di inginkan ( puncak / cabang pertama ),
kunci jarum penunjuk dengan menekan knop / tombol.
7. Baca dan catat skala yang di tunjukkan jarum.
Tinggi pohon adalah :
1. Jika posisi pembidik dan pohon berada di lapangan datar, maka tinggi pohon adalah
penjumlahan hasil bidikan ke pangkal dan ujung pohon.
2. Jika posisi bidik berada di atas posisi pohon, maka tinggi pohon adalah pengurangan
penjumlahan hasil bidikan ke pangkal dan ujung pohon
3. Jika posisi bidik berada di bawah posisi pohon maka tinggi pohon adalah
pengurangan hasil bidikan keatas ujung pohon dengan hasil bidikan ke pangkal pohon.

(http://frekajourney.blogspot.com/2011/11/ilmu-medan-peta-kompas.html)
ILMU MEDAN PETA KOMPAS
ILMU MEDAN PETA KOMPAS

METODE MENGUNGKAPKAN ARAH
seorang penjelajah membutuhkan cara untuk mengekspresikan arah yangakurat, yang
disesuaikan dengan setiap bagian dari dunia, dan memiliki ukuranunit
umum. Arah dinyatakan sebagai satuan ukuran sudut.
a. System sexagesimal
Unit yang paling umum adalah ukuran derajat () dengansubdivisi nya menit (') dan detik (").
system ini membagi lingkaran menjadi 360 derajat
1 derajat = 60 menit.
1 menit = 60 detik.

b. system waktu
System ini membagi lingkaran menjadi 24 jam dimana
1 jam = 60 menit
1 menit = 60 detik

c. system artileri
Mil. Satuan ukuran lain, yang mil (disingkat), digunakan terutama
diartileri, tank, meriam dan mortir. Para mil mengungkapkan ukuran sudutterbentuk
ketika sebuah lingkaran dibagi menjadi 6.400 sudut, dengan titik dari sudut di
pusat lingkaran. Suatu hubungan dapat dibangun antara derajat danmils. Sebuah
lingkaran sama dengan 6400 mils dibagi dengan 360 derajat, atau17,78 mil per derajat. Untuk
mengkonversi derajat ke mils, kalikan derajat dengan 17,78.
360 derajat = 6400 mil


MACAM MACAM UTARA
alam rangka untuk mengukur sesuatu, harus selalu ada titik awal atau nol pengukuran.Untuk
mengungkapkan arah sebagai satuan ukuran sudut, harus ada titik awal atau ukuran nol dan titik
acuan ini menunjuk dua titik dasar atau garis referensi. Ada garis-benar basis tiga utara, utara
magnetis, dan grid utara. Yang paling umum digunakan adalah magnet dan grid.
a. Utara sebenarnya .
Bentuk bumi bukanlah sebuah bulat sempurna , namun sedikit elips yang berotasi pada porosnya
dengan menarik garis khayal pada poros bumi., bias diketahui utara sebenarnya dari bumi. Sebuah
garis dari setiap titik di permukaan bumi ke kutub utara. Utara sebenarnya biasanya diwakili oleh
sebuah binta ng ( Gambar 6-1 ).


b. Utara magnetic
Arah ke kutub utara magnet, seperti yang ditunjukkan oleh jarum utara dicari dari instrumen
magnetik. Pembacaan magnetik diperoleh dengan instrumen magnetis, seperti kompas Lensatic dan
M2. Kutub magnetic tidak berhimpit dengan poros bumi jaraknya berselisih sejauh 1400 mil sebelah
selatan kutub utara bumi utara magnetic kita gunakan sebagai dasar untuk menentukan besar sudut
derajat secara mendatar. Bagian utara magnetik biasanya dilambangkan dengan garis diakhiri dengan
setengah dari sebuah mata panah (Gambar 6-1 ).
c. Utara pada peta (grid north) . Bagian utara yang didirikan dengan menggunakan garis grid
vertikal pada peta yang menjadi sumbu peta . "arah utara peta tidak berhimpit dengan utara
sebenarnya sehingga terdapat selisih yang disebut ikhtilap peta. Sudut ikhtilap peta tergantung pada
dari lokasi peta . bias sebelah barat atau timur utara sebenarnya Grid utara mungkin dilambangkan
dengan huruf atau GN huruf "y

BEBERAPA ALAT YANG DIGUNAKAN DALAM IMPK
A. KOMPAS
1. DEFINISI
Definisi kompas. Kompas berasal dari bahasa Latin yaitu Compassus yang berarti jangka.
Kompas merupakan alat penentu arah dan derajat mata angin. Kompas tediri atas magnet
jarum, yang dapat berputar bebas. Kutub-kutub magnet ini selalu menunjuk arah Utara
Selatan walaupun tidak tepat benar (karena adanya sudut deklinasi).
Dalam menggunakan kompas perlu di perhatikan;
2. YANG PERLU DI PERHATIKAN DALAM MENGGUNAKAN KOMPAS
Kompas adalah instrumen yang lembut dan harus dirawat sesuai.
a. Inspeksi. Sebuah pemeriksaan rinci diperlukan ketika pertama kali mendapatkan dan menggunakan
kompas. Salah satu bagian paling penting untuk memeriksa adalah dial mengambang, yang berisi
jarum magnetik. Pengguna juga harus memastikan penampakan kawat lurus, bagian kaca dan kristal
tidak rusak, angka-angka pada dial dapat dibaca, dan yang paling penting, yang dial tidak menempel.
b. Efek Logam dan Listrik. Logam objek dan sumber listrik dapat mempengaruhi kinerja
kompas. Namun, logam dan paduan nonmagnetik tidak mempengaruhi pembacaan kompas. Jarak
pemisahan berikut disarankan untuk memastikan berfungsinya kompas:
c. Akurasi. Sebuah kompas dalam kondisi kerja yang baik sangat akurat. Namun, kompas harus
diperiksa secara berkala pada baris diketahui arah, seperti azimut disurvei menggunakan stasiun
deklinasi. Kompas dengan lebih dari 3 + variasi tidak boleh digunakan.
d. Perlindungan. Jika bepergian dengan kompas, dilipat, pastikan pemandangan belakang
dilipat sepenuhnya turun ke cincin bezel. Hal ini akan mengunci tombol mengambang dan
mencegah getaran, serta melindungi mata kristal dan belakang dari kerusakan
3. BEBERAPA JENIS KOMPAS
1. Kompas Bidik
Kompas bidik adalah kompas yang biasa digunakan oleh militer, pramuka, dan pengembara. Kompas
ini mudah mendapatkannya, harganyapun relatif murah, juga penggunaannya cukup sederhana serta
lengkap.
Bagian bagian kompas bidik:
1. Dial : Permukaan diaman tertera angka/huruf seperti jam
2. Visir : Pembidik Sasaran
3. Kaca Pembesar : Untuk melihat sasaran dan angka pada Dial
4. Jam Penunjuk : Menunjukkan lokasi magnet bumi
5. Tutup Dial : Dengan 2 garis bersudut 45
0
dan dapat diputar-putar
6. Alat penggantung : Untuk tali/ dapat juga untuk menyangkutkan ibu jari tangan sewaktu
melakukan pembidikan
Cara menggunakannya:
1. tutup kompas dibuka legak lurus dengan kotak / badan kompas (90 derajat).
2. ibu jari dimasukkan kecincin dan kompas diletakkan mendatar dan disana oleh jari telunjuk
dan jari lainnya.
3. kompas dipegang sebatas mata.
4. sasaran bidik melalui takik pertengahan prisma dan garis rambut dibagian tengah ditutup.
5. setelah sasaran dibidik dengan tepat, angka yang tertera dibawah garis tanda diatas pelat
yang bercahaya dibaca, angka itu menunjukkan besarnya arah sudut bidikan.

2. Kompas Silva
Kompas ini sudah dilengkapi busur drajat dan penggaris. Dalam penggunaannya akan sangat mudah
karena kompas ini tidak dilengkapi alat bidik. Kecermatan bidik kompas ini agak kurang




3. Geografical Position Satelite
Saat ini banyak pula pendaki gunung yang memanfaatkan alat navigasi sistem GPS, yang merupakan
singkatan dari Geografical Position Satelite. Sistem ini dikembangkan dengan bantuan satelit militer
Amerika Serikat yang digunakan untuk kebutuhan komersial.
Sebenarnya alat ini digunakan untuk navigasi udara, tetapi dalam perkembangannya atau
kenyataannya saat ini, juga bisa digunakan untuk navigasi darat dan laut. Secara garis besarnya
bentuk alat ini kurang lebih sebesar kalkulator. Pengoperasian alat ini dibantu oleh minimal 3 buah
satelit pengamat.
Alat ini banyak diminati di Indonesia, walaupun ada kekhawatiran bagaimana seandainya bekas
satelit militer Amerika itu tidak digunakan oleh kegiatan sipil. Menurut rencana pemerintah
Indonesia akan mengorbitkan satelit sejenis dan mengoperasikannya. Jadi untuk perkembangan
dunia petualangan, alat ini memang perlu dipelajari dan mempunyai prospek yang baik..






B. PROTACTOR
Ada beberapa jenis protractors penuh lingkaran, setengah lingkaran, persegi, dan persegi panjang
( Gambar 6-5 ). Semua dari mereka membagi lingkaran menjadi satuan ukuran sudut, dan masing-
masing memiliki skala sekitar tepi luar dan tanda indeks. Tanda Indeks adalah pusat lingkaran busur
dari mana semua arah diukur.
Gambar 6-5. Jenis protractors.
a. Para busur derajat militer, GTA 5-2-12, berisi dua skala: satu dalam derajat (skala batin) dan satu di
mils (skala luar). Busur derajat ini merupakan lingkaran azimut. Skala derajat lulus 0-360 derajat,
masing-masing tanda centang pada skala mewakili derajat satu derajat. Sebuah baris 0-180 derajat
disebut garis dasar busur derajat. Dimana garis dasar berpotongan dengan garis horizontal, antara 90
dan 270 derajat, adalah indeks atau pusat busur derajat ( Gambar 6-6 ).
Gambar 6-6. Militer busur derajat.
b. Bila menggunakan busur derajat, garis dasar selalu paralel berorientasi ke saluran jaringan utara-
selatan. Para 0 - tanda atau 360-derajat selalu ke arah atas atau utara pada peta dan tanda adalah 90
ke kanan.
(1) Untuk menentukan azimuth grid-
(A) Buatlah garis yang menghubungkan dua titik (A dan B).
(B) Tempat indeks dari busur derajat pada titik di mana garis yang ditarik melintasi garis (utara-
selatan) grid vertikal.
(C) Menjaga indeks pada titik ini, sejajarkan 0 - untuk 180-derajat dari garis busur derajat pada garis
kotak vertikal.
(D) Baca nilai sudut dari skala, ini adalah jaringan azimut dari titik A ke titik B (Gambar 6-4 ).
(2) Untuk menggambarkan suatu azimut dari titik yang diketahui pada peta ( Gambar 6-7 ) -
(A) Mengkonversi azimut dari magnetik ke grid, jika perlu.
(B) Tempatkan busur derajat pada peta dengan tanda indeks pada pusat massa dari titik dikenal dan
garis dasar sejajar dengan garis kotak utara-selatan.
(C) Buatlah tanda di peta di azimut yang diinginkan.
(D) Hapus busur derajat dan menggambar garis yang menghubungkan titik dikenal dan tanda di
peta. Ini adalah arah kotak garis (azimuth).
CATATAN: Ketika mengukur suatu azimut, membaca selalu dengan derajat terdekat
atau 10 mils. Jarak tidak mengubah azimut diukur secara akurat.
Gambar . Merencanakan azimut pada peta.
c. Untuk mendapatkan pembacaan yang akurat dengan busur derajat (untuk
tingkat terdekat atau 10 mils), ada dua teknik untuk memeriksa bahwa garis
dasar busur derajat sejajar dengan garis kotak utara-selatan.
(1) Tempatkan indeks busur derajat mana garis azimuth memotong garis
kotak utara-selatan, menyelaraskan garis dasar busur derajat langsung di
atas perpotongan dari garis azimut dengan garis jaringan utara-
selatan. Pengguna harus dapat menentukan apakah pembacaan azimuth
awal benar.
(2) Pengguna harus kembali membaca azimut antara azimuth dan utara-
selatan garis grid untuk memeriksa azimuth awal.
(3) Perhatikan bahwa busur derajat dipotong pada kedua bagian atas dan
bawah oleh garis utara-selatan jaringan yang sama. Menghitung jumlah
derajat dari tanda 0 derajat di atas busur derajat ke saluran jaringan utara-
selatan dan kemudian menghitung jumlah derajat dari tanda 180-derajat di
bagian bawah busur derajat ke saluran jaringan yang sama. Jika kedua
jumlah yang sama, busur derajat benar selaras.
C. PETA

A. PENGERTIAN PETA
Sejumlah informasi/data dari suatu daerah tertentu (sebagian dari permukaan fisik bumi) yang
disajikan dalam bentuk grafis 2 dimensi (bidang datar) dengan perbandingan tertentu (skala).........
KLASIFIKASI PETA
Tidak ada klasifikasi Peta yang bersifat universal. Secara garis besar, Peta dapat dibedakan
berdasarkan skala, pada bentuk penyajiannya isi atau informasi utama pada Peta dan kegunaan dari
Peta tersebut.
Berdasarkan Skala Peta
Peta Teknis: Dengan skala dibawah 1:10.000.
Peta Topografi: Atau Peta detail dengan skala lebih kecil, diantaranya 1:10.000 sampai
dengan 1:100.000.
Peta Geografi: Atau Peta Ikhtisar dengan skala lebih kecil dari 1:100.000.
Berdasarkan Bentuk Penyajian Peta
Peta Garis (Line Map).
Peta yang menyajikan bayangan dari permukaan bumi dalam bentuk grafis atau garis.
Peta Foto (Photo Map).
Bayangan dari permukaan bumi disajikan dalam bentuk bayangan Fotografis, hasil dari suatu
pemotretan Udara.
Peta Digital (Digital Map).
Suatu Peta yang data-datanya (Nomor titik, Koordinat Horisontal dan Vertikal) tersimpan
dalam media Komputer.

Berdasarkan Isi Peta
Peta Topografi (Topographic Map)
Peta yang menyajikan informasi dari semua unsur yang terdapat dipermukaan Bumi, baik
unsur alam maupun unsur buatan manusia.
Peta Tematik (Thematik Map)
Peta yang menyajikan unsur-unsur tertentu dari permukaan Bumi sesuai dengan tema Peta
yang bersangkutan, dan umumnya mempunyai hubungan tertentu dengan informasi
topografi.
Chart
Suatu Peta untuk kegunaan yang bersifat khusus, dalam hal ini data-data yang disajikan
berhubungan dengan keperluan Khusus.

Berdasarkan Kegunaan Peta
Peta Referensi atau Peta Serbaguna, Peta yang dijadikan dasar dari perencanaan
pengembangan nasional dan regional, dan umumnya diproduksi pada satu seri Peta. Jenis
dari Peta referensi diantaranya adalah:
Peta Planimetris, Peta yang hanya menyajikan posisi horisontal dari unsur-unsur
dipermukaan bumi tanpa menyajikan data ketinggian.
Peta Kadaster, Peta yang menyajikan batas dari kepemilikan tanah.
Peta Topografi, Peta yang menggambarkan tidak saja detail planimetris dari unsur-unsur
dipermukaan bumi, tetapi juga menggambarkan bentuk Peta Topografi.

PETA TEMATIK
Adalah Peta yang menyajikan data/informasi sebagian permukaan fisik bumi sehubungan
dengan tema tertentu (bersifat khusus). Dalam pembuatan Peta Tematik, diperlukan dua elemen
penting, yaitu Peta dasar serta data/informasi spesifik yang akan disajikan.
Contoh dari Peta Tematik:
Peta Geologi.
Peta Tata Guna Tanah.
Peta Sumberdaya Alam.
Peta Jalan.
Peta Pariwisata.

PETA TOPOGRAFI
Peta yang dipergunakan dalam Navigasi Darat adalah Peta Topografi yang dipandang paling
lengkap dalam penyajian informasinya. Perkataan Topografi berasal dari bahasa Yunani dan terdiri
dari dua kata yaitu: TOPO = Lapangan,GRAFOS = Penjelasan tertulis, jadi Topografi berarti
penjelasan tertulis tentang lapangan.
Peta Topografi sering juga disebut sebagai Peta yang bersifat umum, karena alam
penyajiannya tidak ada satu unsurpun yang lebih dipentingkan atau dengan perkataan lain, semua
unsur pada Peta Topografi diperlakukan sama. Dengan kata lain definisi dari Peta Topografi adalah:
... Peta yang menyajikan data dan informasi keadaan lapangan secara menyeluruh (sifatnya
umum), baik itu unsur alam (sungai, gunung, danau, laut, dll) maupun unsur buatan (jalan,
jembatan, perkampungan, bendungan, dll) dengan garis bayangan ketinggian (garis kontur
ketinggian) dalam perbandingan tertentu (skala)...
Dalam lembaran Peta Topografi ada beberapa informasi ditepi Peta sebagai penunjang
dalam pembacaan Peta yang harus diketahui oleh seorang Navigator.

INFORMASI TEPI PETA TOPOGRAFI
1. Judul Peta
Menerangkan identitas atau nama dari suatu daerah yang tergambar dalam lembar Peta
tersebut. Biasanya judul Peta diambil dari nama daerah yang terletak ditengah Peta atau daerah yang
paling besar atau menonjol pada lembar Peta tersebut.
Contoh : Sagalaherang, Mandalawangi, Ciwidey, G. Ceremai, dll.

2. Nomor Lembar/Nomor Registrasi Peta
Menerangkan nomor registrasi dari tiap lembar Peta, biasanya ditempatkan disudut kanan
atas dari Peta.

Cara penomoran Peta Belanda HIND 1090
Cara penomoran menurut edisi Belanda, di Indonesia 1 Lintang dan Bujur dibagi dalam tiga
bagian, masing-masing bagian terdiri 20. Daerah sebesar 20 x 20 dinamakan satu bagian derajat.
Tiap-tiap bagian derajat yang ada dipermukaan bumi semuanya diproyeksikan diatas suatu
bidang kerucut yang menyinggung permukaan bumidititik tengah bagian derajat dan mempunyai
sumbu yang berimpit dengan poros bumi. Dinamakan Proyeksi Polynder.
Titik tengah bagian derajat menjadi titik asal salib sumbu untuk menentukan koordinat titik-
titik bagian derajat
Cara penomoran pada edisi Hindia belanda, yaitu :
Angka latin untuk penomoran kolom tiap satu bagian derajat 20 x 20 (skala 1:100.000).
Angka romawi untuk penomoran baris tiap 20. x 20. (skala 1:100.000).
Hurup/abjad latin besar untuk pembagian lembar/sheet Peta tiap 10 x 10 (skala 1:50.000).
Hurup/abjad latin kecil tiap 5. x 5. (skala 1:25.000).
Contoh penomoran pada Peta edisi Belanda HIND 1090
36/XXXIX (19) untuk Peta 20 skala 1:100.000
36/XXXIX (19-A) untuk Peta 10 skala 1:50.000
36/XXXIX (19-a) untuk Peta 5 skala 1:25.000

Cara mencari lembar Peta edisi Hindia belanda, yaitu:
Penomoran Peta HIND 1090 dimulai dari garis lintang dan bujur paling kiri atas dari wilayah
Indonesia, yaitu 06 LU dan 96 BT.
Dari uraian diatas kita mengetahui bahwa satu derajat terbagi dalam 3 bagian derajat pada
Peta edisiini, yaitu seluas 20 x 20 terpetakan dalam skala 1 : 100.000. Misalnya kita mencari
koordinat suatu tempat/titik 062530 LS dan 1093515 BT. Terdapat dilembar Peta berapa
tempat/titik tersebut ?,
caranya:
Mencari nomor kolom
1073515 BT - 96 BT = 113515 BT
Lihat derajat dan menitnya yaitu 1135 = 695
695/20 = 34.75, artinya posisi koordinat yang dicari terdapat pada nomor kolom 35.
Mencari nomor baris
062530 LS - 06 LU = 122530
Lihat derajat dan menitnya yaitu 1225 = 745
745/20 = 37.25, artinya posisi koordinat yang dicari terdapat pada nomor baris 38 = XXXVIII.
Dari hasil diatas kita mendapatkan posisi dari koordinat 062530 LS ; 1023515 BT,
terdapat pada kolom 35 dan baris 38 = XXXVIII yaitu nomor lembar bagian derajat 13 maka nomor
Petanya 35/XXXVIII(13) untuk Peta skala (1 : 100.000).
Peta 1:50.000 mewakili daerah seluas 10. x 10., cara untuk mencari nomor lembar Petanya :
Hitung bujur dari koordinat tersebut setelah dikurangi kelipatan 20
113515 = 69515.......(bujur)
34 x 20 = 680...............(kolom kelipatan 20)
695 680 = 1515........(sisa setelah dikurangi kolom atau kelipatan 20).
1515 pada bagian derajat terdapat pada kolom ke 2 yaitu lembar Peta B atau D, Peta skala 1 :
50.000. (lihat gambar 5)
Untuk nomor baris hitung lintang setelah dikurangi kelipatan 20
122530= 745.......(bujur)
37 x 20 = 740............(kolom kelipatan 20)
745 740 = 1530...(sisa setelah dikurangi baris atau kelipatan 20).
1530 pada bagian derajat terdapat pada baris ke 2 yaitu lembar Peta C atau D, Peta skala 1 :
50.000. (lihat gambar 5)
Dari perhitungan kolom dan baris diatas maka kita mendapatkan lembar Peta yang bertampalan
yaitu dilembar D untuk Peta skala 1 : 50.000.
Jadi posisi dari titik/tempat yang mempunyai koordinat 062530 LS ; 1023515 BT terdapat
pada lembar Peta nomor 35/XXXVIII(13-D) pada Peta skala 1:50.000.

Cara penomoran Peta AMS (U.S.Army Map Service)
Cara ini membagi satu derajat melintang dalam 3 bagian derajat dan membujur dalam 2
bagian derajat, masing-masing 30 x 20 untuk skala 1:100.000 dan 15 x 10 untuk skala 1:50.000,
sehingga ukuran kertas yang digunakan yaitu 55cm x 37cm.
Contoh : 4422 skala 1: 100.000
4422-IV skala 1: 50.000

Cara penomoran Peta BAKOSURTANAL
Untuk penomoran lembar Peta Bakosurtanal (Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan
Nasional) atau juga disebut juga Peta Rupa Bumi, mempunyai penomoran tersendiri.
Satu derajat melintang dan membujur terbagi dalam 2 bagian masingmasing 30 sehingga
daerah yang diwakili satu bagian derajat adalah 30 x 30 dalam skala 1:100.000, Peta skala 1:50.000
masing-masing 15 x 15 dan skala 1:25.000 masing-masing 7,5 x 7,5 dengan ukuran kertas 55cm x
55cm.
Cara penomoran Peta Bakosurtanal dinyatakan dengan angka latin :
Empat angka pertama mewakili daerah seluas 1 x 130 dipetakan dengan skala 1 : 250.000.
Empat angka pertama ditambah satu angka daerah seluas 30 x 30 yaitu menunjukan skala 1
: 100.000.
Empat angka pertama ditambah dua angka daerah seluas 15 x 15 yaitu menunjukan skala 1
: 50.000.
Empat angka pertama ditambah tiga angka daerah seluas 7,5 x 7,5 yaitu menunjukan skala
1 : 25.000.
Contoh : Peta Bekasi nomor Peta 1209-531
1209 : skala 1 : 250.000
1209-5 : skala 1 : 100.000
1209-53 : skala 1 : 50.000
1209-531 : skala 1 : 25.000

3. Keterangan pembuat Peta
Menerangkan silsilah, waktu, jenis proyeksi serta datum yang digunakan. Tujuan dari Peta itu
dibuat serta keterangan serta alamat Instansi yang memproduksi Peta tersebut.
Contoh :
Repro : Direktorat Geologi 1976
Dari Peta asal : US. Army Washington D.C 1943
Proyeksi : Lambert Comcal Orthomorphic


4. Legenda Peta
Menerangkan simbol-simbol yang tergambar pada Peta baik unsur alam maupun buatan
(gunung, sawah, jalan, kampung, titik trianggulasi, titik ketinggian, dll).
Bentuk serta ukuran dari simbol-simbol ini tidak dipengaruhi oleh skala (generalisasi), contoh
simbol dalam legenda.

5. Bagan Pembagian lembar Peta
Menerangkan bagian-bagian Peta yang bertampalan dengan Peta tersebut, sehingga
mempermudah dalam penggabungan Peta untuk interprestasi daerah yang lebih luas.

6. Skala Peta
Menerangkan perbandingan antara jarak di Peta dengan jarak sebenarnya dilapangan.
Ada beberapa jenis skala Peta yang tercantum yaitu Skala Numeris, Skala Grafis, dan Skala
Pernyataan.
Skala Numeris , yaitu skala Peta yang disajikan dalam bentuk nomor/angka seperti 1:50.000,
artinya setiap perbandingan 1 cm di peta sebanding dengan 50.000cm = 500m = 0,5km
dilapangan.
Skala Grafis , yaitu skala Peta yang disajikan dalam bentuk grafis garis. Skala grafis ini
berfungsi untuk mengantisipasi dari pemuaian atau pengerutan pada bahan kertas Peta yang
digunakan, yang disebabkan oleh pengaruh panas dari alat pencetak atau pengaruh dari
suhu udara, sehingga dapat diketahui pergeseran akibat perubahan tersebut.
Skala Pernyataan , yaitu skala Peta yang dalam penyajiannya menggunakan suatu pernyataan.
Contoh : 1 inch to 1 miles
Cara ini banyak digunakan dalam bentuk chart, serta Peta-peta yang dibuat oleh Negara-
negara persemakmuran Inggris.
CARA MENG HITUNG SKALA
Interval Kontur secara Sistematis tertulis sbb :


Skala Peta secara sistematis dapat ditulis sebagai berikut :
MEASURING DISTANCE (Mengukur Jarak)
Langkah-langkah mengukur Jarak Datar di lapangan :
Ketahui Skala Peta
Ketahui Jarak di Peta (JP)
Secara Sistematis Jarak Datar dapat diketahui sbb :
Contoh : Diketahui Skala Peta 1 : 25.000
Jarak Peta = 4 cm
Hitung : Jarak Datar di Lapangan ?

JP
Jawab : SP =
JD
JD = SP x JD
= 4 cm x 25.000 = 100.000 cm
Jadi Jarak Datar = 1 Km

Langkah-langkah menghitung Jarak Sebenarnya di Peta :
Ketahui Skala Peta (SP)
Ketahui Jarak Peta (JP)
Ketahui Beda Tinggi (Interval Kontur)
Ketahui Jarak Datar (JD)
Secara sistematis Jarak Sebenarnya sbb :
A = Jarak Datar
B = Beda Tinggi/Interval Kontur
C = Jarak Sebenarnya
Contoh :
Diketahui : Jarak Peta (Titik A ke B) = 5 cm
Skala Peta = 1 : 25.000
Jumlah Kontur pada lintasan = 7 kontur (titik A ke titik B)
Hitung Jarak Sebenarnya ?


7. Sistim Koordinat
Yaitu sistim untuk memudahkan dalam menentukan posisi suatu titik/tempat dipeta, sistim
koordinat Peta ini disajikan dalam bentuk grid (garis pembantu sistim koordinat).
Ada dua sistim koordinat yang disajikan didalam Peta Topografi wilayah Indonesia yaitu:
Ada dua sistim koordinat yang disajikan didalam Peta Topografi wilayah Indonesia yaitu:
Sistim Koordinat Graticule (geografis), yaitu sistim koordinat yang menggunakan proyeksi
polynder grid yang digunakan adalah grid dengan satuan lingkaran, lintang (), dan bujur ().
Contoh : koordinat Kuningan (065856 LS ; 1082834 BT)
Sistim Koordinat UTM, yaitu sistim koordinat yang menggunakan grid UTM (Universal Transverse
Mecator) dalam salib sumbu cartesian(absis dan ordinat). Satuan yang dipakai dalam sistim ini
adalah meter.
Contoh : koordinat Kuningan 221134(absis) ; 9227466(ordinat).
Sistim koordinat UTM inilah yang biasanya lebih mudah dipakai dalam kegiatan Navigasi Darat,
karena menggunakan grid dalam satuan jarak yaitu meter.
Pada pelaksanaannya untuk mempermudah dalam proses mencari dan menghitung
digunakan sistim lokal yaitu sistim yang berdiri sendiri tidak bersifat umum, sistim ini biasanya
digunakan pada Peta latihan.
Beberapa cara sistim koordinat lokal yaitu:
Cara 6 angka (Puluh ribuan, Ribuan, dan Ratusan).
Contoh : koordinat Kuningan 211;275
Cara 8 angka (Puluh ribuan, Ribuan, Ratusan, dan Puluhan).
Contoh : koordinat Kuningan 2113;2747


MAP SYMBOLS
Yang dimaksud adalah tanda-tanda yang termuat didalam peta dengan bentuk-bentuk
tertentu serta mempunyai arti tertentu, sehingga memudahkan pengguna peta untuk dapat
mempergunakannya.
Contoh :
Jalan Aspal, jalan tanah, jalan setapak, titik Ketinggian, puncak gunung, sungai, bangunan,
perkampungan perkebunan, sawah, dll

(http://id.wikipedia.org/wiki/Kompas)
Kompas
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Untuk surat kabar di Indonesia dengan nama yang sama, lihat Kompas (surat kabar).
Kompas adalah alat navigasi untuk menentukan arah berupa sebuah panah penunjuk magnetis yang
bebas menyelaraskan dirinya dengan medan magnet bumi secara akurat. Kompas memberikan rujukan
arah tertentu, sehingga sangat membantu dalam bidang navigasi. Arah mata anginyang ditunjuknya
adalah utara, selatan, timur, dan barat. Apabila digunakan bersama-sama dengan jam dan sekstan, maka
kompas akan lebih akurat dalam menunjukkan arah. Alat ini membantu perkembangan perdagangan
maritim dengan membuat perjalanan jauh lebih aman dan efisien dibandingkan saat manusia masih
berpedoman pada kedudukan bintang untuk menentukan arah.
Penemuan bahwa jarum magnetik selalu mengarah ke utara dan selatan terjadi di Cina dan diuraikan
dalam buku Loven Heng. Di abad kesembilan, orang Cina telah mengembangkan kompas berupa jarum
yang mengambang dan jarum yang berputar.Pelaut Persia memperoleh kompas dari orang Cina dan
kemudian memperdagangkannya. Tetapi baru pada tahun 1877 orang Inggris, William Thomson, 1st Baron
Kelvin(Lord Kelvin) membuat kompas yang dapat diterima oleh semua negara. Dengan memperbaiki
kesalahan-kesalahan yang timbul dari deviasi magnetik karena meningkatnya penggunaan besi dalam
arsitektur kapal.
Alat apa pun yang memiliki batang atau jarum magnetis yang bebas bergerak menunjuk arah utara
magnetis dari magnetosfer sebuah planet sudah bisa dianggap sebagai kompas. Kompas jam adalah
kompas yang dilengkapi dengan jam matahari. Kompas variasi adalah alat khusus berstruktur rapuh yang
digunakan dengan cara mengamati variasi pergerakan jarum. Girokompas digunakan untuk
menentukan utara sejati.
Lokasi magnet di Kutub Utara selalu bergeser dari masa ke masa. Penelitian terakhir yang dilakukan
oleh The Geological Survey of Canada melaporkan bahwa posisi magnet ini bergerak kira-kira 40 km per
tahun ke arah barat laut.


Kompas, si penunjuk arah.
Daftar isi
[sembunyikan]
1 Jenis kompas
o 1.1 Kompas analog
o 1.2 Kompas digital
2 Lihat pula
3 Referensi
Jenis kompas[sunting]
Kompas dibedakan menjadi dua jenis, yaitu kompas analog dan kompas digital.
Kompas analog[sunting]
Kompas analog adalah kompas yang biasa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya saja kompas
yang dipakai ketika acara pramuka. Sedangkan kompas digital merupakan kompas yang telah
menggunakan proses digitalisasi. Dengan kata lain cara kerja kompas ini menggunakan komputerisasi.
Kompas digital[sunting]
Diciptakannya kompas digital bertujuan untuk melengkapi kebutuhan robotika yang semakin canggih.
Dunia robotika ini sangat membutuhkan alat navigasi yang efektif dan efisien. Sementara itu alat sistem
navigasi yang tersedia di pasaran harganya mahal. Sedangkan kompas sendiri merupakan sebuah alat
sistem navigasi yang efektif dengan harga lebih murah. oleh karena itu kompas digital diharapkan bisa
mensubstitusi alat sistem navigasi pada robot.
Kompas-kompas digital yang ada di pasaran banyak macamnya. Di antaranya yaitu CMPS03 Magnetic
Compass buatan Devantech Ltd. CMPS03 yang berukuran 4 x 4 cm ini menggunakan sensor medan
magnet Philips KMZ51 yang cukup sensitif untuk mendeteksi medan magnet bumi. Kompas digital ini
cukup supplai tegangan sebesar 5 Vdc dengan konsumsi arus 15mA. Pada CMPS03, arah mata angin
dibagi dalam bentuk derajat yaitu : Utara (0), Timur (90), Selatan (180) dan Barat (270).
Ada dua cara untuk menperoleh informasi arah dari kompas digital ini yaitu dengan membaca sinyal PWM
(Pulse Width Modulation) pada pin 4 atau dengan membaca data interface I2C pada pin 2 dan 3. Sinyal
PWM adalah sebuah sinyal yang telah dimodulasi lebar pulsanya. Pada CMPS03, lebar pulsa positif
merepresentasikan sudut arah. Lebar pulsa bervariasi antara 1mS (00) sampai 36.99mS (359.90). Dengan
kata lain lebar pulsa berubah sebesar 100uS setiap derajatnya. Sinyal akan low selama 65mS di antara
pulsa, sehingga total periodanya adalah 65mS + lebar pulsa positif (antara 66mS sampai 102mS). Pulsa
tersebut dihasilkan oleh timer 16 bit di dalam prosesornya, yang memberikan resolusi 1uS.
Selain PWM, CMPS03 juga dilengkapi dengan interface I2C yang dapat digunakan untuk membaca data
arah dalam bentuk data serial. Pada mode 8 bit, arah utara ditunjukkan dengan data 255 dengan resolusi
1,40625 derajat/bit. Pada mode 16 bit, arah utara ditunjukkan dengan data 65535 sehingga resolusinya
menjadi 0,0055 derajat/bit.
Dari berbagai macam kompas digital di atas dapat diketahui bahwa kompas digital CMPS03 merupakan
kompas digital yang paling bagus. Walaupun kompas ini paling bagus karena gambarannya bisa
ditampilkan dalam layar LCD karakter, namun kompas ini tidak bisa digunakan oleh semua jenis robot. Hal
ini dikarenakan setiap robot mempunyai kebutuhan atas sistem navigasi berupa kompas digital yang beda
antar robot satu dengan robot lainnya. Ada kemungkinan jenis robot A membutuhkan kompas digital jenis
B, dan ada kemungkinan bahwa kompas satu tidak bisa tersubstitusikan oleh kompas lainnya.

(http://sylvesterunila.blogspot.com/2011/06/ilmu-ukur-tanah-dan-pemetaan-wilayah.html)
URUSAN KEHUTANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2009


PENDAHULUAN

Latar Belakang
Ilmu ukur tanah disebut juga plan surveying yaitu ilmu yang mempelajari cara
menyajikan bentuk permukaan bumi baik unsur alam maupun unsur manuia (mencakup seni
dan teknologi) diatas permukaan yang dianggap datar.
Bentuk bumi merupakan pusat perhatian dan kajian dari bidang ilmu ukur tanah. Bumi
pada dasarnya berbentuk sangat tidak beraturan terbukti dengan adanya pegunungan
dan jurang-jurang. Ilmu ukur tanah atau plan surveying dibatasi pada cakupan
wilayah yang relatif sempit yaitu sekitar antara 0.5 derajat x 5.5 derajat atau 55
km x 55 km. Ilmu ukur tanah dibagi dua pengukuran:
Ilmu ukur tanah adalah bagian dari ilmu geodesi yang mempelajari cara-cara
pengukuran di permukaan bumi dan di bawah tanah untuk menentukan posisi relatif
atau absolut titik-titik pada permukaan tanah, di atasnya atau di bawahnya, dalam
memenuhi kebutuhan seperti pemetaan dan penentuan posisi relatif suatu daerah.






ALAT UKUR TANAH SEDERHANA

Ukur tanah atau dikenal pula dengan sebutan ukur wilayah (Surveying) termasuk di
dalamnya pengukuran lahan pertanian adalah bidang ilmu praktis dari ilmu geodesi.
Definisi sederhana dari ukur tanah adalah menentukan posisi atau letak titik di
atas atau pada perkukaan bumi. Definisi yang lebih berkembang adalah pekerjaan
untuk menggambarkan keadaan fisik sebagian permukaan bumi menyerupai keadaan
sebenarnya dilapangan. Produk yang sesuai dengan definisi terakhir adalah peta
topografi, sedangkan jenis-jenis pekerjaan yang sederhana antara lain mengukur
jarak antara dua titik, mengukur panjang dan lebar atau sisi-sisi sebidang lahan,
mengukur lereng dan penggambaran bentuk sebidang lahan.
Pekerjaan-pekerjaan tersebut di atas termasuk penentuan posisi titik dan pembuatan
peta topografi pada dasarnya adalah melakukan pengukuran jarak dan sudut. Oleh
karena itu pekerjaan utama dalam ukur tanah adalah mengukur jarak dan sudut dan
berdasarkan ini pula, maka alat-alat ukur tanah adalah alat-alat yang dipersiapkan
untuk mengukur jarak dan atau sudut.

Alat-alat yang digunakan ada yang tergolong sederhana dan ada yang tergolong
modern. Sederhana atau modernnya alat ini dapat dilihat dari sederhana cara
menggunakannya dan sederhana komponen alatnya. Alat-alat ini ada yang tergolong
alat-alat pekerjaan kantor dan alat pekerjaan
lapangan. Alat kantor umumya berkaitan dengan alat tulis, gambar dan hitung,
sementara alat lapangan berkaitan dengan alat-alat ukur. Alat lapangan yang dapat
digolongkan sederhana antara lain meteran, kompas, teropong pendatar tangan,
odometer, dan alat sifat datar sederhana tanpa teropong.

A. Meteran
Meteran, sering disebut pita ukur atau tape karena umumnya tersaji dalam bentuk
pita dengan panjang tertentu. Sering juga disebut rol meter karena umumnya pita
ukur ini pada keadaan tidak dipakai atau disimpan dalam bentuk gulungan atau rol,
seperti terlihat pada Gambar 1.1.




Gambar 1.1. Rol Meter
Roll meter merupakan alat ukur yang berbentuk lempengan pelat tipis yang dapat
digulung. Karena roll meter ini tipis dan panjang maka dapat digunakan untuk
mengukur bidang yang melingkar. Roll meter ini terdiri dari bermacam-macam ukuran
yaitu 3 m, 5 m, 10 m.


Kegunaan
Kegunaan utama atau yang umum dari meteran ini adalah untuk mengukur
jarak atau panjang. Kegunaan lain yang juga pada dasarnya adalah melakukan
pengukuran jarak, antara lain (1) mengukur sudut baik sudut
horizontal maupun sudut vertikal atau lereng, (2) membuat sudut siku-siku,
dan (3) membuat lingkaran.
Spesifikasi Alat
Meteran mempunyai spesifikasi antara lain :
(1) Satuan ukuran yang digunakan
Ada 2 satuan ukuran yang biasa digunakan, yaitu satuan Inggris ( inch, feet, yard)
dan satuan metrik ( mm, cm, m)
(2) Satuan terkecil yang digunakan mm atau cm , inch atau feet
(3) Daya muai, yaitu tingkat pemuaian akibat perubahan suhu udara
(4) Daya regang, yaitu perubahan panjang akibat tegangan atau tarikan
(5) Penyajian angka nol. Angka atau bacaan nol pada meteran ada yang
dinyatakan tepat di ujung awal meteran dan ada pula yang dinyatakan pada jarak
tertentu dari ujung awal meteran.
Daya muai dan daya regang meteran dipengaruhi oleh jenis meteran, yang dibedakan
berdasar-kan bahan yang digunakan dalam pembuatannya.

Jenis Meteran
(1). Pita ukur dari kain (Metalic cloth)
Meteran ini terbuat dari kain linen dan ayaman kawat halus dari tembaga atau
kuningan.
Sifat alat ini adalah :
- Fleksibel
- Mudah rusak
- Pemuaian besar, sehingga ketelitiannya rendah
(2). Pita Ukur Baja (Steel tape), terbuat dari bahan baja
Sifat alat ini adalah :
- Agak kaku
- Tahan lama
- Tahan air
- Pemuaian lebih kecil , sehingga ketelitiannya tergolong agak teliti
(3). Pita Ukur Baja Aloy (Steel alloy), terbuat dari campuran baja dan nikel.Sifat
meteran ini adalah :
- Hampir tidak dipengaruhi suhu, pemuaianya hanya 1/3 dari meteran baja, jadi alat
ini lebih teliti
- Tahan lama dan tahan air

Cara Menggunakan
Cara menggunakan alat ini relatif sederhana, cukup dengan merentangkan meteran ini
dari ujung satu ke ujung lain dari objek yang diukur. Namun demikian untuk hasil
yang lebih akurat cara menggunkan alat ini sebaiknya dilakukan sebagai berikut:
a. Lakukan oleh 2 orang
b. Seorang memegang ujung awal dan meletakan angka nol meteran di titik yang
pertama
c. Seorang lagi memegang rol meter menuju ke titik pengukuran lainnya, tarik
meteran selurus mungkin dan letakan meteran di titik yang dituju dan baca angka
meteran yang tepat di titik tersebut.

B. Kompas
Kompas adalah sebuah alat dengan komponen utamanya jarum dan lingkaran berskala.
Salah satu ujung jarumnya dibuat dari besi berani atau magnit yang ditengahnya
terpasang pada suatu sumbu, sehinngga dalam keadaan mendatar jarum magnit dapat
bergerak bebas ke arah horizontal atau mendatar menuju arah utara atau selatan.
Kompas adalah alat navigasi untuk mencari arah berupa sebuah panah penunjuk
magnetis yang bebas menyelaraskan dirinya dengan medan magnet bumi secara akurat.
Kompas memberikan rujukan arah tertentu, sehingga sangat membantu dalam bidang
navigasi. Arah mata angin yang ditunjuknya adalah utara, selatan, timur, dan barat.
Apabila digunakan bersama-sama denganjam dan sekstan, maka kompas akan lebih akurat
dalam menunjukkan arah. Alat ini membantu perkembangan perdagangan maritim dengan
membuat perjalanan jauh lebih aman dan efisien dibandingkan saat manusia masih
berpedoman pada kedudukan bintang untuk menentukan arah.
Kompas adalah alat penunjuk arah yang digunakan untuk mengetahui arah utara
magnetis. Karena sifat kemagnetannya, jarum kompas akan menunjuk arah utara-selatan
(jika tidak dipengaruhi oleh adanya gaya-gaya magnet lainnya selain magnet bumi).
Tetapi perlu diingat bahwa arah yang ditunjuk oleh jarum kompas tersebut adalah
arah utara magnet bumi, jadi bukan arah utara sebenarnya.
Secara fisik, kompas terdiri atas : a) Badan, yaitu tempat komponen-komponen kompas
lainnya berada; b) Jarum, selalu mengarah ke utara-selatan bagaimanapun posisinya;
c) Skala penunjuk, menunjukkan derajat sistem mata angin
Alat apa pun yang memiliki batang atau jarum magnetis yang bebas bergerak menunjuk
arah utara magnetis dari magnetosfer sebuah planet sudah bisa dianggap sebagai
kompas. Kompas jam adalah kompas yang dilengkapi dengan jam matahari. Kompas
variasi adalah alat khusus berstruktur rapuh yang digunakan dengan cara mengamati
variasi pergerakan jarum. Girokompasdigunakan untuk menentukan utara sejati.
Lokasi magnet di Kutub Utara selalu bergeser dari masa ke masa. Penelitian terakhir
yang dilakukan oleh The Geological Survey of Canada melaporkan bahwa posisi magnet
ini bergerak kira-kira 40 km per tahun ke arah barat laut.

Kompas, si penunjuk arah.
Berikut ini adalah arah mata angin yang dapat ditentukan kompas.
Utara (disingkat U atau N)
Barat (disingkat B atau W)
Timur (disingkat T atau E)
Selatan (disingkat S)
Barat laut (antara barat dan utara, disingkat NW)
Timur laut (antara timur dan utara, disingkat NE)
Barat daya (antara barat dan selatan, disingkat SW)
Tenggara (antara timur dan selatan, disingkat SE)

Kompas yang lebih baik dilengkapi dengan nivo, cairan untuk menstabilkan gerakan
jarum dan alat pembidik atau visir.


Kegunaan
Kompas dipakai dengan posisi horizontal sesuai dengan arah garis medan magnet bumi.
Dalam memakai kompas, perlu dijauhkan dari pengaruh benda-benda yang mengandung
logam, seperti pisau, golok, karabiner, jam tangan dan lainnya. Kehadiran benda-
benda tersebut akan mempengaruhi jarum kompas sehingga ketepatannya akan berkurang.
Kegunaan utama atau yang umum dari kompas adalah untuk menentukan arah mata angin
terutama arah utara atau selatan sesuai dengan magnit yang digunakan. Kegunaan lain
yang juga didasarkan pada penunjukkan arah utara atau selatan adalah (1) penentuan
arah dari satu titik/tempat ke titik/tempat lain, yang ditunjukkan oleh besarnya
sudut azimut, yaitu besarnya sudut yang dimulai dari arah utara atau selatan,
bergerak searah jarum jam sampai di arah yang dimaksud, (2) mengukur sudut
horizontal (3) membuat sudut siku-siku.(4) untuk menentukan letak orientasi. (5) mencari
arah utara magnetis.(6) Untuk mengukur besarnya sudut peta

Spesifikasi Alat
Alat ini mempunyai spesifikasi, antara lain:
(1). Jarum magnit yang digunakan sebagai patokan mengarah ke utara atau selatan
(2). Satuan skala ukuran sudut yang digunakan derajat atau grid
Jenis Kompas
Secara garis besar dapat dikelompokan kedalam 2 jenis, yaitu :
(1). Kompas tangan, yaitu kompas yang pada saat digunakan cukup
dipegang dengan tangan
(2). Kompas statif, yaitu kompas yang pada saat digunakan perlu dipasang
pada kaki tiga atau statif. Salah satu contoh kompas ini adalah kompas
Bousol, seperti terlihat pada Gambar 1.2.
Cara Menggunakan
Cara menggunakan kompas untuk menentukan arah ke suatu tujuan
dibedakan sesuai dengan jenis kompas yang dipakai, yaitu :
(1) Untuk kompas tangan
a. Alat cukup dengan dipegang tangan di atas titik pengamatan
b. Atur agar alat dalam keadaan mendatar agar jarum dapat bergerak dengan bebas.
Kalau alat ini dilengkapi dengan nivo atur gelembung nivo ada di tengah
c. Baca angka skala lingkaran yang menuju arah/titik yang dimaksud.
(2) Untuk kompas statif
a. Kompas yang sudah dipasang di atas statif didirikan diatas titik awal/pengamatan
b. Atur agar kompas dalam keadaan mendatar agar jarum dapat bergerak dengan bebas.
Kalau alat ini dilengkapi dengan nivo atur gelembung nivo ada di tengah
c. Arahkan alat bidik/visir ke arah yang dituju. Baca angka skala lingkaran yang
menuju arah tersebut


Gambar 1.2. Bousol
Cara menggunakan kompas untuk orientasi peta antara lain :
Ini merupakan keahlian yang mudah, dan juga merupakan hal penting pada penggunaan
kompas. sbb:
Peganglah peta secara horisontal
Letakan kompas diatas bidang datar peta
Putar peta sampai garis utara pada peta (bisa ditemukan dua garis lurus berujung
panah yang menunjukan utara magnetik atau bagian atas dari abjad yang terdapat di
peta adalah utara peta) sampai sama dengan utara kompas.
Sekarang peta sudah terorientasi pada medan. Ini membuatnya lebih mudah dibaca.
Menghitung bearing
Setiap arah bisa dinyatakan sebagai sudut yang terhubung dengan utara. Pada militer
ini disebut "Azimuth" dan bearing dinyatakan sebagai jumlah derajat. Orienteer
menggambil jalan keluar yang gampang, dengan mensetting sudut pada kompasnya dan
menjaga jarum kompasnya, dan ini membuat mereka tetap bergerak pada arah yang
benar. Instruksi langkah-langkah mudah cara mengeset bearing ada pada dasar kompas
type baseplate adalah:Letakan kompas diatas peta penunjuk arah mengarah kearah
tujuan kita. Putar rumah kompas sehingga tanda panahnya yang terdapat pada dasar
plastiknya paralel dengan panah yang tegambar pada peta (pastikan mata anak
panahnya mengarah ke utara bukan selatan). Pisahkan kompas dengan peta dan
pengganglah peta didepan kita jadi dengan begitu arah perjalanan kita terbentang
didepan kita. Putarlah tubuh sehingga jarum kompas tepat pada tanda panah didasar
rumah kompas. Pilihlah sebuah objek jelas didepan kita yang terletak dijalur
perjalanan kita, ulangi prose ini(cara ini kita bisa memutari rintangan dan tetap
berada pada jalur bearing kita).
Kesalahan paling sering terjadi dalam satu waktu pembacaan kompas adalah disebabkan
oleh jumlah titik stasiun. Pengaruh dari baja atau besi yang melingkupi kompas,
kadang terlupakan. Memiringkan sisi kompas saat pembacaan juga menghasilkan
kesalahan (Stevens, 1965). Memiringkan kompas dengan sudut terlalu besar, dapat
menyebabkan card kompas menjadi lekat dan tidak dapat berputar. Sehingga pembacaan
kompas pada stasiun yang lebih tinggi dari yang lain, akan menghasilkan kesalahan.
Dengan Suunto dan kompas prismatik Mark III, kemiringan maksimum untuk pembacaan
yang presisi adalah 15.Listrik dapat menyebabkan medan magnet. Garis tenaga listrik
dapat mempengaruhi pembacaan kompas.
C. Teropong PendatarTangan (Hand levels)
Bagian utama dari alat ini adalah teropong sebagai alat pembidik dan nivo sebagai
alat yang menunjukkan kondisi mendatar dan pada pengoperasiannya cukup dipegang
dengan tangan
Kegunaan
Alat ini dapat digunakan untuk :
(1) memperoleh pandangan mendatar atau titik-titik yang sama tingginga dengan
ketinggian teropong.
(2) menentukan beda tinggi antara dua titik/tempat
(3) menentukan kemiringan atau lereng antara dua titik/tempat
Spesifikasi Alat
Alat ini selain dibedakan dari kelengkapan alatnya juga dibedakan dari ketelitian
bacaan sudur miringnya.
Jenis Alat
Ada beberapa jenis yang tergolong kedalam alat pendatar tangan ini, antara
lain :
(1) Teropong pendatar tangan biasa
Alat ini hanya terdiri dari teropong yang didalamnya terdapat benang silang dan
nivo sebagai penunjuk keadaan mendatar, seperti pada Gambar 1.3.
(2) Abney Level
Alat ini berupa teropong yang dilengkapi dengan busur setengan lingkaran, seperti
pada Gambar 1.4.

Gambar 1.3. Teropong Pendatar Tangan Biasa


Gambar 1.4. Abney Level

(3) Sunto levels
Alat ini seperti abney level, tetapi lingkaran skalanya ada di dalam alat, sehingga
alat ini tidak terlihat bentuk teropongnya tetapi menyerupai kotak pipih seperti
korek api
Abney level dan Sunto level umumnya dikenal sebagai alat untuk mengukur lereng atau
kemiringan lahan
Cara Menggunakan
Cara menggunakan antara teropong pendatar tangan biasa dengan abeny level dan sunto
level agak berbeda.
a. Cara menggunakan teropong pendatar tangan biasa
- Teropong dipengang, lubang pembidiknya diletakan di depan mata, berdiri di titik
awal
- Ukur tinggi mata kita, sebagai tinggi alat
- Bidikan ke sasaran, atur agar gelembung nivo tepat di benang silang mendatar,
seperti terlihat pada Gambar 1.3. (Bila dimaksudkan untum menentukan beda tinggi,
maka di titik yang dibidik atau titik sasaran dipasang rambu ukur, sehingga
ketinggian garis bidik di titik tersebut diketahui)
b. Cara menggunakan abney atau sunto level
- Alat dipengang, lubang pembidiknya diletakan di depan mata, berdiri di titik awal
- Ukur tinggi mata kita, sebagai tinggi alat
- Bidikan ke rambu ukur yang dipasang di titik berikutnya/titik yang akan dibidik,
atur bacaan bidikan sama tingginga dengan ketinggian alat
- Baca skala kemiringannya

D. Odometer
Odometer merupakan alat sederhana berupa roda yang dapat digelindingkan pada
tongkat pengangannya, seperti pada Gambar 1.5. Yang paling sederhana pada rodanya
dipasang per yang pada setiap putaran akan menyentuh pengangan alat dan
mengeluarkan bunyi. Pada alat yang lebih maju pada pengangannya dipasang alat
hitung putaran (Counter) atau bahkan alat yang langsung menyatakan jarak yang
ditempuhnya, seperti halnya speedometer pada motor.

Kegunaan
Kegunaan alat ini adalah untuk mengukur jarak
Spesifikasi Alat
Spesifikasi alat ini dibedakan dari ukuran panjang jari-jari lingkarannya
Jenis Alat
Seperti telah dikemukaan di atas jenis alat ini hanya dibedakan dari kelengkapan
alatnya, ada yang hanya sekedar bunyi pada setiap puaran dan bunyi itu dihitung
secara manual, ada yang hitungannya dicacat pada alat hitung jumlah putarannya dan
ada yang langsung menunjukkan jarak yang ditempuhnya.
Cara Menggunakan
Cara menggunakan alat ini reatif mudah, yaitu :
(1) Letakan alat di ujung satu dari objek yang akan diukur
(2) Gelindingkan rodanya menuju ujung lain dari objek yang akan diukur (Bila jarak
lurus yang diinginkan, maka arahnya harus lurus, tepi bila harus belok-belok
mengukuti bentuk objek yang diukur seperti jalan atau saluran, maka jalurnya harus
mengikuti objek yang diukur tadi)
(3) Menghitung putaran roda
(4) Menghitung jarak, yaitu sama dengan jumlah putaran kali lingkaran roda

E. Alat Sifat Datar Sederhana Tanpa Teropong
Kegunaan
Kegunaan alat ini hampir sama dengan teropong pendatar tangan, yaitu dapat
digunakan untuk :
(1). Memperoleh pandangan mendatar atau titik-titik yang sama tingginya
(2). Menentukan beda tinggi antara dua titik/tempat yang perbedaannya tidak terlalu
besar
(3). Menentukan kemiringan atau lereng antara dua titik/tempat yang relative landai
Jenis Alat
(1). Jangka A
Alat ini terbuat dari reng kayu atau bambu yang dibuat menyerupai huruf A, dengan
panjang kaki-kakinya yang sama. Pada bagian yang melintang dari huruf A tersebut
tengahnya diberi tanda dan di atas huruf A digantungkan untung-unting, seperti
terlihat pada





(2). Dua Tabung Gelas atauTabung Pipa U
Alat ini terbuat dari dua buah tabung kaca yang dihubungkan dengan pipa atau berupa
tabung pipa U terbuat dari kaca atau slang pastik transparan yang dipasang di atas
statif diisi dengan air.
Dengan prinsip archimides air di kedua kaki sama tinggi, maka diperoleh garis bidik
yang mendatar


(3). Slang Palstik
Alat ini juga mempunyai prinsip bejana berhubungan, terbuat dari slang plastik
transparan, sehingga permukaan air yang ada di dalamnya dapat terlihat dan sudah
dapat dipastikan bila diatur dengan baik sehingga tidak ada gelembung udara di
dalamnya, perkukaan air di kedua ujung selang tersebut mempunyai ketinggian yang
sama.
Cara Menggunakan
(1). Jangka A
a. Dirikan alat, letakan salah satu kakinya di titik awal pengukuran
b. Kaki yang satu lagi diatur atau digeser-geser ke tempat yang lebih tinggi atau
lebih rendah, sehingga benang unting-unting tepat berada di tengah palang mendatar
jangka A nya.
(Bila hal ini sudah dicapai berarti ketinggian titik di kaki kedua sama dengan di
kaki ke satu)
c. Putar kaki kesatu menuju titik pengukuran berikutnya dan atur seperti pada
langkah b di atas.
(2). Pipa U
a. Dilakukan oleh 2 orang
b. Seorang mendirikan alat di titik pengukuran ke satu, mengatur alat setegak
mungkin, kemudian bidikan ke rambu ukur yang dipasang di titik pengukuran
berikutnya yang dipegang oleh seorang lagi
c. Baca angka pada rambu yang dibidik. Bacaan tersebut menunjukkan ketinggian garis
bidik di titik tersebut yang mempunyai ketinggian yang sama dengan ketinggian garis
bidik di tempat alat.
(3). Slang Palstik
a. Dilakukan oleh 2 orang
b. Seorang memegang dan meletakkan salah satu ujung slang yang
telah diisi air dan diatur jangan sampai ada gelembung udara di dalamnya dan
seorang lagi membawanya ke titik pengukuran berikutnya.
c. Atur permukaan air di kedua ujung slang sampai stabil. Bila hal ini telah
dicapai berarti ketinggian lokasi yang tepat dengan permukaan air di kedua ujung
slang tersebut adalah sama.


Beberapa kerusakan yang sering terjadi pada alat-alat ukur tanah
Merawat dan memeriksa alat merupakan dua kegiatan yang tidak kalah
pentingnya dari membuat, memperbaiki dan menggunakannya.
Merawat alat dimaksudkan sebagai memelihara alat dengan tujuan :
a. agar alat dapat digunakan dalam jangka waktu yang cukup lama
b. agar alat dapat digunakan dengan lancar tidak terjadi hambatan, seperti
macet atau bagian tertentu lepas
c. menghindari terjadinya kerusakan, sehingga alat tidak dapat digunakan.
Dalam melakukan perawatan alat alangkah baik bila sekaligus dilakukan
pemeriksaan terhadap alat tersebut apakah masih laik atau tidak untuk
digunakan. Dari hasil pemeriksaan akan diketahui selain laik atau tidaknya
untuk digunakan atau dioperasikan juga diketahui perlunya melakukan
perbaikan, agar kerusakan yang terjadi tidak lebih parah.
Beberapa kerusakan yang mengakibatkan tidak atau kurang lakinya dari
beberapa alat, antara lain :
Meteran
- Seluruh atau sebagian skala angkanya sudah tidak terlihat jelas atau terhapus
- Ujung awal meteran sudah terputus, sehingga awal meteran tidal angka nol lagi
Kompas
- Jarum magnit sudak tidak dapat bergerak secara bebas lagi di Porosnya. Hal ini
dapat terjadi karena porosnya rusak atau cairan yang tadinya ada di dalam kompas
sebagian atau seluruhnya sudah habis keluar.
- Skala angkanya sebagian atau seluruhnya sudah tidak terlihat jelas.
Odometer
- Rodanya sudah tidak bulat lagi
- Rodanya sering macet tidak berputar
- Bunyi atau alat penghitungnya sudah rusak
Teropong pendatar tangan biasa
- Nivonya rusak, atau sebagian airnya keluar, sehingga bentuk gelembung nivonya
tidak keluar atau tidak ada
- Kaca yang ada benang silang untuk melakukan pembidikan rusak atau goresan benang
silangnya sudah tidak ada.
Abney level
- Nivonya rusak, atau sebagian airnya keluar, sehingga bentuk gelembung nivonya
tidak keluar atau tidak ada
- Kaca yang ada benang silang untuk melakukan pembidikan rusak atau goresan benang
silangnya sudah tidak ada/tidak jelas
- Setengah lingkaran berskala/klinometernya rusak
Sunto level
- Nivonya rusak
- Lingkaran berskalanya tidak bergerak bebas

PERISTILAHAN/ GLOSSARY
Nivo adalah bejana gelas tertutup yang pada satu sisinya cenbung, berisi cairan
(biasanya ether) hampir penuh,sehingga ada bagian sisa berupa gelembung udaranya
(uap ether)
Nivo kotak adalah nivo dimana bejananya berbentuk kotak atau lingkaran dan sisi
cembungnya berasa di bagian atas, sehingga dalam keadaan mendatar gelembungnya akan
berada di tengah kotak atau lingkaran bejana tersebut.
Nivo tabung adalah nivo dimana bejananya berbentuk tabung lengkung,dan
bagian lengkungnya berasa di bagian atas, sehingga dalam keadaan
mendatar gelembungnya akan berada di tengah tabung tersebut.
Nivo U adalah nivo tabung yang diatur dengan cermin sedemikian rupa, sehingga bila
berada dalam keadaan mendatar akan memperlihatkan gelembung berbentuk U
Garis nivo adalah garis khayal yang menyinggung gelembung udara yang ada di dalam
nivo. Garis nivo ini mendatar seandainya gelembung nivo berada di bagian atas sisi
kaca baian cembungnya dan pada posisi mendatar inilah menjadi pengertian umum garis
nivo.
Garis bidik adalah garis pandangan mata kita melalui lubang teropong terus ke
perpotongan benang diafragma
Benang diafragma adalah dua buah benang atau goresan silang pada diafragma
membentuk salib sumbu yang berada di dalam sebuah teleskop , yang satu tegak
disebut benang diafragma tegak dan yang satu lagi mendatar disebut benang diafragma
mendatar.
Diafragma adalah bidang berupa lempeng kaca, dimana bayangan dari benda yang berada
di depan lensa objektif akan tampak.
Benang stadia adalah dua buah benang atau goresan pada diafragma yang jaraknya sama
dan sejajar dengan benang diafragma mendatar
Teleskop adalah teropong yang di dalamnya terdapat lensa objektif dan lensa okuler,
sehingga dapat melihat benda jauh serta seringkali dilengkapi dengan benang
diafragma sebagai pengarah bidikan
Mendirikan alat atau dengan istilah setup adalah memasang dan mengatur alat ukur,
seperti waterpas atau teodolit yang dipasang pada kaki tiga diatas sebuah titik
sampai siap atau memenuhi syarat untuk melakukan pembidikan
Membidikan alat adalah menepatkan garis bidik atau benang diafragma tegak dan
mendatar tepat pada sasaran yang dibidik


http://riyani-dwidayanti.blogspot.com/2011/04/klinometer.html
KLINOMETER


Klinometer adalah alat sederhana untuk mengukur sudut elevasi antara garis datar dan
sebuah garis yang menghubungkan sebuah titik pada garis datar tersebut dengan titik puncak
(ujung) sebuah objek. Aplikasinya digunakan untuk mengukur tinggi (panjang) suatu objek dengan
memanfaatkan sudut elevasi. Dengan kata lain fungsi atau kegunaannya adalah untuk menentukan
besar sudut elevasi dalam mengukur tinggi obyek secara tidak langsung.

A. Cara Pembuatan
Alat dan bahannya meliputi:
1. Busur
2. Tali benang/senar
3. Pipa yang terbuat dari plastik, paralon, besi atau bambu
4. Bandul dari kayu atau besi

B. Langkah Pembuatan
1. Pasangkan busur dengan pipa, caranya bisa ditempelkan dengan lem atau diikat dengan tali.
2. Letakkan tali dan bandul di tengah-tengah pipa searah sudut 0 derajat.
3. Untuk memudahkan penggunaan klinometer, klinometer dapat diberi pegangan dari kayu atau besi
agar bisa berdiri tegak.
C. Cara Penggunaan
Konsep matematika yang digunakan bisa dua macam yaitu kesebangunan dua segitiga dan
nilai tangen dari suatu sudut. Tapi di sini hanya akan dibahas penggunaan konsep nilai tangen dari
suatu sudut.
a. Meletakkan ujung klinometer tepat di depan mata.
b. Mengarahkan ujung klinometer yang lain ke arah ujung/puncak objek yang akan dicari tingginya.
c. Membaca sudut yang ditunjukkan oleh benang.
d. Mengukur jarak pengamat ke objek.
e. Menggunakan perbandingan tinggi objek dari kepala pengamat. Jarak pengamat ke objek = nilai tan
sudut.
f. Menghitung tinggi objek = tinggi objek dari kepala pengamat + tinggi pengamat.

D. Contoh Penggunaan
Misal tinggi benda yang akan diukur adalah tinggi pohon:
1. Letakkan klinometer diatas meja dan arahkan ke puncak pohon melalui lubang pembidik klinometer,
dengan puncak pohon pohon yang dibidik dan lubang pembidik dalam suatu garis lurus.
2. Tentukan besar sudut elevasi, melalui letak tali bandul terhadap busur derajat dan klinometer.
Jika tali bandul menunjuk pada posisi 60 derajat, maka sudut elevasinya 30
0
(penyiku dari 60
0
).
Jika tali bandul menunjuk pada posisi 40
0
, maka besar sudut elevasinya 50
0
(penyiku dari 40
0
).
3. Untuk menentukan tinggi pohon juga diperlukan pengukuran tinggi mata (dalam hal ini sama dengan
tinggi meja 0, jarak antara si pengukur dan pohon yang dicari tingginya). Misal jarak antara pengukur
dengan pohon = 40 m dan besar sudut elevasi = 30
0
.
4. Setelah diperoleh hasil pengukuran di lapangan, tentukan tinggi pohon yang dicari melalui
pengukuran dengan skala. Guru dapat meminta siswa untuk menggambar hasil-hasil pengukuran
diatas selembar kertas.
Misal dalam menggambarkan jarak antara si pengukur dengan pohon digunakan skala sebagai
berikut: 5 m (jarak sebenarnya) dapat diwakili 8 cm ( pada gambar).
Selanjutnya dengan menggunakan busur derajat, siswa diminta menggambarkan sudut elevasi
sebesar 150 melalui titik A.
Tinggi sebagian pohon yaitu y dapat dicari dengan jalan menarik garis tegak lurus melalui titik D,
sampai memotong perpanjangan sinar yang membentuk sudut elevasi. Gambar yang diminta
adalah sebagai berikut:
Y dapat diukur dengan menggunakan penggaris biasa. Jika y = 2,2 cm, maka panjang y sebenarnya
= 2,2 x 500 cm = 1100 cm = 11 m.
Tinggi pohon seluruhnya adalah seluruhnya adalah: panjang y + tinggi meja, misal tinggi meja =
0,75 m atau 75 cm, maka tinggi pohon seluruhnya = 11 m + 0,75 m = 11,75 m.

http://su-hrman.blogspot.com/2011/09/mengukur-tinggi-pohon-dengan-klinometer.html
Mengukur Tinggi Pohon dengan Klinometer
Pembelajaran matematika lebih menyenangkan apabila konsep-konsep teori diterapkan pada
kehidupan sesungguhnya. Misalnya pokok bahasan sudut kemiringan/elevasi, kita dapat
menggunakan media sederhana yaitu klinometer untuk mengukur tinggi sebuah pohon, tebing, atau
tiang bendera. Klinometer yaitu alat yang digunakan untuk mengukur sudut kemiringan/elevasi, yang
dibentuk antara garis datar dengan sebuah garis yang menghubungkan sebuah titik pada garis datar
tersebut dengan titik puncak (ujung) suatu obyek.Dengan menggunakan teorema pytaghoras maka
akan diketahui panjang sisi miring pada sebuah segitiga.




Penggunaan klinometer untuk mengukur tinggi benda, dapat diilustrasikan sebagai berikut




Cara Menggunakan :
1. letakkan ujung klinometer (titik A) tepat didepan mata
2. arahkan ujung lain dari klinometer ke puncak benda (titik E)
3. ukur jarak titik A ke benang penunjuk sudut (titik B)
4. ukur jarak pangkal benang penunjuk sudut (titik C) ke titik B
5. ukur jarak pengamat ke benda yang akan diukur kitinggiannya ( FG)
6. tinggi pengamat AF=DG
7. jika menggunakan konsep kesebangunan segitiga, maka dapat dirumuskan






Contoh ;

Seorang anak ingin mengukur sebuah pohon, jarak anak dengan pohon 6 meter, tinggi anak 1,5
meter. Setelah diteropong, jarak mata pengamat dengan benang pemberat 3 cm, jarak mata
pengamat dengan titik sumbu busur 5 cm, jarak titik sumbu busur dengan tinggi mata pengamat 4
cm, jika skala yang digunakan 1: 100 cm. Berapa tinggi pohon tersebut ?

Pembahasan
jika dijabarkan sebagai berikut

jarak pengamat dengan pohon FG=6 m
tinggi pengamat AF=1,5 m
jarak mata pengamat dengan benang pemberat AB=3 cm
jarak mata pengamat dengan titik sumbu busur AC=5 cm
jarak titik sumbu busur dengan tinggi pengamat CB=4cm




Jawab ;



Dengan skala 1:100, maka 8cm=800cm atau 8m
Jika AF=DG maka panjang GE = 1,5 m + 8 m = 9,5m
Jadi tinggi pohon yaitu 9,5 m

http://duritajam.web.id/dunia-matematika/apa-itu-klinometer/
Apa itu Klinometer?
10 DESEMBER 10
Teringat jaman SMP kelas 2 berarti sekitar tahun 1999, saya rajin sekali untuk ikut ekstrakulikuler pramuka yang
secara hanya satu-satunya ekstrakulikuler yang mampu hidup dan bertahan rada lama di sekolah saya waktu itu.
Nah, suatu minggu kami dan pemuda di daerah pembina pramuka mengadakan perjalanan edukasi ke gunung di
daerah Sidoharjo Wonogiri. Salah satu mata acara dalam perjalanan itu adalah mengukur tinggi pohon cemara,
dengan cara apapun boleh. Karena kami masih anget-angetnya mendapat pelajaran kesebangunan di kelas
matematika maka kami gunakan saja klinometer.
Klinometer merupakan alat sederhana yang digunakan untuk mengukur sudut elevasi yang dibentuk antara garis
datar dengan sebuah garis yang menghubungkan sebuah titik pada garis datar tersebut dengan titik puncak
(ujung) suatu obyek. Pada terapannya, alat ini dapat digunakan pada pekerjaan pengukuran tinggi (atau
panjang) suatu obyek dengan memanfaatkan sudut elevasi.
Gambarnya adalah sebagai berikut.


Cara penggunaan klinometer untuk mengukur ketinggian dapat
diilustrasikan dengan gambar berikut.



Sedangkan cara menghitungnya ada dua cara.
1. Menggunakan kesebangunan segitiga
1. Meletakkan ujung klinometer (titik A) tepat didepan mata
2. Mengarahkan ujung lain dari klinometer ke puncak benda(titik E)
3. Mengukur jarak titik A kebenang penunjuk sudut (titik B)
4. Mengukur jarak pangkal benang penunjuk sudut (titik C) ke titik B
5. mengukur jarak pengamat ke benda yang akan diukur ketinggiannya (FG)
6. Menghitung panjang DE dengan konsep kesebangunan segitiga, yaitu:
[pmath]CB/AB=DE/AD [/pmath][pmath]sehingga DE={AD.CB}/AB[/pmath]
7. Bila tinggi pengamat adalah AF=DG, dan tinggi DE telah diketahui, maka tinggi benda GE = AF +
DE
2. Menggunakan rumus tangen sudut elevasi
1. Meletakkan ujung klinometer (titik A) tepat didepan mata
2. Mengarahkan ujung lain dari klinometer ke puncak benda (titik E)
3. Membaca skala derajat yang ditunjuk oleh benang (CB)
4. Mengukur jarak pengamat ke benda (FG)
5. Menghitung besar DE dengan persamaan trigonometri :
[pmath]tan alpha^0=DE/FG[/pmath] sehingga [pmath]DE=FG.tan alpha^0[/pmath]
6. Menghitung GE = DE+AF, dengan AF adalah tinggi pengamat
Ok, selamat mecoba keahlian kalian menggunakan alat sederhana ini. Bagaimana cara membuatnya? Stay tune
di duritajam.web.id. Akan ada artikel yang membahasnya.