Anda di halaman 1dari 17

PENDIDIKAN DAN PROMOSI KESEHATAN

I. Pengantar Pendidikan Kesehatan



1.1 Pengertian Pendidikan

Pendidikan secara umum adalah segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi
orang lain baik individu, kelompok, atau masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang
diharapkan pelaku pendidikan. Dari batasan ini tersirat unsur-unsur pendidikan:
a. Input adalah sasaran pendidikan ( individu, kelompok, masyarakat), dan pendidik (pelaku
pendidkan)
b. proses (upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain)
c. output (melakukan apa yang diharapkan atau perilaku).

1.2 Pengertian Pendidikan Kesehatan

Pendidikan kesehatan adalah aplikasi atau penerapan pendidikan di dalam bidang
kesehatan. Hasil atau output yang diharapkan dari suatu pendidikan kesehatan disini adalah
perilaku kesehatan, atau perilaku untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yang kondusif.
Perubahan perilaku yang belum atau belum kondusif ke perilaku kondusif mengandung hal-hal
berikut ini:
1. perubahan perilaku
Perubahan perilaku-perilaku masyarakat yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kesehatan
menjadi perilaku yang sesuai dengan perilaku kesehatan, atau dari perilaku negatif
menjadi perilaku yang positif.
2. pembinaan perilaku. Pembinaan disini terutama ditujukan kepada perilaku masyarakat
yang sudah sehat agar dipertahankan.
3. Pengembangan perilaku. Pengembangan perilaku sehat ini terutama ditujukan untuk
membiasakan hidup sehat bagi anak-anak.
Dari uraian-uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa secara konsep, pendidikan kesehatan
adalah upaya yang mempengaruhi, dan atau mengajak orang lain, baik individu,kelompok
masyarakat, agar melaksanakan perilaku hidup sehat. Sedangkan secara operasional, pendidikan
kesehatan adalah semua kegiatan untuk memberikan dan atau meningkatkan pengetahuan,
sikap, dan praktek masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri.
1.3 Proses Belajar Dalam Pendidikan Kesehatan

Kegiatan belajar mengandung cirri-ciri:
1. Menghasilkan perubahan pada diri individu yang sedang belajar, baik actual maupun
potensial;
2. Perubahan tersebut pada pokoknya didapatkan karena kemampuan baru yang berlaku
untuk waktu yang relative lama
3. Perubahan-perubahan itu terjadi karena usaha, bukan karena proses kematangan.









Gambar 1. Proses Belajar dan Faktor-Faktor yang mempengaruhinya

1.4 Metode dan Alat Bantu Pendidikan Kesehatan

1. Metode pendidikan individual (perorangan)
a. Bimbingan dan penyuluhan (guidance and councelling)
b. Interview
2. Metode pendidikan kelompok
a. Kelompok besar: Ceramah, Seminar
b. Kelompok kecil: Diskusi kelompok, Curah pendapat (brain storming), Bola salju
(snow bolling), Kelompok-kelompok kecil (buzz group), Memainkan peran (role
play), Permainan simulasi (simulation game)
3. Metode pendidikan massa: Ceramah umum (public speaking), Sinetron, dll


Sedangkan alat Bantu/peraga/media pendidikan kesehatan yang dapat digunakan yaitu:
Proses Belajar
Alat-alat
bantu
Bahan
Belajar
Out Put
(Hasil Belajar)
Metoda
Fasilitasi
Belajar
Input
(Subjek Belajar)
1. Alat Bantu visual (visual aids). Alat yang diproyeksikan, misalnya slide, film, film strip
dan sebagainya. Alat-alat yang tidak diproyeksikan, bisa dua dimensi (gambar peta, bagan,
dan sebaginya) ataupun tiga dimensi (bola dunia, boneka, dan sebaginya).
2. Alat Bantu dengar (audio aids), misalnya pring hitam, radio, pita suara, dan sebagainya
3. Alat bantu lihat-dengar, seperti televisi, dan video cassete. Alat-alat bantu pendidikan ini
lebih dikenal dengan audio visual aids.

II. Komunikasi Kesehatan

2.1 Pengertian Komunikasi Kesehatan

Komuniaksi diperlukan untuk mengkondisikan faktor-faktor predisposisi. Komunikasi
kesehatan adalah usaha yang sistematis untuk mempengaruhi secara positif perilaku kesehatan
masyarakat, dengan menggunakan berbagai prinsip dan metode komunikasi, baik menggunakan
komunikasi interpersonal, maupun komunikasi massa. Tujuan utama komunikasi kesehatan
adalah perubahan perilaku kesehatan masyarakat.

2.2 Bentuk-Bentuk Komunikasi

Bentuk komunikasi yang sering digunakan dalam program-program kesehatan masyarakat
adalah komunikasi antar pribadi (interpersonal communication) dan komunikasi massa (mass
communication).
A.Komunikasi Antar Pribadi
Adalah komunikasi langsung, tatap muka antara satu orang dengan orang lain baik
perorangan maupun kelompok. Komunikasi ini tidak melibatkan kamera, artis, penyiar, atau
penulis skenario.
Komunikasi antar pribadi dapat efektif bila memenuhi tiga hal di bawah ini, yaitu:
empathy, yakni menempatkan diri pada kedudukan orang lain (orang yang diajak
berkomunkasi)
Respect terhadap perasaan dan sikap orang lain
Jujur dalam menanggapi pertanyaan orang lain yang diajak berkomunikasi.

Metode komunikasi antar pribadi yang paling baik adalah konseling (councelling), karena
di dalam cara ini antara komunikator atau konselor dengan komunikan atau klien terjadi
dialog. Klien dapat lebih terbuka menyampaikan masalah dan keinginan-keinginannya,
karena tidak ada pihak ketiga yang hadir.
B. Komunikasi Massa
Komunikasi massa adalah penggunaan media massa untuk menyampaikan pesan-pesan atau
informasi-informasi kepada khalayak atau masyarakat. Komunikasi di dalam kesehatan
masyarakat berarti meyampaikan pesan-pesan kesehatan kepada masyarakat melalui berbagai
media massa (TV, radio, media cetak, dsb.), dengan tujuan agar masyarakat berperilaku hidup
sehat.


III. Dasar-Dasar Tentang Perilaku

3.1 Pengertian Perilaku dan Perilaku Kesehatan

Skiner (1938), seorang ahli psikologi, merumuskan bahwa perilaku merupakan respons atau
reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Dengan demikian, perilaku manusia
terjadi melalui proses:
Stimulus--------> Organisme -------------> Respons,
sehingga teori Skinner ini disebut teori S-O-R (stimulus-organisme-respons). Selanjutnya teori
Skiner menjelaskan adanya dua jenis respons, yaitu:
a. Respondent respons atau refleksif, yaitu respons yang ditimbulkan oleh rangsangan-
rangsangan (stimulus) tertentu yang disebut eliciting stimuli, karena menimbulkan respons-
respons yang relatif tetap. Misalnya: makanan lezat akan menimbulkan nafsu untuk makan.
b. operant respons atau instrumental respons, yakni respons yang timbul dan berkembang
kemudian diikuti oleh stimuli atau rangsangan yang lain. Perangsang yang terakhir ini
disebut reinforcing stimuli atau reinforcer, karena berfungsi untuk memperkuat respons.
Misalnya, apabila seseorang petugas kesehatan melakukan tugasnya dengan baik adalah
sebagai respons terhadap gaji yang cukup, misalnya (stimulus). Kemudian karena kerja baik
tersebut, menjadi stimulus untuk memperoleh promosi pekerjaan. Jadi, kerja baik tersebut
sebagai reinforcer untuk memperoleh promosi pekerjaan.
Berdasarkan teori S-O-R tersebut, maka perilaku manusia dapat dikelompokkan
menjadi dua, yaitu :
a. Perilaku tertutup (Covert behavior)
Perilaku tertutup terjadi bila respons terhadap stimulus tersebut masih belum dapat
diamati orang lain (dari luar) secara jelas.
b. Perilaku terbuka (Overt behavior)
Perilaku terbuka ini terjadi bila respons terhadap stimulus tersebut sudah berupa
tindakan, atau praktik.



Dengan perkataan lain perilaku kesehatan adalah semua aktifitas atau kegiatan seseorang
baik yang dapat diamati (observable) maupun yang tidak dapat diamati (unobservable), yang
berkaitan dengan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. Pemeliharaan kesehatan ini
mencakup mencegah atau melindungi diri dari penyakit dan masalah kesehatan lain,
menigkatkan kesehatan dan mencari penyembuhan apabila sakit atau terkena masalah
kesehatan.

3.2 Macam Perilaku Kesehatan

Becker (1979) membuat klasifikasi lain tentang perilaku kesehatan dan membedakannya menjadi
tiga, yaitu :
1. Perilaku sehat (healthy behavior)
Perilaku sehat adalah perilaku-perilaku atau kegiata-kegiatan yang berkaitan dengan
upaya mempertahankan dan meningkatkan kesehatan, antara lain :
a. makan dengan menu seimbang (appropriate diet).
b. Kegiatan fisik secara teratur dan cukup.
c. Tidak merokok dan meminum minuman keras serta menggunakan narkoba.


2. Perilaku sakit (illness behavior)
Perilaku sakit adalah berkaitan dengan tindakan atau kegiatan seseorang yang sakit
dan/atau terkena masalah kesehatan pada dirinya atau keluarganya untuk mencari
penyembuhan, atau untuk mengatasi masalah kesehatan yang lainnya. Pada saat orang
sakit atau anaknya sakit, ada beberapa tindakan atau perilaku yang muncul, antara lain :
a. Didiamkan saja (no action), artinya sakit tersebut diabaikan dan tetap menjalankan
kegiatan sehari-hari
b. Mengambil tindakan dengan melakukan pengobatan sendiri (self treatment atau
self medication).
c. Mencari penyembuhan atau pengobatan keluar yakni ke fasilitas pelayanan
kesehatan.

3. Perilaku peran orang sakit (the sick role behavior)
Dari segi sosiologi, orang yang sedang sakit mempunyai peran (roles), yang mencakup
hak-haknya (rights) dan kewajiban sebagai orang sakit (obligation). Menurut Becker, hak
dan kewajiban orang yang sedang sakit adalah merupakan perilaku peran orang sakit (the
sick role behavior). Perilaku peran orang sakit ini antara lain :
i. tindakan untuk memperoleh kesembuhan
ii. tindakan untuk mengenal atau mengetahui fasilitas kesehatan yang tepat untuk
memperoleh kesembuhan
iii. melakukan kewajibannya sebagai pasien antara lain mematuhi nasihat-nasihat dokter
atau perawat untuk mempercepat kesembuhannya.
iv. Tidak melakukan sesuatu yang merugikan bagi proses penyembuhannya.
v. Melakukan kewajiban agar tidak kambuh penyakitnya, dan sebagainya.

3.3 Domain / Ranah (Aspek) Perilaku

Perilaku seseorang adalah sangat kompleks dan mempunyai bentangan yang sangat luas.
Benyamin Bloom (1908) seorang ahli psikologi pendidikan, membedakan adanya 3 area,
wilayah, ranah atau domain perilaku ini, yakni kognitif (cognitive), afektif (affective), dan
psikomotor (psychomotor).
Dalam perkembangan selanjutnya, berdasarkan pembagian domain oleh Bloom ini, dan
untuk kepentingan pendidikan praktis, dikembangkan menjadi 3 tingkat ranah perilaku sebagai
berikut:

1. Pengetahuan (knowledge)
Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek
melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan sebagainya). Pengetahuan seseorang
terhadap objek mempunyai intensitas atau tingkat yang berbeda-beda. Secara garis besarnya
dibagi dalam 6 tingkat pengetahuan, yaitu: Tahu (know), Memahami (comprehension), Aplikasi
(application), Analisis (analysis), Sintesis (synthesis), Evaluasi (evaluation)

2. Sikap (Attitude)
Sikap adalah juga respons tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu, yang
sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan (senang-tidak senang, setuju-
tidak setuju, baik-tidak baik, dan sebagainya).
Newcomb, salah seorang ahli psikologisosial menyatakan, bahwa sikap merupakan kesiapan atau
kesediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu.
Seperti halnya pengetahuan, sikap juga mempunyai tingkat tingkat berdasarkan
intensitasnya, sebagai berikut : Menerima (receiving), Menanggapi (responding), Menghargai
(valuing), Bertanggung jawab (responsible).
Sikap yang paling tinggi tingkatannya adalah bertanggung jawab terhadap apa yang telah
diyakininya.

3. Tindakan atau Praktik (practice)
Seperti telah disebutkan diatas bahwa sikap adalah kecenderungan untuk bertindak (praktik).
Sikap belum tentu terwujud dalam tindakan, sebab untuk terwujudnya suatu tindakan perlu
faktor lain, yaitu antara lain adanya fasilitas atau sarana dan prasarana. Seorang ibu hamil sudah
tahu bahwa periksa hamil itu penting untuk kesehatannya dan janinnya, dan sudah ada niat
(sikap) untuk periksa hamil. Agar sikap ini meningkat menjadi tindakan, maka diperlukan bidan,
Posyandu atau Puskesmas yang dekat dari rumahnya atau fasilitas tersebut mudah dicapainya.
Apabila tidak, kemungkinan ibu tersebut tidakakan memeriksakan kehamilannya.
Praktik atau tindakan ini dapat dibedakan menjadi 3 tingkatan menurut kualitasnya, yaitu:
a. Praktik terpimpin (guided response)
Apabila subjekatau seseorang telah melakukan sesuatu tetapi masih tergantung pada tuntunan
atau menggunakan panduan.
b. Praktik secara mekanisme (mechanism)
Apabila subjek atau seseorang telah melakukan atau mempraktikan sesuatu hal secara
otomatis maka disebut praktik atau tindakan mekanis. Misalnya seorang ibu selalu membawa
anaknya ke Posyandu untuk ditimbang tanpa harus menunggu perintah dari kader atau
petugas kesehatan.
c. Adopsi (adoption)
Adopsi adalah suatu tindakan atau praktik yang sudah berkembang. Artinya, pa yang telah
dilakukan tidak sekadar rutinitas atau mekanisme saja, tetapi sudah dilakukan modifikasi
atau tindakan atau perilaku yang berkualitas.

IV. Determinan Perubahan Perilaku

4.1 Macam Teori Determinan Perilaku

Banyak teori tentang determinan perilaku ini, masing-masing mendasarkan pada asumsi-
asumsi yang dibangun. Dalam bidang perilaku kesehatan, ada 3 teori yang sering menjadi acuan
dalam penelitian-penelitian kesehatan masyarakat. Ketiga teori tersebut adalah:
a. Teori Lawrence Green
Berangkat dan analisis penyebab masalah kesehatan, Green membedakan adanya dua
determinan masalah kesehatan tersebut, yakni behavioral factors (faktor perilaku), dan non
behavioral factors atau faktor non-perilaku. Selanjutnya Green menganalisis, bahwa faktor
perilaku sendiri ditentukan oleh 3 faktor utama, yaitu:
1) Faktor-faktor predisposisi (disposing faktors), yaitu faktor-faktor yang mempermudah
atau mempredisposisi terjadinya perilaku seseorang, antara lain pengetahuan, sikap,
keyakinan, kepercayaan, nilai-niali, tradisi, dan sebagainya. Seorang ibu mau membawa
anaknya ke Posyandu, karena tahu bahwa di Posyandu akan dilakukan penimbangan anak
untuk mengetahui pertumbuhannya. Anaknya akan memperoleh imunisasi untuk
pencegahan penyakit, dan sebagainya. Tanpa adanya pengetahuan-pengetahuan ini, ibu
tersebut mungkin tidak akan membawa anaknya ke Posyandu.
2) Faktor-faktor pemungkin (enabling factors), adalah faktor-faktor yang memungkinkan
atau yang memfasilitasi perilaku atau tindakan. Yang dimaksud dengan faktor pemungkin
adalah sarana dan prasarana atau fasilitas untuk terjadinya perilaku kesehatan, misalnya
Puskesmas, Posyandu, rumah sakit, tempat pembuangan air, tempat pembuangan sampah,
tempat olah raga, makanan bergizi, uang, dan sebagainya.
Faktor-faktor penguat (reinforcing factors), adalah faktor-faktor yang mendorong atau
memperkuat terjadinya perilaku. Kadang-kadang, meskipun seseorang tahu dan mampu
untuk berperilaku sehat, tetapi tidak melakukannya. Seorang ibu hamil tahu manfaat
periksa hamil, dan di dekat rumahnya ada Polindes, dekat dengan bidan, tetapi ia tidak
mau melakukan periksa hamil, karena ibu lurah dan ibu-ibu tokoh lain tidak pernah
periksa hamil, namun anaknya tetap sehat. Hal ini berarti, bahwa untuk berperilaku sehat
memerlukan contoh dari para tokoh masyarakat.

b. Teori Snehandu B. Karr
Karr seorang staf pengajar Departemen Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku, Universitas
Kalifornia di Los Angeles, mengidentifikasi adanya 5 determinan perilaku, yaitu:
1) Adanya niat (intention).
2) Adanya dukungan dan masyarakat sekitarnya (social support).
3) Terjangkaunya informasi (accessibility of information).
4) Adanya otonomi atau kebebasan pribadi (personnal autonomy) untuk mengambil
keputusan. Di Indonesia, terutama ibu-ibu, kebebasan pribadinya masih terbatas,
terutama lagi di pedesaan. Seorang istri, dalam pengambilan keputusan masih sangat
tergantung kepada suami. Adanya kondisi dan situasi yang memungkinkan (action
situation).

c. Teori WHO
Tim kerja pendidikan kesehatan dan WHO merumuskan determinan perilaku ini sangat
sederhana. Mereka mengatakan, bahwa mengapa seseorang berperilaku, karena adanya 4
alasan pokok (determinan), yaitu:
1) Pemikiran dan perasaan (thoughts and feeling).
2) Adanya acuan atau referensi dari seseorang atau pribadi yang dipercayai (personnal
references).
3) Sumber daya (resources) yang tersedia merupakan pendukung untuk terjadinya perilaku
seseorang atau masyarakat.
4) Sosio budaya (culture) setempat biasanya sangat berpengaruh terhadap terbentuknya
perilaku seseorang.

4.2 Aspek Sosial budaya yang mempengaruhi perilaku kesehatan

1. Aspek Sosial yang Mempengaruhi Status Kesehatan dan Perilaku Kesehatan
Ada beberapa aspek sosial yang mempengaruhi status kesehatan, antara lain adalah: 1) umur,
2) jenis kelamin, 3) pekerjaan, 4) sosial ekonomi.
Menurut H. Ray Elling, (1970), ada beberapa faktor sosial yang berpengaruh pada perilaku
kesehatan, antara lain: 1) self concept, dan 2) image kelompok. Di samping itu, G.M Foster
(1973) menambahkan, bahwa identifikasi individu kepada kelompoknya juga berpengaruh
terhadap perilaku kesehatan.
a. Pengaruh Self Concept terhadap Perilaku Kesehatan
Self concept kita ditentukan oleh tingkatan kepuasaan atau ketidakpuasan yang kita rasakan
terhadap diri kita sendiri, terutama bagaimana kita ingin memperlihatkan diri kita kepada
orang lain. Apabila orang lain melihat kita positif dan menerima apa yang kita lakukan, kita
akan meneruskan perilaku kita. Tetapi apabila orang lain berpandangan negatif terhadap
perilaku kita dalam jangka waktu yang lama, kita akan merasa suatu keharusan untuk
melakukan perubahan perilaku. Oleh karena itu, secara tidak langsung self concept kita
cenderung menentukan, apakah kita akan menerima keadaan diri kita seperti adanya atau
berusaha untuk mengubahnya.
b. Pengaruh Image Kelompok terhadap Perilaku Kesehatan
Image seorang individu sangat dipengaruhi oleh image kelomok. Sebagai contoh, anak
seorang dokter akan terpapar oleh organisasi kedokteran dan orang-orang dengan pendidikan
tinggi, sedangkan anak buruh atau petani tidak terpapar dengan Lingkungan medis dan besar
kemungkinan juga tidak bercita-cita untuk menjadi dokter. Dengan demikian, kedua anak
tersebut mempunyai perbedaan konsep tentang peranan dokter. Ttau dengan kata lain,
perilaku dari masing-masing individu cenderung merefleksikan kelompoknya.
c. Pengaruh Identifikasi Individu kepada Kelompok Sosialnya terhadap Perilaku Kesehatan.

2. Aspek Budaya yang Mempengaruhi Status Kesehatan dan Perilaku Kesehatan
Menurut G.M. Foster (1973), aspek budaya dapat mempengaruhi kesehatan seseorang antara
lain adalah : 1) tradisi, 2) sikap fatalism, 3) nilai, 4) ethnocentrism, 5) unsur budaya.


V. Pengantar Promosi Kesehatan

5.1 Pengertian Promosi Kesehatan

Promosi kesehatan diartikan sebagai upaya memasarkan, menyebarluaskan, mengenalkan
atau menjual kesehatan. Dengan perkataan lain, promosi kesehatan adalah memasarkan atau
menjual atau memperkenalkan pesan-pesan kesehatan atau upaya-upaya kesehatan, sehingga
masyarakat menerima, atau membeli (dalam arti menerima perilaku kesehatan) atau mengenal
pesan-pesan kesehatan tersebut, yang akhirnya masyarakat mau berperilaku hidup sehat.
Lawrence Green (1984) merumuskan definisi promosi kesehatan sebagai: segala bentuk
kombinasi pendidikan kesehatan dan intervensi yang terkait dengan ekonomi, politik, dan
organisasi, yang dirancang untuk memudahkan perilaku dan lingkungan yang kondusif bagi
kesehatan. Dari batasan ini jelas, bahwa promosi kesehatan adalah pendidikan kesehatan plus,
atau promosi kesehatan adalah lebih dari pendidikan kesehatan. Promosi kesehatan bertujuan
untuk menciptakan suatu keadaan, yakni perilaku dan lingkungan yang kondusif bagi kesehatan.
Berdasarkan Piagam Ottawa (Ottawa Charter:1986). Sebagai hasil rumusan Konferensi
Internasional Promosi Kesehatan di Ottawa, Canada, menyatakan bahwa: Health promotion is
the process of enabling people to increase control over, and improve their health. to reach a state
of complete physical, mental, and social well being. an individual or group must be able to
indentify and realize aspiration, to satisfy needs, and to change or cope with the environment.
Batasan promosi kesehatan yang lain dirumuskan oleh Yayasan Kesehatan yang lain
dirumuskan oleh Yayasan Kesehatan Victoria (Victorian Health Foundation-australia, 1997),
sebagai berikut: Health promotion is programs are design to bring about change within people,
organization, communities, and their environment.

5.2 Sejarah Timbulnya Promosi Kesehatan
Bergesernya pendidikan kesehatan menjadi promosi kesehatan, tidak terlepas dari sejarah
praktik pendidikan kesehatan didalam kesehatan masyarakat di Indonesia, maupun secara praktik
kesehatan masyarakat secara global. Praktik pendidikan kesehatan pada waktu yang lampau,
sekurang-kurangnya pada tahun 90-an, terlalu menekankan perubahan perilaku masyarakat. Pada
praktisi pendidikan kesehatan telah bekerja keras untuk memberikan informasi kesehatan melalui
berbagai media dan teknologi pendidikan kepada masyarakat dengan harapan masyarakat mau
melakukan hidup sehat seperti yang diharapkan. Tetapi pada kenyataannya, perubahan perilaku
hidup sehat tersebut sangat lambat, sehingga dampaknya terhadap perbaikan kesehatan sangat
kecil.
Dari hasil-hasil studi yang dilakukan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan para ahli
pendidikan kesehatan terungkap memang benar bahwa pengetahuan masyarakat tentang kesehatn
sudah tinggi, tetapi praktik mereka masih rendah. Hal ini ber4artiu bahwa perubahan atau
peningkatan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan tidak diimbangii dengan peningkatan
atau perubahan perilakunya. Dari penelitian-penelitian yang telah ada, terungkap 80%
masyarakat tahu cara mencegah penyakit demam berdarah dengan melakukan 3 M (menguras,.
Menutup, dan mengubur) barang barang yang dapat menampung air, tetapi hanya 35% dari
masyarakat tersebut yang benar-benar melalkukan atau mempraktikan 3 M.

5.3 Strategi Promosi Kesehatan

Berdasarkan rumusan WHO (1994), strategi promosi kesehatan secara global ini terdiri dari 3
hal, yaitu:
a. Advokasi (Advocacy)
Advokasi adalah kegiatan untuk meyakinkan orang lain, agar orang lain tersebut membantu
atau mendukung terhadap apa yang diinginkan. Dalam konteks promosi kesehatan, advokasi
adalah pendekatan kepada para pembuat keputusan atau penentu kebijakan di berbagai sektor,
dan di berbagai tingkat, sehingga para pejabat tersebut mau mendukung program kesehatan yang
kita inginkan. Dukungan dari para pejabat pembuat keputusan tersebut dapat berupa kebijakan-
kebijakan yang dikeluarkan dalam bentuk undang-undang, peraturan pemerintah, surat
keputusan, surat instruksi, dan sebagainya.

b. Dukungan Sosial (Social support)
Strategi dukungan sosial ini adalah suatu kegiatan untuk mencari dukungan sosial melalui
tokoh-tokoh masyarakat (toma), baik tokoh masyarakat formal maupun informal.

c. Pemberdayaan Masyarakat (Empowerment)
Pemberdayaan adalah strategi promosi kesehatan yang ditujukan kepada masyarakat
langsung. Tujuan utama pemberdayaan adalah mewujudkan kemampuan masyarakat dalam
memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri (visi promosi kesehatan). Bentuk
kegiatan pemberdayaan ini dapat diwujudkan dengan berbagai kegiatan, antara lain: penyuluhan
kesehatan, pengorganisasian dan pengembangan masyarakat dalam bentuk misalnya: koperasi,
pelatihan-pelatihan untuk kemampuan peningkatan pendapatan keluarga (income generating
skill). Dengan meningkatnya kemampuan ekonomi keluarga akan berdampak terhadap
kemampuan dalam pemeliharaan kesehatan mereka, misalnya: terbentuknya dana sehat,
terbentuknya pos obat desa, berdirinya polindes, dan sebagainya. Kegiatan-kegiatan semacam ini
di masyarakat sering disebut gerakan masyarakat untuk kesehatan. Dari uraian tersebut dapat
disimpulkan bahwa sasaran pemberdayaan masyarakat adalah masyarakat (sasaran primer).

5.4 Ruang lingkup promosi kesehatan berdasarkan tatanan (tempat pelaksanaan)

a) Promosi kesehatan pada tatanan keluarga (rumah tangga)
Dalam pelaksanaan promosi kesehatan keluarga ini, sasaran utamanya adalah orang tua,
terutama ibu. Karena ibulah di dalam keluarga itu yang sangat berperan dalam
meletakkan dasar perilaku sehat pada anak-anak mereka sejak lahir.
b) Promosi kesehatan pada tatanan sekolah
Sekolah merupakan perpanjangan tangan keluarga, artinya, sekolah merupakan tempat
lanjutan untuk meletakkan dasar perilaku bagi anak, termasuk perilaku kesehatan.
c) Promosi kesehatan pada tempat kerja
Promosi kesehatan di tempat kerja ini dapat dilakukan terhadap pimpinan perusahaan
atau tempat kerja agar memfasilitasi tempat kerja yang kondusif bagi perilaku sehat bagi
karyawan atau pekerjanya.
d) Promosi kesehatan di tempat-tempat umum (TTU)
Menyediakan fasilitas-fasilitas yang dapat mendukung perilaku sehat bagi
pengunjungnya, misalnya tersedianya tempat sampah, tempat cuci tangan, tempat
pembuangan air kotor, ruang tunggu bagi perokok dan non-perokok, kantin dan
sebagainya. Pemasangan poster, penyediaan leaflet atau selebaran yang berisi cara-cara
menjaga kesehatan atau kebersihan adalah juga merupakan bentuk promosi kesehatan.
e) Pendidikan kesehatan di institusi pelayanan kesehatan
Pelaksanaan promosi kesehatan di institusi pelayanan kesehatan ini dapat dilakukan baik
secara individual oleh para petugas kesehatan kepada para pasien atau keluarga pasien,
atau dapat dilakukan terhadap kelompok-kelompok
VI. Program Promosi Kesehatan

Green (1980) telah mengembangkan suatu model pendekatan yang dapat digunakan untuk
membuat perencanaan dan evaluasi kesehatan yang dikenal sebagai kerangka PRECEDE.
PRECEDE (Predisposing Reinforcing and Enabling Causes in Educational Diagnosis and
Evaluation). PRECEDE memberikan serial langkah yang menolong perencana untuk mengenal
masalah mulai dan kebutuhan pendidikan sampai pengembangan program untuk memenuhi
kebutuhan tersebut. Namun demikian pada tahun 1991 Green menyempurnakan kerangka
tersebut menjadi PRECEDE-PROCEED. PROCEED (Policy, Regulatory, Organizational
Construct in Educational and Environmental Development). PRE CEDE-PRO CEED harus
dilakukan secara bersama-Sama dalam proses perencanaan, implementasi dan evaluasi.
PRECEDE digunakan pada fase diagnosis masalah, penetapan prioritas masalah dan tujuan
program, sedangkan PROCEED digunakan untuk menetapkan sasaran dan kriteria kebijakan,
serta implementasi dan evaluasi. Berikut gambaran dan kerangka PRECEDE-PROCEED.
Phase 5
Administrative &
policy Diagnosis
Phase 4
Educational and
Organizational
Diagnosis
Phase 3
Behavioral and
Environmental
Diagnosis
Phase 2
Epidemio
logical
Diagnosis
Phase 1
Social
Diagnosis

Phase 6
Implementation
Phase 7
Process evaluation
(Monitoring)
Phase 8
Impact evaluation
Phase 9
Outcome
Evaluation
6.1 Perencanaan Promosi Kesehatan

Perencanaan promosi kesehatan adalah suatu proses diagnosis penyebab masalah, penetapan
prioritas masalah dan alokasi sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan. Oleh sebab itu,
dalam membuat perencanaan promosi kesehatan, perencana harus terdiri dari masyarakat,
profesional kesehatan dan promotor kesehatan. Kelompok ini harus bekerja bersama-sama dalam
proses perencanaan promosi kesehatan, sehingga dihasilkan program yang sesuai, efektif dalam
biaya (cost effective) dan berkesinambungan. Di samping itu, dengan melibatkan orang orang
yang terkait maka akan menciptakan rasa memiliki, sehingga timbul rasa tanggung jawab dan
komitmen.

Langkah-Langkah Dalam Perencana Promosi Kesehatan

I. Menentukan kebutuhan promosi kesehatan:
1. Diagnosis masalah
2. Menetapkan prioritas masalah
II. Mengembangkan komponen promosi kesehatan:
1. Menentukan tujuan promosi kesehatan
2. Menentukan sasaran promosi kesehatan
3. Menentukan isi promosi kesehatan
4. Menentukan metode yang akan digunakan
5. Menentukan media yang akan digunakan
6. Menyusun rencana evaluasi
7. Menyusun jadwal pelaksanaan

Diagnosis Masalah
Fase 1: Diagnosis Sosial (Social Need Assessment)
Diagnosis sosial adalah proses penentuan persepsi masyarakat terhadap kebutuhannya atau
terhadap kualitas hidupnya dan aspirasi masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidupnya
melalui partisipasi dan penerapan berbagai informasi yang didesain sebelumnya. Pengumpulan
datanya dapat dilakukan dengan cara: wawancara dengan informan kunci, forum yang ada di
masyarakat, Focus Group Discussion (FGD), nominal group process, dan survei.
Fase 2: Diagnosis Epidemiologi
Pada fase ini dicari faktor kesehatan yang mempengaruhi kualitas hidup seseorang ataupun
masyarakat sebagaimana yang terdiagnosis pada fase 1. Informasi ini sangat diperlukan untuk
menetapkan prioritas masalah, yang biasanya didasarkan atas pertimbangan besarnya masalah
dan akibat yang ditimbulkannya serta kemungkinan untuk diubah.
Dalam menentukan prioritas masalah kita harus mempertimbangkan beberapa faktor seperti:
a. Beratnya masalah dan akibat yang ditimbulkannya
b. Pertimbangan politis
c. Sumber daya yang ada di masyarakat
Prioritas masalah kesehatan harus tergambar pada tujuan program dengan ciri who will
benefit how much of what outcome by when.
Fase 3: Diagnosis Perilaku dan Lingkungan
Pada fase ini selain diidentifikasi masalah perilaku yang mempengaruhi masalah kesehatan
juga sekaligus diidentifikasi masalah lingkungan (fisik dan sosial) yang mempengaruhi perilaku
dan status kesehatan ataupun kualitas hidup seseorang atau masyarakat.
Untuk mengidentifikasi masalah perilaku yang mempengaruhi status kesehatan seseorang,
digunakan indikator perilaku seperti: pemanfaatan pelayanan kesehatan (utilization), upaya
pencegahan (Preventive action), pola konsumsi makanan (con sumption pattern), kepatuhan
(compliance), upaya pemeliharaan kesehatan sendiri (self care). Dimensi perilaku yang
digunakan adalah: earliness, quality, persistence, frequency dan range. Indikator lingkungan
yang digunakan meliputi: keadaan sosial, ekonomi, fisik dan pelayanan kesehatan, dengan
dimensinya yang terdiri dari keterjangkauan, kemampuan dan pemerataan.
Fase 4: Diagnosis Pendidikan dan Organisasi
Tetapkan tujuan pembelajaran yang akan dicapai berdasarkan factor predisposisi yang telah
diidentifikasi. Selain itu, berdasarkan faktor pemungkin dan penguat yang telah diidentifikasi
ditetapkan tujuan organisasi yang akan dicapai melalui upaya pengembangan organisasi dan
sumber daya yang telah tersedia dan yang akan didapatkan.

Fase 5. Diagnosis Administratif dan Kebijakan
Pada fase ini dilakukan analisis kebijakan, sumber daya dan peraturan yang berlaku yang
dapat memfasilitasi atau menghambat pengembangan program promosi kesehatan.
Pada diagnosis administratif dilakukan 3 penilaian, yaitu: sumber daya yang dibutuhkan
untuk melaksanakan program, sumber daya yang ada di organisasi dan masyarakat, serta
hambatan pelaksanaan program. Sedangkan pada diagnosis kebijakan dilakukan identifikasi
dukungan dan hambatan politis, peraturan dan organisasional yang memfasilitasi program dan
pengembangan lingkungan yang dapat mendukung kegiatan masyarakat yang kondusif bagi
kesehatan.
6.2 Pelaksanaan Promosi Kesehatan

Pelaksanaan adalah penerapan dari hal-hal yang telah direncanakan. Kesalahan sewaktu
membuat perencanaan akan terlihat selama proses pelaksanaan, demikian pula halnya dengan
kekuatan dan kelemahan yang muncul selama waktu pelasanaan merupakan refleksi dari baik
tidaknya suatu proses perencanaan.

6.3 Pemantauan dan Evaluasi Promosi Kesehatan

Pemantauan adalah suatu upaya agar proses pelaksanaan dari hal-hal yang telah
direncanakan berjalan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan. Bila pada saat pemantauan
ada hal-hal yang tidak sesuai dengan prosedur / perencanaan maka hal tersebut bisa segera
diperbaiki.
Evaluasi adalah suatu masa di mana dilakukan pengukuran hasil (outcome) dari promosi
kesehatan yang telah dilakukan. Pada fase ini juga dilihat apakah perencanaan dan pelaksanaan
yang telah dilakukan dapat dilanjutkan. Selain itu, evaluasi diperlukan untuk pemantauan
efficacy dari promosi kesehatan dan sebagai alat bantu untuk membuat perencanaan selanjutnya.
Pada prinsipnya, evaluasi promosi kesehatan sama dengan evaluasi kesehatan lainnya,
Karakteristiknya ialah indikator yang digunakan bukan hanya indikator epidemiologik sebagai
indikator dampak seperti pada upaya kesehatan lainnya, namun juga menggunakan indikator
perilaku untuk pengukuran efek