Anda di halaman 1dari 33

PENGARUH LINGKUNGAN BELAJAR, FASILITAS BELAJAR

DAN KEAKTIFAN ORGANISASI EKSTRA KURIKULER


PRAMUKA TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS X
SMA NEGERI 1 ANDONG
TAHUN AJARAN 2011/2012

A. Latar Belakang masalah


Perkembangan suatu bangsa erat hubungannya hubungannya dengan
masalah pendidikan. Pendidikan adalah sebuah proses dengan metode-metode
tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, dan cara bertingkah laku
sesuai dengan kebutuhan. Pendidikan bukan hanya media untuk mewariskan
kebudayaan kepada generasi selanjutnya, tetapi diharapkan juga mampu
merubah dan mengembangkan pola kehidupan bangsa yang lebih baik. Dari
sinilah diharapkan lahirnya generasi penerus perjuangan yang didalam
jiwanya terdapat perpaduan nilai-nilai intelektual, nilai etika sosial, nilai
religious, dan nilai kepribadian bangsa. Oleh karena itu, bidang pendidikan
masih harus mendapat prioritas, perhatian, dan pengarahan yang serius, baik
pemerintah, masyarakat pada umumnya dan pengelolaan pada khususnya.
Perkembangan dan kemajuan peradaban suatu bangsa baik pada bidang
penguasaan IPTEK maupun dalam hal lainnya yang erat hubungannya dengan
pendidikan perlu adanya suatu perubahan dalam proses belajar mengajar.
Keberhasilan pendidikan dapat dilihat dari peningkatan kualitas Sumber Daya
Manusia (SDM). Sumber daya manusia yang berkualitas akan mampu
mengembangkan potensi yang dimiliki untuk kemajuan bangsa dan negara.
Salah satu upaya membina dan membangun SDM yang tangguh dan dapat
diandalkan diantaranya adalah melalui pendidikan, baik yang diberikan
melalui pendidikan formal di sekolah, maupun pendidikan di lingkungan
masyarakat. Menurut Sardiman (2001 : 12) pendidikan dan pengajaran
adalah satu usaha yang bersifat sadar tujuan yang dengan sistematis terarah
pada perubahan tingkah laku menuju kedewasaan anak didik. Oleh karena
itu, sekolah sebagai lembaga pendidikan formal memiliki tanggung jawab

yang besar dalam menyiapkan kebutuhan SDM yang handal dan siap
berbagai tantangan di masa depan.
Peningkatan kualitas SDM merupakan salah satu penekanan dari tujuan
pendidikan, seperti yang tertera dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003
tentang tujuan Pendidikan Nasional Bab II Pasal 3 yang berbunyi:
Pendidikan Nasional bertujuan mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam
rangka mencerdaskan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa
kepada Tuhan YME, berkhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab.
Tujuan pendidikan nasional adalah mewujudkan masyarakat Indonesia
yang memiliki keahlian, mampu bersaing, dan berwawasan maju dalam
wadah negara Republik Indonesia. Disamping itu pemerintah juga berupaya
untuk meningkatkan mutu pendidikan agar kelak memperoleh sumber daya
manusia yang mampu menguasai keahlian dan ketrampilan bekerja secara
professional serta dapat menghasilkan karya yang bermutu. Tujuan ini dapat
terlaksana jika didukung oleh manusia Indonesia yang sehat, mandiri,
beriman, bertaqwa, cinta tanah air, sadar hukum dan lingkungan, menguasai
ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki produktifitas kerja yang tinggi
serta memiliki disiplin yang tinggi.
Salah satu faktor yang dapat meningkatkan pendidikan nasiaonal adalah
prestasi belajar peserta didik. Peserta didik yang memiliki prestasi belajar
yang tinggi akan mempunyai wawasan pengetahuan yang luas dan
menciptakan SDM yang bermutu dan profesianal. Dalam penelitian ini
penulis mengambil permasalahan yaitu prestasi belajar. Karena prestasi
belajar adalah factor yang paling dominan dalam meningkatkan pendidikan di
Indonesia. Banyak factor yang mempengaruhi prestasi belajar, baek dari
intern atau ekstern.
Menurut Winkel dalam Endah (2007:11) Prestasi belajar adalah hasil suatu
penilaian di bidang pengetahuan, keterampilan, sikap sebagai hasil belajar yang
dinyatakan dalam bentuk nilai. Prestasi dapat dikatakan memuaskan bila memenuhi

tiga aspek yakni : kognitif, afektif, dan psikomotorik, sebaliknya dikatakan

prestasi belajar kurang memuaskan jika seseorang belum mampu memenuhi


target dalam ketiga criteria tersebut.
Prestasi belajar siswa dapat diketahui setelah diadakan evaluasi, yang
dinyatakan dalam bentuk nilai atau raport. Dari situ dapat dilihat tinggi
rendahnya prestasi belajar siswa pada setiap bidang studi. Prestasi belajar
siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor baik dari dalam diri peserta didik (
faktor intern ) yang berupa kecerdasan/intelegensi, perhatian, minat, bakat,
motivasi, maupun faktor dari luar peserta didik ( faktor ekstern ) yang berupa
lingkungan belajar, fasilitas belajar, perhatian orang tua, dan media
pembelajaran dan kegiatan-kegiatan yang ada di sekolah.
Dalam lingkungan belajar terdapat 3 lingkungan yakni lingkungan
keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. Lingkungan
keluarga menurut Hibana Rahman (2002 : 38), yaitu lingkungan yang dialami
anak dalam berinteraksi dengan anggota keluarga, baik interaksi secara
langsung maupun tidak langsung. Suasana keluarga akan berpengaruh bagi
perkembangan kepribadian anak. Siswa yang belajar akan menerima
pengaruh dari keluraga berupa cara orang tua mendidik, relasi antar anggota
keluarga, suasana rumah, dan keadaan ekonomi keluarga.
Lingkungan belajar yang juga berpengaruh terhadap keberhasilan anak
dalam belajar anak adalah lingkungan sekolah. Lingkungan sekolah
merupakan lingkungan pendidikan formal yang mempunyai peran penting
dalam mencerdaskan dan membimbing moral perilaku anak. Guru merupakan
tangan pertama yang langsung berhubungan dengan siswa, sehingga dalam
belajar guru harus menggunakan metode pembelajaran yang berbeda agar
anak tidak jenuh. Selain itu keberhasilan belajar dipengaruhi oleh beberapa
faktor pendukung yaitu sarana dan prasarana, kondisi fisiologis, dan kondisi
psikologis.
Lingkungan sekolah dapat digolongkan sebagai pusat pendidikan kedua
setelah keluarga, sehingga mempunyai fungsi melanjutkan pendidikan
keluarga dengan guru sebagai ganti orang tua yang harus ditaati. Lingkungan

sekolah meliputi hubungan guru dengan siswa, hubungan siswa dengan


siswa, serta sarana dan prasarana pendidikan yang ada di sekolah. Demi
melangsungkan kondisi belajar yang lancar, maka perlu didukung pula
dengan kondisi sekolah yang aman, nyaman dan tenang.
Lingkungan masyarakat merupakan tempat ketiga setelah lingkungan
keluarga dan lingkungan sekolah, sehingga bagi seorang anak yang ingin
mendapatkan pendidikan, baik pendidikan cara menyelesaikan masalah,
tingkah laku maupun moral sehingga akan menjadikan anak tersebut cerdas,
terampil dan berbudi pekerti luhur. Lingkungan masyarakat menurut
Purwanto (2000 : 61) adalah manusia-manusia lain di sekitar individu, yang
mempengaruhi individu yang bersangkutan. Masyarakat merupakan lembaga
pendidikan yang ketiga setelah keluarga dan sekolah yang mempunyai sifat
dan fungsi yang berbeda karena keanekaragaman budaya, bentuk kehidupan
sosial serta adanya norma-norma yang berlaku dalam masyarakat tersebut.
Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa proses pembelajaran
dapat dilakukan di dalam keluarga, masyarakat dan sekolah. Inilah yang
dinamakan dengan lingkungan belajar. Lingkungan belajar merupakan faktor
yang penting karena lingkungan dapat menimbulkan perubahan-perubahan
pada individu. Lingkungan dapat bersifat mendidik dan dapat juga bersifat
merusak. Oleh karena itu, usaha untuk belajar membutuhkan lingkungan yang
baik sehingga siswa berhasil dalam belajarnya.
Faktor lain yang mempengaruhi prestasi belajar adalah fasilitas belajar.
Dalam undang-undang system pendidikan nasional No. 20 Tahun 2003
disebutkan fasilitas pendidikan diatur dalam pasal 45 ayat 1 yang berbunyti :
setiap satuan pendidikan formal dan non formal menyediakan fasilitas yang
memenuhi

keperluan

pendidikan

sesuai

dengan

pertumbuhan

dan

perkembangan potensi fisik, kecerdasan intelektual, social, emosional, dan


kewajiban peserta didik.
Fasilitas belajar berperan untuk mempermudah dan memperlancar
kegiatan belajar siswa. Fasilitas belajar dapat berupa tempat belajar, perabot
belajar, peralatan belajar, media belajar dan fasilitas lainnya. Fasilitas belajar

mempermudah siswa dalam memecahkan masalah yang timbul sewaktu


mempelajari dan memahai materi atau tugas yang diberikan guru. Fasilitas
yang baik diharapkan mendukung siswa memperoleh hasil belajar yang
meningkat.
Selain itu, prestasi belajar juga dapat dipengaruhi oleh keaktifan kegiatan
organisasi ekstrakurikuler yang ada disekolahan. Ekstrakurikuler merupakan
yang dilakukan yang dilakukan diluar jam pelajaran baik dilaksanakan
disekolah maupun diluar sekolah dengan maksud lebih memperkaya dan
memperluas wawasan pengetahuan dan kemampuan yang telah dimiliki dari
berbagai bidang studi.

Ada beberapa kegiatan ekstrakurikuler yang

dilaksanakan disekolah yaitu palang merah remaja, PKS, UKS koperasi


sekolah, pecinta alam, pramuka dan sebagianya. Dengan aktif ikut dalam
kegiatan ekstrakurikuler diharapkan siswa lebih mandiri, tanggung jawab dan
aktif bertindak dalam hal pelajaran sehingga dapat meningkatkan prestasi
belajar siswa terutama ekstrakurikuler pramuka. Karena pramuka merupakan
salah satu kegiatan ekstrakurikuler yang wajib diikuti semua siswa.
Hal ini lah yang menimbulkan sebuah permasalahan sehingga penulis
tertarik untuk mengetahui apakah lingkungan belajar, fasilitas belajar dan
keaktivan organisasi ekstrakurikuler (pramuka) berpengaruh terhadap prestasi
belajar siswa.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk
mengadakan penelitian dengan judul PENGARUH LINGKUNGAN
BELAJAR, FASILITAS BELAJAR DAN KEAKTIFAN ORGANISASI
EKSTRA

KURIKULER

PRAMUKA

BELAJAR SISWA KELAS X

TERHADAP

PRESTASI

SMA NEGERI 1 ANDONG TAHUN

AJARAN 2011/2012.

B. Pembatasan Masalah
Agar penelitian ini lebih terarah dan dapat dikaji lebih mendalam maka
diperlukan

pembatasan

masalah.

masalahnya sebagai berikut :

Dalam

penelitian

ini

pembatasan

1. Penelitian terbatas pada siswa kelas X di SMA N 1 Andong.


2. Lingkungan belajar siswa pada penelitian ini dibatasi pada lingkungan
sekolah, lingkungan keluarga, dan lingkungan internal yang indikatornya
meliputi sarana dan fasilitas, lokasi sekolah, kondisi fisiologis, dan kondisi
psikologis.
3. Fasilitas belajar yang ada dan yang digunakan oleh siswa kelas X di SMA
Negeri 1 Andong.
4. Keaktifan ekstra kurikuler sekolah pada peneliti ini dibatasi pada
ekstrakurikuler pramuka kelas X di SMA Negeri 1 Andong
5. Prestasi belajar siswa pada penelitian ini dibatasi pada prestasi belajar
siswa dalam nilai raport.

C. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis dapat merumuskan
permasalahan yang diteliti sebagai berikut:
1. Adakah pengaruh lingkungan belajar terhadap prestasi belajar siswa kelas
X di SMA N 1 Andong?
2. Adakah pengaruh fasilitas belajar terhadap prestasi belajar siswa kelas X
di SMA N 1 Andong?
3. Adakah pengaruh keaktifan ekstra kurikuler pramuka terhadap prestasi
belajar siswa kelas X di SMA N 1 Andong?
4. Adakah pengaruh lingkungan belajar, fasilitas belajar dan keaktifan ekstra
kurikuler pramuka terhadap prestasi belajar prestasi belajar siswa kelas X
di SMA N 1 Andong?

D. Tujuan Penelitian
Setiap kegiatan penelitian tentu mempunyai maksud dan tujuan,
berdasarkan perumusan masalah yang ada, maka tujuan penelitian yang
hendak dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui pengaruh lingkungan belajar terhadap prestasi belajar
siswa kelas X di SMA N 1 Andong.

2. Untuk mengetahui pengaruh prestasi belajar siswa kelas X di SMA N 1


Andong.
3. Untuk mengetahui pengaruh keaktifan ektra kurikuler pramuka terhadap
prestasi belajar siswa kelas X di SMA N 1 Andong.
4. Untuk mengetahui pengaruh lingkungan belajar, fasilitas belajar dan
keaktifan ekstrakurikuler pramuka terhadap prestasi belajar siswa kelas X
di SMA N 1 Andong.
E. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
a. Sebagai suatu karya ilmiah maka hasil penelitian ini diharapkan dapat
memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan pada
khususnya, maupun bagi masyarakat pada umumnya mengenai
pengaruh lingkungan belajar, fasilitas belajar dan keaktifan organisasi
ekstrakurikuler pramuka terhadap prestasi belajar siswa kelas X di
SMA N 1 Andong.
b. Menambah pengetahuan dan wawasan khususnya mengenai pengaruh
lingkungan belajar, fasilitas dan keaktivan organisasi ekstrakurikuler
pramuka terhadap prestasi belajar siswa kelas X di SMA N 1 Andong.
c. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai pedoman untuk kegiatan
peneilitian berikut yang sejenis
2. Manfaat Praktis
a. Menyebarluaskan informasi mengenai arti pentingnya pengaruh
lingkungan belajar, fasilitas belajar dan keaktifan organisasi
ekstrakurikuler pramuka terhadap prestasi belajar siswa.
b. Sebagai pendidik maka pengetahuan dan pengalaman selama
mengadakan penelitian dapat ditransformasikan kepada peserta didik
pada khususnya maupun masyarakat luas pada umumnya.

F. Landasan Teori
1. Prestasi Belajar
a. Pengertian Prestasi

Menurut Nana Syaodih Sukmadinata (2003:101) Prestasi belajar


adalah realisasi atau pemekaran dari kecakapan potensial atau
kapasitas yang dimiliki seseorang. Penguasaan hasil belajar oleh
seseorang dapat dilihat dari perilakunya, baik perilaku dalam bentuk
penguasaan pengetahuan, keterampilan berpikir, maupun keterampilan
motorik.
Menurut Sardiman AM (2001:46) Prestasi adalah kemempuan
nyata yang merupakan hasil interaksi antar berbagai faktor yang
mempengaruhi baik dari dalam maupun dari luar individu dalam
belajar. Sedangkan menurut Winkel dalam Endah (2007:11) Prestasi
belajar adalah hasil suatu penilaian di bidang pengetahuan,
keterampilan, sikap sebagai hasil belajar yang dinyatakan dalam
bentuk nilai. (http://digilib.unnes.ac.id).
Dari beberapa teori diatas dapat disimpulkan bahwa prestasi
adalah suatu hasil yang telah dicapai sebagai bukti usaha yang telah
dilakukan, yang merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor yang
mempengaruhi baik dari dalam maupun dari luar.
b. Pengertian Belajar
Menurut Slameto (2003: 2), belajar dapat didefinisikan sebagai
berikut: Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang
untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara
keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi
dengan lingkungannya.
Menurut Sardiman (2001:21) Belajar adalah berubah. Dalam
hal ini yang dimaksud belajar berarti usaha mengubah tingkah laku,
jadi belajar membawa suatu perubahan pada individu-individu yang
belajar. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa belajar itu sebagai
rangkaian kegiatan jiwa raga, psiko-fisik untuk menuju perkembangan
pribadi manusia seutuhnya.

Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa belajar


adalah proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh
perubahan tingkah laku dalam jangka waktu lama melalui latihan
maupun pengalaman sehingga seseorang memiliki keterampilan,
pengetahuan, sikap dan nilai yang dipengaruhi oleh kondisi eksternal,
internal dan proses kognitif.

2. Lingkungan Belajar
a. Pengertian Lingkungan Belajar
Menurut Ki Hajar Dewantara dalam Munib (2004 : 76),
Lingkungan pendidikan mencakup : 1) lingkungan keluarga, 2)
lingkungan sekolah, 3) lingkungan masyarakat. Ketiga lingkungan
tersebut sering disebut sebagai tripusat pendidikan yang akan
mempengaruhi manusia secara bervariasi.
Menurut Oemar Hamalik (2000 : 47) lingkungan belajar adalah
tempat untuk melakukan proses belajar sehingga terjalin komunikasi
antara anak dan orang dewasa. Sedangkan menurut WS. Winkel
(1996:25) berpendapat bahwa lingkungan belajar adalah tempat
untuk memperoleh pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan sikap
nilai yang mengantarkan kedewasaan kita.
Berdasarkan definisi di atas dapat dimaknai bahwa lingkungan
belajar adalah tempat untuk melakukan kegiatan belajar sehingga
terjalin komunikasi anak dan orang dewasa untuk menjadikan anak
lebih dewasa. Dari pendapat beberapa ahli di atas, maka pengertian
lingkungan belajar dapat disimpulkan juga dengan semua kondisi
yang berada di sekitar kita yang berpengaruh terhadap kegiatan belajar
sehinga terjadi perubahan tingkah laku.
b. Macam-Macam Lingkungan Belajar
Faktor lingkungan yang berpengaruh pada belajar siswa pada
dasarnya dibagi menjadi :
1) Lingkungan Keluarga

10

Lingkungan keluarga menurut KH. Dewantara dalam Ahmadi dan


Uhbiyati (2001 : 176) adalah Keluarga dikenal sebagai rangkaian
kata dari kawula dan warga. Kawula artinya abdi atau hamba,
sedangkan warga artinya anggota. Sebagai abdi di dalam keluarga
wajiblah seseorang di situ menyerahkan segala kepentingannya
kepada keluarganya. Sebaliknya sebagai warga atau anggota ia berhak
sepenuhnya mengurus segala kepentingan dalam keluarganya. Kalau
ditinjau dari ilmu sosiologinya, masih menurut Ahmadi dan Uhbiyati
(2001 : 177) .Keluarga adalah bentuk masyarakat yang terdiri dari
beberapa individu yang terikat atau keturunan yakni kesatuan antara
ayah-ibu dan anak-anak yang merupakan kesatuan masyarakat.
Peran keluarga dalam pendidikan anak sangatlah penting,
mengingat keluarga adalah tempat pendidikan yang pertama, maka
peran keluarga dalam membentuk individu sangat besar. Dalam
lingkungan keluarga juga merupakan ajang dimana sifat-sifat
kepribadian anak terbentuk pertama kali. Anak adalah anggota
keluarga, dimana orang tua adalah pemimpin keluarga yang
bertanggung jawab atas keselamatan keluarga. Purwanto (2000 : 88)
mengemukakan bahwa Pendidikan orang tua terhadap anak-anaknya
adalah dalam pendidikan yang kepada rasa kasih sayang. Tetapi
pendidikan yang berdasarkan rasa kasih sayang ini harus dijaga jangan
sampai berubah menjadi memanjakan. Kasih sayang harus dilengkapi
dengan pandangan yang sehat tentang sikap orang tua terhadap anak.
2) Lingkungan Sekolah
Idris (2000 : 69) berpendapat bahwa Sekolah ialah suatu
lembaga dengan organisasi yang tersusun rapi. Segala aktivitasnya
direncanakan dengan sengaja yang disebut kurikulum. Disamping
keluarga sebagai pusat pendidikan, sekolah juga mempunyai fungsi
sebagai pusat pendidikan untuk pembentukan pribadi anak. Karena
sekolah itu sengaja disediakan atau dibangun khusus tempat
pendidikan,

maka

sekolah

dapat

digolongkan

sebagai

pusat

11

pendidikan kedua setelah keluarga, sehingga mempunyai fungsi


melanjutkan pendidikan keluarga dengan guru sebagai ganti orang tua
yang harus ditaati. Hal ini sesuai dengan pendapat Ahmadi dan
Uhbiyati (2001 : 180) bahwa sekolah memegang peranan penting
dalam pendidikan karena pengaruhnya besar sekali pada jiwa anak.
Keadaan gedung sekolah yang kurang memenuhi syarat juga
menghambat proses belajar mengajar, misalnya tempat sekeliling
sekolah ramai karena dekat pasar atau pabrik, maka akan mengganggu
konsentrasi belajar siswa. Selain itu juga ruangan kelas yang pengap
karena ventilasi kurang sehingga sirkulasi udara tidak lancar. Keadaan
kelas yang tidak sesuai dengan jumlah penghuninya menyebabkan
ruangan kelas terasa sempit, dan akhirnya situasi belajar tidak berjalan
dengan baik. Sekolah yang mempunyai gedung dan ruang belajar yang
memadai, cukup memiliki alat-alat perlengkapan belajar ditambah
dengan kecakapan guru dalam menggunakan alat-alat tersebut akan
mempermudah belajar siswa. Jika siswa mudah menerima pelajaran
dan menguasainya, maka hasil belajarnya akan lebih maju.
3) Lingkungan Masyarakat
Masyarakat menurut Purwanto (2000 : 161) adalah manusiamanusia lain di sekitar individu

yang bersangkutan. Masyarakat

merupakan lembaga pendidikan yang ketiga sesudah keluarga dan


sekolah

mempunyai

sifat

dan

fungsi

yang

berbeda

karena

keanekaragaman budaya, bentuk kehidupan sosial serta adanya


norma-norna yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Hal ini sesuai
dengan Ahmadi dan Uhbiyati (2001 : 184) bahwa setiap masyarakat
dimanapun berada tentu mempunyai karakteristik tersendiri sebagai
norma khas dibidang sosial budaya yang berbeda dengan karakteristik
masyarakat lain. Norma-norma sosial budaya yang berpengaruh
dalam masyarakat tersebut merupakan aturan yang ditularkan oleh
generasi tua kepada generasi muda yang bisa disebut dengan proses
pendidikan masyarakat.

12

c. Indikator Lingkungan Belajar


Menurut Purwanto (2000 : 28) lingkungan adalah : Meliputi
semua kondisi-kondisi dalam dunia ini yang ada dalam cara-cara
tertentu

mempengaruhi

tingkah

laku

kita,

pertumbuhan,

perkembangan atau life processes kita kecuali gen-gen. Pengaruh


lingkungan terhadap diri seseorang dapat mendorong menjadi baik,
ataupun sebaliknya bisa dapat mengubah yang semula baik menjadi
jahat.
Rusyan (1999 : 148) mengemukakan bahwa Lingkungan adalah
segala sesuatu yang berada di sekitar kita yang ada hubungannya dan
berpengaruh terhadap diri kita. Lingkungan (environment) meliputi
semua kondisi dalam dunia ini yang dengan cara-cara tertentu dapat
mempengaruhi tingkah laku. Dengan demikian lingkungan adalah
semua kondisi yang berada di sekitar kita yang berpengaruh terhadap
diri kita.
Kebanyakan para ahli berpendapat bahwa seluruh gerak tempat
hidup siswa adalah merupakan kegiatan belajar. Pendapat ini sesuai
dengan Rusyan (1999 : 78-79) bahwa Belajar adalah suatu proses
usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan
tingkah laku secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu
sendiri dalam interaksi dengan lingkungan. Sedangkan menurut
Syaiful Bahri Djamarah (2002 : 16) belajar pada dasarnya sebagai
tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang bersifat
menetap sebagai hasil interaksi dengan lingkungan yang terjadi karena
ada tujuan yang akan dicapai dengan mencakup seluruh aspek tingkah
laku.
Lingkungan belajar merupakan lingkup sekitar tempat tinggal
anak didik yang sangat mempunyai pengaruh terhadap tingkah laku
anak. Dengan demikian dapat disimpulkan indikator-indikator
berdasarkan atas lingkup tempat tinggal anak didik, yaitu:
1) Lingkungan belajar yang kondusif

13

2) Lingkungan belajar yang membawa rasa nyaman untuk anak didik


dalam proses pembelajaran
3) Lingkungan belajar yang mendukung proses belajar mengajar.

3. Fasilitas belajar
a. Pengertian Fungsi belajar
Menurut Suharsimi Arikunto (2001:37) fasilitas belajar adalah
segala sesuatu yang dapat memudahkan dan melancarkan pelaksanaan
suatu usaha. Sedangkan menurut Sudirman (2001:6) fasilitas belajar
adalah segala sesuatu untuk mempermudah dan melancarkan yang
dicapai.
Menurut The Liang Gie, fasilitas adalah persyaratan yang
meliputkai keadaan sekeliling tempat belajar dan keadaan jasmani
siswa atau anak. Meliputi ruang tempat bealajar, penerangan cukup,
buku-buku pegangan dan peralatan lain. Dalam kamus besar bahas
Indonesia (2004:314) fasilitas adalah segala hal yang memudah
perkara (kelancaran tugas dan sebagainya) atau kemudahan.
Dlam pengertian fasilitas dapat diartikan sebgai segala sesuatu
yang memudahkan dan melancarkan pelaksanaan sesuatu usaha. Yang
dapat memudahkan dan melancarkan usaha ini dapat berupa bendabenda maupun uang. Jadi dalam hal ini fasilitas dapat disamakan
dengan sarana.
b. Macam-macam fasilitas belajar
Macam fasilitas belajar menurut The Liang Gie diantaranya :
1) Sumber belajar
Secara sederhana sumber belajar adalah dosen atau guru dan
bahan-bahan pelajaran atau pengajaran baik buku bacaan dan
semacamnya yang dapat digunakan untuk kepentingan proses atau
aktivitas pengajaran baik secara langsung maupun tidak langsung.
Sumber belajar tersebut seperti buku paket, buku pelengkap, brosur,
majalah, surat kabar dan sebagainya.

14

2) Tempat belajar
Tempat belajar adalah salah satu factor yang mendukung
lancarnya suatu proses belajar mengajar.

3) Perabot belajar
Perabot belajar yang dimaksud adalah peralatan tulis, seperti
buku, pensil atau bolpoin, penggaris dan lain-lain dan perabot untuk
belajar yaitu meja kursi belajar serta almari atau rak buku.
4) Peralatan
Peralatan merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan
sebagai alat bantu mengajar. Sebagai contoh berupa globe, papan tulis,
kapur, video slide dan sebagainya.
5) Media belajar
Menurut arti media adalah suatu sarana, media koomunikasi
merupakan sarean untuk mengadakan penampilan untuk mengadakan
penampilan komunikasi seperti dosen atau guru, trnsparansi, slide,
gambaraudio, video kaset televise, telephone dan sebagainya. Media
pendidikan merukan alat bantu belajar yang digunakan suatu sarana
perantara dalam proses belajar mengajak untuk lebih meningklatkan
atau mempertinggi mutu proses kegiatan belajar.

4. Keaktifan organisasi ekstra kurikuler pramuka


Ekstra kurikuler adalah salah satu kegiatan sekolah yang
pelaksanaannya dilakukan diluar jam sekolah dengan maksud untuk
memperluas wawasan pengetahuan dan kemampuan yang telah
dimiliki oleh seseorang pada bidangnya. Pada umunya, kegiatan
ekstrakurikuler dapat dilaksanakan baik secara perorangan maupun
kelompok. Kegiatan perorangan dimaksudkan untuk meningkatkan
pengetahuan dan penyaluran bakat serta minat siswa. Sedangkan
kegiatan kelompok dimaksudkan untuk pembinaan bermasyarakat.

15

Kegiatan pramuka adalah salah satu kegiatan yang tergolong dalam


kegiatan kelompok.
Kegiatan pramuka merupakan salah satu wadah pengembangan
generasi muda dan merupakan lembaga pendidikan jalur ketiga, maka
penyelenggaraan pendidikan kepanduan oleh gerakan pramuka harus
diintegrasikan dalam pola dasar pembinaan generasi muda dan
pendidikan nasional, yang kini sedang diusahakan dan dikembangkan.
Dengan

demikian

pramuka

merupakan

salah

satu

wahana

penyelenggarakan pendidikan dalam masyarakat yang perlu ditangani


secara serasi oleh orang tua, masyarakat dan pemerintah. Seperti
halnya dengan pernyataan Ki Hadjar Dewantara bahwa pramuka
adalah Pendidikan anak-anak dan pemuda Indonesia dengan prinsipprinsip dasar pendidikan kepanduan yang pelaksanaannya diserasikan
dengan kepentingan dan perkembangan bangsa dan masyarakat
Indonesia.

G. Hubungan antara lingkungan belajar, fasilitas belajar dan keaktifan


organisasi ekstra kurikuler pramuka dengan prestasi belajar
1. Hubungan lingkungan belajar dengan prestasi belajar
Prestasi belajar merupakan hasil kemampuan intelektual siswa
yang sangat menentukan keberhasilan siswa dalam memperoleh
prestasi. Untuk mengetahui berhasil tidaknya seseorang dalam belajar
maka perlu dilakukan suatu eavaluasi, tujuannya untuk mengetahui
prestasi yang diperoleh siswa setelah proses belajar mengajar
berlangsung.
Dalam meningkatkan prestasi belajar yang pertama dari faktor
intern dan ekstern sekolah, salah satunya adalah lingkungan belajar.
kegiatan Belajar dapat berlangsung dengan baik dengan tertatanya
lingkungan belajar yang baik, nyaman, dan aman. Lingkungan belajar
merupakan lingkungan pendidikan formal yang mempunyai peran
penting dalam mencerdaskan dan membimbing moral perilaku siswa.

16

Lingkungan belajar memiliki hubungan yang erat didalam


memajukan kecerdasan siswa dalam mencapai prestasi belajar yang
memuaskan. Karena didalam lingkungan belajar ini memiliki tahapantahapan siswa dalam membangun dirinya sendiri yang dimulai dari
lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat.
2. Hubungan fasilitas belajar dengan prestasi belajar
Prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor baik dari
faktor intern yang berupa kecerdasan/intelegensi, perhatian, minat,
bakat, motivasi, maupun faktor dari faktor ekstern yang berupa
lingkungan belajar, fasilitas belajar, perhatian orang tua, dan media
pembelajaran dan kegiatan-kegiatan yang ada di sekolah. Faktor
ekstern yang sering dipandang masyarakat yang paling menonjol
adalah fasilitas belajar.
Fasilitas

belajar

merupakan

segala

sesuatu

yang

dapat

mempermudah dalam mencapai suatu usaha. Dalam memcapai


prestasi belajar yang tinggi tidak akan terlaksana tanpa adanya
fasilitas belajar yang lengkap dan nyaman yang

dialami siswa.

Dengan adanya fasilitas belajar seperti tempat belajar yang baik dan
nyaman, kelengkapan buku-buku, sumber belajar, media belajar dan
lain-lain yang ada, siswa akan lebih mudah dalam mengikuti kegiatan
belajar mengajar dalam mencapai prestasi belajar. Fasilitas belajar
memiliki hubungan yang kental dalam mencapai prestasi belajar siswa
dan meningkatkan kualitas mutu sekolah.
3. Hubungan keaktifan organisasi ekstra kurikuler pramuka dengan prestasi
belajar
Banyak kegiatan organisasi ekstra kurikuler yang dilaksanakan
disuatu sekolah baik dilaksanakan perorangan atau kelompok.
Kegiatan ekstra kurikuler dapat berupa palang merah remaja, patrol
keamanan sekolah (PKS), usaha kesehatan sekolah (UKS), koperasi
sekolah, pramuka dan sebagainya. Dari sekian kegiatan ekstra
kurikuler, ada kegiatan yang menjadi kewajiban siswa yang harus

17

diikuti yaitu pramuka. Kegiatan pramuka merupakan salah satu


kegiatan yang dilaksanakan secara kelompok.
Kegiatan pramuka dimaksudkan untuk membina siswa dalam
hidup bermasyarakat. Dengan adanya kegiatan ini, siswa dapat
menemukan jati dirinya dalam berperilaku dan bertindak. Dan, dapat
menerapkannya dalam kegiatan belajar mengajar untuk mencapai
pretasi belajar yang memuaskan. Banyak ahli menyatakan kegiatan
pramuka dapat meningkatkan siswa lebih aktif dan tanggung jawab
siswa dalam bertindak. Kegiatan ekstra kurikuler pramuka memiliki
hubungan kental dalam mencapai prestasi belajar siswa memuaskan,
karena siswa memiliki daya fikir yang lebih dewasa yang diperoleh
dari kegiatan tersebut.
4. Hubungan lingkungan belajar, fasilitas belajar dan keaktifan organosasi
pramuka dengan prestasi belajar
Prestasi belajar merupakan hasil dari pengukuran terhadap peserta
didik yang meliputi factor kognitif, afektif dan psikomotor setelah
mengikuti tes pembelajaran yang diukur dengan menggunakan
instrument tes yang relevan. Dalam memcapai prestasi belajar yang
baik haruslah didukung dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya
baik dari dalam atau luar.
Salah satunya adalah lingkungan belajar. Lingkungan belajar
sangat penting dalam mempengaruhi kecerdasan seseorang. Banyak
para ahli menyatakan lingkungan belajar adalah factor yang paling
dominan dalam mencapai prestasi belajar. Karena lingkungan belajar
merupakan tahap-tahap awal siswa dalam memperoleh pendidikan
baik dari keluarga, sekolah dan masyarakat.
Selain itu adalah fasilitas belajar. Dengan adanya fasilitas yang
baik, nyaman , aman dan mencukupi siswa akan lebih mudah dalam
mengikuti kegiatan belajar mengajar untuk mencapai prestasi belajar
yang optimal. Selain itu prestasi belajar juga dapat diraih dengan
adanya kegiatan ekstra kurikuler yang dapat membuat orang lebih

18

aktif, tanggung jawab dan dapat berfikir dewasa dalam membangun


dirinya sendiri yaitu kegiatan pramuka. Kegiatan pramuka merupakan
kegiatan ekstra kurikuler yang wajib diikuti oleh siswa yang
dimaksudkan agar siswa dapat lebih tanggung jawab atas dirinya
sebagai seoarang pelajar dan dapat meningkatkan prestasi belajar yang
memuaskan dari kegiatan yang dijalani dan menerapkannya dalam
kegiatan belajar mengajar.
Dari ketiga factor diatas, lingkungan belajar, fasilitas belajar dan
keaktifan organisasi ekstra kurikuler pramuka memiliki hubungan
yang kental dalam memajukan pretasi belajar yang memuaskan.

H. Kerangka Pemikiran
Menurut Sugiyono (2008:47) kerangka berfikir merupakan
model konseptual tentang teori berhubungan dengan berbagai faktor
yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting. Dalam
penelitian ini variable yang akan dijelaskan adalah variable
independen (variable bebas) dan variable dependen (variable terikat).
Dari pemikiran di atas dapat digambarkan pola pemikiran dalam
penelitian sebagai berikut :

Lingkungan Belajar (X1)

Fasilitas Belajar (X2)

Keaktifan organisasi
Ekstra kurikuler pramuka (X3)

Prestasi Belajar (Y)

19

Gambar 2.1 Paradigma penelitian


Keterangan:
1. Variabel Independen (variabel bebas)
Yaitu variabel yang merupakan rangsangan untuk mempengaruhi
variabel yang lain. Yang menjadi variabel bebas adalah:
a. Lingkungan Belajar (X1).
b. fasilitas Belajar (X2).
c. keaktifan ekstra kurikuler pramuka (X3).
2. Variabel dependen (variabel terikat)
Yaitu suatu jawaban atau hasil dari perilaku yang dirangsang.
Dalam hal ini yang menjadi variabel terikat adalah: Prestasi Belajar
(Y).

I. Hipotesis
Menurut Sugiyono (2003 : 51) hipotesis merupakan jawaban
sementara terhadap rumusan masalah penelitian. Berdasarkan pada
perumusan masalah, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut :
1. Ada pengaruh yang signifikan lingkungan belajar terhadap prestasi
belajar siswa kelas X di SMA N 1 Andong.
2. Ada pengaruh yang signifikan fasilitas belajar terhadap prestasi
belajar siswa kelas X di SMA N 1 Andong.
3. Ada pengaruh yang signifikan keaktifan organisasi ekstrakurikuler
pramuka terhadap prestasi belajar siswa kelas X di SMA N 1
Andong.
4. Ada pengaruh yang signifikan antara lingkungan belajar, fasilitas
belajar dan keaktifan organisasi ekstra kurikuler pramuka terhadap
prestasi belajar siswa kelas X di SMA N 1 Andong.

20

J. Metode Penelitian
1. Jenis-jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif karena dalam
penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai variabel mandiri baik
satu variabel atau lebih tanpa membuat perbandingan dengan variabel
yang lain. Sedangkan pendekatan penelitian ini adalah jenis penelitian
kuantitatif yang menggunakan data berbentuk angka atau data
kualitatif yang diangkakan.
2. Obyek Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMA N 1 Andong.
3. Populasi, Sampel, Sampling.
a. Populasi
Menurut Arikunto (2006:130). Populasi adalah keseluruhan
subyek penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMA N
1 Andong.
b. Sampel
Menurut Sugiyono (2005:73) sampel adalah bagian dari jumlah
dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Sedangkan
menurut Suharsimi Arikunto (2005:135) Apabila populasi kurang dari
100, lebih baik mengambil semua sehingga penelitiannya merupakan
penelitian populasi. Selanjutnya jika populasi lebih dari 100 dapat di
ambil 10-15% atau 25%. Dalam penelitian ini peneliti mengambil 50
siswa dari 150 siswa populasi di SMP Negeri 3 Colomadu.
c. Sampling
Teknik sampling adalah teknik pengambilan sampel. Teknik
pengambilan

sampel

yang

digunakan

menggunakan random sampling, karena

dalam

penelitian

ini

pengambilan sampel

dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam


anggota

populasi,

sehingga

masing-masing

siswa

memiliki

kesempatan yang sama untuk menjadi anggota sampel penelitian.

21

4. Sumber data
a. Data Primer
Data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari sumbernya
diamati dan dicatat. Dalam penelitian ini data primernya adalah
lingkungan belajar, fasilitas belajar dan keaktivan organisasi
ekstrakurikuler pramuka siswa yang diperoleh dari hasil angket yang
diberikan langsung kepada siswa kelas X SMA Negeri 1 Andong.
b. Data sekunder
Data sekunder yaitu data yang diperoleh dari membaca bukubuku literature yang digunakan sebagai dasar untuk membuat landasan
teori. Dalam penelitian ini data sekundernya adalah prestasi belajar
siswa yang diperoleh dari dokumen sekolah (raport siswa).

K. Variabel Penelitian
Menurut Sugiyono (2007:3) Variabel penelitian adalah suatu atribut atau
sifat atau nilai dari orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi
tetentu yang ditetapkan peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya.
Variabel penelitian dapat dibedakan menjadi :
1. Variabel independen merupakan variabel yang mempengaruhi atau
menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen
(terikat). Dalam penelitian ini yang menjadi variabel independen
adalah (X1) : Lingkungan belajar,

(X2) : fasilitas belajar, (X3) :

keaktifan organisasi ekstrakurikuler pramuka


2. Variabel dependen merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang
menjadi akibat, karena adanya variabel independent. Dalam penelitian
ini yang menjadi variabel dependen adalah (Y) : Prestasi belajar
siswa.

22

L. Teknik Pengumpulan Data.


1. Angket
Menurut Suharsimi Arikunto (2006;151) angket adalah sejumlah
pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari
responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau mengenai hal-hal yang
ia ketahui.
Dalam penelitian ini, jenis angket yang digunakan adalah angket
langsung yang tertutup dengan bentuk pilihan ganda yang akan disediakan
empat alternatif jawaban pertanyaan sehingga responden tinggal memberikan
tanda pada salah satu jawaban yang tersedia yang menurutnya benar. Sebelum
angket digunakan terlebih dahulu diuji cobakan, perlakuan ini untuk
mengetahui tingkat kevaliditan dan kereabilitasan angket.
Adapun bobot angket yang ditetapkan antara lain:
a) Jika jawabannya sangat setuju (SS) maka nilainya 4
b) Jika jawabannya setuju (S) maka nilainya 3
c) Jika jawabannya tidak setuju (TS) maka nilainya 2
d) Jika jawabannya sangat tidak setuju (STS) maka nilainya 1
Dalam penelitian ini metode angket digunakan untuk mengali data
tentang pergaulan teman sebaya dan keaktivan ekstrakurikuler pramuka yang
diberikan langsung kepada siswa kelas X SMA Negeri 1 Andong.
2. Metode Dokumentasi
Menurut Suharsimi Arikunto (2006:158) Dokumentasi adalah mencari
dan mengumpulkan data mengenai hal-hal yang berupa catatan, transkip,
buku, surat kabar, majalah, agenda, dan sebagainya. Metode dokumentasi ini
dimaksudkan untuk memperoleh data berdasarkan sumber data yang ada
disekolah. Dalam penelitian ini metode dokumentasi digunakan untuk
memperoleh data tentang prestasi belajar siswa yang meliputi nama siswa, no
induk, dan nilai akhir siswa kelas X semester genap SMA Negeri 1 Andong
yang diambil dari nilai rapot yang diperoleh dari dokumen sekolah.

23

M. Uji Instrumen
Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh
peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan
hasilnya lebih baik, dalam arti lebih lengkap dan sistematis sehingga lebih
mudah diolah. Menurut Suharsimi Arikunto (2006:160), variasi jenis
instrument penelitian adalah angket, Check list atau daftar centang, pedoman
wawancara dan pedoman pengamatan. Instrumen yang baik harus memenuhi
dua persyaratan penting yaitu valid dan reliabel.
1. Uji Validitas
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat
kevalidan atau kestabilan suatu instrument. Suatu instrument yang valid
yang shahih mempunyai validitas tinggi. Namun sebaliknya instrumen
yang kurang valid memiliki validitas rendah.
Instrument dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang
diinginkan, dan mampu mengungkapkan data dari variabel yang diteliti
secara tepat. Tinggi rendahnya validitas instrument menunjukkan sejumlah
nama data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang
variabel yang dimaksud.
Validitas di atas diuji dengan rumus Product Moment Correlation, uji
ini

dilakukan

dengan

melihat

korelasi/skor

masing-masing

pertanyaan. Dalam Suharsimi Arikunto (2005 : 425) rumusnya adalah:


rxy

N XY X Y

N. X

X N . Y 2 Y
2

Keterangan :
rxy = Koefisien korelasi variabel X dan Y
X = Jumlah skor dalam distribusi X
Y = Jumlah skor dalam distribusi Y
XY

= Jumlah kuadrat masing-masing skor X

N = Jumlah subyek keseluruhan

item

24

Jika rxy > rtabel pada taraf signifikan 95 % berarti item (butir soal) valid dan
sebaliknya rxy < rtabel maka butir soal tersebut tidak valid sekaligus tidak
memiliki persyaratan.
2. Uji Reliabilitas
Menurut Arikunto (2006 : 17) reliabilitas adalah ketepatan atau
keajegan suatu instrumen. Uji reliabilitas menunjukkan sejauh mana
instrumen dapat memberikan hasil pengukuran yang konsisten apabila
pengukuran dilakukan berulang-ulang. Dalam penelitian ini pengukuran
reliabilitas angket dilakukan menggunakan koefisien reliabilitas alpha dari
cronbach dengan rumus:
k
rii =

k 1

2b
1 2 Suharsimi Arikunto (2003: 236)

Keterangan :
rii

= koefisien reliabilitas instrumen

= banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal

b2 = jumlah varians butir


t2 = varians total
Kriteria besarnya koefisien reliabilitas dalam menurut Suharsimi
Arikunto (2006: 276) adalah
0,80 < r11 1,00

reliabilitas sangat tinggi

0,60 < r11 0,80

reliabilitas tinggi

0,40 < r11 0,60

reliabilitas cukup

0,20 < r11 0,40

reliabilitas rendah

0,00 < r11 0,20

reliabilitas sangat rendah

N. Uji Prasarat Analisis


1. Uji Normalitas
Pengujian normalitas dimaksudkan untuk mengetahui apakah data
yang diperoleh mengikuti sebaran distribusi normal atau tidak. Dalam
penelitian ini uji normalitas data dilakukan menggunakan teknik lilliefors

25

Langkah-langkah untuk menggunakan uji lilliefors dalam Budiono


(2000:169-172) adalah:
a. Hipotesis
Ho = sampel dari populasi berdistribusi normal
H1 = sampel dari populasi yang tidak berdistribusi normal
b. Prosedur
1) X1, X2,............., Xn dijadikan bilangan baku z1, z2, ..............zi
dengan
rumus :
zi

Xi X
, di mana zi = bilangan baku
S

Keterangan :
z

= Angka baku

= Rata-rata

= Simpangan baku sampel

Dari data sampel tersebut diurutkan dari skor terendah ke skor


tertinggi.
2) Dengan dasar distribusi normal baku dihitung peluangnya.
3) Menghitung proporsi z1, z2, .... zn z dinyatakan dengan:
S (zi) =

banyaknya z1 , z 2 ....zn z
n

4) Menghitung selisih F(zi) S(zi) dan menentukan harga mutlaknya.


5) Mengambil harga yang terbesar di antara harga mutlak selisih
tersebut.

6) Kesimpulan
a) Jika Lhitung < Ltabel maka H0 diterima berarti distribusi
sebenarnya tidak normal.
b) Jika Lhitung > Ltabel maka H0 ditolak berarti distribusi
sebenarnya tidak normal.

26

2. Uji Linieritas
Menurut Sudjana (2003:331) Uji linieritas dimaksudkan untuk menguji
linier tidaknya data yang dianalisis. Langkah-langkahnya sebagai berikut :

a. Hipotesis
H0

: Persamaan regresi linier

H1

: Persamaan regresi tidak linier

b. Nilai Xi yang sama harus disusun bersatu dengan Yi, pasangannya


c. Menghitung Jumlah Kuadrat:

Yi

Jk(E) =

Jk(TC) = Jkres Jk(E)


Jk(C) = Jkres Jk (TC)
d. Menghitung Derajat kebebasan
df(E) = N k
df(TC) = k - 2
k = banyaknya kelompok x
e. Menghitung Rerata Jumlah Kuadrat:
RK(E) =

RK(TC) =

Jk ( E )
df ( E )

Jk(TC )
df (TC )

f. Menghitung Nilai F
F hitung =

RK(TC )
RK E

F tabel = F (

) (k 2, N k)

g. Kesimpulan
1)

Jika Fhitung > Ftabel, maka H0 ditolak berarti persamaan regesinya


tidak linier.

2)

Jika Fhitung < Ftabel, maka H0 diterima berarti persamaan regesinya


linier.

27

O. Teknik Analisis Data


1. Analisis Regresi Linier Berganda
Langkah awal sebelum melakukan pengujian hipotesis penelitian adalah

dengan mencari persamaan regresi linier ganda. Adapun persamaan umum


dari regresi linier ganda adalah sebagai berikut :
Y = a + b1X1 + b2 X2
Sedangkan nilai a, b1 dan b2 dapat dicari dengan rumus sebagai berikut:

x x y x x x x x y
x x x x
x x y x x x x x y
b2 =
x x x x
b1 =

2
2

2
1

1 2
2
2

1 2
2
1 2

2
1

1 2
2
2

1 2
2

2
1

1 2

a = Y b1 X b 2 X 2
Parameter yang ada dapat ditentukan melalui persamaan sebagai berikut :

Y n.a b1X1 b 2 X 2
X1 Y aX1 b1X12 b 2 X1 X 2
X 2 Y aX 2 b1X1 X 2 b 2 X 22

Keterangan :
Y : prestasi belajar ekonomi
X1 : lingkungan belajar
X2 : minat belajar
a

: Konstanta

b1, b2: Koefisien arah regresi


n

: Banyaknya sampel
Budiyono (2000, 282-284)

2. Uji F
Untuk mengetahui signifikansi pengaruh variabel lingkungan belajar
(X1) dan fasilitas belajar (X2) dan keaktivan organisasi ekstrakurikuler
pramuka (X3) secara bersama-sama terhadap variabel prestasi belajar (Y),
maka dilakukan uji keberartian regresi linier ganda atau uji F. Langkahlangkah pengujian secara umum adalah:

28

a. Perumusan Hipotesis
H0 : l = 2 = 0, artinya tidak ada pengaruh lingkungan belajar (X1)
dan fasilitas belajar (X2) dan keaktivan organisasi
ekstrakurikuler pramuka (X3) terhadap prestasi belajar
siswa (Y).
H1 : l 2 0, artinya ada pengaruh lingkungan belajar (X1) dan
fasilitas belajar (X2) dan keaktivan organisasi
ekstrakurikuler pramuka (X3) terhadap prestasi belajar
siswa (Y).
b. Level of significance ( = 5%)
Dengan derajat kebebasan (dk); k, (n1k)
Ftabel = ; k; (n1k) atau 0,05; k; (n1k)
c. Kriteria pengujian

Daerah terima H0

Daerah tolak H0

0
0,05,k,n-k-1
Ho diterima apabila Fhitung FF
tabel
Ho ditolak apabila Fhitung > Ftabel
d. Perhitungan nilai Fhitung:
F=

SSR / K
SS Re s /(n 1 k )

Keterangan:
SSR

= Sum of Square-res for the requestion

SSRes = Sum Squares for the residual


e. Kesimpulan
Dengan membandingkan antara Fhitung dan Ftabel maka akan dapat
diambil kesimpulan apakah Ho diterima atau Ho ditolak.

29

3. Uji T
Yaitu digunakan untuk mengetahui besarnya pengaruh dari masingmasing variabel independen terhadap variabel dependen. Langkah-langkah
pengujian secara umum:
a. Menentukan hipotesis nilai dan hipotesisi alternatif
Ho : i = 0,

Berarti tidak ada pengaruh yang signifikan antara


variabel independen terhadap variabel dependen.

Ho : i 0, Berarti ada pengaruh yang signifikan antara variabel


independen terhadap variabel dependen.
b. Menentukan level of significance = 0,05
Dengan derajat kebebasan = n 1 k
ttabel = t ( / 2 ;n 1 k)
c. Kriteria pengujian

Ho diterima apabila ttabel thitung ttabel


Ho ditolak apabila thitung > ttabel atau thitung < ttabel
d. Nilai thitung
t=

b
Sb

Dimana:
b = koefisien regresi
Sb = standar error of regression coeffisien

= nilai beta
e. Kesimpulan
Dengan membandingkan antara thitung dengan ttabe1 maka dapat diambil
kesimpulan Ho diterima atau Ho ditolak.

30

4. Sumbangan Relatif (SR) dan Sumbangan Efektif (SE)


Sumbangan relatif maupun efektif digunakan untuk mengetahui
konstribusi masing-masing variabel independen terhadap perubahan
variabel dependen (Y). Menurut Hadi (1994:41) Peneliti yang juga dapat
menghitung besar sumbangan relatif masing-masing kreditor terhadap
prediksi.
Untuk melihat signifikansi suatu garis regresi antara kriterium dengan
prediktornya yang ditunjuk dari korelasi tiap variabel yang diteliti. Dengan
rumus Sumbangan Relatif dan Efektif sebagai berikut :
a. Sumbangan Relatif ( SR %)

SR% X 1
SR% X 2

a1 x1 y
JK reg

x100%

a 2 ( x 2 y )
JK reg

x100%

b. Sumbangan Efektif
SE % X1 = SR % X1 . R2
SE % X2 = SR % X2 . R2

P. Sistematika Skripsi
Sistematika merupakan isi yang ada dalam penelitian yang akan
dilakukan. Adapun sistematika skripsi ini adalah sebagai berikut:
BAB I

PENDAHULUAN
Bab ini berisi tentang latar belakang masalah, pembatasan
masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian , manfaat
penelitian dan sistematika laporan.

BAB II

LANDASAN TEORI
Bab ini berisi tentang pengertian lingkungan belajar siswa,
pengertian fasilitas belajar siswa, pengertian keaktifan
organisasi ekstrakurikuler pramuka, pengertian prestasi
belajar, kerangka berfikir dan hipotesis.

31

BAB III

METODE PENELITIAN
Bab ini menguraikan tentang tempat penelitian, jenis
penelitian, populasi, sampel dan sampling, variabel
penelitian, sumber data, teknik pengumpulan data, teknik
analisis data.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


Bab ini berisi tentang gambaran umum mengenai objek
penelitian,penyajian data, analisis data, dan pembahasan
hasil penelitian.

BAB V

PENUTUP
Bab ini berisi kesimpulan dan saran.

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

32

DAFTAR PUSTAKA
Oemar Hamalik. 2000. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung : Sinar Baru
Algesindo.
___________. 2006. Dasar Metode Research, Jilid 1. Yogyakarta : Andi Offiset.
Ahmadi, Abu dan Nur Uhbiyati. 2001. Interaksi Belajar Mengajar. Bandung :
Remaja Karya.
Budiyono. 2000. Statistika Dasar untuk Penelitian. Surakarta: FKIP UNS Press.
Depdikbud. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Dimyati dan Mujiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : PT Rineka
Cipta.
Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta.
EndahFitri.2007.http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/skripsi/index/assoc/hash31
de.dir/doc.pdf.15-04-09.08.09
Mertoprawiro,
Soedarsono.1992.Pembinaan
Gerakan
Pramuka
Membangun Watak dan Bangsa Indonesia.Jakarta:Balai Pustaka.

Dalam

Nana Syaodih Sukmadinata. 2003. Landasan Psikologi Proses Pendidikan.


Bandung : PT. Remaja Rosda Karya.
Nugroho. 2004. Psikologi Belajar. Jakarta : Balai Pustaka.
Rusyan Tabrani. 1999. Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung :
Remaja Rosda Karya.
Slameto. 2003, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta :
Rineka Cipta.
Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Bisnis. Bandung : Alfabeta.
Sumadi Suryabrata. 2003. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta : Rako Press.
Sutrisno Hadi 2000. Dasar Metode Research, Jilid 1. Yogyakarta : Andi Offiset.
UU Sisdiknas. 2003. UU RI No. 20 Tahun 2003. Jakarta : Sinar Grafika.

33

Wijaya, cece dkk. 1991. Upaya Pembaharuan Dalam Pendidikan dan Pengajaran.
Bandung : Remaja Rosdakarya

Winkel, W.S. 1996. Psikologi Pengajaran. Jakarta : Gramedia Widia Sarana


Indonesia.