Anda di halaman 1dari 11

Landasan Teori Geologi Struktur

Geologi struktur adalah bagian dari ilmu geologi yang mempelajari tentang
bentuk (arsitektur) batuan akibat proses deformasi serta menjelaskan proses
pembentukannya. Proses deformasi adalah perubahan bentuk dan ukuran pada batuan
akibat gaya (Force) yang terjadi di dalam bumi..
Sesar
Sesar atau patahan adalah rekahan pada batuan yang telah mengalami pergeseran
yang berarti, melalui bidang rekahnya. Suatu sesar dapat berupa Bidang Sesar (Fault
Plane), atau rekahan tunggal. Tetapi lebih sering berupa jalur sesar (Fault Zone), yang
terdiri lebih dari satu sesar. Jalur sesar atau jalur penggerusan (Shear Zone), mempunyai
dimensi panjang dan lebar yang beragam, dari skala minor sampai puluhan kilometer.
Kekar yang memperlihatkan pergeseran dapat pula dikatakan sebagai sesar minor.
Shear zone adalah suatu zona yang berbentuk tabular sampai melembar dan
planar (datar) sampai bergelombang yang terbentuk pada batuan yang cenderung
memiliki tingkat keterakan yang lebih besar daripada batuan sekitarnya, dengan intensitas
yang terkadang lebih tinggi. Shear Zone memiliki ciri ciri yang dapat dikenali di
lapangan. Karakteristiknya berbeda tergantung dimana Shear Zone terbentuk , dapat
dibedakan sebagai berikut:
1. Brittle shear zone, yaitu jalur penggerusan pada batuan yang getas.
2. Ductile shear zone, yaitu jalur penggerusan pada batuan yang lentur.
3. Semi Brittle shear zone.
4. Semi ductile shear zone.
Zona patahan adalah suatu jalur penggerusan pada kondisi brittle. Sedangkan bila
jalur penggerusan terbentuk pada daerah ductile, maka akan menghasilkan metamorfisme
juga menghasilkan pula batuan dengan foliasi, lineasi dan lipatan
Untuk mengetahui klasifikasi sesar, maka kita harus mengenal unsur-unsur
struktur (Gambar 2.1) sebagai berikut :
1. Bidang sesar, yaitu bidang sepanjang rekahan dalam batuan yang tergeserkan.

Hade Bakda Maulin Structural Geologist


bakda_maulin@yahoo.com ** 0812 2345 137

2. Dip sesar, sudut antara bidang sesar dengan bidang horizontal dan diukur
tegak lurus jurus sesar. Strike dan dip sesar menunjukkan kedudukan dari
bidang sesar.
3. Pitch, arah gelinciran yang membentuk sudut pada bidang sesar, diukur
terhadap bidang horizontal.
4. Hade, sudut antara garis vertikal dengan bidang sesar dan merupakan penyiku
dari dip sesar.
5. Throw, komponen vertikal dari slip/ separation diukur pada vertikal yang
tegak lurus terhadap jurus sesar.
6. Heave, komponen horisontal yang tegak lurus dari slip/ separation diukur pada
bidang vertikal yang tegak lurus jurus sesar.
7. Slip (pergeseran relatif), merupakan pergeseran titik titik yang sebelumnya
berimpit, diukur dari blok satu ke blok yang lain.

Gambar 1 Unsur-unsur struktur sesar

Pemodelan Patahan Anderson ( 1951 )


Berdasarkan uji ketahanan batuan, Anderson mengetahui bahwa kondisi tegasan
yang menyebabkan terjadinya patahan pada suatu tubuh batuan, mengikuti hukum
Coulomb mengenai batas ketahanan suatu massa terhadap tekanan (Coulomb law of
failure) seperti terlihat pada gambar 2.2 A,B. Coulomb failure envelope biasanya lurus,
dengan kemiringan rata rata sekitar 30. Sudut kemiringan () adalah sudut geser
dalam (angle of internal friction) suatu material. Ketika envelope terproyeksikan pada
Hade Bakda Maulin Structural Geologist
bakda_maulin@yahoo.com ** 0812 2345 137

sumbu s pada diagram Mohr (Gambar 2.2 C), juga berpotongan dengan sumbu pada
nilai 0 (0), titik ini dinamakan kekuatan kohesif ( cohesive strength ) batuan. Adapun
hukum Coulomb adalah sebagai berikut :
c =-0 + tan (n )
dimana,
c = Titik kritis dimana besarnya tegasan mampu menyebakan batuan terpatahkan
0 = Kekuatan kohesif ( cohesive strength )
n = Tegasan normal
Anderson berpendapat bahwa sudut geser dalam ( ) menentukan sudut antara
bidang patahan dan arah dari tegasan utama ( 1 ). Berdasarkan geometri dari failure
envelope, mendapatkan :
= 90 - 2
Atau,
2 = 90 -

Hade Bakda Maulin Structural Geologist


bakda_maulin@yahoo.com ** 0812 2345 137

Gambar 2 (A.) Pengeplotan nilai 1 dan 3 di 3 percobaan. Menunjukkan pola failure envelope yang
melewati tiga titik pecah pada setiap pecobaan. (B) Menggunakan failure envelope untuk menunjukkan
besarnya tegasan (stress) yang mampu mematahkan batuan dengan s ( confining pressure ) 1,85 Mpa.
(C)Persamaan Coulomb law failure dalam hubungannya dengan diagram Mohr.

Hade Bakda Maulin Structural Geologist


bakda_maulin@yahoo.com ** 0812 2345 137

Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa sudut antara bidang patahan
dengan arah tegasan utama harus lebih kecil dari 45 atau dengan kata lain arah tegasan
utama harus diapit oleh dua bidang conjugate yang membentuk sudut lancip ( kurang dari
90 ). Oleh karena itu kita dapat menentukan arah dari tegasan utama bila didapatkan 2
bidang conjugate. Dari hasil tersebut Anderson membuat suatu pemodelan yang
menjelaskan hubungan antara pola tegasan dan bidang patah yang terbentuk, dengan
kesimpulan :
1. Sesar normal terbentuk bila 1 vertikal.
2. Sesar mendatar terbentuk bila 2 vertikal.
3. Sesar naik terbentuk bila 3 vertikal.
Klasifikasi Sesar
Klasifikasi sesar telah banyak dikemukakan oleh para ahli terdahulu. Mengingat
struktur sesar adalah rekahan di dalam bumi yang ditimbulkan karena pergeseran
sehingga untuk membuat analisis strukturnya diusahakan untuk dapat mengetahui arah
pergeseran tersebut.
Mengingat arah dari net slip yang memiliki beberapa kemungkinan, pitch
yang berkisar dari 00 900 maka Rickard (1972) membuat pengelompokkan sesar yang
termasuk strike slip dan dip slip.
Penamaan sesar berdasarkan nomor yang ada pada tabel 2.2. A adalah sebagai
berikut :
1. Sesar naik dengan dip < 45 ( Thrust slip fault ).
2. Sesar naik dengan dip > 45 ( Reverse slip fault ).
3. Sesar naik dekstral dengan dip < 45 ( Right thrust slip fault ).
4. Sesar dekstral naik dengan dip < 45 ( Thrust right slip fault ).
5. Sesar naik dekstral dengan dip > 45 ( Right reverse slip fault ).
6. Sesar dekstral naik dengan dip > 45 ( Reverse right slip fault ).
7. Sesar dekstral ( Right slip fault ).
8. Sesar dekstral normal dengan dip < 45 ( Lag right slip fault ).
9. Sesar normal dekstral dengan dip < 45 ( Right lag slip fault ).
Hade Bakda Maulin Structural Geologist
bakda_maulin@yahoo.com ** 0812 2345 137

10. Sesar normal dekstral dengan dip < 45 ( Right normal slip fault ).
11. Sesar dekstral normal dengan dip > 45 ( Normal right slip fault ).
12. Sesar normal dengan dip < 45 ( Lag slip fault ).
13. Sesar normal dengan dip > 45 ( Normal slip fault ).
14. Sesar normal sinistral dengan dip < 45 ( Left lag slip fault ).
15. Sesar sinistral normal dengan dip < 45 ( Lag left slip fault ).
16. Sesar sinistral normal dengan dip > 45 ( Normal left slip fault ).
17. Sesar normal sinistral dengan dip < 45 ( Left normal slip fault ).
18. Sesar sinistral ( Left slip fault ).
19. Sesar sinistral naik dengan dip < 45 ( Thrust left slip fault ).
20. Sesar naik sinistral dengan dip < 45 ( Left thrust slip fault ).
21. Sesar naik sinistral dengan dip > 45 ( Left reverse slip fault ).
22. Sesar sinistral naik dengan dip > 45 ( Reverse left slip fault ).
Tabel 2 Diagram klasifikasi sesar, Rickard 1972.
( A ). Klasifikasi sear berdasarkan segitiga dip pitch.
( B ). Segitiga Dip pitch.

Hade Bakda Maulin Structural Geologist


bakda_maulin@yahoo.com ** 0812 2345 137

Kekar
Kekar adalah suatu rekahan yang sedikit atau tidak mengalami pergeseran, terjadi
oleh gejala tektonik maupun non tektonik.
Secara kejadiannya,kekar akibat gejala tektonik dapat dibedakan menjadi dua
jenis yaitu:
1. Shear (Kekar Gerus), terjadi akibat adanya tegasan
2. Tension (Kekar Tarikan).
Kekar tarikan dapat dibedakan sebagai :
1. Tension Fracture, yaitu kekar tarik yang bidang rekahnya searah dengan
tegasan. Kekar jenis inilah yang biasanya terisi oleh cairan hidrothermal
yang kemudian berubah menjadi vein.
2. Release Fracture, yaitu kekar tarik yang terbentuk akibat hilangnya atau
pengurangan tekanan, orientasinya tegaklurus terhadap gaya utama. Struktur
ini biasa disebut dengan stylolite.
Kekar merupakan salah satu struktur yang sulit untuk diamati, sebab kekar dapat
terbentuk pada setiap waktu kejadian geologi, misalnya sebelum terjadinya suatu lipatan.
Kesulitan lainnya adalah tidak adanya atau relatif kecil pergeseran dari kekar, sehingga
tidak dapat ditentukan kelompok mana yang terbentuk sebelum atau sesudahnya.
Walaupun demikian, di dalam analisis, kekar dapat dipakai untuk membantu
menentukan pola tegasan, dengan anggapan bahwa kekar-kekar tersebut pada
keseluruhan daerah terbentuk sebelum atau pada saat pembentukan sesar. Dalam
penentuan jenis sesar cara ini sangat lemah dan data yang dipakai tidak hanya kekar,
tetapi juga jalur sesar yang dapat diamati dari peta topografi, foto udara dan citra landsat.
Pemodelan patahan mendatar oleh Harding dkk ( 1971 )
Harding, Wilcox dan seely (1971) mendesain beberapa percobaan menggunakan
adonan lempung (clay cake), untuk mengevaluasi pola struktur yang berkembang di atas
patahan mendatar. Adonan lempung diletakkan diatas panel metal yang dapat digerakkan
berlawanan arah secara bersamaan. Lingkaran lingkaran diletakkan agar keterakannya
dapat terlihat. Pergerakan awal dari patahan mendatar pada panel metal menghasilkan
gangguan pada lempung yang ditunjukan oleh perubahan lingkaran menjadi elips.
Hade Bakda Maulin Structural Geologist
bakda_maulin@yahoo.com ** 0812 2345 137

Kemudian lempung mulai patah di daerah yang paralel di dalam zona pergerakan
utamanya. Seiring dengan kejadian yang terus menerus, lingkaran lingkaran ini secara
perlahan terpatahkan.
Patahan patahan

atau rekahan rekahan yang dihasilkan dari percobaan

menggambarkan geometri dan kinematik dari Riedel Shearing atau dikenal pula dengan
simple shear (Gambar 2.3) yaitu karakteristik hubungan geometri dari pasangan patahan
mendatar, dengan kesimpulan sebagai berikut :
1. Sesar mendatar Riedel ditandai dengan adanya sepasang Riedel Shear (R
dan R) yang berarah 300 terhadap tegasan maksimum (1). Pergerakan
dalam Riedel Shear terhadap R di sebut sebagai synthetic faults yang relatif
sejajar dengan

patahan utama (Major Faults . R merupakan arah

berikutnya setelah terjadi R yang disebut sebagai antithetic faults dengan


pergerakan memotong major faults. Dalam suatu sistem yang lain akan
timbul pula synthetic P dan X sebagai antithetic faults membentuk sudut 10
terhadap patahan utama.
2. Tegasan utama 1 membentuk sudut 450 terhadap major faults.

Gambar 3 Pemodelan Riedel Shear.

Hade Bakda Maulin Structural Geologist


bakda_maulin@yahoo.com ** 0812 2345 137

Teori Sistem Sesar Mendatar Moody dan Hill ( 1956 )


Berdasarkan percobaan yang dilakukan oleh Moody dan Hill yang meneliti
hubungan tegasan utama terhadap unsur unsur struktur yang terbentuk maka muncul
teori pemodelan sistem Sesar Mendatar Moody dan Hill atau dikenal pula dengan pure
shear sebagai berikut :
1. Jika suatu materi isotropic yang homogen dikenai oleh suatu gaya kompresi
akan menggerus (shearing) pada sudut 300 terhadap arah tegasan
maksimum yang mengenainya. Penyimpangan maksimum dari sudut antara
gaya kompresi dan bidang penggerusan adalah kurang dari 45, hal ini
diyakini akibat adanya internal friksi atau sudut geser dalam pada batuan.
2. Suatu kompresi stres yang mengenai suatu materi isotropik yang seragam,
pada umumnya dapat dipecahkan ke dalam tiga arah tegasan (sumbu
tegasan maksimum, menengah dan minimum) dan salah satu dari tiga arah
tegasan tersebut akan berarah vertikal.
3. Orde ketiga dalam sistem ini arahnya akan mulai menyerupai arah orde
pertama, sehingga tidak mungkin untuk membedakan orde keempat dan
seterusnya dari orde pertama, kedua, dan orde ketiga. Akibatnya tidak akan
muncul jumlah tak terhingga dari arah tegasan. Sistem ini dipecahkan ke
dalam delapan arah shear utama, empat antiklinal utama dan arah patahan
naik untuk segala province tektonik. Dalam kenyataan kenampakan orde
pertama dan orde kedua dapat kita bedakan dengan mudah, namun
kenampakan orde ketiga dan orde-orde selanjutnya pada umumnya sulit
sekali untuk ditemukan.

Hade Bakda Maulin Structural Geologist


bakda_maulin@yahoo.com ** 0812 2345 137

Gambar 4 Pemodelan sesar mendatar Moody dan Hill (1956)

Jika bidang gerus akibat pure shear I membentuk suatu en echelon ( berjajar )
sehingga membentuk koridor koridor, maka sistem Riedel I atau simple shear I akan
bekerja. Dalam koridor dimana sistem Riedel bekerja akan membentuk pula pola tegasan
utama yang membentuk sistem pure shear II, demikian seterusnya sampai gaya berhenti.
Selain dari dua pemodelan di atas banyak pula pemodelan pemodelan struktur
geologi yang telah di buat. Untuk membandingkan hasil pemodelan pemodelan
tersebut, maka dibuatlah tabel hubungan sudut antara sesar utama dengan struktur
penyerta dari hasil penelitian ( Tabel .3 ).

Hade Bakda Maulin Structural Geologist


bakda_maulin@yahoo.com ** 0812 2345 137

Tabel 3 Hubungan sudut antara sesar utama dengan unsur penyertanya, dari beberapa ahli.

Keterangan :
Sudut antara sesar utama dengan lipatan utama.
Sudut antara sesar utama ( S ) dengan R dan R1 ( subsidiary shear

fracture ).

Sudut antara 1 akibat pure shear I dengan 1 akibat pure shear II

atau simple

shear I.
= Sudut antara 1 /kekar tensional ( vein ) akibat pure shear 1 dengan sesar
utama akibat pure shear 1.
= Sudut antar sesar utama dengan dengan 1 akibat pure shear II atau vein
akibat simple shear I.
= Sudut antara sesar utama dengan sumbu lipatan subsidiary / drag fold.

Hade Bakda Maulin Structural Geologist


bakda_maulin@yahoo.com ** 0812 2345 137