Anda di halaman 1dari 18

JURNAL ILMIAH

PERJANJIAN PINJAM NAMA PERUSAHAAN DALAM PROYEK


PEMBANGUNAN

OLEH
TRI AYU APRIANA
D1A 010 209

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS MATARAM
MATARAM
2014

HALAMAN PENGESAHAN JURNAL ILMIAH

PERJANJIAN PINJAM NAMA PERUSAHAAN DALAM PROYEK


PEMBANGUNAN

OLEH
TRI AYU APRIANA
D1A 010 209

Menyetujui,
Mataram,

Agustus 2014

Pembimbing Utama

Dr. H. Sudiarto, SH. M.Hum


NIP : 195801011987031004

ABSTRAK
PERJANJIAN PINJAM NAMA PERUSAHAAN DALAM PROYEK
PEMBANGUNAN
TRI AYU APRIANA
D1A 010 209
FAKULTAS HUKUM
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui mekanisme dan prosedur
pinjam nama perusahaan dan untuk mengetahui perlindungan hukum
terhadap perusahaan dalam perjanjian pinjam nama untuk kegiatan proyek
jika terjadi penyalahgunaan. Metode penelitian yang digunakan adalah
penelitian hukum normatif. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa
mekanisme dan prosedur pinjam nama perusahaan dilakukan berdasarkan
kesepakatan para pihak yang melakukannya tanpa ada perjanjian tertulis,
dimana pemilik perusahaan mendapatkan sejumlah uang sebagai imbalan
dari peminjaman perusahaan. Dalam praktik pekerjaan konstruksi tersebut
dikerjakan atas nama dan tanggung jawab dari perusahaan yang dipinjam,
sehingga tanggung jawab atas pekerjaan konstruksi tersebut menjadi
tanggung jawab pemilik perusahaan, dengan demikian tidak ada
perlindungan hukum terhadap perusahaan jika dalam pelaksanaan
pekerjaan konstruksi tersebut terjadi wanprestasi yang dilakukan oleh
peminjam perusahaan.
Kata kunci : Perusahaan, konstruksi
ABSTRACT
CREDIT AGREEMENT IN PROJECT DEVELOPMENT
COMPANY NAME
The purpose of this study is to determine the mechanisms and procedures
of borrowed company name and to know the legal protection of the
company in the borrowed agreement for the name of the project activity in
the event of misuse. The research method used is a normative. The results
of the study as follows: 1. Based on the survey results revealed that the
mechanisms and procedure of borrowed company name do by agreement
of the parties without any written agreement, where the owner of the
company get some money in exchange of borrowing companies. 2. In the
practice of that construction works do on behalf of and responsibility of
the companies that borrowed, thus there is no legal protection for the
company if the execution of the construction works of default made by the
borrower company.
Keywords : company, construction

PENDAHULUAN
Pada umumnya, suatu

pekerjaan konstruksi diberikan oleh

pengguna jasa kepada penyedia jasa yang memenuhi persyaratan seperti


disebutkan

diatas.

Namun

dalam

kenyataannya

seringkali

terjadi

penyalahgunaan oleh oknum-oknum tidak bertanggungjawab. Misalnya saja


pada pengerjaan suatu proyek konstruksi, seorang kontraktor yang
mengerjakan suatu proyek konstruksi bukan pemilik perusahaan jasa
konstruksi yang memenangkan tender pada proses lelang. Kontraktor
tersebut hanya meminjam nama perusahaan yang bersangkutan untuk
mendapatkan proyek konstruksi yang diinginkan. Setelah kontraktor yang
bersangkutan selesai mengerjakan proyek konstruksi tersebut, ia akan
memberikan fee sebesar 3% kepada pemilik nama perusahaan konstruksi
yang dipinjam tadi. Penyalahgunaan seperti ini sudah sangat banyak terjadi
dikalangan masyarakat jasa konstruksi, dan dikenal dengan istilah pinjam
nama atau pinjam bendera.
Pinjam nama atau pinjam bendera dalam pengerjaan suatu proyek
konstruksi seperti ini tentu akan menimbulkan permasalahan. Selain dapat
menimbulkan masalah pajak, transaksi pinjam nama ini juga dapat
menimbulkan masalah hukum. Contohnya jika hal ini dimanfaatkan untuk
hal-hal negatif atau melanggar hukum. Sesuai dengan Undang-Undang
Nomor 18 tahun 1999 Pasal 11 yang menyebutkan bahwa pihak yang harus
bertanggung jawab dalam hal ini adalah pihak yang memiliki izin usaha. Hal
ini tentu sangat merugikan pihak yang memiliki izin usaha karena harus

mempertanggung jawabkan pekerjaan konstruksi yang sebenarnya tidak


dikerjakannya.
Perjanjian pinjam nama oleh kontraktor seperti ini belum diatur
dalam peraturan perundang-undangan. Selaian itu, tidak ada payung hukum
bagi pemilik perusahaan yang dipinjam nama atau bendera perusahaannya
oleh kontraktor lain jika terjadi penyalahgunaan. Rumusan Masalah.
Berdasarkan uraian diatas ada beberapa permasalahan yang dapat dibahas
dalam penelitian ini, yaitu : 1) Bagaimanakah mekanisme dan prosedur
dalam pinjam nama perusahaan? 2) Bagaimanakah perlindungan hukum
terhadap perusahaan dalam perjanjian pinjam nama untuk kegiatan proyek ?
Tujuan dan Manfaat, 1) Tujuan penelitian, Adapun tujuan dari penelitian ini
adalah : a) Untuk mengetahui mekanisme dan prosedur pinjam nama
perusahaan. b) Untuk mengetahui perlindungan terhadap perusahaan dalam
perjanjian pinjam nama untuk kegiatan proyek jika terjadi penyalahgunaan.
2) Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kegunaan dari sisi: a) Praktis.
(1) Diharapkan dapat memberikan masukan bagi para pihak yang terkait
dalam perjanjian pinjam nama dalam pengerjaan sebuah proyek. (1)
Diharapkan bermanfaat bagi pemilik perusahaan konstruksi (CV) yang
kurang memahami akibat dari praktek pinjam nama oleh kontrakor. b)
Teoritis, Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat teoritis yang
berupa sumbangan bagi pengembangan ilmu hukum, khususnya yang
berkaitan dengan perjanjian. Penelitian ini memfokuskan pada

metode

penelitian hukum normatif, yaitu melakukan penelitian dikepustakaan.


Bahan Kepustakaan diperoleh dengan menggunakan teknik studi dokumen
dengan melakukan identifikasi terhadap bahan-bahan pustaka yang
dibutuhkan dalam penelitian ini, serta membaca, menelaah dan mengutip
hal-hal yang penting yang berkaitan dengan penelitian ini.

PEMBAHASAN
Mekanisme dan Prosedur dalam Pinjam Nama Perusahaan
Walaupun sistem pengadaan barang/jasa pemerintah sudah
ditetapkan dan melalui proses yang panjang dan rumit, namun dalam
praktiknya masih ada praktik-praktik kecurangan yang dilakukan. Seperti
yang muncul dan menjadi pokok permasalahan adalah sebuah perusahaan
penyedia barang/ jasa atau perorangan meminjam nama perusahaan lain
untuk mengikuti pelaksanaan pengadaan barang/jasa di instansi pemerintah.
Perusahaan yang ditunjuk sebagai pemenang pada proses pengadaan
barang/jasa tidak mengerjakan proyek pembangunan tersebut, pelaksanaan
pekerjaan dilakukan oleh perusahaan atau pihak yang telah meminjam nama
perusahaan tersebut. Perusahaan yang tercatat namanya sebagai penyedia
jasa tadi hanya meminjamkan nama atau bendera perusahaannya saja kepada
perusahaan atau pihak lain.
Dalam

pembahasan

ini

penulis

akan

menguraikan

atau

mengkaitkan perjanjian pinjam nama perusahaan dengan perjanjian pada


umumnya. Menurut Pasal 1313 KUH Perdata, perjanjian adalah perbuatan
dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang
lain atau lebih. Dari peristiwa ini timbullah suatu hubungan hukum antara
dua orang atau lebih yang disebut perikatan yang didalamnya terdapat hak
dan kewajiban masing-masing pihak.
Ada beberapa azas yang dapat ditemukan dalam Hukum Perjanjian,
salah satunya adalah azas konsensualitas, yaitu bahwa suatu perjanjian dan

perikatan yang timbul telah lahir sejak detik tercapainya kesepakatan,


selama para pihak dalam perjanjian tidak menentukan lain. Azas ini sesuai
dengan mekanisme dan prosedur dalam perjanjian pinjam nama perusahaan
yang terjadi tanpa adanya suatu perjanjian tertulis. Hanya terjadi
kesepakatan antara pemilik perusahaan dengan kontraktor peminjam.
Kontraktor yang meminjam nama perusahaan akan memberikan fee sebesar
3% dari nilai suatu proyek yang akan dikerjakan.
Azas konsensualitas sesuai dengan ketentuan Pasal 1320 KUH
Perdata mengenai syarat-syarat sahnya perjanjian, yaitu : 1) Sepakat mereka
yang mengikatkan dirinya Artinya bahwa para pihak yang mengadakan
perjanjian itu harus bersepakat atau setuju mengenai perjanjian yang akan
diadakan tersebut, tanpa adanya paksaan, kekhilafan dan penipuan; 2)
Kecakapan, Yaitu bahwa para pihak yang mengadakan perjanjian harus
cakap menurut hukum, serta berhak dan berwenang melakukan perjanjian.
Dalam Pasal 1330 KUH Perdata disebutkan orang-orang yang
tidak cakap untuk membuat perjanjian, yakni : (1) Orang yang belum
dewasa (berumur kurang dari 21 tahun); (2) Mereka yang berada dibawah
pengampuan; (3) Semua orang yang dilarang oleh undang-undang untuk
membuat perjanjian-perjanjian tertentu; 3) Mengenai suatu hal tertentu. Hal
ini maksudnya adalah bahwa perjanjian tersebut harus mengenai suatu
obyek tertentu. Menurut Pasal 1332 BW ditentukan bahwa barang-barang
yang bisa dijadikan obyek perjanjian hanyalah barang-barang yang dapat
diperdagangkan. Ketentuan dalam Pasal tersebut menunjukkan bahwa dalam

perjanjian harus jelas apa yang menjadi obyeknya sehingga perjanjian dapat
dilaksanakan dengan baik. 4) Suatu sebab yang halal.Yaitu isi dan tujuan
suatu perjanjian haruslah berdasarkan hal-hal yang tidak bertentangan
dengan undang-undang, kesusilaan dan ketertiban.
Syarat nomor 1 dan 2 disebut dengan syarat subyektif karena
mengenai subyek yang mengadakan perjanjian. Jika syarat subyektif tidak
terpenuhi maka perjanjian itu dapat dibatalkan. Sedangkan syarat nomor 3
dan 4 disebut syarat obyektif karena mengenai obyek dari suatu perjanjian.
Jika syarat obyektif tidak terpenuhi, maka perjanjian itu akan batal demi
hukum. Artinya sejak semula tidak pernah dilahirkan suatu perjanjian dan
tidak pernah ada suatu perikatan.
Selain merupakan perjanjian tidak tertulis, perjanjian pinjam nama
juga tidak memenuhi syarat sahnya perjanjian sebagaimana yang telah
tercantum dalam Pasal 1320 KUH Perdata. Obyek dalam perjanjian pinjam
nama perusahaan adalah nama atau bendera dari perusahaan bersangkutan.
Sedangkan dalam syarat sahnya perjanjian, yang dapat dijadikan sebagai
obyek pada perjanjian adalah barang atau benda, baik yang telah ada
maupun yang akan ada. Sehingga dapat dikatakan bahwa perjanjian pinjam
nama tidak memenuhi syarat sahnya perjanjian.
Dalam Pasal 17 Undang-Undang No. 18 Tahun 1999 tentang Jasa
Konstruksi dikatakan bahwa pengikatan dalam hubungan kerja jasa
konstruksi dilakukan berdasarkan prinsip persaingan yang sehat melalui
pemilihan penyedia jasa dengan cara pelelangan umum atau terbatas.

Perjanjian pinjam nama dapat dikatakan sebagai bentuk pengikatan yang


dilakukan para pihak dalam hubungan kerja jasa konstruksi, namun
perjanjian pinjam nama tidak dilakukan berdasarkan prinsip persaingan yang
sehat karena dilakukan dengan cara tidak jujur dan melawan hukum.
Persaingan dikatakan tidak sehat apabila dilakukan dengan cara tidak jujur,
melawan hukum atau menghambat persaingan usaha. 1
Praktek peminjaman nama perusahaan ini umumnya disebabkan
oleh persyaratan-persyaratan yang ditetapkan bagi penyedia jasa untuk
mengikuti proses lelang sangat rumit. Selain itu dalam proses pengadaan
barang/jasa khususnya pengadaan jasa konstruksi tidak dapat diikuti oleh
semua penyedia barang/jasa karena tidak semua syarat-syarat yang
ditetapkan panitia lelang dapat dipenuhi oleh penyedia barang/jasa.
Peminjaman nama perusahaan ini tentu dilakukan dengan
persetujuan Direksi atau pun Pengurusnya. Selain itu praktek peminjaman
nama perusahaan ini juga dilakukan tanpa sepengetahuan panitia lelang
yang menyelenggarakan pengadaan lelang barang/jasa, khususnya lelang
jasa konstruksi. Praktek peminjaman nama perusahaan tersebut merupakan
perjanjian dibawah tangan antar penyedia barang/jasa. Tidak dilakukan
dengan perjanjian tertulis, melainkan hanya dengan kesepakatan antara para
pihak yang melakukannya dan tanpa pengesahan dari pejabat yang
berwenang. Perjanjian pinjam nama merupakan perjanjian innominat, karena
tidak disebutkan dan tidak diatur secara jelas dalam KUH Perdata, namun

Arie Siswanto, Persaingan Usaha Tidak Sehat, Ghalia Indonesia, Jakarta, 2002, hlm. 78

berkembang dalam masyarakat dan tidak memiliki kekuatan pembuktian


yang sempurna karena hanya merupakan perjanjian dibawah tangan.
Perlindungan Hukum Terhadap Perusahaan dalam Perjanjian Pinjam
Nama untuk Kegiatan Proyek
Pasal 55 Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 2000 tentang
Penyelenggaraan Jasa Konstruksi jo. Peraturan Pemerintah No. 59 Tahun
2010 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi menyebutkan mengenai
larangan persekongkolan bagi pengguna jasa dan penyedia jasa atau antar
penyedia jasa dan atau sub penyedia jasa, yaitu sebagai berikut : (1)
Pengguna jasa dan penyedia jasa atau antar penyedia jasa dilaranag
melakukan persekongkolan untuk mengatur dan atau menentukan pemenang
dalam pelelangan umum atau pelelangan terbatas sehingga mengakibatkan
terjadinya persaingan usaha yang tidak sehat; (2) Pengguna jasa dan
penyedia jasa dilarang melakukan persekongkolan untuk menaikkan nilai
pekerjaan (mark up) yang mengakibatkan kerugian bagi masyarakat dan atau
keuangan Negara; (3) Pelaksana konstruksi dan atau sub pelaksana
konstruksi dan atau pengawas konstruksi dan atau sub pengawas konstruksi
dilarang melakukan persekongkolan untuk mengatur dan menentukan
pekerjaan yang tidak sesuai dengan kontrak kerja konstruksi yang
merugikan pengguna jasa dan atau masyarakat; (4) Pelaksana konstruksi dan
atau sub pelaksana konstruksi dan atau pengawas konstruksi dan atau sub
pengawas konstruksi dan atau pemasok dilarang melakukan persekongkolan
untuk mengatur dan menentukan pemasokan bahan dan atau komponen

bangunan dan atau peralatan yang tidak sesuai dengan kontrak kerja
konstruksi yang merugikan pengguna jasa dan atau masyarakat; (5)
Pengguna jasa dan atau penyedia jasa dan atau pemasok yang melakukan
persekongkolan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat (3),
dan ayat (4) dikenakan sanksi sesuai peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
Selanjutnya dalam Pasal 87 ayat (3) Peraturan Presiden No. 54
Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah jo. Peraturan
Presiden No. 70 Tahun 2012 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
dikatakan bahwa penyedia barang/jasa dilarang mengalihkan pelaksanaan
pekerjaan utama berdasarkan kontrak dengan melakukan subkontrak kepada
pihak lain, kecuali sebagian pekerjaan utama kepada penyedia barang/jasa
spesialis. Dalam peraturan-peraturan ini tidak diatur mengenai larangan
peminjaman nama perusahaan, begitu juga dengan perlindungan hukum
terhadap penyedia jasa (perusahaan) yang melakukan peminjaman nama
perusahaan jika terjadi penyalahgunaan atau wanprestasi oleh pihak
penyedia jasa peminjam nama perusahaan.
Penyedia jasa konstruksi yang tidak masuk dalam kualifikasi dan
kompetensi namun berminat untuk mengikuti lelang pengadaan barang dan
jasa tersebut tentunya akan berupaya agar tetap dapat mengikuti lelang yang
dimaksud. Salah satu caranya adalah dengan meminjam nama perusahaan
lain yang masuk kualifikasi untuk mengikuti lelang tersebut dan apabila
perusahaan yang dipinjam namanya tersebut menang dalam lelang maka

pelaksana pekerjaan adalah penyedia jasa (Perusahaan) yang meminjam


nama perusahaan tersebut.
Praktek-praktek semacam ini tidak akan menimbulkan kerugian
bagi pengguna barang/jasa apabila dilaksanakan pengawasan yang ketat
dalam pelaksanaan pekerjaan sesuai spesifikasi tekhnis yang telah
ditentukan dalam kontrak. Namun bila tidak ada pengawasan secara ketat
maka sedikit banyak akan menurunkan kualitas pekerjaan. Kerugian yang
diderita

oleh

penyedia

jasa

(perusahaan)

pemenang

lelang

dan

penandatanganan kontrak adalah apabila kualitas pekerjaan yang dikerjakan


oleh perusahaan peminjam nama hasilnya kurang baik, atau perusahaan
peminjam nama tersebut melakukan wanprestasi yang berakibat pada
menurunnya kredibilitas perusahaan yang dipinjam namanya tersebut.
Dalam hal seperti ini tidak ada bentuk perlindungan yang akan didapatkan
oleh penyedia jasa yang dipinjam nama perusahaannya karena pinjam nama
perusahaan merupakan perjanjian dibawah tangan yang tidak memiliki
kekuatan pembuktian yang sempurna. Pihak peminjam nama perusahaan
bisa saja mengelak dari permintaan penyedia jasa yang dipinjam untuk
bertanggung jawab atas kualitas hasil pekerjaannya atau melakukan
wanprestasi karena tidak ada hal yang dapat membuktikan bahwa pihak
peminjamlah yang bertindak sebagai pelaksana dalam suatu proyek
pembangunan. Pihak peminjam nama perusahaan mengerjakan proyek
pembangunan tersebut atas nama dan tanggung jawab dari perusahaan yang
dipinjam, maka dengan sendirinya tanggung jawab atas pekerjaan konstruksi

tersebut menjadi tanggung jawab pemilik perusahaan. Karena penyedia jasa


yang menandatangani kontrak adalah penyedia jasa yang meminjamkan
nama perusahaannya kepada pihak lain. Dengan demikian tidak ada
perlindungan hukum terhadap perusahaan jika dalam pelaksanaan pekerjaan
konstruksi tersebut terjadi wanprestasi yang dilakukan oleh peminjam
perusahaan.

PENUTUP
Kesimpulan
Perjanjian pinjam nama perusahaan adalah merupakan kesepakatan
para pihak yang dilakukan secara tidak tertulis antara pemilik perusahaan
dengan

pihak

yang

meminjam

nama

perusahaan

tersebut

untuk

melaksanakan pekerjaan konstruksi dari proyek yang dibiayai oleh APBN


dan/atau APBD, dimana pemilik perusahaan mendapatkan sejumlah uang
sebagai imbalan dari peminjaman perusahaan dan

peminjam dapat

menggunakan nama perusahaan tersebut dengan memberikan sejumlah


uang. Seluruh tanggung jawab atas pekerjaan tersebut menjadi tanggung
jawab pemilik perusahaan. Dalam praktik pekerjaan konstruksi tersebut
dikerjakan atas nama dan tanggung jawab dari perusahaan yang dipinjam,
maka dengan sendirinya tanggung jawab atas pekerjaan konstruksi tersebut
menjadi tanggung jawab pemilik perusahaan. Dengan demikian tidak ada
perlindungan hukum terhadap perusahaan jika dalam pelaksanaan pekerjaan
konstruksi tersebut terjadi wanprestasi yang dilakukan oleh peminjam
perusahaan.
Saran
Diharapkan kepada panitia penyelenggara proses lelang untuk lebih jeli
dalam mencermati persyaratan-persyaratan yang diberikan oleh penyedia
barang/jasa pada saat pendaftaran peserta lelang serta dalam melakukan
evaluasi dokumen administrasi dan teknis serta penawaran untuk
menghindari praktek peminjaman nama perusahaan dalam pelaksanaan

lelang. Diharapkan pula kepada pihak penyedia barang/jasa (perusahaan)


yang meminjamkan nama perusahaannya pada waktu yang akan datang
untuk tidak melakukan praktek-praktek semacam itu, karena bila terjadi
penyalahgunaan oleh pihak perusahaan peminjam akan menimbulkan
kerugian inmateril bagi perusahaan yang dipinjamkan namanya, yaitu
hilangnya kepercayaan pemerintah sebagai pengguna barang/jasa terhadap
perusahaan tersebut serta hilangnya kesempatan untuk mengikuti lelang
pengadaan barang/jasa pada masa yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA

1.

Buku Dan Makalah


Ashadie, Zaeni, 2005, Hukum Bisnis, PT. Raja Gravindo, Jakarta.
Darminto, Eko Sri, 2006, Akibat Hukum Peminjaman Nama Badan Usaha
Dalam Lelang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Ditinjau Dari
Keputusan Presiden No 80 Tahun 2003 Dipemerintah Provinsi
Jawa Tengah, Tesis Megister Kenotariatan Universitas Diponegoro.
Harahap, Yahya, 1992, Hukum Perjanjian Indonesia, Djambatan, Jakarta.
Isparoyini, Baiq, 1987, Tanggung Jawab Kontraktor Dan Konsultan Terhadap
Hasil Kerja Dan Permasalahannya Studi Di Kabipaten Lombok
Timur, Skripsi Fakultas Hukum Universitas Mataram.
Konok,

Uugie,
2011,
Persekutuan
Komanditer,
http://www.artikelhukum.com, Diakses tgl 31 maret 2014.

Mail, Curcor, 2010, Pengerrian Konstruksi, http://www.artikelhukum.com,


Diakses tgl 18 maret 2014.
Meliala, A. Qiram Syamsudin, 1985, Pokok-Pokok Hukum Perjanjian Beserta
Perkembngannya, Liberty, Yogyakarta.
Muhammad, Abdul Kadir, 1992, Hukum Perikatan, Citra Aditya Bakti,
Bandung.
Nahasan, Jeanot, 2010, Prosedur, Syarat Dan Cara Mendirikan CV,
http://www.artikelhukum.com, Diakses tgl 31 maret 2014.
Patrik, Pirwahid, 1994, dasar-Dasar Hukum Perikatan, Mandar Maju,
Bandung.
Prodjodikoro, R. Wirjono. 1993, Asas-Asas Hukum Perjanjian, Sumur,
Bandung.

Rahayu, Sri, 2012, Definisi Dari CV (Comanditaire venootschap),


http://www.artikelhukum.com, Diakses tgl 26 maret 2014.
Rahayu,

Srikandi, 2010, Seputar Pengertian Perlindungan Hukum,


http://www.artikelhukum.com, Diakses tgl 26 maret 2014

Satrio, J, 1995, Hukum Perikatan, Perikatan Yang Lahir Dari Perjanjian,


PT.Citra Aditya Bakti, Bandung.
Setiawan, R, 1994, Pokok-Pokok Hukum Perikatan, Bina Cipta Bandung.
Sinungan, Mucdarsyah, 1990, Kredit Seluk Beluk Dan Pengelolaannya,
Tograf, Yogyakarta.
Siswanto, Arie, 2001, Persaingan Usaha Tidak Sehat, Ghalia Indonesia,
Jakarta.
Subekti, R, 1993, Hukum Perjanjian, PT. Internusa, Jakarta.

2.

Paraturan Perundang-Undangan
Indonesia, Undang-Undang No. 18 Tahun 1999 Tentang Jasa Konstruksi. LN
No. 54 Tahun 2000 TLN No. 3833
Indonesia,

Peraturan Pemerintah No. 59 Tahun 2010 Tentang


Penyelenggaraan Jasa Konstruksi. LN No. 59 Tahun 2010

Indonesia, Peraturan Presiden No. 70 Tahun 2012 Tentang Pengadaan


Barang/Jasa Pemerintah. LN No. 155 Tahun 2012 TLN No. 5334