Anda di halaman 1dari 13

Lampiran

MATI KETAWA GAYA MAHASISWA


Analisis Wacana Anekdot (Politis) dalam Majalah Balairung, 1997—19991

HASAN BACHTIAR2

1. Pendahuluan

1.1. Latar Belakang


Barangkali di hampir semua negeri, terutama di banyak negeri Dunia Ketiga, “kaum
intelektual” masih menjalankan peran sosial yang nyata dan penting. Kaum inilah yang
disebut-sebut sebagai motor penggerak perubahan sosial. Proposisi ini, diakui banyak
orang, benar—dan, karenanya, terus-menerus direproduksi sebagai alat pembentuk
kesadaran sosial.
Mahasiswa adalah bagian dari kaum intelektual itu. Terutama di Indonesia, peran-
peran sosial mahasiswa dalam sejarah dan dinamika negeri ini telah diakui, meski
selama ini masih belum secara terbuka ditulis di buku-buku sejarah nasional “resmi”
selama Orde Baru lalu, yang sarat muatan militerisme. Fakta termutakhir yang
membuktikan proposisi ini ialah peran aktif mahasiswa dalam Gerakan Reformasi yang
merobohkan rezim otoriter Orde Baru dan berhasil menurunkan Soeharto dari kursi
presiden yang telah didudukinya selama 32 tahun, pada bulan Mei 1998. Dus, menjadi
mahasiswa di negeri miskin seperti Indonesia otomatis menyandang predikat “kaum
revolusioner”!
Oleh karena fakta, cerita, dan sekaligus citra—tentang “peran revolusioner”
mahasiswa—itu masih berlangsung hingga kini, maka fenomena ini patut dikaji secara
terus-menerus dalam rangka mendapatkan pemahaman yang paling akurat tentang
faktor-faktor apa saja penyebabnya, bagaimana faktor-faktor itu bekerja (secara empiris
maupun simbolis), dan sejauh mana dampak yang diakibatkan oleh sebuah gerakan
(politik) mahasiswa.
Maka, melalui studi ini, sebagai pengkaji linguistik, penulis tertarik untuk mengkaji
Gerakan Mahasiswa, sebuah gejala sosial-politik, dengan teropong dan pisau analisis
yang sesuai dengan disiplin penulis, yaitu perspektif dan metode linguistik. Usaha ini
dikerjakan untuk mengungkap dan memahami relasi-relasi simbolis-kebahasaan yang
terjadi di dalam fenomena hiruk-pikuk Gerakan Mahasiswa.

1.2. Rumusan Masalah


Secara umum, pertanyaan penelitian yang ingin dijawab melaiui studi ini ialah:
bagaimanakah pandangan mahasiswa tentang, dan lantas sikap mereka terhadap,
dinamika politik Indonesia? Untuk menjawab pertanyaan ini, muncul pertanyaan
lanjutan yang mesti dijawab lebih dulu: melalui sarana apakah pemeriksaan atas
pandangan mahasiswa tentang dan sikap mereka terhadap dinamika politik Indonesia
bisa dilakukan?
Memang, ada banyak sarana yang selama ini dipakai mahasiswa untuk
mengekspresikan pandangannya tentang dan sikap mereka terhadap dinamika politik
Indonesia: demonstrasi, seminar, dll. Di antara banyak sarana itu, salah satunya ialah
pers mahasiswa, yaitu pers yang diterbitkan oleh, dari, dan pertama-tama untuk dibaca

1 Makalah ini diajukan sebagai tugas mata kuliah “Seminar Linguistika” (SAI-5411) di Jurusan Sastra
Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pada Semester Genap, Tahun Akademi
2002—2003, yang diampu oleh Prof. Dr. I Dewa Putu Wijana.
2 Penulis adalah mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

(NIM: 98/122813/SA/11156), yang mengambil minat/spesialisasi linguistika. Copyleft © 2003.

Page 1 of 13
oleh khalayak mahasiswa sendiri serta lantas publik yang lebih luas. Maka, jelas bahwa
pers mahasiswa merekam dan mencerminkan pelbagai pandangan mahasiswa tentang
dan sikap mereka terhadap dinamika politik Indonesia.
Di dalam pers mahasiswa, beragam pandangan dan sikap politik mahasiswa itu
tampak dalam reportase-reportase, kajian-kajian, serta pelbagai ragam wacana
jurnalistik dan ilmiah. Salah satu ragam wacana jurnalistik pers mahasiswa yang khas,
dan akan penulis pilih sebagai suatu kasus khusus, ialah wacana anekdot politik. Wacana
anekdot politik ini, dengan demikian, merupakan suatu strategi retorika yang khas. Jadi,
secara khusus, pertanyaan penelitian yang ingin dijawab oleh studi ini ialah:
bagaimanakah pelbagai pandangan dan sikap mahasiswa tentang dan terhadap dinamika
politik Indonesia yang diungkapkan melalui strategi retorika yang khas berupa wacana
anekdot politik dalam pers mahasiswa?

1.3. Tujuan dan Manfaat


Paralel dengan rumusan masalah di atas, studi ini dikerjakan untuk mencapai dua
tujuan. Secara umum, studi ini hendak mengkaji Gerakan Mahasiswa, yang
sesungguhnya merupakan sebuah gejala sosial-politik, dengan perspektif dan metode
linguistik untuk mengungkap dan memahami relasi-relasi simbolis-kebahasaan yang
terjadi di dalamnya. Secara khusus, studi ini ingin melakukan suatu deskripsi kritis
tentang pelbagai pandangan dan sikap mahasiswa tentang dan terhadap dinamika politik
Indonesia sebagaimana terungkap dalam wacana anekdot politik dalam pers mahasiswa.
Lantas, manfaat apakah yang bisa diharapkan dari studi ini? Studi sosial-
humaniora semacam ini, yang menangani fakta-fakta kemanusiaan sebagai obyek
telaahnya, meminjam rumusan Kleden (1987), berusaha memenuhi dua macam
kemanfaatan atau relevansi. Pertama, secara ilmiah, studi ini ingin meluaskan spektrum
kajian kebahasaan di Indonesia yang, menurut Masinambouw (1998), terlalu didominasi
oleh paradigma/aliran Bloomfieldian, yang struktural dan abstrak, tak mengindahkan
konteks sama sekali. Atau, dengan lain perkataan, studi ini berada di antara barisan yang
memandang bahasa sebagai suatu fenomena praktik sosial-politik, atau pandangan
interdisipliner linguistik dan sejarah sosial-politik. Kedua, secara sosial, studi ini hendak
memberikan k-itik kepada Gerakan Mahasiswa, dan dengan itu format-format baru
Gerakan Mahasiswa sebagai—dalam rumusan Budiman (1977)—moral force ‘gerakan
moral’ dapat terus diperbarui demi meningkatkan efektivitas strategi dan taktik
perjuangannya.

1.4. Materi Studi


Studi ini dikerjakan di dalam ruang lingkup kedataan yang khusus, sebagai suatu
studi kasus. Maka, studi ini mengambil obyek penelitian berupa anekdot politik dalam
pers mahasiswa, dan bahan penelitian ini berupa wacana anekdot dalam pers
mahasiswa. Sebagai sebuah kajian linguistik yang bersifat tekstual, bahan studi ini
merupakan bahasa ragam tulisan. Untuk mencapai tingkat fokus yang cukup, studi ini
dibatasi mengambil data wacana-wacana anekdot yang terdapat dalam Rubrik Anekdot
Majalah Balairung, khususnya yang terbit antara tahun 1997—1999, sehingga terdapat
37 item wacana anekdot. Berikut adalah tabel rekapitulasi data tersebut:

Page 2 of 13
Rekapitulasi Wacana Anekdot Balairung 1997—19993
No. Edisi Judul Sampul Anekdot Halaman
1 26/1997 Gerakan Buruh: Dijerat Korporatisme Negara 6 102
2 27/1998 Hitam-Putih Pasca-Soeharto 6 90
3 28/1998 Carut-Marut Gerakan Kerakyatan: Mengapai 6 76
Impian Perubahan
4 29/1998 Menuju Masyarakat Multi-Ideologi: Bebas 7 80
Hambatan Ideologi Kiri
5 30/1999 Membaca Ekspresi Jogja 5 102
6 32/1999 Jangan Gadaikan Kampusku 7 94
Jumlah 37 item

Namun, sebelum bergerak lebih jauh, perlu dipertanyakan segera: mengapakah


ruang lingkup kedataan demikian dipilih? Mengapakah Majalah Balairung, bukan pers
mahasiswa yang lain, dan mengapa pula hanya dikhususkan pada edisi tahun 1997—
1999? Inilah dua alasannya.
Pertama, Majalah Balairung dipilih oleh karena reputasinya yang, secara nasional,
cukup baik. Majalah Balairung diterbitkan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Badan
Penerbit Pers Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UKM-BPPM-UGM). Pada tahun-
tahun 1998, 1999, dan 2000, Majalah Balairung menyabet tiga kali juara pertama
berturut-turut dalam kompetisi pers alternatif yang diselenggarakan aleh Institut Studi
Arus Informasi (ISAI), Jakarta. Di samping itu, di kalangan pers mahasiswa, nama
Majalah Balairung juga cukup terkenal, sebagaimana dituturkan oleh beberapa rekan
penulis yang aktif di pers mahasiswa pelbagai kampus. Sejak berdiri pada tahun 1985,
Majalah Balairung telah menghasilkan alumnus-alumnus yang kini menduduki posisi-
posisi strategis dalam kancah pers nasional. Maka, penulis berasumsi kuat, sajian-sajian
Majalah Balairung cukup mampu merepresentasikan wacana politik mahasiswa
Indonesia.
Kedua, periode 1997—1999 adalah suatu periode yang penting dalam sejarah sosial-
politik Indonesia, oleh karena di dalamnyalah rezim kekuasaan otoriter Orde Baru
tumbang dan rezim transisi naik ke puncak kekuasaan untuk memulihkan demokratisasi.
Dua pemilihan umum (pemilu) penting terjadi pada masa ini, yaitu Pemilu 1997, pemilu
terakhir Orde Baru yang menaikkan lagi Soeharto menjadi Presiden RI, dan Pemilu 1999,
yang disebut-sebut pemilu pertama di era Reformasi yang jurdil (jujur dan adil). Sebagai
sampel data, Majalah Balairung edisi 1997—1999 merekam masa pergolakan nasional
yang penting ini, dan darinyalah penulis ingin melihat bagaimana pandangan dan sikap
mahasiswa tentang dan terhadap dinamika politik Indonesia.

1.5. Tinjauan Pustaka


Banyak sekali studi telah dikerjakan, baik oleh ahli-ahli dari Indonesia sendiri
maupun luar Indonesia, untuk memahami fenomena Gerakan Mahasiswa di Indonesia.
Di sini akan ditinjau studi-studi dari dalam Indonesia yang telah terbit yang relevan
secara objektif dan metodologis, yaitu kesamaan dan perbedaannya, dengan studi ini.
Menyangkut kesamaan/kemiripan obyek kajian—namun dengan pendekatan dan
metode kajian yang berbeda—dengan studi ini, terdapat sejumlah studi, antara lain:
Simandjuntak (1973), Budiman (1977), Onghokham (1977), Magenda (1977), Simbolon

3 Sumber: data di atas diolah dari dokumentasi Pusat Informasi Pers Mahasiswa Indonesia (PIPMI), Divisi

Penelitian dan Pengembangan Majalah Balairung, 2002. Catatan: sebenarnya, antara tahun 1997—1999,
Balairung terbit sebanyak 7 edisi: 5 edisi reguler dan 2 edisi khusus. Namun, pada tahtun 1999, edisi khusus
pertama yang terbit berupa jurnal-ilmiah, yang memuat kumulan 9 artikel ilmiah karya para mahasiswa
UGM, dan tak diberi nomor edisi lanjutan, selain juga tak memuat Rubrik Anekdot. Kemudian, edisi khusus
yang kedua diterbitkan pada tahun 1999 pula, yang mengangkat isu otonomi kampus, yang di tabel ini
penulis beri nomor 31/1999.

Page 3 of 13
(1977), Mangiang (1979), Naipospos (1994), Wijoyo dkk. (1999), dan masih banyak lagi.
Namun, kajian-kajian tersebut hampir semuanya ditulis oleh para ilmuwan sosial yang,
terutama, menggunakan teropong politik, kesejarahan, dan pisau analisis ilmu politik
dalam menangani obyek studinya. Misalnya, kajian-kajian mereka dipusatkan pada
sejarah pertumbuhan dan dinamika, bagaimana metode organisasi gerakan, pola-pola
konflik dengan rezim penguasa, kritik dan otokritik paradigmatik, isu-isu yang diangkat
dan diperjuangkan, dll., yang kesemuanya masih berpijak pada pandangan sosial-politik.
Menyangkut kesamaan/kemiripan pendekatan dan metode kajian—namun dengan
obyek kajian yang berbeda—dengan studi ini, tiga buah studi yang perlu disebut di sini
ialah Hooker (1990), Teeuw (1994), dan Eriyanto (2000). Ketiganya menggunakan
metode analisis kebahasaan, khususnya analisis wacana, untuk menelaah pidato-pidato
politik Presiden Soeharto selarna Orde Baru, yang biasa disebut sebagai Amanat
Kenegaraan, yang diucapkan setiap tanggal 17 Agustus. Pada yang pertama, dengan
metode analisis wacana rumusan Halliday-Hassan, Hooker menelaah pidato-pidato
Soeharto sehubungan dengan program pembakuan (“pembinaan dan pengembangan”)
bahasa Indonesia, yang merupakan salah satu bagian penting dalam proyek
pembangunan(isme) Orde Baru. Pada yang kedua, Teeuw mengkaji “keformulaikan”
struktur wacana pidato-pidato Soeharto sehubungan dengan “kelisanan dan
keberaksaraan” masyarakat modern Indonesia. Dan pada yang ketiga, Eriyanto
membedah “retorika politik” Soeharto dalam pidato-pidatonya sehubungan dengan
bagaimana ”mode pencitraan dan pengukuhan rezim kekuasaan melalui hegemoni
wacana pembangunan”.
Sedangkan menyangkut kesamaan obyek kajian, yakni khususnya pers mahasiswa,
dan kemiripan metode dengan studi ini untuk sebagian, bisa dipaparkan sebentar di sini
studi-studi Dhakidae (1977), Siregar (1983), Raillon (1984), dan Supriyanto (1998).
Dhakidae menganalisis mode retorika koran-koran dan tema-tema liputan Gelora
Mahasiswa (UGM, Yogyakarta), Derap Mahasiswa (IK1P, Yogyakarta), dan Salemba
(UI, Jakarta), yang disebutnya mengandung advisory journalism (jurnalisme
menantang kekuasaan). Siregar mengulas sejarah pertumbuhan dan dinamika
perkembangan pers mahasiswa, juga tema-tema yang diangkat, sejak masa pramerdeka
hingga 1970-an. Raillon mengulas sejarah pertumbuhan dan dinamika serta isu-isu yang
diangkat koran Mahasiswa Indonesia (Bandung) yang terbit pada 1960—1970-an, yang
berkaitan erat dengan upaya awal konsolidasi rezim Orde Baru. Sedangkan Supriyanto
mengkaji dinamika pers mahasiswa sebagai bagian dari praktik politik mahasiswa era
1980-an, dan merupakan studi termutakhir tentang pers mahasiswa. Keempat studi ini
menjadikan pers mahasiswa sebagai obyeknya, dengan metode-metode analisis isi,
sejarah, dan politik.
Maka, di dalam studi ini, penulis ingin mengambil posisi mengkaji pers mahasiswa
dengan pendekatan linguistik dan metode analisis wacana. Topik ini, dengan perspektif
dan metode kajian seperti ini, sejauh pengetahuan penulis, masih sedikit dikerjakan—
untuk tak menyebutnya tak ada sama sekali.

1.8. Landasan Teori dan Metode


Tema yang dikaji dalam studi ini, dalam klasifikasi linguistik, biasa dimasukkan ke
dalam ranah kajian analisis wacana (discourse analysis). Beberapa ahli menyebut
analisis wacana memiliki landasan, dan lantas dimasukkan sebagai subdisiplin di dalam
rumpun, sosiolinguistik; sedangkan beberapa ahli lainnya menjadikan analisis wacana
sebagai subdisiplin di dalam pragmatik. Menurut Oetomo (1993), analisis wacana kini
sudah menjadi disiplin tersendiri yang merupakan “titik temu” antara berbagai disiplin
sosial-humaniora, yakni linguistik, psikologi sosial, sosiologi, dan antropologi, serta
kemudian sejarah, ilmu hukum, inteligensi artifisial, filsafat, ilmu komunikasi massa,
ilmu politik, dll. Jadi, analisis wacana, yang awalnya lahir dari linguistik-struktural,

Page 4 of 13
merupakan “jembatan bagi kontak sains yang transdisipliner”, atau suatu a new cross-
discipline (van Dijk, 1985).
Disepakati oleh banyak ahli, analisis wacana merupakan suatu analisis kebahasaan
yang mengambil unit analisis satuan lingual yang tertinggi/terlengkap (di atas fonem,
morfem, frasa, klausa, kalimat). Misalnya, menurut Kriidalaksana (2001: 1), wacana
(discourse) adalah “satuan bahasa terlengkap, dalam hierarki gramatikal merupakan
satuan gramatikal tertinggi atau terbesar”. Realisasi wacana antara lain berupa karangan
yang utuh (novel, buku teori, ensiklopedi, dsb.), paragraf, kalimat, atau kata yang
memuat amanat/informasi yang lengkap. Secara lebih detail, Tarigan (1987)
mendeskripsikan struktur wacana (lisan/tulisan) sebagai “fungsi” yang terdiri atas
“bentuk”: leksem, gramatika, intonasi, fonem, dan substansi. Yang juga senantiasa tak
dilupakan oleh para ahli dalam mendefinisikan wacana adalah unsur kohesi (kepaduan
bentuk) dan koherensi (keutuhan makna), yang saling menunjang (Djajasudarma, 1994).
Sebelum itu, para ahli sedikit berbeda pendapat dalam membedakan antara wacana
bahasa ragam lisan (oral/spoken/uttered discourse) dan tulisan (literal/written
discourse). Namun, secara umum, analisis wacana bahasa ragam lisan biasanya disebut
analisis-tuturan (utterance analysis) dan analisis wacana bahasa ragam tulisan dinamai
analisis-teks (text-analysis), dan dalam perkembangannya yang terakhir inilah yang
disebut analisis-wacana (discourse-analysis). Dalam studi ini, wacana yang dikaji adalah
wacana bahasa ragam tulisan, dan juga metodenya akan cukup disebut analisis-wacana.
Namun demikian, harus diakui, definisi tersebut cuma bersifat sttruktural atau
formal, dan muncul dari rumpun disiplin mikrolinguistik yang hingga kini masih
menjadi “arus utama” (mainstream). Seiring dengan perkembangan zaman dan
masyarakat, setelah dikaji lebih jauh, pelbagai wacana tampil dalam pelbagai ragam
bentuk, isi, dan bahkan muatan-muatannya yang tersembunyi (hidden). Bahkan, wacana
ternyata diproduksi, didistribusi, dan dikonsumsi dalam pelbagai mode. Kesemua segi
yang bersifat nonformal pada wacana itu, rupanya, juga menuntut perhatian yang lebih
mendalam sebab terbukti bahwa segi-segi nonformal banyak memengaruhi segi-segi
formal wacana. Karenanya, definisi wacana di atas dirasa tidak mencukupi, khususnya
oleh kalangan pascastrukturalis.
Maka, kalangan pascastrukturalis mengajukan definisi wacana yang agak lain,
namun tanpa menegasikannya atau malahan melengkapinya. Paradigma yang dianut
kalangan pascastrukturalis mencoba melihat bahasa senantiasa sebagai praktik-wacana
(discursive-practice) (Hikam, 1996), bukan sebagai persoalan bahasa an sich, yang
berupa suatu sistem abstrak. Kalangan pascastrukturalis terutama menitikberatkan
kajiannya pada segi konteks, selain mengelaborasi segi-segi substansial, serta mode-
mode produksi-distribusi-konsumsi wacana. Kalangan ini muncul dalam suatu gerakan
yang biasa dinamai kritisisme-literer atau kritik sastra (literary criticism).4 Maka,
analisis wacana ini biasa pula dinamai analisis wacana kritis (critical discourse
analysis) (Fairclough, 1995; Eriyanto, 2001).
Seorang yang menjadi banyak rujukan kalangan pascastrukturalis, Foucault (1972),
mengajukan tiga definisi wacana, yang menjadi kesatuan kumulatif, sebagai berikut: (1)
the general domain of all statements, (2) an individualizable group of statements,
dan (3) a regulated practice which account for a number of statements.
Selanjutnya, wacana ini dibentuk (constituted) oleh pengetahuan (knowledge),
kebenaran (truth), dan kuasa (power). Dengan demikian, pendek kata, wacana adalah
“medan pertarungan kekuasaan” (the field of power struggle)! Wacana senantiasa
bersifat institusional, dan secara sosial wacana selalu kontekstual. Wacana pasti muncul
dalam kerangka hubungan dengan wacana-wacana lainnya, entah berupa dialog ataupun

4 Gerakan ini, di antaranva, menderivasi dirinya dalam bentuk kajian budaya (cultural studies) dan
kajian pascakolonial (postcolonial studies), yang menerapkan pelbagai metode untuk topik-topik riset
baru yang sebelumnya tidak terjamah.

Page 5 of 13
oposisi/kontras/konflik. Pada akhirnya, wacana akan selalu memiliki makna (meaning),
daya-kekuatan (force), sekaligus dampak (effect) (Mills, 1997).
Melampaui itu semua, di dalam studi ini, penulis akan menerapkan sebuah teori
analisis wacana yang menengahi kedua kutub strukturalisme-linguistik dan kritisisme-
literer di atas, yaitu teori analisis wacana rumusan Halliday dan Hassan (1992).5 Secara
sederhana, Halliday dan Hassan merumuskan tiga komponen kunci wacana, dan
menjadikannya kerangka kerja analitis/metodis untuk mengkaji wacana yang—setelah
penulis ubah susunannya—meliputi:
1. SARANA WACANA (mode of discourse), yang mengidentifikasi bagian yang
diperankan oleh bahasa, hal yang diharapkan oleh para pelibat diperankan bahasa
dalam situasi itu: “organisasi simbolik teks”, kedudukan yang dimilikinya, dan
fungsinya dalam konteks, termasuk salurannya (apakah dituturkan atau dituliskan
atau semacam gabungan keduanya?) dan juga mode retorikanya, yaitu apa yang
akan dicapai teks berkenaan dengan pokok pengertian seperti bersifat membujuk,
menjelaskan, mendidik, dan semacamnya;
2. PELIBAT WACANA (tenor of discourse), yang mengidentifikasi “orang-orang
yang mengambil bagian”, pada sifat para pelibat, kedudukan dan peranan mereka:
jenis-jenis hubungan peranan apa yang terdapat di antara para pelibat, termasuk
hubungan-hubungan tetap dan sementara, baik jenis peranan tuturan maupun
rangkaian keseluruhan hubungan-hubungan yang secara kelompok mempunyai arti
penting yang melibatkan mereka; dan
3. MEDAN WACANA (field of discourse), yang mengidentifikasi hal-hal yang sedang
terjadi, pada sifat tindakan sosial yang sedang berlangsung: apa sesungguhnya yang
sedang disibukkan oleh para pelibat, yang didalamnya bahasa ikut serta sebagai
unsur pokok tertentu.
Rumusan kerangka kerja analitis Halliday dan Hassan ini memungkinkan penulis
untuk menemukan interaksi yang berlangsung di antara teks, koteks (informasi-
informasi dari teks-teks penyertanya), dan situasi yang melingkupinya atau konteks.

1.9. Prosedur Studi


Di sini akan diuraikan hal-hal sehubungan dengan prosedur/tahapan studi. Studi
ini dikerjakan melalui tiga tahap standar penelitian bahasa: (1) penyediaan data, (2)
analisis data, dan (3) penyajian hasil analisis data (Sudaryanto, 1993).
Dalam tahap pertama, penyediaan data, dilakukan pengumpulan bahan penelitian,
berupa bahan mentah yang lantas diolah menjadi balan jadi. Bahan mentah studi ini
berupa kliping wacana-wacana anekdot politik mahasiswa yang termuat di dalam Rubrik
Anekdot Majalah Balairung yang diterbitkan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Badan
Penerbit Pers Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UKM-BPPM-UGM). Sejak terbit
pada tahun 1985, Majalah Balairung kini telah mencapai edisi yang ke-36. Namun,
dengan pertimbangan sebagaimana telah penulis uraikan di atas, di sini hanya Edisi
26/1997 s.d. Edisi 36/1999 yang akan dikaji. Bahan ini penulis dapatkan dari
dokumentasi koleksi lengkap Majalah Balairung milik perpustakaan Pusat Informasi
Pers Mahasiswa Indonesia (PIPMI) yang dikelola oleh Divisi Litbang Balairung. Dari
sejumlah 6 edisi Balairung, terdapat 6 lembar kliping Rubrik Anekdot, yang berisi
wacana anekdot sejumlah total 37 item.
Selanjutnya, dalam tahap kedua, analisis data, terlebih dahulu seluruh data tadi
diklasifikasikan. Ke-37 item wacana anekdot tersebut, yang dicatat dalam kartu data,
berhasil penulis klasifikasikan menjadi dua tipe wacana anekdot: (1) wacana anekdot
“dialogis” dan (2) wacana anekdot “narati”. Data dianalisis dengan komponen-komponen
teori analisis wacana rumusan Halliday dan Hassan (1992). Lantas, hasil analisis itu

5 Sampai di sini, secara metodologis, studi ini memiliki kemiripan dengan studi Hooker (1990)
sebagaimana telah dipaparkan di atas.

Page 6 of 13
dikomposisikan dengan data-data tambahan baik koteks, yang berupa informasi di dalam
Majalah Balairung sendiri, maupun konteks, yang berupa informasi-informasi
berdasarkan data sejarah-politik untuk melihat, dan menghubungkannya dengan, peta dan
situasi sosial-politik makro yang melingkupinya.
Dalam tahap ketiga, penyajian hasil analisis data, hasil studi ini disajikan dalam tiga
bab: Bab I Pendahuluan, yang menjelaskan Latar Belakang, Rumusan Masalah, Tinjauan
Pustaka, Tujuan dan Manfaat, Materi Studi, Landasan Teori dan Metode, serta Prosedur
Studi; Bab II Pembahasan, yang menyajikan hasii analisis yang meliputi Sarana Wacana,
Pelibat Wacana, dan Medan Wacana; dan Bab III Penutup, yang merumuskan Simpulan
dan Saran. Di bagian terakhir akan disertakan Daftar Pustaka yang dirujuk studi ini.

2. Pembahasan

2.1. Sarana Wacana


Anekdot merupakan suatu jenis wacana khusus yang tergolong humor. Sebagai
humor, tentu saja tujuan finalnya adalah melucu, atau merangsang tawa dan bahagia
pendengar/pembaca. Lebih dari itu, memang, sejumlah teori tentang humor menyebut
tujuan humor bisa saja sebagai suatu kritik sosial—dan pandangan ini sungguh-sungguh
terbukti melalui studi ini. Diakui, kritik yang dilontarkan dengan humor akan
mengurangi rasa ketersinggugan pihak yang dikritik. Sebabnya, dengan dikemas sebagai
biasanya percakapan sehari-hari, yang bertujuan mempererat keakraban, dalam dialog-
dialog yang cerdas yang diperankan oleh tokoh-tokoh rekaan maupun karikatural, humor
akan bisa dipakai untuk “melihat suatu kemwetan sosial dengan kaca mata yang lain”.
Namun, mengapakah sebuah kritik (oleh mahasiswa) perlu dilontarkan dengan
humor? Efektifkah cara demikian? Jawaban untuk pertanyaan ini, tiada lain, bisa
ditemukan dalam konteks sosial humor sebagai suatu praktik kebahasaan, yakni situasi
sosial-politik dalam mana anekdot-anekdot yang dikaji studi ini muncul: situasi sosial-
politik Indonesia pada masa Orde Baru dan sesudahnya. Jelas, model kritik sosial
dengan anekdot seperti ini banyak muncul terutama dalam konteks rezim Orde Baru
Indonesia dulu yang antikritik—sehingga, meminjam komentar karikaturis G.M. Sudarta
(1997), “ngritik dikit dibilang anti!” Mengk-ritik melalui humor anekdot akan membuat
si-yang-dikritik tak cepat merah telinga—atau jikapun memerah telinganya maka akan
cepat kembali menyunggingkan senyum. Dus, kritik semacam ini tak akan berekses
konfrontasi.
Secara formal, penulis mencatat terdapat dua tipe wacana anekdot dalam
Balairung. Pertama, tipe wacana anekdot dialogis. Anekdot tipe ini adalah yang
terbanyak. Wacana anekdot tipe ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut: umumnya
percakapan dua atau lebih orang aktor, dan karenanya berisi kutipan-kutipan kalimat
percakapan yang langsung. Contoh untuk tipe yang pertama adalah sebagai berikut:

(Wacana 30.4)
Gedung Soeharto
Suatu sore pada bulan November 1998, Patrick Chesnet, koresponden koran Peoples du
Monde, Prancis, berkunjung ke UGM. Patrick dan seorang kawannya asli Yogya, sebut saja
Basuki, hendak meliput acara Dialog Parpol.
Malamnya, mereka memutuskan jalan kaki ke Hall Balairung (Gedung Pusat), tempat resepsi
pembukaan Dialog Parpol dilangsungkan. Saat melewati Graha Sabha Pramana, terjadilah
percakapan singkat.
Patrick: “Ada acara apa di sana?”
Basuki: “Ooo, itu pesta pernikahan. Aula itu dulu pembangunannya dibiayai Soeharto.”
Lantas, mereka melanjutkan perjalanan. Sesampai di Balairung UGM, Patrick memancing
obrolan lagi.
Patrick: “Gedung ini tampak klasik. Siapa perancangnya?”
Basuki: “Nah, kalau gedung ini Soekarno yang mendesain.”
Patrick: “Hebat! Gedung buatan Soeharto untuk pesta kawin, gedung buatan Soekarno untuk
dialog politik.”

Page 7 of 13
Anekdot ini tergolong bertipe dialogis karena berisi dialog antara dua tokoh, yaitu
Basuki dan Patrick Chesnet, dan diawali dengan narasi singkat untuk memberikan latar
waktu dan tempat secukupnya, yaitu di Gedung Pusat UGM dan momen Dialog Parpol
yang digelar UGM pada tahun 1999. Bentuk wacana anekdot semacam ini memang telah
umum.
Kedua, tipe wacana anekdot naratif. Ciri-ciri tipe anekdot ini sebagai berikut:
berupa narasi singkat tentang suatu peristiwa, kalaupun ada aktornya biasanya hanya
satu aktor, yang bisa dikutip langsung dan tidak komentar-anekdotisnya. Contoh
anekdot tipe ini sebagai berikut:

(Wacana 27.4)
Gajah
Suatu hari di Thailand ada seekor gajah yang mogok dan menghalangi jalan di mana delegasi
para pemimpin negara-negara ASEAN menuju tempat konferensi. Untuk mengatasinya, sudah
banyak pawang gajah yang mencaba menghalau gajah tersebut, termasuk beberapa delegasi
konferensi, tetapi si gajah tetap tidak beranjak dari tempatnya.
Tiba-tiba datang delegasi Indonesia dan ormas keagamaan. Mendekatlah ia dan berbisik di
telinga gajah tersebut. Tanpa diduga, gajah tersebut langsung lari tunggang-langgang. Delegasi
lainnya keheranan dan ingin tahu. Dengan tersenyum-senyum, ia membuka rahasia apa yang
dibisikkannya ke telinga gajah tadi: “Kalau kamu nggak mau pergi dari sini, kamu akan saya
bawa ke Indonesia untuk saya ikutkan penataran P-4!”

Anekdot ini tergolong bertipe anekdot naratif karena berisi narasi saja, tak ada
dialog yang melibatkan tokoh-tokoh dalam percakapan secara langsung, yang
mengungkapkan topik dalam latar ruang dan waktu pula. Tipe anekdot seperti ini juga
sudah umum, dan di Balairung lebih sedikit jumlahnya ketimbang yang dialogis.

2.2. Pelibat Wacana


Semua anekdot ditulis dalam bentuk dialog maupun narasi vang mengungkapkan
komentar seorang atau lebih tokoh. Para tokoh di dalam anekdot diciptakan dalam
karakter-karakter sebagai konstruksi sosial, yang meliputi ak-tor-aktor pada dua aras
perpolitikan: di tingkat negara (state-politics) maupun di tingkat masyarakat (society-
politics). Jadi, tampaknya, pada yang pertama, anekdot-anekdot ini mengungkapkan
kekonyolan, hipokrisi (kemunafikan), maupun kesadisan/kekejaman politik kalangan-
penguasa; dan sebaliknya, pada yang kedua, merekam serta mengartikulasikan denyut
nadi, gurauan, rerasanan (Jawa: gosip), maupun protes politik kalangan-terkuasa,
rakyat umum.
Di antara kalangan-penguasa yang diungkap paradoks-paradoks perilaku politiknya
dalam anekdot-anekdot Balairung ialah birokrat sipil, polisi, dan militer—lebih khusus
intelijen. Berikut adalah sebuah contoh anekdot yang mengungkap kekejaman perilaku
politik intelijen terhadap mahasiswa, terutama pada masa massifikasi protes mahasiswa
tahun 1997, secara satiris:

(Wacana 26.5)
Interogasi
Seorang demonstran yang tertangkap diinterogasi oleh petugas intel berbadan kekar, yang
lebih mirip gali.
“Siapa namamu! Cepat jawab!”
“Apalah arti sebuah nama.”
“Di mana kuliahmu, setan!”
“Kuliah saya di seluruh alam semesta ini.”
“Siapa dosenmu, anjing!”
“Dosen saya Tuhan.”
Dengan penuh emosi, ditonjoklah muka demonstran itu, lalu dibentaknya, “Tahukah
sekarang kamu ada di mana, bajingan!”
“Bukankah saya sekarang ada di rumah sakit jiwa,” jawab mahasiswa tanpa ekspresi.

Page 8 of 13
Sebuah contoh lagi perlu ditampilkan di sini untuk mengungkap kekonyolan
perilaku kebahasaan kaum birokrat Orde Baru. Perilaku semacam ini khususnya dan
terutama kerap, dan lantas menjadi ejekan untuk, parole ‘idiolek’ Soeharto yang gemar
mengucapkan sufiks/akhiran -kan menjadi -ken. Demikian meluas peniruan dikerjakan
oleh banyak birokrat Orde Baru dari eselon pusat (Jakarta) hingga daerah terhadap
perilaku linguistis (linguistic act) Soeharto ini. Anehnya, perilaku linguistis ini pulalah
yang ditentang oleh kalangan linguis di Pusat Bahasa, sebuah lembaga rekayasa bahasa
nasional yang disokong Soeharto sepenuh-penuhnya. Inilah anekdot tersebut:

(Wacana 28.4)
Biar Ken-Tut
Sebagai anak pertama presiden, Mbak Tutut melakukan kunjungan ke daerah. Ketika
berkunjung ke Aceh, dalam upacara penyambutan Mbak Tutut dianugerahi gelar
kebangsawanan oleh pemuka masyarakat aceh dengan nama Cut Nyak Tut. Namun, Mbak Tutut
marah. Ia merasa nggak sreg dengan nama itu, lalu ia protes kepada Gubernur.
“Lha gimana lagi, lho, Bu Tut,” jawab Gubernur tak berdaya.
Tutut tambah marah. Ia makin merasa terhina oleh Gubernur yang menyebutnya Bu-Tut.
Mengadulah ia kepada bapaknya, Soeharto. Tapi, apa lacur, Soeharto kayaknya tak begitu peduli
dengan persoalan putri sulungnya, dan menjawab, “Mbok biar-ken, Tut.”
Tutut pun terdiam.

Sedangkan di antara kalangan-terkuasa vang direkam serta diartikulasikan denyut


nadi, gurauan, rerasanan, maupun protes politiknya ialah orang awam, ilmuwan, guru
dan murid, serta—terutama—mahasiswa sendiri, dll. Misalnya, anekdot berikut
menggambarkan bagaimana rakyat bawah merespon situasi represi Orde Baru terhadap
segala bentuk aktivitas politik, bahkan termasuk sekadar obrolan ringan di warung kopi:

(Wacana 28.3)
Bicara Politik
Pada waktu Soeharto masih berkuasa, lima orang duduk termenung mengelilingi meja
sebuah kedai kopi. Salah seorang dari mereka menghela nafas panjang, seorang lagi tercenung.
Orang ketiga menggeleng-gelengkan kepala, putus asa, dan orang keempat menangis.
Orang kelima pun berbisik dengan ketakutan, “Hati-hati, kawan. Kalian semua tahu, tidak
aman membicarakan politik di depan umum."

Selain itu, sebuah contoh berikut, dialog di antara seorang kakek dengan cucunya,
menampilkan gerundelan politik rakyat bawah tentang absolutisme Orde Baru dengan
topangan Golkar, yang bersimbol terkenal pohon beringin dan warna kuning, dan
hegemoni wacana antikomunisme:

(Wacana 27.5)
Misteri Sebuah Pohon
Seorang kakek bercerita kepada cucunya tentang sebuah pohon besar yang tumbuh di tengah
kuburan desa. “Pohon ini dulu kakek tanam sebagai peringatan adanya penyakit aneh yang
hampir menghabiskan seluruh laki-laki di desa ini, Cu.”
“Penyakit macam apa itu, Kek?”
“Kebanyakan orang menyebutnya communist-phobia.”
“Memangnya sekarang ada yang aneh dengan pohon ini, Kek?
Jawab sang kakek dengan keheranan, “Kakek tak menyangka pohon ini sekarang bisa
menjadi single majority di negeri ini.”

2.3. Medan Wacana


Anekdot-anekdot politik mahasiswa, sebagai suatu jenis wacana, khususnya politik,
muncul bukan dari kondisi-kondisi yang vakum. Ada latar belakang situasional-nasional
yang menjadi konteks lahirnya anekdot-anekdot kritis dalam pers mahasiswa itu, yaitu
peristiwa-peristiwa politik pada periode 1997—1999 yang dicoba disorot oleh Balairung.
Dan mahasiswa Indonesia sungguh-sungguh mempersoalkannya! Kesemua peristiwa
politik itu terjadi dalam masa-masa knisial sejarah perpolitikan Indonesia: transisi

Page 9 of 13
demokrasi dari Orde Baru menuju Orde Reformasi; yang ditandai dengan dua pemilu
penting: Pemilu 1997, pemilu rekayasa Orde Baru, yang mengangkat lagi Soeharto
sebagai Presiden RI untuk keenam kalinya, dan Pemilu 1999, pemilu demokratis dan
jurdil pertama pasca-Orde Baru, yang diselenggarakan pada saat Habibie berkuasa
menggantikan “lengser keprabon”-nya Soeharto, yang lantas menghasilkan rezim
Abdurrahman Wahid.
Pada tahun 1997, banyak fakta dan peristiwa politik yang terjadi, sebagaimana
tampak dari kritik-kritik dalam anekdot-anekdot Balairung. Akumulasi penderitaan
sosial akibat negara yang salah-urus menghasilkan serangkaian krisis, dimulai dari krisis
ekonomi (utang luar negeri yang tak terbayar, nilai mata uang rupiah yang jatuh) hingga
politik dan sosial. Maka, terjadilah pula massifikasi protes kaum buruh dan mahasiswa,
menentang korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) kekuasaan, dan menuntut
pembongkaran praktik-praktik najis tersebut. Para mahasiswa yang berdemonstrasi
menentang rezim despot banyak yang ditangkapi aparat keamanan, diculik, disiksa,
bahkan dibunuh. Tak pelak, tahun 1997 merupakan tahun pamungkas bagi
totalitarianisme Orde Baru, sebab isu suksesi kepresidenan mulai ditiupkan kencang-
kencang. Kemarahan rakyat dan mahasiswa, khususnya terhadap Soeharto, amat tampak
dalam anekdot berikut:

(Wacana 27.1)
Malaikat Maut
Alkisah, malaikat akan mencabut nyawa seorang raja yang sudah tua renta. Ketika sang raja
sedang tidur, malaikat akan mengambil nyawa raja itu, namun tak ditemukan di tubuhnya.
Akhirnya, raja pun terbangun sambil mengumpat, “Enak aja ambil nyawa orang tanpa izin,
ngomong dulu, dong! Tuh nyawa gua ada di Bank Dunia sebagai jaminan utang.”
Malaikat pun pergi ke Bank Dunia tetapi nyawa sang raja takkan diberikan sebelum utang--
utangnya dilunasi. Malaikat pun putus asa dan kembali menghadap Tuhan. Dengan termenung
sejenak, Tuhan pun berfirman, “Beri dia kesempatan untuk hidup lebih lama lagi, biar dapat
melunasi utang luar negerinya yang setinggi gunung itu.”

Pada tahun 1998, politik Indonesia mengalami ekskalasi yang luar biasa. Soeharto
mengundurkan diri sebagai presiden pada tanggal 21 Mei 1998—dengan meninggalkan
sekian luka dan belang yang tak karuan. Di sini, anekdot-anekdot Balairung tampil untuk
menyoroti pelbagai masalah yang merupakan warisan Orde Baru, yang meliputi isu-isu
ekonomi (krisi ekonomi, utang luar negeri), politik (totalitarianisme dan kekokohan
presiden, perilaku kekuasaan, Habibie sebagai murid setia Soeharto, kekejaman militer
dan politisi, absolutisme Golkar), sosial (maraknya seminar untuk menyambut reformasi,
citra orang Indonesia di luar negeri sebagai pemerkosa, proyek mercusuar TMII, dll.),
agama (politisasi isu agama dan gender untuk mengganjal Megawati), dan pendidikan
(hegemoni wacana Pancasila-isme Orde Baru).
Sebuah anekdot bisa dikutipkan di sini untuk menyoroti masalah dosa-dosa politik
para penguasa Orde Baru, yang menunjukkan “kegemasan” mahasiswa, yang terbit di
bawah subjudul rubrik khusus “Anekdot Edisi Soeharto KO” (Balairung, Edisi 28/Th.
XIII/1998):

(Wacana 28.5)
Di Bawah Kaki Soeharto
Di neraka, berkumpullah para mantan pejabat Indonesia yang saat berkuasa giat berkorupsi
dan menindas rakyat. Mereka direndam di dalam air yang mendidih. Tubuh mereka tenggelam
sesuai tingkat dosa mereka.
Harmoko tenggelam sebatas leher, I.B. Sujana sebatas perut, Tutut bahkan tenggelam habis.
Tapi, di situ terlihat Soeharto hanya tenggelam sebatas mata kaki.
Proteslah Harmoko melihat hal itu. “Tuhan, bukankah dulu Bapak Presiden yang
menyebabkan kami melakukan korupsi dan penindasan?”
Dengan tenang Tuhan menjawab, “Harmoko, tak tahukah engkau di bawah kaki Soeharto itu
ada Hartono?”

Page 10 of 13
Pada tahun 1999, ekskalasi politik Indonesia masih tinggi, namun pelan-pelan
mendingin seiring rezim baru mulai menjalankan roda kekuasaannya. Isu-isu yang
disoroti anekdot-anekdot politik Balairung masih banyak berhabungan dengan kritik-
kritik atas penyakit-penyakit warisan Orde Baru, selain itu juga perilaku politik penguasa
baru: Abdurrahman Wahid. Yang menarik, karena menjadi edisi khusus Balairung
menyambut 50 tahun UGM, ialah munculnya isu otonomi kampus, yang biasa disebut
mahasiswa sebagai “swastanisasi kampus”, “kapitalisme pendidikan”, dll.
Mengenai perilaku Abdurrahman Wahid, kiai-presiden yang memiliki sedikit
kekurangan fisik (sakit mata akut) yang hobinya tur keliling luar negeri, namun tetap
diakui sebagai manusia yang sangat cerdas, dua buaah anekdot berikut cukup jitu dalam
membidik sasaran kritiknya:

(Wacana 31.3)
Si Buta dan Si Bisu
Alkisah, di suatu negeri yang penuh rahmat, hiduplah seorang lelaki buta dan adiknya,
seorang wanita bisu. Semua permintaan mereka kepada Tuhan selalu dikabulkan.
Si wanita bisu memohon kepada Tuhan dalam batinnya, “Berikanlah saya suara yang merdu
sehingga semua orang mau mendengarkan suara saya, Tuhan.” Kemudian, Tuhan
menjadikannya seorang penyanyi tenar.
Si lelaki buta memohon kepada Tuhan, “Ya, Tuhan, izinkanlah saya melihat dunia. Saya ingin
bepergian keliling dunia.” Tuhan mengabulkan juga permohonan si buta. Ia jadi presiden.

(Wacana 31.4)
Tender Proyek
Di sebuah negeri antah-berantah, hiduplah seorang intelektual buta yang sekarang
menduduki posisi paling penting di sana. la satu-satunya intelektual yang masih tersisa di sana.
Seluruh intelektual telah mati. Otak-otaknya dimakan penguasa sebelumnya yang kanibal.
Semua pengusaha berbondong-bondong datang kepadanya untuk mengajukan usulan
proyek. Para pengusaha itu ingin menikmati berbagai fasilitas dari negara. Usulan-usulan
diajukan satu-satu, dan diterima langsung oleh sang penguasa buta. Akhirnya, terpilihlah
seorang pemenang tender tersebut.
Seorang ajudannya heran dan bertanya, “Bagaimana Bapak bisa menentukan pemenangnya,
padahal Bapak buta?”
“Tenang sajalah,” jawabnya, “aku pilih yang mapnya paling tipis. Itulah yang paling sedikit
bohongnya.”

Isu pendidikan adalah isu yang paling dekat dengan mahasiswa, yang menjadi
hidupnya sehari-hari. Karenanya, kepekaan mereka amat tinggi terhadapnya. Menjelang
bulan Desember 1999, Balairung menerbitkan sebuah nomor khusus untuk
menyambut 50 Tahun UGM, yang diberi judul sampul “Jangan Gadaikan Kampusku”.
Edisi ini menampilkan kritik-kritik “telak” mereka terhadap proyek otonomi kampus,
khususnya di UGM, dalam dua buah anekdot. Anekdot pertama mengangkat segi
kelucuan dalam protes-protes mahasiswa, yang sangat gencar digalang, khususnya
tentang sikap birokrat kampus dalam menanggapi kritik mahasiswa. Anekdot kedua
menyoroti “kapitalisme pendidikan”, dalam bentuk dialog imajiner dengan tokoh
pendidikan-kritis alm. Romo Mangunwijaya.

(Wacana 31.1)
Otonomi 1
Para demonstran penentang otonomi PT telah tiba di Fakuftas Farmasi. Sang koordinator
lapangan terus berorasi, dilanjutkan dengan hiburan ringan. Sebagian lain menyimak sungguh-
sungguh. Kemudian, seorang mahasiswa demonstran keluar dari barisan. Ia meminta Dekan
Farmasi untuk memberikan orasi kilat soal otonomi PT.
Mahasiswa : Bapak kami minta menyampaikan orasi singkat.
Dekan : Maaf, ya, sa...sa...saya sedang nunggu telepon dari Jakarta. Sa...sama PD III
saja, ya!
Mahasiswa : Oh, ya. Jadi, bagaimana, Pak, isu otonomi PT versi rektorat?
PD III : Sa...sa...saya, apa Saudara nggak lihat! Saya sedang banyak kerjaan. Mau
nguji skripsi, ndak bisa diganggu. Pokoknya, saya setuju otonomi dengan segala keadilannya.

Page 11 of 13
(Wacana 31.2)
Otonomi 2
Kentot, mahasiswa Filsafat, sedang melakukan dialog spiritual dengan roh Romo Mangun. Ia
pesimis dengan rencana otonomi di kampusnya. Asap kemenyan pun mulai memenuhi bilik, dan
tibalah saat yang ditunggu-tunggu.
Kentot : Tolong kami, Romo, SPP akan naik dan kampus kami suatu saat akan dibeli orang
asing.
Romo : Itulah konsekuensi hidup di bumi.
Kentot : Jadi, harus bagaimana, Romo?
Romo : Kamu tenang sajalah, nggak usah khawatir. Percayalah apa yang dikatakan rektormu.
Dia ‘kan sudah bilang, kalau kamu nggak mau bersahabat dengan para kapitalis itu, hidup saja
di planet lain! Kayak saya ini, lho!

Sampai di sini, melalui studi yang pendek ini, bisa dilihat betapa aktifnya
mahasiswa merespon isu-isu aktual yang terjadi di sekitarnya. Tampaknya, tak akan ada
momen yang boleh lepas dari kritik, terutama kritik nylekit (Jawa: tajam) ala anekdot
mahasiswa dan pers mahasiswa.

3. Penutup

Bahasa takkan pernah lepas dari politik, betapapun banyak orang begitu fobia
terhadap istilah “politik” itu sendiri. Memilih memakai bahasa atau kata-kata tertentu,
menekankan pengertian tertentu atas kata-kata, bahkan menggunakan idiolek dan dialek
tertentu tiada lain dari berpolitik dalam maknanya yang paling luas dan dalam
(Pabottingi, 1996). Dus, praktik-bahasa adalah sekaligus praktik-politik, berartikulasi-
linguistis samalah dengan berartikulasi-politis. Tampak dari studi ini, mahasiswa
Indonesia telah berpolitik dengan cara mereka yang khas: memilih wacana-wacana
tertentu sebagai media artikulasi pandangan dan sikap politik mereka terhadap dinamika
politik nasional. Wacana itu adalah anekdot, yang diterbitkan melalui pers mahasiswa—
pers yang terbit oleh, dari, dan untuk mahasiswa sendiri, yang tak terkooptasi kekuasaan
yang mereka kritik. Mahasiswa sedang “mengolok-olok kekuasaan”, dengan strategi
“mati ketawa ala mahasiswa”. Maka, anekdot-anekdot politik mahasiswa dalam pers
mahasiswa telah menjadi suatu “wacana-tanding” (counter-discourse) terhadap
“wacana-dominan-hegemonik” (dominant-hegemonic-discourse) resmi dari negara.
Namun, sebuah kritik perlu diajukan di sini: benarkah anekdot merupakan media
kritik yang efektif? Apakah bisa muncul suatu perubahan struktural karena anekdot?
Bukankah seluruh peristiwa praktik bahasa dan politik ini tak lebih merupakan suatu
bentuk “frustasi politik” kaum-terkuasa, akibat aspirasi-aspirasi politiknya tak
terakomodasi di dalam proses-proses politik formal sehingga desakan perubahan
struktural pun tak terjadi?
Latar kemunculan anekdot-anekdot dalam pers mahasiswa ini bisa dibandingkan
dengan situasi serupa pada tahun-tahun 1980-an di Jerman, tatkala masih ada Jerman
Timur yang menganut ideologi sosialisme. Pada masa totalitarianisme, rakyat Jerman
Timur sangat aktif memproduksi anekdot-anekdot gosip politik, yang mengolok-olok
para pengnasanya, kaum komunis. Lantas, setelah Tembok Berlin diruntuhkan pada
tahun 1989, dan Jerman Bersatu, masyarakat eks-Jerman Timur yang sosialis pun
menyatu dengan masyarakat eks-Jerman Barat yang kapitalis. Dalam penyatuan ini,
ternyata, masih terjadi kesenjangan kultural: masyarakat eks-Jerman Timur bukanlah
masyarakat yang produktif secara ekonomis dibanding masyarakat eks-Jerman Barat.
Masyarakat eks-Jerman Timur adalah masyarakat yang frustasi, yang—setelah sekian
lama berada di bawah rezim totaliter—sudah kehilangan daya kreativitas hidupnya.
Jadi, apakah situasi demikian juga melanda masyarakat Indonesia pasca-Orde
Baru?

Page 12 of 13
Daftar Pustaka

Dhakidae, Daniel. “Penerbitan Kampus: Cagar Alam Kebebasan Pers”, dalam Prisma, No.
10/Oktober 1977.
Djajasudarma, Fatimah. 1994. Wacana: Pemahaman dan Hubuungan Antarunsur.
Bandung: Eresco.
Eriyanto. 2001. Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LKIS.
----------. 2000. Kekuasaan Otoriter: Dari Gerakan Penindasan Menuju Politik
Hegemoni (Studi atas Pidato-Pidato Politik Soeharto). Yogyakarta: Insist Press &
Pustaka Pelajar.
Fairclough, Norman. 1995. Critical Discourse Analysis: The Critical Study of Language.
London & New York: Longman.
Halliday, Michael Alexander Kirkwood, & Ruqaiyya Hasan. Bahasa, Konteks, dan Teks:
Aspek-Aspek Bahasa dalam Pandangan Semiotik Sosial. Penerjemah: Asruddin
Barori Tou. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Mills, Sara. 1997. Discourse. London & New York: Routledge.
Oetomo, Dede. 1993. “Pelahiran dan Perkembangan Analisis Wacana”, dalam Bambang
Kaswanti Purwo, ed. PELLBA 6. Yogyakarta: Kanisius & Lembaga Bahasa Atma Jaya
Jakarta.
Raillon, Francois. 1985. Polilik dan Ideologi Mahasiswa Indonesia: Pembentukan dan
Konsolidasi Orde Baru 1966—1974. Jakarta: LP3ES.
Siregar, Amir Effendi. 1983. Pers Mahasiswa Indonesia: Patah Tumbuh Hilang
Berganti. Jakarta: Karya Unipress.
Supriyanto, Didik. 1998. Perlawanan Pers Mahasiswa: Protes Sepanjang NKK/BKK.
Jakarta: Yayasan Sinyal & Pustaka Sinar Harapan.
Tarigan, Henri Guntur. 1987. Pengajaran Wacana. Bandung: Angkasa.

Page 13 of 13