Anda di halaman 1dari 27

3

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Sistem Muskuloskeletal
Sistem muskuloskeletal merupakan sistem tubuh yang terdiri dari
otot (muskulo) dan tulang-tulang yang membentuk rangka (skelet).
Otot adalah jaringan tubuh yang mempunyai kemampuan mengubah
energi kimia menjadi energi mekanik (gerak) . Sedangkan rangka adalah
bagian tubuh yang terdiri dari tulang-tulang yang memungkinkan tubuh
mempertahankan bentuk, sikap dan posisi (Sloane, 2004).
2.1.1 Fungsi Sistem Muskolosekletal
a) Fungsi Otot
1. Pergerakan. Otot menghasilkan gerakan pada tulang tempat otot
tersebut melekat dan bergerak dalam bagian-bagian organ internal
tubuh.
2. Penopang tubuh dan mempertahankan postur. Otot menopang
rangka dan mempertahankan tubuh saat berada dalam posisi berdiri
atau saat duduk terhadap gaya gravitasi.
3. Produksi panas. Kontraksi otot secara metabolis menghasilkan
panas untuk mempertahankan tubuh (Sloane, 2004).
b) Fungsi Tulang
1. Tulang memberikan topangan dan bentuk pada tubuh.
2. Pergerakan. Tulang berartikulasi dengan tulang lain pada sebuah
persendian dan berfungsi sebagai pengungkit. Jika otot-otot (yang
tertanam pada tulang) berkontraksi, kekuatan yang diberikan pada
pengungkit menghasilkan gerakan.
3. Perlindungan. Sistem rangka melindungi organ-organ lunak yang
ada dalam tubuh.
4. Pembentukan sel darah Sumsum tulang merah, yang ditemukan
pada orang dewasa dalam tulang sternum, tulang iga, badan
vertebra, tulang pipih pada kranium, dan pada bagian ujung
panjang, merupakan tempat produksi sel darah merah, sel darah
putih, dan trombosit darah.

5. Tempat penyimpanan mineral. Matriks tulang tersusun dari sekitar


62% garam anorganik, terutama kalsium fosfat dan kalsium
karbonat dengan jumlah magnesium, klorida, florida, dan sitrat
yang lebih sedikit. Rangka mengandung 99% kalsium tubuh.
Kalsium dan fosfor disimpan dalam tulang agar bisa ditarik
kembali dan dipakai untuk fungsi-fungsi tubuh, dan zat tersebut
kemudian diganti melalui nutrisi yang diterima (Sloane, 2004).
2.1.2 Anatomi Sistem Muskuloskeletal
A. Sistem Otot
Otot rangka manusia dapat menahan 3 sampai 4 kg tegangan per cm 2
potongan melintang. Karena banyak otot manusia memiliki potongan
melintang yang besar, tegangan yang dapat terjadi sangat besar.

Otot

gastroknemius, misalnya tidak hanya menyangga berat seluruh tubuh selama


memanjat, tetapi juga menahan gaya beberapa kali lebih besar dari pada berat
tubuh saat kaki menyentuh tanah pada waktu berlari atau melompat. Contoh
yang lebuh mencolok adalah otot gluteus maksimus, yang dapat menahan
tegangan 1200 kg. Tegangan total yang dapat dibuat apabila semua otot pada
tubuh seorang laki-laki dewasa diaktifkan adalah sekitar 22.000 kg (hampir 25
ton) (Ganong, 2005).

1. Otot rangka

Gambar 1. Otot rangka

Otot rangka terdiri dari serabut serabut yang tersusun dalam


berkas yang disebut fasikel. Semakin besar otot semakin
bnayak jumlah serabutnya (Sloane, 2004).
a. Epimisium adalah jaringan ikat yang rapat dan melapisi
keseluruhan otot dan terus berlnjut sampai ke fasia dalam.
b. Perimisium,mengacu pada ekstensi epimisium yang menenmbus
dalam otot untuk melapisi berkas fasikel.
c. Endomisium, adalah jaringan ikat halus yang melapisi setiap
serabut otot individual.
1. Otot bisep lengan pada lengan atas adalah otot yang besar
dan tersusun dari 260.000 serabut
2. Otot kecil seperti stapedius dalam telinga tengah hanya tdd
1.500 serabut. Lapisan jaringan ikat fibrosa membungkus
setiap otot dan masuk kebagian dalam untuk melapisis fasikel
dan serabut individual (Sloane, 2004).
2. Otot polos
Memiliki sifat kimia dan mekanis yang sama dengan otot rangka
tetapi ada beberapa karakteristik yang khas. Filamen myosin tebal
lebih panjang dibandingkan myosin tebal otot rangka. Miofilamen
tipis tidak memiliki troponin dan tropomiosin.

Dapat ditemukan

miofilamen berukuran sedang. yang tidak terlibat dalam proses


kontraktil tetpai berfungsi sebgai kerangka kerja sitoskletal untuk
menopang sel (Sloane, 2004).

Gambar 2. Otot polos

Gambar 3. Otot jantung

3. Otot jantung
Merupakan kombinasi otot rangka dan otot polos.
Miofilamen disusun dalam pola pemitaan regular sehingga otot
jantung berlurik. Filamen aktin tipis mengandung troponin dan
tropomiosin. Otot jantung memiliki tubulus T dan retikulum
sarkoplasma yang terbentuk dengan baik (Sloane, 2004).
2.1.3 Otot yang Berperan dalam Sistem Muskuloskeletal

a) Musculus bucinator, berfungsi sebagai kompresi (daya tekan) pipih dan


retraksi (gerakan menarik kembali) sudut mulut.
b) Musculus pterigoideus lateralis, persyarafan ramus mandibularis nervi
trigemini, berfungsi menonjolkan mandibula, membuka rahang, dan
menggerakan mandibula dari sisi ke sisi.
c) Musculus pterigoideus medialis, persyarafan ramus mandibularis nervi
trigemini, bertfungsi untuk menutup rahang.
d) Otot frontalis yang berfungsi untuk mengangkat alis mata, posisinya
tertletak di sekitar alis.
e) Otot orbikularis okuli berfungsi untuk menutup menutup kelopak mata,
posisinya terletak di kelopak mata.
f) Otot orbikularis oris berfungsi untuk mengkerutkan bibir.
g)
h)
i)
j)
k)
l)
m)
n)

Otot sternokleidomastoid yang berfungsi untuk memiringkan kepala.


Otot trapezius berfungsi untuk memperkuat bahu.
Otot pektoralis major berfungsi untuk memutar lengan.
Otot triseps dan otot biseps yang berfungsi untuk menggerakan lengan.
Otot serratus anterior yang berfungsi untuk menarik bahu sekeliling.
Otot rectus abdominus berfungsi untuk mengempiskan dinding perut.
Otot latisimus dorsi yang berfungsi untuk memperkuat punggung.
Otot sartorius yang berfungsi untuk memilin paha dan membengkokan

panggul dan lutut.


o) Otot gluteus maksimus yang berfungsi untuk meluruskan pinggul.
p) Otot guadriseps femoris berfungsi untuk menekukan pinggul dan
meluruskan lutut.
q) Otot peroneus yang berfungsi untuk melengkungkan kaki.
r) Otot gastroknemius yang berfungsi untuk mengangkat tumit dan menekuk
lutut.
s) Otot tibialis anterior yang berfungsi untuk mengangkat kaki.
t) Otot archiles tendon yang berfungsi untuk menggerakan telapak kaki
(Setiadi, 2011).
2.1.4 Mekanisme Kontraksi Otot
A. Mekanisme umum kontraksi otot
1. Suatu potensial aksi berjalan di sepanjang sebuah saraf motorik sampai
ke ujungnya pada serabut otot.
2. Di setiap ujung, saraf menyekresi substansi neurontransmiter, yaitu
asetilkolin, dalam jumlah sedikit.

3. Asetilkolin bekerja pada area setempat pada membran serabut otot untuk
membuka banyak kanal bergerbang asetilkolin melalui molekulmolekul protein yang terapung pada membran.
4. Terbukanya kanal bergerbang asetilkolin memungkinkan sejumlah besar
ion natrium untuk berdifusi ke bagian dalam membran serabut otot.
Peristiwa ini akan menimbulkan suatu potensial aksi pada membran.
5. Potensial aksi berjalan di sepanjang membran serabut otot dengan cara
yang sama seperti potensial aksi berjalan di sepanjang membran serabut
saraf.
6. Potensial aksi akan menimbulkan depolarisasi membran otot, dan banyak
aliran listrik potensial aksi mengalir melalui pusat serabut otot. Disini
potensial aksi menyebabkan retikulum sarkoplasma melepaskan sejumlah
besar ion kalsium, yang telah tersimpan di dalam retikulum ini.
7. Ion-ion kalsium menimbulkan kekuatan menarik antara filamen aktin dan
miosin, yang menyebabkan kedua filamen tersebut bergeser satu sama
lain, dan menghasilkan proses kontaksi.
8. Setelah kurang dari satu detik, ion kalsium dipompa kembali di dalam
retikulum sarkoplasma oleh pompa membran Ca++, dan ion-ion ini tetap
disimpan dalam retikulum sampai potensial aksi otot yang baru datang
lagi; pengeluaran ion kalsium dari miofibril akan menyebabkan kontraksi
otot terhenti (Sloane, 2004).
B. Sistem rangka
Rangka manusia dewasa tersususn dari 206 tulang yang membentuk suatu
kerangka tubuh yang kokoh.
a. Komposisi Jaringan Tulang
1.

Tulang terdiri dari selsel dan matriks ekstraseluler. Selsel tersebut


adalah osteosit, osteoblas dan osteoklas.

Gambar 4. Struktur Tulang

2.

Matriks tulang terdiri dari seratserat kolagen organik yang tertanam


pada subtansi dasar dan garamgaram anorganik tulang seperti fosfor dan
kalsium.
a) Substansi dasar tulang terdiri dari sejenis proteoglikan yang tersusun
terutama dan kondrotin sulfat dan sejumlah kecil asam hialuronat
yang bersenyawa dengan protein (Sloane, 2004).
b) Garamgaram tulang berada dalam bentuk kristal kalsium fosfat

yang disebut hidroksiapatit dengan rumus molekul 3Ca 3 (PO4)

Ca

(OH)2.
c) Persenyawaan antara kolagen dan kristal hidroksiapatit bertanggung

jawab atas daya regang dan daya tekan tulang yang besar. Cara
penyusunan tulang serupa dengan pembuatan palang beton: serat
serat kolagen seperti batangbatang baja pada beton; garamgaram
tulang sama seperti semen, pasir, dan batu pada beton tersebut
3.

(Sloane, 2004).
Kedua jenis jaringan tulang, tulang cancellus (berongga) dan tulang
kompak. Kedua jenis tulang ini memiliki komposisi yang sama, tetapi
porositasnya berbeda.
a) Tulang kompak adalah jaringan yang tersusun rapat dan terutama
ditemukan sebagai lapisan di atas jaringan tulang cancellus.
Porositasnya bergantung pada saluran mikroskopik (kanakuli) yang
mengandung pembuluh darah, yang berhubungan dengan saluran
havers.
b) Tulang cancellus tersusun dari batangbatang tulang halus dan
ireguler yang bercabang dan saling bertumpang tindih untuk
membentuk jaringanjaringan spikula tulang dengan ronggarongga
yang mengandung sumsum.
c) Jumlah tulang cancellus dan tulang kompak relatif bervariasi
bergantung pada jenis tulang dan bagian yang berbeda dari tulang
yang sama (Sloane, 2004).
Rangka digolongkan menjadi rangka aksial, rangka apendikular dan
persendian antar tulang. Tulang tengkorak terdiri dari 22 tulang , 8 tulang
cranial dan 14 tulang fasial (Sloane, 2004).

1) Tulang cranial

Tulang cranial berfungsi menutupi dan melindungi otak dan organ organ
panca indera.

Gambar 5. Tulang kranial


a) Tulang frontal membentuk dahi, langit - langit rongga nasal dan
langit-langit orbita (mata).
b) Tulang parietal membentuk sisi dan langit langit cranium
c) Tulang oksipital membentuk bagaian dasar dan bagian belakang
cranium.
d) Tulang temporal membentuk dasar dan sisi dari cranium.
e) Tulang etmoid adalah struktur penyangga penting dari ronnga nasal
dan berperan dalam pembentukan orbita mata (Sloane, 2004).
f) Tulang sfenoid berbentuk seperti kelelawar dengan sayap
terbentang. Tulang ini membentuk dasar anterior cranium dan
berartikulasi kearah lateral dengan tulang temporal dan kearah
anterior dengan tulang etmoid dan tulang frontal (Sloane, 2004).
2) Tulang-tulang wajah
Tulang yang tidak besentuhan dengan otak. tulang ini disatukan oleh
sutura yang tidak dapat bergerak kecuali pada rahang bawah (Sloane, 2004).
a) Tulang nasal membentuk penyangga hidung
b) Tulang palatum membentuk bagian posterior langit - langit mulut
,bagian tulang orbital dan bagaian rongga nasal.
c) Tulang zigomatik membentuk tonjolan pada tulang pipi
d) Tulang maksilar membentuk rahang atas
e) Tulang lakrimal berisi suatu celah yang untuk lintasan duktus lakrimal
yang mengalirkan air mata ke rongga nasal.
f) Tulang vomer

10

g) Konka nasal inferior


h) Mandibula adalah tulang rahang bagian bawah
3) Tulang hyoid adalah tulang berbentuk tapal kuda dan tidak berartikulasi
dengan tulang lain.
4) Sinus paranasal terdiri dari ruang ruang udara dalam tulang tengkorak yang
berhubungan dengan rongga nasal.
5) Tulang vertebra. Tulang ini menyangga berat tubuh dan melindungi medula
spinalis. Terdiri dari 26 vetebra yang dipisahkan oleh diskus invetebra.
Yaitu 7 tulang vertebra serviks, 12 vertebra toraks, 5 vetebra lumbal, dan 5
tulang vertebra sakrum dan 3-5 tulang koksigeal yang menyatu menjadi
tulang koksi.
6) Tulang sternum dan iga atau disebut kerangka toraks yang membungkus dan
melindungi organ organ toraks (Sloane, 2004).

Gambar 6. Tulang vertebra

Gambar 7. T ulang rusuk dan dada

7) Rangka apendikular terdiri dari 126 tulang, yaitu:


1. Girdle pektoral atau bahu yang berfungsi untuk melekatkan tulang lengan
ke rangka aksial.
2. Lengan atas terdiri dari tulang lengan, tulang lengan bawah, dan tulang
tangan.
3. Girdel pelvis yang mentrasmisikan berat trunkus ke bagaian tungkai
bawah dan melindungi organ-organ abdominal dan pelvis.
4. Tungkai bawah secara anatomis bagian proksimal dari tungkai bawah
antara girdle pelvis dan lutut adalah paha, bagian antara lutut dan
pergelangan kaki adalah tungkai(Sloane, 2004).

11

2.1.5 Osteogenesis
A. Osteogenesis intrakartilaginosa/endokondral
Tulang dibentuk pada kartilago pada fetus. Kebanyakan tulang
panjang dikembangkan dengan metode ini. Seperti vertebrae, costae,
sternum, dan eksteremitas. Zona ini terdiri dari 5 zona penulangan, yaitu
(Teguh dkk, 2011):
1. Zona kondrosit cadangan,, proses pertama diawali dengan masuknya
sel-sel

mesenkim

ke

dalam

kartilago,

mengalami

pemasakan/immature yang memadat. Garam kalsium dikumpulkan


untuk mengkalsiumi kartilago. Kalsium membungkus kondrosit dari
nutrisi. Pembuluh darah membawa bahan tulang (ossein/protein
tulang dan mineral) ke jaringan kartilago. Kartilago mengalami
mineralisasi.
2. Zona kondrosit poliferasi, kondrosit mulai merperbanyak diri dengan
membelah.
3. Zona kondrosit

dewasa,

kondrosit

mengalami

pendewasaan,

ukurannya bertambah besar


4. Zona kondrosit hipertrofi, kartilago yang terkalsiumi ditutup oleh
tulang baru. Disusul dengan hadirnya kondroblas yang meresap
tulang rawan yang dirombak. Dan pemunculan matriks tulang.
Tulang akan terdiri dari lapisan-lapisan lamella yang tersusun
membentuk lingkaran sesuai sistem havers.
5. Zona kondosit kalsifikasi, sel-sel mesenkim yang terdapat dalam
kartilago yang telah masak/mature, sebagian menjadi osteoblas yang
mejadi pusat osifikasi, sebagai penghasil osteosit. Muncul osteoklas
yang bertugas memfagosit osteosit. Rongga-rongga kecil yang
terbentuk dalam tulang disebut lakuna, dalam lakuna terletak osteositosteosit. Sel mesenkim di perifer membentuk periosteum (Teguh dkk,
2011).

Gambar 8. Osteogenesis

12

B. Osteogenesis intramembranosa/ekkondral
Yakni pembentukan tulang dengan jalan transformasi jaringan
pengikat fibrosa. Terdapat pada tulang sebelah luar, seperti tengkorak.
Serat kolagen mula-mula dimasuki zat ossein, lalu fibroblas mengalami
transformasi menjadi osteoblas dan osteosit. Osteoblas pembentuk tulang,
osteoklas peresap zat yang mau dirombak jadi tulang. Terbentuklah
jaringan tulang yang mengandung osteosit. Sel-sel mesenkim sekitar
kemudian membentuk lapisan luar tulang :periosteum. Ada 3 tipe
penulangan intramembranosa, yaitu (Teguh dkk, 2011):
1. Tulang dermal: langsung terbentuk saat osifikasi mesenkim.Seperti
pada tengkorak. Sel-sel mesenkim untuk pertumbuhan tulang dermal
datang dari dermis.
2. Tulang sesamoid: tumbuh bersama tendon, yang terbentk dari jaringan
ikat. Contohnya adalah patella dan tulang pinggang.
3. Tulang perikondral: terbentuk dari lapisan basal jaringan ikat yang
menyelubungi kartilago dan tulang, osteoblas terbentuk di lapisan ini
(Teguh dkk, 2011).

2.1.6 Struktur Kartilago, Sendi dan Tendon


A. Kartilago
Kartilago tersusun oleh: kondrosit. Cartilage terbagi menjadi: Cartilage
hyaline: Perikondrium berwarna merah muda, terdiri atas stratum fibrosum
dan s. kondrogenium. Terdapat bentukan agregasio kondrositika. Matrix
bening seperti kaca, metakromatik. Serta Cartilago elastis: Matrix terisi
anyaman serabut elastik. Selsel bulat, pipih bergerombol. Terdapat
lakuna (Brown, 1992).
B. Sendi
Persendian terjadi saat permukaan dari dua tulang bertemu,
adanya pergerakan atau tidak bergantung pada sambungannya.
Persendian dapat dibedakan secara struktural (berdasarkan ada
tidaknya

rongga

persendian

diantara

tulang-tulang

yang

berartikulasi dan jenis jaringan ikat yang berhubungan dengan

13

persendian tersebut), serta jenis atau fungsional (berdasarkan


jumlah gerakan yang mungkin dilakukan pada persendian) (Sloane,
2004).
1. Struktural:
a) Persendian fibrosa (tidak memiliki

rongga sendi dan

diperkokoh dengan jaringan ikat fibrosa.


b) Persendian kartilago (tidak memiliki rongga sendi dan
diperkokohkan dengan jaringan kartilago).
c) Persendian sinovial (memiliki rongga sendi dan diperkokoh
dengan kapsul dan ligamen artikular yang membungkusnya
(Sloane, 2004).
2. Fungsional:
a) Sendi dinartrosis atau sendi mati, secara struktural persendian
ini dibungkus jaringan ikat fibrosa dan kartilago.
1. Sutura adalah sendi yang dihubungkan dengan jaringan ikat
fibrosa rapat dan hanya ditemukan pada tulang tengkorak.
Contoh: sutura sagital, dan sutura parietal.
2. Sinkondrosis adalah sendi yang tulang-tulangnya
dihubungkan dengan kartilago hialin. Contoh: lempeng
epifisis (Sloane, 2004).
b) Sendi Amfiartrosis atau sendi pergerakan terbatas.
1. Simfisis adalah sendi yang kedua tulangnya dihubungkan
dengan diskus kartilago. Contoh: simfisis pubis antar
tulang-tulang pubis.
2. Sindesmosis terbentuk saat tulang-tulang yang berdekatan
dihubungkan dengan serat-serat jaringan ikat kolagen.
Contoh: tulang yang terletak bersisihan dihubungkan
dengan membran introseus.
3. Gomposis adalah sendi dimana tulang berbentuk kerucut
masuk dengan pas dalam kantong tulang. Contoh: gigi yang
tertanam dalam alveoli tulang rahang (Sloane, 2004).
c) Sendi Diartrosis atau sendi yang dapat bergerak bebas atau sendi
sinovial, sendi ini memiliki rongga sendi yang berisi cairan
sinovial, suatu kapsul sendi yang menyambung kedua tulang, dan
ujung tulang pada sendi sinovial dilapisi kartilago artikular.

14

1. Sendi sferoidal dikenal sebagai sendi traksial atau multi aksial,


memungkinkan gerak ke tiga arah. Contoh: sendi panggul, dan
bahu (Sloane, 2004).
2. Sendi engsel dikenal sebagai sendi uniaksial, memunkan
perputaran ke satu arah. Contoh: sendi pada lutut dan siku.
3. Sendi kisar (pivot point) dikenal sebagai sendi uniaksial
memungkinkan terjadi rotasi disekitar aksis sentral. Contoh:
persendian tempat tulang atlas berotasi disekitar proserus
odontoid aksis dan persendian antar bagian kepala proksimal
tulang radius dan ulna.
4. Persendian kondiloid

dikenal

dengan

sendi

biaksial,

memungkinkan terjadi gerak ke dua arah di sudut kanan setiap


tulang. Contoh: sendi antar tulang radius dan tulang karpal dan
juga antar kondilus oksipital tengkorak dan atlas.
5. Sendi pelana adalah persendian kondiloid yang termodifikasi
sehingga memungkinkan gerakan yang sama. Contoh: satusatunya sendi pelana adalah persendian antar tulang karpal
dengan ibu jari.
6. Sendi peluru dikenal dengan sendi ninaksial, memungkinkan
gerakan meluncur antar satu tulang terhadap tulang lainnya.
Contoh: persendian antar tulang-tulang karpal dan tulangtulang tarsal (Sloane, 2004).
C. Tendon
Organ didominasi oleh serabut kolagen atau berkas tendo primer
tersusun dalam berkas-berkas tersusun teratur arah paralel.
1. Berkas serabut kolagen terkecil membentuk fasikulus tendineus
dikelilingi jaringan ikat longgar disebut endotendineum.
2. Sel tendo (tendinosit, fibroblas) banyak ditemukan di endotendineum,
sitoplasma tipis, inti tercat gelap, bentuk oval sampai tipis
memanjang.
3. Fasikulus berkumpul membentuk berkas sekunder yang lebih besar
dibatasi jaringan ikat longgar disebut peritendineum, kumpulan berkas
sekunder

membentuk

tendo

yang

dibungkus

oleh

epitendineum. Pembuluh darah dan saraf ditemukan dalam tendo


(Brown, 1992).

15

2. 2 Temporo Mandibular Joint


TMJ adalah sendi yang kompleks terdiri dari kondilus, diskus, dan fossa
glenoidalis (Kaplan & Assael, 1991). Temporomandibular joint adalah salah satu
dari dua sendi yang terletak di tiap sisi kepala yang komponen tulangnya adalah
kondilus dari mandibula dan fosa glenoid atau fosa artikularis dari tulang
temporal (Harty & Ogston, 1995). Temporomandibular berkenaan dengan tulang
temporal dan mandibula (Dorland, 1998).
2.2.1 Komponen Penyusun Temporomandibular Joint (TMJ)
TMJ terdiri dari beberapa bagian yang terpenting, antara lain:
a. Kondilus mandibula
Kondilus mandibula mempunyai letak dan posisi yang paling baik
untuk bekerja sebagai poros dari pergerakan mandibula. Kondilus orang
dewasa berbentuk elips serta kasar, dengan sumbu panjang yang
bersudut ke belakang antara 15-30 derajat terhadap bidang frontal.
Ukuran dan bentuk kondilus mandibula bervariasi (Dipoyono, 2008).
b. Diskus artikularis
Letak kondilus mandibula tidak berkontak langsung dengan
permukaan tulang temporal, tetapi dipisahkan oleh suatu diskus yang
halus yang disebut dengan diskus artikularis. Diskus artikularis terletak
antara kondilus mandibula dan fosa glenoidalis. Fungsi diskus tidak
hanya berperan sebagai pembatas tulang keras tetapi juga sebagai
bantalan yang menyerap getaran dan tekanan yang ditransmisikan
melalui sendi, dan mencegah tulang saling bergesekan ketika rahang
bergerak (Dipoyono, 2008).

16

Gambar 9. Temporo mandibular joint

c. Fossa glenoidalis
Kondilus mandibula membentuk persendian dengan bagian tulang
temporal pada dasar kranium. Bagian dari tulang temporal ini berbentuk
cekungan yang ditempati kondilus mandibula. Bagian inilah yang
dikenal sebagai fossa glenoidalis. Pada bagian dalam dari fossa ini,
tulangnya sangat tipis (Dipoyono, 2008).
d. Kapsul sendi
Kapsul sendi menutupi diskus artikularis. Kapsul ini pada bagian
atas menempel pada rim fossa glenoidalis dan eminensia artikularis.
Pada bagian bawah menempel pada leher kondilus (Dipoyono, 2008).
e. Ligamen-ligamen sendi
Ligamen merupakan jaringan ikat fibrous avaskuler yang kuat. Ada
tiga

ligamen

yang

temporomandibula,

berkaitan
ligamen

dengan

TMJ,

yaitu

ligamen

sphenomandibula,

dan

ligamen

stilomandibula (Dipoyono, 2008).


f. Membran sinovial
Membran sinovial adalah membran sekretori khusus yang
menyediakan nutrien, pelumasan dan pembersihan untuk permukaanpermukaan sendi. Permukaan artikular dari sendi dilumasi dan
mendapat makanan dari cairan sinovial yang dikeluarkan ke
kompartemen sendi oleh membran sinovial. Membran sinovial
membatasi permukaan dalam kapsul dan diteruskan dari kapsul ke
bagian-bagian tulang dari sendi sampai ke pinggir permukaan artikular
(Dipoyono, 2008).
g. Otot-otot mastikasi
TMJ juga dikontrol oleh otot, terutama otot pengunyahan, yang
terletak di sekitar rahang dan sendi temporomandibula yaitu otot
maseter, otot temporalis, otot pterigoideus

lateralis

dan otot

pterigoideus madialis (Dipoyono, 2008).


h. Suplai pembuluh darah dan saraf dalam TMJ
Suplai saraf sensoris ke sendi temporomandibula didapat dari
nervous auriculotemporalis dan nervous masseter cabang dari nervous

17

mandibularis. Jaringan pembuluh darah untuk sendi berasal dari arteri


temporalis superficialis cabang dari arteri carotis externa (Pederson,
1996).
2.2.2 Mastikasi
a) Matikasi merupakan proses pengunyahan makanan (Dorland, 1998).
Pengunyahan adalah proses menghancurkan partikel makanan di
dalam mulut, dibantu dengan saliva yang dihasilkan oleh kelenjar
ludah sehingga merubah ukuran dan konsistensi makanan yang
akhirnya membentuk bolus yang mudah untuk ditelan (Andriyani,
2001).
b) Selama proses pengunyahan, komponen yang terlibat adalah tulang,
otot, ligamen dan gigi. Otot pengunyahan utama adalah m. masseter,
m. temporalis, m. pterygoideus lateralis, m. pterigoideus medialis
sedangkan otot pengunyahan tambahan seperti m. mylohyoideus, m.
geniohyloideus, m. styloyoideus, m. infrahyoideus, m. buksinator
dan labium oris (Andriyani, 2001).
c) Mengunyah terdiri dari beberapa tahap, yaitu tahap membuka
mandibula, tahap menutup mandibula dan tahap berkontaknya gigi
antagonis satu sama lain atau kontak gigi dengan bolus makanan.
Selama proses pengunyahan, otot yang aktif pada saat gerakan
membuka mandibula adalah m. ptrerygoideus lateralis. Pada saat
bersamaan, m. masseter, m. temporalis, m. pterygoideus medialis
yang berlangsung cepat dan lancar tidak melakukan aktivitas atau
menjadi relaksasi selama mulut dalam keadaan terbuka, baik ketika
mulut terbuka perlahan atau terbuka secara maksimal (Andriyani,
2001).
d) Gerakan menutup mandibula disebabkan oleh kontraksi m. masseter,
m. temporalis, m. pterygoideus medialis, sedangkan m. pterygoideus
lateralis dalam keadaan relaksasi. Sementara mandibula tertutup
perlahan, m.temporalis dan m. masseter juga berkontraksi membantu
gigi-geligi saling berkontak pada oklusi normal (Andriyani, 2001).

18

2.2.3 Biomekanik pada Sistem TMJ


Pergerakan mandibula merupakan hal yang kompleks. Hal ini
merupakan gabungan dari rotasi dan translasi yang terjadi secara tiga
dimensi.
a. Pergerakan rotasi
Dalam sistem mastikasi rotasi terjadi ketika mulut membuka
dan menutup pada titik sumbu yang tetap dalam kondilus. Dengan
kata lain gigi terpisah dan dapat teroklusi kembali tanpa adanya
perubahan posisi dari kondilus. Pada sendi temporomandibular,
rotasi terjadi sebagai pergerakan antara permukaan superiorinferior sendi. Dengan dengan demikian rotasi adalah pergerakan
antara permukaan superior kondilus dengan permukaan inferior
dari diskus artikularis. Pergerakan rotasi dari mandibula dapat
terjadi pada tiga bidang (Hayati, 2009).
1. Aksi horizontal dari rotasi
Pergerakan mandibula di sekitar aksi horizontal adalah
pergerakan membuka dan menutup. Pergerakan ini disebut
sebagai hinge movement dan merupakan satu-satunya yang
masih dianggap sebagai gerakan rotasi murni.
2. Aksis Vertikal dari rotasi
Pergerakan mandibula di sekitar aksis frontal terjadi ketika
satu kondilus bergerak ke anterior.
3. Aksis Sagital dari rotasi
Pergerakan mandibula dalam aksis sagital terjadi ketika suatu
kondilus bergerak kearah inferior
b. Pergerakan Translasi
Pergerakan translasi dapat didefinisikan sebagai pergerakan
dimana setiap titik dari objek yang bergerak secara simultan
mempunyai kecepatan dan arah yang sama. Pada sistem mastikasi,
translasi terjadi ketika mandibula bergerak maju seperti pada
protusi. Baik gigi, kondilus dan ramus semua bergerak pada arah
yang sama ke derajat yang sama. Pada pergerakan normal (rotasi
dan translasi) terjadi secara simultan dengan kata lain ketika
mandibula berotasi pada satu atau lebih aksis setiap aksis
bertranslasi (berubah orientasi) (Hayati, 2009).
c. Pergerakan tiga dimensi

19

Ketika otot berkontraksi dan menggerakkan mandibula ke arah


kanan, kondilus kiri terdorong ke luar dari posisi relasi sentralnya.
Ketika kondilus kiri mengelilingi di anterior dari aksis frontal
kondilus kanan, ia berhadapan dengan lengkung posterior dan
eminensia artikularis yang menyebabkan pergerakan inferior dari
kondilus di sekeliling aksis sagital dengan resultan kemiringan
pada aksis frontal. Hal ini terjadi dalam envelop of motion dan
dikontrol oleh sistem neuromuskulatur untuk mencegah perlukaan
pada struktur oral (Hayati, 2009).
2.2.4
1.

Kelainan dan Gangguan pada Temporo Mandibular Joint


Condylar agenesis
Agenesis condylar, berkaitan dengan proses coronoid, ramus, dan
bagian dari mandibula tubuh juga dapat dikaitkan dengan kelainan
internal dan eksternal telinga, tulang temporal, kelenjar parotis, otot-otot
pengunyahan, dan wajah saraf. Radiografi dari mandibula dan TMJ
menunjukkan tingkat keterlibatan tulang dan membantu membedakan
kondisi ini dari orang lain yang menghasilkan kelainan bentuk wajah
yang mirip, tapi yang tidak terkait dengan kehilangan struktural seperti
yang parah.
Pengobatan dini agenesis condylar diindikasikan untuk membatasi
tingkat deformitas. Itu Tujuannya adalah untuk membangun kembali
tinggi Ramal normal dan mengembalikan pertumbuhan situs hilang
sehingga deformasi mandibula lebih lanjut dicegah. Hal ini paling baik
dilakukan dengan rekonstruksi TMJ dengan graft costochondral Ortodonti
terapi, ortognatik operasi, otoplasty, dan cangkok lunak dan kerasjaringan untuk augmentasi wajah sering diperlukan untuk menyelesaikan
proses rekonstruksi (Parker, 1990).

2.

Condylar hipoplasia
Hipoplasia dari condule mandibula mungkin bawaan di asal, tetapi
biasanya hasil dari trauma, infeksi, atau iradiasi selama periode
pertumbuhan postnatal. Pertumbuhan condylar berkurang menghasilkan
deformitas wajah yang ditandai dengan sesak yang mandibula tubuh,

20

kepenuhan sepihak wajah, dan deviasi dari dagu ke sisi yang terkena. Di
sisi kontralateral, tubuh mandibula yang memanjang dan wajah muncul
diratakan. Tingkat deformitas mandibula dan wajah berhubungan dengan
tingkat keparahan hipoplasia dan usia di mana itu terjadi. Diagnosis
didasarkan pada sejarah progresif wajah cacat selama masa pertumbuhan,
bukti radiografi condylar deformitas dan bentukan antegonial, dan sejarah
sering trauma. Jika kondisi ini diakui selama masa pertumbuhan,
penggantian kondilus tersebut dengan cangkok costochondral dapat
diindikasikan

Dalam dewasa, baik pemendekan sisi normal atau

perpanjangan sisi abnormal dengan ortognatik pembedahan estetis dan


fungsional korektif. Sebelum terapi ortodontik sering diperlukan untuk
membangun oklusi normal (Parker, 1990).
3.

Condylar hiperplasia
Gangguan ini ditandai dengan lambat berkembang, berlebih
sepihak dari mandibula sehingga wajah asimetris, maloklusi, dan
penyimpangan dagu ke sisi terpengaruh. Kondisi ini biasanya pertama
menjadi jelas pada dekade kedua kehidupan ketika salah satu kondilus
terus tumbuh sementara sisi lain tidak lagi aktif. Pada pemeriksaan
radiografi, kondilus memiliki bentuk normal, tetapi leher rahang bawah
yang memanjang, atau seluruh Proses elipsoidea dapat diperbesar
simetris. Hal ini contradinstiction ke osteoma atau osteochondroma dari
kondilus, yang dapat menghasilkan deformitas wajah yang mirip, namun
yang menghasilkan condylar asimetri. Pengobatan hiperplasia condylar
tergantung pada apakah kondilus masih tumbuh yang dapat ditentukan
dengan menggunakan skintigrafi. Jika pertumbuhan masih terjadi secara,
condylectomy adalah pengobatan pilihan. Jika pertumbuhan telah
berhenti, kondisi ini dikoreksi dengan operasi ortognatik, biasanya
diawali dengan penyelarasan ortodontik pada gigi (Parker, 1990).

4. Trauma cedera
Proses elipsoidea merupakan salah satu situs yang paling sering
trauma fraktur mengikuti ke mandibula. Diagnosis umumnya didasarkan
pada temuan fisik dan radiografi. Biasanya timbul nyeri preauricular dan

21

kelembutan serta kesulitan dalam membuka mulut. Ketika ada fraktur


unilateral, rahang akan menyimpang ke sisi yang terkena pada percobaan
membuka. Dengan fraktur bilateral ada penyimpangan tidak ada, tetapi
ada sering terbuka anterior menggigit. Intracapsular condylar fraktur
diperlakukan oleh jangka pendek maxillomandibular fiksasi. Pada orang
dewasa, fraktur proses elipsoidea juga dirawat oleh maxillomandibular
fiksasi kecuali segmen malposed mengganggu fungsi rahang, tidak ada
occluding (Parker, 1990).
5. Ankilosis
Penyebab paling umum dari sendi rahang ankilosis adalah luka
traumatis dan arthritis, meskipun juga bisa terjadi akibat kelainan
kongenital, infeksi, atau neoplasia. Itu penting untuk membedakan antara
ankilosis sejati, yang melibatkan sendi, dan palsu ankilosis, yang
melibatkan kondisi extraarticular seperti pembesaran coronoid yang
Proses, fraktur tertekan lengkung zygomatic, atau jaringan parut dari
operasi atau radiasi. Pengujian radiografi sendi dan sejarah klinis yang
cermat pada umumnya cukup untuk menetapkan diagnosis ankilosis
sejati. Para radiograf biasanya menunjukkan kelainan condylar, dan baik
penyempitan atau ketidakteraturan ruang sendi atau obliterasi dari tulang
yang normal morfologi. Ada tiga prinsip dasar yang terlibat dalam
pengobatan bedah ankilosis . Pertama, sendi baru harus dibentuk pada
titik tertinggi pada ramus sehingga untuk mempertahankan ketinggian
Ramal maksimum dan meminimalkan pergeseran pasca operasi dari
mandibula; kedua, bahan interpositional harus ditempatkan untuk
menghindari fusi bagian, dan ketiga, adalah penting untuk memulai terapi
jangka panjang fisik postsurgically. Pada anak yang sedang tumbuh,
pertimbangan seharusnya tidak hanya diberikan kepada pemeliharaan
tinggi Ramal, tetapi juga untuk penggantian situs pertumbuhan condylar
(Parker, 1990).
6. Infeksi arthritis
Kondisi ini jarang terjadi pada TMJ tersebut. Ini mungkin
berhubungan dengan penyakit sistemik seperti seperti gonore, sifilis, atau

22

TBC; berkembang sebagai perluasan dari infeksi lokal, atau, kadangkadang, karena melalui darah organisme. Secara klinis, ada tanda-tanda
lokal peradangan dan gerakan rahang yang terbatas. Ada juga mungkin
tanda-tanda dan gejala terkait penyakit sistemik. Para radiografi negatif
pada awalnya, tapi kemudian mungkin menunjukkan ekstensif destruksi
tulang. Perawatan termasuk antibiotik, hidrasi yang tepat, pengendalian
rasa sakit, dan pembatasan gerakan rahang. Infeksi supuratif mungkin
memerlukan aspirasi, insisi dan drainase, atau sequestrectomy (Parker,
1990).
7. Rheumatoid arthritis
Gejala awal dari rheumatoid arthritis kadang-kadang dapat terjadi
dalam TMJ, biasanya sendi lain yang terlibat terlebih dahulu. Ketika TMJ
yang terlibat, biasanya ada bilateral nyeri, nyeri dan pembengkakan, dan
keterbatasan gerak rahang. Pada tahap awal, mungkin ada perubahan
radiografi, tetapi dengan perkembangan penyakit permukaan artikular
dari Kondilus ini hancur dan ruang sendi yang dilenyapkan, sebagai
akibat dari kehancuran ini suatu open bite anterior dapat terjadi. Pada
anak-anak, kerusakan tersebut juga dapat menyebabkan pertumbuhan
mandibula keterbelakangan dan deformitas wajah. Pada semua pasien ada
kemungkinan ankilosis. Pengobatan rheumatoid arthritis di TMJ adalah
mirip dengan yang di sendi . Obat anti-inflamasi yang digunakan selama
fase akut, dan latihan rahang ringan digunakan untuk mencegah hilangnya
berlebihan gerak ketika akut gejala mereda. Dalam parah kasus, obatobatan seperti hydrochloroquine, emas, dan penicillamine juga digunakan
untuk mengontrol rasa sakit dan peradangan. Pembedahan mungkin
diperlukan jika ankilosis berkembang (Parker, 1990).
8. Internal derangements
Derangements Internal TMJ mengambil dua bentuk: perpindahan
hard anterior dengan pengurangan pada membuka mulut, yang ditandai
dengan mengklik atau muncul suara, dan disk yang anterior perpindahan
tanpa pengurangan pada pembukaan mulut percobaan, yaitu ditandai
dengan penguncian. Sebagai hasil dari kekacauan internal, pasien juga

23

dapat mengembangkan perforasi pada disk atau, lebih umum, di


persimpangan antara disk dan retrodiskal jaringan. Derangements
internal dapat disebabkan oleh trauma, kejang pterygoideus lateral yang
sering menyertai sindrom MPD, atau perubahan dalam sifat gesek
bersama dan resultan perubahan degeneratif yang diproduksi oleh
mengepalkan kronis. Di Selain suara yang dihasilkan dan kesulitan
dengan gerakan rahang, yang paling umum Gejala yang disebabkan oleh
kekacauan internal adalah nyeri. Diagnosis umumnya dibuat pada dasar
sejarah dan pemeriksaan fisik, dan dikonfirmasi oleh visualisasi posisi
harddisk dengan Magnetic Resonance Imaging (MRI). Seorang pasien
dengan klik menyakitkan dan tidak ada disfungsi rahang memerlukan
pengobatan. Bagi mereka yang telah dikaitkan nyeri, pengobatan terdiri
dari obat antiinflamasi nonsteroid, rahang reposisi alat, dan relaksan otot
bila ada kejang pterygoideus lateral. (Parker, 1990).
2. Dislokasi
Dislokasi TMJ adalah pergeseran condylus dari lokasinya yang normal
di fossa mandibularis. Terdapat berbagai jenis dislokasi yang dapat terjadi
melalui mekanisme traumatik atau nontraumatik. Jenis dislokasi dibedakan
berdasarkan letak condylus relatif terhadap fossa articularis tulang
temporal (Hayati, 2009).
a. Dislokasi anterior
Pada dislokasi tipe ini terjadi perubahan posisi condylus menjadi
anterior terhadap articularis tulang temporal. Dislokasi anterior terjadi
akibat interupsi pada sekuens nirmal kontraksi otot pada saat mulut
tertutup setelah membuka dengan ekstrim. Muskulus masseter dan
temporalis mengangkat mandibula sebelum muskulus pterygoid lateral
berelaksasi, mengakibatkan condylus mandibularis tertarik ke arah
anterior ke tonjolan tulang dan keluar dari fossa temporalis. Spasme
muskulus masseter, temporalis, dan pterygoid menyebabkan trismus
dan menahan condylus tidak dapat kembali ke fossa temporalis.
Dislokasi jenis ini dapat unilateral atau bilateral. Dislokai tersebut
dibedakan menjadi akut, kronis rekuren, atau kronik (Hayati, 2009).

24

1. Dislokasi akut terjadi, akibat trauma atau reaksi distonik, namun


biasanya disebabkan oleh pembukaan mulut yang berlebihan seperti
menguap, anastesi umum, ekstraksi gigi, muntah, atau kejang.
Dislokasi anterior juga dapat terjadi setelah prosedur endoskopik.
2. Dislokasi kronik akut, disebabkan mekanisme yang sama pada
pasien dengan faktor resiko seperti fossa mandibularis yang dangkal
(kongenital), kehilangan kapsul sendi akibat riwayat dislokasi
sebelumnya atau sindrom hipermobilitas.
3. Dislokasi kronik, terjadi akibat dislokasi TMJ yang tidak ditangani
sehingga condylus tetap berada dalam posisinya yang salah dalam
dalam waktu yang lama. Biasanya dibutuhkan reduksi terbuka.
b. Dislokasi posterior biasanya terjadi akibat trauma fisik langsung pada
dagu. Condylus mandibularis tertekan ke posterior ke arah mastoid.
Jejas pada meatus acusticus externum akibat condylus dapat terjadi
pada dislokasi tipe ini (Hayati, 2009).
c. Dislokasi superior terjadi akibat trauma fisik langsung pada mulut yang
sedang berada dalam posisi terbuka. Sudut mandibula pada posisi ini
menjadi predisposisi pergeseran condylus ke arah superior dan dapat
mengakibatkan kelumpuhan nervus facialis, kontrusio serebri, atau
gangguan pendengaran (Hayati, 2009).
d. Dislokasi Lateral biasanya terkait dengan fraktur mandibula. Condylus
bergeser ke arah lateral dan superior serta sering dapat dipalpasi pada
permukaan temporal (Hayati, 2009).
Perawatan dislokasi. Dislokasi akut diperlakukan dengan reduksi
pengguna dilengkapi dengan penggunaan anestesi lokal, sedasi IV,
atau anestesi umum. Dislokasi berulang kronis dapat diobati dengan
menyuntikkan agen sclerosing ke TMJ kapsul dan ligamen untuk
menghasilkan jaringan parut dari jaringan membentang atau efek yang
sama dapat dicapai dengan capsulorrhaphy. Namun, jika faktor-faktor
yang mengarah ke laksitas kapsuler, seperti serangan epilepsi sering
atau gerakan rahang dyskinetic, yang tak terkendali, pasien mungkin
memerlukan lateralis pterygoideus myotomy. Meskipun beberapa
kasus dislokasi persisten kronis dapat dikurangi secara manual dengan
bantuan kabel traksi ditempatkan melalui tulang pada sudut

25

mandibula, ketika ini gagal, myotomy temporal yang dilakukan


melalui sayatan vertikal di atas perbatasan anterior dari Proses
coronoid umumnya mujarab. Sebagai manipulasi, last resort langsung
dari kondilus melalui sayatan preauricular atau condylectomy dapat
dilakukan (Parker, 1990).
2.2.5 Faktor yang Meyebabkan Gangguan pada Sendi Temporo Mandibula
Gangguan pada tulang rahang, gangguan pada otot mastikasi,
ganggguan pada sendi dan gangguan pada oklusi atau perubahan oklusi.
Disebabkan faktor dalam seperti kelainan bawaan dan penyakit sistemik,
degenerasi, serta kehilangan gigi dan faktor luar seperti trauma,
kebiasaan, kerja yang berat (Dipoyono, 2008).
2.2.6 Perawatan Kelainan dan Gangguan Temporo Mandibular Joint
A. Rencana Perawatan

Agar seorang dokter gigi dapat melakukan perawatan pada kelainan


TMJ dengan hasil yang baik, maka sebaiknya dokter gigi membuat rencana
perawatan, yaitu:

1. Pemeriksaan dan Diagnosa.


Pemeriksaan meliputi anamnesa yaitu keterangan sosial dan pekerjaan,
keluhan yang ada sekarang, sifat dan gejala (rasa sakit, bunyi,
disfungsi), kapan timbulnya

gejala, faktor pendorong, faktor

pendukung, pola gejala, riwayat kesehatan masa lalu, serta riwayat


keadaan gigi. Pemeriksaan fisik yang harus dilakukan adalah
memeriksa rentang pergerakan, bunyi sendi, rasa sakit, pemeriksaan
intra oral, dan pemeriksaan radiografi (Yuwono, 1990).
2. Perawatan Aktif.
Meliputi perawatan lanjutan yang dilakukan yaitu:
A. Perawatan gejala

26

Perawatan yang segera dan efisisen tidak hanya dapat meredakan


penderitannya tetapi juga membantu mengembalikan rasa percaya
diri pasien. Yang harus dilakukan dalam perawatan gejala adalah
(Yuwono, 1990):
1. Menenangkan pasien. Merupakan cara yang harus dan selalu
digunakan, karena pasien menganggap ini keadaan yang
berbahaya, jadi tugas seorang dokter adalah menjelaskan
tentang kelainan ini agar pasien merasa tenang. Dan katakan
setidaknya diperlukan beberapa kali kunjungan untuk hasil
yang lebih baik.
2. Mengistirahatkan rahang. Pada kunjungan pertama biasanya
hanya digunakan untuk diagnosa dan menenangkan pasien.
Tapi dokter juga harus memberi nasihat agar pasien
mengistirahatkan rahangnya dari kerja-kerja yang dapat
memperparah keadaan seperti, mengunyah makanan yang
terlalu keras, menguap dan bereteriak.
3. Pemberian obat-obatan. Pemberian analgetik seperti aspirin dan
parasetamol untuk mengurangi rasa sakit umum digunakan.
Selain itu pemberian penenang seperti diazepam juga lebih baik
digunakan

pada

malam

hari

menjelang

tidur,

untuk

menghindari kebiasaan bruxism pada malam hari dan


menghindari kekakuan otot dipagi hari. Bila terdapat perubahan
degenerasi sendi analgetik yang lebih kuat dapat digunakan
seperti antiartritik contohnya adalah indomethacin.
4. Latihan. Tujuan dari perawatan dengan latihan adalah untuk
merangsang

fungsi

mandibula.

Sebagai

contoh

dapat

dilakuakan kegiatan seperti dibawah ini.


a. Pasien diminta mengistirahatkan otot.
b. Pada posisi rahang yang istirahat pasien diminta untuk
membuka mulut. Buatlah garis vertikal dari filtrum sampai
ke mentalis. Lalu secara perlahan suruh pasien membuka
mulut sambil memiringkan mandibula kearah samping.

27

Hati-hati jangan sampai memajukan mandibula. Instruksikan


pasien untuk mengulang gerakan ini 10 menit setiap hari
dengan kondisi relaks dan tenang, serta hindari keadaan
stress atau frustasi.
5. Terapi panas. Ini dapat mengurangi rasa sakit dari kekakuan otot.
Metode yang paling sering digunakan adalah diatermi gelombang
pendek terapi ultrasonik juga memberi efek yang sama. Atau
dengan pemberian krim metil salisilat di daerah maseter dan
temporal.
6. Bite plane. Tujuan dari penggunaan bite plane adalah untuk
menghilangkan beban kerja pada sendi serta membantu hubungan
meniskus-condyle yang normal. Indikasi penggunaan bite plane
adalah

perawatan

kliking,

pencegahan

menghilangkan rasa sakit.

Gambar 10. Bite plane

B. Perawatan dari faktor penyebab

bruxism,

dan

28

Aktivitas neuromuskular yang menimbulkan beban yang besar dan


berulang-ulang dari sendi, disebabkan terutama oleh tekanan emosi
dan ketegangan. Usaha menghilangkan faktor-faktor terrsebut
merupakan tujuan utama dalam perawatan faktor penyebab
(Yuwono, 1990).

C. Hipnoterapi
Hipnoterapi merupakan salah satu tekhnik yang dapat digunakan
untuk membawa pasien ke kondisi relaks dan dalam alam bawah
sadar

pasien

dibawa

untuk

mengetahui

masalahnya

serta

penyelesaianya guna menghilangkkan faktor penyebab (Yuwono,


1990).
D. Perawatan faktor pendorong
Penyebab syndrom stress mandibula, adalah beban besar pada
neuromuskular yang merangasang terjadinya tekanan, dapat
dipengaruhi oleh berbagai faktor pendorong seperti oklusi, karies
dan kelainan patologis lainnya, protesa serta faktor pendorong yang
lain seperti pekerjaan (Yuwono, 1990).

E. Perawatan efek patologis


Pada keadaan rasa sakit yang sulit diketahui asalnya, suntikan
tunggal

intra-artikular

dari

kortikstreoid

pada

sendi

temporomandibula dapat memberi penyembuhan. Perawatan paling


berhasil pada pasien diatas 30 tahun (Yuwono, 1990).
F. Operasi sendi temporo mandibula
Opersasi pada syndrom stress mandibula hanya dilakukan bila
pasien gagal memberi respond terhadap terapi konservatif. Cara ini
tidak dapat menghilangkan penyebab tetapi dapat menghilangkan
serta memperbaiki manifestasi patologisnya. Ada berbagai jenis

29

operasi sendi temporo mandibula, yaitu, menisektomi, condylotomi,


dan high condylotomi.. Tujannya adalah untuk meremodeling
permukaan artikular condyle dan memperbaiki meniskus atau
ligamen yang rusak (Yuwono, 1990).
3. Perbaikan. Meliputi pelepasan alat dan pembarhentian obat, serta
penjelasan tentang prognosa oleh dokter (Yuwono, 1990).