Pakan Ikan Berbasis Protein Sel Tunggal
Pakan Ikan Berbasis Protein Sel Tunggal
SKRIPSI
Diajukan untuk melengkapi tugas dan memenuhi syarat mencapai gelar Sarjana Sains
DEPARTEMEN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009
Ummi Mardhiah Batubara : Pembuatan Pakan Ikan Dari Protein Sel Tunggal Bakteri Fotosintetik Anoksigenik Dengan
Memanfaatkan Limbah Cair Tepung Tapioka Yang Diuji Pada Ikan Nila (Oreochromis Niloticus), 2010.
PERSETUJUAN
Judul
Kategori
Nama
Nomor Induk Mahasiswa
Program Studi
Departemen
Fakultas
:
:
:
:
:
:
Komisi Pembimbing
Pembimbing 2
Pembimbing 1
Ummi Mardhiah Batubara : Pembuatan Pakan Ikan Dari Protein Sel Tunggal Bakteri Fotosintetik Anoksigenik Dengan
Memanfaatkan Limbah Cair Tepung Tapioka Yang Diuji Pada Ikan Nila (Oreochromis Niloticus), 2010.
PERNYATAAN
SKRIPSI
Saya mengakui bahwa skripsi ini adalah hasil kerja saya sendiri, kecuali beberapa
kutipan dan ringkasan yang masing-masing disebutkan sumbernya.
Ummi Mardhiah Batubara : Pembuatan Pakan Ikan Dari Protein Sel Tunggal Bakteri Fotosintetik Anoksigenik Dengan
Memanfaatkan Limbah Cair Tepung Tapioka Yang Diuji Pada Ikan Nila (Oreochromis Niloticus), 2010.
PENGHARGAAN
Penulis juga menyampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada temanteman Biologi angkatan 2005, Gustin, Mustika, Maysarah, Kabul, Effendi, Irfan,
Widya, Nikmah, Diana, Wulan, Susi, Seneng, Yanti, Dini serta teman-teman lain
yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu atas bantuan dan kebersamaannya
selama ini dan seluruh junior serta senior Biologi FMIPA USU. Kepada rekan-rekan
asisten mikrobiologi K Siska, K Netty, K Ansen, Bg Ginta, KTika, KLidya sari,
K Lidya gustika, K Onah, Ika, Yayan, Nikmah, Ami, Nana, Ria dan Adi terima
kasih atas bantuan dan kerjasamanya selama ini. Kepada teman-teman seperjuangan di
BFS Bg Ayoel, K Diah, Bg Andi, Juned, Lia, Reni, Ncay, Rivo, resti, dwi, laura,
irma, maika dan Affan atas semangat, dukungan, dan kreativitas yang banyak penulis
dapatkan. Rekan-rekan di Laboratorium Struktur Perkembangan Hewan, rekan-rekan
di MSC (Microbiology Study Club), rekan-rekan di Inkubator Sains USU (INKUBS),
Suwanto, Santi, Adi, Ami, Aisyah terima kasih atas seluruh informasi dan motivasi
yang diberikan dan rekan-rekan di UKM Fotografi USU. Kepada seluruh keluarga
besar Asrama Putri Kkiki, KMasna, K Ija, KLala, K Aisyah, Nida, Wina, dan
Radel yang telah memberikan rasa persaudaraan selama penulis berada di rantau
orang. Kepada semua yang telah membantu dalam penyelesaian hasil ini yang tidak
dapat penulis sebutkan namanya satu per satu. Kiranya Allah SWT jualah yang akan
membalas budi baik yang diberikan.
Penulis menyadari bahwa hasil penelitian ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi
kesempurnaan hasil penelitian ini. Dengan segala kerendahan hati penulis berharap
semoga hasil penelitian ini bermanfaat bagi kita semua.
Penulis
Ummi Mardhiah Batubara : Pembuatan Pakan Ikan Dari Protein Sel Tunggal Bakteri Fotosintetik Anoksigenik Dengan
Memanfaatkan Limbah Cair Tepung Tapioka Yang Diuji Pada Ikan Nila (Oreochromis Niloticus), 2010.
ABSTRAK
Penelitian mengenai Pembuatan pakan ikan dari protein sel tunggal bakteri
fotosintetik anoksigenik dengan memanfaatkan limbah tepung tapioka yang diuji Pada
ikan nila (Oreochromis niloticus) telah dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi
Departemen Biologi, Laboratorium Biokimia Departemen Kimia Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Laboratorium Teknologi Hasil Pertanian
(THP) Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara dan Laboratorium Air Badan
Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Sumatera Utara (BAPEDALDASU) dari
bulan November 2008 sampai September 2009. Penelitian ini bertujuan mengetahui
pengaruh pemberian protein sel tunggal bakteri fotosintetik anoksigenik
Rhodopseudomonas palustris dalam konversi protein konvensional pada pakan ikan.
Bakteri fotosintetik anoksigenik diisolasi dari alam kemudian ditumbuhkan pada
media mineral modifikasi, diukur kemampuan tumbuhnya pada limbah tepung
tapioka, kemudian dihitung berat sel dan kandungan protein BFA. Dilakukan konversi
protein sel tunggal dalam bentuk pakan ikan. Parameter yang diamati adalah panjang
tubuh, penambahan bobot ikan, laju pertumbuhan per hari, mortalitas dan nilai ubah
pakan. Pengujian dilakukan pada ikan nila (Oreochromis niloticus). Data yang
diperoleh dianalisis dengan analisis variansi (ANOVA) dan menunjukkan bahwa mutu
pakan yang dikonversi oleh protein sel tunggal dengan perlakuan 0%, 25%, 30%
sama dengan perlakuan tanpa pemberian PST bakteri fotosintetik anoksigenik
Rhodopseudomonas palustris.
Ummi Mardhiah Batubara : Pembuatan Pakan Ikan Dari Protein Sel Tunggal Bakteri Fotosintetik Anoksigenik Dengan
Memanfaatkan Limbah Cair Tepung Tapioka Yang Diuji Pada Ikan Nila (Oreochromis Niloticus), 2010.
ABSTRACT
Research on "Making Animal Feed Fish from the single cell protein of photosynthetic
bacteria Utilizing Waste Anoksigenik With Tapioca Flour That Tested In Nila Fish
(Oreochromis niloticus)" has been conducted in the laboratory of Microbiology
Department of Biology, Laboratory of Biochemistry Department of Chemistry Faculty
of Mathematics and Natural Sciences, Technology Laboratory Results Agriculture
(THP) Faculty of Agriculture University of North Sumatra and the Laboratory of
Water Environmental Impact Management Agency of North Sumatera Regional
(BAPEDALDASU) from November 2008 until September 2009. This study aims to
determine the effect anoxygenik photosynthetic bacterium Rhodopseudomonas
palustris as sigle cell protein in the conversion of conventional protein in fish feed.
BFA isolated from nature and grown in mineral medium modifications, measured
ability to grow on waste tapioca flour, then heavy counting of protein content of cells
and bacteria fotosintetic anoksigenic. Protein sel conversion performed in the form of
a single fish. Tests performed on the fish tilapia (Oreochromis niloticus). Data
obtained were analyzed by analysis of variance (ANOVA) and showed that the quality
of feed which is converted by a single-cell protein 0% treatment, 25%, 35% 30%
showed no real difference to the length of the body, the addition of fish weight, the
rate of growth per daily, mortality rate and change the value of the feed.
Keyword: Animal feed, bacteria fotosintetic anocsigenic (BFA), single cell protein
(SCP), Rhodopseudomonas palustris, Nila.
Ummi Mardhiah Batubara : Pembuatan Pakan Ikan Dari Protein Sel Tunggal Bakteri Fotosintetik Anoksigenik Dengan
Memanfaatkan Limbah Cair Tepung Tapioka Yang Diuji Pada Ikan Nila (Oreochromis Niloticus), 2010.
DAFTAR ISI
Persetujuan
Pernyataan
Penghargaan
Abstrak
Abstract
Daftar Isi
Daftar Tabel
Daftar Gambar
Daftar Lampiran
Bab 1 Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
1.2 Permasalahan
1.3 Tujuan
1.4 Hipotesis
1.5 Manfaat
Bab 2 Tinjauan Pustaka
2.1 Pakan Ikan
2.2 Kebutuhan Protein
2.3 Klasifikasi dan Morfologi Ikan Nila
2.4 Bakteri Fotosintetik Anoksigenik
2.5 Protein Sel Tunggal (PST)
2.6 Limbah Cair Tepung Tapioka
Bab 3 Bahan dan Metoda
3.1 Waktu dan Tempat
3.2 Sumber Isolat
3.3 Bahan
3.4 Pengukuran Laju Pertumbuhan bakteri fotosintetik anoksigenik
3.5 Kondisi Pertumbuhan
3.6 Pembuatan Kurva Standard
3.7 Penentuan Kadar Protein
3.8 Berat Sel
3.9 Pembuatan Pakan Ikan
3.10 Desain Percobaan
3.11 Wadah Penelitian dan Ikan Uji
3.12 Pengukuran faktor fisik kimia ikan
3.13 Analisis Data
Bab 4 Hasil dan Pembahasan
4.1 Pengukuran Laju Pertumbuhan Bakteri Fotosintetik Anoksigenik
4.2 Penentuan Kadar Protein dan Berat Sel
4.3 Karakterisasi Pakan Ikan
4 4 Pengaruh pemberian pakan ikan dan analisa data
4.5 Faktor pendukung budidaya ikan nila (Oreochromis niloticus)
Bab 5 Kesimpulan dan Saran
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran
Daftar Pustaka
i
ii
iii
v
vi
vii
viii
ix
x
1
2
3
3
3
4
5
6
7
8
9
11
11
11
12
12
12
12
13
13
14
16
16
16
17
18
20
21
24
26
26
Ummi Mardhiah Batubara : Pembuatan Pakan Ikan Dari Protein Sel Tunggal Bakteri Fotosintetik Anoksigenik Dengan
Memanfaatkan Limbah Cair Tepung Tapioka Yang Diuji Pada Ikan Nila (Oreochromis Niloticus), 2010.
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1
Tabel 4.1
Tabel 4.2
Tabel 4.3
Tabel. 4.4
5
19
21
23
24
Ummi Mardhiah Batubara : Pembuatan Pakan Ikan Dari Protein Sel Tunggal Bakteri Fotosintetik Anoksigenik Dengan
Memanfaatkan Limbah Cair Tepung Tapioka Yang Diuji Pada Ikan Nila (Oreochromis Niloticus), 2010.
10
DAFTAR GAMBAR
17
18
19
20
22
46
47
48
48
Ummi Mardhiah Batubara : Pembuatan Pakan Ikan Dari Protein Sel Tunggal Bakteri Fotosintetik Anoksigenik Dengan
Memanfaatkan Limbah Cair Tepung Tapioka Yang Diuji Pada Ikan Nila (Oreochromis Niloticus), 2010.
11
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran
Lampiran
Lampiran
Lampiran
Lampiran
Lampiran
Lampiran
Lampiran
Lampiran
Lampiran
Lampiran
Lampiran
Lampiran
33
34
35
36
37
38
39
40
42
43
44
46
48
Ummi Mardhiah Batubara : Pembuatan Pakan Ikan Dari Protein Sel Tunggal Bakteri Fotosintetik Anoksigenik Dengan
Memanfaatkan Limbah Cair Tepung Tapioka Yang Diuji Pada Ikan Nila (Oreochromis Niloticus), 2010.
12
BAB 1
PENDAHULUAN
Ikan merupakan komoditas potensial yang bernilai ekonomis dan penting untuk
dikembangkan sebagai jenis ikan budidaya. Pasokan ikan di dunia saat ini sebagian
besar berasal dari hasil penangkapan di laut (Azwar, 1997). Namun demikian,
pemanfaatan sumber daya di sejumlah negara dan perairan internasional saat ini telah
berlebih. Data menunjukkan bahwa pasokan ikan dari kegiatan penangkapan di laut di
sebagian negara diperkirakan tidak dapat ditingkatkan lagi. Sehingga, pasokan hasil
perikanan yang berasal dari pembudidayaan ikan harus ditingkatkan dengan
mengembangkan usaha akuakultur yang ada di Indonesia. Permintaan pasar dunia
terhadap pasokan perikanan budidaya diperkirakan akan terus meningkat seiring
dengan laju kenaikan penduduk dan pendapatan, disamping adanya pergeseran selera
konsumen dari red meat menjadi white meat (Putro, 2003).
Ummi Mardhiah Batubara : Pembuatan Pakan Ikan Dari Protein Sel Tunggal Bakteri Fotosintetik Anoksigenik Dengan
Memanfaatkan Limbah Cair Tepung Tapioka Yang Diuji Pada Ikan Nila (Oreochromis Niloticus), 2010.
13
laju pertumbuhan ikan menjadi terlambat, akibatnya produksi yang dihasilkan tidak
sesuai dengan yang diharapkan (Djajasewaka et al., 1993).
1.2 Permasalahan
Salah satu
faktor
ikan adalah
melambungnya harga pakan buatan. Kondisi ini yang melahirkan ide untuk membuat
pakan dari bahan baku yang sifatnya lokal dan banyak tesedia di alam. Pentingnya
pakan ikan sebagai salah satu komponen produksi yang mencapai 60-70% dari total
biaya produksi menjadi salah satu penentu keberhasilan usaha budidaya ikan (Rasidi,
2002). Maka perlu diupayakan pakan yang dapat dibuat dan diramu sendiri sesuai
dengan kebutuhan ikan. Salah satu komposisi pakan yang paling penting adalah
protein. Apabila kandungan protein dalam pakan kurang dari 6%, maka ikan budidaya
tidak akan tumbuh (Mudjiman, 1998).
14
keseimbangan berbagai asam amino yang dikandungnya (Murtidjo, 2007). Untuk itu
perlu dilakukan pemanfaatan bahan baku alami yang dapat digunakan sebagai
konversi protein dalam pakan ikan salah satunya adalah protein sel tunggal bakteri
fotosintetik anoksigenik Rhodopseudomonas palustris yang dapat ditumbuhkan dalam
limbah tepung tapioka yang merupakan salah satu penyebab pencemaran lingkungan
karena jumlahnya yang melimpah di alam.
1.3 Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian protein sel tunggal
bakteri fotosintetik anoksigenik Rhodopseudomonas palustris dalam konversi protein
konvensional pada pakan ikan.
1.4 Hipotesis
1.5 Manfaat
Sebagai informasi dalam pembuatan pakan ikan dan peningkatan nilai gizi dalam
konsumsi ikan air tawar.
Ummi Mardhiah Batubara : Pembuatan Pakan Ikan Dari Protein Sel Tunggal Bakteri Fotosintetik Anoksigenik Dengan
Memanfaatkan Limbah Cair Tepung Tapioka Yang Diuji Pada Ikan Nila (Oreochromis Niloticus), 2010.
15
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
Pakan harus mempunyai rasio energi protein tertentu dan dapat menyediakan energi
non protein dalam jumlah yang cukup sehingga protein digunakan sebagian besar
untuk pertumbuhan (Suhenda et al., 2005). Protein sangat diperlukan oleh tubuh ikan,
baik untuk menghasilkan tenaga maupun untuk pertumbuhan. Bagi ikan, protein
merupakan sumber tenaga yang paling utama. Mutu protein dipengaruhi oleh sumber
asalnya serta oleh kandungan asam aminonya (Mudjiman, 1998). Kandungan asam
amino dalam daging ikan sangat bervariasi, tergantung pada jenis ikan. Pada
umumnya, kandungan asam amino dalam daging ikan kaya lisin, tetapi kurang
kandungan triptofan (Junianto, 2003).
Peningkatan produksi ikan yang diperoleh dari budidaya ikan secara intensif
dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu kondisi perairan, benih, dan pakan. Pakan dalam
usaha budi daya ini merupakan faktor produksi mahal, karena membutuhkan
komponen biaya mencapai 65%. Pemberian pakan pada ikan adalah untuk memenuhi
kebutuhan hidup ikan dan pertumbuhan (Watanabe, 1988). Pemberian pakan yang
mengandung energi dan protein seimbang akan diperoleh pertumbuhan ikan yang
Ummi Mardhiah Batubara : Pembuatan Pakan Ikan Dari Protein Sel Tunggal Bakteri Fotosintetik Anoksigenik Dengan
Memanfaatkan Limbah Cair Tepung Tapioka Yang Diuji Pada Ikan Nila (Oreochromis Niloticus), 2010.
16
optimal. Jumlah protein yang tidak sesuai dalam pakan mengakibatkan pertumbuhan
terhenti dan bobot tubuh ikan akan berkurang (Lovell, 1988).
Watanabe et al., (1986) mencatat bahwa induk red sea bream (ikan laut), Chrysophrys
major fekunditas dan daya tetas telur sangat dipengaruhi oleh komponen protein alam.
Nilai kebutuhan protein dalam pakan ikan disajikan dalam Tabel 2.1. Di samping
kebutuhan protein, sumber protein juga sangat menentukan penampilan reproduksi.
Menurut Suryanti (2003), pada saat endogenous energi asam amino yang tersedia dari
sumber pakan induk akan mengalami penurunan karena dimanfaatkan sebagai sumber
energi. Waktu penurunan asam amino sangat berbeda antar spesies ikan (Ronnestad et
al., 1992 dalam Suryanti 2003) tergantung ada tidaknya globular lemak dalam telur.
Apabila asam amino bebas habis dimanfaatkan maka asam amino yang termasuk asam
amino polimer dalam protein dan makro molekul akan dimanfaatkan untuk
metabolisme larva.
Sumber
Natawirya et al., (1981)
Jauncey&Ross (1982)
Lovell (1992)
Suhendra et al., (2001)
Affandi (1997)
Poernomo et al., (1985)
Walaupun nilai protein untuk proses pematangan induk ini cukup tinggi,
namun kenyataanya kandungan protein pada pakan ikan masih dapat lebih rendah
Ummi Mardhiah Batubara : Pembuatan Pakan Ikan Dari Protein Sel Tunggal Bakteri Fotosintetik Anoksigenik Dengan
Memanfaatkan Limbah Cair Tepung Tapioka Yang Diuji Pada Ikan Nila (Oreochromis Niloticus), 2010.
17
Setiap spesies ikan berbeda kebutuhannya akan protein dan energi. Hal ini
dipengaruhi oleh umur/ukuran ikan dan jenis ikan. Saridewi (1998) melaporkan
bahwa ikan nila dengan bobot 2,43 g membutuhkan protein 31,22% dengan imbangan
antara energi dan protein sebesar 8 kkal/g protein.
Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan jenis ikan yang diintroduksi dari luar
negeri. Ikan nila termasuk kedalam genus Oreochromis, karena golongan ikan ini
mempunyai sifat yang unik setelah memijah yakni induk betina mengulum telur yang
telah dibuahi di dalam mulutnya. Menurut Suyanto (2009) klasifikasi lengkap ikan
nila yang dianut para ilmuan adalah :
Filum
: Chordata
Kelas
: Osteichthyes
Ordo
: Percomorphi
Famili
: Cichlidae
Genus
: Oreochromis
Spesies
: Oreochromis niloticus
Ikan nila mampu tumbuh cepat hanya dengan pakan yang mengandung protein
sebanyak 20-25%. Ikan nila dapat memijah sepanjang tahun. Apabila induk ikan
Ummi Mardhiah Batubara : Pembuatan Pakan Ikan Dari Protein Sel Tunggal Bakteri Fotosintetik Anoksigenik Dengan
Memanfaatkan Limbah Cair Tepung Tapioka Yang Diuji Pada Ikan Nila (Oreochromis Niloticus), 2010.
18
dipelihara dengan baik dan diberi pakan yang berkualitas maka ikan nila dapat
memijah setiap 1,5 bulan sekali. Persediaan pakan dalam habitat ikan nila sebanding
dengan jumlah ikan sehingga pertumbuhan akan semakin cepat. Ikan nila mempunyai
sifat-sifat yang menguntungkan yakni nila lebih efisien menggunakan pakan, bersifat
omnivora, cepat pertumbuhannya, berdaging tebal, dan rasa dagingnya mirip dengan
kakap merah (Suyanto, 2009).
Bakteri Fotosintetik Anoksigenik (BFA) adalah bakteri air yang tersebar dalam air
tawar maupun air laut, bersel tunggal, berwarna merah, jingga atau hijau. Yang
disebabkan karena adanya kandungan klorofil bakteri dari senyawa karotinoid
(Schlegel, 1994). Di alam, BFA terdistribusi luas di air dan tanah. Bakteri ini juga
tumbuh baik pada lingkungan yang tercemar akibat kegiatan manusia. Bakteri ini juga
sering dijumpai dalam sistem pengolahan limbah cair biologi secara aerob (Kobayashi
& Kobayashi, 1995). Dalam lumpur aktif BFA ada dalam jumlah yang lebih sedikit
daripada bakteri kemoheterotrof aerobik, sekitar 103 sampai dengan 105 sel hidup per
mg lumpur kering (Hiraishi et al., 1995). Umumnya BFA mampu mengasimilasi
karbondioksida dan molekul nitrogen (fiksasi nitrogen), dengan menggunakan cahaya
sebagai sumber energi (Kobayashi & Kobayashi, 1995).
19
menjadi logam dasarnya yang kemudian disimpan dalam selnya sehingga lingkungan
menjadi kurang beracun (Moore & Kaplan, 1992).
Bakteri fotosintetik anoksigenik ini tumbuh relatif cepat (Suryanto & Suwanto,
2000). Bakteri fotosintetik anoksigenik dengan menggunakan sumber C dapat
mengubah senyawa organik komplek menjadi polisakarida kompleks (Hiraishi et al.,
1995). Bakteri fotosintetik anoksigenik mampu menghasilkan produk samping dari
limbah pertanian karena lebih banyak menguraikan dinding sel bakteri dan kaya
protein, karoten, dan vitamin (Kim & Lee, 2000).
2004).
Rhodobacter
sphaeroides
mampu
memproduksi
hidrogen,
Potensi produktivitas protein sel tunggal (PST) sangat tinggi dibandingkan dengan
protein konvensional. Satu pabrik PST yang dapat memproduksi protein setara dengan
120.000 ha kedele, atau sebanyak sapi yang dibesarkan pada lahan rumput seluas 2
juta Ha (Malick et al., 1976). Menurut Han et.al, (1976) pertimbangan utama untuk
Ummi Mardhiah Batubara : Pembuatan Pakan Ikan Dari Protein Sel Tunggal Bakteri Fotosintetik Anoksigenik Dengan
Memanfaatkan Limbah Cair Tepung Tapioka Yang Diuji Pada Ikan Nila (Oreochromis Niloticus), 2010.
20
Protein sel tunggal sering dimanfaatkan sebagai pengganti protein dari sumber
konvensional pada pakan ternak atau bahan pangan (Khan et al., 1992). Dibandingkan
dengan mikroalgae dan yeast, BFA memiliki beberapa keuntungan sebagai diet untuk
perairan. Telah dilaporkan bahwa penambahan BFA sebagai sumber makanan
merangsang pertumbuhan zooplankton yang lebih banyak daripada alga hijau dan
sangat berguna untuk pertumbuhan udang (Kobayashi et al., 1995). Produksi massa
dari BFA sebagai protein sel tunggal nampaknya menjadi solusi yang menarik untuk
masalah pertumbuhan suplemen protein untuk wilayah perairan (Kim & Lee, 2000)
Proses pembuatan tapioka memerlukan air untuk memisahkan pati dari serat. Pati
yang larut dalam air harus dipisahkan. Teknologi yang ada belum mampu
memisahkan seluruh pati yang terlarut dalam air, sehingga limbah cair yang
dilepaskan ke lingkungan masih mengandung pati. Limbah cair akan mengalami
dekomposisi secara alami di badan perairan dan menimbulkan bau yang tidak sedap.
Bau tersebut dihasilkan pada proses penguraian senyawa yang mengandung nitrogen,
sulfur dan fosfor dari bahan berprotein (Zaitun, 1999; Hanifah et al., 1999).
21
Malaysia dan banyak negara tetangga lain, ada penambahan kebutuhan untuk sumber
protein. Konsumsi protein telah dilaporkan mencapai 45 g/hari/orang dan untuk
memenuhi kebutuhan itu dibutuhkan 17 g protein hewan.
Tapioka dapat digunakan sebagai pakan hewan dalam bentuk kepingan (chips),
pelet, dan nutrisi untuk mikroba protein sel tunggal. Tanaman tapioka terdiri dari akar,
daun, dan batang yang merupakan sumber karbohidrat dan protein yang baik. Bagian
lain tanaman dapat dimanfaatkan sebagai makanan hewan. Daunnya dapat digunakan
sebagai pakan ikan yang disimpan dalam jangka waktu yang lama, dikeringkan untuk
suplemen makanan dan dibentuk tepung untuk konsentrasi pakan. Batang dapat
dicampur dengan daun dan digunakan sebagai makanan pencernaan hewan
ruminansia. Akar tanaman dapat dibentuk kepingan dan pelet serta digunakan sebagai
makanan yang berupa serpihan akar maupun serat, sedangkan hasil ekstraksi pati dan
proses pengeringan dimanfaatkan secara langsung sebagai makanan hewan atau
sebagai substrat untuk produksi protein sel tunggal (Best, 1978).
Ummi Mardhiah Batubara : Pembuatan Pakan Ikan Dari Protein Sel Tunggal Bakteri Fotosintetik Anoksigenik Dengan
Memanfaatkan Limbah Cair Tepung Tapioka Yang Diuji Pada Ikan Nila (Oreochromis Niloticus), 2010.
22
BAB 3
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2008 sampai September 2009 di
Laboratorium Mikrobiologi Departemen Biologi, Laboratorium Biokimia Departemen
Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Laboratorium Teknologi
Hasil Pertanian (THP) Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara dan
Laboratorium Badan Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Utara (BLHSU).
3.3 Bahan
Ummi Mardhiah Batubara : Pembuatan Pakan Ikan Dari Protein Sel Tunggal Bakteri Fotosintetik Anoksigenik Dengan
Memanfaatkan Limbah Cair Tepung Tapioka Yang Diuji Pada Ikan Nila (Oreochromis Niloticus), 2010.
23
24
25 menit. Hasil dari sentrifugasi berupa pellet dan supernatan. Supernatan dibuang,
sedangkan pellet ditambah aseton sebanyak 0,5 ml lalu dihomogenkan. Kemudian
aseton dibiarkan menguap. Aquadest ditambahkan ke dalam tabung reaksi hingga
volume 1 ml. Kemudian ditambah dengan 5,0 ml pereaksi C dan diinkubasi selama 10
menit pada suhu ruang. Lalu larutan ditambahkan 0,5 ml Folin Ciocalteu, kemudian
dihomogenkan. Larutan diinkubasi selama 30 menit pada suhu ruang. Absorbansinya
diukur dengan menggunakan spektrofotometer Shimadzu UV-VIS 1601 A pada
panjang gelombang 750 nm (Lowry et al., 1951). Kadar protein ditentukan
berdasarkan persamaan regresi standar larutan protein dengan metode Least Square
(Glover & Mitchell, 2002). Alur kerja penentuan kadar protein BFA dapat dilihat pada
(Lampiran D, hal: 36).
Pakan ikan terbagi dalam dua golongan yaitu golongan yang berjumlah banyak
(dedak) dan golongan yang berjumlah sedikit (vitamin dan mineral). Bahan-bahan
yang berupa tepung kering dicampur mulai dari bahan yang jumlahnya paling sedikit,
kemudian secara berangsur-angsur ditambahkan sedikit demi sedikit bahan lain yang
Ummi Mardhiah Batubara : Pembuatan Pakan Ikan Dari Protein Sel Tunggal Bakteri Fotosintetik Anoksigenik Dengan
Memanfaatkan Limbah Cair Tepung Tapioka Yang Diuji Pada Ikan Nila (Oreochromis Niloticus), 2010.
25
jumlahnya lebih banyak. Biakan bakteri BFA dengan media pertumbuhan cair
ditambahkan sedikit demi sedikit ke dalam bahan pelet yang sudah tercampur sesuai
dengan takaran yang ditentukan. Semua bahan yang digunakan dipastikan tercampur
rata, setelah semua bahan masuk, proses pengadukan tetap dilakukan sampai terjadi
perubahan warna, setelah itu adonan diangkat dan didinginkan di atas tampir (tampah
besar) (Murtidjo, 2007).
26
sebagai kontrol. Kemudian banyaknya ulangan pada setiap kadar protein yang berbeda
dihitung dengan menggunakan rumus:
(n-1) (t-1) 15
Dimana, t = jumlah perlakuan
n = jumlah pengulangan
Untuk perlakuan perbedaan konsentrasi pakan ikan yang diberikan,
Pakan Komersil
Pi A
25%
Pi B
30%
Pi C
35%
Pi D
PiA2
PiA3
PiA4
PiA5
PiA6
PiB1
PiB2
PiB3
PiB4
PiB5
PiB6
27
pH berkisar antara 77,2 (Arie, 2000). Ikan yang digunakan dalam wadah uji adalah
ikan nila (Oreochromis niloticus) dengan bobot awal rata-rata 80 g per ekor dengan
ukuran panjang rata-rata adalah 15 cm. Padat tebar ikan yang digunakan adalah 4 ekor
per ulangan dengan jumlah total 96 ekor.
Ummi Mardhiah Batubara : Pembuatan Pakan Ikan Dari Protein Sel Tunggal Bakteri Fotosintetik Anoksigenik Dengan
Memanfaatkan Limbah Cair Tepung Tapioka Yang Diuji Pada Ikan Nila (Oreochromis Niloticus), 2010.
28
BAB 4
(a)
(b)
29
ini:
0.16
0.14
0.12
0.1
0.08
0.06
0.04
0.02
0
0
24
48
72
96
Gambar
4.2
fotosintetik
anoksigenik
lain.
Sathappan
(1997),
menyatakan
bahwa
pertumbuhan
BFA
Ummi Mardhiah Batubara : Pembuatan Pakan Ikan Dari Protein Sel Tunggal Bakteri Fotosintetik Anoksigenik Dengan
Memanfaatkan Limbah Cair Tepung Tapioka Yang Diuji Pada Ikan Nila (Oreochromis Niloticus), 2010.
30
Tabel 4.1 Kadar protein dan berat kering sel bakteri fotosintetik anoksigenik
Rhodopseudomonas palustris pada waktu inkubasi yang berbeda.
Jam Ke-
Absorbansi
0
72
120
0.132
0.235
0.173
Kadar Protein
(g/ml)
7.1296
59.8081
28.0081
Berat Kering
(mg/ml)
0.0536
3.6865
1.0198
jumlah
protein.
Lay
&
Sugyo
(1992),
menyatakan
bahwa
70.00
60.00
50.00
40.00
30.00
20.00
10.00
0.00
3
2
1
Kadar protein
(g/ml)
0
0
72
120
Kadar protein
Gambar 4.3 Kurva Kadar protein dan berat kering sel bakteri fotosintetik
anoksigenik Rhodopseudomonas palustris
Ummi Mardhiah Batubara : Pembuatan Pakan Ikan Dari Protein Sel Tunggal Bakteri Fotosintetik Anoksigenik Dengan
Memanfaatkan Limbah Cair Tepung Tapioka Yang Diuji Pada Ikan Nila (Oreochromis Niloticus), 2010.
31
Umesh & Seshagiri (1984), menyatakan bahwa spirulina sebagai salah satu
ganggang penghasil Protein sel tunggal sangat baik digunakan sebagai pakan dan
pangan. Spirullina dapat digunakan sebagai pakan ikan hias karena memiliki
zeaksantin yang dilaporkan mampu meningkatkan pigmentasi ikan dan udang.
Menurut Kobayashi & Kobayashi (1995), protein sel tunggal bakteri Rhodobacter
capsulatus mengandung banyak protein (ditunjukkan dengan keseimbangan asam
amino) vitamin dan substansi lain yang efektif. Protein ini dapat digunakan dalam
konversi protein. Untuk pembuatan pakan, biomasa sel dapat dibuat pellet dengan
ukuran yang dikehendaki. Kultur sel bakteri fotosintetik dimanfaatkan sebagai
makanan untuk organisme kecil di dalam air dan tanah dan hasil ekskresi bakteri
fotosintetik digunakan oleh organisme heterotrop seperti bakteri dan algae.
(a)
Gambar
(b)
(c)
(d)
4.4 Pakan komersil (a) Pelet Perlakuan I (25 % PST) (b) Pelet
Perlakuan II (30 % PST) (c) Pelet Perlakuan IV (35 % PST) (d).
32
yang dibuat dalam bentuk pelet memiliki beberapa keunggulan yaitu perubahan fisika
dan kimia pakan mudah dicerna oleh ikan yang mengkonsumsinya karena pakan ikan
bentuk pelet telah dimasak dalam temperatur tinggi, menghindari ikan memilih
bagian-bagian yang disenangi saja jika pakan berupa tepung (mash) serta dapat
meningkatkan efisiensi pakan sekitar 2-6%, menghemat tempat dan pengangkutan
karena volume pakan ikan berbentuk pelet lebih kecil akibat proses pengepresan dan
proses pembuatan pelet memusnahkan kuman-kuman salmonella.
Pakan
Komersil
78,3
120
41,7
0,40
1,79
7
Berdasarkan analisis data pada Tabel 4.3 yang dilakukan dapat disimpulkan
bahwa pertambahan bobot, laju pertumbuhan harian dan nilai mortalitas ikan nila
setelah diberi protein sel tunggal yang dikonversi pada pakan ikan menunjukkan
perbedaan yang tidak nyata dengan pakan komersil (lampiran J, hlm 43). Hal ini
berarti semua jenis pakan yang diuji memberikan pengaruh yang sama terhadap
pertumbuhan ikan nila. Kurva pertambahan bobot selama penelitian dapat dilihat dari
Gambar 4.5 berikut ini :
Ummi Mardhiah Batubara : Pembuatan Pakan Ikan Dari Protein Sel Tunggal Bakteri Fotosintetik Anoksigenik Dengan
Memanfaatkan Limbah Cair Tepung Tapioka Yang Diuji Pada Ikan Nila (Oreochromis Niloticus), 2010.
33
Berdasarkan Tabel 4.3 di atas nilai ubah pakan (FCR) dari setiap perlakuan
masih efisien digunakan dalam pertumbuhan ikan nila. Mudjiman (2002), menyatakan
bahwa jumlah pakan yang dikonsumsi oleh seekor ikan berkisar antara 5-6% dari
bobot tubuhnya per hari. Namun jumlah tersebut dapat berubah karena faktor luar.
Faktor konversi pakan pada ikan berkisar antara 1,5-8. Suatu jenis pakan dikatakan
cukup efisien jika faktor konversinya 1,7.
120
100
80
60
40
20
0
Minggu 0
Minggu I
Waktu pengamatan
Pakan Komersil
PST 25 %
PST 30 %
PST 35 %
Ummi Mardhiah Batubara : Pembuatan Pakan Ikan Dari Protein Sel Tunggal Bakteri Fotosintetik Anoksigenik Dengan
Memanfaatkan Limbah Cair Tepung Tapioka Yang Diuji Pada Ikan Nila (Oreochromis Niloticus), 2010.
34
Subamia et al., (2003) menyatakan bahwa dari segi kualitas pakan ikan
membutuhkan zat-zat pakan seperti protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral.
Sedangkan dari segi kuantitas perlu disediakan pakan yang cukup karena apabila
benih mengalami kekurangan pakan akan menyebabkan pertumbuhan terhambat dan
kematian. Zonneveld et al., (1991), menyatakan bahwa untuk dapat mencernakan zatzat pakan tersebut diperlukan suatu proses yaitu proses hidrolisis, sedangkan proses
ini akan berlangsung apabila terdapat enzim pencernaan seperti protease, amilase dan
lipase.
Tabel 4.3 Penggunaan Pakan Konvensional Bakteri Fotosintetik Anoksigenik
R. palustris selama penelitian.
Perlakuan
Pakan komersil
PST 25%
PST 30%
PST 35%
Pakan Habis
Terpakai
(g)
5.180
5.040
5.100
5.060
Pakan
Terbuang
(g)
504
510
506
Konsumsi Ikan
Per Hari
(g)
7,7
7,5
7,5
7,5
Dari Tabel 4.4 di atas, tampak bahwa pakan dengan kadar protein sel tunggal
25%, 30% dan 35% tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan pakan
komersil yang diberikan sebagai pembanding. Hal ini mungkin dikarenakan komposisi
protein yang diberikan untuk ikan nila masih berada pada batas normal. Menurut
Affandi (1997), kebutuhan protein untuk ikan nila berada pada kisaran 25-35%,
kebutuhan makanan tambahan diperoleh ikan nila dari organisme seperti plankton dan
hewan kecil lain.
karena
pengaruh
faktor
lingkungan.
Aktifitas
metabolisme
akan
Ummi Mardhiah Batubara : Pembuatan Pakan Ikan Dari Protein Sel Tunggal Bakteri Fotosintetik Anoksigenik Dengan
Memanfaatkan Limbah Cair Tepung Tapioka Yang Diuji Pada Ikan Nila (Oreochromis Niloticus), 2010.
35
Kisaran
3
27-28
6,8-7,1
5-6
Menurut Jangkaru et al., (1991), ikan nila tumbuh dan bereproduksi pada
salinitas 0-29 permil dan pada salinitas 29-35 permil ikan nila dapat tumbuh tetapi
tidak berproduksi. Wardoyo (1989), menyatakan bahwa pengaruh salinitas terhadap
pertumbuhan Tilapia nilotica sangat tergantung pada ukuran ikan. Sedangkan Payne
et al., (1988) dalam Anggawati et al., (1990), menyatakan bahwa Tilapia bersifat
eurykaline, dan pertumbuhan serta berkembangbiaknya akan terhambat pada salinitas
yang lebih tinggi karena sebagian energinya dimanfaatkan untuk proses osmoregulasi.
Keasaman alami, alkalinitas karbonat dan pH penting dalam menentukan
kualitas suatu perairan bagi budidaya perikanan. Alabaster dan Lloyd (1980),
menyatakan bahwa pada dasarnya tidak ada kisaran pH yang tetap untuk budidaya
perikanan walaupun secara umum disebutkan bahwa kisaran pH dengan populasi ikan
yang baik adalah pH 6,3-9 dan sebagian besar badan air berada pada kisaran pH 6,78,6. Irianto (2005), menyatakan bahwa nilai pH 5-6,5 sangat merugikan bagi ikan
salmonid karena akan terjadi penurunan laju pertumbuhan. Pada pH kurang dari 5,
ikan salmonid akan mengalami gangguan pengaturan tekanan osmosis dan berakibat
penurunan NaCl pada plasma sehingga kehilangan koordinasi gerakan tubuh.
Ikan memerlukan oksigen (O2) untuk proses pernafasan dan metabolisme
tubuh. Kebutuhan oksigen dalam budidaya ikan tergantung pada spesies yang
dibudidayakan. Suryanti et al., (1996), menyatakan bahwa ikan kolam akan mati
karena kekurangan oksigen apabila berada lama di air dengan kandungan oksigen
Ummi Mardhiah Batubara : Pembuatan Pakan Ikan Dari Protein Sel Tunggal Bakteri Fotosintetik Anoksigenik Dengan
Memanfaatkan Limbah Cair Tepung Tapioka Yang Diuji Pada Ikan Nila (Oreochromis Niloticus), 2010.
36
kurang dari 0,3 mg/l. Irianto (2005), menyatakan bahwa kekurangan oksigen dapat
berakibat pada mortalitas ikan. Pada dasarnya konsentrasi oksigen terlarut 5 mg/l
merupakan kandungan oksigen yang dianjurkan untuk kesehatan ikan yang optimum.
Apabila kandungan oksigen terlarut turun menjadi 3-4 mg/l, ikan akan mengalami
stres.
Oksigen yang dihasilkan dari fotosintesis dapat meningkatkan kandungan O2
dalam media pertumbuhannya. Matales & Tanennbaum (1968), menyatakan bahwa
peningkatan oksigen terlarut (DO) berguna untuk penurunan kadar cemaran limbah
dan penyediaan O2 bagi biota air. Unsur nitrogen harus diberikan karena mikroba
tidak dapat mengambilnya dari udara.
Toleransi ikan terhadap suhu sangat bervariasi tergantung jenis ikan. Nila gift
merupakan jenis ikan yang tinggi toleransinya terhadap perubahan suhu. Arie (2000),
menyatakan bahwa kisaran suhu yang dapat ditolerir berada pada kisaran 14-38oC.
Secara alami nila gift dapat memijah pada suhu 22-37oC. Namun, suhu optimum
untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan berada pada kisaran 25-30oC. Sedangkan
suhu yang menyebabkan kematian ikan nila adalah di bawah 6oC atau di atas 42oC.
Ummi Mardhiah Batubara : Pembuatan Pakan Ikan Dari Protein Sel Tunggal Bakteri Fotosintetik Anoksigenik Dengan
Memanfaatkan Limbah Cair Tepung Tapioka Yang Diuji Pada Ikan Nila (Oreochromis Niloticus), 2010.
37
BAB 5
5.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penambahan protein sel tunggal
bakteri fotosintetik anoksigenik Rhodopseudomonas palustris pada pakan ikan nila
(Oreochromis niloticus)
panjang
tubuh,
penambahan bobot ikan, laju pertumbuhan ikan per hari, nilai ubah pakan dan
mortilitas. Dari analisis data yang dilakukan menunjukkan bahwa mutu pakan
yang dikonversi oleh protein sel tunggal (PST) dengan perlakuan 25%, 30% dan
35% sama dengan perlakuan tanpa pemberian PST bakteri fotosintetik
anoksigenik Rhodopseudomonas palustris.
Saran
Diharapkan ada penelitian lebih lanjut tentang pemanfaatan lain protein sel
tunggal yang terkandung didalam BFA Rhodopseudomonas palustris.
Ummi Mardhiah Batubara : Pembuatan Pakan Ikan Dari Protein Sel Tunggal Bakteri Fotosintetik Anoksigenik Dengan
Memanfaatkan Limbah Cair Tepung Tapioka Yang Diuji Pada Ikan Nila (Oreochromis Niloticus), 2010.
38
DAFTAR PUSTAKA
Affandi, R.D., S. Syafei, M.F. Rahardjo, dan Sulistiono. 1992. Fisiologi Ikan. Pusat
Antar Universitas Ilmu Hayati. Institut Pertanian Bogor, 215 p.
Anggawati, A. M, Imanto, & Tazwin. Y. S. 1990. Penelitian Budidaya Ikan Nila
Merah (Oreochromis. Niloticus) Dalam Keramba Jaring Apung Du Serdang
Baru. Buletin penelitian perikanan. Puslitbang perikanan. Bandung. Hlm.
51-68.
Arie, U. 2000. Pembenihan dan Pembesaran Nila Gift. Penebar Swadaya. Jakarta.
Hlm 7-9, 18-20.
Azwar, Z. I. 1997. Pengaruh Askorbil Fosfat Magnesium Sebagai Sumber Vitamin C
Terhadap Penampilan Reproduksi Ikan Nila (Oreochromis sp.) Disertasi.
Pascasarjana. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Best, R. 1978. Cassava Processing For Animal Feed. CIAT/IDRC: 114 e. 12-20.
Djajasewaka, H.,A. Widiyati, dan T.H. Prihadi. 1993. Optimasi Padat Tebar ikan
Jambal siam (Pangasius sutci) dalam Keramba Jaring Apung. Prosiding
Seminar Hasil penelitian Perikanan Air Tawar. 227-231.
Fadlila, E. & Effendi, M. T. 2004. Pembuatan Poli Hidroksialkanoat (PHA) oleh
Bakteri Fotosintetik Rhodospirillum rubrum (IFO 3986) menggunakan Asam
Lemak Volatil. Jurnal Natur Indonesia. 7(3): 45-72
Glover, T & Kevin, M. 2002. An Introduction to Biostatistics. New York: McGrawHill Companies, Inc. Hlm. 332-334.
Habte, M. & M. Alexander. 1980. Nitrogen fixation by photosynthetic bacteria in
low land culture. Applied and Environmental Microbiology. 39(1): 342-347.
Han, Y.W., Peter, R. C., A.W. Anderson. & C. Lekprayoon. 1976. Growth of
Aureobasidium pullulans on straw hydrolysate. Applied and Environmental
Microbiology. 32(6): 799-802.
Hanifah, T.A., Christine,. J. & Titania, T. N. 2001. Pengolahan limbah cair tapioka
dengan metode EM (Effective Microorganism). Jurnal Natur Indonesia. 3(2):
95-103.
Ummi Mardhiah Batubara : Pembuatan Pakan Ikan Dari Protein Sel Tunggal Bakteri Fotosintetik Anoksigenik Dengan
Memanfaatkan Limbah Cair Tepung Tapioka Yang Diuji Pada Ikan Nila (Oreochromis Niloticus), 2010.
39
Harwood, C.S. & Jane, G. 1995. Anaerobic and aerobic metabolism of diverse
aromatic compounds by the photosynthetic bacterium Rhodopseudomonas
palustris. Applied and Environmental Microbiology. 54(3): 712-717.
Hiraishi, A., Keigo, M. & Katsuro, U. 1995. Characterization of new denitrifying
Rhodobacter strains isolated from photosynthetic sludge for wastewater
treatment. Journal Fermentation and Bioengineering. 79(1): 39-44.
Irianto, A. 2005. Patologi Ikan Teleostei. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press.
Hlm. 16-18.
Jangkaru, Z, Wardoyo. S.M, & Darwis. K. 1991. Petunjuk Teknis. Budidaya. Ikan
Nila. Pusat penelitian dan pengembangan perikanan. Jakarta. Hlm. 32.
Jawetz, E., J.L. Melnick, E.A. Adelberg, G.F. Brooks, J.S.Butel, L.N. Ornston, 1996.
Mikrobiologi Kedokteran, Edisi ke-20, Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC. Hlm. 51.
Jouncey, K & B. Ross.1982. A guide to Tilapia feeds and Feeding. Institute of
Aquaculture. Scotland: University of Stirling. 111 p.
Junianto, B.O. 2003. Rice starch: Production, properties and uses. In: Starch,
chemistry and technology, second edition. Whistler, R.L., Bremiller, J.n. and
Paschalll, E.F. (eds), Academic Press Inc., Hlm. 249-274.
Khan, M.Y., M. U. Dahot & M.Y. Khan. 1992. Single cell protein production by
Pennicillium javanicum from pretreated rice husk. Journal Islamic Academy of
Science. 5(1): 39-43.
Kim, J.K. & Lee B.K. 2000. Mass production of Rhodopseudomonas Palustris as diet
for aquaculture. Aquaculture Engineering. 23: 281-293.
Kobayashi, M. & Kobayashi, M. 1995. Waste remediation treatment using
anoxygenic photosynthetic bacteria. In Madigan M.T. dan C. E. Bauer. (eds).
Anoxygenic Photosynthetic Bacteria: R. E. Blankenship: hlm. 1269-1282.
Netherlands: Kluwer Academic Publisher.
Kobayashi, M., Ehchi, T & Keizaburo K. 1967. Distribution of nitrogen-fixing
microorganism in paddy soils of southeast asia, Soil Science. 104(2): 113-118.
Lay, B.W. & Sugyo, H. 1992. Mikrobiologi. Jakarta: Rajawali Pers. Hlm. 101-105.
Lovell, R.T. 1988. Nutrient and Feeding of Fish. Van Nostrand Reindhold. New
York, 260 p.
Ummi Mardhiah Batubara : Pembuatan Pakan Ikan Dari Protein Sel Tunggal Bakteri Fotosintetik Anoksigenik Dengan
Memanfaatkan Limbah Cair Tepung Tapioka Yang Diuji Pada Ikan Nila (Oreochromis Niloticus), 2010.
40
Lovell, T. 1989. Nutrition and Feeding of fish. Van Nostrand Reinhold, New York.
Hlm. 106-108.
Lowry, O.H., Rosebrough, N.J., Farr, A.L., & Randall, R.J. 1951. Protein
Measurement with the Folin phenol Reagen. Journal Biology Chemystry.
193: 265-275.
Lubis, R. 2003. Penentuan Aktivitas enzim protease dari ekstrak jeroan ikan mas
(Cyprinus carpio L.) terhadap hidrolisa bovin serum albumin. Skripsi.
Indonesia: Universitas Sumatera Utara, 30 p.
Madigan, M.T., Sharon, S. C. & Roderick, A. S. 1984. Nitrogen fixation and
nitrogenase activities in members of family Rhodospirillaceae. Journal of
Bacteriology. 157(1): 73-78.
Makatutu, D. 2002. Suplementasi Vitamin C Dalam Pakan Untuk Mempercepat
Perkembangan Gonad dan Meningkatkan Mutu Telur Ikan Kerapu Batik
(Epinephelus microdon). Thesis Pasca Sarjana IPB, 80 p.
Malick E.A., Donald, O.H., Eugene, H.W., Ned, L. C., Harold, M. H. 1976. Single
cell protein. Its status and future implication in world food supply. Technology
Assesment Activities in the Industrial, Academic and Governmental
Communities. Second Arab Conference on Petrochemical Abu Dhabi (United
Emirates). 15 to 22 March 1976.
Matales, R.I & Tanennbaum, S. R. 1968. Single Cell Protein. MIT Press.
Massachussetts. Hlm. 166-167.
Mokogonta, I., D, Jusadi, M. Setiawati, T. Takeuchi, and M.A. Suprayudi.1992. The
Effect of Different Levels of Dietary N-3 Fatty Acid on The Egg Quality of
Catfish (Pangasius hypophthalmus). The Proc. JSPS-DGHE International
Symposium on Fisheries Science in Tropical Asia, 10: 252-256.
Moore, H. & Kaplan. R. 1992. Cage Culture, A Method of Fish Production in
Indonesia. FRDP. Central Research Institute For Fisheries. Jakarta, 144 p.
Mudjiman, Ahmad. 1998. Makanan Ikan. Cetakan XI. Jakarta: Penebar Swadaya.
Hlm. 5-8, 33-38.
Murtidjo, Agus. 2007. Pedoman Meramu Pakan Ikan. Cetakan VI. Jakarta : Penerbit
Kanisius. Hlm. 27-29.
Nazir, Moh. 2005. Metode Penelitian. Cetakan Keenam. Penerbit Ghalia Indonesia.
Bogor selatan. Hlm. 221, 235-236.
Ummi Mardhiah Batubara : Pembuatan Pakan Ikan Dari Protein Sel Tunggal Bakteri Fotosintetik Anoksigenik Dengan
Memanfaatkan Limbah Cair Tepung Tapioka Yang Diuji Pada Ikan Nila (Oreochromis Niloticus), 2010.
41
Natawiria, S. Z.I Azwar, & N. Suhendra. 1981. Pemeliharaan Induk Ikan Mas
(Cyprinus carpio Linn) Dalam Aquarium Dengan Sistem Resirkulasi. Bull.
Panel. Perikanan. Hlm. 62-64.
Nikijuluw, V. P. H. 2005. Konsumsi ikan Penduduk Indonesia, Mungkinkah
ditingkatkan? Dalam Widodo et al. 1997. Prosiding Simposium Perikanan
Indonesia II, Ujung Pandang 2-3 Desember 1997, 273-281 pp.
Oboh, G & Akindahunsi, A.A. 2003. Biochemical changes in cassava products (flour
and garri subjected to Saccharomyces cerevisae solid media fermentation.
Food chemistry. 82 (4): 599-602.
Poernomo, A.C. Lim, W.E Vanstone & Anindiastuti. 1985. Muturation of Captive
Milkfish. Workshop on milkfish reproduction, 22-24 april. Tungkan-Taiwan.
79-86 pp.
Putro, S. 2003. Strategi Pemasaran Produksi Perikanan Budi daya. Pusat Riset
Perikanan Budidaya Badan Riset Kelautan dan Perikanan Departemen
Kelautan dan Perikanan. Hlm. 67-69.
Umesh, B.V & Seshagiri. 1984. Phycotecnology spirulina as feed and food.
Monograph Series on Engineering Photosyntetic System, 17 :38 p.
Rasidi. 2002. 302 Formulasi Pakan Lokal Alternatif . Penebar Swadaya. Jakarta. Hlm
1-3.
Ronald, Ms. 1995. Handbook of Media for Environmental Microbiology. NewYork:
CRC Press. Hlm. 396-397.
Saridewi, T.R, 1998. Pengaruh Kadar Protein Yang Berbeda Dengan Rasio Energi
Protein 8kkal/g Protein Secara Kecernaan. Koef. Respirasi dan Ekskresi
Amonika Benih Ikan Merah So, sebelum benih ikan nila Merah (Oreochromis
Sp.). Jogyakarta: Universitas Gajah Mada.
Sastrosupadi, A. 1995. Rancangan Percobaan Praktis untuk Bidang Pertanian.
Kanisius. Yogyakarta. Hlm. 162.
Sathappan, M. 1997. Optimization of growth and immobilization of
Rhodopseudomaonas palustris strain B1 for the utilization of sago starch
processing waste water. Thesis. Malaysia: University of Malaya.
Schlegel, H. G & Schmidt, K. 1994. Mikrobiologi Umum. Edisi Keenam. Penerbit
Universitas Gajah Mada. Yogyakarta. Hlm.140.
Ummi Mardhiah Batubara : Pembuatan Pakan Ikan Dari Protein Sel Tunggal Bakteri Fotosintetik Anoksigenik Dengan
Memanfaatkan Limbah Cair Tepung Tapioka Yang Diuji Pada Ikan Nila (Oreochromis Niloticus), 2010.
42
Setijaningsih, L., Z.I. Azwar, dan M. Sulhi. 2002. Pengaruh Suplementasi Askorbil
Fosfat Magnesium Sebagai Sumber Vitamin C dalam Pakan terhadap
Reproduksi Ikan Gurame (Osphronemus gouramy Lac). Laporan Proyek
Penelitian Perikanan Air tawar, Sukamandi, 12 p.
Seumahu, C. A., Antonious, S., Aris, T. 1997. Karakterisasi sejumlah isolat bakteri
fotosintetik anoksigenik untuk pupuk hayati Padi. Hayati. 4(3): 67-71.
Sitanggang M. 2002. Mengatasi Penyakit dan Hama pada Ikan Hias. Jakarta:
Agromedia Pustaka Stanton, W.R & Wallbridge. 1969. Fermented Food
Processes. Process Biotechnol. 4: 45-51.
Subamia, I. W, Mokoginta, I & Affandi, R. 2003. Pengaruh Kadar Asam Lemak N-3
Berbeda pada Kadar Asam Lemak N-6 Tetap dalam Pakan Terhadap
Komposisi Asam Lemak Tubuh, Metamorfosis, dan Pertumbuhan Kecebong
Katak Lembu (Rana catesbeiana Shaw). Laporan Proyek Penelitian Pertanian
Indonesia. Bogor. 4-7 pp.
Sudjana, M. 1984. Desain dan Analisis Eksperimen. Penerbit Tarsito Bandung. Hlm.
61-69
Suhenda, R.,Setijaningsih, L., dan Suryanti, Y. 2005. Pertumbuhan Benih Ikan Patin
Jambal (Pangasius djambal) Yang Diberi Pakan Dengan Kadar Protein
Berbeda. Laporan Proyek Penelitian Perikanan Budidaya Air tawar, Bogor, 74 pp.
Suryanti, Y. 2003. Peranan Asam Amino Dalam Fisiologi Nutrisi Pada Awal
kehidupan Ikan. Warta Penelitian Perikanan Indonesia, 8(4): 19-29.
Suryanto, D. & Suwanto, A. 2000. Selection and isolation of aromatic hydrogen
degrading bacteria. Jurnal Microbiology Indonesia. 5(2): 39-42.
Suryanto, D. Suwanto, A. & Meryandini, A. 2001. Characterization of three benzoate
degrading anoxygenic photosynthetic bacteria isolated from the environmental.
Biotropica Bacterial. 17: 9-17.
Suyanto, S.R. 2009. Nila. Cetakan ke-XV. Penebar Swadaya. Jakarta. Hlm.1-6.
43
Watanabe, T. 1988. Fish Nutrition and Marine Culture, JICA Tex Book the General
Aquaculture. Course Department of Aquatic Broscience. Tokyo University of
Fisheries, 233 p.
Wee, K.L & N.A, Tuan.1988. Effects of Dietary Protein Level on The Growth and
Reproduction of Nile Tilapia (Oreochromis niloticus). International Center for
Living Aquatic Resources Management, Manila-Phillipines. 42 p.
Winfree, R.A. and R.R. Stickney. 1981. Effects of Dietary Protein and Energy on
Growth, Feed Conversion Efficiency and Body Composition of Tilapia aurea.
J. Nut., 111: 1,001 p.
Zaitun, G. & Hanifah, L. 1999. Autotrophic and Heterotrophic Prodution of
Microorganism in Intensively Manured Fish Ponds and Related Fish Yield..
Aquaculture journey. 14: 303 p.
Zonneveld, N.F, A. Huisman, dan J.H. Born.1991. Prinsip-Prinsip Budidaya Ikan. PT.
Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Hlm. 70.
Ummi Mardhiah Batubara : Pembuatan Pakan Ikan Dari Protein Sel Tunggal Bakteri Fotosintetik Anoksigenik Dengan
Memanfaatkan Limbah Cair Tepung Tapioka Yang Diuji Pada Ikan Nila (Oreochromis Niloticus), 2010.
44
LAMPIRAN A:
Ummi Mardhiah Batubara : Pembuatan Pakan Ikan Dari Protein Sel Tunggal Bakteri Fotosintetik Anoksigenik Dengan
Memanfaatkan Limbah Cair Tepung Tapioka Yang Diuji Pada Ikan Nila (Oreochromis Niloticus), 2010.
45
Larutan
Dihomogenkan
Diinkubasi selama 30 menit dalam suhu ruang
Dimasukkan ke dalam kuvet spektrofotometer Shimadzu
UV VIS 1601 A
Diukur dari panjang gelombang 705 800 nm
Absorbans maksimum
Ummi Mardhiah Batubara : Pembuatan Pakan Ikan Dari Protein Sel Tunggal Bakteri Fotosintetik Anoksigenik Dengan
Memanfaatkan Limbah Cair Tepung Tapioka Yang Diuji Pada Ikan Nila (Oreochromis Niloticus), 2010.
46
Ummi Mardhiah Batubara : Pembuatan Pakan Ikan Dari Protein Sel Tunggal Bakteri Fotosintetik Anoksigenik Dengan
Memanfaatkan Limbah Cair Tepung Tapioka Yang Diuji Pada Ikan Nila (Oreochromis Niloticus), 2010.
47
Supernatan
Pelet
Ditambahkan aceton sebanyak 0.5 ml
Dibuang
Dihomogenkan
Hasil
Ummi Mardhiah Batubara : Pembuatan Pakan Ikan Dari Protein Sel Tunggal Bakteri Fotosintetik Anoksigenik Dengan
Kadar protein PST dari BFA
Memanfaatkan Limbah Cair Tepung Tapioka Yang Diuji Pada Ikan Nila (Oreochromis Niloticus), 2010.
48
Ummi Mardhiah Batubara : Pembuatan Pakan Ikan Dari Protein Sel Tunggal Bakteri Fotosintetik Anoksigenik Dengan
Memanfaatkan Limbah Cair Tepung Tapioka Yang Diuji Pada Ikan Nila (Oreochromis Niloticus), 2010.
49
LAMPIRAN F:
Sample Air
Ditambahkan 1 ml MnSO4
Ditambahkan 1 ml KOH-KI
Dikocok
Didiamkan
Sample dengan endapan
putih/coklat
Ditambahkan 1 ml H2SO4
Dikocok
Didiamkan
Larutan sample berwarna
coklat
Diambil sebanyak 100 ml
Ditetesi Na2S2O3 0,00125 N
Sample berwarna kuning pucat
Ditambahkan 5 tetes Amilum
Sample berwarna biru
Dititrasi dengan Na2S2O3 0,00125 N
Sampel bening
Dihitung volume Na2S2O3 0,00125 N yang
terpakai (= nilai DO akhir).
Hasil
Ummi Mardhiah Batubara : Pembuatan Pakan Ikan Dari Protein Sel Tunggal Bakteri Fotosintetik Anoksigenik Dengan
Memanfaatkan Limbah Cair Tepung Tapioka Yang Diuji Pada Ikan Nila (Oreochromis Niloticus), 2010.
50
MODIFIKASI
DAN
2,5 g
(NH4)2SO4
1,25 g
K2HPO4.3H2O
0,9 g
KH2PO4
0,6 g
Yeast Extract
0,5 g
MgSO4.7 H2O
0,2 g
CaCl2.2H2O
0,07 g
FeSO4.7H2O
3,0 mg
EDTA
2,0 mg
Pereaksi A
Sebanyak 2 gram Na2CO3 ditimbang kemudian dilarutkan dengan NaOH 0,1 N
dalam labu takar hingga batas tanda.
Pereaksi B
Sebanyak 0,5 gram CuSO4.5H2O ditimbang kemudian dilarutkan dengan
Kalium Tartrat 1% dalam labu takar 100 ml hingga batas tanda.
Pereaksi C
50 ml pereaksi A dan 1 ml pereaksi B dicampurkan kemudian diaduk hingga
homogen
Ummi Mardhiah Batubara : Pembuatan Pakan Ikan Dari Protein Sel Tunggal Bakteri Fotosintetik Anoksigenik Dengan
Memanfaatkan Limbah Cair Tepung Tapioka Yang Diuji Pada Ikan Nila (Oreochromis Niloticus), 2010.
51
LAMPIRAN
H:
DATA
PENENTUAN
PANJANG
GELOMBANG
MAKSIMUM, PEMBUATAN KURVA STANDARD
BOVINE
SERUM
ALBUMIN
(BSA),
RUMUS
PERHITUNGAN
Data resapan larutan Bovine Serum Albumin (BSA) dengan konsentrasi 300 g/ml.
Menurut metode Lowry dengan Spektrofotometer UV-VIS 1601 A.
Panjang gelombang (nm)
705
710
715
720
725
730
735
740
745
750
755
760
765
770
775
780
785
790
795
800
Absorbansi
0,707
0,711
0,715
0,719
0,723
0,725
0,727
0,730
0,731
0,731
0,729
0,728
0,725
0,723
0,719
0,715
0,711
0,705
0,700
0,694
Konsentrasi
Y =
Absorbansi
Absorbansi
0,023
0,173
0,242
0,351
0,472
0,601
0,713
Ummi Mardhiah Batubara : Pembuatan Pakan Ikan Dari Protein Sel Tunggal Bakteri Fotosintetik Anoksigenik Dengan
Memanfaatkan Limbah Cair Tepung Tapioka Yang Diuji Pada Ikan Nila (Oreochromis Niloticus), 2010.
52
3. Rumus Perhitungan
Rumus yang digunakan untuk menghitung nilai efisiensi makanan ikan, pertambahan
bobot ikan dan nilai ubah makanan adalah :
a. Laju pertumbuhan ikan per hari menurut Murtidjo (2001):
Lp = (W B - 1) x 100%
Bo
b. Pertambahan berat (bobot) ikan menurut Sunyoto (2000):
Pertambahan bobot = berat bobot akhir berat bobot awal
Ummi Mardhiah Batubara : Pembuatan Pakan Ikan Dari Protein Sel Tunggal Bakteri Fotosintetik Anoksigenik Dengan
Memanfaatkan Limbah Cair Tepung Tapioka Yang Diuji Pada Ikan Nila (Oreochromis Niloticus), 2010.
53
Jumlah (Kg/%)
10
40
31
12
5
1
1
100
Jumlah (Kg/%)
12
38
19
16
13
1
1
100
Jumlah (Kg/%)
14
24
20
23
17
1
1
100
Ummi Mardhiah Batubara : Pembuatan Pakan Ikan Dari Protein Sel Tunggal Bakteri Fotosintetik Anoksigenik Dengan
Memanfaatkan Limbah Cair Tepung Tapioka Yang Diuji Pada Ikan Nila (Oreochromis Niloticus), 2010.
54
.425
Sig.
.888
2643.659
.000
.001
.453
.719
.003
.001
.408
.836
.024
15
.002
4.280
24
.030
23
.002
A
Error
Total
Corrected Total
128.896
.069
1
2
128.896
.035
Error
Total
29.931
21
1.425
180.000
24
30.000
23
Corrected Total
Sig.
.024
.976
90.436
.024
.000
.976
c. Nilai FCR
Tests of Between-Subjects Effects
Dependent Variable: observasi
Source
Corrected Model
DF
Mean Square
Sig.
.182(a)
.061
.034
.990
113.997
113.997
63.470
.001
A1
.000
B1
.098
.049
.027
.973
Error
7.184
1.796
Total
121.363
7.366
Intercept
Corrected Total
a R Squared = .025 (Adjusted R Squared = -.707)
D. Angka kematian
Tests of Between-Subjects Effects
Dependent Variable: data pengamatan
Source
Type IV Sum of Squares
DF
Corrected Model
11.167(a)
8
Intercept
22.042
1
Mean Square
1.396
F
1.326
Sig.
.303
22.042
20.937
.000
8.708
1.742
1.654
.206
2.458
.819
.778
.524
Error
15.792
15
1.053
Total
49.000
24
Corrected Total
26.958
23
Ummi Mardhiah Batubara : Pembuatan Pakan Ikan Dari Protein Sel Tunggal Bakteri Fotosintetik Anoksigenik Dengan
Memanfaatkan Limbah Cair Tepung Tapioka Yang Diuji Pada Ikan Nila (Oreochromis Niloticus), 2010.
55
(a)
(c)
(b)
(d)
(e)
(f)
Gambar 1: Neraca digital (a) alat penggiling pelet (b) sentrifugasi (c)
spektrofotometer (d) shaker (e) hot plate (f)
B. Proses Pengkulturan Bakteri di Laboratorium
Ummi Mardhiah Batubara : Pembuatan Pakan Ikan Dari Protein Sel Tunggal Bakteri Fotosintetik Anoksigenik Dengan
Memanfaatkan Limbah Cair Tepung Tapioka Yang Diuji Pada Ikan Nila (Oreochromis Niloticus), 2010.
56
(a)
(b)
(a)
(c)
(b
(d)
Gambar 3: proses pencampuran bahan pakan ikan (a) pencampuran kultur BFA
dalam formula pakan ikan (b). Proses pengadukan seluruh bahan
baku pakan ikan (c) Proses penjemuran pakan setelah dicetak dalam
mesin penggiling pakan (d).
Ummi Mardhiah Batubara : Pembuatan Pakan Ikan Dari Protein Sel Tunggal Bakteri Fotosintetik Anoksigenik Dengan
Memanfaatkan Limbah Cair Tepung Tapioka Yang Diuji Pada Ikan Nila (Oreochromis Niloticus), 2010.