Anda di halaman 1dari 2

Hukum-hukum Stratigrafi Juli 1, 2011

Tujuan utama semua hukum stratigrafi adalah untuk penentuan umur relatif, yaitu untuk
memperkirakan batuan mana yang terbentuk lebih dulu dan batuan mana yang terbentuk
terakhir. Juga penentuan umur absolut kapan tepatnya batuan itu terbentuk?. Ini bisa
diketahui melalui metode radiometri/datting dengan mengukur kadar unsur radioaktif batuan
sehingga diketahui umur batuan secara tepat. Hukum-hukum stratigrafi tersebut yaitu:

Hukum Superposisi (Steno, 1669)

Hukum Horizontalitas (Steno, 1669)

Original Continuity (Steno, 1669)

Uniformitarianism (Hutton, 1785)

Faunal Succession (Abble Giraud-Soulavie, 1778)

Strata Identified by Fossils (Smith, 1816)

Facies Sedimenter (Selley, 1978)

Cross-Cutting Relationship

Law Of Inclusion

Mari kita bahas berdasarkan urut-urutan penemu dan tahun penemuan hukum-hukum tersebut
1. Hukum Superposisi (Nicolas Steno,1669): Dalam suatu urutan perlapisan batuan, maka
lapisan batuan yang terletak di bawah umurnya relatif lebih tua dibanding lapisan diatasnya
selama lapisan batuan tersebut belum mengalami deformasi.
2. Hukum Horizontalitas (Nicolas Steno,1669): Pada awal proses sedimentasi, sebelum
terkena gaya atau perubahan, sedimen terendapkan secara horizontal
3. Original Continuity (Nicolas Steno,1669): Batuan sedimen melampar dalam area yang
luas di permukaan bumi.
4. Uniformitarianism (James Hutton, 1785) : Uniformitarianisme adalah peristiwa yang
terjadi pada masa geologi lampau dikontrol oleh hukum-hukum alam yang mengendalikan
peristiwa pada masa kini. Hukum ini lebih dikenal dengan semboyannya yaitu The Present
is the key to the past. Maksudnya adalah bahwa proses-proses geologi alam yang terlihat
sekarang ini dipergunakan sebagai dasar pembahasan proses geologi masa lampau.
5. Faunal Succession (Abble Giraud-Soulavie, 1778): Pada setiap lapisan yang berbeda
umur geologinya akan ditemukan fosil yang berbeda pula. Secara sederhana bisa juga

dikatakan Fosil yang berada pada lapisan bawah akan berbeda dengan fosil di lapisan
atasnya.
Fosil yang hidup pada masa sebelumnya akan digantikan (terlindih) dengan fosil yang ada
sesudahnya, dengan kenampakan fisik yang berbeda (karena evolusi). Perbedaan fosil ini bisa
dijadikan sebagai pembatas satuan formasi dalam lithostratigrafi atau dalam koreksi
stratigrafi.
6. Strata Identified by Fossils (Smith, 1816) : Perlapisan batuan dapat dibedakan satu
dengan yang lain dengan melihat kandungan fosilnya yang khas
7. Facies Sedimenter (Selley, 1978): Suatu kelompok litologi dengan ciri-ciri yang khas
yang merupakan hasil dari suatu lingkungan pengendapan yang tertentu. Aspek fisik, kimia
atau biologi suatu endapan dalam kesamaan waktu. Dua tubuh batuan yang diendapakan pada
waktu yang sama dikatakan berbeda fsies apabila kedua batuan tersebut berbeda fisik, kimia
atau biologi (S.S.I.)
8. Cross-Cutting Relationship (A.W.R Potter & H. Robinson): Apabila terdapat
penyebaran lap. Batuan (satuan lapisan batuan), dimana salah satu dari lapisan tersebut
memotong lapisan yang lain, maka satuan batuan yang memotong umurnya relatif lebih muda
dari pada satuan batuan yang di potongnya.
9. Law of Inclusion: Inklusi terjadi bila magma bergerak keatas menembus kerak, menelan
fragmen2 besar disekitarnya yang tetap sebagai inklusi asing yang tidak meleleh. Jadi jika
ada fragmen batuan yang terinklusi dalam suatu perlapisan batuan, maka perlapisan batuan
itu terbentuk setelah fragmen batuan. Dengan kata lain batuan/lapisan batuan yang
mengandung fragmen inklusi, lebih muda dari batuan/lapisan batuan yang menghasilkan
fragmen tersebut.