Anda di halaman 1dari 3

Asam basa Lewis diklasifikasikan menurut sifat keras dan lunaknya.

Logam dan ligan


dikelompokkan menurut sifat keras dan lunaknya berdasarkan pada polarisabilitas unsur yang
pada akhirnya dikemukakanlah suatu prinsip yang disebut Hard and Soft Acid Base (HSAB).
Konsep HSAB dapat menjelaskan kesetabilan senyawa. Konsep ini juga digunakan
dalam konteks kualitatif daripada kuantitatif yang membantu untuk mengetahui faktor utama
terjadinya reaksi kimia, terutama pada logam transisi. Asam lunak bereaksi lebih cepat dengan
basa lunak dan membentuk ikatan yang kuat, sedangkan asam keras bereaksi lebih cepat dan
membentuk ikatan kuat dengan basa kuat.
Asam keras dan basa keras cenderung mempunyai atom yang kecil/radius ionik, oksidasi
tinggi, kepolaran rendah, dan keelektronegatifan tinggi. Sedangkan asam dan basa lunak
cenderung mempunyai:atom yang besar, tingkat oksidasi rendah, dan elektronegatifan rendah.
Asam basa keras biasanya membentuk ikatan ionik, sedangkan asam basa lunak membentuk
ikatan kovalen. Kekerasan suatu asam basa diukur untuk mengetahui kecenderungan terjadinya
perubahan formasi atau bentuk..
Peran klasifikasi Pearson adalah untuk meramalkan reaksi berbagai macam spesies, yaitu
asam-asam keras memilih bersenyawa dengan basa-basa keras, dan asam-asam lunak memilih
bersenyawa dengan basa-basa lunak. Klasifikasi tersebut juga bermanfaat untuk meramalkan
pilihan ikatan dan juga menunjukkan sintesis tingkat oksidasi abnormal dalam suatu logam.
Secara umum ion-ion logam yang terletak pada bagian kiri dai sistem periodik unsur bersifat
asam keras, sedangkan logam pada golongan utama sebelah kanan dari sistem periodik unsur
bersifat asam lunak. Selain itu juga terdapat daerah batas yang terletak antara keras-lunak karena
tidak ada perbedaan yang tajam antara keras dan lunak., yaitu umumnya terdapat pada logamlogam transisi.

Ligan-ligan dengan atom yang sangat elektronegatif dan memiliki ukuran kecil merupakan
basa keras (misalnya : OH-, F-), sebaliknya ligan-ligan dengan atom yang elektron terluarnya
mudah terpolarisasi akibat pengaruh ion dari luar merupakan basa lemah (misalnya : S 2O32-, I-).
Sedangkan ion-ion logam yang berukuran kecil, bermuatan positif besar, elektron terluar tidak
mudah dipengaruhi oleh ion lain dari luar, dikelompokkan ke dalam asam keras (contohnya : H +,
Si4+), sebaliknya ion-ion logam yang berukuran besar, bermuatan kecil atau nol, elektron
terluarnya mudah dipengaruhi oleh ion lain, dikelompokkan ke dalam asam lemah (contohnya :
Ag+, Cd2+). Selain dari asam basa keras dan lunak, terdapat juga ligan dan ion logam yang tidak
termasuk pada golongan keras ataupun lunak, yaitu golongan intermediet. Di bawah ini adalah
tabel ligan dan ion logam yang tergolong asam basa keras, lunak, dan intermediet.
Tabel Klasifikasi Asam Keras, Lunak, dan Intermediet
Asam Keras
Li , Na , K+, Rb+
Be2+, Mg2+, Ca2+, Sr2+, Sn2+,
+

Mn2+, Zn2+
Al3+, Ga3+, In3+, Sc3+, Cr3+,
3+

3+

3+

Fe , Co , Y
Th4+, Pu4+, Ti4+, Zr4+
[VO]2+, [VO2]+

Asam Lunak
Tl , Cu , Ag+, Au+
+

Intermediet

2+

2+

2+

2+

Hg , Cd , Pd , Pt
Tl3+

Pb2+, Fe2+, Co2+, Ni2+,


Cu2+, Os2+
Ru3+, Rh3+, Ir3+

Tabel Klasifikasi Basa Keras, Lunak, dan Intermediet


Basa Keras
F-, Cl[OH]-, [RO]-, [RCO2]-,
[CO3]2-, [NO3]-, [PO4]3-,

Basa Lunak
I-, H-, R-

Br-

[CN]-, [RS]-, [SCN]-

[N3]-, [NO2]-, [SO3]2-

[SO4]2-, [ClO4]H2O, ROH, R2O, NH3,

CO, RNC, RSH, R2S, R3P,

RNH2

R3As, R3Sb

Intermediet

C6H5NH2

Interaksi Asam Basa Keras dan Lunak


Berdasarkan prinsip HSAB, asam keras cenderung lebih suka untuk berkoordinasi dengan
basa keras, dan demikian juga halnya dengan asam lunak yang cenderung lebih suka
berkoordinasi dengan basa lunak. Asam keras dan basa keras cenderung mempunyai atom yang
kecil, oksidasi tinggi, kepolaran rendah, dan keelektronegatifan tinggi. Sedangkan asam dan basa
lunak cenderung mempunyai atom yang besar, tingkat oksidasi rendah, dan elektronegatifan

rendah. Interaksi antara asam keras dan basa keras disebut dengan interaksi ionik, sedangkan
interaksi antara asam lemah dan basa lemah lebih bersifat kovalen. Contohnya antara Cr 3+ dan
OH-. Cr3+ merupakan asam kuat dan OH - merupakan basa kuat, sehinnga kedua asam basa ini
akan berinteraksi secara kuat melalui pembentukan ikatan koordinasi karena pasangan elektron
bebas unsur O pada OH- akan menempati orbital kosong yang ada di Cr3+.
Pada kenyataannya asam keras yang berikatan dengan dengan basa keras akan memiliki
kestabilan yang lebih tinggi dibandingkan asam keras yang berikatan dengan basa lunak. Asam
keras (misalnya : Fe3+) yang berikatan dengan halogen, kestabilannya akan menurun berdasarkan
urutan : F- > Cl- > Br- > I-. Sedangkan asam lunak (misalnya : Hg2+) yang berikatan dengan
golongan halogen, kestabilannya akan meningkat berdasarkan urutan : F- < Cl- < Br- < I-. Hal ini
disebabkan karena F- dan Cl- merupakan basa keras, sehingga akan lebih stabil jika berikatan
dengan asam keras, sebaliknya I- yang merupakan basa lunak, akan lebih stabil jika berikatan
dengan asam lunak.
Pengendapan (Presipitasi) adalah reaksi pembentukan padatan dalam larutan atau didalam
padatan lain selama reaksi kimia. Pengendapan juga dapat terjadi karena adanya divusi dalam
padatan. Ketika reaksi terjadi dalam larutan cair, padatan terbentuk disebut sebagai endapan.
Bahan kimia yang menyebabkan adanya padatan disebut sebagai pengendap. Tanpa kekuatan
energi gravitasi yang cukup untuk membawa partikel-partikel padat terbawa bersama-sama,
maka endapan akan tetap sebagai suspensi.
Contoh dari rekasi pengendapan adalah ketika larutan perak nitrat (AgNO 3) ditambahkan
kedalam larutan yang mengandung kalium klorida (KCl). Maka akan terbentuk endapan putih
perak klorida (AgCl).
Ag+(aq)+NO3-(aq)+K+(aq)+Cl-(aq)

AgCl(s)+ K+(aq)+ NO3-

(aq)