Anda di halaman 1dari 2

TEORI ASAM BASA KERAS-LUNAK

(HSAB)
Asam basa Lewis diklasifikasikan menurut sifat keras dan lunaknya. Logam dan ligan
dikelompokkan menurut sifat keras dan lunaknya berdasarkan pada polarisabilitas atau
keelektronegatifan unsur yang pada akhirnya dikemukakanlah suatu prinsip yang disebut
Hard and Soft Acid Base (HSAB).1
Konsep ini seringkali dikenal sebagai konsep asam basa Pearson, HSAB banyak digunakan
dalam kimia untuk menjelaskan stabilitas senyawa, mekanisme reaksi dan jalur. Ini
memberikan istilah 'keras' atau 'lunak', dan 'asam' atau 'basa' untuk spesies kimia. 'Keras'
berlaku untuk spesies yang kecil dan lemah terpolarisasi. 'Lunak' berlaku untuk spesies yang
besar dan sangat terpolarisasi.
Pearson mengusulkan bahwa asam basa Lewis dapat dikategorikan sebagai berikut:
1. Asam lunak
Biasa dikenal dengan kelompok ion-ion logam (kelas b) yang berada dibagian kiri
terbawah kelompok ion logam dalam tabel periodik. Ion-ion ini memiliki kerapatan
muatan yang rendah namun memiliki keelektronegatifan yang tinggi, sehingga mudah
terpolarisasi dan cenderung membentuk ikatan kovalen.
2. Asam Keras
Biasa dikenal dengan kelompok ion-ion logam (kelas a) yang memiliki kelektronegatifan
rendah dan kerapatan muatan yang tinggi.
3. Basa lunak
Merupakan kelompok ligan kelas b yaitu ion non logam yang memiliki
keelektronegatifan rendah dikarenakan ukuran mereka yang besar membuat sifat
kepolarannya cenderung membentuk ikatan kovalen, diantaranya C, F, S, dan I.
4. Basa keras
Merupakan ion monoatomik yang memiliki kerapatan muatan besar.2
Selain dari asam basa keras dan lunak, terdapat juga ligan dan ion logam yang tidak
termasuk pada golongan keras ataupun lunak, yaitu golongan intermediet. Di bawah ini
adalah tabel ligan dan ion logam yang tergolong asam basa keras, lunak, dan intermediet.
Tabel 3.1.1 Tabel Klasifikasi Asam Keras, Lunak, dan Intermediet
Asam Keras
Asam Lunak
Intermediet
Li+, Na+, K+, Rb+
Tl+, Cu+, Ag+, Au+
Be2+, Mg2+, Ca2+, Sr2+, Sn2+,
Pb2+, Fe2+, Co2+, Ni2+, Cu2+,
2+
2+
2+
2+
Hg
,
Cd
,
Pd
,
Pt
Mn2+, Zn2+
Os2+
3+
3+
3+
3+
3+
3+
Al , Ga , In , Sc , Cr , Tl
Ru3+, Rh3+, Ir3+
1 Bowser, J.R. 1993. Inorganic Chemistry. Halaman : 322-325. Brooks/Cole Publishing
Company : California

2 Geoff Rayner Canham, and Tina Overton. 2010. Descriptive Inorganic


Chemistry. Halaman : 156. New York : W. H. FREEMAN AND COMPANY2

Fe3+, Co3+, Y3+


Th4+, Pu4+, Ti4+, Zr4+
[VO]2+, [VO2]+
Tabel 3.1.2 Tabel Klasifikasi Basa Keras, Lunak, dan Intermediet
Basa Keras
-

F , Cl
[OH]-, [RO]-, [RCO2]-,
[CO3]2-, [NO3]-, [PO4]3-,
[SO4]2-, [ClO4]H2O, ROH, R2O, NH3,
RNH2

Basa Lunak
-

I, H, R

Intermediet
Br

[CN]-, [RS]-, [SCN]-

[N3]-, [NO2]-, [SO3]2-

CO, RNC, RSH, R2S, R3P,


C6H5NH2
R3As, R3Sb

Secara umum, asam dan basa yang saling berinteraksi paling stabil adalah keras-keras
(karakter ionik) dan lembut-lembut (karakter kovalen). Pada kenyataannya asam keras yang
berikatan dengan dengan basa keras akan memiliki kestabilan yang lebih tinggi dibandingkan
asam keras yang berikatan dengan basa lunak. Asam keras (misalnya : Fe 3+) yang berikatan
dengan halogen, kestabilannya akan menurun berdasarkan urutan : F- > Cl- > Br- > Isedangkan asam lunak (misalnya : Hg2+) yang berikatan dengan golongan halogen,
kestabilannya akan meningkat berdasarkan urutan : F - < Cl- < Br- < I-. Hal ini disebabkan
karena F- dan Cl- merupakan basa keras, sehingga akan lebih stabil jika berikatan dengan
asam keras, sebaliknya I- yang merupakan basa lunak akan lebih stabil jika berikatan dengan
asam lunak.
Untuk mengukur kelunakan basa terdiri dalam menentukan konstanta kesetimbangan
untuk keseimbangan berikut:
BH

CH3Hg

H+ +

CH3HgB

Dimana CH3Hg+ (ion methylmercury) adalah asam yang sangat lunak dan H+ (proton) adalah
asam keras, yang bersaing untuk B (base yang akan diklasifikasikan).
Beberapa contoh yang menggambarkan efektivitas teori: Sebagian besar logam adalah
asam yang lembut dan tercampur oleh basa lunak, seperti fosfin dan sulfida.
Pelarut keras, seperti hidrogen fluorida, air, dan pelarut protik cenderung melarutkan zat
terlarut basa kuat, seperti anion fluor dan anion oksigen. Di sisi lain pelarut aprotik dipolar
seperti dimetil sulfoksida dan aseton adalah pelarut lunak dengan preferensi untuk
melarutkan anion besar dan basa lunak.