Anda di halaman 1dari 22

KEBUTUHAN DASAR MANUSIA II

"KONSEP DASAR KEBUTUHAN MENCINTAI dan DICINTAI

OLEH :
KELOMPOK 2
D-IV KEPERAWATAN
1. Dewa Gede Sastra Ananta Wijaya

(P07120214005)

2. Ni Made Desi Sugiani

(P07120214017)

3. Ni Ketut Ayu Pratiwi Catur Wahyuni

(P07120214019)

4. Ni Nyoman Tria Sunita

(P07120214020)

5. Pande Putu Setianingsih

(P07120214022)

6. I Gede Suyadnya Putra

(P07120214023)

7. Ayu Indah Agustini

(P07120214027)

8. Ayu Putu Eka Tusniati

(P07120214032)

9. Ni Putu Ayu Savitri

(P07120214033)

10. Ni Putu Soniya Darmayanti

(P07120214040)

POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR


JURUSAN KEPERAWATAN
TAHUN AKADEMIK 2014/2015

A. PENDAHULUAN
Kebutuhan dasar manusia adalah hal-hal seperti makanan, air, keamanan dan
cinta yang merupakan hal yang paling penting untuk bertahan hidup dan
kesehatan.walaupun setiap orang punya sifat tambahan, kebutuhan yang unik, setiap
orang mempunyai kebutuhan dasar manusia yang sama. Besarnya kebutuhan dasar
yang terpenuhi menentukan tingkat kesehatan dan posisi pada rentang sehat-sakit..
Hiraiki kebutuhan dasar manusia menurut Maslow adalah sebuah teori yang
dapat digunakan perawat untuk memahami hubungan antar kebutuhan dasar manusia
pada saat memberikan perawatan. Menurut teori ini kebutuhan manusia tertentu lebih
dasar daripada kebutuhan lainnya; oleh karena itu, beberapa kebutuhan harus
dipenuhi sebelum kebetuhan yang lain. Misalnya, orang yang lapar lebih akan lebih
mencari makanan daripada melakukan aktivitas untuk meningkatkan harga diri.
Hiraki kebutuhan dasar manusia mengatur kebutuhan dasar dalam lima tingkat
prioritas (gambar 1). Tingkatan yang paling dasar atau yang pertama meliputi
kebutuhan fisiologis seperti udara, air, dan makanan. Tingkatan yang kedua meliputi
kebutuhan keselamatan dan keamanan, yang melibatkan keamanan fisik dan
psikologis. Tingkatan yang ketiga mencakup kebutuhan cinta dan rasa memilki,
termasuk persahabatan, hubungan social, dan cinta seksual. Tingkatan yang keempat
meliputi kebutuhan rasa berharga dan harga diri, yang melibatkan percaya diri,
merasa berguna, penerimaan, dan kepuasan diri. Tingkatan yang akhir adalah
kebutuhan aktualisasi diri, pernyataan dari penerimaan yang penuh potensi dan
memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah dan mengatasinya dengan cara
realistis dan berhubungan dengan situasi hidup.

B. TUJUAN PENULISAN
a) Tujuan Umum
Untuk dapat mengerti dan memahami mengenai materi kebutuhan
mencintai dan dicintai
b) Tujuan Khusus
Untuk dapat mengerti dan memahami mengenai:
1. Konsep Dasar Kebutuhan Mencintai dan Dicintai
2. Konsep Kebutuhan Mencintai dan Dicintai Dalam Keperawatan
3. Manfaat Cinta Bagi Kesehatan
4. Gangguan Kebutuhan Mencintai dan Dicintai
C. PEMBAHASAN
1. Konsep Dasar Kebutuhan Dicintai Dan Mencintai
a. Definisi Cinta
Kata cinta terlalu sulit untuk didefinisikan, karna cangkupan
maknanya yang terlalu luas dan tak terbatas. Cinta berhubungan dengan
emosi, bukan dengan intelektual seseorang. Perasaan lebih berperan

dalam cinta daripada proses intelektual. Walaupun demikian cinta dapat


diartikan sebagai keadaan untuk saling mengerti secara dalam dan
menerima sepenuh hati.
Setiap individu, termasuk klien yang dirawat, memerlukan
terpenuhinya kebutuhan mencintai dan dicintai. Klien merupakan individu
yang berada dalam kondisi ketidak berdayaan karena sakit yang
dialaminya. Pada kondisi ini diperlukan sentuhan perawat yang dapat
memberikan kedamaian dan kenyamanan. Oleh karena itu, setiap perawat
harus memiliki pemahaman yang benar mengenai konsep dalam
pemenuhan kebutuhan mencintai dan dicintai.
Setiap orang ingin mempunyai hubungan yang hangat dan akrab,
bahkan mesra dengan orang lain. Ia ingin mencintai dan dicintai. Setiap
orang ingin setia kawan dan butuh kesetiakawanan. Setiap orang pun
ingin mempunyai kelompoknya sendiri, ingin punya "akar" dalam
masyarakat. Setiap orang butuh menjadi bagian dalam sebuah keluarga,
sebuah kampung, suatu marga, dll. Setiap orang yang tidak mempunyai
keluarga akan merasa sebatang kara, sedangkan orang yang tidak sekolah
dan tidak bekerja merasa dirinya pengangguran yang tidak berharga.
Kondisi seperti ini akan menurunkan harga diri orang yang bersangkutan.
Kebutuhan akan rasa kasih sayang dan memiliki adalah kebutuhan
yang mendorong individu untuk mengadakan hubungan efeksi atau ikatan
emosional dengan orang lain, yang diaktualisasikan dalam bentuk :
kebutuhan akan memilki dan rasa dimiliki, mencintai dan dicintai,
kebutuhan akan rasa diakui dan diikut sertakan sebagai anggota
kelompok, merasa dirinya penting, rasa setia kawan, kerja sama, dan
sebagainya. Menurut Maslow, cinta dan kasih sayang merupakan suatu
yang hakiki dan sangat berarti bagi manusia, karena ia merupakan
prasyarat bagi terwujudnya perasaan yang sehat.
Kebutuhan rasa cinta yaitu kebutuhan untuk memiliki dan dimiliki,
antara

lain

memberi

dan

menerima

kasih

saying,

kehangatan,

persahabatan, mendapat tempat dalam keluarga, kelompok sosial dan


sebagainya.
Cinta adalah suatu dorongan dimana seseorang berkeinginan untuk
menjalin hubungan emosional dengan orang lain.

b. Definisi Cinta Menurut Para Ahli


1) Dalam kamus psikologi (James Drever dalam Harianto) memaparkan
bahwa love (cinta) itu merupakan perasaan khusus yang menyangkut
kesenangan menyangkut obyek.
2) Ashley Montagu memandang cinta sebagai sebuah perasaan
memperhatikan, menyayangi dan menyukai yang mendalam yang
biasanya disertai dengan rasa rindu dan hasrat terhadap sang objek.
3) Abraham Maslow mengutarakan pendapatnya tentang cinta, dia
menyatakan bahwa cinta adalah suatu proses aktualisasi diri yang bisa
membuat orang melahirkan tindakan-tindakan produktif dan kreatif.
Dengan cinta seseorang akan mendapatkan kebahagiaan bila mampu
membahagiakan orang yang dicintainya.
4) Elaine dan William Waster, memandang cinta sebagai suatu
keterlibatan yang sangat dalam yang diasosiasikan dengan timbulnya
rangsangan fisiologis yang kuat dan diiringi dengan perasaan untuk
mendambakan pasangan dan keinginan untuk memuaskan tersebut
melalui pasangannya itu. Sedangkan Sigmun Freud menyatakan
bahwa cinta itu ,merupakan dorongan seksual yang terpendam.
5) Erich Fromm juga mendefenisikan cinta sebagai sesuatu yang aktif
yang dapat memecahkan tembok yang memisahkan manusia dari
teman-temannya, yang dapat menyatukannya dengan yang lain.
Menurutnya konsep cinta itu terdiri dari empat unsure yaitu:
a) Care (perhatian); sangat diperlukan dalam prilaku yang disebut
cinta agar dapat memahami kehidupan, perkambangan maju
mundur, baik burut, dan bagaimana kesejahteraan objek yang
dicintai.
b) Responsibility (tanggung jawab); tanggung jawab diperlukan
dalam menjalin hubungan. Sebab tanpa adanya tanggung jawab
tidak akan ada pembagian yang seimbang. Tanggung jawab disini

bukanlah untuk mendikte objek yang dicintai sekehendak kita, tapi


bagaimana keterlibatannya dalam kehidupan objek yang dicintai.
c) Respect (hormat); hal ini menekankan bagaimana menghargai
dan menerima objek yang dicintai apa adanya dan tidak bersikap
sekehandak hati.
d) Knowledge (pengetahuan);

pengetahuan

diperlukan

guna

mengetahui seluk beluk yang dicintai. Dengan demikian kita dapat


membidik target yang kita incar, dengan kata lain tak kenal maka
tak sayang. Bila objek yang kita bidik itu adalah manusia, maka
harus kita kenali dan pahami bagaiman kepribadiannya, latar
belakang yang membentuknya, dan kecendrungan dirinya.
6) Menurut Sternberg, cinta adalah sebuah kisah, kisah yang ditulis oleh
setiap orang, dimana kisah tersersebut merefleksikan kepribadian,
minat, dan perasaan seseorang terhadap suatu hubungan. Teorinya
yang sangat terkenal adalah tentang segitiga cinta, yang mengandung;
a) Keintiman; merupakan elemen emosi yang didalamnya terdapat
kehangatan,

kepercayaan

dan

keinginan

untuk

membina

hubungan. Cirinya seseorang kan merasa dekat dengan seseorang,


merasa senang bercakap-cakap dengannya sampai waktu yang
lama, merasa rindu bila lama tidak bertemu, dan ada keinginan
untuk bergandengan tangan atau saling merangkul.
b) Gairah; merupakan elemen motivasi yang didasari oleh dorongan
dari dalam diri yang bersifat seksual.
c) Komitmen; adalah elemen kognitif yang berupa keputisan untuk
secara sinambung dan tetap menjalangkan suatu kehidupan
bersama.
7) Wawan Kurn menjelaskan bahwa cinta adalah upaya penyeimbangan
antara Pikiran,dan perasaan, dan mampu menyatukan berbagai
dimensi yang berbeda.

c. Ciri-Ciri Cinta
Menurut Abraham Maslow, cinta memiliki beberapa ciri, yaitu :
1. Cinta tidak hanya sebagai perasaan yg diungkapkan tetapi
merupakan serangkaian tindakan sebagai ungkapan terhadap orang
lain.
2. Cinta tidak menuntut balasan dan tidak tawar menawar
3. Cinta adalah pendorong dan selalu ada saat orang lain
membutuhkan.
d. Komponen Cinta
Berikut ini akan dijelaskan mengenai komponen cinta menurut Sternberg
(dalam Sternberg dan Barnes, 1988):
1) Keakraban atau keintiman (intimacy)
Keakraban atau keintiman (intimacy) Adalah perasaan dalam suatu
hubungan yang meningkatkan kedekatan, keterikatan, dan keterkaitan.
Dengan kata lain bahwa intimacy mengandung pengertian sebagai
elemen afeksi yang mendorong individu untuk selalu melakukan
kedekatan emosional dengan orang yang dicintainya.
Hasil penelitian Sternberg dan Grajeg (dalam Sternberg dan
Barnes, 1988) menunjukkan keakraban mencakup sekurang-kurangnya
sepuluh elemen, yaitu:
a) Keinginan meningkatkan kesejahteraan dari yang dicintai
b) Mengalami kebahagiaan bersama yang dicintai
c) Menghargai orang yang dicintainya setinggi-tingginya
d) Dapat mengandalkan orang yang dicintai dalam waktu yang
e)
f)
g)
h)
i)
j)

dibutuhkan
Memiliki saling pengertian dengan orang yang dicintai
Membagi dirinya dan miliknya dengan orang yang dicintai
Menerima dukungan emosional dari orang yang dicintai
Memberi dukungan emosional kepada orang yang dicintai
Berkomunikasi secara akrab dengan orang yang dicintai
Menganggap penting orang yang dicintai dalam hidupnya

2) Gairah (Passion)
Gairah (passion) meliputi rasa kerinduan yang dalam untuk
bersatu dengan orang yang dicintai yang merupakan ekspresi hasrat dan
kebutuhan seksual. Atau dengan kata lain bahwa passion merupakan
elemen fisiologis yang menyebabkan seseorang merasa ingin dekat
secara fisik, menikmati atau merasakan sentuhan fisik, ataupun
melakukan hubungan seksual dengan pasangan hidupnya. Komponen

passion juga mengacu pada dorongan yang mengarah pada romance,


ketertarikan fisik, konsumsi seksual dan perasaan suka dalam suatu
hubungan percintaan.
Dalam suatu hubungan (relationship), intimacy bisa jadi
merupakan suatu fungsi dari seberapa besarnya hubungan itu memenuhi
kebutuhan seseorang terhadap passion. Sebaliknya, passion juga dapat
ditimbulkan karena intimacy. Dalam beberapa hubungan dekat antara
orang-orang yang berlainan jenis, passion berkembang cepat sedangkan
intimacy lambat.
Passion bisa mendorong seseorang membina hubungan dengan
orang lain, sedangkan initmacylah yang mempertahankan kedekatan
dengan orang tersebut. Dalam jenis hubungan akrab yang lain, passion
yang bersifat ketertarikan fisik (physical attraction) berkembang setelah
ada intimacy. Dua orang sahabat karib lain jenis bisa tertarik satu sama
lain secara fisik kalau sudah sampai tingkat keintiman tertentu.
Terkadang intimacy dan passion berkembang berlawanan,
misalnya dalam hubungan dengan wanita tuna susila, passion
meningkat dan intimacy rendah. Namun bisa juga sejalan, misalnya
kalau untuk mencapai kedekatan emosional, intimacy dan passion
bercampur dan passion menjadi keintiman secara emosional.
Pada intinya, walaupun interaksi intimacy dan passion berbeda,
namun kedua komponen ini selalu berinteraksi satu dengan yang
lainnya di dalam suatu hubungan yang akrab.
3) Keputusan atau Komitmen (decision/commitment)
Komponen keputusan atau komitmen dari cinta mengandung dua
aspek, yang pertama adalah aspek jangka pendek dan yang kedua
adalah aspek jangka panjang. Aspek jangka pendek adalah keputusan
untuk mencintai seseorang. Sedangkan aspek jangka panjang adalah
komitmen untuk menjaga cinta itu. Atau dengan kata lain bahwa
komitmen adalah suatu ketetapan seseorang untuk bertahan bersama
sesuatu atau seseorang sampai akhir.
Kedua aspek tersebut tidak harus terjadi secara bersamaan, dan
bukan berarti bila kita memutuskan untuk mencintai seseorang juga
berarti kita bersedia untuk memelihara hubungan tersebut, misalnya

pada pasangan yang hidup bersama. Atau sebaliknya, bisa saja kita
bersedia untuk terikat (komit) namun tidak mencintai seseorang.
Komponen ini sangat diperlukan untuk melewati masa-masa sulit.
Commitment berinteraksi dengan intimacy dan passion. Untuk
sebagian orang, commitment ini adalah merupakan kombinasi dari
intimacy dan timbulnya passion. Bisa saja intimacy dan passion timbul
setelah

adanya

komitmen,

misalnya

perkawinan

yang

diatur

(perjodohan).
Keintiman dan komitmen nampak relatif stabil dalam hubungan
dekat, sementara gairah atau nafsu cenderung relatif tidak stabil dan
dapat berfluktuasi tanpa dapat diterka. Dalam hubungan romantis
jangka pendek, nafsu cenderung lebih berperan. Sebaliknya, dalam
hubungan romantis jangka panjang, keintiman dan komitmen harus
memainkan peranan yang lebih besar (Sternberg, dalam Strernberg &
Barnes, 1988).
2. Konsep Kebutuhan Dicintai Dan Mencintai Dalam Keperawatan
Setelah kebutuhan fisiologis dan kebutuhan akan rasa aman telah cukup
terpenuhi, menurut Maslow, muncullah kebutuhan yang ketiga, yaitu
kebutuhan akan cinta dan perasaan dimiliki atau menjadi bagian kelompok
sosial. Maslow menolak pendapat Freud bahwa cinta meupakan sublimasi
dari insting seks. Menurut Maslow cinta tidak bersinonim dengan seks, dan
cinta adalah hubungan yang sehat antara orang yang satu dengan yang lainnya
yang melibatkan perasaan saling menghormati, saling menghargai dan
attachment dari kedua belah pihak. Ada dua jenis cinta menurut Maslow,
yakni Deficiency Love (D-Love) dan Being Love (B-Love). D-Love
merupakan cinta yang lebih mementingkan diri sendiri, Kebutuhan cinta
karena kekurangan, itulah DLove; orang yang mencintai sesuatu yang tidak
dimilikinya, seperti harga diri, seks, atau seseorang yang membuat dirinya
menjadi tidak sendirian. Misalnya : hubungan pacaran, hidup bersama atau
perkawinan yang membuat orang terpuaskan kenyamanan dan keamanannya
sedangkan B-Love didasari oleh perasaan menerima orang lain apa
adanya tanpa ada keinginan untuk memanfaatkan orang yang

dicintainya. B-Love didasarkan pada penilaian mengenai orang lain apa


adanya, tanpa keinginan mengubah atau memanfaatkan orang itu. Cinta yang
tidak berniat memiliki, tidak mempengaruhi, dan terutama bertujuan memberi
orang lain gambaran positif, penerimaan diri dan perasaan dicintai, yang
membuka kesempatan orang itu untuk berkembang.
Menurut Maslow, kegagalan dalam pemenuhan kebutuhan akan cinta ini
merupakan penyebab hampir seluruh bentuk psikopatologis.
Konsep yang terkandung dalam makna kebutuhan mencintai dan dicintai
yang perlu dipahami oleh setiap perawat, diantaranya adalah :
a. Cinta adalah dukungan
Klien yang dirawat membutuhkan adanya dukungan terhadap
kesembuhannya. Konsep ini memberikan makna bagi perawat bahwa klien
yang dirawat membutuhkan adanya dukungan terhadap kesembuhannya.
Dukungan yang diberikan perawat dapat dilakukan melalui intervensi
keperawatan,

misalnya

dengan

memberikan

motivasi

untuk

membangkitkan semangat hidup klien. Dukungan yang dibutuhkan klien


bukan hanya dari perawat, tetapi juga dukungan dari keluarga. Bentuk
dukungan keluargalah yang mempunyai pengaruh besar terhadap
kesehatan klien. Untuk memenuhi kebutuhan klien terhadap dukungan
keluarga ini, maka perawat dapat menjalankan perannya sebagai fasilitator
yang memfasilitasi klien dengan keluarganya.
b. Cinta adalah ketulusan
Ketulusan merupakan hal yang keluar dari lubuk hati yang terdalam,
yang memberikan pengertian mengenai arti sebuah cinta, memberikan
warna yang indah didalam setiap tingkah laku dan tutur kata serta
memberikan makna yang terdalam di dalam menyingkap suatu kebenaran
yang nyata.
Ketulusan adalah hati yang mau memberikan dan menerima segala
sesuatu tanpa ingin memiliki untuk kepuasan atau kepentingan pribadi.
Ketulusan membuat seseorang mengerti lebih dalam mengenai arti dari
kasih sayang, dan ketulusan membuat seseorang tegas menghadapi apapun
meskipun keadaan mungkin sedang tidak berpihak. Ketulusan juga akan
membuat seseorang tetap mampu tersenyum meskipun hati terasa pedih
atau terluka.

Dalam praktik keperawatan, ketulusan ini diwujudkan dengan sikap


perawat yang tidak membeda-bedakan dalam melayani klien. Konsep ini
memberikan landasan bagi perawat bahwa perawat harus tulus dan ikhlas
tanpa mengharapkan imbalan dalam pelaksanaan asuhan keperawatan.
Ketulusan ini diwujudkan dengan sikap perawat yang tidak membedabedakan dalam melayani klien. Semua klien dilayani oleh perawat dengan
baik. Bagi seorang perawat ketulusan adalah penting karena perawat
adalah seorang yang memberikan pelayanan atau perawatan baik terhadap
orang sakit maupun terhadap orang sehat. Perawatan bukan saja
merupakan keahlian untuk sekedar mencari nafkah, akan tetapi mengingat
tujuannya juga merupakan pekerjaan yang suci. Amal jasmani dan rohani
yang diberikan dengan penuh ketulusan oleh perawat kepada penderita,
merupakan faktor penting untuk kesembuhan penderita tersebut.
c. Cinta adalah perhatian
Bentuk perhatian dan kepedulian perawat terhadap klien diantaranya
adalah kehadiran perawat sebagai helper. Konsep ini selaras dengan
hakikat keperawatan yaitu care. Artinya, keperawatan merupakan profesi
yang memiliki perhatian dan kepedulian yang tinggi terhadap manusia.
Klien yang dirawat akan diberikan asuhan keperawatan dengan penuh
perhatian. Bentuk perhatian dan kepedulian perawat terhadap klien di
antaranya adalah kehadiran perawat sebagai helper (penolong).
Caring adalah fenomena universal yang mempengaruhi cara manusia
berpikir, merasa, dan mempunyai hubungan dengan sesama. Caring
sebagai bentuk dasar dari praktik keperawatan di mana perawat membantu
klien pulih dari sakitnya, memberikan penjelasan tentang penyakit klien,
dan mengelola atau membangun kembali hubungan. Caring membantu
perawat mengenali intervensi yang baik, dan kemudian menjadi perhatian
dan petunjuk untuk memberikan caring nantinya.
Caring secara umum dapat diartikan sebagai suatu kemampuan untuk
berdedikasi bagi orang, pengawasan dengan waspada, perasaan empati
pada orang lain dan perasaan cinta atau menyayangi. Secara teoritis,
pengertian caring adalah tindakan yang menunjukan pemanfaatan
lingkungan

pasien

dalam

membantu

penyembuhan,

memberikan

lingkungan yang bersih, ventilasi yang baik dan tenang kepada klien

(Florence Nightingale, 1860). Caring atau care tidak mempunyai


pengertian yang tegas, tetapi ada tiga makna dimana ketiganya tidak dapat
dipisahkan yaitu memberi perhatian, bertanggung jawab dan ikhlas
(Delores Gaut, 1984). Dalam keperawatan, caring merupakan bagian inti
yang penting terutama dalam praktik keperawatan. Rubenfeld (1999),
mendefinisikan Caring : memberikan asuhan , dukungan emosional pada
klien, keluarga dan kerabatnya secara verbal maupun non verbal. Jean
Watson (1985), Caring merupakan komitmen moral untuk melindungi,
mempertahankan dan meningkatkan martabat manusia.
Caring merupakan heart profesi, artinya sebagai komponen yang
fundamental dari fokus sentral serta unik dari keperawatan (Barnum,
1994). Meskipun perkataan caring telah digunakan secara umum, tetapi
tidak terdapat definisi dan konseptualisasi yang universal mengenai caring
itu sendiri (Swanson, 1991, dalam Leddy, 1998).
Marriner dan Tomey (1994) menyatakan bahwa caring merupakan
pengetahuan kemanusiaan, inti dari praktik keperawatan yang bersifat etik
dan filosofikal. Caring bukan semata-mata perilaku. Caring adalah cara
yang memiliki makna dan memotivasi tindakan. Caring juga didefinisikan
sebagai tindakan yang bertujuan memberikan asuhan fisik dan
memperhatikan emosi sambil meningkatkan rasa aman dan keselamatan
klien (Carruth et all, 1999) Sikap caring diberikan melalui kejujuran,
kepercayaan, dan niat baik. Caring menolong klien meningkatkan
perubahan positif dalam aspek fisik, psikologis, spiritual, dan sosial.
Bersikap caring untuk klien dan bekerja bersama dengan klien dari
berbagai lingkungan merupakan esensi keperawatan. Dalam memberikan
asuhan, perawat menggunakan keahlian, kata-kata yang lemah lembut,
sentuhan, memberikan harapan, selalu berada disamping klien, dan
bersikap caring sebagai media pemberi asuhan (Curruth, Steele, Moffet,
Rehmeyer, Cooper, & Burroughs, 1999). Karakteristik Caring menurut
Wolf dan Barnum (1998) :
1. Mendengar dengan perhatian
2. Memberi rasa nyaman
3. Berkata jujur
4. Memiliki kesabaran
5. Bertanggung jawab

6. Memberi informasi sehingga klien dapat mengambil keputusan


7. Memberi sentuhan
8. Memajukan sensitivitas
9. Menunjukkan rasa hormat pada klien
Komponen Caring menurut Meyer (1971) :
1. Pengetahuan
2. Kesabaran
3. Kejujuran
4. Kepercayaan
5. Kerendahan hati
6. Harapan
7. Keberanian
3. Manfaat Cinta Bagi Kesehatan
Jatuh cinta adalah hal yang paling menyenangkan. Selain membuat
terus tersenyum ternyata jatuh cinta punya banyak manfaat. Semakin
sering merasakan perasaan cinta akan semakin baik bagi tubuh. Dilansir
dari berbagai sumber, jatuh cinta akan membuat tubuh bereaksi positif.
Maka dengan jatuh cinta, energi positif akan keluar dari dalam tubuh dan
membuat semakin sehat. Dan inilah 7 manfaat jatuh cinta bagi kesehatan
yang dirangkum dari berbagai sumber :
1. Mengurangi depresi dan stress

Health and Human Services menyatakan bahwa cinta dan kasih


sayang bisa mengurangi depresi baik bagi laki-laki maupun
perempuan. Karena jatuh cinta memberi sinyal untuk meningkatkan
hormon bahagia dalam tubuh. Studi lain juga menyatakan bahwa
memandang foto pasangan mampu meningkatkan kadar hormon
dopamin dalam otak. Hormon tersebut berkaitan dengan rasa optimis.
Sehingga dapat mengurangi kadar stress.
2. Menurunkan tekanan darah

Penelitian dari Annals of Behavioral Medicine menyatakan rasa


cinta dari pasangan kekasih, keluarga serta orang sekitar memberikan
energy positif yang mampu menurunkan tekanan darah. Karena rasa
nyaman yang diberikan dapat mengontrol tekanan darah.
3. Menghindari rasa cemas

Hasil penelitian dari State University of New York yang


menggunakan MRI fungsional untuk melihat otak orang yang sedang

jatuh cinta, menyatakan bahwa saat jatuh cinta otak mengatur tubuh
untuk merasa tenang. Jatuh cinta mempunyai efek menenangkan rasa
cemas yang kadang berlebihan.
4. Mengatasi rasa sakit dan menyembuhkan luka

Sebuah penelitian dari Amerika Serikat menyatakan bahwa jatuh


cinta bisa mengatasi rasa sakit secara alami. Saat jatuh cinta dan
merasakan kasih sayang ternyata secara otomatis dapat mengaktifkan
bagian otak yang berfungsi mengontrol rasa sakit. Dan bahkan
semakin besar perasaan cinta yang ada maka semakin besar pula
efeknya. Rasa sakit bisa berangsur-angsur hilang. Bahkan kekuatan
dari jatuh cinta membuat luka cepat sembuh. Hal ini berdasarkan
penelitian

dari Ohio State

University Medical

Center yang

dipublikasikan dalam Archives of General Psychiatry.


5. Meningkatkan sistem imun

Hasil penelitian dari Carnegie Mellon University menemukan


bahwa perasaan cinta bisa membangun emosi positif yang memberikan
dorongan terhadap sistem kekebalan tubuh sehingga orang lebih jarang
sakit. Efek sosial yang ditimbulkan dari jatuh cinta membuat sesorang
rajin merawat kesehatan dan kebersihan tubuhnya sehingga terhindar
dari penyakit.
6. Menurunkan berat badan

Ada lagi efek jatuh yang sangat berguna bagi wanita. Yap agar
tidak susah-susah menjalani program diet, untuk menurunkan berat
badan jatuh cinta saja. Karena saat jatuh cinta, tubuh akan
memproduksi norepinephrine secara terus-menerus. Senyawa membuat
tidak nafsu untuk makan. Jadi jatuh cinta dapat mengontrol nafsu
makan yang berlebihan.
7. Mencegah penuaan dini

Tersenyum dan banyak tertawa saat jatuh cinta bukan hanya


membuat kerutan wajah bisa berkurang dan membuat cerah alami. Saat
sedang jatuh cinta ternyata tubuh menghasilkan oxytocin. Zat ini

dibutuhkan untuk melepaskan DHEA, hormon yang bertugas sebagai


anti-penuaan dan meningkatkan peremajaan kulit serta sel-sel tubuh.
4. Contoh Gangguan Kebutuhan Dicintai Dan Mencintai
a. Definisi
Depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang
berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya,
termasuk perubahan pola tidur dan nafsu makan, psikomotor,
konsentrasi, keindahan, rasa putus asa dan tidak ber daya, serta
gagasan bunuh diri (Kaplan, Sadock, 1998).
Depresi adalah salah satu bentuk gangguan kekecewaan pada alam
perasaan, (affective atau mood disorder) yang ditandai dengan
kemurungan, kelesuan, ketiadaan gairah hidup, perasaan tidak berguna,
putus asa (Dadang Hawari, 2001)
Depresi ditandai dengan perasaan sedih yang ber lebihan, murung
tidak bersemangat, merasa tak berguna, merasa tak berharga, merasa
kosong dan tak ada harapan berpusat pada kegagalan dan bunuh diri,
sering disertai ide dan pikiran bunuh diri klien tidak berniat pada
pemeliharaan diam dan aktivitas sehari-hari (Budi Anna Kaliat, 1996)
Dari ketiga pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa depresi
adalah gangguan alam perasaan yang disertai oleh komponen
psikologik dan komponen somatik yang terjadi akibat mengalami
kesedihan yang panjang.
b. Klasifikasi
1) Depresi Ringan
Sementara, alamiah, adanya rasa pedih perubahan proses pikir
komunikasi sosial dan rasa tidak nyaman
2) Depresi Sedang
a) Afek
Murung, cemas, kesal, marah, menangis
b) Proses piker

Perasaan sempit, berfikir lambat, berkurang komunikas


verbal komunikasi non verbal meningkat.
c) Pola komunikasi
Bicara lambat, berkurang komunikasi verbal, komunikasi
non verbal meningkat
d) Partisipasi sosial
Menarik diri tak mau bekerja sekolah, mudah tersinggung
3) Depresi Berat
a) Gangguan afek
Pandangan kosong, perasaan hampa, murung, inisiatif
berkurang
b) Gangguan proses pikir
c) Sensasi somatik dan aktivitas motoric
Diam dalam waktu lama, tiba-tiba hiperaktif, kurang mer
awat diri, tak mau makan dan minum, menarik diri, tidak
peduli dengan lingkungan
c. Rentang Respon
1) Reaksi Emosi Adaptif
a) Respon emosi yang responsif
Keadaan individu yang terbuka mau mempengaruhi dan
menyadari perasaannya sendiri dapat beradaptasi dengan
dunia internal dan eksternal.
b) Reaksi kehilangan yang wajar
Reaksi

yang

dialami

setiap

orang

mempengaruhi

keadaannya seperti:
1. Bersedih
2. Berhenti kegiatan sehari-hari
3. Takut pada diri sendiri
4. Berlangsung tidak lama.
2) Reaksi Emosi Maladaptif
Merupakan reaksi emosi yang sudah
respon ini dapat dibagi 3 tingkatan yaitu :

merupakan gangguan

a) Supresi
Tahap awal respon maladaptif individu menyangkal
perasaannya dan menekan atau menginternalisasi aspek
perasaan terhadap lingkungan.
b) Reaksi kehilangan yang memanjang
Supresi memanjang mengganggu fungsi kehidupan individu.
Gejala : bermusuhan, sedih terlebih, rendah diri.
c) Mania/ Depresi
Gangguan alam perasaan kesal dan dimanifestasikan
dengan gangguan fungsi sosial dan fungsi fisik yang hebat dan
menetap pada individu yang bersangkutan.
d. Etiologi
1) Kekecewaan
Karena adanya tekanan dan kelebihan fisik menyebabkan
seseorang menjadi jengkel tak dapat berfikir sehat atau kejam pada
saat khusus jika cinta untuk diri sendiri lebih besar dan pada cinta
pada orang lain yang menghimpun kita, kita akan terluka, tidak
senang dan cepat kecewa, hal ini langkah per tama depresi jika
luka itu direnungkan terus-menerus akan menyebabkan kekesalan
dan keputusasaan.
2) Kurang Rasa Harga Diri
Ciri-ciri universal yang lain dari orang yang depresi adalah
kurangnya rasa harga diri sayangnya kekurangan ini cenderung
untuk dilebih-lebihkan menjadi ekstrim, karena harapan-harapan
yang realistis membuat dia tak mampu merestor dirinya sendiri hal
ini memang benar khususnya pada individu yang ingin segalanya
sempur na yang tak pernah puas dengan prestasi yang dicapainya
3) Perbandingan yang tidak adil
Setiap kali kita membandingkan diri dengan seseorang yang
mempunyai nilai lebih baik dari kita dimana kita merasa kurang
dan tidak bisa sebaik dia maka depresi mungkin terjadi
4) Penyakit

Beberapa faktor yang dapat mencetuskan depresi adalah


organik contoh individu yang mempunyai penyakit kronis seperti
ca. mamae dapat menyebabkan depresi.
5) Aktivitas Mental yang Berlebihan
Orang yang produktif dan aktif sering menyebabkan depresi.
6) Penolakan
Setiap manusia butuh akan rasa cinta, jika kebutuhan akan rasa
cinta itu tak terpenuhi maka terjadilah depresi.
Dapat timbul karena adanya factor predisposisi dan factor
presipitasi yaitu:
a) Faktor Predisposisi
1. Faktor Genetik
Faktor genetik mengemukakan, transmisi gangguan
alam

perasaan

diteruskan

melalui

garis

keturunan.

Frekuensi gangguan alam perasaan meningkat pada kembar


monozigote.
2. Teori Agresi Berbalik pada Diri Sendiri
Mengemukakan

bahwa

depresi

diakibatkan

oleh

perasaan marah yang dialihkan pada diri sendiri. Freud


mengatakan bahwa kehilangan objek/orang, ambivalen
antara perasaan benci dan cinta dapat berbalik menjadi
perasaan menyalahkan diri sendiri dan dimunculkan dengan
perilaku mania (sebagai suatu mekanisme kompensasi)
3. Teori Kehilangan
Berhubungan dengan faktor perkembangan, misalnya
kehilangan orangtua yang sangat dicintai. Individu tidak
berdaya mengatasi kehilangan.
4. Teori Kepribadian
Mengemukakan

bahwa

tipe

kepribadian

menyebabkan seseorang mengalami mania.


5. Teori Kognitif

tertentu

Mengemukakan bahwa mania merupakan msalah


kognitif yang dipengaruhi oleh penilaian terhadap diri
sendiri, lingkungan dan masa depan.
6. Model Belajar Ketidakberdayaan
Mengemukakan bahwa mania dimulai dari kehilangan
kendali diri lalu menjadi aktif dan tidak mampu
menghadapi masalah. Kemudian individu timbul keyakinan
akan

ketidakmampuannya

mengendalikan

kehidupan

sehingga ia tidak berupaya mengembangkan respons yang


adaptif.
7. Model Perilaku
Mengemukakan

bahwa

depresi

terjadi

karena

kurangnya reinforcemant positif selama berinteraksi dengan


lingkungan.
8. Model Biologis
Mengemukakan bahwa dalam keadaan depresi/mania
terjadi perubahan kimiawi, yaitu defisiensi katekolamin,
tidak berfungsinya endokrin dan hipersekresi kortisol.
b) Faktor Presipitasi
Stressor yang dapat menyebabkan gangguan alam perasaan
meliputi faktor biologis, psikologis dan sosial budaya.
1) Faktor Biologis
Meliputi perubahan fisiologis yang disebakan oleh obatobatan atau berbagai penyakit fisik seperti infeksi,
neoplasma, dan ketidakseimbangan metabolisme.
2) Faktor Psikologis
Meliputi kehilangan kasih sayang, termasuk kehilangan
cinta, seseorang dan kehilangan harga diri.
3) Faktor Sosial Budaya
Meliputi kehilangan peran, perceraian, kehilangan
pekerjaan.
e. Patofisiologi

Alam perasaan adalah kekuatan/ perasaan hati yang mempengaruhi


seseorang dalam jangka waktu yang lama setiap orang hendaknya ber
ada dalam afek yang tidak stabil tapi tidak berarti orang tersebut tidak
per nah sedih, kecewa, takut, cemas, marah dan sayang emosi ini
terjadi sebagai kasih sayang

seseorang terhadap rangsangan yang

diterimanya dan lingkungannya baik interenal maupun eksternal.


Reaksi ini ber variasi dalam rentang dari reaksi adaptif sampai
maladaptif.
f. MANIFESTASI KLINIS
1) Gejala Fisik yaitu:
a) Gangguan tidur,
b) Kelesuan fisik,
c) Hilangnya nafsu makan
d) Penyakit fisik yang ringan.
2) Gejala Emosional yaitu:
a) Kehilangan kasih sayang
b) Kesedihan,
c) Hilangnya kekuatan,
d) Hilangnya konsentrasi,
e) Rasa bersalah,
f) Permusuhan
g) Hilangnya harapan.
3) Perilaku
Gambaran utama dari mania adalah perbedaan intensitas
psikofisiologikal yang tinggi. Tingkah laku mania merupakan
mekanisme pertahanan terhadap depresi yang diakibatkan dari
kurang efektifnya koping dalam menghadapi kehilangan.

Afektif

Sedih, cemas apatis, murung, kebencian, kekesalan, marah,


perasaan ditolak, perasaan bersalah, meras tidak berdaya, putus
asa, merasa sendirian, merasa rendah diri, merasa tak berharga.

Kognitif

Ambivalence, bingung, ragu-ragu, tidak mampu konsentrasi,


hilang perhatian dan motivasi, menyalahkan diri sendiri, pikiran
merusak diri, rasa tidak menentu, pesimis.

Fisik

Sakit perut, anoreksia, mual, muntah, gangguan pencernaan,


konstipasi, lemah, lesu, nyeri kepal, pusing, insomnia, nyeri dada,
over acting, perubahan berat badan, gangguan selera makan,
gangguan menstruasi, impoten, tidak berespon terhadap seksual.

Tingkah laku Agresif, agitasi, tidak toleran, gangguan tingkat aktivitas,


kemunduran psikomotor, menarik diri, isolasi social, irritable,
berkesan menyedihkan, kurang spontan, gangguan kebersihan.
4) Mekanisme koping
Mekanisme koping yang digunakan pada reaksi kehilangan
yang memanjang adalah denial dan supresi, hal ini dilakukan untuk
menghindari tekanan yang hebat. Pada depresi mekanisme koping
yang digunakan adalah represi, supresi, mengingkari dan disosiasi.
Tingkah laku mania merupakan mekanisme pertahanan terhadap
depresi yang diakibatkan karena kurang efektifnya koping dalam
menghadapi kehilangan.
g. Pencegahan
1) Usahakan untuk selalu punya seseorang yang dekat untuk bercurah
hati. Jangan pernah untuk menyimpan sendiri beban hidup kita.
Karena hal ini dapat memperburuk depresi yang sdah dialami
mapun dapat mengakibatkan depresi
2) Berpartisipasi dalam suatu kegiatan yang dapat membuat diri lebih
baik, hal ini dapat mengalihkan perhatian kita terhadap masalah
yang sedang kita hadapi. Ingat kita bkan lari dari masalah tetapi
labih cenderung menyegarkn pikiran kita sehingga kita lebih siap
untuk menghadapinya lagi nanti.

3) Berpikir realistis, jangan terlalu menghayal dan berimajinasi.


Hilangkan kata seandainya saya dalam hidup kita
4) Melakukan olahraga, aktif dalam kelompok agama dan sosial,
kegiatan tersebut membuat kita lebih jarang melamun
5) Mengubah suasana hati, Usahakan untuk selalu membuat suasan
hati kita gembira karena hal tersebut dapat menghindarkan diri dari
menyalahkan diri sendiri
6) Jangan banyak berpengharapan
7) Berpikir positif
8) Lapang hati dan sabar dalam mengadapi segala cobaan hidup dapat
menjauhkan diri kita dari depresi
D. KESIMPULAN
Cinta berhubungan dengan emosi, bukan dengan intelektual seseorang.
Perasaan lebih berperan dalam cinta daripada proses intelektual. Walaupun
demikian cinta dapat diartikan sebagai keadaan untuk saling mengerti secara
dalam dan menerima sepenuh hati. Cinta dan kasih sayang merupakan suatu
yang hakiki dan sangat berarti bagi manusia, karena ia merupakan prasyarat
bagi terwujudnya perasaan yang sehat. Menurut Sternberg keakraban atau
keintiman

(intimacy),

Gairah

(Passion),

Keputusan

atau

Komitmen

(decision/commitment).
Menurut Maslow cinta tidak bersinonim dengan seks, dan cinta adalah
hubungan yang sehat antara orang yang satu dengan yang lainnya yang
melibatkan perasaan saling menghormati, saling menghargai dan attachment
dari kedua belah pihak. Ada dua jenis cinta menurut Maslow, yakni
Deficiency Love (D-Love) dan Being Love (B-Love).
Manfaat cinta bagi kesehatan yaitu Mengurangi depresi dan stress,
Menurunkan tekanan darah, Menghindari rasa cemas, Mengatasi rasa sakit
dan menyembuhkan luka, Meningkatkan sistem imun, Menurunkan berat
badan, Mencegah penuaan dini.

E. DAFTAR PUSTAKA
Rahayu,

Nia.2013.Gangguan

Alam

Perasaan.

(Available):

http://niarahayu9.blogspot.com/2013/05/gangguan-alam-perasaan.html
(Diakses pada tanggal 06 Mei 2015 pukul 19.00 WITA)
Tedjho.2012.Ketulusan
Mempercepat

Perawat

Sesuai

Dengan

Kesembuhan

Sila

Pancasila

Pasien.

Dapat

(Available):

https://tedjho.wordpress.com/2012/04/15/ketulusan-perawat-sesuaidengan-sila-pancasila-dapat-mempercepat-kesembuhan-pasien/

(Diakses

pada tanggal 06 Mei 2015 pukul 19.15 WITA)


Mastoni.2012.Teori

Hirarki

Abraham

Maslow.

(Available):

http://blognyamastoni.blogspot.com/2012/11/kdm-teori-hirarki-abrahammaslow.html (Diakses pada tanggal 06 Mei 2015 pukul 20.00 WITA)


Noviyani,

Evi.2014.Tata

Nilai

Perawat.

(Available):

https://personalityevinoviyani.wordpress.com/tata-nilai-perawat/ (Diakses
pada tanggal 06Mei 2015 pukul 20.15 WITA)
Anoname. 2011. Konsep dasar klien dengan depresi. (Available) :
http://thefuturisticlovers.wordpress.com. (Diakses pada tanggal 07 Mei
2015 pukul 11.00 WITA)