Anda di halaman 1dari 24

PROPOSAL TERAPI BERMAIN

OLEH:
NAMA KELOMPOK :
1. A

PROGRAM STUDY S1 ILMU KEPERAWATAN


STIKES BINA SEHAT PPNI
KABUPATEN MOJOKERTO
2018
DAFTAR ISI
Halaman Depan ...................................................................................................
Daftar Isi..............................................................................................................
BAB I ..................................................................................................................
BAB II .................................................................................................................
BAB II .................................................................................................................
Daftar Pustaka .....................................................................................................

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

1.2 Rumusan Masalah


Apa yang dimaksud terapi bermain ?
Bagaimana tumbuh perkembangan anak usia 3 – 5 tahun ?
Apa yang dimaksud penyakit ?
Apa yang dimaksud bermain ?
1.3 Tujuan
Mengetahui tentang terapi bermain
Mengetahui tentang tumbuh perkembangan anak usia 3 – 5 tahun
Mengetahui tentang penyakit
Mengetahui tentang bermain

1
BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Terapi Bermain


1. Pengertian Bermain dan Terapi Bermain
Bermain menurut Hughes, seorang ahli perkembangan anak dalam
bukunya children, play, and development, mengatakan bahwa permainan
merupakan hal yang berbeda dengan belajar dan bekerja. Suatu kegiatan
bermain harus ada lima unsur di dalamnya antara lain: Mempunyai tujuan
yakni untuk mendapatkan kepuasan, Memilih dengan bebas atas kehendak
sendiri tidak ada yang menyuruh ataupun memaksa, Menyenangkan dan
dapat menikmati, Menghayal untuk mengembangkan daya imajinatif dan
kreativitas, Melakukan secara aktif dan standar.
Hetherington & Parke mendefinisikan permainan sebagai “a nonserious
and self contained activity engaged in for the sheer sastisfaction it brings.
Jadi permainan bagi anak- anak adalah suatu bentuk aktivitas yang
menyenangkan yang dilakukan semata- mata untuk aktivitas itu sendiri,
bukan karena ingin memperoleh sesuatu yang dihasilkan dari aktivitas
tersebut. Hetherington dan Parke menyebutkan tiga fungsi utama dari
permainan yakni:
a. Fungsi kognitif permainan yang membantu perkembangan kognitif anak.
Dengan melalui permainan ini anak akan lebih mudah mejelajah
lingkungannya serta mempelajari objek- objek yang ada disekitarnya dan
belajar memecahkan masalah yang dihadapinya. Piget (1962) percaya
bahwa stuktur kognitif anak juga perlu untuk dilatih, dan permainan
merupakan seting yang sempurna bagi latihan ini, melalui permainan
anak- anak mungkin akan mengembangkan kompetensi- kompetensi dan
ketrampilanketrampilan yang diperlukannya dengan cara yang
menyenangkan.
b. Fungsi sosial permaianan yakni permainan dapat meningkatkan
perkembangan sosial anak, khususnya dalam permainan fantasi dengan

2
memerankan suatu peran. Anak belajar memahami orang lain dan peran
yang akan ia mainkan dikemudian hari setelah tumbuh menjadi orang
dewasa.
c. Fungsi emosi permainan memungkinkan anak memecahkan sebagian
dari emosionalnya, belajar mengatasi kegelisahan dan konflik batin.
Karena permainan memungkinkan anak melepaskan energi fisik yang
berlebihan dan membebaskan perasaan- perasaan yang terpendam.
Bruner dalam buku Hurlock menyatakan bahwa bermain adalah aktivitas
yang serius, selanjutnya ia menjelaskan bahwa bermain memberikan
kesempatan bagi banyak bentuk belajar. Dua diantaranya yang sangat
penting adalah pemecahan masalah dan kreativitas. Tanpa bermain dasar
kreativitas dan dasar pemecahan masalah tidak dapat diletakkan sebelum
anak mengembangkan kebiasaan untuk menghadapi lingkungan dengan
cara yang tidak kreatif.
2. Pola – Pola Bermain
Hurlock mendefinisikan bermain adalah kegiatan yang dilakukan untuk
kesenangan yang ditimbulkan tanpa mempertimbangkan hasil akhir.
Hurlock juga membagi pola bermainan meurut tingkat perkembangan dari
bayi hingga masa anak- anak:
a. Pola Bermain pada masa bayi
- Sensomotorik
Merupakan bentuk permainan yang paling awal dan terdiri dari
tendangan, gerakan- gerakan, mengangkat tubuh, bergoyang- goyang,
menggerak- gerakkan jari jemari tangan dan kaki, memanjat,
berceloteh dan menggelinding.
- Menjawab
Dengan berkembangnya koordinasi lengan dan tangan, bayi mulai
mengamati tubuhnya dengan menarik rambut, menghisap jari- jari
tangan dan kaki, memasukkan jari kedalam pusar, dan memainkan alat
kelamin. Mulai mengocok, membuang, membanting, menghisab dan

3
menarik narik mainan dan menjelajah dengan cara menarik,
membanting dan merobek benda- benda yang dapat diraihnya.
- Meniru
Mencoba untuk menirukan orang- orang yang ada disekitarnya,
seperti halnya membaca majalah, menyapu lantai, atau menulis
dengan pensil dan krayon.
- Berpura – pura
Selama tahun kedua, kebanyakan anak banyak memberikan sifat
kepada mainannya seperti sifat yang sesungguhnya. Seperti boneka
hewan diberikan sifat seperti hewan. Mobil- mobilan dianggap seperti
orang atau mobil.
- Permainan
Sebelum berusia satu tahun anak mulai memainkan cilukba, petak
umpet dan sebagainya bersama dengan orangtua, dan kakaknya.
- Hiburan
Bayi senang dinyanyikan, diceritai, dan dibacakan dongeng-
dongeng kebanyakan bayi menyenangi siaran radio dan televisi dan
suka melihat gambar- gambar.
b. Pola Bermain pada masa awal anak- anak
- Bermainan dengan mainan
Pada permulaan masa awal kanak- kanak bermain dengan mainan
merupakan bentuk yang dominan. Minat bermain dengan mainan
mulai agak berkurang pada akhir awal masa kanak- kanak pada saat
anak tidak lagi dapat membayangkan bahwa mainannya mempunyai
sifat hidup
- Dramatisasi
Sekitar usia 3 tahun dramatisasi terdiri dari permainan dengan
meniru pengalaman- pengalaman hidup, kemudian anak- anak
bermain permainan pura- pura dengan temannya seperti polisi dan
perampok, penjaga toko, berdasarkan cerita- cerita yang dibacakan

4
kepada mereka atau bisa juga berdasarkan acara filem dan televisi
yang mereka lihat
- Konstruksi
Anak- anak mulai membuat bentuk- bentuk dengan balok- balok,
pasir, lumpur, tanah liat, manik- manik, cat, pasta, gunting, krayon,
sebagian besar konstruk yang dibuat merupakan tiruan dari apa yang
dilihatnya dalam kehidupan sehari- hari atau dari televisi. Menjelang
berakhirnya awal masa kanak- kanak, anak- anak sering
menambahkan kereativitasnya kedalam konstruksi- konstruksi yang
dibuat berdasarkan pengamatan- pengamatannya dalam kehidupan
sehari- hari
- Permainan
Dalam tahun keempat anak mulai lebih mempunyai permainan
yang dimainkan bersama dengan teman- teman sebayanya dari pada
dengan orang- orang dewasa. Permainan ini dapat terdiri dari
beberapa permainan dan melibatkan beberapa peraturan. Permainan
yangmenguji ketrampilan adalah melempar dan menangkap bola
- Membaca
Anak- anak senang dibacakan dan melihat gambar dari buku, yang
sangat enarik adalah dongeng- dongeng dan nyanyian anak- anak,
cerita tentang hewan, dan kejadian sehari- hari
- Film Radio & Televisi
Anak- anak jarang melihat bioskop namun anak- anak suka melihat
filem kartun, filem tentang binatang, dan filem rumah tentang anggota
keluarga. Anak- anak juga senang mendengarkan radio tetapi lebih
senang melihat televisi. Ia lebih suka melihat acara anak- anak yang
lebih besar dari pada usia prasekolah

Perkembangan bermain berhubungan dengan perkembangan kecerdasan


seseorang, maka taraf kecerdasan seseorang anak akan mempengaruhi
kegiatan bermainnya. Artinya jika anak memiliki kecerdasan rata- rata,

5
kegiatan bermain mengalami keterbelakangan dibandingkan dengan anak
seusianya.
Terapi bermain adalah penerapan sistematis dari sekumpulan prinsip
belajar terhadap suatu kondisi perilaku yang bermasalah atau dianggap
menyimpang dengan melakukan suatu perubahan serta menempatkan anak
dalam situasi bermain.

3. Pengaruh Aktivitas Bermain


Menurut Elizabeth B. Horlock, aktivitas bermain memiliki pengaruh
yang besar diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Perkembangan fisik. Bermain aktif penting bagi anak untuk
mengembangkan otot dan melatih seluruh bagian tubuh.
b. Dorongan berkomunikasi. Agar dapat berkomunikasi dengan anak lain
c. Penyaluran bagi kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan dan keinginan
yang tidak dapat dipenuhi dengan cara lain seringkali dapat dipenuhi
dengan cara bermaian.
d. Sumber belajar. Bermaian memberi kesempatan untuk mempelajari
berbagai hal melalui buku, televisi, majalah, dan lingkungan.
e. Rangsangan bagi kreativitas
f. Perkembangan wawasan diri. Dengan bermain anak mengetahui tingkat
kemampuannya dibandingkan dengan teman bermainnya. Ini
memungkinkan mereka untuk mengembangkan konsep dirinya (self
concept) dengan lebih pasti dan nyata
g. Belajar bermasyarakat dan bersosialisasi
h. Belajar bermain sesuai dengan peran dan jenis kelamin.
i. Perkembangan ciri kepribadian yang diinginkan. Hal ini bisa dilihat dari
hubungan dengan anggota kelompok teman sebaya dalam bermain,
belajar bekerja sama, murah hati, jujur, sportif, dan disukai orang

6
2.2 Anak Usia 3 – 5 Tahun
1. Tumbuh Kembang Anak Usia 3-5 tahun
Pada pertumbuhan fisik, khususnya berat badan mengalami kenaikan
rata-rata pertahunnya adalah 2 kg, kelihatan kurus, akan tetapi aktivitas
motoriknya tinggi, dimana sistem tubuh sudah mencapai kematangan,
seperti berjalan,melompat, dan lain-lain. Sedangkan pada pertumbuhan.
tinggi badan anak kenaikannya rata-rata akan mencapai 6,75-7,5 cm setiap
tahunnya.
Perkembangan merupakan proses yang tidak akan berhenti. Masa
prasekolah merupakan fase perkembangan individu dapat usia 2-6 tahun,
perkembangan pada masa ini merupakan masa perkembangan yang
pendek tetapi merupakan masa yang sangat penting
2. Stimulasi Anak Usia 3 – 5 tahun
Stimulasi yang dilakukan pada kemampuan gerak halus pada anak usia
3-5 tahun misalnya menulis namanya, menulis angka-angka, menggambar,
berhitung, berlatih mengingat, membuat sesuatu dari tanah liat atau lilin,
bermain berjualan, belajar mengukur dan lain-lain.
Stimulasi yang dilakukan pada kemampuan gerak kasar pada anak usia
3-5 tahun misalnya dengan mendorong anak untuk bermain bola bersama
temannya, permainan menjaga keseimbangan tubuh, belari, melompat
dengan satu kaki, diajari bermain sepeda, dan sebagainya.
Stimulasi yang dilakukan pada kemampuan bicara dan bahasa pada anak
usia 3-5 tahun misalnya bermain tebak-tebakan, berlatih mengingat-ingat,
menjawab pertanyaan “mengapa?”, mengenal uang logam, mengamati atau
meneliti keadaan sekitanya dan lain-lain.
Stimulasi yang dilakukan pada kemampuan bersosialisasi dan
kemandirian pada anak usia 3-5 tahun misalnya mendorong anak untuk
berpakaian sendiri, menyimpan mainan tanpa bantuan, ajak berbicara
tentang apa yang dirasakan, berkomunikasi dengan anak, berteman dan
bergaul, mematuhi peraturan keluarga dan lain-lain.

7
3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
a. Faktor Herediter
Yang termasuk faktor herediter adalah bawaan, jenis kelamin, ras,
suku bangsa. Faktor ini dapat ditentukan dengan intensitas dan kecepatan
alam pembelahan sel telur, tingkat sensitifitas jaringan terhadap
rangsangan, umur puberitas, dan berhentinya pertumbuhan tulang.
b. Faktor Lingkungan
Faktor pranatal merupakan lingkungan dalam kandungan, mulai dari
konsepsi sampai lahir yang meliputi gizi pada waktu ibu hamil, posisi
janin, pengunaan obat-obatan, alkohol atau kebiasaan merokok. Faktor
lingkungan pasca lahir yang mempengaruhi tumbuh kembang anak
meliputi budaya lingkungan, sosial ekonomi, keluarga. nutrisi, posisi
anak dalam keluarga dan status kesehatan.

2.3 FRAKTUR
1. Definisi
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang umumnya
disebabkan oleh rudapaksa(Mansjoer et al, 2000). Fraktur adalah patah
tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik.(Price, 2006).
2. Etiologi
Adapun penyebab dari fraktur adalah :
a. Trauma
1) Trauma langsung
Trauma langsung menyebabkan patah tulang pada titik terjadinya
kekerasan.Fraktur demikian demikian sering bersifat fraktur terbuka
dengan garis patah melintang atau miring.
2) Trauma tidak langsung
Trauma tidak langsung menyebabkan patah tulang ditempat yang
jauh dari tempat terjadinya kekerasan dan yang patah biasanya adalah
bagian yang paling lemah dalam jalur hantaran vektor kekerasan.

8
b. Kondisi patologi : kekurangan mineral sampai batas tertentu pada tulang
dapat menyebabkan patah tulang: contohnya osteoporosis, tumor tulang
(tumor yang menyerap kalsium tulang)
c. Mekanisme Cedera
Pada cedera tulang belakang mekanisme cedera yang mungkin
adalah : (Apley, 2000)
1) Hiperekstensi (kombinasi distraksi dan ekstensi). Hiperekstensi
jarang terjadi di derah torakolumbal tetapi sering pada leher,pukulan
pada muka atau dahi akan memaksa kepala ke belakang dan
tanpamenyangga oksiput sehingga kepala membentur bagian atas
punggung.Ligamen anterior dan diskus dapat rusak atau arkus saraf
mungkinmengalami fraktur. cedera ini stabil karena tidak merusak
ligamen posterior.
2) Fleksi Trauma ini terjadi akibat fleksi dan disertai kompresi pada
vertebra.Vertebra akan mengalami tekanan dan remuk yang dapat
merusakligamen posterior. Jika ligamen posterior rusak maka sifat
fraktur ini tidak stabil sebaliknya jika ligamentum posterior tidak
rusak maka fraktur bersifat stabil. Pada daerah cervical, tipe
subluksasi ini sering terlewatkan karena pada saat dilakukan
pemeriksaan sinar-X vertebra telah kembali ketempatnya.
3) Fleksi dan kompresi digabungkan dengan distraksi posterior
Kombinasi fleksi dengan kompresi anterior dan distraksi posterior
dapatmengganggu kompleks vertebra pertengahan di samping
kompleks posterior. Fragmen tulang dan bahan diskus dapat
bergeser ke dalam kanalis spinalis. Berbeda dengan fraktur
kompresi murni, keadaan ini merupakan cedera tak stabil dengan
risiko progresi yang tinggi. Fleksi lateral yang terlalu banyak dapat
menyebabkan kompresi padasetengah corpus vertebra dan distraksi
pada unsur lateral dan posterior pada sisi sebaliknya. Kalau
permukaan dan pedikulus remuk, lesi bersifat tidak stabil.

9
4) Pergeseran aksial (kompresi). Kekuatan vertikal yang mengenai
segmen lurus pada spina servikal atau lumbal akan menimbulkan
kompresi aksial. Nukleus pulposus akan mematahkanlempeng
vertebra dan menyebabkan fraktur vertikal pada vertebra;
dengankekuatan yang lebih besar, bahan diskus didorong masuk ke
dalam badanvertebral, menyebabkan fraktur remuk ( burst fracture).
Karena unsur posterior utuh, keadaan ini didefinisikan sebagai
cedera stabil. Fragmen tulang dapat terdorong ke belakang ke dalam
kanalis spinalis dan inilah yang menjadikan fraktur ini berbahaya;
kerusakan neurologik sering terjadi.
5) Rotasi-fleksi. Cedera spina yang paling berbahaya adalah akibat
kombinasi fleksi danrotasi. Ligamen dan kapsul sendi teregang
sampai batas kekuatannya, kemudian dapat robek, permukaan sendi
dapat mengalami fraktur atau bagian atas dari satu vertebra dapat
terpotong. Akibat dari mekanisme inidalah pergeseran atau dislokasi
ke depan pada vertebra di atas, denganatau tanpa dibarengi
kerusakan tulang. Semua fraktur-dislokasi bersifat tak stabil dan
terdapat banyak risiko munculnya kerusakan neurologik.
6) Translasi Horizontal Kolumna vertebralis teriris dan segmen bagian
atas atau bawah dapat bergeser ke anteroposterior atau ke lateral.
Lesi bersifat tidak stabil dan sering terjadi kerusakan syaraf.
d. Cedera Torakolumbal
Penyebab tersering cedera torakolumbal adalah jatuh dari ketinggian
serta kecelakaan lalulintas.Jatuh dari ketinggian dapat menimbulkan
patah tulang vertebra tipe kompresi. Pada kecelakaan lalulintas dengan
kecepatan tinggi dan tenaga besar sering didapatkan berbagai macam
kombinasi gaya, yaitu fleksi, rotasi, maupun ekstensi sehingga tipe
frakturnya adalah fraktur dislokasi (Jong, 2005).
Terdapat dua tipe berdasarkan kestabilannya, yaitu: (Apley, 2000)
1) Cedera stabil : jika bagian yang terkena tekanan hanya bagian
medulla spinalis anterior, komponen vertebral tidak bergeser dengan

10
pergerakan normal, ligamen posterior tidak rusak sehingga medulla
spinalis tidak terganggu, fraktur kompresi adalah contoh cedera
stabil.
2) Cedera tidak stabil artinya cedera yang dapat bergeser dengan
gerakannormal karena ligamen posteriornya rusak atau robek,
Fraktur medulla spinalis disebut tidak stabil jika kehilangan
integritas dari ligament posterior.

Berdasarkan mekanisme cederanya dapat dibagi menjadi: (Apley, 2000)


1) Fraktur kompresi ( Wedge fractures)
Adanya kompresi pada bagian depan corpus vertebralis yang
tertekan dan membentuk patahan irisan. Fraktur kompresi adalah
fraktur tersering yang mempengaruhi kolumna vertebra. Fraktur ini
dapat disebabkan oleh kecelakaan jatuh dari ketinggian dengan
posisi terduduk ataupun mendapat pukulan di kepala, osteoporosis
dan adanya metastase kanker dari tempat lain ke vertebra kemudian
membuat bagian vertebra tersebut menjadi lemah dan akhirnya
mudah mengalami fraktur kompresi. Vertebra dengan fraktur
kompresi akan menjadi lebih pendek ukurannya dari pada ukuran
vertebra sebenarnya.
2) Fraktur remuk (Burst fractures)
Fraktur yang terjadi ketika ada penekanan corpus vertebralis
secaralangsung, dan tulang menjadi hancur.Fragmen tulang
berpotensi masuk kekanalis spinais.Terminologi fraktur ini adalah
menyebarnya tepi korpusvertebralis kearah luar yang disebabkan
adanya kecelakaan yang lebih beratdibanding fraktur kompresi.tepi
tulang yang menyebar atau melebar itu akanmemudahkan medulla
spinalis untuk cedera dan ada fragmen tulang yangmengarah ke
medulla spinalis dan dapat menekan medulla spinalis
danmenyebabkan paralisi atau gangguan syaraf parsial.

11
Tipe burst fracture sering terjadi pada thoraco lumbar junction
dan terjadi paralysis pada kakidan gangguan defekasi ataupun miksi.
Diagnosis burst fracture ditegakkan dengan x-rays dan CT scan
untuk mengetahui letak fraktur dan menentukan apakah fraktur
tersebut merupakan fraktur kompresi, burst fracture ataufraktur
dislokasi. Biasanya dengan scan MRI fraktur ini akan lebih jelas
mengevaluasi trauma jaringan lunak, kerusakan ligamen dan adanya
perdarahan.
3) Fraktur dislokasi
Terjadi ketika ada segmen vertebra berpindah dari tempatnya
karena kompresi, rotasi atau tekanan.Ketiga kolumna mengalami
kerusakan sehingga sangat tidak stabil, cedera ini sangat
berbahaya.Terapi tergantung apakah ada atau tidaknya korda atau
akar syaraf yang rusak. Kerusakan akan terjadi pada ketiga bagian
kolumna vertebralis dengan kombinasi mekanisme kecelakaan yang
terjadi yaitu adanya kompresi, penekanan,rotasi dan proses
pengelupasan. Pengelupasan komponen akan terjadi dariposterior ke
anterior dengan kerusakan parah pada ligamentum posterior, fraktur
lamina, penekanan sendi facet dan akhirnya kompresi korpus
vertebraanterior. Namun dapat juga terjadi dari bagian anterior ke
posterior.Kolumn avertebralis. Pada mekanisme rotasi akan terjadi
fraktur pada prosesus transversus dan bagian bawah costa. Fraktur
akan melewati lamina danseringnya akan menyebabkan dural tears
dan keluarnya serabut syaraf.
4) Cedera pisau lipat (Seat belt fractures)
Sering terjadi pada kecelakaan mobil dengan kekuatan tinggi dan
tiba-tiba mengerem sehingga membuat vertebrae dalam keadaan
fleksi, dislokasifraktur sering terjadi pada thoracolumbar
junction.Kombinasi fleksi dan distraksi dapat menyebabkan tulang
belakang pertengahan menbetuk pisau lipat dengan poros yang
bertumpu pada bagian kolumna anterior vertebralis.Pada cedera

12
sabuk pengaman, tubuh penderita terlempar kedepan
melawantahanan tali pengikat. Korpus vertebra kemungkinan dapat
hancur selanjutnya kolumna posterior dan media akan rusak
sehingga fraktur ini termasuk jenis fraktur tidak stabil.
3. Klasifikasi
a. Menurut Depkes RI (1995), berdasarkan luas dan garis traktur meliputi:
1) Fraktur komplit adalah patah atau diskontinuitas jaringan tulang yang
luas sehingga tulang terbagi menjadi dua bagian dan garis patahnya
menyeberang dari satu sisi ke sisi lain serta mengenai seluruh korteks.
2) Fraktur inkomplit adalah patah atau diskontinuitas jaringan tulang
dengan garis patah tidak menyeberang, sehingga tidak mengenai
seluruh korteks (masih ada korteks yang utuh).
b. Menurut Black dan Matassarin (1993) yaitu fraktur berdasarkan
hubungan dengan dunia luar, meliputi:
1) Fraktur tertutup yaitu fraktur tanpa adanya komplikasi, kulit masih
utuh, tulang tidak keluar melewati kulit.
2) Fraktur terbuka yaitu fraktur yang merusak jaringan kulit, karena
adanya hubungan dengan lingkungan luar, maka fraktur terbuka
potensial terjadi infeksi. Fraktur terbuka dibagi menjadi 3 grade yaitu:
a) Grade I : Robekan kulit dengan kerusakan kulit dan otot.
b) Grade II : Seperti grade I dengan memar kulit dan otot.
c) Grade III : Luka sebesar 6-8 cm dengan kerusakan pembuluh darah,
syaraf, otot dan kulit.
c. Long (1996) membagi fraktur berdasarkan garis patah tulang, yaitu:
1) Green Stick yaitu pada sebelah sisi dari tulang ( retak dibawah lapisan
periosteum) / tidak mengenai seluruh kortek, sering terjadi pada anak-
anak dengan tulang lembek.
2) Transverse yaitu patah melintang ( yang sering terjadi ).
3) Longitudinal yaitu patah memanjang.
4) Oblique yaitu garis patah miring.
5) Spiral yaitu patah melingkar.

13
6) Communited yaitu patah menjadi beberapa fragmen kecil
d. Black dan Matassarin (1993) mengklasifikasi lagi fraktur berdasarkan
kedudukan fragmen yaitu:
1) Tidak ada dislokasi
2) Adanya dislokasi, yang dibedakan menjadi:
a) Disklokasi at axim yaitu membentuk sudut.
b) Dislokasi at lotus yaitu fragmen tulang menjauh.
c) Dislokasi at longitudinal yaitu berjauhan memanjang.
d) Dislokasi at lotuscum controltinicum yaitu fragmen tulang
menjauh dan memendek
4. Manifestasi Klinis
a. Nyeri ; Nyeri dirasakan langsung setelah terjadi trauma. Hal ini
dikarenakan adanya spasme otot, tekanan dari patahan tulang atau
kerusakan jaringan sekitarnya.
b. Bengkak /edema ; Edema muncul lebih cepat dikarenakan cairan serosa
(protein plasma) yang terlokalisir pada daerah fraktur dan extravasi
daerah di jaringan sekitarnya.
c. Memar / ekimosis ; Merupakan perubahan warna kulit sebagai akibat
dari extravasi daerah di jaringan sekitarnya.
d. Spasme otot ; Merupakan kontraksi otot involunter yang terjadi disekitar
fraktur.
e. Penurunan sensasi ; Terjadi karena kerusakan syaraf, tertekannya syaraf
karena edema.
f. Gangguan fungsi ; Terjadi karena ketidakstabilan tulang yang fraktur,
nyeri atau spasme otot, paralysis dapat terjadi karena kerusakan syaraf.
g. Mobilitas abnormal ; Adalah pergerakan yang terjadi pada bagian-
bagian yang pada kondisi normalnya tidak terjadi pergerakan. Ini terjadi
pada fraktur tulang panjang.
h. Krepitasi ; Merupakan rasa gemeretak yang terjadi jika bagian-bagaian
tulang digerakkan.

14
i. Deformitas ; Abnormalnya posisi dari tulang sebagai hasil dari
kecelakaan atau trauma dan pergerakan otot yang mendorong fragmen
tulang ke posisi abnormal, akan menyebabkan tulang kehilangan bentuk
normalnya (Lewis, 2006)

15
5. Patofisiologi

1
6. KomplikasI
a. Komplikasi Awal
- Kerusakan Arteri
- Kompartement Syndrom
- Fat Embolism Syndrom
- Infeksi
- Avaskuler Nekrosis
- Syok
b. Komplikasi Dalam Waktu Lama
- Delayed Union
- Nonunion
- Malunion
7. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Rontgen: menentukan lokasi/luasnya
fraktur/luasnyatrauma, skan tulang, temogram, scan CI: memperlihatkan
fraktur juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi kerusakan jaringan
lunak.
b. Hitung darah lengkap : HB mungkin meningkat/menurun.
c. Kreatinin : traumaa otot meningkatkan beban kreatinin untuk ginjal.
d. Profil koagulasi : perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah,
transfusi multiple, atau cederah hati.
8. Penatalaksanaan
a. Penatalaksanaan Medis:
1) Ada empat prinsip dasar yang harus dipertimbangkan pada waktu
menangani fraktur ( disebut empat R ) yaitu:
- Rekognisi
Pengenalan riwayat kecelakaan : patah/ tidak. Meenentukan
perkiraan tulang yang patah.Kebutuhan pemeriksaan yang spesifik,
kelainan bentuk tulang dan ketidakstabilan. Tindakan apa yang
harus cepat dilaksanakan misalnya pemasangan bidai.
- Reduksi
Usaha dan tindakan untuk memanipulasi fragmen tulang yang
patah sedapat mungkin kembali seperti letak asalnya. Cara
pengobatan fraktur secara reduksi :

1
(1)Pemasangan gips
Untuk mempertimbangkan posisi fragmen fraktur.
(2)Pemasangan traksi
Menanggulangi efek dari kejang otot serta meluruskan atau
mensejajarkan ujung tulang yang fraktur.
(3)Reduksi tertutup
Digunakan traksi dan memanipulasi tulang itu sendiri dan
bila keadaan membaik maka tidak perlu diadakan pembedahan.
(4)Reduksi terbuka
Beberapa fraktur perlu pengobatan dengan pembedahan
secara reduksi terbuka, ini dilakukan dengan cara pembedahan.
- Retensi Reduksi
Mempertahankan reduksi seperti melalui pemasangan gips atau
traksi
- Rehabilitasi
Memulihkan kembali fragmen-fragmen tulang yang patah untuk
mengembalikan ke fungsi normal.
2) Cara operatif / pembedahan
Pada saat ini metode penatalaksanaan yang paling banyak
keunggulannya mungkin adalah pembedahan.Metode perawatan ini
disebut fiksasi interna dan reduksi terbuka.
Pada umumnya insisi dilakukan pada tempat yang mengalami
cedera dan diteruskan sepanjang bidang anatomik menuju tempat
yang mengalami fraktur.Hematoma fraktur dan fragmen-fragmen
tulang yang telah mati diirigasi dari luka.Fraktur kemudian direposisi
dengan tangan agar menghasilkan posisi yang normal
kembali.Sesudah direduksi, fragmen-fragmen tulang ini
dipertahankan dengan alat-alat ortopedik berupa pen, sekrup, pelat,
dan paku.

2
b. Penatalaksanaan Keperawatan
Perawat harus mewaspadai faktor-faktor praoperasi dan pascaoperasi
yang jika tidak dikenali dapat menjadi faktor penentu yang berdampak
kurang baik terhadap klien.
a) Praoperasi
Perawat harus mengajarkan klien untuk melatih kaki yang tidak
mengalami cidera dan kedua lengannya. Selain itu sebelum dilakukan
operasi klien harus diajrakna menggunakan trapeze yang dipasangkan
di atas tempat tidur dan di sisi pengaman tempa tidur yang berfungsi
untuk membantunya dalam mengubah posisi, klien juga perlu
mempraktikan bagaimana cara bangun dari tempat tidur dan pindah
ke kursi.
b) Pascaoperasi
Perawat memantau tanda vital serta memantau asupan dan keluaran
cairan, mengawasi aktivitas pernapasan, seperti napas dalam dan
batuk, memberikan pengobatan untuk menghilangkan rasa nyeri, dan
mengobservasi balutan luka terhadap tanda-tanda infeksi dan
perdarahan. Sesudah dan sebelum reduksi fraktur, akan selalu ada
resiko mengalami gangguan sirkulasi, sensasi, dan gerakan. Tungkai
klien tetap diangkat untuk menghindari edema.Bantal pasir dapat
sangat membantu untuk mempertahankan agar tungkai tidak
mengalami rotasi eksterna. Untuk menurunkan kebutuhan akan
penggunaan narkotika dapat menggunakan transcutaneus electrical
nerve stimulator (TENS). Untuk mencegah dislokasi prosthesis,
perawat harus senantiasa menggunakan 3 bantal diantara tungkai klien
ketika mengganti posisi, pertahankan bidai abductor tungkai pada
klien kecuali pada saat mandi, hindari mengganti posisi klien ke sisi
yang mengalami fraktur. Menahan benda/beban yang berat pada
ekstremitas yang terkena fraktur tidak dapat diizinkan kecuali telah
mendapatkan hasil dari bagian radiologi yang menyatakan adanya

3
tanda-tanda penyembuhan yang adekuat, umumnya pada waktu 3
sampai 5 bulan

2.4 TERAPI BERMAIN


1. Pengertian
2. Teknik Bermain
3.

4
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN

3.2 SARAN

5
DAFTAR PUSTAKA
Andriana, Dian. 2011. Tumbuh Kembang Dan Terapi Bermain Pada Anak. Jakarta:
Salemba Medika
Ismail, Andang.2006. Education Games Menjadi Cerdas Dan Ceria Dengan
Permainan Edukatif. Yogyakarta: Pilar Media
Desmita. 2009. Psikologi Perkembangan. Bandung: Remaja Rosda Karya
Hurlock. 2002. Psikologi Perkembangan (edisi ke lima). Jakarta: Erlangga