PROPOSAL
TERAPI BERMAIN PADA ANAK USIA TODDLER DI RUANG MELATI
RUMAH SAKIT Dr. SOEDIRMAN KEBUMEN
Stase Keperawatan Anak
Disusun Oleh Kelompok 2 :
Andhika Wahyu W.S.
Dwi Lusi Wahyuningsih
Diah Purborini
Gigih Prasetya
Margo Sutrisno
Maskanah
Rahmat Sutopo
Setyasih
Siti Nurhayati
PROGRAM STUDI PROFESI NERS KEPERAWATAN REGULER B13
STIKES MUHAMMADIYAH GOMBONG
TAHUN AKADEMIK 2018/2019BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Bermain merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh
kesenangan, tanpa mempertimbangkan hasil akhir. Bagi anak, bermain
merupakan kerja karena anak melaksanakan praktek yang kompleks, proses
kehidupan yang penuh dengan stress, komunikasi dan pencapaian hubungan
interpersonal yang memuaskan. Bermain juga mengandung motivasi intrinsik
anak.
Ada orang tua yang berpendapat bahwa anak yang terlalu banyak
bermain akan membuat menjadi malas bekerja dan bodoh. Anggapan ini
kurang bijaksana, karena beberapa ahli psikolog mengatakan bahwa
permainan sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa anak.
Aktivitas bermain merupakan salah satu stimulus bagi perkembangan
anak. Sekarang banyak dijual macam-macam alat permainan, jika orang tua
tidak selektif dan kurang memahami fungsinya maka alat permainan yang
dibelinya tidak akan berfungsi efektif. Alat permaianan hendaknya
disesuaikan dengan jenis kelamin dan usia anak, sehingga dapat merangsang
perkembangan anak dengan optimal.
Dalam kondisi sakit dan dirawatpun aktivitas bermain tetap perlu
dilaksanakan untuk melanjutkan pertumbuhan dan perkembangan.Karena
dalam hal ini anak dapat mengekspresikan pikiran, perasaan, dan fantasi serta
tetap dapat mengembangkan kreatifitas dan dapat beradaptasi lebih efektif
terhadap stress.
B. TUJUAN
a. Tujuan Umum
Untuk melanjutkan tumbuh kembang anak dan meminimalkan efek
hospitalisasi pada anak.
b. Tujuan Khusus
Untuk melatih keterampilan kognitif dan afektif, anak bebas
mengekpresikan perasaannya, orang tua dapat mengetahui situasi hati
anak, memahami kemampuan diri, kelemahan dan tingkah laku terhadap
orang lain, merupakan alat komunikasi terutama bagi anak yang belum
dapat mengatakan secara verbal.
C. SASARAN
Anak usia todler yang sedang menjalani terapi rawat inap di Ruang
Melati Rumah Sakit Dr. Soedirman Kebumen dengan jumlah anak 2.
D. WAKTU DAN TEMPAT
Terapi bermain dilaksanakan pada saat anak setelah mendapatkan
terapi, bukan pada jam istirahat dan bukan pada saat kunjungan dokter.
Tempat terapi bermain dilaksanakan di ruang terapi bermain ruangan Rawat
Inap Melati Rumah Sakit Dr. Soedirman Kebumen.
BAB II
ISI
A. BERMAIN
1. Pengertian
Bermain merupakan cerminan kemampuan fisik, intelektual,
emosional, dan social dan bermain merupakan media yang baik untuk
belajar karena dengan bermain, anak-anak akan berkata-kata
(berkomunikasi), belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan,
melakukan apa yang dapat dilakukannya, dan mengenal waktu, jarak serta
suara (Wong, 2010).
Bermain adalah kegiatan yang dilakukan berulang-ulang demi
kesenangan, tanpa ada tujuan atau sasaran yang hendak dicapai (Suhendi
et al, 2011).
2. Fungsi bermain
Fungsi utama bermain adalah merangsang perkembangan sensoris,
perkembangan intelektual, perkembangan sosial, perkembangan
kreativitas, perkembangan kesadaran diri, perkembangan moral dan
bermain sebagai terapi.
3. Tujuan bermain
Melalui fungsi yang terurai diatas, pada prinsipnya bermain mempunyai
tujuan sebagai berikut:
a. Untuk melanjutkan pertumbuhan dan perkembangan yang
normal pada saat sakit anak mengalami gangguan dalam pertumbuhan
dan perkembangannya. Walaupun demikian, selam anak dirawat di
rumah sakit, kegiatan sitimulasi pertumbuhan dan perkembangan
masih harus tetap dilanjutkan untuk menjaga kesinambungannya.
b. Mengekspresikan perasaan, keinginan, dan fantasi serta ide-
idenya.
c. Mengembangkan kreativitas dan kemampuannya memecahkan
masalah.
d. Dapat beradaptasi secara efektif terhadap stress karena sakit
dan dirawat dirumah sakit.
4. Ciri-ciri kegiatan bermain
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Smith et al; Garvev; Rubin,
Fein dan Vandenberg (Johnson et al, 2010) diungkapkan adanya beberapa
ciri kegiatan bermain yaitu:
a. Dilakukan berdasarkan motivasi intrinsik, maksud muncul atas
keinginan pribadi serta untuk kepentingan sendiri.
b. Perasaan dari orang yang terlibat dalam kegiatan bermain
diwarnai oleh emosi-emosi yang positif.
c. Fleksibilitas yang ditandai mudahnya kegiatan beralih dari satu
aktivitas ke aktivitas lain.
d. Lebih menekankan pada proses yang berlangsung
dibandingkan hasil akhir.
e. Bebas memilih, dan ciri ini merupakan elemen yang sangat
penting bagi konsep bermain pada anak-anak kecil.
5. Klasifikasi bermain
Ada beberapa jenis permainan, baik ditinjau dari isi permainan, karakter
sosial dan kelompok usia anak. Dibawah ini akan dibahas secara rinci satu
per satu:
a. Berdasarkan Isi Permainan
Berdasarkan isi permainan, ada enam jenis permainan, yaitu:
1) Social affective play
Inti permainan ini adalah adanya hubungan interpersonal yang
menyenangkan antara anak dan orang lain.
2) Sense of pleasure play
Permainan ini menggunakan alat yang dapat menimbulkan rasa
senang pada anak dan biasanya mengasyikkan.
3) Skill play
Permainan ini akan meningkatkan ketrampilan anak, khususnya
motorik kasar dan halus.
4) Games atau permainan
Games atau permainan adalah jenis permainan yang menggunakan
alat tertentu yang menggunakan perhitungan dan/atau
skor.Permainan ini bisa dilakukan oleh anak sendiri dan/ atau
dengan temannya.
5) Unoccupied behavior
Pada saat tertentu, anak tampak senang, gembira, dan asyik
dengan situasi serta lingkungannya.
6) Dramatic play
Pada permainan ini anak memainkan peran sebagai orang lain
melalui permainannya.
b. Berdasarkan Karakter Sosial
Berdasarkan karakter sosialnya, ada lima jenis permainan,yaitu:
1) Onlooker play
Anak hanya mengamati temannya yang sedang bermain, tanpa ada
inisiatif untuk ikut berpartisipasi dalam permainan.
2) Solitary play
Anak tampak berada dalam kelompok permainan, tetapi anak
bermain sendiri dengan alat permainan yang dimilikinya, dan alat
permainan tersebut berbeda dengan alat permainan yang
digunakan temannya, tidak ada kerja sama, ataupun komunikasi
dengan teman sepermainannya.
3) Parallel play
Anak dapat menggunakan alat permainan yang sama, tetapi antara
satu anak dengan anak lainnya tidak terjadi kontak satu sama lain
sehingga antara anak satu dengan anak lain tidak ada sosialisasi
satu sama lain.
4) Associative play
Pada permainan ini sudah terjadi komunikasi antara satu anak
dengan anak lain, tetapi tidak terorganisasi, tidak ada pemimpin
atau yang memimpin permainan, dan tujuan permainan tidak jelas.
5) Cooperative play
Aturan permainan dalam kelompok tampak lebih jelas pada
permainan jenis ini, juga tujuan dan pemimpin permainan. Anak
yang memimpin permainan mengatur dan mengarahkan
anggotanya untuk bertindak dalam permainan sesuai dengan
tujuan yang diharapkan dalam permainan tersebut.
c. Berdasarkan Kelompok Usia Anak
Berdasarkan kelompok usia, ada lima jenis permainan, yaitu:
1) Anak usia bayi
Permainan untuk anak usia bayi dibagi menjadi bayi usia 0 – 3
bulan, usia 4 – 6 bulan, dan usia 7 – 9 bulan. Karakteristik
permainan anak usia bayi adalah “sense of pleasure play”. Yaitu
adanya interaksi social yang menyenangkan antara bayi dan orang
tua dan/atau orang dewasa sekitarnya.Dilakukan untuk menstimuli
penglihatan dan pendengaran.
2) Anak usia toddler (>1 tahun sampai 3 tahun)
Anak usia toddler menunjukkan karakteristikyang khas, yaitu
banyak bergerak, tidak bias diam dan mulai mandiri. Oleh karena
itu, dalam melakukan permainan, anak lebih bebas, spontan, dan
menunjukkan otonomi baik dalam memilih mainan maupun dalam
aktivitas bermainnya. Jenis alat permainan yang tepat diberikan
adalah boneka, pasir, tanah liat dan lilin warna-warni yang dapat
dibentuk benda macam-macam.
3) Anak usia prasekolah (>3 tahun sampai 6 tahun)
Anak melakukan permainan bersama-sama dengan temannya
dengan komunikasi yang sesuai dengan kemampuan
bahasanya.Anak juga sudah mampu memainkan peran orang tua
tertentu yang diidentifikasinya, seperti ayah, ibu dan bapak atau
ibu gurunya. Permainan yang menggunakan kemampuan motorik
(skill paly) banyak dipilih anak usia prasekolah. Untuk itu, jenis
alat permainan yang tepat diberikan pada anak misalnya, sepeda,
mobil-mobilan, alat olah raga, berenang dan permainan balok-
balok besar.
4) Anak usia sekolah (> 6 tahun sampai 12 tahun)
Permainan pada anak usia sekolah tidak hanya bermanfaat untuk
meningkatkan ketrampilan fisik atau intelektualnya, tetapi juga
dapat mengembangkan sensitivitasnya untuk terlibat dalam
kelompok dan bekerja sama dengan sesamanya. Karakteristik
permainan untuk anak usia sekolah dibedakan menurut jenis
kelaminnya. Anak laki-laki lebih tepat jika diberikan mainan jenis
mekanik yang akan menstimulasi kemampuan kreativitasnya
dalam berkreasi sebagai seorang laki-laki, misalnya mobil-
mobilan. Anak perempuan lebih tepat diberikan permainan yang
dapat menstimulasinya untuk mengembangkan perasaan,
pemikiran dan sikapnya dalam menjalankan peran sebagai seorang
perempuan, misalnya alat untuk memasak dan boneka.
5) Anak usia remaja (13 tahun sampai 18 tahun)
Prinsip kegiatan bermain bagi anak remaja tidak hanya sekedar
mencari kesenangan dan meningkatkan perkembangan fisio-
emosional, tetapi juga lebih juga ke arah menyalurkan minat,
bakat dan aspirasi serta membantu remaja untuk menemukan
identitas pribadinya. Untuk itu alat permainan yang tepat bias
berupa berbagai macam alat olah raga, alat musik dan alat gambar
atau lukis.
6. Syarat Bermain
Ada beberapa hal yang dipersyaratkan untuk dapat melakukan kegiatan
bermain yang baik untuk anak, yaitu:
a. Perhatikan faktor usia anak
Sesuaikan mainan /aktivitas dengan kematangan motorik anak dan
kognisinya. Untuk itu pilihlah mainan yang dapat merangsang
kreativitas anak.
b. Tidak harus sehat
Tentu akan lebih baik jika anak dalam kondisi sehat. Namun anak
yang sakit pun diperbolehkan untuk bermain, malah biar mempercepat
proses kesembuhannya. Tentunya jenis permainannya disesuaikan
kondisi fisik saat itu.
c. Lama bermain
Tergantung karakteristik anak, ada yang aktif dan pasif. Namun
sebaiknya bermain tak terlalu lama agar anak tak mengabaikan tugas-
tugas lainnya seperti makan, mandi dan tidur.
d. Pastikan mainannya aman
Terlebih untuk bayi, keamanan mainan harus diperhatikan betul.
e. Dampingi anak
Penting diingat, mainan bukan pengganti orang tua, melainkan sarana
untuk mendekatkan hubungan orang tua dengan anak jadi, selalu
dampingi anak kala bermain. Tanpa arahan kita anak akan bermain
sendiri tanpa mengenal tujuan dari permainan tersebut.
7. Faktor yang mempengaruhi aktivitas bermain
Ada 5 (lima) faktor yang mempengaruhi aktivitas bermain pada anak,
yaitu:
a. Tahap perkembangan anak
Aktivitas bermain yang tepat dilakukan anak, yaitu sesuai dengan
tahapan pertumbuhan dan perkembangan anak, oleh karena itu orang
tua dan perawat harus mengetahui dan memberikan jenis permainan
yang tepat untuk setiap tahapan pertumbuhan dan perkembangan anak.
b. Status kesehatan anak
Untuk melakukan aktivitas bermain diperlukan energi, jadi pada saat
kondisi anak sedang menurun atau anak terkena sakit, bahkan dirawat
di rumah sakit, orang tua dan perawat harus jeli memilihkan
permainan yang dapat dilakukan anak sesuai dengan prinsip bermain
pada anak yang sedang dirawat di rumah sakit.
c. Jenis kelamin anak
Ada bebarapa pandangan tentang konsep gender dalam kaitannya
dengan permainan anak, bahkan adayang meyakini bahwa permainan
adalah salah satu alat untuk membantu anak mengenal identitas diri
sehingga sebagian alat permainan anak perempuan tidak dianjurkan
untuk digunakan oleh anak laki-laki.
d. Lingkungan yang mendukung.
Terselenggaranya aktivitas bermain yang baik untuk perkembangan
anak salah satunya dipengaruhi oleh nilai moral, budaya dan
lingkungan fisik rumah.Fasilitas bermain tidak selalu harus yang dibeli
di toko atau mainan jadi, tetapi lebih diutamakan yang dapat
menstimulus imajinasi dan kreativitas anak.Sementara lingkungan
fisik sekitar lebih banyak mempengaruhi ruang gerak anak untuk
melakukan aktivitas fisik dan motorik.
e. Alat dan jenis permainan yang cocok atau sesuai bagi anak
Orang tua harus bijaksana dalam memberikan alat permainan untuk
anak.Pilih yang sesuai dengan tahap tumbuh kembang anak. Karena
permainanmembantu anak untuk meningkatkan kemampuan dalam
mengenal norma dan aturan serta interaksi social dengan orang lain.
B. TODDLER
a. Usia todler (2 – 3 tahun)
1) Mulai berjalan, memanjat, lari
2) Dapat memainkan sesuatu dengan tangannya
3) Senang melempar, mendorong, mengambil sesuatu
4) Perhatiannya singkat
5) Mulai mengerti memiliki “ini milikku”
6) Karakteristik bermain paralel play
7) Todler selalu bertengkar memeperebutkan mainan
8) Senang musik atau irama
b. Mainan untuk todler
1) Mainan yang dapat ditarik dan didorong
2) Alat masak
3) Malam, lilin
4) Boneka, telephone, gambar dalam buku, bola, drum yang dapat
dipukul, krayon, kertas
C. BERMAIN DIRUMAH SAKIT
1. Tujuan bermain di rumah sakit
Kebutuhan bermain mengacu pada tahapan tumbuh kembang anak,
sedangkan tujuan yang ditetapkan harus memperhatikan prinsip bermain
bagi anak di rumah sakit yaitu menekankan pada upaya ekspresi sekaligus
relaksasi dan distraksi dari perasaan takut, cemas, sedih, tegang dan nyeri.
2. Prinsip kegiatan
a. Permainan tidak boleh bertentangan dengan pengobatan yang
sedang dijalankan pada anak. Apabila anak harus tirah baring, harus
dipilih permainan yang dapat dilakukan di tempat tidur, dan anak tidak
boleh diajak bermain dengan kelompoknya di tempat bermain khusus
yang ada di ruangan rawat.
b. Permainan yang tidak membutuhkan banyak energi, singkat
dan sederhana
c. Permainan harus mempertimbangkan keamanan anak
d. Permainan harus melibatkan kelompok umur yang sama
e. Melibatkan orang tua
3. Keuntungan bermain pada anak di rumah sakit
a. Meningkatkan hubungan antara klien (anak dan keluarga) dan
perawat.
b. Perawatan di rumah sakit akan membatasi kemampuan anak
untuk mandiri. Aktivitas bermain yang terprogram akan memulihkan
perasaan mandiri pada anak.
c. Permainan pada anak di rumah sakit tidak hanya memberikan
rasa senang pada anak, tetapi juga akan membantu anak
mengekspresikan perasaan dan pikiran cemas, takut, sedih tegang dan
nyeri.
d. Permainan yang terapeutuk akan dapat meningkatkan
kemampuan anak untuk mempunyai tingkah laku yang positif.
4. Rancangan bermain
Permainan yang kita lakukan adalah bermain melempar benda. Setiap
anak diberikan benda untuk dilempar. Kemudian leader memimpin
jalannya permaianan dengan mengintruksikan kepada anak-anak untuk
melempar sesuai dengan apa yang dipegang. Co leader, fasilitator,
observer melakukan tugas masing-masing.
5. Hambatan bermain
a. Anak kurang kooperatif
b. Orang tua tidak mendukung
c. Jam-jam tertentu seperti : kunjungan dokter, terapi
dan waktu istirahat.
d. Tidak semua rumah sakit mempunyai fasilitas bermain.
6. Antisipasi hambatan
a. Pendekatan kepada anak lebih ditingkatkan
b. Memberikan penjelasan yang mudah dimengerti orang tua,
sehingga timbul rasa percaya
c. Membatasi waktu bermain
d. Bermain dilakukan dirawat inap tanpa menggangu proses
terapi pengobatan
7. Media
Keranjang
Bola Berwarna
Lembar penilaian
8. Pembagian Tugas
a. Leader : Margo Sutrisno
b. Co Leader : Dwi Lusi Wahyuningsih
c. Fasilitator :
- Andhika Wahyu W.S.
- Gigih Prasetya
- Maskanah
- Diah Purborini
- Nurhayati
- Setyasih
d. Observer : Rahmat Sutopo
e. Anak : 2 /3 orang
9. Setting tempat
Ruang bermain Melati
10. Evaluasi
1. Struktur
a. Kesiapan materi
b. Kelengkapan alat
c. Pengaturan tempat
d. Kontrak waktu
2. Proses
Strategi terapi bermain
3. Hasil
a. Anak mengenal alat kesehatan
b. Anak dapat beradaptasi dengan efektif terhadap stress
hospitalisasi
c. Anak tidak takut atau menangis pada saat pemeriksaan dan
pemberian terapi
d. Aktifitas dan kreatifitas anak berkembang melalui pengalaman
bermain
DAFTAR PUSTAKA
1. Foster and humsberger .2010 .Family Centered Nursing Care of
Children
WB sauders Company . Philadelpia USA
2. Hurlock E B .2010 .Perkembangan Anak Jilid 1 .Erlangga . Jakarta
3. Whaley and Wong .2011 .Nursing Care Infants and Children . Fourth
Edition .Mosby Year Book .Toronto . Canada