Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PELAKSANAAN TERAPI BERMAIN (MEWARNAI

GAMBAR) DI RUANG KASWARI RSUD WANGAYA


TANGGAL 22 APRIL 2016

OLEH :
KELOMPOK II

Ni Putu Indah Ayu Wiadnyani

(P07120213015)

Luh Putu Nita Meliandari

(P07120213021)

Putu Dian Indrayani

(P07120213024)

Ni Md Ayu Chintya Dewi A.

(P07120213028)

Made Adetya Derivartiana

(P07120213029)

Putu Pertiwi Rahayu

(P07120213030)

Luh Pt Vidia Darmayanthi

(P07120213033)

POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR


JURUSAN KEPERAWATAN
D IV REGULER
201

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
rahmat-Nya yang telah diberikan penulis dapat menyelesaikan laporan kelompok
yang berjudul Laporan Pelaksanaan Terapi Bermain (Mewarnai Gambar) di
Ruang Kaswari RSUD Wangaya Tanggal 22 April 2016 dengan lancar dan tepat
waktu.
Penulisan makalah ini tidak semata-mata penulis selesaikan sendiri, tetapi
dalam proses penyelesaiannya penulis dibantu oleh beberapa pihak. Secara khusus
penulis mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat :
1. Ibu Ns. Ni Made Sumawati, S.Kep selaku Kepala Ruangan serta
Pembimbing Praktik di Ruang Kaswari RSUD Wangaya.
2. Ibu Dra. Putu Susy Natha Astina, S.Kep, Ns, M.Kes selaku Dosen
Pembimbing Praktik Keperawatan V (Keperawatan Anak).
3. Semua pihak yang telah membantu serta memberikan dukungan dalam
menyelesaikan makalah ini,
Penulis berusaha menyusun makalah ini dengan sebaik mungkin, tetapi
suatu karya tidaklah

lepas dari sebuah kekurangan sehingga penulis

mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi penyempurnaan makalah ini.
Akhir kata penulis mengucapkan mohon maaf apabila dalam penyajian
makalah ini terdapat kekeliruan-kekeliruan. Penulis berharap semoga makalah ini
dapat bermanfaat bagi pembaca.

Denpasar, 22 April 2016

Kelompok II

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dunia anak adalah bermain. Melalui kegiatan bermain, semua aspek
perkembangan anak ditumbuhkan sehingga anak-anak menjadi lebih sehat,
sekaligus cerdas. Dengan bermain anak-anak bisa mengelola emosi, mengatasi
penolakan , dominasi serta terasah rasa empati (Adriana, 2011).
Ketika masa anak sudah memasuki masa todler anak selalu membutuhkan
kesenangan pada dirinya dan anak membutuhkan suatu permainan. Aktivitas
bermain merupakan salah satu stimulus bagi perkembangan anak. Sekarang
banyak dijual macam-macam alat permainan, jika orang tua tidak selektif dan
kurang memahami fungsinya maka alat permainan yang dibelinya tidak akan
berfungsi efektif. Alat permaianan hendaknya disesuaikan dengan jenis
kelamin dan usia anak, sehingga dapat merangsang perkembangan anak
dengan optimal. Dalam kondisi sakitpun aktivitas bermaian tetap perlu
dilaksanakan namun harus disesuaikan dengan kondisi anak.Aktivitas bermain
merupakan salah satu stimulasi bagi perkembangan anak secara optimal.
Dalam kondisi sakit atau anak dirawat di rumah sakit, aktivitas bermain ini
tetap dilaksanakan, namun harus disesuaikan dengan kondisi anak. Pada saat
dirawat di rumah sakit, anak akan mengalami berbagai perasaan yang sangat
tidak menyenangkan, seperti marah, takut, cemas, sedih, dan nyeri. Perasaan
tersebut merupakan dampak dari hospitalisasi yang dialami anak karena
menghadapi beberapa stressor yang ada dilingkungan rumah sakit. Untuk itu,
dengan melakukan permainan anak akan terlepas dari ketegangan dan stress
yang dialaminya karena dengan melakukan permainan anak akan dapat
mengalihkan rasa sakitnya pada permainannya (distraksi) dan relaksasi
melalui kesenangannya melakukan permainan. Tujuan bermain di rumah sakit
pada prinsipnya adalah agar dapat melanjutkan fase pertumbuhan dan
perkembangan secara optimal, mengembangkan kreatifitas anak, dan dapat
beradaptasi lebih efektif terhadap stress. Bermain sangat penting bagi mental,
emosional, dan kesejahteraan anak seperti kebutuhan perkembangan dan

kebutuhan bermain tidak juga terhenti pada saat anak sakit atau anak di rumah
sakit (Wong, 2009).
Anak-anak pada usia 4-5 tahun dapat memainkan sesuatu dengan
tangannya yaitu dengan mewarnai gambar yang bisa melatih kecerdasan otak
anak dan berpikir secara logis untuk menyelesaikan gambar yang bisa menjadi
sesuatu yang menarik seperi binatang atau orang.
Bermain ini menggunakan objek yang dapat melatih kemampuan
keterampilan anak yang diharapkan mampu untuk berkreatif dan terampil
dalam sebagai hal. Sifat permainan ini adalah sifat aktif dimana anak selalu
ingin mencoba kemampuan dalam keterampilan. Maka dari itu, kami
kelompok II ingin melakukan terapi mewarnai gambar pada anak dengan usia
4-6 tahun di Ruang Kaswari RSUD Wangaya.
B. Tujuan
Adapun tujuan yang ingin dicapai yaitu :
1. Tujuan Umum
Setelah mendapatkan terapi bermain selama 20 menit, diharapkan
diharapkan anak dapat mengembangkan aktivitas dan kreatifitas melalui
pengalaman bermain dan beradaptasi efektif terhadap stress karena
penyakit dan dirawat dirumah sakit.
2. Tujuan khusus
Setelah mendapatkan terapi bermain diharapkan :
a. Anak merasa tenang dan senang selama berada di ruang Kaswari
b. Anak dapat bersosialisasi dengan teman sebaya
c. Anak tidak cemas dan takut akibat hospitalisasi
d. Anak menjadi lebih percaya dan tidak takut dengan perawat

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Terapi Bermain


Bermain merupakan bagian yang amat penting dalam tumbuh kembang
anak untuk menjadi manusia seutuhnya. Bermain bagi anak adalah salah satu
hak anak yang paling hakiki. Melalui kegiatan bermain ini, anak bisa
mencapai perkembangan fisik, intelektual, emosi, dan sosial (Prasetyono,
2007). Bermain merupakan suatu aktivitas dimana anak-anak dapat melakukan
atau mempraktikan keterampilan, memberikan ekspresi terhadap pemikiran,
menjadi kreatif, mempersiapkan diri untuk berperan dan berperilaku dewasa
(Aziz, 2006).
Aktivitas bermain yang dilakukan anak-anak merupakan cerminan
kemampuan fisik, intelektual, emosional dan sosial. Bermain juga merupakan
media yang baik untuk belajar, karena dengan bermain anak-anak akan
berkata-kata (berkomunikasi), belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan,
melakukan apa yang dapat dilakukannya, dan mengenal waktu, jarak, serta
suara (Wong, 2006).
B. Jenis Jenis Terapi Bermain
1. Terapi Bermain Pada Anak Usia 0-12 Bulan
a. Anak usia 1 bulan :
Visual : Lihat dengan jarak dekat, Gantungkan benda yang terang dan
menyolok
Auditori : Bicara dengan bayi, menyanyi,musik,radio,detik jam
Taktil : Memeluk,menggendong,memberi kesenangan
Kinetik : Mengayun,naik kereta dorong
b. Usia 2-3 bulan

Visual : Buat ruangan menjadi tenang,gambar,cermin ditembok bawa


bayi ke ruangan lain letakkan bayi agar dapat memandang disekitar
Auditori : Bicara dengan bayi,beri mainan bunyi,ikut sertakan dalam
pertemuan keluarga.
Taktil : Memandikan ,mengganti popok,menyisir rambut dengan
lembut,gosok dengan lotion/bedak
Kinetik : Jalan dengan kereta,gerakan berenang,bermain air
c. Usia 4-6 bulan
Visual : Bermain cermin,anak nonton TV, Beri mainan dengan warna
terang
Auditori : Anak bicara,ulangi suara yang dibuat,panggil nama, Remas
kertas didekat telinga,Pegang mainan bunyi.
Taktil : Beri mainan lembut/kasar,mandi cemplung/cebur
Kinetik : Bantu tengkurap,sokong waktu duduk
d. Usia 6-9 bulan
Visual : Mainan berwarna,bermain depan cermin,ciluk .ba., Beri
kertas untuk dirobek-robek.
Auditori : Panggil nama Mama Papa,dapat menyebutkan bagian
tubuh, Beri tahu yang anda lakukan,ajarkan tepuk tangan dan beri
perintah sederhana.
Taktil : Meraba bahan bermacam-macam tekstur,ukuran,main air
mengalir, Berenang

Kinetik : Letakkan mainan agak jauh lalu suruh untuk mengambilnya.,


Gelangan tali (mulai umur 6 bulan), Gulungan benang dan barangbarang kecil lain (misalnya potongan leher botol plastik) dijadikan
gelang. Ikat gelang dalam satu tali, dengan menyisakan panjang ujung
tali sebagai gantungan, Mainan keluar-masuk (mulai umur 9 bulan),
Berbagai plastik atau karton dan barang kecil (jangan terlalu kecil,
hingga dapat tertelan anak).
e. Usia 9-12 bulan
Visual: Perlihatkan gambar dalam buku. Ajak pergi ke berbagai
tempat, Bermain bola, Tunjukkan bangunan agak jauh.
Auditori : Tunjukkan bagian tubuh dan sebutkan, Kenalkan dengan
suara binatang
Taktil : Beri makanan yang dapat dipegang, Kenalkan dingin,panas dan
hangat.
Kinetik : Beri mainan, Boneka (mulai umur 12 bulan), Gunting 2
lembar kain menyerupai boneka dan jahit kedua ujungnya menjadi satu
dengan meninggalkan sedikit lubang. Tarik bagian dalam boneka ke
arah luar dan isi dalamnya dengan kain bekas. Jahit bagian yang masih
terbuka dan gambarkan wajah pada kepala boneka tersebut.
2. Todler ( 2-3 Tahun )
Mainan Untuk Toddler
a. Mainan yang dapat ditarik dan didorong, Alat masak, Boneka,
Blockies, Telepon, gambar dalam buku,bola,dram yang dapat dipukul,
krayon,kertas, Permainan susun gambar (mulai umur 18 bulan),
Gambar suatu bentuk (misalnya boneka) menggunakan krayon pada
sepotong karton persegi. Potong gambar tersebut menjadi dua atau
empat bagian, Buku (mulai umur 18 bulan), Gunting 3 potongan

karton berbentuk persegi dan berukuran sama. Tempel dan rekatkan


atau buatlah gambar di kedua sisi masing-masing potongan. Buatlah 2
buah lubang pada satu sisi potongan dan jahitkan tali di tepinya untuk
membuatnya serupa buku.
3. Terapi Bermain Pada Anak Usia 3-5 Tahun
Peralatan rumah tangga, sepeda roda tiga, papan tulis/kapur, boneka,
kertas, drum, buku dengan kata simple, kapal terbang, mobil, truk.
Ciri Bentuk Permainan pada Anak Usia 3-5 tahun. Karakteristik bermain
pada anak usia pra sekolah berdasarkan isi permainannya menurut Wong
and Whaley (1996), dalam (www.scribd.com/terapi-bermain/02/2012)
antara lain :
a. Solitary Play : Anak bermain sendiri dan mencari kesibukan sendiri.
b. Parallel Play : Anak bermain dengan permainan yang sama tanpa ada
tukar menukar alat permainan dan tanpa ada komunikasi satu sama lain
c. Assosiatif Play : Anak bermain bersama-sama temannya dan masingmasing anak bermain berdasarkan keinginannya tetapi tidak ada tujuan
group
d. Cooperative Play : Anak bekerja sama dan berkoordinasi dalam alatalat dan peranan-peranan; ada perjanjian dan pembagian tugas
Sedangkan bermain menurut karakteristik sosial adalah :
a. Sosial Affektive Play : Permainan yang mengarahkan anak untuk
belajar bersosialisasi dengan orang lain; misal permainan kucingkucingan dan permainan sembunyi-sembunyian.
b. Sense of Pleasure Play : Permainan yang dilakukan untuk mencapai
suatu kesenangan, misal bermain air dan bermain tanah.

c. Dramatic play Role Play : Anak bermain menggunakan simbol-simbol


dalam permainan. Anak mulai berfantasi dan belajar dari model
keluarga; misal peran guru, ibu dan perawat. Dramatik play adalah
permainan yang membantu anak mengungkapkan perasaan, ketakutan
atau kesulitan yang dialami di rumah sakit dengan menggunakan
boneka kesayangannya, peralatan rumah sakit tiruan dan alat rumah
tangga tiruan. Dramatic play membantu anak belajar tentang prosedur
yang dilakukan pada mereka dan berperan sebagai petugasnya.
d. Skill play : Permainan pada anak yang sifatnya membina keterampilan;
misal bermain roda tiga dan bermain sepatu roda

C. Fungsi Terapi Bermain di Rumah Sakit


Perawatan anak di rumah sakit merupakan pengalaman yang penuh
dengan stres, baik bagi anak maupun orang tua. Untuk itu anak memerlukan
media yang dapat mengekspresikan perasaan tersebut dan mampu bekerja
sama dengan petugas kesehatan selama dalam perawatan. Media yang paling
efektif adalah melalui kegiatan permainan.
Wong, et al (2008) menyebutkan, bermain sangat penting bagi mental,
emosional, dan kesejahteraan sosial anak. Seperti kebutuhan perkembangan
mereka, kebutuhan bermain tidak berhenti pada saat anak-anak sakit atau di
rumah sakit. Sebaliknya, bermain di rumah sakit memberikan manfaat utama
yaitu meminimalkan munculnya masalah perkembangan anak.
Beberapa manfaat bermain di rumah sakit adalah memberikan
pengalihan dan menyebabkan relaksasi. Hampir semua bentuk bermain dapat
digunakan untuk pengalihan dan relaksasi, tetapi aktivitas tersebut harus
dipilih berdasarkan usia, minat, dan keterbatasan anak. Anak-anak tidak
memerlukan petunjuk khusus, tetapi bahan mentah untuk digunakan, dan
persetujuan serta pengawasan. Anak kecil menyukai berbagai mainan yang
kecil dan berwarna-warni yang dapat mereka mainkan di tempat tidur dan
menjadi bagian dari ruang bermain di rumah
sakit (Wong, et al, 2008).

Meskipun semua anak memperoleh manfaat fisik, sosial, emosional


dan kognitif dari aktivitas seni, kebutuhan tersebut akan semakin kuat pada
saat mereka di hospitalisasi (Rollins, 1995 dalam Wong, et al, 2008). Anak
akan lebih mudah mengungkapkan pikiran dan perasaan mereka melalui seni,
karena manusia pertama kali berpikir memakai imajinasi kemudian
diterjemahkan dalam kata-kata. Misalnya, gambar anak-anak sebelum
pembedahan sering bermakna kekhawatiran yang tidak terungkapkan
(Clatworthy, 1999 dalam Wong, et al, 2008).
Hospitalisasi dapat memberikan kesempatan khusus pada anak untuk
penerimaan sosial. Terkadang anak yang kesepian, asosial, dan jahat
menemukan lingkungan yang simpatik di rumah sakit. Anak-anak yang
mengalami deformitas fisik atau berbeda dari teman seusianya dapat
menemukan kelompok sebaya yang bisa menerimanya (Wong, et al, 2008).
Penyakit dan hospitalisasi merupakan kesempatan yang sangat baik
bagi anak dan anggota keluarga lainnya untuk lebih mempelajari tubuh
mereka, satu sama lain, dan profesi kesehatan. Sebagai contoh, selama masuk
rumah sakit, karena krisis diabetes, seorang anak dapat mempelajari penyakit
tersebut, dan orang tua akan mempelajari kebutuhan akan kemandirian anak
(Wong, et al. 2008).
Pengalaman menghadapi krisis seperti sakit atau hospitalisasi memberi
kesempatan anak memperoleh penguasaan diri. Anak yang lebih muda
memiliki kesempatan untuk menguji fantasi versus ketakutan yang nyata.
Mereka menyadari bahwa mereka tidak diabaikan, dimutilasi, atau dihukum.
Pada kenyataanya mereka dicintai, dirawat, dan diperlakukan dengan hormat
sesuai masalah mereka masing-masing (Wong, et al, 2008).

D. Fungsi Mewarnai Gambar


Fungsi utama bermain adalah merangsang perkembangan sensorismotorik, perkembangan intelektual, perkembangan social, perkembangan
kreativitas, perkembangan kesadaran diri, perkembangan moral dan bermain
sebagai terapi.

a.

Perkembangan Sensoris Motorik


Pada saat melakukan permainan, aktivitas sensoris-motorik merupakan
komponen terbesar yang digunakan anak dan bermain aktif sangat penting
untuk perkembangan fungsi otot. Misalnya, alat permainan yang
digunakan untuk bayi yang mengembangkan kemampuan sensoris-motorik
dan alat permainan untuk anak usia toddler dan prasekolah yang banyak
membantu perkembangan aktivitas motorik baik kasar maupun halus.

b.

Perkembangan Intelektual
Pada saat bermain, anak melakukan eksplorasi dan manipulasi terhadap
segala sesuatu yang ada di lingkungan sekitarnya, terutama mengenal
warna, bentuk, ukuran, tekstur dan membedakan objek. Pada saat bermain
pula anak akan melatih diri untuk memecahkan masalah. Pada saat anak
bermain mobil-mobilan, kemudian bannya terlepas dan anak dapat
memperbaikinya maka ia telah belajar memecahkan masalahnya melalui
eksplorasi alat mainannya dan untuk mencapai kemampuan ini, anak
menggunakan daya pikir dan imajinasinya semaksimal mungkin. Semakin
sering anak melakukan eksplorasi seperti ini akan semakin terlatih
kemampuan intelektualnya.

c.

Perkembangan Social
Perkembangan social ditandai dengan kemampuan berinteraksi dengan
lingkungannya. Melalui kegiatan bermain, anak akan belajar memberi dan
menerima. Bermain dengan orang lain akan membantu anak untuk
mengembangkan hubungan social dan belajar memecahkan masalah dari
hubungan tersebut. Pada saat melakukan aktivitas bermain, anak belajar
berinteraksi dengan teman, memahami bahasa lawan bicara, dan belajar
tentang nilai social yang ada pada kelompoknya. Hal ini terjadi terutama
pada anak usia sekolah dan remaja. Meskipun demikian, anak usia toddler
dan prasekolah adalah tahapan awal bagi anak untuk meluaskan aktivitas
sosialnya dilingkungan keluarga.

d.

Perkembangan Kreativitas
Berkreasi

adalah

mewujudkannya

kemampuan
kedalam

untuk

bentuk

objek

menciptakan
dan/atau

sesuatu
kegiatan

dan
yang

dilakukannya. Melalui kegiatan bermain, anak akan belajar dan mencoba


untuk merealisasikan ide-idenya. Misalnya, dengan membongkar dan
memasang satu alat permainan akan merangsang kreativitasnya untuk
semakin berkembang.
e.

Perkembangan Kesadaran Diri


Melalui bermain, anak mengembangkan kemampuannya dalam mengatur
mengatur tingkah laku. Anak juga akan belajar mengenal kemampuannya
dan membandingkannya dengan orang lain dan menguji kemampuannya
dengan mencoba peran-peran baru dan mengetahui dampak tingkah
lakunya terhadap orang lain. Misalnya, jika anak mengambil mainan
temannya

sehingga

temannya

menangis,

anak

akan

belajar

mengembangkan diri bahwa perilakunya menyakiti teman. Dalam hal ini


penting peran orang tua untuk menanamkan nilai moral dan etika,
terutama dalam kaitannya dengan kemampuan untuk memahami dampak
positif dan negatif dari perilakunya terhadap orang lain
f.

Perkembangan Moral
Anak mempelajari nilai benar dan salah dari lingkungannya, terutama dari
orang tua dan guru. Dengan melakukan aktivitas bermain, anak akan
mendapatkan kesempatan untuk menerapkan nilai-nilai tersebut sehingga
dapat diterima di lingkungannya dan dapat menyesuaikan diri dengan
aturan-aturan kelompok yang ada dalam lingkungannya. Melalui kegiatan
bermain anak juga akan belajar nilai moral dan etika, belajar membedakan
mana yang benar dan mana yang salah, serta belajar bertanggung-jawab
atas segala tindakan yang telah dilakukannya. Misalnya, merebut mainan
teman merupakan perbuatan yang tidak baik dan membereskan alat
permainan

sesudah

bermain

adalah

membelajarkan

anak

untuk

bertanggung-jawab terhadap tindakan serta barang yang dimilikinya.


Sesuai dengan kemampuan kognitifnya, bagi anak usia toddler dan
prasekolah, permainan adalah media yang efektif untuk mengembangkan
nilai moral dibandingkan dengan memberikan nasihat. Oleh karena itu,
penting peran orang tua untuk mengawasi anak saat anak melakukan

aktivitas bermain dan mengajarkan nilai moral, seperti baik/buruk atau


benar/salah.
E. Terapi Bermain di Rumah Sakit
Anak-anak perlu bermain untuk mengeluarkan rasa takut dan cemas
yang mereka alami sebagai alat koping dalam menghadapi stres akibat sakit
dan dirawat di rumah sakit.
1. Manfaat Bermain di Rumah Sakit
Adapun manfaat bermain di rumah sakit menurut Wong (2009) yaitu
sebagai berikut.
a. Memberikan pengalihan dan menyebabkan relaksasi
b. Membantu anak merasa lebih aman di lingkungan yang asing
c. Membantu mengurangi stres akibat perpisahan dan perasaan rindu
rumah
d. Alat untuk melepaskan ketegangan dan ungkapan perasaan
e. Meningkatkan interaksi dan perkembangan sikap yang positif
terhadap orang lain
f. Sebagai alat ekspresi ide-ide dan minat
g. Sebagai alat untuk mencapai tujuan terapeutik
h. Menempatkan anak pada peran aktif dan memberi kesempatan
pada anak untuk menentukan pilihan dan merasa mengendalikan.

2. Prinsip Permainan Pada Anak Selama di Rumah Sakit


Terapi bermain yang dilaksanakan di rumah sakit tetap harus
memperhatikan kondisi kesehatan anak (Supartini, 2004). Beberapa
prinsip permainan pada anak dirumah sakit yaitu sebagai berikut.
a. Permainan tidak boleh bertentangan dengan pengobatan yang
sedang dijalankan pada anak. Apabila anak harus tirah baring,
harus dipilih permainan yang dapat dilakukan di tempat tidur, dan
anak tidak boleh diajak bermain dengan kelompoknya di tempat
bermain khusus yang ada di ruang rawat.

b. Permainan yang tidak membutuhkan banyak energi, singkat dan


sederhana. Pilih jenis permainan yang tidak melelahkan anak,
menggunakan alat permainan yang ada pada anak atau yang
tersedia di ruangan.
c. Permainan harus mempertimbangkan keamanan anak. Pilih alat
permainan yang aman untuk anak, tidak tajam, tidak merangsang
anak untuk berlari-lari dan bergerak secara berlebihan.
d. Melibatkan orang tua saat anak bermain. Orang tua mempunyai
kewajiban untuk tetap melangsungkan upaya stimulasi tumbuhkembang pada anak walaupun sedang dirawat di rumah sakit,
termasuk dalam aktivitas bermain anaknya. Perawat hanya
bertindak sebagai fasilitator sehingga apabila permainan diinisiasi
oleh perawat, orang tua harus terlibat secara aktif dan
mendampingi anak.
3. Alat Permainan Edukatif (APE)
Alat Permainan Edukatif (APE) adalah alat permainan yang dapat
mengoptimalkan perkembangan anak, disesuaikan dengan usianya dan
tingkat perkembangannya, serta berguna untuk :
a. Pengembangan aspek fisik, yaitu kegiatan-kegiatan yang dapat
menunjang atau merangsang pertumbuhan fisik anak, trediri dari
motorik kasar dan halus.
Contoh alat bermain motorik kasar : sepeda, bola, mainan yang
ditarik dan didorong, tali, dll. Motorik halus : gunting, pensil, bola,
balok, lilin, dll.
b. Pengembangan bahasa, dengan melatih berbicara, menggunakan
kalimat yang benar.Contoh alat permainan : buku bergambar, buku
cerita, majalah, radio, tape, TV, dll.
c. Pengembangan aspek kognitif, yaitu dengan pengenalan suara,
ukuran, bentuk. Warna, dll. Contoh alat permainan : buku
bergambar, buku cerita, puzzle, boneka, pensil warna, radio, dll.
d. Pengembangan aspek sosial, khususnya dalam hubungannya
dengan interaksi ibu dan anak, keluarga dan masyarakat. Contoh

alat permainan : alat permainan yang dapat dipakai bersama, misal


kotak pasir, bola, tali, dan lain-lain.
4. Jenis Permainan yang Cocok Untuk Anak Usia 4-6 Tahun
Jenis permainan yang cocok untuk anak usia 4-6 tahun, yaitu:
a. Dramatic play : pada permainan ini anak memainkan peran sebagai
orang lain, contohnya anak memerankan sebagai ayah atau ibu.
b. Skill play : pada permainan ini akan meningkatkan keterampilan
anak khususnya motoric kasar dan halus, contohnya bermain
bongkar pasang mainan, mewarnai gambar, menggambar, menari,
bernyanyi.
c. Assosiative play : pada permainan ini sudah terjadi komunikasi
antara satu anak dengan yang lain, tetapi tidak terorganisir. Tidak
ada pemimpin yang memimpin permainan dan tujuan yang tidak
jelas, contohnya anak-anak bernyanyi sesuai selera mereka.
d. Cooperative play : aturan permainan dalam kelompok tampak lebih
jelas tetapi tujuan dan pimpinan jelas, contohnya anak-anak
bernyanyi bersama-sama dengan satu orang menjadi pemimpin.
5. Hal-Hal yang Harus Diperhatikan dalam Bermain
Adapun hal tersebut diantaranya adalah sebagai berikut:
a. permainan harus sesuai dengan tahap perkembangan anak;
b. permainan disesuaikan dengan kemampuan dan minat anak;
c. ulangi suatu cara bermain sehingga anak terampil, sebelum
meningkat pada keterampilan yang lebih majemuk;
d. jangan memaksa anak bermain, bila anak sedang tidak ingin
bermain;
e. jangan memberikan alat permainan terlalu banyak atau sedikit.

BAB III
PELAKSANAAN KEGIATAN
A. Analisis Situasi
Ruang Kaswari RSUD Wangaya merupakan ruang perawatan pasien khusus
anak-anak, dengan jumlah kamar sebanyak 4 dan kapasitas bed sebanyak 24,
kasus penyakit terbanyak adalah DHF (Dengue Hemoragik Fever), dan
penyakit lainnya ada seperti diare, demam thypoid, kejang demam.
B. Sasaran

1. Karakteristik / kriteria.
a. Anak dalam kondisi stabil, kesadaran compos mentis, kooperatif,
masih mampu beraktivitas, dan tidak beresiko.
b. Anak didampingi orang tua.
c. Usia anak 4-6 tahun.
2. Proses Seleksi
a. Pengkajian oleh mahasiswa.
b. Penggolongan berdasarkan usia.
c. Penyeleksian berdasarkan keadaan umum dan kemampuan melakukan
aktivitas.
3. Jumlah Klien : 5 orang

C. Pengorganisasian
1. Waktu
a. Hari / Tanggal : Jumat, 22 April 2016
b. Waktu : 10.00 - 10.30 WITA
c. Tempat : Ruang Kaswari RSUD Wangaya
2. Tim Terapi Kelompok dan Perannya
a. Leader : Putu Pertiwi Rahayu
Uraian Tugas :
1) Menjelaskan tujuan pelaksanaan TAK.
2) Menjelaskan peraturan kegiatan TAK sebelum kegiatan dimulai.

3) Mampu memotivasi anggota untuk aktif dalam kelompok.


4) Mampu memimpin TAK dengan baik.
b. Co Leader : Ni Made Ayu Chintya Dewi A.
Uraian Tugas :
1) Menyampaikan Informasi dari fasilitator ke leader tentang aktivitas
klien.
2) Mengingatkan leader jika kegiatan menyimpang.
3) Mengingatkan leader tentang waktu.
c. Fasilitator : Ni Putu Indah Ayu Wiadnyani
Luh Putu Nita Meliandari
Putu Dian Indrayani
Luh Putu Vidia Darmayanthi Dewi
Uraian Tugas :
1) Memfasilitasi klien yang kurang aktif.
2) Berperan sebagai role model bagi klien selama kegiatan
berlangsung.
3) Mempertahankan kehadiran peserta.
d. Observer : Made Adetya Derivartiana
Uraian Tugas :
1) Mengobservasi jalannya / proses kegiatan.

2) Mencatat perilaku verbal dan nonverbal klien selama kegiatan


berlangsung.
3. Setting tempat
Tempat yang akan dilaksanakan diruangan rawat. Anak ditempatkan
bersama dalam satu ruangan rawat. Permainan akan dilakukan di tempat
yang sudah disiapkan.
5
1

6
1

: Pasien dan Orang Tua


puzzle.

2
3

: Tempat permainan menyusun


4

: Fasilitator

: Observer
5

: Leader

: Co-Leader
6

4. Metode dan Media


a. Metode yang digunakan antara lain :
1) Komunikasi kepada ibu dan anak.
2) Mewarnai gambar yang sudah disediakan mahasiswa.
3) Gambar diletakkan ditengah-tengah dan dipilih oleh anak.
4) Warnai gambar sesuai dengan kreatifitas anak.
5) Kerjakan sampai selesai sehingga gambar diwarnai semenarik
mungkin.

b. Media
1) Kertas gambar yang berisi gambaran-gambaran.
2) Pensil warna.

D. Pelaksanaan Kegiatan
No.
1

Terapis

Waktu
5 menit

Persiapan
a.

Menyiapkan ruangan.

b.

Menyiapkan alat-alat.

c.

Menyiapkan anak dan

Subjek terapi
Ruangan, alat, anak

dan

keluarga siap

keluarga
Proses :
a.

Leader

Menjawab

salam,

membuka proses terapi bermain 1 menit

memperkenalkan

dengan

memperhatikan.

mengucapkan

salam,

memperkenalkan diri.
b.

diri,

4 menit

Leader
menjelaskan pada anak dan
keluarga tentang tujuan dan
manfaat bermain, menjelaskan 10 menit

Bermain

cara

antusias

permainan

mewarnai

bersama

dengan

gambar.
c.

Leader
memimpin permainan
bermain

diawali

anak
dengan 5 menit

perkenalan diri dari anak-anak

Anak

mengungkapkan

perasaannya setelah bermain

lalu bermain mewarnai gambar


dibantu oleh fasilitator.
d.

Mengevaluas
i respon anak dan keluarga dan

memberikan hadiah.
Penutup (1 menit).

5 menit

Leader menyimpulkan, dan

Memperhatikan dan menjawab


salam

mengucapkan salam.

E. Proses Pelaksanaan
1. Persiapan
a. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan.
b. Mengingatkan kontrak dengan anggota kelompok.

c. Memberi kesempatan klien untuk memenuhi kebutuhan dasarnya


(BAB, BAK, makan dan minum).
2. Orientasi
a. Salam Teraupetik
"Selamat pagi Ibu/Bapak dan adik-adik semua"
b. Evaluasi / Validasi
"Bagaimana dengan kondisi anak-anaknya. Bu/Pak.. semoga semakin
membaik ya Bu/Pak... Baiklah mungkin selama anaknya dirawat di
Rumah Sakit ini, anak-anak Ibu/Bapak tidak ada kesempatan untuk
bermain, karena kondisi anak-anak Ibu yang sedang sakit
c. Kontrak
1) Menjelaskan tujuan kegiatan yaitu memenuhi kebutuhan bermain
saat anak sakit.
"Ibu/Bapak, sekarang kita akan melakukan kegiatan bersamasama dengan cara mengajak anak-anak ibu bermain. Adapun
tujuan kegiatan kami ini memenuhi kebutuhan bermain anak
walaupun dalam kondisi sakit, jadi walaupun sakit, anak tidak
kehilangan kesempatan untuk bermain, karena bermain itu penting
Ya, Ibu/Bapak, yaitu untuk memenuhi tahapan perkembangan
fisik maupun mentalnya"
2) Menjelaskan aturan main
a) Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus minta
izin kepada terapis.
b) Lama kegiatan 20 menit.

c) Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.


"Ibu/Bapak permainan ini akan dilakukan selama 20 menit,
kami mengharapkan ibu/bapak dapat membantu anak-anak
ibu/bapak masing-masing untuk dapat mengikuti kegiatan ini
dari awal hingga akhir, dan apabila mau meninggalkan ruangan
harus ijin terlebih dahulu. Didalam terapi bermain ini, di
tengah-tengah kita ada satu macam permainan yaitu mewarnai
gambar, anak-anak ibu/bapak boleh memilih kertas gambar
yang sesuai dengan keinginan anak-anak ibu/bapak. Setelah
memilih kertas gambar, kertas gambar akan diwarnai semenarik
mungkin.
3. Tahap kerja
a. Fasilitator-fasilitator mengajak anak-anak mewarnai gambar dengan
cara memotivasi anak agar semakin percaya diri hingga anak-anak
semakin tertarik mengikuti dan memfasilitasi anak dengan baik selama
proses kegiatan.
b. Leader menjelaskan pentingnya mewarnai gambar untuk melatih anak
mengembangkan

motorik

halus

dan

kreatifitas

anak

serta

menghilangkan jenuh atau bosan selama dirawat di rumah sakit.


Masing-masing fasilitator dan observer harus mengawasi tingkah-laku,
proses kegiatan, dan pola anak-anak dalam belajar mewarnai gambar.
c. Janganlah orang tua atau fasilitator menuntut anak di luar
kemampuannya.
d. Hentikan permainan bila si anak tidak ingin bermain.
4. Fase Terminasi
Mahasiswa menanyakan perasaan klien setelah melakukan program
bermain

Mahasiswa memberikan reinforcement positive pada klien


a. Salam Penutup
Baik Terimakasih Ibu/Bapak, terimakasih juga adik-adik, bagaimana
dengan kegiatan hari ini? Seru tidak? Wahh ternyata adik-adiknya
sudah pintar mewarnai gambar ya
b. Feed Back/timbal balik
Dalam pelaksanaan terapis diharapkan setelah mengikuti terapi
bermain, anak tidak merasa bosan selama di Rumah Sakit. Diharapkan
kepada keluarga bahwa walaupun sakit, kebutuhan bermain untuk
anak tetap dipenuhi, karena selama sakit khususnya jika anak di rawat
di RS, anak akan berhadapan dengan sebuah lingkungan yang asing
yang belum dikenal, sehingga anak menjadi takut dan bosan serta
masih banyak lagi dampak dari hospitalisasi yang akan dirasakan oleh
anak.
c. Hasil
Pelaksanaan terapi bermain mewarnai gambar diikuti oleh 5 orang
anak yang berusia 4-6 tahun sudah terlaksana dengan baik. Anak-anak
yang mengikuti terapi bermain sangat kooperatif saat berlangsungnya
permainan. Tidak ada anak yang terlihat murung, sedih, ataupun
menangis saat terapi bermain berlangsung. Dan orangtua dari anakanak yang mengikuti terapi sangat antusias mendampingi anaknya
yang sedang bermain walaupun hanya di tempat tidur.

F. Kriteria Evaluasi
1. Evaluasi Struktur
a.Peralatan bermain yaitu kertas gambar sudah tersedia

b.

Lingkungan yang cukup memadai untuk syarat bermain

c.Waktu pelaksanaan terapi bermain dimulai tepat waktu


d.

Jumlah terapis 5 orang

2. Evaluasi Proses
a.Leader dapat memimpin jalannya permainan, dilakukan dengan tertib
dan teratur
b.

Co. Leader dapat membantu tugas Leader dengan baik

c.Fasilitator dapat memfasilitasi dan memotivasi anak dalam permainan


d.

100 % anak dapat mengikuti permainan secara aktif dari awal


sampai akhir

3. Evaluasi Hasil
a.100 % anak merasa senang
b.

100 % mampu mengikuti kegiatan yang dilakukan

c.100 % anak dapat menyatakan perasaan senang

G. Evaluasi
1. Evaluasi struktur yang diharapkan
a. Alat-alat yang digunakan lengkap
b. Kegiatan yang direncanakan dapat terlaksana
2. Evaluasi proses yang diharapkan
a. Terapi dapat berjalan dengan lancar
b. Anak dapat mengikuti terapi bermain dengan baik
c. Tidak adanya hambatan saat melakukan terapi

d. Semua anggota kelompok dapat bekerja sama dan bekerja sesuai


tugasnya
3. Evaluasi hasil yang diharapkan
a. Anak dapat mengembangkan fungsi kognitif dan motoric halus dengan
mewarnai gambar
b. Anak dapat mengikuti kegiatan dengan baik
c. Anak merasa senang
d. Anak tidak takut lagi dengan perawat
e. Orang tua dapat mendampingi kegiatan anak sampai selesai
f. Orang tua mengungkapkan manfaat yang dirasakan dengan aktifitas
bermain.

BAB IV
PENUTUP

A. Simpulan
Bermain tidak dapat dipisahkan dari kehidupan anak, karena bagi anak
bermain sama saja bekerja bagi orang dewasa. Bermain pada anak
mempunyai fungsi yaitu untuk perkembangan sensorik, motorik, intelektual,
sosial, kreatifitas, kesadaran diri, moral sekaligus terapi anak saat sakit.
Tujuan bermain adalah melanjutkan pertumbuhan dan perkembangan
yang normal, mengekspresikan dan mengalihkan keinginan fantasi. Dan
idenya mengembangkan kreatifitas dan kemampuan memecahkan masalah
dan membantu anak untuk beradaptasi secara efektif terhadap stress karena
sakit dan di rawat di Rumah Sakit.
Pelaksanaan terapi bermain mewarnai gambar diikuti oleh 5 orang anak
yang berusia 4-6 tahun sudah terlaksana dengan baik. Anak-anak yang
mengikuti terapi bermain sangat kooperatif saat berlangsungnya permainan.
Tidak ada anak yang terlihat murung, sedih, ataupun menangis saat terapi
bermain berlangsung. Dan orangtua dari anak-anak yang mengikuti terapi
sangat antusias mendampingi anaknya yang sedang bermain walaupun hanya
di tempat tidur.
B. Saran
Terapi bermain dapat menjadi obat bagi anak-anak yang sakit. Jadi
sebaiknya di RS juga disediakan fasilitas bermain bagi anak-anak yang di
rawat di rumah sakit. Mensosialisasikan terapi bermain pada orang tua
sehingga orang tua dapat menerapkan terapi di rumah dan di rumah sakit.

DAFTAR PUSTAKA

Agustina. 2013. Konsep Bermain Pada Anak Yang Dirawat Di Rumah Sakit.
Available at repository.usu.ac.id. Diakses tanggal 17 April 2016.
Adriana, D. 2011. Tumbuh Kembang dan Terapi Bermain Pada Anak. Jakarta:
Salemba Medika.
Hidayat, A. A. A. 2008. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Edisi 1. Jakarta:
Salemba Medika
Muhammad, A. 2009. Panduan Praktis Menggambar dan Mewarnai Untuk Anak.
Yogyakarta: Powerbooks.
Ngastiyah. 2006. Perawatan Anak Sakit. Edisi 2. Jakarta: EGC.
Nursalam et al. .2008. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : Salemba Medika
Regina, N. 2009. 120 Permainan Kreatif Untuk Menggali Kecerdasan Anak.
Yogyakarta: Wahana Totalita Publisher.
Soetjiningsih. 2008. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC
Supartini, Y. 2006. Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta : EGC.
Suriadi dan Yuliani, R. 2010. Asuhan Keperawatan Pada Anak. Jakarta: CV
Sagung Seto
Wong, Donna L. 2009. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC
Yogi, S. A. (2000). Coloring Book For 4 Year Old. Jakarta: PT Bhuana Ilmu
Populer (Kelompok Gramedia).