Anda di halaman 1dari 15

SATUAN ACARA TERAPI BERMAIN (SAB)

PROMOSI KESEHATAN RUMAH SAKIT (PKRS)


RSUD Dr. SAIFUL ANWAR MALANG
2018
TERAPI BERMAIN ORIGAMI
RSUD Dr. SAIFUL ANWAR MALANG

Tgl 27 DESEMBER 2018

Oleh:

KELOMPOK 6
Alkhalifa Amin (P17211186015)
Ferensa Yulinda R. P (P17211186002)
Anggina Ayu Dewanty (P17211186040)
Luluk Mamluatul Ulumy (P17211186016)

Mengetahui,

PRECEPTOR KLINIK PRECEPTOR AKADEMIK


SATUAN ACARA BERMAIN

Topik : Belajar Melipat Kertas (origami)


Sasaran : Klien berusia pra sekolah (3-6 tahun)
Waktu : 30 menit
Hari/tanggal : Jumat 28 Desember 2018
Tempat : Ruang bermain IRNA IV

A. Tujuan
1. TIU (Tujuan Instruksional Umum)
Setelah diajak bermain, di harapkan anak dapat mengembangkan
kreatifitas dan menjadi lebih aktif melaui pengalaman bermain, dan anak
dapat beradaptasi dengan lingkungan dan bergaul dengan teman sebayanya.
2. TIK (Tujuan Instruksional Khusus)
Setelah diakaj bermain, anak diharapkan sebagai berikut :
a. Mengembangkan kreatifitas
b. Mengembangkan sosialisasi atau bergaul
c. Mengembangkan daya imajinasi
d. Menumbuhkan sportivitas
e. Mengembangkan kepercayaan diri

B. Perencanaan
1. Jenis Program Bermain
Belajar melipat kertas dengan kertas lipat (origami) yang telah tersedia.
2. Karakteristik Bermain
a. Melatih motorik halus
b. Melatih kesabaran, keterampilan dan ketelitian
3. Karakteristik Peserta
a. Usia 3-6 tahun
b. Jumlah peserta : 1-5 orang anak
c. Keadaan umum mulai membaik
d. Klien dapat duduk
e. Peserta kooperatif
4. Metode : demonstrasi
5. Media
a. Kertas lipat (origami)
b. Gunting
c. benang
6. Denah Lokasi

Keterangan :

: Pemberi demonstrasi

: Fasilitator

: Observer

: Peserta
C. Strategi Pelaksanaan
No Kegiatan Waktu Media
1 Persiapan 5 menit Peralatan
 Menyiapkan ruangan bermain
 Menyiapkan alat
 Menyiapkan peserta
2 Pembukaan 5 menit
 Beri salam pembuka
 Memperkenalkan diri
 Sesama anak saling
berkenalan
 Menjelaskan maksud
dan tujuan
3 Kegiatan Bermain 15 menit Peralatan
 Anak diminta bermain
mengambil kertas
lipat
 Kemudian bantu anak
untuk melipat bentuk
yang mudah
 Bantu anak untuk
melubangi hasil
lipatannya dengan
jarum
 Potong benang ±10
cm
 Gantung hasil lipatan
anak di tempat yang
dapat dijangkau
olehnya
4 Penutup 5 menit
 Memberi pujian
terhadap karya yang
dihasilkan anak
 Memberi salam
penutup

D. Evaluasi
1. Anak dapat menyelesaikan satu bentuk lipatan dan kemudian digantung
2. Anak dapat aktif dan mengikuti kegiatan
3. Anak merasa senang dan gembira
4. Mengurangi rasa takut anak pada perawat
TERAPI BERMAIN PADA ANAK PRA SEKOLAH DENGAN KERTAS

ORIGAMI

A. Konsep bermain

1. Definisi

Bermain merupakan suatu tindakan yang dilakukan secara sukarela untuk

memperoleh kesenangan dan kepuasan. Bermain merupakan aktivitas yang dapat

menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan anak dan merupakan cerminan

kemampuan fisik, intelektual, emosional dan sosial sehingga bermain merupakan

media yang baik untuk belajar karene dengan bermain anak-anak akan belajar

berkomunikasi, menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, melakukan apa

yang dapat dilakukannya, dan dapat mengenal waktu, jarak serta suara.

Melipat origami adalah suatu permainan melipat kertas yang berasal dari

jepang yang berfungsi melatih motorik halus dalam masa perkembangannya.

2. Manfaat bermain

Bermain memiliki banyak manfaat yaitu :

a. Membuang ekstra energi.

b. Mengoptimalkan pertumbuhan seluruh bagian tubuh, seperti tulang, otot dan

organ-organ.

c. Aktivitas yang dilakukan dapat merangsang nafsu makan anak.

d. Anak belajar mengontrol diri.

e. Berkembanghnya berbagai ketrampilan yang akan berguna sepanjang hidupnya.

f. Meningkatnya daya kreativitas

g. Mendapat kesempatan menemukan arti dari benda-benda yang ada disekitar anak.

h. Merupakan cara untuk mengatasi kemarahan, kekuatiran, iri hati dan kedukaan.
i. Kesempatan untuk bergaul dengan anak lainnya.

j. Kesempatan untuk mengikuti aturan-aturan.

k. Dapat mengembangkan kemampuan intelektualnya.

3. Macam-macam bermain

a. Bermain aktif

Pada permainan ini anak berperan secara aktif, kesenangan diperoleh dari

apa yang diperbuat oleh mereka sendiri. Bermain aktif meliputi :

1) Bermain mengamati/menyelidiki (Exploratory Play)

Perhatian pertama anak pada alat bermain adalah memeriksa alat permainan

tersebut, memperhatikan, mengocok-ocok apakah ada bunyi, mencium, meraba,

menekan dan kadang-kadang berusaha membongkar.

2) Bermain konstruksi (Construction Play)

Pada anak umur 3 tahun dapat menyusun balok-balok menjadi rumah-

rumahan.

3) Bermain drama (Dramatic Play)

Misal bermain sandiwara boneka, main rumah-rumahan dengan teman-

temannya.

4) Bermain fisik

Misalnya bermain bola, bermain tali dan lain-lain.


b. Bermain pasif

Pada permainan ini anak bermain pasif antara lain dengan melihat

dan mendengar. Permainan ini cocok apabila anak sudah lelah bernmain aktif dan

membutuhkan sesuatu untuk mengatasi kebosanan dan keletihannya.Contoh ;

Melihat gambar di buku/majalah.,mendengar cerita atau musik,menonton televisi

dsb.

Dalam kegiatan bermain kadang tidak dapat dicapai keseimbangan dalam

bermain, yaitu apabila terdapat hal-hal seperti dibawah ini :

1) Kesehatan anak menurun. Anak yang sakit tidak mempunyai energi untuk aktif

bermain.

2) Tidak ada variasi dari alat permainan.

3) Tidak ada kesempatan belajar dari alat permainannya.

4) Tidak mempunyai teman bermain

4. Alat permainan edukatif (APE)

Alat Permainan Edukatif (APE) adalah alat permainan yang dapat

mengoptimalkan perkembangan anak, disesuaikan dengan usianya dan tingkat

perkembangannya, serta berguna untuk :

a. Pengembangan aspek fisik, yaitu kegiatan-kegiatan yang dapat menunjang atau

merangsang pertumbuhan fisik anak, trediri dari motorik kasar dan halus.Contoh

alat bermain motorik kasar : sepeda, bola, mainan yang ditarik dan didorong, tali,

dll. Motorik halus : gunting, pensil, bola, balok, lilin, dll.

b. Pengembangan bahasa, dengan melatih berbicara, menggunakan kalimat yang

benar.Contoh alat permainan : buku bergambar, buku cerita, majalah, radio, tape,

TV, dll.
c. Pengembangan aspek kognitif, yaitu dengan pengenalan suara, ukuran, bentuk.

Warna, dll. Contoh alat permainan : buku bergambar, buku cerita, puzzle, boneka,

pensil warna, radio, dll.

d. Pengembangan aspek sosial, khususnya dalam hubungannya dengan interaksi ibu

dan anak, keluarga dan masyarakat Contoh alat permainan : alat permainan yang

dapat dipakai bersama, misal kotak pasir, bola, tali, dll.

5. Hal-hal yang Harus Diperhatikan dalam Bermain

a. Bermain/alat bermain harus sesuai dengan taraf perkembangan anak.

b. Permainan disesuaikan dengan kemampuan dan minat anak.

c. Ulangi suatu cara bermain sehingga anak terampil, sebelum meningkat pada

keterampilan yang lebih majemuk

d. Jangan memaksa anak bermain, bila anak sedang tidak ingin bermain.

e. Jangan memberikan alat permainan terlalu banyak atau sedikit

6. Bentuk-bentuk permainan

a. Usia 0 – 12 bulan

Tujuannya adalah :

1) Melatih reflek-reflek (untuk anak bermur 1 bulan), misalnya mengisap,

menggenggam.

2) Melatih kerjasama mata dan tangan.

3) Melatih kerjasama mata dan telinga.

4) Melatih mencari obyek yang ada tetapi tidak kelihatan.

5) Melatih mengenal sumber asal suara.

6) Melatih kepekaan perabaan.

7) Melatih keterampilan dengan gerakan yang berulang-ulang.


Alat permainan yang dianjurkan :

1) Benda-benda yang aman untuk dimasukkan mulut atau dipegang.

2) Alat permainan yang berupa gambar atau bentuk muka.

3) Alat permainan lunak berupa boneka orang atau binatang.

4) Alat permainan yang dapat digoyangkan dan keluar suara.

5) Alat permainan berupa selimut dan boneka.

b. Usia 13 – 24 bulan

Tujuannya adalah :

1) Mencari sumber suara/mengikuti sumber suara.

2) Memperkenalkan sumber suara.

3) Melatih anak melakukan gerakan mendorong dan menarik.

4) Melatih imajinasinya.

5) Melatih anak melakukan kegiatan sehari-hari semuanya dalam bentuk kegiatan

yang menarik

Alat permainan yang dianjurkan:

1) Genderang, bola dengan giring-giring didalamnya.

2) Alat permainan yang dapat didorong dan ditarik.

3) Alat permainan yang terdiri dari: alat rumah tangga(misal: cangkir yang tidak

mudah pecah, sendok botol plastik, ember, waskom, air), balok-balok besar,

kardus-kardus besar, buku bergambar, kertas untuk dicoret-coret, krayon/pensil

berwarna.
c. Usia 25 – 36 bulan

Tujuannya adalah ;

1) Menyalurkan emosi atau perasaan anak.

2) Mengembangkan keterampilan berbahasa.

3) Melatih motorik halus dan kasar.

4) Mengembangkan kecerdasan (memasangkan, menghitung, mengenal dan

membedakan warna).

5) Melatih kerjasama mata dan tangan.

6) Melatih daya imajinansi.

7) Kemampuan membedakan permukaan dan warna benda.

Alat permainan yang dianjurkan :

1) Alat-alat untuk menggambar.

2) Lilin yang dapat dibentuk

3) Pasel (puzzel) sederhana.

4) Manik-manik ukuran besar.

5) Berbagai benda yang mempunyai permukaan dan warna yang berbeda.

6) Bola.

d. Usia 32 – 72 bulan

Tujuannya adalah :

1) Mengembangkan kemampuan menyamakan dan membedakan.

2) Mengembangkan kemampuan berbahasa.

3) Mengembangkan pengertian tentang berhitung, menambah, mengurangi.

4) Merangsang daya imajinansi dsengan berbagai cara bermain pura-pura

(sandiwara).
5) Membedakan benda dengan permukaan.

6) Menumbuhkan sportivitas.

7) Mengembangkan kepercayaan diri.

8) Mengembangkan kreativitas.

9) Mengembangkan koordinasi motorik (melompat, memanjat, lari, dll).

10) Mengembangkan kemampuan mengontrol emosi, motorik halus dan kasar.

11) Mengembangkan sosialisasi atau bergaul dengan anak dan orang diluar

rumahnya.

12) Memperkenalkan pengertian yang bersifat ilmu pengetahuan, misal : pengertian

mengenai terapung dan tenggelam.

13) Memperkenalkan suasana kompetisi dan gotong royong.

Alat permainan yang dianjurkan :

1) Berbagai benda dari sekitar rumah, buku bergambar, majalah anak-anak, alat

gambar & tulis, kertas untuk belajar melipat, gunting, air, dll.

2) Teman-teman bermain : anak sebaya, orang tua, orang lain diluar rumah.

e. Usia Prasekolah

Alat permainan yang dianjurkan :

1) Alat olah raga.

2) Alat masak

3) Alat menghitung

4) Sepeda roda tiga

5) Benda berbagai macam ukuran.

6) Boneka tangan.

7) Mobil.
8) Kapal terbang.

9) Kapal laut dsb

B. Terapi bermain origami

1. Definisi

Kata origami berasal dari bahasa Jepang, dari kata oru yang berarti melipat

dan kami berarti kertas. Penggabungan kata tersebut mengubah kata kami menjadi

gami, sehingga bukan orikami tetapi origami, artinya sama yaitu melipat kertas.

2. Manfaat origami

origami untuk hobi, mengisi waktu luang, keindahan, dan lain sebagainya.

Ibu-ibu atau orang tua mengajarkan origami pada anak-anak sebagai cara untuk

mendekatkan anak dengan orang tua.

Selain itu origami bermanfaat untuk anak seperti :

a. melatih motorik halus dalam masa perkembangannya.

b. meningkatkan daya kreativitas

c. mampu melatih otot jari tangan

d. melatih kesabaran

e. mengenal warna

Kebanyakan anak-anak tidak menyukai aktivitas melipat kertas. Salah satu

kesalahan yang dilakukan para pendidik adalah dalam memilih model lipatan.

Kesalahan tersebut dapat berdampak pada anak. Jika model lipatan yang dipilih

berada dalam tingkatan melipat bukan untuk pemula maka anak akan merasa tidak

mampu. Dan pengalaman pertama dengan aktivitas tersebut akan membuat anak

beranggapan bahwa melipat adalah aktivitas yang sulit dikerjakan. Anak akan

mulai belajar melipat kembali setelah orang dewasa mengajarkannya untuk


melipat dengan tingkat kesulitan yang lebih rendah dan dengan cara yang lebih

menarik. Kesalahan yang lain adalah dalam cara pendidik mengajarkan melipat

tersebut. Anak tidak mau melipat kertas karena cara pendidik mengajarkan dan

memberi media kurang menarik. Bagi guru kegiatan melipat kertas dapat

sekaligus digunakan sebagai media untuk pembelajaran terpadu. Melipat dapat

disesuaikan dengan tema besar kegiatan pembelajaran. Mengawali kegiatan

dengan bercerita adalah awalan yang sangat baik jika ingin mengajak anak

berkreasi dengan melipat kertas. Pemberian reinforcement pada saat anak sedang

mengerjakan sampai selesai mengerjakan lipatan adalah hal yang sangat penting

dan berpengaruh pada anak. Kebanyakan anak dalam proses melipat tidak mampu

melakukannya dengan sempurna. Hal itu tidak menjadi masalah karena konsep

mengajarkan seni untuk anak bukan berpatokan pada hasil yang diharapkan tapi

lebih kepada proses bagaimana anak mengerjakannya.