Hipertrofi Prostat: Definisi dan Penatalaksanaan
Hipertrofi Prostat: Definisi dan Penatalaksanaan
HIPERTROFY PROSTAT
OLEH :
NIM : 17CP1016
CI LAHAN CI INSTITUSI
..……………. …………………
1
LAPORAN PENDAHULUAN
b. Stadium lanjut
2
Terjadi dekompensasi karena penebalan dinding vesika urinaria tidak
bertambah lagi residu urine bertambah. Gejala semakin menyolok ( retensi
urine clonis ), tonus otot vesika urinaria menurun. Persyarafan para simpatis
melemah dan akhirnya terjadi kelumpuhan detsrusor dan spinter uretra
sehingga terjadi over flow incontinensia ( urine menetes sacara periodik )
C. PATOFISIOLOGI
Dihidrotestosteron (DHT) adalah metabolit hormone testosterone yang
merupakan mediator pokok pertumbuhan kelenjar prostat Hormone ini disintesis
didalam kelenjar prostat dari hormone testosterone yang beredar dalam darah, dimana
proses tersebut terjadi melalui kerja enzim 5A-reduktase, tipe 2. ,walaupun BPH
terlihat sebagai faktor trofik utama yang memediasi hiperplasia kelenjar prostat,
hormone estrogen juga ikut terlibat, interaksi stroma-epitel yang dimediasi oleh
faktor-faktor pertumbuhan peptide juga memberikan kontribusinya geala klinis
obstruksi traktus urinarius inferior terjadi karena kontraksi kelenjar prostat yang
dimediasi oleh otot polos pada kelenjar tersebut. tegangan otot polos kelenjar prostat
dimediasi oleh adenoreseptor A1 yang hanya terdapat di dalam stroma kelenjar
prostat.
secara makroskopik, pembesaran kelenjar terjadi karena adanya nodul-nodul
dengan ukuran bervariasi dalam zona transisi (daerah periuretral) Mitchel et al, 2008).
Hiperplasia prostatika adalah pertumbuhan nodul-nodul fibroadenomatosa majemuk
dalam prostat. pertumbuhan tersebut dimulai dari bagian periuretral sebagai
proliferasi yang terbatas dan tumbuh dengan menekan kelenjar normal yang tersisa.
jaringan hiperplastik terutama terdiri dari kelenjar dengan stroma fibrosa dan otot
polos yang jumlahnya berbeda-beda. Prostat tersebut mengelilingi uretra, dan
pembesaran bagian periuretral akan menyebabkan obstruksi leher vesika urinaria dan
uretra pars prostatika, yang mengakibatkan berkurangnya aliran urine dari vesika
urinaria. penyebab BPH kemungkinan berkaitan dengan penuaan dan disertai dengan
perubahan hormone. Dengan penuaan, kadar testosteron serum menurun dan kadar
esterogen serum meningkat. terdapat teori bahwa rasio esterogen/androgen yang lebih
tinggi akan merangsang hiperplasia jaringan prostat .
D. MANIFESTASI KLINIS
3
Obstruksi prostat dapat menimbulkan keluhan pada saluran kemih maupun
keluhan di luar saluran kemih. Keluhan pada saluran kemih bagian bawah atau Lower
Urinari Tract Symptoms (LUTS) terdiri atas gejala iritatif dan gejala obstruktif.
1. Gejala iritatif meliputi:
a. frekuensi yaitu penderita miksi lebih sering dari biasanya dapat terjadi pada
malam hari (Nocturia) dan pada siang hari.
b. Nokturia yaitu terbangun untuk miksi pada malam hari
c. Urgensi yaitu perasaan ingin miksi yang sangat mendesak dan sulit di tahan
d. Dysuria yaitu nyeri pada saat miksi
b. hesitancy yaitu memulai kencing yang lama dan seringkali disertai dengan
mengejan yang disebabkan oleh karena otot destrussor buli-buli memerlukan
waktu beberapa lama meningkatkan tekanan intravesikal guna mengatasi
adanya tekanan dalam uretra prostatika.
3. Gejala pada saluran kemih bagian atas Keluhan akibat penyulit hhipertropi prostat
pada saluran kemih bagian atas, berupa gejala obstruksi antara lain: nyeri pinggang,
benjolan di pinggang (yang merupakan tanda dari hidronefrosis), yang selanjutnya
dapat menjadi gagal ginjal dapat ditemukan uremia, peningkatan tekanan darah,
perikarditis, foetoruremik dan neuropati perifer.
4
Menurut Long (1996, hal. 339-340), pada pasien post operasi BPH, mempunyai
tanda dan gejala:
1. Hemorogi
a. Hematuri
b. Peningkatan nadi
d. Gelisah
e. Kulit lembab
f. Temperatur dingin
a. bingung
b. agitasi
c. kulit lembab
d. anoreksia
e. mual
f. muntah
E . PENATALAKSANAAN
5
stylet dimasukan (oleh ahli urology) ke dalam kateter untuk mencegah
kateter kolaps ketika menemui tahanan. Pada kasus yang berat, mungkin
digunakan kateter logam dengan tonjolan kurva prostatik. Kadang suatu
insisi dibuat kedalam kandung kemih (sistostomi suprapubik) untuk drainase
yang adekuat. Tujuan terapi pada pasien hipertropi prostat adalah :
1. Memperbaiki keluhan miksi.
2. Meningkatkan kualitas hidup.
3. Mengurangi intravesika.
4. Mengembalikan fungsi ginjal jika terjadi
gagal ginjal.
5. Mengurangi residu urine setelah miksi.
6. Mencegah progresif penyakit.
6
3) Prostatektomi Retropubis. Pengangkatan kelenjar prostat melalui insisi
pada abdomen bagian bawah melalui frosa prostat anterior tanpa memasuki
kandung kemih.
4) Prostatektomi Perineal. Pengankatan kelenjar prostat radikal melalui
sebuah insisi di antara skortum dan rektum.
5) Prostatektomi Reropubis Radikal. Pengangkatan kelenjar prostat termasuk
kapsula, vesikula seminalis, dan jaringan yang berdekatan melalui sebuah
insisi pada abdomen bagian bawah ; uretra di anastomosiskan ke leher
kandung kemih.
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Laboratorium
Meliputi ureum (BUN), kreatinin, elekrolit, tes sensitivitas d an biakan urin
b. Radiologis Intravena pylografi, BNO, sistogram, retrograd, USG, Ct Scanning,
cystoscopy, foto polos abdomen. Indikasi sistogram retrogras dilakukan apabila
fungsi ginjal buruk, ultrasonografi dapat dilakukan secara trans abdominal atau
trans rectal (TRUS = Trans Rectal Ultra Sonografi), selain untuk mengetahui
pembesaran prostat ultra sonografi dapat pula menentukan volume buli-buli,
mengukut sisa urine dan keadaan patologi lain seperti difertikel, tumor dan batu
(Syamsuhidayat dan Wim De Jong, 1997)
c. Prostatektomi Retro Pubis
Pembuatan insisi pada abdomen bawah, tetapi kandung kemih tidak dibuka,
hanya ditarik dan jaringan adematous prostat diangkat melalui insisi pada
anterior kapsula prosta.
d.Prostatektomi Parineal
Yaitu pembedahan dengan kelenjar prostat dibuang melalui perineum.
G.KOMPLIKASI
menurut sjamsuhidajat dan De jong (2005) komplikasi BPH adalah :
1. retensi urin akut, terjadi apabila buli-buli menjadi dekompensasi
2. infeksi saluran kemih
3. involusi kontraksi kandung kemih
4. refluk kandung kemih
7
5. hidroureter dan hidronefrosis dapatterjadi karena produksi urine terus berlanjut
maka pada suatu saat buli-buli tidak mampu lagi menanmpung urine yang akan
mengakibatkan tekanan intravesika meningkat.
6. Gagal ginjal bisa dipercepat jika terjadi infeksi.
7. Hematuria terjadi karena selalu terdapat sisa urine, sehingga dapat terbentuk batu
endapan dalam buli – buli, batu ini akan menambah keluhan iritasi. Batu tersebut
dapat pula menimbulkan sistisis, dan bila terjadi reflex dapat mengakibatkan
pielonefritis.
8. Hernia atau hemoroid lama kelamaan dapat terjadi di karenakan pada waktu
miksi pasien harus mengedan.
H. PROGNOSIS
Sebagian besar pasien memiliki kualitas hidup yang sangat bagus setelah
prostatektomi (baik edoskopik maupun terbuka ) (grace and borlay,2007), lebih dari
90% pasien mengalami perbaikan sebagian atau perbaikan dari gejala yang
dialaminya.sekitar 10-20% akan mengalami kekambuhan penyumbatan dalam 5
tahun.
A. Pengkajian
1. Pemeriksaan fisik
(a) pemeriksaan rektum dengan jari tangan dapat mengungkapkan
pembesaran fokal atau difus prostat .
(b) pemeriksaan abdomen bawah (simpisis pubis) dapat
memperlihatkanpembesaran kandung kemih.
(c) abdomen: defisiensi nutrisi, edema, pruritus, echymosis
menunjukkan renal insufisiensi dari obstruksi yang lama.
(d) Kandung kemih
- inspeksi : penonjolan pada daerah supra pubik menunjukan
adanya retensi urine.
8
- palpasi : akan terasa adanya ballotement dan ini akan
menimbulkan pasien ingin buang air kecil yang
menunjukan adanya retensi urine.
- perkusi : suara redup menunjukan adanya residual urine.
(e) pemeriksaan penis: uretra kemungkinan adanya penyebab lain
misalnya stenose meatus, striktur uretra, batu uretra/ femosis.
(f) Pemeriksaan rectal toucher (colok dubur) dilakukan dengan
posisi knee chest dengan syaraf vesika urinaria
kosong/dikosongkan. Tujuannya adalah untuk menentukan
konsistensi prostat dan besar prostat.
2. Pengkajian fungsional Gordon
a. Pola persepsi dan manajemen
kesehatan biasanya kasus BPH terjadi pada pasien laki-laki
yang sudah tua, dan pasien biasanya tidak memperdulikan hal
ini, karena sering mengatakan bahwa sakit yang diderita nya
pengaruh umur yang sudah tua.
b. pola nutrisi dan metabolic
terganggunya sistem pemasukan makan dan cairan yaitu karena
efek penekanan/ nyeri pada abomen (pada preoperasi),
maupun efek dari anastesi pada postoperasi BPH, sehingga
terjadi gejala anoreksia, mual, muntah, penurunan berat badan,
tindakan yang perlu dikaji adalah awasi masukan dan
pengeluaran baik cairan maupun nutrisinya.
c. pola eliminasi . gangguan eliminasi
merupakan gejala utama yang seringkali dialami oleh pasien
dengan preoperasi, perlu dikaji keragu-raguan dalam memulai
aliran urin, aliran urin berkurang, pengosongan kandung
kemih inkomplit, frekuensi berkemih, noktuia, disuria dan
hematuria. sedangkan pada postoperasi BPH yang terjadi
karena tindakan invasif serta prosedur pembedahan sehingga
perlu adanya obervasi drainase kateter untuk mengetahui
9
adanya perdarahan dengan mengevaluasi warna urin.
evaluasiwarna urin, contoh : merah terang dengan bekuan
darah, perdarahan dengan tidak ada bekuan, peningkatan
viskositas, warna keruh gelap dengan bekuan. selain terjadi
gangguan eliminasi urin,juga ada kemugkinan terjadinya
konstipasi. pada post operasi BPH, karena perubahan pola
makan dan makanan.
d. pola latihan- aktivitas adanya
keterbatasan aktivitas karena kondisi klien yang lemah dan
terpasang traksi kateter selama 6-29 jam. pada paha yang
dilakukan perekatan kateter tidak boleh fleksi selama traksi
masih diperlukan, klien juga merasa nyeri pada prostat dan
pinggang. Klien dengan BPH aktivitasnya sering dibantu oleh
keluarga.
e. pola istirahat dan tidur
pada pasien dengan BPH biasanya istirahat dan tidurnya
terganggu, disebabkan oleh nyeri pinggang dan BAK yang
keluar terus menerus dimana hal ini dapat mengganngu
kenyamanan klien.
e. pola konsep diri dan persepsi diri
pasien dengan kasus penyakit BPH seringkali terganggu
integritas egonya karena memikirkan bagaimana akan
menghadapi pengobatan yang dapat dilihat dari tanda-tanda
seperti kegelisahan, kacau mental, perubahan perilaku.
f. pola kognitif- perceptual .Klien BPH umumnya adalah orang
tua, maka alat indra klien biasanya terganggu karena
pengaruh usia lanjut.
g. pola peran dan hubungan pada pasien dengan BPH merasa
rendah diri terhadap penyakit yang dideritanya. sehingga hal
ini menyebabkan kurangnya sosialisasi klien dengan
lingkungan sekitar.
10
h. pola reproduksi- seksual. pada pasien BPH baik preoperasi
maupun postoperasi terkadang mengalami masalah tentang
efek kondisi/terapi pada kemampuan seksualnya, takut
inkontinensia/menetes selama hubungan intim, penurunan
kekuatan kontraksi saat ejakulasi, dan pembesaran atau nyeri
tekan pada prostat.
i. pola koping dan toleransi stress. Klien dengan BPH
mengalami peningkatan stres karena memikirkan pengobatan
dan pen!akit !ang dideritan!a men!ebabkan klien tidak bisa
melakukan aktivitas seksual seperti biasanya, bisa terlihat
dari perubahan tingkah laku dan kegelisahan klien.
j. pola keyakinan dan nilai .pasien BPH mengalami gangguan
dalam hal keyakinan, seperti gangguan dalam beribadah
shalat, klien tidak bisa melaksanakanya, karena BAK yang
sering keluar tanpa disadari.
2. Diagnosa Keperawatan
a. gangguan eleminasi urin berhubungan dengan obstruks anatomik BPH
ditandai dengan BaK frekuensi sering namun sedikit-sedikit, nokturia,
dysuria, retensi urine, urgensi (dorongan berkemih), anyang-anyangan,
dan dribbling.
b. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis (BPH) ditandai
dengan melaporkan nyeri secara verbal, peningkatan denyut nadi,
peningkatan frekuensi pernapasan, peningkatan tekanan darah, meringis,
melokalisasi nyeri.
c. risiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif &(pemasangan
kateter).
d. Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan prosedur
pembedahan ditandai dengan adanya luka insisi pembedahan.
3. intervensi
No Diagnose Tujuan dan kriteria hasil Intervensi Rasional
11
eleminasi urin keperawatan selama…… Urinary Management
berhubungan x24 jam, diharapkan Elimination 1. Monitor adanya
dengan obstruks pasien dapat berkemih Management perubahan pola
anatomik BPH dengan kriteria hasil: 1.monitor eliminasi .
(1)ditandai dengan NOC Label : Urinary eliminasi 2. Prevensi
BAK frekuensi Elimination urin terjadinya
sering namun a. pola eleminasi termasuk retensi urine
sedikit-sedikit, klien teratur. frequensi, yang berat.
nokturia, dysuria, b. tidak nyeri saat konsistensi, 3. Mengurangi
retensi urine, berkemih. bau, kejadian
urgensi (dorongan c. tidak mengalami volume, ketidaknyamana
berkemih), nokturia. dan warna n.
anyang-anyangan, d. tidak mengalami jika 4. Mengevaluasi
dan dribbling. retensi urine. diperlukan, keseimbangan
e. warna urinejernih. 2. monitor input dan output
tanda dan cairan.
gejala dari 5. Untuk
retensi mengetahui pola
urinary. berkemih klien.
3. Identifika
si factor
kontribus
i yang
menyeba
bkan
gangguan
eliminasi
urine.
4. Intruksi
kan klien
dan keluarga
mencatat
urinary
output jika
diperlukan.
5. Catat
waktu
berkemih.
5. Nyeri akut setelah dilakukan asuhan NIC label Pain management
berhubungan keperawtan selama …x :pain 1. Nyeri
dengan agen 24 jam diharapkan nyeri management merupakan
cedera biologis klien dapat teratasi 1. Kaji pengalaman
(BPH) ditandai dengan nyeri subjektif dan
dengan kriteria hasil secara harus
melaporkan nyeri NOC label: pain lavel koprehensi dijelaskan
secara verbal, 1. Pasien f ( lokasi, oleh pasien.
12
peningkatan melaporkan skala karakterist Identifikasi
denyut nadi, nyeri berkurang. ik, durasi , karakteristik
peningkatan 2. Pasien tidak frekuensi , nyeri dan
frekuensi tampak kualitas faktor yang
pernapasan, melokasikan dan factor berhubungan
peningkatan nyeri dan tidak presipitasi dengan nyeri
tekanan darah, tampak meringis. ). merupakan
meringis, 3. Respiration rate 2. hal yang
melokalisasi nyeri. pasien normal Eliminasi penting untuk
( 16-20x/menit) faktor dikaji untuk
4. Tekanan darah yang memilih
normal (120/80 memicu intervensi
mmHg) terjadinya yang tepat dan
5. Nadi normal (60- nyeri. mengevaluasi
100x/menit) 3. Kolabora kefektifan dari
si terapi yang
pemberia diberikan.
n terapi 2. Faktor
analgetik pencetus nyeri
secara dapat
tepat . meningkatkan
4. Anjurk nyeri pasien.
an tehnik 3. Agen-agen
nonfarmak analgetik
ologi secara
seperti sistemik dapat
relaksasi,d menghasilkan
istraksi,na relaksasi
pas dalam umum.
sebelum 4. Tindakan
nyeri distraksi dan
terjadi relaksasi
atau memungkinka
meningkat n klien untuk
. mengontrol
5. Gunakan rasa nyeri
strategi yang muncul
komunik secara
asi mandiri.
terapeuti 5. Komunikasi
k untuk terapeutik
memberi diperlukan
kan dalam
terapi menjalin
nonfarm BHSP dan
akologi. memudahkan
13
dalam
memberikan
intervensi.
risiko infeksi setelah dilakukan NIC label : NIC label : infection
berhubungan tindakan Infection control
dengan prosedur keperawatan selama …x control 1. Mencegah
invasif 24 jam status kekebalan 1. bersihkan terjadinya
&(pemasangan pasien lingkunga infeksi
kateter). meningkat dengan n setelah nosocomial
kriteria dipakai yang dapat
hasil: pasien memperburuk
NOC Label: lain. kondisi pasien
Risk control : infection 2. Batasi baru.
process pengunju 2. mengurangi
a. dapat ng bila resiko infeksi
mengidentifikasi perlu. yang
factor risiko infeksi. 3. Instruk mungkinditularka
b. mampu sikan n oleh
melaksanakan pengunjung pengunjung.
peningkatan untuk 3. Mengurangi
waktu istirahat mencuci kuman yang
c. mampu tangan saat ditularkan
mempertahankan berkunjung melalui tangan
kebersihan lingkungan dan setelah pengunjung.
d. mengetahui risiko berkunjung. 4. membantu
infeksi personal 4. Gunaka membunuh
e. mengetahui n sabun kuman yang
kebiasaan anti ditularkan
yang berhubungan mkroba melalui tangan.
dengan risiko infeksi untuk cuci 5. mencegah
tangan. terjadinya infeksi
5. Cuci selama
tangan melakukan
sebelum intervensi
dan keperawatan.
sesudah 6. mengurangi
tindakan . resiko terjadinya
6. Gunakan infeksi akibat
universal kontak dengan
precautio kulit yang tidak
n dan utuh.
gunakan
sarung (1)
tangan
selama
kontak
14
dengan
kulit yang
tidak
utuh.
6. Kerusakan Setelah dilakukan asuhan NIC label : Wound care
integritas jaringan keperawatan selama… wound care 1. Untuk
berhubungan x24 jam diharapkan 1. Monitor mengetahui jenis
dengan prosedur terjadi perluasan karakterist luka dan keadaan
pembedahan regenerasi sel dengan ik luka luka pasien .
ditandai dengan kriteria hasil : termasuk 2. Cairan normal
adanya luka insisi NOC Label :wound draniase,w saline merupakan
pembedahan healing : primary arna, fisiologis (mirip
intention ukuran, cairan tubuh )
a. Pembentukan dan bau. sehingga aman
jaringan granulasi 2. untuk digunakan,
(luka mulai Bersihkanl tehnik steril
menutup) uka digunakan untuk
b. Tidak ditemukan dengan mencegah
eksudat purulent normal terjadinya
dan seriosa. saline infeksi.
c. Tidak ada mengguna 3. Mencegah
pembekakan, kan teknik terjadinya iritasi
eritema, dan bau steril. pada kulit dan
pada luka. 3. Rawat membantu proses
kulit di penyembuhan
sekitar luka.
luka. 4. Untuk membantu
4. Gunaka proses
n obat salap penyembuhan
kulit sesuai luka dan menjaga
kebutuhan kelembapan
apabila kulit.
diindikasika 5. Menjaga luka
n. tetap tertutup
5. Terapk serta tidak
an balutan terpaparmikroor
yang di ganisme.
sesuaikan 6. Agar pasien dan
dengan tipe keluarga dapat
luka melakukan
6. Ajarkan secara mandiri
pasien terutama saat
dan dirawat
keluarga dirumah.
tentang 7. Mengetahui
prosedur perkembangan
15
perawata luka.
n luka
7. Monito
r keadaan
luka
16
4. patofisiologi
17
18
DAFTAR PUSTAKA
Bulechek, Gloria M., Butcher, Howard K., Dochterman, Joanne M. and Wagner , Cheryl M.
2013. Nursing Interventions Classification (NIC), sixt Edition. USA : Mosby
Elsevier.
Davey,P. (2002). At a Glance Medicine, Jakarta : Erlangga Medical Series.
Hardjowidjoto, S. 2000. Benigna Prostat Hiperplasia. Surabaya : Airlangga University Press
Heffner, Linda J Et al . 2005. At a Glance Sistem Reproduksi Edisi Kedua. Jakarta : Erlangga
Medical Series.
19